Home » Indonesia Crisis » The New Rulers of The World (by John Pilger) – Part 1

The New Rulers of The World (by John Pilger) – Part 1

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

[Tulisan ini pernah dimuat pada blog lama saya:
http://fightforfreedom.multiply.com/video/item/23
Posted on Nov 21, ’10 9:25 PM for everyone]

The New Rulers of The World, part 1/6
a Special Report by John Pilger (see: wikipedia)

Film ini adalah hasil Kerjasama Institute for Global Justice (IGJ) & INFID untuk upaya sosialisasi publik dalam mengkritisi globalisasi dan dampaknya terhadap Indonesia. Film ini bercerita tentang globalisasi yang didesain agar menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang diperbudakkan serta utang luar negeri. John Pilgers menyampaikan bahwa inilah era penguasa baru dunia (The New Rulers of the World), khususnya pengaruh bagi sebuah negara: INDONESIA.

John Pilger adalah seorang jurnalis terkemuka dunia berkebangsaan Australia yang bekerja di Inggris. Dari berbagai pengalaman dan menjadi saksi hidup pada berbagai peristiwa yang ia liput, membangkitkan semangat dasar nurani John Pilgers untuk membongkar segala ketidakadilan terutama yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya (termasuk Inggris dan Australia tempat dimana ia lahir dan tinggal).

Video 1/6: Dampak Globalisasi di Indonesia

Pada awal tahun 2000-an, terjadi gerakan jutaan manusia menentang globalisasi di berbagai penjuru dunia. Globalisasi yang didengung-dengungkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata mengakibatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si kaya dan si miskin.

John Pilger mengatakan:

Saat ini, sekelompok kecil orang-orang yang berkuasa ternyata lebih kaya dibandingkan dengan keseluruhan jumlah penduduk di benua Afrika.
Hanya dengan 200 perusahaan, seperempat kegiatan ekonomi dunia sudah dapat dikuasai.
Sekarang ini, General Motors lebih besar dibandingkan Denmark. Ford lebih besar dibanding Afrika Selatan.
Luput dari mata para pembeli di jalan-jalan besar merek-merek barang terkenal, mulai dari sepatu olahraga hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara yang sangat miskin dengan upah buruh sangat rendah, nyaris seperti budak. Untuk mempromosikan Nike, pegolf Tiger Woods dibayar lebih tinggi dibandingkan dengan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia.
Desa global seperti inikah yang disebut-sebut sebagai masa depan umat manusia?
Ataukah ini semata-mata adalah cara lama yang dulunya dilakukan pada jaman raja-raja dan sekarang diteruskan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah sebagai penopangnya.
Film ini menceritakan penguasa baru dunia, khususnya pengaruhnya bagi sebuah negara INDONESIA.

Itulah yang menjadi pembuka film dokumenter ini selama 3 menit dari durasi total 49 menit yang dibagi menjadi 6 bagian film.
Dalam bagian I ini, selanjutnya John Pilger mengatakan:

Indonesia adalah sebuah negara dimana imperialisme lama bertemu dengan imperialisme yang baru. Sebuah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah: Tembaga dan emas, minyak, kayu, keahlian dan SDM-nya. Dijajah oleh Belanda di abad ke-16, kekayaan alam Indonesia dirampas oleh Barat selama beratus-ratus tahun lamanya. Itu sesungguhnya hutang yang sampai saat ini masih belum terbayar.
.
.
Kata penganutnya hanya globalisasilah yang mampu menyatukan manusia dari segala ras di seluruh negara dan (menurut mereka) ia dapat mengurangi kemiskinan, globalisasi dapat menciptakan kekayaan secara merata.

Bagaimana kenyataan sebenarnya ?

Selanjutanya disampaikan pemaparan dari John Pilger tentang fakta yang terjadi, dalam video tersebut, nampak kemiskinan dan nasib para pekerja (buruh) Indonesia begitu telanjang disampaikan ke seluruh dunia.
Selama investigasinya di perkampungan kumuh, dan tinggal lama di sana, John sempat terkena penyakit demam berdarah.
Kemudian, John Pilger juga menyamar sebagai calon customer di sebuah pabrik untuk mengetahui kondisi pekerja yang sebenarnya di dalam perusahaan, sampai terjadilah wawancara antara John Pilger dengan salah satu buruh. Miris rasanya mendengarkan.

Video 2/6: Awal Terbukanya Pintu “Upeti Terbesar di Asia”

Narasi John Pilger:

Globalisasi di Asia memiliki sejarah gelap.
Pabrik, bank-bank besar dan hotel mewah di Indonesia dibangun berkat pembunuhan massal 1 juta manusia. Peristiwa yang lebih suka dilupakan oleh Barat. Tapi banyak orang disini tidak mungkin melupakannya. Belakangan ini, masyarakat mulai mencari kerangka keluarga tercinta mereka yang dibunuh pada masa Jenderal Soeharto berkuasa atas bantuan Amerika dan Inggris di pertengahan 1960-an.
Sampai saat ini fakta tragedi itu masih tetap gelap. Ini adalah satu-satunya foto yang diketahui mengenai kekejaman itu.
.
.
Suatu hari di bulan Oktober 1965, segerombolan preman memasuki sekolah ini di Jakarta lalu membunuh kepala sekolah yang dianggap komunis. Pembunuhan semacam inilah tipikal pembantaian lebih dari satu juta orang, para guru, murid, pegawai negeri, petani. CIA melukiskan sebagai salah satu pembantaian massal terkejam di abad 20, sebab-sebab terjadinya tragedi itu masih misteri. Peristiwa itu menghantarkan Soeharto ke puncak kekuasaan, namun kini terbukti bahwa diam-diam Soeharto disokong Amerika dan Inggris serta para pebisnis Barat.
Setahun setelah peristiwa berdarah itu, perekonomian Indonesia dibentuk menurut model Amerika guna mempermudah Barat menguasai sumber mineral, pasar dan buruh murah. Presiden Nixon menyebutnya “Upeti terbesar dari Asia”
.
.
Jasa besar Soeharto bagi bisnis Barat adalah dirinya menyingkirkan pendiri bangsa Indonesia modern, Soekarno, seorang nasionalis yang yakin pada kemandirian ekonomi rakyatnya.
Soekarno menentang masuknya korporasi Barat ke Indonesia dan mengusir agen-agen Barat seperti Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF).
Hanya karena salah satu Jenderalnya, Soeharto berkuasa terbukalah pintu “Upeti terbesar dari Asia”.

Video 3/6: Awal Terbukanya Pintu “Upeti Terbesar di Asia”

Bersambung ke Part 2

Advertisements

5 Comments

  1. […] Kutipan di bawah ini adalah sebagai penjelas pada scene film dokumenter yang diposting di sini […]

  2. Komentar Mas Luqman Hakim:

    Baru bisa ngeliat filmnya dan emang sedih…

    Itu juga yang bikin Paul Ormerod bilang Ilmu Ekonomi sudah mati, nggak bisa lagi mengatasi masalah-masalah perekonomian baik secara global maupun individu. Ilmu Ekonomi udah digeneralisir secara matematis padahal nggak bisa begitu. Kalo ada temen yang berlatar belakang Ilmu Ekonomi, saya cuma mau nanya, apa arti dari elemen “cp” di setiap rumusan Ilmu Ekonomi secara matematis?

    Hal buat mengubah kondisi nggak real buat dipaksakan jadi real, dan inilah realitanya, ada dalam film ini.

    Ilmu Ekonomi sudah mati! Itu juga yang bikin saya keluar dari Fakultas Ekonomi. Buat apa mempelajari ilmu yang sudah mati?

    • Iya, Ilmu Ekonomi emang bener2 dah tewas dan dikubur th 1994. Padahal jauh-jauh hari sudah diindikasikan akan tewas setelah terbit buku “What’s Wrong with Economics?” oleh Benjamin Ward, th 1972. Setelah kematian Ilmu Ekonomi tsb, Joseph Stiglitz, berceramah di Jakarta (th 2004), dg tegas mengkritik pakar2 ekonomi pemerintah yg terlalu mengandalkan pd nasehat2 ekonomi IMF & WB. Ia juga dg tegas mengkritik pakar2 ekonomi yg terlalu percaya pd ajaran buku2 teks ekonomi untuk membuat kebijakan. Stiglitz menegaskan bahaya ajaran2 ekonomi yg demikian jika dipakai untuk menyusun kebijakan.

      Tewasnya Ilmu Ekonomi ini bisa dilihat dr makin banyak Perguruan Tinggi, negeri maupun swasta, yg fakultas ekonominya hanya punya jurusan Manajemen & Akuntansi. Jadi, masalah2 ekonomi masyarakat telah direduksi menjadi masalah manajemen dan hitung-hitungan (akuntansi) untung rugi saja spt halnya perusahaan.

      Ya, inilah dampak saking kuatnya “imperialisme” ajaran ekonomi kapitalis liberal dari Barat khususnya Amerika. Di Amerika sekarang sudah banyak jurusan ekonomi yg sekedar merupakan cabang (spesialisasi) dari School of Business (Fakultas Bisnis). Artinya, “ilmu” yg lebih “terhormat” di sana adalah ilmu bisnis yaitu ilmu mencari keuntungan sebesar-besarnya dari perusahaan, sedangkan ilmu ekonomi yg merupakan cabang ilmu sosial, dan yg masih ada kaitan dengan ajaran2 moral, hanya merupakan salah satu spesialisasi saja dan gak terlalu dianjurkan untuk dipilih.

      Salut atas pilihan jitu mas Luqman 🙂

  3. Komentar Mas Luqman Hakim:

    Ada referensi bagus buat bahan diskusi postingan ini Mas Iwan, buku “The Death of Economics” karangannya Dr. Paul Ormerod. Saya coba nyontek pola pikirnya ekonom Inggris yang juga dosen di London University itu.

    Dari jauh-jauh hari Adam Smith, Bapak Ilmu Ekonomi udah bilang tentang konsep absolute advantage atau keunggulan mutlak. Kemakmuran suatu negara bisa terwujud apabila mengkhususkan diri pada produk yang bisa dihasilkan di dalam negeri dengan biaya yang lebih murah. Jika semua negara melakukan hal yang sama maka semuanya akan untung, tapi akan lebih beruntung lagi apabila negara tersebut menghasilkan sendiri semua produk yang diperlukan. Tulisan ini ada di buku “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations” yang terbit tahun 1766, orang lebih seneng menyingkat judulnya jadi “The Wealth of Nation” aja.

    Pendapat Adam Smith ditentang David Richardo, muridnya sendiri yang bilang susah buat berideal, Pak Adam ini kelewat bermimpi tentang keunggulan tiap-tiap negara, bahwa agak sulit rasanya tiap negara mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri. David Richardo mengkoreksi teori gurunya dengan comparative advantage atau keunggulan komparatif, ini ada pada masalah efisiensi dalam produksi. Ini juga yang bikin masing-masing negara perlu bekerja sama untuk saling memenuhi kebutuhan dengan jalan bekerja sama dengan cara yang menguntungkan. Lebih lengkapnya tentang tulisan ini ada di buku “Principles of Political Economy and Taxation” yang terbit tahun 1817.

    Singkatnya (meski komentar ini masih tetep panjang, he he he), perdebatan ekonom klasik sama ekonom ortodok yang pengen menyamaratakan prinsip-prinsip dasar ekonomi ke dalam paham yang sama, nggak bisa terwujud. Lucunya, dalam setiap rumus ilmu ekonomi, selalu ada elemen “cp” alias ceteris paribus, asalnya dari Bahasa Latin ‘with other things the same’ (dengan hal-hal lain dianggap sama) atau ‘all other things being equal or held constant’ (semua hal-hal lain dianggap sama atau tetap konstan).

    Lagipula, mengingat kenapa Tiger Woods dibayar lebih tinggi dibanding upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia, elemen promosi itu yang mendongkrak harga. Nggak kebayang misal biaya produksi satu buah sepatu Nike yang harganya cuma Rp. 7.500 tapi bisa dijual seharga Rp. 500.000, itu berkat Tiger Woods juga. Kalo tanpa promosi masa cuma dijual Rp 15.000?

    Think smart, not think hard, itu juga kenapa bangsa kita butuh banyak orang pinter, bukan yang minteri, butuh orang-orang yang bisa membungkus dan mengemas produk-produk kita jadi lebih bermutu dan bernilai di dunia internasional. Saat ini saya melihat produk-produk luar itu hanya hebat dari segi kemasan, isinya ya sama aja…

  4. John Pilgers juga mengungkap salah satu investigasinya yg dikasih judul “The Best Democracy Money Can Buy”, ini mengungkapkan bagaimana kebijakan pemerintah Inggris turut ditentukan oleh para pelobi yg dibayar perusahaan2 besar ketimbang kepentingan publik.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: