Home » Media & Journalism » [HOAX Tes Keperawanan] Bagaimana Agar Ucapanmu Tidak Dipelintir Wartawan?

[HOAX Tes Keperawanan] Bagaimana Agar Ucapanmu Tidak Dipelintir Wartawan?

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Sepertinya daftar berita bohong yang sebelumnya menjadi isu nasional akan semakin bertambah. Silakan check daftar berita bohong sebelumnya di sini.

Sejak hari selasa lalu, 20 Agustus 2013, saya dikejutkan oleh sebuah berita: Siswi SMA di Prabumulih Diwajibkan Tes Keperawanan [baca Kompas, Kontan, dan beberapa media lainnya].

[Update info: Berita tentang Tes Keperawanan ini pertama kali muncul dalam media: sumsel.tribunnews.com, 18/08/2013]

Dalam berita tersebut disampaikan bahwa Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, membuat rencana kebijakan mewajibkan semua siswi sekolah di Prabumulih untuk mengikuti tes keperawanan. Tes tersebut sebagai respons terhadap maraknya kasus siswi sekolah yang berbuat mesum, bahkan diduga melakoni praktik prostitusi. Kemudian dana tes itu diajukan untuk APBD 2014. Yang menjadi narasumber dalam berita tersebut adalah Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih HM Rasyid, Senin (19/8).

Berita ini kemudian mendapatkan respon dari berbagai pihak, baik yang Pro maupun yang Kontra terhadap Tes Keperawanan. Salah satu respon yang Kontra berasal dari aktivis perempuan, Tunggal Pawestri, yang mengatakan bahwa pejabat yang harus tes kewarasan [Kompas]. Ia juga mengatakan bahwa tes keperawanan berpotensi melecehkan perempuan [Viva News], dan menurutnya perawan tidak perawan berhak mendapatkan pendidikan [Merdeka].

Kemudian yang Pro terhadap Tes Keperawanan ini, misalnya terdapat pada berita bahwa PPP mendukung Tes Keperawanan tetapi jangan dipublikasikan [Kompas]; Politisi PKS mendukung Tes Keperawanan di sekolah [Kompas]; dan MUI mengatakan bahwa Tes Keperawanan perlu masuk undang-undang [Kompas].

Padahal kalau dicermati isi beritanya, itu adalah pendapat pribadi bukan pendapat resmi sebuah institusi atau lembaga. Buktinya Waketum DPP PPP, Lukman Hakim, tidak setuju dengan adanya tes tersebut [TribunNews]. Begitu juga dengan Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Mardani Alisera, menilai tidak perlu ada tes keperawanan bagi siswa SMA [TribunNews]. MUI Sulsel juga mengecam adanya tes keperawanan siswi [VivaNews].

NAMUN di dalam berbagai social-media, ketiga institusi ini dihujat dan dijadikan olok-olokan, karena yang di blow up / berita yang disebarkan adalah berita dukungan dari ketiga institusi ini. Opini publik digiring bahwa institusi Islam itu urusannya selalu tidak lepas dari soal kelamin atau selangkangan. Mereka bahkan menjadikan isu ini sebagai bahan becandaan, yaitu dengan membikin karikatur yang menyinggung SARA. Bagi saya itu sungguh tidak ada lucunya sama sekali. Anehnya lagi, setiap ada pemberitaan Tes Keperawanan yang menjadi ilustrasi adalah siswi berjilbab. Coba cermati skenarionya, ada apa ini?

Kemudian puncaknya, muncullah penggalangan petisi yang mempetisi Prof.Dr.Ir. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI agar membatalkan rencana Tes Keperawanan [change.org].

Ternyata beritanya juga menyebar sampai luar negeri lho: “Virginity Test Proposed For Indonesian Students” [HuffingtonPost]. Sampai jurnal ini saya tulis, di sana sudah mencapai 283 komentar. Juga berita lainnya: “Virginity Tests Will Protect Students From Prostitution & Pre-Marital Sex: Indonesian Education Official” [HuffingtonPost]

Wuihh.. heboh ya 🙂

.
Benarkah Berita Kadisdik Menggagas Tes Keperawanan ?

Ternyata berita itu adalah HOAX!

Seorang pemilik akun twitter @robbysnt pagi ini (22/08/2013) menyampaikan kultwit bertagar #TraffickingPBM yang mengungkap bahwa berita Tes Keperawanan sejatinya adalah berita hoax atau palsu karena mengandung pemelintiran informasi terhadap narasumber yaitu Pak HM Rasyid selaku Kadisdik Prabumulih.

Isi kultwit tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Berita Hoax Tes Keperawanan di Prabumulih, hari ini turun pernyataan resmi Kadisdik Prabumulih di koran setempat.
  2. Jadi awalnya ada penggagalan transaksi jual beli gadis dibawah umur untuk tujuan prostitusi.
  3. Pelaku trafficking menuduh bahwa gadis dibawah umur yang dia jual sudah tidak perawan, tuduhan ini membuat orang tua gadis marah.
  4. Orang tua korban trafficking yang tidak terima atas tudingan bahwa anaknya tidak perawan berencana melakukan Tes Keperawanan atas anaknya.
  5. Lalu wartawan menyampaikan cerita itu kepada Kadisdik. Kadisdik diwawancarai karena keenam korban trafficking adalah siswi SMU di Prabumulih.
  6. Mendengar cerita wartawan, Kadisdik berujar: “Kasus itu menimpa siswi sekolah dalam beberapa hari terakhir ini sudah cukup pelik. Kita tak mau kasus itu terulang lagi.
  7. Mengenai perlunya Tes Keperawanan bagi siswi sekolah, tentu kita harus MEMBAHASNYA LAGI”.
  8. Jadi, wacana Tes Keperawanan adalah inisiatif orang tua korban trafficking yang tidak terima anaknya dituduh tak perawan.
  9. Kadisdik Prabumulih yang dituduh berencana melakukan Tes Keperawanan malah meminta Tes Keperawanan dibahas dulu.
  10. Kadisdik Prabumulih pun mengatakan tidak pernah mengalokasikan dana Tes Keperawanan di tahun 2014. Sekianlah berita bohong ini.
  11. Dalam artikel yang saya baca mengenai Tes Keperawanan yang terbit di media online, tidak ada pendapat lain selain dari Kadisdik.
  12. Dari situ muncul penafsiran dari para pembaca seolah-olah Tes Keperawanan ini tidak ditolak oleh warga dan pejabat Prabumulih.
  13. Sehingga banyak akun Twitter tokoh nasional dan selebtwit tolol yang menghujat warga dan pejabat Prabumulih. Ini kebodohan.
  14. Legislator, PNS, MUI, dan warga Prabumulih menolak Tes Keperawanan, tapi saat itu tidak dimintai pendapat oleh wartawan.
  15. Berita Tes Keperawanan ini adalah cermin kebobrokan dalam menurunkan berita, memelintir pendapat orang agar menjadi berita bombastis.
  16. Dan nampaknya wartawan yang menulis berita Tes Keperawanan ini sengaja tidak mencari pendapat lain agar beritanya berimbang.
  17. Setelah termakan kebohongan ini, ada baiknya warga Twitter yang menghujat warga Prabumulih meminta maaf dan lebih Hati-hati.
  18. Wartawan penulis berita bohong Tes Keperawanan harusnya minta maaf dan malu bekerja kembali di kota yang sudah dia fitnah. Itu kalau ada malu.
  19. Artikel koran Sumatera Ekspres hari ini. Isinya sesuai dengan info saya kemarin. pic.twitter.com/uTbIIzGBVS
  20. Ini tautan tentang jual beli wanita: Enam Gadis di Prabumulih Nyaris Dijual ke Pria Hidung Belang
  21. Banyak wartawan di Prabumulih sekarang, sibuk mencari narasumber… Kita lihat obrolan apa lagi yang dijadikan berita…
  22. Saya pakai hestek #TraffickingPBM karena mau kasih tahu asal mula masalah dan kemana seharusnya perhatian dipusatkan: perdagangan manusia.

== end ==

Ok, clear.

Media JawaPos juga menerbitkan bantahan berita yang beredar selama ini, silakan baca: JPNN: Kadisdik Prabumulih Bantah Dirinya Penggagas Tes Keperawanan

Tidak beberapa lama dari penyampaian kultwit di atas, Pak Ridlwan [@ridlwanjogja], jurnalis JPNN, menyampaikan kultwit pencerahan berupa tips bagaimana agar omongan kita (bila menjadi narasumber) itu tidak mudah untuk dipelintir wartawan. Para pejabat publik wajib membaca kultwit tersebut agar tidak menjadi korban “misleading information” oleh pers yang jahil.

Baiklah, mari kita simak isi kultwit Pak Ridlwan:

–: Saat wartawan sumpek gak punya ide
–: Saat banyaknya klik / view jadi ukuran tunjangan prestasi wartawan

  1. Baca TL @robbysnt rupanya soal tes keperawanan itu berita pelintiran…cerdas yuk baca berita.
  2. Ini klarifikasi Kadisdik Prabumulih soal keperawan cc mas @nukman >>> http://www.jpnn.com/read/2013/08/21/187202/Kadisdik-Prabumulih-Bantah-Dirinya-Penggagas-Tes-Keperawanan-
  3. Orang Jawa bilang: “jangan gebyah uyah”, nggak semua wartawan memelintir berita kok. Mungkin yang nulis perawan itu lagi sumpek nggak punya ide.
  4. Saat banyaknya klik atau view jadi ukuran tunjangan prestasi wartawan (yang efeknya ke duit) maka ada saja yang tergoda melakukan pelintiran.
  5. Yang Prabumulih itu versi Kadisdiknya begini: ada anak SMK dituduh nggak perawan oleh tersangka trafficking. Ortunya emosi, minta tes.
  6. Lalu wartawan minta komentar Kadisdik, yang intinya mendukung si ortu. Beritanya jadi: “Disdik mau bikin tes keperawanan”.
  7. Ini namanya Kadisdik apes. Apalagi era twitter dimana spin isu cepat banget kayak siput di film Turbo.
  8. Jadi pejabat public jangan gagap dan over acting menghadapi wawancara pers. Salah salah dipelintir.
  9. Supaya nggak dipelintir, pejabat public jawabnya yang tegas, jangan ambigu. BUANG kata-kata: ya, kita kaji, kita dalami, kita pertimbangkan.
  10. Kalimat bersayap gaya pejabat ORBA itu sangat gampang dipelintir. Dan susah disalahkan, karena ada rekamannya.
  11. “Pak, gimana kalo kita tes aja semua siswa SMK?”. Jawab: “Ya, itu bisa saja, nanti kita kaji”. Jangan salahkan pers kalau dipelintir.
  12. (Sebaiknya) jawab gini: “Oh nggak perlu itu. Cukup ortu yang tersinggung itu saja, biar gak ada fitnah. Yang lain nggak perlu”. gitu.
  13. Jawaban ambigu: kita kaji, kita dalami, kita masih pertimbangkan. Membuktikan pejabat itu tidak faham pekerjaannya.

== end ==

Saya jadi langsung teringat beberapa waktu yang lalu, bagaimana seorang ibu Wirianingsih (kader PKS, anggota Komisi IX DPR RI) menjadi korban “misleading information” oleh salah seorang insan pers yang jahil ketika Rapat Dengar Pendapat DPR soal ODHA (Orang Dengan HIV / AIDS). Nasibnya sama.. ibu Wirianingsih dihujat di social-media, di kolom komentar pada media-media yang menurunkan berita tersebut, serta hujatan itu menjadi headline forum-forum diskusi. Alhamdulillah.. akhirnya datang klarifikasi yang mencerahkan.

Oleh karena itu, bagi pejabat publik, ada baiknya punya akun twitter, biar klarifikasinya cepat disampaikan bila ada wartawan yang jahil.

Saat ini, masih ada yang mengganjal di hati saya ketika wartawan jahil membuat berita, mereka kok malah mengaburkan masalah utama. Dalam kasus ini, yang menjadi latar belakang adalah soal perdagangan manusia (traficking), maka seharusnya pemberitaan itu dipusatkan perhatiannya ke sini. Bangunlah edukasi publik melalui pesan dalam berita bahwa betapa jahatnya bisnis perdagangan manusia, sehingga kita semua harus melawan. NAMUN wartawan justru membentuk opini publik dan mengalihkannya ke soal Tes Keperawanan. Masalah utama menjadi kabur. Dan parahnya malah menjadi perdebatan yang kontra produktif.

Juga coba perhatikan kasus-kasus yang sebelumnya menjadi headline berita nasional, misalnya: insiden Kendal masalah utamanya adalah tumbuh suburnya preman dan prostitusi, miras dan perjudian di sana, tapi headline berita dialihkan ke soal kekejaman FPI. Masalah utama menjadi kabur. [baca investigasi]

Insiden Lamongan, masalah utamanya adalah tumbuh suburnya preman dan peredaran narkoba yang sulit diberantas di sana sehingga meresahkan warga, tapi headline berita dialihkan ke soal kekejaman FPI yang bentrok dengan warga. Kata “preman” oleh wartawan jahil tersebut dikaburkan namanya menjadi “warga”. Lagi-lagi masalah utama menjadi kabur. [baca investigasi]

Dan masih banyak lagi contoh kasus pengalihan masalah utama, silakan jelajahi blog ini dengan kategori: media-journalism

Bila memproduksi berita bombastis dan kemudian sengaja melakukan misleading information untuk bisa mendatangkan klik dan view yang tinggi, dan kalau ternyata itu betul menjadi indikator penerimaan tunjangan, maka SELAMAT buat mas/mbak Wartawan yang dapat kenaikan tunjangan!
Tapi ingatlah adanya hukum keseimbangan.

Namun demikian, mari kita tunggu itikad baik dari penulis berita awal untuk permohonana maaf, atau justru meng-counter / mengklarifikasi bantahan pak Kadisdik. Insya Allah, akan saya update dalam jurnal ini.

Sebagai penutup, mari belajar kembali tentang jurnalisme. Menurut Anda, ulah wartawan jahil tersebut yang membuat pelintiran berita Tes Keperawanan itu melanggar Elemen-Elemen Jurnalisme poin apa saja? 🙂

Semoga bermanfaat. Dan terus semangat membangun jurnalisme berkualitas di Indonesia!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
22.08.2013

———
Update, 23/8/2013:
Akhirnya keluar statemen dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Palembang yang mengkritik pemberitaan Tes Keperawanan karena terlalu menyimpang dari kode etik jurnalistik. Kalau AJI sudah mengeluarkan statemen, artinya sudah di-investiagasi dengan baik. [Tempo.co, 23/8/2013]

Advertisements

96 Comments

  1. Kadang-kadang media melaporkan suatu berita tidak benar. Bukan tujuannya untuk membuat berita tidak benar, kebanyakan karena kekurang-telitian. Jika pernyataan Anda dikutip secara salah dalam sebuah berita atau informasi yang Anda berikan ternyata salah diinterpretasikan, bertindak cepatlah.

    Perbaiki kesalahan informasi tersebut melalui media digital atau hubungi reporter atau penulis berita tersebut. Jangan mengancam. Fakta yang Anda miliki harus Anda sampaikan dan katakan kepada reporter tersebut harapan Anda agar mereka mengoreksi kesalahannya itu. Jika Anda tidak bisa menghubungi wartawan bersangkutan, segeralah ke redaksinya. Anda bisa meminta mereka mencabut berita yang tidak akurat tersebut atau mengkoreksi kesalahan. Banyak pejabat yang melakukan hal ini.

    Tetapi persoalannya akan menjadi lain bila yang melakukan kesalahan informasi tersebut adalah media online. Bagaimana solusinya?

    Simak:
    Belajar dari Cara Garuda Menangani Berita Tidak Akurat

  2. Panji N says:

    saya malah beranggapan ada udang dibalik batu dibalik penjelasan duduk soal yg panjang lebar oleh pejabat yg bersangkutan. Isu prostitusi, trafficking dan etika jurnalisme yg memang marak sengaja diangkat agar pejabat ybs bs menyelamatkan muka atas wacana bodohnya yg bocor duluan k publik, itu sebabnya wartawan yg terkait tdk meminta maaf pada publik (mungkin krn dia benar). sementara pihak2 lainnya dlm masalah ini langsung “diamankan” dgn cara persuasi, ancaman dan bisa jadi sogokan. CMIIW.

  3. fotodeka says:

    sungguh-sungguh keterlaluan, saya baru baca artikel ini malahan. semacam dosa besar wartawan yang memelintir isi wawancara.

  4. Ani says:

    No news is bad news..wkwk..

    Sepertinya mmg diperlukan diklat khusus cara menghadapai wartawan bagi semua pejabat publik. Karena kadang mrk melakukan segala cara supaya dapat berita yg bisa mengundang pembaca.

    Iya ketegasan itu salah satu kuncinya

  5. nurme says:

    Mas Iwan, terimakasih informasinya. Saya sudah menemukan benang merah atas berita simpang siur yang menyebar ini.
    Semakin dipermudah sarana komunikasi, semestinya berita yang menyebar harus lebih akurat, jangan sampai menjadi isyu yang meresahkan masyarakat.
    TFS Mas, terimakasih pengetahuannya bermanfaat.

  6. Berat ya pak jadi publik pigur. Salah ngomong dikit bisa dipelintir. Kudu belajar komunikasi masaa nih 🙂

  7. ainulharits says:

    kalo memang perawan, kenapa harus takuut?

  8. Risma Armia says:

    Terima kasih Pak pencerahannya 🙂 . Saya sempat kaget juga dengan berita tersebut, apalagi banyak teman-teman Fb yang posting. Ternyata ulah wartawan jahil lagi.

  9. Ina says:

    hadeuhh ngebacanya gemezz Mas. emang wartawan yg suka mlintir2 akta gtu susah yah dijerat? mengandalkan moral mereka aja, gtu?

  10. abi_gilang says:

    Berarti yang akang baca di twitter selama ini (tentang tes keperawanan) SAMPAH semua donk :mrgreen: Terima kasih pencerahannya Mas Iwan.

  11. heri says:

    la terus kutipan itu darimana??? apa kutipan itu cuman boongan??

  12. ruangimaji says:

    Ada dua hal yang mungkin perlu dipikirkan:
    1. Kalau benar ada tes keperawanan, mestinya ada pula tes keperjakaan.
    2. Kalau banyak media yang memelintir berita, lantas media mana yang masih dapat kita percaya?

  13. Syukurlah kalau hanya berita Hoax karena saya dengar berita itu benar adanya dan dilakukan oleh sebuah sekolah di Madura…mungkim berita ini jg tak benar.
    Bukan apa sih…mau memperbaiki moral generasi mudah kan g harus begitu karena orang tdk peraqan bs banyak sebab…

    Semua itu kita serahkanke pribadi masing2 kalau benar kam kesannya diakriminatif masa iya mereka tdk berhak mendapatkan pendidikan bukannya itu kewajinan pendidik jg untuk memperbaiki moral generasi mudah. Trus gmn dg lelaki? Kan mereka jg ambil peranan…

    Saya percaya kalau pemikiran bangsa kita tak sesempit itu menyikapi suatu masalah 🙂

  14. Just A Wild Rain says:

    Reblogged this on Just A Wild Rain and commented:
    Memang tidak sepantasnya manusia menghakimi manusia lainya apakah ia salah atau benar, hakim aja butuh banyak waktu, saksi yang disumpah, dan crosscheck informasi untuk membuat penilaian. Ini kita berani membuat penilaian hanya bersumber dari media massa yang punya kepentingannya sendiri, terus apa kabarnya dengan pemberitaan di timur tengah sana ya? Mesir? Turki? Suriah?

  15. abah moura says:

    dalam era semua serba kapitalistik, semua hal sederhana bisa menjadi sesuatu yg “sempurna” agar bisa “menjual” dan menguntungkan …. paradigma berfikir tanpa ada aturan, krn semua hanya berdasar atas asas manfaat…. manfaat bagi mereka , bisa jadi mudharat bagi kita…. manfaat bagi kita bisa jadi mudharat bagi mereka… “control mind” oleh pihak media, sejak lama dilakukan demi politisasi atau bahkan sesuap nasi…..

  16. araaminoe says:

    Ah ada tidak ya instuisi yang mengajarkan pengungkapan kebenaran adalah modal utama bagi jurnalis apapun, bekerja memberitakan tanpa adanya tambahan atau pengurangan yang tidak perlu? Jadi ketika para pewarta berita itu terjun kelapangan lalu menyampaikannya pada masyarakat yang ada hanyalah kebenaran…
    Dan untuk pembaca lagi dan lagi, jangan menelan mentah2 apa yang ada dapat..
    Dan point menarik buat asmie : perdagangan manusia? dunia sudah benar benar ummph…. 😦 semua berawal dari sana…

  17. Abu Nakhdhan says:

    Kasus ustad Solmed dengan tki Hongkong jg menjadi sasaran empuk media yg sentimen thdp Islam. Kenapa jadi marak Islamophobia ya?

    • Itu juga termasuk keprihatinan saya, mengapa hal itu tidak dicoba diselesaikan secara internal. Yang seperti saat ini malah jadi ajang pelecehan/penistaan ulama secara terbuka.
      Kalau memang benar apa yang disampaikan, menurut saya, Ust Solmed bersalah dalam hal ini. Namun demikian seharusnya masing-masing pihak bisa menahan diri, sehingga tidak menjadi santapan publik yang kesannya suka menggeneralisir bahwa semua ustadz bertingkah demikian.

    • Rini says:

      Betul pa, walaupun sy pribadi ga terlalu simpatik dengan ustad solmed ini, tapi ya seharusnya ga usah “perang” di media. Jadinya yang tercoreng itu ya nama Islam. Diskusinya semakin menarik pa.

  18. Harus ada tindakan tegas terhadap wartawan itu!

  19. marsal md says:

    selama ini media (maaf) kebablasan dalam menyebarkan informasi, prinsip jurnalistik berupa check and balance tidak dilakukan, yang penting beritanya heboh…, Bad News Is A Good News …………..

  20. nomadic70 says:

    Sumber berita awalnya memang dipelintir, sehingga membentuk wacana yang melenceng dari inti persoalan awalnya. Namun respon dari yang pro-tes-keperawanan itu dilakukan oleh pribadi-pribadi yg juga menjadi pejabat partai atau institusi publik:MUI. Ini yang patut juga dicermati, kalo gak ada wacana yang kontra, jangan-jangan tes keperawanan benar-benar bisa lolos masuk UU. Untung masih lebih banyak orang yang waras menolak tes-keperawanan.

    • Sebelum dijadikan UU memang seharusnya diwacanakan terlebih dahulu, agar publik tahu, baru kemudian lahir RUU.

      Soal Tes Keperawanan ini, dari sisi mewacanakan saja sudah timbul pro dan kontra, dan saya sendiri masuk di dalam barisan yang Kontra dengan alasan tidak etis apalagi mereka yang berduit bisa memanipulasi keperawanan (misalnya dengan jalan operasi).

      Kalau banyak yang kontra, maka tidak akan lanjut dibahas dalam RUU, jadi mustahil akan muncul sebagai produk UU.

  21. latansaide says:

    bukan cuma pejabat publik, masyarakat non pejabat publik ucapannya juga bisa dipelintir oleh media

  22. asidabut says:

    Atau…. ketika sudah banyak kalangan yg tidak setuju, maka dibuatlah berita bahwa berita itu HOAX? Merasa kalau pernyataan yg pernah dibuat bakal jadi bumerang maka dibuatlah “jurus menghindar”
    Atau, mengatakan kalau berita tersebut HOAX adalah salah satu cara “pemulihan nama”? Dan kini para jurnalis dikorbankan jadi kambing hitam?

    Maaf, sudah banyak rakyat yg tidak simpati dengan 3 instansi itu. FPI, PKS, MUI. Sudah kadung dongkol.

    • Mas Asidabut, Anda baca sampai selesai tidak?
      Itu ada statemen dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Palembang yang mengkritik pemberitaan Tes Keperawanan karena terlalu menyimpang dari kode etik jurnalistik. Kalau AJI sudah mengeluarkan statemen, artinya sudah di-investiagasi dengan baik. [Tempo.co, 23/8/2013]

      Kalau Anda dongkol dengan 3 instansi itu sepertinya Anda sudah termakan disinformation operations by media. Tapi it’s okey, itu hak Anda 🙂

  23. hari ch says:

    trimakasih,ijin share Pak

  24. Lagi soal pemelintiran kata-kata dari berita yang sebenarnya ya pak? Beritanya kontroversial sekali, diberbagai sosial media pada menghujat tanpa menelisik lebih lanjut lagi pangkal permasalahan utamanya. Ya, itu tadi pak, di sosmed (twitter, misalnya) kan berita cuma kelihatan judulnya aja, orang jarang sekali mau klik link untuk baca berita selengkapnya.
    Mau bagaimana Indonesia nantinya kalau ternyata kebebasan media dilakukan tidak semestinya 😦

    • Memang trennya seperti itu ya, mbak Agis, orang males nge-klik link berita, yang penting bisa nomer satu dalam menghujat, tanpa ada keinginan untuk memeriksa kebenaran informasinya.

      Saat pertama kali mendengar soal Tes Keperawanan (di ranah twitter), saya tahan dulu untuk berkomentar di soc-med, saya mencoba gali informasi pada teman2 kontak saya yang wartawan untuk investigasi. Sebab mereka yang berkomentar di socmed sudah liar arahnya, malah menjurus ke SARA.

      Mari tetap bersemangat membangun jurnalisme yang baik di Indonesia.

    • Iya pak, harus semangat membangun jurnalisme yang baik. Kalau nggak baca postingan2 bapak yang menelisik lebih dalam soal suatu kasus, kecil kemungkinan mata saya terbuka untuk menyikapi berbagai informasi yang diedarkan media 😀

  25. galeshka says:

    1. Apa bisa dipastikan pernyataan pejabat tersebut benar-benar dipelintir wartawan, atau sekedar ‘ngeles’ setelah pernyataanya mendapat kecaman. Sayangnya di Republik ini sudah terlalu sering terjadi, pejabat asal ‘njeplak’ setelah dikecam lalu ngeles kanan kiri kayak bajay…

    2. Terkait respon masyarakat, apa kalo ga ada yang mengecam bukan ga mungkin dianggap sebagai ‘persetujuan’?

    • Coba mas Galeshka ikut menyiimak analisa detail (dari melekmedia.org yang baru terbit tadi malam) untuk beberapa kalimat kritis dari berbagai media yang kemudian dicari penyimpangannya.

      Melekmedia mencoba “menggelar” kronologinya. Tidak untuk menilai, tetapi sekedar menyajikan cara pandang lain. Meski belum ada kesimpulan di sana, tapi cukup menarik lho investigasinya 🙂

      http://melekmedia.org/kajian/pantau-media/di-balik-pemberitaan-wacana-tes-keperawanan/

      Nah, kemudian baru saja AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Palembang mengkritik pemberitaan Tes Keperawanan yang terlalu menyimpang dari kode etik jurnalistik. Kalau AJI sudah mengeluarkan statemen, artinya sudah di-investiagasi dengan baik.

      http://www.tempo.co/read/news/2013/08/23/058506776/AJI-Palembang-Kritik-Pemberitaan-Tes-Keperawanan

    • Dyah Sujiati says:

      Sepertinya diskusinya jadi menarik.
      Kalau saya baca komentar teman2 termasuk Pak Galeshka ini masuk diakal juga Pak.

      kalau saya jadi berkesimpulan begini : ‘tergantung siapa dan apa kepentingannya’. rumit tapi memang cerdas sih ‘penggeraknya’

      misal kalau dalam hal ini tujuannya untuk apa dulu? untuk mengangkat nama atau menjatuhkan seseorang. jadi bisa si wartawan yang salah bisa juga si tokoh yang salah (pragmatis sekali, hehee)
      selain memang untuk semakin mendeskreditkan Islam tentu saja. sekali dayung dua pulau terlampaui.

      hadehhh saya kok jadi sotoy bener sih :-S
      #sebenernya pusing sih dg berita-berita yang beredar itu :mrgreen:

  26. Andi Marthon says:

    Wartawan juga manusia kan mas.? hehee

  27. kayaknya kalo FPI, PKS, dan kelompok2 Islamis lainnya makin besar,, media di Indonesia kayaknya nakal sama kejam, jahat, serta bodohnya kayak media mesir

  28. kasamago says:

    jurnalisme udah dbkin kyk maenan.. miris. smg segera ditindak nih para wartawan jahir ato media “setiran” dmi kepentingan tertentu..

  29. Bangkoor says:

    Saat banyaknya klik / view jadi ukuran tunjangan prestasi wartawan

    walah… sekarang tulisan berita para wartawan udah kyk thread di Kaskus aja ya. Berlomba-lomba jadi HT dan banyak dikunjungi.. walah

  30. Mas Iwan Yulianto, di atas tertulis beritanya heboh sejak tanggal 20 Agustus 2013. Sementara saya menemukan berita ini sudah ada sejak tanggal 18 Agustus 2013 di http://sumsel.tribunnews.com/2013/08/18/seluruh-siswi-di-prabumulih-akan-dilakukan-tes-keperawanan

    Membaca berita itu saya tidak yakin bahwa ucapan-ucapan Kepala Dinas Pendidikan kota Prabumulih, HM Rasyid adalah pelintiran dan khayalan wartawan Tribunnews Sumsel saja.

    • Maaf mas Iwan Yuliyanto kalau ada salah menulis namanya, tadi saya nulisnya kurang huruf “y”

    • Terimakasih, mas Muhkito Afiff.
      Link koran yang saya sebutkan di atas itu adalah media online (yang mengutip) koran yang memberitakan pertama kali. Dan saya tahunya sejak tanggal 20 Agustus 2013 dari berbagai media, makanya di sana saya ada tulis: “… dan beberapa media lainnya”
      Terimakasih telah memberikan info link koran yang pertama kali menerbitkannya itu.

      Oiya, ketidak-yakinan mas Muhkito atas dasar apa?
      Mari sama-sama kita bedah.

    • Saya tidak yakin karena tulisan wartawan yang mengutip Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih cukup panjang. Jika benar ini pelintiran dan imajinasi wartawan, si wartawan dan medianya bisa dipidanakan. Mudah-mudahan ada klarifikasi dari Tribunnews setelah munculnya klarifikasi dari Kadisdik Prabumulih tsb.

    • Ini ada berita dari Tribunnews Sumsel:
      http://sumsel.tribunnews.com/2013/08/21/rasyid-tegaskan-tak-pernah-lontarkan-wacana-tes-keperawanan
      Saya kutip “Pada klarifikasi yang disampaikan, Rasyid seolah-olah menyudutkan wartawan, namun ketika ditanya pernyataan awal ada dalam rekaman Rasyid tidak mampu berkata banyak.”

      Jadi, wartawan punya rekaman ucapan Kadisdik Prabumulih yang benar-benar mewacanakan hal tersebut. Lalu, bisakah kita mengatakan wartawan memelintir dan menfitnah Kadisdik Prabumulih HM Rasyid?

    • Coba mas Muhkito ikut menyiimak analisa detail untuk beberapa kalimat kritis dari berbagai berita yang kemudian dicari penyimpangannya. Analisa tersebut baru terbit malam ini oleh melekmedia.org.

      Melekmedia mencoba “menggelar” kronologinya. Tidak untuk menilai, tetapi sekedar menyajikan cara pandang lain. Meski belum ada kesimpulan di sana, tapi cukup menarik investigasinya 🙂

      http://melekmedia.org/kajian/pantau-media/di-balik-pemberitaan-wacana-tes-keperawanan/

    • Akhirnya keluar statemen dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Palembang yang mengkritik pemberitaan Tes Keperawanan karena terlalu menyimpang dari kode etik jurnalistik >> [Tempo.co, 23/8/2013]

  31. debapirez says:

    kadang kampretnya wartawan adalah kalau salah, mereka ga mau klarifikasi…

  32. syifarah03 says:

    ijin share ya pak, makasi banyak atas ulasannya yang membuka mata dan mencerdaskan 🙂

  33. Dyah Sujiati says:

    Lalu wartawan menyampaikan cerita itu kepada Kadisdik. Kadisdik diwawancarai karena keenam korban trafficking adalah siswi SMU di Prabumulih.–> Wartawan yang ini kan biang keladinya? Hmmph dia harusnya kena hukuman pidana lho krn telah memfitnah, menyebar berita bohong, mengadu domba, dll

    Dan ini yang lucu :
    Sehingga banyak akun Twitter tokoh nasional dan selebtwit tolol yang menghujat warga dan pejabat Prabumulih. Ini kebodohan.–>
    Bodoh sekali memang mereka

    Bener banget ini Pak : Jadi pejabat public jangan gagap dan over acting menghadapi wawancara pers. Salah salah dipelintir.
    –> ketahuan banget gak berkompeten

    lucu sekali memang…

  34. Bener-bener dahh !!
    Thanks for the enlightment mas. Ni sepertinya harus ada tes keperawanan buat para jurnalis deh. Apakah berita-berita yang beliau2 tulis itu bener2 ‘perawan’ atau sudah ‘ternoda’ dengan sumber2 yg tidak relevan.

    Cheers,
    Mift !

  35. Mahiazara says:

    Jadi lagi-lagi yang isu dan comotan ya… Ya, saya sempat kepincut dengan melontarkan beberapa komentar.. Ternyata hanya hoax.
    Kalau dipikir-pikir lucu sih negeri kita ini, tiap hari punya topik yang berbeda-beda. Dari mesir, merdeka, lalu perawan. Semoga kita semakin bijak ya, mana yang sebenarnya jadi kasus, mana yang nggak. Dan buat yang suka membuat dan mengalihkan isu di negeri ini, semoga dimaafkan oleh Allah swt. Karena hitungannya sudah jadi adu domba.
    Thanks ya mas, infonya 🙂

    • Saat pertama kali mendengar soal Tes Keperawanan, saya tahan dulu untuk berkomentar di soc-med, saya mencoba gali informasi pada teman2 kontak saya yang wartawan untuk investigasi.
      Sebab mereka yang berkomentar di socmed sudah liar arahnya, malah menjurus ke SARA.

  36. herma1206 says:

    dan lucunya…sampe di jadiin tema perbicangan di acara tipi..dgn beberapa narasumber…ckckck…

  37. hasannote says:

    Saya juga dapat pencerahan pagi ini pas baca harian KOmpas (22/8). “Ada kesalahan pemahaman. Rencana itu terlontar oleh orangtua yang anaknya terkena dugaan prostitusi dan dak terima saat anaknya dituduh tak perawan. Orangtua ini yang minta uji keperawanan untuk membuktikan anaknya perawan. Kami mendukungnya,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih HM Rasyid.

  38. Mr. Moz says:

    Syukurlah kalau itu hanya HOAX.
    Saya juga pernah jadi ‘korban’ interpretasi wartawan lokal Malang yang terlalu kreatif bikin berita dan judul saat diwawancarai terkait talkshow yang diadain Mozaik. Apa yang tertulis di koran berbeda dengan apa yang saya ucapkan, untungnya sih bukan berita negatif jadi saya nggak sampe protes 😀

  39. mhilal says:

    Bagus sekali, tulisan ini sangat bermanfaat. Barakallah…. 🙂

  40. wartawannya harus dapat pelatihan jurnalistik dulu sebelum meliput biar g asal nulis berita…

  41. sitiagel says:

    Reblogged this on Berbagi Beki and commented:
    Media.. semoga kamu mendapat kebaikan seribu kali lipat supaya sadar.
    -_-

  42. Beberapa hari terakhir ini saya memilih untuk tak berkomentar atas status2 teman FB yang mencibir MUI tentang masalah test ini. Sedih karena lagi2 institusi Islam dianggap selalu memproduksi hal2 yg “bodoh”, tapi di sisi lain sayapun belum punya data ttg berita itu apakah benar atau salah. Syukurlah kalau ternyata hoax. Saya mohon izin share tulisan ini juga utk meluruskan opini yg berkembang mas.

    • Silakan, mbak Winny.
      Yang MUI itu pendapat pribadi dari salah satu anggotanya. Siapapun bebas berpendapat. Sedangkan pejabat tinggi lainnya di MUI malah menolak (link-nya ada di atas). Artinya kalau bukan fatwa yang keluar, maka tidak boleh dikatakan sebagai output dari MUI.

  43. kebomandi says:

    media mainstream banyak bertebaran yaa.. hanya ingin mendapatkan keuntungan saja tanpa mikirin fakta dan dampak yang diberikan sama berita hoax macem gini.
    jujur ya, saya sempet emosi juga sama berita gini ternyata, ini ulah wartawan mainstream yang penting berita nya laku..

  44. mbaktyas says:

    Aku belum baca klarifikasi yang dari bu Wirianingsih deh, mas.
    Alhamdulillah kalo udah klir.
    Selebtwit yg asal njeplak itu lho, sayangnya sering kurang bijak. Mikir panjang pa enggak ya sebelum ngetwit karena twitnya dibaca followernya yg segudang?

  45. anotherorion says:

    seperti biasa, buat para asu, bad news is a good news apa maning campur kecap karo sambel

  46. jampang says:

    sepertinya…. kontak saya itu sering banget bikin status berita yang heboh… plus sumbernya yg kurang kompeten. tapi giliran berita ralatnya nggak dipublikasikan ulang

    • Pura-pura gak tahu kalo ada ralat, atau sengaja melupakannya. Padahal sudah ada peringatan dari Allah:
      “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menjadikanmu bersikap tidak adil”

    • jampang says:

      bisa jadi seh, pak. soalnya mengikuti semua kajian… mulai dari NU, Muhammadiyah…. sampe JIL dan syiah

  47. jampang says:

    wah…. saya sempet komentar “syukur nggak jadi” di status kontak FB yang bilang menteri pendidikan akhirnya menggagalkan tes keperawanan

  48. tinsyam says:

    pertama kali baca soal tes keperawanan di kompas itu, daku langsung ngakak [maaf bukan mo menyepelehin kasusnya].. sampe dibahas temen kantor, lebih penting tes kewarasan yang nulis berita plus tes kewartawanan.. ga lama ada klarifikasi kalu berita itu bohong.. jadi tambah deh ngakak..
    ini wartawan kog ga belajar ya? apa emang sengaja biar rame aja.. ada tujuan bikin berita hoax gitu.. bikin oplah bikin rating..
    pejabat publik emang kudu hatihati kalu omong ke media, suka dibolbal jadi berita yang menguntungkan media.. kudu ada tes kewartawanan yang beretika..
    kita yang baca jadi kudu kritis dan cerdas menyaring berita.. seringnya malah emosi duluan setelah baca berita, tanpa periksa apa itu beneran ato bohongan..

    • Rini says:

      bener bu, coba wartawan dulu yang dites kewarasannya, banyak banget berita bohong saat ini, kita juga yang harus cerdas membaca dan mencerna berita. Memang seringnya, emosi suka bertindak duluan daripada berfikir. Makanya wartawan suka ngasih judul2 yang bombastis, karena ya itu mungkin pembaca juga ga baca sampe abis, emosi duluan akhirnya ya jadi komentar yang emosi dan yang lain juga ikut emosi ngomentarinnya. Masalah utamanya malah ga tau kan gimana,,,ini juga emosi sih kayaknya,,,hehehe

    • Iya. Trennya sekarang untuk menaikkan trafik kunjungan: menuliskan judul berita secara bombastis, isinya pun gak kalah vulgarnya.

      Yang lebih parah ketika saya di Jakarta, naik bus, ada anak-anak penjaja koran, nawarin korannya sambil teriak bacain judul koran “Lampu Hijau” yg bombastis itu ke para penumpang bus. Kalo ia jualan koran tersebut apa lama-lama gak rusak tuh otak si bocah. Contohnya judul ini.

      Lampu Hijau #1
      Lampu Hijau #2
      Lampu Hijau #3
      Lampu Hijau #4
      – dll… itu judul atau apa???

      … ada rencana mau buat postingan terpisah demi menyelamatkan mental anak-anak dari kerusakan orang dewasa. Sebab tren koran-koran seperti itu udah banyak masuk ke daerah-daerah di luar P.Jawa, bukan hanya DKI Jakarta

  49. Ahmad says:

    Katakan, “No comment. Sudah ya, saya mau konsinyering.”

  50. nyonyasepatu says:

    koq wartawan2 ini makin ngaco ya mas 😦

  51. ayanapunya says:

    Saya pikir kemarin itu beneran diajukan lagi soal tes itu. Ternyata ulah wartawan. Mbo ya jangan terlalu kreatif ngasih judul mas wartawan. Ujung2nya merugikan orang

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: