Home » Film Dokumenter » Film “Di Balik Frekuensi”: Manipulasi Media di Indonesia

Film “Di Balik Frekuensi”: Manipulasi Media di Indonesia

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

"di balik frekuensi"

Setelah membahas “Indonesia Menuju Budaya Berbohong”, kali ini blog FightForFreedom masih membahas seputar media televisi, dengan me-review sebuah film dokumenter tentang media televisi di Indonesia yang telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi pemilik media. Sehingga media televisi di Indonesia saat ini sudah menjadi “Tell Lie Vision”.

Tanah, air dan udara, –merupakan sumber daya yang terbatas dan memiliki nilai yang sangat berharga– harus dikuasai negara dan sebesar-besarnya digunakan untuk kepentingan rakyat. Namun sayangnya di Indonesia, frekuensi publik sebagai kekayaan udara dieksploitasi sedemikian rupa oleh para pemilik media (khususnya televisi), dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan publik. Benar-benar negara ini sudah terbeli!

Setelah reformasi (1998), dengan cepat konglomerasi media menjadi corak industri media di Indonesia dan semakin hari kita menyaksikan pola itu berkembang semakin pesat. Mencengkeram semakin dalam pada sistem operasi media di Indonesia. Ribuan media dengan aneka format baik itu cetak, online, radio, televisi, yang informasinya kita baca, kita lihat dan kita dengar setiap hari ternyata hanya dikendalikan oleh 12 group media saja.

12 group media dengan pemilik yang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri, membanjiri publik dengan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik. 12 grup media itu mengendalikan ribuan media dengan aneka format. Nah, untuk seluruh televisi di negeri ini hanya dimiliki oleh 5 orang saja. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie adalah pemilik TVOne dan ANTV; Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh adalah pemilik MetroTV; Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem Harry Tanoesodibjo (kini telah keluar dari Nasdem) adalah pemilik RCTI, GlobalTV dan MNCTV; Chairul Tanjung adalah pemilik TransTV dan Trans7. Yang akibatnya, televisi menjadi kerap melakukan politisasi dalam sebuah berita antara lain dengan memilih narasumber yang cenderung berpihak kepada mereka. Hanya Eddy Kurnadi Sariaatmadja pemilik SCTV dan Indosiar yang tidak memiliki afiliasi langsung dengan partai politik.

Jelas, masyarakat sebagai konsumen merupakan pihak yang paling dirugikan akibat perilaku media yang menggunakan frekuensi untuk kepentingan pribadi. Kanal-kanal yang seharusnya digunakan untuk memberikan edukasi yang benar justru digunakan oleh pemilik media untuk melawan musuh-musuhnya. Frekuensi publik digunakan untuk kepentingan mereka, aktivitas kegiatan ketua parpol yang sekaligus pemilik media disiarkan selama ber-jam-jam. Tidak hanya pada kemasan berita, tapi juga kemasan lain seperti acara hiburan, talkshow, bahkan running text, “pesan politik” pemilik televisi tersebut disisipkan.

Oligopoli biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan bermodal besar. Saat perusahaan media melakukan oligopoli mereka berdagang melalui frekwensi publik yang tujuannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kenyataannya, bagaimana kondisinya kini? Saya rekomendasikan Anda membaca artikel “Oligopoli Media Sudah pada Tahap Membahayakan”, artikel tersebut menyoroti bahwa tahap kepemilikan media sudah pada tahap membahayakan dimana jurnalis yang dipekerjakan direduksi menjadi pegawai dan bukan penulis kritis, korbannya masyarakat mendapatkan produk berita jualan, bukan produk berkualitas perbaikan hidup mereka.

Isu – isu politik yang kerap ditampilkan dalam pemberitaan memang ada, namun kemudian tidak ada tanggapan berarti karena lagi-lagi isu tersebut berhasil ditutupi dengan baik oleh media. Yang terjadi di Indonesia kurang lebih sama dengan penelitian Noam Chomsky di buku “Politik Kuasa Media” yang mempengaruhi pertelevisian di Amerika.

“DI BALIK FREKUENSI”:
Film Dokumenter Tentang Konglomerasi Media



Fakta-fakta seputar konglomerasi televisi dan kasus-kasus lain soal kepemilikan media inilah kemudian diangkat oleh sutradara muda Ucu Agustin yang bekerja sama dengan Ursula Tumiwa dalam sebuah film dokumenter ‘DI BALIK FREKUENSI’. Film ini mengambil dua tagline sebagai otokritik bagi media, yaitu: “Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!” dan “Media Mengabdi Publik, Tidak Menghamba Pada Pemilik”. Film dokumenter ini mengajak publik untuk melihat apa yang kini tengah terjadi di dunia media di negara kita, khususnya berkenaan dengan media yang menggunakan frekuensi publik sebagai sarananya: televisi. Pemilik media di Indonesia banyak menggunakan frekuensi publik untuk kepentingan bisnis dan politiknya, sehingga pemberitaan televisi berita kerap memihak pemilik media.

Film dokumenter ini merupakan salah satu bagian dari proyek Cipta Media Bersama, sebuah proyek kolaborasi dari organisasi nonprofit Wikimedia, ICT Watch!, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan dukungan Ford Foundation, yang bertujuan untuk membuat masa depan media yang lebih baik di Indonesia. Ini merupakan film dokumenter panjang pertama (berdurasi 2 jam 20 menit) yang berbicara tentang media. Proses riset sudah dimulai sejak 15 Desember 2011, bertepatan dengan dibelinya portal berita Detik.com oleh Trans Corporation.

Film ini mengisahkan tentang jurnalis yang percaya bahwa pekerja media harus Independen, kritis dan sejahtera. Luviana adalah seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di MetroTV sebagai Asisisten Producer News. Luviana dimutasi dari newsroom ke HRD, tapi ia menolak karena ia journalist. Ia kemudian di-PHK sepihak karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi independensi newsroom yang kerap dipakai oleh kepentingan pemilik. Hingga kini, kasus Luviana masih belum ada penyelesaiannya. Anda bisa melihat jejak-jejak aksi perjuangannya melalui blog WordPress-nya tersebut. Banyak hal-hal reflektif dan personal yang ia share selama menjalani dan melalui semua proses yang berkenaan dengan kasusnya melawan Metro TV. Anda juga bisa melihat foto-foto dokumentasinya di WordPress lainnya Dukung Luviana atau twitter @dukungluviana. Silakan sahabat blogger mem-follow blog dan twitter-nya guna update informasi dan memberikan dukungan.

Film ini juga mengisahkan tentang Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Mereka adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong (Sidoarjo) ke Jakarta. Menghabiskan waktu hampir satu bulan demi tekad untuk mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi. Namun kemudian TV One memutarbalikkan pemberitaan tentang kasus Hari Suwandi dan Harto Wiyono. Aksi protes yang di awal tampak sangat menggebu-gebu sehingga menuai banyak simpati ini berakhir dengan antiklimaks yaitu Hari Suwandi mendadak muncul di layar TV One yang menangis, menyesali aksinya dan meminta maaf kepada Aburizal Bakrie. Sungguh aneh, ada apa dibalik semua itu? Kita tahu, Aburizal Bakri adalah nama di balik perusahaan-perusahaan yang menaungi PT Lapindo dan TV One. Apa yang terjadi di balik perubahan sikap drastis Hari yang sebelumnya begitu heroik? [Simak Video Dokumentasinya].

Mari sejenak kita saksikan teaser film dokumenter tersebut di bawah ini:



Film dokumenter ini membawa kita pada perjalanan akan sebuah pencarian terhadap makna:

  1. Untuk siapa media dan pers/jurnalisme itu ada?
  2. Untuk siapa mereka bekerja? Untuk publik ataukah untuk pemilik media?

Diharapkan film dokumenter ini bisa sebagai cermin untuk dapat memperlihatkan kenyataan masa depan sebagai pekerja media dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana media bekerja. Juga sebagai cermin bagi masyarakat umum, cermin ini diharapkan menjadi perubahan sikap dari penerimaan mutlak penayangan-penayangan berita sehingga mereka menjadi lebih awas dalam memilih informasi yang mereka terima.

Dalam catatannya tentang film ini, Ucu Agustin menulis:

Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli. Benarkah itu yang tengah terjadi di dunia media kita di era konglomerasi media pasca reformasi 14 tahun silam?

Film ini telah diputar perdana tadi malam, 24 Januari 2013, di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta. Kemudian akan dilanjut dengan menggelar roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Dalam penjelasannya di official web-nya, pemutaran gratis melalui online ditunda terlebih dahulu karena ada rencana untuk mengikutsertakan film ini ke festival film. Film ini tidak menggunakan hak cipta jadi siapa pun yang mau menonton nantinya bisa menggandakan tanpa harus izin terlebih dahulu. Mereka menggunakan creative common, jadi hak cipta itu ada di tangan publik, sehingga siapapun boleh menggandakan film ini secara gratis asal bukan untuk kepentingan komersial.

Terima kasih buat Ucu Agustin dan tim untuk karya yang luar biasa dan mencerahkan kami ini.

Sebagai penerus bangsa, kita jangan teralur pada sikap menuju kehancuran.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto

***********
Referensi:

Advertisements

124 Comments

  1. Thanks gan, artikelnya, good luck !

  2. […] “Di Balik Frekuensi”, Tentang Manipulasi Media di Indonesia. […]

  3. Jalur Gaza says:

    ijin share kang iwan ??

  4. Ucu Agustin: Iya, Ini Film Pesanan
    Remotivi.or.id | 28.03.2013

    Memang apa yang tidak ada dalam media arus utama, dan apa yang Anda tentang melalui film Anda?

    Misalnya, mereka selalu menjejalkan semua informasi hasil pabrikasi mereka ke penonton. Informasi yang banyak mengandung kepentingan industri, yang menyaru dalam berita, disebar ke masyarakat, sehingga warga tidak pernah akan berhasil menjadi citizen yang aktif dan berdaya. Mereka akan taken for granted. Dan hal itu sengaja dibiarkan. Pembodohan kan? Nggak dicerdaskan. Misalnya, apakah TV menyediakan berita berimbang? Apakah mereka bersedia masangin, misalnya, cut to cut berita tentang lumpur Sidoarjo dengan angle TV One dan berita lumpur Lapindo dengan angle Metro TV? Kan nggak. Nah, hal-hal itu ada di film kami.

    Simak wawancara detailnya di sini.

  5. Tempo masuk pembohong juga Pak? saya baca di http://to.ly/stats/kp8u

  6. Hari – hari Penuh Jargon
    Remotivi, 12 Maret 2013. Oleh Adrian Jonathan Pasaribu.

  7. Kasihan pengamat yang bacaannya cuma televisi yang berpartai.
    Mereka mempertaruhkan ilmunya untuk memenuhi kepentingan dan kepuasan sang politisi pemilik partai.
    Televisi hanya menyerang mereka yang papa, yang tak punya kuasa dan ruang untuk mengeksplorasi diri.
    Politisi dan partai bertelevisi hanya mengutuk kegelapan tanpa memberi secercah lilin untuk masyarakat optimis.
    Televisi yang mengobarkan pesimisme dan kebencian untuk meraup keuntungan diri atas nama keluarga dan partainya.

    Mereka membayangkan dirinya menjadi Presiden yang bisa mengatur segalanya, semaunya.
    Inilah diktator-diktator di era media informasi.
    Mereka menutup bobrok diri dengan mengobarkan kebobrokan orang lain.
    Mereka, para pemilik media berpartai, ingin menyucikan diri dari najis yang terus diperbuatnya.
    Mereka, para pemilik media berpartai, bersolek atas nama rakyat, restorasi, bangsa, di balik busuk kepentingannya.
    Mereka, para pemilik media berpartai, adalah para penumpang gelap demokrasi.
    Mereka, para pemilik media berpartai, memaksimalkan ruang demokrasi untuk meraih kuasa dan kemudian menista.
    Mereka, para pemilik media berpartai, setiap saat membangun benci dengan memanggang informasi atas nama restorasi, demokrasi.

    Demi kebaikan masa depan, mari kita pilih media yang tak berpartai.
    Media berpartai pasti membodohi sebagaimana partai membodohi rakyat.
    Berkampanye di luar masa kampanye adalah bentuk paling nyata pembodohan dan pelanggaran etika.
    Apa yang bisa diharapkan dari mereka, bila belum berkuasa sudah main kuasa dan penerabas etika.
    Mari RESTORASI Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Hary Tanoe and the gang. Kembali ke semula; Siapa MEREKA!

    @cuapolitik, 4/3/2013

  8. Tulisannya benar-benar memudahkan pembaca mengetahui fakta.

    Maaf mas, boleh saya minta rekomendasi siapa saja jurnalis-jurnalis yang independen? Agar saya tahu ke siapa saya harus mengakses informasi berimbang. Bila tidak dapat disampaikan di sini, bisa diemailkan ke airell.t@gmail.com.

    Terima kasih banyak.

  9. Simak wawancara Luviana dengan Remotivi
    Luviana: Jurnalis harus sadar bahwa mereka adalah kelas buruh

    “Saya pencari FAKTA, bukan penyebar PETAKA” (Luviana)

  10. Dari Acara Wimar Show 14 Februari 2013.

    “Jadi yang salah ada pada sejak lapisan mana?”
    “Sejak dari tak ter-implementasinya Undang-Undang. Harusnya, frekuensi dikembalikan ke negara, lalu dilelang ke publik dan tidak langsung serta merta ikut terbeli oleh pemilik saham baru andai pemilik televisi yang lama, bangkrut. Ada hak publik di sana”.

    Mari kita tonton WimarShow bersama Ucu Agustin:
    Segmen 1Segmen 2Segmen 3Segmen 4

    Wimar Show: Radar TV 60 UHF. Senin-Kamis, 18.30-19.00 WIB.

  11. […] melanjutkan pembahasan tentang media di Indonesia, yang sebelumnya telah saya sampaikan di jurnal: Film “Di Balik Frekuensi” – Manipulasi Media di Indonesia. Pembahasan kali ini lebih menitik beratkan pada contoh kasus penyesatan opini oleh media dan […]

  12. Oligopoli Bisnis Stasiun Televisi
    merdeka.com, 21 Februari 2013

    Satu bulan terakhir ini, isu pembelian televisi tvOne dan antv, menyeruak pada publik setelah Surya Paloh yang juga pemilik Metro TV mengungkapkannya pada publik. Bukan hanya itu saja, sejak dua tahun lalu, penyatuan SCTV dan Indonesia menjadi perdebatan hangat, setelah sebelumnya TPI, RCTI dan Global TV bersatu dalam group MNC milik Hary Tanoesoedibjo.

  13. HT sang owner MNC telah berlabuh di Hanura dan sudah memberikan welcome speechnya : akan membuat serbuan darat dan udara…Negeri ini sudah dalam kondisi sakit akut yang membutuhkan perawatan ICU

  14. boesta says:

    Full Film Dokumenternya belum diputar ya pak? saya penasaran dengan cerita Hari Suwandi dan Harto Wiyono karena saya termasuk salah satu orang yang bersimpati ketika melihat berita mereka berjuang, dan Miris sekali ketika tau-tau muncul distudio TV1.

  15. Selamat Hari Pers Nasional!

  16. pak iwan, baru tadi pagi tertanggal 04 februari Kompas tivi menayangkan tentang hal ini..

    • Terimakasih infonya, mbak Ulfah. Nanti saya taruh link kompastv (kalo ada) tentang tayangan tersebut.

      Media memasuki era industri kapital seperti sekarang ini. Banyak pelacur-pelacur berkeliaran. Menjual informasi.
      Media butuh info, orang butuh uang. Sehingga terjadilah jual beli informasi.

  17. diena says:

    Media yg penuh rekayasa…. Media d dunia juga dikuasai oleh 5 besar Warner, Sony, Disney, dkk

    • Betul, mbak Dina. Saya mulai membahas pelan-pelan serial “Melawan Penyesatan Opini Media” setelah postingan ini. Ruang lingkupnya masih media-media di Indonesia, menyusul tentang media global.

      “Whoever controls the media, controls the mind!”
      -Jim Morrison-

  18. katacamar says:

    salam kenal pak iwan,
    postingane jenengan mudah2an mencerahkan kita semua, untuk tidak menelan mentah2 suatu berita dan membebek membunyikan ulang berita yang belum direcek…
    mari kita kritis, dan komen secara proporsional ……

    • Salam kenal juga, mas Camar.
      Benar, berkomentar secara proporsional, untuk tidak mudah membenci secara membabi buta thd apa yg disampaikan dlm berita, karena isinya sudah bias, dan kadang jauh dari kenyataan. Yang menulis berita sudah terbeli soalnya.

  19. Iya pak, banyak kok jurnalis senior yang memang karena idealis dengan berita yang “benar” keluar jadi jurnalis lepas. Saya benar-benar menghargai perjuangan mereka. 🙂

    Lalu jika seperti ini, apa bedannya dengan pra reformasi? :mrgreen:

  20. Di Koran Tempo lembar seni budaya hari ini (31 Januari 2013) “Borok Di Balik Televisi” http://lockerz.com/s/280440150

  21. Rawins says:

    memang bener kui mas
    dulu dibungkam sekarang dibeli
    dulu dipake alat departemen penerangan sekarang dipake alat penggelapan
    makane anak anak tak jauhin dari tipi
    hiburane aku donlotin dari yutub wae diputer pake proyektor…

  22. nyonyasepatu says:

    mas bagus banget tulisan ini, jadi ngeh macem2 deh :). thanks for sharing ya

  23. DOLBYVIT says:

    bagus banget deh artikelnya….
    dan bener banget tidak semua media televisi itu menayangkan hal yang baik” dan terkadang banyak berita yang tidak sesuai dengan kenyataannya 😀

  24. Jadi hopeless rasanya kalau media yang menguasai masyarakat banyak macam ini sudah distir segelintir orang yang berkekuatan politik. apa solusinya mas Iwan ?

    • Solusinya cukup berat, krn sejak awal tipi-tipi itu udah dimiliki mereka yg pengen berkuasa di engeri ini. Mereka bangun media untuk pencitraannya dan menghancurkan lawan-lawannya. Dan itu efektif bagi mereka.

      Saat ini para jurnalis independen yg tergabung dlm AJI memberikan edukasi publik soal ini. Ini baru langkah awal. Solusi kecil, step-by-step.

  25. Max Manroe says:

    Tulisannya sangat menarik. Terus terang saya agak malas kalo nonton acara TV lokal, isinya sering bikin saya pusing dan mood jadi jelek. Banyak informasi dari berita-berita (terutama politik dan hukum) yang diragukan kebenarannya, dan acara sinetron nya itu lho ampuuuun dah. Saya bukannya ga cinta Indonesia, tapi untuk urusan nonton TV saya lebih suka nonton acara dari luar.

  26. kasamago says:

    yah begitulah keadannya, ironis emng.. media udah jadi senjata mematikan yg dikendalikan segelintir orang “berbahaya”.
    smg presiden k 7 mendatang, bkn berasal dari raja2 media neolib, serta mampu mengendalikan ancaman media dan aturan yang tegas.

    nice article..

  27. Wong Cilik says:

    rasanya sebagian pemilik media ini memakai medianya untuk kepentingan politik, terutama ya dua itu …

  28. lambangsarib says:

    Kalau hari ini kita melihat Metro TV itu corongnya Nasdem. Kalau hari ini kita melihat TV One, maka seolah dibawa kembali ke jaman Orde Baru degan propagandan Golkar.

    Dan kini kita berharap cemas, kemanakah MNC mau berlabuh…..

    Untunglah saat ini hadir media sosial sebagai penyeimbang, diantaranya adalah kicauan di twitter yang tidak bisa dibeli. Pernah dicoba menggunakan akun @triomacan2000 dan @bennyisrael, tapi mereka ramai ramai di bully.

    Semoga blogger dan masyarakat twitterland bisa konsisten untuk tetap sebagai media penyeimbang, untuk melawan hegemoni mainstream.

  29. Titik Asa says:

    Saya bukan ahli ilmu komunikasi, tp baca postingan ini jadi teringat istilah, kalo gak salah, second hand reality, realitas bekas, realitas usang. Aritinya realitas yg disampaikan setelah dikemas, diolah dan dibumbui dengan aspek2 kepentingan disana. Begitu mungkin atas realita-realita yg kita peroleh selama ini baik dari tv atau media berita lainnya.
    Ah, sekali lagi sy bukan ahli komunikasi, Jadi sangat mungkin apa yg saya tulis di komentar ini tidak benar adanya.
    Terima kasih atas sharingnya Mas.
    Salam,

  30. hanajrun says:

    wow… kek biasa. tulisannya Pak Iwan cetarrr! mencerahkan. thx Pak 😀

  31. Beberapa waktu lalu saya sempat nonton berita mengenai demontrasi terkait Luviana yang di PHK dari Metro Tv, setelah saya membaca tulisan pak Iwan saya mengerti alasan pemecatan tsb. Saya hanya sesekali menonton tv Indonesia, parah juga ternyata media sudah bermain dalam politik.

    • Kalo yang menyiarkan Metro TV (dimana tempat Luviana bekerja) akan jelas keberpihakannya, sehingga mengandung penyesatan opini. Ini terbukti banyak yg ramai berkicau di twitter meng-counter isi beritanya.

      Kalo media-media besar sudah ditunggangi kepentingan pemilik, maka kita seperti hidup di tengah-tengah lautan fitnah. Kebohongan dalam televisi, akan didukung dg media-media lainnya dalam lingkaran konglomerasinya.

    • Ooo begitu ya pak. Saya lupa nonton di metro atau saluran lain. Tengah malam wib pak, jadi saya pindah2 stl selesai siaran berita di satu saluran pindah ke lainnya.

  32. barusan saya denger di ceramah ustadznya bilang ngutip dari Taufik Ismail “satu hal yang tidak diajarkan TV adalah cara mematikannya”

    kalo blh dikasih tau Pak link2 jurnalis independent itu??

    • Jurnalis independen itu biasanya suka kultwit sidik investigasinya. Habis kultwit mereka create story-nya di chirpstory.com
      Mas Dinar lihat aja profile-nya yang nge-kultwit itu, kalo disitu ada alamat blognya silakan difollow untuk mendapatkan update berita-berita terhangat.

      Kalo melihat data di sini, sudah ada ribuan jurnalis independen yang tersebar di seluruh Indonesia, mereka biasa menulis di blog dan nge-kultwit.

      Contoh salah satu jurnalis independen adalah Mas Cahyono Adi.

      Namun demikian sikap tabayyun, check & re-check jangan sampai lupa.

  33. Teguh Puja says:

    Di satu sisi, media di TV juga sudah terpolitisasi mas, ya karena memang media akhirnya tergerak berdasarkan kepentingan-kepentingan beberapa pihak saja.

    Di sisi lain,bila berbicara media lain seperti twitter, terkadang kalau tidak di-filter dengan baik oleh kita sebagai penerima berita, bisa juga menjadi masalah baru. Karena ya, di twitter, subjektivitas pemberi “berita” itu terkadang tercampur begitu saja dengan muatan nilai yang ingin diberitakan.

    Bagaimana pun, plus minus media massa, media di TV, dan dari media microblogging seperti twitter, tetap harus dibarengi filter yang baik dari kita. Agar tidak menjadikan masalah yang ada menjadi kian membesar.

    Tulisan yang menarik Mas Iwan. 🙂

    • Setuju sekali, Mas Teguh.
      Alhamdulillah, kita telah dikaruniai akal untuk pandai mem-filter & check & re-check segala informasi yang masuk.

      Pemilik media cenderung menjadikan isi media sbg komoditi, dan menjadikan warga hanya sbg konsumen. Dampak monopoli ini dpt ditekan apabila kita (warga) menyadari hak-hak dalam bermedia. Yaitu dengan memperjuangkannya untuk tidak bergantung informasi pada media tersebut, atau dengan cara melawan / mengcounter informasinya, dengan demikian masyarakat yang mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang benar akan teredukasi untuk bersikap.

      Lama-lama media licik tersebut akan ditinggalkan para pengiklannya karena ratingnya turun.

    • Teguh Puja says:

      Bukan hal aneh mas kalau akhirnya sekarang, blow up media untuk masalah-masalah tertentu seakan-akan dijadikan ujung tombak untuk “kejayaan” media mereka.

      Meski seperti yang mas Iwan utarakan di akhir, ketika akhirnya kita sebagai “penerima” mulai menjadi lebih pintar dan selektif, kemungkinan meninggalkan media-media itu bukan lagi hal yang mustahil.

  34. JNYnita says:

    lebih indah hidup tanpa TV mas… 🙂

  35. rahmabalcı says:

    alasan yg membuat semakin malas nonton TV indonesia lagi, terakhir liat dr internet krn kasus banjir aja:) emang enakan cek di twitter:)

  36. kayrena says:

    Thanks Mas Iwan. Kool tulisannya. Saya mau nonton ini gimana caranya yah? Hmmmn

  37. Sovia says:

    Ayo, nonton RodjaTV..! 🙂

  38. Larasati says:

    dimana mana dikuasai politik yg gak sehat….

    • Peluang bagi kita untuk membikinnya menjadi sehat 🙂

      Goresan-goresannya Luviana bagus-bagus tuh… mewakili jiwa-jiwa yang tertindas, monggo di follow. Melawan media dg senjata fitnah massal bukanlah sesuatu yg mudah, perlu jiwa-jiwa pemberani, tercermin dalam perjuangan Luviana.

    • Larasati says:

      iya sudah larass baca pak dan udah langsung follow….dalam kata2nya apalagi yg soal tradisi…makasih pak iwan tulisan ini nya

  39. tinsyam says:

    senang deh bacanya.. jadi punya referensi soal berita.. ga melulu berita itu benar, udah konspirasi aja berita belakangan ini.. butuh orang cerdas kaya m.iwan dengan blog..
    ehtapi tuiter juga ga selalu benar kan beritanya..

    pernah dulu ada yang bilang.. penguasa dunia itu penguasa media.. didukung media..

  40. anotherorion says:

    sik cetha sik paling njijiki ki MetroTV feat Nasdem mas, najis deh ndelok berita2ne nasdem apalagi iklannya gerakan perubahan

    seko penjual sayur jadi penjual partai, padake aku doyan mangan partai po???? bullshit lah

  41. zehanachda says:

    Alhamdulillah ada tulisan ini dr Pak iwan. Sudah lama saya ‘eneg’ dengan subjektifitas dan penggiringan opini yg dilakukan oleh media2. Sudah lama juga akhirnya saya stop nonton berita2 di tv. seharusnya berita tv itu mencerdaskan tp saya kok merasanya dibodoh2in ya. Izin share ya, pak. Makasih sblmnya.

    • Silakan share, Bunda Zehan, dengan senang hati. Semoga bermanfaat buat yg lainnya, terutama pengambilan sikap sbg warga dlm mendapatkan informasi, menyadari hak-hak bermedia. Sehingga imbas monopoli ini bisa ditekan.

  42. felis catus says:

    Oh ya mas Iwan, mungkin mas Iwan sudah pernah baca, tapi kali aja ada pengunjung blog ini yg belum. Ada laporan peneltitian tentang media di indonesia yg dipublikasikan thn 2012 kemarin, isinya kurang lebih tentang pengerucutan kepemilikan media informasi di indonesia. Imbasnya yah ke kebebasan informasi. Link-nya ini : https://www.escholar.manchester.ac.uk/api/datastream?publicationPid=uk-ac-man-scw:168567&datastreamId=FULL-TEXT.PDF.

    • Terimakasih sharing laporannya di sini, mbak Indres, lengkap banget. Iya, dulu saya juga pernah membacanya, awalnya dapat info dari Koran Tempo.

      Diagram pada hal 85 menggambarkan bagaimana reformasi politik di Indonesia yg melahirkan kebebasan itu berpengaruh pd industri media.

      Kemudian pada hal 54 tentang oligopoli media. Perkembangan industri media di Indonesia pasca reformasi mencerminkan kepentingan modal dan logika akumulasi laba yg mengakibatkan oligopoli dan konsentrasi kepemilikan media. Dari tabel itu kita bisa melihat bagaimana media2 yg dimiliki oleh segelintir orang itu kemudian berkembang, membentuk grup2 dan dikuasai oleh individu2 yg berambisi politik.

      Adanya akuisisi (juga merger) dari yg kuat kepada yg lemah, kepemilikan media ini makin mengerucut. Ini membuktikan bahwa kebijakan media nasional gagal mengatur industri media dalam aspek kepemilikan.

      Betul, mbak Indres, imbasnya pada kebebasan informasi, media menjadi corong kepentingan pribadi pemiliknya, sehingga insan pers yg dipekerjakan oleh media itu direduksi menjadi pegawai, bukan lagi sbg penulis kritis penuh kejujuran.

      Pemilik media cenderung menjadikan isi media sbg komoditi, dan menjadikan warga hanya sbg konsumen. Dampak monopoli ini dpt ditekan apabila kita (warga) menyadari hak-hak dalam bermedia.

      Sekali lagi, terimakasih telah sharing pencerahan di sini.

  43. felis catus says:

    ahaha, bukannya dari jaman stasiun tv di indonesia baru tvri, stasiun tv di indonesia itu selalu media propaganda? Yg rada mending media cetak, tp setelah reformasi, menurun yah kualitasnya?

  44. setokdel says:

    yang mestinya ditakutkan bukan beritanya pak, tapi orang2 yang asal percaya saja pada berita2 tersebut..

    • Udah bohong disebar-sebar pula, dan meyakini yang dibacanya adalah sebuah kebenaran. Contoh: lihat saja ada 2 kubu yang berantem di kolom komentar di setiap postingan dahlaniskan.wordpress.com Mereka yang telah berpendapat itu meyakini dengan apa yang telah mereka dapatkan. Jelas, 2 kubu itu sumber informasinya berbeda.

      Kalo parpol-parpol itu pada punya media sendiri-sendiri, dan itu adalah media besar, maka kita hidup di negeri ini akan dikelilingi lautan fitnah.

    • setokdel says:

      Saya juga pernah pak melihat diskusi yang hampir serupa, soal media khusunya, kira-kira begini

      Bahwa seorang jurnalis bersikap netral itu omong kosong. Yang ada adalah jurnalis yang telah menentukan keberpihakannya, lalu menulis dari sudut pandang tersebut

      .

      Lagipula walaupun media itu bersifat netral, bagi kita para penikmat berita juga sulit untuk memvertifikasi kebenarannya, seandainya semua orang yang menonton media itu tipikal orang yang kritis.

      Btw, kasian PDIP dan Demokrat ya pak, pada ndak punya TV :mrgreen:

  45. thetrueideas says:

    kayak kasus PSSI vs KPSI, gak beres2, salah satunya media yang pro KPSI (baca: ANTV dan TV One), yang beritanya banyak menyisihkan fakta….

    sekedar contoh 🙂

    • Sepakbola kita gak maju-maju ya karena ulah politikus busuk itu.

      Kalo parpol-parpol itu pada punya media sendiri-sendiri, dan itu adalah media besar, maka kita hidup di negeri ini akan dikelilingi lautan fitnah. Mengerikan banget ya, mas.

  46. debapirez says:

    Jika kamu mau menguasai dunia, maka kuasai media…

    Media, terutama televisi, merupakan salah satu sarana tercepat untuk mempengaruhi khalayak banyak. Melalui TV pula persepsi cantik itu adalah wanita bertubuh langsing & berkulit putih.
    Beberapa teman saya sudah memutuskan utk ga menaruh TV lg di rumah. kalau mau lihat apa2 ke yutub aja…

    • Kalo parpol-parpol itu pada punya media sendiri-sendiri, dan itu media besar, maka kita hidup di negeri ini akan dikelilingi lautan fitnah.

      Untuk itu dibutuhkan jurnalis yang mempunyai mental merdeka, yang tidak menghamba kepada pemilik media. Menyampaikan informasi dengan azas kejujuran.

    • debapirez says:

      kadang jurnalis sudah independen. tp “dirusak”di level redaktur, Mas.

      seru menyaksikan pertarungan antara Media Group vs MNC Group dan TV One ikut ngomporin hehe…

  47. ryan says:

    Nice info Pak.

    Saya hanya ingin komentar soal “kalau mau mendapatkan fakta berita yang sebenar-benarnya ikutilah linimasa Twitter”. Memang Twitter saat ini menjadi sangat terbuka untuk umum. Siapa saja bisa mendapatkan info seperti saya. Tapi tetap saja, kita harus filter lagi. Karena belum tentu semua benar adanya. IMHO.

  48. haduuh … melihat media televisi sekarang.. sdh tontonan yg diberikan kurang bermanfaat ditambah semalin banyak bersliweran pesan-pesan ‘sponsor’,

    dimana peraannya sebagai pilar ke 5 demokrasi kalau udh ga independen .. pastinya yg punya media yg berkuasa ..

    • Serunya saat ini banyak jurnalis independen yang menulis opini dan penyampaian fakta yang benar-benar berbeda dari media televisi. Lama-lama media televisi tersebut akan malu sendiri karena telah membodohi masyarakat. Lihat saja, betapa banyaknya di blog-blog yang berani menyerang kebohongan-kebohongan media mainstream itu dengan detail, ditambah lagi dalam bentuk kicauan untuk memverifikasi.

  49. Novi Kurnia says:

    konsekuensi demokrasi (yg kuat, yg banyak, yg beruang lah yg menang). Masalahnya grakyat indo masih banyak yg buta teknologi macam tuiter, apalagi di daerah yg inet pun musti numpang di kelurahanan

    • Twitter hanya bagian dari sedikit jalan.
      Yang paling utama adalah merubahnya by sistem, sesuai dengan tagline film ini:
      “Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!” dan
      “Media Mengabdi Publik, Tidak Menghamba Pada Pemilik”.

      Bikin regulasi yang ketat dengan disiplin dalam pelaksanaannya, dengan begitu informasi yang diterima masyarakat betul-betul mencerdaskan, bukan lagi penggiringan opini padahal sesat.

  50. enkoos says:

    Bener banget cak.
    Media besar yang punya itu lagi itu lagi. Kalau pengen tahu berita yang sesungguhnya, tanyain aja orang2 yang tinggal di sana.

    MEdia besar hanya untuk pembanding, bukan untuk dipercayai. Blogger2 seperti kita ini juga punya andil untuk menyebarkan berita.

    • Bersyukur ada wadah untuk nge-blog, sehingga jurnalis-jurnalis independen itu bisa menuangkan opininya dengan bebas tanpa tekanan pemilik media, dan kitapun bisa mengaksesnya untuk perimbangan informasi.

      Biasanya mereka bisa survive untuk terus menulis adalah dengan donasi.

  51. metamocca says:

    *pening*

  52. chrismanaby says:

    Kalo saya nonton TV lebih memilih acara komedi 😀

  53. Dyah Sujiati says:

    Wah penasaran banget ni Pak ingin lihat filmnya.

  54. jampang says:

    jadi malas lihat berita dan baca koran 😀
    apalagi setelah tahu gini

  55. Ahmad says:

    Saya sebel setiap peliputan kasus Bupati Garut. Yang wawancaranya ditayangkan dengan label “Warga Garut” itu pasti hanya dipilih yang kontra-Aceng.
    🙂

  56. Saya sangat mengharapkan adanya dekrit presiden untuk “membungkam” media.Kata teman saya contoh media yang terkendali secara baik seperti di Jepang dan Cina. Sehingga sangat mendidik untuk rakyatnya. Entahlah…

    Tapi yang jelas beberapa hari ini memang saya sedang muak sekali dengan TV One dan Metro TV, sampai saya ungkapkan di status HP saya yang saya buat tadi malam mengenai perpecahan Nasdem: “Ada partai baru ya? Partai TV oon & Partai Metro Mini?”

    • Sayapun juga geram, Pak Widodo, kasar banget mainnya mereka dimana porsi berita yang disampaikan tidak berimbang. Bahkan cenderung memanipulasi informasi.

      Selama ini belum ada regulasi yang tegas untuk membungkam media yang melampaui batas. Yang saya ketahui KPI sudah menggodok hal ini sudah lama namun belum ada hasilnya.

    • genthuk says:

      terlalu lama digodok. jangan-jangan sudah gosong, airnya habis, dan pancinya menghitam

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: