Home » Film Review » Film “Wag the Dog”: Ketika Politik & Media Berkolaborasi

Film “Wag the Dog”: Ketika Politik & Media Berkolaborasi

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Edisi “Melawan Penyesatan Opini Media [Part 3].

:::::
Bagaimana jika produser film handal dan spin doctor kepresidenan bertemu dan bekerja sama untuk meyakinkanmu?
Susah untuk tidak percaya bahwa hasilnya begitu luar biasa.
:::::

Bismillah …

"wag the dog"

Melanjutkan pembahasan tentang “Melawan Penyesatan Opini Media”, kali ini saya ingin berbagi tentang film layar lebar yang pas banget dengan situasi politik dan media saat ini, yang berjudul: WAG THE DOG. Film yang diproduksi tahun 1997 oleh New Line Cinema dan disutradarai Barry Levinson ini mengangkat tema seputar pemilihan presiden Amerika Serikat, dan berbicara tentang keberhasilan proyek rekayasa fakta-sosial yang dilakukan spin doctor kepresidenan AS yang berkolaborasi dengan seorang produser handal film Hollywood.

Sinopsis

Film ini berkisah tentang hari-hari terakhir kampanye, -tepatnya sejak sebelas hari-, menjelang proses pemilihan presiden AS. Presiden terlibat sebuah skandal seks yang menghebohkan warga AS. Padahal sebelum kasus tersebut muncul, dukungan penuh tertuju padanya. Reputasi Sang Presiden pun menurun, sehingga harus ada jalan keluar untuk menutup lubang skandal ini. Sebelum keadaan bertambah parah dan opini publik tentang aib presiden semakin kuat, Conrad Brean (Robert DeNiro), spin doctor kepresidenan AS yang berotak brilian segera menyusun skenario bagaimana menciptakan rekayasa isu yang lebih besar agar perhatian warga negara AS teralih dari skandal seks sang presiden.

Dalam waktu singkat, Brean bekerjasama dengan seorang produser Hollywood, Stanley Moss (Dustin Hoffman). Mereka memutuskan untuk menyedot sorotan media ke sebuah berita perang yang direkayasa, kemudian terciptalah skenario perang Albania. Memilih Albania karena publik AS hampir tidak banyak tahu tentang Albania, sehingga meminimal resiko. Para artis “palsu” dipanggil untuk melakukan adegan selayaknya situasi sedang perang. Alhasil, studio film dengan teknologi special effect yang canggih tersebut akhirnya mampu menyajikan rekayasa rekaman peristiwa yang disebut “Krisis Albania” secara sempurna.

Skandal seks presiden memang naik berita. Tapi hanya jadi berita sekilas, karena tiba-tiba secara dominan TV-TV AS menayangkan video perang Albania -vs- AS. Pejabat pemerintah membayar sejumlah uang tutup mulut bagi korban pelecehan seksual. Selesai, tak ada lagi berita. Sementara publik AS pun tergerak mengikuti berita-berita perang. Tampak dalam gambar yang disiarkan televisi nasional tersebut (visualisasi CNN), seorang gadis (Kirsten Dunst) bersama kucingnya tengah kepayahan menyelamatkan diri dari serangan membabi buta terhadap perkampungan penduduk Albania. Setelah film pendek tersebut ditayangkan di televisi sebagai Newsbreaks Special Report, efeknya sungguh luar biasa. Isu “perang” secara cepat menjadi perhatian dan warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ribut soal skandal seks sang presiden, kini malah mendukung tindakan presidennya atas “perang” tersebut. Presiden AS dipuja sebagai panglima perang yang hebat. Ada pemberian lencana pahlawan perang. Dan kondisi kembali seperti sediakala, sehingga mengembalikan kepercayaan diri sang presiden AS untuk mengikuti kampanye lagi tanpa takut perolehan suaranya merosot.

Seperti produk Hollywood pada umumnya, keberhasilan rekayasa itu juga tak lepas dari peran dan strategi propaganda yang diwujudkan melalui jargon, merchandising, bahkan theme song tentang perdamaian ala Amerika Serikat. Namun demikian, medialah yang pada intinya tetap memegang peran sentral dibalik kehebatan sang sutradara dan spin-doctor.

Rekayasa tidak selamanya berjalan lancar. Hingga kemudian masalah datang ketika Senator William Taylor (Craig T. Nelson) mulai menangkap keganjilan dari isu perang tersebut. Hal itu membuat Brean dan Stanley harus berpikir cepat untuk mengubah taktiknya dengan yang lebih nekat. Saat itu moral telah pergi entah kemana, diburu oleh perselisihan ego dan ketegangan yang semakin dekat dengan waktu pemilu presiden. Akhirnya, mereka pun berhasil melakukan tipu daya yang lebih kreatif dan licik yang mengakibatkan melonjaknya suara bagi presiden. Tipu daya kreatif apa lagi yang mereka mainkan selanjutnya? Sungguh kebohongan yang luar biasa. Tonton saja filmnya ya. Anehnya publik luas tidak menyadarinya sehingga mendongkrak suara sang presiden dalam pemilu.

Di akhir cerita, naluri kemanusiaan Stanley sebagai pekerja seni yang haus pengakuan ternyata muncul. Keberhasilan pembuatan rekayasa fakta sosial yang dibuatnya ingin diklaim sebagai hasil karyanya yang luar biasa dan layak diketahui publik. Tentu saja ambisi ini ditolak keras oleh Brean. Akhirnya, rekayasa tersebut tetap tersimpan rapi dengan peristiwa tragis. Peristiwa tragis seperti apa itu? Tontonlah film. Buat yang belum menonton, saya tidak tega menulis spoilernya di sini. Intinya, lagi-lagi politik tetap berkuasa dengan kekotoran dan kekejamannya.

Film ini tidak hanya sekedar tontonan yang menghibur tapi bisa menjadi refleksi dunia politik di Indonesia dan bagaimana media bekerja, karena inilah yang akan saya bahas dalam jurnal ini. Sebelum ke pembahasan soal bagaimana spin-doctor, produser film dan media bekerja dalam kubangan dunia politik, mari kita saksikan terlebih dahulu, trailer film “Wag the Dog” ini.



Pelajaran Yang Bisa Diambil

Media saat ini merupakan suatu alat untuk berbisnis dan berpolitik dalam kehidupan yang berorientasi tujuan. Dalam dunia politik, media sering digunakan untuk menaikkan popularitas melalui pengemasan pencitraan yang beragam bentuknya. Media juga dipakai sebagai alat pengalihan isu.

Film “Wag the Dog” adalah contoh klasik bagaimana propaganda kepentingan politik atau bisnis bisa berlangsung dalam situasi pers bebas. Dalam film tersebut menggambarkan bagaimana para jurnalis dibodoh – bodohin para spin doctor / humas penguasa. Spin doctor mampu melancarkan propaganda sehingga memanipulasi informasi sedemikian kuatnya mempengaruhi opini publik. Spin doctor paham betul bagaimana pola kerja jurnalis yang terburu-buru, haus sensasi. Di mata masyarakat kejadian demi kejadian yang direkayasa lewat media tersebut seolah-olah betul terjadi seperti apa adanya. Publik terlalu percaya sedemikian rupa terhadap informasi media, tanpa pernah berusaha menganalisa tentang apa yang sesungguhnya terjadi di balik proses pembuatan berita tersebut.

Dalam pers yang bebas saja itu tak cukup jika tidak dibarengi skeptisisme dan disiplin melakukan verifikasi di kalangan jurnalis. Ingat elemen jurnalisme pada pembahasan sebelumnya yaitu Disiplin Verifikasi. Akan lebih ironis jika ada jurnalis yang menempatkan diri sebagai spin doctor itu sendiri. Ada yang sengaja melakukannya, dan ada yang termakan propaganda. Jurnalis yang demikian tanpa sadar justru menjadi buzzer kepentingan pemilik / korporat dalam skala lebih merusak.

Sebagai contoh: pemberitaan terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir adalah buah karya para spin-doctor. Media memberitakan hal ini dengan sangat gencar dan berlebihan. Seolah tidak ada hal lain yang lebih baik diberitakan di Indonesia. Masyarakat diajak (diarahkan) untuk menelan informasi kejahatan terorisme dalam jumlah yang banyak dan intensitas yang tinggi dan cepat. Sampai menanamkan opini publik bahwa makin sungguh-sungguh seseorang dalam ber-Islam akan mendekatkan pada sikap militan sehingga media spin doctor men-citrakan bahwa kegiatan rohis (rohani Islam) di sekolah-sekolah dicap sebagai pencetak kader teroris. Sungguh penyesatan opini yang luar biasa. Bila publik tidak hati-hati, berita klaim sepihak tanpa ada verifikasi, atau berita yang kelihatan berat sebelah, akan dianggap sebagai informasi sahih. Inilah kerja spin doctor membangun opini di kepala masyarakat terus-menerus, hingga terbentuk mental penerimaan, yaitu tidak perlu verifikasi dan analisis lagi. Karena menurut masyarakat tersebut dimana-mana telah memberitakan hal yang sama, sehingga informasi tersebut dianggap sahih. Masyarakat tidak menyadari bahwa media-media dimana-mana itu hanya dimiliki segelintir orang.

Mereka tahu kelemahan kerja jurnalis. Tekanan deadline (siklus berita yang kian pendek), tuntutan bisnis (rating dan liputan murah), itu semua membuat jurnalis menjadi makanan empuk spin doctor. Atas kondisi seperti ini, mereka mudah membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya peran sumber anonim dalam pemberitaannya. (Ini akan saya bahas pada jurnal “Melawan Penyesatan Opini” edisi berikutnya). Dalam contoh kasus edisi sebelumnya (Part 2, di akhir paragraf), Anda akan melihat media mana yang menggunakan sumber anonim sebagai narasumber. Adalah sebuah kelakuan yang lebih gila lagi bila ada media lain mengutip sumber anonim dari media lain tanpa memahami konteksnya. Status anonim, jika mau dipakai, merupakan deal / kesepakatan sumber berita dan media tertentu. Itu ikatan etis, dan terkadang menjadi sebuah ikatan hukum. Jika ada sumber anonim memberikan data / informasi pada banyak media, maka patut dicurigai bahwa media itu sebenarnya spin-doctor.

Rekayasa seperti dalam film “Wag the Dog” itu sudah ada dan frekuensinya sering terjadi di Indonesia. Apa saja kasusnya? silakan belajar menganalisa dan membuat daftar faktanya sendiri. Para pemilik kepentingan / korporat itu memiliki spin doctor untuk melindungi kepentingannya. Yang menjadi followernya adalah media mainstream yang ingin selalu terdepan memberitakan, dan media yang ikut arus dan haus sensasi serta para pelaku social media yang ingin selalu eksis sok tahu. Jadi, kebebasan pers saja bukanlah jaminan masyarakat memperoleh berita / informasi yang bermutu.

Oleh karena itu, mari membiasakan berhenti sejenak setelah mengunyah bermacam-macam berita. Lihat informasi dari berbagai sudut pandang. Tanpa terburu-buru mengatakan A atau B. Seandainya Anda mengonsumsi berita dan kemudian menelan informasi tersebut dengan cepat, maka Anda sudah jatuh ke dalam sistem “Wag the Dog”.

Bersambung …

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto

.
Tulisan terkait:
1. Film “Di Balik Frekuensi”, Manipulasi Media di Indonesia
2. Melawan Penyesatan Opini Media [Part 1]
3. Melawan Penyesatan Opini Media [Part 2]

Advertisements

35 Comments

  1. Sonia Atika says:

    Bom Boston,, skenario lagi kah? :mrgreen:

  2. jaraway says:

    jadi inget celetukan ntu.. kalo ada berita ttg korupsi..
    bentar lagi bakal ada kabar teroris tertangkap nih.. hehehe

  3. jaraway says:

    beuuuuh..
    dahsyat yak..
    emang kita ntu gampang lupa.. jadi ada yang lebih wah yang lain ketutup..

  4. Dyah Sujiati says:

    Permintaan ini, “Apa saja kasusnya? silakan belajar menganalisa dan membuat daftar faktanya sendiri. ”
    bisa saya jawab dengan jelas dan tegas sekarang juga Pak, “NO!”
    susah itu Pak hehehee, bisa keribo Pak saking buanyaaknya

  5. ruangimaji says:

    Saat politik dan media berkolaburasi jadilah konspirasi. Dua hal tersebut memang berkaitan erat dan terjadi simbiosis mutualisme. Sepertinya di Indonesia pun sudah mulai begitu.

  6. kasamago says:

    mantab neh film.. masuk antrian dlu stlh flash of genius.

    media2 masa sekrang emang pemain kunci eskalasi konflik n pengalihan isu, hal kecil dibesarin dan sederat berita abal2 lainnya. untunglah msh ad peran internet dan para bloger yg lbh mengedepankan fakta..

    • Lha “Flash of Genius” itu saya udah lama banget nontonnya, tapi belum sempat nge-review. Recommended banget. Wong cilik versus raksasa kapitalis industri (Rockefeller).

      Adanya jurnalis independen yg update investigasinya lewat socmed, membuat isu-isu buatan sering dimentahkan.
      Gampang sih buat pemerintah untuk membungkam itu, blokir media yang berbicara politik, atau tutup akses internet sekalian. Tapi mereka akan berhadapan dengan Anonymous International 🙂

  7. debapirez says:

    kalau film ARGO (based on true story), mereka membuat film spy bs membawa kabur diplomat AS.

    • Film ARGO diprotes sebagian besar masyarakat Iran dengan alasan ada pemelintiran sejarah, pemerintah Iran menyebutnya sebagai propaganda anti-Iran, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “perang lunak” terhadap budaya Iran. Jadi, film ini melukai hati masyarakat Iran. Piye?

  8. debapirez says:

    kalau ada berita yg menyangkut keluarga istana, kemudian muncul berita yg lebih heboh sebagai pengalih perhatian…

  9. Wong Cilik says:

    politik itu kejam … 😀

  10. Aku jarang nonton film, apalagi film2 konspirasi..bikin pusing dan stress malahan. Hehehehe.

  11. thetrueideas says:

    termasuk nine eleven itu yah…?

  12. Pengen nonton deeehhh, oiya mas iwan adakah film2 serupa selain ini?

    • Film ini seru & menegangkan, meskipun masuk genre komedi, ya karena unsur komedinya adalah tim presiden berhasil membius mayoritas warga negaranya dengan manipulasi informasi / kebohongan-kebohongan yang terpelihara sehingga dianggap sebagai kebenaran.

      Selain film “Wag the Dog”, film-film bertema politik yang masih relevan dengan situasi di Indonesia saat ini adalah:
      – The Constant Gardener
      – JFK
      – Being There
      – Elite Squad, kemudian sequelnya: The Enemy Within
      – The Insider
      – The Whistleblower
      – The Manchurian Candidate
      – The Ghost Writer
      – The Ides of March
      – Frost/Nixon
      – All the President’s Men

      Saya agendakan juga untuk nge-review satu-per-satu, sementara masih ada PR untuk mereview film2 dokumenter, lanjutan pembahasan sebelumnya. Jadi, untuk film2 komersil pada list di atas sabar dulu ya…

      Oiya, OOT, apakah mbak Anty udah nonton film “Koran by Heart”? Itu film parenting lho.

  13. jadi sebenarnya pengalihan isu, konspirasi n tendensius k fitnah itu real bgt ya…
    Senyum2 di pojokan ironi kasus LHI dan anas yg begitu jompleng dlm perlakuan kpk, yg satu blm terbukti udah dipenjara aja eeeee yg satu buktu nyata malah santai2 🙂 ironis

  14. felis catus says:

    Yang perlu diadakan di Indonesia itu pendidikan (awareness) bagaimana menyaring berita/informasi pada masyarakat. Juga harus pintar membedakan mana fakta, mana opini. Kalau masyarakatnya pintar, wartawan yang tidak beretika akhirnya akan tidak percaya. Koran/TV yang isinya propaganda/gosip/fitnah akhirnya akan ditinggal pemirsa.

    Eurgh, saya paling malas menonton acara talk show, mau yang versi Indonesia ataupun versi barat. Isi talk show itu seperti adu debat kusir tak ada guna. Bukannya dicari pemecahan masalah bareng2, yang ada malah bikin suasana tambah keruh.

    • Saat ini upaya “penyehatan” atau awarenes sudah dicoba dilakukan oleh remotivi.or.id yang mencoba mengupas hal-hal yang tidak sehat pada isi/program2 media televisi kita.

      Untuk talkshow, sudah banyak pengakuan di beberapa thread/forum yang menyampaikan bahwa banyak narasumber dalam sebuah acara talkshow berita adalah narasumber bayaran.
      Talkshow yang bertema politik seringkali dijadikan ajang pencitraan pemilik media, dan ajang pembunuhan karakter lawan-lawannya.

  15. UU Pers Indonesia sekarang sangat liberal, bahkan cenderung tak terkontrol. Pemilik media yang ikutan berpolitik pastilah akan menghadirkan isu dan pencitraan baik terhadap parpolnya dan sebaliknya pembusukan politik terhadap lawan2 politiknya dengan bungkus acara talkshow yang rapih. Coba perhatikan lagi di daerah2 nusantara sekarang ratusan koran daerah yang hidupnya senin-kamis dengan oplah alakadarnya dengan tujuan black campaign untuk urusan pemerasan dengan meng-atas namakan kebebasan pers. Sudah seharusnya bangsa ini sadar atas semua kebablasan dan perlu orang2 yang berjiwa independen menyuarakan rakyat.

    • Terimakasih opininya, mas Budi.
      Kalo masyarakat makin banyak yang cerdas, dengan sendirinya media yang tidak independen itu akan mati pelan-pelan.
      Talkshow selain menjadi ajang pencitraan juga menjadi ajang mematikan karakter lawan politik. Narasumber yang dihadirkan adalah pilihan pemilik media.

      Koran daerah yang melakukan pemerasan terhadap pejabat2 daerah memang memprihatinkan. Ketika pemerasan itu berhasil, kasus yang seharusnya diketahui masyarakat itu tertutupi.

    • Stuju mas Iwan, masyarakat seharusnya makin cerdas jadi tidak ada ruang untuk pembodohan. Saya berharap kedepannya juga selain UU pers yang perlu ditinjau, juga UU tentang ormas, LSM yang mengatasnamakan rakyat sudah jadi kendaraan cari duit gratis, pengusaha jadi tidak leluasa. Kalau Indonesia masih bangga menjadi tempat investasi yang menjanjikan, lama-lama investor pada lari dengan beban biaya makin tinggi. Soo menurut Mas Iwan, sistem keterbukaan seperti apa yang cocok buat negeri ini.

  16. Denny Leo says:

    di Indonesia sendiri memang ada sejumlah media yang tanda kutip menyajikan berita secara tidak netral, kita bisa menilainya sendiri mungkin. pertanyaan jurnalis-nya selalu tendensius dan lebih bersifat menyalahkan.

    • Betul, mas Denny, itu adalah dampak dari oligopoli media di Indonesia yang tidak dipayungi dengan UU Penyiaran yg mencegah bias dan unfairness dalam penyampaian berita itu terjadi.

      Malah ada media yang sudah berani menghakimi / memvonis melalui pemberitaannya sebelum proses pengadilan, padahal itu adalah kewenangan pengadilan, bukan media. Demi menanamkan opini ke masyarakat, kini mereka sudah berani memvonis secara vulgar.

      Media-media apa saja yang tidak lagi independen karena dimiliki oleh ketua parpol, itu sudah saya bahas di edisi sebelumnya.

  17. ibuseno says:

    sayang saya kalau nonton tuh suka ngantuk Mas Iwan.. pdhal film ini nampak seru.. mending baca buku aja deh 🙂

    • Filmnya menarik, genrenya komedi namun menegangkan, saking kreatif ide-idenya untuk mengelabui publik.

      Malah saya nonton filmnya duluan daripada bukunya.
      Film ini mengadopsi sebuah novel yang berjudul: American Hero, karya Larry Beinhart (1994). Satu dasawarsa kemudian muncul novel dengan pengarang yang sama yang berjudul: Wag the Dog.

    • ibuseno says:

      Bukunya dengan judul yg sama Mas Iwan ?

    • Judul bukunya berbeda namun nafasnya sama yaitu memanipulasi media untuk membohongi publik.
      Novel “American Hero” (1994) mengangkat skandal seks Bill Clinton-Monica Lewinsky. Sedangkan novel “Wag the Dog” mengangkat tema George Bush dengan Perang Teluk-nya.

    • ibuseno says:

      Wow.. skandal2 semua 🙂

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: