Home » Film Review » The Scarlett Letter….[ Destiny is a Choice ]

The Scarlett Letter….[ Destiny is a Choice ]

Blog Stats

  • 1,994,609

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Actors : Demi Moore, Gary Oldman
Year : 1995

===========================================

Masa lalu adalah sejarah…that’s why they call it history
Hari ini adalah anugerah…that’s why they call it present
Masa depan adalah misteri. Saya memilih untuk ikut berperan dalam menentukan seperti apa misteri bagi masa depan saya, dibandingkan dengan membiarkan alam menentukannya bagi saya.

===========================================

Barangkali film “The Scarlett Letter” adalah sesuai dengan ungkapan di atas. Film ini adalah sebuah film klasik yang diangkat dari sebuah novel karya Nathaniel Hawthorne. Film tersebut mengambil background masyarakat puritan di New England pada abad ke-17. Tokoh dalam film itu, Hester Prynne (diperankan Demi Moore), ditaksir oleh seorang pastor muda; yang di kemudian hari, Prynne “terpaksa” merelakan mahkotanya. Yang pada akhirnya, justru Prynne yang ditangkap dan dituduh sebagai pezinah. Dengan maksud menjaga kehormatan pasangannya yang seorang pastor muda, Prynne tetap merahasiakan siapa yang telah “berbuat” dengannya. Justru Prynne mengakui kesalahannya atas perbuatan yang dikutuk oleh masyarakatnya itu. Sehingga akibatnya, ia harus dikucilkan dan dihukum. Hukumannya adalah setiap saat ia harus mengenakan pakaian berhuruf “A” warna merah besar, tersulam di dadanya agar semua orang tahu manusia macam apa perempuan itu.

Walaupun dengan lambang aib di dadanya (yang selalu harus ia kenakan kemana-mana), namun ujung depan sejarahnya masih terbuka, dan ia memilih pertumbuhan jiwa, serta menjauhi kehancuran jiwa. Perlahan-lahan ia merebut kembali rasa hormat masyarakatnya. Ia membesarkan anaknya sebagai seorang single parent, dan dengan caranya sendiri menyumbangkan apa yang bisa ia lakukan bagi masyarakatnya. Karena terbukti tangguh walau mengalami deraan derita, cemooh dan pengasingan, ia malah menjadi tempat yang begitu mudah tersedia bagi mereka yang ingin curhat dan mendapatkan nasihat darinya. Karena kebaikan-kebaikan kecil yang ia sumbangkan bagi masyarakat sekelilingnya, anak-anak yang semakin besar satu dasawarsa kemudian bertanya-tanya kepada ibu mereka masing-masing, apakah huruf “A” di dada Hester Prynne itu berarti “Angel” (malaikat). Orangtua mereka mungkin sudah lupa, atau sengaja melupakan, dan anak-anak itu jelas tidak tahu bahwa “A” merah itu dulu berarti “Adulteress” (wanita pezinah).

Jadi, mana yang lebih menentukan, nasib atau personal leadership?
Susah menjawabnya. Namun dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”

Nah…kalo gitu, berarti lebih baik mendayagunakan seluruh kemampuan diri untuk menentukan nasib daripada menanti nasib mendiktekan kehendaknya. Seperti yang dicontohkan oleh Hester Prynne, yang merubah status “Adulteress” menjadi “Angel”.

Advertisements

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: