Home » Indonesia Crisis » Prestasi Indonesia dalam Jumlah Paten Internasional

Prestasi Indonesia dalam Jumlah Paten Internasional

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Melanjutkan kembali pembahasan tentang ACTA (the Anti-Counterfeiting Trade Agreement), blog FightForFreedom kali ini membahas fakta tentang perlindungan Paten Internasional bagi negeri ini, karena hal paling mendasar tentang ACTA adalah soal hak paten.

WIPO (The World Intellectual Property Organization) telah merancang sebuah sistem global untuk pendaftaran paten secara internasional, yang dikenal dengan PCT (Patent Cooperation Treaty). PCT dirancang untuk memfasilitasi proses perolehan perlindungan paten di banyak negara, sehingga setiap negara anggota memiliki kemudahan untuk mendaftarkan paten dari negara asalnya secara internasional.

Hingga saat ini PCT sudah diratifikasi oleh 165 negara anggota yang awalnya hanya 35 negara melalui Madrid Protokol. Indonesia meratifikasi PCT pada 5 September 1997 melalui Keppres No. 6/1997. Dengan hanya mengajukan satu permohonan perlindungan internasional paten melalui PCT, maka inventor (penemu) atau kalangan industri bisa mendapatkan perlindungan hukum atas patennya di banyak negara sesuai dengan keinginan pemohon dengan syarat negara itu harus anggota PCT.
Misalnya, inventor atau perusahaan PT.FFF ingin mendapatkan perlindungan paten di negara A, B, C, D, dan E, maka dia hanya cukup mengajukan satu permohonan saja. Permohonan itu bisa diajukan melalui Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM atau langsung ke biro internasional WIPO di Jenewa, Swiss.

Jadi, dengan sistem itu, pemohon tidak perlu lagi mengajukan permohonan perlindungan paten ke masing-masing negara tersebut. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan perlindungan internasional atas paten di banyak negara relatif murah serta hemat dari segi waktu bila dibandingkan individu atau pengusaha swasta mengajukan permohonan perlindungan paten ke masing-masing negara.

Meningkatnya pemanfaatan fasilitas PCT menunjukkan indikasi kuat bahwa strategi paten dalam persaingan bisnis juga meningkat. Paten memiliki keterkaitan langsung dengan kemajuan teknologi suatu bangsa. Semakin banyak paten suatu negara, menunjukkan semakin maju pula teknologinya. Benarkah demikian?

Menurut data yang dirilis oleh WIPO, pada periode 2005-2010 permohonan paten dari Indonesia melalui melalui biro internasional WIPO di Jenewa, dari segi jumlahnya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asean, apalagi dibandingkan dengan negara-negara maju di luar kawasan tersebut. Perhatikan tabel di bawah ini:

paten internasional

What???
Indonesia, negeri berpenduduk 5 besar terbanyak di dunia itu hanya mampu mendaftarkan segelintir paten?!
Bukankah proses pengurusannya seperti yang dijelaskan di atas itu mudah?

Lihatlah, angka permohonan paten itu didominasi oleh Amerika Serikat, Jepang dan Jerman yang selama ini memang terkenal dengan kemajuan teknologinya. Di kawasan Asean, dua negara yaitu Singapura dan Malaysia juga sejak lama tetap unggul, belum bisa ditandingi oleh negara lain di kawasan regional ini dalam hal mendapatkan paten internasional.

WIPO memang telah merancang satu sistem global untuk memfasilitasi mendapatkan perlindungan paten di banyak negara melalui PCT, tapi fasilitas itu hingga kini masih didominasi oleh negara maju. Indonesia tampaknya masih sangat jauh di urutan bawah jika dibandingkan dengan negara berkembang lain yang menjadi anggota PCT. Bila Anda ingin membaca laporan lengkapnya, silakan mengunduh file “2011 World Intellectual Property Indicators.pdf”.

Sebenarnya ada apa dengan Indonesia?

Rendahnya permohonan paten tersebut mengindikasikan inovasi dan riset di dalam negeri yang berorientasi komersial sangat kurang, sehingga sedikit sekali hasil temuan teknologi yang bisa dipatenkan baik di dalam maupun luar negeri.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kemungkinan penyebab antara lain:

(1) Krisis ekonomi.

Jika paten itu dijadikan indikator bagi pertumbuhan ekonomi, maka dapat dikatakan bahwa negara dengan jumlah paten sedikit akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang sedikit pula. Memang krisis ekonomi telah mendera negeri ini dari tahun ke tahun ditambah dengan krisis kepemimpinan dan kepercayaan yang menjadikan negara kita kehilangan fokus dalam menyusun program peningkatan daya saing bangsa ini menuju kemandirian. Gejolak moneter yang berimbas pada ekonomi riil berimbas pada sedikitnya permohonan paten dari negeri ini karena kelesuan ekonomi mempengaruhi investasi dalam penelitian dan pengembangan yang merupakan kegiatan awal dari kegiatan perpatenan.

(2) Hasil riset dan pengembangan belum layak dipatenkan

Inovasi, riset dan pengembangan untuk menghasilkan paten bernilai komersial di dalam negeri masih rendah, dan terkesan kurang serius, sehingga dirasa tidak layak didaftarkan melalui WIPO. Kekurangseriusan ini dipicu karena budaya bangsa kita ini lebih cenderung sebagai konsumen daripada membuat atau mencipta. Ini bisa dilihat dalam kecenderungannya bahwa banyak ilmuwan yang tidak peduli atas hal yang berhubungan dengan proses berinovasi. Kebanyakan hanya menggunakan atau memodifikasi teknologi yang sudah ada untuk mengerjakan proyek-proyek mereka

(3) Inventor memang kurang peduli terhadap paten.

Kalau memang benar banyak tercipta penemuan baru di negeri ini, maka realitas di atas mengenai jumlah paten semoga dapat menjadi pemicu bagi para ilmuwan Indonesia. Paten merupakan salah satu cabang dari kekayaan intelektual yang harus diperjuangkan setiap ilmuwan.

(4) Inventor kurang paham tentang pendaftaran paten.

Bisa jadi inventor Indonesia memiliki banyak produk yang layak dipatenkan, namun mereka tidak tahu bagaimana mengajukan permohonan paten secara Internasional ke WIPO. Maka sudah sepantasnya, bila kantor HaKI di Indonesia setiap tahun menyediakan fasilitas pendaftaran gratis kepada para inventor dan memudahkan urusan birokrasi. Selain itu juga menggali potensi dan memberikan pemahaman yang baik dengan sosialisasi yang tepat. Kalo ternyata program tersebut sudah ada, maka tinggal meningkatkan kualitas pelayanannya.

(5) Beda orientasi dalam riset dan pengembangan penelitian.

Dalam dunia pendidikan, riset dan pengembangan di dalam negeri lebih berorientasi untuk mengejar kredit poin guna kenaikan pangkat, golongan atau jabatan; sedangkan di luar negeri sudah berbasis komersial. Ibaratnya: riset dan pengembangan di negeri kita mengejar poin, sedangkan di luar negeri mengejar koin.

Pendidikan negara maju lebih mengutamakan riset berbasis industri. Sehingga pemerintah mereka sangat mudah memberikan dana riset bagi ilmuwan profesional, tentu saja hal ini juga termasuk tunjangan kesejahteraan agar penelitian yang dilakukan terfokus. Kita perlu segera menyadari bahwa negara tanpa ditopang riset yang kuat akan selamanya menjadi konsumen.

Indonesia yang banyak memiliki tenaga SDM handal sekarang ini tinggal mengubah cara berpikirnya saja yaitu bagaimana riset dan pengembangan itu menghasilkan paten bernilai komersial. Sudah saatnya kita berubah orientasi.

(6) Lemahnya perhatian pemerintah dan kurangnya lembaga donor yang bersedia menyokong seorang peneliti untuk melakukan dan mengembangkan penelitian di negeri sendiri.

Pemerintah negeri ini kurang mampu membayar mahal ilmuwan agar berkompetisi di negeri sendiri. Seorang dosen yang baru lulus doktor di Malaysia bergaji 5-10 ribu ringgit (Rp 15-30 juta) per bulan, ditambah fasilitas mobil, rumah, dan asuransi kesehatan. Dan ketika para ilmuwan di luar negeri itu pulang kampung, mereka dihadapkan pada sistem kepegawaian dan administrasi yang dinilai ribet, mereka harus menjalani prajabatan, menulis lamaran, bahkan kehilangan kesempatan riset dengan fasilitas serba lengkap.

Pemerintah seharusnya menyadari seorang peneliti tetap harus memenuhi kebutuhan di luar penelitiannya. Kebutuhan itu menyangkut kebutuhan finansial untuk keluarga. Ketika hal itu tidak didapatkan di Indonesia, maka saat itulah para peneliti hijrah ke negara lain yang dianggap lebih baik memberikan apresiasi kepada mereka.

Di Inggris ada peneliti kita yang menjadi dosen peneliti teladan tingkat universitas, ada peneliti Indonesia yang menjadi peneliti muda terbaik di Asia Pasifik, dan banyak ilmuwan kita diluar negeri yang memperoleh penghargaan atas dedikasinya. Tentu saja tidak sedikit yang menjadi bagian dari sebuah tim yang kemudian menghasilkan karya gemilang, dan kemudian mematenkannya… namun atas nama industri asing yang menaunginya itu.

(7) … silakan kalau ada yang mau menambahkan. let’s brainstorming 🙂

Seandainya negeri ini banyak menghasilkan karya yang dipatenkan atas nama penduduk pribumi, dan kemudian menciptakan lapangan industri di sini, maka tentu saja akan banyak menyerap tenaga kerja di negeri ini, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kemandirian bangsa. Miris rasanya melihat kondisi saat ini, bahwa kenyataannya ada banyak kasus terjadi yang membuat kita akhirnya menjadi budak di negeri sendiri, misalnya:

Apakah negeri yang ditakdirkan sebagai negeri kaya akan sumber daya ini, namun pemerintah dan rakyatnya lebih memilih untuk menjadi bangsa konsumen?

Mari kita introspeksi, bergerak dan melakukan perubahan.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
12.02.2012
[disalin dari blog lama saya: fightforfreedom.multiply.com]

.
————
Referensi:

  1. WIPO: http://www.wipo.int/
  2. Tabel Paten Internasional: http://www.wipo.int/ipstats/en/wipi/index.html
  3. Global Competitiveness: http://en.wikipedia.org/wiki/Global_Competitiveness_Report
  4. Ditjen HKI: http://www.dgip.go.id/
  5. Advertisements

61 Comments

  1. Tri Mulat says:

    Mudah-mudahan pemerintah mempermudah pembuatan hak paten dan biayanya semakin murah. sebenarnya kalau murah, banyak penemu Indonesia yang mau mematenkan kreativitasnya. Jangan disamakan biaya pengurusan dengan negara maju, karena mata uang kita rupiah 1 dolar berbanding 10.000 rupiah. Memang kreativitas harus diajarkan mulai dari TK sampai PT. Contoh sederhana mengajarkan kreativitas ada di profesorcilik.wordpress.com edisi Oktober 2015.

  2. momogrosir says:

    mungkin karena budaya di Indonesia yang tidak mau ribet.

  3. 3 Faktor Penyebab Minimnya Jumlah Peneliti Indonesia
    Kompas.com | Riana Afifah | 28 Maret 2013 | 14:31 WIB

    Faktor pertama:
    Berasal dari peneliti itu sendiri apakah masih ingin mengembangkan diri atau tidak. Namun biasanya yang menyerah untuk terus maju karena infrastruktur dan fasilitas untuk melakukan penelitian di Indonesia ini belum semapan negara lain.

    Faktor kedua:
    Bentuk insentif untuk para peneliti ini. Namun saat ini, insentif sudah mulai ada bantuan dari pihak-pihak tertentu (seperti Kemendikbud melalui program beasiswa) dan remunerasi juga sudan mulai meningkat. Pasalnya, tanpa ada insentif ini para peneliti juga tidak dapat melanjutkan penelitiannya untuk terus maju.

    Faktor ketiga:
    Kapasitas untuk membuat jaringan. Hal ini yang dianggap paling sulit karena tidak semua orang mau dan mampu membuat jaringan dengan universitas lain atau pihak lain dalam mengembangkan penelitiannya. Karena penelitian ini tidak bisa dilakukan sendirian, butuh kolaborasi sehingga jaringan ini perlu sekali.

  4. shynope says:

    http://shynope.wordpress.com/2013/01/17/indonesia-dan-paten-internasional/

    om, saya copas yah buat referensi makalah, tetap cantumin alamat blognya kok 🙂

    beginilah nasib negara berkembang; terlalu banyak pelanggaran paten masalahnya, bagaimanapun keadaan dimana kreativitas tak mendapat penghargaan itu kan justru menurunkan minat pencipta untuk berinovasi.

  5. siriusbintang said:
    Bahkan mungkin kebanyakan yang dipatenkan sebenarnya berasal dari Indonesia.

    Bisa jadi demikian, ilmuwan Indonesia khan menyebar kemana-mana. Para ilmuwan seperti Warsito Purwo Taruno (contohnya), penemu yg banyak mendapat penghargaan di dalam dan di luar negeri itu sudah mematenkan banyak karyanya namun atas nama institusi di negara lain. Hasil Penemuannya:
    – Multi-Modal Ultrasonic Tomography (Chemical Engineering Science, 1999)
    – Penemu Metode Penghancuran Limbah Cair Dengan Untrasonic, (Paten Jepang, 2000)
    – Penemu metode penanganan Limbah padat dengan katalis dan ultrasonic, (Paten Jepang, 1999)
    – Penemu Algoritma Neural-Network Multicriterion Optimzation Image Reconstruction Technique (Paten AS, 2003)
    – Penemu Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), Paten International, 2006)
    – Pengembang 2nd Generation ECVT Data Acquisition System (Paten AS, 2009)
    – Penemu High Resolution ECVT (Paten AS, 2009)
    – Pengembang Ultrasonic scanner for non destructive testing SonaCTx001 (Paten Indonesia, 2009), dll. Sumber: Blog dr. Widodo: Gempur Kanker dengan Listrik Statis

  6. mahasiswidudul said:
    Ini bayar juga gak om? Kalo bayar mah kebangetan *lirikpemerintah* =___=

    Ya, bayar dooong, mbak Nina, no more free lunch :))
    Lha itu link-nya sudah kusertakan dalam jurnal di atas sbg referensi no.4:
    Ditjen HKI: http://www.dgip.go.id/
    Silakan mbak Nina buka menu “LAYANAN”, klik di situ “Prosedur Permohonan” biar tahu seberapa lama diproses, dan “Tarif” biar tahu berap duit yg dikeluarin, disitu juga ada biaya pemeliharaan tahunan.
    Jadi, jangan dikira setelah bayar paten urusan selesai, padahal setiap tahunnya kudu bayar. Biaya pemeliharaan setiap tahunnya, itu makin lama makin besar lho.
    Biaya Permohonan Paten = Rp 575.000,00
    Biaya Penerbitan Sertifikat = Rp 250.000,-
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-1 = Rp 700.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-2 = Rp 700.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-3 = Rp 700.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-4 = Rp 1.000.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-5 = Rp 1.000.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-6 = Rp 1.500.000,00
    Biaya Pemeliharaan tahun ke-7 = Rp 2.000.000,00
    Ini belum termasuk biaya setiap klaim, denda keterlambatan pemenuhan persyaratan permohonan, biaya perubahan jenis paten, dll
    Itu kalo mendaftarkan paten untuk tingkat lokal. Nah.. kalo paten internasional, menurut http://www.wipo.int/pct/en/fees.pdf :biayanya Rp 1 Juta, belum termasuk biaya renewal tahunan, biaya kalo ada klaim, dll. Untuk biaya permohonan Hak Cipta, dan biaya permohonan Merek Dagang, silakan ikuti link yg berdampingan di situ.

  7. Sangat ironis. 😦
    Bahkan mungkin kebanyakan yang dipatenkan sebenarnya berasal dari Indonesia. Kalo dampaknya sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi negara ini, maka kita sudah terjajah secara diam-diam … by system.

  8. Dear All,
    Sejarah penemuan paten dan soal gugat-menggugat paten diuraikan dg sangat baik di situs mashable.com dalam bentuk grafis, silakan disimak di:
    Patent Wars: A New Age of Competition [INFOGRAPHIC]
    Memang benar, kata Bung Marto: “there is nothing new under the sun”

  9. rengganiez said:
    Pemerintah sibuk berwacana..bener bangettt. Nunggu kalo sudah heboh baru bertindak..

    Betul, ini salah satu contohnya:
    Suara Merdeka: Produk Kerajinan dan Furnitur Sulit Dipatenkan
    Kita masih berkutat dg wacana: “mudah” dan “sulit”. Lha kenyataannya negara lain bisa dengan mudah mematenkan produk kita. Ha mbok yao dalam urusan mematenkan produk karya anak bangsa ini pemerintah mau membantu, bila perlu digratiskan pendaftarannya (maksudnya biaya ditanggung pemerintah), dg demikian ada alokasi anggaran untuk melindungi stabilitas perekonomian dalam negeri.
    Lha ini, kita yang memproduksi mebel Jepara sejak jaman dulu kala, malah gak bisa berkutik di kancah internasional. Kalo kita bisa mengekspor, khan pendapatan devisa negara bisa meningkat.

  10. onit says:

    fightforfreedom said: Seperti yg kusampaikan pada kemungkinan penyebab poin no.4, memang bisa jadi karena kurang sosialisasi. Indonesia menjadi anggota WIPO, maka sistem paten-nya ya mengikuti aturan WIPO spt dlm diagram di atas (pada komen untuk mas Hendra). Mengenai aturan dalam WIPO, sampeyan bisa baca-baca guideline-nya yg aku link-an di atas.Soal kecolongan hak paten, memang benar, mas Heri, modus operandi spt itu sering dipakai. Kalo sudah kejadian, pemerintah harus berani untuk membantu menggugat paten tsb.

    naaah tunggu apalagi? ayo kita gugat rame2 paten soal kerajinan perak, pengolahan kopi, tempe, temulawak sebagai obat, dll..ini saatnya sarjana2 hukum indonesia berkontribusi besar terhadap negara.. pengen banget bantu, sayang diriku tak paham hukum. paling gape cuma menggugel aja ngumpulin referensi :Dps: bagus nih bahasan paten yg ini…

  11. martoart says:

    embunpagi2023 said: gimana

    sumbang saran;1. semikan lagi sikap gotong-royong 2. pupuk lagi semangat kebersamaan3, benihkan lagi jiwa sosialisme4. bangkitkan lagi falsafah berdkari5. tanamkan lagi kerja keras6. bangun lagi kehidupan sederhana (tidak konsumtif, tidak kemaruk)7. hargai dan hormati kebhinekaan8. pokoknya pramukalah.. he he.., yg pada dasar digali dari spirit moyang bangsabisa? mau?

  12. embunpagi2023 said: gimana cara merubahnya ya Mas ?

    Caranya, mbak Embun?Itu poin-poin penyebab yang saya sampaikan di atas kalo diuraikan bisa di dapatkan jawabannya bagaimana caranya keluar dari situasi spt ini, dengan catatan kalo kita “terpaksa” beradaptasi dengan Undang-Undang Paten Internasional yang telah diatur oleh WIPO. Tentu saja, beda caranya dan sikap yg diambil kalo Indonesia dan negara-negara lain secara serempak menolak sistem kapitalis tsb, seperti gerakan anti ACTA.

  13. fightforfreedom said: Apakah negeri yang ditakdirkan sebagai negeri kaya akan sumber daya ini, namun rakyatnya lebih memilih untuk menjadi bangsa konsumen?

    gimana cara merubahnya ya Mas ?

  14. enkoos said: Di Amerika, sekolah dari tingkat TK sekalipun, para murid sudah dirangsang untuk mengadakan penelitian, sekecil apapun itu. Apapun hasilnya, sekecil apapun itu selalu mendapat apresiasi.

    Keren banget ya… spt-nya beda dg di sini yg masih banyak materi yg bersifat “harus dihafal” kalo pengen dapat nilai bagus, masih sedikit materi ttg analisa yg mengasah kemampuan berpikirnya.

  15. martoart said: kenapa kita tak melatih diri melawan ratifikasi paten 1997? kenapa kita menguja (apa ya bhs Indonesianya? mengajangi) sikap kemaruk mereka. kaum modal itu?kalau mereka terus memperketat hak keserakahan dengan aturan yg seolah bermoral, kenapa kita tak membalasnya membuat aturan pembajakan yg menghadang keserakahan mereka?

    *2nd comment for this quote:Sebelum nulis jurnal ini, saya ada banyak pertentangan batin lho…, kalo dibaca ulang jurnal ini seakan – akan mengajak kita untuk beradaptasi dg sistem kapitalis yg telah membelenggu tsb. Yang mana ketika adaptasi itu terus dilakukan, pada kenyataannya kita akan tetap berada dalam kurungan tikus yg membuatnya tetap berlari di tempat.Melihat sejarah perang paten (patent war), sepertinya negeri ini akan sulit menandingi negara2 maju yg telah dikendalikan oleh para pemodal raksasa. Apapun mereka akan lakukan untuk melanggengkan kekayaannya, dg cara atau aturan yg memang seolah-olah bermoral.Apakah sampeyan ada masukan agar kita bisa keluar dari sistem ini, dimana sudah diratifikasi oleh 165 negara?Satu-satunya harapanku ya berhasilnya gerakan menentang ACTA itu yg akan membuka pintu ke arah sana. Gerakan yg bersifat serentak di seluruh dunia, meski perjuangan ACTA masih belum menyentuh dihapusnya sistem patent ini.

  16. martoart says:

    tintin1868 said: kaya baca koran.

    ini blog emang keren. update bareng2

  17. tintin1868 says:

    baca obrolan dimari kaya baca koran.. nambah ilmu deh..

  18. martoart says:

    “Tidak ada yang benar benar baru di bawah matahari” bukan kalimat saya, saya mengambilnya dari W S Rendra, Kalimat Rendra inipun juga bukan benar2 baru.:) Sekadar meluruskan.

  19. enkoos says:

    fightforfreedom said: 5) Beda orientasi dalam riset dan pengembangan penelitian.Dalam dunia pendidikan, riset dan pengembangan di dalam negeri lebih berorientasi untuk mengejar kredit poin guna kenaikan pangkat, golongan atau jabatan; sedangkan di luar negeri sudah berbasis komersial. Ibaratnya: riset dan pengembangan di negeri kita mengejar poin, sedangkan di luar negeri mengejar koin.

    Di Amerika, sekolah dari tingkat TK sekalipun, para murid sudah dirangsang untuk mengadakan penelitian, sekecil apapun itu. Apapun hasilnya, sekecil apapun itu selalu mendapat apresiasi.

  20. enkoos says:

    Menurutku, paten itu gak beda dengan monopoli. Ujung ujungnya duit, kapitalis. Kalau semua semua dipatenkan, sampe budaya dan geografis segala dipatenkan, terlalu serakah.

  21. sepunten said: Baru kebuka dg baca ini, kemarin sempet mau patenin ide, baru tanya2 sama MPers yg di US, kok ga sama sama sistem ini ya… hmm bidang paten ini emang kurang sosialisasi, atau emang terlalu spesifik ranah konsultan paten?soal lain, beberapa kali case yg pernah terdengar, ttg paten crafting tradisional (aksesoris dll) sering kecolongan, modusnya orang luar pesan handycraft, setelah itu di patenin diluar, sementra pengrajin yg menciptakan, kelak, tiba2 dapet komplain (patent), padahal itu sudah lama ia ciptakan & produksi…

    Seperti yg kusampaikan pada kemungkinan penyebab poin no.4, memang bisa jadi karena kurang sosialisasi. Indonesia menjadi anggota WIPO, maka sistem paten-nya ya mengikuti aturan WIPO spt dlm diagram di atas (pada komen untuk mas Hendra). Mengenai aturan dalam WIPO, sampeyan bisa baca-baca guideline-nya yg aku link-an di atas.Soal kecolongan hak paten, memang benar, mas Heri, modus operandi spt itu sering dipakai. Kalo sudah kejadian, pemerintah harus berani untuk membantu menggugat paten tsb.

  22. sepunten says:

    Baru kebuka dg baca ini, kemarin sempet mau patenin ide, baru tanya2 sama MPers yg di US, kok ga sama sama sistem ini ya… hmm bidang paten ini emang kurang sosialisasi, atau emang terlalu spesifik ranah konsultan paten?soal lain, beberapa kali case yg pernah terdengar, ttg paten crafting tradisional (aksesoris dll) sering kecolongan, modusnya orang luar pesan handycraft, setelah itu di patenin diluar, sementra pengrajin yg menciptakan, kelak, tiba2 dapet komplain (patent), padahal itu sudah lama ia ciptakan & produksi…

  23. martoart said: kenapa kita tak melatih diri melawan ratifikasi paten 1997? kenapa kita menguja (apa ya bhs Indonesianya? mengajangi) sikap kemaruk mereka. kaum modal itu?kalau mereka terus memperketat hak keserakahan dengan aturan yg seolah bermoral, kenapa kita tak membalasnya membuat aturan pembajakan yg menghadang keserakahan mereka?

    Perlawanan secara kolektif saya rasa adalah hal yg sangat tepat, seperti yg dilakukan Accessnow yg mengkoordinasikan perlawanan menentang ACTA di seluruh dunia.Kalo melawan sendiri-sendiri dalam lingkup regional akan terasa sedikit dampaknya, mengingat sistem yg akan dilawan adalah bersifat mengikat secara internasional.Semoga perlawanan ACTA membuka jalan menuju perubahan atau dibuangnya sistem kapitalis ini.OOT bentar…Gilaa… Operation ACTA Protest yg dilakukan serempak kemaren (11-12 February) di hampir seluruh negeri Eropa, benar-benar rusuh dan mencekam, sampai ada gedung milik pemerintah Yunani yang dibakar. Bahkan ada anggota Anonymous yg ditembak mati Athens: Huge demonstrations, riots and buildings on fire in the city’s centerArea yg dibakar sepanjang jalan raya di Athens, Yunani.Situasi tambah mencekam ketika polisi memberikan tindakan represif.

  24. martoart said: bukankah sejarah kaum tertindas sebenarnya mengamini semangat robin hood, si pitung, aladin, dan para bandit sosial lainnya? kenapa kita tak coba pelajari lagi perampokan mereka?coba tebak, siapa yg menyalahkan mereka dalam sejarah.

    Yang menyalahkan mereka dalam sejarah adalah para pemilik modal yang membiayai pembuatan film dokumenter tentang mereka, para pemilik modal besar itu yg mengendalikan penguasa negeri, dan sejarah adalah milik para penguasa.*tebakan ini pake taruhan duren, gak?

  25. wayanlessy said: Saya jg kepikir kasus yg sama mas Iwan, sayangnya saya sdg ga bs googling dan lupa detailnya. Terbantu banget dgn penjelasan mas Iwan. Terima kasih banyak.

    Sama-sama, mbak Lessy. Memang kasus Samsung vs Apple ini masih menjadi sorotan media massa sampai saat ini.Penjelasan paling enak disimak, disajikan dalam bentuk grafis spt dalam situs ini:Apple vs. Samsung: The Patent Wars, Explained [INFOGRAPHIC]

  26. Kalau kayak begini terus ya terpaksa deh hijrah ke LN

  27. nanabiroe said: Wah sayang sekali yaaa banyak sudah hasil seni, karya, produk, dan kerajinan kita yang dipatenkan negara lain. Jadi ini sebenarnya salah siapa mas?

    Sayang sekali memang. Dan kalo ditanya ini salah siapa, ya seperti yg saya uraikan kemungkinan penyebabnya dari poin 1 – 7 di atas. Perlu diurai satu-persatu.

  28. ohtrie said: Gak usah sebutkan knamanya, Panjenengan sudah bisa lirik khann..? :)Bahwa kecerdasan anak neegeri ini tak bisa diragukan lagi. mampu bersaing….http://www.a-star.edu.sg/Media/PhotoandVideoGallery/MediaView/tabid/922/SelectedModuleid/1760/SelectedTab/400/RefTab/400/ItemID/376/AlbumID/11/Default.aspx

    Sebagai warga negara Indonesia, saya bangga dg beliau, suaminya kawan kita, masak gak boleh disebutkan namanya 🙂 Paling tidak beliau mampu mengangkat martabat negeri ini di mata dunia. Mantan teman kuliah saya juga ada yg sampai saat ini masih berada di Swedia sbg peneliti. Keberadaaan mereka di luar negeri bukan berarti tidak cinta Indonesia, tapi justru mereka sbg duta Indonesia, sbg indikator bhw SDM dari negeri ini layak diperhitungkan.Dari komen panjenengan ini, saya langsung teringat dg sosok Dr. Khoirul Anwar, beliau peneliti Indonesia yg meraih sukses di negeri Jepang. Beliau berhasil mendapatkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) tahun 2010, di Taiwan. Dan sekarang hasil penelitiannya itu dipatenkan untuk digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology juga tertarik untuk menggunakannya.Saat ini beliau sbg dosen sekaligus peneliti yg bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology. Woww… SDM dari negeri ini malah menjadi pengajar di negeri maju sekelas Jepang.Pertanyaannya, kenapa negeri ini tidak bisa memantain aset spt beliau ini?

  29. nanabiroe says:

    Wah sayang sekali yaaa banyak sudah hasil seni, karya, produk, dan kerajinan kita yang dipatenkan negara lain. Jadi ini sebenarnya salah siapa mas?

  30. ohtrie says:

    fightforfreedom said: Di Inggris ada peneliti kita yang menjadi dosen peneliti teladan tingkat universitas, ada peneliti Indonesia yang menjadi peneliti muda terbaik di Asia Pasifik, dan banyak ilmuwan kita diluar negeri yang memperoleh penghargaan atas dedikasinya.

    Hal serupa yang kita miliki tak lain dan tak bukan adalah suami yang sempat memberikan komentar di lapak inijuga kok Cakk…Gak usah sebutkan knamanya, Panjenengan sudah bisa lirik khann..? 🙂 Bahwa kecerdasan anak neegeri ini tak bisa diragukan lagi. mampu bersaing….http://www.a-star.edu.sg/Media/PhotoandVideoGallery/MediaView/tabid/922/SelectedModuleid/1760/SelectedTab/400/RefTab/400/ItemID/376/AlbumID/11/Default.aspx

  31. martoart says:

    kenapa kita tak melatih diri melawan ratifikasi paten 1997? kenapa kita menguja (apa ya bhs Indonesianya? mengajangi) sikap kemaruk mereka. kaum modal itu? kalau mereka terus memperketat hak keserakahan dengan aturan yg seolah bermoral, kenapa kita tak membalasnya membuat aturan pembajakan yg menghadang keserakahan mereka? bukankah sejarah kaum tertindas sebenarnya mengamini semangat robin hood, si pitung, aladin, dan para bandit sosial lainnya? kenapa kita tak coba pelajari lagi perampokan mereka?coba tebak, siapa yg menyalahkan mereka dalam sejarah.

  32. anotherorion said: peraturan dikti nomor 152/E/T/2012 mulai agustus 2012 semua mahasiswa harus bikin karya tulis ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah, moga iki iso dadi dalan dunia penelitian indonesia lebih baik neh mas

    Setelah saya baca Surat Edaran tsb di sini:dikti.go.id: Surat Publikasi Karya Ilmiah… ada kalimat pembuka yg membuatku terusik:”Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh.”Lha kenapa harus ada kalimat “dibandingkan dengan Malaysia?”Alangkah lebih baik kalo si konseptor surat itu belajar lebih baik lagi bagaimana membuat surat yg mempertimbangkan nilai rasa dalam berbahasa plus belajar memahami betapa bangsa kita ini begitu sensitif dengan kata ‘Malaysia’. Sehingga niatan baik itu tidak disikapi dg antipati.Okey, SE ini merupakan langkah yg baik, semoga juga telah disiapkan dg kualitas SDM pengawas & infrastruktur untuk mengawasi penerbitan jurnal oleh semua mahasiswa. Bila kedua hal itu tidak siap, maka akan sama saja: akan muncul peluang bisnis baru dan menjamurnya plagiarism.

  33. firstychrysant said: ilmuan indonesia yang sekolah dan jadi peneliti di Jepang banyak yang matenin penemuannya atas nama Jepang?

    Ya.. kalo peneliti Indonesia tsb bergabung dalam sebuah tim yg mengembangkan produk, dan kemudian perusahaan tempat peneliti tsb bernaung mematenkan produk tsb, maka paten tsb atas nama prusahaan tsb. Sudah banyak contohnya.

  34. firstychrysant said: Ini bisa dituntut balik ga Pak… Punya kita kok diaku2 orang lain….:(Bahkan katanya warung kopi elit yang waralaba dari luarpun asal kopinya dan cara bikinnya juga dari Indonesia…

    Bisa digugat, spt penjelasan saya ke mas Edwin, terkait dg kasus Samsung vs Apple.Selama kita sendiri tidak mematenkan pengolahan kopi tsb ya posisi kita secara hukum yg berlaku internasional akan lemah. Sedangkan mengenai merk dagang, mereka tidak boleh semena-mena mencaplok soal geografis.Harus dibedakan antara “paten”, “hak cipta”, dan “merk dagang”.

  35. ohtrie said: Intinya secara pribadi saya tak setuju dengan produk kapitalis bernama hak paten itu, akan tetapi bagaimana ceritanya kalo produk leluhur kita dipatenkan oleh orang lain..? Tentu selain usaha merawat yang harus kita subyeki, hak paten negeri lain pun tak bisa di diamkan begitu saja taa…?

    Secara pribadi saya juga tidak setuju dengan produk sistem kapitalis itu, mas Trie.Seperti yg kusampaikan ke mas Edwin, bhw masalahnya kita ini sudah berada dalam sebuah sistem kapitalis itu, dimana Indonesia juga ikut meratifikasi sistem paten internasional tersebut (melalui Keppres di th 1997), shg mau tidak mau kita harus mematuhi sistem tsb.Bila penolakan terhadap ACTA dimenangkan oleh kekuatan rakyat, semoga ini juga berdampak thp peninjauan kembali tentang sistem hak paten ini. Dulu seingatku ada gerakan “Against Intellectual Property” atau “Anti IP”, namun sepertinya kurang greget dibandingkan aksi penentangan ACTA sekarang ini.

  36. ohtrie said: Lagsung ngliat tabel 2010Oh maigooootttttt..Endonesya jauh banget kalo musti dibandingkan Singapura yang luasnya tak lebih dari daratan Jogjakartaa…?

    Edyaaan poll ya.. masih bisa dihitung dg jari.Padahal secara kuantitas kita menang jauh, secara kualitas peneliti kita juga gak kalah, apalagi di-dukung dg sumber daya alam yg melimpah ruah.

  37. rawins said: pemerintah yang seharusnya aktip ketoknya omrakyat gimana mau sempat mikirin patenkalo buat cari makan saja sudah menghabiskan seluruh energinya..

    Betul, lha seharusnya dalam urusan mematenkan produk karya anak bangsa ini pemerintah mau membantu, bila perlu digratiskan pendaftarannya (maksudnya biaya ditanggung pemerintah), dg demikian ada alokasi anggaran untuk melindungi stabilitas perekonomian dalam negeri.Anggap saja mematenkan produk ke lembaga paten internasional (WIPO) adalah sebuah prestasi, untuk itu perlu diberi hadiah (berupa fasilitas menanggung biaya pendaftaran dan mempermudah urusan birokrasi).Untuk mematenkan desain furniture biayanya Rp 5 Juta. Cukup berat bagi usaha sekelas UKM.

  38. ramarizana said: oh ya,kalau kayak tanaman itu,stau saya,-berdasarkan pengalaman ikut acara di kampus tentang HKI dengan pembicara orang HKI pusat-,tidak bisa dipatenkan. Itu memang tanaman asli. yang bisa dipatenkan itu hasil olahannya.

    Betul, tanaman asli memang tidak bisa dipatenkan. Yang sering menjadi perebutan adalah merek dagang. Pemerintah harus menjaga dan memperjuangkan agar nama hasil tanaman asli Indonesia (misal Kopi Gayo, Kopi Toraja) tidak dijadikan merek dagang oleh pihak asing dengan mendaftarkan indikasi geografis kedua komoditas itu.Oiya, dalam jurnal ini barusan saya tambahkan lampiran: “Klasifikasi Paten Internasional”

  39. wayanlessy says:

    fightforfreedom said: Bisa menempuh cara yg dilakukan Samsung terhadap Apple yaitu dengan cara menggugatnya, ini dilakukan ketika Apple mengajukan klaim paten yg menyangkut teknologi telekomunikasi standar WCDMA untuk handset 3G. Dan akhirnya Samsung memenangkan gugatan tsb di pengadilan Jerman, sehingga klaim paten oleh Apple berhasil dibatalkan. Namun, kemudian Apple balas menggugat Samsung di pengadilan Australia, untuk kasus klaim paten fitur yg lain, yg akhirnya dimenangkan oleh Apple. Intinya ada Hak untuk Menggugat. Yang jelas dokumen-dokumen sebagai pendukung traceability harus lengkap dan bisa dihadirkan di persidangan international.Di negeri ini, juga mengatur ttg Hak Menggugat:“Jika suatu paten diberikan kepada orang lain selain daripada orang yang berhak atas paten tersebut, maka orang yang berhak atas paten tersebut dapat menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar paten tersebut berikut hak-hak yang melekat pada paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk sebagian ataupun untuk dimiliki bersama.”

    Saya jg kepikir kasus yg sama mas Iwan, sayangnya saya sdg ga bs googling dan lupa detailnya. Terbantu banget dgn penjelasan mas Iwan. Terima kasih banyak.

  40. wayanlessy says:

    edwinlives4ever said: I believe that all cultures belong to the whole world. But then, back to my question, is there any way to nullify the patent that tries to claim a cultural product, such as traditional designs?

    Cultures belong to the world and the people as the practitioner are moving and colliding. Thus, imho, It is then a very sensitive task to burden this cultural stuffs by the national souvereignity line. Therefore, it is easier to define the way to nullify PATENTS and TRADEMARKS than the other intelectual property right so called COPYRIGHT.I think, terminology wise, we shan’t ignore that there are patent, copyright and trademark. They’ve different kind of processes and procedures to get these rights, there after means also different ways to re examine (i.e. nullify)*so far I wrote here spontaneously via my cellphone, sorry for any typos and lack of refferences.

  41. zenstrive said: Pemerintahan calo, dipilih orang2 yang dibayar calo, dan dikukuhkan oleh baron-baron calo, jadilah calo…

    Berarti negeri ini sudah menjelma menjadi sebuah negeri calo, dimana di dalamnya disibukkan berbagai transaksi, negosiasi, demi kepentingan (baik diri, kelompok dan partai).

  42. anotherorion says:

    fightforfreedom said: Dalam dunia pendidikan, riset dan pengembangan di dalam negeri lebih berorientasi untuk mengejar kredit poin guna kenaikan pangkat, golongan atau jabatan

    peraturan dikti nomor 152/E/T/2012 mulai agustus 2012 semua mahasiswa harus bikin karya tulis ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah, moga iki iso dadi dalan dunia penelitian indonesia lebih baik neh mashttp://anotherorion.multiply.com/journal/item/561

  43. hwwibntato said: ini menunjukkan bahwa WIPO itu tidak berdiri di atas akal yang sehat …

    Namanya sebuah sistem, tentu tidak ada yg sempurna. Namun demikian kita bisa menggugatnya kok bila pihak asing melakukan klaim atas karya kita, meski prosesnya tidak gampang.

  44. edwinlives4ever said: So what should be done about the cases like that Bali traditional motives patented by an American company? Is there any way to nullify the patent?

    Bisa menempuh cara yg dilakukan Samsung terhadap Apple yaitu dengan cara menggugatnya, ini dilakukan ketika Apple mengajukan klaim paten yg menyangkut teknologi telekomunikasi standar WCDMA untuk handset 3G. Dan akhirnya Samsung memenangkan gugatan tsb di pengadilan Jerman, sehingga klaim paten oleh Apple berhasil dibatalkan. Namun, kemudian Apple balas menggugat Samsung di pengadilan Australia, untuk kasus klaim paten fitur yg lain, yg akhirnya dimenangkan oleh Apple. Intinya ada Hak untuk Menggugat. Yang jelas dokumen-dokumen sebagai pendukung traceability harus lengkap dan bisa dihadirkan di persidangan international.Di negeri ini, juga mengatur ttg Hak Menggugat:“Jika suatu paten diberikan kepada orang lain selain daripada orang yang berhak atas paten tersebut, maka orang yang berhak atas paten tersebut dapat menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar paten tersebut berikut hak-hak yang melekat pada paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk sebagian ataupun untuk dimiliki bersama.”

  45. ohtrie said: Dan ku jadi teringat ebebrapa tahun lalu,ketika ada anak ngeri ini mengadakan riuset tentang dedaunan yang mampu dijadikan obat, mengajukan enelitiannya ke birokrasi negeri ini tak ada respon. Maka larilah ke negeri tetangga dan kebetulan kuliah disana, apa yang terjadi…?Penelitian sukses, namun yang teramat disayangkan hak paten menjadi milik negeri tetangga tersebut, karena memang support terbesarnya adalah dari sono…hemm….edyannn…

    ilmuan indonesia yang sekolah dan jadi peneliti di Jepang banyak yang matenin penemuannya atas nama Jepang?

  46. fightforfreedom said: Detik: Kerajinan Bali dipatenkan pihak asing, orang yang menciptakan malah dipidana- Republika: Motif Kerajinan Perak Bali dipatenkan orang asing- Republika: 600 kerajinan asli Bali mau dipatenkan oleh negara asing- MP mbak Evia: Gayo punya kopinya, Belanda punya patennya- JPNN: Produk Perajin Mebel Jepara ditolak Masuk Tiongkok- Kompas: Temulawak dipatenkan Asing

    Ini bisa dituntut balik ga Pak… Punya kita kok diaku2 orang lain….:(Bahkan katanya warung kopi elit yang waralaba dari luarpun asal kopinya dan cara bikinnya juga dari Indonesia…

  47. I believe that all cultures belong to the whole world. But then, back to my question, is there any way to nullify the patent that tries to claim a cultural product, such as traditional designs?

  48. ohtrie says:

    edwinlives4ever said: As Marto said, there is nothing new under the sun. The question is, is patenting a fair practice already? Especially in the case of traditional handicrafts?

    Berdasarkan obrolan dengan mBah Marto beberapa saat lalu juga,Bahwa budaya (termasuk didalamnya adalah handicrafts) tidak dapat dicuri pun dipatenkan, karena pola pikirnya harus kita kembalikan pada ‘kebersamaan‘ pun kolektifitas. Dari sini akhirnya ada satu pemikiran lagi bahwa hal yang dimiliki bersama tentu tak ada alasan bisa dimiliki oleh sesiapapun. Karenanya klausul pencurian pun pematenan menjadi batal.Sampai pada ‘kebersamaan’ ini, sejatinya secara pribadi saya tetap cenderung merapat pada “klausul pencurian pun pematenan yang batal” akibat dari “budaya yang tidak dapat dicuri pun dipatenkan” itu. Pasalnya, justru kita di untungkan atas publisitas yang ada. Kembali lagi sebagaimana yang di kutip Ca Iwan di journal point ke tujuh diatas, adalah faktor pengaruh yang sangat besar dan tak tertandingi itu bisa saja terjadi berkat kesuksesan promosi kebudayaan yang hal ini bisa dikategorikan sebagai wujud total diplomacy. Bukankah dalam menerapkan bagian dari total diplomacy para penjajah dulu juga menebar budaya baratnya demi menguasai daerah yang dijajahnya..? Bukankah dalam menerapkan total diplomacy para penebar agama dulu juga menyebarkan budaya asalnya kepada target kandidat umatnya..?Hanya saja ada yang harus disayangkan dalam wacana ini, yaitu PENGHILANGAN KEBERSAMAAN yang diganti dengan mengedepankan kepentingan. Ingat..! Meskipun tetap mengenakan kebersamaan, namun kalau sudah menempatkan orientasi lebih tinggi pada kepentingan tentu akan ada kelompok pun personal lain yang dirugikan. Dan wajib dipahami, di posisi inilah KAPITALISME itu bertengger. Kepentingan diutamakan dibanding kebersamaan, pasalnya ada nilai profit “marketable” yang bisa dimanfaatkan dari sana. Sebagai contoh nyata adalah “diperjualbelikan”. Disinilah HAK PATEN yang tak lain dan tak bukan adalah produk KAPITALIS itu berpangkal.Intinya secara pribadi saya tak setuju dengan produk kapitalis bernama hak paten itu, akan tetapi bagaimana ceritanya kalo produk leluhur kita dipatenkan oleh orang lain..? Tentu selain usaha merawat yang harus kita subyeki, hak paten negeri lain pun tak bisa di diamkan begitu saja taa…?Read more: http://ikanmasteri.com/archives/3967 (teteuppp, ider link ) 😛

  49. ohtrie says:

    fightforfreedom said: inovasi dan riset di dalam negeri yang berorientasi komersial sangat kurang

    Dan ku jadi teringat ebebrapa tahun lalu,ketika ada anak ngeri ini mengadakan riuset tentang dedaunan yang mampu dijadikan obat, mengajukan enelitiannya ke birokrasi negeri ini tak ada respon. Maka larilah ke negeri tetangga dan kebetulan kuliah disana, apa yang terjadi…?Penelitian sukses, namun yang teramat disayangkan hak paten menjadi milik negeri tetangga tersebut, karena memang support terbesarnya adalah dari sono…hemm….edyannn…

  50. ohtrie says:

    Lagsung ngliat tabel 2010 Oh maigooootttttt..Endonesya jauh banget kalo musti dibandingkan Singapura yang luasnya tak lebih dari daratan Jogjakartaa…?

  51. anotherorion says:

    pejabat negara sibuk mematenkan kursi jabatan mereka sik mas, mosok ora ngerti

  52. rawins says:

    pemerintah yang seharusnya aktip ketoknya omrakyat gimana mau sempat mikirin patenkalo buat cari makan saja sudah menghabiskan seluruh energinya..

  53. ramarizana says:

    oh ya,kalau kayak tanaman itu,stau saya,-berdasarkan pengalaman ikut acara di kampus tentang HKI dengan pembicara orang HKI pusat-,tidak bisa dipatenkan. Itu memang tanaman asli. yang bisa dipatenkan itu hasil olahannya.CMIIW

  54. zenstrive says:

    Pemerintahan calo, dipilih orang2 yang dibayar calo, dan dikukuhkan oleh baron-baron calo, jadilah calo…

  55. hwwibntato says:

    fightforfreedom said: Perhatikan dalam diagram, tidak ada prosedur untuk memverifikasi ke tempat asal produk tsb secara offsite (turun ke lapangan), misalnya menuju tempat asal pembuatan mebel di Jepara (Jawa Tengah), ketika ada pengusaha asal Tiongkok dan Perancis yg mematenkan produk mebel tsb dg dokumen yg lengkap.

    ini menunjukkan bahwa WIPO itu tidak berdiri di atas akal yang sehat …

  56. hwwibntato said: yang saya herankan, kenapa negara-negara yang mengeluarkan izin paten itu tidak menyelidiki dulu ketika suatu karya didaftarkan, ya …sungguh aneh jika si A mendaftarkan hak paten atas suatu karya tertentu (misalnya kerajinan yg sudah dikenal dalam budaya bangsa tertentu), lantas negara-negara tersebut memberikan hak paten begitu saja tanpa menyelidiki dulu …

    Idealnya memang seperti itu, mas Hendra, namun dalam prakteknya sepertinya mereka (Tim WIPO) menemui kesulitan, mengingat dalam setahun ada ratusan ribu permohonan paten, seperti yg ditunjukkan dalam tabel di atas. Jadi, dalam verifikasi mereka lebih mengutamakan dokumen-dokumen yg telah dipatenkan. Kalo sebelumnya tidak ada yg mematenkan ya akhirnya permohonan itu diluluskan.Dalam situasi spt ini tergantung kelincahan (gerak cepat) pemerintah kita saja dalam mengusahakan para pengusaha pribumi kita untuk mematenkan produknya secara internasional.Prosedur paten yg saya ambil dari official site WIPO bisa dilihat pada diagram di bawah ini:Perhatikan dalam diagram, tidak ada prosedur untuk memverifikasi ke tempat asal produk tsb secara offsite (turun ke lapangan), misalnya menuju tempat asal pembuatan mebel di Jepara (Jawa Tengah), ketika ada pengusaha asal Tiongkok dan Perancis yg mematenkan produk mebel tsb dg dokumen yg lengkap.

  57. fightforfreedom said: Traditional handicraft sebaiknya diakui sbg public domain (milik publik), sama halnya dg pembuatan tempe, batik, dll. Dan bila sebuah teknik atau temuan itu diakui sbg public domain maka orang lain tidak dapat memantenkan hal-hal yg sudah merupakan bagian dari tradisi (kemampuan) bangsa Indonesia itu

    So what should be done about the cases like that Bali traditional motives patented by an American company? Is there any way to nullify the patent?

  58. edwinlives4ever said: As Marto said, there is nothing new under the sun. The question is, is patenting a fair practice already? Especially in the case of traditional handicrafts?

    Sayapun sependapat bahwa “there is nothing new under the sun”, mas Edwin.Namun masalahnya kita ini berada dalam sebuah sistem internasional, dimana Indonesia juga ikut meratifikasi sistem paten tersebut (di th 1997), shg mau tidak mau kita harus mematuhinya.is patenting a fair practice already? Especially in the case of traditional handicrafts?Traditional handicraft sebaiknya diakui sbg public domain (milik publik), sama halnya dg pembuatan tempe, batik, dll. Dan bila sebuah teknik atau temuan itu diakui sbg public domain maka orang lain tidak dapat memantenkan hal-hal yg sudah merupakan bagian dari tradisi (kemampuan) bangsa Indonesia itu. Saya rasa menjadikan sesuatu menjadi public domain akan memberikan lebih banyak manfaat bagi masyarakat. Delegasi Indonesia harus memperjuangkan soal ini dalam pertemuan WIPO.Salah satu contoh nyata yang patut dipuji:yaitu ketika Tim Berners-Lee mengembangkan HTML (standar dokumen) dan HTTP (standar protokol komputer) yg merupakan dasar atau fondasi dari World Wide Web (WWW). Dia dgn sengaja membuat karyanya menjadi public domain karena dia ingin karya ini menjadi manfaat untuk umat manusia, bukan hanya kepentingan dirinya sendiri. Dia gak mematenkan karyanya, cmiiw. Saya memimpikan… dunia ini lebih banyak diisi oleh orang – orang seperti Tim Berners-Lee ini.

  59. hwwibntato says:

    fightforfreedom said: – Detik: Kerajinan Bali dipatenkan pihak asing, orang yang menciptakan malah dipidana- Republika: Motif Kerajinan Perak Bali dipatenkan orang asing- Republika: 600 kerajinan asli Bali mau dipatenkan oleh negara asing- MP mbak Evia: Gayo punya kopinya, Belanda punya patennya- JPNN: Produk Perajin Mebel Jepara ditolak Masuk Tiongkok- Kompas: Temulawak dipatenkan Asing

    yang saya herankan, kenapa negara-negara yang mengeluarkan izin paten itu tidak menyelidiki dulu ketika suatu karya didaftarkan, ya …sungguh aneh jika si A mendaftarkan hak paten atas suatu karya tertentu (misalnya kerajinan yg sudah dikenal dalam budaya bangsa tertentu), lantas negara-negara tersebut memberikan hak paten begitu saja tanpa menyelidiki dulu … misalnya ada pengusaha asli afrika yang mendaftarkan hak paten kimono, masa diberikan begitu saja hak patennya tanpa penyelidikan …

  60. As Marto said, there is nothing new under the sun. The question is, is patenting a fair practice already? Especially in the case of traditional handicrafts?

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: