Home » Indonesia Crisis » The New Rulers of The World (by John Pilger) – Part 2

The New Rulers of The World (by John Pilger) – Part 2

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

[Tulisan ini pernah dimuat pada blog lama saya:
http://fightforfreedom.multiply.com/video/item/26
Posted on Nov 22, ’10 7:18 AM for everyone]

The New Rulers of The World, part 2/2
a Special Report by John Pilger (see: wikipedia)

Film ini adalah hasil Kerjasama Institute for Global Justice (IGJ) & INFID untuk upaya sosialisasi publik dalam mengkritisi globalisasi dan dampaknya terhadap Indonesia. Film ini bercerita tentang globalisasi yang didesain agar menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang diperbudakkan serta utang luar negeri. John Pilgers menyampaikan bahwa inilah era penguasa baru dunia (The New Rulers of the World), khususnya pengaruh bagi sebuah negara: INDONESIA.


John Pilger adalah seorang jurnalis terkemuka dunia berkebangsaan Australia yang bekerja di Inggris. Dari berbagai pengalaman dan menjadi saksi hidup pada berbagai peristiwa yang ia liput, membangkitkan semangat dasar nurani John Pilgers untuk membongkar segala ketidakadilan terutama yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya (termasuk Inggris dan Australia tempat dimana ia lahir dan tinggal).

Video 3/6: Awal Terbukanya Pintu “Holocoust dan Rencana Pengambilalihan Bisnis Indonesia”

Di awal film menjelaskan tentang proses holocoust oleh rezim yang baru berkuasa saat itu, Jenderal Soeharto. Kemudian John Pilger menambahkan:

Diam-diam, Inggris dan Amerika berkonspirasi mendukung Jenderal Soeharto. Duta besar Amerika mengaku bersimpati dan kagum akan “hasil kerja” angkatan darat. Ribuan orang dikumpulkan. Rahasia-rahasia itu, diungkapkan oleh para pejabat Amerika pada saat ini.
CIA memberikan daftar berisi nama 5000 “musuh” dan pejabat kedutaan memastikan nama-nama itu harus dibunuh. Duta besar Inggris menganjurkan: “tembakan kecil demi perubahan yang baik”.

Selanjutnya berisi wawancara John Pilger dg Roland Challis, Koresponden BBC dimasa tahun 1964-1969, tentang kronologi pembantaian awal kekuasaan rejim Soeharto. Sebuah kesaksian yang mencengangkan.

Dilanjut dengan narasi John Pilger:

Media massa Amerika tidak memberitakan tragedi itu sebagai kejahatan kemanusiaan, tapi sebuah peristiwa demi keuntungan ekonomi Barat. Majalah Time menyebutnya: “Balas Dendam dengan senyuman” dan “Berita terbaik Barat selama bertahun-tahun.” Media lain menggambarkan sebagai “Seberkas cahaya redup di Asia”.
Benih globalisasi ditanam di atas genangan darah.

John Pilger menjelaskan kronologi proses perencanaan pengambilalihan bisnis di Indonesia:

Di tahun 1967, perusahaan Timelife mengadakan sebuah konferensi di Swiss yang merencanakan pengambilalihan bisnis Indonesia. Konferensi ini dihadiri oleh para pebisnis besar dan terkuat di dunia, misalnya David Rockefeller. Raksasa kapitalisme Barat diwakili oleh perusahaan minyak, bank, General Motors, British Lyeland, ICI, British American Tobacco, Leman Brothers, American Express, Siemens. Di seberang meja dalam konferensi hadir para pemimpin Indonesia yang dikirim Soeharto.
Bagi dunia bisnis Barat, hal ini merupakan awalan yang baik menuju globalisasi.
Tidak seorangpun berbicara mengenai pembantaian satu juta manusia itu.

Jeffery Winters, Univ.Northwestern, AS menjelaskan bahwa pertemuan itu adalah awal Indonesia menjadi budak bagi negara-negara barat:

Situasi semacam itu belum pernah saya dengar sebelumnya dimanapun ketika pengusaha seluruh dunia bertemu di sebuah negara dan menentukan prasyaratnya untuk masuk ke sebuah negara itu.
Konferensi itu berlangsung tiga hari. Hari pertama wakil Indonesia tampil memberikan uraiannya.
Di hari kedua, mereka membaginya menjadi lima: pertemuan sektoral, pertambangan, jasa makanan, industri ringan, perbankan dan keuangan – Chase Manhattan juga hadir disana.
Kemudian mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu untuk masuk ke setiap sektor. Mereka berkata kepada para pemimpin Indonesia, “inilah yang perlu kami lakukan, ini, ini, ini,..”. Kemudian mereka menyusun infrastruktur hukum untuk kepentingan investasi mereka di Indonesia.

Tentang hal di atas, disampaikan detail pada review buku di sini
Barry Coates, Gerakan Pembangunan Dunia mengatakan:

Hutang sebagai alat kebijakan IMF dan Bank Dunia diterapkan di banyak negara dunia ketiga. Kondisi saat ini adalah negara-negara termiskin sudah berada dalam lingkaran setan kemiskinan. Mereka tidak bisa keluar, bahkan penghapusan hutangpun tidak mampu menyelamatkan mereka dari perangkap kemiskinan. Ini bukan masalah penghapusan hutang karena banyak hutang diberikan di bawah tekanan lembaga-lembaga internasional atau karena kolusi dengan pemerintah yang tidak memihak rakyatnya.

Video 4/6: Berapakah Utang Indonesia sampai saat ini? Bagaimana solusinya?

Narasi John Pilgers:

Dokumen internal Bank Dunia membenarkan bahwa sepertiga pinjaman bank untuk diktator Soeharto masuk ke kantong kroni dan pejabat korup-nya. Totalnya sekitar 80 trilyun rupiah.
Globalisasi berarti modal – uang besar – yang dapat dipindahkan kemana dan kapan saja dengan aman. Tahun 1998, modal jangka pendek tiba-tiba berpindah ke Asia dan hanya dalam semalam mampu melumpuhkan ekonomi Asia.
Seiring dengan krisis ekonomi, Indonesia nyaris terjadi revolusi. Soeharto dipaksa mundur setelah puluhan tahun berhasil mencuri uang 150 trilyun rupiah. Selama lebih dari 30 tahun berkuasa, Soeharto membagikan hasil rampasannya untuk keluarga dan kroninya. Semua jaringan kekuasaan nasional dimiliki mereka. Mulai dari stasiun televisi hingga monopoli angkutan taxi. Bermobil dari bandara Jakarta kita bahkan harus membayar bea jalan tol kepada anak perempuan Soeharto.
Bangunan-bangunan yang belum selesai ini adalah tanda hasil korupsi di Asia kini, yang oleh Bank Dunia disebut-sebut sebagai keajaiban ekonomi.

Jeffrey Winters (Univ Northwestern, AS):

Bank digambarkan sebagai agen pembangunan ekonomi yang memfokuskan diri pada pengurangan kemiskinan. Sebenarnya bank yang beroperasi selama Perang Dingin adalah sebuah lembaga yang mengumpulkan penghasilan rakyat kepada rejim otoriter di negara dunia ketiga yang mendukung Barat dalam Perang Dingin.
Suatu ironi jika Barat yang selama Perang DIngin mengklaim memperjuangkan demokrasi dan membela kebebasan namun kenyataannya menyokong kediktatoran seperti di Indonesia dan juga di seluruh dunia.
Apa yang mereka perbuat adalah memberikan banyak proyek, beberapa memang berguna, namun kebanyakan tidak. Pejabat Indonesia melihat proyek-proyek tersebut adalah kesempatan untuk memperkaya dan hidup mewah. Pencurian yang terakumulasi selama Orde Baru Soeharto, sekitar 3 dekade sebesar 10 milyar dollar dari jumlah keseluruhan sekitar 30 milyar dollar pinjaman luar negeri.
Ketika saya mengatakan kepada auditor umum Bank Dunia, bagaimana jika rakyat Indonesia atau pemerintah menuntut Bank Dunia ke pengadilan dunia untuk mengganti kerugian uang tersebut. Warga negara yang memikul hutang itu kan tidak pernah mendapatkan uang tersebut. Jadi mengapa mereka harus membayar hutang?
Dan jawabnya adalah “Kami bisa bangkrut”.
Kata saya: “Mengapa?”
Dan jawabnya, “Karena ini terjadi di seluruh dunia”.

Selanjutnya John Pilger mewawancarai pimpinan ekonom Bank Dunia, Nicholas Stern, yang seolah-olah berlepas tangan atas kerusakan berbagai sendi negara akibat rejim Soeharto.

Selamat menyimak.

Advertisements

7 Comments

  1. ayanapunya says:

    mengerikan sekali mas. kita sedang tercebur ke kubangan lumpur hidup kyknya

    • Begitulah, mbak Ayana. Masa depan negeri ini sungguh tak menentu, karena meninggalkan borok2 yg semakin menganga, namun ditutup dg plester-plester hutang yg kapan saja siap mengelupas tak mampu menahan lukanya. Fight !

  2. Kacau! Demi Naikkan Gaji PNS, Pemerintah Utangi Dana Pensiun
    Republika: Kamis, 28 Juli 2011 17:43 WIB

    JAKARTA – Demi menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) setiap tahun, Pemerintah diketahui harus mengutang kepada Dana Pensiun dan Tabungan Hari Tua hingga Rp 8,3 triliun. Namun lambatnya kinerja sejumlah lembaga pemerintahan dan kementerian membuat kenaikan gaji tidak seharusnya diberikan.

    Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menilai kebijakan menaikkan gaji PNS sejak 2007 merupakan pemborosan. “Seperti disengaja demi menjaga citra di depan PNS,” tulis Koordinator Investigasi dan Advokasi Fitra, Uchok Sky Khadafi, dalam rilisnya, Kamis (28/7).

    Fitra turut mempertanyakan pertimbangan kenaikan gaji PNS jika merunut pada laporan UKP4 yang mengumumkan bahwa hanya 50 persen instruksi Presiden SBY yang berhasil dijalankan. “Gaji PNS tidak perlu dinaikkan karena banyak instruksi Presiden dan implementasinya sangat lambat dilaksanakan birokrat,” tuturnya.

    Pada 2010, Fitra mengingatkan bahwa utang negara sudah mencapai Rp 1.796 triliun. Jika dibebankan kepada seluruh penduduk Indonesia, maka setiap orang dibebani utang Rp 7,4 juta per kepala per tahun. Fitra mengkritik ketidakmampuan pemerintah mengelola anggaran negara sehingga membebani masyarakat dengan pajak yang semakin tinggi.
    *****

    Demi pencitraan… terpaksa berbohong lagi.

  3. Sejak krisis ekonomi tahun 1997, Indonesia memang terus menerus dibelit oleh utang. Kurang lebih separuh dari anggaran negara adalah untuk pembayaran utang. Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN) yg terbesar dlm satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok & bunga utang hampir 2X lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari separuh penerimaan pajak. Mantabb dahh…

  4. International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) yg mensponsori video ini telah mengingatkan bhw meski rasio utang Indonesia thd PDB mengalami penurunan, namun dalam kenyataannya nominal total utang Indonesia terus meningkat & menjadi beban APBN. Ini artinya, dlm 5 thn ke depan setidaknya setiap tahun Indonesia harus mengalokasikan Rp 100 Triliun untuk pembayaran bunga & cicilan utang. Padahal dlm 5 thn ke depan seharusnya APBN dikonsentrasikan untuk pembiayaan percepatan pencapaian MDGs (Millennium Development Goals) yg hingga sekarang masih berjalan lamban.

    Meski ADB bilang bhw posisi utang luar negeri Indonesia itu gak perlu dikhawatirkan, namun itu kudu disikapi dg kritis. Walau PDB Indonesia tinggi, ternyata gak seluruhnya milik pemerintah Indonesia. Penghitungan PDB di Indonesia masih menyertakan kepemilikan & kekayaan asing di Indonesia. Kita kudu hati-hati dg data 🙂

  5. Bagaimanapun juga hutang memang kudu dicicil dilunasin. Gimana cara bayarnya? mungkin lebih baik begini, yaitu stop berhutang lagi; membayar cicilan dengan memaksimalkan potensi kekayaan alam Indonesia; kemudian harus bikin program penyehatan BUMN, bukan dijual; sistem ekonomi di Indonesia harus dirombak / dirubah dengan basis sistem ekonomi kerakyatan. Stop bikin progroam BLT, kenyataannya setelah melakukan pinjaman uang, lalu bagi-bagi uang (BLT).

  6. Bank Dunia Kasih Utang Baru ke RI US$ 800 Juta
    DetikFinance, 19 Nov 2010.

    Jakarta – Bank Dunia telah menyetujui pinjaman baru untuk dikucurkan kepada Indonesia dengan nilai sebesar US$ 800 juta. Utang ini terdiri dari 2 jenis dengan besaran masing-masing US$ 600 juta dan US$ 200 juta.

    Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle mengatakan, pinjaman ini diberikan untuk mendukung program reformasi di Indonesia.

    “Dalam beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi di Indonesia didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. Tren yang positif ini telah membuat investor internasional melihat potensi yang besar dari Indonesia. Karena itu penting bagi Indonesia untuk terus berbenah secara struktur dan reformasi,” tutur Stefan seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (19/11/2010).

    bla..bla..bla.. isi berita selanjutnya di sini: DetikFinance (19/11/2010).

    ***************

    Hati-hati dengan semua omong kosong si Stefan. utang untuk mendukung program reformasi, mengurangi ketidak-pastian investor, dll itu kongkritnya spt apa, stefi?
    Apapun alasannya… utang tetaplah utang. Padahal menurut AntaraNews, Total utang Pemerintah Indonesia melalui penerbitan obligasi negara sejak 2007 hingga Oktober 2010 sudah mencapai Rp 1.059,26 triliun !!!
    Janji si beye untuk melepaskan negara dari beban Bank DUnia makin jauh dari realisasi.

    Kemajuan dlm bidang ekonomi yg berbasis utang adalah kemajuan ekonomi yg semu krn walau bagaimanapun utang itu harus dikembalikan + bunganya. Utang hanya akan mengakibatkan bencana yg beruntun untuk anak cucu yg terpaksa harus menanggung utang yang sekarang,

    Kita ini jelas kaya sumber daya alam tapi gak dimanfaatkan, duh… Alangkah semakin Lucunya Negeri Ini..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: