Home » Amazing People » [True Story] Pembantu Rumah Tangga yang Mengukir Sejarah

[True Story] Pembantu Rumah Tangga yang Mengukir Sejarah

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

ENI KUSUMA, TKW Pembantu Rumah Tangga, Terbitkan Buku Motivasi, Tercetak 3.000 Eksemplar

Eni Kusuma, TKW asal Banyuwangi, membuat sejarah baru. Bukunya yang berjudul “Anda Luar Biasa” tercatat sebagai buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia.

Semua orang tampaknya perlu belajar dari Eni Kusuma. Betapa tidak, di tengah desakan tugas domestik, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju, sampai merawat anak, TKW ini masih bisa menuangkan gagasan lewat tulisan. Padahal, banyak dari kita yang punya segudang fasilitas dan waktu, tapi tak pernah bisa menulis.

Masa Kecil hingga Remaja

Eni Kusumawati, lahir 27 Agustus 1977 silam. Dia tumbuh dan besar dalam asuhan keluarga kurang mampu di rumah sederhana di Jl. Belitung no. 76, Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua orangtuanya mengandalkan hasil jualan kerupuk keliling di pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan itu dirasa sangat kurang untuk menghidupi dia dan ketiga kakak perempuannya.

Sejak kecil, Eni punya kekurangan, yakni gagap ketika bicara. Karena telaten berlatih bicara, gagapnya sudah banyak berkurang saat dia mulai masuk SMPN 3 Singotrunan, Banyuwangi. Ketika duduk di bangku SMP, Eni pernah dihukum sekolah karena tidak mampu beli sepatu yang diwajibkan oleh sekolah. ‘’Kaus kaki pun punya hanya sepasang, apalagi seragam sekolah. Jika hujan datang, baju saya tidak dicuci,’’ kenangnya.

Setamat SMP, Eni melanjutkan sekolah di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah). Setamat SMA, dia sempat bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai tenaga administrasi. Tidak beberapa lama, tempat kerjanya bangkrut. Eni tidak betah menjadi pengangguran. Tekadnya pun bulat untuk berangkat bekerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

Masa di Perantauan

Tepat pada tahun 2001, anak pasangan M Yasin dan Asfia ini berangkat kerja ke Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Di sana, Eni mengurusi segala kebutuhan keluarga Chan. Mulai merawat anak, mengepel, setrika hingga membersihkan rumah. ‘’Tiga bulan pertama bekerja, saya tidak mendapatkan gaji dan diwajibkan menguasai bahasa Kantonis,’’ katanya.

Sebagai pembantu rumah tangga, Eni merasa setiap waktu adalah berharga. Terutama dirinya yang sangat hobi membaca, ada waktu luang selalu menyempatkan diri membaca. Seiring perjalanan waktu, anak juragannya mulai beranjak usia sekolah. Waktu itu, Eni yang mengantar anak juragannya sekolah setiap hari. ‘’Saat anak juragan saya sekolah, saya menyempatkan diri ke internet dan perpustakaan. Enaknya perpustakaan di sana, menggunakan fasilitas internet dan membaca buku gratis,’’ kata wanita berjilbab ini.

Eni mengakui jika sering sekali mendapat omelan dari majikannya. “Nyapu kurang bersih sedikit saja, kita langsung diomelin. Begini kurang sempurna, langsung dimarah-marahi. Pokoknya, harus benar-benar kuat hidup sebagai TKI yang jadi PRT,” tuturnya. Bahkan, sambung Eni, dirinya pernah diusir dari rumah oleh majikannya gara-gara miskomunikasi dengan majikannya saat akan menjemput putra majikan dari sekolah.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai babu, ia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Biasanya, gagasan-gagasannya dituangkan di buku harian menjelang ia berangkat mengarungi mimpi di malam hari. “Sehabis seharian bekerja, saya menulis pengalaman dan pikiran-pikiran saya. Jadi, meskipun seharian capek ngepel seluruh rumah majikan, saya tetap menulis,” ujarnya.

Di akhir pekan, begitu terkumpul tulisannya di buku harian, ia selalu meluncur ke perpustakaan kota di Hongkong untuk bergumul dengan buku dan internet. Tak lupa, ia memindahkan buku hariannya ke komputer yang disediakan perpustakaan, kemudian mengirimkannya ke milis penulisan untuk dimintakan komentar kawan-kawannya. Begitu terus: ajeg dan nyaris tanpa alpa.

Di internet, dirinya banyak belajar hingga akhirnya bergabung di milis kepenulisan di Hong Kong Koosta. Di sana tempat TKW yang doyan menulis bergabung menjadi satu untuk mengekspresikan diri. Eni pun menemukan situs http://www.pembelajar.com yang jadi jalan pembuka untuk mengubah jalan hidupnya. Situs tersebut merupakan kurikulumnya, sedangkan milis adalah tempat praktiknya. Kurang lebih enam bulan hasil belajarnya di bawah bimbingan Edy Zaques ada di http://www.pembelajar.com.

Hingga akhirnya, puluhan puisi dan novelnya dibaca oleh kumpulan penulis dan novelis Indonesia maupun Hong Kong. Eni mengatakan, puisinya yang berjudul “Ajari Aku Kaya Om” dijadikan buku bersama 100 penyair Indonesia dalam buku “Jogja 5,9 Skala Richter”. ‘’Saat itu, saya bangga sekali,’’ ujarnya.

Selain itu, karya Eni juga ada di kumpulan cerpen Majalah Peduli milik Bonari Naboenar serta Majalah Ekspresi di Hong Kong. Hingga pernah mengomentari tulisan Jennie S. Bev, penulis dan pengusaha sukses di San Fransisco asal Indonesia. ‘’Di sini saya ingin diakui secara intelektual bahwa TKW itu intelektualnya tidak rendah, dan di sini saya membuktikan saya bisa,’’ kata wanita yang baru menikah itu.

Usaha Eni, PRT tangguh itu, ternyata tak sia-sia. Dia pun bisa menelurkan buku motivasi yang tak sembarang orang bisa menuliskannya. Yang lebih hebat lagi, buku “Anda Luar Biasa!!!” yang baru dirilis bulan Februati 2007, langsung terjual 3 ribu eksemplar dalam sebulan. Dan kini, buku itu dicetak ulang sebanyak 5 ribu eksemplar.

Yang mengharukan, royalti bukunya tersebut, 100 persen didedikasikan Eni untuk yayasan pendidikan yang akan dirintisnya. “Saya bermimpi bisa merintis yayasan yang membantu proses pendidikan anak-anak miskin. Saya tidak ingin anak-anak miskin nantinya menjadi PRT seperti saya. Mereka harus berkembang, harus bisa kuliah. Jangan seperti saya,” ujarnya.

Pasca Merantau

Pada bulan Februari 2007, Eni memutuskan kembali ke Tanah Air. Setibanya di Indonesia, Eni langsung mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Tebet Sofyan Hotel Jakarta di acara Smart Write Smart Guinness bersama Johanes Arifin Wijaya.

Impian Eni terwujud yaitu menjadi public speaker yang selalu eksis dalam bidang motivator untuk semua kalangan. Saat ini, dirinya banyak belajar menulis skenario. ‘’Profil diri saya ditulis oleh Edy Zaques. Rencananya, profil itu akan dimunculkan di revisi buku berjudul Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah,’’ katanya. Eni mengajarkan bahwa untuk bisa menulis, tak perlu bergelar sarjana-doktor-profesor. Kacamata seorang pembantu ternyata melebihi kacamata profesor-doktor yang sibuk bergelut dengan limpahan buku dan fasilitas, tapi karyanya tak pernah bisa membumi.

Eni, PRT lulusan SMA di Banyuwangi, dan banyak TKI yang lainnya benar-benar hebat. Bagi orang kebanyakan yang selalu jumawa mengaku sebagai kaum berpendidikan, ternyata tak ada apa-apanya dibanding mereka yang dianggap sebagai babu.

Eni dapat dihubungi di HP: 081389641733 atau email: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Eni, you have fight for your burning desire or …for your freedom.

[saya rangkum dari berbagai sumber berita di harian Jawa Pos, Kaltim Pos, dan Antara]

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto

Advertisements

4 Comments

  1. prambanan says:

    fightforfreedom said: indahnya kalo bisa bermanfaat buat orang lain ya…

    asli mas..pengin….seperti itu

  2. Benar, mas Gogod.Karena bukunya menjadi best seller, ia mendapatakan royalti yg lumayan besarnya. Dengan royalti tsb, ia kumpulkan dan akhirnya berhasil membangun Eni Kusuma Foundation di Banyuwangi yg khusus membiayai anak yg ingin sekolah (dari keluarga tidak mampu). Pengalaman masa lalunya membuatnya tak ingin melihat anak telantar.hmm.. indahnya kalo bisa bermanfaat buat orang lain ya…

  3. prambanan says:

    waktu dulu baru baca ..kirain semua kiasan…nggak tahunya … setelah cari referensi sana siniternyata beneran… Eni Kusuma ANDA LUAR BIASA

  4. cyber21 says:

    manteppp soadaraku lanjutkan prestasimu

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: