Home » Media & Journalism » Tanggapan atas pesan viral “In Shaa Allah”

Tanggapan atas pesan viral “In Shaa Allah”

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 960 other followers

Jumlah Kunjungan

  • 923,512 hits
==========
We should not write it as “InshaAllah” or “Inshallah” because it means “Create Allah” (Naozobil lah). Wheter arabic or english… please make sure you write it properly as “In Shaa Allah” (In 3 seperate words). This means “If Allah Wills”. So make sure you forward this to everyone and help them correct their mistake. JazakAllah Khair <3
Share it!
IF YOU LIKE THIS ARTICLE

==========

.
Bismillah.
Awalnya saya mengetahui pesan di atas dalam sebuah gambar dari seorang teman, ia mempertanyakan kebenaran pesan viral yang sudah menyebar di Facebook. Memang beberapa hari terakhir ini ada kawan-kawan online saya yang sudah membiasakan menulis إِنْ شَاءَ اللّهُ dengan “In Shaa Allah”. Maka tergelitiklah saya untuk membuktikan viral tersebut. Dikatakan viral karena terdapat kata “forward this to everyone” dan “share it!”.

Karena gambar tersebut memasang foto Dr. Zakir Naik, -beliau seorang dokter medis sekaligus da’i internasional dari India yang sering berbicara di forum-forum perbandingan agama-, maka yang saya lakukan adalah mengubek-ubek tulisan beliau di twitter. Ternyata ada beberapa akun atas nama beliau, diantaranya @ZakirNaik, @zakirnaikfans, @iamzakirnaik, @Dr_ZakirNaik, dan @Zakir_Naik. Saya teliti satu persatu, hampir semua akun tidak pernah ditemukan tulisan “In Shaa Allah”, tetapi menulisnya dengan “InshaAllah”, dan akhirnya terjawab sudah dengan salah satu tweet dari @zakirnaikfans tertanggal 19 November 2012 di bawah ini:

Saya coba padukan dua informasi tersebut seperti ini:
Zakir Naik Clarification
Naah… lho…

Apa maksud si pembuat viral di atas yang menisbahkannya berasal dari seorang da’i internasional dengan menyertakan fotonya?
Kalau ada yang bermaksud ingin memfitnah beliau, maka lebih parah lagi bagi yang membantu menyebarkan pesan tersebut tanpa kroscek. Semoga mereka semua mendapatkan hidayah-Nya.

Saya memandang bahwa koreksi penulisan إِنْ شَاءَ اللّهُ di dalam gambar tersebut dianggap benar jika dimaksudkan untuk penulisan dalam bahasa Arab, karena ( إِنْ شَاءَ ) in syaa-a, terdiri dari 2 kata, yaitu ( إِنْ ) yang artinya “Jika”, dan ( شَاءَ ) yang artinya “Dia berkehendak”.
Dan memang, jika kedua kata tersebut disambung, maka menjadi ( إِنْشَاءَ ) insyaa-a yang artinya “menciptakan atau menumbuhkan”. Dan menimbulkan bunyi yang berbeda yaitu Insya-Ullah/InsyaUllah.

Koreksi dari si pembuat viral tersebut menjadi benar, jika dimaksudkan untuk mentranslate atau menyalin bunyi bacaan kalimat tersebut dari huruf Arab ke huruf Latin. Sebagaimana yang terdapat dalam cetakan Mushaf Al-Quran, yang mana di dalamnya tertulis ayat Al-Qur’an, lalu disertai dengan bacaan ayat dengan ejaan huruf latin, serta terjemahan ayat tersebut.

NAMUN bila dijadikan sebagai koreksi untuk penulisan “Insya Allah” atau “Insha Allah” dalam bahasa selain bahasa Arab yang menggunakan huruf latin, yang mana ketika menulisnya bukan dalam rangka mentranslate atau menyalin bunyi bacaan kalimat tersebut ke dalam bacaan Latin, tapi hanya bermaksud agar mudah dipahami oleh setiap pembaca karena penulisan seperti itu sudah lazim dan disepakati oleh masyarakat, maka koreksi tersebut TIDAK BENAR. Koreksi semacam ini justru akan mempersulit dan membingungkan penulis dan pembacanya, sebab sulit membedakan bunyi Insya Allah dengan In syaa Allah, semuanya sama artinya. Lain halnya kalau penulisan dan pengucapannya: Insya-Ullah / InsyaUllah, naah… ini baru merubah arti. Namun dalam viral tersebut mempertentangkan hal yang sebenarnya tidak merubah artinya. Hati-hati, hal yang kecil ini bisa menjadi pemicu perpecahan.

Di Indonesia, kita sudah maklum bila ditulis “Insya Allah” ataupun “Insha Allah” yang artinya “jika Allah berkehendak”. Maka sepatutnya tidak ada masalah dengan ini. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis:

insya Allah
in•sya Allah <– bunyi pengucapan
[Isl] ungkapan yang digunakan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu dipenuhi (maknanya ‘jika Allah mengizinkan’)

Silakan cek di sini:
kbbi.web.idkamusbesar.comkamusbahasaindonesia.org

Kalau pembuat viral yang ada dalam gambar tersebut mau komitmen dengan koreksiannya, maka seharusnya ia TIDAK BOLEH menulis “Naozobil lah” karena penulisan seperti itu tidak ada artinya. Tapi seharusnya ia menulis: “Na’uudzu Billaah” artinya: “Kami berlindung kepada Allah”

Agama Islam adalah agama yang sifatnya MUDAH dan menghendaki KEMUDAHAN bagi umatnya. Agama Islam sangat mencela dan melarang keras perbuatan yang berlebihan / tindakan mempersulit diri dan orang lain.

Kalau Anda masih ragu, tulis saja dalam bentuk arabnya: إن شاء الله‎
Bagaimana kalau tidak ada font arabic? Ya tenang saja menuliskannya dengan “Insya Allah”, karena ini sudah baku penulisannya di Indonesia. Bagi yang tidak tinggal di Indonesia, ikuti saja standar penulisannya dalam bentuk latin yang sudah dibakukan di negeri tersebut. Kemudian soal menggunakan “sya” atau “sha”, sebaiknya diserahkan pada tradisi masing-masing. Di Indonesia, ش umumnya ditransliterasikan menjadi “sy”, sedangkan di luar negeri umumnya “sh”.

Jadi, mana yang betul? Insya Allah, Insha Allah, InsyaAllah, InshaAllah, In shaa Allah, apa In syaa Allah?

Jawabannya: tidak perlu meributkan atau menyalahkan permasalahan transliterasi seperti viral di atas, kembalikan kepada tata bahasa yang berlaku di negaranya masing-masing. Berbeda halnya kalau yang dipermasalahkan adalah huruf arab, kita harus tegas kalau menyangkut penulisan huruf arab.

Sekali lagi, ini hanya masalah transliterasi, yang penting jangan sampai salah Tulisan Arab dan Bunyi/lafaz-nya. Jangan sampai hal yang sepele ini (mempermasalahkan penulisan latin) menjadi benih perpecahan. Itulah hikmahnya ayat-ayat Al-Qur’an itu ditulis dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Arab guna penyatuan umat di seluruh dunia, karena masing-masing daerah/negara ada kecenderungan beda dalam aksen dan bunyi bahasa.

Kalau Anda masih belum yakin, silakan mendatangi Pusat Pengkajian Bahasa Indonesia, diskusikan tema transliterasi ini. Daripada men-share tulisan atau menulis di blog/situs yang membenarkan viral information di atas yang justru menumbuhkan benih-benih perpecahan umat hanya gara-gara transliterasi. Jika masalah ini terus dibiarkan kelak akan ada polemik penulisan huruf latin: Assalamu’alaikum – Assalamu’alaykum, Masya Allah – Ma syaa Allah, dll. Kontraproduktif, bukan?! Tidak perlu mempersoalkan transliterasi yang di berbagai negara mempunyai kecenderungan berbeda. Sekali lagi yang terpenting itu adalah: Jangan sampai salah penulisan ARAB dan bunyi / lafaznya, karena akan merubah arti.

Lebih baik bagi Anda untuk mengingatkan dengan keras pada mereka yang justru memplesetkan ayat Al-Qur’an dengan huruf latin dengan penulisan alay seperti: ya owoh, ya auloh, ya auwoh, astajim, asetipiruloh, aingsya oloh, dll. Ini jelas pelecehan.

Hati-hati dengan viral information di internet ya, sebaiknya kroscek dulu sebelum meyakini kebenarannya apalagi menyebarkannya.

Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-showab.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
15.03.2013

.

About these ads

93 Comments

  1. agung says:

    makasih pak atas penjelasannya,,

  2. Mila Hersan says:

    Terima kasih pak untuk penjelasannya, tidak ragu lagi sekarang dalam penulisan. Ijin share.

  3. terimakasih atas argumennya pak iwan yuliyanto,saya sempat ragu karna tersebarnya gambar dr,zakir naik dgn tulisan insya allah dan inshaa allah.itu yg menjadi keraguan apakah ada perbedaan arti dalam penulisannya…

    setelah saya cari tahu,argumen ini yg mehilangkan keraguan pekara penulisan yg di share di fb yang menggunakan gambar dr,zakir naik.

  4. ndi says:

    Kalo sy sepakat dgn apa yg dshare tersebut,penulisan latin harusx yg mngikuti pnulisan arab,sy jg meragukan orang yg menyempurnakan bhsa indonesia dlm KBBI it apakh muslim or kafir.yg bahaya it klo ternyata kafir..mka inilah salah satu cra mngkafirkn ummat muslim tnpa dketahui, ya..melalui pnulisan n bhasa.dlm Al Qur-aan sndri sdh djlaskn kurang lbh bhwa kita tdk dianjurkan untuk mngikuti yg umum atau kebanyakan orang atau lazim dilakukan, krn itu blm tentu benar, mka dri itu hndaknya brlndaskn Al Qur-aan dan Al Hadist.jd patokanx jls,bkn dr kamus atau buku,yg lazim,umum,mudah,biasa,n kbanyakan orang..krn ni persoalan penyesatan.sama halnya dgn pnulisan Allah atau ALLAH, itu keliru krn pnulisan tersebut sama juga dgn cara pnulisan org kafir untuk menyebut tuhan mrk.kalau ummat muslim itu hrusx dtulis seperti ini: ALLAAH, mengikuti tulisan arab dan hrus hruf besar semua..krn alangkah anehx seorang bupati or presiden dlm pnulisan nama mrk ditulis dgn hruf bsar or kapital semua, sementara dzat yg menciptakan mrk ditulis dgn huruf kecil,betapa berdosanya kt. Itulah ALLAAH sllu mngatakan …bagi orang-orang yang berfikir. Gunanya agar kita sllu mngkaji dan memikirkan apa yg ditulis dlm Al Qur-aan untuk diikuti,bkn brdasarkan kebanyakan org lakukan.piljn ada dtngan masing-masing,pilih pnulisan arab yg di indonesia kan atau tetap ikuti pnulisan arab yg di indonesia kan dgn sdkit modifikasi agar lbh mudah n gampang juga lazim org gunakan. Menuju Jannah itu sulit dan tdk gampang,tp mnuju Annaar itu mudah,gampang.

  5. hendarmin says:

    terima kasih pak Iwan, izin copy

  6. Ezia yusriana says:

    Ijin share pak iwan

  7. Nis says:

    Oh begitu ya. Sukurlah kalau masalah transliterasi. Lalu bagaimana dengan pengucapan pak ? Haruskah diucapkan Insyaa-A Allah juga ?

    • Ucapkan mengikuti bentuk bentuk penulisan arabnya:
      إن شاء الله
      baca: in-syaa-Allah
      Seperti pengucapan Maher Zein melafalkan Insya Allah dalam lagunya [Youtube] Begitu juga seperti dalam pengucapan QS Al Kahfi ayat 24.
      Penulisan latinnya tetap: Insya Allah atau Insha Allah

    • Nis says:

      oh paham, jazakallahu khair atas penjelasannya…

    • Nis says:

      Ah iya, saya baru ingat, berarti penulisan amin juga sama bgtu pak? Soalnya di KBBI juga ‘amin’ sdh dibakukan. Tanpa mempermasalahkan panjang pendeknya.

    • Betul. Di banyak negara, huruf latinnya malah: Amen.
      Mereka tidak salah, yang salah adalah kita yang mempermasalahkan huruf latin.

      Yang paling benar dan tegas adalah jangan sampai salah menuliskan huruf arab-nya, karena akan merubah artinya kalau salah.
      Jadi tidak perlu meributkan penulisan huruf latin, karena transliterasi itu mempunyai ragamnya di daerah yang berbeda. Ada yg menulis: “Assalamu’alaikum” dg “Assalamu’alaykum”, ada yg menulis “Allah” dg “Alloh”, menulis “shalat” dg “sholat”, menulis “dh” dg “dl”, menulis “o” dg “u”, dll.
      Jurnal saya ini saya tujukan untuk mereka yang meng-kritisi penulisan latin. Ini berpotensi memecah-belah umat, mereka yang di luar pagar akan melihat bahwa kita umat Islam adalah umat yang labil. Padahal sudah jelas, umat Islam mempunyai bahasa pemersatu yaitu bahasa Arab. Kita harus bangga dengan itu.

  8. sindy says:

    Terima kasih untuk info yang bermanfaat ini. Menjawab kegalauan saya. Izin share ya pak…

  9. Rhy says:

    ya Allah.. dpat ilmu lg :)
    mksih kpd org yg sdh share :)

  10. Abel says:

    Saya tulis macam ini ————–> InsyaAllah.
    Dr Zakir Naik nak macam ini ————-> In Sha Allah.
    Ada orang suka tulis ———-> Insya Allah.

    Dua-dua tak ada masalah. Janji sebutannya dalam bahasa arab betul.

    Ini isu sama macam Doa awal tahun dan akhir tahun.
    Yang pentingnya, doa itu bukan datang daripada Rasulullah.
    Nak baca ke tak nak baca, itu terpulang pada kita.
    Janji, jangan pergi kata itu sunnah la, itu daripada Rasulullah la, kalau tak baca berdosa lah, kalau tak baca tahun itu tak berkat lah, kalau tak baca kesian lah, dan macam-macam.

    Jadi, orang nak tulis InsyaAllah macam mana sekali pun dalam huruf latin, okay sahaja. Tak berdosa. Tak salah. Selagi mana dia sebut mengikut sebutannya yang betul berdasarkan ejaannya dalam bahasa arab. Jadi jangan gaduh bila tengok orang buat tulisan lain dari tulisan kita.

    Kongsi sedikit, saya ada kawan saya suka tulis ‘masyarakat’ dengan ejaan ‘masharakat’. Dia juga suka tulis ‘mengubah’ dengan ejaan ‘merobah’. Dia juga suka tulis perkataan ‘masalah’ dengan ejaan ‘masa alah’. Pada saya, dia mungkin akan kena tolak markah dalam paper BM kalau pergi ambil periksa bila eja macam itu. Tetapi di dalam kehidupan, di dalam FB, itu bukan satu kecacatan, kekurangan, untuk saya nak bising pada dia – “Weh, hang eja salah ni. Berdosa ni!”

    Sebab sebutan dia dengan sebutan saya, sama. Walaupun ejaan berbeza. Lainlah dia tulis ‘masharakat’ tapi sebutannya bunyi – mashorakot -, yang itu mungkin saya akan tegur. Apa kebendanya ‘mashorakot’? Tapi kalau dia eja ‘masharakat’, sebutannya juga ‘masyarakat’, so, no big deal. 

    Kalau tulis pun In Shaa Allah, tapi sebutnya dengar ‘in sa Alah’ ke, tak boleh pergi juga. Biarlah tulis InsyaAllah, janji sebutannya betul ikut sebutan arabnya – in sya Allah – macam itu. Setel yang itu, setel lah. Nak eja macam mana pun dalam huruf latin, suka hatilah. Janji sebutannya betul!

    So, rujuk balik teks arabnya, untuk lihat sebutannya, makhraj hurufnya, harakatnya, bagi betul. Itu yang penting. Bukan tengok huruf latinnya eja macam mana. Sebab InsyaAllah itu sebutan arab.

    -Sekian pendapat Hilal Asyraf-

    Bagaimana dengan penjelasan yang diatas ini?

    • Yang jelas, Dr. Zakir Naik tidak bilang apa-apa tentang cara penggunaan ini. Mereka yang membuat informasi viral seperti itu telah mem-fitnah beliau, terlebih juga yang menyebarkannya. Itu sama dengan berdusta atas nama Dr.Zakir Naik.

      Jawaban saya tegas, bila ingin menuliskan dalam huruf latin, ikutilah transliterasi yang telah dibakukan di daerah (negara) kita masing-masing. Jangan sampai hal yang seperti ini menjadi benih perpecahan.

  11. New Rule says:

    setuju pak Iwan :D

  12. setuju dengan kalimat penutupnya mas Iwan, sebaiknya cari tahu dulu keaslian dan kebenaran isi artikel atau pesan sebelum menforward kemana-mana, banyak hoax soalnya kan.

  13. saya baru liat nih postingan . . .

    kalo baca atau nulisnya,, Insyaullah إنشاء الله baru artinya menciptakan Allah

    beda di pengucapan U atau A,, karna “Sya-a” شاء yang artinya kehendak dia itu fiil madhi atau kata kerja lampau,, maka dia mabniy ala fath (harus berharokat fathah jadi bacanya “a”), karna dia fiil maka nanti lafazh Allahnya sebagai fail harus dibaca U, jada kalo lengkap Insya Allahu

    tapi yang Insya yang artinya penciptaan maka dia mashdar dari fiil أنشأ – ينشأ maka mashdarnya إنشاء (insya-u) maka dia termasuk mu’rob bisa berganti2 tanda baca akhirnya bisa Insya-a, insya-u, atau insya-i, tergantung awamil atau2 faktor2 yg bisa ngerubahnya,, tapi biasanya bahasa arab harokat aslinya itu dhommah jadi dibaca U,, dan insya disini dia jadi mudhof dan lafazh Allah-nya jadi mudhof ilayh,, jadi kalo mau lengkap dibacanya Insya-uLlahi,, Allahnya dibaca Allahi pake kasroh,, karena mudhof ilayh yajib an yakuun majruron,, (mudhof ilayh harus majrur atw berbaris kasroh)

    piuuuh,, riweh..

  14. ailyna says:

    Terima kasih Pak Iwan,
    hemm,,, kemarin sempat juga dapat info tentang ini namun dalam versi bahasa arabnya…
    Untung nggak mudah ikut-ikutan…
    krn bermanfaat banget, sy Ijin share ya pak,,

  15. [...] Tanggapan atas pesan viral "In Shaa Allah". [...]

  16. bundamuna says:

    ‘Ajarkanlah bahwa agama Islam itu mudah, dan janganlah kamu mempersulit agama Islam’ saya selalu pakai prinsip itu.
    Saya bahkan terbiasa menulis Allah dg tulisan Alloh hanya sekedar utk membedakan dg teman-teman non muslim yg sering menuliskan tuhan mrk juga dg tulisan Allah. Kalau menulis Allah biasanya saya sertakan SWT di belakangnya, hanya sekedar utk membedakan.. wallahu’alam bi shawab :)

  17. ruangimaji says:

    Terima kasih Mas Iwan, telah mengingatkan dan meluruskan yang semestinya. Kita kadang terlalu mudah untuk memercayai sebuah tulisan, tanpa mencermati sumbernya. Saya setuju, ada baiknya untuk melakukan kroscek mengenai kebenaran suatu informasi sebelum menentukan sikap.

  18. hilal says:

    Saya setuju dengan anjuran di paragraf terakhir. Itu sudah sesuai dengan KBBI, baku menurut bahasa indonesia.
    Lagian, yg kasih larangan penulisan itu kok aneh sekali, kayak tidak pernah ke negeri arab saja. Coba ke arab sana, dan pakailah bahasa pasaran (bukan fushaa) ala mereka, akan bengong2 dia betapa berubah2nya bahasa arab mereka dari tata aturan baku bahasa arab fushaa….

  19. Ina says:

    oooh, jadi ngerti ada ‘ramen-ramen’ soal gini. maklum jarang update. palagi pesbuk.
    saya tahunya yang nulis insyallah gitu aja. ga ngerti yg harusnya gimana. cetek ilmu nih mas.

  20. debapirez says:

    alhamdulillah saya ga forwars-in pesan itu krn menemukan sdkt keganjilan. bhkn, IMO, itu dibuat bukan oleh seorang muslim. makasih mas Iwan yg sudah mau mencari tahu. tidak menolak atau menerima mentah2….

  21. pemikirulung says:

    pak iwan ini super banget sih. JKFS ya pak. waktu dapat terusan pesan itu juga saya mikir-mikir, merasa ga sreg karena bagi saya toh makna yang kita maksud dalam hati kan bukan “menciptakan ALLAH” dan sempat terpikir juga kl dalam tulisan (bukan arab) dipisah dan disambung cara bacanya kan sama kenapa jadi bisa beda arti. alhamduliLLAH sekarang jelas

  22. anchaanwar says:

    Thanks for sharing…
    Saya pernah baca twit salah satu ulama di twitter katanya Bahasa Arab itu susah dilatinkan, bahkan dia menuliskan insya Allah itu dengan kalimat inshaaLlah, dengan L yang besar.

  23. JNYnita says:

    Hihihi… umat Islam itu suka lupa klo Islam itu menjunjung tinggi Ilmu, kebanyakan cuma ikut2an yang banyak, pdhal yang banyak belum tentu benar.. Suka ikut2an tp belum tentu berdasar. Aku suka post ini krn mengklarifikasi, dan pas dpt viral info di atas aku memang nunggu klarifikasi *males cari sendiri*, klo emng ini hal yang krusial, ulama pasti akan heboh tp selama ini adem ayem aja..

  24. dinasulaeman says:

    Yang membuat saya prihatin dari pesan viral seperti ini adalah betapa umat Islam sering sangat mudah terprovokasi untuk hal2 yang sepele begini. Padahal ada hal-hal lain yang perlu dijadikan gerakan besar, misalnya, saat ini ada sedang berlangsung penggusuran situs-situs bersejarah oleh rezim Saud, untuk diganti dengan hotel atau mal. Yang heboh mengkritik malah para arkeolog dan sejarawan bule. Yang mengekspose beritanya justru The Guardian.

  25. azfiamandiri says:

    Yang mendasar aj; penulisan kata sholat dg SALAT srg kl trjadi pdhl transliterasi yg bakunya SHALAT/ SHOLAT . nmn ini bukanlah sstu yg principal mengingat masyarakat yg kurang mengindahkan kaidah bahasa, pula dianggap lazim kata yg dituju.
    Hal seperti terjadi lbh krn pemahaman yg dangkal nan disusupi hawa nafsu semata. Seperti pada 2 postingan berikut ini :
    – Kejadian WTC tersirat dlm AlQur’an : http://1kr4rhaura.blogspot.com/2012/09/benarkah.html
    ( sejumlah blog yg mulanya memuat bahkan tlah menghapus tulisan tersebut krn WTC itu 110 Lantai, bukan 109.
    At Taubah mayoritas di juzz 10, bukan 11. WTC ada di Wall Street bukan Jerf Har . dst )
    semoga Allah mberi anda petunjuk yang benar mas.”)
    – Awakening Record, simbol freemansory http://melaluiblogsayaberbagi.blogspot.com/2012/02/maher-zain-dan-iluminaty-makna-gambar.html
    pdhl :
    – simbol tsb buka pyramid, tp huruf A dengan format segitiga, singkatan dari Awakening
    – Klo asal segitiga, tiap lebaran kita pakai segitiga biru ( tepung), lah… apa mau dianggap agen freemason juga ?!!
    – MZ telah menjawab tuduhan ini dengan albumnya yg berjudul AWAKEN (http://erieyohoho.com/bicara-agama/teori-konspirasi-freemason-dan-illuminati-dijawab-oleh-maher-zain/). So, masa seorang yang dituduh sbg agen barat, justru mengkritik kehidupan barat , & kehidupan orang Arab yang mulai ke-barat-baratan ?

  26. penuhcinta26 says:

    Posting yang mencerahkan. Masalah penulisan dalam huruf latin juga sempat membingungkan kami ketika hendak mengajarkan huruf Arab kepada anak-anak. Kebetulan bukunya adalah terbitan Ngamrikih.

  27. Kemajuan teknologi informasi malah membuat kita mudah menyebarkan informasi yang belum tentu valid dan malah membingungkan. Trima kasih mas, semoga bisa mengcounter “virus informasi” yg bertebaran di socmed2 kita selama ini :)

  28. javaleste says:

    Reblogged this on sugeng rawuh and commented:
    TRUE! MASYA ALLAH 》Agama Islam adalah agama yang sifatnya MUDAH dan menghendaki KEMUDAHAN bagi umatnya. Agama Islam sangat mencela dan melarang keras perbuatan yang berlebihan / tindakan mempersulit diri dan orang lain.

    • Terimakasih telah membagikannya, mbak Atika.

      Itu sesuai hadist Rasulullah sallallahu alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal n Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhuma: “Ajarkanlah bahwa agama Islam itu mudah, dan janganlah kamu mempersulit agama Islam.”

  29. Katerina says:

    Terima kasih Mas Iwan, share yang bagus.
    Selama ini saya menggunakan Insha Allah.

    Iya setuju, tabayun dulu sebaiknya.

    Ihwan: Kan kita pernah bahas ini Wan, Insya or Insha sama saja.

  30. andaikan semua bisa bertabayyun seperti pak Iwan ini, penjelasannya pun mudah dicerna, terima kasih pak artikelnya

  31. Haya Najma says:

    Reblogged this on étoile filante and commented:
    Ini, soal in sha Allah atau insya(sha) Allah :)

  32. Haya Najma says:

    Ini bermanfaat sekali Pak Iwan, saya suka heran sama yg mudah terbawa tanpa dipelajari dulu, terima kasih sudah mencerahkan, saya share ya pak

  33. diah indri says:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
    Jadi bahasan terakhir di blog saya jawabannya sama ya pak, cuma masalah aksen setempat saja.

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ juga
    Sy g pernah menyebarkan informasi foto itu, pas dikasih tau temen, sy langsung inget dgn perbedaan cara nulis sy dan temen2 dr berbagai negara.

    Sayangnya saya lagi komitmen stop internetan dulu jadi blm bisa nge share tulisan pak iwan di fb

    *Loh lha ini kok malah bisa komen, komitmennya dimana :D*
    Xixixiixi… Pengen baca gimana ending kasusnya
    Matur nuwun sanget pak.

    • Semoga segera end. Biasanya viral hoax seperti ini akan muncul kembali beberapa tahun kemudian dengan versi yang berbeda, bisa jadi akan tanpa pemasangan foto Dr. Zakir Naik.

  34. itulah indahnya bahasa arab, lain bangsa dan bahasa bisa tetep berbahasa arab, walaupun mo nulis inshaallah dengan sh ato sy.. ga usah dibikin galau.. kog ya pada ribut.. makasih m.iwan sudah menjelaskan dan mencari info begini.. *kebayang rajinnya m.iwan dengan waktunya ngeklik linklink itu.. [satu orang kog bisa punya banyak id ya?]

    ehiyah daku ditegor kenapa suka menulish inshaallah, bukannya InshaAllah gitu.. font capital aja dibahas.. padahal daku suka menulis huruf kecil.. bukannya ga menghargai tuhan daku.. hanya demi praktis saja.. dan kenapa menulis tuhan demi praktis gitu katanya.. cape bahasnya dah..

    • Iya. Tidak perlu saling menyalahkan. Soal tulisan latin serahkan tradisinya pada masing-masing, yang penting tulisan Arabnya tidak salah, karena itu bisa berbeda arti. Sedangkan kalo tulisan latin itu hanya membantu pengucapan saja.
      Tapi kalo dalam karya tulis ilmiah atau surat resmi, tulisan latin-nya sebaiknya mengikuti kaidah EYD.

  35. Ani says:

    Spt judul lagu Maher Zein

  36. Dyah Sujiati says:

    Untung saya nggak beli FB atau twitter y pak, jadi nggak bingung #lho?

  37. Larasati says:

    makasih informasinya pak Iwan…kenapa Islam selalu mengalami perdebatan dan perbedaan yah….

    • Bukan soal perdebatan dan perbedaan kok, hanya orang iseng yang pengen ngobok-obok dengan mengatasnamakan Dr.Zakir Naik, makanya beliau langsung membantahnya dan meminta kita menyetop penyebaran message tersebut.

  38. Mr. Moz says:

    kalo saya tetep yakin memakai kata Insya Allah Mas, makasih atas blognya yg memupus keraguan saya belakangan ini karena teman2 FB semua berubah nulis jadi Insha Allah.

    • “Insya Allah” dan “Insha Allah” itu sama benarnya, mas Ihwan, tidak perlu diperdebatkan karena itu hanya soal transliterasi saja, Indonesia dan luar negeri beda tradisinya. Yang tidak boleh salah adalah tulisan Arab-nya.
      Lha itu message yang nyebar di FB mempermasalahkan penulisan latin, ini benar-benar akan kontraproduktif ketika menimbulkan perpecahan kecil.

  39. MartoArt says:

    Naozobil lah-nya ga diviralkan sekalian oleh mereka?

    Saya jadi ingat akan kisah sengketa berkepanjangan tentang perjalanan Syariah, Syariat, Sarekat, Sarengat, dan Serikat (Pada satu sisi bahasa) pada masa lampau. Ada dua kutub yang mempersoalkan fundamen yang ketat dan sisi sebelah yang mendasarkan penyebaran paham secara luas.

    Padabeberapa hal saya memilih bersikap prasojo namun tetap dialektis.
    Tulisan ringan yg menarik.

  40. thebimz says:

    saya sudah beberapa hari ini menulis in sya Allah, karena sudah dapat informasi sebelumnya. makasih mas. sama halnya seperti Aamiin, masih banyak yang menulis Amin atau Amiin.

    • Sama-sama, mas Bimo, semoga bermanfaat. Yang bener sesuai kaidah KBBI “Insya Allah”. Hanya soal transliterasi saja kok, dan tidak sama dengan luar negeri.

  41. niprita says:

    Baru denger ada pesen gitu, belum nyampe ke saya mungkin. Wah, Pak Iwan teliti sekali ya. Terima kasih buat postingan ini

  42. nyonyasepatu says:

    Untung aku gak pernah bingung karena gak tau ada versi penulisan yg laen hihi. Sukaaa blog ini karena nemu yg baruuuuu trus

  43. info nya sangat membantu pak,, trimakasih ya pak,,, :)

  44. rahmabalcı says:

    viral information emang nyebarnya cepet,apalagi kl urusan agama,kasus terakhir ttg paus masuk islam,ga main kroscek menyebar dimana2-.- padahal ada yg komen berita itu bohong,krn tidak ada sumber jelas yg dipercaya yg dicantumkan,ada yg neliti paus yg dimaksud justru sudah meninggal sebelum tanggal yg tertulis dia masuk islam, emang kudu lebih bijak ya pak:) masalah inshaalloh tiap negara punya penulisan sendiri2: di turki: inşaallah : ş itu udah termasuk shin dobel..*sya* ya biasalah sejarah bapake sekuler yg merubah abjad arabic ke latin, jd byk nambahin huruf baru demi ngikutin gaya penulisan abjad arab yg dulu di pake pas masa khalifah.

    • Iya, tentang Paus muallaf itu nyebar kemana-mana, malah mempermalukan diri sendiri setelah tahu berita itu bohong. Sebaiknya selalu menggunakan prinsip tabayyun.
      Berita klarifikasi dari salah media Islam ada disini.
      Benarkah Paus Benediktus XVI Shalat di Masjid Biru Turki Lalu Menjadi Mualaf?
      Tim dakwatuna.com, 21/02/13

      Untuk “sy” dan “sh” hanya soal transliterasi, dan masing-masing negara mempunya aturan berdasarkan tradisinya masing-masing. Di Indonesia ش umumnya ditransliterasikan menjadi “sy”. Terimakasih informasinya, mbak, soal transliterasinya di negara Turki.

  45. Teguh Puja says:

    Memang harus lebih bijak dalam menyikap pesan atau berita apa pun yang datangnya dari dunia maya.

    Dan, benar, Mas, memang ada baiknya, menggunakan yang sudah dipakai secara kolektif oleh kita.

    Insya Allah.

    • Betul, mas Teguh, harus bijak meng-handle setiap pesan di dunia maya yang tidak jelas sumbernya.

    • Teguh Puja says:

      Untungnya, pesan viral ini bisa segera dapat koreksian dari sumber tertulisnya. Jadi mulai bisa dikroscek kebenarannya ya Mas.

      Terkadang, broadcast message di BB itu cukup mengganggu juga mas, karena terkadang yang di-share pun, gak begitu jelas kegunaannya,

  46. pitaloka89 says:

    Terima kasih Pak Iwan untuk sharingnya.
    Saya baru tahu yang menuliskan Insha Allah itu malah. Dan sudah terbiasa dengan Insya Allah.. :)

    • Hanya masalah transliterasi kok, baik “Insya Allah” maupun “Insha Allah” semuanya benar. Jangan seperti mereka yang tiba-tiba meng-koreksi menjadi “In Shaa Allah” seperti dalam pesan di atas yang ternyata mengatasnamakan orang tanpa ijin dan itu sudah dibantah habis.

    • pitaloka89 says:

      Siap Pak.
      Terima kasih :)

  47. Wah, aku juga gak up to date nih. Ketinggalan terus. Ah, lagi-lagi ada penyebaran isu beginian. Semoga pada bijak menanggapinya. Jangan syukur menyebar2kan tanpa cari tanda bukti sahih.

  48. jampang says:

    baru tahu ada pesan kaya gini….. nggak up todate niy sayanya…. xixixixixi

  49. Ahmad says:

    إن شــــــــــــــــــــــــــــــــاء اللــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــه :)

    • Indah sekali kaligrafi font-nya :)

    • Ahmad says:

      Cuma pake setting Arabic Keyboard kok, Mas.

      http://ahmad.wikiapbn.org/islam-91-arabic-keyboard-map-by-islam-adel/

      Tapi begini….
      Pesan-pesan tidak jelas semacam ini sudah ada sejak berpuluh tahun lalu. Dulu namanya surat berantai. Sekarang “wall message” berantai atau apalah namanya :)
      Kalau saya, pedomannya sederhana saja. Sebuah pesan dapat langsung kita anggap sebagai hoax dan tidak usah ditindaklanjuti kalau memenuhi dua kriteria, yaitu:
      1. Sumber tidak jelas.
      2. Minta disebarkan.

      Soal pakai “sya” atau “sha’, kita serahkan pada tradisi kita masing-masing saja. Di Indonesia, ش umumnya ditransliterasikan menjadi “sy”, sedangkan di luar negeri umumnya “sh”.
      Yang penting konsisten saja.

  50. ayanapunya says:

    saya malah baru tau soal ini. makasih infonya mas iwan :)

  51. jazakallah khair Pak Iwan .. ini yg buat saya bingung krn beberapa teman saya jg turut menshare & mengikuti gaya tulisan In sha Allah.. yah., lebih afdhol ditulis Arabnya., tp kalau ndak ad autotextnya pk InsyaAllah ndak pa pa juga kan ya..

    kl diperhatiin., akhir” segala sesuatu berita yg berhubungan dg agama cepat sekali spread out nya., tanpa diklarifikasi dahulu kebenarannya… miris kl inget umat Islam yg percaya begitu aja..

    makasih banyak Pak iwan., makasih.. makasih.. makasih.. atas penjelasannya..

  52. lieshadie says:

    tulisan ini menjawab semua kegalauan saya dalam menulis Insya Allah…karena sering juga menemui tulisan Insha Allah di blog beberapa teman…berarti sama benarnya penulisan tersebut.

    • Sama benarnya, hanya masalah aksen saja kok, mbak Lies, kebanyakan masyarakat timur tengah menuliskannya dengan: “InshaAllah”. Kalo menurut bahasa Indonesia yang baku: Insya Allah

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 960 other followers

%d bloggers like this: