Home » Amazing People » Bung Tomo – The Real Motivator (ternyata belum diakui sebagai Pahlawan Nasional)

Bung Tomo – The Real Motivator (ternyata belum diakui sebagai Pahlawan Nasional)

Blog Stats

  • 1,994,609

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers


Di dalam sebuah stasiun radio di kota Surabaya, Bung Tomo (anak muda bertubuh ramping mungil) menulis sebuah memoar:

“Pidatoku mulai kubaca. Aku lupa bahwa aku sedang berada sendirian di dalam studio. Seolah-olah di mukaku ada beribu-ribu, bahkan puluhan ribu orang yang mendengarkan pidatoku. Seakan-akan pendengarku itu seorang demi seorang kudekati dan kupegang bahunya, kuajak waspada, bersiap, menghadapi bahaya yang mendatang…. Tak dapat kulukiskan betapa gembiraku, ketika selesai aku membaca. Hampir tak kubersihkan peluh yang membasahi mukaku…. Aku mendengar beberapa orang di antara mereka itu berkata: “Tidak berbeda dengan Bung Karno’.”

Saat itu terjadi pada tanggal 14 Oktober 1945, pk 19.30. Itulah saat untuk pertama kali Bung Tomo berbicara di corong Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia (RPRI). Dan itulah kali pertama Radio tersebut mengudara.

Radio itu didirikan atas inisiatif Bung Tomo. Kisahnya berawal dari kepergian Bung Tomo ke Jakarta pada awal Oktober. Dalam statusnya sebagai wartawan Antara dan Biro Penerangan Komite Nasional Indonesia Daerah Surabaya, Bung Tomo bertemu dengan pemimpin-pemimpin republik, menceritakan bagaimana arek-arek Surabaya tak pernah membiarkan sekali pun bendera Belanda berkibar.

Dari situlah Radio (RPRI) itu lahir. Dari corong radio tersebut, pidato-pidato dengan menggunakan pelbagai bahasa asing dan bahasa daerah disiarkan. Lagu-lagu perjuangan dikumandangkan.

Sehari menjelang pertempuran 10 November, radio ini pula yang menyerukan segenap arek-arek Surabaya untuk memertahankan Surabaya dengan apapun alat dan cara yang dimungkinkan dan jika perlu membumihanguskan Surabaya sendiri jika dirasa Sekutu sudah terang akan berhasil merebut Surabaya.

Pidato-pidato Bung Tomo yang membakar, suaranya yang menggelegar dan kemampuannya memilah yel-yel, membuat tak ada orang Surabaya yang tak mengenal suaranya. Orang tak akan lupa pada seruan di setiap pembukaan orasinya: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Selamat menyimak orasi beliau di halaman 2 jurnal ini.

Advertisements

Pages: 1 2


4 Comments

  1. Pagi ini, saya sedih sekali membaca Jawa Pos online yg memberitakan bahwa ternyata Bung Tomo sampai sekarang belum diakui sebagai pahlawan nasional.

    jawapos edisi 10-11-07 menulis:
    Apa alasan pemerintah sehingga tidak kunjung memberikan gelar pahlawan nasional kepada pembakar semangat juang Arek-Arek Suroboyo pada pertempuran 10 November itu? Direktur Kepahlawanan, Kejuangan, dan Keperintisan Departemen Sosial Yusrizal mengakui bahwa pihaknya belum pernah mengusulkan nama Bung Tomo menjadi pahlawan nasional. Alasannya, kata Yusrizal, ada persyaratan administrasi yang belum dipenuhi untuk mengusulkan Bung Tomo menjadi pahlawan nasional. Apa itu? “Bung Tomo belum diseminarkan di daerah,” tegas Yusrizal.Seminar itu, lanjut Yusrizal, dilakukan untuk mengetahui, apakah ada pihak yang berkeberatan dengan pengangkatan Bung Tomo menjadi pahlawan nasional atau tidak. “Nanti kalau sudah diseminarkan, akan diteliti oleh Badan Penelitian Pahlawan Pusat,” jelasnya.Apakah ada pihak-pihak yg masih merasa keberatan atas pengangkatan Bung Tomo sbg Pahlawan Nasional ? (saya geram rasanya)

    jawapos edisi 10-11-07 menulis:
    Keluarga pemilik nama asli Sutomo itu memang tidak pernah mempermasalahkan status kepahlawanan Bung Tomo. “Kami tidak akan pernah memohon,” ujar Bambang. Istri Bung Tomo, Sulistyowati, 82, juga ikhlas. “Bagi ibu, yang lebih penting rakyat mengakui. Tidak perlu pengakuan pemerintah,” lanjut Bambang.Menurut Bambang, saat masih hidup, Bung Tomo pernah mengkritik Soekarno dan Soeharto ketika keduanya menjadi presiden. Bung Tomo pernah terlibat adu mulut dengan Bung Karno. Setelah itu, istri Bung Tomo, yang juga sahabat Fatmawati, melarang Bung Tomo datang ke istana. Saat Orde Baru, pria kelahiran 1920 itu pernah mengkritik Soeharto soal pemerataan pembangunan. Soeharto pun marah dan memenjarakan Bung Tomo. “Bapak juga memberi wasiat tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mungkin ini yang membuat pemerintah tersinggung,” ungkap Bambang. Bung Tomo dimakamkan di pemakaman umum di Ngagel, Surabaya.Ternyata para pemimpin kita (baca: pemerintah) masih harus banyak belajar bagaimana menghargai jasa para pahlawan. Ini suatu bentuk kelalaian. Menyedihkan sekali…Maafkan kami, Bung Tomo… (teriring doa kami menemani istirahatmu yang panjang).

  2. Setuju, cak…Sakjane Pemkot Surabaya yo wis mikirno… baca box news di Koran Sindo kemarin. Di acara Republik Mimpi, minggu kemarin, Cak Bambang Sulistomo mengajak pemerintah sekarang untuk menghapus trauma politik masa lampau.

  3. masakgos says:

    Bung Tomo iku pahlawan cak!!!(idem kaliyan panjenengan, marah, mangkel, geram. Lha orang seperti Bung Tomo kok gak diakui pahlawan). Tapi saya usul saja, Pemkot Surabaya sebaiknya melakukan gerakan atau tindakan nyata terkait kepahlawanan Bung Tomo. Selama ini baru hanya nama jalan (jalan Bung Tomo). Misalnya saja, bangun monumen Bung Tomo. Piye kang?

  4. Thanks sekali lagi Broer.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: