Home » Amazing People » Bocah Cilik Indonesia Terima Penghargaan dari PBB dan mendapat Royalti

Bocah Cilik Indonesia Terima Penghargaan dari PBB dan mendapat Royalti

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers


Bryan Jevoncia, seorang bocah Indonesia berumur enam tahun (kelahiran Pontianak, 16 Desember 2000 dan saat ini duduk di kelas 2 SD Suster Pontianak, Kalbar, dan tergabung dalam sanggar kreatif Khatulistiwa Children Fun Art Khatulistiwa (Khacifa), pada tanggal 17 Oktober 2007 di Markas Besar PBB menerima penghargaan dari PBB setelah memenangi lomba sayembara mendisain perangko PBB.

Bocah tersebut menjadi salah satu pemenang International Children Art Competition usia 6-15 tahun. Dalam lomba itu, lebih dari 12.000 karya yang masuk ke meja panitia dari 124 negara di dunia. Sebagai pemenang, PBB mengundang Bryan hadir pada International Day for the Eradication of Poverty (Hari Pengentasan Kemiskinan) pada 17 Oktober 2007. Hasil karyanya akan dicetak menjadi Perangko PBB 2008. Tentu saja, Bryan berhak atas royalty.

Dalam desain-nya Bryan tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan setelah pulang sekolah. Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka untuk dijual (sebagai tambahan uang saku).

Bagaimana orang tua-nya mengelola bakat dan talenta yang dimiliki Bryan ? (Ibunya Bryan adalah seorang tukang jahit).

Jawa Pos, 01 Oktober 2007 memberitakan :

Talenta melukis Bryan sudah terlihat sejak usianya dua tahun. “Sejak bisa memegang pensil, dia suka sekali menggambar. Dinding rumah kami penuh dengan coretan tangannya,” kata Rosina, ibunya. “Setinggi jangkauannya, setinggi itulah coretan di dinding rumah kami,” tambahnya.

Bryan adalah bungsu di antara empat bersaudara. Melihat Bryan punya talenta melukis, Rosina membawanya bergabung ke Khatulistiwa Children Fun Art (KHACHIFA). Beberapa kali Bryan menjadi juara di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat kota maupun provinsi. Dari situ pula, Bryan berangkat mengikuti lomba desain prangko PBB. Sebelumnya, orangtuanya membantu Bryan mengirim karyanya ke Jepang, Thailand, dan India.

Sehingga upaya orang tua Bryan menuai hasil :

liputan6.com, 07 Oktober 2007 memberitakan :
Kemampuan melukis Bryan memang berbeda dengan anak seusianya. Bryan tidak ragu menuangkan idenya langsung di atas kertas tanpa pola terlebih dulu. Diusianya yang relatif muda, ia sudah 51 kali menang lomba lukis di Kota Pontianak. Bahkan pernah meraih juara pertama pekan olahraga dan seni tingkat SD di Kalbar. Tidak hanya menonjol di bidang melukis. Bryan juga termasuk murid berprestasi di sekolahnya, SD Suster Pontianak. Ia menempati peringkat tiga.

Bryan memberikan contoh bagaimana seharusnya kita sebagai generasi muda bisa berkarya dan peka terhadap masalah kemiskinan.

Republika, 18 Oktober 2007 menulis :

Acara pemberian penghargaan berlangsung di salah satu taman di kompleks gedung PBB dan dihadiri oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon serta sejumlah kepala perwakilan negara-negara asing, termasuk Wakil Tetap RI untuk PBB Marty Natalegawa.

Sangat membanggakan, ada putera Indonesia yang terpilih dari sekian ribu peserta. Ini menjadi tanda bahwa generasi muda kita mampu menghasilkan karya-karya yang baik, membangun solidaritas dan peka terhadap masalah kemiskinan,” kata Marty ketika diminta komentarnya oleh ANTARA.

Bryan menjadi mutiara di tengah kemiskinan daerahnya:

Pontianak Post, 01 Oktober 2007 memberitakan :
Beberapa kalangan juga bersimpati dengan keberhasilan Bryan. Ia memang sedang beruntung. Bryan menjadi mutiara di tengah kemiskinan di Kalbar. Hingga 2007, Kalimantan Barat memiliki penduduk termiskin terbesar di Pulau Kalimantan dengan jumlah 584,3 ribu jiwa dari 4,12 juta orang pada 2007. Kondisi ini menempatkan Kalbar pada kelompok 14 provinsi yang memiliki penduduk miskin terbesar di Indonesia. Keberhasilan Bryan adalah keberhasilan kita semua. Dari kemiskinan Kalbar muncul mutiara kecil yang bisa mengharumkan nama Indonesia

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita keberhasilan Bryan ini adalah bagaimana seharusnya kita menanamkan jiwa wirausaha kepada diri sendiri dan/atau generasi penerus kita sejak dini sehingga bisa membentuk mental yang mandiri dan peka terhadap masalah sosial. Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan hal itu sekarang…?

hmm.. nikmatnya baca koran ditemani secangkir kopi hangat…
salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto

Advertisements

1 Comment

  1. bastho says:

    Wah untung segera di paten kan haknya kalo nggak bisa di aku-aku sama negara tetangga tuh.. ha ha ha..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: