Home » Ghazwul Fikri » Dialog Ayah-Anak: Kontes Ratu Sejagad [1]

Dialog Ayah-Anak: Kontes Ratu Sejagad [1]

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Di suatu petang, seperti biasa seorang ayah meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anggota keluarganya setelah sholat maghrib dan sesi setoran hafalan satu atau beberapa ayat Al-Qur’an. Setelah tausiyah singkat mengenai tafsir dari ayat yang dihafal hari itu, salah satu putrinya yang tertua, Nadia, meminta waktu ayahnya untuk berdiskusi. Sementara itu, adiknya yang ditemani sang ibu pergi ke toko stationary membeli alat-alat ketrampilan untuk keperluan praktek lusa depan di sekolahnya.

Nadia mengajak berdiskusi karena dilanda kegelisahan tentang situasi umat Islam akhir-akhir ini, terkait dengan penyelenggaraan “Miss World 2013” di Indonesia, apalagi dalam waktu yang bersamaan ada kontes bernama “World Muslimah 2013” juga di Indonesia. Nadia yang menjadi pengurus inti rohis (rohani Islam) di sekolahnya, merasakan bahwa ada kondisi terbelah dalam lingkungan teman-teman di sekolahnya karena sikap pro dan kontra terhadap penyelenggaraan kontes-kontes tersebut di Indonesia.

Dalam pandangan Nadia, setelah membaca berbagai informasi di media, penyelenggara Miss World kali ini telah melakukan upaya mulia untuk kemajuan bangsa, karena mengubah konsep Miss World menjadi kontes tanpa bikini. Pariwisata Indonesia pun diharapkan dapat makin meningkat. Begitu juga dengan kontes World Muslimah yang diharapkan bisa menyuburkan wanita-wanita shalihah yang cerdas di negeri ini. Namun, tadi pagi, saat bersama-sama menonton berita di televisi yang memuat tentang kedua kontes tersebut, ayah Nadia berkomentar tentang sikap ketidak-setujuannya atas penyelenggaraan kontes-kontes seperti itu. Sayangnya waktu ngobrolnya singkat karena mereka harus bersiap diri tenggelam dalam rutinitas, Nadia bersiap diri pergi ke sekolah, sedangkan sang ayah harus ke kantor. Maka untuk menjawab rasa penasarannya, Nadia meminta waktu untuk berdiskusi dengan ayahnya di malam hari, sebelum ia menyampaikan sikapnya ke publik bersama organisasi rohis di sekolahnya.

Setelah selesai menghidangkan dua cangkir Oolong Tea dan sepiring snack untuk menemani mereka berdiskusi, Nadia siap memulai pembicaraan.

“Ayah, mohon dijelasin, kenapa ayah menentang kontes Miss World dan World Muslimah, dan tadi siang saya membaca twit-twit ayah, mengapa juga ayah ikut-ikutan aktif dalam gerakan penolakan kontes tersebut?” tanya Nadia mengawali diskusinya.

“Ayah tidak ikut-ikutan, Nadia. Ayah sangat sadar dengan apa yang ayah lakukan. Ini kewajiban kita sebagai Muslim,” jawab ayahnya kalem.

“Kewajiban yang mana, ayah?” tanya Nadia.

“Harusnya sebagai muslimah kamu tahu, Nadia. Ini kan kewajiban al-amaru bil-ma’ruf wal-nahyu ‘anil munkar. Kita wajib menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Itu salah satu pilar ajaran agama kita. Kata Imam al-Ghazali, itulah yang menentukan hidup matinya umat Islam. Ayah rasa Nadia paham tentang hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: siapa yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia berusaha mengubah dengan kekuatannya. Jika tidak mampu, dengan kata-kata atau pikirannya; dan jika tidak mampu juga, cukup dengan hati. Jadi, minimal, ingkar, tidak ridho, dan tidak cuek terhadap kemungkaran,” jelas sang ayah.

“Insya Allah saya paham hadits tersebut, yah. Namun, apa kontes Miss World dan World Muslimah ini termasuk mungkar? Dimana letak kemungkarannya?” tanya Nadia.

Dalam era akses informasi yang bebas, sang ayah sepertinya sudah membaca kondisi pemikiran putrinya, yang telah menjadi korban propaganda jaringan media pendukung kontes tersebut. Dengan kekuatan uang, media massa, dan lobi-lobi politik yang dimilikinya, panitia kontes Miss World mampu membangun citra mulia atas tindakannya di tengah masyarakat, sehingga tidak heran jika ada sebagian organisasi Islam bahkan oknum ulama yang mendukung kontes tersebut.

“Begini, Nadia, menurut ayah kontes Miss World dan sejenisnya ini kemungkaran yang sangat canggih, terencana dengan rapi. Kemungkaran ini dibungkus dengan propaganda hebat, sehingga tercitrakan sebagai sebuah kebaikan bagi bangsa kita. Bukan hanya kontesnya yang bermasalah, tapi mengkampanyekan, bahwa bentuk kemungkaran seperti itu adalah kebaikan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Ibaratnya, mabuk miras itu dosa; tapi mengatakan bahwa mabuk miras itu adalah amal sholeh. Itu lebih besar kejahatannya,” jawab ayahnya.

Nadia terdiam sesaat. Kemudian berujar, “Baiklah, yah, biar fokus satu-per-satu, mari kita bahas duluan tentang Miss World”

.
–: BINCANG-BINCANG SESI PERTAMA: MISS WORLD :–

Nadia mulai menunjukkan satu persatu di layar ipad miliknya beberapa informasi terkait Miss World yang sebelumnya ia bookmarked di browser-nya sebelum berdiskusi dengan ayahnya. Memang sudah menjadi kebiasaan Nadia untuk menyiapkan banyak bahan sebelum berdiskusi dengan ayah, ibunya atau siapapun. Ayahnya telah menanamkan dan membangun kebiasaan pada putrinya tentang nilai: “Berbicaralah selalu dengan Data dan Fakta”.

.
Kontes Miss World di Indonesia Tidak Ada Kontes Bikini … katanya

“Saya masih belum mengerti jalan pikiran ayah. Bukankah mereka sudah berjanji akan tampil dengan sangat sopan dan tidak melanggar etika dan norma budaya kita?” kata Nadia. “Dalam berita di [Tempo], mereka mengatakan bahwa dalam kontes kali ini para peserta tidak akan memakai bikini,” lanjut Nadia, “Makanya saya tanya dimana letak kemungkarannya?”.

Si ayah membaca berita singkat tersebut.

Setelah melihat tanda-tanda ayahnya selesai membaca, sambil menunjukkan berita di media lainnya: The Jakarta Globe, Nadia berkata, “Bahkan pemerintah menganjurkan untuk menggunakan produk-produk asli Indonesia, seperti kebaya dan batik, dalam kontes Miss World”.

Si ayah dengan sabar membaca kembali informasi yang disodorkan putrinya. Setelah itu si ayah tersenyum sehingga membuat putrinya penasaran. Nadia bertanya, “Mengapa ayah kok malah senyum-senyum?”

“Nadia… Nadia…! Kamu itu putri ayah yang cerdas, yang mestinya sudah memahami masalah seperti ini. Mengapa Nadia sampai termakan propaganda-propaganda dengan logika yang dangkal seperti itu? Harusnya Nadia paham tentang kiat-kiat setan dalam menipu dan menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Al-Quran,” kata ayahnya.

Nadia terdiam sambil memandangi wajah ayahnya menanti penjelasan berikutnya.

“Begini Nadia… Pejabat pemerintah RI dalam berita tersebut menyarankan agar peserta kontes mengenakan kebaya dan batik. Pejabat itu dan mungkin juga kebanyakan orang lainnya hanya mempersoalkan baju peserta Miss World. Menurut ayah, saran itu tidak cukup dan tidak mendasar. Yang mendasar pada masalah kontes Miss World ini adalah konsep dan cara pandang terhadap manusia dan martabatnya. Ini kontes tubuh manusia, bukan binatang. Kita orang muslim mempunyai cara pandang yang khas terhadap manusia. Seseorang disebut manusia karena akalnya, karena jiwanya. Kita memberikan penilaian tinggi kepada manusia juga karena ketinggian iman, akhlak, dan amalnya. Kata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: sebaik-baik manusia adalah yang memberikan kemanfaatan kepada manusia. Pada dasarnya, orang terlahir cantik, jelek, normal, difabel, itu kehendak Allah. Soal kesempurnaan fisik itu bukan prestasi. Kecantikan itu anugerah dan sekaligus ujian dari Allah. Karena itu, tidak patut dilombakan! Jadi, ajang Miss World bukan mempersoalkan pemakaian kebaya dan bikini, namun kontestansi kecantikan sejatinya adalah perendahan perempuan.”

.
Konsepnya 3B (Brain, Behaviour, Beauty) … katanya

“Tapi, yah, yang dinilai dalam Miss World itu bukan hanya kecantikannya saja lho, tapi juga kecerdasan dan perilakunya. Semua peserta yang mengikuti ajang Miss World itu tidak hanya wanita-wanita cantik, namun mereka juga yang benar-benar memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka harus mempunyai proyek sosial. Coba deh ayah baca berita ini,” kata Nadia sambil menunjukkan informasi dari Okezone.

Si ayah kemudian membaca berita yang berjudul: “Miss World Harus Penuhi Kriteria Ini” [Okezone].

Setelah selesai membacanya, sang ayah malah tertawa. “Hahaha … Nadia… Nadia…! Cobalah buka mata! Di Indonesia ini, perempuan yang memiliki prestasi kecerdasan tinggi itu berjubel; ribuan jumlahnya. Mereka sudah berkarya dan berprestasi, sehingga mengharumkan nama bangsa di berbagai forum ilmiah internasional. Prestasi intelektualnya jaaauh di atas perempuan yang terpilih jadi miss World itu!”

Setelah meminum sedikit teh yang dihidangkan Nadia petang itu, ayahnya melanjutkan bicaranya:
“Kalau mau cari perempuan Indonesia yang sangat mulia, yang berjasa besar kepada keluarga dan masyarakatnya, terlalu banyak di negeri ini. Bukan sekedar buat proyek insidental. Bukan sekedar show amal, tapi kehidupan mereka sehari-hari dan selama bertahun-tahun sudah bergelut dengan kerja – kerja mulia untuk kemanusiaan. Coba deh Nadia nanti jelajahi blog indonesiaproud.wordpress.com yang isinya daftar mereka yang berprestasi di negeri ini, diantara daftar itu ada perempuan – perempuan hebat.”

“Nadia, ayah pinjam ipad-mu sebentar,” pinta sang ayah, “… ayah akan tunjukkan fakta sesungguhnya yang harus kamu ketahui”

Nadia menyodorkan ipad kepada ayahnya. Kemudian setelah klak-klik sana sini, dengan cepat ayahnya membuka browser 3 tab sekaligus, yaitu URL [LFN], [Okezone], dan [Miss Indonesia]

“Nadia, sejak kemunculannya di tahun 1951 di London, kontes Miss World sudah memunculkan pro-kontra. Kemudian dalam menyambut kontes Miss World ke-60 di London, tahun 2011, sekelompok feminis menggalang demonstrasi menentang acara tersebut, dengan menyerukan: “Tidak ada tempat bagi kompetisi ini!,” jelas ayahnya saat membuka situs LFN, “Penentangan oleh kelompok feminis itu atas dasar adanya diskriminasi dalam kontes tersebut”

“Awalnya, kontes kecantikan ini semata-mata menekankan penilaian soal fisik yaitu Kecantikan (Beauty). Kemudian agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, ditambahkanlah dua unsur lain, yaitu Kecerdasan (Brain) dan Perilaku (Behavior). Sehingga jadilah konsep 3B: Brain, Behaviour, and Beauty. Tapi, mereka tidak bisa menyembunyikan bahwa yang utama tetap faktor fisik. Sebab, ini adalah kontes kecantikan. Mata, alis, jidat, hidung, bibir, leher, pipi, rambut, payudara, perut, pantat, dan kaki kontestan harus tampak cantik di mata juri! Semua anggota tubuh itu harus bisa dilihat dengan jelas dan bisa ‘diukur’ oleh dewan juri. Perempuan dinilai di depan publik dengan standar setiap jengkal tubuhnya. Dalam situs ini dan ini … anggota tim juri audisi di Indonesia mengatakan bahwa karena ini ajang kecantikan, bagaimanapun yang paling penting adalah fisik perlu diperhatikan, seperti wajah, tinggi badan dan proposional berat tubuh,” jelas ayahnya sambil menunjukkan situs Okezone dan Miss Indonesia.

“Apakah ada semacam pengakuan dari mereka yang terlibat langsung dalam kegiatan Miss World yang merasa bahwa kontes ini adalah merendahkan perempuan?” tanya Nadia.

“Ada. Seorang mantan pemilik lisensi Miss World menyampaikan pengakuan yang mencengangkan ke MUI. Ia mengungkap bahwa bisnis di balik ajang internasional tersebut sebagai ajang yang menjual keindahan tubuh perempuan. Nadia bisa baca isi pengakuannya di sini: [Bisnis.com]. Miris rasanya setelah membacanya, semoga pengakuan ini juga membuka mata.”

Sambil menikmati snack yang dihidangkan putrinya, sang ayah menunggu Nadia selesai membaca pengakuan mantan Franchise Holder Miss World tersebut. Tidak beberapa lama kemudian, Nadia menghela napas dan geleng-geleng kepala setelah selesai membacanya. Kemudian sang ayah berkata:
“Jadi, jelas sudah bahwa Brain dan Behaviour bukan yang utama, karena ini kontes kecantikan, maka yang utama diukur adalah aspek fisik perempuan. Dengan demikian sehebat dan secerdas apapun seorang perempuan yang juga berprestasi tinggi, menghasilkan karya-karya bermanfaat bagi kemanusiaan, NAMUN bila si perempuan itu tidak cantik, muka cacat bekas luka, tingginya cebol – maka ia harus tahu diri. Menyingkirlah dari kontes ini karena dianggap tidak patut dipuja-puji dan ‘dijual’ ke seantero dunia. Nah, ayah jadi heran dengan organisasi semacam JIL yang mempunyai Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi, lha kok mereka itu justru mendukung kontes yang sarat diskriminasi ini [PortalKBR]. Sungguh kontradiksi, bukan?!”

.
Memajukan sektor pariwisata di Indonesa … katanya

Nadia terdiam. Ia mulai memahami logika ayahnya. Tapi ia belum bisa menerima logika itu sampai harus membatalkan Miss World di Indonesia. Sebab, yang ia pahami setelah membaca berita di media-media yang mengatakan bahwa Miss World akan mendatangkan manfaat. Indonesia jadi lebih dikenal dunia. Pesertanya pun ikut mempromosikan budaya Indonesia. Jadi, kecantikan punya nilai tambah tersendiri.

“Begini, yah, kata pejabat Kementerian Pariwisata RI dalam situs Viva News ini, Indonesia akan makin dikenal dunia, dan diharapkan sektor pariwisata akan makin maju. Sehingga ini bisa meningkatkan pemasukan devisa,” kata Nadia sambil membacakan beberapa kutipan dalam situs Viva News.

Sambil mendengar kutipan yang disampaikan Nadia, ayahnya geleng-geleng kepala pertanda heran. Setelah selesai dibacakan poin-poinnya oleh Nadia, sang ayah berkata:

“Nadia… sampai saat ini, HT dan korporatnya MNC Group, terus memaksakan melaksanakan ajang Miss World di Indonesia walaupun sudah muncul banyak penolakan. Meski akhirnya pemerintah memutuskan bahwa penyelenggaraannya hanya di Bali, namun HT tetap ngotot untuk bisa dilaksanakan di ibukota, DKI Jakarta. Nadia tahu kenapa? Tidak lain karena kepentingan bisnis semata. Walaupun katanya yang dipertaruhkan adalah wibawa NKRI. Adalah Bohong bila Miss World yang digelar di Indonesia itu punya dampak positif bagi Indonesia. Semata-mata ini bisnis, kepentingan kapitalis. Buktinya kalau Pemerintah Indonesia mau, maka akan memasukkannya dalam APBN, sehingga segala penyelenggaraannya ditanggung oleh pemerintah. Nyatanya tidak demikian, karena Miss World hanyalah proyek bisnis franchise yang dikelola swasta.”

“Kontes kecantikan menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai barang dagangan di atas panggung, catwalk, majalah, koran, dan televisi. Kecantikan dan tubuh perempuan peserta kontes dijadikan alat promosi industri rating media, industri alat komestik, dan industri fashion. Perempuan dieksploitasi untuk kepentingan bisnis segelintir orang,” lanjut sang ayah.

“Okey, memang sekarang belum terlihat buktinya, yah. Namun pejabat tinggi di negeri ini telah mengajak masyarakat Indonesia untuk berpikiran positif bahwa penyelenggaraannya di Indonesia ini bertujuan untuk menarik wisatawan dalam dan luar negeri. Nahh… pendapatan dari pariwisata ini tentunya akan digunakan untuk membiayai dan membangun negara Indonesia,” ujar Nadia yang mengutip argumentasi tokoh-tokoh pendukung Miss World.

Ayahnya kemudian meminjam kembali ipad Nadia guna menunjukkan sebuah fakta berupa tabel dalam sebuah situs.

“Nahh.. ini, Nadia. Lihat… data statistik membuktikan bahwa kontes Miss World tidak berdampak terhadap negara – negara penyelenggara maupun pemenang kontes. Coba Nadia lihat indikator dan statistik tren-nya dalam tabel ini [ST.INT.ARVL]. Misalnya Venezuela, negera pemenang Miss Universe tahun 2008 dan 2009, pertumbuhan wisatawan mancanegara minus 3% pasca kontes kecantikan. Jepang yang memenangkan tahun 2007 dan Canada yang menjadi pemenang tahun 2005, keduanya mengalami penurunan pendapatan dari wisatawan. Nah, Indonesia tanpa Miss World pun sudah lama dikenal dunia. Lihat tren-nya dari tahun ke tahun… naik, bukan?! Seharusnya para pejabat tinggi di republik tercinta ini jangan asbun karena terbuai oleh propaganda sesat.”

Indonesia Tourism
Juga sangat disayangkan bila ada pejabat tinggi yang kemudian bilang bahwa pendapatan dari pariwisata hasil ajang Miss World ini akan digunakan untuk membiayai dan membangun negara Indonesia. Untuk menjawabnya, cukuplah nasihat Sayyid Quthb dalam Risalah ila Ukhti Muslimah ini sebagai pengingat, beliau mengatakan: “Sulit sekali rasanya aku akan membayangkan bagaimana mungkin kita akan mencapai tujuan mulia dengan menggunakan cara hina. Sungguh tujuan yang mulia tidak bisa hidup kecuali dalam hati yang mulia. Lalu bagaimana mungkin hati yang mulia itu akan sanggup menggunakan cara yang hina? … Dan lebih jauh dari itu bagaimana mungkin ia menemukan cara yang hina itu? Ketika kita akan mengarungi telaga berlumpur ke tepi sana, pastilah kita akan mencapai pantai dengan berlumuran lumpur pula. Lumpur-lumpur jalanan itu akan meninggalkan bekas pada kaki kita, dan pada jejak kaki kita. Begitu pula kalau kita menggunakan cara hina, najis-najis itu akan menempel pada ruh kita, akan membekas pada ruh itu dan pada tujuan yang telah kita capai juga.”

.
Wadah bagi perempuan yang ingin menampilkan artikulasinya … katanya

“Ada dukungan dari Komnas Perempuan terhadap ajang Miss World 2013 karena alasannnya event tersebut adalah salah satu wadah bagi perempuan yang ingin menampilkan artikulasinya. Sehingga para perempuan (peserta) yang berasal dari berbagai negara dapat bersuara untuk memperjuangkan perubahan sosial di masyarakat, sehingga sudah seharusnya perempuan yang mengikuti ajang tersebut bisa menjadi juru kampanye dari aktivitas perubahan,” ujar Nadia sambil menunjukkan berita di Tempo yang berjudul: Komnas Perempuan Dukung Ajang Miss World 2013.

“Nadia, setelah ayah mempelajari beberapa contoh kegiatan sosial para peserta terlebih para pemenang sebelumnya, terlihat bahwa proyek-proyek yang ada adalah bersifat insidentil, tidak krusial, dan juga tidak berkesinambungan. Kesannya yang penting “ada proyek sosial”, demi menyembunyikan kesan bahwa ini hanya kontes kecantikan,” kata sang ayah sambil memegangi cangkir teh yang isinya tinggal sedikit, dan kemudian meminumnya sampai habis.

“Ayah, mau dibikinin teh lagi?” tanya Nadia.

“Gak usah, … nanggung, ini sebentar lagi masuk Isya’, kita segera selesaikan diskusi sesi pertama ini”, kata sang ayah. “Lanjut ke soal ucapan Komnas Perempuan yang Nadia kutip… cara pandangnya itu justru merendahkan perempuan, dan mengajak memasuki abad dimana perempuan sukarela diekspolitasi jadi alat komoditas ekonomi dan objek seksual, dan bukannya jadi elemen terpenting dalam peradaban.”

“Nanti Nadia coba baca twit-twitnya @GadisArivia1, pemilik akun yang mengaku sebagai dosen filsafat UI, dan aktivis Jurnal Perempuan. Juga silakan baca twit-twit Jurnal Perempuan: @jurnalperempuan. Twit-twitnya cukup mewakili cara pandang pegiat feminisme di Indonesia. Bahwa (seperti dalam dalam pandangan Barat), mereka memandang perempuan dengan pandangan terbuka. Hingga terbuka segala-galanya, pakaiannya, dan auratnya dilihat sebagai simbol keindahan. Ideologi kapitalisme telah menjerat perempuan sebagai mahkluk cantik yang dipertontonkan, padahal sungguh (secara tidak sadar) itu adalah simbol penghinaan”.

“Wahh… saya jadi tidak sabar pengen segera baca twit-twitnya, sebentar ya, saya stalking dulu… pengen tahu sekilas pandangannya”, pinta Nadia kepada ayahnya.

“Okey, silakan,” jawab ayahnya, “… coba Nadia bacakan kultwit-nya di tanggal 7 September 2013”.

Dengan kelincahan jarinya dan sapuan matanya, Nadia menelusuri twit-twit dosen aktivis Jurnal Perempuan itu. Setelah menemukan kultwit yang dimaksud, Nadia membacakan isinya dengan suara perlahan.

Isi kultwit @GadisArivia1 tanggal 7 September 2013:

  • Apakah yang disebut dengan eksploitasi tubuh? Kata eksploitasi menunjuk pada praktek kejam, ketidakadilan, kesewenang-wenangan,menghujat dan menghina.
  • Apakah Miss World melakukan eksploitasi tubuh? Tidak. Karena tidak melakukan kekejaman pada tubuh melainkan melakukan apresiasi dan menghormati.
  • Menyembunyikan tubuh perempuan justeru adalah eksploitasi sebab artinya menganggap tubuh perempuan sebagai sumber menjijikkan.
  • Eksploitasi tubuh dan perempuan didefinisikan sebagai perkosaan, inses, kekejaman, penganiayaan, pengabaian, dan dipermalukan.
  • Apakah perempuan yang memakai rok mini, bikini, backless dan hot pants menjijikkan? Tidak sebab tubuh perempuan adalah mulia.
  • Mengapa laki-laki bersorban takut pada pantat dan payudara perempuan? Sebab otak mereka sebatas pemikiran penis.
  • Selama tubuh perempuan dilarang untuk ditunjukkan selama itu pula ekspolitasi terhadap perempuan berlangsung.
  • Kalian dihidupkan payudara, dirawat rahim, dihadirkan liang vagina? Mengapa kalian menghujat tubuh perempuan?
  • Tubuh perempuan bukan sesuatu yang memalukan tapi justeru sangat membanggakan dan sempurna.
  • Budaya siapakah yang kalian katakan tubuh perempuan harus disembunyikan? Budaya Merah-Putih budaya yang bangga dengan tubuh perempuan.
  • Menghujat tubuh perempuan berarti perang terhadap perempuan. Perang terhadap perempuan berarti mematikan kelangsungan peradaban manusia.
  • Sekarang perempuan tahu mengapa kalian menutup kepala kalian dengan sorban. Karena memang tidak ada isinya.
  • Kalian hanya berani bersembunyi dibelakang ayat-ayat, kami tidak pernah bersembunyi, ini pantat kami ini payudara kami.
  • Perempuan bersatulah, berjilbab atau tanpa jilbab, kita satu suara sebab kita berpantat dan berpayudara!
  • Apa salahnya cantik, seksi dan bergairah? Perempuan memang mahluk cantik. Semua adalah karunia Ibu Alam.

Nadia menghela nafas sejenak setelah selesai membacakan kultwit aktivis Jurnal Perempuan tersebut.

So, how do you think, Nadia?”, tanya ayahnya.

“Astaghfirullah… huhhh… ini benar-benar penghinaan terhadap para muslimah!” gumam Nadia yang bercampur geram.

“Alhamdulillah, putriku masih waras, hehehe,” kelakar sang ayah. “Miss World sudah jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan Al-Quran dimana Islam sangat memuliakan perempuan dengan mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya (QS. An Nur: 31 dan Surat Al-Ahzab: 59), dan definisi perempuan cantik dalam pandangan Islam adalah yang paling bertakwa disisi Allah (QS. Al Hujurat: 13)”.

“Kembali ke berita di Tempo yang mengutip ucapan pegiat Komnas Perempuan tersebut, ayah merasa gagal paham dengan ucapannya itu, perubahan sosial di masyarakat seperti apa yang diperjuangkan peserta kontes itu? Lha… justru faktanya, ajang kontes-kontesan seperti itu berpotensi merusak tatanan sosial dan rumah tangga.”

Lanjut sang ayah, “Apa mereka lupa dengan kisah pemenang kontes kecantikan Putri Indonesia 2009? Demi memenangkan kontes kecantikan tersebut, dalam sebuah wawancara sang Putri Indonesia itu mengaku sengaja melepaskan jilbab yang sebenarnya wajib dikenakannya sebagai muslimah sekaligus wakil Propinsi Nangroe Aceh Darussalam [Detik]. Kemudian setelah memenangkan kontes kecantikan tersebut dan menjalankan “tugas” sebagai Putri Indonesia, ia mulai lupa kehidupan normalnya sebagai seorang anak. Tenggelam dalam kesibukannya sebagai seorang Putri Indonesia, pihak keluarga pun mulai was-was dan curiga. Pasalnya sang anak terjerat dalam dunia kesyirikan. Saat itu, sang anak mulai gemar semedi dan membakar dupa, bahkan ia juga melakukan ritual melepaskan belut dan kura-kura, dilepas di sungai yang mengalir, serta melepas burung pipit. Kekhawatiran pihak keluarga tidak dihiraukan oleh sang anak, bahkan ditanggapi secara negatif. Kemudian, akibat beban mental yang semakin berat, sang ibu pun harus tega memutuskan tali keluarga dengan si buah hati [Tribun News].

Nadia terdiam dan menyimak dengan seksama penuturan sang ayah. Kemudian ayahnya melanjutkan lagi:

“Kisah itu berulang pada Miss Indonesia 2011 terpilih. Aktifitas dan kegiatan bebas di luar rumah paska terpilihnya sebagai Miss Indonesia tersebut, membuat keluarganya resah. Apalagi sang putri masih muda banget yaitu 21 tahun. Ayahnya sudah berusaha keras menasehatinya untuk mengembalikan si anak hilang ke rumah. Namun, sikap yang ditunjukkan oleh putrinya jelas-jelas tidak menerima nasehat orang tuanya. Sehingga dengan berat hati, sang ayah pun mengumumkan secara resmi lewat media nasional tentang pemutusan hubungan keluarga antara si anak dengan orang tuanya [Tabloid Nova, Detik]“.

“Nahh… itu baru sebagian kisah para ratu kecantikan, di tingkat internasional bisa dilihat faktanya di sini: [veestarz.com: bpscandals1]. Banyak mantan kontestan dan pemenang Missworld memenuhi sampul-sampul majalah dan film dewasa. Gejala-gejala ini membuktikan bahwa kontes ratu kecantikan, salah satunya Miss World, adalah simbol kapitalisasi tubuh perempuan dan perendahan martabat perempuan yang hanya mengajarkan gaya hidup hedonisme dan pragmatis. Kontes Miss World akan memberikan contoh dan persepsi yang keliru mengenai sosok wanita sukses”.

“Ketika perempuan rusak, maka rusaklah bangsa, karena dalam pandangan Islam, perempuan adalah sekolah bagi generasi baru. Kalau perempuan rusak, maka bagaimana ia bisa membawa perubahan sosial yang lebih baik di masyarakat? Lantas, bagaimana menjadi pelopor perubahan kalau untuk menjadi teladan saja mereka tidak pantas karena perilakunya yang negatif setelah kontes,” kata sang ayah yang bersemangat memaparkan fakta-fakta.

Saat mereka berdua sedang asyik berdiskusi, dari masjid yang hanya berjarak 50 meter dari rumah mereka tinggal, berkumandang adzan untuk panggilan sholat Isya’.

“Nadia, sementara sampai di sini dulu ya, insya Allah nanti kita lanjutkan. Tadi ayah sudah membatalkan dan menjadwal kembali pertemuan dengan teman ayah agar malam ini kita bisa bincang-bincang, semoga bisa menjawab rasa penasaranmu,” kata sang ayah sambil beranjak dari ruang keluarga untuk bersiap-siap menuju masjid guna sholat Isya’ berjamaah.

“Baik, yah. Insya Allah selepas sholat Isya’ saya selesaikan dulu tugas-tugas sekolah, gak lama kok karena sepertinya mudah, setelah itu kita lanjut bincang-bincang lagi ya, yah,” kata Nadia yang juga siap beranjak ke masjid.

“Nah, itu juga lebih baik, first think first ya, nak”

BERSAMBUNG …

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
20.09.2013

.
Catatan: Dialog ini adalah fiktif semata.

Advertisements

63 Comments

  1. Simak juga:
    “Dialog antara Kyai dan Sangidi” karya ust. DR. Adian Husaini, MA.

  2. iya, diskusinya keren kang Iwan, pertanyaan dan jawaban cerdas 🙂

    • Kalau ada waktu luang, silakan dilanjut membaca dialog tentang World Muslimah di jurnal berikutnya. Masih banyak para muslimah yang tergerus pemikirannya atas sesuatu yang kelihatannya baik. Padahal itu jebakan ghazwul fikri.
      Semoga bermanfaat ya.

    • Siap-siap kita menolaknya dengan sungguh-sungguh, karena HT akan menghadirkannya kembali di sini di tahun 2015.

      Pasca Miss World, MNC TV lepas dari kekuasaan HT, kemudian 3 saham MNC terjun bebas. Mungkin ini baru permualaan balasan atas sikap angkuhnya.

  3. keren Pak “dialog”-nya 😀

    saya baru sempat buka dini hari ini, posting ini 😀

    mau nambahin aja, itu si https://twitter.com/GadisArivia1 koplak banget, persis dalam contekan saya di http://widodowirawan.wordpress.com/2012/05/30/kata-kata-bijak-yang-koplak/

    • Terimakasih mengingatkan postingan lama tentang kata-kata bijak yang koplak.
      Maaf, Pak Widodo, komennya sempat terpending karena sistem WordPress.

      Saya merasakan keprihatinan, betapa begitu banyak generasi muda (khususnya remaja putri) yang disesatkan pemikirannya oleh aktivis2 feminisme yang membuang Tuhan dalam konstruksi pikirannya.

  4. Kaedah Hebat Di Kamar says:

    Mmm.. saya x boleh kata 100% setuju… tapi tahniah admin atas pos yang membuka mata saya.

  5. […] sudah siap untuk bincang-bincang kembali soal Kontes Ratu Sejagad. Kalau dalam bincang-bincang di Sesi Pertama, hanya ayah dan anak yang terlibat diskusi. Pada Sesi Kedua ini, sang ibu yang telah kembali dari […]

  6. nurme says:

    Sejak dulu memang sudah ditentang Mas, tapi entah mengapa tetap bisa tetap ada sampai sekarang.

    Sepertinya dialog ayah dan anak yang Mas Iwan tulis, perlu diterapkan dalam setiap keluarga.

    Terimakasih sharingnya ya Mas.. 🙂
    Ditunggu pengetahuan lainnya.

  7. Saya tak begitu mengikuti dan tak begitu menyukai acara seperti ini.

  8. lieshadie says:

    Kalo ke sini selalu ada yg tergenggam dalam hati dan benak…

    Salut diskusi antara ayah dan anak sama2 cerdas ! Pengin bisa jadi orang tua seperti pak Iwan..

    • Semoga kita semua dimudahkan dan dikuatkan untuk berinvestasi waktu dengan si buah hati sampai ia benar-benar mampu mandiri melawan serbuan pemikiran yang makin lama makin dahsyat.

      Alhamdulillah, sequel dialog ini sudah dirilis, dengan tema pembahasan yang berbeda. Selamat menyimak jurnal berikutnya, semoga bermanfaat ya, mbak Lilis

  9. Dowonload e-book MIss World Musibah Bagi Bangsa Indonesia

    Buku ini sangat bagus memberikan pencerahan dan pemahaman secara lengkap dalam berbagai sudut pandang, baik agama, ideologi, hukum, adat kearifan lokal dan lain-lain. Selain itu buku ini juga berisi tentang dampak-dampak yang ditimbulkan serta memuat informasi penolakan-penolakan dari seluruh elemen masyarakat kita, dan aksi-aksi yang dilakukan untuk membendungnya. Selamat membaca!

    Read more http://thisisgender.com/download-e-book-kontes-miss-world-musibah-bagi-bangsa-indonesia/

  10. mintarsih28 says:

    betapa propaganda itu sangat luar biasa hasilnya. betapa kita butuh dasr pemikiran ketika kita menerima dan menolak sesuatu sehingga kita tak terjebak dengan kata”latah”

    • Betul, mbak Mintarsih. Anak-anak perlu sejak dini dibekali dengan ilmu untuk menghadapi serbuan pemikiran yang diadopsi dari Barat yang cenderung liberal dan merusak akidah.

  11. ainulharits says:

    jangan latah… membuat tandingan bisa jadi latah…

  12. Ina says:

    gaya ceritanya asyik. ada drama2nya…
    sejak dulu mengirim miss word aja kontroversi, harusnya jangan coba2 dunk jadi penyelenggara. dobel kontroversi deh.

  13. felis catus says:

    Sama mas Iwan, saya tidak pernah setuju dengan kontes-kontes yang menilai kecantikan fisik pesertanya, baik peserta perempuan ataupun pria. Ditunggu tulisannya tentang miss world muslimah.

    Oh, soal gerakan feminis, banyak loh cabangnya dan tidak semua setuju dengan pemikiran seperti yang ada di tweetnya ibu Gadis itu. Seperti juga gerakan-gerakan lainnya, ideologi gerakan feminis yang satu dengan yang lain beda-beda. Pendapat mereka tentang suatu masalah bisa berbeda-beda ternyata, sangat dipengaruhi oleh latar budaya, sosial, dan ekonomi. Kesamaannya cuma satu: ingin membuat hidup perempuan lebih baik dan bahagia.

  14. araaminoe says:

    What a great father, dan anaknya pun sama 😉
    Pola pikir satu manusia dengan manusia lain tentu tidak sama, namun Allah tidaklah memerintahkan sesuatu tanpa maksud baik, berhijab atau menutup aurat adalah diwajibkan bagi setiap muslimah karena alasan yang kuat untuk melindungi muslimah itu sendiri, ini bukti bahwa Allah Maha Pengasih, mengenai berbagai alasan untuk penyelenggaraan diadakannya suatu event buat saya -maaf- tidak lebih dari sekedar kedok untuk meraih keuntungan bagi banyak pihak, mulai dari keuntungan ekonomi, atau apalah, beauty comes within benar adanya tanpa harus mengumbar aurat bukan? jadi ajang seperti ini -maaf lagi- lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

  15. Yudhi Hendro says:

    Bagus banget ceritanya, pak Iwan . Ada dua hal saya petik dari dialog menarik dan berbobot antara Nadia dan ayahnya.

    pertama, cerita di atas mengingatkan saya tentang kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ada proses dialog, tanya jawab, memberikan kesempatan anak untuk menyampaikan gagasannya, dan juga kesabaran seorang ayah dalam menanggapi secara logis pertanyaan sang anak.

    kualitas hubungan orangtua-anak seperti ini yg perlu kita terapkan dalam keluarga. hubungan seorang ayah yang memposisikan dirinya sebagai mitra dan sahabat berdiskusi bagi anaknya, dan bukan sosok seorang ayah yang otoriter dan tidak menghargai pendapat anak.

    kedua, perlunya orangtua memiliki penguasaan data dan fakta yang mumpuni tentang suatu peristiwa. dialog dan diskusi dengan anak yang lahir dan besar di jaman digital, mengharuskan seorang ayah untuk tidak gagap teknologi sekaligus informasi.

    seorang anak yang memiliki informasi dari berbagai sumber, baik dari teman, internet perlu diimbangi dengan keterampilan untuk memilah informasi yang bermanfaat dan juga mengkritisinya. dan di siniah tugas dan peran orangtua, memberikan kesempatan dan waktu untuk berdiskusi dengan anggota keluarganya. sebuah cara yang jitu dalam mendidik dan memberikan pemahaman kepada anak-anak untuk menyikapi sebuah peristiwa…

    menunggu cerita berikutnya, pak Iwan

  16. Anak Manusia says:

    Hwaaa.. keren pak pemaparannya.. jadi pengen mendidik anak jadi kritis kayak nadia kelak,,

  17. Enje says:

    nice article! membeber fakta tanpa menggurui. #TolakMissWorld

    btw, beruntungnya Nadia punya ayah sebegini kecenya 😀

  18. Dyah Sujiati says:

    Hiyaa udah terlanjur kebayang Nadia beneran diskusi sm p. Iwan 😀

    • Itu simulasi Nadia (Nana) kelak di usia 18 tahun (sekarang masih 12 tahun).
      Paling tidak bisa menjadi gambaran, ketika anak sudah mahir memainkan gadget dan mudah mengakses informasi di berbagai media, orang tua harus lebih meningkatkan daya kritisnya. Sama-sama belajar tentang menyikapi dunia luar. Kalau orang tua gaptek atau cuek, sang anak akan berpotensi dibesarkan pemikirannya dan dibentuk peradabannya oleh informasi sesat atau teman-teman yang membuatnya menjadi anak durhaka.

    • Enje says:

      setuju deh sama pak Iwan 🙂

    • Sipp.

      Ini ada contoh kasus beberapa mahasiswa yang peradabannya dibentuk dari luar keluarga:
      [video] Benih Anti Islam di UIN
      Saya gak bisa membayangkan bagaimana perasaan ortunya masing-masing ketika menghadapi kenyataannya bahwa sang anak telah menyimpang jauh.

    • Dyah Sujiati says:

      Olala. Jadi itu Nadia udah 18 tahun., ceritanya

  19. Luar biasa nih Nana… Ngga cuma jago piano tp umur 10 tahun udah bisa diskusi seperti ini…

    • Ini sekedar mencoba menyajikan jurnal dalam bentuk cerpen fiksi.
      Sudah ada keterangannya di bawah jurnal, bahwa itu Nadia a.k.a. Nana di usia 18 tahun, sekarang sih masih 12 tahun 🙂
      Berharap pas kelas 3 SMA, ia sudah mempunyai pola pikir yang kritis, sebelum memasuki dunia perguruan tinggi yang rawan dengan serangan pemikiran.

  20. Dialog yang cerdas anatara ayah dan anaknya…^^

  21. kasamago says:

    mantab, nice artikel pak. mencerahkan.. miss world aura bisnisnya kental bgt, bner2 acara hiburan yg gak menghibur. lbh yahud ntn ondespot ato diskoperi canel.

  22. hmm hati jadi ikut hangat membaca Nadia diskusi sama Ayah sambil minum teh hangat :),
    Tentang isi tulisan ini, mas Iwan mungkin sudah bisa menduga bgm pendapat saya tentang kontes kecantikan.
    *tadi membaca sambil terheran-heran, banyak point yg sama dgn yg sy tuliskan di postingan terakhir sy tentang kontes kecantikan ini, padahal saya baru sekarang sempat mampir lagi ke sini*

    Salam bwt Nadia yg shalihat dan cerdas 🙂

    • Terimakasih, teh Winny.
      Mari lindungi putri-putri di sekeliling kita dari hal-hal yang konyol.
      Dalam sequel berikutnya bicara World Muslimah, konteks yang diperbicangkan berbeda.
      Alhamdulillah, mumpung weekend sudah dituntasin. Selamat menyimak sequel-nya ya, teh, semoga bermanfaat.

  23. Nadia, kopi buatan kamu numero uno (iklan kopi)

  24. cerita yang bagus dan tanggap terhadap berita sekarang. mudah dicerna. kalo gitu aku gak perlu bikin cerpen lagi tentang tolak miss world. sudah ada cerpen ini nyang bagus.

  25. Weuw baru tahu ada gaya pengemasan informasi seperti ini… Jadi berasa kek nadia nih yang pengen serba tahu karena sebelumnya ada banyak hal yang belum tahu. Well, tentang miss world ini ya jadi terlihat betapa kepentingan bisnis yang sangat kuat menggeliat di belakangnya

  26. abi_gilang says:

    Walau tak pernah mengikuti berita tentang kontes2 seperti ini tapi membaca kisah ini memberi wawasan yang sangat bermanfaat untuk akang sendiri dalam mempersiapkan generasi penerus nanti. Terima kasih Pak Iwan 🙂

    • Semoga kelak putra dan putrinya Abi Gilang menjadi pribadi yang bermanfaat, cerdas, berani dan tangguh.
      Kuncinya hanya investasi waktu kita kepada mereka.
      Ini pengingat bagi saya juga tentunya.

  27. masih banyak yang belum menyadari bahwa dibalik kontes2 tersebut terkandung motif ekonomi yang berlindung dibalik keindahan wanita yang konon katanya tercantik itu…
    salam

  28. omnduut says:

    Part selanjutnya pasti lebih seru (karena ngebahas World Muslimah ^^). Selalu takjub kalo baca tulisan mas Iwan ini. (y)

  29. novianadewi says:

    Lepas dari pro kontra masalah miss world, saya suka sekali cara ayah dan anak berdiskusi ini.
    Semoga selalu demikian…..

    • Dalam era push information seperti ini, ortu memang harus selalu update, jangan sampai sang anak mendapatkan informasi yang salah dan merusak dirinya. Ortu dituntut untuk bisa menjadi filter pemikiran sang anak. Bukan berarti posesif, tapi membuka kran diskusi setelah anak diberikan kebebasan mengakses informasi dari luar.

  30. bimosaurus says:

    Kontes Ratu sejagad itu banyak masalah di dalamnya. Saya bisa memandang kontes itu sebagai kontes umbar aurat, namun barangkali teman-teman dari agama lain tidak akan bisa. Kalangan tak bertuhan juga akan mengatakan “hanya orang porno yang menganggap itu kontes saru”.

    Namun seharusnya semua bisa berpikir dengan adil bahwa kontes tersebut bukan kontes BRAIN. Itu adalah satu kontes yang diskriminatif.

    Kontes olahraga telah menunjukkan ada pejudo, ada petarung, ada pelari yang cacad dan dia bisa mengalahkan yang tidak cacad. Di dunia “orang-orang pandai” dan seni sudah mahfum semua saiapa itu Stephen Hawking, siapa itu Ludwig van Beethoven, siapa itu Stevie Wonder, orang dengan beberapa kekurangan namun bisa diakui dunia.

    Saya yakin, meskipun saya belum cek, kontes yang ini tidak ada data tentang orang cacad yang menjadi juara. Kontestan saja tidak. Padahal di dunia ini banyak orang cantik dengan segudang prestasi dan kemampuan, padahal mereka memiliki sarana terbatas. Tidak punya tangan misal..orang pincang tapi berguna bagi dunia. Mengapa tidak diambil dari orang-orang itu.. Sementara saya yakin orang-orang kontestan miss miss an ini bukanlah siapa-siapa sebelum menjadi miss. Dan mereka juga tetap tidak akan berguna setelah menjadi ratu

    • Saya sependapat dengan pandangannya mas Bimo.
      Miss World ini memang sarat dengan diskriminasi seperti yang disampaikan sang ayah dalam jurnal di atas. Yang tubuhnya tidak sempurna (meski punya segudang prestasi dan kegiatan sosial) jangan harap ikut yang ginian, karena dianggap panitia Miss World tubuhnya gak punya nilai jual.

  31. tinsyam says:

    nadia punya ipad dan pinter bikin teh oolong ya..
    umur berapa sih nadia, udah pinter obrol serius gini sama ayahnya..

    *isi materi sih ada beberapa ku setuju, beberapa no comment sajalah..

    • Dalam cerita ini, usia Nadia adalah setingkat kelas 3 SMA.
      Anggap saja sedang menembus batas waktu menuju beberapa tahun di masa depan dari titik saat ini, di mana usia Nadia masih 12 tahun 🙂

  32. jampang says:

    “perempuan” sendiri yang menjatuhkan harga dirinya…. hikss…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat