Home » Indonesia Crisis » Menyaksikan Budaya Korupsi Mulai Dari Lingkungan Keluarga

Menyaksikan Budaya Korupsi Mulai Dari Lingkungan Keluarga

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Dear Sahabat MP-ers,

Apakah Anda masih ingat dengan organisasi Transparency International (TI) yang pernah saya posting di sini ?

Alhamdulillah kalo masih ingat, berarti Anda peduli Indonesia bersih ๐Ÿ™‚

TI adalah sebuah organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik. Organisasi ini didirikan di Jerman sebagai organisasi nirlaba yang sekarang menjadi organisasi non-pemerintah yang bergerak menuju organisasi yang berstruktur demokratik. Publikasi tahunan terkenal yang diluncurkan TI adalah Laporan Korupsi Global. Di Indonesia, TI membentuk cabang organisasinya yang bernama Transparency Internasional Indonesia (TII).

Nahh…. TII ini bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, Management System International, USAID, dan Cangkir Kopi untuk memproduksi sebuah film nonkomersial yang berjudul: “Kita Versus Korupsi”. Film ini berisi omnibus empat film pendek yang menampilkan berbagai praktek korupsi yang sebetulnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yang dimulai dari keluarga. Ragam koruptor juga ditampilkan dengan cergas (cerdas dan lugas), yang menunjukkan bagaimana atau kapan saatnya virus korupsi bisa mulai menelusup ke dalam kehidupan seseorang. Empat sutradara berbakat bergabung dalam pembuatan film ini, diantaranya: Chaerun Nisa, Emil Heradi, Lasja F. Susantyo dan Ine Febriyanti.
Berhubung saya belum nonton, saya copas aja dulu resensi singkatnya dari official web TII:

Film pembuka bertajuk Rumah Perkara berhasil menampilkan sosok Lurah yang mengalami dilema saat menjalankan profesinya. Pada masa kampanye, Lurah berjanji segala macam hal pada calon pemilih bahkan sampai berani mengucap “Demi Allah”. Konflik kepentingan terjadi ketika sang donatur kampanye menginginkan sebuah lahan kosong untuk dijadikan lapangan golf. Penduduk desa pun dibujuk sedemikian rupa untuk menjual lahan tersebut. Namun, seorang janda bertahan tetap tinggal untuk mempertahankan satu-satunya rumah yang dia miliki.

Pada film Aku Padamu, menampilkan praktek korupsi yang hampir saja dilakukan pasangan muda (diperankan Revalina S.Temat dan Nicholas Saputra). Dua sejoli yang dimabuk cinta ini sebetulnya ingin mendapatkan akte nikah secara resmi dari Kantor Urusan Agama (KUA). Proses ini ternyata mengalami beberapa hambatan terkait dokumen yang tidak lengkap. Siapa sangka, petugas KUA sendiri yang mengajukan diri untuk melancarkan proses tersebut dengan tarif tertentu.

Sisi lain korupsi juga ditampilkan dalam film “Selamat Siang, Risa!”, yang tema sentralnya adalah tentang pegawai kecil yang jujur (diperankan Tora Sudiro) walaupun sedang terhimpit berbagai masalah. Ternyata, keputusan berkata tidak pada korupsi berdampak besar pada masa depan anak perempuannya.

Terakhir, praktek korupsi digambarkan melalui lensa kamera pelajar SMA. Tiga remaja secara santai bercerita bagaimana mereka mendapatkan uang jajan lebih dan barang-barang kesukaan mereka dengan cara masing-masing.

Inilah trailer film tersebut:

Efek yang diharapkan setelah menonton film ini adalah publik bisa melihat potret kedekatan dirinya dengan asal muasal korupsi dan bagaimana ia bisa menghentikan mata rantai korupsi sebelum praktik korupsi mewabah.

=== end of quote ===

Mengapa TII bersama organisai terkait begitu getol melakukan kampanye perang melawan korupsi melalui film non-komersil ini?

Menurut pengamatan saya, hal ini karena korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia, yang ditandai dengan korupsi kecil-kecilan adalah hal yang sudah biasa dan dianggap “wajar”.

Dalam press release dari TII (silakan mengunduh lampiran dalam jurnal ini), menyatakan bahwa survei TII berbentuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2010 mengungkapkan kota Cirebon dan Pekanbaru sebagai kota paling korup di Tanah Air, disusul Surabaya, Makasar, dan Jambi. *saya sebagai arek Suroboyo jelas malu dengan prestasi buruk ini

Sedangkan kota terbaik dengan IPK paling tinggi adalah Kota Denpasar, disusul Tegal, Solo, Jogjakarta dan Manokwari. Selamat buat para pemimpin daerah di 5 kota tersebut yang membawa kotanya berkinerja terbaik.

TAPIIII….

Secara keseluruhan Indonesia berada di posisi klasemen bawah bersama negara-negara yang tingkat korupsinya parah menurut survei TI sejak tahun 2005 ~ 2011. IPK Indonesia tahun 2011 adalah 3,0, sehingga berada di posisi 100. Silakan simak urutannya sebagai berikut: (peringkat, negara, IPK)

Indeks Persepsi Korupsi 2011

1. New Zealand = 9.5
2. Denmark = 9.4
2. Findland = 9.4
4. Sweden = 9.3
5. Singapore = 9.2
6. Norway = 9
7. Netherlands = 8.9
8. Australia = 8.8
8. Switzerland = 8.8
10. Canada = 8.7
…..
…..
…..
…..
…..
100 Argentina = 3
100 Benin = 3
100 Burkina Faso = 3
100 Djibouti = 3
100 Gabon = 3
100 Indonesia = 3
100 Madagascar = 3
100 Malawi = 3
100 Mexico = 3
100 Sao Tome & Principe = 3
100 Suriname = 3
100 Tanzania = 3
…..
…..
…..
182 Korea (North) = 1
182 Somalia = 1

Detailnya bisa dilihat pada: http://cpi.transparency.org/cpi2011/results/

Ternyata, memang Indonesia masih belum ada perubahan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Selamat berburu dan menonton film-nya. Semoga mendapat pencerahan darinya untuk bisa menjadi bagian dari agen perubahan yang membebaskan negeri ini dari cengkeraman budaya korupsi.

Fight !

Iwan Yuliyanto

Advertisements

125 Comments

  1. martoart says:

    fightforfreedom said: pasal 50 ayat 3 UU No 41/1999 tentang Kehutanan. Dalam pasal tersebut diatur larangan masyarakat umum untuk mengambil hasil hutan, menebang pohon, mengangkut, menguasai hingga memiliki hasil hutan.

    UU itu Melawan UUD 1945BAB XIVKESEJAHTERAAN SOSIALPasal 33Ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.Juga melawan yg lebih atas lagi PANCASILA(2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab(5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  2. martoart said: kabar hari ini, Nunun divonis 2 thn 6 bln penjara plus 150 juta denda.Menurutmu adilkah?

    Dem!!!Ambil 1 Pohon Jati, Rosidi Terancam 10 Tahun Bui Andi Saputra – detikNewsKamis, 10/05/2012 17:59 WIB Pasal yang dimaksud adalah pasal 50 ayat 3 UU No 41/1999 tentang Kehutanan. Dalam pasal tersebut diatur larangan masyarakat umum untuk mengambil hasil hutan, menebang pohon, mengangkut, menguasai hingga memiliki hasil hutan. Selain terancam hukuman 10 tahun, Rosidi juga terancam denda paling banyak Rp 5 miliar.Seperti diketahui, Rosidi mengambil sisa pohon jati yang ditebang dan dibiarkan terbengkalai di hutan pada 22 Februari 2011. Tetapi 4 bulan setelah itu dia malah dituduh mencuri, ditangkap dan ditahan di penjara.Akibat tuduhan tersebut, Rosidi meringkuk di penjara sejak tertangkap, yakni 22 Februari 2012. “Sidang perdana Rabu (9/5/2012) kemarin dengan agenda pembacaan dakwaan dan Rosidi. Rencananya kami akan mengajukan eksepsi Senin besok,” jelas Ririn.Berita lengkapnya di sini

  3. martoart said: Tumben agak sepakat aku ma dia kali ini.

    Not me. I always think that those corruptors have forfeited all their rights when they committed the crime; that includes their human rights.

  4. edwinlives4ever said: No. Here’s my idea of justice: http://politikana.com/baca/2010/12/30/eliminating-corruption.html

    Nice reading, bung. Inspiring for making them the walking dead men. Hehehe….Anyway, saya jadi penasaran bagaimana negara-negara yg masuk The Best Five Corruption Index-nya itu dlm menangani korupsi, terutama prosedur hukuman buat sang koruptor, juga metode pengelolaan birokrasi di sana. Menarik untuk diteliti.

  5. martoart said: melanggar HAM yang tidak syar’i”

    Aku jadi ingat sebuah joke:Di China koruptor hukumannya leher diPOTONG (maksudnya tembak mati)Di Negeri Arab koruptor hukumannya tangannya diPOTONG (sesuai syar’i)Nah, di Indonesia koruptor justru hukumannya yang diPOTONG.

  6. martoart said: kabar hari ini, Nunun divonis 2 thn 6 bln penjara plus 150 juta denda.Menurutmu adilkah? Koruptor itu ngembat duit negara, buron, pura2 lupa, plesir, shoping, pake duit negara, duit kita, duitmu…

    Paling gak nyampe setahun dah bebas, bung, krn kado remisi, itupun juga masih juga bisa jalan-jalan ke luar setelah mulai dilupakan namanya, krn pengelola negara fokus ke kasus2 baru. Hukuman seberat itu jelas gak adil banget, bung. Ternyata lebih berat hukuman buat maling ayam, maling kakao, maling sandal. Bedanya si maling langsung mendekam di penjara, sedangkan si koruptor mampu melawan dan masih bisa bebas (karena mampu membayar mahal si pengacara & si pengadil).Mestinya juga semua uang yg dikorupsi dibalikin semuanya 100%. Itu di luar denda, karena denda memang lebih pantas dikenakan sbg biaya operasional upaya penangkapan sang buron.

  7. mutitem said: IPK India brapa, Wan?

    IPK India = 3.1, Rank 95IPK Indonesia = 3.0, Rank 100Beda tipis lah ๐Ÿ™‚

  8. martoart says:

    edwinlives4ever said: No. Here’s my idea of justice: http://politikana.com/baca/2010/12/30/eliminating-corruption.html

    Ada yg aneh dengan komen Krisnov; “Sorry gw rating jelek karena hukuman seperti itu melanggar HAM yang tidak syar’i”. Bercandakah? Tumben agak sepakat aku ma dia kali ini.

  9. martoart said: Menurutmu adilkah?

    No. Here’s my idea of justice: http://politikana.com/baca/2010/12/30/eliminating-corruption.html

  10. martoart says:

    kabar hari ini, Nunun divonis 2 thn 6 bln penjara plus 150 juta denda.Menurutmu adilkah? Koruptor itu ngembat duit negara, buron, pura2 lupa, plesir, shoping, pake duit negara, duit kita, duitmu…

  11. kopiradix says:

    biangla2hati said: tersindir… kadang saya korupsi waktu:(

    sama, saya juga, harus segera memperbaiki diri rupanya

  12. belajartilldie said: Melihat, mengetahui dan membiarkan terjadinya kecurangan (termasuk korupsi) saja sudah bisa dianggap terlibat kan…

    dengan diam itulah selemah-lemahnya iman.Di luar soal korupsi waktu, misalnya suap-menyuap, coba laporin ke sini: http://laporsuap.com/ **ini dapat link dari mbak Onit.

  13. enkoos said: Kalau kita belanja, dan total belanjaan nilainya Rp175.273 rupiah, misalnya. Lantas kita membayar Rp200.000. Harusnya kita mendapat kembalian Rp24.727 bukan? Oleh kasir kita diberi kembalian Rp24.500 plus dua buah permen.Berapa harga permen sebiji? Katakanlah Rp100.

    http://www.metrotvnews.com: Awas Ganti Kembalian Uang Receh dengan Permen Bisa DipidanaIa mengatakan pelanggaran ini berdasarkan Undang-Undang Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa semua transaksi yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia harus menggunakan rupiah, sekecil apa pun transaksinya.Selain itu, berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pedagang diancam hukuman maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp5 miliar.Dapat link dari Juriglagu, info selanjutnya bisa disimak pada link tsb.

  14. fightforfreedom said: Maksudnya deket gimana, mbak Nuning? boleh sharing pengalamannya dong :)Oiya, silakan di-share, demi kemaslahatan umat ๐Ÿ™‚

    pegawai negeri mas, di kota yang paling mantep pula, Pekanbaru (instansi provinsi, tetapi berlokasi di Pekanbaru). (;korupsi waktu seriiing… #maluMelihat, mengetahui dan membiarkan terjadinya kecurangan (termasuk korupsi) saja sudah bisa dianggap terlibat kan…

  15. fightforfreedom said: Just info :Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dari tahun ke tahun:2011 = 3.02010 = 2.82009 = 2.82008 = 2.62007 = 2.32006 = 2.42005 = 2.22004 = 2.02003 = 1.92002 = 1.9

    Ini nih, kalo orang pemerintah dan partai pemerintah liat ini, langsung bilang dengan bangga sudah menaikkan IPK Indonesia…:)

  16. biangla2hati said: tersindir… kadang saya korupsi waktu:(

    Iya, ini sama juga dengan menanamkan mental untuk menggampangkan korupsi. Yang kelihatannya kecil-kecilan. Sungguh perjuangan yg gak mudah melawan mental yg demikian itu.

  17. onit said: mas, tau laporsuap.com gak?

    Ide bikin laporsuap.com menarik juga nih, namun demikian apakah laporan – laporan / sharing yg masuk di sana ditindaklanjuti? Semoga saja demikian, ada program tindaklanjutnya. Saat ini situsnya masih versi beta.

  18. subhanallahu said: saya ikut mantengin ya Pak, woro-woro klo udah ada full version yang bisa didownload yak ๐Ÿ˜€

    Mestinya, TI bikin info / jadwal roadshow di official web-nya, biar masyarakat bisa datang ke seminarnya yg terdekat.

  19. kopiradix said: sedikit sharing mas, ada hubungannya juga dgn tulisan yang ini

    Terimakasih, mas Nahar, sentilannya mengena, terutama pada bagian ini:”Maraknya korupsi yang terjadi di Indonesia bukan lagi disebut membudaya, tapi sudah menjadi suatu seni berkorupsi. Seorang koruptor tidak hanya sekedar meraup uang negara karena hal tersebut sudah sangat mudah dilakukan. Kini, tinggal bagaimana mengemas hasil korupsi tersebut agar lebih terlihat indah sehingga KPK pun susah membedakan antara haram dan halal. Bahkan seorang profesor ekonomi terkenal menyebutkan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari life style.”Oiya… melihat nama penulisnya: Yons Achmad, saya jadi teringat kalo beliau juga nge-blog di Multiply: penamuda.multiply.comNamun sepertinya, mas Yons ini sudah jarang ngeMPi lagi.

  20. sarahzb said: Iya Mas Iwan, si anak cerdas kakak beradik itu ya?

    Betul, mbak Sarah. Ortunya telah memberikan contoh / teladan yg baik bahwa untuk memulai sesuatu harus dg hal yg baik, agar menjadi berkah.

  21. enkoos says:

    onit said: baru tau mbak, kalo sistem sistem kembalian pakai permen itu inisiatif pegawai kasirnya. kirain selama ini resmi dari supermarketnya, mbak? soalnya kalo resmi dari supermarketnya kan permen2 itu udah diperhitungkan, hasil nilepnya juga buat supermarket, bukan buat kasir? sehingga bukan korupsi tapi emang taktik nyari keuntungan?

    Saya gak tau itu inisiatif kasirnya atau supermarketnya, kan saya udah tulis di komen saya “entah yang ngenthit kasirnya atau supermarketnya”Nyari keuntungan dengan cara begini? Curang itu namanya. Korupsi haknya pembeli.

  22. biangla2hati says:

    tersindir… kadang saya korupsi waktu:(

  23. onit says:

    enkoos said: Berapa harga permen sebiji? Katakanlah Rp100. Kasirnya masih ngutang Rp27 kan?Lagipula kasirnya enggak beli permen eceran tetapi pak pak’an yang tentunya harganya lebih murah. Dari satu pelanggan ngenthit Rp27. Entah yang ngenthit kasirnya atau supermarketnya. Sehari ada berapa ratus atau malah berapa ribu pelanggan? Sebulan sudah berapa?Nilainya memang kecil, tapi dari yang kecil ini terbentuk sifat korupsi. Kalau dari hal hal kecil kayak gini aja udah biasa, gimana urusan gede?

    baru tau mbak, kalo sistem sistem kembalian pakai permen itu inisiatif pegawai kasirnya. kirain selama ini resmi dari supermarketnya, mbak? soalnya kalo resmi dari supermarketnya kan permen2 itu udah diperhitungkan, hasil nilepnya juga buat supermarket, bukan buat kasir? sehingga bukan korupsi tapi emang taktik nyari keuntungan?

  24. subhanallahu says:

    saya ikut mantengin ya Pak, woro-woro klo udah ada full version yang bisa didownload yak ๐Ÿ˜€

  25. sarahzb says:

    fightforfreedom said: Ada anak yg cerdas dan punya bakat berinovasi namun NEM-nya kurang sedikiit saja, eh… malah tersingkir, tidak diterima di sekolah negeri (SMP Negeri). Padahal, beberapa bulan setelah itu, sang anak menjadi Juara ICT (Teknologi Informasi & Komunikasi) se-Asia Pasific. Jelas, bukan levelnya juara kecamatan lagi, dan dia saat ini sekolah di swasta, krn ortunya menolak ketika diminta amplop agar bisa masuk sekolah negeri.

    Iya Mas Iwan, si anak cerdas kakak beradik itu ya?Saya heran kok ada ya ortu yang bela2in nyogok buat masuk Sekolah Negri.Kalo aku daripada nyogok, kalo memang gak keterima ya mending masukin ke swasta aja, biarpun megap2 diusahain deh biayanya, daripada megap2 buat nyogok ke Negri….Karena sekali kita main duit kita akan jadi bulan2an pihak sekolah… Biar kita nyogok lagi dan lagi dan lagi…..Gak banget deh (โ—•_โ—•)

  26. kopiradix says:

    sedikit sharing mas, ada hubungannya juga dgn tulisan yang ini

  27. jaraway says:

    fightforfreedom said: Ooo… yg di MetroTV itu ya… saya juga selalu menyimaknya, kalo ketinggalan acaranya langsung meluncur ke arsipnya yg disimpan di official web-nya.Film ini juga pernah dikupas dlm program Neo Democrazy edisi Kamis, 16-Feb-2012 yg mengangkat tema “Pilot Nyabu dan Film Kita VS Korupsi”.Bagi yg ketinggalan nonton acara itu kemaren, bisa menyimaknya di sini:http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/02/16/11572/191/Neo-Democrazy-Edisi-Kamis-16-Februari-2012

    nah.. iyaa itu pak yang kemaren taktonton.. heheheawalnya emang tentang pilot yang “fly”tapi di akhir mbahas film ini

  28. enkoos says:

    fightforfreedom said: Ini talkshow film ini di salah satu media teve:

    Nonton talkshownya, di situ dibilang kalau film ini sudah dipesan jajaran kepolisian Indonesia. Sebagai institusi yang sarat dengan korupsi, mudah2an mereka serius untuk menindak lanjuti. Gak sekedar pepesan kosong doang untuk mencari simpati.

  29. enkoos says:

    edwinlives4ever said: That’s the main guideline, I believe. Still, corruption and graft also exist in private sector as well, right?And if takes tipping to encourage people to do better in providing the service they’re already paid for, wouldn’t be the same – more or less – as graft?

    Yup. di private sector juga banyak. Yang sering terlihat adalah adanya sogok menyogok untuk diterima bekerja. Atau juga pemberian komisi dari supplier ke bagian purchasing apabila si perusahaan bersedia membeli barang barangnya. Apakah pemberian tip di hospitality business termasuk menyogok? Aku rasa enggak, karena diberikan secara sukarela. Si pemberinya ngasih atas dasar puas dengan pelayanan yang diberikan. Enggak ngasih, ya enggak apa apa. Tetapi sangat berbeda mengenai tipping di Amerika, di mana waiters & waitresses sangat tergantung dengan tip karena gajinya sangat kecil. Pendapatan utama mereka justru dari tip. Mereka menservis tamu sebaik mungkin dengan harapan si tamu akan memberi tip dengan jumlah lumayan. Lain padang lain belalang. Beda dengan pemberian tip di kalangan birokrat dan pemerintah yang cenderung dipaksa. Ada perasaan gak rela dari pemberinya.

  30. Sementara saya masih menyimak dulu diskusi seru antara mbak Evia dan mas Edwin ttg “Tip” ๐Ÿ™‚

  31. wikan said: ada di youtube?

    Tidak ada. Di Youtube hanya ada trailer dan talkshow-nya, mas ๐Ÿ™‚

  32. jaraway said: nonton ulasannya di neodemoocrazyunik2 ide ceritanya..keren

    Ooo… yg di MetroTV itu ya… saya juga selalu menyimaknya, kalo ketinggalan acaranya langsung meluncur ke arsipnya yg disimpan di official web-nya.Film ini juga pernah dikupas dlm program Neo Democrazy edisi Kamis, 16-Feb-2012 yg mengangkat tema “Pilot Nyabu dan Film Kita VS Korupsi”.Bagi yg ketinggalan nonton acara itu kemaren, bisa menyimaknya di sini:http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/02/16/11572/191/Neo-Democrazy-Edisi-Kamis-16-Februari-2012

  33. martoart said: Trims Bung Iwan, nanti kita usahain nobar ya.Kita usahakan pemenuhan ketentuan teknisnya.Kalo 50 orang aja rasanya MPID-SEMPAK bisalah.

    Sipp, Bung Marto. Kabarnya seminarnya telah diselenggarakan dimana-mana sampai saat ini. Semoga bagian kita tidak mendapat daftar antrean yg panjang :)Just info tambahan:Alasannya kenapa film K-v-K untuk saat ini harus dikemas jadi satu dg seminar/workshop?Ada penjelasan dlm video ini dari Ilham Saenang (Manager Anti Corruption Information Center) bhw film ini harus dibicarakan setelah menontonnya. Masyarakat tidak bisa dilepas sendiri untuk meng-interpretasikannya. Sebab dalam pembicaraan itu (baca: seminar) akan didiskusikan bersama langkah-langkah konkritnya untuk melawan budaya korupsi, dg masing-masing contoh kasus yg sebagian telah diangkat dlm film tsb.Ini talkshow film ini di salah satu media teve:

  34. peace196 said: ingin banget nonton filmnya!ga ada yang bisa di download ya, Oom? (kan non-komersil tuh. hehe)

    Ada disebutkan dalam Ketentuan Etik yg bunyinya:”1. Material film disediakan oleh TI Indonesia, dan penyelenggara tidak diperbolehkan menggandakan materi asli tanpa ada persetujuan dari TI Indonesia.”Kalo dipikir-pikir, seandainya itu sampe bisa di-download berarti itu ilegal dong. Paradoks sekali kalo kita memerangi korupsi namun berusaha mendapatkan materinya dg ilegal, hahaha…Ya, kita berharap mereka kelak bisa menyiarkan film-nya itu di teve sbg bagian dari program edukasi. Lebih baik lagi, kalo mereka bisa memperbanyaknya dan disebarluaskan di sekolah-sekolah secara gratis, bersaing dg album-album SBY :)Soal biaya operasional, kalo pemerintah mau serius memerangi budaya korupsi di negeri ini ya seharusnya program ini dimasukin ke APBN.

  35. nikinput said: entah kenapa sy selalu memandang dgn prasangka setiap LSM asing yang buka cabang di Indonesia. hidden agenda apa yang tersembunyi dalam kerangka rencana besar negara?

    Curiga sih boleh-boleh saja, namun demikian apakah ada korelasinya antara LSM asing dg praktek korupsi? Mohon dijelaskan, mbak Novi.Tapi jangan memandang negatif dg lembaga TII ini lho ya :)Membaca profilnya di sini:Transparency International Indonesia (TII) merupakan salah satu chapter Transparency International, sebuah jaringan global NGO antikorupsi yang mempromosikan transparansi dan akuntabilitas kepada lembaga-lembaga negara, partai politik, bisnis, dan masyarakat sipil. Bersama lebih dari 90 chapter lainnya, TII berjuang membangun dunia yang bersih dari praktik dan dampak korupsi di seluruh dunia.TII memadukan kerja-kerja think-tank dan gerakan sosial. Sebagai think-tank TII melakukan review kebijakan, mendorong reformasi lembaga penegak hukum, dan secara konsisten melakukan pengukuran korupsi melalui Indeks Persepsi Korupsi, Crinis project, dan berbagai publikasi riset lainnya. Di samping itu TII mengembangkan Pakta Integritas sebagai sistem pencegahan korupsi di birokrasi pemerintah.

  36. enkoos said: pada intinya yang berhubungan dengan birokrasi dan pemerintah adalah ilegal memberi tip, bukan begitu?

    That’s the main guideline, I believe. Still, corruption and graft also exist in private sector as well, right?And if takes tipping to encourage people to do better in providing the service they’re already paid for, wouldn’t be the same – more or less – as graft?

  37. sarahzb said: Tp anak2 yg spt itu biasanya jg hasil produksi dr ortu yg spt itu dulunya.Jd tolong jangan dimulai dari keluarga.Kl memang blm mampu bli rumah di wilayah Jkt, jgn jadikan anak sbg korban, disuruh pergi sekolah jauh2 hanya demi ambisi ortu semata.Toh keberhasilan seseorang itu sama sekali bukan ditentukan dari rangking di kelas, atau sekolah favorit t4 mereka belajar.Keberhasilan seseorang ditentukan oleh, usaha, doa dan keyakinan diri.*kl ada yg merasa melakukan praktek2 tsb, mohon maaf, sama sekali gak bermaksud menyindir anda ๐Ÿ™‚ PEACE…

    Sharingnya sangat menarik, mbak Sarah.Di Batam pun fenomenanya juga sama spt yg mbak Sarah ceritakan.Saya mendukung sekali dan salut melihat sikap orangtua yg harus jujur dalam proses menyekolahkan anaknya itu. Namun sayangnya, banyak orangtua yg menghadapi lingkungan di luar yg sedemikian kejamnya. Ada contoh nyata orangtua yg pengen selalu jujur, tapi mendapat perlakuan yg tidak istimewa oleh sebuah institusi.Di negeri ini masih banyak oknum pejabat sekolah yg menerima amplop khusus dari orangtua yg NEM anaknya kurang. Langsung saja pada contoh kasusnya (pernah saya tulis di blog):Ada anak yg cerdas dan punya bakat berinovasi namun NEM-nya kurang sedikiit saja, eh… malah tersingkir, tidak diterima di sekolah negeri (SMP Negeri). Padahal, beberapa bulan setelah itu, sang anak menjadi Juara ICT (Teknologi Informasi & Komunikasi) se-Asia Pasific. Jelas, bukan levelnya juara kecamatan lagi, dan dia saat ini sekolah di swasta, krn ortunya menolak ketika diminta amplop agar bisa masuk sekolah negeri.Waktu mendaftar di SMP Negeri itu (dg NEM kurang dikit) ayahnya sudah membawa sertifikat dari Menkominfo saat anak itu menjadi Juara TIK Indonesia, saat itu sang anak belum menjadi delegasi di tingkat Asia Pasifik. Dasar oknum pejabat sekolah negeri tsb yg gak ngeh (atau mata duitan), sertifikat itu gak laku, dan anak itu tetap gak diterima. Akhirnya ya sang anak cerdas itu masuk ke sekolah swasta. Dan ketika menang di tingkat Asia Pasific, di dinding panggung penghargaan itu tertulis nama sekolah swasta yg menampungnya sekarang.Ini satu dari sekian banyak contoh, ada ortu yg berusaha jujur, tapi lingkungan di luar memperlakukan dg begitu kejamnya.Alhamdulillah, Allah Maha Adil thd sang ortu yg jujur tsb. Namun demikian praktek penyimpangan di sekolah2 masih belum bisa dihentikan.

  38. martoart says:

    Trims Bung Iwan, nanti kita usahain nobar ya.Kita usahakan pemenuhan ketentuan teknisnya.Kalo 50 orang aja rasanya MPID-SEMPAK bisalah.

  39. enkoos says:

    edwinlives4ever said: I tend to think so. On the other hand, tipping is a common practice (sometimes even compulsory) in hospitality business. Tourist police, directly or not, support tourism industry and it means they’re a part of tourism industry which is a hospitality business.One value intermingled with others. Confusing, eh?

    *garuk garuk pipi*pada intinya yang berhubungan dengan birokrasi dan pemerintah adalah ilegal memberi tip, bukan begitu?

  40. enkoos said: Berarti yang escorting wisatawan asing itu juga mustinya ilegal kalau ngasih tip.

    I tend to think so. On the other hand, tipping is a common practice (sometimes even compulsory) in hospitality business. Tourist police, directly or not, support tourism industry and it means they’re a part of tourism industry which is a hospitality business.One value intermingled with others. Confusing, eh?

  41. enkoos says:

    fightforfreedom said: Lantas biar aman mencurinya dibikinlah program korupsi berjamaah hingga menggurita, sampai sulit untuk diurai. Dampaknya berimbas kpd kebijakan yg dikeluarkannya, yg pada akhirnya rakyat kecillah yg jadi korban ikut terseret dg budaya korupsi tsb (hanya untuk sekedar bisa survive).

    Lha ini lho contoh yang nyata. Misalnya program IMF. Mana itu katanya mengentaskan kita, wong kenyataannya negara kita malah terpuruk dengan pinjaman dari IMF. Berapa persen yang ditilep? Enggak mungkin kalau pihak IMF gak tau. Bull shit banget kalau mereka ngomong gak tau.

  42. enkoos says:

    edwinlives4ever said: Even if the bank provides it to the customers for free, I don’t think the bank doesn’t pay anything to the police officers involved (or to their ‘coordinator’). Same question with yours, is it officially legal? If the fee was legal, wouldn’t it be contradictory to the motto “to protect and to serve”? After all, the police officers already received their monthly salary for such a job classified as “to protect and to serve”, right?

    Berarti udah termasuk kategori korupsi ya? Kan udah tugas mereka untuk “to protect and to serve”. Ya kan.Berarti yang escorting wisatawan asing itu juga mustinya ilegal kalau ngasih tip.

  43. jaraway says:

    nonton ulasannya di neodemoocrazyunik2 ide ceritanya..keren

  44. enkoos says:

    fightforfreedom said: poin 2 & 3 bisa saya pahami, untuk bersama-sama menyikat budaya itu.poin: “1. kembalian di supermarket pake permen” —> korelasinya dg budaya korupsi itu apa, mbak Evia? Mohon pencerahannya.

    Ya erat banget cak Iwan.Contohnya begini:Kalau kita belanja, dan total belanjaan nilainya Rp175.273 rupiah, misalnya. Lantas kita membayar Rp200.000. Harusnya kita mendapat kembalian Rp24.727 bukan? Oleh kasir kita diberi kembalian Rp24.500 plus dua buah permen. Berapa harga permen sebiji? Katakanlah Rp100. Kasirnya masih ngutang Rp27 kan?Lagipula kasirnya enggak beli permen eceran tetapi pak pak’an yang tentunya harganya lebih murah. Dari satu pelanggan ngenthit Rp27. Entah yang ngenthit kasirnya atau supermarketnya. Sehari ada berapa ratus atau malah berapa ribu pelanggan? Sebulan sudah berapa?Nilainya memang kecil, tapi dari yang kecil ini terbentuk sifat korupsi. Kalau dari hal hal kecil kayak gini aja udah biasa, gimana urusan gede? Kenapa supermarket males memberi kembalian uang kecil? kalau memang enggak ada, kenapa harganya gak dibulatkan menjadi nominal yang mudah memberi kembaliannya? Aku sering sebel kalau membaca harga2 *gak cuma di supermarket*. Di situ disebutkan harga yang aneh yang berakhiran 94 lah, 72 lah, lha mana ada rupiah dengan nilai seperti itu? Ini ingin memberi efek harga murah secara psikologis tapi nanti pas mbayar kita diplekotho.

  45. enkoos said: Kan biasanya ada tuh pengumuman di bank2 bagi yang membutuhkan pengawalan. Itu bayar gak ya? Dan kalau bayar, resmi atau tidak? Kalau resmi tentunya ada tarifnya.

    Even if the bank provides it to the customers for free, I don’t think the bank doesn’t pay anything to the police officers involved (or to their ‘coordinator’). Same question with yours, is it officially legal? If the fee was legal, wouldn’t it be contradictory to the motto “to protect and to serve”? After all, the police officers already received their monthly salary for such a job classified as “to protect and to serve”, right?

  46. enkoos says:

    edwinlives4ever said: In hospitality business, it’s a common enough practice. However, what if this hospitality business involves government employees? For example, when I need the assistance of a the tourist police for escort (lots of Americans think of Indonesia as a hazardous place), and the officers give very good services, even exceeding their original duty, is it OK to tip them? Or will it be encouraging graft?

    Yaaa ini tadi maksudku, hospitality business biasa ngasih tip.Tapi kalau jasa escorting untuk turis yang didapatkan dari polisi, hm….gak bisa jawab deh.Kalau escorting dari polisi untuk nasabah bank gimana? Kan biasanya ada tuh pengumuman di bank2 bagi yang membutuhkan pengawalan. Itu bayar gak ya? Dan kalau bayar, resmi atau tidak? Kalau resmi tentunya ada tarifnya.

  47. edwinlives4ever said: Hey, TI uses third-party services to conduct the survey, right? Doesn’t it mean that the data may vary quite widely from country to another in methodology and validity?

    You’re right, mas Edwin, TI uses third party services which have been criticized as potentially unreliable. Data can vary widely depending on the public perception of a country, the completeness of the surveys and the methodology used. This is the first issue. The second issue is that data cannot be compared from year to year because TI uses different methodologies and samples every year. This makes it difficult to evaluate the result of new policies.

  48. enkoos said: tonggoan soale, tinggal nyebrang danau sebentar udah nyampe. hahahahha…

    Sak sumur maneh *mabur*

  49. enkoos says:

    fightforfreedom said: hahaha… lha ini dua warga benua amerika kok bisa komennya kompak sama.

    tonggoan soale, tinggal nyebrang danau sebentar udah nyampe. hahahahha…

  50. fightforfreedom said: Bisa ngasih contoh yg paling sederhananya, mas Nono.Atau kalo sampeyan pernah nulis ttg menyikat budaya korupsi yg kecil-kecilan, bisa juga di sharing link-nya ke sini.Kalo belum, bisa jadi bahan tulisan nih… sampeyan khan penulis aktif.

    *Mikir sik* Suwun idene..hehehehehehe

  51. enkoos said: Kalau menyimak dari link yang aku quote itu, negara2 di mana korupsi tumbuh subur berada di Asia dan Afrika dimana banyak negara negara miskin. Secara tidak langsung, korupsi juga menguntungkan negara negara maju karena banyak investasi yang dilakukan oleh negara maju di negara negara miskin dan hanya menguntungkan negara2 maju saja. Imbas positif untuk penduduk lokalnya hampir tidak ada, bahkan malah merusak. Komunitas lokal masih tetep miskin dan terbelakang, lingkungan menjadi rusak.Dana yang dikucurkan untuk kemajuan komunitas lokal *katakanlah begitu istilahnya* ditilep oknum oknum pemerintah.

    Ulasan sampeyan ini kok ya pas banget dg jalan pikiranku. Intinya negara-negara berkembang yg menggantungkan diri dari duit pinjaman bank dunia itu hampir mengalami permasalahan yg sama, yaitu oknum pemimpin yg dipercaya mengelola negaranya ikut menilep duit pinjaman tsb. Lantas biar aman mencurinya dibikinlah program korupsi berjamaah hingga menggurita, sampai sulit untuk diurai. Dampaknya berimbas kpd kebijakan yg dikeluarkannya, yg pada akhirnya rakyat kecillah yg jadi korban ikut terseret dg budaya korupsi tsb (hanya untuk sekedar bisa survive).Suwun opininya, mbakyu.

  52. bambangpriantono said: Berantas dari diri sendiri duluwww

    Bisa ngasih contoh yg paling sederhananya, mas Nono.Atau kalo sampeyan pernah nulis ttg menyikat budaya korupsi yg kecil-kecilan, bisa juga di sharing link-nya ke sini.Kalo belum, bisa jadi bahan tulisan nih… sampeyan khan penulis aktif.

  53. Menarik didadekno HS iki..WAKAKAKAKAKAAKAKAKAKAKA..MENGOOONGGGG!!!!!

  54. fightforfreedom said: Nama SEMPAK itu ada filosofinya lho, dalaaam banget, bukan sekedar singkatan kalo dilihat HS-nya, hahaha. Mari kita tunggu para pinisepuh

    HAHAHAAHAHAHAHAMENGONGG!!!

  55. enkoos said: Contoh kecil yang terjadi sehari hari1. kembalian di supermarket pake permen.

    poin 2 & 3 bisa saya pahami, untuk bersama-sama menyikat budaya itu.poin: “1. kembalian di supermarket pake permen” —> korelasinya dg budaya korupsi itu apa, mbak Evia? Mohon pencerahannya.

  56. enkoos said: welah…nemu nemunya singkatan SEMPAK.

    Nama SEMPAK itu ada filosofinya lho, dalaaam banget, bukan sekedar singkatan kalo dilihat HS-nya, hahaha. Mari kita tunggu para pinisepuh untuk menjelaskannya di sini ๐Ÿ™‚

  57. enkoos said: Pengen nonton.

    hahaha… lha ini dua warga benua amerika kok bisa komennya kompak sama.Ya, semoga materi film-nya bisa di dapat dengan mudah ya di sana ๐Ÿ™‚

  58. jampang said: kalau cerita yang di KUA… saya ngalamin sendiri, pak.tp saya nggak mau begitu oknumnya nawarin… saya ngurus sesuai jalur aja.

    Kereen, sikat budaya korupsi di sana. Kalo perlu laporin oknumnya :)Oiya, kalo pernah disharing di blog, bagi link-nya dong, mas Rifki ๐Ÿ™‚

  59. nanabiroe said: Mas cangkir yang bikin?Namanya kan mas ayik?Huahuahua…pantesss lama gak ngempi :-p

    Apakah maksudnya cangkir kopi yg ini: http://cangkirkopi.multiply.com/ ?Barusan blogwalking ke sana, kok gak ada menyinggung sama sekali film ini.Semoga ada yg bisa sharing di sini tentang Komunitas Cangkir Kopi ini.

  60. moestoain says:

    fightforfreedom said: Betul, mbak Onit, karena ini masa kampanye, jadi mereka masih mengharapkan adanya kegiatan seperti seminar, workshop, diskusi, konfrensi pers, dll.Biar kawan-kawan gak kerepotan open another link, lengkapnya saya copas ke sini:

    KETENTUAN PENAYANGANSiapapun, perorangan, kelompok maupun lembaga, dapat mengorganisir pemutaran film KvsK (screening) setelah memenuhi berbagai ketentuan yang telah ditetapkan oleh TI Indonesia sebagaimana berikut:Ketentuan Umum:1. Berkoodinasi dengan pihak TI Indonesia untuk memperoleh Hak Penayangan dan materi film dimaksud.2. Pemutaran film merupakan bagian dari kampanye, sehingga harus disajikan dalam rangkaian kegiatan seperti seminar, workshop, diskusi, konfrensi pers, community event, festival dan bahan pengajaran.3. Setiap permintaan akan diproses paling lambat 5 hari kerja oleh Pihak TI Indonesia dengan basis pertimbangan memenuhi ketentuan teknis, etik, dan sumberdaya pemutaran.*)4. Setiap kegiatan wajib melampirkan laporan singkat kegiatan termasuk estimasi penonton dan foto-foto kegiatan.Ketentuan Teknis:1. Setiap pemutaran film, minimal disaksikan oleh 50 orang.2. Memperlakukan film ini sebagaimana film layar lebar sehingga untuk mendapatkan kualitas penayangan yang optimal.3. Permintaan pemutaran minimum 7 hari sebelum waktu pelaksanaan.4. Permintaan dalam bentuk surat/email disertai dengan TOR kegiatan ke Sekretariat Club Indonesia Bersih Jalan senayan bawah No. 17 โ€“ Jakarta 12180 โ€“ Indonesia atau ke email clubindonesiabersih@gmail.comKetentuan Etik1. Material film disediakan oleh TI Indonesia, dan penyelenggara tidak diperbolehkan menggandakan materi asli tanpa ada persetujuan dari TI Indonesia.2. Pemutaran film ini bersifat non-komersil, dimaksudkan sebagai kampanye antikorupsi.

    Masih agak ribet memang, bagi mereka yg punya keterbatasan akses, apalagi seperti mbak Onit yg tinggal di LN. Ya, semoga segera muncul versi online-nya.

    Wah tadi baca persyartan umumnya kok pengen mengajukan diri untuk memutarnya di KBRI Riyadh. Tpi setelah baca bawah2 kok sulit ya…

  61. moestoain said: Sudah muncul di bioskop nie pak?

    Belum, cak Moes, semoga segera muncul versi online-nya, agar sampeyan yg tinggal di LN bisa mengakses-nya.

  62. bunda2f said: hm, kog eksklusif gitu ya? mo nonton aja musti ngundang? ga dimintain bayaran/sumbangan kan? *hussshh

    Mungkin karena masih masa kampanye “Indonesia Bersih”, mbak Maya. Hanya butuh modal penyiapan infrastruktur aja, spt sewa gedung, konsumsi (buat bekal seminarnya), dll.Ya, semoga saja segera diputar di media-media televisi krn proyek film ini bersifat non-komersil.

  63. wayanlessy said: Baca ulasannya jadi pengen nonton. Makasi mas Iwan.

    Sama-sama, mbak Lessy. Semoga dimudahkan untuk menonton atau mengakses film-nya bagi mereka yg tinggal di LN, seperti mbak Lessy.

  64. penuhcinta said: Pengen nonton!

    Semoga materi film-nya bisa didapat dengan mudah ya di sana ๐Ÿ™‚

  65. nur4hini said: sayang cuma bisa nonton di bioskop ya…

    Iya, di bioskop atau ruangan berkapasitas lebih dari 50 orang. Tentunya acaranya bukan untuk tujuan komersil.Jadi, nontonnya gak bisa sendirian, karena pemutaran film pada masa ini merupakan bagian dari kampanye.Semoga ini cuma tahap awal saja selama masa kampanye “Indonesia Bersih”, setelah itu dibikin mudah sekali menontonnya di rumah-rumah bersama keluarga. Agar mereka yg tinggal di LN spt MakKhansa bisa ikut nonton ๐Ÿ™‚

  66. belajartilldie said: bener mas, ngrasa dekeeet banget… heuheuheuu…ikut nge-share ya… tq

    Maksudnya deket gimana, mbak Nuning? boleh sharing pengalamannya dong :)Oiya, silakan di-share, demi kemaslahatan umat ๐Ÿ™‚

  67. rengganiez said: tinggal colek mas Agam ๐Ÿ™‚

    Lama gak ngelihat mas Agam.eh, itu kudu ngumpulin minimal 50 orang buat nonton lho, ini bagian dari persyaratan teknis. Lihat persyaratan pada komen saya untuk mbak Onit.

  68. enkoos said: Misalnya, kalau kita mengurus perpanjangan STNK melalui prosedur yang wajar dan hasilnya cepat, itu udah tugas mereka. Kalau kita ngasih tip, itu bukan tip tapi sama dengan korupsi terselubung. Nanti mereka jadi terbiasa dan yang gak ngasih tip akan dilayani dengan ogah2an.

    All of my guides receive guide-fee from me, and it’s their duty to give good guiding services to my clients. They receive tip from my clients if they are satisfied with the guide’s service.When I’m satisfied with a service, I also give tips, although I know they already receive salary for doing their job. In hospitality business, it’s a common enough practice. However, what if this hospitality business involves government employees? For example, when I need the assistance of a the tourist police for escort (lots of Americans think of Indonesia as a hazardous place), and the officers give very good services, even exceeding their original duty, is it OK to tip them? Or will it be encouraging graft?

  69. onit said: syarat pemutarannya baru oleh pihak t.i. sendiri yahhttp://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/ketentuan-dan-syarat-pemutaran-film-k-vs-k/nunggu kabar aja deh kalo ada versi onlinenya ^^

    Betul, mbak Onit, karena ini masa kampanye, jadi mereka masih mengharapkan adanya kegiatan seperti seminar, workshop, diskusi, konfrensi pers, dll.Biar kawan-kawan gak kerepotan open another link, lengkapnya saya copas ke sini:

    KETENTUAN PENAYANGANSiapapun, perorangan, kelompok maupun lembaga, dapat mengorganisir pemutaran film KvsK (screening) setelah memenuhi berbagai ketentuan yang telah ditetapkan oleh TI Indonesia sebagaimana berikut:Ketentuan Umum:1. Berkoodinasi dengan pihak TI Indonesia untuk memperoleh Hak Penayangan dan materi film dimaksud.2. Pemutaran film merupakan bagian dari kampanye, sehingga harus disajikan dalam rangkaian kegiatan seperti seminar, workshop, diskusi, konfrensi pers, community event, festival dan bahan pengajaran.3. Setiap permintaan akan diproses paling lambat 5 hari kerja oleh Pihak TI Indonesia dengan basis pertimbangan memenuhi ketentuan teknis, etik, dan sumberdaya pemutaran.*)4. Setiap kegiatan wajib melampirkan laporan singkat kegiatan termasuk estimasi penonton dan foto-foto kegiatan.Ketentuan Teknis:1. Setiap pemutaran film, minimal disaksikan oleh 50 orang.2. Memperlakukan film ini sebagaimana film layar lebar sehingga untuk mendapatkan kualitas penayangan yang optimal.3. Permintaan pemutaran minimum 7 hari sebelum waktu pelaksanaan.4. Permintaan dalam bentuk surat/email disertai dengan TOR kegiatan ke Sekretariat Club Indonesia Bersih Jalan senayan bawah No. 17 โ€“ Jakarta 12180 โ€“ Indonesia atau ke email clubindonesiabersih@gmail.comKetentuan Etik1. Material film disediakan oleh TI Indonesia, dan penyelenggara tidak diperbolehkan menggandakan materi asli tanpa ada persetujuan dari TI Indonesia.2. Pemutaran film ini bersifat non-komersil, dimaksudkan sebagai kampanye antikorupsi.

    Masih agak ribet memang, bagi mereka yg punya keterbatasan akses, apalagi seperti mbak Onit yg tinggal di LN. Ya, semoga segera muncul versi online-nya.

  70. onit said: hehe iya mas, kalimatnya ini rancu..waktu kubaca ini udah seneng aja. horeee di daftar negara terkorup dunia dapet ranking bontot! :Dternyata? itu klasemen terbawah daftar bersih korupsi ya..?

    eh, iya mbak Onit, setelah saya pikir-pikir memang rancu, hahaha, … baiklah saya sudah ganti kalimatnya menjadi:”Secara keseluruhan Indonesia sendiri berada di posisi klasemen bawah bersama negara-negara yang tingkat korupsinya parah menurut survei TI sejak tahun 2005 ~ 2011.”Terimakasih buat mbak Tin dan mbak Onit atas koreksinya ๐Ÿ™‚

  71. enkoos says:

    edwinlives4ever said: One question: is tipping illegal?

    Beda dong. Tip berhubungan dengan jasa dan biasanya di lingkungan pariwisata tapi tidak terbatas. Misalnya, kalau kita mengurus perpanjangan STNK melalui prosedur yang wajar dan hasilnya cepat, itu udah tugas mereka. Kalau kita ngasih tip, itu bukan tip tapi sama dengan korupsi terselubung. Nanti mereka jadi terbiasa dan yang gak ngasih tip akan dilayani dengan ogah2an.Beda dengan pemberian tip di hotel2 dan pariwisata atau restoran. Atau misalnya jasa angkut barang umpamanya. Itu bagian dari service. Biasanya tipnya dikumpulkan lantas dibayarkan merata ke semua pegawai di awal / akhir bulan. Itu kalau sistem di Indonesia. Entah di negara lain. Lain padang lain belalang.

  72. fightforfreedom said: Selamat, Anda dapat hadiah Klimaxxx ๐Ÿ™‚

    This?

  73. peace196 says:

    ingin banget nonton filmnya!ga ada yang bisa di download ya, Oom? (kan non-komersil tuh. hehe)

  74. nikinput says:

    korupsi… ada di mana mana.entah kenapa sy selalu memandang dgn prasangka setiap LSM asing yang buka cabang di Indonesia. hidden agenda apa yang tersembunyi dalam kerangka rencana besar negara?filmnya pasti menarik, tapi inetku lemot…perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan melawan nafsu diri sendiri.

  75. sarahzb says:

    Betul Mas Iwan, Korupsi memang dimulai dari keluarga, dari kecil banyak anak2 Indonesia yg sdh ditanamkan nilai2 korupsi & suap.Contoh nyata:Pas mau msk SD, para ortu di daerah t4 tinggal sy yg ada di perbatasan Depok & Jak-Sel (daerah sy sdh masuk depok)Nah para ortu kl udh th ajaran baru heboooh masukin anaknya ke SD yg masuk wilayah Jakarta, dan tentu saja gak Gratis.Buat anak yg gagal pd waktu pendaftaran SD di Jkt tsb, maka mereka cari SD di dkt rumahnya dl, baru pd th ke2 dipindahkan ke SD Jkt tsb.Ternyata si anak krn cape di jalan selama 6th menempuh rute dari rumah ke SD Jkt yg jaraknya lumayan buat anak2, akhirnya pas SMP gak ะฌฯŠsฤ msk SMP favorit di Jkt. Pdhal tujuan msk SD Jkt buat ะฌฯŠsฤ ke SMP favorit di Jkt.Akhirnya lagi2 nyogok, begitu seterusnya sampai msk kerja.Nah tentunya org2 spt itu pas sdh kerja (baca jd PNS) korupsi lah dia, biar balik modal.Tp anak2 yg spt itu biasanya jg hasil produksi dr ortu yg spt itu dulunya.Jd tolong jangan dimulai dari keluarga.Kl memang blm mampu bli rumah di wilayah Jkt, jgn jadikan anak sbg korban, disuruh pergi sekolah jauh2 hanya demi ambisi ortu semata.Toh keberhasilan seseorang itu sama sekali bukan ditentukan dari rangking di kelas, atau sekolah favorit t4 mereka belajar.Keberhasilan seseorang ditentukan oleh, usaha, doa dan keyakinan diri.*kl ada yg merasa melakukan praktek2 tsb, mohon maaf, sama sekali gak bermaksud menyindir anda ๐Ÿ™‚ PEACE…

  76. fightforfreedom said: Kabar baiknya, pelan – pelan meningkat, masih bisa optimis negeri ini bisa bangkit.

    Hey, TI uses third-party services to conduct the survey, right? Doesn’t it mean that the data may vary quite widely from country to another in methodology and validity?I find it hard to believe that Indonesia is winning her fight against corruption, when the main political party currently in power is a nest of corruptors.

  77. One question: is tipping illegal?If it is, well, then I’m involved in spreading corruption.

  78. enkoos says:

    bambangpriantono said: Berantas dari diri sendiri duluwww

    Iya, mulai dari diri sendiri dan mulai dari hal yang kecil kecil.

  79. enkoos says:

    fightforfreedom said: http://cpi.transparency.org/cpi2011/results/

    Kalau menyimak dari link yang aku quote itu, negara2 di mana korupsi tumbuh subur berada di Asia dan Afrika dimana banyak negara negara miskin. Secara tidak langsung, korupsi juga menguntungkan negara negara maju karena banyak investasi yang dilakukan oleh negara maju di negara negara miskin dan hanya menguntungkan negara2 maju saja. Imbas positif untuk penduduk lokalnya hampir tidak ada, bahkan malah merusak. Komunitas lokal masih tetep miskin dan terbelakang, lingkungan menjadi rusak. Dana yang dikucurkan untuk kemajuan komunitas lokal *katakanlah begitu istilahnya* ditilep oknum oknum pemerintah. Tetapi kadang ada juga perusahaan yang terjun langsung untuk memajukan komunitas lokal ketimbang ngasih duit. Tapi entah berapa banyak yang melakukan hal begini.

  80. Berantas dari diri sendiri duluwww

  81. enkoos says:

    fightforfreedom said: hehehe….Ya.. peringkat 100 bersama negara-negara berkembang lainnya :)Just info :Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dari tahun ke tahun:2011 = 3.0 2010 = 2.8 2009 = 2.8 2008 = 2.6 2007 = 2.3 2006 = 2.4 2005 = 2.2 2004 = 2.0 2003 = 1.9 2002 = 1.9Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Corruption_Perceptions_IndexKabar baiknya, pelan – pelan meningkat, masih bisa optimis negeri ini bisa bangkit.

    Secerah harapan di ujung kegelapan akan selalu ada. Jadi gak boleh pesimis yo cak. Dari kitanya sendiri juga ada kemauan kuat untuk memberantas. Contoh kecil yang terjadi sehari hari1. kembalian di supermarket pake permen.2. ngurus surat2 penting seperti KTP, paspor, perpanjangan SIM dll banyak yang masih menggunakan perantara.3. menyerobot antrian. ini berkaitan dengan budaya korupsi juga lho, karena maunya instan dan cari enaknya sendiri.dan masih banyak lagi hal hal kecil lainnya.

  82. enkoos says:

    fightforfreedom said: Ketigax !Kayaknya asyik juga nih kalo nobar bareng SEMPAK (Serikat Multiplyers Anti Korupsi).saya copas dulu info ini kesana.

    welah…nemu nemunya singkatan SEMPAK.

  83. jampang says:

    kalau cerita yang di KUA… saya ngalamin sendiri, pak.tp saya nggak mau begitu oknumnya nawarin… saya ngurus sesuai jalur aja.

  84. nanabiroe says:

    Mas cangkir yang bikin?Namanya kan mas ayik?Huahuahua…pantesss lama gak ngempi :-p

  85. moestoain says:

    Sudah muncul di bioskop nie pak?

  86. bunda2f says:

    hm, kog eksklusif gitu ya? mo nonton aja musti ngundang? ga dimintain bayaran/sumbangan kan? *hussshh

  87. wayanlessy says:

    Baca ulasannya jadi pengen nonton. Makasi mas Iwan.

  88. onit says:

    syarat pemutarannya baru oleh pihak t.i. sendiri yahhttp://www.indonesiabersih.org/info-indonesia-bersih/ketentuan-dan-syarat-pemutaran-film-k-vs-k/nunggu kabar aja deh kalo ada versi onlinenya ^^

  89. onit says:

    mas, tau laporsuap.com gak?

  90. onit says:

    fightforfreedom said: TAPIIII….Secara keseluruhan Indonesia sendiri, dibandingkan dengan negara-negara lainnya, berada di posisi klasemen bawah negara terkorup di dunia

    hehe iya mas, kalimatnya ini rancu..waktu kubaca ini udah seneng aja. horeee di daftar negara terkorup dunia dapet ranking bontot! ๐Ÿ˜€ ternyata? itu klasemen terbawah daftar bersih korupsi ya..?

  91. nur4hini says:

    sayang cuma bisa nonton di bioskop ya…

  92. bener mas, ngrasa dekeeet banget… heuheuheuu…ikut nge-share ya… tq

  93. rengganiez says:

    fightforfreedom said: ngundang orang TII untuk nonton bareng film ini.

    tinggal colek mas Agam ๐Ÿ™‚

  94. bundel said: Huuuuusssssy! Iki bocah salah maca.Nyangking 100 bisa kanggo tuku permen, dudu rangking 100. ๐Ÿ˜€

    hahahaa…. lha mas Pri iku senengane guyon kok, mbak Julie.

  95. beautyborneo said: pengen nonton…sering nggak nyadar melakukan korupsi kecil-kecilan

    Iya nih, mbak Emil… justru yg kecil-kecil itu cikal bakal menggampangkan urusan-urusan yg gede.

  96. hwwibntato said: sungguh memprihatinkan …

    Selain membudaya, sudah menggurita cengkeraman korupsi di negeri ini.Tapi optimis bisa berubah tetap harus ada, sambil terus mengobarkan perlawanan.Minimal kepada lingkungan terdekat.

  97. anotherorion said: hore rangking 100 iso dinggo tuku permen

    hehehe….Ya.. peringkat 100 bersama negara-negara berkembang lainnya :)Just info :Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dari tahun ke tahun:2011 = 3.0 2010 = 2.8 2009 = 2.8 2008 = 2.6 2007 = 2.3 2006 = 2.4 2005 = 2.2 2004 = 2.0 2003 = 1.9 2002 = 1.9Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Corruption_Perceptions_IndexKabar baiknya, pelan – pelan meningkat, masih bisa optimis negeri ini bisa bangkit.

  98. tintin1868 said: btw, cangkir kopi yang bikin? ayi?

    Betul.. Cangkir Kopi. Ayi itu apa, mbak?

  99. tintin1868 said: ku share ya link videonya ke rumah sebelah mas..

    Monggo, mbak Tin, syukur-syukur kalo bisa ngumpul dan nonton bareng.

  100. tranparamole said: kalau di kampus, ipk 3 tu dah lumayan. *eh

    hehehe… lha kalo 3 dari 10 ya very poor, mestinya di DO (u know who lah)

  101. rengganiez said: ayoo kumpul dan nonton bareng pilem ini..

    Bagus juga kalo Komunitas MPID dan SEMPAK bisa ngumpul bareng dan ngundang orang TII untuk nonton bareng film ini.

  102. bundel says:

    anotherorion said: hore rangking 100 iso dinggo tuku permen

    Huuuuusssssy! Iki bocah salah maca.Nyangking 100 bisa kanggo tuku permen, dudu rangking 100. ๐Ÿ˜€

  103. beautyborneo says:

    pengen nonton…sering nggak nyadar melakukan korupsi kecil-kecilan*tutup muka*

  104. rengganiez says:

    ayoo kumpul dan nonton bareng pilem ini..

  105. muslima10 said: bagus infonya… ^^

    Terimakasih, mbak, silakan kalo mau di share, agar sama-sama belajar memerangi budaya korupsi.

  106. hwwibntato says:

    sungguh memprihatinkan …

  107. akunovi said: Wew, mantabh

    Terimakasih, mbak Novi.Karena ini bersifat edukasi masyarakat, ada baiknya kalo mengajak organisasi di kampung (semacam karang taruna) mengundang mereka.

  108. anotherorion says:

    hore rangking 100 iso dinggo tuku permen

  109. tranparamole said: Klu gitu pemerintah baiknya sponsori film ini agar bs dkonsumsi masy.

    Ini yang kita harapkan bersama. Bisa jadi, kondisi yg pada awalnya dengan mengundang representative dari Transparency Internasional Indonesia (TII) untuk bersama-sama nonton bareng film ini bersama organisasi pengundang, itu diselingi dg presentasi (dari TII) bagaimana menanggulangi budaya korupsi. Kemudian ada diskusi terbuka. Setelah langkah sosialisasi ini, diharapkan media2 televisi di Indonesia memutarnya.

  110. tintin1868 says:

    btw, cangkir kopi yang bikin? ayi?

  111. tintin1868 says:

    fightforfreedom said: eh justru kebalik, mbak Tin, IPK-nya tertinggi lho, artinya bersih pengelolaan negaranya. Jadi, New Zealand itu negara paling bersih (dari budaya korupsi).IPK makin rendah, berarti tingkat korupsi-nya makin parah.

    Secara keseluruhan Indonesia sendiri, dibandingkan dengan negara-negara lainnya, berada di posisi klasemen bawah negara terkorup di dunia menurut survei TI sejak tahun 2005 ~ 2011. >>> sampe baca lagi.. tadi baca bagian itu udah rancu.. ternyata maksudnya nilai terkecil artinya paling korup.. makanya heran kog new zealand terkorup? terbalik ternyata..

  112. anazkia says:

    fightforfreedom said: eh justru kebalik, mbak Tin, IPK-nya tertinggi lho, artinya bersih pengelolaan negaranya. Jadi, New Zealand itu negara paling bersih (dari budaya korupsi).IPK makin rendah, berarti tingkat korupsi-nya makin parah.

    Kudu pelan2 bacanyaLama2 Anaz kalau copas tulisan dari sini jadi kelihatan pinter hahahahaha

  113. anazkia said: Iso nang LN ndak, Pak? ๐Ÿ˜€

    Nanti saya bantu gali info dulu, bisa ngga kesana, mbak Anaz.

  114. tranparamole says:

    kalau di kampus, ipk 3 tu dah lumayan. *eh

  115. tranparamole says:

    oh, gak sama ya kek film2 independen yg ada hak edar? Klu gitu pemerintah baiknya sponsori film ini agar bs dkonsumsi masy. Percuma kan, film bagus dgn pesan bagus tp eksklusif kayak film festival.

  116. tranparamole said: wah, keren. Moga ntar cepet available di video rent.

    Lha DVD-nya aja gak dijual. Gimana ya?Malah kebangetan kalo ada yg nge-download gratis trus direntalin.Karena film ini bersifat non-komersil, seharusnya TV-TV lokal muter film ini sbg bentuk edukasi masyarakat.

  117. Empax !Saya sendiri belum nonton, dan pengen banget nonton film ini, jadi kalo ada info link buat ngunduh gratis, tolong kasih tahu saya dong :)Bukankah film ini masuk kategori non-komersil… yang bebas dari pasal ACTA ? Sungguh mulia sekali yang bikin film ini.Mari sama-sama berburu.

  118. Ketigax !Kayaknya asyik juga nih kalo nobar bareng SEMPAK (Serikat Multiplyers Anti Korupsi).saya copas dulu info ini kesana.

  119. Keduax !Bagi yang pengen nobar film ini bersama organisasi Anda, silakan menghubungi:Contact Person:Agus Sarwono — Community and Outreach Officer — 0812 6992 667 — asarwono@ti.or.idNur Fajrin — Communication Officer — 0815 5556 911 — nfajrin@ti.or.idTransparency International IndonesiaAnti Corruption Information Centre (ACIC)Jl. Senayan Bawah No.17, Jakarta Selatan, IndonesiaTelp: 021-7208515, 7236004, 7267807, 7267827Fax: 021-7267815Email: clubindonesiabersih@gmail.com atau acic@ti.or.idWeb: http://www.indonesiabersih.org atau http://www.ti.or.id

  120. Pertamax !Dapat info film ini setelah ngobrol bareng jurnalis dan kritikus film Indonesia, mas Ekky Imanjaya <a href="http://ekkyij.multiply.com/journal/item/233/Untuk_Pertama_Kalinya_Zahra_Nonton_Bioskop?replies_read=3“>di sini, beliau juga co-founder dan editor rumahfilm.Menurut info beliau, film ini tidak diputar di bioskop karena bersifat non-komersil. Jadi, jangan harap bisa nobar di XXI atau dapetin dvd-nya di disctarra ๐Ÿ™‚

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: