Home » Indonesia Crisis » HANUM Melawan Praktek Kanibalisme Pasar

HANUM Melawan Praktek Kanibalisme Pasar

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

–: Sebuah Novel Perlawanan :–


Bismillah …

Peristiwa pembongkaran paksa pasar tradisional dan penggusuran komplek perumahan warga menjadi latar belakang sebuah novel perlawanan yang berjudul HANUM, Sayap – Sayap Perlawanan karya Mustofa W. Hasyim.

Novel ini menggambarkan bagaimana penjajahan ekonomi yang terjadi di negeri ini demikian nyata dengan akibat yang nyata pula. Dan novel ini mengisahkan perjuangan anak-anak muda bersama masyarakat pinggiran yang ingin mandiri secara ekonomi dengan berusaha mengobarkan perlawanan secara terus – menerus terhadap proses penjajahan ekonomi. Perjuangan dimulai ketika mereka menyadari telah menjamurnya mall yang menggerus satu per satu pasar tradisional. Kondisi ini tak hanya terjadi di kota besar, tapi juga ke pedesaan.

Salah satu fakta yang sungguh mencengangkan, bisa disimak di Vivanews.com, 20 Juli 2010 bahwa ternyata Jakarta adalah kota dengan mall terbanyak di dunia !. Guiness Book of Records wajib mencatatnya. Pusat belanja atau mal di Jakarta sudah tumbuh di luar kendali, kini jumlahnya mencapai 170 lebih dan telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Banyak kawasan yang semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis harus beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Kondisi yang sama juga terdapat di kota Bandung, Surabaya, dan mungkin juga di kota Anda. Tumbuh tanpa kendali.



Tak salah kiranya, bila kemudian Bung Hari Widi menyuarakan kegelisahannya melalui sebuah lagu yang berjudul: “Super Market”. Mari kita simak bersama lagunya sebelum melanjutkan review novelnya:

SUPER MARKET
Song by Hari Widi (Gatel Band)

Albamart punya konglomerat.
Intomart punya konglomerat.
Iparmart punya konglomerat.
Kepung warung tetanggaku sekarat.

Nazar Mall punya sang Koruptor.
Gayus Mall punya sang koruptor.
Inong Mall punya sang koruptor.
Mendesak pasar rakyat gulung tikar.

Inilah penjajahan masa kini.
Kurcaca sukses curangi kurcaci.
Penguasa pura-pura buta-tuli.
Yang penting lancar setoran upeti.

Mengapa kita alergi belanja ?
Di pasar rakyat dan warung tetangga.
Mengapa kita tega bahkan bangga ?
Redupkan pijar asa sudra jelata.

Inilah realita ironis tragis.
Kurcaci bangga hidup konsumeris.
Pantaslah jika krisis smakin kronis.
Ibu pertiwi sedih dan menangis…

Mengapa kita senang bahkan girang ?
Saksikan si gurem mampus terjengkang.
Mengapa semua gila alias sinting ?
Mendukung para koruptor money laundering.

Jagakarsa 28 Agustus 2011

.
Novel ringan namun bermakna ini mengangkat tokoh utama Hanum, gadis desa yang sedang menempuh pendidikan tingginya di kota Yogyakarta. Dia tinggal di asrama kampus bersama sahabat dekatnya, Maya. Tokoh utama lainnya di novel ini adalah Sukma, asli dari Padang, kakak kandung Maya. Sukma adalah aktivis pers kampus, saking padatnya agenda itu membuat kuliah Sukma agak keteteran. Seringnya Sukma mengunjungi Maya membuat dirinya terpikat dengan Hanum. Hubungan asmara dalam novel ini diceritakan hanya sebagai bumbu atau selingan.

Ketiga mahasiswa ini tengah menyelesaikan skripsi. Mereka sepakat memilih topik yang sama yaitu mengenai keberadaan mall, kaki lima, dan pasar tradisional. Mereka sejak kecil memang telah akrab dengan kehidupan pasar. Ketiganya membagi tugas, Sukma meneliti keberadaan mall, termasuk pedagang dan pembelinya. Maya meneliti pedagang kaki lima. Tak tanggung-tanggung, Maya harus menyamar sebagai pegawai pedagang kaki lima, agar informasi mudah mengalir dari para pedagang. Sedangkan Hanum meriset pasar tradisional di desanya sendiri. Hanum akhirnya mengetahui bila pasar tersebut berhasil menghidupkan dan menggairahkan perputaran roda ekonomi di desa tersebut.

Di tengah – tengah penelitiannya, para mahasiswa ini terkejut ketika menemukan fakta bagaimana mall mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi konsumen yang patuh kepada kehendak pasar. Mereka mendapat fakta bila keberadaan mall mampu mengubah perilaku pengunjungnya ke dalam gaya hidup modern. Dalam keadaan seperti ini, Hanum dan teman – temannya merencanakan suatu perlawanan.

Situasi lain yang muncul adalah menimpa keluarga kakek Hanum. Pada awalnya kakek Hanum mengikhlaskan tanahnya untuk dibangun pasar tradisional. Namun ada masalah besar yang harus dihadapi, yaitu pasar tradisional yang menyatu dengan rumah kakek Hanum akan dicaplok oleh pemerintah daerah untuk ditutup dan diganti dengan pembangunan sebuah mall.

Kakek Hanum melawan. Tetapi ia bersama isterinya terbunuh. Tentu saja hati Hanum berontak. Dia bertekad akan melakukan perlawanan terhadap ide pembangunan mall di desanya. Perlawanan besar – besaran terjadi. Hanum pun ditangkap karena dituduh mendalangi kerusuhan.

  • Apakah Hanum berhasil bebas dari proses pengadilan yang direkayasa?
  • Apakah pasar tradisional ini berhasil diselamatkan?

Setelah membaca novel ini, Anda juga akan mendapatkan pencerahan jawaban tentang teka – teki yang mungkin sudah terlintas dalam benak Anda sekarang, diantaranya:

  1. Mengapa kebanyakan mall itu kondisinya banyak gerai yang kosong?
  2. Mengapa masih saja tumbuh mall – mall baru?
  3. Mengapa jumlah pedagang kaki lima makin menjamur?

Pertumbuhan mall – mall baru itu mengingatkan saya pada sebuah puisi WS Rendra yang berjudul “Maskumambang”.

Ooo… comberan peradaban,
Ooo… martabat bangsa yang kini compang-camping.
Negara gaduh, bangsa rapuh.
Kekuasaan kekerasan meraja lela.
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.

.
Kelebihan novel ini adalah memiliki beberapa hal positif yang bisa dipetik antara lain:

Pertama, dalam novel ini terkandung ide dan maksud tentang penyadaran bersama bahwa penjajahan itu masih ada bahkan makin mengada. Juga ketidakadilan masih ada dan bercokol di negeri ini.

Kedua, dalam novel ini terkandung semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah ekonomi yang ulahnya kian menyesakkan dada. Penulis mampu menggugah semangat untuk berjuang demi keadilan. Kita harus lebih bersemangat untuk melawan konsep kapitalisme yang makin meraksasa dan selalu meminggirkan hak-hak perekonomian rakyat jelata.

Ketiga, novel ini menyadarkan kita bahwa berada di tengah persilangan zaman dan gempuran dari penjajah ekonomi kita harus bersikap dan berani melakukan perlawanan yang cerdik dan berkualitas. Dalam novel ini juga termuat berbagai alternatif dan strategi perjuangan, pembebasan dan perlawanan terhadap kaum penjajah ekonomi modern ini. Di tengah kondisi negara dan pemerintah yang makin kurang berdaya menghadapi kejamnya penjajah ekonomi global para tokoh dalam novel ini berjuang.

Namun demikian, saya menemukan adanya kekurangan novel ini diantaranya adalah:

Pertama, tidak menyajikan data – data statistik sebagai penguat fakta hasil penelitian mereka. Sehingga memaksa saya selaku pembaca untuk bersusah payah mendapatkan data – data itu melalui mesin pencari (mis. google) atau sumber – sumber resmi dari situs milik pemerintah, misalnya http://www.bps.go.id/. Tidak ada salahnya kalo informasi penting itu disampaikan dalam bentuk catatan kaki yang berisi alamat URL untuk melihat informasi lebih lanjut.

Kedua, contoh kasus dan konflik yang disajikan tidak secara detail menggambarkan proses konglomerasi yang menggurita yang mengikuti sistem Supply Chain Management. Dimana mengupas detail proses bisnis yang menguasai alur usaha dari hulu hingga hilir dan ke hulu lagi. Namun saya maklumi juga, karena buku ini bukan jurnal ekonomi, yang kalau dijabarkan detail akan menambah ketebalan novel ini. Sehingga permasalahan yang disampaikan hanya bersifat global saja untuk menyasar berbagai segmen pembaca.

Saya secara pribadi tidak lantas anti pembangunan mall atau hypermarket, TAPI berharap pasar modern itu harus bertumbuh secara proporsional, tidak meledak dan menjajah perekonomian. Karena kenyataannya, porsi terbesar keuntungan pembangunan mall tersebut hanya dinikmati oleh 10 ritel modern inti seperti Indomaret, Alfamart, Supermarket Hero, Carrefour, Superindo, Foodmart, Yogya, Ramayana, Hypermart Carrefour, Hypermart, Giant, LotteMart, dan Indogrosir. Jika dibiarkan, kondisi ini cenderung mengarah pada praktik monopoli atau oligopoli, yang bertentangan dengan semangat UU no. 5 th 1999 mengenai Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pesan – pesan luhur dari para pendiri republik tercinta ini, yang terumuskan dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar 45, sekarang ini terlantar dan terkhianati oleh para penguasa di negeri ini. Terbukti dari banyak tindakan dan keputusan mereka yang sengaja atau tidak sengaja telah memuluskan langkah para penjajah ekonomi dan budaya global sehingga kita sekarang berada dalam kondisi terjajah kembali.

Salam hangat dan tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
22.12.2011

Advertisements

64 Comments

  1. Belanjalah di warung tetangga. Gak perlu di gerai2 yg sahamnya entah milik siapa dan recehan kembalian diambil entah buat siapa.

    Makanlah di warung lokal yg dikenal. Gak perlu di restoran cepat saji milik asing. Entah nguntungin siapa.

    Beli koran harian saja. Jelas buat pengasong. Biar mereka ada pendptan. Gak perlu langganan di agen yg gak tau siapa agennya.

    Sekali-sekali panggil tukang nasi goreng keliling, bayarkan lebih. Ini untuk menghidupi mereka. Gak perlu resto dg tips lah!

    Ngopi lah di warung kopi. Hidupkan mereka. Tak perlu lah sok gaya tapi menambah kaya mereka! (Jelas lebih enaaaaak)

    Itu semua adalah upaya sederhana untuk menghidupi rakyat kecil dan menghentikan Arogansi Minoritas! Merdeka!!!!!

  2. mama says:

    kau yang berkuasa, kau memberi izin semua, kau yang menjadikan usaha kami tidak berdaya, akhirnya mati ditelan masa

  3. Recommended article:

    Mari Kembali Belanja ke #PasarRakyat !!

    Opening:
    Salah satu problema negeri ini adalah tidak mampu menghargai kebutuhan dasar Rakyatnya.. salah satunya adalah Pasar Rakyat yg notabene dibutuhkan oleh sebagian besar Rakyat nya.. Tetapi kenapa seakan menjadi komoditi/ ijon politik sehingga harus tergusur, terbakar.. Negara yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyatnya, tetapi kenapa terlihat selalu memiskinkan warganya..

    Jadikan Pasar Rakyat sebuah National Heritage.. Tempat yg tak bergeser Tujuh Turunan.. ada Pohon Rindang tanda kenangan yg diceritakan Kakek Nenek kpd Cucunya kelak.. Tempat Masyarakat belajar berdagang, berusaha, menjadi orang yg Mandiri..

    Bila itu terjadi, janji saya adalah akan membuatkan PATUNG bagi siapa saja yg mampu menjadikan #PasarRakyat sebagai National Heritage di setiap wilayah Indonesia.. Sebutkan saja nama, dan daerahnya.. kami datang u/ ambil profilnya..!

    Sabtu Minggu saatnya kita belanja ke #PasarRakyat – temukan apa yg bisa kita bantu bagi mereka para Pedagang Pasar agar mampu menata & membersihkan tokonya dg bersih, melayani para pembelinya dg baik, jujur, sopan, dan ramah..

    by fahiraidris

    Silakan klik link di atas untuk membaca detailnya.

  4. Membantu pertanyaan mas Joe tentang unsur ekstrinsik dalam novel ini.

    Nilai ekonomi

    Novel ini menggambarkan perjuangan anak-anak muda bersama masyarakat pinggiran yang ingin mandiri secara ekonomi dengan berusaha mengobarkan perlawanan secara terus – menerus terhadap proses penjajahan ekonomi. Penjajahan ekonomi yang dimaksud adalah menjamurnya mall yang menggerus satu per satu pasar tradisional. Mall-mal tersebut jelas saja hanya dimiliki oleh segelintir orang.

    Pertumbuhan mall berpotensi tersingkirnya satu persatu pasar tradisional yang pada gilirannya mematikan aktifitas pedagang tradisional pribumi. Perbandingan setiap satu mall berdiri maka 100 pedagang dan warung akan gulung tikar.Ketika para pedagang di pasar – pasar tradisional itu gulung tikar, karena tidak kuat menyewa lahan yg seiring dg menurunnya omset, akhirnya mereka memilih untuk berjualan secara liar yang tentunya beresiko terjadinya penggusuran oleh petugas tibum (ketertiban umum) dari dinas tata kota.

    Nilai Agama dan Budaya

    Dampak pembangunan mall tersebut memang hanya akan menggiring warga dan membiusnya untuk memiliki gaya hidup yang konsumtif. Akan menjadi masalah besar kalau gaya tersebut dimiliki oleh mereka yang tidak berkecukupan. Tentunya akan banyak upaya agar mampu membeli apa saja yang menjadi keinginannya. Inilah yang terjadi, pembangunan mall berbading lurus dengan tingginya akan kriminalitas.

    Dalam novel ini juga mengungkap kehidupan “gadis mall”, yang terjebak dengan kehidupan konsumerisme dan hedonisme. Pria yang membutuhkan “gadis mall” tersebut juga membuka peluang terciptanya kriminalitas baik di dalam rumah tangganya (KDRT) maupun dalam kehidupan sosialnya.

    Nilai Sosial

    Seandainya konsep pembangunan di Jogjakarta (dalam novel ini) berbasis perekonomian kerakyatan, maka yang menjadi prioritas adalah membangun banyak pasar tradisional yang dikelola secara modern, sehingga pasar tsb bersih dan nyaman bagi pengunjung untuk berbelanja.

    Namun kenyataannya adalah pemda DIY seperti membiarkan pasar tsb dlm kondisi berantakan tak terurus, hingga mati dg sendirinya. Karena bisa jadi dianggap telah mengotori pembangunan kota. Hingga kemudian ada alasan untuk mengalihfungsikan sbg mall atau hypermarket. Kalau kondisi ini terjadi maka, pasar tradisional yg jorok dan tidak nyaman itu akan berkurang jumlah pengunjung. Dan ketika pasar itu makin sepi dan omset menurun, tidak kuat membayar sewa lapak, maka para pedagang itu akan menyerbu jalanan sbg pedagang kaki lima (PKL). Sudah bisa ditebak yg terjadi kemudian, yaitu perseteruan antara PKL vs Tibum atau Satpol PP. Lagi – lagi, rakyat kecil yg menjadi korban.

    Nilai Moral

    Novel ini menggambarkan beberapa fakta diantaranya bagaimana mall mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi konsumen yang patuh kepada kehendak pasar. Fakta lainnya adalah dengan adanya keberadaan mall mampu mengubah perilaku pengunjungnya ke dalam gaya hidup modern.

  5. Joe says:

    kira-kira nilai apa saja (unsur ekstrinsik) yang terkandung dalm novel ini?

    • Unsur Ekstrinsik novel adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra (novel), tetapi secara tidak langsung mempengaruhi sistem organisme karya sastra. Unsur ini yang membangun sebuah novel. Oleh karena itu, unsur ekstrinsik novel tetap harus diperhatikan sebagai sesuatu yang penting.

      Apa saja unsur ekstrinsik dalam novel Hanum? okey, keep stay tune on this blog 🙂

    • Joe says:

      Sebelumnya saya juga sangat berterimakasih atas bantuannya.
      Saya baru memiliki novel tersebut dan baru membaca beberapa halaman. Batas pengumpulan tugas praktik hari esok, jadi tidak mungkin untuk mengetahui nilai-nilai (nilai sosial, ekonomi. budaya, agama, moral dll) yang terkandung di dalam novel tersebut. Saya tidak tahu kenapa guru di sekolah kami hanya memberikan waktu 2 hari karena kami juga sedang dalam posisi menghadapi UAS. Oleh karena itu saya sangat membutuhkan bantuannya karena saya tahu mas pasti telah menguasai novel tersebut. Saya tunggu ya

  6. hanajrun says:

    Resensinya apik tenannn (:
    Keknya buku bagus. Lawan kapitalisme! (:

  7. drprita said: terimakasih atas info buku dan ulasannya. Saya catat untuk – insya Allah – dicari pas ada IBF nanti di bulan Maret. Pertumbuhan minimarket2 ini tak lepas dari ulah pejabat pemberi ijin – itu pun untuk yang mengurus ijin. Paling tidak, saat membangun pasti minta tanda tangan para tetangganya kiri – kanan – depan – belakang. OK lah, para tetangga itu mungkin akan tutup mulut dengan pemberian beberapa lembar voucher belanja. Dalam kondisi seperti ini….kemana suara para wakil rakyat yang terhormat itu???

    Semoga dapat novel-nya, mbak Prita.
    Apa yang mbak Prita sampaikan memang ada juga yang kenyataannya seperti itu.
    Yang perlu kita pahami bersama bahwa prosedur izin pendirian minimarket itu berawal dari izin gangguan (HO) dari tetangga sekitar, kemudian lanjut izin RT, RW, Desa atau Kelurahan, dan Kecamatan. Setelah Camat mengeluarkan surat rekomendasi untuk pendirian minimarket, selanjutnya surat itu dibawa ke Diskoperindag. Kemudian Diskoperindag berhak merekomendasikan atau menolak usulan pendirian minimarket. Kalau hasil verifikasi dinyatakan lolos, mereka akan merekomendasikan ke BPMPD (Badan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah), dan nanti BPMPD-lah yg berhak mengeluarkan izin operasional. Kalau tidak ada izin operasional, minimarket itu berarti ilegal.
    Saya curiga puluhan ribu minimarket di Indonesia itu berdiri begitu saja tanpa pernah mengajukan surat pendirian ke Diskoperindag. Sangat mungkin kalo pemilik menimarket itu hanya mengantongi izin dari Camat kemudian langsung mendirikan minimarket atau justru tanpa izin sama sekali langsung berdiri (boro-boro ngurus izin gangguan (HO) dari warga sekitar). Kondisi yang tidak kondusif ini perlu ditertibkan dan harus masuk dalam agenda program KemenKoperindag.

  8. rirhikyu says:

    Udah selesai baca semuanya
    Komen2nya makin bikin saya miris ttg kapitalisme di negara ini.Yg bikin aku kepikiran banget, mudah jualan, tp mudah jg terpuruk, gimana mau bangun suatu usaha baru dan jualan? Kasian toko2 dan warung2. Nyokap bokap en mertua jg bilang, usaha mrk udah ga spt dulu.Lah… Mall tumbuh subur. Bener2 deh.

  9. avicena1986 said: Oh ini tho yang diiklankan Mas Iwan tadi via short message..heheh.Menarik banget kelihatannya, ya Mas. Hmm…kekurangannya 1 lagi. Covernya kok jauh dari settingan ke Jogja nya yaa…hehe

    Yaa.. di-iklanin karena mbak Miftah tinggal di Yogyakarta, hehehe, dimana setting peristiwa dlm novel ini menggambarkan hiruk pikuk situasi pasar tradisional, pedagang kaki lima, hypermarket / mall di sana. Selama membacanya, saya jadi teringat dg Pasar Gamping, Pasar Godean, dan Pasar Bibis (yg ini dekat rumah mertua), hehehe.

    Terimakasih masukan soal kekurangannya. Saya sendiri bukan ahlinya dalam menilai cover. Foto perempuan di atas menggambarkan sosok Hanum yang pemberani, ia berdiri tegak dan memimpin para warga menentang adanya penyerobotan lahan pasar tradisional oleh pemda Yogyakarta. Ia juga memberikan pelajaran2 ekonomi dan akuntansi kpd para pedagang kecil agar positif mempunyai mental mandiri.Sedangkan gambar di bawah foto tsb adalah situasi chaos di Yogyakarta, dimana saat Hanum berunding dg baik dan damai bersama DPRD dan Walikota, ternyata situasi di luar ruangan benar tak terkendali. Terdapat demo liar yg menjurus tindakan merusak secara membabi – buta dan pembakaran gedung2 hypermarket di sana. Yogyakarta menjadi lautan api. Hanum sendiri tidak tahu, pasukan demo liar tsb darimana asalnya. Ternyata itu adalah demo bayaran yg sengaja disusupkan aparat yg juga dibayar guna menjebak Hanum untuk dimasukkan ke penjara, dg alasan Hanum adalah dalang dari semua chaos tsb. Hanum telah difitnah guna memadamkan perlawanan rakyat.Nah.. itu baru separoh cerita novel di atas.
    Apakah Hanum bisa lolos dari pengadilan yg penuh rekayasa itu?
    Dan bagaimana nasib warganya? Jawabannya ada di separo novel tsb 🙂
    Meskipun kisah di atas itu fiksi. Namun cukup menggambarkan kenyataanya, bahwa ada pemicu masalah yg sama spt dlm novel tsb di kota Yogyakarta, misalnya bisa dibaca di:
    nasional.kompas.com: ampun… pedagang pasar tradisional kian terjepit
    atau
    jogja.tribunnews.com: pedagang pasar terban yogya tolak rencana pembangunan mal

    Lagu yg dinyanyikan Bung Hari Widi di atas juga ada benarnya. Sampai saat ini di tingkat nasional, terdapat 28 ritel modern utama menguasai 31% pangsa pasar ritel dgn omzet Rp 70,5 trilyun. Ini berarti bahwa satu ritel modern menikmati Rp 2,5 trilyun omzet/tahun. Bahkan, porsi terbesar keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh 10 ritel modern inti seperti Indomaret, Alfamart, Supermarket Hero, Carrefour, Superindo, Foodmart, Yogya, Ramayana, Hypermart Carrefour, Hypermart, Giant, LotteMart, dan Indogrosir. Jika dibiarkan, kondisi ini cenderung mengarah pada praktik monopoli atau oligopoli, yg bertentangan dgn semangat UU no. 5 th 1999 mengenai Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

    Sastrawan A.A. Navis pernah menulis sebuah cerpen dg judul “Robohnya Surau Kami”, yg menceritakan ditinggalkannya surau sbg pusat peribadatan akibat keacuhan yg dilakukan oleh umatnya sendiri. Kini, sudahkah kita pantas berkata “Robohnya pasar kami” akibat kekurangpedulian kita semua? Novel ini memberikan penyadaran kpd kita semua.

  10. debapirez said: Hypermarket juga punya keunggulan dalam menyimpan stok dan kekuatan modal.Pasar2 tradisional seharusnya dijadikan sebagai objek wisata juga.

    Yup, benar.Namun, saya mencoba mengajak untuk tidak mencari perbandingan diantara kedua jenis pasar itu, karena masing-masing memiliki keunikannya sendiri.Dalam bahasan ini yang menjadi sorotan adalah pertumbuhan mall / hypermarket yg di luar kendali, ditambah lagi pelanggaran thd ketentuan yg diatur dlm Perda, misalnya tentang jarak tempat dan waktu pelayanan penyelenggaran usaha.Pemkot DKI Jakarta sudah mengaturnya dalam Perda DKI Jakarta No 2 Tahun 2002, tentang Perpasaran Swasta di Propinsi DKI Jakarta.

    Perda DKI Jakarta No 2 Tahun 2002, tentang Perpasaran Swasta di Propinsi DKI Jakarta.
    Paragraf 2: Luas dan Jarak Tempat Penyelenggaraan Usaha
    Pasal 10
    Dalam menyelenggarakan usaha perpasaran swasta, jarak sarana/ tempat usaha harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
    a. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya 100 m2 sampai dengan 200 m2 harus berjarak radius 0,5 km dari pasar lingkungan dan terletak disisi jalan Lingkungan/Kolektor/ Arteri; —Minimarket
    b. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 200 m2 sampai dengan 1.000 m2 harus berjarak radius 1,0 km dari pasar lingkungan dan terletak disisi jalan Kolektor/ Arteri; —Dept. Store
    c. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 1.000 m2 sampai dengan 2.000 m2 harus berjarak radius 1,5 km dari pasar lingkungan dan terletak disisi jalan Kolektor/ Arteri; —Dept. Store
    d. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 2.000 m2 sampai dengan 4.000 m2 harus berjarak radius 2 km dari pasar lingkungan dan terletak disis jalan Kolektor/ Arteri; —Dept. Store, Supermarket
    e. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 4.000 m2 harus berjarak radius 2,5 km dari pasar lingkungan dan harus terletak di sisi jalan Kolektor/ Arteri. —Dept. Store, Hypermarket

    Paragraf 3: Waktu Pelayanan
    Pasal 11
    (1) Waktu pelayanan penyelenggaraan usaha perpasaran swasta dimulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB.
    (2) Waktu pelayanan penyelenggaraan usaha perpasaran swasta khususnya yang dilakukan dengan cara swalayan, waktu pelayanannya dimulai pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB.
    (3) Untuk penyelenggaraan usaha perpasaran swasta yang waktu pelayanannya diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus mendapatkan izin khusus dari Gubernur.

    Perdanya sudah ada, namun dalam prakteknya, banyak yg melanggar ketentuan di atas, bukan?! Kalo ketentuan di atas secara tertib dikendalikan, maka Jakarta tidak akan menjadi hutan kota dg ratusan mall dan ribuan minimarket yg membunuh perekonomian jutaan rakyat kecil. Dan menyebabkan gap yg makin lebar antara si kaya dan si miskin.

  11. martoart said: 1. Data, statistik, pooling, referensi, dst… ntar dulu. Banyak alasan untuk tak serta merta mengamini setiap data. Misal siapa yg bikin itu, motivasi, akurasi, smple pilihan, dst, dst. Ada yg suka keganjenan ngasih link data, saya jadi curiga apakah biar disebut akademis atau tuh orang ga bisa kasih opini n analisa sendiri. Data ibarat hal yg tahu jadi, sedang analisa lebih dialektis untuk didiskusikan. Saya bukan anti data, tapi itu menjadi nomor sekian. Ngasih url di novel, boleh juga, tapi hoax dan psudodata bergentayangan juga di dunia maya.

    Ya… setelah dipikir – pikir kembali, saya bisa memahami dan (pada akhirnya) sependapat dengan masukan Anda, Bung Marto 🙂

    Berdasarkan pengamatan informasi2 yg tersebar di dunia maya, memang sifat data dapat disulap, dikendalikan, terkuasai, dan terkontrol sbg senjata ampuh untuk melumpuhkan lawan. Data mampu dihadirkan:
    – untuk mendefinisikan kepentingan,
    – untuk merumuskan keputusan, dan
    – untuk memaksakan kehendak para lawannya.

    Yang lebih seru adalah jika pemaksaan oleh data ini dilawan dg senjata data pula. Maka terjadilah perang data. Dan secara gak sadar pula, sebenarnya kita sudah memasuki era perang data.

    Perang selalu menyertakan data sbg bagian terpenting dari perang itu sendiri. Baik perang militer, perang urat syaraf, perang budaya, perang informasi, perang sosial & politik, juga perang ekonomi. Perang ekonomi global tanpa front yg sekarang berwujud pada proses penghancuran potensi ekonomi rakyat miskin dan proses penghancuran potensi ekonomi bangsa2 yg secara ekonomi selalu terjajah senantiasa bertumpu dan bersenjatakan data.Hadirnya data itu memang dapat mengubah nasib siapa saja yg berada di bawah pengaruhnya. Nasib sebuah bangsa, masyarakat, keluarga dan seseorang tiba – tiba dapat berubah menjadi lebih baik karena data. Tetapi bisa juga sebaliknya, bahwa nasib sebuah bangsa, masyarakat, keluarga dan seseorang tiba – tiba saja bisa terjungkal karena permainan data 🙂

    Sependapat dg Bung Marto, bahwa hati – hati dg data statistik.

  12. martoart says:

    Kelar juga baca postingan lengkap ini. Dan catatan dari saya, cuma ini:

    1. Data, statistik, pooling, referensi, dst… ntar dulu. Banyak alasan untuk tak serta merta mengamini setiap data. Misal siapa yg bikin itu, motivasi, akurasi, smple pilihan, dst, dst. Ada yg suka keganjenan ngasih link data, saya jadi curiga apakah biar disebut akademis atau tuh orang ga bisa kasih opini n analisa sendiri. Data ibarat hal yg tahu jadi, sedang analisa lebih dialektis untuk didiskusikan. Saya bukan anti data, tapi itu menjadi nomor sekian. Ngasih url di novel, boleh juga, tapi hoax dan psudodata bergentayangan juga di dunia maya.

    2. Lirik lagunya lumayan bagus, tapi suara dan penampilansi penyanyi bikin citra aktivis jadi gak keren. haaha…

    3. Belum baca novelnya, tapi apa kiranya petuah moyang jaman dulu dimasukkan juga sebagai elemen penting di dalamnya untuk dikembangkan dlm cerita? Yg ini; Ada saatnya kelak Pasar ilang kumandange”.(Jual beli dalam perdagangan klasik adalah interaksi sosial, tawar-menawar, bersapa, dan ada semangat silaturahmi. itu yg membuat pasar terdengar berkumandang. Mall, super market, hadir dengan harga pas, dan interaksi hanya ada di depan kasir, itupun berupa angka. Pasar tradisional hilang kumandangnya/kemeriahan sosialnya).

    4. Tak perlu melawan modernitas, yg harus dilawan kapitalisme. Banyak negara moderen yg jalan mulus dengan semangat sosialisme kok.

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  13. umarfaisol says:

    Selain mall, di sekitar kontrakan saya, minimarket menjadi mesin pembunuh yang mematikan untuk pedagang kecil.

  14. kopiradix says:

    kadang terpaksa masih masuk mall mas, ke toko bukunya atau kadang ada yang ajak rapat baksos di mall

  15. akunovi says:

    hadeuh, bener2 dah miriiiiis :(itu di kalimalang belum ada mall aja udah macet mulu,apa lagi kalau ada mall ~_~

  16. subhanallahu says:

    klo mall sangat saya hindari, apalagi niatnya cuma main-main… paling cuma ke carrefournya, tapi klo untuk rekreasi, engga…

  17. subhanallahu says:

    ketinggalan deh… ditandai deh… udah baca sama komen-komennyagejala mini mall memang patut juga diwaspadai, dalam beberapa tahun (lupa persisnya) saya hitung di sebuah jalan besar dekat rumah saya sepanjang lebih kurang 3 kilometer ada sekitar 8 minimarket seperti alfamaret, indomaret dan “lokal”maret gitu…saya akui saya sering ke situ dengan alasan praktis/simple, bersih, banyak tawaran diskon, hehe… nah klo di pasar tradisional (untung produknya beda, jadi tetap masih ke pasar tradisional) becek, bau bin kumuh, senggol-senggolan, dsb)tapi saya yakin semua itu sengaja direkayasa oleh kaum kapitalis dan pendukungnya…jogja aja sebenarnya juga semakin ga karuan….

  18. drprita says:

    terimakasih atas info buku dan ulasannya. Saya catat untuk – insya Allah – dicari pas ada IBF nanti di bulan Maret. Pertumbuhan minimarket2 ini tak lepas dari ulah pejabat pemberi ijin – itu pun untuk yang mengurus ijin. Paling tidak, saat membangun pasti minta tanda tangan para tetangganya kiri – kanan – depan – belakang. OK lah, para tetangga itu mungkin akan tutup mulut dengan pemberian beberapa lembar voucher belanja. Dalam kondisi seperti ini….kemana suara para wakil rakyat yang terhormat itu???

  19. avicena1986 says:

    Waahhhh pengen baca…beli ahhh…^_______^v matur nuwun sangt Mas Iwan..siapa tau jiwa dagang saya kembali muncul…haha

  20. avicena1986 says:

    Oh ini tho yang diiklankan Mas Iwan tadi via short message..heheh.Menarik banget kelihatannya, ya Mas. Hmm…kekurangannya 1 lagi. Covernya kok jauh dari settingan ke Jogja nya yaa…hehe ^______^v

  21. debapirez says:

    fightforfreedom said: ha ha ha… sebagian memang berpendapat demikian, mas Dedy.Tapi kalo pemerintah daerah serius dan mampu mengendalikan rantai suplai dg baik, maka harga – harga bisa turun.Hal lainnya: strategi minimarket, hypermarket, dan mall biasanya memainkan subsidi silang untuk menurunkan harga atau program diskon. Rata – rata produk yg fast moving lebih murah daripada yg sifatnya slow moving. Kalo warung tetangga dan pasar rakyat menggunakan strategi ini, tentu mereka akan berjaya.Oiya… pandangan lainnya juga, bagi rakyat kecil, bisa ngutang di warung. Lha kalo warung – warung pada tutup, mereka yg krisis keuangan di tengah bulan ngutang sama siapa? sementara kalo ngutang di toko2 besar mereka harus punya credit card 🙂

    kebetulan kakak ipar kerja di karfur. utk produk2 baru yg ga gt ternama, mereka bisa minta diskon sktr 30%! lah, warung2 tradisional mana bisa. Hypermarket juga punya keunggulan dalam menyimpan stok dan kekuatan modal.Pasar2 tradisional seharusnya dijadikan sebagai objek wisata juga. dikemas dgn apik dan punya ciri khas. ya…kayak di luar negeri sana. pasar tradisional bs menggerakan fungsi sosial. ada interaksi antara penjual-penjual, penjual-pembeli, pembeli-pembeli.

  22. itsmearni said: distasiun kreta Bojong gede, biasanya pinggiran peron diisi pklsekitar sebulan terakhir berubah menjadi Ind*maretmereka nyewa lahan stasiunmemang bukan mall gede sih, tapi cukuplah untuk mematikan para pkl 😦

    Ya begitulah proses kanibalisme ekonomi, yg berkuasa tetap mereka yg memiliki modal lebih besar.

  23. hwwibntato said: tingkat kriminalitas juga tinggi sepertinya, ya …

    di novel ini juga mengungkap kehidupan “gadis mall”, yg terjebak dg kehidupan hedonisme. Pria yang membutuhkan “gadis mall” tsb juga membuka peluang terciptanya kriminalitas baik di dalam rumah tangganya maupun dalam kehidupan sosialnya.

  24. agamfat said: kayaknya bagus2 nih tema novel seperti ini, dibandingkan yg menyek2

    Memang masih sedikit wacana kemerdekaan dan pemerdekaan yg dikemas dalam sebuah novel di negeri ini. Kalo mas Agam ada info judul novel yg lain, monggo di sharing.

  25. yulidrifaduru said: Kasihan pedagang-pedagang pasar tradisional yang tersungkur usahanya.

    Menurut data yg dihimpun Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa kehadiran 1 mall mematikan 100 warung masyarakat, 1 minimarket mematikan 20 warung masyarakat.Kondisi ini hanya segilintir pemilik modal yg menikmati hasilnya. Jurang pemisah akan semakin lebaarrrr. Si kaya makin kaya, dan si miskin makin miskin bahkan diambang kematian.

  26. beautterfly said: Wah, bukunya sepertinya menarik. Tfs, pak iwan.Di cibubur saja, yg notabene jakarta coret ada bnyk bgt mall/supermarket. Ada mall citra grand yg di dlmny ada giant. Di hadapanny ada giant juga ples mitra 10, ada cibubur point square, cibubur times square, cibubur junction, dan plasa cibubur. Ya ampuuuun. Itu dari cikeas ke cibubur mau masuk tol kan dekat, tapi mallnya masyaallah.

    Ayo segera diburu, mbak Sari, ntar keburu kehabisan lho setelah dirilis review ini, hehehe.Kalo mall – mall itu di dalamnya banyak gerai – gerai yg kosong, dan pengen tahu jawabnya kenapa, maka mbak Sari wajib baca novel ini 🙂

  27. martoart said: Topik kemas kan?

    Yo’i… :DKelihatan banget beban beratnya ketika mengucapkan itu, karena memang selama ini hampir gak pernah disentuh 🙂

  28. martoart says:

    fightforfreedom said: pernah lihat videonya.

    Topik kemas kan? Ngepret tuh orang. Pedahal kita dulu ndengerin doi pidato di Jl. Denpasar yo? wakakaka..

  29. thetrueideas said: Ekonomi masih tumbuh karena perdagangan masih berjalan, dan ini dimanfaatkan segelintir pemilik modal…

    Begitulah, mas Syamsul.Sebaiknya memang pemerintah kita menggelorakan semangat ekonomi berbasis kerakyatan, yg tidak hanya menguntungkan segelintir pemodal.

  30. martoart said: 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

    Komen – komen sampeyan ini kok ya seperti baca Pancasila 🙂 Lha ini kok saya langsung teringat ketika pimpinan wakil rakyat kita salah baca sila ini di forum resmi. Baca Pancasila pas bagian sila ini aja salah, ya karena memang gak pernah dipraktekkan untuk digagas bersama :)Mungkin Bung Marto juga pernah lihat videonya.

  31. martoart said: 4. Tak perlu melawan modernitas, yg harus dilawan kapitalisme. Banyak negara moderen yg jalan mulus dengan semangat sosialisme kok.

    Memang bukan bermaksud untuk melawan modernitas. Melalui sharing review novel ini, saya mengajak kawan – kawan untuk bersemangat melawan konsep kapitalisme yg makin meraksasa dan selalu meminggirkan hak-hak perekonomian rakyat jelata.

  32. martoart said: Ada saatnya kelak Pasar ilang kumandange”.(Jual beli dalam perdagangan klasik adalah interaksi sosial, tawar-menawar, bersapa, dan ada semangat silaturahmi. itu yg membuat pasar terdengar berkumandang. Mall, super market, hadir dengan harga pas, dan interaksi hanya ada di depan kasir, itupun berupa angka. Pasar tradisional hilang kumandangnya/kemeriahan sosialnya).

    Wah… tepat sekali pemikiranmu, bung.Memang ada disampaikan dan digambarkan kondisi pasar tsb, value(s) apa yg bisa dipetik atas kondisi tsb. Digambarkan detail satu bab penuh dlm novel tsb sbg pencerahan.

  33. martoart said: 2. Lirik lagunya lumayan bagus, tapi suara dan penampilansi penyanyi bikin citra aktivis jadi gak keren. haaha..

    hahaha… tapi saya malah lebih suka dg penampilan yg demikian lho, apa adanya. Lagu – lagunya Hari Widi pun juga gak dikomersilin.Ini komen beliau di channel-nya:HARIWIDI has posted a comment on your profile:Silahkan jika bung berminat untuk TAG Lagu ini dijurnal review milik bung…Mhn maaf audio an visual lagu ini masih sangat jauh dari layak tayang…Saya dan Gatel Band sedang berusaha menghimpun kekuatan untuk recording lagu ini,agar lagu ini layak dengar…Jika bung menginginkan lagu-lagu kritik dari kami,silahkan download gratis di Gatel Band reverbnation,di FBnya Hari Widi atau di FBnya Hariwidi Gatelband…”DARIPADA DIBAJAK MENDING DIGRATISIN” ,bermusic untuk berbagi,sambil melawan ketidakwajaran…demikian prinsip kami bermusic..Oke bung trims n salam damai dalam Lyric,nada dan irama…

  34. moestoain says:

    martoart said: Kalo ga matek2 ya dibakar aja.

    Ngomong2 soal bakar pasar, Yang hebat itu pasar di daerah mus, sudah 3 kali dibakar tapi tetap tidak bisa membuat pedagangnya pindah tempat.. Akhirnya pasar yang disediakan beberapa tahun ini jadi sarang roh roh halus hehehe

  35. martoart says:

    moestoain said: Lantas kenapa pasar tradisional saati jarang sekali digandrungi? Pasti juga punya alasan, semisal:1. Tempatnya yang kumuh (becek, kotor, bau dll), andai saja pasar tradisional tempatnya bisa dimodernisasikan.2. Premannya lebih menyeramkan. dll.

    Setuju Mus. Pemerintah bukannya ga tahu itu, tapi seperti sengaja membiarkannya. Biar makin lumpen dan matek. Kalo ga matek2 ya dibakar aja.

  36. moestoain says:

    Lantas kenapa pasar tradisional saati jarang sekali digandrungi? Pasti juga punya alasan, semisal:1. Tempatnya yang kumuh (becek, kotor, bau dll), andai saja pasar tradisional tempatnya bisa dimodernisasikan.2. Premannya lebih menyeramkan. dll.

  37. aisya211 says:

    moestoain said: Tanam-tanaman kering kerontamudah patah berjatuhandihembus angin pembangunanDan reboisasi hanyalah reformasi dusta

    Wah … mantap!

  38. debapirez said: harga yg menentukan keberpihakan 😉

    ha ha ha… sebagian memang berpendapat demikian, mas Dedy.Tapi kalo pemerintah daerah serius dan mampu mengendalikan rantai suplai dg baik, maka harga – harga bisa turun.Hal lainnya: strategi minimarket, hypermarket, dan mall biasanya memainkan subsidi silang untuk menurunkan harga atau program diskon. Rata – rata produk yg fast moving lebih murah daripada yg sifatnya slow moving. Kalo warung tetangga dan pasar rakyat menggunakan strategi ini, tentu mereka akan berjaya.Oiya… pandangan lainnya juga, bagi rakyat kecil, bisa ngutang di warung. Lha kalo warung – warung pada tutup, mereka yg krisis keuangan di tengah bulan ngutang sama siapa? sementara kalo ngutang di toko2 besar mereka harus punya credit card 🙂

  39. duabadai said: udah lama dengar mini market tanpa ijin tapi kok pemda berkesan adem ayem aja ya.. 😦

    Ya.. begitulah kinerjanya, mas, mengecewakan juga ya… meski sering dilakukan penertiban, namun masih dg setengah hati. Padahal dari pihak Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) sudah sering minta kepada kalangan pemda untuk menghentikan izin pendirian minimarket tanpa batas karena sangat merugikan pengusaha mikro. Menurut pemantauan APPSI, pertumbuhan minimarket pada satu titik lokasi otomatis mematikan minimal 20 warung masyarakat. Jika izin pendirian terus dikeluarkan, kelangsungan hidup masyarakat pada strata paling bawah akan punah. Kematian 20 warung di sekitar minimarket, berarti jumlah jiwa anggota keluarga yang kehilangan sumber pendapatan lebih besar dibandingkan daya tampung satu minimarket. Memang pada era globalisasi sekarang ini, semua kegiatan usaha diizinkan. Tentu saja perlu regulasi dan pengendalian yang baik di lapangan. Sehingga jika pertumbuhan minimarket dalam jumlah tertentu serta zonasi yg tepat, itu tidak akan mematikan usaha masyarakat warung rumahan.

  40. itsmearni says:

    distasiun kreta Bojong gede, biasanya pinggiran peron diisi pklsekitar sebulan terakhir berubah menjadi Ind*maretmereka nyewa lahan stasiunmemang bukan mall gede sih, tapi cukuplah untuk mematikan para pkl :-(*naksir buku ini*

  41. hwwibntato says:

    fightforfreedom said: Tentunya akan banyak upaya agar mampu membeli apa saja yg menjadi keinginannya.

    tingkat kriminalitas juga tinggi sepertinya, ya …

  42. agamfat says:

    kayaknya bagus2 nih tema novel seperti ini, dibandingkan yg menyek2

  43. fightforfreedom said: fakta bagaimana mall mampu mengubah perilaku masyarakat menjadi konsumen yang patuh kepada kehendak pasar. Mereka mendapat fakta bila keberadaan mall mampu mengubah perilaku pengunjungnya ke dalam gaya hidup modern.

    Saya percaya ini, di desa saya juga banyak sekali tumbuh ‘mart-mart’ ala kota yang banyak digemari, tapi jujur kalau melongok kualitas produk yang dijual tak beda dengan yang di pasar tradisional… hanya tampilan ‘mart’nya saja yang beda.Kasihan pedagang-pedagang pasar tradisional yang tersungkur usahanya.

  44. beautterfly says:

    Wah, bukunya sepertinya menarik. Tfs, pak iwan.Di cibubur saja, yg notabene jakarta coret ada bnyk bgt mall/supermarket. Ada mall citra grand yg di dlmny ada giant. Di hadapanny ada giant juga ples mitra 10, ada cibubur point square, cibubur times square, cibubur junction, dan plasa cibubur. Ya ampuuuun. Itu dari cikeas ke cibubur mau masuk tol kan dekat, tapi mallnya masyaallah.

  45. thetrueideas says:

    Ekonomi masih tumbuh karena perdagangan masih berjalan, dan ini dimanfaatkan segelintir pemilik modal…

  46. adearin says:

    Banyak kota yg nafsu ngejer status megapolitan, ya Pak, jd bangun mall gak kira2. Sy ingat waktu kecil dulu, belum tentu sebulan sekali diajak ke pasar karena yg terdekat dr rmh jaraknya 7km. Kalau sekali waktu diajak ke pasar rasanya senaaang sekali. Anak sekarang (maksute anak sy yg lahir di batam) begitu brojol langsung keluar masuk mall. Untungnya kl dibawa ke pasar gak kalah sumringahnya, jd ga terlalu risau anak2 akan jd generasi mall…eh tapi Pak, kalau kami pulang kampung kyk skrg ini, si Ririn pasti nyeplos , “d rumah mbah ga enak krn ga ada mall…” Hehehe*pak Mustofa itu seorang yg lembut hati dan tindakan, ga pernah marah dalam bentuknya yg ektrim. Sebenarnya secara verbal beliau agak sedikit payah, entah kenapa kl beliau ngomong sy selalu tak bs mendengar dg jernih omongannya, kyk kumur2 gt heheheMgkn itu sebabnya beliau lbh srg berbicara scr lisan shgga produktif melahirkan novel. Sygnya dulu sy ini payah. Dikasi kesempatan belajar lgsg dg org2 hebat malah leda-lede. Jdnya ya gak jadi apa2 gini…:)

  47. moestoain says:

    fightforfreedom said: mengutip lyric lagu: “Super Market”

    Mengutip sajak sendiri: “Hutan Kota”Tanam-tanaman kering kerontamudah patah berjatuhandihembus angin pembangunanDan reboisasi hanyalah reformasi dusta[ http://musayka.wordpress.com/2011/10/07/hutan-kota/ ]

  48. debapirez says:

    fightforfreedom said: Mari cintai warung tetangga dan pasar rakyat 🙂

    harga yg menentukan keberpihakan 😉

  49. debapirez says:

    wah…kayaknya ceritanya mantab neh. cari ah…lagunya gokil,Om Iwan hahahaha…..

  50. duabadai says:

    sudah lama dengar mini market tanpa ijin tapi kok pemda berkesan adem ayem aja ya.. 😦

  51. hwwibntato said: wah, ternyata paling banyak di seluruh dunia …berarti gaya hidup kita itu konsumtif konsumerisme, ya …

    Seharusnya kita malu ya, mas Hendra, karena kontradiksi banget dg kondisi wilayah perkumuhan yg tersebar di sana.Seandainya konsep pembangunan di Jakarta sana berbasis perekonomian kerakyatan, maka yang menjadi prioritas adalah membangun banyak pasar tradisional yang dikelola secara modern, sehingga pasar tsb bersih dan nyaman bagi pengunjung untuk berbelanja. Namun kenyataannya adalah pemkot DKI seperti membiarkan pasar tsb dlm kondisi berantakan tak terurus, hingga mati dg sendirinya. Karena bisa jadi dianggap telah mengotori pembangunan kota. Hingga kemudian ada alasan untuk mengalihfungsikan sbg mall atau hypermarket.Kalo kondisi ini terjadi maka, pasar tradisional yg jorok dan tidak nyaman itu akan berkurang jumlah pengunjung. Dan ketika pasar itu makin sepi dan omset menurun, tidak kuat membayar sewa lapak, maka para pedagang itu akan menyerbu jalanan sbg pedagang kaki lima (PKL). Sudah bisa ditebak yg terjadi kemudian, yaitu perseteruan antara PKL vs Tibum atau Satpol PP. Lagi – lagi, rakyat kecil yg menjadi korban.Mengenai gaya hidup…Dampak sosial pembangunan tsb memang hanya akan menggiring warga dan membiusnya untuk memiliki gaya hidup yg konsumtif. Akan menjadi masalah besar kalo gaya tsb dimiliki oleh mereka yg tidak berkecukupan. Tentunya akan banyak upaya agar mampu membeli apa saja yg menjadi keinginannya.

  52. takedisaja said: di kampungku beberapa kali pasar tradisional terbakar, dan selalu saja sebelumnya sdh ada isu bakal dibangun mall. pasar tradisional pun dipindah ke tempat yang jauuhh.. untungnya mall nya ga begitu rame, pasar tradisionalnya tetap rame (meski tak serame sebelumnya).

    Ada saja upaya pembebasan lahan dari oknum pejabat pemda yg dzalim. Modusnya selalu saja sama. Di kampung halaman saya juga begitu, mbak Yaya, setelah terbakarnya pasar tradisional, dibangunlah mall, bahkan pake nama “XXX Trade Center”.

  53. adearin said: *kl soal mall menjamur, kayaknya batam bakalan ga jauh beda. Tiap pojok ada mall :), yg prihatin kl pembangunan mall menggusur sarana publik yg sdh ada sebelumnya. Kayak mall ambarukmo, dibela2in nggusur SD Negeri n kl gak lupa, di sebelah SD itu jg ada kompleks kuburannya. Memprihatinkan…

    Iya, mbak Dwi, gak terasa kalo di Batam yg sekecil itu makin banyak aja mall. Yang lebih miris adalah terkesan adanya pemaksaan pembangunannya, terbukti banyak mall yg banyak gerai / stan yg kosong..Membaca sharingnya mbak Dwi tsb, ya begitulah budaya korupsi di negeri ini, sehingga berakibat banyak kawasan yg semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis harus beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Sungguh miris.Membaca lyric lagunya Hari Widi di atas, ada benarnya juga kalo penyebabnya munculnya mall – mall tanpa konsep yg jelas itu adalah bagian dari praktek money laundering.

  54. adearin said: Mksh pak iwan, kl gak bc review ini sy gak tahu kl pak mustofa melahirkan novel ini. Sebagai “anak bawang” yg pernah satu tim di sebuah majalah dg beliau sy bangga 🙂

    Wah… senangnya saya mendengar mbak Dwi pernah menjadi satu tim dg Pak Mustafa. Saya baca profile-nya beliau, dari rentang tahun 2003 sampai 2009 telah menulis 18 novel, artinya rata – rata setahun menulis 3 novel. Woww.. produktif sekali beliau. Ini belum termasuk karyanya yg dalam bentuk cerpen, puisi, esai.Kalau tidak keberatan boleh dong di sharing pengalamannya ketika satu tim dg beliau.

  55. jampang said: di deket rumah saya… mini market bisa lebih dari 3 dalam satu jalan…. 😦

    Iya, mas Rifki, waktu saya tinggal di Jakarta beberapa lama juga memperhatikan parahnya kondisi itu. Saya melihat ada toko Alfamart berdekatan dg Indomaret dlm radius gak nyampe 10 meter. Ada juga yg saling berhadapan. Bahkan ada juga kondisi satu gerai Indomaret diapit dua Alfamart. Dua raksasa minimarket itu jor – joran dalam peningkatan pertumbuhan gerainya. Ini sungguh persaingan bisnis yg tidak sehat. Yang jadi korban jelas para pedagang kecil yang tak mampu beli franchise.Apakah para pengusaha minimarket itu semua mengantongi ijin operasi? Jawaban atas kenyataan ini sungguh mencengangkan, silakan simak jawaban saya untuk mbak Niezt.

  56. rengganiez said: tapi skg ini gak hanya mall besar yang mengancam, tiap jengkal sudah ada minimarket, dan masuk ke pelosok2 kampung..

    Di Jakarta ada 2162 mini market tanpa ijin.Di Bogor ada 400 mini market tanpa ijin.Di Bandung ada 70 persen mini market tanpa ijin.Di Surabaya hanya 6 dari 209 mini market yg telah memiliki ijin operasi.Itu semua berdasarkan kondisi tahun 2011.Bisa jadi akan sama kondisinya di daerah – daerah lainnya di Indonesia.Ini menjadi bukti kalau pemda setempat tidak sungguh – sungguh memberikan perlindungan kepada para pedagang tradisional, dalam menghadapi persaingan dg pasar modern dan minimarket yang kian menjamur. Dan juga sudah menjadi rahasia umum kalo adanya mini market yg tanpa ijin ini menjadi ladang basah bagi oknum – oknum pejabat pemerintah terkait.Sungguh miris.

  57. aisya211 said: Begitu seriuskah keadaan di sana?

    Bisa dibilang serius, mbak Aisya, namun tidak terlihat secara umum karena tertutupi dg pesona kemegahan gedung – gedung mall tsb.Dampak yg sangat terasa adalah dirasakan oleh pedagang2 kecil di pasar tradisional. Pertumbuhan mall ini berpotensi tersingkirnya satu persatu pasar tradisional yg pada gilirannya mematikan aktifitas pedagang tradisional pribumi. Perbandingan setiap satu mall berdiri maka 100 pedagang dan warung akan gulung tikar.Ketika para pedagang di pasar – pasar tradisional itu gulung tikar, karena tidak kuat menyewa lahan yg seiring dg menurunnya omset, akhirnya mereka memilih untuk berjualan secara liar yg tentunya beresiko terjadinya penggusuran oleh petugas tibum (ketertiban umum) dari dinas tata kota.Ini baru dilihat dari satu sisi saja lho, yaitu dari kacamata pertumbuhan ekonomi rakyat kecil. Belum kalo dilihat dari sisi perubahan budaya yg mengarah ke gaya hidup konsumerisme dan hedonisme.

  58. ohtrie says:

    fightforfreedom said: Banyak kawasan yang semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis harus beralih fungsi menjadi kawasan komersil.

    Cerita nyata didepan mataku terjadi sekitar 3 tahun laluTepatnya pas lebaran Satu wilayah exs terminal yang didekatnya ada pasar tradisional direncanakan dipugar. Pengumuman birokrasi ke warganya adalah demi “penghijauan.”Awalnya ada orang2 pasar yang sudah susah dialihkan, hingga pada akhirnya terjadi penggusuran pasar tersebut yaitu pada saat Lebaran Idul Fitri. Tepatnya ketika kondisi lebih sepi dibanding hari2 lainnya karena banyak yang merayakan lebaran di rumah pun kampung masing2.Akan tetapi meskipun sudah sepi ternyata pihak yang kekeuh juga masih ada, sementara pihak pemerintahnya tak mau kalah set, selain polisi PP para jagoan pun diturunkan.HIngga terjadilah bacok-bacokan… dan meninggalah 2 orang..Ironisnya…saat ini tempat tersebut yang dijadikan lahan penghijauan cuman dipojokannya saja, mungkin cuma 10% nya, yang lainnya sudah dibangun mall…hemmm….. oh negeriku

  59. rawins says:

    berarti jakarta kota paling keren dong mas…untuk urusan konsumerisme..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat