Home » Business Ethic & Tips » Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Hari ini saya mengirim teguran tertulis kepada sebuah penerbit di Jakarta karena mereka menerbitkan sebuah buku. Lho, apa hak saya menegur penerbit? Benar, saya tidak berhak menegur mereka jika menjalankan bisnisnya dengan etika. Tetapi, penerbit itu jelas-jelas mengetahui jika buku yang diterbitkannya itu menjiplak sebagian dari isi buku saya yang sudah diterbitkan terlebih dahulu. Tanpa meminta ijin, tanpa menyebutkan sumbernya. Ada bukti kuat yang menunjukkan jika mereka memang melakukannya secara sadar.

Sedih saya dengan perilaku penulis di Indonesia. Bahkan untuk sekedar belajar beretika menulis saja mereka enggan melakukannya. Apa lagi diajak beretika untuk hal-hal yang lebih bernilai dari itu? Lebih sedih lagi saya, karena dalam kasus ini sang jago jiplak itu adalah seseorang yang juga berprofesi sebagai trainer, seperti halnya profesi saya. ‘Jeruk makan jeruk’ ini namanya. Beliau itu bukan trainer sembarangan alias kaliber kelas atas karena; beliau termasuk salah satu dari beberapa trainer yang disebut sebagai pemegang rekor MURI. Barangkali ini adalah salah satu contoh percaya diri seorang pribadi panutan yang kebablasan. Maaf, saya mengatakan demikian karena kita mesti belajar untuk bersikap tegas kepada perilaku tidak beretika. Siapa pun pelakunya.

Pun jika suatu saat nanti Anda menemukan saya yang melakukan penyimpangan. TOLONG. Jangan biarkan saya tersesat dalam jalan yang merendahkan martabat kita sendiri. Baik profesi sebagai Trainer, sebagai pendidik, sebagai penulis, maupun sebagai pribadi seperti halnya pribadi-pribadi lain. Saya juga sama manusianya dengan Anda semua, bisa kepeleset. Bahkan sudah sering kepeleset. Jadi jangan biarkan saya terseret arus sesat. Bantu saya untuk insyaf. Silakan.

Saya sempat berpikir untuk menegur langsung penulisnya. Wake up, man! Dunia penerbitan buku itu berbeda dengan budaya copy paste internet! Apakah sulit untuk sekedar ‘menyebut sebuah nama’ seandainya you tidak sanggup untuk ‘berpermisi’ ria? That’s the universal ethic.

Namun, akhirnya saya urungkan niat itu karena saya percaya penerbit buku yang mewakili saya bisa menjadi ‘representative body’ yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah ini.

Sebelum saya menegur penerbit itu, saya berulang kali membaca kalimat-kalimatnya. Hahaha, yakin; kalimat itu gue banget! Lalu saya cocokan dengan buku-buku saya. Bingo! Ternyata memang isi buku baru itu di halaman 8 sampai 17 sama persis dengan isi buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini”, kecuali satu atau dua kata yang diganti.

Anda yang pernah membaca buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini” atau yang mungkin suatu saat nanti akan membacanya jangan kaget kalau isi buku pada halaman 88-95 telah dijiplak oleh sang penulis buku baru itu. Sekedar Anda tahu saja, penulis buku itu tidak pernah menghubungi saya untuk mengambil bagian isi buku itu untuk buku yang diterbitkan atas namanya. Padahal, kalau saja beliau berbesar hati untuk menyebutkan nama penulis orisinilnya; memang tidak harus minta ijin kok. Kecuali kalau beliau berkenan melakukan yang lebih dari itu.

Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training

=======================================

Sabar ya Pak Dadang… budaya copy paste di negeri ini emang sedemikian parahnya. Bahkan seorang trainer papan atas pun ikut membudayakan menjiplak tanpa beretika.

Lanjut ke hal 2: Kaidah ’Fair Use’ Dalam Membuat Karya Tulis

Advertisements

Pages: 1 2


30 Comments

  1. daicymahia says:

    mungkin bagi sebagian, plagiarisme adalah masalah kecil, tetapi bagi ilmu pengetahuan ia merupakan masalah yang sangat serius karena bisa memajalkan kemajuan bangsa. Tradisinya adalah sama dengan tradisi mencuri, yang mengakibatkan suatu bangsa menjadi malas berpikir, tidak menciptakan pembaruan, tidak menghargai originalitas dan kreativitas, dan akhirnya melumpuhkan daya saing bangsa itu sendiri.karya saya pun pernah di plagiat, miris..

  2. Terimakasih bintangnya, mbak, tapi sebenarnya itu buat kang Dadang aja yg nulis artikel ini :))Beliau pernah bilang bahwa mencontek hasil karya orang lain itu menggambarkan sikap mental pelakunya yang imitatif. Seperti kembang plastik, hasil karyanya terlihat indah. Tapi tidak memiliki nyawa. Wah, kebangetan tuh yg tega membajak puisi atau cerpen, padahal kalo bikin puisi itu gak mudah… perlu menghadirkan suasana tertentu agar muncul inspirasi atau ide :)Semoga komunitasmu menemukan solusi untuk masalah ini ya, mbak.

  3. alunanjemari says:

    wah, sampai saya kasih bintang lima di atas nih Pak, hehe.. karena pas banget sebelum saya baca ini, di komunitas saya pun ternyata lagi seru-serunya membahas plagiat dan epigonis juga… bukan karya tulis sih, hanya sekedar puisi juga cerpen. Namun tetap saja itu menimbulkan kekecewaan bagi sang penulis asli, pun kebingungan bagi yang membaca. salam…

  4. rawins says:

    fightforfreedom said: aku senang dg gaya nulis sampeyan yg full misuh misuh itu, ternyata misuh misuh itu ada kromo inggilnya :))

    terkontaminasi debu vulkanik kayaknya. setelah hidup di lereng merapi koh yo jadi begini. bawaane skeptis terus kalo disuruh bilang tentang pengelola negara ini…

  5. mbak Arisa ini ada – ada aja, ini khan lagi ngebahas curhatannya Pak Dadang, yg bukunya dikutip persis berhalaman-halaman tanpa konfirmasi oleh sang motivator ternama di Indonesia. Kalo saya mah gak ada apa-apanya, lha wong bukan penulis.

  6. melatidesa says:

    wah…..karya2 kang fff pasti huueeeebatttt sekali…kalo ga, ga ada org mau jiplak.Nah…itu yg bisa ku simpulkan secara spontan bila membaca postingan ini.

  7. hwibntato said: kebiasaan mencontek waktu sekolah juga suka kebawa hingga besar katany

    sistem pendidikan kita berarti kudu dievaluasi ya, mas Hendra… kalo ternyata hanya menghasilkan generasi yg berpola pikir instant

  8. hwibntato says:

    kebiasaan mencontek waktu sekolah juga suka kebawa hingga besar katanya, Mas … he he he …

  9. bambangpriantono said: Kromo jancukannya ada juga toh?

    ada, mas. biasanya diawali dg kalimat:”nuwun sewu nggih, panjenengan punika jan j****kan tenan” :))

  10. subhanallahu said: mestinya boleh kopas asal ga buat komersil, gimana?

    kalo gak nampilin sumbernya, tetap aja haram hukumnya, karena dikonsumsi oleh publik. menurutku yg mengamini halal-haramnya Cak Marto.

  11. subhanallahu said: lupa belum naruh referensi di penjelasan album fotoku barusan 🙂

    Barusan saya udah pergi ke album foto dan meninggalkan banyak jejak di sana, mas Wid.anyway, nice sharing & sangat bermanfaat postingnya.Mas Widodo telah menaruh referensi berarti sudah masuk kategori penulis profesional, spt yg dibilang kang Dadang di atas. Mantab 🙂

  12. Kromo jancukannya ada juga toh?

  13. rawins said: ga tau kalo di dunia perbukuan. kalo di internet sih aku ndablek soal comot cimit ini. wong aku sendiri tak pernah punya pemikiran original. selalu saja hasil comot sana sini kumpulin dalam otak dan aku ketik dengan gaya bahasaku yang full misuh misuh. dan penjiplakan pemikiran ini memang lebih aman dari hujatan daripada penjiplakan kopipaste, walau menurutku mencuri otak lebih jahat daripada mencuri kata-kata…

    kalo soal comot cimit trus diolah, aku juga melakukan hal itu, kang Rawin, tapi yg penting gak lupa mencantumkan sumbernya, sehingga tulisan tsb menjadi halal dikonsumsi (kata cak Marto).aku senang dg gaya nulis sampeyan yg full misuh misuh itu, ternyata misuh misuh itu ada kromo inggilnya :))

  14. luqmanhakim said: Bisa jadi si penjiplak itu make dasar pemikirannya Ralph Waldo Emerson (1803 – 1882), filsuf Amerika, all my best thoughts were stolen by the ancients

    Mungkin juga, mas Luqman.Bisa jadi juga ia terinspirasi oleh pemikiran Uniek Swain: It’s not plagiarism – I’m recycling words, as any good environmentally conscious writer would do.

  15. rengganiez said: ini kayak dirampok..

    yg ngerampok, bukunya laris manissss… mari kita tunggu pengakuannya di depan publik, mbak aniezt

  16. tintin1868 said: admin kompasiana tidur kali ya.. apa ga ngecek karena “nama”?

    Kalo soal kompasiana saya gak ngikutin, mbak tin, ya semoga admin bisa bertinda tegas.Tapi kalo seorang penulis besar, disebut motivator lagi, trus dia njiplak plek persis beberapa halaman dari temannya sendiri trus dimuat di buku karyanya (tanpa sedikitpun menulis sumber aslinya, apalagi di daftar pustaka), wah itu yg bikin shock.. karena perpustakaan di kantorku mengoleksi buku-buku tulisannya.

  17. martoart said: “,,,Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan”

    hahaha… si pengaku itu ngambil energi negatif dari kalimat ini.thanks telah diingatkan, cak Marto.sebenarnya kalimat itu bisa mempunyai energi yang positif kalo diterapkan, contohnya spt yg dilakukan oleh Rogerio Ceni, ia seorang top scorer sebuah turnamen sepak bola di Brazil, padahal ia seorang penjaga gawang. Numpang nge-link, di sini ceritanya: Rogerio Ceni – Menembus Batas Paradigma Orang Rata-Rata

  18. subhanallahu says:

    mestinya boleh kopas asal ga buat komersil, gimana?

  19. subhanallahu says:

    lupa belum naruh referensi di penjelasan album fotoku barusan 🙂

  20. rawins says:

    ga tau kalo di dunia perbukuan. kalo di internet sih aku ndablek soal comot cimit ini. wong aku sendiri tak pernah punya pemikiran original. selalu saja hasil comot sana sini kumpulin dalam otak dan aku ketik dengan gaya bahasaku yang full misuh misuh. dan penjiplakan pemikiran ini memang lebih aman dari hujatan daripada penjiplakan kopipaste, walau menurutku mencuri otak lebih jahat daripada mencuri kata-kata…

  21. luqmanhakim says:

    Bisa jadi si penjiplak itu make dasar pemikirannya Ralph Waldo Emerson (1803 – 1882), filsuf Amerika, all my best thoughts were stolen by the ancients

  22. rengganiez says:

    ini kayak dirampok..

  23. tintin1868 says:

    admin kompasiana tidur kali ya.. apa ga ngecek karena “nama”?yaaa ku mah urut dada aja kalu karyaku dijiplak.. jadi belajar juga.. dunia tulis menulis pun bisa korupsi..

  24. martoart says:

    Heheheh saya ngintip di lapaknya si pengaku di kompasiana, kemudian nemu kutipan di profilnya:”,,,Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan”(Abbruzzia.Abbie)Akhirnya paham hahaha

  25. Tengkyu, cak Marto atas fatwa halal-haramnya menulis.Sebenarnya ini posting atas kekesalanku krn ternyata buku-buku motivasi yg setiap bulan dijadikan kado ultah karyawanku di kantor itu, setelah dikonfirmasi, ternyata ditulis oleh seorang plagiat. Padahal dia seorang motivator ternama, bahkan masuk rekor MURI. Tapi, gak usah disebutin namanya ya, yg pasti sang motivator itu telah mengakui kesalahannya.Just info, kang Dadang yang aktif di forum Enterpreneur Asociation (EA) telah memberikan surat teguran secara resmi. Sang plagiat (Mr X) itu juga aktif di forum yg sama. nah, lho… Wah, sebentar lagi pasti rame tuh…

  26. martoart says:

    Numpang berbagi istilah, siapa tahu ada manfaatnya:Istilah Plagiat itu untuk Penjiplak, bukan untuk Klaim (Pengaku). (Keduanya Haram)Karyaku pernah dijiplak beberapa kalimat dengan amat kentara oleh seseorang di Politikana. Dan saya sedang enggan menegur saat itu.Kartunkupun pernah diaku sebagai karya seseorang di salah satu situs. Aku menegurnya dan si pengeklaim itu segera minta maaf.Epigonis/copycat lain lagi, itu istilah untuk Pengekor. Adalah orang yg dengan sadar mengikuti gaya karya seseorang. Eufimis yg sering dipakai adalah ‘terinspirasi’, (Halal tapi kurang berintegritas)Follower atau pengikut adalah pemuja karya seseorang. Dia tak harus mengikuti gaya yg dipujanya. Dia hanya penggemar. (Halal)Copy-Paster, atau penyomot-tempel..Kalau dia ijin copas dan menaruh link kita, itu halal.Kalau dia tak ijin tapi menaruh link kita itu hala tapi kurang asyikada yg mo nambah?

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat