Home » Ghazwul Fikri » Dialog Ortu-Anak: Video Mesum Anak SMP [#1]

Dialog Ortu-Anak: Video Mesum Anak SMP [#1]

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

[ UU Pornografi dan UU ITE telah memuat hal tentang pidana yang akan diperoleh orang-orang yang turut berpartisipasi mendukung pornografi. Mulai dari orang yang memproduksi foto dan video porno, menjadi modelnya, menyebarkan, memperdengarkan, memanfaatkan, memiliki, dan lain sebagainya. ]

.

Bismillah …

Selepas sholat Isya’, sang ayah bersantai di ruang tamu membaca koran online. Berita yang menjadi headline di hampir semua media nasional hari ini bikin miris siapapun orang tua yang membacanya: “Ada 10 Siswa SMP di Jakarta yang Terlibat ‘Syuting’ Video Porno”. [Berita Indosiar]


Yang lebih parah lagi, menurut berita JPNN, video porno tersebut telah tersebar luas melalui jejaring sosial dan broadcast BBM (Blackberry Messenger). Padahal beberapa hari yang lalu juga heboh berita tentang pornoaksi siswa dan siswi SMP bergoyang kimcil di kelas, meniru gerakan hubungan intim, dan disaksikan teman-temannya.

Adanya peristiwa memalukan tersebut, membuat sang ayah merasa kuatir bila hal konyol akibat serbuan pornografi di negeri ini juga menimpa pada putrinya. Maka malam itu, setelah memastikan putrinya tidak sibuk dengan tugas-tugas sekolah besok, sang ayah mengajaknya berbincang-bincang santai di ruang tamu.


“Nadia, apakah sudah tahu kalau hari ini ramai berita tentang perbuatan asusila yang dilakukan oleh anak-anak SMP di dalam kelas di salah satu sekolah di Jakarta?” tanya ayah memulai bincang-bincang malam itu.

“Iya, tadi siang saya sudah baca beritanya. Sungguh memalukan.”

“Berita itu jadi heboh karena kabarnya videonya menyebar luas via broadcast. Apakah Nadia juga mendapat kiriman videonya?”

Nadia kaget mendengar pertanyaan ayahnya seperti itu. Tapi ia tidak mungkin harus berbohong mengatakan tidak mendapat kiriman video, mengingat di era push-information yang saling terhubung di jejaring sosial, seseorang tidak bisa menolak informasi yang datang dari lingkaran dalam group-nya atau jaringannya. Ayahnya pasti tahu akan teknologi ini.

“Ya, ayah, saya menerimanya tadi siang, ada temanku yang nge-broadcast link video yang mengarah ke sebuah laman facebook, parahnya sampai tadi sore laman facebook tersebut telah di-shared hampir 2600 kali dan dikomentari oleh ribuan facebookers.”

“Berarti kamu sudah menontonnya ya?”

Nadia hanya terdiam dan mengangguk.

“Ayah senang kamu jujur. It’s okey. Lantas bagaimana sikapmu setelah menerima link-nya dan menontonnya?”

“Hmm… sampai sekarang Nadia masih ngerasa kaget aja sih, yah. Masak anak masih SMP sudah berani begituan sama temannya… di depan teman-temannya yang make jilbab lagi, mereka ketawa-ketawa kayaknya mereka nih sudah gak aneh melihat yang begituan. Dooohh.. keterlaluan sekali, yah. Masak gak ada satupun diantara mereka yang negur pelakunya dan yang ngambil videonya?!”

“Trus bagaimana menurutmu terhadap mereka yang nyebarin video itu?”

“Saya udah ninggalin komen di facebook itu, yah, ngingetin mereka bahwa baik yang ngunggah maupun nyebarin video dengan apapun alasannya itu tindakan yang bodoh. Di mana hati nurani mereka? Apakah mereka gak mikirin perasaan keluarga si anak pelaku mesum itu?” kata Nadia dengan menahan geram.

Memang, beberapa kali ayah dan ibunya Nadia menyampaikan pencerahan kepada putrinya itu akan bahayanya perbuatan zina dari kacamata agama, psikologi, kesehatan dan sosial. Dalam setiap periode pertumbuhan usianya, orangtuanya memberikan materi Pendidikan Seks dengan kemasan bahasa yang baik tapi santai, sesuai dengan daya tangkapnya dalam periode usia tersebut. Dan kini Nadia sudah mulai tumbuh remaja, maka sang ayah ingin menyampaikan pencerahan soal zina ini dari sisi hukum.

“Mari brainstorming… menurut Nadia, mengapa adik-adik SMP itu bisa berani berbuat seperti itu?”

“Biasanya sih mereka berbuat seperti itu ya karena meniru apa yang pernah mereka lihat, yah”

“Nah, mengapa mereka bisa mudah melihatnya?”

“Menurut pengamatan Nadia selama ini, di Twitter dan Facebook banyak sekali lho materi foto dan film porno. Jangankan anak SMP, yah, anak SD aja udah bisa bikin akun di sana. Begitu juga dalam lalu lintas broadcast BBM dan grup chatting lainnya hingga pertukaran materi porno dari hape-ke-hape via bluetooth. Saya pernah nanya ke temanku, darimana dapat film atau foto gituan, ia bilang dari beli di temannya, dan kemudian materinya di-transfer via bluetooth. Tapi jangan kuatir, yah, Nadia udah kebal kok dengan materi-materi begituan yang lebih banyak mudharatnya”

“Kalo di jejaring sosial dan grup chatting begitu mudah didapat, apakah menurutmu upaya pemerintah dengan memblokir situs-situs porno itu cukup efektif?”

“Kalo faktanya bahwa film dan foto porno makin tumbuh subur di internet, maka ya gak bisa dong dibilang efektif …. Kalo pemerintah bilang telah bekerja keras dan sukses memblokir ribuan atau bahkan mungkin jutaan situs porno, tapi nyatanya mereka masih bisa mengaksesnya menggunakan proxy free atau add-ons browser untuk meng-off-kan filter sehingga situs tersebut bisa dibuka secara normal. Mestinya pemerintah juga paham dong akan teknologi ini. Kalo otaknya udah mesum, yah, orang awam komputer yang hobby-nya nonton gituan pasti pada blingsatan nyari tahu gimana caranya bisa nembus situs yang diblokir. Tinggal search di google, jebreeet… langsung deh dapat tutorialnya. Kalo nontonnya gak lewat situs-situs yang diblokir itu, mereka pun cukup menikmatinya via Twitter, Facebook, atau grup chatting… bejibun, yah”

“Meski upaya pemerintah itu masih dirasa belum efektif, paling tidak kita harus apresiasi atas upayanya memblokir situs-situs porno, daripada gak ada action sama sekali. Ya minimal bisa memperkecil dampak. Naah, menurut Nadia, langkah taktis apa yang seharusnya diambil?”

Nadia terdiam dan sepertinya berpikir keras. … Tidak perlu menunggu lama akan usulan solusi dari Nadia, sang ayah mencoba memancing untuk mencairkan kebekuan.

“Okey, gini aja … mari kita bedah dulu akar masalahnya… agar kita dapat gambaran solusi yang tepat. Kita coba bedah dulu, yang pertama, apa yang mendorong semakin banyaknya materi porno di internet, sehingga menjadi bahan eksperimen oleh yang nonton. Setelah itu, yang kedua, kita bedah mengapa anak-anak itu gampang melakukan eksperimen yang konyol itu,” kata sang ayah.

Setelah meneguk teh dalam cangkir, sang ayah melanjutkan bicaranya, “Ayah ingin gambaran solusi yang kita rumuskan dalam bincang-bincang malam ini bisa kamu teruskan dalam forum yang lebih luas bersama organisasimu. Okey, yes?”

“Siapp!!”

| Apa Yang Mendorong Suburnya Materi Pornografi Di Internet?

“Menurut Nadia, apa yang mendorong materi pornografi itu makin menjamur di internet?”

“Hmm… apa ya… sementara belum dapat gambaran, yah”

“Salah satu faktor utamanya adalah prostitusi. Coba Nadia baca berita di Tempo ini,” kata sang ayah sambil menyodorkan ipad yang layarnya sudah menampilkan berita: Prostitusi di Jejaring Sosial Makin Marak.

Setelah ada tanda-tanda Nadia selesai membaca keseluruhan isi berita tersebut, sang ayah berkata:
“Twitter dan Facebook menjadi media sosial yang banyak menarik orang untuk menunjukkan eksistensinya, dan banyak diantaranya yang mengundang followernya dengan cara yang berseberangan dengan etika. Salah satunya adalah dengan memposting foto-foto telanjang. Mereka ada juga yang berprofesi sebagai pelacur. Mereka itu tidak menjadikan media sosial sebagai alat untuk berteman atau bertukar informasi, namun menjadikannya sebagai alat untuk menjajakan dirinya dan menjaring klien. Para germo pun juga gak sedikit yang memanfaatkan media sosial untuk ngiklan orang-orang yang diperdagangkannya.”

“Mereka yang telanjang di sosmed itu tahu gak sih, yah, kalo yang mem-follow akun mereka itu juga ada yang masih SD atau SMP?”

“Nah itu masalahnya, … mereka sudah mati nuraninya”

“Kalo dari kacamata hukum, prostitusi di sosmed itu gimana, yah?”

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah Prostitusi adalah pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan. Berkaitan dengan prostitusi, KUHP mengaturnya di pasal 296 dan 506.”

KUHP
Pasal 296
Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak lima belas ribu rupiah.
.
Pasal 506
Barang siapa sebagai mucikari (souteneur) mengambil untung dari pelacuran perempuan, dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan.

“Lah, kalo mereka bisa bebas seperti itu di internet apakah juga bisa dijerat secara hukum, yah?”

“Kegiatan prostitusi itu saja sudah melanggar hukum, maka yang namanya menawarkan jasa seks komersial meskipun lewat internet ya tetap saja melanggar hukum”

“Hmm.. tapi sepertinya pasal tadi ditujukan untuk mucikari atau germo. Lantas bagaimana jika pelacur tersebut menawarkan seks tanpa germo atau perantara?”

“Memang dalam KUHP, hal itu bukan merupakan pelanggaran pidana. UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juga tidak memasukkan pasal mengenai prostitusi. Satu-satunya cara menjeratnya secara hukum adalah dengan menggunakan UU Pornografi dan pasal 27 UU ITE, itupun jika pelacur tersebut memasang foto telanjang atau melanggar asusila di akun media sosialnya.”

“Jadi, aksi mengunggah foto-foto telanjang di Twitter, Facebook, situs atau blog itu bisa dijerat hukum ya, yah, meskipun bukan bertujuan untuk praktek prostitusi, tapi sekedar posting iseng atau untuk meningkatkan pendapatan ads-sense via situs porno yang dibuatnya?”

“Ya, sangat bisa. Hal itu sudah diatur dalam UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Coba Nadia baca apa yang dimaksud dengan pornografi dalam undang-undang tersebut,” kata ayah sambil menunjukkan materi UU Pornografi.

UU Pornografi
Pasal 1
(1) Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.
(2) Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang cetakan lainnya.”

Setelah Nadia selesai membaca pasal 1 tersebut, sang ayah berkata:
“Berdasarkan definisi tersebut maka tindakan mengunggah foto yang secara eksplisit memuat ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan di jejaring sosial adalah bentuk pornografi. Kemudian tentang aturan larangannya, coba Nadia bacakan pasal-pasal berikutnya”

“Ada di pasal 4 dan 8, yah!” seru Nadia.

“Okey, silakan bacakan,” perintah ayahnya. Nadia kemudian membaca pasal-pasal tersebut.

UU Pornografi
Pasal 4
(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: … (d). ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan”
(2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: …(a). menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan”
.
Pasal 8
Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi.”

“Nah, sudah cukup jelas khan?! … Tindakan mengunggah foto di jejaring sosial itu selain berdosa besar juga melanggar ketentuan UU Pornografi. Namanya larangan, pasti ada konsekuensinya dong bila melanggar. Coba Nadia telusuri pasal-pasal berikutnya untuk sanksi pelanggarannya.”

Nadia menelusuri kembali pasal-pasal berikutnya … “Ada di pasal 29, 34 dan 36, yah!” seru Nadia.

“Okey, silakan bacakan,” perintah ayahnya. Nadia kemudian membaca pasal-pasal dalam UU Pornografi tersebut.

UU Pornografi
Pasal 29
Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).”
.
Pasal 34
Setiap orang yang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”
.
Pasal 36
Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”

Selepas Nadia membacakan pasal-pasal tentang sanksi tersebut, kemudian sang ayah berkata: “Karena medianya adalah internet maka tindakan mereka ini bisa dijerat atas pelanggaran UU ITE”

“Waah, bisa kena pasal berlapis tuh.”

“Okey, silakan bacakan pasal 27 UU ITE ini,” kata Ayah sambil menunjukkan materi UU ITE yang sudah tersaji di layar ipad kepada Nadia.

UU ITE
Pasal 27
(1). Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”
.
Pasal 45
Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Selepas Nadia membacakan pasal-pasal UU ITE tersebut, kemudian sang ayah berkata: “Jelas bahwa UU Pornografi dan UU ITE telah memuat hal tentang pidana yang akan diperoleh orang-orang yang turut berpartisipasi mendukung video porno. Mulai dari orang yang memproduksi, menjadi model, menyebar, memperdengarkan, memanfaatkan, memiliki, dan lain sebagainya“.

“Iya, yah. Bisa jadi selama ini mereka menganggap posting materi porno itu biasa – biasa aja, padahal konsekuensinya ngeri banget”.

“Termasuk yang ikut nge-share video mesum anak SMP itu”.

“Nahh… itu dia, yah, apakah si pembuat, model pelakunya, dan pengunggah video mesum SMP gak takut dipidana? Apakah ribuan Facebookers yang mencet tombol share tersebut gak takut dipidana pula?”

“Untuk itulah tugas kita semua mengingatkan informasi adanya rambu-rambu dalam KUHP, UU Pornografi, dan UU ITE yang berkaitan dengan kegiatan yang mengandung pornografi.

Jadi, kesimpulan pembahasan pertama ini kalo dirunut menggunakan metoda Five Whys Analysis adalah sebagai berikut:

  1. Mengapa anak-anak SMP itu berani melakukan adegan begituan? Karena ingin eksperimen.
  2. Mengapa mereka ingin eksperimen? Karena tergoda ingin bisa melakukan apa yang pernah mereka lihat.
  3. Mengapa mereka tergoda melakukan apa yang pernah mereka lihat? Karena setiap hari otaknya dibanjiri materi pornografi dari internet.
  4. Mengapa banjir materi pornografi di internet? Karena bebasnya praktek prostitusi dan aksi posting materi porno di internet.
  5. Mengapa bebas praktek prostitusi dan aksi posting materi porno di internet? Karena kurang edukasi materi KUHP, UU Pornografi, dan UU ITE.
  6. .. dan seterusnya pertanyaan ini berlanjut, dan jawaban atas pertanyaan ini bisa bercabang, sehingga semua komponen masyarakat akan merasakan tanggung-jawabnya masing-masing.

“Okey, yah, berhubung darurat sifatnya, mulai sekarang kalo saya temui ada orang yang mengunggah materi porno di jejaring sosial termasuk yang sekedar nyebarin materi porno saya akan laporkan”

“Good! .. Laporkan saja ke Penyidik POLRI maupun Penyidik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Sub Direktorat Penyidikan dan Penindakan Direktorat Keamanan Informasi). Jangan lupa lampirkan bukti URL situs dan akun jejaring sosial yang merusak generasi penerus bangsa ini.[1] Itu aksi yang paling ringan dan mudah.”

“Ayah, mungkin gak kalo aksi penyebaran video mesum itu bisa dihentikan?”

“Himbauan untuk menghentikannya ya tetap saja kudu disampaikan, meski itu efeknya masih kecil. Karena perilaku masyarakat kita begitu anomali. Satu-satunya kunci menghentikannya adalah tegakkan UU KUHP, UU Pornografi, dan UU ITE, beri efek jera ke pembuat dan penyebar. Kalo tidak, coba bayangin… satu materi saja sudah di-shared oleh lebih dari 2600 pemilik akun FB. Kemudian diantara sekian ribu akun itu pasti punya dong yang namanya follower, siapa yang bisa jamin kalau semua followernya itu baca himbauan untuk gak ikutan nge-share. Ibaratnya seperti jejaring MLM, begitulah video itu tersebar. Itu baru FB, belum media lainnya. Begitu mahal dosa sosial yang harus dibayar oleh para pelaku.”

.
| Mengapa Anak Masih ABG Melakukan Eksperimen Konyol?

“Sekarang ke pembahasan yang kedua, mengapa anak-anak SMP itu kok sepertinya gak ada rasa risih melakukan adegan yang hanya pantas dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah itu. Menurutmu kenapa bisa begitu?”

“Hmm… namanya masih pemikiran anak-anak, pengen dianggap jagoan kali, yah”

“Memang. Anak dimasa ABG sering kali foolish, bereksperimen tanpa pikir panjang akibatnya. Ini terkait dengan proses perkembangan otak: dimana prefrontal cortex-nya masih baru mulai berkembang. Anak di usia itu sudah mulai mengenali konsekuensi, namun ketika ada hal baru yang menarik untuk dicoba dan itu dilihatnya berulang-ulang, mereka belum mampu menimbang antara manfaat dan mudharatnya.”

“Yang saya heran itu kok ya mereka itu gak ngerasa risih ditonton banyak temannya. Selain kasus SMP 4, juga kasus goyang kimcil. Terlihat jelas dalam video itu, yang nonton juga gak risih, malah ngedukung, ngasih applause, dan ketawa-ketawa, seakan-akan itu hal yang biasa ditontonnya.”

“Tiga tahun yang lalu ada kasus video porno yang melibatkan tiga artis; di pengadilan mereka terbukti bersalah. Si lelaki harus menjalani hukuman di penjara sekian tahun. Setelah bebas, ia mendirikan band baru, dan kini banyak mendapat dukungan dan dielu-elukan sebagai popstars. Begitu juga dengan dua artis perempuannya, masih muncul di layar televisi. Apakah mereka merasa risih? Kalo jaman dulu sih, orang seperti mereka sudah mengasingkan diri sampai akhir hayatnya, saking malunya. Artinya secara perang pemikiran budaya permisif sudah terbangun di masyarakat kita atas pembelaan bahwa perbuatan zina adalah urusan privat. Itu khan yang didengungkan oleh JIL (Jaringan Islam Liberal)? Bagaimanapun juga pemikiran ini mempengaruhi banget loh … terutama anak-anak kecil yang belum paham, dan sekarang terbukti oleh anak-anak SMP ini.”

.
| Siapa Yang Bertanggung Jawab?

“Dalam kasus yang memalukan ini siapa yang bertanggung jawab, yah?”

“Perbuatan mereka ini murni tanggung jawab kita semua, Nadia. This is a serious case, because they are our future! Mulai dari pemerintah, orangtua, pihak sekolah, guru, hingga masyarakat luas termasuk kita yang di ruang tamu ini harus tanggung jawab. Untuk bisa mengambil peran dan tanggung jawabnya, kalau hanya sepotong-potong memandang kasus ini, maka yang keluar adalah usulan-usulan normatif yang tentu saja tidak akan efektif dan rentan terulangnya kejadian yang sama. Faktanya, betapa sering kasus-kasus pencabulan yang dilakukan anak-anak ABG seperti ini di masa lalu.”

“Usulan-usulan normatif itu seperti apa sih, yah?”

“Misalnya ada yang mengusulkan dilarang membawa ponsel di sekolah. Pertanyaanya, berapa banyak perbuatan bejat seperti itu dilakukan tanpa direkam? Lha kok ponselnya yang disalahin.

Kemudian ada yang mengusulkan di sekolah hanya boleh menggunakan ponsel tanpa kamera. Yaelahh.. masalahnya bukan soal ponsel yang berkamera. Lihatlah laporan survey berapa persen anak pelajar yang sudah tidak perawan? Ngeri baca laporan survey-nya, Na [Surabaya Post].
Kemudian Bapak Mendikbud mengusulkan pemasangan CCTV di sekolah. Pertanyaannya, apa si bapak yang mengusulkan itu gak tahu kalo perbuatan bejat itu bisa dilakukan dimana saja, tidak hanya di lingkungan sekolah? Bisa di rumah, di kebon, di hutan, di rumah kosong, di kuburan, dan lain-lain.
Semua usulan normatif itu silakan dilaksanakan, tapi itu TIDAK menyelesaikan akar permasalahan. Mereka sebaiknya serius menggunakan metoda Five Whys analysis seperti yang kita simulasikan tadi agar mendapatkan akar permasalahan yang tepat dan solusi yang mendekati efektif. Yang kita diskusikan malam ini baru dua cabang dari Five Why Analysis lho, belum menyentuh di sisi lainnya di luar hukum. Berhubung waktunya sudah larut, gimana kalo kita lanjutkan besok malam bincang-bincangnya?”

“Okey, yah, Nadia coba kumpulkan bahan-bahannya dulu”

…..
…..

Sebagai penutup dan refleksi bersama.
Pihak sekolah, guru dan orang tua lebih baik mengubah cara mendidik anak agar memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Para orangtua jangan merasa tenang dan yakin dengan penampilan anak gadisnya yang serba tertutup, juga putranya yang tampak dari luar begitu alim. Dalam kasus video mesum ini mereka menggunakan pakaian yang tampak alim dari luar. Mari kita menginvestasikan waktu yang berkualitas untuk mendidik akhlak putra-putri kita di rumah.

B E R S A M B U N G …

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
28.10.2013

.
———-
[1] Agar diproses secara hukum, Laporan Pengaduan ke Polri:
http://www.polri.go.id/laporan-all/lpm/adu/
Tujukan ke Penyidik Polri atau Twitter: @DivHumasPolri
Catatan: cybercrime@polri.go.id email ini bukan milik Polri.

Untuk pemblokiran, Laporan Pengaduan ke Kominfo:
aduankonten@mail.kominfo.go.id
Tujukan ke Penyidik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Sub Direktorat Penyidikan dan Penindakan Direktorat Keamanan Informasi).
Twitter: @kemkominfo

Advertisements

89 Comments

  1. […] lebih yang lalu, saya pernah mengulas soal ini dalam jurnal: Dialog Ortu-Anak Tentang Video Mesum Anak SMP, di situ bicara soal pornografi di internet, juga dipaparkan tentang konsekuensi / jerat hukum […]

  2. shinta dewi says:

    anak saya umur 7 thun pak,sy tdk memberikan hp ataw smartphone,tp betapa kaget y ketika anak saya bercerita pernah melihat video porno meski tdk sampai selesai,bagaimana cara y mengatasi ataw menerang kan kalau yg di liat dia itu tidak baik,sy panik pa sampe bingung pdhl selama ini wktu sekolah pdat ,maupun sekolah mengaji y saya takut dia penasaran ,mohon pencerahan y pak sebelum y terimakasih

  3. Tyas says:

    Waaah, thanks banget ya atas banyak info yang ada di blog ini, berguna banget!!! Haha bener2 nambah wawasan hehe thanks yaaa

  4. IDcopy says:

    bagus artikelnya sangat cocok dijadikan bahan obrolan dgn ponakan yg masih mau ABG

  5. Ina says:

    menyimak baca pelan pelan…. mirissss 😦
    duh anak2 sekarang gak ero wedi yah. budaya malu udah hilang.

    masih terheran2 betapa kita bangsa yg ‘pemaaf’, si A dan LN setelah kena masalah itu malah populer dan semakin bisa diterima. nggak ada hukuman moralnya deh jadinya

  6. Aku juga dapet cerita langsung dari seorang anak yang kenal dengan si cewek pelaku tersebut…

    Benar2 mengkhawatirkan karena dunia berada dalam genggaman sekarang. Kalau ngga bisa memilah milih yang baik, banyak sekali pengaruh buruk internet bagi kita. Contoh kecil, mau donlot video untuk lagu aja, yang muncul malah gambar game untuk usia 18 tahun ke atas… Kalau yang nemu anak2 remaja yang lagi banyak pengen taunya, bisa aja diklik itu game.

    Dan tentunya pengaruh keluarga sangat besar dalam hal ini…

  7. Damas Aunul Kholiq says:

    Assalamu`alaikum Mas, saya terkesan sekali dengan tulisan anda. Saya masih agak kurang srek karena pembahasan kasus ini dalam sudut pandang psikologisnya kurang luas. Di berita berita tertera bahwa si anak perempuan merupakan kakak kelas dari teman teman yang ada di kelas itu. Apa yang menyebabkan si kakak kelas nurut disuruh suruh oleh adik kelas? mengapa dia lebih intens bergaul dengan adik kelas dibanding teman sekelas atau seangkatannya? Lalu di berita berita juga tertera bahwa dia akan mengikuti olimpiade fisika. Nah, berarti dia adalah anak yang pintar. Mengapa anak yang aspek kogntitifnya baik bisa sampai melakukan hal bodoh seperti diatas, mas? mohon penjelasannya 🙂

    • Wa’alaikumsalam, mas Damas Aunul Kholiq. Terimakasih atas pertanyaannya yang menarik.
      Sebelum saya jawab ada baiknya saya beberkan pengakuan dari pihak AE dan FP:

      1. AE adalah siswi yang berprestasi, setiap tahun selalu menjadi murid terbaik.
      2. AE selalu mewakili lomba fisika di DKI Jakarta.
      3. AE sempat mengeluh, selesai lomba dan dia naik kelas ingin pindah sekolah.
      4. Dalam setiap kesempatan mengikuti lomba, tidak ada guru ataupun teman yang mengantarkan AE. Sedangkan setiap peserta lain selalu diantar guru dan temannya.
      5. Semenjak bulan Juni 2013 terjadi penurunan dari nilai-nilai rapot milik AE, dan AE sudah menyampaikan permintaan pindah dari bulan itu juga.
      6. Orangtua AE sedang berusaha mendapatkan beasiswa di keduataan agar AE bisa bersekolah di luar negeri.
      7. AE dan FP Jadian Awal bulan September.

      Menurut catatan kepolisian, mereka melakukannya sebanyak 5 kali dalam 3 hari:
      Pertama – 24 September di dalam kelas.
      Kedua – 25 September di dalam kelas jam 08.00 WIB.
      Ketiga – 25 September di dalam kelas siang hari.
      Keempat – 25 September di dalam kelas sepulang sekolah.
      Kelima – 27 September di dalam kelas usai pulang sekolah.

      Jadi, kalau memang benar pada tanggal 13 September ada pemaksaan (bully-ing), mestinya segera lapor polisi atau guru, atau paling tidak si AE berupaya untuk menjaga jarak dengan mereka, sehingga tidak terjadi peristiwa tgl 24, 25, dan 27 September.

      Nah, pertanyaannya:
      – Mengapa AE tidak segera melapor kalo memang benar sebelumnya ada bully-ing?
      – Mengapa AE selaku kakak kelas nurut sama adik kelasnya?
      – Mengapa AE lebih intens bergaul dengan adik kelas dibanding teman sekelas atau seangkatannya?
      – Mengapa anak yang aspek kogntitifnya baik bisa sampai melakukan hal bodoh seperti diatas?

      Penyelidikan kasus ini harus dikembangkan, jangan hanya berpusat pada AE dan FP, tetapi juga pada A si perekam dan Terduga Dalang kasus ini, juga teman lainnya sperti CN, CD, DN, IV, dan WW. Mereka semua harus ditetapkan sebagai terduga pelaku tindak asusila; agar memudahkan penyidikan.

      Sementara kasus ini sedang dalam penyelidikan, analisa saya sementara adalah:
      AE tidak mempunyai keberanian berkata: TIDAK.
      Meskipun cerdas dan berprestasi, namun secara mental AE lemah, ia tidak mampu melepaskan pengaruh teman-temanya (yang tidak menyukai AE), sehingga kejadian asusila itu terjadi berulangkali.

      Keberanian untuk mengatakan: TIDAK itu bisa dibentuk sejak dini.
      Sebelum terlambat, mari ajarkan anak – anak kita untuk berkata/bersikap: “TIDAK!” bila melihat atau berada dalam kondisi yang tidak wajar. Tidak mudah memang, karena itu butuh dibangunnya komunikasi yang baik dalam keluarga.
      Silakan simak jurnal saya: Nak, beranilah berkata TIDAK kepadanya.

  8. salut dengan cerita pak Iwan. informatif.mohon maaf pak saya belum bisa memenuhi janji saya dulu tentang cerpen tolak miss world sebab sibuk terus dan barusan KKN kuliah.
    dari dulu saya pingin bertanya begini pak:” realistis nggak sih anak remaja berpikir? dalam cerita ini banyak kisah Nadia yang pintar dan berhati nurani. saya baca di novel-novel dan cerita remaja, anak remaja isinya cuma pacaran, TV, lagu, game dan PS. jarang ada anak muda yang membicarakan ilmu pengetahuan dan pemikiran. saya bertanya begini karena saya juga menulis cerpen pengetahuan. misalnya dulu cerpen blog atau matematika. takutnya nanti cerpennya gak realistis dan ditolak masyarakat.
    singkatnya: apakah realistis anak remaja sudah bisa berpikir mendalam? lalu bolehkah menulis cerita tentang anak muda yang pintar dan cerdas? sebb belum pernh ada cerita seperti itu.
    mohon maaf kalau ada tutu kata yang salah atau menyinggung perasaan. o iya saya membahas ini dalam cerpen http://winterwing.wordpress.com/2013/10/31/cerpen-sastra-gak-realistis-blas/

    • Ini pertanyaan yang sangat bagus, mas Wahyu, dan ijinkan saya sharing di sini.

      Dulu saat saya menjadi duta kompetisi lomba pemrograman tingkat Asia Pasific di Malaysia, bersama saya ada bocah kakak-adik, berusia 13 tahun dan 7 tahun. Kakak beradik tersebut menjadi juara Indonesia untuk kategori mobile programming, makanya dikirim ke tingkat Asia Pasific. Saat diwawancarai disana, ia begitu cerdas menyampaikan dalam bahasa Inggris dihadapan para reporter, tentang bagaimana masa depan ICT di Indonesia dan bagaimana peran dia nantinya yang dicita-citakan.
      Bocah tersebut di usia 12 tahun sudah menjadi programmernya Nokia Finland. Di usianya yg ke-13 tahun ia sudah ngajar dan mempunyai murid sekitar 80-an orang.

      Saat saya ngobrol-ngobrol kepada mereka berdua (saat dinner), anak itu begitu cerdas menangkap alur pembicaraan dan aktif berbicara. Ini juga terlihat dari presentasi dan tanya jawab di hadapan para juri dalam bahasa Inggris.

      Nah, kakak beradik itu juga menciptakan program aplikasi Islami sehingga kemudian diajak oleh MUI untuk pengembangannya. Artinya secara ilmu keagamaan di usianya sudah bisa dikatakan di atas rata-rata.

      Silakan lihat dokumentasi perjalanan prestasinya di sini, ada foto saya di situ saat bersama mereka : https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2011/11/10/membangun-anak-dan-memprogram-masa-depan-keluarga/

      Kembali ke soal dialog imajiner dalam blog ini, Nadia digambarkan berusia 18 tahun, artinya saat itu adalah siswi kelas 3 SMU. Seharusnya para aktivis Rohis di sekolah itu kritis dan peka saat memasuki masa SMU. Sehingga mampu menahan gempuran-gempuran racun hedonism, sekularism, dan liberalisme di usianya. Karena racun-racun tersebut sudah menyerang di usia mereka yang memakan masa depan mereka, bahkan sudah menyerang di tingkat SD/SMP. Bayangkan kalau mereka tidak diajak untuk kritis, maka mereka hanya akan menjadi korban orang dewasa kapitalis.

      Jadi, bagi saya gambaran remaja yang slengekan dan mudah ikut arus (kerjanya cuma pacaran, TV, lagu, game dan PS) itu adalah remaja kuno, primitif, harus ditinggalkan kalo tidak ingin malu, remaja tersebut kelak hanya menjadi penonton peradaban. They must Change!

    • makasih. kita sebagai pencerita harus aktif mengubah memperbaiki remaja lewat cerita dan karakter remaja yang revolusioner.

  9. Nia says:

    Perubahan semacam ini terjadi begitu cepat, mungkin beberapa thn lalu pelajar masih takut2 skrg sudah berani. Jika terus begini, bukan tidak mungkin akan muncul kasus2 baru yang jauh lebih mengerikan.

    Saya rasa ini juga terjadi dari kurangnya komunikasi orang tua dan anak sehingga apa yang pernah ditanamkan pada orang tua tidak diteruskan pada anaknya (mungkin khawatir ajarannya dianggap tidak relevan lagi).

    Maka itu Pak Iwan memunculkan dialog ortu anak, dengan maksud pentingnya komunikasi/pendekatan dalam keluarga 🙂

    CMIIW ^_^

    • Betul, dialog ortu / anak seperti ini adalah media untuk membangun peradaban yang baik dimulai dari keluarga.

      Penyebab kasus-kasus yang mengerikan itu karena juga sistem pendidikan yang dipakai tak kalah mengerikannya itu bisa disimak pada jurnal setelah ini. Selamat menyimak ya, mbak Nia, semoga bermanfaat.

  10. anazkia says:

    Baca berita pertama di kompasiana, menyedihkan sekali.

    Apa benar kepala sekolah tersebut di pecat? Anak muridnya juga dipecat?

  11. […] mas iwan selalu inspiratif, tema terakhir adalah tentang pornografi.. duh deh yah, punya anak masih esde-esempe-esema mendingan ga udah dikasih bb ato smartphone gitu, […]

  12. lambangsarib says:

    Saya dapat video itu 5 hari sebelum pemberitaan pak. Ngeriii……… Hampir2 tak mempercayai kalau itu di Indonesia.

    Susah berkomentar.

  13. Kalo kata mas ipho, dibanding korea, kita (Indonesia) mgkn lebih religius. Sayang, nilai2 itu tidak dibawa dlm keseharian. Kita lebih mengutamakan petugas daripada integritas. Menurut pak Iwan?

    • Saya rasa tidak perlu dibandingkan dengan negara lain, namun demikian kita akui negeri ini masih belum pantas disebut sebagai negeri religius.

      Pendidikan seks, baik di dalam keluarga maupun sekolah, itu seharusnya lebih menanamkan pondasi iman yang kuat, pendidikan karakter yang kuat, dan menuntun penemuan jatidiri sebagai hamba Allah. Dari situ akan terbangun integritas yang kuat.

      Bukan pendidikan seks yang ditawarkan melalui program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ala UNAIDS. Materi dan metode penyampaiannya sangat liberal. Hanya fokus pada membekali remaja agar perilaku seksualnya ‘aman’ dan ‘sehat’ yakni terhindar dari risiko kehamilan dan bahaya penyakit menular seksual. Alih-alih membuat remaja berhati-hati agar tidak melakukan seks bebas, malah membuat mereka merasa aman-aman saja melakukannya karena bisa menghindari risiko.

    • Jikapun bisa dibilang religius, bangsa kita masih dalam tingkat ritual belum mengaktualisasikan religusitas itu dalam kehidupan kita

  14. Ani says:

    Saya sempat menghadiri diskusi menarik tentang masalah ini bgmn bangganya orang tua dan pendidik dengan anak2 yg melek teknologi informasi, SAYANGnya…kenyataan itu tidak didukung dengan ketatnya arus informasi yg buruk oleh yg berwenang, padahal ke2 hal itu harus seimbang. Juga banyak kondisi ortu lebih gaptek dari anak. Jadi alih2 senang, para pemerhati anak malah berduka cita dengan fakta ini, krn masyarakat kita sebelumnya TIDAK siap. Satu2nya cara adalah kita hrs mendidik ortu lain spy aware..krn, percuma anak sendiri aware tp sekitarnya tidak..butuh satu lingkungan untuk mendidik seorang anak..

  15. lieshadie says:

    Saking mirisnya saya gak berani buka video itu, yang sempat dikirimkan ke saya Pak…karena anak saya juga anak SMP..hikmahnya bagi saya..tetap waspada ..dan tak lengah untuk memperhatikan tingkah laku anak..di rumah dan di luar rumah

    • Kalau sudah membaca deskripsinya memang lebih baik jangan dibuka video-nya, meskipun secara masif mereka yang tidak bertanggung jawab itu menyebarkannya via broadcast, dan penyebarannya cepat seperti pola jejaring MLM. Apapun alasan penyebaran itu sungguh tidak beretika.

      Sebagai bagian dari tetap waspada adalah ortu jangan sampai gaptek dalam pemanfaatan gadget, kalo gaptek maka rentan dibohongi oleh anak. Ini tantangan semua orangtua.

  16. Miris ya pak. Semakin kemari memang konten sosial media tak bisa terbendung lagi dan tak terbatas penggunanya. Dulu waktu jaman SD saya pernah dapat semacam edukasi-seks, hanya sebatas pemberian informasi supaya para siswa bisa tau mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi sekarang? Betul sih pak, soal kasus video asusila beberapa tahun lalu itu menggambarkan sekali bagaimana reaksi kebanyakan orang Indonesia menyikapi tindakan tersebut. Sedih 😦

  17. jaraway says:

    fajar punya adik smp.. dan hal2 beginian bikin bener2 khawatir..
    baru kemarin juga diskusiin hal ini sama ibu,
    liat pas berita di tipi bapaknya si korban yang ada di video itu menangis kejer ketika diwawancarai..
    memang harus sering2 apdet kondisi anak2 seusia itu..
    dan sharing hal2 yang bikin mereka penasaran.. jangan sampe mereka nyari sendiri dan terjerumus

    nah, penelitian yang lebih parah, kalo ga salah ttg hampir semua anak seusia itu pernah “terpapar” pornografi

    kalo pemblokiran, dibandingkan zaman smp fajar dulu emang agak mending kalo dulu fajar smp tiap kali di warnet tiba2 ana iklan muncul dan ternyata adegan begitu.

    kalo sekarang ya lebih banyak kalo kita ngeklik baru kebuka..

    tapi ga tau juga ding..

  18. masm3t says:

    AE anak SMPN 4 Jakarta terlihat tertawa-tawa ketika videonya saya putar. Tapi setelah saya dengarkan dialog dan tingkah yang cowok, saya merasa ada yang janggal, ketawanya terpaksa. Dia melihat temannya ke atas penuh kebingungan.

    Tidak terlihat AE sebagai cewek nakal yang agresif dan menikmati adegan, malah dia sempat menepis tangan yang cowok.

    Menurut sumber yang jelas (sumber : Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait.) Video pertama dibuat pada 13 September 2013 dan video kedua dibuat pada 27 September 2013.

    Yang beredar, yang 4 menit tu yang 27 September, video yang 13 September (ada pemaksaan) indak beredar.

    AE pernah jadi juara fisika, dan karena kurang respon dari sekolah, ingin pindah. Tapi takdir berkehendak lain.

    Feeling saya, dari video+ berita : AE adalah korban ketidakberdayaan !!

    • Kasus ini harus benar-benar diusut sampai tuntas.
      Pertama, tangkap penyebar video pertama, harus bisa dikorek habis apa motivasinya, apakah sengaja mengelabui opini agar terkesan bahwa kejadian tersebut adalah suka sama suka.
      Kedua, polisi harus investigasi olah digital semua video yang telah dibuat mereka.

      Menurut catatan kepolisian, mereka melakukannya sebanyak 5 kali dalam 3 hari: [Merdeka.com]

      Pertama – 24 September di dalam kelas.
      Kedua – 25 September di dalam kelas jam 08.00 WIB.
      Ketiga – 25 September di dalam kelas siang hari.
      Keempat – 25 September di dalam kelas sepulang sekolah.
      Kelima – 27 September di dalam kelas usai pulang sekolah.

      Jadi, kalau memang benar pada tanggal 13 September ada pemaksaan (bully-ing), mestinya segera lapor polisi atau guru, atau paling tidak si AE berupaya untuk menjaga jarak dengan mereka, sehingga tidak terjadi peristiwa tgl 24, 25, dan 27 September.

  19. Sedih. Bingung mau ngomong apa…

  20. mamakay says:

    Terima kasih banyak mas iwan atas tulisannya yang begitu “menggugah” saya untuk lebih sering berdiskusi dengan putri2 saya kelak. Blh mnt arahannya bagaimana menyampaikan dan memberikan pendidikan seks dan menjaga diri yg pas untuk anak usia 6 th?slm ini sy selain menekankan menutup aurat dan memberi tau bahwa tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh organ sensitifnya selain dirinya sendiri dan saya mamanya (saking ketakutannya sy membaca berita pencabulan anak oleh org dkt,naudzubillah). Apa jawaban yg paling tepat saat anak sy menanyakan kenapa dia diajarkan keras utk menutup dan menjaga auratnya sementara di jalan2, televisi,media massa bny artis dan masy umum yang bebas mempertontonkan dirinya?mnt masukannya semua…sy ingin menggunakan konsep five whys analysis ini dlm bahasa sederhana dan masuk kepada anak sy spy dia memiliki kesadaran untuk membentengi diri sendiri….krn meski dibentengi agama mendalampun kenyataannya serbuan dari luar jauh lebih keras dan merusak…..sebelumnya trmksh bantuannya 🙂

    • Saran saya, untuk anak usia 6 tahun ajarkan seperti yang ditunjukkan oleh alam. Misalnya, mama nya membawa 2 buah permen, yang satu dibungkus, yang satunya lagi terbuka sekian lama.

      Kemudian bangun dialog dengan pendekatan Five Whys Analysis. Untuk itu harus mama-nya yang menggali pertanyaan secara runtut, agar kesadaran terbangun sendiri pada diri sang anak melalui jawaban-jawaban yang disampaikannya. Sehingga kesadaran itu akan terus tertanam, bukan karena terpaksa.

      Contoh dialog seperti ini: M = Mama; A = Anak.

      M : Adik, lihat permen ini. Adik mau memakannya?

      A : Nggak, ma?

      M : Kenapa gak mau?

      A : Jorok, ma.

      M : Kenapa ini disebut jorok?

      A : Karena adik lihat dari tadi permen ini dirubungin lalat.

      M : Kok bisa dirubungin lalat? sedang yang satunya nggak?

      A : Ya, iyalah, ma. Yang dirubungin lalat kotor itu khan karena gak ada bungkusnya. Yang satunya masih dibungkus, masih bersih, adik mau lah kalau yang itu.

      M : Memangnya kenapa kok adik gak mau permen yang habis dirubungin lalat?

      A : Lalat itu khan hinggap di tempat-tempat jorok, tempat sampah, kotoran. Habis itu tangan dan kakinya hinggap di permukaan permen itu…. ihhhh… jijik.

      M : Memangnya kalo permen yang jorok itu tetep dimakan apa sih akibatnya, dik?

      A : Ya, sakit perut lah, ma…. adik bisa mencret nanti. Khan dulu mama pernah ngajarin kalo adik gak boleh beli jajan sembarangan yang dijual terbuka, banyak lalatnya.

      M : Pinter anak mama. Itulah, mengapa adik harus pakai jilbab, selain itu perintah Allah, Allah yang sayang adik itu juga pengen adik tetap terjaga kesuciannya, terhindar dari tangan-tangan jahil. Seperti permen yang dibungkus itu.

      A : Terjaga kesucian itu apa sih, ma?

      M : Terjaga kesucian itu maksudnya gak boleh ada orang selain kamu dan mamamu yang pegang ini*… dan ini*. Kalo ada orang yang macam-macam padamu, adik harus lawan ya, kalo gak bisa… cukup teriak saja, bilang bahwa adik gak suka. Naah, supaya tidak ada orang iseng yang pengen pegang-pegang, maka, cara berpakaianmu harus sempurna, tertutup dengan baik. Ini, ini, ini, dan ini mu harus terjaga, gak boleh terbuka.

      A : Memangnya kenapa kalo ini* nya adik gak boleh dipegang orang lain, ma?

      M : Adik coba lihat permen ini setelah dikerubungi lalat seharian, dibandingkan permen satunya yang tertutup. Apa bedanya?

      A : Yang dikerubutin lalat jadi hancur warnanya, berair, rusak… gak enak dilihat, ma, ihhh…

      M : Nah, seperti itulah, kenapa ini* mu gak boleh dipegang, nanti bisa rusak. Kalo rusak, bisa masuk rumah sakit, seperti yang diberitakan di koran.

      *ini = ganti dengan sebutan yang enak didengar sesuai usianya, misalnya dengan menyebut “kemaluan”

      Saat ngaji sore/malam, baru saatnya ditunjukkan dalilnya dalam Al-Qur’an tentang keutamaan berjilbab, sambil mengingatkan dialog yang dibangun siang tadi (di atas). Tunjukkan dalil Al-Qur’an betapa sayangnya Allah terhadap hamba-Nya yang menaati perintah-Nya. Dengan demikan, sang anak akan tetap percaya diri bila melihat artis/orang lain di masyarakat yang tanpa jilbab.

      Tentang Pendidikan Seks pada Anak sudah saya sharing di jurnal ini. Selamat menyimak jurnal tersebut. Semoga bermanfaat ya, bu.

  21. debapirez says:

    td ada beritanya lagi, sang korban (perempuan) merasa di bully/dipaksa utk melakukan adegan itu. padahal sang korban merupakan siswi berprestasi. ah…jd sedih 😦

    • Berdasarkan investigasi tayangan dalam video, siswi tersebut kok bisa ketawa-ketawa, ngobrol lepas dengan teman di depannya yang ngambil gambar/video-nya.
      Tidak ada sedikitpun tanda-tanda siswi tersebut berada dalam tekanan.
      Piye?

  22. tinsyam says:

    sebenernya anak-anak itu butuh bb ga sih? kenapa masih esde bahkan esempe udah punya bb? sampe bisa ditransfer dan lihat segala simultan gitu sesama teman..
    blom lama juga ngobrol sama tante soal anak esempe ini.. kita sebagai orangtua yang kudu jadi “penyaring”, bukan sekolah.. guru mana tahu isi bb anak2 toh.. yang memberi bb kan pasti orangtua..

    *ini baru wadahnya bb doang kan.. belom fesbuk..
    **baca jebret-nya nadia ngakak.. udah bisa nih bahasa jebret..

    • Ini faktanya di era smartphone:
      76 Persen Kelas 4-6 SD di Jakarta Sudah Pernah Melihat Materi Pornografi [Detik News]
      Ngeri banget ya… Kalo tidak ada bimbingan, mereka pasti pengen banget dong, … nah, itu artinya ada “binatang buas” di luar halaman rumah kita yang siap menerkam anak-anak kita.

    • tinsyam says:

      warning untuk parah orangtua ini mas.. ini blom lama juga diobrolin sama sodara, kalu anak2 tidak perlu dikasih bb ato smartphone kalu masih sekolah.. orangtua ga bisa lepas tangan gitu aja.. kudu awasin anak2nya, ga bisa semua diserahkan ke sekolah ato lesles..

  23. nurme says:

    Pemerintah kenapa ga blok semua video seperti ini?memang susah ya?karena semakin menyebar malah semakin memberi contoh.

    Apalagi beberapa kejadian kan malah membuat si yang ada dalam video porno menjadi terkenal.

    • Kalo penyebaran via broadcast BBM dan Facebook, khan secara sistem gak bisa di blok, mbak. Lain halnya kalo disebarin via situs, maka situsnya bisa di-blokir.
      Lha kalo Facebook nya diblokir, para pemilik akun facebook yg gak bersalah, yg sinya baik-baik saja, maka akan ikut tidak bisa membukanya.

      Seperti yang saya bilang di jurnal ini, yang bisa menghentikan hanya ketegasan payung hukum UU Pornografi dan UU ITE, proses secara hukum yg membuat, pelaku, dan yg menyebarkan, hukum seberat-beratnya.

    • nurme says:

      Hukum di negara kita itu lemah sih Mas, yang jelas-jelas membunuh saja bisa lepas

  24. Yudhi Hendro says:

    Ternyata bahaya besar bangsa ini untuk generasi mudanya adalah pornografi. upaya-upaya yang perlu ditempuh:

    1. pendidikan reproduksi untuk remaja tampaknya perlu diberikan di sekolah-sekolah, terutama SMP dan SMA.

    2. untuk membuat jera pelakunya, perlu ketegasan dalam penerapan KUHP, UU Pornografi dan UU ITE.

  25. Erit07 says:

    Kayaknya pornografi memang sulit sekali di berantas ya…

    • Bisa dengan catatan. Seperti yang dibilang di atas, dengan membuat efek jera untuk situs-situs porno lokal, atau pemilik akun socmed lokal. Segala payung hukumnya sudah ada.

      Hal yang sulit adalah bila pengelola situs porno tersebut berada di negara asing, sementara internet sifatnya adalah menembus batas negara. Jadi, benar kalau sulit diberantas.

  26. abi_gilang says:

    Ternyata urusan share di broadcast bisa jadi urusan SERIUS yah? Baru tahu nih, makasih pencerahannya Pak Iwan. Jadi makin berat tugas orang tua sekarang ini untuk menjaga anaknya.

    • Betul, ibarat nerima email, siapapun tidak bisa menolaknya atau mem-filternya, kalo berada dalam grup jaringannya.
      Namanya anak-anak dan daya ke-ingintahuan-nya tinggi, ya besar kemungkinan pasti nge-klik link-nya.
      Dari diskusi tadi pagi, tetangga teman saya menemukan smartphone anaknya yg masih SD ada video porno-nya.
      Ada kecenderungan (dari hasil wawancara), seorang anak bila rajin membagi materi porno dalam grup chat-nya ia akan dianggap jagoan dan dirindukan oleh teman-temannya. Ini bahaya.

  27. five whys analysis: ilmu baru hari ini. Terima kasih buat sharingnya, Pak. Ditunggu kelanjutnya, nggih.. 🙂

    • Monggo dipraktekkan, mbak An, di situ sudah saya sertakan link-nya tentang Five Whys analysis.
      Cari saja contoh kasus terkini yang lagi hangat.
      Lakukan pertanyaan berdasarkan jawaban sebelumnya, kejar sampai mentok jawabannya, maka itulah benar-benar root cause-nya (akar penyebab). Jadi, gak asbun bicara soal penyebab masalah.

  28. Glekkk,…. pas baca, nggak bisa komen apa-apa lagi

  29. ruangimaji says:

    Astaghfirullaahal’adlim… sungguh menggiriskan fenomena yang terjadi sekarang ini. Kebebasan berekspresi telah menjadi kebebasan yang sebebas-bebasnya. Betul, kalau sudah terjadi demikian tentunya semua pihak harus mau bertanggung jawab, sesuai dengan seberapa besar peran yang telah mengakibatkannya.

    Kecanggihan teknologi di salah satu sisi berdampak positif, namun di sisi lain imbas negatifnya tak kalah besar, bahkan mengerikan. Sekolah sebagai institusi pendidikan, meski dengan waktu yang terbatas, seolah tak mampu menghadang munculnya perilaku negatif dari anak didiknya. Apalagi dengan tuntutan peningkatan kualitas lulusan yang kadang hanya diukur dari kuantitas lulusannya, menjadikan penanaman nilai moral agak tertinggalkan. Lantas sebagian orang tua, banyak pula yang terlanjur menyerahkan diri sepenuhnya atas pendidikan anak-anaknya kepada pihak sekolah, sehingga mengabaikan pendidikan budi pekerti di rumah.
    Jadi, tidaklah mengherankan bila akhirnya muncul “kreativitas” anak-anak kita seperti itu.

    Barangkali agar kasus semacam itu tak terulang adalah kesungguhan segenap pihak untuk memikirkan upaya pencegahan sedini mungkin dan melaksanakannya.

  30. Astagfirullah……
    Sebagai orang tua yang mendengar isu video anak smp jakarta, merasa miris dan geram dengan situasi sosial bangsa ini. Ada beberapa hal yang sebetulnya terjadi pembiaran :
    1. Siaran tv yang sudah jauh tidak mendidik, prosentase yang tidak
    berimbang, yang ada hanya ghibah, kata2 penghinaan, kata2 kotor
    para politisi (notabene pemilik tv – mayaoritas pemain politik)
    2, Sudah menjadi barang usang buat bangsa ini tentang penegakan
    hukum, coba cek kurang apa undang2 di bangsa ini, semua ada
    termasuk UU ITE, pornografi dll.
    3. Derasnya arus teknologi internet yang sudah sampai ke desa2 dan
    juga lapisan umur. Selayaknya kontrol konten yang tidak bermoral
    diberangus, saya sendiri merasa heran katanya menkoinfo sudah
    melakukan kontrol tapi buktinya blog sebelah begitu banyak mengotori
    dunia maya. Dan bahkan lebih gila lagi kontennya adalah lokal!!!
    Na’udzubillah mindzalik, woiiii kemana menkoinfo !!!
    4. Guru disekolah, perlu juga dikritisi. Kelakuan seperti ini adalah
    kurang kontrol dan peduli tentang anak didiknya. Jangan2 cuma
    ngurusi tingkat kelulusan dan jumlah PSB ajaran baru. Memang betul
    guru sekarang dan dulu beda!!, guru sekarang harus lebih ekstra
    pintar dan bijak, kemana guru yang jujur, setia dan renda hati ??
    5. Benteng terakhir dan pondasi utama pada akhirnya adalah Orang tua
    dan keluarga. Seberapa jauhkah kita sebagai orang tua menanamkan
    pendidikan agama selagi usia dini dan apakah kita juga sudah
    menjelaskan, mendiskusikan (doktrin, jaman sekarang sudah gak laku)
    seperti yang dilukiskan mas Iwan. Ataukah kita akan terbengong-bengong, melihat anak kita lebih pintar melihat perbuatan amoral dari
    jalur teknologi ???. Makanya jadi ortu musti belajar gaul juga, punya blog
    akun sosmed, barangkali ?? supaya kita bisa kontrol dan filter apa
    yang mereka bisa.
    6. Harus percaya tentang pendidikan budaya bangsa Indonesia lebih
    canggih dan membumi dibanding pendidikan ala barat yang vulgar
    dan cenderung tidak mendidik,

    Semoga Allah SWT melindungi anak bangsa ini dari perbuatan syetan yang terkutuk !!

  31. felis catus says:

    Oh, soal mengapa anak-anak sekarang kok terlalu kreatif kalau bereksperimen soal seks, saya kurang setuju dengan pendapat mas Iwan bahwa itu karena prostitusi.

    Coba mas Iwan lihat TV, dengarkan lirik lagu pop di radio, lihat iklan-iklan di majalah, baliho, dan papan reklame. Seks di mana-mana (tidak explisit memang, tapi terasa).

    Contohnya Miley Cyrus yang tadinya begitu manis di Hannah Montana, berubah (maaf) seperti pelacur buat album terbarunya. Padahal segmen pasar utama Miley Cyrus tadinya adalah anak-anak usia 9-15. Pasti klipnya yang vulgar itu sempat dilihat para penggemarnya dulu yang suka dengannya pada masa Hannah Montana. Apa coba pesan yang diterima para gadis kecil itu?

    Di Belanda ini hal tersebut sudah ternomalisasi (entah ya di Indonesia, tapi terakhir saya di sana, arahnya juga sudah sama seperti di Bld). Tidak heranlah remaja menganggap berhubungan intim di depan umum itu biasa saja. Ada di mana-mana contohnya.

    Bahkan di sini untuk mencari baju buat anak perempuan pun sekarang ini mesti hati-hati. Model bajunya itu loh…halah serba terbuka dan dibuat seksual.

    • Saya sependapat dengan mbak Indres soal Miley Cyrus itu.
      Dalam jurnal ini saya tulis bahwa prostitusi ini hanya salah satu faktor. Sisanya Bersambung, kalo dibahas semua kuatir kepanjangan tulisannya 🙂

      Makanya ayahnya Nadia bilang:

      Mereka sebaiknya serius menggunakan metoda Five Whys analysis agar mendapatkan akar permasalahan yang tepat dan solusi yang mendekati efektif. Yang kita diskusikan malam ini baru dua cabang dari Five Why Analysis lho, belum menyentuh di sisi lainnya di luar hukum. Berhubung waktunya sudah larut, kita bisa lanjutkan besok malam.”

  32. felis catus says:

    Mas Iwan, mengenai filter di Internet. Setuju sekali dengan pernyataan Nadia, kalau filter dari pemerintah (vendor ISP) ataupun software itu tidaklah efektif.

    Cara paling efektif buat menangkis push information itu menurut saya seperti yang dijelaskan di artikel Katrina Schwartz ini: Teach Kids To Be Their Own Internet Filters (http://blogs.kqed.org/mindshift/2013/10/teach-kids-to-be-their-own-filter/). Jadi walau dikasih link pun tidak akan diklik.

    • felis catus says:

      Artikel Katrina Schwartz itu memang lebih ke arah mencari informasi untuk tugas sekolah, tetapi prinsipnya bisa diterapkan untuk semua jenis informasi di Internet, dari berita hingga informasi tentang gaya hidup.

      Anak-anak diajarkan kalau Internet dan social media itu digunakan untuk mencari informasi yang berasal dari sumber informasi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan asalnya. Yang lainnya seperti link ke video porno yang tdk jelas diupload siapa dan untuk apa maksudnya, dilewatkan saja, jangan diklik.

      Mas Iwan, kalau buat saya, saya jauuuh lebih kuatir dengan social media. Anak-anak (bahkan orang dewasa) banyak yang belum secara dewasa menggunakan social media ini. Jujur saja, masih bingung bagaimana caranya mengajarkan bagaimana menggunakan social media dengan aman dan sehat kepada anak saya.

    • Terimakasih banget atas link artikel Katrina Schwartz, barusan juga mempelajari indikator melalui penilaian The CRAAP test. Bagus juga untuk diterapkan dan masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.
      Nanti ada waktu akan saya bedah lebih jauh.

      Memang bukan hal yang mudah membentengi anak dalam berinteraksi di social media, penanaman nilai-nilai sehingga memahami sepenuhnya antara manfaat dan mudharat itu butuh kesabaran. Positifnya kalau sang anak mampu mengelola manfaatnya dengan baik maka akan menjadi lompatan yang baik bagi masa depannya. Melarang dan membatasinya berinteraksi di social media justru merupakan langkah kemunduran.
      Jadi tantangannya sangat besar sekali, dan achievement-nya sebanding juga dengan kerja kerasnya (menanamkan nilai-nilai pada anak). Kita bisa lihat mereka yang berprestasi mendunia itu juga tidak lepas dari peran social media.
      Mari sama-sama bersabar yang pro-aktif mengajarkan nilai-nilai luhur pada anak.

    • Dyah Sujiati says:

      Saya usai baca artikelnya. Tapi kok ‘pesimis’ banget ya orang Indonesia bisa nerapin CRAAP itu 😥
      *Astagfirullahaladzim

  33. kasamago says:

    tragis, miris, prihatin.
    lama2 perbuatan kawin ala hewan bs jadi budaya. wiss dah, udah jd jurang merah bg moralitas generasi muda bg negeri ini.

    • Menurut United Nations Development Economic and Social Affairs (UNDESA), Untuk level ASEAN, Indonesia berada di urutan kedua terbanyak setelah Kamboja dalam hal pernikahan dini (usia 15-19 tahun)

      Sumber: Metro TV News

      Itu yang jelas-jelas tercatat, yang kagak tercatat?

  34. nengwie says:

    Saya tidak pernah membayangkan sampai sejauh dan separah ini pergaulan anak2 di Indonesia 😦
    Dimana saja sekarang semakin berat tugas orang tua mengemban amanah-Nya.
    Semoga Allah melindungi dan menjaga anak2 kita..aamiin

  35. Dyah Sujiati says:

    Kalau usulan normatif yang kurang bisa menyelesaikan masalah itu memang benar. Itu kayak semacam bukti kalau kita ternyata masih kurang cerdas dan bijak menghadapi sesuatu.
    Termasuk yang ikut-ikutan ngeshare ntu video dengan dalih ‘edukasi’. Bisa jadi dia malah merasa ikut menghentikan padahal kan malah menyebarkan, sebab ketidakcerdasannya itu.
    Berarti akar masalahnya adalah kecerdasan bangsa kita ini yang musti ditingkatkan pak! *lho? :mrgreen:

    • Kalo itu telalu luas scope-nya dan ngambang penyelesaiannya dong. Ayo belajar lagi bagaimana mengolah Five Whys Analysis!

    • Dyah Sujiati says:

      Haha. Kan itu akar yang dalam pak 😀

    • Bukan akar, terlalu melompat kesimpulannya, tidak runut, sehingga ada missing link. Dalam hukum Five Whys Analysis itu gak boleh. Ayo coba dibaca kembali komentarmu di awal.

    • Dyah Sujiati says:

      Iya pak. Ini kan sudut pandang lain.
      Kalau dr komen sy ttg : solusi normatif tdk menyelesaikan masalah. Logika sy begini : masalah pornografi -> solusi yg asal (normatif) yang ternyata tidak menyelesaikan masalah -> berarti solusinya kurang (atau kalau boleh dikatakan tidak cerdas) -> maka dari itu kecerdasannya yang musti ditingkatkan. *ini dari sudut pandang saya yang memang lain. Tapi masih nyambung juga kan. 😀

  36. punyaliana says:

    hadduuuuhhhh…
    Gimana inih, klo ini terjadi sama generasi selanjutnya??

  37. Dyah Sujiati says:

    Tulis saja email ke mereka plus bukti URL situs dan akun jejaring sosial yang merusak generasi penerus bangsa ini. Itu aksi yang paling ringan dan mudah.-> betul pak. Itu hal minimal yang bisa dilakukan dengan mudah dan (semoga) bisa membawa perubahan.

    Alamat emailnya apa Pak?

  38. andiahzahroh says:

    Parah banget ya Mas
    Saya sekarang jadi takut banget, takut nanti nggak bisa membimbing anak-anak dengan baik, apalagi dengan adanya internet yang bisa diakses siapa saja sekarang ini
    Duuh, jaman udah berubah
    Dulu pas masih sekolah, tau apa saya soal gituan?

    Sekarang setelah banyak berita soal video porno, tindakan asusila anak remaja, saya rasanya jadi pengen jadi ibu rumah tangga yang bisa 24 jam mengawasi dan menjaga anak di rumah. Ngajarin mereka hal2 yang seharusnya mereka tau. Membentengi mereka supaya siap dengan kerasnya dunia luar. Kalo sekarang, ketemu sama anak cuma weekend doang, rasanya nggak ada yang bisa saya ajarkan dengan waktu ‘sesempit’ itu. Tapi untungnya anak saya masih batita, Kepikiran untuk masukin anak ke pesantren kalo gitu, tapi itu juga bukan jaminan. Eh malah curhat, kebiasaan

    Memang pondasi dasar dari keluarga itu benar2 penting ya mas. Lingkungan sekarang udah ga bisa dikontrol. Bahkan di tempat yang seharusnya aman buat anak2 (sekolah) masih bisa kejadian kayak gitu 😦

    • Hampir semua orang mempunyai masalah yang sama pada soal waktu berinteraksi dengan anak. Kami berduapun juga demikian.
      Yang penting adalah betul-betul memanfaatkan waktu yang sedikit dengan anak namun berkualitas membangun karakternya yang sehat dan unggul.
      Program dan game plannya harus jelas dan tersusun.
      Anggap saja meng-handle anak adalah sama dengan menangani sebuah proyek investasi masa depan. Maka memberikan sentuhannya juga harus secara profesional.

  39. jampang says:

    saya belum lihaaaaaat 😀

  40. lebahlebahku says:

    Beberapa menit lalu aku bertanya2
    ..siapakah yg bertanggungjawab atas hal ini, dan skrg mendapat jawabannya bahwa kita semualah yg bertanggungjawab *jleb

    • Betul, itu tanggung jawab kita. Anak-anak SMP itu sebetulnya hanyalah bagian dari korban karena kesalahan kita yang membiarkan dan permisif atas pornografi yang tumbuh subur di negeri ini.

      Coba perhatikan bahwa ada ribuan anak-anak kecil di luar pagar halaman rumah kita yang otaknya telah dijejali pornografi, yang mungkin akan begitu buas menerkam anak kita atau saudara kita yang masih kecil.

      Mari bersama-sama mengambil peran untuk menghentikannya.

  41. Larasati says:

    miris mendengar berita itu. Apa sebabnya yah? kurang tegasnya aparatu hukum? kurangnya informasi tentang dampak aksi tersebut? orang tuanya yang kurang pengawasan? terlalu bebasnya informasinya melalui jejaring sosial atau terlalu canggihnya tekhnologi sekarang?

    bener2 Laras merasa geram sekali, sekarang semakin mewabah sex di kalangan ABG dan remaja, benar2 sudah tabu 😦

    apa yang mesti dilakukan yah? undang2 sudah ada tapi tetap saja mewabah

    • Semua faktor penyebab yang mbak Laras sebutkan itu betul.
      Tinggal bagaimana peran kita untuk bisa ikut andil menyelesaikan masalah ini, sebab ini tanggung jawab kita semua.
      Kalau hanya menyalahkan anak-anak itu tanpa memperbaiki sistemnya, maka akan rentan terulang masalah yang sama.

    • Larasati says:

      kalau saya lihat, ekspresi anak2 smp itu saat melakukan adegan mesum tidak dipenuhi dengan nafsu yah pak, sepertinya mereka hanya penasaran dan mungkin lebih tepatnya setelah mereka melihat contohnya maka mereka ingin mencobanya, itu menurut pendapat larass saat melihat video itu tapi tetap saja merasa miris dan berpikir bagaimana reaksi keluarga besarnya dan yang lebih penting masa depan si anak itu

  42. ayanapunya says:

    Saya juga lihat adik saya komen di video itu, mas iwan. Pas saya cek, aduuh saya malu lihatnya. Kok bisa anak2 smp itu biasa aja lihat adegan kayak gitu. Benar2 menakutkan 😦

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: