Home » Amazing People » Dari Warung Gerobak menjadi Rumah Makan beromzet ratusan juta

Dari Warung Gerobak menjadi Rumah Makan beromzet ratusan juta

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers


Foto di atas yang diambil sepuluh tahun lalu, tampak berbeda ketika saya bertemu dengannya di sebuah kelas EU (Enterpreneur University) beberapa minggu lalu di Batam. Sekarang ia tampak lebih muda dan energik, layaknya motivator, memang ia sekarang sudah jadi pembicara di mana-mana atas keberhasilannya.
Berbekal ijazah SMA, Agus Pramono (akrab dipanggil Mas Mono) mengawali perjuangannya dengan menjadi office boy dan jualan roti pisang keliling. Namun hanya berselang delapan tahun ia mampu menjadi juragan ayam bakar yang omsetnya ratusan juta perbulan.
Filosofi hidup: Urip kaya cakra manggilingan (hidup ini ibarat roda yang berputar terkadang diatas terkadang dibawah) benar-benar dimaknai secara mendalam oleh Agus Pramono, sehingga pada akhirnya ia menjadi Bos Ayam Bakar Kalasan Mas Mono yang kini mempunyai sepuluh outlet dan tersebar di berbagai wilayah di jakarta dan melayani jasa catering untuk Anteve, Trans TV dan TV7.
Bagaimana kisah kehidupannya? silakan menyimak di bawah ini.

Awal sebagai karyawan

Setamat SMA, Mono hijrah dari Madiun ke Jakarta pada tahun 1994. Di Jakarta, ia bekerja sebagai koki restoran fast food California Fried Chicken. Tiga tahun kemudian, ia keluar dari CFC, untuk memegang operasional rumah makan yang melayani jasa catering even-even khusus. Kebetulan pada tahun itu, properti mengalami booming sehingga banyak sekali peluncuran perumahan yang membutuhkan jasa catering. Namun perjalanan hidup, tak ubahnya air yang pasang surut, tahun 1997, krisis ekonomi mendera Indonesia. Penyelenggaraan event-event yang semula booming, mulai lesu. Order yang dulu antre, berubah total, nyaris tak ada satupun order yang masuk.

Mono masuk barisan dari jutaan penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menyambung hidupnya, Mono menulis puisi dan membuat vinyet untuk dikirimkan ke sejumlah media masa. ”Supaya bisa dimuat, puisi maupun vinyet itu saya antar sendiri ke redaksi,” kata Mono mengenang masa-masa susah dalam hidupnya.

Mono berusaha untuk melamar ke sejumlah perusahaan. Namun tidak ada satupun lamarannya yang membuahkan hasil. Baru pada tahun 1998, dengan rekomendasi dari seorang temannya, Mono diterima sebagai OB di sebuah perusahaan konsultan. Pekerjaan Mono sehari-hari adalah menyapu, mengepel dan memfotocopi dokumen, namun, disela-sela mengerjakan tugas pokoknya tersebut, Mono belajar untuk mengoperasikan komputer. Setelah berhasil mengoperasikan komputer ia mencari hasil tambahan dengan melayani jasa pengetikan skripsi.

Siap Action dan Pindah Kuadran

Meski sudah berusaha keras untuk mendapatkan hasil tambahan, tetapi tuntutan ekonomi berkembang jauh lebih pesat, sehingga Mono merasa posisinya sebagi karyawan tidak bisa dipertahankan lagi. Ia akhirnya resign dan memulai usaha sendiri.

Modal cekak membuatnya berfikir keras, usaha apa yang cepat mendatangkan uang sehingga bisa menambal kebutuhan sehari-hari. Terlintas dibenaknya untuk membuat warung makan seperti yang berada di dekat kantornya. Namun dengan uang Rp 500rb di tangan jelas tidak cukup dijadikan modal untuk mendirikan warung makan.

Dengan dana yang ada, usaha jualan pisang cokelat merupakan pilihan yang masuk akal. Ia membelanjakan sebagian dari uangnya untuk uang muka membeli gerobak dan sisanya untuk membeli bahan baku. Mulailah Mono mendorong gerobaknya dan menjajakan pisang cokelat dari satu sekolah SD ke SD lainnya. “Setiap SD jam istirahatnya berbeda. Saya selalu berpindah-pindah menyesuaikan jam istirahat beberapa SD,” ujar Mono.

Di tengah kesulitan hidup, Mono mengambil keputusan berani untuk menyunting pujaan hatinya, Nunung, yang kini telah memberinya buah hati Novita Anung Pramono. Pasangan muda ini hidup di satu kamar kontrakan dan tidur hanya beralaskan tikar tanpa kasur.agar sedikit empuk maka Mono menganjal tikarnya dengan kardus-kardus bekas.

Profesi sebagai penjual pisang coklat masih ia geluti. kalau dagangannya masih sisa, maka sorenya ia ngetem di depan Universitas Sahid (Usahid). Untuk meringankan beban suaminya, Nunung mengambil pekerjaan dari subkontraktor kardus sepatu. ”Saya kasihan sekali melihat istri kecapeaan setelah melipat-lipat kardus sepatu,” ungkap Mono.

Pada suatu hari di tahun 2000, Mono melihat ada lapak di depan kampus Usahid yang tidak terpakai. Mimpinya untuk memiliki warung ayam bakar kaki lima kembali menyeruak. Didukung istrinya yang jago memasak, Mono mulai beralih profesi menjadi penjual ayam bakar. Pertama kali jualan Mono membawa 5 ekor ayam yang ia jadikan 20 potong. pada waktu itu yang laku hanya 12 potong. “Tetapi saya sudah sangat bersyukur, memiliki lapak saja saya merasa bermimpi,” imbuhnya.

Kombinasi antara menu yang enak dan ketekunan, sedikit demi sedikit ayam bakar Mas Mono membuahkan hasil. Hari demi hari, minggu berganti minggu, tahun beranjak tahun ayam bakarnya semakin laris. Warungnya yang semula hanya menghabiskan 5 ekor ayam sudah mampu menjual 80 ekor ayam per harinya. Karyawan yang semula hanya satu orang bertambah menjadi beberapa orang.

Ujian datang

Ketika omzetnya makin naik, suatu hari Mono mendengar sebuah rencana bahwa lapak tempat jualannya bakal digusur untuk dijadikan pangkalan POM Bensin. Akhirnya ia dipaksa pindah disaat ia sudah mempunyai pelanggan tetap yang banyak. Sempat ia berpikir bahwa TUHAN BENAR-BENAR TIDAK ADIL !.

Namun, akhirnya ia kembali sadar, bahwa itu hanya ujian. Lantas bagaimana ia bisa membalikkan keadaan itu?

Ketekunan yang berbuah keberuntungan

Mas Mono mulai menata kembali warungnya di tempat yang baru, yaitu di Jl. Tebet Raya No.57, yang ia peroleh dari salah satu pelanggannya, Tidak tinggal diam, sang istri berjualan nasi uduk di dekat sebuah kantor di jalan MT Haryono. Warung nasi uduk buka antara pukul 06.00 – 10.00, dengan gerobak warung yang sama, di atas jam 12.00, gerobak warung tersebut disulap menjadi jualan ayam bakar. Sehingga dari jualan dua-duanya, mereka mampu meraih omzet 800 ribu perhari.

Di tempat ini Mono hanya bisa menempatkan 2 bangku kecil, tetapi di luar dugaan pelanggannya membludak sehingga mereka rela makan sambil berdiri. Setelah sukses di tempat ini Mono mengusung nama “Ayam Bakar Kalasan Mas Mono” untuk jualannya. Sebelumnya, ia tidak memakai merk untuk warungnya.

Dalam pengelolaannya, Mas Mono menerapkan standar mutu yang tinggi dan standar operasional layaknya rumah makan besar. Lantaran adanya standar tersebut, Warung Mas Mono menjadi terlihat berbeda dibanding warung kaki lima lain sehingga warung tersebut mengalami pertumbuhan pesat.

Setelah mendapat tempat di daerah Tebet, nampaknya di daerah inilah titik balik kehidupannya. Suatu hari, salah satu pelanggannya, presenter Dunia Lain TransTV, menyarankan agar Mono menawarkan jasa catering ke stasiun televisi tersebut. Ternyata tanpa melalui peroses berliku-liku, Mono mendapat proyek itu, tak lama kemudian Anteve dan TV7 memesan catering.

Setelah berhasil dalam memenuhi pesanan katering, untuk menampung pelanggannya Mono kembali membuka warung di Jl. Tebet Timur Dalam no. 48. Lagi-lagi warung ini juga dipenuhi oleh pelanggan. Bukan hanya pelanggan lama, tetapi juga pelanggan baru, sehingga warung ini yang semula diniatkan menampung pelanggan lama, malah bisa memperluas pasar lagi. Kini keseluruhan warung Mas Mono mencapai sepuluh (jangan-jangan udah nambah lagi sekarang), selain yang disebut di atas Mono juga memiliki warung di Jl. Panggadegan Selatan Raya, Jl Pulo Nangka Barat II no.86, Jl. Inspeksi Saluran E 26 Kalimalang, kampus ASMI pulo mas, Jl. Soepomo, depan Universitas Sahid, …? (dimana lagi mas ? dulu lupa nyatatnya :-))

Pada awal keberhasilannya, ia tidak segera memperkaya diri. Mono sendiri mengaku, ia tidak berkeinginan segera memiliki rumah dan mobil pribadi. Tiga mobil yang ia miliki adalah mobil operasional. sedang rumahnya masih kontrak. Namun sejatinya, dari omset satu bulan saja Mono mampu membeli rumah ataupun mobil pribadi sekaligus.”Duitnya untuk mengembangkan usaha Mas,” katanya seraya mengatakan dalam pengembangan usaha ia tidak pernah berhubungan dengan lembaga keuangan. — nah, ini baru pengelolaan yang smart.

Sukses di mata Mono tidak harus memiliki rumah mentereng atau mobil keren, melainkan apa yang menjadi kebutuhannya terpenuhi. Kunci sukses, kata Mono, adalah penerapan dari kata-kata mutiara yang sering diucapkan oleh banyak orang “Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Mungkin kata-kata itu sangat sederhana dan mungkin setiap orang sudah tahu tentang itu. Tetapi kalau benar-benar di terapkan bisa menuntun hidup seseorang kearah yang lebih baik. saya merasakan sendiri kebenaran kata-kata itu,” tegas Mas Mono.

Akhirnya ia menyadari bahwa dulu ia pernah berburuk sangka terhadap rencana Tuhan, dan sekarang ia yakin seyakin-yakinnya bahwa TUHAN BENAR-BENAR ADIL. Ia bersyukur, pada saat menghadapi ujian, ia tidak salah menyikapinya.

Setelah mendengar ceritanya (melalui photo-photo di slide powerpoint), saya mendapatkan banyak hal darinya yaitu, motivasi, ketekunan, kesabaran, percaya diri, dan keberanian untuk maju dengan cara yang lebih baik. Mas Mono adalah salah satu potret kesuksesan yang datang setelah keluar dari zona nyaman yang kemudian harus menghadapi berbagai ujian. Ia berani berpindah haluan hanya untuk mencari jalan yang lebih baik.Terima kasih Mas Mono, semoga Mas Mono dan keluarga selalu bahagia dan dan terus berkembang usahanya.

Catatan akhir:

Sukses dalam usahanya tidak membuat Mas Mono menjadi puas, bahkan ia merasa patut membagi pengalamannya dan menularkan kesuksesannya itu kepada pengusaha-pengusaha kecil lainnya. Mono berbagi pengalaman usahanya sampai ke pelosok-pelosok bersama dengan HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan komunitas EU (Entrepreneur University) yang lahir di Batam.

Apa lagi rahasia kesuksesannya selain yang disebutkan di atas? Dan apa saja tips-tips nya untuk menjadikan sebuah warung makan sederhana menjadi rumah makan yang beromzet hingga miliaran rupiah? Dapatkan jawabannya langsung dari beliau yang nanti pada tanggal 15 Maret 2009, akan berbicara dan sekaligus membuka kelas EU angkatan ke-18 di Swiss Inn Hotel, Batam, pk 14.00, selama 5 jam beliau akan berbagi ilmu tentang bisnis kuliner.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
08.09.2009

Foto2 di bawah ini diambil dari blog-nya Mas Mono:

Foto-foto lainnya masih dalam tahap migrasi dari Multiply… sabar 🙂

Advertisements

19 Comments

  1. mesinroti says:

    Nice article, very helpfull & usefull. Dan untuk anda yang ingin tips memilih, merawat dan memperbaiki mesin roti / mesin bakery. klik aja di FIKRI TEKNIK ditunggu kunjungannya yach. good luck & keep blogging. Thank’s & salam kenal yach…..

  2. shesmart says:

    benar” menjadi inspirasi bwt sy,,,walaw sy baru buka 1 warung ayam bakar,,mudah”an kelak bisa sukses seperti mas mono…

  3. ichwannet said: mimpiku ingin mengikuti jejak beliau

    Semoga Tuhan memudahkan jalanmu untuk menggapai mimpimu itu. aamiin.

  4. ichwannet says:

    mimpiku ingin mengikuti jejak beliau

  5. rikahome said: like this 🙂

    Terimakasih, mbak Rika.Semoga sikap patience dan persistence-nya Mas Mono jadi teladan kita semua ya.

  6. rikahome says:

    like this 🙂

  7. Di status FB-nya mas Mono hari ini:Baru ‘ngeh’ saya. 11 tahun yg lalu saya jualan gorengan, nasi uduk,ayam bkr di dpn gdng bidakara pancoran. Pg ini saya isi seminar di gdng Bidakara..Nikmati proses teman.. Selalu positive thingking sama Allah. Yg menurut kita baik blm tentu baik di mata Allah. Pun sebaliknya.. Allah memang sering ‘becanda’ dgn kita..

  8. Sama – sama, mbak Trully Aries, mas Luqman, mbak Ima, semoga bermanfaat ya 🙂

  9. imazahra says:

    WOWIE ZOWIE, inspiring sekali beliau ini :-)Mimpiku belum sebesar Mas Mono ini, Mas, baru mau buka satu kedai, mudahan impian sederhanaku ini bisa segera terwujud ya, Mas 😀

  10. luqmanhakim says:

    Yup… Aku tau Mas Mono juga waktu masih di antv. Tulisan yang detil nyeritainnya Mas Iwan, Mas Mono memang orang sederhana yang hebat, menginspirasi…

  11. kesyarevan says:

    Thanks infonya…kapan2 pengen coba juga, kebetulan ada yg “dekat” (maksudnya gampang di cari alamatnya di Pulomas……hehe

  12. amiin… amiin… saya ikut men-do’akan aa, semoga alam semesta juga ikut mengaminkan. yang penting udah action.

  13. lha.. lidah ngga bisa bohong, mas. gimana kalo dicoba dulu, jadi tahu mana yang lebih asyik :-)saya sendiri belum pernah nyoba “lela” krn di batam belum ada :-), tapi kalo lihat foto2nya yg ditunjukin ke saya, kayanya asyik tuh… warung pecel lele aja desainnya spt rumah makan saung kuring sunda… ditambah ada lele dg berbagai rasa.

  14. aakangadi says:

    wah ketekunan yg berbuah keberhasilannya, semoga saya bisa mengikuti jejaknya. amin

  15. h3ndrikus says:

    fightforfreedom said: Ide Lela-nya benar-benar merubah konsep bisnis pecel lele sekarang ini, mulai dari desain spanduk sampai cara penyajiannya.

    beda tp lbh asyik yg mana..??yg ckrg to yg lama

  16. yang menarik, bisnis kulinernya ngga hanya ayam bakar. Bakso Moncrot dan Warung Lela (Lele Gila) adalah pengembangan usahanya. Ide Lela-nya benar-benar merubah konsep bisnis pecel lele sekarang ini, mulai dari desain spanduk sampai cara penyajiannya.

  17. h3ndrikus says:

    sy jg dah nonton ini di trans Tipiwah ebad buangetzz…….salut…salut….!!!

  18. Mas Mono pernah digunjingin tetangganya yang iri, bahwa ia pasti menggunakan magic untuk bisa kaya. Apa jawab Mas Mono? “Betul, saya memang menggunakan magic… magic jar, magic com.” :-))

Comments are closed.

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: