Home » Media & Journalism » Selamat Datang di Republik Preman

Selamat Datang di Republik Preman

Blog Stats

  • 1,975,335

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,848 other followers

Republik Preman

[Ilustrasi: Monitor Indonesia]


Bismillah …

Di sebuah negeri yang banyak dihuni para bedebah.
Ada sekelompok orang sedang menikmati acara hura-hura judi dan prostitusi yang tentu tidak ketinggalan di dalamnya ada minuman keras dan narkoba.
Kemudian datang seseorang yang tidak suka dengan kegiatan tersebut karena dianggap meresahkan masyarakat. Orang tersebut menasehati agar tidak melakukan perbuatan maksiat. Namun rupanya ajakan itu malah ditentang, sampai terjadi adu fisik, hingga melibatkan banyak orang di kedua belah pihak.
Kemudian datanglah polisi sebagai “Penegak Hukum” katanya.
Tapi benarkah hukum ditegakkan saat itu?
Polisi malah menangkap mereka yang yang tidak mau ada kemaksiatan. Alasan polisi: mereka menciptakan kerusuhan.
Dan media massa yang menghamba pada tuan kebebasan justru menari-nari atas peristiwa itu.

Wahai kawan,
Selamat datang di Republik Preman.

.
INSIDEN LAMONGAN – 12/8/2013

Terkait dengan insiden Lamongan, selain petugas Kepolisian, Aliansi Solidaritas Untuk Muslim (ASOUM) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) telah melakukan investigasi latarbelakang insiden tersebut berikut kronologinya. Ditemukan fakta bahwa lagi-lagi media mainstream memutar balikkan fakta 180 derajat, seperti halnya melakukan pemelintiran berita-berita yang beberapa contoh kasus telah saya ulas di jurnal sebelumnya.

Kronologi Insiden Lamongan
Tempat: Dusun Gowah, Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Menurut investigasi Aliansi Solidaritas Untuk Muslim (ASOUM), aksi brutal para preman terhadap “para aktivis Islam Lamongan” –[catatan: untuk selanjutnya dalam jurnal ini kita sebut saja “para ikhwan”, bukan FPI pimpinan Habib Rizieq Shihab seperti yang diberitakan media]– lantaran tidak terima dengan aksi amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan para ikhwan dengan membubarkan kegiatan maksiat dan kemungkaran. Peristiwa penyerangan preman bayaran terhadap para ikhwan dipicu oleh aksi sweeping yang dilakukan para ikhwan pada sebuah tempat maksiat yang berkedok rental Play Station. Di sana sering terjadi pesta narkoba yang dilakukan anak-anak muda, yang katanya memang ada tempat khusus untuk kegiatan maksiat. Tempat seperti itu jelas meresahkan warga sekitar.

Menurut ASOUM, permasalahan narkoba sudah cukup lama merusak generasi muda Lamongan, para ikhwan di sana juga sudah cukup lama berusaha memberantasnya. Dan puncaknya ketika malam sebelum lebaran para ikhwan tersebut melakukan sweeping terhadap tempat tersebut.

[Catatan: Detail peristiwa sweeping yang diawali dengan aksi penghinaan (meludahi) terhadap salah seorang anggota para ikhwan di tempat rental Play Station bisa disimak dalam laporan JITU (Jurnalis Islam Bersatu) di sini: Suara Islam: Kronologi Penyerangan Preman Narkoba Terhadap Aktivis Islam di Lamongan.]

Setelah di-sweeping, kemudian seorang bandar narkoba (berinisial M) menyusun kekuatan dengan membayar preman sebesar 200 ribu per orang, itu informasi yang dikorek ASOUM dari salah satu penyerang yang tertangkap. Sang bandar narkoba itu merasa bisnisnya diganggu. Selanjutnya, para preman bayaran melakukan penyerangan dan sweeping balasan terhadap rumah anggota para ikhwan pada Minggu (11/8/2013) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Rumah yang disatroni tersebut yakni milik Yazid, Zein, dan Arif. Saat melakukan penyerangan, para preman menutup akses desa yang menuju ke rumah tiga aktivis Islam. Untuk memprovokasi warga, massa preman berteriak dengan yel-yel “Bunuh PKI, Bunuh PKI!” Mereka merusak pintu dan jendela, serta beberapa perabotan. Beberapa anggota para ikhwan berhasil lolos.

Tidak berhasil menemukan anggota para ikhwan yang dicari, mereka melukai istri-istri dan ibu-ibu yang ada di rumah sasaran. Hasilnya, istri Zein luka bacok di punggung serta lengan kiri dan kanan. Lalu, Istri Arif luka sobek di tangan. Sedangkan istri Yazid dan mertuanya pingsan karena shock hingga berdampak pada rasa trauma dalam diri anak-anak mereka.

Tidak puas sampai di situ, massa preman juga menghajar seorang warga bernama Ryan yang mereka kira sebagai anggota para ikhwan. Ryan mendapati luka paling parah, sebab preman membacok kepalanya, dan hingga kini masih dirawat di RS Medika Tuban.

Preman itu juga merusak dan membakar 2 buah motor milik para ikhwan. Namun, ketika massa preman selesai merusak 3 rumah, mereka terpisah menjadi 2. Satu kelompok lari ke arah Timur, sedang lainnya berlari ke arah Barat.

Pasca serangan para preman …

Tak terima dengan peristiwa itu, belasan anggota para ikhwan di Lamongan langsung melakukan investigasi guna mencari pelaku pembacokan. Kemudian terjadilah bentrokan antara para ikhwan dengan para preman. Para preman berlarian menyelamatkan diri, untungnya para ikhwan berhasil menangkap salah satu anggota preman. Ketika ditanya preman tersebut mengaku dibayar Rp 200 ribu plus pil koplo (oleh seorang yang dikenal sebagai bandar narkoba berinisial M) untuk melakukan penyerangan terhadap anggota para ikhwan.

Setelah mengantongi info tersebut, para ikhwan berkumpul dan bergerak mendatangi rumah M, namun yang bersangkutan tidak ada ditempat. Beberapa anggota para ikhwan yang emosi karena tidak berhasil menemukan M, melakukan perusakan di rumah tersebut. Menjelang subuh anggota para ikhwan kembali ke markas dan berkumpul di Mushala pimpinan Ustadz Ansori sambil menunggu waktu Subuh.

Lantas bagaimana bisa terjadi penangkapan para ikhwan tersebut?

Saat menjelang subuh itulah, ratusan anggota kepolisian dari Polres Lamongan, Tuban dan Bojonegoro melakukan penangkapan terhadap 42 anggota para ikhwan yang sedang berada di Mushola termasuk diantaranya sang Ustadz Ansori dan juga warga setempat yang tidak tahu menahu, bahkan ada anak-anak yang tidak tahu apa-apa ikut dibawa. Semoga Allah mengampuni mereka yang tidak sempat melaksanakan sholat Subuh tersebut.

Bagaimana media-media menulis berita saat itu?

Silakan googling dengan keyword: FPI Lamongan
Banyak media menulis headline: “Terjadi bentrokan antara warga dan massa yang diduga para laskar FPI di Lamongan”

See!
Lagi-lagi, kata “preman” dikaburkan menjadi “warga”. Seperti berita-berita yang men-diskreditkan FPI dalam kasus Kendal dan Makassar. Sehingga banyak diantara kita menjadi tersesat pemikiran oleh kerancuan informasi, seperti:

Itu judul yang mengaburkan, bukan mengabarkan kebenaran.
Kalau Anda menyimak dengan baik kronologi di atas, jelas akan tahu siapa yang membuat situasi tidak kondusif.
Coba bayangkan, ketika para penjaga kampung (agar wilayahnya bebas dari kemaksiatan) itu ditahan, dan justru preman-preman bebas berkeliaran di sana (karena dari 200 preman yang berulah dalam insiden tersebut, hanya 10 yang diamankan), bisa dipastikan warga kampung tersebut akan tetap resah.

Kemudian lihat faktanya, saat ini preman-preman masih bebas berkeliaran pasca penahanan para ikhwan, silakan simak berita berikut:
“Kembali, Juru Adzan di Lamongan Diserang Gerombolan Ninja” [Update | IslamPos, 14/8/2013]

Dengan demikian bagaimana bisa dibilang suasana telah kondusif setelah penahanan “FPI” seperti yang dibilang media tersebut?

Media-media mainstream selain tidak membedah akar permasalahan yang sebenarnya, juga telah mendiskreditkan organisasi FPI.

Padahal Faktanya adalah …
Pengurus DPD FPI Jawa Timur menyatakan bahwa FPI Kabupaten Lamongan sudah dianggap tidak ada, setelah terjadi perbedaan prinsip dengan pengurus pusat FPI. Seluruh pengurus FPI Lamongan sudah dinonaktifkan sejak tahun 2010. Juga menurut Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Selon, menegaskan bahwa FPI di Lamongan sudah 3 tahun dibekukan. [Hidayatullah, 14/8/2013].

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Unggung Cahyono telah mengatakan bahwa bentrok dipastikan tidak terkait ormas Front Pembela Islam (FPI) dan tidak terkait isu agama. Kemudian menegaskan bahwa peristiwa tersebut murni aksi kriminal sekelompok orang, tidak ada keterlibatan anggota ormas FPI di dalamnya [Kompas, 13/8/2013].

Mendagri Gamawan Fauzi juga memastikan bahwa FPI tidak memliki pengurus di Lamongan, artinya tidak ada organisasi bernama FPI Lamongan [Inilah, 13/8/2013]

Jadi, kejadian sesungguhnya insiden Lamongan BUKANLAH bentrokan antara FPI dengan warga (seperti yang ditulis media-media mainstream), tetapi penyerangan yang dilakukan oleh preman bayaran terhadap rumah para ikhwan. Ada “Aksi” biasanya akan muncul “Reaksi”. Dan seperti biasa, media mainstream itu fokus mem-blow up bagian “Reaksi”. Makin disembunyikan peristiwa bagian “Aksi”-nya, makin ngawur isi beritanya. Karena tujuan mereka memberitakan adalah berfokus dalam membentuk opini di masyarakat agar membubarkan FPI, bukannya membedah jaringan narkoba yang menjadi akar permasalahan.

Yang lebih miris lagi adalah pernyataan seorang ibu yang telah menjadi korban bacokan para preman dalam insiden tersebut. Melalui wawancara dengan Kiblat.net, ibu tersebut berkata: “… Kalau berita yang di TV itu ngawur semua. Masak dikatakan FPI menyerang wanita dan anak-anak”. [Suara Islam, 13/8/2013]

Setelah ada penjelasan resmi dari DPP FPI, DPD FPI Jatim, Kapolda Jatim dan Mendagri, nyatanya masih saja ada media-media yang menulis dengan sebutan FPI Lamongan sampai jurnal ini ditulis. Silakan check di google untuk periode 24 jam ke belakang.

Dalam pemberitaaan Insiden Lamongan, lagi-lagi para jurnalis itu melanggar elemen-elemen jurnalisme. Elemen apa saja yang dilanggar?

Elemen ke-8, yaitu Komprehensif dan Proporsional. Judul yang sensasional dan isi berita yang terlalu emosional bukanlah suatu produk jurnalistik yang baik. Isi berita harus proporsional. Juga bersifat komprehensif, yaitu sifat menyeluruh dimana jurnalis harus mencari fakta-fakta lebih jauh (tidak hanya menerima fakta yang terlalu mudah bisa diraih) dan disusun dalam sebuah konteks sehingga terlihat keterkaitannya masing-masing. Elemen ini sering dilanggar oleh para jurnalis yang bersemangat terdepan mengabarkan, dan mempunyai kebencian yang mendalam terhadap pelaku dalam pemberitaannya.

Elemen ke-9, yaitu Hati Nurani. Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi, harus memiliki rasa etika dan tanggung jawab personal, atau sebuah panduan moral. Jurnalis seharusnya mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil, sehingga dalam pemberitaannya ikut andil dalam upaya menciptakan kedamaian dan ketenteraman di masyarakat. Jurnalis yang menyembunyikan kebejatan preman dan bisnis narkoba; adalah kategori jurnalis yang jahil, yang tidak mempunyai hati nurani.

Lihatlah sebelumnya, media-media mainstream pada tiarap setelah kejadian sesungguhnya Insiden Kendal terkuak!

Melalui jurnal ini saya meminta media-media bersikap proporsional dan komprehensif. Jangan sampai hanya karena ada kebencian terhadap golongan, sehingga tidak bersikap adil dalam pemberitaan. Allah telah mengingatkan kita semua tentang ini.

Saya juga ingin mengingatkan bahwa jangan sampai ketika datang berita dari kaum fasiq, kemudian dengan mudahnya menelan mentah-mentah tanpa tabayyun, dan ikut-ikutan menghujat di berbagai media sosial. Allah juga telah mengingatkan kita semua tentang ini.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
14.08.2013

========
Catatan:
Simak juga laporan langsung saksi mata dari tempat kejadian di Lamongan: http://chirpstory.com/li/112099

UPDATE [20/2/2014]
Setelah enam bulan berlalu semenjak jurnal ini ditulis, akhirnya Ketua Dewan Pers memberikan teguran kepada 12 media, a.l.: Metro TV, TV One, Trans TV, Trans7, RCTI, ANTV, SCTV, Sindo TV, Kompas, Media Indonesia, dan Warta Kota; setelah mereka terbukti nyata menyebarkan berita bohong tentang FPI pada Insiden Lamongan. Mereka telah mengoplos berita antara fakta dan opini. [Suara Islam]

Simak juga:
PPR Dewan Pers Nomor 07/PPR-DP/II/2014

Advertisements

71 Comments

  1. […] yang hitam dibikin putih, yang putih dibikin hitam. Salah satunya pernah saya bahas di sini: SELAMAT DATANG DI REPUBLIK PREMAN […]

  2. […] … Kalau cafe maksiat itu bisa berdiri dengan aman sudah pasti aparat pemerintah provinsi dan preman telah terbeli. Jangan sampai negeri ini menjadi negara preman, dimana aparat melindungi pengusaha maksiat, dan media membebek kepada biang maksiat. [baca: Ironis, di Republik Preman] […]

  3. […] Insiden Lamongan, masalah utamanya adalah tumbuh suburnya preman dan peredaran narkoba yang sulit diberantas di sana sehingga meresahkan warga, tapi headline berita disulap menjadi tentang kekejaman FPI yang bentrok dengan warga. […]

  4. Bismillah,

    Salah satu cara mengcounter berita-berita media sekuler adalah membuat media2 sendiri yang kredibel. Tapi bagaimana bisa kredibel kalau beritanya isinya tentang konspirasi wahyudi, laminating, remason, dll. Selalu melihat lambang2 dimana-mana yang merupakan “bukti” adanya konspirasi (walaupun mungkin cuma kebetulan saja). Langkah pertama: perbaiki kredibilitas media Islam, karena IMHO ga ada media Islam yang kredibel sekarang karena berita-beritanya jarang / tidak ada sama sekali cek dan ricek dan sumbernya ga jelas. Makanya orang lebih percaya media sekuler karena media Islam kurang kredibel. Jujur aja saya prihatin dengan media2 Islam sekarang karena lebih mirip berita tabloid gosip yang isinya hoax seperti Paris Hilton masuk Islam; berita konspirasi yang diada2kan seperti lambang freemason dan illuminati di sajadah; atau berita yang sumbernya kurang jelas dan tidak diteliti dengan benar seperti artikel Wong Fei Hung adalah seorang muslim; dll. IMHO, mereka hanya membuat umat Islam jadi bahan tertawaan seluruh dunia.

    • Saya setuju sekali dangan mas Bawenang, yaitu perbaiki kredibilitas media Islam, itu yang utama. Sebab rasanya menggelikan dan miris (bikin malu) bila ada berita yang sifatnya hoax terdapat pada media-media Islam. Seperti penyajian informasi tentang illuminati & freemasonry yang ngawur dan bahkan kebablasan, kemudian informasi yang sifatnya klaim-klaim sepihak.

      Ayo, mas Bawenang, bikin blog untuk memberikan perimbangan informasi agar umat Islam tidak menjadi bahan tertawaan seluruh dunia.

  5. […] Insiden Lamongan, masalah utamanya adalah tumbuh suburnya preman dan peredaran narkoba yang sulit diberantas di sana sehingga meresahkan warga, tapi headline berita dialihkan ke soal kekejaman FPI yang bentrok dengan warga. Kata “preman” oleh wartawan jahil tersebut dikaburkan namanya menjadi “warga”. Lagi-lagi masalah utama menjadi kabur. [baca investigasi] […]

  6. rusydi hikmawan says:

    ini karena pakem pemberitaan, “bad news is good news, good news is bad news”. jakob oetama mestinya baca tulisan2 pak iwan. atau memang redaktur media cetak dan elektronik hanya ingin mendulang untung dari pemberitaan yg salah saja ya. pantas saja Edy A Effendi keluar dari media indonesia dan sandrina malakiano keluar dari metro, dan sederet wartawan2 lainnya, yg justru menyerang arogansi media.

  7. Risma Armia says:

    Padahal dosanya sangat berat memutarbalikkan fakta begitu. Bila tidak jujur, pekerjaan jurnalistik beresiko masuk neraka 😦

  8. enkoos says:

    Astagfirullah.
    Jadi pelakunya bukan FPI ya.

    • Suara Islam: Sebarkan Berita Bohong, Sejumlah Media Sekuler Dilaporkan FPI ke Dewan Pers

      Hari ini FPI akan layangkan surat pengaduan ke Dewan Pers, sebanyak 8 media televisi dan 3 media cetak yang akan dilaporkan. Media tersebut diantaranya adalah MetroTV, TV One, Trans TV, Trans7, RCTI, ANtv, SCTV, SINDO TV, Kompas, Media Indonesia, dan Warta Kota. Media tersebut dilaporkan karena telah menyebarkan berita bohong tentang FPI dalam peristiwa Lamongan dan Tasikmalaya. Kebohongan tersebut diulang-ulang dan tanpa melakukan cover both side dan bersifat insinuatif untuk menggiring opini publik. Media yang dilaporkan tersebut juga mencampuradukan antara fakta dan opini.

  9. Ina says:

    lagi2 media mengelabui masyarakat….. makanya si yang punya kuasa atas media, bisa dengan mudah mengarahkan berita sesuai kepentingan pribadinya

  10. mitawakal says:

    Asoi Republik Preman, jadi mirip video game GTA nih… hihihi

    makanya kita2 lebih suka media alternatip yang biasanya lebih independen tanpa direcoki kepentingan ini dan itu..

    Maju terus ya, keren banget nih blognya…

    salam kenal dari Bloger Bandung..

    • Salam kenal juga, mas Mitawakal.

      Mari bersemangat membangun jurnalisme yang baik di Indonesia, dengan menjadikan blog sebagai perimbangan informasi atas media-media mainstream yang menyesatkan.

    • Terimakasih sharingnya, Pak Widodo.
      Memang sering kita jumpai tokoh-tokoh Islam itu dibunuh karakternya oleh media, dengan bualan-bualan yang membosatis.

      Hari ini saya mendapat kabar, Metro TV dilaporkan ke KPI karena memutar balik fakta dalam pemberitaan soal Mesir. Memang sejak awal pemberitaan soal Mesir, yg saya perhatikan MetroTV sudah melakukan distorsi informasi seakan-akan pro Kudeta dan merestui langkah militer. Ini membuat Forum Rektor se-Indonesia geram banget, sehingga mengambil langkah untuk melaporkan ke KPI. Sila simak di sini:
      http://news.fimadani.com/read/2013/08/17/lakukan-kebohongan-pemberitaan-mesir-metro-tv-dilaporkan-ke-kpi/

      Saya lagi coba kompilasi kebohongan-kebohongan tsb yg sudah dibuat oleh media-media di sini soal Mesir. Parahnya media-media itu memberikan panggung orang2 JIL sbg narasumber.

  11. araaminoe says:

    Menjadi baik itu tidak gampang, membaikkan sesuatu yang salah juga lebih tidak gampang. Semua dikembalikan ke pembaca, semoga tiada lagi “pembonceng2” gelap untuk mendomplengi penegakan kebaikan. Amin.

  12. Contoh lain jurnalis rusak tentang korban di Mesir Pak. Update terakhir adalah yang ini: http://islampos.com/sinai-mesir-jumlah-tewas-sudah-6000-muslim-bukan-2600-saja-73855/

    Berita lokal Indoensia dibilang cuma 400-500 orang saja.Nyawa saja dikorup.

    • araaminoe says:

      Bisakah negeri ini menjadi lebih baik? bebas dari segala macam yang namanya korup? Dan tidak perlu adanya hujatan sana dan sini?
      Mungkin jawab nya kembali dari masing2 pribadi, dengan tulus.

    • Tentu bisa. Asal kita (rakyat dan pemerintahnya) mau berubah. Hujatan itu hanya bumbu kehidupan dunia. Dunia ga ada namanya merdeka sejati, damai sejati, adanya cuma di surga…

    • araaminoe says:

      jadi masih ad harapan ya Pak, di dalam kegelapan sepekat apapun, amin…

  13. Lagi-lagi soal pencitraan dari media ya menggiring opini publik, lama kelamaan hal ini makin bahaya karena semakin banyak orang yang menganggap ormas-ormas islam hanya menggunakan jalan kekerasan. padahal kan dibalik aksi yang dilakukan ada alasan jelas, nggak ada asap kalau nggak ada api 😦

    • Yup, menggiring opini publik menjadi negatif itulah jahatnya media.
      Contohnya berita ini, coba mbak Anggi analisa kejanggalannya:
      Astaga!! Tarif Dakwah Ustad Solmed 150 Juta

    • oh soal berita ini ya pak. semua pemberitaan media elektronik, terutama infotaiment tiap hari gencar nih soal ini. judulnya aja bombastis, kadang isi gak relevan sama kenyataan yang ada.
      Yang kadang saya nggak habis pikir itu kemana kode etik jurnalistik yang jadi pedoman media? Saya pernah ikut seminar jurnalistik dari PWI Pusat dan hal-hal kayak gini jelas dilarang karena melanggar aturan.

    • Soal contoh kasus yang saya berikan, betul sekali dengan apa yang mbak Anggi sampaikan, bahwa judul tidak relevan dengan isinya.

      Dari tulisan judul yang bombastis, media ingin menggiring opini pembaca sejak dini tentang kebejatan ustad. Media telah menanamkan image negatif dulu ke otak pembaca. Berita itu kalo di-twit hanya kan kelihatan judul-nya saja plus link, media ingin menyasar para tweps yang malas buka link tapi yang punya hobby menghujat.

      Padahal isi tulisan itu berbeda 180 derajat, bahwa sang ustadz menolak ceramah kalo biaya yang ditetapkan EO itu begitu bombastis. Sang ustadz saya nilai betul dengan sikapnya itu. Tapi media jahil tidak rela itu, makanya yang media lakukan adalah memelintir judul, dengan tujuan seperti yang saya sampaikan di atas.

      Oiya, ilmu-ilmu belajar di PWI bisa mbak Anggi bagi tuh agar para pembaca media di sini makin cerdas. Semoga tidak keberatan 🙂

      Saya bikin jurnal-jurnal khusus tentang media dg kategori: media-journalism

      ===
      [Update]
      Soal permasalahan sang ustadz, barusan ada cover both side dari kompasioner di sini. Semoga tuntas permasalahannya.
      Soal substansi beda dengan pembahasan kita di atas, yang kita bahas adalah soal jurnalis jahil 🙂

    • mhilal says:

      Kalok baca yang di Kompasiana, berarti bener tuh pas ustaz sedang cari simpati lewat acara gosip….

  14. niprita says:

    Wah, parah banget. Ternyata kebohongan media udah merambat parah ke penyiaran berita juga ya, bukan sekedar tayangan sinetron. Miris….
    Terima kasih postnya Pak Iwan

  15. Reblogged this on Hidup Tidak Mengenal Siaran Tunda and commented:
    Makin banyak media makin sulit untuk menemukan informasi yang bisa dipercaya

  16. Makin banyak media makin sulit untuk menemukan informasi yang bisa dipercaya .. 😦

    Ijin re-blog ya mas, biar banyak yang baca

  17. Reblogged this on WidodoWirawan.Com and commented:
    Hadiah menjelang Hari Kemerdekaan. Kapan kita merdeka dengan sebenarnya?

  18. Sekali lagi miris, pokoknya gampang saja sekarang: segala berita media mainstream yang ngomong tentang memojokkan Islam, baik itu representasinya FPI, PKS, atau bahkan Al Qaida sekali pun, jangan pernah dipercaya, 99% isinya pemutarbalikan fakta dan kebohongan. Maklum saja Pak, zaman menjelang munculnya Dajjal, dengan indikasi menguatnya syi’ah. Dajjal ciri utamanya surga jadi neraka, neraka jadi surga, kebenaran jadi kejahatan, kejahatan dianggap benar. Izin share dan reblog ya…

    • Dalam situasi yang tidak sehat seperti ini, kita patut bersyukur ada JITU (Jurnalis Islam Bersatu) lumayan bisa mengimbangi distorsi pemberitaan media mainstream. Yang kemudian perimbangan informasi tersebut dikicaukan oleh jutaan orang di-socmed, sehingga mampu menenggelamkan berita miring.

      Akan menjadi seru ketika pemilik modal yang tidak ingin bisnisnya diganggu itu membangun para aktivis micro-blogging (seperti JASMEV) untuk meng-counter jutaan orang dalam paragraf di atas. Sehingga kesan yang terjadi adalah masyarakat sulit membedakan informasi mana yang benar dan yang salah, kecuali mau bersusah payah menelitinya.

      Gambaran era kemunculan Dajjal bisa kita rasakan saat ini polanya. Bisa jadi saat benar-benar memasuki era tersebut malah begitu dahsyat fitnahannya.

    • Persis banget pak. Zaman dajjal: paginya seseorang beriman, sorenya bisa mendadak jadi kafir… mirip disihir. Dan sihir zaman modern ya media penipu ini. Lebih dahsyat dan massif kekuatan sihirnya…

  19. kasamago says:

    musti dishare lebih luas lagi nih artikel br publik g dibegoin media n polkish..

  20. Izin share di fb ya Pak 🙂

  21. Apalagi dalam era digital, aspek menyeluruh alias cover all side sering terkalahkan dengan tuntutan kecepatan keluarnya berita. Semua ingin menjadi yang tercepat dalam menyajikan berita.

    Terima kasih Mas Iwan sudah sudah berbagi informasi dari berbagai sumber. Mencerahkan. 🙂

  22. Badai says:

    Sudah ga bisa percaya 100% sama media masa manapun, beruntung masih ada #fightforfreedom yang bisa mencerahkan ^^

    Terima kasih mas Iwan!

  23. penuhcinta26 says:

    Cak Iwan, selama wartawan masih manusia, sulit untuk murni obyektif karena manusia cenderung untuk subyektif dan berpihak, meskipun biasanya menyangkal habis-habisan bahwa mereka subyektif.

  24. tinsyam says:

    harusnya masiwan yang jadi jurnalis deh biar lebih proposional beritanya.. ga asal berita dan emosi..
    masih suka gelenggeleng pala kalu baca berita ga bener gitu, bikin opini kita tergiring..
    itu M yang bandar narkoba udah ketahuan? ditangkap aja.. *loh kog daku yang emosi ya..

    • Dalam jurnal di atas saya tulis:
      “Coba bayangkan, ketika para penjaga kampung tersebut agar wilayahnya bebas dari kemaksiatan itu ditahan, dan justru preman-preman bebas berkeliaran di sana (karena dari 200 preman yang berulah dalam insiden tersebut, hanya 10 yang diamankan), bisa dipastikan warga kampung tersebut akan tetap resah.”

      Nah, baru saja siang ini dapat berita para preman yang masih bebas berkeliaran itu berulah:
      Kembali, Juru Adzan di Lamongan Diserang Gerombolan Ninja

      Jadi, bohong yang dibilang Tempo bahwa “FPI Lamongan dibawa ke Surabaya, suasana kondusif”. Justru warga kini makin resah, karena orang-orang lurus yang menjaga kampung malah ditahan. Sementara para preman masih bebas berkeliaran.

    • tinsyam says:

      padahal premanpreman itu warga kampung sana juga kan? bukan pendatang? kalu pendatang tinggal digebah saja dengan kekompakan warga kampung, mengusir pendatang yang mengganggu.. kalu warga kampung, tinggal hubungi tetuah disana kasih penyuluhan..
      kog jadi inget napi penjara di medan itu yang ga ada kabar sekarang, para napi kabur ada tuh ratusan? tapi medan aman jaya..

    • Terkait si M, ternyata dia adalah residivis, dan kini masih buron.

      Polda Jatim Akui Mukhlis Resedivis

    • tinsyam says:

      aaiihh kog sama dengan nama adikku sendiri.. mukhlis..

  25. Andre says:

    pengalamn menjadi wartawan, ternyata di balik itu semua para pencari berita murni 99% tujuanya untuk menambah uang saku, 1% benar2 murni sebagai aktivis media. sehingga, dampaknya para wartawan diibaratkan layaknya pedagang yg selalu ingin melihat peluang pasar. apalagi kini media di genggam oleh para pemilik modal yang memang telah terendus di dunia politik..
    semakin hangat berita, semakin berpeluang uang mengalir ke saku para wartawan.. hhhmmm…

    • tinsyam says:

      jadi kebanyak wartawan itu ga punya hati nurani ya? yang penting uang saku.. yang penting berita ada nilai jualnya.. [kesimpulan ngawur daku nih]

  26. ibuseno says:

    ternyata begini krnonologisnya thoh… sy baca tidak detil sblmnya.
    iya media yg pinter bawa opini publik ttng FPI jadinya yaMas

  27. nur4hini says:

    Pak Iwan, ijin reblog nggih 🙂

  28. jampang says:

    yang cuma baca berita dari media mainstream terus ikut2an nyebar berita di FB ….. mendukung agar warga berani bertindak melawan ormas… tapi pas berita sebenarnya terkuak…. nggak bikin ralat

  29. kebomandi says:

    whuaa.. aku gak terlalu ngikutin beritanya sih om. tapi, emang aku kemakan sama berita-berita yang beredar bahwa FPI itu… yang begitulah.

    Tapi, gegara baca ini jadi mikir lagi. mungkin ini semua gara-gara funsi dari penegak hukum sebenernya yang gak ada jadi, kesan main hakim sendiri jadi yang terangkat dari FPI. mungkin yang dibenahi itu harusnya, kemana aja polisi?? udah jelas ada pesta narkoba, kok bisa didiemin gitu aje? -.-

    • Seharusnya apa yang dilakukan FPI memerangi kemaksiatan itu adalah tugas dan tanggung-jawab kita semua dalam ber amar ma’ruf nahi munkar. Tentunya dengan koordinasi yang baik dengan pihak aparat penegak hukum. Sehingga FPI tidak perlu ada. Namun FPI lahir karena memang ada alasannya.
      Semua warga negara Indonesia berhak untuk hidup damai tanpa mengalami keresahan yang diakibatkan adanya kemaksiatan di lingkungan tempat tinggalnya.

      Kalau ingin mendapatkan berita tentang FPI saya sarankan jangan membaca berita-berita yang berasal dari media-media mainstream, isinya ngawur karena diliputi kebencian dan mempunyai misi agar FPI dibubarkan, jadi akan ada selalu upaya mencitrakan hal-hal yang buruk.

      mbak Ayyu silakan menyimak kesaksian menarik dari seseorang yang dulu benci banget dengan FPI, namun akhirnya bertobat setelah mengetahui sendiri fakta yang sebenarnya di lapangan. Dan sadar bahwa selema ini dibohongi oleh media-media pembenci Islam.

      Chirpstory: Saya, FPI, Media, dan Fakta! by @aan_mokodongan

    • kebomandi says:

      well oke om.. langsung ke TKP!

  30. dani says:

    sedihnya baca ini Pak… 😦

    • Gak bisa dibayangkan bagaimana perasaan korban dan keluarganya (yang masih berada di rumah sakit), ketika menghadapi kenyataan bahwa apa yang disampaikan media massa dan televisi tidak sesuai dengan realita di lapangan saat itu.

  31. tiarrahman says:

    media massa susah dipercaya..
    padahal tugas nahiy munkar itu tugas semua orang, yang paling depan seharusnya pemerintah!

    • Saya sependapat sekali, Pak Tiar.
      Memang tugas Nahiy Munkar adalah tugas kita semua sebagai warga negara Indonesia. Bila ada kemaksiatan di lingkungan kampung kita, maka hal terbaik adalah berkoordinasi dengan aparat kampung seperti RT, RW untuk membubarkan/menertibkannya.
      Namun demikian koordinasi yang lebih luas, misalnya dengan kepolisian, juga wajib dibangun.
      Jadi, warga hanya mendukung pihak kepolisian dalam melakukan tugasnya, sehingga tidak akan ada yang namanya main hakim sendiri.

  32. debapirez says:

    Pertama: FPI udah dicitrakan buruk. pokoke kalau ada aksi dari “gerombolan berjubah” (istilah media jg neh), dijudge bahwa itu FPI.

    Kedua: Meskipun udah ada klarifikasi resmi dr Polisi bahwa pelakunya bukan FPI, tetep aja di portal berita kampret ditulis FPI. Kalau ga salah, Kapolda ini yg pernah dimuat di blog mas Iwan ya 🙂

    Ketiga: kadang yg meliput kejadian cuma dari 1 wartawan. trus yg lainnya tinggal ngutip deh (pengalaman istri pas pernah jd wartawan). Sebagai contoh, TEMPO sebel banget tuh sama Bakrie. Makanya jelek terus kan beritanya. Nah,saat ada good news tentang Bakrie, saya tanya,”ga dimuat tuh beritanya?”. Do’i pun menjawab,”enak aja mereka dapat promosi gratis” hehe….

    • Ada faktor like ‘n dislike ya. Sulit memang untuk benar-benar menetralkan pandangan, namun itulah tantangan besarnya seorang jurnalis. Apalagi kalo itu bersentuhan dengan ideologi-nya. Ada 10 elemen yang harus dipatuhi. Kalo melanggar, maka berita yang ditulis tidak lebih dari opini jurnalis (yang tidak netral lagi).

      Kita patut bersyukur ada JITU (Jurnalis Islam Bersatu) lumayan bisa mengimbangi distorsi pemberitaan media mainstream. Yang kemudian perimbangan informasi tersebut dikicaukan oleh jutaan orang di-socmed, sehingga mampu menenggelamkan berita miring.

      Sebelum ada socmed microblogging, sepertinya umat Islam gak berdaya terhadap gempuran-gempuran informasi yang arahnya adalah de-radikalisasi Islam.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s