Home » Media & Journalism » Insan KPI Tegas, TV Sehat, Masyarakat pun Cerdas

Insan KPI Tegas, TV Sehat, Masyarakat pun Cerdas

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Efek negatif siaran TV kualitas sampah itu sangat berbahaya, karena mengubah perilaku dan nilai-nilai yang menjadi benteng ketahanan nasional kita. Pada banyak acara TV yang tak bermutu itu (dalam bentuk sinetron, reality show, infotainment, dll), sungguh merusak akal budi, pikiran dan hati rakyat penontonnya.

Tayangan tentang gosip keluarga hancur, ketidaksopanan, eksploitasi perempuan, hedonisme, melecehkan sesama dan orangtua, budaya pesta, maki-makian, eksploitasi anak perempuan sekolah yang menggunakan seragam ala drama Korea dengan rok diatas lutut yang jauh dari budaya kepatutan masyarakat Indonesia, tayangan berbau klenik dan musyrik, dangdutan dengan penyanyi berpakaian seksi di depan audiens anak-anak, acara debat dengan pembunuhan karakter, dan hal buruk lainnya dipertontonkan setiap saat. Manajemen TV menuhankan Rating yang tidak jelas itu untuk bisa mendapatkan untung besar dari iklan. Soal moral dan budi bangsa yang hancur, itu prioritas no. 666!

Kondisi ini diperparah dengan tayangan iklan-iklan yang melecehkan kecerdasan dan membangun kebiasaan yang buruk dalam keluarga.

Maka pantas kiranya, sindiran yang disuarakan Captain Jack Band melalui lagunya yang berjudul: “TV Sampah”. Tahun lalu (2012) band ini mengusung kampanye “Indonesia Bebas Alkohol” melalui album ke-4 nya.



Berikut kutipan sebagian liriknya:

Membusuklah di depan layar kaca
Dengan drama basi yang kau lihat setiap hari
Dan berita yang tak jelas tentang hidup orang lain
Yang sama sekali bukan urusanmu

Cobalah sedikit berpikir tentang semua kontradiksi
Banyak pecandu TV lapar dan semua di TV berfoya-foya
Kita diajari untuk menilai fisik belaka
Mencela moral orang lain tanpa melihat diri sendiri

Isi TV kini cuma sampah belaka
Entah mengapa kalian bisa hidup menikmatinya

Saat semua orang tolol berada dalam spotlight
Saat semua ketololan menjadi base ways of life
Hingga semua kebodohan mendarah daging tanpa
Pernah kalian sadari

–: 0oo00oo0 :–

Berdasarkan data pengaduan yang diolah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) antara tahun 2010-2013, kualitas materi berita dan pertimbangan utama media masih sering menampilkan berita-berita yang sensasional tetapi tidak berbobot. Misalnya, tayangan Rohis yang dikaitkan terorisme, tayangan Khazanah yang non-multikultur, acara mistik, dan tayangan infotainment yang membongkar privasi yang tidak berujung pada konsensus ajaran moral bagi kehidupan bangsa. Efek dari tayangan mistik membuat anak-anak menjadi penakut dan sikap kemandiriannya sebagai anak bangsa berangsung-angsur surut.

Ringkasan pengaduan disusun di bawah ini, untuk detailnya bisa diunduh di situs resminya: kpi.go.id

a. Meningkatnya Jumlah Pengaduan Publik

Jumlah pengaduan publik pada tahun 2010 sebanyak 26.489 pengaduan, kemudian meningkat pada tahun 2012 sebanyak 43.552 pengaduan. Isu terbesar adalah pengaduan mengenai tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dinilai melecehkan kelompok Bonek (Maret 2012) dan tayangan Metro Hari Ini tentang Rohis yang dikaitkan dengan rekrutmen teroris muda (September 2012).

b. Tanggapan Terhadap Tayangan Berita Tidak Berbobot

Tanggapan publik tertuju pada jenis acara berita sensasional tetapi tidak berbobot (Januari-Maret 2013 sebanyak 914 tanggapan) dan kritis terhadap lembaga penyiaran yang tercitrakan sebagai televisi berita (MetroTV; Januari-Maret 2013 sebanyak 914 pengaduan).

c. Bentuk Pelanggaran

Bentuk pelanggaran oleh lembaga penyiaran pada tahun 2012 yang paling mengkhawatirkan adalah:

  • Perlindungan anak dan remaja = 76 pelanggaran;
  • Kesopanan dan kesusilaan = 70 pelanggaran;
  • Eksploitasi seks = 46 pelanggaran;
  • Penggolongan program siaran = 34 pelanggaran;
  • Ketentuan iklan = 20 pelanggaran.

Kuantitas yang tinggi dalam bentuk pelanggaran terhadap anak dan remaja mendorong KPI untuk memberikan tema tahun 2013 sebagai tahun perlindungan bagi anak dan remaja berdasar P3 dan SPS 2013.

d. Sanksi Administratif

Pada tahun 2012, KPI memberikan sanksi administratif kepada lembaga penyiaran sebanyak 110 putusan yang sangat tinggi dibandingkan peringatan (31 putusan) dan imbauan (23 putusan). Sikap tegas KPI dalam pemberian sanksi:

  • Sanksi Penghentian Sementara = 7 putusan (6%)
  • Sanksi Teguran 1 = 85 putusan (77%)
  • Sanksi Teguran 2 = 17 putusan (15%)
  • Sanksi Pembatasan Durasi = 1 putusan(1%)

e. Sebaran Pengaduan Masyarakat

Sebaran pengaduan masyarakat berdasar provinsi masih didominasi pulau Jawa sepanjang tahun 2012. Tanggapan publik terbesar berasal dari Provinsi Banten (7.311 pengaduan), Jawa Timur (5.904), Jawa Barat (5.361), Jawa Tengah (5.108) dan DKI Jakarta (4.562).

Uji Publik Masyarakat @TVSehat kepada Calon Anggota KPI

Dari refleksi KPI Masa Jabatan 2010-2013 tersebut perlu adanya kebijakan penyiaran yang benar-benar menjamin peningkatan kualitas materi berita dan siaran media bagi kepentingan publik. Atau yang paling ekstrim, KPI butuh aturan kuat untuk menghentikan program / acara bermasalah bahkan menutup media bermasalah. Bukan cuma teguran/wacana.

Penyiaran memiliki fungsi yang strategis dalam memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat. Dalam UU no.32 tahun 2002 tentang Penyiaran, pasal 3, jelas menyebutkan tujuan diselenggarakannya penyiaran adalah [1] untuk memperkukuh integrasi nasional; [2] terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa; [3] Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan [4] Memajukan kesejahteraan umum. Dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

Penyiaran mempunyai fungsi sebaga media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.

Begitu luasnya tujuan dan fungsi penyiaran, sementara kanal frekuensi yang digunakannya merupakan sumber daya alam yang terbatas. Pihak yang mendapat kewenangan untuk menyelenggarakan penyiaran pun dibatasi oleh aturan yang ketat.

Tugas dan wewenang KPI telah terjabarkan jelas dalam UU Penyiaran. Formulasi kebijakan penyiaran sudah saatnya dikonstruksikan sebagai “kebijakan yang luar biasa” bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Frasa kehidupan bangsa merupakan tanggung jawab yang dipikul oleh KPI dalam mengontrol kualitas materi dan siaran lembaga penyiaran agar menampilkan isu-isu yang mendidik, misalnya isu inovasi warga ditengah beban kemiskinan, bedah wirausaha, putra/putri Indonesia yang berprestasi, bedah alam Indonesia ala National Geography, debat tanpa desas-desus dan pembunuhan karakter, tayangan historis tanpa mistik-horor dan lain-lain.

Saat ini KOMISI I DPR RI tengah meminta masukan dari masyarakat atas 27 NAMA yang akan menjalani Uji Kelayakan & Kepatutan untuk kemudian memilih 9 (sembilan) Anggota KPI Pusat pada periode tahun 2013 – 2016.

Masyarakat harus mengetahui kualitas calon-calon wakil mereka untuk duduk sebagai Regulator Penyiaran. Karena merekalah yang nanti akan menentukan wajah dunia penyiaran ke depan. Jika yang muncul di penyiaran adalah SAMPAH, maka masyarakat pun akan terbiasa meng-konsumsi SAMPAH. Seperti dalam lagu “TV Sampah” di atas. Garbage In, Garbage Out.

Sebagai warga negara yang peduli terhadap kualitas tayangan di Televisi, Masyarakat @TVSehat hari ini (29 Juni 2013) telah melakukan Uji Publik kepada 27 Calon untuk diusulkan kepada Komisi I DPR RI. [Liputan lengkapnya bisa dimak dalam chiprstory].

Namun sayang sekali, dalam Uji Publik tersebut hanya 4 orang dari 27 Calon Anggota KPI Pusat yang hadir. Bagi calon yang tidak hadir, apakah ini indikator mereka tidak punya nyali untuk menghadapi masyarakat, seperti yang diungkap Koran Tempo hari ini? Semoga saja tidak.

Selama Uji Publik, ada 10 Pertanyaan yang diajukan Fahira Idris (Ketua Pembina Yayasan Selamatkan Anak Bangsa) atas nama Masyarakat @TVSehat kepada para calon anggota KPI Pusat. Pertanyaan-pertanyaan yang saya kutip dari kultwit beliau tersebut bisa Anda simak dalam halaman 2 jurnal ini.

Saya berharap orang yang terpilih di KPI Pusat adalah orang yang profesional, berintegritas tinggi, independen, dan punya sensitifitas terhadap persoalan-persoalan sosial. Juga berharap agar KPI lebih berani menindak segala kesalahan yang terjadi dan menegakkan aturan dengan lebih tegas terhadap industri televisi dan kepentingan politik yang menyusup di dalamnya.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto

——————
Tulisan terkait:

Advertisements

Pages: 1 2


34 Comments

  1. Tentang kritik terhadap media massa di Indonesia bagian kedua

    Masyarakat harus kritis dalam mengonsumsi konten media massa sekarang, social media senjata paling baik untuk menyampaikannya.
    Ketika media TV mempertontonkan program yang tak beradab, matikan TV / pindah saluran program, dan laporkan siaran mereka ke KPI.

    Apakah KPI mendengar keluhan masyarakat di twitter?
    Jangan khawatir, suara twitter pun bisa menurunkan orang dari tampuk kekuasaan.

    Malas nonton TV, om, programnya gak ada yg bermutu
    Jangan, kita perlu informasi dan negara menjamin rakyat memperoleh informasi yang layak.

    Buat TV sendiri aja, om
    Ngapain… kita rakyat, punya hak untuk mendesak media massa memberikan informasi yang akurat,seimbang dan cerdas.

    Terserah TV siarin apa aja, om
    Eh jangan, media punya tanggung jawab kontrol sosial & cerdaskan rakyat, bukan merekayasa & membodohkan.

    Om, TV di rumah saya smart TV pabrikan samsung loh
    Nah…beli TV mahal2 mestinya dapat program siaran berkualitas juga donk.

    Om, emang kenapa sih mesti siarin TV sehat
    Biar kamu gak jadi generasi bangsa yang hedonisme! biar kamu punya moral & akhlak yg baik.

    Seperlu apa sih siaran tv sehat om
    Seperlu generasi zaman skrg mencari pemimpin yang bijak, adil, jujur dan berani.

    Kenapa media berita gak seimbang dlm menyampaikan kabar, om
    Karena pemilik media pengusaha & politikus sejati, bukan jurnalis sejati.

    Kita perlu informasi, bukan tayangan konspirasi.
    Sebagian media TV juga punya konten program yg ber’edukasi & mencerdaskan, tapi program TV tidak sehat juga menjamur berjam-jam.

    Dampak buruk dari media TV ibarat virus, menjalar dengan cepat kerongga-rongga otak & hati. Mesti dicegah dgn vaksin.
    Menjaga kesehatan bermedia sangat berpengaruh bagi kemajuan bangsa di masa depan!

    Kritik & kecaman kepada media tidak sehat perlu terus dibangun. KPI adalah vaksin terbaik untuk menyelamatkan anak bangsa!
    KPIberhak memberi teguran dan sanksi hukum kepada media TV tidak sehat. Oleh karena itu pergunakanlah dengan tegas.

    UU Penyiaran No.32/2002, KPI berwenang memberi sanksi pengurangan durasi jam siaran TV & pemberhentian sementara stasiun tv.
    KPI juga bisa melayangkan pencabutan izin siaran & penutupan stasiun TV melalui pengadilan. Kalau ada niat semua pasti bisa 🙂

    Peraturan hukum di Indonesia ini sudah tertulis dengan baik dan jelas, cuma pelaksanaannya saja yang rada-rada buram 🙂
    Jadi, kekritisan publik pada media massa yg tidak sehat perlu terus dijaga…agar lingkungan berbangsa yang sehat dapat tercipta.
    Kritikan publik yang melek berita, nantinya bisa membuat para pemimpin redaksi tak asal-asalan lagi dalam menyampaikan informasi.
    Media massa butuh publik dan publik juga butuh media massa. Jika ingin menjaga dunia tetap waras & sehat, kita perlu jalan seirama.

    by @tv_provokator

  2. Rini says:

    “Manajemen TV menuhankan Rating yang tidak jelas itu untuk bisa mendapatkan untung besar dari iklan. Soal moral dan budi bangsa yang hancur, itu prioritas no. 666!” Miris sekali ya pa, Apakah mereka sudah tidak punya hati nurani? Apakah mereka tidak punya saudara atau anak-anak lucu yang seharusnya dididik dengan baik? Kebebasan bukan berarti boleh kebablasan menabrak nilai-nilai moral kan.

  3. Badai says:

    seingat saya periode 90an acara tv itu masih nyaman ditonton.. tapi sekarang? selain sinetron dan tayangan berita gak mutu, saya juga paling benci sama tayangan iklan yang notabene bohong besar demi meraup keuntungan T_T

    kini saya nyaris tidak pernah lagi menonton tv lokal (kalo tv kabel pun paling sebatas NatGeo dan sejenisnya)

    • Betul, mas Aldi.
      Seingat saya memang demikian, sedangkan yg sekarang ini begitu lebay, jauh dari realita. Melecehkan kecerdasan pemirsa.

      Acara NatGeo memang keren. Media asing membuat tayangan bermutu detail tentang kekayaan dan keindahan bumi Indonesia melalui National Geograpic, masak media kita gak ada satupun.

      Justru yang ada hanyalah jalan2 selebriti jelajah nusantara, tapi bukan fokus masyarakatnya dan keunikan flora, fauna, & budaya daerah tsb yg disorot, malah menyoroti selebriti/host tsb makan apa, atau ngapain aja di sana.

    • Badai says:

      ah tepat sekali ‘melecehkan kecerdasan pemirsa’

      pantesan kalo lihat tv lokal bawaannya emosi melulu sama tayangannya.. 🙂

  4. Dan sangat sering kita liat drama yang katanya drama atau sinetron islam itu sangat tidak islami. Hanya karena tokoh utamanya berjilbab, dan sering mengucapkan astagfillah, masya allah, dsb, sudah dianggap sebagai sinetron islami.

    • Malah kesannya mengolok-olok Islam ya. Apalagi kalo yg ngegarap dinastinya Punjabi dan yg meranin wanita berjilbab atau ikhwan itu adalah aktor/aktris non muslim.
      Kalo nemu lagi seperti itu laporin aja ke KPI.
      Saya juga beberapa kali melaporkan untuk kasus2 yg berbeda.

    • Benar Mas Iwan… Aku 3 atao 4 tahun yang lalu kebetulan sempat kenal dengan salah seorang penulis skenerio sinetron islami yang saat itu lagi ratingnya di stasiun TV swasta. Tapiii…. penulis skenerio yang saya kenal itu non muslim…hehe^^

  5. Sembilan Komisioner Baru KPI Terpilih Lewat Voting
    JPNN | 04 Juli 2013, 00:22:00

    Sembilan komisioner yang terpilih adalah:
    *1. Bekti Nugroho (47 suara),
    2. Judharik Sawan (46 suara),
    3. Agatha Lily (44 suara),
    *4. Azimah Subagjio (39 suara),
    5. Idy Muzzayad (31 suara),
    6. Amirudin (29 suara),
    7. Sujarwanto Rahmat Muhammad Arifin (29 suara),
    8. Danang Sangga Buwana (27 suara) dan
    *9. Fajar Arifianto Nugroho (27 suara).

    *) 3 orang terpilih yang sebelumnya mengikuti Uji Publik oleh Masyarakat TV Sehat.

  6. yisha says:

    pening, yisha pening, channel ngga bisa diganti, bakal diomelin mama….. 🙄

  7. kasamago says:

    beginilah klo kondisi bebas yg keblabasan, pemerintah serasa kurang bertaji berhadapan dg swasta yang pnya senjata duit.
    blm lg bnyk berita yg dibelokan sesuai keinginan atau kepntingan pihak tertentu.
    so, ane jd g minat bgt ama tayangan tv2 Indo kecuali film2 baratnya aj..
    berharap TVRI jd TV pemerintah sbg balancer, syg performanya dibawah standar tv swasta.

  8. tinsyam says:

    tipi begitu karena penontonnya atau karena ga ada tontonan jadi ya nonton “sampah”? kaya sapa duluan telur apa ayam deh ini..
    udah lama ga sempet jadi banci tipi lagi..

    • Saya pernah baca berita, rating itu ternyata hanya rekayasa. Jadi selama ini penonton dijejelin acara-acara yg gak bermutu, tidak masuk akal, konyol, ngawur, dan merusak budaya Indonesia, contohnya sinetron2 anak sekolah yg niru gaya drama Korea. Saya yakin hampir semua kepala sekolah di sini pasti menolak ada budaya spt itu di sekolahnya.

    • tinsyam says:

      kaya di rumah, kalu blom belajar ga boleh nonton tipi.. itupun dibatasi sejam sehari.. weekend malah jalanjalan, jadi anak2 mana sempat nonton deh.. tontonan gitu tinggal bisa kita orangtua yang atur.. ga bisa “menghimbau” pemerintah ato menghujat pemerintah.. cape sendiri.. kita yang kudu proaktif memberi tontonan yang bagus untuk anakanak sendiri.. ato kaya mbaktyas dan satu sodaraku juga adiku yang anaknya 5 dan ga ada tipi di rumah..

    • Tulisan ini ditujukan bukan untuk menghimbau / menghujat pemerintah, tapi ditujukan ke Komisi I DPR yg meminta masukan dari masyarakat sebelum pemilihan anggota KPI, agar bisa memilih insan2 KPI dg tepat (sila klik link di atas, dan sudah dikirim via email).

      Sama, saya juga membatasi jam nonton TV buat keluarga, juga selektif dlm memilih channel. Namun demikian, alangkah lebih baik kalo juga mendukung fungsi Kontrol Sosial dg memberikan masukan kepada KPI dan DPR agar bisa mengambil keputusan dengan bijak atas adanya upaya-upaya peracunan pemikiran oleh media TV yg tidak sehat.

  9. araaminoe says:

    Saya bukan penggemar televisi, yess … *kepo ya*

    • Sama, saya juga 🙂
      Dan saya yakin orang2 yg duduk di KPI itu juga bukan penggemar TV, namun mereka harus memantaunya karena kepedualian dan tanggungjawabnya sbg warga negara.

      Kita tidak bisa berpikir individu, karena pada kenyataanya banyak masyarakat kita yg menikmati pembodohan melalui televisi, yg tidak mungkin bisa diajak untuk stop melihat TV. Merekalah prioritas yg perlu diselamatkan dari racun pemikiran yg disebarkan oleh televisi.
      Demi menghadirkan tayangan yg sehat dan berkualitas, untuk itu kontrol sosial dari masyarakat itu perlu.

      Media asing membuat tayangan bermutu detail tentang kekayaan dan keindahan bumi Indonesia melalui National Geografi, masak media kita gak ada satupun. Coba sebutin kalo ada 🙂
      Yang ada hanyalah jalan2 selebriti jelajah nusantara, tapi bukan fokus masyarakatnya dan keunikan flora, fauna, & budaya daerah tsb yg disorot, malah menyoroti selebriti/host tsb makan apa, atau ngapain aja.

    • Alhamdulillah, saya sudah pernah baca, mas Dinar. Miris ya, segelintir orang (mewakili kelompok perusak bumi) mengendalikan mayoritas umat.
      Tulisan panjang itu sebagian kecil yg diungkap dalam buku “Rezim Media” – Pergulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan Infotainment dalam Industri Televisi; karya Iswandi Syahputra. Penulis buku saat ini menjabat sbg anggota KPI.
      Saya rekomendasikan mas Dinar membaca buku ini.

    • oke Pak,,
      tapi kalo untuk tv sehat, rasa2nya sulit berkembang, karna balik lagi ke konsumennya yakni masyarakat
      kan kalo rating turun, g ada yg mau invest ya pak??

    • Itu dia, kembali ke masyarakat juga yg katanya lebih menikmati pengungkapan kehidupan privacy orang lain. Ini harus dihentikan, biar masyarakatnya cerdas & tidak terperosok dalam dosa. Padahal MUI sudah mengeluarkan fatwa bhw tayangan infotainment itu haram. Tapi ya gitu deh … respon dari rezim media tidak menggubrisnya, jalan terus, krn fatwa tetap fatwa tidak ada payung hukumnya bila melanggar.

      Soal rating itu hanya tipuan/rekayasa industri media untuk menghancurkan moral bangsa. Itu harus dibongkar habis.

  10. angkasa13 says:

    Pernah nge tweet ttng hal ini ke Andi Jarot, ttng berita2 pagi di trans 7, katanya masih dalam batas wajar, di bawah pengawasan kpi, dan ga akan ditonton anak anak. Lagian katanya bad news itu biar kita waspada. Hhmm. Capeeee dehh.

    • Terimakasih, mbak Nuriska, jangan lelah untuk memberikan edukasi dan menyuarakan kebaikan.
      Meskipun bad news, tapi media tidak boleh menghakimi seseorang yg belum diputuskan bersalah oleh pengadilan. Seperti LHI yg sudah di vonis oleh media shg di-cap penjahat oleh masyarakat sebelum pengadilan memutuskan.

      Soal berita kriminal, saya juga merasakan unsur edukasinya kurang, media lebih mengeksploitasi cara-cara praktek kejahatan itu dilakukan, ini sama dg ngasih tutorial ke calon penjahat. Padahal tidak semua warga Indonesia itu menonton televisi. Mereka yg tidak menonton rentan menjadi korban dari calon penjahat tadi, karena kurang informasi.

  11. saya nggak pernah nonton TV lagi. nggak sempat. sibuk dan bosan sama acara TV yang begitu2 aja. mendingan online jadi bisa milih tayangan yang disukai dan konten yang mendidik serta bersahabata. konsekuensinya: bayar.

    • Memang itu pilihan yang bagus, mas Wahyu.
      Namun demikian, kita tidak bisa berpikir individu, karena pada kenyataanya banyak masyarakat kita yang tidak mampu menikmati fasilitas internet (online TV streaming). Merekalah prioritas yang perlu diselamatkan dari racun pemikiran yang disebarkan oleh televisi.
      Untuk itu kontrol sosial dari masyarakat itu perlu, demi kemaslahatan yang lebih luas.

    • iya. kita perlu bantu menyadarkan dan mencerdaskan masyarakat dari sampah TV. mungkin kita bisa bikin media alternatif? siaran radio anak muda, atau ngajak kerja sama TV lokal. gimana menurut anda?

    • Betul, itu bisa jadi pilihan alternatif, tapi harus kuat dalam pendanaan karena eksistensi jangka panjang sebuah media memerlukan dana yg lumayan besar, tidak cukup dg hanya berbekal idealisme.
      Banyak organisasi yg sudah mencobanya, membuat TV yg edukatif dan sehat, namun jalan di tempat, karena ya soal dana operasional yg tidak mencukupi itu.
      Sementara lawannya, media-media televisi mainstream itu milik para konglomerat, mereka punya duit lebih untuk mengemas acara menjadi menarik pemirsa (meski menyesatkan). Jaringan konglomerasi mereka begitu kuat untuk mendatangkan iklan-iklan di medianya.
      Oleh karena itu perlu kuat-kuatan kontrol sosial dari masyarakat melalui KPI. KPI sendiri sudah berusaha bekerja keras, bahkan kewalahan membendung, lihatlah beribu-ribu pengaduan yang masuk di setiap tahunnya. Berkaca dari kondisi demikian, perlu adanya kewenangan dari KPI untuk membekukan stasiun TV yang berkali-kali melakukan pelanggaran. Saat ini, KPI hanya mempunyai kewenangan menegur, tanpa bisa bertindak lebih jauh.

    • KPI dan menteri kominfo sudah sama-sama terkebiri. kekuatan kominfo dipotong oleh KPI sedang KPI tidak punya kekuasaan hukum. yang bisa menghukum kominfo. di atas mereka HAM kebebasan berekspresi menghentikan segala upaya kontrol media. jadi media2 besar bebas siaran.

    • Nah, itu kendala besarnya. Jadi langkah pertama yg harus dilakukan adalah membuat UU sbg payung hukum agar bisa membekukan media TV yg melakukan pelanggaran berat, atau frekuensinya sering.
      Dalam situasi saat ini, pemilik media TV itu juga pemimpin parpol. Maka rentan terjadi distorsi berita diseputar politik krn faktor kepentingan tsb. Pemerintahpun juga belum bisa berbuat apa-apa atas pelanggaran yg mencolok tsb, krn payung hukumnya tidak kuat.

  12. “Fakta Dibalik ‘Debat & Akting’ Narasumber Di Hadapan Kamera TV” by @Rhenald_Kasali

    Pada awalnya kita menduga, konflik itu antara si jahat vs si baik, agresif vs pasif, kapitalis vs buruh….
    Yang sebenarnya sekarang terjadi adalah orang agresif vs agresif, jahat vs jahat, labor (buruh) vs labor (professional)

    Di tengah peradapan kamera, semua narasumber televisi berebut bicara, berebut akting, artinya: berebut kamera dan semuanya hanya berpikir, kalau makin sering disorot kamera maka akan semakin terkenal, semakin laku. Faktanya: kata terkenal itu bisa bermakna (1) famous (bernuansa positif) atau notorious (bermakna negatif, terkesan sebagai musuh publik)

    Dlm peradapan kamera, famous saja tak cukup. Diperlukan gesture yang indah: auragenic, yang tampak dalam bagaimana berinteraksi di depan kamera
    Televisi harus memilih: Membangun peradapan, atau merusaknya. Membangun ikatan sosial yg kuat: trust; atau merusaknya: konflik
    Hanya ewat konflik, maka sejuta mata akan berhenti bekerja, menjadi tontonan yang ramai… tetapi saat yang bersamaan, kita telah “mengasah pisau untuk menyembelih leher keturunan-keturunan kita….”

    Saya menyarankan agar sebelum tayang, TV mewajibkan setiap narasumber menandatangani kesepakatan tak mempertontonkan perilaku yang menistakan martabat, secara fisik, dan dapat dituntut secara hukum.

  13. rahmabalcı says:

    prihatin memang sm tv indo-.- saya udah ga ngikutin,terakhir krn rame di socmed jg, ttg kasus munarman, byk yg menyalahkan si stasiun tv nya jg ttg debat kusir tersebut, yah demi rating mungkin

    • TV di Indonesia tren-nya senang dengan tokoh yang interaktif, mudah marah, mudah bikin sensasi. Sepertinya jurus itu kini banyak dianut tokoh televisi untuk mendongkrak rating.

  14. Erit07 says:

    Hanya 4 orang,ckcckck..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: