Home » Book Review » The New Rulers of the World

The New Rulers of the World

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Buku ini mengupas tentang sebuah era penguasa baru dunia (The New Rulers of the World), khususnya pengaruh bagi sebuah negara: INDONESIA.

Ditulis oleh John Pilger, seorang jurnalis terkemuka dunia berkebangsaan Australia yang bekerja di Inggris. Dari berbagai pengalaman dan menjadi saksi hidup pada berbagai peristiwa yang ia liput, membangkitkan semangat dasar nurani John Pilgers untuk membongkar segala ketidakadilan terutama yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya (termasuk Inggris dan Australia tempat dimana ia lahir dan tinggal).

Melalui buku ini juga, ia telah menelaah detail bagaimana beberapa ahli dan pengamat asing melihat peran kekuatan asing dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967.

Kutipan di bawah ini adalah sebagai penjelas pada scene film dokumenter yang diposting di sini

Terjemahan bebas pada halaman 39-42 adalah sebagai berikut:

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil-alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonom-ekonom Indonesia yang top”.

“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan “The Berkeley Mafia”, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Tim Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.

“…Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

******************************************
Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya…. (namun kenyataannya kini diambang kebangkrutan)

Jika demikian, the Mafia Berkeley merupakan pelaksana dari cita-cita The New World Order.

Promo e-booknya bisa di baca di sini.

Advertisements

13 Comments

  1. Imperialisme, di Indonesia Semuanya Tersedia Dengan Sempurna

    Setelah menerbitkan buku “Confessions of an Economic Hitman” (2004), John Perkins mendapat banyak kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat, dan mereka kebanyakan meminta agar Perkins melanjutkan bukunya dengan berbagai keterangan yang jauh lebih jujur dan berani. Salah satunya—seperti yang ditulis Perkins dalam pengantar “Pengakuan Bandit Ekonomi: Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia & Negara Dunia Ketiga” (2007) —meminta dirinya agar memaparkan arti kata “Imperium” dengan sederhana, agar banyak orang terbuka kesadarannya.

    Perkins menulis jika Imperium adalah negara-bangsa yang mendominasi negara-bangsa lainnya dan menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut:

    1. Mengeksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi,
    2. Menguras sumber daya dalam jumlah yang tidak sebanding dengan jumlah penduduknya jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain,
    3. Memiliki angkatan militer yang besar untuk menegakkan kebijakannya ketika upaya halus gagal,
    4. Menyebarkan bahasa, sastra, seni, dan berbagai aspek budayanya ke seluruh tempat yang berada di bawah pengaruhnya,
    5. Menarik pajak bukan hanya dari warganya sendiri, tapi juga dari orang-orang di negara lain, dan
    6. Mendorong penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.

    Perkins menulis, “Semua ciri imperium global itu ada pada AS.” Sebagai mantan tim perusak ekonomi—diistilahkannya sendiri sebagai “The Economic Hit Men”—Perkins dengan berani mengungkapkan kesaksiannya jika dewasa ini negara-negara dunia ketiga, alias negara terkebelakang, merupakan jajahan Imperium AS, termasuk Indonesia.

    Jika penguasanya disebut “Empire” atau “Emperor”, maka sistem yang berlaku adalah Imperialisme.

    Imperialisme ialah sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh, imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu. [Wikipedia]

    Perkataan Imperialisme muncul pertama kali di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, menciptakan politik ekspansif yang bernafsu meluaskan pengaruh kerajaan Inggris hingga ke seluruh dunia. Disraeli mendapat tentangan. Golongan oposisi ini takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan beragai krisis internasional. Kaum oposisi ini disebut golongan “Little England” dan golongan Disraeli (bersama Joseph Chamberlain dan Cecil Rhodes) disebut golongan “Empire” atau golongan “Imperialisme”. Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golongan Disraeli dari golongan oposisinya, namun dalam perkembangannya istilah ini meluas hingga seperti yang dikenal sekarang ini.

    Imperare

    Istilah imperialisme berasal dari kata Latin “imperare” yang artinya “memerintah”. Hak untuk memerintah (imperare) disebut “imperium”. Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut “imperator”. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium.

    Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal kini.

    Di zaman dahulu, tindakan untuk menguasai suatu wilayah kerajaan selalu menggunakan senjata api atau peperangan. Namun sekarang tidak selalu. Sekarang, penguasaan bisa dilakukan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama, pendidikan, dan ideologi. Dan tentu saja, perang sebagai alat terakhir seperti yang menimpa Irak dan Afghanistan.

    Indonesia Under Imperialisme

    Indonesia sekarang merupakan jajahan dari imperium asing. Mau melihat faktanya? Ada cara yang paling sederhana dan mudah, lihatlah film pendek karya John Pilger berjudul Globalisation: The New Rulers of the World. Dalam film ini, Pilger dengan jujur memotret dan menelanjangi apa yang disebut sebagai “Globalisasi”—eufimisme dari Imperialisasi—dan dampaknya bagi rakyat Indonesia yang sangat dahsyat berupa kemiskinan dan ketidakadilan.

    Globalisasi sesungguhnya hanyalah bungkus baru bagi “bangkai lama” bernama Kolonialisme dan Imperialisme. Keduanya merupakan konsekuensi logis dari sistem kapitalis yang tengah berkembang dengan cepat di Amerika dan Eropa. Ada tiga hal yang diperlukan kaum kapitalis dunia di saat sistem mereka maju dengan cepat, yakni sumber bahan mentah yang berlimpah, tenaga kerja yang banyak dan murah, serta pasar yang luas.

    Dan di Indonesia, semuanya dengan sempurna telah tersedia.

    Sebab itu, negeri kaya raya ini telah menjadi incaran kaum kolonialis-imperialis sejak dulu sampai detik ini. Ironisnya, sejarah mencatat jika proses kejahatan kemanusiaan yang besar ini ternyata diawali oleh Paus Alexander VI dalam Tordesillas Treaty (1494) yang merestui Salib-Portugis dan Salib-Spanyol menjajah dunia di luar Eropa, dan mereka bertemu di Nusantara.

    Indonesia, sampai sekarang masih terjajah. Hanya Islam yang mampu membebaskannya, dari segala belenggu penghambaan terhadap sesama mahluk. [Rz]

  2. […] ← The New Rulers of the World Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain? → […]

  3. […] hal di atas, disampaikan detail pada review buku di sini Barry Coates, Gerakan Pembangunan Dunia […]

  4. debapirez said: SMI & RI-2 bagian dari Mafia Barkeley? Kalau saya sich eks Bulaksumur Mafia hehe…

    Mereka itu reinkarnasi MB karena menganut paham yg sama, neolib

  5. debapirez says:

    SMI & RI-2 bagian dari Mafia Barkeley? Kalau saya sich eks Bulaksumur Mafia hehe…

  6. debapirez said: Beruntung lah kita keluar dari jerat IMF.

    Tapi sayangnya setelah semuanya terlambat… setelah banyak yg terlanjur digadaikan, yg menjadi program IMF untuk secara halus merampok aset2 penting & pengelolaan SDA negara ini.Apa yg mas Dedy sampaikan ttg WB & IMF itu benar.

  7. debapirez says:

    Saya punya edisi bukunya tuh,Om. Beruntung lah kita keluar dari jerat IMF. O ya, saya juga pernah nonton film tentang kejahatan mereka. Ternyata lemabaga2 donor spt Bank Dunia & IMF itu punya swasta ya. Kayak The Fed gt.Beda sm BI yg punya pemerintah. Makanya mereka gembar-gemborkan perkembangan ekonomi spy qt mau ngutang sm mrk trus.

  8. debapirez said: Sejenis buku The Economic Hitman ya,Om…

    Betul. Saya lihat di Kinokuniya Plaza Senayan Jakarta, ada jual buku ini.Yg bikin geram, di buku itu, Perkins bilang, bhw Presiden AS Richard Nixon ingin Indonesia diperas sampai kering seperti kain pel habis dipakai melantai. Negeri ini ibarat real estate terbesar di dunia yg gak boleh jatuh ke tangan Uni Soviet atau China.

  9. mayamulyadi said: Nampak mereka sangat Freemason sekali ga sih? *nanya beneran…

    Ya. *dijawab beneran.Tunggu, mbak, kalo ada kesempatan, saya akan tulis detail ttg hal ini.

  10. rawins said: ngimpi mode : on terus…

    dijaga terus, jangan sampai OFF

  11. debapirez says:

    Sejenis buku The Economic Hitman ya,Om…

  12. mayamulyadi says:

    The New World Order??? Nampak mereka sangat Freemason sekali ga sih? *nanya beneran…

  13. rawins says:

    tetep memimpikan low level format untuk negara ini…ngimpi mode : on terus…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: