Home » Film Dokumenter » Film FOOD, INC [Mengungkap Kejahatan Kemanusiaan Dibalik Industri Makanan]

Film FOOD, INC [Mengungkap Kejahatan Kemanusiaan Dibalik Industri Makanan]

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

food inc

PENGANTAR

Mengapa beberapa waktu lalu pernah terjadi kelangkaan kedelai dan jagung yang membuat para pengusaha tahu, tempe dan pengolahan makanan jagung di Indonesia menghentikan produksinya?
*Selama ini Indonesia bergantung pada impor kedelai dan jagung dari Amerika Serikat (AS). Ketika AS mengalami gagal panen akibat kekeringan, bukan hanya masyarakat di sana yang merasakan akibatnya, tapi juga rakyat Indonesia. Ada prioritas dalam pendistribusian produk hasil panennya, kemana sajakah itu?

Mengapa di negeri ini makin banyak pengusaha peternakan ayam dan sapi yang bermain nakal dan jahat untuk bisa bersaing dengan para pengusaha daging impor?
*Perhatikan banyaknya kasus kejahatan makanan di Indonesia diungkap dalam acara sidik investigasi di televisi.

Mengapa terjadi peningkatan penderita diabetes dan penyakit rawan lainnya seperti kanker dalam satu dekade ini dengan jumlah yang mengkuatirkan? [1]


Untuk mendapatkan pencerahannya, saya rekomendasikan Anda menonton film dokumenter: FOOD, INC.

FOOD, INC adalah sebuah film dokumenter yang mengungkap “kejahatan” dibalik produksi pangan agrikultur berskala besar di AS. Film ini berusaha memberikan kritikan pedas kepada industri besar makanan yang ada di sana dengan didukung banyak data dan fakta mengenai proses yang terjadi dalam industri makanan tersebut. Film ini mengungkap bahwa daging dan sayur mayur yang dihasilkan oleh perusahaan multinasional di sana memiliki banyak dampak bagi masyarakat luas karena makanan tersebut ternyata tidak sehat sehingga berakibat banyak “biaya tersembunyi” setelahnya, selain membahayakan bagi tubuh juga membahayakan lingkungan.

Film yang diproduksi tahun 2008 ini digarap oleh sutradara pemenang Emmy Award Robert Kenner, didasarkan pada laporan investigasi Eric Schllosser, penulis buku “Fast Food Nation”. Film ini menampilkan Michael Pollan dan Eric Schlosser sebagai narator, dua kritikus model pertanian ala pabrik. Film ini tentu saja mendapat perlawanan, terutama dari perusahaan – perusahaan multinasional yang dibahas di dalam film dengan menolak untuk diwawancarai untuk film, termasuk penolakan akses ke pabrik pengolahan milik korporasi multinasional tersebut.

Film yang dibagi dalam enam segmen ini layak mendapat perhatian kita bersama, karena bisa jadi makanan yang kita makan sama parahnya dengan keadaaan makanan di negeri sana.

Sebelum mengulas masing – masing segmen yang saya tempatkan di halaman khusus jurnal ini, dan kemudian ditutup dengan acara nonton bareng di halaman terakhir, mari kita simak reportase dari VOA Indonesia berikut ini:

Lanjut ke hal 2: Pembahasan di setiap segmen film

Advertisements

Pages: 1 2 3 4


108 Comments

  1. riaariesti says:

    hallo pak iwan, terimakasih untuk artikelnya.saya ingin bertanya, saya bisa mendapatkan film nya dimana ya pak? terimakasih

    • Ada di halaman 4 jurnal ini, mbak Ria.
      Silakan klik link-nya. Mudah kok.
      Kalo sudah berhasil download film-nya saya bantu kirim subtitle-nya via email.

  2. melileajogja says:

    Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat untuk gaya hidup sehat kita semua

  3. dani says:

    Mas, minta subtitle food.inc donk. Makasih

  4. Kekejaman Dibalik Industri Daging Amerika

    Gambar-gambar dalam rekaman ini sangat sensitif dan mungkin mengganggu bagi pemirsa seperti halnya bagi kami. Namun, kami harus tunjukkan kebenaran ini dan Tolong bantu sebarkan!

    Apakah pemerintah Indonesia akan mengimpor daging dari negara yang bertindak kejam terhadap hewan ternak seperti ini?

  5. JNYnita says:

    Reblogged this on Jnylink's Blog and commented:
    lihat ini sebelum memutuskan makan fastfood..
    ~(*+﹏+*)~

    • Pernah baca sebuah jurnal, dimana para ahli kesehatan (spesialis kanker) mengatakan bahwa dalam beberapa tahun yang akan datang, kanker bagi umat manusia itu akan seperti penyakit flu. Karena saking banyaknya.

  6. hanajrun says:

    Waduh serem bgt ini Pak… Gak lg2 deh beli fast food (udah jarang bgt sih. Bs dihitung pake jari). Izin share ya Paaak 🙂

    • Bayangin aja ayam yg normalnya butuh 70hari untuk dipanen, itu direkayasa secara teknologi menjadi 47-48 hari saja dan lebih gemuk, dan proses pemotongannya seperti pabrik demi produktivitas yg tinggi.

      Begitu juga dg sapi, yg normalnya makan rumput, dipaksa nelen jagung, proses fabrikasinya juga sama dg ayam, dipercepat tumbuhnya dan gemuk oleh bahan2 kimia. Peternakan itu kini beralih fungsi menjadi manufacture / pabrik.

      Makanya timbul penyakit yg aneh-aneh di masa sekarang ini. Lebih baik kita menghindarinya daripada membayar rumah sakit 🙂

    • hanajrun says:

      mestinya selain sertifikasi halal, juga ada sertifikasi thayyib. pasti restoran cepat saji udah pada gak laku 😀 tapi susahnya di masyarakat kita itu masih banyak yg menganggap yg dari Amerika pasti bagus, termasuk makanan –‘

  7. liem says:

    maksi infox pak, sangat berarti n bermanfaat untuk kita semua, lewat media ini bapak bisa memberikan hal yang sangat berharga. moga ini menjadi keberkahan buat bapak.

  8. Jefry says:

    Makanan yang sehat memang berasal dari dapur kita sendiri
    terima kasih atas info fimlnya, saya mau nonton juga mumpung inet saya lagi bagus2nya..

  9. cumakatakata says:

    wah, perlu donlot ini Mas….
    kpan2 mau langsung intip dan donlot di halaman 4….
    suwun Mas…..

  10. Dulu pernah nonton film dokumenter karya Morgan Spurlock berjudul “Super Size Me”, membuka mata dunia tentang bahayanya makanan cepat saji..

    Sekarang diberitahu Pak Iwan soal film Food. Inc ini. Baru baca dan nonton di sini aja udah ngeri…
    perusahaan besar, bok. >_<

    Apakah karena itu para rakyat kecil (yang terhimpit faktor ekonomi, minim pendidikan dan pengetahuan) melakukan segala cara untuk membuat makanan itu menarik dan laku, karena diajari perusahaan besar semacam itu? #eh

    Sekitar satu dua bulan ini mencoba melakukan diet juga, Pak Iwan. Tapi memang banyakan gagalnya daripada berhasilnya. ahahaha. Bukan diet seperti yang dipikirkan loh, tapi diet untuk memperbanyak makan-makanan organik. Banyakin sayur dan buah dan meminimalisasi gorengan dan mie instan (aku jarang makan fast food tapi mie instan sering…ini juga fast food berarti yah XD). Cobaannya …. berat, ternyata. XD Harus benar-benar telaten. Dan oh, iya, karena pernah dapat ilmu bahwa sekarang memilih buah juga kudu hati-hati karena ada yang disuntik, suka agak lamaan kalau berada di bagian buah-buahan. Ngelihat tanda-tanda ada atau tidaknya suntikan itu. Tapi memang berefek baik untuk tubuh, kalau buah dan sayur itu fresh (tanpa suntikan dsb itu)…

    *panjang ye XD*

    • Panjang gak pa pa, mbak Rana, yg penting sudah berupaya untuk hidup sehat 🙂
      Makin lama (atas pertimbangan kepraktisan) dunia ini banyak dikepung industri cepat saji, apapun bentuknya. Sungguh sangat berbahaya. Dan industri di seluruh dunia ini kalo dirunut ke ujungnya, hanya dikendalikan oleh 4 perusahaan besar, dan mereka satu konglomerasi dg industri media, yg tentu saja melalui media2 tsb mereka jadi mudah memborbardir mind control konsumen di seluruh dunia.

  11. lambangsarib says:

    salam kenal, sekedar singgah untuk mampir dan numpang minum teh,

    • Itu benar-benar kebiasaan yg sehat.. minum teh, gulanya sedikit saja ya, mas 🙂

      Salam kenal juga.

    • lambangsarib says:

      haha…. salam kenal.

      Saya baru belajar menulis dan ngeblog mas. Jadi mesti jadi santri yang baik dan harus konsekwen sbg blog walker.

      Saya berkunjung untuk sekedar membaca dan belajar pada blogger senior. Kunjungan untuk membaca itu diibaratkan numpang “minum teh”.

  12. bensdoing says:

    blm nnton film ini… thx utk infonya !

  13. ainulharits says:

    thank’s infonya… memang kita terlalu tergantung dengan Amerika. Salam kenal dari kota solo…

  14. yei.. sedang dlm tahap download Pak.. kalau ada subtitle veri bahasa, bisa saya unduh dimana ya Pak? ^ ^

    wah wah, memang masalah perut ini menjadi satu hal yang perlu dicetak tebal, dimiringkan bahkan digarisbawahi .. karena kalau sudah masuk ke tubuh kita dan mengalir ke seluruh peredaran darah akan susah untuk mencegah dan mengobatinya.. Makasih ya Pak atas potingannya, moga proses download berhasil. Saya dari dulu memang menghindari sajian fast food, karena kalau diperhatikan kok rasanya kurang halal dan thoyyib gitu.. masak sendiri aja deh dirumah, kalaupun misalnya lagi kepepet ya beli sate kambing atau pop mie.. eh#

    • Rani Zaoldyeck said:
      kalau ada subtitle veri bahasa, bisa saya unduh dimana ya Pak? ^ ^

      Alhamdulillah, barusan kukirim subtitle-nya ke email-mu. Silakan di check ya, mbak.

    • Sudah saya check dan saya coba Pak (baru sepenggal sepenggal tapinya :D)..
      maturnuwun sanget nggih..

    • Nanti di segmen ke-5 dan 6 yg paling mengenaskan, yang berdampak pada ketahanan pangan global, termasuk Indonesia. Bagian itu kudu dicermati dg seksama, karena apa yg dilakukan organisasi laknat itu adalah bagian dari sebuah konspirasi.

  15. chrismanaby says:

    Wihhhh ngeri yahhh, saya nntn reportase tiap weekend aja udah ketir2,…
    mkanya lebih bagus tuh masak sndiri 😀

  16. 'Ne says:

    wow busyeett.. mesti nonton filmnya nih, tapi nyari di mana donk filmnya? apakah ini dikomersilkan?
    makasih infonya mas..

  17. another0rion says:

    lha endinge kok mesthi ndadak mbuffer ta mas? remuk bandwithku

  18. […] Keterangan lebih lengkap tentang film dokumenter ini dapat ditemukan di blog mas Iwan Yuliyanto yang ini […]

  19. karinamumtaz says:

    jadi inget buku “Deadly Mist” tulisan Jerry D. Gray

  20. Meskipun belum nonton filmnya, baca penjelasan mas Iwan sudah bikin merinding setengah mati .. 😦
    jadi ingat hadits ini mas, kayaknya koq di film itu apa yang disebut dalam hadits Nabi SAW yng satu ini kena semua ya

    Rasulullah Saw bersabda: “Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

  21. mengerikan ya Mas, pelan-pelan memberi pengertian pada anak-anak mengenai bahaya makanan instant, bersyukur sekali sekarang saya punya lebih banyak keleluasaan waktu, jadi bisa mengontrol makanan anak-anak
    novel codex, jadi penasaran…., soal depopulation program, sangat masuk akal mengingat bahaya yang ditimbulkan
    bukunya lagi otw, begitu sampai rumah, langsung saya baca

    • Sipp… Saya jadi tidak sabar menunggu review-nya Teh Nuri 🙂

    • bukunya keren juga ya
      sekarang Raihan ikut baca
      sayang sekali, urusan meja makan, kehati-hatian saya bersebrangan dengan abahnya Raihan yang berfikiran sehat itu dari pikiran, hehehe
      syukurlah anak-anak bisa diberi pengertian, sudah saya sampaikan perbedaan ayam di tahun 1950 vs tahun 2005
      kebetulan untuk minuman soda, saya menerapkan aturan yang ketat, dan ternyata Raihan juga sensitif terhadap soda, saat dia mencuri-curi kesempatan meminum soda, akibatnya batuk-batuk yang cukup mengganggu, semoga memberi efek jera
      ada kebetulan lain yang saya syukuri, anak-anak suka kentang goreng, tapi kentang goreng biasa, kentang dari pasar, dikupas, diiris sesuai selera mereka lalu digoreng
      sebetulnya cukup aneh karena begitu dingin kentangnya layu tidak seperti french fries pada umumnya, tapi buat mereka tetap enak…., hehehe
      untuk sayuran dan bumbu, sekarang saya mencoba menanam sedikit-sedikit saja, ada beberapa tanaman di halaman belakang, tanpa insektisida lho….

    • Teh Nuri, ini sharing tips-nya bagus banget. Pasti banyak godaan untuk bisa benar-benar good healthy life. Saya usul sharing singkat ini bisa dikembangkan menjadi sebuah jurnal plus latar belakang review Codex di blognya Teh Nuri. Sebagai bagian dari kampanye hidup sehat.

  22. BuPeb says:

    makin lama koq makin ngeri. serba salah.
    kalau ngeri macem2 ga bisa makan
    kalau ga waspada ya terpapar.

    dan makanan organik kan mahalll T_T

    • Makanan organik memang terlihat mahal, tapi sebenarnya nilai ekonomisnya jauh lebih murah lho. Anggap saja mahalnya itu sbg biaya investasi agar suatu saat nanti gak dipake untuk biaya berobat.

    • BuPeb says:

      hmmm hmmmm… kalau di rumah ada mba prt, ya cekak mas :p
      selada dipasar 2000, di market yg organik bisa 15rb.
      well jauh

    • Memang mahal ya 🙂

      Kalo gitu ambil jalan tengahnya aja, makan masakan yg non organik itu secukupnya, tidak berlebihan. Kemudian minimal mengurangi konsumsi olahan daging ayam, atau daging hewan lainnya yg kita gak tahu asal-usul pengolahannya. Kurangi jajan kuliner yg diragukan metode pengolahannya.

      Saya kalo pengen masak daging ayam, itu beli ayam yg masih hidup di pasar, trus dipotong di sana, sisa dagingnya bisa buat berhari-hari.

  23. enkoos says:

    Aku belum baca sampe tuntas.
    Film ini pernah aku tonton tahun 2010 atau 2011. Lupa pastinya. Tapi yang jelas, film ini aku tonton di kampus sebagai bagian dari tugas riset di mata kuliah ASL (American Sign Language).

    Itu makanya semakin banyak saja orang orang di Amerika yang menjadi vegetarian dan mengkonsumsi makanan organik.

    Saya dan keluarga lebih suka mengkonsumsi makanan organik yang kami beli dari toko Whole Food Co Op. Ini toko koperasi yang menampung panenan para petani lokal di seputar tempat tinggal kami. Lokal dalam artian Duluth dan sekitarnya dalam radius jarak tertentu, sehingga tidak membutuhkan transportasi yang signifiikan.

    Produksi ikan dengan berbagai jenisnya begitu melimpah di Duluth yang lokasinya di pinggir danau Superior, membuat kami begitu dimanja. Gak ada daging ternak, gak bingung. Ikan tersedia setiap saat dengan harga murah hasil panen nelayan setempat.
    Apalagi dengan Menik menjadi pescatarian sekarang ini justru mempermudah pilihan menu bagi kami. Gak harus repot beli daging ternak.

    • Salut tenan aku, sampeyan sekeluarga sudah investasi jangka panjang tentang pola makan yg sehat. Pola makan yg mbak Evia sampaikan itu sudah sesuai dg penutup di bagian film ini, yg aku tulis di halaman 3.

      Sampeyan sekeluarga pescatarian apa cuma Menik?
      Aku sekeluarga juga lagi menata ulang pola makan yg sehat… karena selalu terkendala dg masalah klise, yaitu waktu. Namun demikian memang harus bisa istiqomah.

    • enkoos says:

      Pola makan yg mbak Evia sampaikan itu sudah sesuai dg penutup di bagian film ini, yg aku tulis di halaman 3.
      Iya cak, setelah aku baca sampe tuntas, di bagian penutup ada solusinya. Jauh sebelum menonton film itu aku sudah menjadi pelanggan toko koperasi tsb, bahkan menjadi salah satu membernya. Dengan membayar sejumlah uang keanggotaan (hanya sekali seumur hidup dan jumlahnya relatif sedikit), otomatis kita menjadi salah satu pemilik toko koperasi tsb. Dengan menjadi pemilik toko koperasi tsb, setiap belanjaan mendapat potongan dan pada akhir tahun kita mendapat bonus tambahan.

      Memang kalau dilihat sepintas, barang2 organik yang kita beli lebih mahal dibanding barang2 pabrikan yang bukan organik. Tetapi kita mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, menyehatkan tanah pertanian, hasil makanan juga jauh leibh enak yang organik. Pada akhirnya, makanan organik lebih murah ketimbang makanan prabikan.

      Mengenai makanan organik yang lebih enak ketimbang makanan pabrikan, aku sudah membuktikannya. Salah satu contohnya, setiap pagi saya membuat sendiri jus buah yang isinya apel wortel strawberry anggur. Wortel organik rasanya jauh lebih manis ketimbang yg non organik. Memang fisiknya lebih kecil ketimbang wortel biasa, tapi aku gak butuh rupa.

    • Setuju dg pendpaat sampeyan ini. Jadi, secara nilai ekonomis lebih murah. Seperti komentarku ke mbak Febby, mahalnya makanan organik ini bisa dianggap sbg investasi di masa yg akan datang, agar tidak dipake untuk biaya berobat.

    • enkoos says:

      Sampeyan sekeluarga pescatarian apa cuma Menik?

      Sebetulnya hanya Menik yang pescatarian. Tetapi mau gak mau sekeluarga jadi pescatarian juga. Karena ribet kalau kita masak makanan yang berbeda untuk sekeluarga. Yang satu diet ini, yang lain diet itu. Makanya aku ambil jalan tengah, memasak makanan yang bisa dimakan seluruh anggota keluarga.

      Lagi pula, karena faktor usia dan kesehatan, kami mengurangi konsumsi daging merah.

    • enkoos says:

      Aku sekeluarga juga lagi menata ulang pola makan yg sehat… karena selalu terkendala dg masalah klise, yaitu waktu.

      Maksudnya gimana cak Iwan? Waktu untuk memasak yang sedikit, atau waktu belanja yang mepet atau gimana?

    • enkoos said:
      Maksudnya gimana cak Iwan? Waktu untuk memasak yang sedikit, atau waktu belanja yang mepet atau gimana?

      Maksudku waktu memasak yang sedikit, karena kami sama-sama kerja. Waktu luang bila bersama anak-anak lebih banyak ke arah pendidikan. Namun demikian tetap berusaha menghindari masakan yg instant, dgn selalu bereksplorasi masak sendiri yg gak bikin ribet.
      Kami masih omnivora 😀
      Bila pengen daging ayam, selalu beli di pasar basah, dan beli yg masih hidup trus dipotong di sana. Daging ayam sisanya bisa dibuat berhari-hari, disimpan di kulkas.
      Bila pengen daging kambing, beli daging di tempat tetangga yg jualan sate segar, yg daging kambingnya selalu dlm kondisi segar.
      Itu kalo pengen, dan frekuensinya gak sering, karena sehari-hari lebih di dominasi dg olahan tahu , tempe, telur, kalo pas libur baru masak masakan seafood 🙂

  24. nurulamalee says:

    yah..koneksi kurang mendukung nii….jadi lemot liat reportasenya, bdewe request subtitle ya pak..
    mksh byk ya pak, infonyaa…sangat bermanfaat

    • Jangan kuatir, sudah kutulis detail di halaman 2. Karena bukan film trailer atau misteri, jadi tidak masalah kalo banyak spoiler kusampaikan di sana, dan akan terasa lebih horor kalo bisa melihat film-nya langsung (yg direkam secara candid).

      Reportase dari VOA bagus banget, singkat dan ada perdebatannya dari pihak industri terkait. Kalo koneksi sedikit mendukung ada cuplikan film ini di halaman 2 tentang pabrik daging ayam (durasi cuma 1 menit).

  25. efinfintiana says:

    ayo, kita menanam sendiri aja. 😀

    Tanam jagung.
    Ayo kawan kita bersama
    Menanam jagung di kebun kita
    Ambil cangkulmu ambil pangkurmu
    Kita bekerja tak jemu-jemu
    Cangkul cangkul cangkul yang dalam
    Tanah yang longgar jagung kutanam
    Beri pupuk supaya subur
    Tanamkan benih dengan teratur
    Jagungnya besar lebat buahnya
    Tentu berguna bagi semua
    Cangkul cangkul aku gembira
    Menanam jagung di kebun kita

    • Lagunya komplit… pesannya dalem banget, mbak Efin. Padahal sejak TK kita sudah diajarkan budaya lokal dan arif lewat lagu itu ya.
      Setuju. Yang mampu menanam sendiri, ayo menanam sendiri 🙂

  26. debapirez says:

    komen dulu baru nonton hehe…

  27. elok46 says:

    masyaallah nggak aja ternyata ini sudah dalam tahap skala besar
    padahal aku pikir ini masih tahap kecil

    besok baru bisa buka videonya neh 🙂
    tfs ya mas

    • Kalo di acara John Pantau atau SIGI (Sidik & Investigasi) di teve nasional kita yg jadi pelakunya adalah para pedagang kecil atau paling banter produsen tingkat kabupaten.

      Lha di film ini pelakunya adalah perusahaan multinasional yang jaringannya juga mengakar sampai ke Indonesia. Produk mereka yg berbahaya itu bisa lebih murah dari produknya para pedagang kecil di negeri ini.

    • elok46 says:

      iyaaaaaaaaaaaaaa betol aku pikir ya cuma itu aja mas

      ternyata wes tahap skala besar

      pantesan banyak sekali penyakit aneh bermunculan dan yg parah anak kecil sudah terserang pula
      dulu waktu kuliah sempet belajar beginian seh

  28. butuh pikiran ekstra buat cerna tulisannya Pak Iwan,,

    Allah ‘azza wa jalla udh mengingatkan jauh-jauh hari :

    فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ

    maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (QS 80 : 24)

    saya juga tunggu yg ada subtitle-nya Pak,,
    maklum bukan orang Inggeris,,

    (masih bersyukur karna Madu tidak termasuk yg dijadikan bahan konspirasi pangan global)
    😆

    • فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
      maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (QS 80 : 24)

      Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

  29. wetwetz says:

    Jd inget pernh nntn film dokumenter tentang fastfood yg jahatnya luar biasa bt tubuh..

  30. Dyah Sujiati says:

    Nampaknya itu salah satu pelaksanaan dari depopulation program, ya Pak 😥

  31. ogieurvil says:

    nice post !!! thanx..

  32. Larasati says:

    bacaan yg berat ini pak iwan hehe, salut deh sama pak iwan yg menampilkan disini…film full nya belum larass lihat, koneksi kurang mendukung….

    dari tulisan pak iwan ini, memang sih yah rata2 warga maunya yg super instan dan cepat saji. sodara sodara larass bahkan mgkg larass juga lebih memilih cepat saji walau gak tiap hari sih pak…biasanya kalau pas males masak atau waktu yg mepet. hmmm berarti bisa dibilang yah ayam kentucky itu juga memakai obat yah jadi ayamnya nampak besar dan proses pemasakannya keknya kurang mateng juga, sering menemukan ayam kentucky itu yg masih mentah daging dalamnya, mgkg bukan mentah kali yah atau apa yah yg jelas warnanya kadang masih ada darahnya…

    makasih pak iwan bwt artikelnya

    • Saran saya, sebaiknya kebiasaan makan makanan cepat saji itu dikurangi sedikit demi sedikit, sampai kemudian dihentikan sama sekali. Banyak bahan-bahan kimia di dalamnya untuk bisa memenuhi demand pasar. Kalo tidak bisa berhenti ya makan dg porsi yang sedikit. Kalo pengen lihat cara pengolahannya (lebih tepat kalo disebut pabrik ayam), sudah saya sertakan video singkat di halaman 2 (durasi cuma 1 menit). Coba klik yg gambar ayam. Semoga koneksi mendukung ya, mbak Laras 🙂

    • Larasati says:

      iya neh td lihat tersendat sendat…tp nangkep kok maksud pak iwan dari tulisan ini…emang harus dikurangi yah pak….makasih infonya pak iwan

  33. Ely Meyer says:

    ada 6 segmen ya, jadi pengen nonton semuanya langsung

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: