Home » Media & Journalism » Indonesia Menuju Budaya Berbohong

Indonesia Menuju Budaya Berbohong

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Serem amat judulnya.

Ya, tanpa kita sadari bahwa ternyata sikap tak acuh dan tenggelam dalam kesibukan sendiri di rumah itu berpotensi membangun pondasi “budaya bohong dalam keluarga”. Wah, mengerikan sekali kedengarannya, kok bisa sih?

Coba perhatikan materi iklan pariwara di bawah ini yang kini gencar tayang di tengah-tengah acara di beberapa stasiun teve.



Yang gak bisa nge-klik Youtube, transkip-nya seperti ini:

Si B ngobrol dengan si C di dapur.
B : “Rambut kamu bagus ya”
Kemudian si A datang sambil garuk-garuk rambutnya yang kusut.
A : “Tres***e aku mana ya?”
B : “Aku gak lihat”
Si C juga geleng-geleng kepala, pertanda gak tahu.
A : “Aku cari-cari gak ada”
Kemudian si A berlalu untuk terus mencari-cari shampoo-nya. Setelah si A berlalu, si B dengan senyum kemenangan kepada si C menunjukkan shampoo Tres***e yang dicari si A yang disembunyikannya di dalam kitchen set.

Iklan produk yang sama dengan skenario yang sama (sama-sama mengajari berbohong) bisa dilihat juga di sini dan di sana.

Mungkin Andapun juga sudah pernah melihatnya. Nahh… kita bisa masuk golongan pembangun pondasi “budaya bohong dalam keluarga” bila kita membiarkan si kecil buah hati menonton televisi sendirian, tanpa pendampingan dari kita selaku orangtuanya.

Bila pemirsa televisi disuguhi tayangan seperti itu berulang-ulang, maka dalam alam bawah sadarnya akan terpola untuk menerima secara permisif dan menganggap perbuatan bohong adalah hal yang wajar / lumrah. Kalau orang dewasa bisa seperti itu apalagi anak kecil yang masih rawan dalam mengelola pikirannya.

Bila Anda menganggap wajar / biasa-biasa saja perbuatan bohong dalam tayangan iklan di atas, maka subliminal message yang dititipkan dalam tayangan – tayangan sejenis sebelumnya itu berhasil mengenai sasaran. Pola pikir Anda telah terbentuk. Subliminal message adalah pesan-pesan yang disampaikan ke alam bawah sadar seseorang sehingga ia tidak menyadarinya meskipun menerimanya ke dalam otak. Subliminal message ini mampu menyuruh seseorang atau mampu memberikan instruksi yang kemudian dilakukan oleh orang tersebut, tanpa yang bersangkutan sadar dirinya sedang disuruh. Sehingga bagi saya subliminal message itu termasuk sihir.

Subliminal message bukan dilakukan dengan mantra sebagaimana sihir, namun dengan teknik-teknik psikologi rekayasa yang pada dasarnya memanfaatkan teknik-teknik memanipulasi kesadaran. Aktifitas ini dapat dimasukkan ke dalam “mind control” atau pengendalian pikiran dimana di dalamnya termasuk brainwashing, hypnotizing, sihir, dan lain sebagainya. Yang mengkhawatirkan adalah ketika subliminal message digunakan oleh para pembuat film, iklan dan games. Dan lebih mengerikan lagi ternyata kebanyakan subliminal message yang digunakan oleh pihak-pihak ini justru lebih sering mempromosikan hedonisme, pornografi dan kekerasan! Tujuan mereka jelas adalah membentuk budaya kerusakan moral yang luar biasa hingga benar-benar tersesat tanpa sadar.

Sering kita baca berita-berita di media bagaimana anak yang masih belia tega membunuh temannya, membohongi orang tuanya, melakukan pelecehan seksual terhadap teman sebayanya, mencuri, dan kerusakan moral lainnya yang saat melakukannya ia tidak merasa bahwa itu adalah perbuatan dosa! Berbagai contoh kasus ada pada halaman 2 jurnal ini. Ada kekuatan sihir yang masuk dalam alam bawah sadarnya yang sekian lama tumbuh subur (membentuk pola otaknya) melalui tayangan film / teve atau games yang ia mainkan. Sihir, sebagaimana kita ketahui, merupakan sebuah tindakan memanipulasi seseorang sehingga ia mengalami sesuatu, atau melakukan sesuatu, atau membenci sesuatu, atau menyukai sesuatu, tanpa kemauan atau kesadarannya. Dan sublimal message negatif yang diserap oleh anak-anak berpotensi menjadi pintu masuknya penentangan kepada orang tua. Segala hal positif yang disampaikan oleh orangtua akan dianggap bukan lagi sesuatu yang menurutnya baik, sehingga ia berani menentang.

Korupsi besar-besaran atau selingkuh diawali dari kebiasaan berbohong, dan mereka (koruptor & peselingkuh) sudah menjadikan bohong adalah lifestyle.
Maka waspadalah untuk hal-hal yang kelihatannya sepele seperti itu. Jangan sampai (tanpa disadari) kita termasuk golongan orang-orang yang membangun pondasi “budaya bohong dalam keluarga”.

Nabi Ibrahim a.s. yang hanya 3 (tiga) kali “berbohong” dalam hidupnya itu saja menangis memohon ampunan setiap malam. Padahal, sebenarnya kalimat yang telah diucapkan beliau bukanlah sebuah kebohongan, namun merupakan bentuk kalimat diplomatis dalam menghadapi lawan. Itu adalah people skill yang baik. Lantas bagaimana dengan kita? Yang terkadang menganggap berbohong adalah hal sepele. Padahal sudah jelas peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” [QS An-Nahl 16:105]

Jelas bahwa berbohong adalah perilaku orang yang tidak beriman. Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam juga menegaskan haramnya berdusta dan menjadi salah satu tanda orang munafik.

Hidup di era penuh fitnah ini sungguh tidak mudah, khususnya menghadapi fitnah dajjal: yang jelek seolah-olah kelihatan baik, begitu juga sebaliknya. Setiap saat mesti waspada, setiap aspek kehidupan harus kita periksa ulang satu kali, dua kali bahkan berkali-kali untuk memastikan keamanannya dari jeratan fitnah dajjal. Maka mari kita berinvestasi mendampingi si buah hati dalam menyerap informasi melalui media televisi, lagu yang ia dengarkan, buku-buku bacaannya, dan games yang ia mainkan. Mendampingi secara aktif, pancing dengan diskusi. Bukan dengan melarangnya, agar otaknya selalu berkembang karena terus diajak berpikir menambah wawasannya.

Saya pun juga sudah biasa berdiskusi dengan Nana, putri pertama kami yang sudah menginjak kelas 6 SD, berdiskusi tentang lagu-lagu bertema dewasa, bacaan, film-film, dan games. Memberikan kesempatan baginya untuk menikmatinya kalau ia ingin. Bahkan memainkannya bersama. Bukan melarangnya*. Dari situlah tercipta pintu diskusi. Sehingga dengan kesadarannya selanjutnya, ia bisa memilah mana yang sebaiknya ditinggalkan tanpa diminta. Dengan demikian, dia tidak akan dihantui rasa penasaran, mencuri-curi kesempatan, dan mengambil informasi yang keliru (misalnya nanya temannya, ini lebih bahaya). Kami, selaku orangtua, akan berusaha terbuka dengan anak, sehingga sang anak merasa nyaman untuk menjadikannya orangtua sebagai sahabatnya tempat berbagi curhat.

*) kecuali kalo daya rusaknya kelas berat, maka kami akan menyensornya terlebih dahulu

Belajar dari pengalaman nabi Ibrahim a.s. bila kita ingin bercanda, tidak perlu dibumbui dengan berbohong, cukup biasakan menggunakan people skill yang baik, kreatif dalam mengolah kata. Dalam riwayatnya, Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam juga menerapkan hal yang demikian. Tidak mudah memang, karena itu memang perlu latihan dalam mengolah kata-kata. Paling tidak ada upaya dari kita menghindari membangun budaya berbohong.

Silakan saling berbagi wawasan di sini, bila Anda juga menemukan subliminal message yang negatif lainnya dari tayangan film, iklan, dan teve. Tentunya akan sangat banyak ditemui. Termasuk juga lagu-lagu.

Indonesia Menuju Budaya Berbohong.
Mau negeri ini hancur?
Bila tidak mau, …lawan!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
12.01.2013

Simak juga artikel terkait:

———–
[Update]
Protes atas iklan produk Tres***e yang tidak kreatif dan merusak tersebut sudah saya layangkan langsung ke channel youtube-nya dan fanpage facebook-nya. Bila tidak ada respon, maka akan lanjut ke tahap berikutnya, lapor KPI.

Update 15.01.2013:
Iklan tersebut sudah tidak muncul lagi. Diganti dengan tema lain yang tidak mengandung kebohongan.

Advertisements

Pages: 1 2


127 Comments

  1. Anangili says:

    sepertinya bohong sudah menjadi trend…kalo gak bohong gak keren…
    hehe…salam kenal kawan

  2. Mohon jangan tesinggung, setidaknya saya berkata jujurm saya malu jadi orang indonesia

  3. Ahli SEO says:

    saya setuju dengan anda sob,,… iklan di indonesia sudah mulai menipu meskipun itu secara halus… jadi mari intropeksi diri aja jangan terpengaruh iklan yang tidak mendidik.. salam blogger

    • Pada acara untuk anak sering ditayangkan iklan komersial yang tidak ada hubungannya dengan anak. Misalnya, slot iklan film Mega Ranger yang ditayangkan RCTI beberapa waktu lalu, dimunculkan iklan pemutih wajah. Pesan iklan itu, ’hanya mereka yang kulit wajahnya putih yang disebut cantik’. Ini kan ngajarin yg gak benar,.

      Ada juga iklan minuman sari buah yang melarang anak memilih buah asli dan mengatakan sari buah buatan itu jauh lebih baik daripada buah asli karena sudah ditambahkan vitamin lain ke dalamnya.
      Prihatin.

  4. Dewi says:

    Dan yαήğ ngaku partai santun pun ikut memakai kebohongan dalam kampanyenya, bikin akun palsu, pura² akun dibajak, dll…

    Ini buktinya :
    m.kaskus.co.id/thread/52fb1cf559cb17aa088b458b/caleg-pks-hobi-sara-mustofanahra-ketahuan-ngibulnya-gan/

    • mbak Dewi, tulisan dalam link Kaskus tsb kualitasnya rendah sekali, pengisi forum tidak paham makna majas, misalnya: “ditelpon CEO twitter”. Aneh sekali, penulis tidak paham makna majas.

      Di situ disebut ICW bilang hoax, nyatanya ketika saya tantang ICW untuk membuat informasi yang benar justru sampai sekarang tidak bisa membuktikan omongannya ICW sendiri. [baca Tweet ini ya]

      Padalah organisasi kelas dunia yanga da di Jakarta seperti Transparency International telah memuat informasi dari KPK Watch RI. Semoga Anda paham organisasi sebesar apa itu Transparency International.

      http://www.ti.or.id/index.php/news/2014/02/11/indeks-korupsi-parpol-menyedihkan

      Anda mestinya kritis dan curiga, ada apa dengan ICW dan penulis kaskus yang rendah sekali akurasinya.

  5. modernbunda says:

    Menarik..saya pernah menonton bahasan National Geographic tentang otak manusia, mereka membuat percobaan kejujuran, beberapa anak kecil ditaruh diruangan tertutup (ada kamera tersembunyi) dgn kue coklat lezat, dan ditinggal dengan pesan “jangan sentuh”. Hasil 4 dari 5 anak kecil berbohong. Setelah itu ada percobaan2 lain. Intinya secara naluriah otak manusia adalah “otak bohong”, apalagi bila menyangkut kepentingan diri. Tapi manusia juga yang kemudian menciptakan aturan bahwa “bohong itu tidak boleh”, berdasarkan agama, dsb. Bagaimana? 😀

    • Sama halnya dengan pertanyaan kalau babi itu haram mengapa Allah menciptakannya?
      Semua itu adalah ujian keimanan.
      Adanya syariat adalah untuk manusia itu sendiri yaitu terciptanya keteraturan. Bayangkan kalau bohong itu diperbolehkan atau tidak diatur dalam agama, tentu akan tercipta ketidak-teraturan kondisi di masyarakat, seperti: suami tanpa ada perasaan bersalah membohongi istrinya guna kegiatan selingkuhnya aman, pemimpin tanpa ada perasaan bersalah membohongi rakyatnya, dlsb.
      Adanya muncul perasaan bersalah itu adalah “rem”, agar dirinya tidak menciptakan kerusakan pada lingkungannya.
      Jadi, apa yang disyariatkan oleh Allah, sudah pasti terkandung hikmah di dalamnya.

  6. Dari @TVSehat, kultwit berhastag #swasensor

    Demi kebaikan keluarga, masyarakat dan generasi yg akan datang, mari kita budayakan kritis media.

    Untuk melakukan #SwaSensor di rumah, para orangtua harus aktif dan selektif dengan pola konsumsi media TV anak-anaknya. Seringkali orangtua merasa aman jika anak2nya sedang menonton televisi tanpa bimbingan orang dewasa. Padahal, tidak semua isi media atau tontonan televisi patut diasup anak2. 85% tayangan untuk Dewasa.

    Selain kita harus terlibat langsung menyeleksi isi media yang pantas buat anak-anak, kita juga harus tegas. Para orang tua harus tegas membatasi waktu anak-anak saat mengkonsumsi media. Tegas = Cinta. Maksimalnya waktu anak-anak menonton televisi tidak lebih dari 2 jam/hari. Waktu 2 jam sudah lebih dari cukup. Untuk balita, sebaiknya tidak menonton siaran TV, karena akan sangat mempengaruhi perkembangannya.

    Sampai saat ini, pantauan relawan Masyarakat TV Sehat Indonesia, tidak ada media penyiaran yg murni aman utk anak-anak. Masyarakat harus aktif dan peduli terhadap penyiaran sehat, siaran yg bermanfaat dan bermartabat. Masyarakat harus kritis, mengerti cara mereka mengadu & menentukan atau memilih media alternatif yg lebih baik.

    Anak-anak Indonesia memiliki kebiasaan menonton TV paling lama, sekitar 5 jam sehari. Ini merusak dan mengganggu kecerdasannya.

    Cara pandang masyarakat terhadap media yang dulu hanya penikmat harus diubah menjadi pengamat. Kritis !. Jika kesadaran masyarakat lebih peka terhadap media, ini akan ikut menentukan arah media ke depan seperti regulasi & produksi.

    Kita bisa lakukan sensor sendiri dgn #swasensor, bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap media. Masyarakat harus semakin cerdas untuk memahami tujuan media dan bagaimana tentang operasi media.

    Banyak orang-orang media penyiaran melarang anak-anaknya menonton sinetron, kenapa? karena dampaknya negatif.

    Masyarakat harus tahu bagaimana menyikapi media, ada informasi positif didalamnya, namun informasi negatif juga besar. Kita ajak masyarakat untuk memihak pada isi media yang benar atau baik, dan menolak yang tidak baik. Kita ajak masyarakat sadar media, atau minimal kita selamatkan keluarga kita dari dampak buruk media. Upaya sadar media di keluarga adalah untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk isi media.

    Jika masyarakat sadar media, maka dapat menyadarkan pemilik media untuk lebih berat kepada kepentingan masyarakat. Pemilik media ikut bertanggungjawab terhadap baik/buruknya moral dan kehidupan bangsa ini.

    KPI Pusat sedang sosialisasi penyiaran sehat melalui “literasi media”. Mari kita dukung, agar masyarakat sadar media sehat.

  7. Modifikasi Tayangan Anak Bisa Pengaruhi Perilaku
    Tempo.co, 19 Februari 2013

    Sebuah kajian yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa terjadi pengubahan perilaku signifikan pada anak usia 3-5 tahun setelah orang tua mereka mengurangi tayangan yang memaparkan kekerasan dan agresivitas selama enam bulan.

    Para orang tua dalam penelitian tersebut, kemudian memilih untuk menyajikan tayangan berbau pendidikan dan petualangan. Hasilnya sangat bagus, karena pengubahan perilaku bertahan hingga 12 bulan yang membuat anak menjadi lebih berempati, sangat penolong dan perhatian terhadap sesama. Kajian yang dimuat pada jurnal pediatrik, Senin, 18 Februari 2013 tersebut melibatkan 565 orang tua.

  8. karinamumtaz says:

    btw, iklan shampoo itu si cewek 1 bilang “aku nggak liat” ada benernya juga? krn yg dia liat saat dia ngomong itu ya si penanya, laen hal kalo dia bilang “aku nggak tau” berarti bohong… gitu kan? 😀 ah ngeles

    • Beberapa menit sebelumnya, Cewek 1 pegang botol shampoo, kemudian disembunyikannya di dapur.
      Lantas di menit sekarang dia bilang “aku nggak lihat”, maka ya sama juga berlaku bohong, bohong terhadap peristiwa beberapa menit sebelumnya.

  9. Max Manroe says:

    Kurang suka liat iklannya, selain ga mendidik cara penyampaiannya ga jelas maksudnya. Lagian emang bisa ya rambut sampe kribo gitu karna ga pake shampo tertentu, ada-ada aja.

    • Terimakasih telah sependapat. Salam kenal, mas Max Manroe.
      Sepertinya sekarang sudah gak muncul lagi iklan seperti itu, sudah berganti dengan tema lainnya (bukan tema bohong).

  10. lambangsarib says:

    Berbohon sepertinya menjadi budaya anak anak negeri pak. Mungkin kita telah salah dalam mendidik anak anak.

    • Betul, Pak Lambang, anehnya budaya tersebut dilestarikan tanpa sadar melalui berbagai media. Kita pun juga tanpa sadar juga mendukung pelestariannya. Ada baiknya bagi kita untuk segera refleksi.

      Bohong adalah pangkal dari semua kejahatan. Bahkan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam pernah menyampaikan syarat yang mudah untuk masuk Islam kepada seorang kafir Quraisy yaitu “Jangan Berbohong”.

      Silakan Pak Lambang melihat berbagai contoh kasus perilaku kriminal oleh anak-anak SD yang saya sertakan pada halaman 2 jurnal ini. Sungguh mengerikan jenisnya.

  11. ruangimaji says:

    Terima kasih atas tulisan yang perlu direnungkan ini.
    Sebenarnya kebiasaan berbohong sudah dimulai sebelum ada media (elektronik), misalnya saja di rumah. Saat ada tamu yang tidak dikehendaki, ia akan menyuruh anaknya untuk mengatakan bahwa ia sedang tidak di rumah dengan berbagai alasan. Begitu pula saat ada tetangga yang mau pinjam (minta) uang, kadang dijawab sedang tidak ada uang.
    Masih banyak kebohongan lain di sekitar kita. Yang lebih parah tentunya bila kebohongan itu dilakukan oleh para pejabat negara…

  12. simplyndah says:

    gak pernah liat iklan itu, tapi iklan2 lain banyak seperti iklan mie yang bilang “aku ndak punya bapak” itu juga masuk di dalamnya.
    Makasih sudah diingatkan pak, TV di rumah yg sudah 3bulan rusak jadi enggan saya perbaiki

    • Betul, mbak Indah. Ada banyak contoh iklannya kalo mau ngumpulin. Pokoknya sekarang kalo nemu yang aneh-aneh langsung protes saja ke media produksinya dan laporin ke KPI.

      Tentang iklan bohong dan gak bermutu pada salah satu produk Mie S*d*p, saya taruh di sini ya, buat contoh kasus.

    • debapirez says:

      kebetulan salah satu MPers ada yg kerja di KPI yaitu mba Ira (prajurit keciil) 🙂

  13. lieshadie says:

    Memang banyak anehnya tayangan televisi di negeri ini ya Pak, untungnya kami jarang on di TV…selain saya sendiri ga suka menonton televisi, anak – anak kalo sore lebih banyak di mesjid untuk mengaji, pulang sudah setengan 9 malam..lanjut belajar dan bobo

    Cuma si kecilku yang agak suka menonton film kartun dan Si Bolang…

    • Sungguh kebijakan baik yang patut ditiru oleh para keluarga Indonesia.

      Cermat-cermat memilih film kartun, bu, karena film kartun luar banyak disisipi subliminal message yg merusak, mending nonton yg produksi lokal yg banyak memuat unsur edukasinya, contohnya si Bolang (Bocah Petualang), Upin Ipin.

      Oiya, silakan Bu Lieshadie melihat berbagai contoh kasus perilaku kriminal oleh anak-anak SD yg saya sertakan pada halaman 2 jurnal ini. Sungguh mengerikan jenisnya. Itu diawali dari apa yg dilihatnya.

  14. Ely Meyer says:

    Belum pernah lihat iklannya mas
    berbohong itu juga karena kebiasaan ya mas, kalau sudah terbiasa jadi dianggap lumrah

  15. ainulharits says:

    lihat saja nanti 2014, banyak kebohongan diumbar…. ini hanya prediksi, semoga tidak terjadi

  16. Rawins says:

    bener om…
    mungkin itu yang jadi sebab kenapa budaya korupsi dan kroninya ga juga ilang dari negeri ini. orang dari segala sisi kita dicekokin dengan pelajaran berbohong…

    eh iya…
    salam ketemu lagi, om….

  17. onits says:

    setuju berat! mantab tulisan ini mas. utk menyadarkan akan bahaya subliminal msg. banyak org menganggap kekhawatiran beginian ini lebay. tapi, pada kenyataannya, hasil penelitian para ilmuwan menyatakan bahwa subliminal msg berefek pada org dewasa, apalagi pada anak2!

    • Terimakasih, mbak Onit. Seperti yg saya link-kan tentang “Subliminal Message” pada jurnal di atas dari wisegeek.com. Brainwash nya luar biasa, sehingga dipelajari sungguh-sungguh oleh para pengiklan dan ahli marketing untuk meningkatkan penjualan produk.

      Dalam hal efek media televisi, film atau games buat anak-anak, mbak Onit bisa lihat berbagai contoh kasus pada halaman 2 jurnal ini tentang perilaku kriminal oleh anak-anak.

  18. rizalar says:

    saya sebenarnya salah satu orang yang tidak ngefek dengan ide berbong di iklan itu, saya nangkapnya justru kepingin banget teman2nya karena produk itu sangat bagus.

    Tapi karena berbohong itu gak baik dan anak anak cepat menyimpan hal hal baru. so aktivitas berbohong pun harus dihindarkan dari mulai yang terkecil – kalo yg ini disetujui , malah banyak lagi iklan yang menonjolkan kebohongan kebohongan

  19. nurusyainie says:

    Baru tahu ada iklan itu. Gak pernah nonton.

    Hmmm… mungkin bisa melangkah lebih jauh pak Iwan. Kalau cuman level iklannya, kayaknya mereka bisa bikin yang lain ketika iklan tersebut di permasalahkan. Iklan hilang, akan ada iklan lain yang mungkin membawa kisah yang hampir sama. Jadi gak terlalu menyelesaikan masalah.

    Mungkin bisa langsung ke tim kreatifnya. Atau langsung ke sekolah2 broadcast (eh, bener gak nih hehehe…). Biar mereka sadar batasan2 kreatif tanpa harus mengekang kreatifitas itu sendiri. Seperti kejujuran dan budaya timur tak boleh hilang dari proses kreatifitas itu.

    CMIIW

  20. Nadarida says:

    tadinya saya ga notice sama iklan ini tapi share nya mas iwan bikin saya menunggu2 iklan bohong ini …Grrrr, sebgai informasi semua iklan itu emg kebanyakkan bohong, contoh iklan shampoo itu waktu mo shoot iklan rambutnya di catok sampai lurus gitu atau iklan pasta gigi yang ternyata modelnya bleaching gigi sebelum iklan jadiiii kok jd semacam trademark ya :((

    apalagi Tv kita selalu menampilkan outside bukan inside, yang putih, kurus, gigi rata, rambut lurus n bla bla ternyata iklan itu malah mencekek masyarakat utk ramai2 menjadi seperti diiklan … wadoooh

    dah sepatutnya iklan budaya bohong itu disikapi dgn tegas, agar jd pembelajaran berharga utk negri ini …

    sekian komandan 😀

  21. pianochenk says:

    Udah mulai dikurangin nntn tv. Berita taunya dr online, hehe. Lebih cepet. Dulu, sebelum ngantor suka liat berita. Tapi gara ada yg bilang nonton berita pagi2 itu bsa bwa suasana hati bruk seharian (apalg kalo isinya politk ga jelas, gosip artis) jadinya dikurangi.
    Nontonnya skrg beralih ke natgeo (dog whisperer), dan drama korea, hehe.

    • Itu sikap yang baik, mbak Pia. Hal – hal yang buruk itu sudah ada sejak jaman nabi-nabi. Yang terpenting adalah bagaimana otak kita diisi oleh sesuatu yang positif, sehingga membawa semangat dalam menjalani kehidupan di hari itu dan di masa yang akan datang.

      Menikmati acara berita itu penting guna mengasah kepekaan lho, tapi tetap kendali ada di tangan kita untuk mem-filter-nya, seandainya berita politik dan gosip artis bukanlah makanan yang sehat, mbak Pia bisa men-skip-nya, selanjutnya mendapatkan informasi yg sehat di tempat lain.

  22. hanajrun says:

    Waaaahhhh… KERRREEEENNNN banget tulisannya pak Iwan 😀

    sy blm liat en gq bs liat iklannya, tp dari dialognya bnr itu ngajarin kebohongan yaaa. Dan kayaknya bbrp keponakan sy udah jd korban subliminal message –‘

    Klw d rmh sy masih bs kontrol tv d rmh pas keponakan lg pd nonton. Tp klw sdh d rmhny masing2 ga ada daya –‘

    • Saran saya mbak EnJe bantu mengingatkan orangtuanya, mengingat tingkat kejahatan anak-anak sekarang ini makin mengkuatirkan. Hanya orangtuanya yang bisa mengontrol ponakanmu.

    • hanajrun says:

      iya, Pak. saya juga ‘marahin’ kk saya klw anaknya dibiarin sendirian di depan tivi. tapi susah pak kalo mereka gak ngerti bgt –‘

  23. Reblogged this on Didi Sederhana and commented:
    Kembali diingatkan tentang bahaya televisi dan kurangnya komunikasi dalam keluarga

  24. Tulisan yang bagus sekali, ijin reblog Mas….

  25. ternyata sebuah iklan juga bisa mempengaruhi perilaku orang yah,..
    mksi infonya

    • Kekuatan subliminal message banyak digali para pegiat marketing untuk mempengaruhi konsumen, spt pd tulisan wisegeek.com yg saya link di atas.

      Iklan tidak cukup bicara produk, tapi harus ada sesuatu pesan yg ditanamkan di benak orang yg menjadi sasaran / target pengiklan. Misalnya: kulit putih & mulus itu dicitrakan sbg kulit yg lebih baik dari lainnya, sedangkan kulit gelap itu memalukan.

      Bisa dibayangkan bagaimana kemudian perilaku para pemirsa setelah dibombardir dlm otaknya tentang pencitraan kulit.

  26. saya juga heran dengan iklan yang satu ini, kok ngajarin bohong
    tapi pas nonton pertama kali gak ngeh…
    kalau dicermati sungguh-sungguh, memang banyak tayangan TV yang tidak mendidik bahkan mengajarkan keburukan
    itulah kenapa saya gak begitu suka nonton TV

    • Sepanjang hari penduduk Indonesia dibombardir dg sihir pemikiran (lewat iklan di teve, koran, billboard, dll) bahwa kulit putih, kulit mulus bebas bulu, dan sejenisnya adalah golongan yg dianggap lebih baik, plus menawarkan sisi hedonisme-nya… lama-lama banyak otak penduduk Indonesia yg menerimanya dg wajar dan berpacu / bersemangat agar dianggap lebih “mulia”. Terutama pada kaum hawa.

      Sedangkan kaum adam, sihir pemikirannya adalah jantannya para perokok.

  27. tivi itu semacam kotak kebohongan.
    di rumah ada tiga tivi, aku lebih memilih diem di kamar baca buku. =D

  28. oomguru says:

    tapi kalo menurut saya lebih baik bohong daripada bodong..

  29. Badai says:

    subliminal message memang menyeramkan ya mas kalau disalahgunakan *abis nyimak video illuminati di youtube*

  30. syifarah03 says:

    pertama kali melihat iklan tsb, langsung mengernyit, “aneh” saya pikir. hem, tidak inovatif dan kreatif banget 😦
    tfs pak, jadi makin sadar, makin banyak musuh dalam selimut ya.

    • Musuh dalam selimut itu memang tidak kelihatan… apalagi kalo dikemas dg sesuatu yg kelihatannya menarik.
      Mari bentengi keluarga kita masing-masing dg ilmu agama.

  31. Dyah Sujiati says:

    Jadi harus bnyak berintrospeksi diri memang. Terkadang kalau di rumah kalau bercandaan dengan keponakan banyak hal yang keciiiiiiillll sekali tapi mengandung unsur bohong, hiks. Misal spt menyembunyikan mainan dll.

    ya ya ya harus berubah!

  32. […] saja saya membaca artikel bagus dari blognya Pak Iwan berjudul Indonesia Menuju Budaya Bohong. Info dalam tulisan itu penting untuk dibaca karena sangat berpengaruh pada bagaimana kita menjaga […]

  33. dinasulaeman says:

    Pak Iwan, sekedar sharing, stlh baca2 soal mind control (antara lain buku Diary of Dajjal) dan nonton film the Arrival di Youtube, sy dan suami akhirnya memutuskan nggak nonton tivi lagi. Kalau mau nonton film, lewat DVD aja atau di internet (misalnya Reza suka sekali liat Upin Ipin, Bobiboy via youtube). Tentu saja ada ‘kerugian’ krn banyak info bermanfaat juga dari tivi. Tapi masalahnya, kami nggak berani memastikan bhw kami mampu selalu menemani anak nonton tivi (ketika mereka terbiasa nonton tivi, saat kami nggak ada sangat mungkin mrk buka tivi).

    Awalnya berat krn anak2 sudah terlanjur suka tv (saya juga berkorban nggak nonton Mario Teguh, papahnya nggak nonton sepakbola). Lama2 kami jadi terbiasa dan keterbiasaan ini membuat kami tidak lagi menoleh ke tivi (dulu awal2nya kan ada dorongan mencet remote setiap kali nggak ada kerjaan). Trus yg terasa, waktu juga jadi efektif. Anak2 jadi terbiasa mengisi waktu dg membaca atau bikin handycraft atau sekedar ngobrol. Dulu kalau ngobrol, tv nyala, jadinya malah mata ke tv melulu.

    Nonton DVD dan you tube pun ada resikonya krn tetap saja film2 Hollywood kan mengandung mind control; jadi kami berusaha ikut nonton bareng. Tapi minimalnya, enggak ada iklannya.
    eh..panjang juga ya.. cocok juga buat diposting di blog..hehe..

    Btw, sekalian,td sy liat postingan daftar nama mp-er yg pindah ke wp, kok wp sy blm tercantum ya? atau mungkin sy slh liat ya?

    • Terimakasih sharingnya, bu DIna, sungguh patut ditiru.

      Kami masih berjuang keras untuk benar-benar off TV, namun masih bisa tegas seandainya mereka tidak ada yang mendampingi lebih baik TV off. Dan Alhamdulillah, dg kesibukannya mereka yg padat, aktivitas di depan teve jadi teralihkan.

      ***
      Betul, ternyata namanya bu Dina hilang di dalam list, kemungkinan salah meng-copy file terakhir. Minta maaf, sekarang sudah saya perbaiki 🙂

  34. setokdel says:

    sepertinya sudah dari dulu pak kita selalu dibohongi, seperti lagu bintang kecil,

    “bintang kecil dilangit yang biru”

    mana ada langit yang biru, padahal langitnya kan gelap… ckck

    • dinasulaeman says:

      ahaha…lagu ini dikritik sama anak saya Reza (waktu dia usia 5 thn).. “emangnya langit malam2 biru, kan hitam?” akhirnya dia ubah sendiri lagunya 🙂

  35. ~Ra says:

    Aku malah belum pernah lihat iklan yang jujur..

    😀

  36. 'Ne says:

    saya malah belum tahu iklannya pak, saya jarang banget nonton tv.

    tapi bener juga sih kalau nggak didampingi anak-anak bisa menyerap apa yang dia lihat..
    serem juga membayangkan efeknya..

    bagus artikelnya Pak, membantu menyadarkan kita-kita..

    • Intinya kalo gak sanggup mendampingi, lebih baik matiin tipi.

      Sepertinya beberapa hari ini sudah tidak lagi muncul, diganti yg temanya lain. Alhamdulillah 🙂

  37. mintarsih28 says:

    iklan pons juga perlu dicermati juga pak iwan. gara-gara item muka diputus cinta ( terlepas pacaran boleh atau tidak dl islam).

    iklan rokok juga, kenapa iklannya susah panjat tebing, ini juga penyesatan. padahal kenyataaan tertulis rokok bisa menyebabkan impoten dan bla bla bla. dg tayangan yg harus naik panjat tebing jelas menyesatkan. info yg tersirat bahwa merok dpt menyebabkan laki laki kuat, pembrani dll.

    pada pembelajaran ttg iklan saya ajak anak didik saya untuk mencermati iklan yg tidak jujur.

    • Terimakasih masukannya, mbak Mintarsih. Ada baiknya memang dijadikan contoh kasus buat anak-anak didik.

      Jadi pengen bikin postingan khusus ngebahas soal iklan..

  38. Red says:

    yg saya prihatinkan itu sinetron. mungkin iklan durasinya hanya sekian detik, tapi sinetron kejar tayang yang disiarkan setiap hari itu lengkap :

    – kebohongan ada
    – manipulasi ada
    – kelicikan ada

    wah lengkap deh. jadi saran saya sih, kita harus tegas membatasi waktu2 nonbton bagi anak2 dan stop sinetron bagi mereka. Kalo perlu langganan tv cable yang ada tayangan khusus anak2

    • zenstrive says:

      dan orang baik pasti menderita, karena itu jadilah orang jahat

      semacam itu lah 🙂

    • Red says:

      dan penderitaannya itu panjang serta tidak masuk akal banget, selalu tidak berdaya untuk melawan…. gimana sih script writernya

      😀

    • Setuju, bro Red, kalo bisa sekalian bikin petisi memulangkan Punjaabi brother ke negaranya 🙂

    • Red says:

      hehehe tapi mereka memang membuat film2 itu karena demand-nya ada (dan tinggi pula)

      kalo spt suami istri ari sihasale dan nia yang idealis dalam membuat film bermutu… mungkin bukan pilihan mereka yg profit oriented

      jadi kembali pada keluarga ya, benteng pertahanan terakhir

  39. anotherorion says:

    aku ra bakat ngapusi mas, po neh nek nang bojone dewe kok rasane ra tenang ngono

  40. BuPeb says:

    aku belum pernah liat iklannya loh. apa cuma ada di an tv?
    semoga anak2 gw gak nonton deh. soalnya aku sendiri dah juarang nonton tv, apalagi tv indonesia

  41. otezlah says:

    tapi walau bagai mana pun itu hanyalah iklan,

    Tapi gak bagus di liat oleh anak anak atau pun yang pikirannya belum matang entar ikut ikutan wkwkwkwk

    • Jangankan anak-anak, orang dewasapun bisa kena pengaruh sihir, kalo spt itu ditanamkan ke otak berulang-ulang. Simak lagi penjelasan tentang subliminal message & mind control. Jadi, bagi saya bukanlah “hanyalah iklan”.. tapi serangan dlm mengendalikan pikiran.

  42. thetrueideas says:

    duh…mirissss ya mas!

  43. Ikakoentjoro says:

    Sip, salut dengan mas Iwan. Tidak hanya menonton tapi juga mengkritisi dan memprotes. Hik..hik 😦 kebetulan di rumah saya ndak ada TV

  44. niprita says:

    Reblogged this on Portofolio Prita and commented:
    Jangan sampe membenarkan kebohongan Kak, disadari atau tanpa disadari.

  45. Saya baru tahu iklan ini dari tulisan pak Iwan. Kalau anak-anak yang melihat ya mungkin mereka akan terpengaruh juga.

  46. ya, saya juga tidak simpatik dengan iklan produk Tres***e yang versi menyembunyikan shampoo dibalik bantal. Hanya sekali nonton, tapi masih teringat-ingat aja. Iklan kita semakin tolerans dengan hal2 yg tdk baik.

  47. metamocca says:

    Om requestnya udah aq buat 🙂
    http://t.co/cOTcelHo

  48. blom lama bahas masalah kaya gini sama jengshanti, gegara iyog suka lagu one more nightnya maroon5.. daku juga suka lagunya, tapi iyog sebaya nana gitu.. lirik lagunya gimana gitu, radarada..
    dan blom lama juga bahas iklan “terselubung” kaya diceritain m.iwan.. emang kudu awas ya orangtua..

    • Wah… lagu itu bisa membuka pinta diskusi pendidikan sex bagi anak. Sex bukanlah tabu untuk dibicarakan, karena kelak dia akan melewati prosesnya. Santai aja yg penting bisa menjelaskan dampaknya ke anak dg kalimat yg baik / tidak vulgar.

  49. jadi penasaran apa yang dibolehkan oleh nana untuk didenger lagu, ditonton film, juga bacaan dengan rekomentasi bapaknya?
    ponakan daku umur 7 tahun udah lancar nyanyi lagu lady gaga yang gimana gitu liriknya, pun lagu maroon5.. padahal itu lagu untuk orang dewasa, tapi beat-nya bikin kepala goyang riang.. apalagi ponakan daku yang esde, penggemar games.. sering daku dampingin kalu deket mereka dan sharing ini bagusnya gimana, itu jeleknya gimana..
    kebanyak orangtua mereka cuek bebek.. suka heran sendiri.. apa emang gitu biar mereka cepat mengerti?

    • Bersikap (terlalu) possesif gak baik juga menurut saya, bisa membatasi daya pikirnya. Itu berpotensi meningkatkan rasa penasarannya, namun gak mau bertanya pada ortu, yg akhirnya bertanya pada temannya di sekolah yg waktu bertemunya lebih banyak dari orangtua.
      Saya membiasakan sang anak untuk mengambil challenge: “berani meninggalkan kalo merugikan”. Dan terus terang menyampaikan kepadanya: “Kalau ini ayah gak suka, karena bla..bla..bla.. “ Dengan begitu sang anak akan banyak bertanya, kenapa bisa merugikan. Sehingga kita sbg orang tua menjadi dituntut untuk mengetahui informasinya lebih.
      Bukan proses yg singkat / mudah menjadikan orangtua sbg idola anak. Butuh perjuangan + kesabaran. Kalo itu berhasil, maka apa yg orangtua tidak suka, maka sang anak akan ikut tidak menyukainya juga, saking cintanya sama ortu. Bahkan lama-lama dia juga bisa ngerti bahasa tubuh ketidaksukaannya itu.

      Oiya, contoh saya menyikapi sebuah lagu yg liriknya menyesatkan dan gak cocok buat usianya adalah: “ini lagunya bagus, tapi liriknya gak bagus, dan kalo ayah disuruh nyanyi akan malu membawakan lirik yang gak banget itu… coba deh, masak disitu bilang gini: “There’s no religion that could save me” … Nana pasti malu juga kalo teman2mu tahu artinya juga. Iya, khan?! Malah bisa murtad tanpa sadar”

      Mengenai bacaan, sejauh ini belum dapat ujian/cobaan, bacaannya masih sekelas KKPK 🙂

      Mengenai film, kami selalu menontonnya terlebih dahulu, sebelum nonton bareng. Saya masih tidak percaya dg cap rating disampulnya.

      Mengenai acara teve, mending dia punya kesibukan lain, kalo diantara kami gak bisa nemenin nonton. Kecuali yg ditonton adalah bener-bener aman dari perspektif psikologi anak.

  50. Mungkin emang sekilas cerita di iklan tampak lucu, bahwa itu hal yang wajar. Namun ternyata ada nilai yang gak baik (bohong) di cerita itu. Ya… Kita mesti cerdas mendidik anak, agak gak meniru menjadi pembohong.

    • Kalo pengen lucu seharusnya juga tidak memaksakan untuk menggunakan ide cerita dg tema berbohong.
      Saya lihat iklan Tres***e lainnya versi luar negeri di Youtube pada kreatif, gak ngangkat tema bohong. Cuma versi Indonesia saja yg aneh.

    • Udah jadi budaya Indonesia ya, pak…

    • Makanya judulnya saya tulis: “Indonesia Menuju Budaya Berbohong” Sepertinya lebih pas.
      Kalo dulu budaya bohong hanya dimiliki oleh para politisi dan penegak keadilan, sekarang sudah lebih dari itu prosesnya… yaitu milik masyarakat secara luas.

  51. Erit07 says:

    Memang perlu dilawan pak,mga dpat tanggapan pak!

  52. Mengharapkan materi iklan santun dan mendidik masih jauh panggang dari api. Bukannya tidak ada, tapi iklan yang baik itu barang langka! Apalagi kultur orang Indonesia yang membiarkan dirinya ditonton dan dituntun siaran TV, bukannya sebaliknya.
    Sehingga yang dituntut adalah para penonton yang cerdas dan peduli. Artinya, mau mengingatkan penonton yang lain agar tidak tertipu juga, seperti yang dilakukan pak Iwan ini. Sarana pengaduannya bisa ke KPI, http://www.kpi.go.id atau telp 0216340683

    • Memang sudah kebalik sepertinya, karena justru iklan – iklan yg mengobarkan semangat kebersamaan dan membangun, itu kok malah iklan rokok dan partai 🙂

      Terimakasih, bu dokter, materi pengaduan ke KPI sudah disiapkan.

  53. Larasati says:

    pak iwan luar biasa yah….semoga ada tanggapan serius yah pak

  54. javaleste says:

    Postingan yg bagus sekali pak Iwan. tayangan tv memang serem sekali efeknya terutama buat anak2. Memprihatinkan. Bahkan fitnah dajjal pun banyak di tayangan film kartun. Memilah-milahnya tayangan dirumah harus jeli sekali 😦

    • Larasati says:

      kadang saya berpikir, apa yg diharapkan dari para pembuat film dan iklan itu yah dari hasil produksi mereka?? menjual kebobohan?? kebodohan?? sulit juga yah secara media skrg lebih bebas dan bisa dibilang terlalu bebas, hal sepele dibuat heboh hal besar malah diumpetin

    • Ada grand design dibalik program “mind control”.
      Saya masukkan agenda untuk pembahasan khusus kelak.

    • Memang memprihatinkan ya, mbak Atika. Untuk itulah perlu kiranya adanya pendampingan. Bukan dilarang menonton, tapi nonton bareng, kemudian diciptakan diskusi yg aktif.
      Saya lebih memilih teve-nya mati daripada membiarkannya menonton sendirian tanpa pendampingan.

  55. tiarrahman says:

    ada yang menganggap masalah ringan, padahal itu BEURAD!

  56. matahari_terbit says:

    sepakaaat paaak..

    iklan ini ga bangeeet….

    iya, becanda aja ga boleh boong.. *ngaca *duh..

    semoga kritikan pak iwan dapet tindaklanjut dari ntu produk..

  57. Ilham says:

    ah iya agak gimana pas ngeliat iklan ini. mungkin sebenarnya kalo di luar negeri gak begitu masalah. tapi kurang cocok buat konsumsi masy. indonesia.

  58. JNYnita says:

    ah, aku suka disuruh bohong, klo ada telpon bilang Mama gak ada dan sejenisnya…
    hehehe…

  59. Wong Cilik says:

    saya malah baru tahu iklan ini pak … terima kasih sudah diingatkan pk … 😀

  60. Ina says:

    kalimat terakhirnya, hmmmh….. mantap. ada action nyata dari Mas Iwan. setidaknya, tidak diam, tapi melawan sebisanya dengan mengirimkan protes. salut.
    jadi orang tua apalagi anak-anak masih kecil, tugasnya berat nih, karena sedang mengukir batu. jangan sampe yg ada di alam bawah sadar mereka hal2 yang dilarang malah dianggapnya biasa. termasuk saat berbenah juga bagi orang tua karena harus memberi teladan yang benar.

    • Selamat berjuang dalam keluarga, mbak Ina.
      Memang berat tantangannya. Hal-hal yang terbalik kelihatan menyolok di depan mata. Yang jelek dibungkus dengan sesuatu yang baik, sehingga ada penerimaan.
      Yang jelek disampaikan / ditayangkan terus-menerus sehingga (berpotensi) menganggap hal tsb adalah wajar.

      Benteng paling kuat adalah komitmen orang tua, mengasah dan membinanya sebelum terlambat.

  61. metamocca says:

    Setuju Om. Aq juga sebel lihat iklan ini. Kalau pas anak2 lagi nonton, saya selalu diskusi sama mereka.

    “Ih, bohong ya, dek.”
    “Iya.”
    “Kalo bohong boleh gak dek?”
    “Ga boleh… Bla bla bla”

    🙂 tapi tetap saja khawatir mereka meniru nantinya. 😦

    • Nah.. itu tindakan yg benar, mbak Metta, mendampinginya dan memancing anak-anak (Jesiko dan Kayla) untuk menyampaikan pendapat, kemudian mengarahkannya.
      Kebiasaan yang baik ini perlu ditularkan kepada keluarga bloggers lainnya.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: