Home » Indonesia Crisis » Negara Tekor Banyak Akibat Rokok. Apa Solusinya?

Negara Tekor Banyak Akibat Rokok. Apa Solusinya?

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Cukai Rokok

Bismillah …

Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
Selamat menikmati udara bebas yang lebih bersih.
Selamat menikmati hidup sehat para sahabat.

Kita bahas tentang rokok dan seputarnya pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini.

Setiap tahun pada tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sejak tahun 1987. Menurut WHO, peringatan tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan dampak buruk merokok bagi kesehatan manusia dan menghimbau agar masyarakat tidak merokok selama 24 jam serentak di seluruh dunia pada tanggal 31 Mei 2013.

Di sisi lainnya, sejak tahun lalu (31/5/2012) hingga kemudian berlanjut sekarang ini (31/5/2013), di beberapa daerah, Komunitas Kretek menggelar aksi penolakan Hari Anti-Tembakau Sedunia. Bersama lembaga-lembaga terkait dalam komunitas tersebut menggelar orasi serta membentangkan spanduk permintaan dukungan. Komunitas Kretek yang berdiri sejak 2010 menganggap tembakau dan cengkeh memberi kontribusi positif terhadap negara; dan rokok adalah salah satu industri penyuplai terbesar pendapatan negara tiap tahunnya. Selain bergepok uang yang mengalir ke kas negara, rokok juga menjadi tempat bergantung hidup bagi jutaan orang yang bekerja di industri tersebut.

Benarkah industri rokok telah memberikan kontribusi yang positif untuk negara?

Fakta-nya itu hanya Mitos!
Industri rokok di Indonesia boleh saja mengklaim kontribusinya membayar cukai untuk negara cukup besar. Kenyataannya Kementerian Kesehatan mempunyai perhitungan sendiri, yang menunjukkan bahwa cukai tersebut jauh lebih kecil dibanding pengeluaran negara akibat rokok.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Komnas HAM (30/5/2013) mengatakan pendapatan negara dari cukai (tahun 2012) hanya Rp 55 triliun. Angka ini jauh lebih kecil dibanding pengeluaran makro negara yang tiap tahun mencapai Rp 254,41 triliun. Bila dirinci, pengeluaran makro akibat rokok sebesar itu antara lain untuk memenuhi beberapa keperluan sebagai berikut:

  1. Pembelian rokok itu sendiri (Rp 138 triliun).
  2. Biaya perawatan medis rawat inap dan rawat jalan (Rp 2,11 triliun).
  3. Kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas (Rp 105,3 triliun).

Penelitian dari World Bank telah membuktikan bahwa rokok merupakan kerugian mutlak bagi hampir seluruh negara. Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar. Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang menjadi miskin lebih lama karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.

Penderita sakit karena rokok itu sebagian besar adalah masyarakat miskin. Itu artinya subsidi kesehatan dari pemerintah ikut naik tajam. Jadi, memang benar pemasukan negara dari sektor cukai rokok cukup besar, namun tengok penggunaannya. Hampir seluruhnya untuk subsidi kesehatan yang ternyata besarnya tidak mencukupi.

Biaya besar lainnya yang tidak mudah untuk dijabarkan termasuk berkurangnya kualitas hidup para perokok dan mereka yang menjadi perokok pasif. Selain itu penderitaan juga bagi mereka yang harus kehilangan orang yang dicintainya karena merokok. Semua ini merupakan biaya tinggi yang harus ditanggung.

Jumlah perokok di Indonesia saat ini menempati peringkat ke-3 terbanyak di dunia, setelah China dan India. Diperkirakan ada lebih dari 61,4 juta perokok di Indonesia, dengan prevalensi berdasarkan jenis kelamin perokok menunjukkan 67,4% laki-laki, 4,5% perempuan.

Masifnya iklan, promosi, dan sponsor rokok merupakan pemicu naiknya jumlah perokok, terutama pada remaja dan anak. Data dari Tobacco Control Support Center menyebutkan jumlah perokok remaja usia 15 ~ 19 tahun atau usia sekolah SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi meningkat 12,9 persen dalam kurun waktu 15 tahun (1995-2010). Peningkatan terbesar terutama pada remaja laki-laki, dari 13,7% menjadi 38,4%. Sedangkan pada remaja perempuan meningkat dari 0,3% menjadi 0,9%.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) Arist Merdeka Sirait mengatakan iklan rokok sudah tidak terlalu berefek pada orang yang sudah merokok lebih dari 10 tahun. Biasanya mereka sudah loyal terhadap satu merek tertentu. Maka iklan rokok lebih menarik bagi remaja dan anak yang masih coba-coba merokok. Survei yang dilakukan KPAI pada 10.000 remaja dan anak beberapa waktu lalu menunjukkan 93% anak melihat iklan rokok dari tayangan televisi. 50% dari baliho di jalan, dan 73% dari sponsor acara.

Fakta yang lebih menarik lagi, ketua Komnas Pengendalian Tembakau dr. Prijo Sidipratomo mengatakan, iklan rokok sangat mempengaruhi ketertarikan remaja dan anak untuk merokok. Penelitian membuktikan bahwa 70% anak muda yang melihat iklan rokok terpengaruh untuk merokok. Saat ini iklan rokok hanya boleh ditayangkan di televisi melebihi jam 21.30, namun iklan rokok yang cenderung kreatif dan menujukkan nilai kebersamaan dan kepahlawanan dapat menarik remaja dan anak.

Visualisasi tentang fakta-fakta mengenai Industri dan Bisnis Rokok di Indonesia, dan Penetrasi Rokok dalam masyarakat Indonesia bisa Anda lihat dalam film dokumenter berjudul: “Sex, Lies & Cigarettes” di bawah ini. Dalam Konferensi Dunia untuk Tembakau 2010, Koresponden Christof Putzel pergi menyelinap dan melakukan pembicaraan dengan karyawan perusahaan tembakau. Ia juga melakukan wawancara dan investigasi langsung mengenai bocah perokok cilik di dunia serta memaparkan mengenai fakta-fakta cengkraman bisnis tembakau global di Indonesia.



Film dokumenter tersebut disharing oleh Yayasan Jantung Indonesia melalui Komisi Nasional Pengendalian Tembakau serta Current TV untuk kepentingan edukasi mengenai bahaya rokok. Dari film tersebut Anda bisa tahu mengapa Indonesia adalah surga industri rokok. Sekaligus bukti DUSTA barat untuk menjerumuskan Republik Indonesia.

Beribu cara telah diupayakan Pemerintah untuk menanggulangi bahaya rokok, namun bisnis ini seolah tak terpengaruh. Terus saja tumbuh membesar. Sebut saja peringatan di setiap bungkus rokok tentang bahayanya, tapi itu sama sekali tidak menurunkan minat konsumen di Indonesia. Itu sebabnya angka 55 Triliun yang harus disetor ke Negara seolah tidak ada artinya, karena industri tersebut mampu menghisap 254 Triliun dari masyarakat!!

Pendapatan negara sebesar Rp 55 Triliun itupun seolah tak ada artinya, mengingat biaya kesehatan yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 107 Triliun!! Bila seluruh pengobatan nantinya akan dibiayai oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), maka Jamkesmas harus menanggung Rp 52 Triliun sisa biaya pengobatannya. Ini sangat timpang, sudah masyarakatnya sakit, negara kita juga tekor besar-besaran karena rokok.

Ketimpangan ini akan semakin terasa pada 2014, karena pada tahun ini undang-undang Badan Pengelola Jaminan Sosial sudah disahkan, sehingga seluruh biaya asuransi kesehatan masyarakat akan ditanggung oleh pemerintah. Ini menjadi semacam lelucon berbahaya. Kita seolah dipaksa untuk melihat pendapatan dari rokok yang sangat besar, tapi tidak tahu efek buruknya. Ditambah lagi dengan ledakan jumlah merk luar negeri yang masuk Indonesia, maka kita harus bersiap mengeluarkan uang lebih tanpa penerimaan. Lho kok bisa?

Dengan telah ditandatanganinya Free Trade Agreement, maka barang itu bisa masuk bebas tanpa pajak masuk, hanya dikenakan PPn. Wajar jika Indonesia diserbu puluhan merk rokok luar negeri belakangan ini. Pelaku industri itu melihat peluang yang bagus. Pasar besar, pajak kecil. Bisa dibayangkan, berapa juta orang yang harus terkapar karena rokok, baik itu yang aktif maupun yang pasif.

Pemerintah harus mulai berpikir tegas soal rokok ini, tak hanya setengah hati via slogan-slogan klise. Salah satu contoh yang saya rasa tidak ada efeknya sama sekali yaitu terbitnya Surat Himbauan. Mengikuti seruan WHO, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring telah mengedarkan surat imbauan agar iklan rokok tidak disiarkan pada Hari Anti Tembakau Sedunia (HTTS). Surat dengan No. 338/M.KOMINFO/PI.03.04/05/2013 yang diedarkan pada (16/5/2013) tersebut ditujukan kepada seluruh Direktur Utama / Penanggung Jawab Lembaga Penyiaran Radio dan Televisi di seluruh Indonesia. Surat tersebut selain ditembuskan kepada Presiden RI, juga ditembuskan pula ke Ketua KPI Pusat, Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Ketua Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Ketua Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATVJI), Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), dan Ketua Asosiasi Radio Siaran Lokal Seluruh Indonesia (ARSLI).

Surat himbauan itu hanya berlaku selama satu hari saja. Anda pun bisa merasakan seberapa besar dampaknya bagi para pecandu rokok. Bisa dikatakan kecil sekali.

Lantas, apa usul yang dirasa jitu dan taktis untuk mengatasi kondisi defisit negara besar-besaran dan masyarakatpun menjadi sehat?

Industri rokok adalah industri No. 2 terbesar di dunia setelah Oil and Gas. Mengalahkan industri otomotif, elektronik, dst. Luar biasa. Industri rokok adalah pendukung No. 1 bisnis olah raga dan hiburan dunia. Gak ada tandingannya sejagat raya.
Di negara-negara seluruh dunia, industri rokok pasti tercatat sebagai 5 besar penyumbang pendapatan negara. Termasuk Indonesia. Di Indonesia, cukai rokok tahun lalu saja sebesar 120 Triliun, tahun ini target 150 Triliun. Merupakan pajak/cukai yang terbesar dalam APBN. Cukai yang 150 Triliun itu belum termasuk multiplier effects atau manfaat domino yang ditimbulkan dari mata rantai industri rokok: hulu-hilir.

Begitu besarnya skala industri rokok dan kontribusinya pada APBN serta multiplier effects-nya dalam roda perekonomian, sehingga pemerintah RI sangat tergantung pada industri rokok. Oknum-oknum pejabat kita di pusat dan daerah juga “tergantung” pada industri rokok. Karena menghasilkan kekayaan yang luar biasa, pengusaha rokok Indonesia selalu menempati orang terkaya No. 1 dan No. 2 di Indonesia. Hebatkan!

Berhasilnya para pengusaha rokok menjadi orang terkaya No. 1 dan 2 di Indonesia, menunjukan bahwa Pemerintah tidak berfungsi maksimal. Bayangkan saja, kenapa pemerintah bisa membiarkan pengusaha rokok yang mengambil keuntungan terbesar dalam industri “mematikan” ini? Pemerintah memang sudah memungut Cukai, PPN, PPh, PBB, dst dari industri rokok. Tapi nilainya masih sangat kecil, tidak sebanding!
Kenapa pemerintah tidak bisa bertindak “keras dan adil” terhadap industri rokok?
Kenapa lobi / bargaining position industri rokok sangat kuat?

Sebagai industri raksasa, lobi pengusaha rokok sangat kuat. Mereka mudah menyuap para pejabat-pejabat RI yang super rakus itu. Cukai pun jadi kecil. Setiap tahun besaran cukai rokok ditinjau pemerintah. Saat itulah uang suap jutaan dollar digelontorkan pabrik-pabrik rokok ke pejabat-pejabat RI. Setiap tahun pejabat-pejabat Depkeu selalu “ancam” cukai rokok akan naik 100% atau lebih dari cukai tahun sebelumnya. Akibat lobi dan suap industri rokok terhadap oknum-oknum petinggi Depkeu (mungkin juga istana?) besaran cukai yang dikenakan terhadap rokok sangat kecil.

Contoh sebungkus rokok isi 16 batang dengan harga jual pabrik Rp 12.000/bungkus hanya kena cukai Rp 375/batang. Jika tahun depan pemerintah hanya menaikkan 30% cukai, maka besar cukai tahun depan tidak lebih dari Rp 500/batang. Artinya harga rokok pun hanya naik Rp 1000-Rp 1500 per bungkus. Pendapatan negara tida maksimal (paling hanya 160-170 trliun), harga rokok pun masih murah. Bandingkan harga rokok di Malaysia yang Rp 30 ribu/bungkus atau Singapore yang Rp 80 ribu – 90 ribu/bungkus!

Pemerintah RI tidak mungkin bisa melarang industri Rokok. Negara masih sangat tergantung pada cukai dan pajak sektor rokok. Namun pemerintah bisa mengendalikan peredaran konsumsi rokok dengan instrument pajak dan cukai pada rokok.

Kembali pada Ilmu atau teori ekonomi: Harga naik maka permintaan turun. Harga naik maka permintaan pada produk subtitusi naik, dst.
Rokok adalah produk “non substitusi”. Apa artinya? Kenaikan harga rokok TIDAK menurunkan permintaan rokok secara “absolut”. Namun, kenaikan cukai rokok yang otomatis menaikkan harga jual rokok TETAP menurunkan permintaan terhadap rokok meski tidak terlalu signifikan. Artinya: jika cukai rokok dinaikan secara progresif atau bahkan secara radikal sekalipun, penerimaan negara tidak terganggu, bahkan melonjak!

Permintaan terhadap rokok hanya bisa berkurang secara signifikan jika kenaikan cukai rokok dilakukan secara SANGAT radikal. Misalnya cukai rokok yang Rp 375/batang itu langsung dinaikan 300-500% menjadi, katakanlah Rp 1000- Rp 1500 /batang!! Jika hal itu terjadi, maka harga jual rokok yang tadinya Rp 12.000/bungkus (isi 16 batang) akan melonjak menjadi 20.000-30000/bungkus. Harga 30.000/bungkus atau setara dengan harga rokok di Malaysia itu pasti akan mempengaruhi permintaan rokok. Meski hanya sementara saja. Namun, dampak penerimaan cukai/pajak pada sektor rokok akibat naiknya cukai secara radikal akan luar biasa: 250-350 Triliun/tahun!!

Dengan cukai rokok Rp 300 Triliun per tahun, kalau mau bertindak bodoh, pemerintah bisa dengan mudah meneruskan subsidi BBM hehehe. Dengan Rp 300 Triliun per tahun dan terus meningkat tiap tahunnya, jika pemerintah mau membangun infrastruktur, banyak sekali manfaatnya. Apalagi jika harga rokok terus dinaikan secara radikal setiap tahun sehingga menyamai harga rokok Singapore Rp 80-90 ribu/bungkus. Ambooi!

Jika harga capai 90 ribu/bungkus, artinya cukai rokok senilai Rp 2000 – Rp 3000/batang. Penerimaan APBN pun lebih dari Rp 1000 Triliun/tahun. Bayangkan, apa yang dapat dilakukan pemerintah dengan Rp 1000 Triliun/tahun itu? Jalan tol, pelabuhan, sekolah, listrik, rumah sakit, dll.. makmur sejahtera.

Kalau pun penerimaan kurang dari 1000 Triliun/tahun dari cukai rokok itu meleset karena permintaan turun, ya tetap bagus: Rakyat Lebih SEHAT hehehe.

Kesimpulannya adalah hadirnya sebuah pertanyaan besar:
Kenapa pemerintah tidak mau menaikkan cukai rokok secara radikal?
Apakah pemerintah tunduk dibawah kendali konglomerat-konglomerat rokok?

Apakah Pemerintah RI akan kehilangan pendapatan jika mereka menaikan pajak terhadap industri rokok karena makin sedikit orang yang akan membeli rokok?

Perhitungan menunjukkan bahwa pajak yang tinggi memang akan menurunkan konsumsi rokok tetapi tidak mengurangi pendapatan pemerintah, malah sebaliknya. Ini bisa terjadi karena jumlah turunnya konsumen rokok tidak sebanding dengan besaran kenaikan pajak. Konsumen yang sudah kecanduan rokok biasanya akan lambat menanggapi kenaikan harga (akan tetap membeli). Lebih jauh, jumlah uang yang disimpan oleh mereka yang berhenti merokok akan digunakan untuk membeli barang-barang lain (pemerintah akan tetap menerima pemasukan). Pengalaman mengatakan bahwa menaikan pajak rokok, betapapun tingginya, tidak pernah menyebabkan berkurangnya pendapatan pemerintah.

Menaikkan cukai rokok hingga 300-500% adalah opsi terbaik untuk menyehatkan bangsa ini. Karena dengan harga saat ini yang sangat murah, sehingga rokok dapat sangat mudah diakses oleh anak remaja; maka, dengan menaikkan cukai hingga 300-500% maka harga jual rokok menjadi tinggi, masyarakat miskin tak akan mampu menjangkau itu. Anak remaja pun juga akan mustahil menjangkau harga itu. Pendapatan negara pun akan naik menjadi 1000 Triliun dari cukai rokok. Dengan demikian, subsidi negara sebesar 107 Triliun itu dapat dialihkan untuk kepentingan yang lain. Pendidikan misalnya.

Langkah lainnya yang harus didorong oleh Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan tindakan nyata seperti terapi gratis untuk perokok. Jadi, bukan hanya slogan, himbauan untuk tidak merokok, dan menetapkan Kawasan Tanpa Rokok; tetapi lebih mendorong penelitian untuk menemukan pengobatan yang paling mudah untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan terhadap rokok.

Pemerintah RI juga harus mempunyai target untuk menekan angka perokok. Sekadar pembanding, Pemerintah Singapura bertekad untuk menekan angka perokok menjadi di bawah 10 persen tahun 2020.

Tapi saya yakin itu tak semudah membalik telapak tangan. Kenapa? Karena industri itu tentu tak akan tinggal diam. Seperti kita ketahui bahwa sejak era reformasi, peran Legislatif cukup kuat terhadap eksekutif, termasuk dalam penentuan APBN. Maka (bisa jadi) pelaku Industri rokok menggunakan kekuatan uangnya untuk membatalkan atau menolak rencana tersebut. Belum lagi dengan menggerakkan petani tembakau seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Banyak instrumen yang bisa mereka mainkan.

Selain menggantungkan harapan kepada pemerintah, faktor masyarakatnya juga harus berani berubah. Mampu berkomitmen menjalankan pola hidup dan keuangan yang sehat untuk tidak merokok. Sehebat apapun pemerintah berupaya, kalau masyarakatnya enggan untuk melakukan perubahan juga percuma. Harus 2 arah. Pemerintah giat untuk menyehatkan masyarakat, masyarakat juga harus getol untuk berubah. Itu semua demi kebaikan bersama. Kalau kita sehat, orang sekitar kita juga sehat karena tidak terpapar radikal bebas dari asap rokok.

Apakah pengaturan yang lebih ketat terhadap industri rokok akan berakibat hilangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dan pabrik rokok?

Tidak akan mudah seperti itu. Memang dengan berkurangnya konsumsi rokok, maka suatu saat akan mengakibatkan berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau. Tapi ini terjadi dalam hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur. [Berbagai info program pertanian alternatif akan saya tulis/update di kolom komentar].

Para ekonom independent yang sudah mempelajari klaim industri rokok, berkesimpulan bahwa industri rokok sangat membesar-besarkan potensi kehilangan pekerjaan dari pengaturan rokok yang lebih ketat. Di banyak negara produksi rokok hanyalah bagian kecil dari ekonomi mereka. Penelitian yang dilakukan oleh World Bank mendemonstrasikan bahwa pada umumnya negara tidak akan mendapatkan pengangguran baru bila konsumsi rokok dikurangi. Beberapa negara malah akan memperoleh keuntungan baru karena konsumen rokok akan mengalokasikan uangnya untuk membeli barang dan jasa lainnya. Hal ini tentunya akan membuka kesempatan untuk terciptanya lapangan kerja baru.

Usulan ini hanya memberi solusi untuk mengeliminir perokok yang miskin. Karena seperti yang saya sebutkan tadi, Pemerintah harus menanggung beban sebesar ratusan Triliun hanya untuk mengobati orang sakit karena rokok. Sayang kalau uang sebesar itu hanya untuk mengobati sakit karena rokok, lebih baik untuk program pengentasan kemiskinan, pendidikan, dll.

Buat para pembaca blog ini yang perokok, semoga tidak selamanya Anda menjadi budak rokok. aamiin.
Sayangi uang Anda… belanjakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat yang mendatangkan berkah-Nya. Sayangi keluarga Anda.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
31.05.2013

.
*********
Catatan:
* Ilustrasi banner dimodifikasi dari sini.

Advertisements

76 Comments

  1. wildan says:

    Indonesia itu negara bodoh seharusnya mereka tahu bahwa satu satunya kelemahan Indonesia ialah dengan barang barang B3 yaitu narkaoba dan rokok.Saya bosan di TV hanya ada berita gitu terus kalau saya sih ya ingin pelajar yang merokok atau narkoba dihukum mati dan itu juga berpengaruh bagi masyarakat yang lain agar mereka takut atas kekuatan negeri ini. Saya tahu Indonesia menjunjung tinggi toleransi tetapi ini sudah keterlaluan karena rokok akan membunuh manusia sampai tidak ada yang tersiksa dan saya selalu berdo’a agar perokok aktif itu sadar juga saya berdo’a agar perokok aktif semuanya masuk neraka dalam keadaan badan seperti babi dan anjing tentu saja tidak akan pernah masuk ke surga.Dan harga rokok itu terlalu murah seharusnya berkisar 1juta sampai 3juta

  2. sigit says:

    Ya..yang mau merokok silakan,yg gak merokok jg silakan,
    Kalo saya yakin,sesuatu slama tdk haram tidak akan membawa efek buruk kok,
    Kalo pun ada perokok yg sakit paru2/jantung/dll itu udah kehendak Ilahi,gak bisa di kaitkan dgn rokok,buktinya hanya 1:300 lebih perokok di dunia ini yg terkena penyakit paru/jantung/dll,yg bukan perokok juga banyak yg kena penyakit paru2/jantung/dll
    So…seperti kata alm bapak Gusdur,
    Gitu aja kok repot

  3. Annisavidy says:

    rokok memang produk yang masiveness. kita mungkin berdebat mulai lemahnya regulasi, konglomerasi perusahaan rokok, dan lain sebagainya. Coba kita lihat dari berbagai sudut pandang subjek ekonomi yang terlibat dalam industri ini. Jika anda sebagai pengusaha rokok, apa yang anda lakukan? Jika anda sebagai pemerintah, bagaimana kebijakan yang dapat menjadi win-win-solution, dan yang yang paling penting dari sudut pandang masyarakat. Dengan sosialialisasi gencar-gencaran yang telah dilakukan pemerintah maupun LSM penggiat anti rokok, masihkah memunculkan feedback yang signifikan di masyarakat? Jika memang merugikan negara, mengapa tidak dihentikan saja perusahaan-perusahaan rokok di seluruh dunia? Karena mungkin dari persepsi pemerintah, memang adanya industri ini menimbulkan hubungan simbiosis mutualisme.
    Salam.

  4. […] ————————- Sebaiknya Anda simak juga: 1. [Video] #TolakJadiTarget 2. Menjadi Perokok Pasif, Wanita Ini Kehilangan Suara [Kompas, 25/5/2015] 3. Negara Tekor Banyak Akibat Rokok. Apa Solusinya? […]

  5. jalu says:

    Pengeluaran makro kok dibandingkan dg setoran cukai. Bandingkannya dg belanja makro rokok jg dong. Itung itu pph & ppn dr rokok, dampak ekonomi dr pabrik rokok, iklan, sumbangan pdb, dst. Itu baru namanya fair.

  6. sudirmAn says:

    stuju bget buat cukainy dinaikkan..
    apalagi skarang yg masih sd dah mrokok… 😀

  7. Yudhi Achmad B says:

    Menurut saya, Indonesia sebenernya sudah berpengalaman dalam menjalankan program besar-besaran bagi rakyatnya. Coba aja kalo terapi perokok dibikin kayak prgram KB. Terbukti Indonesia bisa menekan pertumbuhan penduduk. Jika kampanye terapi rokok gencar kayak KB (Di berbagai daerah ada tugu/patung khusus KB, tiap pemda/pemkot ada dinas BKKBN, tiap puskesmas ada suntik KB gratis, atap rumah ditulisi “KB”, dll) wah insya Allah malu sendiri tu si perokok.
    Trus mengenai pengalihan profesi dari industri rokok, setidaknya Indonesia sudah bisa belajar dari gmn memindahkan minset/ketergantungan penduduk dalam memasak menggunakan kayu bakar. Terbukti Indonesia “lumayan” sukses dalam program “ELPIJI”-sasi… hehehe. sekedar usul.

  8. Salam kenal semuanya,
    Terus terang saya seorang perokok. Mohon jangan dicaci maki ya.
    Saya tidak berusaha membela kaum prokok maupun non perokok.
    Saya berusaha mencermati artikel dan diskusi di sini, termasuk videonya.

    Yang saya lihat adalah, bahwa yang terjadi di sini adalah sebuah ironi. Mengapa?
    Karena situasi yang terjadi dilapangan jauh berbeda dengan segala fakta yang disampaikan. Khususnya tentang bahaya merokok.
    Yang saya tekankan di sini adalah lebih besar kepada ketidakmampuan kita semua dalam memerangi Pengusaha dan ketidakmampuan dalam mendiversifikasi pekerja rokok dan tembakau.
    Ya.. anda tidak salah baca.. KITA SEMUA.

    Segala macam pendapat yang diajukan, belum disertai dengan solusi, yang dapat mengakomodir jutaan atau bahkan puluhan juta rakyat Indonesia yang bekerja di bidang rokok dan tembakau.

    Pemerintah misalnya: mereka menyatakan bahwa pendapatan negara dari cukai dan pajak rokok jauh lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran makro akibat produk tersebut. Namun mereka sendiri tidak berani menolak atau mengatakan tidak pada saat didekati oleh pengusaha rokok / tembakau.

    Dan ini tidak hanya terjadi pada industri rokok. Hampir di semua jenis industri.
    Emas.. Indonesia tidak mampu membendung Freeport dan Newmont.
    Minol.. Indonesia tidak berdaya terhadap gempuran Bir Bintang dan Anker. Bahkan Pemda DKI nyata nyata adalah salah satu pemilik saham Anker Bir.
    Pemerintah bahkan nyata nyata (meskipun tidak semuanya) terdiri dari para pengusaha yang bermasalah. ARB misalnya..
    Bagaimana mungkin pemerintah bisa mengatakan TIDAK bila efeknya akan menghantam mereka sendiri.

    Contoh paling nyata adalah pendapat Prof. Tjandra di atas yang mengatakan bahwa pendapatan cukai rokok 2012 hanya 55 trilyun namun pengeluaran makro akibat rokok mencapai 254 trilyun lebih.
    Apabila pemerintah memang serius, naikkan cukai rokok 500%. kalau sekarang 35% misalnya, maka jadi 175% maka 254 trilyun tersebut akan terbayar oleh cukai rokok. Dan bukan hanya itu saja. jumlah perokok pasti menurun karena harga rokok menjadi semakin tidak terjangkau.

    Namun regulasi industri ini kan sebuah permainan yang diluar jangkauan kemampuan kita. Karenanya hingga saat ini masih berjalan dengan lancar.

    Salah satu bukti bahwa regulasi tersebut adalah permainan,
    Coba anda beli sebungkus U mild di toko kelontong. Harganya hanya 9.500 atau kadang 9.200 di kelontong kelas grosiran. Lalu coba lihat bandrol cukainya. Di situ tercantum harga 10.100. Bagaimana mungkin produk yang sudah diatur oleh pemerintah, khususnya bea cukai, bisa terjual lebih murah daripada pita cukainya. dan itu masih belum selesai. bila di toko kelontong harganya 9.500, Bisa dibayangkan berapa harga jual sub dis, berapa harga jual ditributor dan berapa harga jual pabrik.
    (Saya kebetulan bekerja di perusahan yang memproduksi barang kena cukai atau BKC, tapi bukan rokok, dan sudah jelas ada aturannya bahwa BKC tidak boleh dijual di bawah harga bandrol)

    Kita sebagai bagian dari masyarakat, kita hanya meneriakkan kampanye anti rokok. Namun kita tidak memberikan solusi.
    (Saya menyebutkan kita.. jadi saya juga termasuk. namun saya termasuk yang tidak memberi solusi, bukan yang menentang.. )
    Dapatkah anda bayangkan, apabila industri rokok dihentikan? di video di atas disebutkan data 600.000 jiwa yang bekerja di sektor pertanian tembakau (kalau tidak salah). Itu data 2012. bagaimana dengan sekarang.. dan itu belum termasuk pekerja pabrik rokok, distributor, sub dis, grosir, pengecer, pedagang acung, biro media dan pendukungnya, dan belum termasuk keluarga para pekerja tersebut.

    Indonesia sekarang masih dibebani dengan para pengangguran dan penduduk miskin. Apakah mampu bila ditambah dengan limpahan dari industri rokok dan tembakau?
    Statement: “kan masih banyak lapangan kerja yang lain”, adalah sebuah statement yang kualitasnya sama rendahnya dengan statement para perokok yang mengatakan: “duit gua ini”, atau “siapa bilang rokok berbahaya”. Mengapa? karena keduanya sama sama statement mentah. Tidak ada solusi.

    Mendiversikan jutaan jiwa ke lapangan kerja baru membutuhkan waktu panjang dan usaha yang tidak mudah.
    Belum lagi masalah adaptasi, mempelajari seluk beluk bisnis/pekerjaanbaru tersebut.
    Bila anda pernah membaca sebuah studi kelayakan, anda pasti akan menemukan faktor dana cadangan 3 bulan pertama atau 6 bulan pertama. (Saya tidak mengetahui persis istilahnya). Hal tersebut adalah untuk menjaga supaya bisnis baru tidak kolaps karena belum memiliki income tetap.. kondisi ini juga akan dibutuhkan oleh para petani tembakau semisal mereka akan didiversikan ke tanaman lain.
    Para pekerja pabrik rokok juga begitu. Mereka akan terkena lagi masa percobaan 3 bulan. itu kalau mereka diterima bekerja. Dan belum tentu juga ditempat kerja yang baru, mereka bisa mendapatkan posisi dan gaji yang sama. Itu semua membutuhkan penyesuaian.
    Saya tidak membicarakan jabatan2 yang bersifat umum seperti humas atau akunting..Yang akan menjadi masalah adalah bagi mereka yang memiliki keahlian terbatas. Tukang linting misalnya.. yang menduduki jumlah cukup besar dalam sebuah industri rokok.

    Belum lagi efek berantai yang diakibatkan bila industri rokok dihilangkan.
    Percetakan tidak akan bisa menerima pegawai baru karena penjualan mereka juga berkurang karena tidak lagi mencetak untuk pabrik rokok.
    Iklan, bungkus, baliho, pamflet, suvenir, brosur, dll.
    Pabrik kertas juga sama.. mereka kehilangan order bungkus rokok, order kertas untuk selebaran juga berkurang, penjualan kertas HVS untuk kantor pabrik rokok juga berkurang.. pesanan pita cukai juga lenyap (PT. Percetakan Negara juga akan kehilangan sebagian penjualannya).

    Namun ada juga industri2 yang diuntungkan, rumah sakit, rumah terapi, pabrik obat, akan panen besar karena pasien baru para mantan perokok yang stress. Pernahkah terlintas bahwa mungkin saja kampanye anti rokok ini adalah juga sebuah permainan? Karena industri medis juga ingin mendapatkan keuntungan berlimpah? Namanya kemungkinan kan bisa saja. Kita tidak bisa mengatakan tidak mungkin, karena semua orang suka dengan uang.

    Apabila memang rokok dianggap berbahaya, maka satu satunya jalan adalah meniru Amerika. Bikin rokok semahal mungkin. Saya sebagai perokok setuju bila langkah ini yang diterapkan.
    Seperti yang saya tulis di atas, naikkan cukai rokok secara bertahap namun jangka pendek menjadi 5x lipat. kalau perlu 10x lipat. Dalam 5 tahun misalnya.
    Saya yakin pendapatan saya tidak akan bisa kejar kejaran dengan kenaikan cukai rokok yang seperti itu. Kalau sekarang cukai per batang 375, maka 5 tahun ke depan bisa 1875 atau 3750. 60.000 hanya untuk cukainya saja..
    Di sini kita memberi waktu kepada semuanya untuk beradaptasi. Dengan memberi kesempatan beradaptasi, maka kita ikut menyelamatkan bangsa.

    Namun harus diingat, kita harus tetap bisa bertindak adil. Apabila rokok dinaikkan cukainya maka Etil Alkohol dan Mikol juga harus dinaikkan cukainya. Bila tidak, pasti akan ada penolakan masif karena hanya tebang pilih.

    Dan harap diingat juga, bahwa akan ada 4 jenis produk baru yang akan dikenakan cukai. Minuman bersoda, Pulsa Telpon Seluler, Emisi kendaraan bermotor dan limbah pabrik.
    (http://www.merdeka.com/uang/empat-komoditi-yang-bakal-dikenakan-cukai.html)

    Saya yakin untuk limbah pabrik, anda pasti akan mendukung. Bagaimana dengan yang 3 lagi?
    Ingat, klasifikasi pengenaan cukai adalah:
    Cukai dikenakan untuk barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang dipandang konsumsinya perlu dikendalikan dan peredarannya perlu diawasi.
    Cukai juga dikenakan untuk barang-barang yang pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup.

    Ini cukup perlu anda pertimbangkan juga, karena kebiasaan kita sebenarnya sama kok. Kita ini ibarat Bunglon.

    Saat terjadi sebuah penolakan terhadap suatu kondisi yang tidak mempengaruhi kepentingan kita, maka kita bersemangat untuk ikut ambil bagian dalam penolakan tersebut.

    Namun bila sebuah penolakan berpengaruh terhadap kita sendiri, kita ikut bersemangat untuk menolak, yaitu menolak penolakan tersebut.

    Sepertinya data penerimaan cukai yang disebutkan oleh Prof. Tjandra perlu dibandingkan keabsahannya dengan data berikut:
    http://www.sampoerna.com/id_id/tobacco_regulation/pages/tobacco_taxation_system_in_indonesia.aspx

    Salam Hormat..

  9. HABIEM says:

    sy perokok aktif, dn tdk tau bnyk soal dunia kshtan srta politik perpajakn. namun sdkit yg sy phami ttg tata ruang, bgaimna kndsi ruang yg myoritas d tnggali masy. indonesia ykni d perkotaan tidak bnyak memberikan kenyamanan bgi penghuninya akibat kesemrawutan kota. fakta yang sring sy dengar mungkin agk lain dng doktrin2 yang di gemborkn d artikel ini, krena mslah kesehatan serta ekonomi msyrkt menengah kbwah tdak sesederhana sprti yang d ungkapkn dsni. bgamna pmahaman yang sy pnya ttg tata ruang itu brkolerasi dengan kehidupan masyarakat. terutama dlm hal ini mengenai kshatan, kenyamanan, gaya hidup, kearifan lokal, perekonomian, dan lain sbgainya. sdikit yang ingin sya singgung soal keshatan. mungkin pndapatn pmerintah dri pjak rokok tdk sbrapa dbandingkn dng biaya kshatn yg hrus dkluarkan pmerintah. tapi ap bner hanya gangguan kshtan diakibtkn rkok!!! klo dpkir dn mungkin dilihat scra ksat mata polusi asap itu bkan hanya rkok, bnyak yg lainnya trutama polusi yang di akibatkn asap kndraan. apa itu tdak ad pngaruhnya?… mungkin tdk bsa mnyalahkn kndraan atau pngndaranx jg, krena kbnykan org yang ad dsni akan mrsa brsalah klo hrus mnyalahkn polusi kndaraan. pdhal kntribusi polusi mungkin yang pling bsar adalah dri kndaraan slain dri pda polusi asap rokok dan mungkin pabrik2 bsar.
    itu bru sdikit pnyangkalan dri diskriminasi perokok ini krena kurang bijak jga klo dsini hnya mnyalahkan kami para perokok atas gangguan kshtan yang trjadi di masyarakat. pdhal klo lebih di dalami lg mngkin asap rokok itu hnya sebagian kcil dri polusi udara di bumi ini, sbgian bsarnya adalah polusi dri kndaraan. untuk pmbuktianx mungkin gk prlu survey scara detail atau rinci. qta lihat sja kbnyakan pnyakit di kota dan di desa. org yang hdup d kota dengan kndisi udra yang pnuh polusi, gya hidup yang krang baik, tngkat stress yg tinggi, serta knyamanan yg tereliminir menderita gangguan2 ksehatan berat yang btuh biaya besar untuk mengatasinya. bahkan tak jarang org yang bkan prokok pun dng kondisi seprti itu mengalami gangguan kshtan yg lebih parah dbanding para perokok. tapi kalo diperhatikan lagi dng penyakit yang sering terdapat di desa2 yang polusinx msih rendah, kenyamananx msih trjaga krena lingkungan hanya sdkit yang mngalami gangguan ksehatan yg berat sperti yang di sbutkn dlam label2 rkok, mskipun kebnyakan masyrkn desa jga perokok.
    dri fenomena tersebut bsa d phami bhwa rkok bkan lah salah satu pnyebab mutlak dalam gangguan kshatan masyrakat pda umumnx. mskipun sbagian ad yang diakibatkn mutlak oleh rokok tapi mungkin hanya sgelintir org. dan kbnyakn gangguan kshatan akbat polusi udara pling besar adalah polusi kendaraan dan mungkin pabrik2 yang menghasilkn polusi dan lain sbagainya. kalo di ibaratkan, rokok itu menghasilkan polusi udara yang membahayakn dirinya sndiri dan pling luas mungkin hanya seisi rumah. tapi kalo asap kendaraan itu menghasilkan polusi udara yang membhyakan hingga jangkauan seRT atau bhkn 1 RW. mungkin sprti itu perumpamaanx.
    jdi klo anda2 yang bkan perokok mrsa terganggu dng asap rkok kami maka kami jga mrsa terganggu dng asap kendaraan anda. jka anda tdak pnya kndaraan, sblum anda mnyalahkn kami para perokok maka salahkan lah dlu para pngendara yang lbih besar menghasilkn polusinya. bahkan bkan cma polusi sja, akibat dri tdak terbatasnx jmlah kendaraan lingkungan jdi tdk nyaman, kmacetan dmana2, gaya hidup krang shat krna jrg bergerak/berolah rga, tingkat konsumsi lbih tinggi dan banyak yang lainnya lg.

    sdikit ksimpulan dri sy sbagai perokok, penyakit itu bkan hanya dsebabkn oleh sebab yang nyata sja, tapi hal-hal yang tak nyatapun bsa mendatangkn pnyakit seperti msalnya pikiran yang stres, atau cobaan dri tuhan yang tdak memerlukan sbab yang nyata. hnya sbgai ujian keimanan.

    satu hal lagi penataan ruang yang menciptakan kebaikan bagi kehidupan masyarakat dapat menjadi solusi yang lebih bijak dn menyeluruh tanpa perlu mendiskriminasikn salah satu pihak. itu…

    trimaksih atas informsinya, maf kalo sy blum sepaham dng isi artikelnx…

    • Irvan Alvisa Himawan says:

      Mas, saya baca komen mas ini di tahun 2016. saya terpukul kalo mas menganggap rokok itu di umpamakan “Tidak apa2”. Pemerintah sendiri udah membantu kita untuk mengurangi polusi udara, untuk mengampanyekan salah satunya car free day ! beberapa jam tanpa polusi kendaraan udah cukup membantu. Kalau mas bilang rokok salah satu perusak tapi masih membandingkan dan membela dgn adanya asap polusi mobil/pabrik, anda sama sekali tidak membantu untuk membersihkan udara di muka bumi yg kita tinggali ini. Kalau polusi salah satu solusinya kita bisa naik, kendaraan umum buat mengurangi jumlah kendaraan. Tapi kalo rokok, gmn solusinya? salah satunya yah kampanye-anti rokok. Kenapa anda menolak kampanye anti-rokok tapi menginginkan udara bersih tanpa polusi ? kenapa anda tidak coba untuk berhenti membantu menambah polusi rokok tersebut.

  10. Oya.. ingat banget, dulu waktu masih sekolah di mesjid sebelah rumah ada pengajian tentang ngga bergunanya rokok. Ia sebut deh tuh bahaya rokok dari segi kesehatan sampai agama yang me-makhruhkan rokok.

    Trus dari sisi ekonomipun ia menghitung2 betapa beruntungnya orang yang rokok. Bayangkan katanya, kalau sehari orang merokok2 bungkus, kaliin aja, harga sebungkus kali 2 kali 30 hari dalam sebulan.

    Misal,(aku ilustrasiin harga sekarang) sekarang rok10 ribu, kali 2 jadi 20 ribu, kali 30 hari jadi 600 ribu. Bayangkan dengan 600 ribu udah bisa bayar cicilan motor atau cicilan KPR. Kalo setahun kaliin lagi 12, udah 7,2 juta.

    Trus si ustad bertanya ke jemaah pria yang merokok sudah berapa lama ia merokok. Si ustad kaliin lagi dengan lamanya jumlah tahun si bapak-bapak yang merokok tadi. (harga dianggap sama)

    “Berapa puluh juta, Pak…? Coba itung uang bapak yang udah dibakar? Harusnya udah berdiri satu rumah yang bagus tuuuuhh…” ujar si ustad.

    Hebat juga itung-itungan si ustad yaaa…

    • Taufik Hidayat says:

      ane setuju saja dengan setiap pendapat/aspirasi……
      karena rokok dan ekonomi saling berhubungan
      sama saja penjabaran tentang polusi udara (perokok/kendaraan/ angkutan) dan perekonomian (pajak/pengangguran) suatu negara.

      Tapi klo ud gak ada perokok/polusi/kendaraan lagi :
      1. Bagaimana nasib para pekerja di pabrik rokok/kendaraan ??
      2. Bagaimana nasib para dokter paru di rumah sakit ???
      3. Bagaimana nasib kesehatan dunia dari polusi ????
      4. Bagaimana nasib ekonomi dunia apabila polusi udara tidak ada lagi ?????
      5. Apakah suatu negara sudah mampu menyediakan lahan pekerjaan bagi rakyatnya?????

      YANG PASTI SEMUANYA ITU BERTENTANGAN DENGAN KESEHATAN KARENA UNTUK SEHAT ITU MAHAL SEKALI APALAGI DENGAN BIAYA SENDIRI.

  11. Kemarin pas hari anti tembakau, aku masuk kamar temen kos yang perokok berat, aku langsung ngucapin, “selamat hari anti tembakauuu…” kataku dengan riang… dann langsung dia jawab, “Bodo, emang gue pikirinn…”
    Jleebbb….

    Aku sering lewat harmoni. Di atas kantor pos polisi harmoni, ada LCD besar yang isinya semuanya iklan rokok. Ada iklan yang seorang gagah perkasa yang nyelamatin orang yang tersesat di sela-sela jurang/bukit di pegunungan bersalju… Hebat banget, lompat-lompat dr helikopter, trus nyari deh posisi si korban…

    Ada juga yang seorang seniman yang bisa mengukir sangat indah sebatang korek api…. (itu korek api udah segitu kecill diukir pulaa… hebat kan?

    Tapi ya ituu… kehebatan marketing industri rokok adalah, menyampaikan kepada konsumen betapa hebatnya perokok, seolah-olah bahaya merokok itu hanyalah omong kosong saja…

    Seharusnya pemerintah mewajibkan industri rokok untuk membuat gambar paru-paru orang yang merokok di bungkusan rokok

  12. Dyah Sujiati says:

    sukaa sekali baca arikel ini. sangat membantu Pak. soalnya dapat info pasti soal kerugian negara yang disebabbkan oleh rokok. selama ini orang-orang terlalu berfikir pendek. nyumbang pajak lah yang diutamakan. ternyata justru lebih bikin tekor. makin PD kalau mau negor yang ngerokok (terutama di tempat/kendaraan umum) haha

    • Iya, pajak yang kita bayarkan selama ini pemakaiannya banyak tersedot untuk biaya kesehatan yang ditimbulkan akibat rokok. Ini fakta.

      Alhamdulillah, akhirnya pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan menetapkan kenaikan cukai rokok. Jadi, harga rokok akan naik tinggi, semoga para perokok menjadi lebih bersemangat untuk berhenti merokok, daripada uangnya dibakar sia-sia dan menjadikannya penyakit.

  13. pemikirulung says:

    vidionya ko gabisa diunduh ya pak?

  14. lolly says:

    Kadang sedih dan prihatin, kalo ngadepin beberapa anggota keluarga besar ku, Temanggung kampung halamanku adalah daerah produsen tembakau…. beberapa keluarga yang terlibat bisnis tembakau selalu menolak kebijakkan yg tidak berpihak sama produksi rokok… alasan mereka… tembakau ada mata pencaharian mereka… kalau industri rokok di kurangi, maka akan mematikan para petani rokok….. hadeeehhh… padahal dari link yang dikasi mbak Evia… sebagian besar tembakau yg digunakan untuk bahan dasar rokok di Indonesia adalah tembakau impor… dan kalau mau jujur juga memang saat musim tembakau, yang jelas dapet untung terbesar ya para pengumpul tembakau itu, perantara antara petani dan pabrik rokok……. dan kalau mau jujur juga… gak selamanya petani tembakau itu untung besar… kadang mereka juga rugi besar, dan menanggung hutang bank yang sudah terlanjur mereka ambil saat awal musim tanam…. dan yang pasti saya yakini…. usaha yang menghasilkan bahan yang banyak mudhorotnya…. dimanakah letak keberkahannya…

    • Terimakasih, saya suka dengan komentarnya mbak Lollyta, yg kemudian ditutup dg pengingat yg baik: “usaha yang menghasilkan bahan yang banyak mudhorotnya, dimanakah letak keberkahannya …”

      Pemerintah sekarang ini sedang berupaya menyiapkan tanaman alternatif. Melalui PP PP No 109/2012, pemerintah tidak melarang pertanian tembakau, justru mendorong pengembangan diversifikasi produk tembakau. Beberapa sentra pertanian tembakau sudah berhasil melakukan tumpang sari.

      Semoga dengan produk baru pertanian hasil tembakau tsb tidak lagi diarahkan untuk rokok, sehingga mengandung keberkahan yang sangat kuat untuk kesejahteraan petani.

  15. tinsyam says:

    ehiya kog jadi inget baby smoke-nya christof putzle..

  16. Catatan Agus Pambagio: Atasi Pat Gulipat Cukai Rokok
    Detik | 04/06/2013

    Cukai menurut UU No 39/2007 merupakan pungutan negara yg dikenakan thd barang2 tertentu yg mempunyai sifat atau karakteristik yg ditetapkan dalam UU ini. Berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) UU No 39/2007 tentang cukai: Barang kena cukai berupa hasil tembakau dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi. Artinya andalan pemerintah Republik Indonesia di sektor cukai adalah dari dari industri rokok atau produk tembakau.

    Dari sektor hasil tembakau/rokok, mayoritas cukai didapat dari 6 kelompok produsen rokok besar (The Big Six) ditambah puluhan perusahaan hasil tembakau kelas kecil hingga menengah lainnya yg terafiliasi pada mereka.

    Untuk menghindari besarnya pembayaran cukai rokok ke Pemerintah, patut diduga perusahaan produk tembakau melakukan pat gulipat dgn cara mendiversifikasi produknya ke merek lain dgn membentuk perusahaan baru di mana pemiliknya masih ada hubungan afiliasi dgn the Big Six.

    Untuk mengatasi dampak pat gulipat industri hasil tembakau, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 78/2013 tentang Penetapan Golongan Dan Tarif Cukai Hasil Tembakau Terhadap Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau Yang Memiliki Hubungan Keterkaitan. PMK No. 78/2013 ini telah diputuskan akan mulai berlaku pada tanggal 12 Juni 2013 mendatang.

    Munculnya PMK No. 78 tahun 2013 ini diharapkan dapat digunakan untuk menurunkan minat masyarakat membeli rokok yang harganya akan semakin mahal. Saatnya Negara berani menghadapi the Big Six dengan kepala tegak.

  17. debapirez says:

    Kadang perokok selalu punya pembenaran :(.
    ke depan, pungutan cukai akan diserahkan ke daerah. semoga daerah berlomba2 menerapkan pungutan yang tinggi 😀

  18. Ku isap sebatang rokok dji sam soe lalu ku keluarkan asapnya sekaligus ku coba menikmati isapannya.

    Terkadang aku berpikir agunya merokok, kenapa aku harus ikut-ikutan mengisap rokok, seperti para lelaki di inonesia ataupun di dunia yang merokok.

    Banyak yang pro kontra terhadap rokok, ada yang bilang tidak sehat untuk kesehatan dan ada yang bilang biar terasa lengkap, biar tera sempurna hidup ini, apalagi setelah makan.(kata pecandu rokok).

    Yang tak habis pikir dalam benakku, pemerintah jelas-jelas melarang merokok.
    ”MEROKOK DAPAT MENYEBABKANKANGKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”
    Tapi mengapa pabriknya masih terus berkembang bahkan salah satu penghasilan terbesar di indonesia adalah penjualan rokok.

    Mengapa pemerintah tidak tegas menindak oknum-oknum yang merokok, terutama oknum distributor dan yang paling pantas di bumi hanguskan adalah pabrik dan penghuninya.
    Mengapa pemerintah seakan-akan seperti Dewa, melarang dengan tegas merokok dapat membuat penyakit, tapi mengapa mereka menutup mata dengan orang-orang yang masih mengkonsumsi rokok. Dan yang masih menciptakan rokok, atau karena mereka juga kecanduan dengan yang namanya rokok.

    *******
    Pemerintah ini seumpama, orang orang yang ada di dalam lingkaran orang-orang mabuk yang meneguk sebotol anggur yang memabukkan. Mereka melarang sesuatu yang tak boleh di kerjakan. Tapi hanya melarang tak mau berbuat apa-apa, jika mereka melihat larangannya, masih dikerjakan oleh masyarakat.

    Atau mereka hanya melarang agar dilihat sangat baik seperti dewa oleh masyarakat awam, tapi faktanya mereka adalah iblis sang penghuni neraka zahannam.

    Pemerintah ku, kenapa engkau seperti ini, hanya mementingkan perutmu, perut familymu, perut saudara-saudaramu, sahabat-sahabatmu dan anggotamu.

    Rokok memang suatu penyakit yang dapat mengakibatkan kematian tapi mengapa engkau (pemerintah/aparat) melarangnya sambil mengisap rokok pula di istanamu yang megah

  19. tinsyam says:

    baca aja ya mas.. ga tahu mo komen apa.. daku share via wptainment ya..

    • Silakan, mbak Tin. Postingan saya setelah jurnal ini sepertinya juga bisa dimasukin ke WPTainment, kejadian-kejadiannya mengerikan. Kejahatan-kejahatan yang ditimbulkan akibat miras.

  20. simplyndah says:

    Reblogged this on it's simply me and commented:
    Semoga dibaca oleh mereka yg selama ini mendewakan rokok

  21. 0mali says:

    Numpang promo grup aahhh https://www.facebook.com/groups/430052777011106/

    Sama numpang promo petisi http://www.change.org/stopiklanrokok tandatangan yaaaaa ^ ^

  22. martinafiaub says:

    Perlu adanya pembahasan yang panjang mengenai permasalahan rokok ini dan bagaimana memberikan solusi yang tepat. Hal ini sangat penting karena sampai saat ini pun masih terjadi tarik ulur kepentingan bagaimanan mngatasi permasalahan rokok di Indonesia. Perusahaan rokok menentukan nasib banyak orang pekerja dan itu harus bener2 diperhitungkan oleh pemerintah, sperti dimana saya berada sekarang adalah sebuah kota yang terdapat pabrik terbesar seAsia Tenggara. Setiap hari banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari rokok. Kita menunggu bagaimana wujud nyata pemerintah yang saat ini belum terihat bagaimana menyelesaikan masalah ini karena kita semua juga tidak mau rokok akan merusak kesehatan dan masa depan generasi muda

    • Setahu saya pemerintah sudah lama berusaha keras mengatasi persoalan ini, sehingga outputnya melahirkan PP No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau. PP ini rencananya akan diterapkan mulai Juni 2014.

      Pemerintah mengimbau petani tembakau tak perlu khawatir, krn pemerintah telah menyiapkan tanaman alternatif. PP ini tidak melarang pertanian tembakau, justru mendorong pengembangan diversifikasi produk tembakau. Beberapa sentra pertanian tembakau sudah melakukan tumpang sari, seperti di Jawa Tengah. Petani tembakau cukup berhasil menanam kopi di lahan tembakau.

      Pemerintah juga melihat biopestisida sbg alternatif menarik untuk pengolahan tembakau. Dan yakin penyerapan akan semakin besar dan tentunya bisa mengangkat harga tembakau. Sehingga volume produksi komoditas tersebut bisa semakin besar. Yang paling penting, dengan adanya diversifikasi ini, petani tembakau bisa keluar dari polemik antara rokok dan kesehatan. Lagipula faktanya, 75% tembakau di negeri ini adalah hasil import, kesadaran spt ini yg harus dibangkitkan.

      Melihat fenomena tersebut, Pemerintah ingin merubah pemikiran masyarakat untuk melihat tembakau tidak identik dgn rokok. Tembakau adalah tembakau dan rokok adalah rokok meskipun selama ini 99% tembakau digunakan untuk rokok.

      Nahh… mengenai buruh pabrik rokok, diharapkan bisa dialihkan ke sentra-sentra industri hasil diversifikasi pertanian tembakau. Pelan-pelan, pengeluaran negara yg sedemikian besarnya untuk menanggung biaya kesehatan akibat rokok bisa dialihkan ke proyek-proyek padat karya. Semoga juga para buruh yg sudah senior (di atas 40th) bisa diberikan bantuan modal usaha mandiri.

      Nanti kalo ada perkembangan informasi terkini terkait nasib buruh pabrik rokok ini akan saya share, mbak Martina. Terimakasih telah memberikan pandangannya.

      Link terkait:
      Pemerintah Siapkan Tanaman Alternatif bagi Petani.
      Saatnya kembangkan tembakau untuk industri non rokok.

    • martinafiaub says:

      terima kasih bisa menambah wawasan..

  23. umarfaisol says:

    Solusi cerdas itu mas Iwan. Pembunuhan berencana terhadap rokok. Dinaikkan terus pajaknya sampai harga ecerannya 1 batang = 1 gram emas. Pasti mikir waktu mau beli.

  24. genthuk says:

    bagaimana kalo pajaknya dinaikkan sampai 1000% aja, jadi harga rokok di Indonesia sama dengan harga di NY..? Pasti banyak mikir, apakah mau merokok atau buat belanja keluarga

  25. jampang says:

    beberapa waktu yang lalu di fordis intern juga rame bahas ini. yang bikin rame ya… yang berpendapat rokok itu tidak berbahaya….

    *mungkin bener nggak berbahya, selama nggak dibakar :D*

  26. enkoos says:

    Reblogged this on Rek ayo Rek and commented:
    Tak henti hentinya masalah rokok dibahas serta mengundang pro dan kontra. Yang lucu, pihak pihak yang mendukung rokok secara membabi buta menuduh adanya konspirasi. Rokok udah terbukti berbahaya bagi kesehatan, Kalau mau ngerokok silakan tapi jangan menyeret2 orang lain yang gak ngerokok. Sama sama punyak hak, yang ngerokok punya hak ngerokok dan yang tidak ngerokok punya hak untuk menghirup udara bersih tanpa asap rokok.

    • A: Bagaimana bila pabrik rokok itu ditutup, kerja apa mereka nanti?

      B: Bagaimana dengan keluarga-keluarga yang sakit karena rokok, apa pabrik itu yang tanggung jawab?

      *jleb

  27. Reblogged this on drprita1 and commented:
    Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Setidaknya, saya masih berusaha untuk berbagi di Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati kemarin, tanggal 31 Mei. Ini juga untuk mengingatkan kita semua bahwa perjuangan melindungi diri dan orang-orang tercinta kita dari bahaya rokok masih terus berlangsung dan bahkan harus makin masif seiring dengan makin gencarnya iklan rokok. Baca lebih lanjut ulasan mendalam dari pak Iwan Yuliyanto ini….

  28. Selama kalangan legislatif dan eksekutif masih bisa dibeli oleh konglomerat tembakau, maka rokok masih akan merajalela. Bahkan RUU pun mereka telikung sendiri. Maka yang harus berjuang menyelamatkan generasi muda adalah elemen terkecil dari sebuah bangsa, yakni keluarga. Anak2 laki dididik untuk tidak merokok dan anak perempuan dididik untuk menolak calon suami perokok. Eh iya, anak perempuan juga dididik untuk tidak merokok, ding. Karena lebih dari satu kali saya jumpai keluarga dgn istri perokok sementara suaminya non smoker…..
    Ijin reblog ya, pak

    • Saat ini sedang diperdebatkan RUU Penyiaran terutama yg mengatur soal iklan rokok. Saya mencium bau kontradiktif. Misalnya, menurut pasal 80 (d), lembaga penyiaran dilarang “menyiarkan periklanan yang mempromosikan minuman keras, zat adiktif; termasuk di dalamnya iklan spot, penempatpaduan produk, dan infomersial”.
      Sementara itu, pasal 80 (f) hanya melarang untuk “menyiarkan periklanan dengan materi iklan yang menampilkan wujud rokok”. Dengan demikian, iklan rokok dlm bentuk iklan spot, penempatpaduan produk, dan infomersial masih diperbolehkan, sejauh tidak menampilkan wujud rokok.
      Naah.. padahal, UU Kesehatan pasal 113 menyatakan tembakau sbg zat adiktif. Apabila mengacu pada UU tsb, maka promosi rokok dlm bentuk apapun seharusnya dilarang.

  29. moreta999 says:

    BICARA ROKOK dan sejenisnya–buah simalakama kang–harus ditinjau dari dua sisi
    1. kalau menghentikan rokok dijual—merugikan pengusaha rokok yang tembakaunya dari petani/orang kelas menengah kebawah atau juga rakyat jelata-mengurangi pendapatan negara dari cukai rokok
    2. kalau menghentikan rokok secara sporadis-atau denda-tetap saja bagi yang penasaran malah menjadi bahan untuk mencoba sembunyi-sembunyi, sekarang bagi pecandu rokok mereka tetap sulit untuk berhenti harus dikembalikan kepada hati-atau niat seseorang

    solusinya :
    sosialisasi efek positif dan negatifnya rokok bagi kesehatan (sudah gencar) tapi hanya sedikit yang perduli, karena pengguna rokok lebih banyak dari pada yang bilang “ahh biarin mati kan sudah diatur”,

    pengusaha rokok harus bisa bertanggungjawab untuk kesehatan penggunanya kalau memang dikatakan meracuni pelan-pelan/jam pasir

    kurang lebih menurut saya demikian

    thank sudah mampir di blog saya–saya seneng artikel2nmya—mari tetap berkarya dan bersatu para blogger indonesia–saya masih belajar

    • enkoos says:

      kepada saudara moreta99:
      siapa bilang kalau menghentikan penjualan rokok akan merugikan pegusaha rokok?
      Sudah tahu tidak, bahwa pengusaha2 di industri rokok hampir selalu berada di urutan teratas daftar orang orang terkaya di dunia?

      Tembakaunya dari petani? Sudahkah anda melakukan riset? Tembakau yang digunakan di pabrik2 rokok di Indonesia 75% adalah dari impor. Gak ada ceritanya petani tembakau bisa kaya, yang kaya adalah tengkulak dan pabrik rokoknya karena merekalah yang mengendalikan harga tembakau.

      Yang berkoar koar menyelamatkan petani tembakau itu mah bullshit. Saya tahu banget karena almarhum kakek saya adalah petani tembakau sebelum banting setir menjadi petani jeruk dan cengkeh.

      Saat ini yang sedang kita perjuangkan adalah membatasi penggunaan rokok. Kami – para non smokers – tidak membenci perokok, tetapi kami tidak menyukai cara cara mereka yang merokok sembarangan tanpa mengindahkan hak orang lain yang berhak menghirup udara bersih tanpa asap rokok.

    • moreta999 says:

      maaf saya saudari mas hehe–belum riset–cuman bayangan saya saja–iya pengusaha rokok emang konglomerat yang bertengger dibaris pertama kursi kekayaan-petani tembakau indonesia kapan ya bisa kaya?hemmm saya orang pertama mendukung perjuangan mas–sudah diaplikasikan ya dari lingkungan kecil dahulu–keluarga kecil saya buka penyuka rokok-kami lebih pentingkan ke olah raga-terus bagaimana tuh bagi orang-orang yang kecanduan atau hanya gengsi bagaimana cara memperjuangkannya?thank sharingnya ya–post yang bagus–senang bisa berbagi-mudah-mudahan bisa kerja sama dilain kesempatan jika allah menghendaki 🙂

  30. araaminoe says:

    Terima kasih untuk ulasan dan pembahasan yang bermanfaat mengenai rokok dan bahayanya, semoga menjadi suatu kebaikan bagi semua. Mungkin terasa agak mustahil ketika kita berharap dunia bebas dari rokok, tapi selalu ada harapan khan? amin.

  31. Puji Lestari says:

    miris, pemuda di kampung saya pak
    merasa gak gaul kalau gak merokok, dan ini sudah membudaya sekian lamanya
    termasuk bapak2 mereka pun kebanyakan adalah perokok
    jamuan kondangan pun disediakan rokok

    sudah susah sekali mengingatkan walaupun banyak yang tau akibat buruk dari kebiasaan merokok

  32. enkoos says:

    Apakah orang orang tahu bahwa tembakau yang digunakan di rokok2 di Indonesia adalah sebagian besar adalah tembakau impor? Sebesar 75% nya adalah tembakau impor.
    Sumber: http://finance.detik.com/read/2013/01/11/185606/2140102/1036/mentan-tembakau-untuk-rokok-ri-sebagian-besar-diimpor

    • Terimakasih info link-nya, mbak Evia.
      Jadi terungkap bahwa yg murah di sini adalah tenaga kerjanya. Mengingat industri rokok itu membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yg banyak. Makanya Phillip Morris berinvestasi di sini, sampai menguasai pasar rokok Mild di Indonesia yg sasarannya adalah remaja.
      Kita ini sebenarnya dijajah Philip Morris, namanya penjajah buang penyakitnya ya di sini juga, mereka hanya ambil uangnya saja. Jelasnyanya ada di video itu.

      Pak Suswono (MenTan) saat ini sedang menggalakkan petani tembakau untuk aktif menanam yg kemudian melakukan diversivikasi produk pertanian, maksudnya menanam tembakau bukan untuk rokok, tapi untuk lainnya yang lebih bermanfaat.

    • enkoos says:

      Philips Morris berekspansi ke Indonesia bukan hanya karena tenaga kerja di Indonesia murah, tetapi juga karena aturan rokok di Indonesia masih sangat longgar alias Indonesia merupakan surga industri rokok.

      Kenapa bisa begitu?
      Coba bandingkan beberapanya:
      1. Iklan rokok di Indonesia masih relatif bebas, bisa ngiklan dimanapun walaupun katanya dibatasi seperti di televisi kudu di atas jam 9 malam. Di Amerika, rokok gak boleh ngiklan di majalah2, di bioskop2, di bilboard2 di jalanan. Hanya boleh ngiklan di toko yg jual rokok.

      2. Peraturan “no smoking area” semakin hari semakin meluas, bahkan baru baru ini di negara bagian Minnesota, di dalam barpun dilarang merokok, padahal bar identik dengan rokok. Aturan ini tentu saja diprotes keras oleh perokok, tapi pemilik bar tak bergeming. Gak suka dengan barnya? Ya gak usah berkunjung ke barnya. Para pemilik bar menerapkan aturan tsb karena gak mau pegawai2nya kena penyakit yg ditimbulkan oleh perokok2 tsb alias menjadi perokok pasif.

      3. Toko2 yang menjual rokok berhak bertanya kepada pembeli untuk menunjukkan kartu pengenal dimana di situ disebutkan usia si pembeli. Peraturannya, minimal usianya adalah 17 tahun.
      Bandingkan dengan Indonesia dimana rokok dijual bebas tanpa melihat usia si pembeli.

      Aturan2 tsb di atas mempersempit ruang gerak industri rokok. Itu makanya mereka mencari tempat dimana mereka masih bisa leluasa berniaga di bidang rokok (baca: meracuni calon calon konsumen rokok).

      Makanya aku gak habis pikir sama pendapat konspirasi asing yang dituduhkan oleh kelompok2 yang menghujat tentang gerakan2 anti rokok.
      Konspirasi mbahmu. Protes kok membabi buta tanpa data.

      Gak usahlah jauh2 ngomongin konspirasi, namanya rokok, dipandang dari sudut kesehatan sudah sangat merugikan, masih juga cari alasan pembenaran. Mau ngerokok ya silakan, gak ada yang melarang, tapi hargai juga orang2 yang tidak merokok untuk menghirup udara bersih tanpa asap tembakau.

    • Yes, Setuju ! Kalo soal kesehatan yang sudah jelas-jelas, jangan lagi bicara konspirasi.

      Suwun lagi yo … sampeyan sharing paparan detailnya tentang lemahnya implementasi aturan tsb. Tadinya mau kupaparkan detail di jurnal karena itu bagian dari isi film dokumenter-nya Christof Putzel, tapi kuatir jadi panjang jurnal ini. Jurnal ini mencoba fokus pd permasalahan nilai cukai yg gak sebanding dg biaya kesehatan yg ditanggung pemerintah.

    • enkoos says:

      Karena memang satu dengan lainnya saling berkaitan cak Iwan, jadi mau gak mau kudu dijelaskan.

      Kalau gak mau terlalu panjang, bisa dipisahkan menjadi beberapa halaman dengan cara seperti ini: http://enwkoos.wordpress.com/2013/05/15/nasib-si-paspor-ijo/.
      Nantinya tetep menjadi satu postingan yang utuh, gak akan menjadi postingan2 yang berbeda.

      Caranya, bisa dibaca di sini cak Iwan: http://enkoos.wordpress.com/2013/05/15/membagi-halaman-posting-yang-panjang/

  33. Rawins says:

    sepertinya rokok itu merupakan cara pemerintah mengurangi angka kemiskinan di negara ini. ini melihat kenyataan dimana kebanyakan warga miskin adalah perokok.kalo orang miskin banyak yang mati, berarti angkanya akan menurun

    kayaknya sih begitu…

  34. MrFz says:

    bicara rokok dan segala macam tetek bengeknya seolah seperti debat kusir tak kan pernah ada titik temu antara pro dan kontra. but nice share om ^^

    • Semoga dengan adanya Peraturan Pemerintah No 109/2012 ttg Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan atau dikenal dengan PP Tembakau, itu bisa menjadi penengah yang baik, upaya mengatasi masalah kesehatan dan kesejahteraan.

      Ayo dukung pemerintah dlm program pertanian alternatif bagi para petani tembakau.

    • araaminoe says:

      which one you are bang joz? if I may ask.

    • MrFz says:

      kebtulan ngga Asmie, dan memang murni krena kbetulan, bkn krna saya faham secara segi kesehatan. so no comment ^^

    • araaminoe says:

      @bang joz… four tumbs up bang… *kerlingin mata* 😉

  35. jujur aja saya pusing bacanya,,
    tapi pahamlah isinya,, (mudah2an)

    tapi ironis juga emang,, yang nyiarin acara olahraga knapa mau disponsorin rokok ya??

    tapi saya pernah denger isu Pak Iwan (tau bener tau ngga)
    katanya kalo rokok yg beracun itu rokok yg ada tarnya atw yg kebanyakan improt dari luar kalo yg kretek yg buatan lokal katanya gak ada bahayanya??

    • Semoga bisa memahami isinya.

      Acara olahraga mau disponsori rokok itu hanya soal komitmen pengelola acara olahraga itu, tidak semua acara olahraga mau disponsori rokok.

      Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 109/2012 ttg pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan (PP Tembakau), paling lambat mulai tahun 2014, iklan dan sponsor rokok tidak diperbolehkan lagi dalam acara musik dan olahraga di Indonesia.

      Namanya dilarang maka jelas ada sanksinya bagi yang melanggar.

      Soal rokok mana yang beracun tar atau kretek saya belum bisa ngasih komentar, karena belum pernah membaca penelitian yang valid. Yang jelas bahan nikotin itu kalo dikonsumsi tubuh secara berlebihan akan berbahaya bagi kesehatan.

    • enkoos says:

      “Soal rokok mana yang beracun tar atau kretek saya belum bisa ngasih komentar, karena belum pernah membaca penelitian yang valid. Yang jelas bahan nikotin itu kalo dikonsumsi tubuh secara berlebihan akan berbahaya bagi kesehatan.”

      Dikonsumsi secara berlebihan, berarti kalau dikonsumsi secara normal tidak membahayakan kesehatan. Berapa ukurannya yang normal itu?

    • Nikotin bersifat racun bagi saraf, yg dapat membuat seseorang menjadi rileks & tenang, dapat menyebabkan kegemukan sehingga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.

      Nikotin dlm rokok itu mengandung zat adiktif shg efeknya adalah ketagihan bagi perokok. Kadar nikotin 4-6 mg yg diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan. Bayangin kalo kandungan itu makin lama makin numpuk setiap harinya. Yang jelas akan menjadi kondisi yang tidak normal dalam tubuh.

      Kuncinya ada pada zat adiktif itu, mbak Evia.

    • enkoos says:

      Apakah pernah terpikir oleh kaum perokok tentang nikotin yang tidak secara langsung dihisap oleh bukan perokok. Mereka – kaum perokok – melanggar hak asasi manusia. *Jadi inget kasus waduk Pluit yang penduduk ilegal salah kaprah mengartikan HAM. Hamburger kale*

  36. Saatnya kembangkan tembakau untuk industri non rokok
    Kabar Bisnis | 08 Mei 2013

    “Kami melihat, biopestisida sebagai alternatif menarik untuk pengolahan tembakau. Dengan adanya alternatif ini, kami yakin penyerapan akan semakin besar dan tentunya bisa mengangkat harga tembakau. Sehingga volume produksi komoditas tersebut bisa semakin besar. Yang paling penting, dengan adanya diversifikasi ini, petani tembakau bisa keluar dari polemik antara rokok dan kesehatan,” kata Bayu Krisnamurti, Wk. Menteri Perdagangan.

    “Melihat fenomena tersebut, Kementerian Perdagangan ingin merubah pemikiran masyarakat untuk melihat tembakau tidak identik dengan rokok. Tembakau adalah tembakau dan rokok adalah rokok meskipun selama ini 99% tembakau digunakan untuk rokok. Kami juga sudah menyosialisasikan informasi ini kepada pelaku industri rokok di tanah air,” tegasnya.

  37. Pertemuan Kelompoktani Kegiatan Pengkajian Alternatif Pengganti Usahatani Tanaman Tembakau
    BPTP NTB | Jumat, 12 April 2013

    Selamat mengkaji untuk kemaslahatan masyarakat banyak.

  38. Pemerintah Siapkan Tanaman Alternatif bagi Petani
    Tribun Kaltim – Sabtu, 12 Januari 2013

    Pemerintah mengimbau petani tembakau tak perlu khawatir dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau karena tak ada pelarangan bagi petani untuk terus berproduksi. Meski begitu, pemerintah telah menyiapkan tanaman alternatif.

    Beberapa sentra pertanian tembakau sudah melakukan tumpang sari, seperti di Jawa Tengah. Petani tembakau cukup berhasil menanam kopi di lahan tembakau.

    Penerapan PP mulai Juni 2014 tak mengganggu sepak terjang petani tembakau. Dalam PP ini tidak ada satu poin pun yang mengatur soal petani tembakau. PP ini juga tidak melarang pertanian tembakau, justru mendorong pengembangan diversifikasi produk tembakau.

    • Melalui pajak, selama ini yang sehat membiayai pengobatan mereka yang menyebarkan asap rokok. Ini yang tidak disadari para perokok yang telah merasa menyumbangkan pajak buat negara. Padahal tidak ada apa-apanya.

      Edukasi seperti ini harus terus disampaikan.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: