Home » Amazing People » [True Story] KOMITMEN + FOKUS = GOAL si Pelari Tanpa Kaki

[True Story] KOMITMEN + FOKUS = GOAL si Pelari Tanpa Kaki

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

[ Diiringi lagu “The Power of the Dream”-nya Celine Dion, Anda bisa menceritakan kisah dibawah ini dengan semangat (sesuai tempo lagu dan urutan cerita) dihadapan buah hati Anda atau tim kerja Anda.]

Ini cerita tentang seorang laki-laki yang bernama Bob Wieland. Dia adalah seorang pelari marathon. Menurut saya, dia telah membuktikan bahwa tidak ada goal yang tidak realistis. Yang ada adalah imajinasi yang dibatasi oleh orang tersebut. Dia percaya bahwa Anda bisa mendapatkan apa saja… apa saja yang Anda cita-citakan, asalkan Anda mempunyai keinginan yang kuat dan berjuang untuk mendapatkannya.

Bob Wieland adalah pelari marathon yang berhasil mencapai garis finish di International Marathon 1986 di kota New York dan dia mencapai garis finish yang paling belakang di antara ribuan pelari dari seluruh dunia. Mengapa saya harus bilang bahwa ia adalah seorang superstar? Karena Bob berhasil menyelesaikan lomba lari marathon sepanjang 42 km… dan Bob… tidak punya kaki !!! Bob telah kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang di Vietnam.

Bayangkan, banyak orang (termasuk saya) yang punya kaki namun tidak pernah menyelesaikan lari 42 km, sedangkan Bob bisa menyelesaikan meski tidak mempunyai kaki. Anda juga bisa bayangkan, bagaimana dia berlari dengan mengangkat badannya dan melempar tangannya sejauh-jauhnya ke depan sepanjang lintasan lari. Dan melakukan berulang-ulang dengan tangannya sepanjang 42 km. Dan itu adalah keberhasilan yang luar biasa sekali.

Saat lomba dimulai, ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah-wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta nampak mulai kelelahan dan mulai berjalan kaki. 10 km telah berlalu. Disini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-iseng. Beberapa peserta yang nampak kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Wieland yang berada di urutan paling belakang baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya. Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru:
“Ayo Bob ?.. Ayo Bob ?? berlarilah terus”.

Saat Bob akan mencapai garis finish di sebuah stadion di sana, semua banner sudah diturunkan, hampir semua penonton sudah pulang ke rumah masing-masing… karena terlalu lama menunggu. Bob hanya ditunggui oleh ayahnya, beberapa fotografer dan wartawan. Dan Bob yang hampir mencapai garis finish masih semangat… dia mengangkat badannya dengan tangannya… melempar tubuhnya jauh-jauh… dan melangkah maju.

Ketika hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Fisik Bob benar-benar telah habis saat itu. Bob perlahan-lahan bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak disana tangan Bob sudah berdarah-darah.

Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya. Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak:
“Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai.
Buka matamu, dan tegakkan badanmu.
Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata.
Cepat bangun ! Tunjukkan ke semua orang siapa dirimu, jangan menyerah !
Cepat bangkit !!!”

Pelan-pelan Bob mulai membuka matanya kembali. Saat itulah matanya melihat garis finish yang sudah dekat. Semangat mulai membara kembali di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat-lompat kedepan.Ayahnya menyaksikan Bob dengan air mata yang berlinang. Ayahnya merasakan anaknya fokus dengan cita-citanya. Dan ayahnya bangga sekali. Saya yakin ia telah mendidik Bob untuk mempunyai sikap yang terpuji. Ia mengajarkan kepadanya bahwa ia harus mempunyai impian atau ddrreammm dalam hidupnya.

Di sepanjang jalan ayahnya berteriak:

“Bob…Come on! Come on, Bob… come on!!!

One more step…. One step at a time!!! One step at a time!!!

Come on, Bob… one step at a time…!!!

Ayo, Bob… satu langkah lagi… satu langkah lagi…

Come on, Bob… satu langkah lagi…!!!

“Kalau kamu punya impian,” teriak ayahnya, “impian itu harus kuat, dan kamu harus fight!! Fight, Man!

Kamu harus berjuang, kamu harus mendapatkannya satu langkah demi satu langkah…!!!

Come on, Bob…! One step at a time!!!”

Diakhir langkahnya, Bob mengangkat badannya dan tangannya hingga melewati garis finish. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, dia bangga sekali karena impiannya telah tercapai. Ayahnya dengan bangga dan sedikit reporter bertepuk tangan. Plok… plok… plok… hanya beberapa orang… tetapi jutaan pasang mata yang menyaksikan peristiwa itu melalui siaran langsung di televisi memberikan applaus selamat dan salut pada Bob. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang difabel yang berhasil menyelesaikan lari marathon. Kemudian salah satu reporter datang menghampiri Bob dan berkata, “Bob, Anda adalah atlet yang luar biasa, apa rahasianya?”

Dengan lantang Bob berkata:

“Rahasianya, Anda harus mempunyai impian yang kuat!

Anda harus bersikap positif!

Anda harus punya support team yang mendukung Anda menjadi berhasil !!!”

Kemudian Bob melepaskan sarung tangannya, dan terlihat langsung oleh jutaan orang melalui tayangan televisi bahwa tangannya lecet dan luka-luka. Kemudian reporter itu menunduk dengan lututnya, dan bertanya kepada Bob, “Bob, bagaimana Anda bisa menahan sakit sepanjang 42 km di tangan Anda yang kondisinya hampir hancur berdarah-darah?”

Lagi-lagi, dengan lantang Bob Wieland berkata:

“Sakit yang saya rasakan bukan karena luka ditangan ini.

Tangan saya hanya terasa sakit apabila saya memalingkan mata saya dari finish line itu!

Tangan saya hanya terasa sakit pada saat saya memalingkan fokus dari cita-cita saya!!!

Dan kebahagiaan saya dapatkan bukan dari apa yang saya dapatkan, tapi dari proses untuk mendapatkannya.

Anda tahu, saya tidak punya kaki lagi. Namun, saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Untuk menghilangkan rasa sakit, saya harus tetap FOKUS untuk menatap GOAL saya.”

Benar, Bob.
Saya rasa tidak ada orang yang akan gagal dalam lari marathon ini. Tidak masalah Anda akan mencapainya dalam berapa lama. Asal Anda terus berlari. Anda disebut gagal, bila Anda berhenti. Jadi, janganlah berhenti sebelum tujuan Anda telah tercapai.

Apapun impian Anda? Apakah untuk anak-anak Anda, keluarga, atau orang-orang yang Anda cintai…. apakah itu untuk saudara-saudara Anda, ataukah untuk negara kita tercinta INDONESIA….impian itu harus kuat… dan lakukan apa saja yang halal untuk mendapatkan impian itu.”

“Apapun impian itu !!!

Walaupun prosesnya seringkali membuat kita menangis…!

Lakukan terus menerus… jangan putus asa…

Never give up…Fight for it!!!

Break your inertia…!!!

[sampai di sini ceritanya, seiring dengan selesainya lagu “The Power of the Dream”, yang ditutup dengan koor.
“the power of the dream,
the faith in things unseen,
the courage to embrace your fear.
No matter where you are, to reach for your own star,
to realize
the power of the dream
]

Dear MP-ers, seberapa kuatkah komitmen Anda terhadap goal ?

Banyak orang yang mempunyai impian, tapi hanya sedikit orang yang mempunyai komitmen. Keinginan itu adalah bila tercapai ya okey, kalo ngga pun juga ngga masalah. Sedangkan komitmen apapun yang terjadi harus tercapai. Di dalam komitmen harus ada `burning desire’, suatu keinginan yang membara yang menyentuh emosi anda, yang mampu membuat anda mau melakukan apa saja untuk impian anda tersebut.

Ingin lihat perjuangan Bob ketika melewati garis finish ?

Yuk, kita tonton bareng video-nya

Baca juga referensi di bawah ini dari nationwidespeakers

Meskipun difabel, disitu tertulis prestasinya a.l.:

AWARDS

– 1996, Named “The Most Courageous Man in America” by the NFL Players Association and the Jim Thorpe Foundation
– 1994, Voted “One of the Six Most Amazing Americans in the Past 20 Years” by People Magazine
– 1989, U.S. Marine Corps Marathon, “Most Inspirational” Award
– 1989, Healthy American Fitness Leader Award, United States Jaycees
– 1988, recipient of the prestigious Victory Award
– 1986, Outstanding Alumnus of the Year, California State University
– 1977-78, California’s Outstanding Disabled American Veteran
– 1971-72, Wisconsin’s Outstanding Disabled American Veteran

ACCOMPLISHMENTS

– Strength, flexibility, and motivational coach with the professional football team Green Bay packers
– Walked across America on his arms in three years, eight months, six days in 1982-86
– Former 4-time world record holder in the bench press with best lift of 507 pounds
– Completed the New York, Los Angeles, and Marine Corp Marathons
– Only double amputee to complete the grueling Ironman Triathlon in Kona, Hawaii
– Hosting 1992 television talk show Beating the Odds on national Sports Channel America
– Faculty member, outstanding graduate, and alumnus of California State University, Los Angeles
– Completed 6,200 mile bike circuit, twice across America in conjuction with the Congressional Medal of Honor Society

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
08.09.2007

Advertisements

8 Comments

  1. latansaide says:

    semoga kita bisa meneladani komitmen dan fokus -nya ya…

    *tulisan lama banget ya, waktu tulisan ini dibuat saya masih SMP x_x

  2. nandri said: nice motivation, thnks for sharenya

    mbak Windy, semoga membaca komen ini pas kangen dg MP dan mampir ke sini :)Apa kabarmu sekarang? Ayo ramaikan kembali MP ini dg tulisan-tulisan pencerahanmu.

  3. naylah85 said: Tfs , mas Iwan :)Btw, dengan diiringi lagu memang lebih terasa soul nya 🙂

    Sama-sama, mbak Naylah.Membacakan kisah – kisah motivasi, memang paling enak kalo diiringi musik / lagu.

  4. naylah85 says:

    Wah…kisah yang luarbiasa..Membuat kita yang “lengkap” menjadi malu.Motivasi yang bagus sekali ya Mas, salut..Tfs , mas Iwan :)Btw, dengan diiringi lagu memang lebih terasa soul nya 🙂

  5. denimanusiaikan saidCome on Deni….!!! One more step…. One step at a time!!!One more step… One step at a time!!! Teriakan motivasi ayahnya ini akhirnya menjadi judul sebuah buku “One Step at a Time: The Remarkable True Story of Bob Wieland”. Yang cover-nya terdapat pada gambar di atas.

  6. Come on Deni….!!! One more step…. One step at a time!!!

  7. nandri says:

    nice motivation, thnks for sharenya

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: