Home » Ghazwul Fikri » Bedah Film Kontroversi “?” karya Hanung Bramantyo

Bedah Film Kontroversi “?” karya Hanung Bramantyo

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Pembuka jurnal ini saya copas dari media: Suara Islam, yang mereview wawancaranya Hanung dengan Republika dan media JIL.

Sejauh mana Proses Pencarian atau Pencucian pada diri Hanung Bramantyo hingga ia telah mengaku murtad dan keluar dari Islam dan kemudian membawa pesan “Islam yang menggugat”?

Selamat menyimak.
***********************

Hanung Bramantyo, Sosok Sineas Liberal

“Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’.”

Entah salah kutip atau salah ketik, dalam wawancara dengan Harian Republika, Rabu (6/4/2011) lalu, sutradara Hanung Bramantyo, menyebut bahwa film terbarunya berjudul “?” (Tanda Tanya), berangkat dari pemahaman Surat Al Mumtahanah ayat 7. Dia mengutip lengkap terjemahan ayat itu. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Terjemahannya benar, tetapi kutipan nomor ayatnya salah. Yang benar ayat itu adalah ayat ke delapan surat al Mumtahanah. Ayat ini digunakan Hanung sebagai titik berangkat pembuatan filmnya yang sarat muatan liberalisme, pluralisme dan mendukung pemurtadan. Uniknya, ayat ini pula yang dijadikan sebagai dasar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menetapkan bahwa Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme bertentangan dengan Islam dan karena itu haram pula hukumnya. Mungkinkah Hanung lebih pintar memahami ayat tersebut dibandingkan para ulama di Komisi Fatwa MUI?. Tentu tidak.

Hanung sendiri dalam wawancara yang sama mengaku tidak mengerti apa itu pluralisme. “Saya tak tahu pluralisme itu apa karena sekarang saya sangat hati-hati dengan istilah seperti itu. Makanya, saya kasih judul film itu hanya tanda tanya” ujarnya. Nyatanya, film garapannya justru sarat muatan pluralisme yang telah difatwa haram oleh MUI.

Bukan kali ini saja Hanung membuat ‘marah’ umat Islam. Sebelumnya pada tahun 2006 dia membuat film bernuansa komunis, Lentera Merah. Bahkan, filmnya berjudul Perempuan Berkalung Surban (2009), malah dinilai sastrawan terkemuka, Taufik Ismail, sebagai film yang memburukkan pesantren dan kiyai. Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) KH Mahrus Amin mengatakan film tersebut tidak layak ditonton umat Islam. “Film ini mengusung liberalisasi, sosialis, memfitnah pesantren, dan meledek alim ulama,” ujar Kyai Mahrus Amin.

Siapa Sebenarnya Hanung?

Setiawan Hanung Bramantyo adalah pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 silam. Setidaknya dua kali ia terpilih menjadi sutradara terbaik melalui film karyanya. Dalam situs Wikipedia ditulis Hanung pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta namun tidak diselesaikannya. Setelah itu ia pindah ke Jakarta dan masuk di Jurusan Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Menurut pengakuannya, Hanung mengenal dunia teater saat kelas empat Sekolah Dasar, melalui kelompok teater masjid di Yogyakarta. Ia sendiri mengaku berasal dari keluarga Islam yang taat dan dekat dengan kalangan ulama. Ayahnya seorang Ketua Majelis Ekonomi Muhammadiyah di Yogyakarta. Sedang ibunya adalah seorang mualaf, keturunan Cina. Hanung sendiri mengenyam pendidikan dari TK hingga SMA di lingkungan pendidikan Muhammadiyah Yogyakarta. Setiap kali Ramadhan, ia mengaku tidak pernah absen menjadi panitia Ramadhan di masjid di kampungnya. Ia juga sempat beberapa bulan nyantri di Pesantren NU.

Titik balik dari Islam taat menjadi liberal, diakui Hanung terjadi saat sekolah di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. “Tiba-tiba saya menjadi sekuler, sempat menjadi sekuler, pada saat saya duduk di bangku SMA Muhammadiyah”, kata Hanung. Hal itu diakuinya dalam wawancara yang disiarkan langsung oleh KBR68H kerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL), Rabu, 27 Oktober 2010 silam. Transkrip wawancara itu kini masih bisa dibaca di situs JIL [Islamlib.com: Hanung Bramantyo – Agama hanyalah medium].

Saat akan mementaskan sebuah teater di sekolah, Hanung mengaku harus berhadapan dengan sang kepala sekolah. Kepala sekolahnya menganggap teater adalah kegiatan yang tidak syar’i. Apalagi saat itu Hanung akan mementaskan sebuah naskah tentang komunitas para pelacur di bawah jembatan Kali Code. Adegan-adegan yang direncanakan Hanung tidak disetujui oleh Kepala Sekolah, karena dipandang bertentangan dengan Islam. Tetapi Hanung bersikeras. Setelah berdebat dengan sang kepala sekolah, Hanung pun kalah. Ia kecewa.

“Akhirnya ya sudahlah. Kalau memang tidak ada teater, ya sudah. Yang penting saya sudah merasa pernah berbuat sesuatu. Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’,” akunya.

Contoh ‘kenakalan’ itu diakui sendiri oleh Hanung saat menggarap film Ayat-Ayat Cinta (AAC). Saat itu Hanung justru berada jauh dari Islam. Ia mengaku tidak shalat apapun dan bahkan tidak berpuasa Ramadhan.

“Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan shalat apa pun. Saya tidak shalat. Itu pada saat bulan Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua.”, kata Hanung.

Agama menurut Hanung hanyalah sebuah medium (alat). “Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.”, katanya.

“Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu,” lanjutnya.

Itulah selintas sosok Hanung Bramantyo. Sineas liberal yang telah menghasilkan karya yang banyak bertentangan dengan pemahaman Islam mainstream. Boleh jadi semua itu dilakukan karena ketidaktahuannya tentang Islam atau ia memang membawa misi khusus untuk menyerang Islam melalui film dengan menyusupkan ajaran-ajaran sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Jika tidak tahu dia harus belajar kepada yang lebih tahu, bila berniat jahat ia harus segera bertaubat. Mumpung belum terlambat. (shodiq ramadhan)

************
Saya mengutip pendapat DR Adian Husaini dalam novel KEMI yang mengatakan bahwa “Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang.”

Jadi, silakan melakukan proses pencarian tapi tetaplah menggunakan prinsip kehati-hatian, karena hati-hati itu adalah hakekat taqwa kepada Allah SWT.

.
Lanjut ke halaman 2:
Tanggapan atas Penyesatan Opini Hanung Bramantyo melalui Dapur Film Community

Advertisements

Pages: 1 2 3


35 Comments

  1. Dyah Sujiati says:

    sepakat banget Pak!
    #meski telat baca

  2. Tidak ada yg salah dengan hukum dan ajaran Islam, yg salah orang2 yang mengaku pemeluknya; seringkali tidak menjalankan aktivitas kesehariannya sesuai dgn ajaran Islam yang sudah dicontohkan Nabi SAW.
    Yang merasa terlalu pintar bahkan sampai menuding Al Qur’an masih perlu direvisi karena sudah tak sesuai dgn masa kini. Astaghfirullah…
    Maka hadirlah JIL. Seperti mereka yg terlalu mengagung-agungkan HAM, sampai ketentuan Tuhan (Allah SWT) yang pastinya Mahatahu pun digugat, dilanggar; menjadi waria menjadi ‘halal’ jika memang hati nuraninya (hawa nafsu) menginginkan begitu, homoseksual menjadi ‘mubah’, pernikahan beda agama ‘monggo-monggo saja’.
    Padahal Allah SWT melarang sesuatu pasti karena memang Ia Mahatau kalau itu tidak baik untuk umatnya.
    Entah bagaimana orang yang berbeda agama bisa mengesahkan diri mereka untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Pasti keduanya (si suami istri berbeda agama tsb) bukan pemeluk agama yang baik aka gak memeluk agamanya secara penuh. Lah wong sesama Islam tapi kalo beda ideologi/pemahaman, ya…tetep aja susah untuk membangun kelurga yang sakinah.

    Hanung or whoever yang ogah sholat karena merasa agama itu cuma medium? Gak perlu sholat karena merasa bisa berkomunikasi dgn Tuhan scara batin?
    Hellow…, apa kabar kaki Rasullullah Muhammad SAW yang sampe bengkak2, lecet2, karena mendirikan sholat ya…??? Padahal beliau udah dijanjikan surga?!
    Ck!
    Hei kalian…, nanti di akhirat, jangan berharap minta syafaatnya Rasul ya?!

  3. Banser NU merasa dilecehkan oleh film Hanung:
    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/06/216000/62/10/Film-Hanung-Bramantyo-Dikecam-Banser-NU-Surabaya
    Saya merasa film Hanung ini menyulut konflik horisontal. Masih ingatkah kejadian massa Banser NU yang menduduki Kantor Jawa Pos pada 6 Mei 2000, hingga media itu lumpuh selama beberapa hari ?Dan kabarnya mereka sudah mulai panas oleh film Hanung ini.Jadi apa yg ditawarkan rasa kedamaian dalam film “?” ini adalah BOHONG BESAR.

  4. avicena1986 said
    Eh Mas, tapi beneran Pak Taufik Ismail pernah memberikan statement bahwa hanung seperti itu adanya ?

    Mas sekalian request dong…bikinlah semacam review film2nya hanung yang Tanda Tanya atau yang lainnya dan nanti dikritisi kira-kira mana saja yang sudah termasuk dalam ‘pengkaburan’ islam…

    Pak Taufiq Ismail pernah menulis sbg endorser Novel KEMI (Cinta Kebebasan Yang Tersesat) karya DR Adian Husaini, tertulis di sampul depan novel tsb begini:

    Taufiq Ismail, sastrawan:
    “Setelah wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme”

    Pak Taufiq Ismail juga pernah wawancara khusus dengan media Suara Islam, komentar beliau tentang Hanung:

    “Saya merasa dihina dan dilecehkan oleh film Perempuan Berkalung Sorban, disutradarai Hanung Bramantyo, yang menistakan lembaga pesantren dan tokoh Kyai, waratsatul anbiya, berlindung di balik topeng kebebasan kreasi dengan sejumlah improvisasi yang bodoh dalam semangat super-liberal. Para aktivis seni Marxis-Leninis-Stalinis-Maois saja di tahun 50-an 60-an tidak ada yang bisa membuat film pelecehan pesantren dan Kiyai seperti yang dilakukan Hanung di abad 21 ini. Kalau dia sudah beredar lima dasawarsa yang lalu, maka Hanung Bramantyo bagus diusulkan mendapat Bintang Joseph Stalin atau Anugerah Dipa Nusantara Aidit”

    SI : “Apakah di novel aslinya ada adegan rajam itu ?
    TI : “Mboten wonten, Mas. Tidak ada. Di sini terjadi improvisasi sutradara. Dan ini improvisasi yang kurang ajar. Maaf keras betul kalimat saya. Maaf. Di bagian ini Hanung tidak minta permisi pada novelis Abidah El Khaliqy, tidak amit-amit. Dia main terjang saja. Dia tidak kenal etik.”

    mbak Miftah silakan menyimak sajian wawancara selengkapnya:
    http://kabarnet.in/2010/06/28/hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau%C2%A0burukkan/
    [Link asli, tapi sudah tidak aktif: suara-islam.com/news/berita/wawancara/964-hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau-burukkan

    Untuk request-nya, sekalian aja saya coba geber film-film Indonesia yg mendangkalkan akidah dan penipuan informasi tentang dunia Islam. Hmm.. kapan ya, baiklah untuk sementara saya jadikan pe-er aja dulu ya, mbak Miftah 🙂

  5. avicena1986 [from Multiply] says:

    fightforfreedom said
    Namun, saya rasa kok bukan karena institusinya, mbak Miftah.
    Kalo ternyata institusinya tidak bisa mencegah serbuan pendangkalan iman, maka sudah semestinya menjadi sorotan publik.

    Menurut saya, bisa jadi karena Hanung salah memilih teman pergaulan atau salah memilih buku2 bacaan sehingga tergelincir pemikirannya.

    statement mas yang terakhir itu seperti yang paling tepat. ^____^v
    iya di SMA tersebut juga banyak kok yang ‘jadi’ (baik_red) dan lainnya yaa wallahua’lam ^_____^v

    Eh Mas, tapi beneran Pak Taufik Ismail pernah memberikan statement bahwa hanung seperti itu adanya ?

    Mas sekalian request dong…bikinlah semacam review film2nya hanung yang Tanda Tanya atau yang lainnya dan nanti dikritisi kira-kira mana saja yang sudah termasuk dalam ‘pengkaburan’ islam…

    Jadi kita bisa semakin selektif dalam memasukkan konten film dalam pemikiran kita sehingga tidak terpengaruh oleh image yg dibangun si sutradara. ^____^v Mau ya Mas.. hehehe

    Tfs.

  6. avicena1986 said
    Masya Allah, tetapi memang saya akui bahwa SMA yang dimaksud itu memang rada ‘aneh’ orang-orang nya…pun juga alumni yang dicetak, ya walau sebagian sih. Hiks ! Sedih !

    Namun, saya rasa kok bukan karena institusinya, mbak Miftah.
    Kalo ternyata institusinya tidak bisa mencegah serbuan pendangkalan iman, maka sudah semestinya menjadi sorotan publik.

    Menurut saya, bisa jadi karena Hanung salah memilih teman pergaulan atau salah memilih buku2 bacaan sehingga tergelincir pemikirannya.

  7. martoart said
    Sinkretisme biasa terjadi di dalam arsitektur, seni, budaya, keyakinan, dan tradisi. Misal pilar spanyolan yg di gabung dengan atap limasan, Saya tak begitu suka,tapi menentangnya juga buat apa, lha wong bukan rumah saya. Kecuali kalau atapnya menjorok ke halaman rumah saya dan membanjiri kamar tidur saya melalui jendela, itu baru kita lawan. Kira2 apakah Hanung sudah merangsek ke sana? Ataukah seberapa jauh ukuran perangsekan itu kiranya? dst..

    Serbuan pemikiran Hanung sudah jauh merangsek ke dalam, Bung Marto, membanjiri kemana-mana hingga ke ruang akidah. Serbuannya sangat vulgar + kasar, dan sangat melukai hati umat Islam yg menontonnya (tentu saja bagi yg memiliki akidah tauhid yg benar).

    Ia mungkin secara sengaja salah kaprah dalam menyalahartikan pluralisme. Pluralisme yg dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis, itulah yg kemudian dikenal dg pluralitas. Tentu, umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dg umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Jadi ada prinsip, kerukunan itu berjalan tapi keimanan terjamin. Karena itu, kerukunan & toleransi umat beragama itu tidak boleh bercampuraduk dgn keyakinan agama lain.

    Kenapa saya bilang Hanung “secara sengaja”? sbg sineas yg punya jam terbang tinggi dlm mempelajari realitas kehidupan di masyarakat, dan pernah mengenyam pendidikan secara Islami, saya yakin ia tahu itu.
    Namun, edukasi yg ia berikan bukannya menggunakan pendekatan pluralisme sosiologis yg seharusnya dipakai untuk menunjukkan kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia, tapi yg dipakai adalah pluralisme teologis yg sudah difatwakan oleh MUI sbg paham yg haram. Bila umat Islam mengikuti paham itu, maka menjadi murtad atau keluar dari Islam, dan statusnya menjadi kafir.

    Banyak banget adegan-adegan dlm film-nya yg secara kasar mengobok-obok akidah. Silakan Bung Marto menontonnya agar nyaman ngebahasnya 🙂

  8. blogsikathabis said
    Fiqh Masa Awal Islam: Mengikut tanpa Bertanya
    http://blog.sikathabis.com/?p=1185

    kl pemikirannya sudah banyak koq gini ya koq gitu ya lama2 jadi atheis 😀

    Artikelnya sangat bagus, mas Taufan, terimakasih pencerahannya.
    Poin pentingnya adalah persoalan pebedaan pendapat dan pemahaman, bahkan pengamalan fiqh di masa Nabi sangat minim terjadi. Hal ini disebabkan antara lain faktor sahabat yg sangat memahami bahasa Nabi dan bahasa al-Qur’an, celaan untuk banyak bertanya, serta sikap sahabat yang lebih banyak mengikuti sunnah tanpa membedakan rukun, syarat dan adab.

    Kondisi di luar garis dan berdiri pada posisi abu-abu (saat terlalu lama dalam pencarian) kemudian berteman dg orang yg bukan ahlinya dalam bidang agama… memang rentan terkena virus neo-atheis. Ya buktinya si Hanung itu.

  9. putrilan9it said
    Aku sudah baca NOVEL (PBS) dan AKU SANGAT SANGAT MENDUKUNG AJARAN YG ADA DIDALAMNYA!

    Hukum Al-Quran dan Hadis untuk membahagiakan umat manusia, bkn untuk mengekang.

    Maaf, telat reply-nya, mbak Liya, tadi malam sengaja re-fresh ulang nonton lagi PBS, maklum DVD-nya saya beli udah setahun yg lalu.

    Nah… beberapa hal yg membuat PBS itu lebay adalah sbb, mbak Liya:

    (1) Apa yg dialami tokoh Annisa di film tsb bukanlah kondisi umum yg dapat ditemui di lingkungan pesantren. Ini jelas mencoreng-moreng pesantren. Saya heran, kenapa ngambil background penindasan itu kok ya di pesantren?

    (2) Tokoh ayah Annisa dlm film tsb juga lebay, gak Islami banget, mbak Liya. Aneh aja sih, masak sbg ortu (kyai lagi) kok menjerumuskan anaknya untuk menikahi pemuda nge-drunk + bejat ahlaknya hanya demi kemajuan pesantrennya.

    (3) Masalah poligami yg diangkat, seolah-olah Islam menjustifikasi penindasan yg di alami Annisa dan kaum wanita secara umum. Bukankah masalah poligami ada aturan tegasnya dalam kitab suci? “Kamu Harus Adil! & Tidak ada yang dapat Adil!”
    Untuk memaknai poligami ini perlu dipelajari lebih jauh ttg Asbab Nuzul-nya. Di film itu salah kaprah memaknainya.

    (4) Nabi Muhammad SAW dg tegas menyatakan bhw mencari Ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (pria & wanita). Namun… dlm film tsb seolah-olah Islam memberangus hak wanita dan kewajiban wanita untuk berpendidikan. Sudah banyak kok ditemui contoh dimana Nabi Muhammad (SAW) menyerukan umatnya untuk berpendidikan, wanita sekalipun. Kalo disebut, banyak contoh tokoh2 wanita di jaman Rasulullah, mbak Liya.

    (5) Islam juga menyerukan kpd Muslimin dan Muslimat untuk menyuruh ber-amar ma’ruf nahi mungkar. Namun.. film tsb malah menggambarkan wanita gak lebih dari kerbau dicucuk hidung, manut pd sang lelaki yg bejat itu.

    (6) Di film tsb digambarkan seolah-olah Islam membolehkan bagi suami Muslim untuk bertindak kejam terhadap istrinya. Padahal, hal tsb sangatlah bertentangan dgn ahlak yg diajarkan Nabi Muhammad SAW. Nah.. anehnya ada adegan dimana buku2 non Islami karya Pramodya Ananta Toer yg dibakar di film itu, seolah-olah buku2 itu sbg jawaban atas kesengsaraan kaum Muslimah yang tertindas oleh aturan Islam. Jangan2 Hanung gak pernah baca buku2 fiqih wanita.

    Hanung yg saat itu sudah murtad, jauh dari Islam, sengaja berusaha mendeskriditkan Islam melalui film. Lewat pemikiran Hanung, film PBS ini cenderung ngasih persepsi salah kaprah ttg lingkungan yg Islami dan ajaran Islam yg diangkat untuk memberi gambaran negatif betapa ajaran Islam tidak memihak kaum wanita. Ya.. kecewanya saya.. mengapa mengambil latar belakang lingkungan pesantren. Ini bagi saya sebuah penghinaan thd lembaga pendidikan Islami.

    Dan saya makin ternganga, setalah membaca sampul DVD-nya.. ternyata film PBS ini diproduksi oleh Starvision milik Chand Parwez ‘n Raam Punjabi yg dikenal sbg ‘mafia’ sinetron di negri ini yg kerjanya bikin film/sinetron sampah. Hufft… jelas orang dan crew-crew film yg gak sholat bikin film Islami, ya.. pasti begitu deh…

  10. subhanallahu [from Multiply] says:

    fightforfreedom said
    Saya sudah nonton film-nya, Bung Marto, sudah jelas misi yg dibawa lewat film-nya Hanung, pada awal narasi film-nya “?” disampaikan “…Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Nyatanya banyak adegan di dalam film itu yg mengandung pesan mencampuradukkan keyakinan, dg senjata yg ampuh: “Tuhan yang sama”.

    Iya Pak. Hanung yang mulai duluan dari ketidakmengertiannya, dia tidak paham agama yang dianutnya, dan tidak mengerti itu apa pluralisme, eh, kok mencampurkan dengan sinkretis. Maka ini sesuai dengan MUI yang melarang plurasime teologis/ketuhanan yang sebenarnya bentuk sinkretisme itu sendiri, namun memperbolehkan pluralisme sosiologis (yang menjadi definisi sebenarnya dari pluralisme)

    Itulah susahnya berharap orang lain/agama lain akan bersimpati bila kita seolah-olah membela mereka, padahal akidah tergadai dengan gampangnya.

    Maka, kembalikanlah toleransi beragama itu secara benar. Pelajari agama kita masing-masing dengan sungguh-sungguh, maka kita akan lebih bersikap toleran dan tidak menjadi barbar. Yang ada sekarang kita bersikap sok tahu, mempelajari agama secara permukaan saja, sebagian saja, misal: bab jihad saja, akhirnya jihadnya salah arah, dsb..dsb-nya….

  11. martoart said
    Perdebatannya adalah; seperti apakah film Hanung tersebut, sebuah karya yg mengampanyekan keberagaman (pluralisme), ataukah lebih kepencampuradukan keyakinan (sinkretisme)?

    Itu dulu. jangan buru2 menentang istilah yg pada dasarnya bermakna positif.

    Saya sudah nonton film-nya, Bung Marto, sudah jelas misi yg dibawa lewat film-nya Hanung, pada awal narasi film-nya “?” disampaikan “…Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Nyatanya banyak adegan di dalam film itu yg mengandung pesan mencampuradukkan keyakinan, dg senjata yg ampuh: “Tuhan yang sama”.

    Apakah Hanung lupa (atau sengaja menutup mata) bahwa jumlah agama plus sempalannya di dunia ini bisa dikatakan ada ribuan, ada Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, Jainisme, Sikhisme, Sintoisme, Bahaisme, Zoroaster, Ahmadiyyah, Yahudi, Saintologi, Raelianisme, Taoisme, Kaharingan, Konfusianisme, Mormonisme, Marapu, Parmalim, dll…dll… Konsep ketuhanan masing-masing agama jelas beda. Jadi, kalo Hanung memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yg sama, maka Hanung dlm film ini (dan juga penonton yg meyakininya) mengambil posisi sbg seorang yg netral agama.

    Mengapa film ini dianggap meresahkan dan menyakiti umat Islam? Karena cara pandang seperti narasi yg disampaikan Hanung itu bukan cara pandang Islam. Karena Nabi Muhammad SAW sudah menegaskan, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.

    Pak Widodo telah memberikan clue lewat kutipan dari kitab suci:
    “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.(Q.S. Al-An’am 108)
    Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

    Saya bisa memahami, Bung Marto, mungkin Hanung ingin menyampaikan niat baik memperkenalkan solusi keberagaman. Namun, solusi yg ditawarkan dalam film “?” menurut saya sangat jauh dari sasaran. Hanung mengira kalau orang yakin dgn agamanya masing-masing akan terjadi konflik. Itu keliru. Selama ratusan tahun, kaum Muslim dan Yahudi hidup rukun di Andalusia dan Turki Utsmani tanpa harus menghilangkan keyakinan masing-masing. Mereka yang hidup rukun itu memegang teguh ayat itu sbg solusi.

    Kalo ingin mengangkat tema persatuan dalam keberagaman, semestinya Hanung menjadikan ayat QS Al-An’am: 108 sebagai dasar atau jiwa film yg dibikin. Karena ayat ini menjamin kerukunan hidup beragama… Bukannya malah mempromosikan kendaraan untuk menyatukan agama, sehingga pesan tindakan murtad yg disampaikan dalam film itu bukan masalah besar krn atas dasar bertuhan yang sama. Ini sama dengan penyesatan, bukan?

    Apakah Hanung tidak paham (atau sengaja menutup mata) bahwa penganut kuat agama manapun telah menolak ide-ide rapuh yg mencampuradukkan ajaran agama dan mengakui ber-tuhan yang sama. Seperti misalnya Paus Benediktus XVI pun sangat konservatif pendapatnya pd Konsili Vatikan II, silakan disimak pada: Pope: Other denominations not true churches atau ini Racun Pluralisme dalam Iman Kristen. Bahkan, Hindu pun juga menolak pluralisme, link: Hindu tolak pluralisme agama yang dibawa anand krishna.
    Intinya solusi yg ditawarkan Hanung bakal menambah daftar potensial konflik di Indonesia. Hati-hati dg gaya penipuan seperti ini, yg dikemas seakan-akan humanis.

    Saya akan tetap menghargai semangat keberagaman dg pemeluk agama lain, dg cara yg diajarkan oleh kitab suci: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

  12. wikan says:

    ya menurut saya sih, fenomena2 semacam ini justru memacu para sineas muslim untuk berkreasi. di sisi lain penonton juga harus apresiasi para sutradara dong. jangan kerjanya nonton bajakan melulu. Banyak film yang islami seperti emak ingin naik haji, alangkah lucunya negeri ini, tapi penontonnya sedikit. walhasil yang berjaya film2 yang gak bermutu. masih mending Hanung bikin film secara idealis. Gimanapun itu potret kenyataan Indonesia. Orang musti menerima bahwa Indonesia itu tidak hanya ditinggali oleh orang2 yang seragam pemikirannya semua.

  13. subhanallahu says:

    boleh kok murtad dan berbeda Tuhan, tidak ada itu istilah 1 Tuhan, banyak jalan (baca: agama). Namun etikanya adalah:

    “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

    Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat): Abdurrazzaq telah mengatakan, “Mu’ammar menceritakan kepada kami melalui Qatadah. Qatadah telah bercerita, bahwa dahulu orang-orang muslim sering memaki berhala-berhala orang-orang kafir, pada akhirnya orang-orang kafir balas memaki Allah, kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, ‘Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah…'” (Q.S. Al-An’am 108).

  14. daicymahia says:

    Begitulah manusia, terkadang menetapkan standar agama dan surga berdasarkan otaknya yang lemah. Manusia punya nafsu yang tinggal di pemikirannya. Ia seperti kuda liar yang menghentak. Bisa menyelamatkan, bahkan melukakan. Wahyu Allah jadi tali kekangnya, dan kendalinya adalah hati. Agamalah yang menjadi jalannya. Karena mengimani Tuhan tak cukup dengan mengimani firmanNya saja. Ada marka, ada norma yang selalu membuat kita menjadi beradab dalam berjalan menujunya. JalanNya terang, tak perlu dicari lagi. Tinggal kita yang harus selalu mengalah untuk membuka mata dan hati..

    Pluralisme ; Allah yang menciptakan hitam dan putih. Ada garis tegas yang harus kita pegang, dan bukan malah berdiri di wilayah abu-abu. Disanalah keyakinan dan pilihan memiliki fungsi.
    Terima kasih, mas Iwan. Semoga Allah melindungi kita semua.

  15. zenstrive [from Multiply] says:

    Ternyata dia sudah murtad,
    mudah2an istrinya (yang berjilbab dan pernah ketahuan merokok) bisa membelokkannya ke jalan benar.
    kalo gak, ya itungannya zina.

  16. arifah89 says:

    martoart said: Jadi silakan beramai2 nonton

    ngapain buang-buang uang n wkt hanya utk nonton film yg ga ada manfaat……yach promosi kemungkaran kok diikuti…

  17. maeea says:

    Mungkin lain cerita kalau HB berdalih hanya menampilkan potret kehidupan nyata ttg kehidupan. Krn setelah nonton, filmnya sangat humanis & faktuil. Tinggal bgmn kita menyikapinya aja. Ngikutin film, atau tetap berpegang pd ajaran agama yg kita percayai. IMHO.

  18. martoart says:

    Aku sih nyaranin agar sebaiknya nonton dulu, kalo mo komentar isi film. Aku gak komen dulu deh mengenai konsep sinematografi ataupun pesan yg ada. Artinya juga, untuk sementara yg namanya penghujatan film ini juga aku cuekin dulu. Kalo toh berdasar sinopsis, n resensi, ya nikmati aja sebagai pemicu. Toh juga tak asyik kalo lebay jadi spoiler. Jadi silakan beramai2 nonton. Bagi yg ogah merasa ketepu, ya tunggu bajakannya aja. Bukankah seru perdebatan yg ada? Dan biar bisa ikutan.

  19. luqmanhakim said: Tetep, kritik ke Hanung harus dilancarkan juga, dia perlu dapat kritikan buat bikin film-film yang bagus dan bermutu, nggak sekedar memancing kontroversi tanpa penjelasan yang mendamaikan semua pihak. Kalo katanya film “?” yang mempertanyakan tentang kedamaian justru malah memancing keributan, berarti film ini nggak berhasil buat ngarah ke pemikiran orang tentang arti damai itu sendiri.

    Saya sependapat dengan sampeyan, mas Luqman.Kang Abik penulis Ayat-Ayat Cinta (AAC) merasa kecewa dg Hanung, karena filmnya menyimpang dari novel-nya.Begitu juga Abidah El Khaliqy penulis Perempuan Berkalong Sorban (PBS) juga merasa kecewa berat, karena Hanung telah meng-improvisasi cerita dlm novelnya tanpa konfirmasi sehingga menyimpang jauh dari novelnya.Bahkan senior-nya, Bung Deddy Mizwar menolak karya Hanung (PBS) masuk dalam festival film nasional, alasannya sangat tegas: Hanung kurang pengetahuan yang mendalam tentang agama, namun bicara soal agama.Saya lebih banyak bahas detail tentang PBS malah di sini, di beberapa komen disitu ada ungkapan kekecewaan penulis novel aslinya.Belajar dari peristiwa ini, beberapa penulis novel yang akidahnya lurus menolak novelnya diangkat ke layar lebar bila di tangan Hanung.

  20. debapirez says:

    luqmanhakim said: Aku nulis komentarnya malah ke PM Mas Iwan…Cek aja deh PM-nya…

    menembak pelaku poligami ya….mm…dulu dia dah mulai pacaran sm Zaskia saat proses cerai masih berlangsung. secara etika kan ga boleh tuh…*pengamat infotainment hehe….

  21. debapirez says:

    wah…manteb neh diskusinya. tetep setia membaca.

  22. zenstrive says:

    luqmanhakim said: Sampe film “?” diluncurkan, aku langsung ngambil kesimpulan, Hanung itu ketika mengkritisi, dia tidak ngasih solusi. Bak kritikan warung kopi di pinggir jalan yang suka nesu-nesu tentang kebijakan pemerintah.

    Sutradara yang senang menjual barang kontroversial: komunis, murtad, Islam menafikan Al-Ikhlas, bom di gereja, penusukan pastor, lintas agama, pesantren para homo, perempuan pemuja birahi.Gara-gara ayat-ayat cinta, namanya melambung, menempatkan diri di mindset umat Islam, dan langsung setelah itu menjual ide-ide semacam di atas itu, merasa tanpa bersalah dan tanpa melukai perasaan umat Islam. Toh dia sudah diterima para ibu-ibu pengajian dan anak-anak muda penuh cinta, so what? Paling banyak yang nonton. Istrinya juga berjilbab.Sudahlah, intinya Hanung itu pemuja komunis yang mengaku murtad dan lebih senang membuat film dibanding puasa dan sholat di bulan romadhon.

  23. mellyheaven says:

    Iya tuh org agamanya apa sich ya? Dari dulu klo bikin film ngejelekin islam mulu -_____-“

  24. Menyimak, sambil berdoa semoga Allah memberikan kekuatan untuk tetap berjalan di jalan-Nya. Amin.

  25. postingbebas says:

    yang menjadi pertanyaan, siapa penyandang dana dan benarkah ini murni ide hanung atau titipan…??

  26. nama Hanung Bramantyo itu sudah menjual. saya pikir ini bukan sekedar membuat film kontroversial biar laku, lebih dari itu, bahkan bisa jadi film2 yg dia buat itu punya alur (sokteu.com). filmny Hanung itu film mikir, bukan sekedar film hiburan, membidik kelas pasar tertentu. Saya berharap kita punya program TV yang khusus mengupas film2 buatan Indonesia (bedah film/prolog sblm launching) kayak HBO. dulu pernah ada kyk cinemacinema, tp era itu film Indo belum berkelas. CMIIW

  27. hwwibntato says:

    hanya kepada Allah kami memohon pertolongan …

  28. jampang says:

    terimakasih infonya, pak.saya akan mengikuti saran Syaful Fahmy MH, gak akan nonton filmnya.

  29. luqmanhakim says:

    enkoos said: Sampeyan tau krungu Ayaan Hirsi Ali?

    Nama samarannya Ali Sina, mantan Muslim pendiri Faith for Freedom (http://www.faithfreedom.org/)Aku berpikirnya sederhana aja. Kuatin basic-nya dari kecil, krikil-krikil yang ngeganggu aqidah begini macam cobaan yang akan ngebawa ke efek dua mata pisau. Makin kuat aqidahnya, apa makin ancur?

  30. enkoos says:

    Aduhhhh, dowo men cak. Tas tangi turu golek bacaan ringan dadi mumet mocone. Tak skip aja. Nanti Insya Allah kalau ada waktu tak kunyah lagi.Intinya: berkeyakinan dengan apa yang telah dituliskan dalam Al Quran dan Hadis. Kalau hadisnya meragukan, merujuk kembali ke Al Quran. Orang orang seperti Hanung ini banyak bertebaran dan mengganggu sekali. Tapi Insya Allah orang orang yang imannya kuat, mungkin malah semakin kuat. Insya Allah. Sampeyan tau krungu Ayaan Hirsi Ali?Iku yo podo ae. Keluar dari Islam dan mengkritik Islam habis2an. Saat ini di Amerika khususnya, agama Islam adalah termasuk agama yang pertumbuhan jumlah pemeluknya sangat pesat semenjak 9/11 karena bermula dengan penasaran akan isi Al Quran.

  31. luqmanhakim says:

    PM-nya aku delete aja, aku copy-paste di sini:Hanung itu emang agak “parah” pola pikirnya… Saat dia ngangkat film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) dari novelnya Abidah El Khalieqy, aku suka banget sama film itu, tentang kesetaraan gender yang diangkat dengan mengkritisi pola-pola didikan pesantren di Jawa Timur. Dalam pandanganku, dikritisi budayanya, budaya Islam Jawa Timur dan bukan tentang Islamnya itu sendiri. Aku juga nggak membela Hanung dalam konteks film PBS itu, cuma memang pengkritisiannya ini yang disoroti. Beberapa ulama marah, PKS berang, Tifatul ikutan ngamuk, dibilangnya film ini adalah rekayasa untuk menjelek-jelekkan Islam. Aku diem, nyoba mencerna, apa yang salah dari film bagus begitu? Film yang ngangkat perjuangan wanita muslim untuk sejajar dengan pria tanpa melupakan sisi-sisi kodrat kewanitaannya. Perempuan butuh dicintai, butuh disayangi, butuh dihargai, butuh hubungan yang setia secara monogami. Aku ngeliat, Hanung mencoba “nembak” para pelaku poligami di film itu. Wajar kalo para ulama pelaku poligami marah. Tapi sampe Taufik Ismail pun ikutan marah dan menuduh Hanung adalah antek-antek dari perpanjangan tangannya Lekra, aku jadi mikir, pasti ada apa-apanya dengan pola pikir Hanung ini. Sampe film “?” diluncurkan, aku langsung ngambil kesimpulan, Hanung itu ketika mengkritisi, dia tidak ngasih solusi. Bak kritikan warung kopi di pinggir jalan yang suka nesu-nesu tentang kebijakan pemerintah. Ngritik atau ngedumel yang tanpa ada penyelesaian. Akhir dari kritikan Hanung pun tak dijelaskan, yang ada ketika tokoh Rika murtad, nggak digamblangkan proses kemurtadannya pun dasar-dasar yang melandasi kemurtadan Rika pun sangat lemah. Ada sisi di mana Hanung emang seneng mancing emosi penonton, toh dalam dunia entertainmen sisi kontroversial itu paling menjual. Jadi lepas dari apapun, ini film yang memang lebih ke arah faktor jualan. Masalah film sampah atau film bermutu, orang cenderung memilih untuk menonton film yang sering diomongin orang. Hanung itu marketing yang baik. Ya… macam tayangan-tayangan sinetron sampah di televisi. Orang-orang yang nonton itu nggak sadar kalo mereka nonton sampah, memang nggak bikin pinter. Tetep, kritik ke Hanung harus dilancarkan juga, dia perlu dapat kritikan buat bikin film-film yang bagus dan bermutu, nggak sekedar memancing kontroversi tanpa penjelasan yang mendamaikan semua pihak. Kalo katanya film “?” yang mempertanyakan tentang kedamaian justru malah memancing keributan, berarti film ini nggak berhasil buat ngarah ke pemikiran orang tentang arti damai itu sendiri.

  32. kaklist says:

    – udah baca -aku koq khawatir sama media tv kita ya.. film perempuan berkalung sorban aja akhirnya masuk lho ke tv.. jangan2 film ini juga akan di tv kan..

  33. thetrueideas says:

    Memang kalau hati terhijab oleh bisikan seta, takkan mampu ia melihat cahaya kebenaran walau seterang matahari di siang hari…

  34. avicena1986 says:

    Innalillahi. Duh Gusti….ck..ck..ck..weslah ga usah nonton2 film saja. mending pengajian njuk tilawah njuk dakwah njuk sedekah dkk..*silakan yang berwenang ‘menarik’ film tsb dari peredaran. btw jangan banyak2 diekspos Mas heheh atau ekspos terbatas saja ntar malang tambah terkenal deh ni film hehehe seneng tuh si HB.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: