Home » Business Ethic & Tips » [Work Life Balance] Antara Karir dan Kualitas Ibadah

[Work Life Balance] Antara Karir dan Kualitas Ibadah

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

ALIM … ALhamdulillah It’s Monday 🙂

Mari review kembali radar chart Roda Keseimbangan Kehidupan (Wheel of Life) kita masing-masing. Apakah kualitas Spiritual sama baiknya dengan perjalanan Karir di tempat bekerja?

Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa saya pernah membaca tulisan seorang motivator, yang menjelaskan tentang roda keseimbangan (work-life balance), yang baginya berfokus pada soal pembagian waktu yang seimbang antara berbagai kepentingan. Sehingga ia mengatakan bahwa konsep work-life balance adalah suatu kebohongan, karena tidak mungkin bisa dicapai. Yang saya yakini, sang motivator tersebut keliru, work-life balance bukan berfokus pada upaya tercapainya keseimbangan pengaturan waktu untuk semua indikator, tapi menitikberatkan pada kualitas indikator tersebut. Tidak peduli apakah Anda membagi waktunya sama seimbangnya atau tidak (karena faktanya akan dihadapkan pada prioritas kepentingan), namun yang penting adalah menciptakan kreatifitas agar kualitasnya seimbang, sama baik levelnya.

Nah, kembali ke soal dua indikator di atas, yaitu kualitas Spritual dan Karir. Bila ternyata tidak sejalan, mari sama-sama mengambil pelajaran dari dua contoh di bawah ini.

BEKERJA UNTUK IBADAH

Kita sering mendengar sebuah nasehat yang mengatakan: “Bekerja itu diniatkan untuk ibadah”.
Maksudnya apa? Dalam implementasinya tidaklah mudah seperti itu, karena faktanya, banyak sekali turn over ratio pada perusahaan-perusahaan baik skala kecil, menengah, maupun besar. Banyak faktor penyebab mereka resign, bisa jadi karena lingkungan yang dirasa tidak kondusif baginya, atau soal remunerasinya yang kurang menarik bila dibandingkan dengan output kinerjanya. Kalau mereka niatkan bekerja untuk ibadah pastinya akan betah kerja di situ.

Dengan demikian apakah nasehat itu hanya sekedar retorika yang tidak ada nilainya?
Banyak orang mengatakan bekerja itu diniatkan untuk mencari uang. Padahal bila pemikirannya seperti itu, maka sulit kedua indikator itu akan sama baiknya.

Apakah ada contoh konkrit seperti apa implementasi “Bekerja yang diniatkan untuk ibadah”?
Ada.
Saya ambil dari jurnal Pak Dadang Kadarusman[1], yang kemudian saya ringkas sebagai berikut:

Contoh Keteladanan Pertama

Ada seorang bapak yang bekerja di perusahaan penyedia air bersih. Setiap harinya, beliau berusaha menjadikan air yang mengalir ke pelanggannya itu sebagai dzikir.
Lho, maksudnya bagaimana?
Pekerjaan beliau sehari-hari menangani soal penyaluran air bersih melalui pipa-pipa hingga ke rumah para pelanggan. Beliau ini mesti memastikan agar kualitas airnya tetap bagus. Tidak boleh ada benda asing atau apapun kotoran yang masuk ke dalam pipa sehingga airnya tidak terkontaminasi. Meskipun pipa saluran mereka ada didalam tanah.
Bagaimana kalau sampai terkotori?
Beliau menjelaskan bahwa air yang dialirkan ke konsumen itu nantinya ada yang dipakai untuk berwudlu. Pernyataan ini tentu cukup mengejutkan, karena lazimnya air itu digunakan untuk mandi, masak dan minum. Namun, beliau menjelaskannya dari sudut pandang yang lain. Beliau berkata:
“Bayangkan, Pak, berapa banyak orang yang berwudlu dengan air ini?”
“Setiap kali orang sholat berwudlu dengan air yang saya jaga kualitasnya ini, maka saya kebagian pahalanya dari Tuhan”
“Selain mendapatkan gaji dari perusahaan, saya juga mendapatkan banyak pahala dari Tuhan.”

….

Beliau mengakui bahwa pekerjaannya itu juga banyak godaannya, misalnya ada orang yang minta dibuatkan saluran pipa illegal. Wajar, kalo orang tergiur dengan uang.
Namun bagaimana sikap beliau ini?
“Sebenarnya banyak uangnya, Pak, kalau kita mau begitu.”
“Tapi, setiap kali saya mengingat air yang mengalir itu menjadi dzikir saya, Pak…
” Beliau berhenti sejenak. “Saya sadar jika hal itu tidak sepantasnya dilakukan. Saya tidak mau menodai dzikir ini. Biarlah Tuhan yang memberikan saya apa yang seperlunya saya dapatkan”

*— akhir ringkasan—-*

Sungguh, saya pun bergetar membacanya. Jarang sekali saya menemukan orang yang sedemikian beningnya memandang pekerjaannya sehari-hari seperti bapak yang bekerja di perusahaan penyedia air bersih di atas. Beliau tidak mengatakan atau hanya pandai beretorika tentang “bekerja untuk beribadah”, namun melakukannya sendiri setiap hari. Beliau percaya, bahwa setiap tetes air yang dialirkannya; kemungkinan akan dipakai orang yang beriman untuk bersuci. Lalu bersujud di hadapan Ilahi. Menjalankan perintah Sang Maha Kuasa kepada setiap pribadi.

Saya yakin prinsip ini tidak hanya berlaku di perusahaan penyedia air bersih saja, namun juga berlaku di bidang lain, bahkan hampir semua bidang. Tergantung bagaimana kita mampu merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Pasti ketemu.

Kalau belum ketemu, tekunlah berdoa dengan cukup mengajukan pertanyaan ini:
”Ya Allah, bagaimana caranya saya bisa menjadikan pekerjaan ini sebagai bagian dari ibadahku keharibaan-Mu?”

Tanyakan hal itu terus menerus. Tentunya juga disertai dengan ikhtiar yaitu berpikir, maka Insya Allah, Anda akan menemukan jawabannya.

Ketika Anda sudah menemukan jawaban itu, kira-kira bagaimana Anda akan bersikap kepada pekerjaan itu?
Anda sering mengeluhkannya seperti dulu? Tidak lagi. Karena dalam ibadah, kita tidak tertarik mengeluh.
Apakah Anda akan menodai pekerjaan itu? Tidak akan pernah. Karena dalam ibadah, kita tidak melakukan hal-hal tak patut.
Apakah Anda akan merusak integritas diri selama menjalaninya? Tidak. Karena dalam ibadah kita percaya bahwa Allah menjadi saksinya.

PENGGERAK FASTABIQUL KHOIROT DI LINGKUNGAN KERJA

Hal penting lainnya adalah berupaya menjadi penggerak fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) di lingkungan kerjanya di jam-jam yang tidak produktif. Ini juga dibarengi dengan mengembangkan sikap toleransi kepada pemeluk agama lain di lingkungan kerja.

Bagaimana contoh implementasinya?
Saya intisarikan contoh keteladanan yang saya dapatkan dari Harian Republika[2],[3] di bawah ini.

Contoh keteladanan kedua

Markas Kepolisian Daerah Jatim di Jl.Achmad Yani, Surabaya, semakin teduh. Tak hanya teduh dalam makna fisik. Namun, juga teduh dalam nuansa religi dibawah kendali Kapolda Jatim Brigjen Pol Anton Bachrul Alam.

Kalau dulu alm. Gus Dur pernah becanda: “Ada tiga polisi di Indonesia ini yang tidak korupsi. Satu, polisi tidur. Dua, patung polisi. Tiga, Hoegeng”
Menurut saya, layak kalau Pak Anton Bachrul Alam adalah polisi yang keempat dalam candaan alm. GusDur.

Kebijakan Anton Bachrul Alam dengan aspek religinya, antara lain:

  • Membentuk Tim Asmaul Husna.
    Tim ini terdiri atas 30 polisi yang tiap hari usai shalat subuh, membaca satu juz Al-Quran. Pembacaan ayat-ayat suci itu dipimpin langsung oleh Kapolda Jatim. Tim itu dibentuk untuk mengubah kultur kepolisian untuk menjadikan lebih dekat dengan nilai-nilai keagamaan.
  • Bagaimana dengan yang non Islam?
    Kapolda telah menginstruksikan kepada anggotanya yang beragama non Islam untuk membuat kegiatan rohani sesuai dengan agama mereka.
  • Menjadikan terlihat nuansa religius ala pesantren di masjid Nurul Huda.
    Pada tiap Dhuhur dan Ashar, masjid ini selalu dipenuhi oleh anggota Polda Jatim yang khusu’ shalat berjamaah. Kapolda Anton Bachrul Alam, biasanya bertindak sebagai imam shalat. Usai shalat, kapolda memberi taushiyah selama 25 menit.
  • Pada tahun 2009, beliau mengeluarkan surat imbauan kepada Polwan di seluruh jajaran Polda Jatim untuk berjilbab.
    Sifatnya ini hanya imbauan, dan tidak ada paksaan dalam penerapan sehari-hari di Polda. Bahkan imbauan Kapolda Jatim itu didukung juga oleh orang nomor satu di kepolisian Republik Indonesia, yakni Kapolri langsung. Anda tentu masih ingat, betapa kontroversialnya permasalahan pemakaian jilbab di lembaga Polri pada bulan ini[4]. Justru Pak Anton Bachrul Alam menghimbau polwan di jajarannya untuk mengenakan jilbab.

Menurut beliau, polisi harus dekat dengan Allah. Dan Allah pasti akan dekat dengan polisi. Dengan begitu, kinerja kepolisian diharapkan tidak bengkok-bengkok, dan tetap berdasar pada nilai kebenaran. Beliau juga menegaskan, kebijakan religius itu untuk meningkatkan trust holding (maksudnya: kepercayaan terhadap institusi), baik kepercayaan dari masyarakat maupun dari internal.

*— akhir ringkasan—-*

Agar menjadi lebih mudah memulainya seperti contoh keteladanan yang kedua diatas, maka berlatihlah untuk mengembangkan sikap sebagai penggerak fastabiqul khoirot mulai di lingkungan keluarga. Dan memang lingkungan keluarga lebih utama untuk didahulukan. Secara tidak langsung juga akan meningkatkan kualitas indikator “Keluarga/Family”.

Semoga kita semua bisa seperti kedua contoh di atas, yaitu (1) Mampu menjadikan pekerjaaanya itu bernilai ibadah, dan (2) secara aktif menyuburkan nilai-nilai kebaikan di dalam rutinitas bekerjanya. Sehingga setiap pekerjaan yang kita lakukan memungkinkan diri sendiri dan orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi karyawan yang lebih baik dan unggul. Dan membuat hidup lebih baik penuh keberkahan. aamiin.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
24.06.2013

————-
Referensi:

  1. Dadang Kadarusman: Karir Yang Mengalirkan Dzikir
  2. Republika | 06 Maret 2009 | Nuansa Religi di Markas Polisi Jatim
  3. Republika | 06 June 2013 | Saat Jadi Kapolda Jatim, Jendral Ini Imbau Polwan Berjilbab
  4. Iwan Yuliyanto: Ketika Muslimah Bekerja Diancam Sanksi Pelanggaran

Advertisements

40 Comments

  1. habis baca ini mulai memikirkan kembali tentang blog, anggap tulisan-tulisan di blog sebagai zikir ya biar nulisnya selalu yang bermanfaat 🙂

    • Cerdas sekali, mbak Rohani. Karena ini sama dengan mengingat kematian. Pasca kematian kita akan mempertanggungjawabkan segala hal yang dilakukan selama masih hidup di dunia, termasuk kegiatan tulis-menulis.

  2. moreta999 says:

    MOST OF ALL, NIAT ADALAH PALING INTI DARI SEMUA MASALAH=NIAT MAU DIBAWA KEMANA-NIATNYA BAIK HASIL PASTI BAIK, DAN SEBALIKNYA–KALAU SAYA SIH NIATNYA BAIK COMMENT DI BLOG MAS IWAN—INGIN KENAL SAMA ORANG HEBAT SIAPA TAHU BISA BERBAGI ILMU DAN SAYA DAPAT ILMU BANYAK DARI MAS IWAN DAN REKAN-REKAN DI BLOG INI.

  3. latansaide says:

    Semoga semua pekerjaan yang kita lakukan selalu membawa dampak positif bagi pembangunan masyarakat yang lebih baik…

  4. papapz says:

    menarik pak.. memang terkesan kontradiksi mempadu padankan antara bekerja dan ibadah tapi contoh nyata banyak di kehidupan kita .. sehingga bekerja ternyata bisa menjadi salah satu bentuk ibadah kita, tentunya tidak bisa diukur dari sisi duniawinya aja semata ya pak 🙂 tulisan yang menginspirasi pak.. salam kenal ^^

    • Salam kenal juga 🙂

      Memang, bekerja itu bukan semata-mata untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan thd materi belaka. Melainkan juga keberkahan dan ketenangan batin. Yg hanya bisa diraih melalui kesungguhan dan komitmen untuk memberikan yg terbaik dari yg kita bisa.

  5. saya pernah ketemu Pak Jenderal tadi lagi belanja gamis di toko deket Masjid Kebon Jeruk Jakarta yang jadi pusat gerakan Jama’ah Tabligh

    yg saya tau juga Pak Jenderal ini salah satu jama’ahnya Ust Arifin Ilham

    niat jadi pokok utama,, karna dalam hadits lainnyayang intinya jika seseorang menyuapi makanan ke mulut istrinya karna Allah ta’ala maka dia mendapat pahala
    sebaliknya ada org mati dalam peperangan, maka ia masuk neraka karna niatnya yg salah

    • Betul, semuanya kembali kepada niat, krn itu yg dicatat oleh malaikat-malaikat-Nya.
      Namun demikian, hal-hal baik yang tampak oleh mata semoga menjadi teladan bagi lingkungannya.

  6. jampang says:

    sekarang beliau pindah tugas yah…

  7. debapirez says:

    DAHSYAT….
    Semoga ALLAH senantiasa menjaga pak Kapolda dari tindak kejahatan. Kalau perlu bisa diangkat derajatnya menjadi Kapolri 🙂

  8. tiarrahman says:

    P Iwan.. izin copas buat di fb yah… thanks..

  9. tiarrahman says:

    Salut buat kapolda jatim.. barakallahu ‘alaihum..
    semoga diikuti kapolda yang lain di seluruh indonesia.

  10. tiarrahman says:

    “Bayangkan, Pak, berapa banyak orang yang berwudlu dengan air ini?”
    “Setiap kali orang sholat berwudlu dengan air yang saya jaga kualitasnya ini, maka saya kebagian pahalanya dari Tuhan”
    “Selain mendapatkan gaji dari perusahaan, saya juga mendapatkan banyak pahala dari Tuhan
    ======

    Jadi inget pesen ustadz.. setiap perkara yang mengantarkan ke wajib, maka hukumnya wajib dikuasai oleh umat islam. contohnya. sebelum sholat wajib wudhu, untuk wudhu perlu air –> ilmu tentang air dan pengusahaannya wajib diketahui dan alangkah baiknya dipunyai juga oleh umat islam.

    haji wajib, sarana untuk pergi haji wajib hukumnya diketahui dan dipunyai umat islam –> pesawat, hotel dll.

    • Super sekali komentarnya, Pak Tiar, dan ini mengingatkan kepada kita semua bahwa: setiap perkara yang mengantarkan ke wajib, maka hukumnya wajib dikuasai oleh umat Islam. Ini demi kemaslahatan umat pastinya. Ibadahnya menjadi lebih terbantukan.
      Akan menjadi berbahaya kalau sesuatu yang mengarah ke wajib itu di bawah kungkungan kapitalisme.

  11. araaminoe says:

    lingkungan kerja yang islami? sayang belum asmie dapatkan sekarang, sebisa mungkin menciptakan nya didiri sendiri, *rasanya belum mampu deh*
    terima kasih untuk positingan reminder ini ya Bapak…
    ah semoga pelan2 ada kemampuan untuk lebih baik… amin

    • Semoga mbak Asmie dimudahkan untuk memimpin organisasi bisnis (kepala departeman/fungsi, kepala cabang, atau owner) sehingga bisa menciptakan budaya kerja yang Islami, yang membentuk semua karyawannya menjadi pribadi yang unggul, punya daya saing yang positif untuk bersama-sama mewujudkan visi organisasi. aamiin.

  12. thetrueideas says:

    super sekali… 🙂

  13. tinsyam says:

    kebanyak orang bekerja untuk uang, ga mikir kalu untuk ibadah.. mindset yang kudu diubah.. semoga ada lebih banyak teladan selain dari sang bapak penyedia air bersih & om kapolda..

  14. tinsyam says:

    bagusnya ada teladan kaya om anton bahrul alam ini.. ehtapi blom pernah lihat polwan berjilbab di jatim deh..

  15. Titik Asa says:

    Salut dg posting-posting Mas Iwan yg bernas spt ini,,,
    Ya betul, kata sederhananya balance, seimbang. Tentu tak semudah itu dlm pelaksanaannya. Walau tak semudah itu, toh tak membuat kita untuk mudah menyerah mewujudkannya…
    Salam,

  16. umarfaisol says:

    Saya tertarik dengan yang dilakukan pak bahrul alam. Menjadi penggerak di lingkungan kerjanya.

  17. oh, jadi posting ini memberikan makna ibadah dan agama dalam pekerjaan. aku suka polisi itu yang menyebarkan dan menanamkan keislaman di kantor polisi agar polisi jadi berisi, tidak hanya aparat negara yang jadi alat bagi penguasa untuk menindas rakyat.

    • Naahh… artinya ibadah tidak sekedar ibadah.
      Dalam bekerja pun itu bisa berjalan seiring. Saling membangun, mengisi, atau memperkaya satu sama lainnya. Bahkan bisa meningkatkan kualitas insannya, sebagai pribadi yang unggul. Itu untuk contoh keteladanan yang kedua.

  18. posting ini membahas keseimbangan antara niat untuk uang dan ibadah ya? aku mau usul gini. niat ibadah untuk ibadah. agar memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan Alloh. tujuan bekerja untuk dapat uang itu boleh. kalo nggak nanti orang gak jadi jualan tapi ngasih-ngasih. produk2 bukan dijual malah diberi-berikan. bangkrut nanti. jadi dua-duanya jalan.

  19. Teguh Puja says:

    Penjelasan yang menarik mas. Dan bila mau mencoba mengusahakan hal-hal seperti yang dilakukan seperti di cerita pertama dan kedua, kemungkinan kualitas kehidupan sehari-hari nantinya pasti akan penuh dengan perubahan yang lebih baik. Insya allah. :’)

    • Pasti itu, mas, karena sudah menemukan hakekat hidup (sehingga tenang dan damai), tidak diperbudak materi.

    • Teguh Puja says:

      Pemaknaan untuk setiap hal yang datang pun sepertinya akan berbeda ya mas. Mengambil hikmah dan ibrah dari apa yang ada dengan kedewasaan dan kematangan.

  20. mintarsih28 says:

    dalam konsep fastabiqul khoirot mengubur sikap saingan yangsaling sikut menyikut, jegal menjegal.

    • Betul, meskipun namanya “berlomba-lomba” tetapi dengan semangat saling mengisi atau memperkaya anggota lainnya. Berlombanya adalah melawan diri sendiri, yaitu faktor futur / kemalasan.

  21. ayanapunya says:

    pak anton bahrul alam juga pernah jadi kapolda kalsel, mas iwan. dan selama beliau menjabat konon para anggota kepolisian diwajibkan sholat dzuhur berjamaah di masjid raya sabilal muhtadin

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: