Home » Puisi Perlawanan » Takhayul Pembangunan (WS Rendra dkk)

Takhayul Pembangunan (WS Rendra dkk)

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

MASKUMAMBANG
WS Rendra

Kabut fajar menyusup dengan perlahan
Bunga Bintaro berguguran di halaman perpustakaan
Di tepi kolam, di dekat rumpun keladi
aku duduk diatas batu melelehkan airmata

Cucu – cucuku,
zaman macam apa,
peradaban macam apa
yang akan kami wariskan kepada kalian.

Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini,
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi keinginan dan angan-angan

Cucu – cucuku,
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman

Bangsa kita kini
seperti dadu terperangkap di dalam kaleng hutang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa
tanpa kita bisa melawannya.
Semuanya ini terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan di jaman penjajahan.
Tatanan kenegaraan dan tatanan hukum
juga mencontoh tatanan penjajahan
menyebabkan rakyat dan hukum hadir tanpa kedaulatan.
Yang sah berdaulat hanya pemerintah dan partai politik

Oo… comberan peradaban,
Oo… martabat bangsa yang kini compang-camping.
Negara gaduh, bangsa rapuh.
Kekuasaan kekerasan meraja lela.
Pasar dibakar, kampung dibakar,
gubuk-gubuk gelandangan dibongkar
tanpa ada gantinya
semua atas nama tahayul pembangunan.

Restoran dibakar, toko dibakar, gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik
maka erosi agama pasti terjadi
karena politik tidak punya kepala,
tidak punya telinga, tidak punya hati,
politik hanya mengenal kalah dan menang,
kawan dan lawan,
peradaban yang dangkal.

Meskipun hidup berbangsa perlu politik,
tetapi politik
tidak boleh menjamah kemerdekaan iman dan akal
di dalam daulat manusia.
Namun daulat manusia
dalam kewajaran hidup bersama di dunia
harus menjaga daulat hukum alam,
daulat hukum masyarakat
dan daulat hukum akal sehat.

Matahari yang merayap naik dari ufuk timur
telah melampaui pohon dinding,
udara yang ramah menyapa tubuhku
menyebarkan bau bawang yang digoreng di dapur
berdengung sepasang kumbang yang bersenggama di udara.

“Mas Willy”, istriku datang menyapaku
Dia melihat pipiku basah oleh air mata
Aku bangkit tidak berkata
“Ssttt… diam istriku, jangan menangis,
tulis saja, jangan bicara

— 0oo000oo0 —

Puisi “Maskumambang” ini dibawakan WS Rendra pada saat konser Petarung Hidup Sawung Jabo, Surabaya 12 Maret 2009.

Maskumambang merupakan jenis tembang yang mempunyai arti filosofi “jabang bayi / janin yang masih berada di dalam kandungan ibunya, sehingga belum ketahuan jenis kelaminnya, belum ketahuan kapan si jabang bayi itu akan lahir. Kalau kita mau perdalam lagi Maskumambang terdiri dari dua suku kata Mas (Emas) yang berarti barang mulia yang sangat mahal harganya dan tidak semua orang bisa memilikinya, hanya orang – orang “pilihan” yang bisa mendapatkannya. Sementara Kumambang berarti terapung, jadi kalau disimpulkan maskumambang adalah emas yang masih yang masih terapung. Emas yang masih belum berbentuk, perlu kesabaran, dan perawatan untuk mendapatkannya. Sumber: kidungwengi.blogdetik.

Maskumambang miturut Wikipedia Jawa:
Maskumambang iku tembang macapat kang dadi pralambang jaman wong lanang lagi mrambat diwasa, ing mangsa nalika seka bocah nuju dadi manungsa kang katon ing tengahing bebrayan. Tembung maskumambang iku sesambungan antarané emas lan kumambang. Ana kang nganggep yèn Maskumambang iku tembangé wong lanang, déné yèn wadon iku Kinanthi. Watak tembang iki, umumé isiné kaya wong kang lagi sambat lara, ketula-tula, lan sengsara.

Di bawah ini ada lagu “Takhayul Pembangunan” yang merupakan hasil remix Kassaf a.k.a. Kassaf Mashup. Komposisinya menggabungkan lagu “Bongkar” (Iwan Fals & Swami), puisi “Maskumambang” (WS. Rendra) dan hiphop “The Revolutionist” (Guru).



Keduanya, puisi dan lagu, cukup membangkitkan semangat perlawanan melawan penjajahan ekonomi.

Salam hangat dan tetap semangat,
Iwan Yuliyanto

—————————-
Dari blog lamaku: fightforfreedom.multiply.com/music/item/441

Advertisements

11 Comments

  1. […] Pertumbuhan mall – mall baru itu mengingatkan saya pada sebuah puisi WS Rendra yang berjudul “Maskumambang”. […]

  2. fightforfreedom wrote on Dec 19, ’11

    yulidrifaduru said:
    Untunglah ada WS Rendra yang meninggalkan warisan berharga…
    Ya… pemikiran – pemikirannya tentang bangsa ini bisa digali kembali melalui tulisan – tulisannya yg dlm bentuk puisi, cerpen dan esai.

    Hal yg membanggakan adalah ketika pakar sastra negara lain telah melakukan penelitian2 thd karya2 Rendra, seperti:
    Profesor Harry Aveling (pakar sastra dari Australia), telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dlm tulisannya yg berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”.
    Kemudian Profesor Rainer Carle (pakar sastra dari Jerman) juga membuat disertasi yg berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

  3. martoart wrote on Dec 19, ’11

    Postingan yang asyik. Sampeyan nemu aja video keren, lagu bagus, dan ulasan pas ttg Mas Kumambang.
    Beruntung aku pernah berdiskusi semalaman bersama Mas Willy di Bengkel Teater di tahun 1996. Cuma kami berempat (Satu teman cewek dan Asep Zamzam Noer).
    Tahun 2011, berkesempatan mensupport Mbak Ken Zuraida mentasin Mastodon dan Burung Kondor.

    rengganiez wrote on Dec 18, ’11

    rendra selalu berkesan..pertama kali saya nggregeli alias gemeteran ngerjain tugas kuliah wawancara dia…malem2 datangi kampus STSI di Solo, ramah meski menghadapi pertanyaan culun mahasiswa…jadi bermemori

  4. rivenskyatwinda wrote on Dec 18, ’11

    fightforfreedom said:
    Semoga tetap semangat dan optimis untuk sebuah perubahan ya, mbak Winda, meski tantangannya sangat berat.

    Terima kasih Mas Iwan, semakin lama memang tantangannya semakin berat. Dan di tantangan yang berat itulah Allah melihat usaha kita, bukan begitu Mas?
    Saya masih harus banyak belajar, semangat saya seringkali meluntur..

  5. cumakatakata says:

    waw… WS rendra salah satu pujangga yg saya kagumi Mas….

  6. umarfaisol says:

    Miris melihat nasib bangsa ini, kalau dipikir saya sendiripun juga hidup dengan hutang. Mau bagaimana lagi untuk punya rumah terpaksa harus lewat KPR

  7. Dyah Sujiati says:

    Iya, bagus`Pak, puisi serta lagu gubahannya 🙂

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: