Home » Book Review » Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!

Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Mengapa Bangsa Indonesia masih tetap miskin dan tertinggal dengan negara-negara lain, padahal dari sisi sumber daya alam (yang sangat melimpah ruah ini) jelas nggak kalah dengan bangsa lain. Jawabannya adalah karena sebagian besar dari kita masih bermentalkan dan mewarisi sifat “inlander”. Walaupun secara formal bangsa ini sudah merdeka dan terbebas dari penjajahan, tetapi sejatinya secara ekonomi, politik kita masih dibawah bayang-bayang pengaruh asing. Itulah analisis yang dikemukakan Prof. Dr M Amien Rais dalam bukunya “Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!”.

Siapa saja yang membaca buku ini pasti timbul rasa marah. Bagaimana perasaan Anda sebagai anak bangsa yang melihat kekayaan dan sumber daya alamnya dikeruk habis-habisan oleh bangsa asing. Sepertinya bangsa dan negaranya seolah-olah sudah ngga ada harganya di mata bangsa dan negara lain. Karena itulah beliau merasa perlu memberikan motivasi kepada seluruh elemen bangsa untuk MENYADARI dan BERGERAK menyelamatkan bangsa ini.

Apakah seseorang bisa dikatakan nasionalismenya kuat bila begitu gegap gempitanya mendukung Tim Merah Putih yang berlaga di event olahraga internasional, namun begitu melempem dan cuek bebek ketika aset-aset negara dicaplok oleh kekuatan kapitalis asing? Dicaplok karena memang diberikan dengan sengaja oleh oknum-oknum pengkhianat bangsa.

Penjualan aset-aset negara yang terus berlanjut dinilai membahayakan bagi kemandirian ekonomi. Dengan menjual aset negara, pemerintah telah membiarkan pihak luar mengontrol Indonesia.

Amien menulis bahwa selama ini ada pemikiran aneh dalam mengelola BUMN. BUMN selalu diidentikkan sebagai perusahaan yang tidak sehat, tidak efisien dan korup. Sehingga untuk menyelamatkannya, pemerintah kemudian menjual BUMN tersebut kepada pihak swasta. Menurut beliau, pandangan mengenai BUMN itu jauh berbeda bila dibandingkan dengan kondisi BUMN di negara lain. Temasek dan Petronas adalah contoh BUMN yang sukses di Singapura dan Malaysia. Persoalannya ada pada pengelolaan BUMN, jadi privatisasi BUMN bukan satu-satunya solusi untuk menyelamatkan BUMN.

Dalam 30 tahun terakhir, dunia menyaksikan bangkitnya imperialisme ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat, negara-negara eks kolonialis, lewat apa yang dinamakan globalisasi. IMF, Bank Dunia, dan WTO adalah tiga institusi pilar globalisasi.

Dalam buku ini, Amien Rais juga menyampaikan komentar kritis mengenai globalisasi, hegemoni Barat (AS) dan ‘agenda-agenda’ asing di Indonesia. Tampak Amien menolak keras konsep globalisasi. Globalisasi menawarkan konsep bebasnya keluar masuk barang dan jasa di semua negara tanpa sekat negara. Dengan dalih bahwa kebebasan merupakan sesuatu yang mesti ditegakkan untuk menjamin tatanan dunia yang lebih baik. Di mata Amien, globalisasi takkan pernah mengarah pada keadilan dan kesejahteraan. Sebaliknya, globalisasi akan menciptakan praktik ekonomi internasional yang eksploitatif, dan hanya menguntungkan negara maju (hal 23). Sebagai negara yang dianggap penyokong utama globalisasi, Amien tak lupa mengkritik hegemoni AS di depan negara-negara berkembang. Dalam konteks pertanian dan free trade, Amien menilai bahwa AS yang dikonotasikan sebagai petinju kelas berat, melawan negara-negara berkembang (petinju kelas bulu). Udah jelas, siapa pemenangnya. Untuk melindungi produk pertaniannya, AS dan negara-negara maju memberikan subsidi besar kepada petani. Dengan politik ini, produk pertanian dari negara berkembang takkan bisa masuk (hlm 24).

Kekuatan korporatokrasi yang mengurung Indonesia didukung oleh korporasi besar, kekuatan politik, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan intelektual pro kemapanan. Kesemua elemen korporatokrasi tersebut tidaklah bisa masuk ke negeri ini apabila pemerintah tidak memberi ruang untuk masuk. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, elite nasional malah membuka jalan tol untuk masuknya mereka. Elite malah menjadi pelayan kepentingan korporatokrasi tersebut. Sehingga bangsa ini menjadi subordinat korporatokrasi tersebut, sulit untuk menjadi negara yang memiliki kemandirian dan kemardekaan.

Mereka membangun sistem korporatokrasi yang berunsurkan korporasi besar, kekuatan politik pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan kelompok intelektual prokemapanan. Unsur-unsur korporatokrasi itu dapat menerobos ke negara-negara berkembang dengan bantuan elite nasionalnya yang bersedia menjadi pelayan kepentingan korporatokrasi. Sementara itu Pax Americana yang memimpikan supremasi atau hagemoni Amerika Serikat telah membonceng proses globalisasi itu.

Sayang sekali, pemerintah SBY membawa Indonesia ke posisi subordinasi di bawah korporatokrasi internasional itu. Indonesia tidak mungkin memelihara kemerdekaan, kedaulatan, dan kemandiriannya apabila Indonesia tetap menjadi subordinat kepentingan kapitalis dunia.

Buku ini menawarkan agenda yang perlu kita kerjakan bersama. Dari hal-hal tersebut paling tidak ada lima hal yang diusulkan Amien Rais dalam menyelesaikan persoalan bangsa:

Pertama, gagasan atau formulasi kepemimpinan alternatif atau transformatif.

Kedua, negosiasi ulang kontrak kerja dan sharing di bidang migas dan nonmigas.

Ketiga, kajian atas UU penanaman modal di bidang migas,kelistrikan, perairan dan pelayaran yang semuanya menguntungkan pihak asing.

Keempat, membentuk ekonomi kerakyatan bukan konglomerasi.

Kelima, dekonstruksi mental bangsa yang sedemikian korup tentang kondisi bangsa Indonesia.
————————————-
Buku ini terbagi dalam 7 bab, antara lain:

BAB I Sejarah Berulang

BAB II Globalisasi Makin Layu
Tidak Ada Pilihan Lain ?
Globalisasi dan Imperialisme Ekonomi
<br?
BAB III Kritik Tajam Dari Dalam
Posisi Indonesia

BAB IV Pax Americana
Pax Americana
Doktrin Bush
Kritik Terhadap Pax Americana

BAB V Korporatokrasi
Korporasi Besar
Pemerintah
Perbankan dan Lembaga Keuangan Internasional
Militer
Media Massa
Intelektual Pengabdi Kekuasaan
Elita Nasional Bermental Inlander

BAB VI Korupsi Paling Berbahaya State Capture Corruption
Zaman Habibie
Zaman Megawati
Zaman Yudhoyono

BAB VII Kesimpulan Dan Saran: Apa yang harus kita kerjakan ?
Lampiran
– SURAT Ketua LIPI
– Beranikah Indonesia Menghentikan Penjajahan Freeport ? Tidak
– Kata Pengantar pada buku: Freeport Bagaimana Pertambangan Emas dan Tembaga Raksasa “ Menjajah Indonesia”
– Analisis Kontrak Karya II Freeport
– Beberapa Ketentuan Dalam Kontrak, Bagi Hasil yang Cenderung Pro Asing
– Cost Recovery PT Pertamina EP

Selamat membaca buku ini…

Advertisements

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: