Home » Book Review » Melawan Penyesatan Opini Media [Part #2]

Melawan Penyesatan Opini Media [Part #2]

Blog Stats

  • 1,994,609

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Mari Belajar Menulis dan Membaca Media…

Dalam penyajian berita di media-media Indonesia, seringkali kita jumpai perbedaan penyampaian isi berita. Bahkan ada media yang terkesan tendensius dan melanggar etika jurnalisme itu menyerang pihak tertentu. Ketidakbenaran informasi yang disampaikan (demi kepentingan yang dibawanya) menjadikan media tersebut tidak lagi independen. Ada sebagian pembaca yang telah terbiasa dengan mudah menemukan kejanggalan – kejanggalan dalam sebuah berita. Namun sepertinya jumlah pembaca seperti itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang termakan opini media yang tidak memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme. Dampak oligopoli kepemilikan media oleh segelintir orang sangat rawan terjadi penggiringan opini secara masal.

"The Element of Journalism"

Book cover “The Elements of Journalism”

Agar kondisi tersebut tidak menjadi semakin parah, kita perlu memahami prinsip-prinsip jurnalisme yang selama ini menjadi acuan standar dan sudah dikenal sebagai Sepuluh Elemen Jurnalisme. Untuk itu, dalam edisi jurnal “Melawan Penyesatan Opini Media” kali ini, saya mencoba merangkum sebuah buku yang berjudul: “The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect” karya Bill Kovack dan Tom Rosenstiel. Buku edisi kedua yang terbit tahun 2007 ini menyempurnakan buku edisi sebelumnya (terbit tahun 2001) dengan menambahkan satu elemen lagi pada Sembilan Elemen Jurnalisme. Ini adalah buku pegangan penting jurnalisme. Kemudian di akhir jurnal ini akan ditutup dengan sebuah contoh kasus untuk bahan belajar.

Kesimpulan elemen ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. Elemen-elemen jurnalisme adalah menyatu, artinya kesepuluh elemen ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, semuanya mempunyai kedudukan yang sama, tidak bisa hanya salah satu saja yang dipatuhi oleh jurnalis. Kesepuluh elemen tersebut adalah:

1. Elemen Kebenaran
Chapter 2, Truth: The First and Most Confusing Principle, page 36

Bentuk kebenaran jurnalistik yang ingin dicapai ini bukan sekedar akurasi, namun juga merupakan bentuk kebenaran yang praktis dan fungsional. Kebenaran dalam penyampaian peristiwa. Ini bukan soal kebenaran mutlak atau filosofis. Kewajiban utama ini agar masyarakat bisa memperoleh informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat.

.
2. Elemen Loyalitas Kepada Warga
Chapter 3, Who Journalists Work For, page 50

Organisasi pemberitaan memang dituntut untuk melayani berbagai kepentingan konstituennya: lembaga komunitas, kelompok kepentingan lokal, perusahaan induk, pemilik saham, pengiklan, dan banyak kepentingan lain untuk pemberitaan yang sukses. Namun, kesetiaan pertama HARUS diberikan kepada publik/warga. Ini adalah implikasi dari perjanjian dengan publik.

.
3. Elemen Disiplin Verifikasi
Chapter 4, Journalism of Verification, page 70

Kovach membuka bab ini dengan kutipan dari Thucydides, wartawan perang Peloponnesia pada 5 SM, yaitu:

Sekalipun ada peristiwa faktual yang saya saksikan, saya berprinsip untuk tak langsung menuliskan cerita pertama yang datang kepada saya. Saya tidak akan tergiring oleh kesan-kesan dari saksi mata walaupun sudah saya periksa seteliti mungkin. Kebenaran tidak mudah didapatkan, saksi mata berbeda memberikan kesaksian yang berbeda pada satu peristiwa yang sama. Ada yang menyebut sebagian saja, dari satu sisi atau sisi lainnya, karena ingatan berbeda-beda.

Prinsip ribuan tahun dari Thucydides itu yang kemudian menjadi penyangga prinsip disiplin verifikasi. Disiplin verifikasi itulah yang membedakan antara jurnalisme dengan hiburan (infotainment), buletin propaganda, fiksi, atau artikel seni. Hiburan (infotainment) berfokus pada apa yang paling bisa memancing perhatian. Propaganda akan menyeleksi fakta atau merekayasa fakta, demi tujuan sebenarnya, yaitu persuasi dan manipulasi. Sedangkan jurnalisme berfokus utama pada apa yang terjadi, seperti apa adanya.

Disiplin verifikasi tercermin dalam praktik-praktik seperti mencari saksi-saksi peristiwa, membuka sebanyak mungkin sumber berita, dan meminta komentar dari banyak pihak. Disiplin verifikasi berfokus untuk menceritakan apa yang sebenar-benarnya terjadi. Dalam kaitan dengan apa yang sering disebut sebagai “obyektivitas” dalam jurnalisme, maka yang obyektif sebenarnya bukanlah jurnalisnya, tetapi metode yang digunakannya dalam meliput berita.

Di Amerika Serikat, verifikasi sudah menjadi kultur jurnalisme sejak 1919. Pelopornya Walter Lipman dan Charles Menz redaktur harian New York World. Mereka mengkritik berita-berita tentang Rusia saat itu yang menurutnya “hanya menuliskan apa yang ingin dilihat, bukan yang benar-benar terjadi”.

Menurut Kovach, di era internet dan social-media, verifikasi menjadi semakin ditinggalkan. Informasi begitu deras dan cepat datangnya. Lipman memberi pertanyaan kunci pada hati masing-masing jurnalisnya sebelum menulis berita:

  • Apakah saya tidak bersikap berat sebelah pada sumber-sumber saya?
  • Apakah salah satu pihak tidak gusar dengan tulisan ini?

Pemeriksaan keterangan saksi semaksimal mungkin akan menghindarkan pers menjadi “jurnalisme katanya”. Ada sejumlah prinsip intelektual dalam ilmu peliputan, yang dikenal dengan “Lima Prinsip Verifikasi Lipman”, antara lain:
1) Jangan menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada;
2) Jangan menipu/mengecoh pembaca;
3) Bersikaplah setransparan mungkin dalam metode dan motivasi penulisan;
4) Lebih mengandalkan pada liputan orisinal yang dilakukan sendiri;
5) Bersikap rendah hati, tidak menganggap diri paling tahu.

Kovach dan Rosenstiel juga menawarkan metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis. Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat, dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan.

Kedua, memeriksa akurasi. David Yarnold dari San Jose Mercury News mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist”, yaitu:

  • Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup?
  • Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut? Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?
  • Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?
  • Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?
  • Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?
  • Apa ada yang kurang?
  • Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?

Jika jurnalis tidak mengetahui langsung peristiwa yang diceritakan saksi/sumber maka pembaca harus diberi tahu itu. Termasuk menuliskannya dalam judul. Lipman mencontohkan berita Lenin meninggal yang dikutip dari kata orang. Maka judulnya: “Helsingfor Mengatakan Lenin Meninggal”. Bukan lantas ditulis “Lenin Meninggal” sebab wartawan tidak melihat langsung jenazahnya.

Waktu, lokasi, tanggal kejadian peristiwa menjadi elemen mendasar pada disiplin verifikasi. Kantor-kantor pers AS menerapkan sistem kontrol sangat ketat. Misalnya harian Oregonian di Portland Oregon yang dikutip Kovach, wartawan Oregonian ditanya “Bagaimana Anda tahu?”, “Mengapa pembaca harus mempercayai ini?”, “Apa asumsi di balik kalimat ini?”

Ketiga, jangan berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin. David Protess seorang Professor Medill School of Journalism dari Northwestern University memiliki satu metode. Dia memakai tiga lingkaran yang konsentris. Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata.

David Protess melatih mahasiswa anti asumsi. Jurnalis itu haram berasumsi! David Protess berhasil menyelamatkan lima calon terpidana mati setelah memeriksa ulang dokumen berbasis asumsi.

Keempat, pengecekan fakta ala Tom French (pemenang Pulitzer 1998) yang disebut Tom French’s Colored Pencil. Metode ini sederhana. French, seorang spesialis narasi panjang nonfiksi dari suratkabar St. Petersburg Times, Florida, memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam karangannya, baris per baris, kalimat per kalimat. Dengan pensil warnanya, ia menandai mana yang opininya dan mana yang hasil wawancara narasumber. Seorang sumber di-check ulang latar belakangnya, terutama motif utama dia memberikan informasi. Kepentingan apa? uang? popularitas?

Pada proses penyuntingan itu seideal mungkin melibatkan reporter dan redaktur yang duduk berdampingan dan reporter membawa naskah aslinya. Jika jarak berjauhan, bias kadang muncul. Jawa Pos pernah mengalaminya.

Kejadian saat jurnalis Jawa Pos, Rizal Husein, memalsukan wawancara istri Dr. Azahari, Wan Nooraini Jusoh (Nur Aini). Wawancara secara eksklusif itu dilakukan via telepon, mengingat Nur Aini ada di Johor, Malaysia. Satu bulan kemudian (10 Nopember 2005), Jawa Pos kembali mempublikasikan wawancaranya dengan Nur Aini, beberapa hari setelah Azahari dilaporkan tewas dalam operasi penyergapan polisi di Villa Flamboyan, Batu, Jawa Timur. Koran itu juga menggambarkan dialek Nur Aini kental dengan logat Melayu.

Kebohongan Rizal terkuak, ketika beberapa saat kemudian, stasiun televisi Trans TV menayangkan wawancara langsung dengan Nur Aini. Dalam tayangan itu, Nur hanya bisa berkomunukasi lewat tulisan tangan. Ternyata faktanya, Nur Aini sama sekali tidak bisa bicara. Sejak beberapa tahun sebelumnya, perempuan itu menderita penyakit kanker kelenjar thyroid, yang membuat pita suara di tenggorokannya terganggu. Kebohongan telah terungkap dari seorang jurnalis Jawa Pos yang membuat berita bohong, fiktif dan rekayasa.

Setelah ketahuan memanipulasi berita, Rizal Husein kemudian dipecat dan Jawa Pos meminta maaf secara terbuka di halaman pertama. Rizal Husein mengaku tidak punya itikad jahat. Dia hanya ingin Jawa Pos menjadi media terdepan dalam liputan terorisme. Simak berita yang memalukan itu di sini.

.
4. Elemen Independensi
Chapter 5, Independence from Faction, page 94

Jurnalis harus sebisa mungkin bersikap independen dari faksi-faksi, tanpa takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan. Namun, dalam banyak kasus, jurnalis tidak pernah bisa benar-benar independen. Mereka bekerja untuk majikan yang punya kekuasaan dan uang. Atau mungkin mereka punya saudara yang dekat kekuasaan. Terlebih lagi jika mereka bekerja di sebuah media yang dibiayai oleh donor asing, bisakah mereka mengklaim independen?

Mereka mungkin bisa independen terhadap partai politik tertentu, tapi bisakah independen terhadap kepentingan bisnis tertentu, misalnya wartawan Kompas terhadap Gramedia Group; wartawan Metro dan Media terhadap Surya Paloh Group yang tidak hanya bisnisman tapi juga tokoh partai politik?

Bill Kovach memberi jalan keluar untuk kemustahilan itu:

Jika wartawan/media memiliki hubungan yang bisa dipersepsikan sebagai konflik kepentingan, mereka berkewajiban melakukan full-disclosure tentang hubungan itu.”

Tujuannya adalah agar pembaca waspada dan menyadari bahwa tulisan/liputan itu tidak benar – benar independen. Wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan walau menunjukkan sikapnya dengan jelas.

.
5. Elemen Pemantau Kekuasaan
Chapter 6, Monitor Power and Offer Voice to the Voiceless, page 111

Jurnalisme berfungsi pula sebagai pemantau jalannya pemerintahan dan lembaga kuat di masyarakat. Dengan adanya pers, pejabat dan para pemimpin didorong untuk tidak melakukan hal yang buruk dan menggunakan kekuasaanya dengan adil. Jurnalis juga mengangkat suara pihak-pihak yang lemah, yang tak mampu bersuara sendiri.

.
6. Elemen Diskusi Publik
Chapter 7, Journalism as a Public Forum, page 131

Apapun media yang digunakan, jurnalisme haruslah berfungsi menciptakan forum dimana publik diingatkan pada masalah-masalah yang benar-benar penting, sehingga mendorong warga untuk membuat penilaian dan mengambil sikap.

.
7. Elemen Menarik dan Relevan
Chapter 8, Engagement and Relevance, page 147

Jurnalis harus mampu mengubah berita penting menjadi semenarik dan serelevan mungkin untuk dibaca, didengar atau ditonton. Pembaca tidak akan bosan membaca berita dengan komposisi berita dan penulisan yang baik.

.
8. Elemen Komprehensif dan Proporsional
Chapter 9, Make the News Comprehensive and Proportional, page 163

Judul yang sensasional dan isi berita yang terlalu emosional bukanlah suatu produk jurnalistik yang baik. Isi berita harus proporsional, sedangkan yang dimaksud dengan komprehensif adalah sifat menyeluruh dimana jurnalis harus mencari fakta-fakta lebih jauh (tidak hanya menerima fakta yang terlalu mudah bisa diraih) dan disusun dalam sebuah konteks sehingga terlihat keterkaitannya masing-masing.

.
9. Elemen Hati Nurani
Chapter 10, Journalists Have a Responsibility to Conscience, page 179

Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi, harus memiliki rasa etika dan tanggung jawab personal, atau sebuah panduan moral. Jurnalis yang independen adalah yang bisa exercise hati nurani itu tanpa tekanan dan tanpa iming-iming, termasuk tekanan atasan dan tekanan kehilangan pekerjaan. Jika seorang jurnalis meyakini suatu kebenaran, tapi dia takut mengungkapkannya karena takut dipecat, maka dia tidak independen, bertentangan dengan elemen ke-4.

.
10. Elemen Jurnalisme oleh Masyarakat
Chapter 11, The Rights and Responsibilities of Citizens

Elemen terbaru ini muncul dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri. Warga masyarakat dapat menyumbangkan berita di blog masing-masing yang dikenal dengan citizen journalism. Selain blog, terdapat jurnalisme online, jurnalisme warga, jurnalisme komunitas, dan media alternatif lain.

Sebagai blogger, kita semua mempunyai hak untuk menulis berita, tapi jangan melupakan tanggungjawab yaitu memuat kebenaran dan tidak manipulatif. Patuhilah elemen-elemen yang telah diuraikan di atas. Tulisan manipulatif penuh dengan fitnah itu bukan hanya menghancurkan orang lain tetapi juga menghancurkan diri sendiri.

Itulah Sepuluh Elemen Jurnalisme, tentunya akan sangat panjang kalau diuraikan dengan detail. Bukunya setebal 268 halaman, menarik sekali isinya, dan sudah ada edisi terjemahannya.

Penikmat (pembaca) media bila secara disiplin menerapkan setiap elemen tersebut, akan tahu benar mana berita yang dibuat-buat, diarah-arahkan, disetting untuk kepentingan tertentu. Ini tentunya akan menjadi tantangan jurnalisme jika tidak ingin ditinggal konsumen yang semakin cerdas, maka harus kembali ke prinsip-prinsip dasar. Diantaranya prinsip verifikasi.

……….

Baiklah, sebagai penutup, mari kita belajar membaca media, silahkan Anda gunakan penjelasan Kovach untuk menganalisa sebuah kasus yang saya ambil dari dua sumber berita yang berbeda, yaitu:

Misteri Suara Dalam Kamar Hotel Kurir Suap Daging
Tempo.co, 31 Januari 2013 | 08:11 WIB
… dan …
KPK Bantah Maharani dan Ahmad Fathanah Ditangkap Saat Bercumbu
Merdeka.com, 31 Januari 2013 14:13:51

Dengan melihat contoh kasus tersebut, bagaimana kualitas penyampaian berita di media Indonesia menurut Anda?
Selamat belajar menjadi Kovach. Kita adalah konsumen media yang cerdas dan bijak.

Bersambung…

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
02.03.2013

.
Update [13 Maret 2013]:
Untuk melengkapi pembahasan tentang “The Element of Journalism” juga bisa disimak pada tulisan mbak Indres a.k.a. Felis Catus di sini. Penyajiannya menarik dan recommended.

Tulisan terkait:
1. Film “Di Balik Frekuensi”, Manipulasi Media di Indonesia
2. Melawan Penyesatan Opini Media [Part #1]
3. Melawan Penyesatan Opini Media [Part #3]

Advertisements

61 Comments

  1. […] mereka paham Sepuluh Elemen Jurnalisme, maka pemberitaan tersebut jelas-jelas melanggar prinsip jurnalisme, seperti Elemen Kebenaran, […]

  2. […] jurnal terdahulu, saya sajikan tentang Sepuluh Elemen Jurnalisme, dimana kita bisa belajar bagaimana suatu media massa seharusnya menerapkan Kode Etik dan Prinsip […]

  3. […] memegang teguh prinsip Kebenaran dan prinsip Disiplin Verifikasi, dua elemen dasar dan penting dari Sepuluh Elemen Jurnalisme, lantas apa jadinya akhlak penduduk negeri ini? Setiap hari warga akan gaduh dan ribut tentang […]

  4. […] memegang teguh prinsip Kebenaran dan prinsip Disiplin Verifikasi, dua elemen dasar dan penting dari Sepuluh Elemen Jurnalisme. Apa jadinya akhlak penduduk negeri ini? Setiap hari warga akan gaduh dan ribut tentang sesuatu […]

  5. […] di lapangan. Namun demikian, prinsip kejujuran adalah bentuk dari Elemen Pertama dari Sepuluh Elemen Jurnalisme yang harus dijunjung […]

  6. […] Anda, ulah wartawan jahil tersebut yang membuat pelintiran berita Tes Keperawanan itu melanggar Elemen-Elemen Jurnalisme poin apa […]

  7. […] pemberitaaan Insiden Lamongan, lagi-lagi para jurnalis itu melanggar elemen-elemen jurnalisme. Elemen apa saja yang […]

  8. […] dan memahami Sepuluh Elemen Jurnalisme dari Bill Kovack dan Tom Rosenstiel yang pernah saya ulas di sini, menurut Anda, cara pemberitaan seperti itu bertentangan dengan elemen yang […]

  9. […] ini di blog beliau, bagi teman-teman yang ingin tahu isi dari buku ini, silakan baca rangkumannya di sini. Di review ini saya hanya akan membahas hal-hal yang saya anggap menarik dari buku […]

  10. faziazen says:

    teman-teman aremania di fb geram dengan berita di sebuah tv (tv lokal surabaya) dan web berita online
    karena aremania dituduh melempari bonek
    padahal yang terjadi..aremania menjadi korban..

    berita yang tida objektif..karena membela sesama orang sby

  11. ruangimaji says:

    Perlu kiranya mempelajari lagi etika jurnalistik dan meningkatkan profesional kinerja.

  12. thanks sharing ilmu-nya Mas Iwan, bermanfaat banget ini

    • Selamat belajar menjadi Kovach ya, teh Nuri, dan menularkan ilmunya agar banyak pembaca media di Indonesia ini yang cerdas.

      Itu ada contoh soal di akhir paragraf, selamat meneliti kejanggalannya, mana media yang menabrak etika jurnalisme (tidak sesuai prinsip Kovach).

  13. Semua jurus itu memang sahih adanya, sekarang tinggal menahan nafas saja karena klimaksnya sudah didepan mata, dan saya yakin Allah SWT tidak pernah diam untuk semua kezaliman di muka bumi, tidakkah mereka takut dengan murkaNYA, semoga hidayah tercurah untuk kita semua yang tidak sempurna. aamiin

  14. […] . Tulisan terkait: 1. Film “Di Balik Frekuensi”, Manipulasi Media di Indonesia 2. Melawan Penyesatan Opini Media [Part 1] 3. Melawan Penyesatan Opini Media [Part 2] […]

  15. onits says:

    menurut sy berita2 itu jelas menyalahi elemen no.9, krn gak pake hati nurani. ttg remaja yg blon tentu ada hubungannya dgn kasus korupsi, tapi pakai ditulis lengkap namanya sblm penyidikan kpk tuntas. kalo kompas walopun awalnya nulis nama depan, tapi terakhir2 nulis inisial aja. kesian dia masih muda, emaknya sampe syok.

    soal tidak menyebutkan sumber sih justru itu etika jurnalisme yg baik. gak smua sumber ada dlm posisi aman, shg perlu dilindungi keamanannya -_-. kalo baca buku2 “undercover”, termasuk yg karya jurnalis luar (yg boro2 terbit dlm bhs indo, bahkan dlm b.inggris pun belon tentu ada), bisa lebih melek ttg kejadian2 menyedihkan di negri kita -_- #mumet

    • Terimakasih sharingnya, mbak Onit.
      Setuju. Media seharusnya juga memegang teguh etika, bukannya ikut2an nge-bully, selama belum dibuktikan dan diputuskan di pengadilan atau sebelum penyidikan tuntas, semestinya tidak perlu menulis si terduga dengan nama lengkap.

      Tentang sumber anonim, mumpung ada libur besok, rencana saya juga mau bahas detail soal itu.

  16. jampang says:

    jadi inget diskusi tentang sebuah media cetak yang akhir2 ini jarang lagi dibaca karena beritanya cuma judulnya dibikin heboh sementara isinya…. jauh panggang dari api

  17. Ani says:

    Fyi, Koran Tempo beda lho dengan Majalah Tempo. Soal kualitas dan mutu artikel, msh bagus yg terakhir. Mkn sedikir media Indo yg independen spt mrk. Oya, kalau mmg ada media yg spt ditulis menulis hal tdk benar dan setelah dikumpulkan, sdh punya bukti2 cukup, knp tdk dilaporkan saja?

  18. debapirez says:

    yg TEMPO, sumbernya ga jelas. Yang MERDEKA, sumbernya jelas…

  19. debapirez says:

    wah….keren neh.udah dirangkum oleh mas Iwan.
    skrg lg masuk era berita online. kecepatan penyampaian berita kadang didahulukan dibanding kondi faktual.
    Enaknya wartawan, kalau salah tinggal klarifikasi. Padahal bisa jadi berita yg salah itu telah menyebar dan menimbulkan fitnah…

    • Sepertinya bakal ada lebih dari 10 seri tentang Melawan Penyesatan Opini Media nih 🙂

      Iya, kalo sudah berbuat salah, upaya memperbaiki citra itu hanya setengah hati.

  20. kalo dari quran.. belajar jurnalisme itu belajar dari burung hud2.. hehehe

  21. abi_gilang says:

    Diatas semua teori tentang independensi jurnalis tetap saja ada unsur “manusia” yang menjalankannya. Pernah berdiskusi dengan seorang praktisi media dan menurut pengakuan dia(bisa jadi subjektif) akan sulit untuk seorang jurnalis untuk tidak “berpihak” . Banyak unsur yang memaksa suatu media untuk berpihak seperti diulas ditulisan atas. Sebagai seorang blogger saya menikmati dunia blogging karena saya anggap ini media yang independen karena memang hanya mewakili “satu pikiran” dari “satu individu”. Happy blogging…terima kasih atas tulisan yang menginspirasi 🙂

    • Ani says:

      Kalau boleh berpendapat, seorang individu sekalipun juga bisa mewakili partainya, perusahaannya, dan negaranya, lho, Dan kelemahannya (atau kelebihan) adalah tidak melalui proses editing, karena itu sama saja saya kira, semua tulisan harus diteliti.

    • Betul, mbak Ani, sebagai blogger tetap saja harus bertanggungjawab menyampaikan informasi yang benar.
      Meskipun tidak ada intervensi dari pihak luar (pemilik media), tetap saja harus teliti membacanya (disiplin verifikasi), karena bisa jadi adanya bias informasi karena ditunggangi tujuan pribadinya melalui tulisannya itu.

    • Sama-sama, Abi Gilang, semoga bermanfaat ya.

      Meskipun sebagai blogger yang juga mempunyai hak untuk menulis berita, namun jangan sampai melupakan tanggungjawab yaitu memuat kebenaran dan tidak manipulatif. Demi memenuhi tujuan individunya. Blogger & jurnalis independen selayaknya juga mematuhi elemen-elemen yang telah diuraikan di atas.
      Keuntungannya, jelas ia tidak di-intervensi oleh orang lain dalam penulisannya itu. Bebas namun bertanggungjawab.

  22. diah indri says:

    Iya tuh pak
    Suami sy di jayapura baek2 saja katanya. Kota aman tenteram. Orang2 disini pada heboh aja nanyain. Ngapain loh kesana kan disana perang tembak2an, perang g takut apa?

    Kalo kata suami emg ada penembakan seperti diberitakan tp juauuuuuuuhhhhh sekali dr kota, diatas gunung.

    • Kalo saat ini masih di Papua, semoga suaminya mbak Indri selalu baik-baik saja di sana. Salah satu buktinya juga adalah mereka yang dikirim di sana untuk program Indonesia Mengajar sampai sekarang baik-baik saja.

      Biar berimbang informasinya dengan media-media mainstream, ajak suaminya nge-blog juga, mbak Indri, biar bisa menyampaikan liputan pandangan mata plus panoroma indah di sana 🙂

    • diah indri says:

      aamiin ya robbal alamin. sudah saya bikinkan blog pak tapi ndak pernah diisi, kalau pas mau ngisi isinya pelajaran kuliah hihihi…
      nanti saya juga nyusul kesana kok pak. setelah melahirkan 🙂

      nanti saya tulis2 ttg papua 🙂

    • Alhamdulillah. Semoga sinyal internet di sana juga bersahabat.
      Dan semoga kelak proses persalinannya lancar, ibu dan anaknya sehat wal a’fiat. aamiin.

    • diah indri says:

      aamiin ya robbal alamin. terima kasih pak doanya
      alhamdulillah selama ini sinyalnya bagus.
      jayapura termasuk kota maju pak, mungkin banyak yg meragukan kondisi disana. karena kurang terekspos 🙂

  23. faziazen says:

    teringat cerita Pak Jonru yang difitnah oleh sebuah media..
    katanya beliau sudah diwawancara..padahal tidak pernah ada wawancara

    kadang wartawan juga me-lebay-kan sebuah ebrita, dengan tujuan agar media nya laris di pasaran

    • Iya, mbak Fazia. Saya juga baca tulisannya Pak Jonru (sampai 3 bagian). Kok bisa ya media itu berhalusinasi seakan-akan sedang mewawancarai Pak Jonru.

      Ini persis dengan contoh kasus media Jawa Pos yang saya tulis di atas. Sudah jelas Nur Aini itu tuna wicara, eh si mas Wartawan bilang di koran bahwa liputannya adalah hasil wawancaranya lewat telepon dg Nur Aini. hadeeeh. Bedanya Jawa Pos sudah minta maaf secara terbuka di halaman depan.

    • faziazen says:

      sampai ada artis yang menolak diwawancara oleh wartawan majalah itu..

  24. rahmabalcı says:

    baca komentar temen2 yg di LN ketika shre barita tentang kasus LHI luar biasa, jika media memutarbalikkan fakta, alhasil byk sekali org yg terkecoh dan menjurus fitnah bahkan bukan partainya yg disorot sampe agama dan kisah poligaminya jadi bulan2an-.-‘ miris, sumber dr media, ketika ada yg posting klarifikasinya sudah tidak tergubris.sampe mikir tu yg nulis berita kecipratan dosa ga ya pak? kl dia lbh mengedepankan rumor ketimbang fakta yg dia tulis:S lalu timbul fitnah, ah beradd

    • Si penyebar fitnah sama dosanya dengan pembuat fitnah. Semoga kita terhindar dari hal-hal yang demikian, makanya 10 Elemen Jurnalisme itu harus bisa dipahami oleh banyak orang yang bersentuhan dengan media dan social-network.

  25. felis catus says:

    bukunya menarik memang (saya baru baca sampai ke elemen ke-5), membuat saya jadi salut dengan wartawan yg masih bisa menjaga idealisnya. Mudah-mudahan masih banyak wartawan idealis di jaman yg banyak godaan ini.

    • Buku ini kaya edukasinya, seharusnya disosialisasikan dan didiskusikan terus menerus di negeri ini agar para jurnalis itu bisa kembali ke khittah-nya yaitu penyampai informasi akurat.

      Setelah kelar baca buku ini, silakan dilanjut dg buku barunya oleh penulis yg sama yaitu: “Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload”. Atau mungkin mbak Indres sudah membacanya juga, karena seingat saya sudah pernah dibahas oleh mbak Lessy di MP.

      Ini juga masuk agenda review di edisi melawan penyesatan opini media.

    • felis catus says:

      Rencananya memang setelah buku yang ini akan dilanjutkan baca Blur. Jaman sekarang memang semakin sulit membedakan antara berita, propaganda, iklan terselubung, PR release, dan fiksi (fitnah, hoax, dsb).

  26. ryan says:

    Sesuatu yang sejogjanya ada dalam hal jurnalisme. tapi kenyataannya sekarang adalah, media massa (di Indonesia) dikuasai oleh orang-orang yang berkepentingan. Termasuk satu grup yang pemiliknya mulai lirik ke politik. hal ini yang menurut saya membuatnya mulai bias. tidak lagi sebagai pemberi informasi netral.

    Sebuah kejadian dapat ditulis dalam berbagai versi yang akan menggiring pembaca berbeda2. itu adalah kekuatan tulisan dan juga media lisan lainnya. hal ini yang digunakan oleh mereka. IMHO.

    • Betul, itu adalah dampak dari oligopoli media di Indonesia yang tidak dipayungi dengan UU Penyiaran yg mencegah bias dan unfairness dalam penyampaian berita itu terjadi.

  27. Rawins says:

    betul banget, mas
    dan kayaknya itu yang jarang dimiliki jurnalis kita
    yang ada malah bikin mumet ada berita bolak balik diralat
    ga mikir kalo berita pertamanya sudah bikin resah masyarakat…
    seperti kasus gempa jogja dulu
    gimana masyarakat ga bingung ada media yang bilang tsunami makanya orang bantul pada ngungsi ke utara. ada juga yang menyatakan merapi meletus, sehingga orang sleman lari ke selatan
    yang di tengah tengah yang bingung…

  28. lambangsarib says:

    Catat —“Tulisan manipulatif penuh dengan fitnah itu bukan hanya menghancurkan orang lain tetapi juga menghancurkan diri sendiri”

    Sebuah objek yang sama akan dimaknai berbeda jika memiliki sudut pandang yang berbeda.

    Sudut pandang berbeda bermakna positif jika ditilik dari keilmuan. Akan berbeda jika sudut pandang itu dipegang sebuah kepentingan.

  29. tinsyam says:

    koran belakangan ini isinya kog kaya “lampu merah” ya.. bahasanyapun samar dibikin santun.. tapi menggiring pembaca membentuk opini sesuai dengan apa yang diingin penulis..
    kitanya kudu pinter menyaring nih.. keren tuh mas bukunya.. yang poin 10, kaya edukasi ke pembaca ya?

    • Iya, mbak Tin, bahasanya vulgar, menerabas etika jurnalisme, sehingga lebih dekat jadi media gosip. Karena tidak memberikan edukasi, tapi lebih penghancuran karakter yang dibidiknya (sesuai pesanan).

      Betul, poin-poin penting itu seharusnya disosialisasikan terus, agar dunia media kita lebih sejuk penuh dg edukasi meski yg diberitakan adalah soal kriminal.

    • tinsyam says:

      maren sapa tuh yang bahas kalu bahasa koran itu bahasa konspirasi.. kaya ada “mentalist” berbahasa dan bisa menghipnotis kita agar seopini dengan penulis.. serem aja kalu kita yang baca dan ga saring bisa diindroktinasi kaya gitu..
      apalagi kalu udah pake idola, satu yang jadi teladan, ternyata isinya mencuci otak kita.. kudu banyak membaca nih, ga cuma dari koran aja..
      kebanyak yang suka tuiteran dan ngeblog udah pada cerdas cerdas kaya m.iwan gini deh, jadi lebih bisa menyaring isi koran ga asal kemakan mentahmentah..

  30. Dyah Sujiati says:

    Hahaha! Itu kan teorinya Pak. Faktanya, mereka yang punya uang dan mereka yang punya kepentingan, mereka lah yang punya media. Sementara di sisi lain, si pembuat berita hanya manusia biasa yang mencari nafkah dari media itu sendiri. Jadi mau atau tidak mau, dia harus patuh pada yang menggaji. Sehingga 10 elemen jurnalistik itu tak lebih dari sekedar teori #komentar anarkis

  31. nyonyasepatu says:

    Media dan penerima berita mesti belajar lagi jgn terima mentah2.

    • Sudah menjadi budaya pers di sini yaitu menabrak etika jurnalisme yg penting “tujuan” tercapai. Begitu juga pembaca yg telah terbentuk pemikiran bahwa media adalah sakral, sehingga apa saja yg disiarkan media dianggap mengandung kebenaran.

  32. zehanachda says:

    Astaghfirullah…ini tempo tp tulisannya spt harian poskota jaman dulu. Saya baru baca nih pak, berita yg ini. Lebih parah lagi ada berita yg menyatakan yg tertangkap tangan adalah LHI bersama si M. Kasus perempuan ini ternyata luar biasa di blow up sampe2 tetangga sy ada yg komen, “Presiden partai Islam kok main perempuan.” *istighfar lagi*

    • Iya, setiap kali membaca berita di media itu… ckckck… lebih banyak istighfar-nya. Koran kuning yang dikemas seolah-olah ngilmiah.

      Di hari yang sama dengan penangkapan LHI, beberapa media + buzzer forum diskusi dan twitter kompak mengatakan LHI “tertangkap tangan”.

      Faktanya:
      Di hari penangkapan AF di hotel tgl 29/1, LHI sejak pk 15.30 mengikuti seminar ttg penyebaran Islam oleh Walisongo. Seminar dilaksanakan di DPP PKS dihadiri fungsionaris, media, dan kader PKS; yang berlangsung hingga sekitar pk 20.30 wib.

      Padahal menurut KPK AF ditangkap pkl. 20.20 wib. Demikian juga saat LHI ditahan keesokan harinya 30/1, dia juga berada di DPP PKS memimpin rapat pleno DPP sejak pukul 14.00 wib. Rapat hanya break untuk sholat Ashar, kemudian ishoma di waktu magrib-isya. setelah itu lanjut lagi rapat. Jadi sejak pk 14.00 ~ 21.30 saat LHI dibawa ke KPK dia berada di kantor DPP PKS.

      Jadi entah dari mana info berita yang mengatakan LHI ditangkap tangan di kamar hotel.

      Saksi yang menghadiri seminar itu jelas banyak sekali. Ini harus diluruskan agar publik tahu kebenarannya dan tidak begitu saja menelan info yang tidak jelas sumbernya.

  33. Yang kutangkap cuma satu hal sederhana : selalu verifikasi bila ada satu berita.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: