Home » Ghazwul Fikri » Dialog Ortu-Anak: Kontes Ratu Sejagad [2]

Dialog Ortu-Anak: Kontes Ratu Sejagad [2]

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

–: BINCANG-BINCANG SESI KEDUA: WORLD MUSLIMAH

[Dalam dialog sesi pertama, sang ayah menentang Miss World karena dinilai merendahkan martabat perempuan, sarat dengan diskriminasi, dan bertentangan dengan nilai-nilai agama. Pada sesi kedua ini, World Muslimah juga ditentang karena telah mendegradasi istilah dan nilai-nilai Islami yang bahayanya juga tidak kalah besar. Bahaya seperti apa yang dimaksud? Selamat menyimak perbincangan mereka]

.
Bismillah …

Disaat banyak Umat Islam di Indonesia menolak ajang Miss World (yang rencana awal diselenggarakan di tiga kota besar tanah air, yaitu Bali, Bogor dan Jakarta; hingga akhirnya pemerintah memutuskan acara berpusat di Bali saja), disaat yang hampir bersamaan pada tanggal 18 September 2013 diadakan ajang pemilihan Muslimah World di Jakarta, yang diselenggarakan World Muslimah Foundation (WMF) untuk memilih Wanita Muslimah sebagai Duta Muslimah Sedunia.

Konsep acara World Muslimah 2013 diklaim Founder dan CEO WMF, Eka Triyatna Shanty, berbeda dengan kontes ratu kecantikan lainnya. Pada perhelatan di tahun ketiganya ini lebih mengutamakan sisi kecerdasan, keberanian, dan kemampuan para muslimah sedunia. Audisi awal diikuti 11 negara dengan 551 peserta pada Juni hingga Juli 2013. Dari jumlah itu, terpilih 100 semifinalis yang wajib menyampaikan video tentang diri dan beragam aktivitas sosial yang sudah dilakukan. Kemudian terpilih 20 finalis dari 6 negara, yaitu Indonesia, Iran, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, serta Brunei. [Berita Trans7]
…..

Setelah makan malam bersama keluarga dan kemudian menyelesaikan tugas sekolahnya, kini Nadia sudah siap untuk bincang-bincang kembali soal Kontes Ratu Sejagad. Kalau dalam bincang-bincang di Sesi Pertama, hanya antara ayah dan anak. Pada Sesi Kedua ini, sang ibu yang telah kembali dari mengantar belanja kebutuhan alat – alat ketrampilan adik Nadia, juga ingin ikut nimbrung.

“Nadia, setelah kita melihat Berita di Trans7 tadi, apa pandanganmu tentang ajang World Muslimah 2013,” kata sang ayah memulai perbincangan malam saat jarum jam di dinding hampir menunjuk ke angka delapan seperempat.

“Ajang World Muslimah 2013 ini jelas beda benget dengan Miss World. Karena para pesertanya murni semua muslimah dan diwajibkan berjilbab. Kalau Miss World memakai konsep penilaian 3B: Brain, Behaviour, and Beauty. Sedangkan World Muslimah itu 3S: Shalihah, Smart, dan Stylish. Lebih keren, khan?” kata Nadia.

“Apa aja kualifikasinya agar bisa ikutan?” tanya ayah.

Nadia membuka artikel yang telah ia bookmarked pada browser ipad-nya, dan kemudian membacakannya. “Di media Kompas disebutkan persyaratannya gini:

  1. Berusia 18 – 27 tahun.
  2. Menggunakan busana hijab/khimar dalam kesehariannya.
  3. Memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik.
  4. Memiliki prestasi di bidang olahraga, akademis, dan seni atau budaya.
  5. Siap berkeliling dunia untuk misi sosial, pergerakan, dan pendidikan.


“Trus, apa reward bagi pemenang kontes?” tanya ayah kembali.

“Pemenangnya dapat hadiah ibadah umroh, dapat pendidikan di India, Turki, dan Brunei Darussalam, serta bonus hadiah tabungan, terus dinobatkan sebagai Duta Muslimah Sedunia; yang jelas dapat kesempatan berkeliling dunia untuk misi sosial, pergerakan, dan pendidikan. Wiii… asyik banget,” seru Nadia.

“Untuk bisa menang dan ngedapetin itu semua, gimana sistem seleksinya, Na?” kali ini sang ibu yang bertanya.

“Begini … saat peserta mendaftar dengan mengisi data pribadi, mereka diminta menulis esai singkat mengenai pengalaman berjilbab, prestasi dan alasan mengapa layak menjadi pemenang. Dari penilaian kualitas esai tersebut disaring 100 peserta sebagai semifinalis. Para semifinalis kemudian wajib membuat video dokumenter mengenai dirinya berdurasi satu menit untuk diunggah ke YouTube. Dari situ dipilih satu video sebagai The Most Inspiring Video.
Seleksi berikutnya dipilih 20 finalis yang berkumpul di Jakarta untuk melaksanakan proses karantina dan sejumlah pelatihan, prosesnya selama seminggu. Kemudian mereka akan bersaing untuk meraih gelar World Muslimah 2013, runner-up I, dan runner-up II. Selain itu, ada kategori: The Most Inspiring Video, The Most Favorite, The Most Talented, The Best Al-Quran Recitation, dan The World Netizen Muslimah.
Ada yang unik saat penjurian lho, bu. Tim juri menyeleksi kontestan hingga dua besar. Selanjutnya, ada seratus anak yatim yang akan memilih pemenang dari dua besar yang terpilih”

“Wahhh… anak ayah ini paham betul ya soal World Muslimah, jangan jangan Nadia juga tertarik ikutan, yah,” kelakar ibu sambil mencolek ayah.

“Iya, banget, bu, secara usia khan Nadia sudah 18 tahun. Selain ranking terus di sekolah, aktif dalam berbagai kegiatan, … dan tuhh lihat … piala sudah banyak berjajar di sana,” kata Nadia dengan tersenyum bangga sambil menunjuk lemari khusus yang menyimpan piala – piala hasil jerih payah Nadia mengikuti berbagai event lomba sejak kecil, di dinding ruang keluarga tersebut juga terpasang beberapa piagam penghargaan yang diraih Nadia.

“Kamu yakin, pengen ikutan ajang itu?” tanya ayah.

“Dari yang saya jelaskan tadi, saya gak melihat ada mudharat-nya, pasti ayah dan ibu bakal ngasih restu deh …,” rayu Nadia. “Ini juga sikap saya mendukung kontes ini. World Muslimah ini jelas beda banget lho, yah … bu, dibandingkan dengan Miss World yang kita bahas ba’da Maghrib tadi.”

“Apa bedanya?” tanya ibu.

“Saya baca di: Kompas, bahwa World Muslimah tidak lagi menggunakan kata Beauty, karena penggunaan kata itu melekat pada kontes kecantikan. Pendiri WMF katanya sudah berkonsultasi dengan sejumlah ulama untuk meninggalkan kesan kontes kecantikan dalam ajang tahun ini. Dengan perubahan konsep ini, maka sama sekali tidak mensyaratkan ukuran tubuh seperti tahun-tahun sebelumnya. Memang sih diminta, tapi itu tidak menjadi syarat. Karena tidak mau terjebak bahwa ini hanyalah kontes model,” kata Nadia mantab. Lanjutnya, “Kemudian saya baca di: Jawa Pos, bahwa pergelaran ini lebih menonjolkan sisi spiritualisme. Dari segi kostum, semua pakaian modis kontestan harus sesuai dengan syariat Islam. Nah, mengapa Nadia mendukung? Karena menghargai kriteria alternatif kontes ini, yang meliputi prestasi akademik dan sosial dan penanda tertentu kereligiusan, sebagai sarana untuk mempromosikan model panutan positif bagi perempuan muslim muda. Ini bisa jadi cara untuk membuat Islam lebih menarik bagi generasi muda.”

“Memang jika melihat sejarahnya, setahun yang lalu World Muslimah masih bernama “World Muslimah Beauty”. Meski kata “Beauty” kini sudah dihilangkan, namun ya tetap saja sisi kecantikan secara fisik tak bisa dipungkiri sebagai atribut utama yang masih melekat dalam kontes kali ini,” kata ayah.

“Itu sudah gak lagi, yah” Nadia mencoba menyanggah.

“Lah buktinya masih ada batasan usia minimal dan maksimal dalam persyaratan. Bukti lainnya lagi bisa dibaca di koran Republika, disitu ditulis: “Kriteria lain yang dinilai adalah penampilan, fotogenik dan 3S, yakni sholehah, smart dan stylish.” Jadi, peserta yang melebihi batas usia yang dipersyaratkan tidak bisa mengikuti ajang tersebut, apalagi bila muslimah tersebut gak fotogenik, ya jangan harap bisa lolos seleksi, meski segudang prestasi telah disandang, meski ia hapal 30 juzz Al-Quran, hapal hadits, rajin sholat dan puasa serta berhijab sempurna. Padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan informasi bahwa Allah tidak memandang manusia dari bentuk fisik dan kekayaannya, melainkan dari ketaqwaannya. Cantik dan fotogenik itu sama sekali bukan prestasi, itu hanyalah pemberian Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.”

Nadia diam, namun mencoba rileks mengikuti irama penyampaian ayahnya yang sepertinya bakal menguliti habis-habisan soal World Muslimah ini.

“Begini, Nadia, pada prinsipnya ayah dan ibumu tidak menghalangimu mengikuti berbagai event … selama itu tidak membawa mudharat. Namun demikian, sebagai penasehat bagimu, kami akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depanmu. Nah, sebelum ayah dan ibu mengijinkanmu .. mari kita bedah lebih dalam lagi tentang World Muslimah, hingga nanti bisa mantab dalam mengambil keputusan,” kata ayah. “Seperti itu khan, bu?” tanya ayah sambil menoleh kepada ibu.

Sang ibu mengangguk, yang kemudian ia berkata, “Anggap aja malam ini kita musyawarah untuk mufakat, yes?!”

“Siap!” seru Nadia.

“Baiklah, … coba jelasin maksud penilaian 3S: Shalihah, Smart, dan Stylist itu konkritnya seperti apa,” kata ayah.

“Masing-masing pengertiannya begini: Shalihah adalah penilaian karakter. Peserta akan mengaji bersama untuk mendapatkan sepuluh besar. Setelah itu ada segmen Smart, yakni menilai komitmen, hingga terpilih lima besar. Sisanya akan masuk ke segmen Stylish dengan memilih satu di antara enam kategori pertanyaan, yang mengacu pada enam gaya hidup Islam yang akan dikampanyekan jika terpilih sebagai World Muslimah; antara lain Islamic Fashion, Islamic Syariah, Food Halal, Fundamental Education, Funding, dan Tourism, “ jelas Nadia sambil membacakan informasi dari Jawa Pos.

“Kalau seperti itu sih, menurut pemahaman ayah, penyelenggara sudah mendegradasi definisi agar bisa dipaksakan menjadi sebuah penilaian. Pendegradasian definisi ini mengkuatirkan, ini masuk ranah perang pemikiran alias ghazwul fikri,” sahut sang ayah.

.
3S Pertama … SHALIHAH

“Tadi Nadia bilang bahwa kriteria Shalihah adalah penilaian karakter saat peserta mengaji bersama. Menurutmu “Shalihah” itu seperti apa?”

“Dulu Ayah pernah bilang bahwa definisi wanita shalihah itu mengacu pada QS An-Nisaa ayat 34, yang artinya: …Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Berdasarkan tafsir Imam Ibnu Katsir tentang ayat tersebut, salah satu kriteria ke-shalihah-an wanita adalah ia senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah serta suaminya. Menjaga dirinya dan kehormatan serta harta suami ketika suaminya tidak ada sekalipun.”

“Nah, pinter kamu… itu definisi shalihah yang betul. Kita harus memahami bahwa ke-shalihah-an itu terikat dengan ketaatan kepada Allah, yang mencakup seluruh pikiran, ucapan dan perilakunya yang memiliki ketundukan totalitas pada Allah sepanjang hidupnya. Label shalihah tidak bisa dinilai oleh kacamata manusia. Maka amat sangat tak cukup hanya dinilai dari aktifitas mengaji bersama dan saat dalam masa karantina yang hanya beberapa hari.”

Setelah meneguk teh oolong di depannya, sang ayah melanjutkan bicaranya.

“Begini Nadia, … dalam banyak ayat Al-Qur’an, ke-shalihah-an yang terikat pada ketaatan kepada Allah itu senantiasa disandingkan dengan keimanan. Seperti dalam surat Al ‘Ashr: illalladzi na amanu wa ‘amilush shalihat. Oleh karenanya, amal baik berbeda dengan amal shalih. Maksudnya, tidak setiap wanita yang berbuat baik dengan mudah bisa dikatakan shalihah. Karena dasar dari amal shalih adalah keimanan. Berbeda dengan amal baik, dia tidak selalu berdasar atas keimanan, namun bisa karena dasar kemanusiaan atau sebab lainnya. Sebagai contoh: si Fulanah berbuat baik kepada sesama, juga kepada orang tuanya. Namun, jika semua itu tidak didasari atas dasar Iman dan Taat kepada Allah, dia melakukan itu semata-mata rasa kemanusiaan, maka itu bukan ke-shalih-an namanya, namun hanya kebaikan”.

“Dari penjelasan Ayah, semoga Nadia paham bahwa tidak semua wanita berjilbab itu dikatakan sebagai wanita shalihah. Jangan tertipu oleh apa yang tampak dari luar,” sahut sang ibu.

“Paham, bu. Wanita shalihah terikat pada ketaatan kepada Allah, sehingga ia meyakini bahwa pemakaian jilbab itu atas dasar perintah Allah. Atas keyakinannya itulah ia akan selalu menjaga pikiran, ucapan, dan perilakunya dengan baik.” kata Nadia mengutip ucapan ayahnya.

“Tepat sekali! Wanita shalihah itu meyakini bahwa jilbab itu perintah Allah, bukan semata-mata style, sehingga ia akan betul memperhatikan kriteria jilbab yang benar,” kata ibu.

“Okey, lantas yang menjadi masalah dengan kata “Shalihah” pada ajang World Muslimah ini apa? Penyelenggara khan mencoba mensosialisasikan gaya hidup wanita shalihah selama kontes ini,” tanya Nadia yang makin penasaran.

“Seperti yang ayah sampaikan tadi, tujuan kontes ini baik, TETAPI ada kesalahan fatal dalam mengemasnya sehingga men-degradasi makna “Shalihah”, ini area ghazwul fikri lho. Mari kita baca berita di Detik, edisi 12 September 2013, perhatikan paragraf bagian akhir di halaman pertama berita tersebut. *silakan cermati kalimat yang bergaris bawah merah*

World Muslimah
“Dari situ semakin jelas menunjukkan kemana arah diselenggarakannya World Muslimah, apalagi kata ”Sholeha” bisa disematkan pada perempuan manapun dan agama apa pun. Astaghfirullahal‘adhiim. Ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah kita bahas tadi. Bahkan salah satu peserta yang ayah baca dari media Perempuan mengartikan istilah “sholeha” menurut akalnya, yaitu S = Sincerely, H = Humble, O = Organize, L = Lovely, E = Empati, H = Humanity dan A = Affirmative. Nahh.. ketika makna shalihah sudah diperlonggar dan dikaburkan, maka dengan mudahnya penyelenggara ajang kontes ini mengadakan aksi lenggak-lenggok, runway di atas catwalk apalagi jalannya pun diatur koreografer, agar menarik perhatian. Menampilkan penyanyi tanpa berjilbab pun tidak dianggapnya suatu masalah. Sementara ratusan pasang mata pria non muhrim bebas menatap dan mengagumi para wanita yang tampil dipanggung. Menurut Nadia apakah tindakan penyelenggara ini mengajarkan makna “wanita shalihah” yang benar?”

Ayah yang mengucapkan kalimat – kalimatnya ini serasa menahan kegetiran, sehingga beberapa pengucapannya nampak bergetar.

“Tadi ibu lihat sudah ada yang meng-upload video-nya di Youtube, dengan judul: Raisa – Melangkah (3rd Annual Awards World Muslimah). Terlihat jelas dalam video itu, saat Raisa (yang tidak berjilbab) tampil menyanyikan sebuah lagu, para peserta juga tampil berlenggak-lenggok di panggung. Kesan tabarruj jelas sekali di sana. Sesuatu yang terlarang dalam Islam, bersolek untuk dilihat pria asing selain suami atau mahram,” kata sang ibu sambil mencoba mengakses Youtube.

Nadia menyimak video yang ditunjukkan ibunya. Selama menonton video tersebut, Nadia bertanya-tanya dalam hati: Benarkah shalihah itu telah dihadirkan dalam kontes World Muslimah, sementara tindakannya justru melanggar hukum syara? Di mata manusia bisa jadi akan terlihat bagus, namun di mata Allah akan gugur predikat ke-shalihah-annya karena melanggar hukum syara.

.
3S Kedua … SMART

“Tadi Nadia sudah sampaikan bahwa di segmen Smart, itu menilai komitmen peserta. Kalau smart itu identik dengan kecerdasan, bagaimana definisi ‘smart’ itu ditinjau dari sudut pandang Islam?” kata ayah.

“Saya sering mendengar ungkapan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Tapi saya lupa bunyi hadits-nya, yah” kata Nadia.

“Betul, orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati… plus tambahan: paling baik dalam mempersiapkan kematian. Jangan lupa kalimat tambahan yang penting itu, Na. Bunyi hadits-nya gini:

“Suatu hari, Ibnu Umar ra sedang duduk bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Anshar kemudian mengucapkan salam kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama itu?’ Rasulullah kemudian menjawab, “Yang paling baik akhlaknya”. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”. Lalu Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.”
[HR Ibnu Majah, Thabrani, dan AlHaitsamiy]

“Wanita muslimah meyakini bahwa hidupnya di dunia hanya sementara, dunia hanyalah merupakan ladang beramal shaleh. Ia meyakini itu atas dasar Iman. Tolong Nadia bacakan ayat Al-Qur’an QS Al-Anbiya’ ayat 35 agar kamu mengingatnya selalu.”

Kemudian Nadia membacakan ayat yang disebutkan ayahnya dan menyampaikan artinya sebagai berikut:

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.”
[QS. Al-Anbiya`:35]

Ayah berkata, “Wanita shalihah akan berbeda dengan wanita lainnya. Hidupnya termotivasi untuk senantiasa produktif, penuh dengan berbagai hal positif yang akan ia usahakan sebagai bentuk bekal menuju akhirat. Smart diaplikasikannya melalui perilaku keseharian sebagai amalan yang ikhlas, ridho dan tidak riya; dan itu menjadi gaya hidupnya. Muslimah yang shalihah sadar bahwa amal shalih itu harus dilakukan sesuai dengan keinginan Allah, bukan keinginan manusia yang terbatas semasa dikarantina agar dinobatkan sebagai World Muslimah. Itulah kecerdasan seorang wanita shalihah.”

Ibunya menambahkan, “Dengan selalu mengingat mati, maka akan tumbuh bibit-bibit keberanian dalam dirimu, Na. Berjuang terus untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, sehingga selalu siap mati secara khusnul khotimah. Kata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, “sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya”. Jangan dikira apa yang disampaikan Rasulullah itu mudah aplikasinya, karena setiap perbuatan baik dan bermanfaat itu selalu ada saja penentangnya, karena setan bisa mewujud dalam diri manusia. Contohnya ibu Fahira Idris yang mengomandoi Gerakan Nasional Anti Minuman Keras (Genam), apa yang beliau lakukan itu butuh keberanian dan mental yang tangguh lho, karena yang akan dihadapinya adalah mafia-mafia industri yang ingin berbuat kerusakan di negeri kita demi mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.”

Kemudian sang ayah juga menambahkan, “Dan jangan lupa bahwa wanita shalihah yang smart itu tidak memutus antara ‘ubudiyah dan ‘amaliyah. Baginya, hubungan spiritual dan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena setiap hentakan nafas merupakan ibadah baginya, seperti yang tercantum dalam surat Al An’am: 162: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Setelah mendengarkan penuturan ayah dan ibunya, lagi-lagi Nadia bertanya-tanya dalam hati:
Smart seperti apa yang diusung oleh World Muslimah?
Apakah juga menguji keberanian dan ketangguhan peserta?
Bukankah wanita smart itu mahal, lantas mengapa harus melanggar hukum syara dalm kontes ini?

.
3S Ketiga … STYLISH

“Pada segmen ini panitia mengajukan pertanyaan yang mengacu pada gaya hidup Islam, peserta diminta memilih satu diantara enam hal pokok tersebut, diantaranya: Islamic fashion, Islamic syariah, food halal, fundamental education, funding, dan tourism,” kata Nadia.

“Penilaian gaya hidup kok hanya berdasarkan pertanyaan, piye toh? hehehe, artinya sebagian besar masih berupa konsep teoritis belaka. Hanya berupa sekumpulan pengetahuan Islam, minim praktek. Masa karantina sama sekali tidak membuktikan apa-apa selain tentang pengetahuan ilmu agamanya. Pengetahuan yang bisa dipelajari dengan membaca, diperoleh dengan cara “tiba-tiba” karena “mendadak world muslimah”, agar bisa menjawab pertanyaan juri.” Kata sang ayah sambil tersenyum. Sementara Nadia membatin .. wah, kejanggalan apalagi nih yang akan diungkap ayahnya.

Lanjut ayahnya, “Dalam Islam, gaya hidup seseorang tercermin dari sesuatu yang dhahir (nampak nyata), yang terlihat dari ucapan dan perbuatannya secara terus menerus selama hayat masih dikandung badan. Jadi tidak bisa sesaat saja. Dan juga meliputi seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari masalah politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Mulai dari cara berpakaian hingga tata cara pergaulan. Seperti yang kita bahas tadi bahwa muslimah shalihah harus mengikatkan diri pada aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tutur katanya dan tindakannya harus sesuai dengan hukum Allah. Nahh.. coba Nadia bayangkan … apakah “Stylish” yang sebenarnya ini bisa didapatkan penilaiannya dalam World Muslimah kalau standar penilaiannya hanya berdasarkan jawaban teori peserta?”

Nadia hanya geleng-geleng kepala sambil berkata, “Hmm.. ya jelas sulit sekali bisa mendapat sosok dengan kriteria pure stylish seperti yang ayah sampaikan.”
Nadia mencoba berargumen, “Gini lho, yah, kita musti bisa memaklumi karena semua itu terbentur dengan soal waktu pelaksanaan kontes, yang kalau panjang waktu pelaksanaan evaluasi tentunya akan menghabiskan biaya yang besar. Yang Nadia pahami, stylish ini dituntut untuk benar-benar diterapkan oleh para pemenang pasca kontes.”

“Apakah ada komitmen pasca kontes?” tanya ayah.

Sambil menunjukkan artikel dari Kompas, Nadia berkata, “Dalam artikel ini disampaikan bahwa kontes tahun ini menjadi tantangan besar buat yang terpilih sebagai pemenang karena ada lima peran dan misi sosial yang diembannya, diantaranya: berperan aktif membantu muslimah lain dalam kemudahan memperoleh akses pendidikan, membantu mereka yang mengungsi dan terlantar, serta membantu muslimah.”

Sang ayah tertawa kecil setelah mendengar penjelasan Nadia sambil melirik jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sembilan tepat.

“Begini Nadia .. kalau ada yang mengatakan bahwa ajang World Muslimah dapat memunculkan wanita yang peduli dengan kemanusian, maka coba BUKTIKAN adanya karya nyata dari peserta kontes – kontes sebelumnya yang sampai sekarang harum terdengar karya kemanusiaannya. Ada?”

Nadia hanya menggeleng dan membisu. Kemudian lanjut sang ayah:

“Justru yang patut disadari adalah tanpa ada ajang World Muslimah pun banyak wanita shalihah yang peduli dengan sesamanya. Lihat saja sejarah masa lalu, ada Nyai Ahmad Dahlan, Rahmah el-Yunusiah, HR.Rasuna Said, Prof. Dr. Zakiah Daradjat, dan masih banyak lagi. Tanpa ada kontes apapun, telah banyak wanita smart yang pandai mendidik buah hatinya menjadi istimewa seperti ibunda Imam Syafii, selain itu dengan keberanian dan integritasnya, mereka juga berhasil melakukan perubahan yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Itu bukti bahwa tanpa World Muslimah pun banyak wanita memiliki stylish Islam dan tetap istiqomah sampai akhir hidupnya. Hal ini bisa dimengerti karena mereka memang wanita shalihah yang hanya mengharap penilaian Allah semata, jauh dari ingin dinilai manusia. Peduli dan menolong sesama pun bisa dilakukan kapan pun, dari usia muda sampai tua.”

Sang ayah kala mengucapkan kalimat tesebut di atas ekspresinya begitu bersemangat, seakan-akan mengapresiasi para wanita shalihah yang telah menjadi bagian sejarah di Indonesia.

“Nadia, dalam diskusi sesi pertama kita selepas maghrib tadi, ayah telah tegas mengatakan bahwa Islam sendiri menempatkan wanita pada posisi mulia. Wanita bukanlah domain publik yang boleh dinikmati oleh segala manusia. Apalagi diikutkan dalam kontes-kontesan, sekalipun menggunakan embel-embel muslimah. Wanita shalihah tentu saja tidak menampakkan kecantikannya dan auratnya di depan umum, hanya untuk suaminya. … Jadi, kalau ada orang berduit atas nama yayasan itu memang berniat baik mengapresiasi para muslimah berhijab, ya sebaiknya tidak perlu mendirikan panggung gemerlap yang bertaburan tabarruj. Cari saja muslimah shalihah yang nyata-nyata jelas kiprahnya di masyarakat, tanpa perlu embel-embel diskriminatif seperti pembatasan usia, syarat penampilan fotogenik dan tetek bengek-nya yang notabene fisik semata, yang ternyata dinilai hanya berdasarkan kemampuan menjawab pertanyaan atau evaluasi saat ngaji bersama,” kata ayah.

Nadia akhirnya semakin memahami degradasi makna “Shalihah”, “Smart”, “Stylish” yang diusung dalam kontes World Muslimah ini. Degradasi makna yang kelihatannya baik-baik saja itu sebenarnya bisa berbahaya, karena itu pintu-pintu masuknya virus sekularisme. Nadia berencana membahas virus-virus sekularisme ini bersama ayah atau ibunya dalam kesempatan bincang-bincang yang akan datang.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
28.09.2013

.
Catatan: Dialog dalam kisah ini adalah fiktif semata.

Advertisements

39 Comments

  1. Amelina Rabbani Azra says:

    makasih

  2. farah says:

    Assalamu’alaikum pak. Bagus dan bermanfaat sekali tulisannya. Minta izin di share ya pak

  3. faziazen says:

    yang bikin heran,,kontestan dari indonesia banyak amat?

  4. awan putih says:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.
    masyaAllah, sebuah dialog yang memberi pemahaman kepada para pembaca, akan arti dan makna dari ajang miss world and world muslimah,, begitulah sepatutnya, wanita bukanlah sebuah objek yang menjadi sasaran tuk terus dipertontonkan/dikontes2kan, laknatullah bagi mereka yang menyalahgunakan akan ciptaan Allah ini, semoga segera diberi pencerahan dan hidayah,… marilah menjadi muslimah yang ta’at dan terus memperbaiki diri, menjaga izzah diri kita,

    wanita sholihah adalah perhiasan terbaik didunia

    salam kenal pak dari kota daeng 🙂

  5. onits says:

    segala jenis miss-missan, apapun kedoknya, adalah unsur ketidakseimbangan 🙂 mosok gak ada sih acara sinyo2an, alias pajang2 cowo2 yg masih muda & belum menikah? 😀

    tulisan mas iwan ini perlu dibaca oleh siapapun yg mengaku muslim. kalo mengaku agamanya sebagai yg sebenar-benarnya ajaran dari sang pencipta alam semesta, ya yg seperti itulah jalannya (shalihah tidak bisa dinilai oleh manusia, smart tidak bisa diukur dari prestasi pikiran melainkan prestasi kalbu yg sulit diukur, dan stylish adalah ukuran duniawi yg gak bisa dibawa mati).

    maha besar sang pencipta dengan ajarannya. hidup ini cuma numpang lewat, tapi harus full belajar. dan jangan lupa untuk mengecilkan ego, sumber segala judgment 🙂 [ini sih pelajaran terberat semua manusia] 🙂

  6. araaminoe says:

    Untuk komen tentang kontes kontesan asmie skip saja karena memang di bag 1 dulu sudah dibahas, untuk yang kali ini asmie mau komen tentang acara tipi Kick Andy dan YM, di dua acara tersebut banyak kisah yang menginspirasi tanpa harus ada kedok yang menutupi, alih alih hanya memamerkan hal yang “tidak jelas” dua acara tersebut mengeksplorasi banyak hal yang positif.

  7. Haya Najma says:

    sangat menginspirasi pak! rencana sasaran pembaca novelnya apa pak?

  8. suararaa says:

    setuju bgt.. saya jg tidak setuju dg muslimah world. bagus sekali penjelasannya pak utk anaknya yg pngen ikut ajang kontes ini..

  9. Salam

    Jadi berasa baca novel.
    3 S itu sebenarnya bisa dibuat menjadi tiga artikel yang cerkas, cerdas dan ringkas.

    Salam sehati

  10. maslasno says:

    Kurang setuju dengan yang namanya miss – miss apalah .
    Kerjaan wong kapitalis.
    Salam

  11. genthuk says:

    alhamdulillah. mantap Pak Dhe

  12. nurme says:

    Alhamdulillah, banyak pertanyaan dalam diri saya terjawab disini, Maap baru mampir, soalnya butuh satu konsentrasi untuk baca tulisan ini.

    Terus berbagi ya Mas, saya masih dalam taraf belajar dan belajar

  13. Sepertinya memang akan bersambung dgn sambutan yg baik dr pembaca , kl melihat kebiasaan positif berdiskusi dlm keluarga seperti ini. Kami jadi ikut tercerahkan.

    Bagaimanapun hidup terus berjalan dan akan selalu ada perbedaan pendapat di era ghazwul fiqr ini. Tugas kita hanya tak boleh berhenti belajar dan terus memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat.

    Terima kasih sequelnya mas 🙂

  14. kasamago says:

    Sepakat bgt. Uraian yg sngt mencerahkan.

  15. Setuju dengan diskusi tentang S3 ini… Apalagi yang S1, shalehah.

    • Jadi koplak ya kalo mengikuti versi mereka, dimana shalehah itu diukur dan dinilai oleh manusia, menyalahi nash dalam Al-Qur’an.

    • Kadang2 ada orang yang terlihat shaleha dari segi pakaiannya, dari cara bertutur kata tapi shalat bolong2 en kilat khusu. Ada lagi yang ga pake jlilbab malah seksi tapi kalo shalat bener2 terlihat khusuk dan ditambah shalat sunah… ngajinya rajin…
      Nah gimamana cara nilai shalehahnya kalo gitu…

  16. abi_gilang says:

    Sebuah “benteng pemikiran” dari Pak Iwan untuk generasi muslim mendatang. Terima kasih Pak 🙂

  17. angkasa13 says:

    Reblogged this on angkasa13 and commented:
    Sebuah Pencerahan

  18. angkasa13 says:

    Izin reblog mas iwan 🙂

  19. angkasa13 says:

    Setuju… Makasih mas sharing nya 🙂

  20. omnduut says:

    Asyiik masih bersambung 🙂 haha. Tulisan yang bagus mas. Seperti biasa. 🙂

  21. rayaadawiah says:

    bukan hanya Nadia yg paham,om… Raya juga 🙂
    makasih penjelasannya ^^

  22. Yudhi Hendro says:

    Seharusnya kriteria shalihah, smart dan stylish itu dilakukan tidak hanya pada saat kontes. Tetapi apa yg telah mereka perbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Hasil karya nyata itu yang dijadikan dasar penilaiannya

  23. Dyah Sujiati says:

    Kebayang Nana beneran lagi ngobrol sama nyak n babenya :mrgreen:

    Lha pak kalau syaratnya cuma sholiha smart n stylish, sih, temen saya bejibun! Cuman mereka tak tertarik ikut kontes yang tak bermanfaat seperti itu. 😀

  24. jampang says:

    penilaiannya hanya berdasar pada apa yang dbisa dilihat dan didengar. sedang akhlak dan predikat sholehah itu haruslah berkesinambungan, bukan hanya di saat kontes doank

  25. penuhcinta26 says:

    Dalem banget diskusinya ya. Makasih nasihatnya,ya cak.

  26. Setuju sekali, pak. Hal seperti ini yang sudah menjadi uneg2 saya sejak lama. Asal muasal diadakan kontes world muslimah ini kan untuk tandingan miss2 an yang tanpa hijab. Untuk memberi wadah bagi muslimah yang ingin “tampil cantik” dan dapat penghargaan dari “penampilannya” tersebut. Untuk mudahnya, kalau ada dua kontestan dengan prestasi yang sama, aktivitas yang sama, pakaian sama, tetapi yang satu cantik dan yang lain tidak, pasti yang terpilih yang cantik dan fotogenik. Mari kita lindungi anak2 perempuan kita dari ghowzul fikri seperti ini. Saya ijin share tulisan berharga ini, pak.

  27. Rawins says:

    Namanya jaman kapitalis. Agama pun dijadikan komoditi. Biarin dibilang berburuk sangka, tapi aku ga yakin kalo acara itu dibikin tanpa memperhitungkan keuntungan buat penyelenggara.

    Unsur jualan badan masih tercium baunya. Musti hati hati tuh pemenangnya jangan-jangan tar ditawar sama amat patonah, hehe maap…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: