Home » Indonesia Crisis » Ketika Muslimah Bekerja Diancam Sanksi Pelanggaran

Ketika Muslimah Bekerja Diancam Sanksi Pelanggaran

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

“Barangsiapa yang mengajak pada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti orang mengerjakan kebaikan itu tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya.
Dan siapa yang mengajak pada keburukan, ia berdosa seperti orang yang mengerjakan dosa itu, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka yang mencontohnya itu.”
[HR. Muslim]

.

Beberapa hari terakhir ini publik ramai oleh masalah larangan pemakaian jilbab di lingkungan kepolisian Republik Indonesia, kecuali daerah Aceh (NAD).
Bagaimana pelaksanaan hukum pemakaian jilbab di luar negeri Indonesia?
Bagaimana solusi atas permasalahan larangan ini?
Silakan simak jurnal ini dan let’s brainstorming…

INGGRIS

PCSO converts to Islam after helping ‘honour’ violence victim.
Manchester Evening News | 29 Jan 2013

Seorang PCSO (Police Community Support Officer) Inggris, Jayne Kemp (28 tahun), memutuskan untuk mempelajari Islam setelah menolong wanita Muslim yang dianiaya. Setelah berbicara dengan beberapa Muslim di Twitter, akhirnya dia memutuskan masuk Islam dan hidup dengan cara Islam di antaranya dengan memakai jilbab. Namanya berganti menjadi Aminah. Polisi Inggris tidak keberatan. Bahkan Aminah diserahi tugas untuk mengatur seragam jilbab bagi polisi wanita di Inggris.

Aminah tertarik menjadi Muslim sebab Islam mengajarkan kita memanfaatkan waktu, sabar, menghormati orang lain, memperhatikan tetangga dan menghormati orang tua.

SWEDIA

Sweden first Muslim woman police in hijab
Muslim Women News | 12 Mei 2011

Donna Eljammal (26 tahun), merupakan polisi muslimah pertama di Swedia yang mengenakan jilbab. Donna mengungkapkan bahwa keinginannya untuk menjadi anggota polisi jauh sebelum dirinya mengenakan hijab.

Sebelumnya, sejak 5 tahun terakhir terdapat larangan bagi penerimaan calon Polisi Swedia untuk mengenakan jilbab sebagai bagian dari seragam regulernya. Kemudian masalah ini menjadi kontroversi sejak saat itu. Dan sejauh ini tidak ada wanita yang mengenakan jilbab yang terdapat pada akademi polisi Swedia. Kemudian, Donna-lah yang memulai pertama kali terdapatnya polisi muslimah yang mengenakan jilbabnya dalam jajaran kepolisian swedia. Mengenai jilbabnya Donna berkata:
“Untuk menunjukan kepada publik bahwa wanita (muslimah) mempunyai kebebasan untuk memilih pakaiannya (jilbab), bahwa kita tidak dapat ditindas, tapi kita wanita (muslimah) dapat menjadi pribadi yang kuat dan mandiri”

Donna tahu bahwa ia akan menerima banyak perhatian sebagai polisi pertama yang memakai hijab dalam jajaran kepolisian swedia. Baginya ini justru memberikannya suatu tanggung jawab besar untuk dapat benar-benar memberikan contoh dan menjadi panutan bagi orang lain.

Donna tidak berpikir melepaskan jilbabnya saat bekerja. Dia melihat jilbab sebagai bagian dari dirinya dan dapat melakukan segala sesuatu dengan jilbab, sehingga dia melihat tidak ada gunanya untuk melepaskannya.

INDONESIA

Kalau negara-negara mayoritas non muslim seperti Inggris, Swedia, Australia, dan lain-lain membolehkan polisi wanita muslim berjilbab, sementara di Indonesia yang mayoritas muslim justru dilarang.

Polri: Polwan Berjilbab Melanggar
Republika | 12 Juni 2013

Pihak Kepolisian menegaskan, penggunaan jilbab oleh polisi wanita (polwan) belum dicantumkan dalam aturan umum seragam kepolisian. Sebab itu, penggunaan jilbab oleh polwan di luar Nanggroe Aceh Darussalam adalah pelanggaran.

“Ya, ini masalahnya aturan kalau belum sesuai aturan yang tidak diperkenankan,” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto, Selasa (11/6). Aturan seragam Polri dicantumkan dalam Keputusan Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005 tentang sebutan penggunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS polisi.

Agus mengatakan, segala peraturan yang tertera, termasuk aturan seragam, tentunya tak bisa dilanggar oleh anggota Polri. Peraturan, kata dia, tetaplah peraturan. Kelak bila dalam peraturan itu disebutkan polwan diperkenankan berjilbab maka baru boleh dilakukan.

Sebatas belum ada peraturan maka aksi polwan yang nekat untuk tetap berjilbab malah secara terpaksa dapat dikategorikan melakukan pelanggaran. Untuk menghindari sanksi, para polwan diminta untuk mengikuti aturan.

Pasalnya, kata dia, penggunaan seragam sesuai ketentuan yang berlaku juga bagian dari taat pada instruksi pimpinan. “Jadi, ya mohon sekali untuk diperhatikan kepada semua (polwan) dengan kedewasaannya diharapkan mau memahami dan menaati setiap perintah dan instruksi pimpinan serta ketentuan yang berlaku,” ujar Agus.

Ini aneh sekali, bukan?! Padahal aturan manusia itu kan bisa dibuat/dirubah dengan mudah. Tidak boleh melanggar aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Polwan Jilbab

Polwan Berjilbab Tetap Nyaman Bertugas


.
Bagaimana perempuan berjilbab menurut agama (Hukum Islam)?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS An-Nuur:31:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. …”

Begitu juga dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya dalam QS. Al-Ahzab: 59.

Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya yag berjudul “Fiqh Prioritas” menyatakan, mengenakan jilbab merupakan kewajiban yang beradasarkan nahs qath’i (dalil yang memiliki penunjukan satu hukum yang tidak bisa diarahkan pada hukum yang lain). Oleh sebab itu, bagi yang melarang berjilbab dihukumi kafir, sebab dia sudah menentang hukum yang dijelaskan dengan nash qaht’i.

Bagaimana perempuan berjilbab menurut Hak Asasi Manusia?

Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila mengatakan pelarangan penggunaan jilbab bagi polisi wanita (polwan) muslim bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Lantaran setiap orang berhak menggunakan hal-hal yang berkaitan dengan agamanya masing-masing.

Laila menyampaikan kalau belum ada aturannya yang jelas soal pelarangan penggunaan jilbab, sebaiknya tidak usah berandai-andai. Pada prinsipnya menggunakan jilbab merupakan hak setiap perempuan yang ingin memakainya. Keinginan polwan muslim memakai jilbab, menurut Laila, perlu dihormati dan dihargai. Semua orang memiliki hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya.

KESIMPULAN:

  1. Polwan berjilbab memiliki dasar yang kuat. Dari sisi agama Islam sudah sangat tegas memberi hukum, bahwa seorang perempuan diwajibkan berjilbab. Dari sisi hukum HAM, sebagai seorang muslimah yang iffah tentu ingin menjaga dirinya dengan cara melaksanakan perintah agamanya itu.
  2. Ketika memutuskan suatu masalah sebaiknya jangan hanya berpedoman pada satu ketentuan hukum saja, melainkan harus mempertimbangkan ketentuan hukum yang lain. Sebab, setiap orang dalam menjalani kehidupannya pasti tidak lepas dari berbagai hukum.
  3. Hambatan teknis bagi polwan yang mengenakan jilbab sebenarnya tidak ada. Buktinya, polwan di seluruh dunia yang memakai jilbab tidak ada yang menghalangi tugas mereka. Bahkan, banyak olahragawan yang bisa berprestasi dengan leluasa meski mengenakan jilbab.

REKOMENDASI USULAN:

  1. Kapolri harus segera mengklarifikasi kebijakan larangan menggunakan jilbab. Jangan sampai kebijakan ini menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, sebab permasalahan ini menjadi isu yang sangat sensitif.
  2. Kapolri sebaiknya mengkaji kembali larangan mengenakan jilbab kepada polwan. Meskipun seragam berkaitan dengan aturan institusi namun hal itu tidak mesti membuat Polri melanggar hak berpakaian para polwan berjilbab. Petugas polwan yang ingin memakai jilbab, harus dihormati, dihargai, dan tidak dianggap sebagai pelanggaran.
  3. Polri sebaiknya tidak kaku menerapkan aturan larangan berjilbab yang telah berlaku sejak lama. Seharusnya Polri memperbolehkan para polwan tersebut menutup aurat sesuai dengan ajaran agamanya. Konstitusi sudah menjamin setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai agama yang dipeluknya (UUD 1945 Pasal 29). Sehingga, mengenakan jilbab merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara. Adanya larangan ini sama saja dengan tidak menghargai hak asasi seseorang.

Semoga ada jalan keluar yang baik buat Polri (khususnya Polwan). Aturan yang ditetapkan oleh pimpinan di kepolisian bisa diubah (sesuai dengan dinamika sosial) agar tidak bertentangan dengan hukum agama.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto

————————-
[Update 18 Juni 2013]
Alhamdulillah…
Rpublika: Polri Akhirnya Restui Polwan Berjilbab

Advertisements

48 Comments

  1. […] Ketika Muslimah Bekerja Diancam Sanksi Pelanggaran […]

  2. Nah, begitulah…mereka pikirannya masih sempit sekali hanya karena mereka tak suka maka mereka tak bisa menerima. Padahal, ga ada salahnya juga polisi berjilbab…ini juga kemarin ramai di tweet-nya Ust. Yusuf Mansyur 🙂

    • Betul sekali, mbak Hani.
      Kecenderungannya sepertinya demikian: “karena mereka tak suka maka mereka tak bisa menerima”
      Seperti halnya mereka yang sudah ditunjukkan kebenaran, tetapi hanya karena hatinya telah menolak, maka nilai-nilai kebenaran itu tidak bisa diserapnya dengan baik, sehingga jauh dari hidayah-Nya.

      *duh, maaf telat merespon, ketumpuk dengan jurnal-jurnal lainnya*

    • He he he…iya gak apa-apa..
      Harapan terbaik buat bangsa dan negara kita 🙂

  3. UUD 1945 Perubahan II
    Pasal 28E
    (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah
    negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
    (2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
    (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

    Pasal 28I
    (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
    tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
    (2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

  4. debapirez says:

    padahal Indonesia merupakan negara dengan umat Islam terbesar 😦
    semoga wakil rakyat di Komisi I bisa mendorong Kapolri mencabut peraturannya….

  5. thetrueideas says:

    menyedihkan…kala mayoritas menjadi ‘minoritas’ dalam artian yang sesungguhnya…

  6. araaminoe says:

    hijab sebenarnya tidak menghalangi seseorang untuk beraktifitas, *meski asmie pake hijab, namun pekerjaan mengharuskan lompat sana lompat sini, dlm arti harafiah lho, tapi alhamdulillah fine2 saja*, ah kenapa manusia mempersoalkan perbedaan? bukan hijabnya yang dipermasalahkan tapi sesuatu lain entah apa.. 😦

    • Betul, mbak Asmie, tidak ada aktifitas yang menjadi terhalangi oleh sebab pemakaian jilbab, karena sesuai fitrah-Nya, jilbab adalah pakaian keimanan.

      Saya salut dengan kisah presenter di salah satu televisi swasta nasional yang memutuskan resign dari tempatnya bekerja karena dihalangi mengenakan jilbab.

      Sandrina berkata:

      Kesaksian selengkapnya

  7. Nyimas Fitri says:

    Muslimah berjilbab yang bekerja akan terlihat lebih anggun dan santun,,,

  8. nur4hini says:

    Disini (montreal) banyak ditemui muslimah bekerja di berbagai sektor, rumah sakit, toko dll. Polisi muslimah berjilbab belum pernah menjumpai.

    Termasuk makkhansa sendiri, kerja di lingkungan yang sebagian besar laki-laki, pake kerudung sendiri. Alhamdulillah belum pernah menjumpai hal-hal yang aneh, bahkan seringnya menerima pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya berlanjut ke diskusi.

  9. Rawins says:

    indonesia raya, mas…
    masih saja seneng mempermasalahkan bungkus sementara isinya males menyentuh. mbok polisi tuh beresin dulu mentalitas dan moral anggotanya dari atas sampe bawah biar bisa rada bener ngurusin hukum. kalo perlu gausah pake seragam juga gapapa
    eh jangan ding
    tar malah kaya milisi…

  10. awal saya bekerja tahun 96 dulu, jilbab saya juga dipermasalahkan Mas, pressure dan dukungan saya terima dalam waktu bersamaan, hehehe

    anehnya gm saya yang bule justru tidak mempermasalahkan jilbab saya

  11. aku juga nggak setuju kalo polwan dilarang jilbab. aku doain kapolri celaka kalau menghalangi muslimah menjalankan kewajiban agama. berjilbab itu wajib kalau dilanggar dosa. melarang muslimah berjilbab berarti menyuruh berbuat dosa. kapolri akan mengaggung dosa mereka semua. sadarlah, kapolri!

  12. Novi Kurnia says:

    dulu di perusahaan2 jg ga boleh pake jilbab, skrg boleh. Mudah2an kepolisian jg segera membolehkan polwan berjilbab.

  13. tinsyam says:

    waktu pulang kampung ke aceh, daku penasaran lihat polisi wanita disana pake baju muslim ga? sebab daku aja kalu ke aceh kerudungan kog.. ehtapi blom pernah lihat polwan pun disana, apalagi kowad.. apa yang wanita kerja di abri ga ditugaskan di aceh ya?
    ntar tanya sepupu lagi deh.. sebab sepupuku yang kowad malah tugas di kalimantan.. tapi dia ga berjilbab.. blom pernah dibahas kaya gini..

    pernah baca pengusaha aljajair di perancis yang kudu bayar denda istri dan temennya yang di penjara karena berjilbab? kalu kalu ke perancis dia selalu di denda dan tetep dibayar tuh.. namanya rasyid nikaz.. artinya dimana langit berpijak disitu tanah dijunjung kan? karena di perancis, anak sekolah aja ga boleh berjilbab.. apalagi pengusaha.. gimana kalu polisi wanita?

    hebat deh inggris & swedia.. salut buat aminah & donna.. semoga jadi contoh buat negara kita.. masa ya kita negara paling banyak muslimnya dibanding inggris & swedia, tentara-polisi-marinir yang wanita kog ga boleh berjilbab.. kan bisa dibuktikan bahwa wanita berjilbab bisa apa saja.. dan itu perlu pembuktian yang panjang kali ya.. dan ehya mas, dulu pernah daku bahas sama babeku yang tentara, babe bilang wanita ga perlu jadi tentara.. di rumah aja.. hihihi.. panjang cerita..

    • Saya ingat, mbak Tin ini pernah menjadi menwa 🙂

      Menurut peraturan yg berlaku di Aceh, polwan muslim-nya boleh berjilbab.

    • tinsyam says:

      makasih mas iwan masih inget.. maren dong latihan nembak buat lomba alumni menwa sejakarta gitu..

      cuma aceh kan ya.. maren tanya babe juga cuma aceh, dan barusan gugel eh kapolsek kota kelahiran babe di langsa ternyata namanya akp kamila..

  14. rahmabalcı says:

    emang aneh ko negara2 yg mayorita muslim ‘ketakutan’ sendiri sm urusan jilbab doang,wah kl di turki msh ngimpi kyknya pak ,petugas berseragamnya berjilbab:) skrg br tahap perawat2 udah boleh, buat petugas berseragam kl cuma istrinya aja yg berjilbab no problem*kecuali istri tentara,msh terlarang!,tapi kl yg kerja jd polisi atau tentara jilbabab bakalan heboh deh: islamisasi bla2…ampun deh sekuler sini tuh alergian banget sm yg bau2 islam kecuali pas mereka mati aja br pada kenal islam*soalnya tetep pak mereka juga maunya disholatin sebagai muslim yg mati*walo semasa idup musuhin aturan islam terus.

  15. pingkanrizkiarto says:

    berasa de javu….
    pengalaman saya sih ‘tekanan’ lebih besar datang dari atasan yang muslim, sementara yang muslim malah lebih menjaga perasaan…

  16. Ahmad says:

    Ketika Polri tidak sanggup menertibkan anggotanya yang bak preman di jalanan, please-lah, jangan menambah ketidakadilan dengan pelarangan jilbab itu.

    • Ketika institusi negara menerapkan larangan yg demikian, saya malah kuatir ini akan diikuti oleh lembaga-lembaga lainnya, termasuk sekolah-sekolah umum.
      Bisa jadi ini test the water.

  17. yang tidak korupsi dibilang korupsi
    yang jahat dibilang baik
    yang baik dibilang jahat
    apalagi klo bukan kerjaan setan itu namanya
    tidak semua pejabat polisi yang jadi antek setan, ada juga yang ok: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/06/06/mny0dh-saat-jadi-kapolda-jatim-jendral-ini-imbau-polwan-berjilbab Mari kita dukung di http://www.facebook.com/pages/Dukung-Polwan-Berseragam-di-Izinkan-Menggunakan-Jilbab/214917765203583

    Padahal di sebuah artikel, cikalbakal polwan diambil dari wanita minangkabau yang notabene kuat penerapan syariat islamnya.

    • Terimakasih sharingnya, Pak Widodo.
      Tadi komentarnya sempat ke-pending oleh sistem karena menyertakan 2 link.

      Membaca tentang Kapolda Brigjen Pol Anton Bachrul Alam memang okey, semoga beliau istiqomah, sehingga menjadi teladan yg baik.
      Kebijakannya di jajarannya sepertinya menyejukkan kesatuannya.
      Nuansa Religi di Markas Polisi Jatim
      Beliau selain menghimbau pemakaian jilbab, juga mendorong anggotanya untuk mencintai Al-Qur’an. Masya Alllah …

      Betul, cikal bakal polwan dari Bukittinggi yang notabene kuat penerapan syariat islamnya.
      Polwan, Awalnya Hanya Enam Orang

  18. ayanapunya says:

    kadang ngerasa miris sendiri kalau baca berita tentang orang-orang muslim di negeri di mana mereka minoritas. soalnya kayaknya di sana mereka lebih dipandang ketimbang kita-kita yang mayoritas penduduknya muslim. sigh

  19. Wakapolri Komjen Nanan Soekarna: “Kalau Keberatan, Tak usah jadi Polwan”
    [Atjeh Cyber, 13 Juni 2013]

  20. Menurut Adrianus Meliala, ada hal yang merupakan keharusan bagi seorang anggota Polri dalam menggunakan pakaian dinas, yakni pada saat upacara semua anggota Polri harus taat pada aturan yang dibuat Kapolri.

    “Gak lucu kan saat upacara dan baris ada polwan yang berjilbab ada yang gak. Makanya pada saat upacara harus sama, tanpa jilbab. Namun pada saat tidak upacara, saat sehari-hari itu dipersilahkan. Akan ada ketentuan, silahkan mau pakai apa tidak,” jelasnya.
    [Sumber: JPNN.com | 13 Juni 2013]

    Jadi, saat upacara harus dilepas jilbabnya ya? *aneh*

  21. Dzulfikar says:

    Sama kayak di Prancis yg melarang jilbab/burqa.

  22. MrFz says:

    saya jstru mnyerap point ttg ‘kebijakan menyikapi perbedaan’ di negara2 maju yg faktanya dimaknai negatif ditanah kita yg konon negara beragama dan mejemuk. ttg lembaga aparat yg dimaksud spertiny prlu dilihat scara kseluruhan, mngkn bs dimulai dgn prtnyaan ada apa saat ‘Tes’ seleksi masuk. nice post om ^^

  23. Dyah Sujiati says:

    Betul Pak, negeri ini sangat aneh.
    Suka lantang teriak-teriak soal HAM, padahal?
    Orang-orang suka membolak-bolikkan kata

    Astagfirullah

    • Memang aneh.
      Di satu sisi, negeri ini mengkampanyekan kebebasan beragama, namun di sisi lainnya melarang perempuan muslimah untuk menjalankan kewajiban agama yang diyakininya.
      Perempuan2 semi telanjang yg mengumbar aurat mereka dibiarkan dgn alasan kebebasan berekspresi. Namun, wanita2 Muslimah yg menutup aurat mereka sbg cerminan ketaatan kpd Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru dipertanyakan dan dipermasalahkan.

      Ada hal aneh lainnya. Mereka yg membenarkan larangan jilbab ini mengatakan jilbab merupakan simbol belenggu thd kebebasan wanita. Padahal wanita Muslimah yg memakai jilbab sendiri tidak pernah merasa bhw jilbab yg dikenakannya adalah belenggu mereka, krn mereka menjalankannya dgn ikhlas sbg bentuk ketaatan kpd Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

      Ada hal aneh lainnya lagi. Mereka yg membenarkan larangan jilbab ini mengatakan jilbab itu simbol agama, maka sebaiknya jangan dipakai untuk tugas dlm melayani masyarakat umum. Hahh… simbol agama?

  24. ketika murid kencing berlari …hehehe …

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: