Home » Film Dokumenter » Film ALKINEMOKIYE, Perjuangan Melawan Penjajahan Freeport di Bumi Papua

Film ALKINEMOKIYE, Perjuangan Melawan Penjajahan Freeport di Bumi Papua

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Film Dokumenter: ALKINEMOKIYE [From Struggle Dawns New Hope]

Film dokumenter berjudul “ALKINEMOKIYE” bercerita tentang perjuangan buruh dan pensiunan PT Freeport Indonesia di Timika, Papua. Nama Alkinemokiye diadopsi dari bahasa asli suku Amungme yang berarti ‘usaha keras demi kehidupan yg lebih baik’ (From Struggle Dawns New Hope). Amungme merupakan suku terbesar di Timika, Papua.

Dalam film ini, dikisahkan tentang sebuah tambang emas terbesar di dunia namun karyawannya sendiri tidak hidup sejahtera, mereka tinggal di rumah berdinding papan kayu dengan jendela tanpa kaca. Tidak heran jika warga di sekitar perusahaan tersebut masih ada yang kelaparan dan kesulitan BBM, bahkan pensiunan karyawannya hanya diberi janji-janji palsu. 15 tahun mereka melawan lewat pengadilan hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa surat pensiun mereka ternyata tidak bisa digunakan untuk mengklaim uang pensiun. Beberapa pensiunan lainnya ada yang pasrah dengan nasib mereka, sampai menggadaikan rumah untuk dijadikan modal usaha, misalnya warung kecil.

Film “Alkinemokiye” banyak memuat informasi ‘panas’. Ditambah lagi dengan beberapa adegan kekerasan, seperti konflik bersenjata antara Polisi vs warga Papua, penembakan mobil-mobil sipil yang melintas, hingga acara deklarasi kemerdekaan rakyat Papua. Sehingga pihak Polda Ubud melarang penayangan film ini dalam acara “Screen Below The Wind Festival” di Ubud, Bali, pada 16 November 2012 lalu. Dan itu belum ditambah kemungkinan adanya instruksi dari beberapa pihak yang merasa ‘gerah’ jika film ini sampai menyebar ke masyarakat luas.[1]

Pelarangan ini dilakukan oleh polisi dari Polda Ubud yang langsung berjaga di sekitar tempat SBWFestival berlangsung. Meskipun keadaan festival film dokumenter se-ASEAN itu sempat menjadi tegang, akhirnya acara bisa dilanjutkan hanya dengan diskusi bersama sutradara film dokumenter Alkinemokiye, Dandhy Dwi Laksono (twitter: @Dandhy_Laksono). Bisa jadi karena kedatangan dan pencekalan polisi juga, Film Alkinemokiye akhirnya menjadi film dokumenter terfavorit dalam acara SBWFest, meski tidak diputar di sana. Simak juga liputannya di TempoTV.

Alhamdulillah sutradara film ini, Dandhy Dwi Laksono, sudah menguploadnya ke Youtube sehingga kita bisa bersama-sama menyaksikan film ini dengan mudah. Mari sejenak kita nonton bareng film ini secara penuh dengan durasi 60 menit 10 detik.



Detail profil film “Alkinemokiye” bisa dilihat pada bagian deskripsi di Youtube. Ayo buruan nonton film ini sebelum benar-benar dicekal oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Beberapa bagian dalam Film Alkinemokiye juga diperkaya dengan sejumlah gambar dan footage-footage dari pekerja PT Freeport sendiri terkait teror dan kekerasan yang terjadi di Timika dan di Abepura, juga dalam Kongres Rakyat Papua III (Oktober 2011). Beberapa fakta yang menarik dalam film Alkinemokiye adalah sebagai berikut:

  • Pada tanggal 15 September 2011, sejumlah 8.000 dari total 22.000 pekerja Freeport Indonesia melakukan aksi mogok menuntut kenaikan upah dari US $3,5/jam sampai US $7,5/jam. Inilah pemogokan kerja terlama dan paling banyak melibatkan karyawan sejak Freeport mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1967.

  • PT Freeport enggan mengabulkan tuntutan kenaikan upah tersebut, malah telah mengeluarkan dana sebesar Rp 711 milyar untuk “uang jasa keamanan” yang diberikan kepada para aparat pemerintah Republik Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

  • Dua tahun sekitar bulan Juli 2009 – November 2011, setidaknya 11 karyawan Freeport dan sub-kontraktor ditembak mati secara misterius oleh para penembak gelap.

PT FREEPORT INDONESIA DAN PARA LINTAH

PT. Freeport Indonesia sendiri adalah sebuah perusahaan pertambangan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg (menurut majalah Mining International), yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

PT Freeport Indonesia adalah satu-satunya korporasi yang menjajah tanah Papua Barat, Indonesia hingga kini. Neo kolonialisme adalah sebutan yang sangat tepat untuk menggambarkan korporasi pengeruk emas terbesar di Indonesia ini yang juga mengeruk kemerdekaan rakyat Papua. Bagian dari kebesaran dan kemegahan Amerika Serikat sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka dari gunung emas di Papua Indonesia.[2] Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat, para jenderal dan politisi busuk negeri ini, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang kekayaan di dalam negara miskin. Mereka tidak lebih baik dari lintah penghisap darah!

Lihatlah tabel Official Gold Reserves[3], Indonesia yang penghasil emas kini cadangan emasnya hanya 3,5%; sedangkan Amerika yg nyedot darah Indonesia cadangan emasnya 76,6%. Menurut logika sederhana saja, seharusnya Indonesia sebagai pemilik gunung emas itu punya banyak emas dalam cadangan devisanya, Namun fakta yang berbicara ternyata benar-benar mengejutkan, bisa dibilang menyedihkan. Dari minimal 300 ton emas yang telah digali Freeport, Indonesia hanya kebagian percikannya saja. Itu pun diduga kuat sebagian besarnya juga telah dikorup oleh para pejabat pusat maupun daerah.

Berdasarkan tabel itu, cadangan emas, yang merupakan aktiva sejati dalam neraca kekayaan kita cuman 73,1 ton atau sejumlah 3.5% dari total valuta asing yang kita miliki. Ini artinya pemerintah Indonesia lebih suka menumpuk valuta asing, terutama US Dollar sebesar 95.5% sebagai simpanan cadangan devisa dibandingkan emas yang sesungguhnya lebih stabil meski tanpa di-hedging. Ini sungguh amat sangat teramat naif sekali, karena US Dollar nilainya sangat fluktuatif dan mudah dinaik-turunkan oleh para spekulan internasional, berbeda dengan simpanan emas. Coba bandingkan dengan negara-negara kapitalis yang dinilai mempraktekkan liberalisme pasar itu malah lebih mempercayakan simpanannya dalam bentuk emas. Amerika Serikat mempunyai cadangan emas lebih dari 8000 ton atau sebesar 76,6% cadangan devisanya.

Sekarang, coba bayangkan keadaan negeri ini di masa yang akan datang, apa yg terjadi sekiranya tiba-tiba nilai US Dollar ambruk ke titik terendah. Maka yang akan selamat hanya negara yang punya cadangan emas besar, mengingat emas adalah aktiva yang paling acceptable untuk ditukarkan dengan komoditas apapun. Sekali lagi, cadangan emas kita CUMA 3,5% saja lho. Banyak di antara kita yang tidak menyadari kalau negeri ini berada diambang kebangkrutan.

Tidak hanya itu, kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan terus memburuk dan menuai protes akibat berbagai pelanggaran hukum dan HAM, dampak lingkungan serta pemiskinan rakyat sekitar tambang. WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) telah mengeluarkan laporan yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran terkini mengenai dampak operasi dan kerusakan lingkungan di sekitar lokasi pertambangan PT Freeport Indonesia. Anda bisa membaca laporan WALHI di sini.

Itulah bukti kekejaman Freeport, selain merampas kekayaan bumi Papua, menyingkirkan masyarakat yang mengganggu, juga merusak alam bumi pertiwi.

Sesungguhnya, dengan melihat pola sistem penjajahan itu saat ini, negeri ini kembali terjajah seperti di masa kolonialisme VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Saat itu VOC menjajah kita lewat para penguasa pribumi. Para penguasa pribumi inilah yang membiarkan bahkan menjaga agar VOC dapat dengan leluasa menguras rempah-rempah dari tanah Nusantara. Kita seakan-akan tidak belajar dari pengalaman pahit masa lampau.

Hal pertanyaan yang mengganjal di kepala saya sampai saat ini adalah:
Mengapa pemerintah Republik Indonesia membiarkan penjajahan Freeport tetap berlangsung di tanah Papua?

Fight For Freedom,
Iwan Yuliyanto
26.11.2012

***************
Referensi:
[1] Kompasiana: Polisi Grebek Pemutaran Film Penembakan Freeport Pada Masyarakat Papua

[2] Thosepeoples.com: America is Built From Indonesia West Papua Gold

[3] Wikipedia: Official Gold Reserves

Advertisements

55 Comments

  1. Kemelaratan bukan saja sebab ekonomi buruk tetapi punya akar di budaya dan peradaban. Hasrat dan daya mampu melestarikan dan mensejahterakan diri merupakan manifestasi peradaban.

    Kegagalan memilih pemimpin bangsa yang hanya petugas partai juga ekspresi budaya dan peradaban.

    Menjual bumi & kekayaan alam kpd asing adalah ekspresi rendahnya peradaban, rendahnya daya survival sebuah bangsa yang itu tdk terjadi di negara-negara “sadar eksistensialisme” semisal USA Inggris, Jepang atau Cina.

    Merampok harta negara sebagai bentuk kesepakatan komunitas untuk mengatur dirinya bukan lagi kejahatan tetapi kebiadaban.

    Kemiskinan2 intelektual, moralitas dan etika, serta kehidupan yang tidak kunjung mampu cerdas memperparah kemelaratan budaya, tidak memungkinkan ada perubahan status sejarah nihilisme keadaban.Tidak akan ada modal humanisme untuk menggerakkan “revolusi mental”. Revolusi mental hanyalah omong kosong tanpa munculnya leadership tokoh2 adiluhung berbudaya agung.

  2. wega says:

    info yg sangat menarik pak Iwan. ijin share.
    konon katanya utang negara ini tidak lebih dari penghasilan PT. Freeport per tahun ya pak??

  3. PPI Belanda tawarkan solusi Papua
    antaranews.com, 26 Februari 2013 06:37 WIB

    London (ANTARA News) – Pemuda dan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda menawarkan solusi terhadap persoalan Papua dengan menggelar acara diskusi yang diadakan di Aula Stichting Generasi Baru (SGB) Utrecht, Minggu.

    Diskusi menghasilkan beberapa rekomendasi diantaranya mengajak para pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita Papua damai. Untuk itu hukum harus ditegakkan secara imparsial di Papua kepada mereka yang tidak ingin Papua damai dan menghindari pendekatan militer.

  4. Talak Buat Freeport Congkak
    merdeka.com, 18 Februari 2013

    Pemerintah meminta renegosiasi kontrak karya itu. Sebab beleid baru tentang pertambangan sudah lahir, yakni Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentan Minerba. Namun Freeport tidak mau mengubah kontrak sesuai akta itu. “Mereka mengancam bakal memperkarakan ke pengadilan arbitrase internasional. Jadi persoalannya lebih pada arogansi kekuasaan. Di sisi lain, pemimpin kita pengecut,” Marwan menegaskan.

    Padahal dampak penambangan terhadap lingkungan juga signifikan. Misal, rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg. Kerusakan lingkungan akibat pertambangan telah mengubah bentang alam seluas 166 kilometer persegi di daerah aliran sungai Ajkwa. Freeport telah membuang tailing dengan kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui sungai itu. Limbah ini telah mencapai pesisir laut Arafura.

    Namun, dari hasil eksploitasi itu, hanya sebagian kecil pendapatan masuk ke kas negara dibanding keuntungan diperoleh perusahaan. Kehadiran Freeport pun tidak mampu menyejahterakan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. Apalagi sejak 1967 hingga 1994 Freeport hanya melapor sebagai penambang tembaga. Baru pada 1995 mereka mengaku menambang emas di Papua.

  5. Tak berdaya hadapi Freeport
    merdeka.com, 18 Februari 2013

    Berangkat dari kinclongnya kinerja Freeport, bagaimana andilnya terhadap Indonesia, negara yang kekayaan alamnya sudah dikeruk hampir setengah abad? Kewajiban Freeport terhadap Indonesia bisa dilihat dari royalti dan dividen. Freeport hanya memberikan royalti satu persen dari hasil penjualan emas dan 3,75 persen masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban terbilang sangat rendah dibanding keuntungan diperoleh Freeport.

    Yang tidak kalah menarik dari keberadaan Freeport di Indonesia adalah sikap pemerintah terhadap perusahaan sudah beroperasi di Indonesia lebih tiga dekade ini. Ketegasan pemerintah seolah setengah hati. Di satu sisi, pemerintah tegas mengejar royalti dan dividen dari Freeport. Namun, di sisi lain, tidak ada ketegasan terkait masa depan kontrak karya Freeport sudah berjalan hampir dua tahun ini.

  6. Merlyn says:

    Bermanfaat sekali post-nya Pak, saya sendiri orang Timika baru tahu….

    Ijin Share di blog Saya http://merline-temorubun.blogspot.com/ , nanti di sertakan sumbernya.

    Anyway…Terimakasih Banyak dan sukses selalu buat Bpak dan Keluarga.

  7. dinasulaeman says:

    TFS pak Iwan… sy udah share di FB 😦
    btw, minta alamat emailnya pak..

  8. Wong Cilik says:

    makasih infonya pak …
    bicara Freeport memang bikin geram … tapi kok ya pemerintah terus membiarkan saja …

  9. daicyzara says:

    kasihan ya negara kita,
    bekas-bekas penjajahan masih berbekas. boleh merdeka, tapi mentalnya tetap mental kuli. yang punya kekayaan siapaa, yang jadi tuan siapa..

    andai saja ada orang seperti evo morales disini.. *berharap

  10. affanibnu says:

    tidak ada freeport, indonesia akan aman..!

  11. anotherorion says:

    kayake terlalu susah ya buat nendang freeport dari tanah papua?

  12. Dyah Sujiati says:

    Pertanyaan yang sama Pak ditambah ‘sampai kapan mau diakhiri?’

    • Mau diakhir gimana… lha Freeport sudah buka ladang baru di Bumi Kalimantan. Kontrak karya Freeport berakhir sampai 2041, masih cukup lama untuk menguras kekayaan sumber daya alam di sana.

  13. Ikakoentjoro says:

    Makasih mas share infonya. Buru-buru nonton nich sebelum dicekal 😀

  14. ogieurvil says:

    Waw.. Manteb banget neh.. Baru tau ada film ini.. Tfs yaa..

  15. Tidak mengherankan apabila Erich Fromm, seorang filsuf dan pakar psikoanalisa dari Jerman pernah bilang “One cannot be deeply responsive to the world without being saddened very often”. ABC TV (25 May 1958)

    Jadi ingat apa kata Z.A. Maulani, mas. Dalam buku Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia, beliau menjelaskan tentang penjualan aset-aset negara oleh para pejabat keuangan. Dalam buku tersebut, ZA Maulani mengutip perkataan Joseph Stiglitz sebagai berikut:

    “Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”. Hal. 199

    10 persen dari uang trilyunan memang bukan jumlah yang kecil. Tidak mengherankan apabila Joseph Stiglitz menyebut program Privatisasi itu sebagai Program Penyuapan.

  16. zehanachda says:

    izin share ya, pak iwan…terima kasih sblmnya…

  17. enkoos says:

    Jangan lupa, Freeport gak cuma menghisap Indonesia tetapi juga di Rep Congo dimana Freeport memiliki tambang juga. Rep. Congo kan juga negara korup.

    Klaim sepihak Freeport, mereka sustainable dan menghargai Human Right lho. Bullshit.
    Ini situs resmi Freeport: http://www.fcx.com.
    Bunyi klaim mereka tentang Human Right.
    http://www.fcx.com/envir/security.htm
    =====
    Freeport-McMoRan does not tolerate human rights transgressions. Our Human Rights Policy requires that we conduct business in a manner consistent with the Universal Declaration of Human Rights, educate and train our employees and protect any workforce member who reports suspected violations.

    Because site and country risks vary, we have established site-specific human rights policies and procedures consistent with the Freeport-McMoRan Human Rights Policy, in-country laws and regulations, and the Voluntary Principles on Security and Human Rights (Voluntary Principles). Our site Human Rights compliance officers oversee compliance and training, as well as a grievance mechanism for reporting, documenting and following up on all human rights allegations that are reported in our areas of operations.

    Human Rights Program Update
    In 2011, with external assistance, we initiated an updated security and human rights risk assessment process in both Indonesia and the DRC. During the year, we also developed a corporate human rights guidance document that will provide operations with detailed expectations regarding implementation of our corporate Human Rights Policy and the Voluntary Principles. This guidance document, which complements the Voluntary Principles Implementation Guidance Tool, will be finalized and rolled out in 2012. Our new Project Development Checklist, further developed in 2011, also incorporates an initial assessment of human rights impacts.

    Freeport-McMoRan has joined a volunteer group of companies to help develop and pilot a set of key performance indicators (KPIs) on Voluntary Principles implementation. We believe that this process will help us to better monitor performance at our sites and drive improvement. We will be piloting the KPIs as part of our 2012 ICMM Sustainable Development Framework assurance process, and providing feedback and input to the volunteer group to further develop and refine the KPI tool.

    ===========

    Pernah baca dimana gitu, kalau Freeport -Mc.Moran adalah perusahaan gurem (kecil) sebelum menancapkan bendera di Papua. Setelah itu jadi raksasa. Kurang ajar ya.

    Berita di sini: http://seekingalpha.com/article/666731-3-big-reasons-to-avoid-freeport-mcmoran, menyebutkan kalau tambang Freeport di Tembaga Pura, Papau New Guinea. Halah..nyebut nama aja gak bener, salah negara pula.

  18. Kalao saya tidak salah ingat, dulu pernah buku Pak Amin Rais tentang Freeport ini, katanya volume tanah ‘bukit emas’ yang dikeruk bisa menutupi terusan Panama…. Bayangkan banyaknya emas kita yang sudah dikeruk Amerika…..

  19. karinamumtaz says:

    america is built from indonesia west papua gold… ckckckck

  20. BuPeb says:

    tag dulu… panjangnyaaaaa

  21. debapirez says:

    wah, saya follower mas Dandhy di twitter. donlod dl ah….

  22. Novi Kurnia says:

    ha… suami kakak sepupuku kerja di freeport (beliau blasteran papua-menado)

  23. tinsyam says:

    coba 711M itu buat membangun papua.. samasama enak deh daripada bayar jasa pengamanan..

    😦

    • Ada prinsip, kejahatan kedua lahir untuk menutupi kejahatan pertama. Kejahatan ketiga lahir untuk menutupi kejahatan kedua. Begitu seterusnya, sehingga sedikit ruang yg tersisa untuk kebaikan, bahkan tidak ada sama sekali.

  24. yang bikin saya heran adalah,,
    sebagian besar kita sering nangis gara2 kehilangan / gak dapet sekeping emas entah olimpiade, asean games, sea games, dsb
    tapi malah lupa sama segunung emas yang ada di Papua,,
    apa itu ya yg dibilang Nasionalisme??

  25. umarfaisol says:

    Terima kasih referensinya,,, mau saya download dulu. Indonesia sejak dulu memang menjadi bulan-bulanan negara asing. Butuh waktu lama untuk berbenah.

  26. ghazwanie says:

    terima kasih udah share pak iwan
    jadi tambah melek nih soal freeport..

  27. genthuk says:

    thanks ya pak sudah sharing, tambah wawasan nih

  28. Ry says:

    Kayaknya dari luar makmur dan sentosa ya, tapi kenyataannya mengeruk pelan-pelan Papua yang cantik ….hiks, miris

    *belum sempet nonton filmnya
    *thanks udh share disini Pak

  29. santipanon says:

    wohooo… GOOD JOB wan, udah bikin resensi dan upload filmnya disini. Lengkap. tar malem nontonnn. eh tapi ngabisini quota ga wan, soalnya mo downloadin file empe nih 😀

    btw, konon apbn paman sam itu sepertiganya dari tambang ini, cmiiw. makanya ga heran para pengusaha sana, dimana disana perekonomiannya sedang krisis, pada ngelirik ke indonesia yg secara perekonomian kita stabil dan cenderung naik. ya salah satunya oom pez itu. gimana ngga, expatriat siapapun itu kalo ngomongnya in linggis di indonesia, pasti di hormat2 sama orang kita, dan mereka jadi pada ngelunjak. balik lagi kayak oom pez itu tuhhhh :))))
    #dendamkesumatmultiply
    #youoranginlander

  30. Larasati says:

    pemerintah ini buta apa pura pura buta yah pak?? aneh banget, indonesia yg kaya alam tapi malah rakyat miskin 😦

    makasih pak film nya, sempat rame yah ini…dan memang bener2 miris

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: