Home » Ghazwul Fikri » Dialog Pasutri: Bahayanya Pendidikan Seks ala Liberalis

Dialog Pasutri: Bahayanya Pendidikan Seks ala Liberalis

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Perilaku Seksual Remaja

Sudah 15 tahun pemerintah RI mencanangkan program pendidikan seks kesehatan reproduksi remaja.
Benarkah jika seorang remaja telah memahami pendidikan kesehatan reproduksi ini lantas ia manjauhi perilaku seks bebas?
Mengapa seiring dengan digulirkannya program pendidikan ini justru angka kasus seks bebas pada remaja makin tinggi, yang diikuti juga dengan tingginya kasus aborsi?
Lantas, apa sebenarnya yang diperlukan para remaja agar terhindar dari perilaku seks bebas?

=========

[Ini lanjutan dari dialog keluarga pada jurnal sebelumnya. Perkataan suami dan istri dibedakan oleh warna font-nya]

Bismillah …

Suatu malam, sang ayah yang selesai menikmati sajian berita di TV beranjak menuju teras depan rumah, menemui istrinya yang sedang menikmati rintik gerimis hujan yang turun di halaman sambil browsing internet melalui layar ipad-nya.

“Duuh… serius banget bacanya, sampe gak tahu kalo bakso langgananmu dah lewat dari tadi … hehehe”

“Ini lho, mas, lagi baca-baca perilaku ‘binatang buas’ di luar halaman rumah kita”

“Haa… binatang buas?!”

“Aku kaget banget baca ini: 76 Persen Kelas 4-6 SD di Jakarta Sudah Pernah Melihat Materi Pornografi [Detik News]. Lha kalo kemudian gak ada arahan, mereka pasti jadi pengen nyobain yang nggak – nggak, apalagi kalo otaknya tiap hari dicekoki dengan tontonan gituan… khan itu sama saja ada banyak ‘binatang buas’ di luar halaman rumah yang siap memangsa anak-anak baik-baik.”

“Hmm… trus?”

“Dan ini gambaran para korban ‘binatang buas’ itu:

Ku bacain poinnya ya, mas … Praktik aborsi di negeri ini trennya meningkat rata – rata 15 persen tiap tahun. Berdasarkan data yang dikeluarkan BKKBN, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, bahkan 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.”

“Innalillahi…”

“Tadi siang sempat kubaca jurnal Nadia hasil bincang-bincang dia denganmu kemaren malam. Aku sependapat kalo pornografi itu pemicu utama berbagai kasus asusila dan kasus aborsi. Alhamdulillah, negeri kita ini sudah punya payung hukum positif untuk kasus pornografi, bahwa barangsiapa yang membuat, menjadi model, menyebarkannya, dan lain – lain pokoknya yang terlibat dalam kegiatan yang mengandung pornografi itu akan dikenai hukuman pidana.”

“Betul, semoga ada ketegasan dalam penegakan hukumnya. … Sekedar kilas balik, masih ingat khan, kalau Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) dulu sempat mendapat penentangan dari LSM-LSM dan public figure yang berpaham liberal?”

“Ya, masih ingat. Aneh juga rasanya membaca opini-opini sikap penentangan mereka itu.”

“Begitulah. Pornografi itu musuh umat manusia beradab, argumentasi penolakan RUU APP justru berorientasi kepada primitivisme. Ada yang berpendapat, jika RUU ini diterapkan maka suku-suku tertentu yang selama ini biasa hidup tidak sempurna cara berpakaiannya akan terkena ancaman pidana. Logika kaum liberal ini ngaco banget deh… dan paradoks. Malah juga sempat dimunculkan isu bahwa jika RUU itu disahkan, maka Bali akan di-islam-kan, dan wanitanya dipaksa memakai jilbab. Entah dari mana isu itu ditiupkan, sampai muncul ancaman, jika RUU APP diterapkan, maka Bali akan memerdekakan diri dari Indonesia. Isu lainnya juga banyak, kalo RUU APP diterapkan maka akan begini akan begitu. Kenyataannya, setelah UU APP diterapkan, gak ada tuh isu-isu yang benar terjadi. Isu yang digoreng tak lebih dari sekedar siasat agar dapat dukungan dari banyak pihak untuk penolakan RUU APP. Kamu tahu khan, mengapa mereka sampai ngotot melakukan penolakan?”

“Ya karena ‘Kebebasan’ sudah dijadikan ideologi dan agama mereka; dianggapnya sebagai keimanan, yang tidak boleh diganggu gugat. Karena itu mereka menolak berbagai pembatasan, baik dalam hal agama atau pakaian, sebab bagi mereka itu adalah wilayah privat. Nah, karena RUU APP dianggap melanggar wilayah privat, maka mereka menolaknya.”

“Betul. Bicara soal wilayah privat, aku jadi ingat, dulu ketika rame polemik goyang ngebor Inul, FX Rudi Gunawan menulis buku berjudul “Mengebor Kemunafikan”. Sang penulis menyampaikan pesan bahwa “agama tidak boleh masuk ke dalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat… Agama hendaknya tahu batas-batasnya”. Buku tersebut juga mendapat epilog dari tokoh JIL, Ulil Abshar Abdalla. Dalam epilognya, Ulil menggugat kalangan yang mempergunakan agama (Islam) sebagai alat pencekalan hiburan erotis. Ia bilang: “tindakan itu sebagai sikap ‘overmoralis’. … Agama justru akan menjadi terhormat manakala menempatkan diri pada perannya -pada bidang privat- dan tidak melakukan penetrasi pada sektor publik, apalagi berupaya memformalisasikan diri dalam kehidupan. … Bukan zamannya lagi manusia membutuhkan nilai-nilai yang ‘super absolut’, karena semua lini kehidupan telah memiliki etika masing-masing.” Hmm… setahuku logika kaum liberal yang mendikotomikan antara wilayah privat dan wilayah publik itu logika primitif, lha justru di negara-negara Barat sendiri sudah kedaluwarsa.”

“Masak iya sih, mas?”

“Iya. Sejak dulu manusia sudah paham, bahwa kebebasan individu selalu akan berbenturan dengan kebebasan publik. Karena itulah, di negara-negara Barat yang memuja liberalisme, ada peraturan yang membatasi kebebasan manusia, yang memasuki dan mengatur wilayah privat. Ada kode etik dalam setiap jenis aktivitas manusia. Tidak bisa atas nama kebebasan, lantas orang berbuat semaunya sendiri.”

“Tapi di negeri-negeri Barat sana masih banyak lho yang berekspresi yang kebablasan atas nama seni”

“Nahh… itu karena peradaban Barat adalah peradaban tanpa wahyu, maka peraturan yang mereka hasilkan, tidak berlandaskan pada wahyu Allah, tetapi pada kesepakatan akal manusia. Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemauan manusia. Dan sekarang ini liberalisme telah berujung kepada ketidakpastian nilai, yang pada akhirnya membawa manusia kepada ketidakpastian dan kegersangan batin, karena jauh dari keyakinan dan kebenaran abadi.”

“Okey, kembali ke soal pornografi dan kasus-kasus seks bebas dan aborsi pada remaja tadi, yuk kita bedah sejauh mana mereka para pelajar itu mendapatkan pendidikan seks.”

.
BERBAHAYANYA PENDIDIKAN SEKS ALA LIBERALIS

“Mas, setelah beredarnya video mesum pelajar SMP di Jakarta Pusat kemaren, Wagub Jakarta Pak Ahok mewacanakan tentang pentingnya pendidikan seks di sekolah. [Viva News]. Gimana menurutmu?”

“Aku setuju, tapi pendidikan seks belum menjamin bisa mencegah perilaku asusila di kalangan pelajar bila penerapannya mengikuti konsep kaum liberal”

“Maksudnya gimana?”

“Pendidikan seks yang ditawarkan saat ini adalah program yang disebut dengan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ala UNAIDS. Materi dan metode penyampaiannya saaaangat liberal. Hanya fokus pada membekali remaja agar perilaku seksualnya ‘aman’ dan ‘sehat’ yakni terhindar dari resiko kehamilan dan bahaya penyakit menular seksual. Dalam KRR tersebut gak ada sedikit pun peringatan bahwa pelaku seks bebas tidak akan pernah aman dari azab Allah. Coba deh simak sekilas penjelasannya di sini:”

Sekilas tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) ala UNAIDS.
.
Program Pendidikan KRR di Indonesia sudah diaruskan sejak diratifikasi pada tahun 1994 (diresmikan sebagai program pemerintah pada tahun 2000). Hingga saat ini program tersebut sudah dijalankan melalui Depkes, BKKBN, Diknas, dan berbagai instansi terkait dengan bantuan LSM dalam dan luar negeri.
.
Target dari Pendidikan KRR adalah mewujudkan perilaku seksual remaja yang aman dan sehat. Perilaku seksual remaja yang aman artinya perilaku seksual remaja yang tidak mengantarkan mereka pada terjadinya kehamilan tidak diinginkan berikut resiko yang menyertainya. Sehat artinya perilaku seksual remaja tersebut tidak mengantarkan remaja tertular penyakit menular seksual. Strategi yang dilakukan adalah mengkampanyekannya melalui seminar, pelatihan, talk show, buzz group, konsultasi, hingga bagi-bagi kondom. Isi pesan yang disampaikan yaitu kampanye ABCD (Abstinensia, Be faithful, use Condom, no Drug) yang diiringi dengan implementasi kebijakan kondomisasi dan harm reduction. Sebuah kebijakan yang memang diimplementasikan di seluruh dunia dengan digawangi UNAIDS dan WHO.
.
Dalam setiap penyampaian Pendidikan KRR selalu diawali dengan mengajak remaja untuk memahami proses pubertas yang mereka alami, dengan berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh (fisik), mental dan libido mereka. Benang merahnya adalah bahwa eksplorasi seksual pada masa pubertas ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh remaja, karena kondisi libido mereka yang memang lagi tinggi-tingginya. Namun agar tidak sampai terjatuh pada resiko mengalami kehamilan tidak diinginkan dan tertular penyakit menular seksual, yang seringkali menjatuhkan remaja kita pada resiko lain berikutnya (putus sekolah, aborsi hingga meninggal dunia pada usia muda), maka perilaku seksual mereka haruslah senantiasa ’aman’ dan ’sehat’, dengan melakukan ABCD. Dengan demikian remaja dikatakan sudah memiliki perilaku seksual yang bertanggung jawab.
.
Apakah kampanye ABCD itu?
.
A adalah Abstinensia, artinya bahwa mereka tidak boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
B adalah Be faithful, artinya setialah pada pasangan.
C adalah Condom, artinya gunakanlah kondom.
D adalah no Drug, artinya jangan pernah menggunakan narkoba, terutama suntik.

See… aroma liberalisasi pada pendidikan KRR ini jelas sekali. Abstinensia (A) ternyata bukanlah satu-satunya opsi. Terlebih ketika dikaitkan dengan informasi awal yang mengatakan bahwa melakukan eksplorasi seksual pada masa pubertas adalah sesuatu yang wajar. Sehingga kalaupun ternyata mereka tidak bisa bertahan di opsi A (Abstinensia) adalah suatu hal yang wajar juga. Karena ada pilihan lain yang bisa diambil, yakni B (Be faithful) atau setialah. Pada siapa? Tentu saja kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada anak remaja SMP/SMA sebagai sasaran program pendidikan ini, jelas jawabannya adalah pada pacarnya atau pasangannya. Nah.. di titik inilah celah liberalisasi seksual di kalangan remaja kita justru dibuka oleh program pendidikan ini.

“Gila, kalo pendidikan buat pelajar, ngapain juga ada opsi B… ck ck ck…”

“Opsi berikutnya yakni C (use Condom) bila remaja tersebut (dalam melakukan eksplorasi seksualnya) tidak bisa setia dengan pacarnya. Secara implisit sudah jelas bahwa remaja kita boleh tetap memiliki perilaku seksual yang aman dan sehat, meski bergonta-ganti pasangan, asal pake kondom. Katanya kondom punya dual protection, yaitu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan mencegah tertularnya penyakit menular seksual. Tagline yang digembar-gemborkan: ‘safe sex use condom’.”

“Menyesatkan itu, mas. Aku pernah baca dari sebuah majalah kesehatan bahwa kondom terbukti tidak mampu mencegah penularan HIV. Kondom terbuat dari bahan dasar latex, yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1 yang hanya berdiameter 0,1 mikron.”

“Tapi banyak jurnal penelitian yang menyangkal soal itu, mereka tetap menjamin kondom itu aman”

“Itu omong kosong mereka, mas. Kalau aman apa buktinya? Faktanya dari tahun ke tahun kasus HIV tren nya meningkat [UNAIDS Global Report 2012] dan belum lagi kasus-kasus kegagalan pencegahan kehamilan (akibat kondom bocor karena rusak). Kondom itu buatan manusia yang tidak lepas dari potensi munculnya produk cacat akibat deviasi selama proses produksi. Ingat gak kasus 110 juta kondom bocor di Afrika? [Jaring News]. Itu salah satu bukti kesombongan manusia yang telah menantang murka Allah.

“Begitulah program pendidikan ala sekuler yang berupaya memisahkan ajaran moral agama dari segala sendi kehidupan. Sehingga pada masalah sex bebas, orientasi ketakutannya hanya pada penyakit mematikan dan rasa malu karena hamil duluan sebelum nikah, bukannya takut karena ancaman azab Allah. Semoga fakta ini membuka mata mereka.”

“Betul, mas, program pendidikan seks seperti itu sih bukannya membuat remaja berhati-hati agar gak ngelakuin seks bebas, malah bikin mereka ngerasa aman-aman aja ngelakuinnya.”

“Naah, bahaya khan?! Buktinya.. setelah beberapa tahun dimasukkan dalam kurikulum berbagai sekolah menengah, justru perilaku seks bebas di kalangan remaja bukannya turun, eh malah naik. Begitu juga kasus aborsi malah mengalami kenaikan yang tinggi.”

“Huuh… kasihan anak-anak yang menjadi korban kurikulum sekolah ala liberalis yang tidak membangun kepribadian luhur dan pondasi iman yang kuat.”

Lihat screnshoot berita SCTV dalam banner di atas.
Setelah 15 tahun Program Pendidikan KRR dijalankan, telah terjadi peningkatan persentase remaja yang melakukan seks bebas sebesar 32,7-52,7%. Pada tahun 1992 –sebelum ada program KRR–, berdasarkan penelitian BKKBN di 12 kota besar Indonesia ada 10-31%, dan tahun 2008 –setelah 14 tahun Program Pendidikan KRR diaruskan– meningkat menjadi 62,7%. Terbukti bahwa program KRR tidak berdampak untuk menghilangkan pergaulan bebas, justru sebaliknya. Karena informasi dan pengetahuan tentang ”safe sex” malah semakin menyuburkan aktifitas seks di kalangan remaja. Program pendidikan seks yang disampaikan tidak hanya mencakup fakta-fakta biologis, tapi juga menyuguhkan informasi dan ketrampilan praktis kepada para pemuda mengenai soal berkencan, hubungan seks, dan penggunaan kontrasepsi. Sungguh aneh sekali.

“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
[QS 45:23]

.
PENDIDIKAN SEKS ISLAMI

“Bagiku kondisi ini sudah darurat, mas. Malam ini kita coba brainstorming merumuskan bagaimana seharusnya muatan pendidikan seks di dalam kurikulum sekolah.”

“Okey, dingin-dingin gini biar hangat kita beli wedhang ronde yuk, kebetulan pas banget bang Jamal lewat”

Tidak beberapa lama kemudian mereka berdua asyik menikmati wedhang ronde dan mengajak ngobrol Bang Jamal si penjual Wedhang Ronde keliling. Bertanya tentang kabar keluarganya, naiknya kebutuhan sembako, sampai soal pilkada. Sekitar 15 menit berlalu, setelah selesai break-nya, mereka berdua kemudian melanjutkan diskusinya.

“Sebelumnya saya tanya dulu, dik, apakah semua perilaku amoral itu sesuai dengan fitrah manusia?”

“Tentu tidak. Kehidupan bebas tanpa aturan bukanlah fitrah manusia melainkan itu hanyalah pelampiasan nafsu yang membabi buta”

“Betul, Islam sebagai agama yang universal menjamin fitrah itu dan tak satupun ajarannya yang bertentangan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, gempuran arus liberalisme yang mengajak manusia kepada kehidupan binatang dan menghamba pada kesenangan dunia haruslah dilawan.”

“Biasanya yang ikut larut dalam kehidupan bebas tersebut hanyalah orang-orang yang gak punya pegangan kuat kok”

“Naah.. itu kalimat kuncinya: Gak punya pegangan kuat. Mari kita evaluasi, apakah pendidikan seks yang diajarkan di sekolah ala KRR itu juga meliputi penanaman akidah?

“Aku yakin deh penanaman akidah belum atau tidak termasuk di dalam program pendidikan KRR, karena niat mereka di awal sudah memarjinalkan urusan agama.”

“Okey. Evaluasi berikutnya, apakah pendidikan seks yang diajarkan di sekolah ala KRR itu juga meliputi hal ibadah yang asasnya adalah memahamkan siapa jatidiri dan apa tujuan hidup serta bagaimana meraih tujuan hidup manusia?”

“Kalo akidah aja gak ada di dalamnya, apalagi muatan tentang ibadah, mas”

“Yup. Evaluasi berikutnya, apakah pendidikan seks yang diajarkan di sekolah ala KRR itu juga meliputi penguatan akhlak?”

“Lah… adanya kampanye ABCD dan tagline: ‘safe sex use condom’ bagi pelajar itu aja sudah tampak nyata menanggalkan sisi akhlak.”

“Nahh… dari itu semua dapat kita gambarkan bahwa pendidikan seks pada remaja, seharusnya BUKAN HANYA SEKEDAR memberikan informasi-informasi tentang anatomi, fisiologi sistem reproduksi manusia, PMS, alat-alat kontrasepsi dan teknik mencegah kehamilan sebagaimana pendidikan seks ala KRR. Akan tetapi materi yang diberikan haruslah dalam kerangka mendidik dan menjadikan remaja sebagai manusia yang bisa mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

“Okey, jadi yang kutangkap dari jawaban atas tiga pertanyaanmu tadi; bahwa materi pendidikan seks yang baik itu harus mengandung penanaman akidah, ibadah dan akhlak?”

“Yup. Ketiganya jangan sampai terpisah. Karena dari tahun ke tahun di masa yang akan datang, tantangan pasti jauh lebih besar dan dahsyat dari sekarang ini. Tantangan yang bisa membuyarkan fokus dalam pencapaian cita-citanya.”

“Sekarang aku jadi makin paham mengapa para ulama dalam kitab-kitab fiqihnya itu bilang bahwa orang tua lah yang paling bertanggung jawab menjelaskan pertama kali tentang panduan Islam dalam mengatur pemenuhan naluri seksual secara benar, sesuai tingkat usia dan pertumbuhan fisik anak serta daya tangkap otaknya.”

“Betul. Kamu masih ingat khan, apa saja yang pernah kita ajarkan pada Nadia dan Sasha sejak masih balita sampai segede sekarang ini?”

“Ya ingat doong, mas. Sepanjang perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, tahapan pengajaran yang sudah kita sampaikan begini:

  • Waktu masih balita, anak dibiasakan malu menampakkan auratnya apalagi organ intim di hadapan orang lain. Ini agar ia menghargai dirinya sendiri, sehingga orang lainpun juga akan cenderung menghargainya;
  • Trus menekankan ke anak bahwa organ intim tersebut tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain, kecuali olehku selaku ibunya;
  • Juga menanamkan maskulinitas dan feminitas masing-masing anak agar tidak merangsang terjadinya penyimpangan;
  • Oiya, termasuk juga dengan memisahkan tempat tidur kita dengan anak-anak;
  • Kemudian mengajarkan anak-anak minta ijin masuk ke kamar orang dewasa;
  • Ketika sudah mulai beranjak ABG, kita kenalin tanda-tanda dewasa, seperti ihtilam dan haid berikut konsekuensinya;
  • Kemudian menjelaskan tentang perkembangan organ reproduksi yang akan/sedang dialami remaja ketika mengalami pubertas, apa konsekuensinya dan bagaimana seharusnya bersikap;
  • Juga memberikan pemahaman padanya tentang adanya fitrah manusia berupa naluri seksual berikut karakteristiknya, apa saja yang bisa merangsang munculnya naluri tersebut, bagaimana mengendalikannya, bagaimana pemenuhan yang benar dan yang salah berikut konsekuensinya.”
  • Mengenalkan mahram;
  • Mengajarkan keutamaan menjaga pandangan;
  • Melarang khalwat;
  • Praktek berpuasa, baik yang wajib maupun sunnah, dalam kerangka meningkatkan kualitas self control anak;
  • … dan seterusnya;

eh, masih ada yang terlewat gak ya?”

“Waah, hafal banget kamu, dik”

“Hahaha…. ya, iyaa lah, programnya khan sudah aku tulis semenjak anak kita baru lahir; biar gak terlewat, program-program tersebut kujadiin checklist”

Thanks support-nya, dik. Alhamdulilah, mas rasa kita ini sudah on the right track dalam menyampaikan pendidikan seks pada anak-anak kita. Pendidikan seks yang gak disampaikan secara vulgar namun sesuai tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Penyampaian yang vulgar itu justru merangsang munculnya naluri atau keinginan melakukan hubungan seks yang katanya aman dan sehat sebagaimana progran KRR itu.”

“Lha iya, aku heran juga kok sampai ada lho seorang psikolog yang bilang: “menonton film porno itu boleh, asal didampingi orangtua” [Kompas]. Haa? Aneh sekali, kalaupun kemudian terjadi dialog antar ortu dan anak setelah barengan nonton video porno itu, ya ujung-ujungnya khan bakal muncul kesimpulan di benak si anak yang tahu bagaimana seks yang katanya aman dan sehat. Bukankah ini akan membangkitkan semangat eksplorasinya di usia yang masih labil.”

“Itulah pemikiran liberal. Mengapa juga malah muncul anjuran mendampingi nonton, justru yang kritikal adalah mengajarkan keutamaan menjaga pandangan sejak dini. Kalau anak sudah sadar sekali akan resikonya bahwa menonton blue film adalah perbuatan zina mata, dan itu akan dimurkai Allah, maka ia tidak akan mendekati hal-hal yang bisa menjerumuskan masa depannya. Pikiran anak akan selalu fokus ke hal-hal positif. Ia sadar akan ada masanya nanti untuk bisa melakukan aktivitas seks yaitu setelah menikah.”

“Mas, seandainya nih, pemerintah belum ada tanda-tanda melakukan perubahan program ke arah yang lebih baik, terus piye?”

“Sebenarnya kita lah sebagai orangtua yang paling bertanggungjawab dalam menyampaikan pendidikan seks sesuai panduan Islam kepada anak-anak kita. Sedangkan sekolah hanyalah sebagai pelengkap. Namun demikian karena tidak sedikit orangtua yang lalai mengurus pendidikan anaknya di rumah, sehingga benteng terakhir ada pada sekolah, maka kita jangan lelah membangun opini di media memberikan masukan dan mendorong pemerintah agar cepat sadar.”

… Tanpa terasa malam semakin larut. Dan mereka pun sepakat untuk mengakhiri bincang-bincang malamnya untuk kembali ke peraduan.

B E R S A M B U N G …

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
11.11.2013

Advertisements

54 Comments

  1. utoyo says:

    keren bisa buat bahan dialog. n utk ngisi penyuluhan tentang sex bebas bagi remaja.

  2. Sungguh miris membaca data berita ttg akibat pergaulan dan seks bebas di kota pelajar, Yogyakarta. Diberitakan, 161 orang anak berstatus pelajar thn 2014 mengadakan persalinan di Puskesmas, akibat hamil di luar nikah. Bahkan di thn 2015 ini sudah terdata anak berumur 9 tahun (usia kelas 3 SD!) mengadakan persalinan/melahirkan di Puskesmas.
    Selengkapnya sila baca:
    Di Yogyakarta, Tujuh Anak Usia 10-14 Tahun Lahirkan Anak

    Belum usai berita itu, muncul pula berita: Video Seks 2 Bocah Balita Beredar di Sosmed dan HP.
    Dan berita: Bocah Kelas 3 SD Perkosa Anak TK

  3. Y. R. says:

    Terima kasih atas postingan Saudara! Hal yang dijabarkan di sini akan sangat berguna sekali bagi saya selaku calon guru Biologi dan calon ibu. Terus terang saya juga sangat kaget akan pengetahuan remaja saat ini mengenai seks. Saya praktik mengajar di sebuah sekolah di Jakarta dan merasa sangat kaget saat mengetahui bahwa beberapa orang murid saya menonton video porno tentang siswa SMP di salah satu sekolah yang baru saja marak beberapa waktu lalu (yang bahwan saya dan rekan sesama guru praktik hanya mengetahuinya dari berita). Sepertinya hal-hal semacam itu lebih mudah di dengar oleh mereka dan diceritakan kembali daripada hal-hal berbau ibadah atau pengetahuan.

  4. Gurah Herbal says:

    Saya rasa data suvei itu tidak akurat, di kota apa? dg berapa responden, jadi jangan sampai kita menggeneralisir sesuatu karena data

    • Terlepas dari data survey itu akurat atau tidak, kita tidak bisa menutup mata atas informasi yang disampaikan BKKBN bahwa praktik aborsi di negeri ini trennya meningkat rata – rata 15 persen tiap tahun. Kalo ini data valid lho, bukan survey. Berdasarkan data yang dikeluarkan BKKBN, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa, bahkan 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Link-nya ada di atas.

      Daripada sibuk mempertanyakan survey yang telah disiarkan oleh berbagai media nasional, coba Anda kasih saya jawaban yang logis apa penyebab aborsi tersebut?

  5. nocky says:

    belum genap 1 tahun, dan lahir dari sebuah keprihatinan dan berbekal pengalaman sebagai konsultan remaja dan Parenting di sebuah yayasan ternama di Indonesia. saya mulai konsen melakukan penyuluhan sex education ke siswa siswi tapi dikemas dalam bentuk training…Kasudin Jaksel dan Tangerang akhirnya gerah juga ketika melihat data hasil tulisan anak terkait pengalaman seksual mereka selama ini setelah melakukan training untuk perwakilan 65 sekolah se-jaksel dan 30 sekolah se-jaktim….konsep training saya berbeda dengan program KRR…..
    1. Poin materi :
    Sex = Pornografii, mengapa ?
    Seks Primer dan Seks Sekunder
    Efek Pornografi dan Pornoaksi
    3P, Pornografi,Pacaran dan Pornoaksi
    Model kerusakan otak akibat pornografi
    Model penyakit seks menular akibat seks bebas
    2. Follow Up :
    Setiap institusi yang mengundang training, follow upnya adalah tiap peserta training secara otomatis bergabung di komunitas peduli moral bangsa yang kini belum genap 6 bulan namun sudah beranggotakan 1000 orang,sebagian besar diantaranya adalah siswa..sisanya guru,ortu wali murid,pengusaha, dsb… Di komunitas ini mereka akan menjalankan beberapa kewajiban :
    1. Melakukan kampanye aktif simpatik anti pornografi di lembaganya..misal dengan memasang spanduk di sekolah “selamat datang,anda memasuki kawasan tanpa pornografi..barangsiapa yang melanggar, akan mendapat sanksi terancam putus sekolah…tulisannya terancam…bukan langsung putus sekolah..atau juga membuat pin pin no free sex, memasang mading,dsb.
    2. Kami menyediakan jasa konsultasi via email, FB atau WA bagi peserta yang sudah kecanduan pornografi, mengalami kekerasan seksual, dsb. konsultasi tersebut akan dibimbing langsung oleh psikolog yang memang berpengalaman di bidangnya.

    info lebih lanjut boleh hubungi :
    Nocky sakti M (Inspirator Kecerdasan)
    085287678111 / 02194213661…

    Office center :
    Quicksmart Learning Centre
    Jl.Wilis 11 Pesanggrahan Jaksel
    021-735-3070

    • Terimakasih infonya, Mas Nocky, semoga pembaca jurnal ini (khususnya dari institusi sekolah) membaca informasi yang bermanfaat dari Anda ini.
      Dengan senang hati juga saya akan membaca dan membagikannya bila mas Nocky telah menuliskan tentang kegiatan komunitas peduli moral bangsa dalam blog / website.
      Memang kondisinya saat ini sudah memasuki Tahun Darurat Pornografi.

  6. Belakangan saya tidak lagi mengikuti tulisan anda karena banyak hal. Mungkin dari sini hanya bisa saya pertegas, kalau lingkungan keluarga tetaplah yang paling penting. Hanya orangtua juga jangan gagap teknologi alias kalah dengan anak. Orangtua juga perlu dididik agar melek teknologi terutama jejaring sosial yang kian lama kian mengerikan, sehingga bisa ditemukan cara agar dapat mengurangi dampak buruk dari pornografi yang kian merajalela. Sekali kecanduan, maka akan sulit untuk meredamnya, karena banyak yang hidup dari bisnis tersebut.

    Banyak orangtua yang kelewat sibuk, hanya mengandalkan sekolah belaka. Padahal 65% kehidupan anak kebanyakan di rumah, kesadaran orangtua ini yang perlu ditanamkan meskipun agak terlambat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali Pak Iwan.

    Demikian saja pendapat dangkal daripada saya pribadi. Semoga sedikit banyak ada manfaatnya karena belakangan memang fenomenanya demikian.

    Sekian dan terima kasih.

  7. […] pernyataan Pak Iwan terkait komentar saya di jurnalnya disini, saya mencoba untuk mengulas sedikit dari yang saya ketahui. Btw, apa yang saya tulis ini murni […]

  8. beberapa waktu yang lalu (belum sebulan) temanku pas lagi di apotek liat anak sma beli kondom….

  9. terimakasih tulisannya Pak, berguna sekali… tangggung jawab profesi kesehatan seperti saya untuk ikut meluruskan yang salah…

  10. Ina says:

    tulisan mas iwan selalu berbobot. ada banyak nasihat dan ilmu disana. seneng bacanya. semoga anak2 bisa terhindar dari bahaya aman.

  11. Miris, sedih, hmmm… begitu ya KRR

  12. rusydi hikmawan says:

    kalo membincang ulil dan ide2 JIL, emang parah banget di indonesia. JIL ini bisa seperti ini mekarnya karena banyak yg menyandang dana ke mereka. aplagi setelah ulil berada di lingkaran partai demokrat, makin berani dia bermanuver dg ide2 sekuler, liar, tidak konsistennya. semog anak keturunan kita terhindar dari pikiran2 liar sekuler dan pornoaksi pornograpi

  13. […] Mari jauhkan pornografi dari anak , Ref : Blog mas iwan disana juga banyak link tentang dampak pornografi. salah satunya di blog mas […]

  14. kasamago says:

    miris melihat realita yg terjadi, apalagi program KRR yg justru bs menjadi NOS bg kebejatan sexual usia dini. smg pemerintah, phak terkait dn sluruh orang tua segera melakukan tindakan n pencegahan yg benar.

  15. Enje says:

    beberapa hari lalu abis ngomongin ttg aksi anak smp 4 bareng ponakan yg udah sma. ujung2nya jelasin ttg bahaya film porno. katanya sih dia belum pernah nonton (alhamdulillah kalo bener). saya jelasin kalo itu lebih bahaya akibatnya dari narkoba. lupa jelasin ttg dosa nya -,-

    • Sebagai kakak ponakan jangan sampai gaptek lho, jurnal saya sebelum ini menjelaskan bagaimana begitu mudahnya film porno diakses oleh anak SMP/SMA, bahkan anak SD sekalipun.
      Jadi saya meyakini kebenaran survei yg dilakukan Komnas Perlindungan Anak itu bahwa 97% remaja pernah menonton film porno.
      Semoga ponakannya mbak Enje itu masuk yg 3%-nya. Namun demikian harus waspada, karena gempuran itu begitu dahsyat-nya.
      Seberapa dahsyat-nya? bersambung di Jurnal ke-3

    • Enje says:

      nah itu, Pak. apalagi kalo udah pada pake gadget. sereeemmmm -,-

      aamiin, moga betul dia belom pernah nonton (secara sengaja)

  16. Yudhi Hendro says:

    Ternyata pendidikan KRR sudah salah kaprah. melenceng dari tujuan semula, pak. Bukannya menjauhkan remaja dari perilaku seks bebas, tapi justru memfasilitasi dan mengeksplorasi rasa keingintahuan remaja untuk melakukannya.

    pendidikan KKR yg benar memang sesuai yg dicontohkan ajaran Islam spt yg sudah dijelaskan Ibu Nadia dalam dialog di atas. Dilakukan sejak anak-anak dan dijelaskan sesuai perkembangan usia mereka.

  17. kalo gak salah di hadits ada ttg perilaku binatang ini,,

    gak hafal lengkap,, yg jelas org2 yg hidup menjelang hari kiamat benerr2 kayak binatang, mereka bersetubuh di jalan2, bahkan yg paling bagus moralnya adalah org yang melihat perilaku binatang tsb, namun berkata dalam hatinya “seandaikan diriku yg lebih dulu bertemu dgn wanita tsb, maka aku akan membawanya ke balik dinding (biar nda ada yg liat)”

  18. Perso’alan semakin beragam dlm jumlah yg tak sedikit karena dibiarkan berkembang dan bermetamorfosis sekian lama. Dari sejak awal sudah disikapi secara tak bijak, dan kita saksikan kerusakan dari hasil pembiaran itu semakin besar dan akibatnya kini mulai menyentuh anak2 kita.

    Entah rumus mana lagi yg akan diolah utk menyelesaikan masalah yg sudah terlanjur besar sebesar-besarnya ini.

    • Betul, mbak Winny.
      Dan kita tidak bisa menisbahkan permasalahan ini ke pihak sekolah, karena menurut para ulama sudah jelas bahwa tanggungjawab orangtua adalah sangat besar dalam memberikan pendidikan seks dalam keluarga, karena hal yang sifatnya pribadi bisa disampaikan di sana.

  19. Tina Latief says:

    melihat kejadian seperti ini saya jadi khawatir dengan kurikulum yang sekarang mas Iwan.. akankah kurikulum pendidikan kita yang meniadakan tik bagi smp dan lebih memperbanyak pendidikan karakter akan berhasil. Saya tidak mau pesimis, hanya bagaimana cara efektifnya agar anak-anak tidak seperti ini?

    • Porsi yang sangat besar pendidikan karakter itu sebaiknya diserahkan kepada orangtuanya masing-masing atau wali muridnya. Tanggungjawab ortu di bidang ini sejalan dg pendapat para ulama. Di sekolah hanya belajar contoh kasusnya saja, simulasi diskusi. Ini baru melibatkan orangtua secara aktif. Jadi tidak melepaskan tanggungjawabnya begitu saja ke pihak sekolah.

      Sedangkan porsi yang sangat besar untuk pendidikan yang sifatnya teknis dan eksak baru diserahkan ke sekolah. karena saya yakin infrastruktur sekolah untuk mempelajari hal-hal teknis itu jauh lebih lengkap dibandingkan di rumah. Jadi wajar kalo biaya sekolah itu mahal. Siswa jadi lebih fokus belajar banyak hal yang sifatnya teknis.
      Jadi saya tidak setuju kalau TIK dihapuskan.

    • Tina Latief says:

      Yang saya baca dari berita beberapa waktu lalu, alasan TIK dihapuskan karena TIK bisa disisipkan ke mata pelajaran lain mas, lalu sebetulnya tujuan utama pendidikan kita menghapus TIK itu apa mas?

      apakah ini ada kaitannya dengan aktivitas siswa di dunia maya?

    • Kalau bicara tujuan utama ya mengacu ke apa yang disampaikan Pak Mendikbud (itu juga seperti yang dibilang mbak Tina) bahwa ke depan semua guru harus menerapkan sistem pembelajaran yang berbasis TIK.
      Jadi dengan pemberian tugas2 sekolah secara tidak langsung memaksa mereka belajar TIK secara otodidak yang tutorialnya banyak tersebar di internet, misalnya menyajikan materi dalam bentuk word, excel, powerpoint, paint, dll.
      Namun demikian, pemerintah masih membuka peluang untuk TIK sbg mapel muatan lokal, atau ekstra kurikuler.

      Ketidaksetujuan saya atas dihapuskannya mapel TIK karena saat ini kita masih belum siap, fasilitas TIK belum merata di seluruh Indonesia. Kalau tidak siap maka tidak akan ada dorongan yang kuat untuk menyisipkan TIK di mapel lain.

      Tentang kaitannya dg aktivitas siswa di dunia maya itu kecil kemungkinannya, mbak, karena itu tidak bisa dijadikan alasan, mengingat saat ini dunia maya sudah mulai menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Database informasi ada di sana.

      Saya pernah membaca di harian JawaPos penghapusan ini masih misteri, bahkan ada yang mengaitkannya dengan ketidaksetujuan “asing” terhadap implementasi IGOS di Indonesia.

      Lantas bagaimana sikap kita?
      Mau tidak mau orangtua harus tertantang untuk aktif belajar agar tidak gaptek, dengan demikian bisa mengajari putra/putrinya di rumah. Sekaligus mengajarkan internet yang sehat.
      Ini ada success story, saya undang mbak Tina untuk mampir di jurnal ini. Ortu & anak sama-sama bertumbuh, melek teknologi, dan menghasilkan.

  20. felis catus says:

    Setuju kalau pendidikan tentang seks sebaiknya diajarkan sejak dini, supaya anak-anak tahu menjaga dirinya. Yang penting isinya sebaiknya memang disesuaikan dengan budaya dan norma masyarakat, jangan mentah-mentah mencopy pendidikan seks yang berasal dari negara lain yang jelas-jelas punya nilai dan budaya yang berbeda. Kalau terlalu jauh bedanya, saya kira malah tidak sampai pesan sebenarnya.

    Buat Indonesia, yang sebagian besar masyarakatnya masih merasa tidak nyaman untuk membicarakan seks, mungkin malah lebih efektif kalau pendidikan seks tidak perlu khusus ditaruh sendiri, tetapi disisipkan di berbagai matpel yang sudah ada, dari matpel biologi, matpel olahraga dan kesehatan sampai matpel agama.

    Oh, kata siapa orang-orang di negara barat tidak kuatir akan pornografi? Di Iceland ada loh gerakan untuk melarang pornografi via internet: http://www.theguardian.com/world/2013/may/26/iceland-crackdown-internet-porn . Untuk pornografi yang bukan via internet sudah lama dilarang di sana, bahkan regulasi buat iklan pun ketat.

    • Alhamdulillah, bila di Iceland ada gerakan melarang pornografi via internet. Semoga semangat gerakannya meluas ya. Terimakasih infonya.

      Tentang perkembangan pornografi di negara Barat, saya ambil contoh Denmark. Negara ini secara terbuka memproklamirkan diri sbg sentra pornografi dan prostitusi. Sejak tahun 1969, Denmark menghapuskan sensor film dan kemudian industri film porno Denmark menggelar “The Copenhagen Sex Fair”. [EuropeForVisitors.com].
      Penghapusan sensor film yang diberlakukan di Denmark ternyata berlaku untuk semua, sehingga remaja minimal berusia 12 tahun boleh nonton film apa saja yg diputar di bioskop, termasuk blue film.

      Kemudian dalam perkembangannya di negara-negara lain, bisa kita simak dalam publikasi Libertarian: http://www.libertarian.co.uk/lapubs/legan/legan014.pdf

      Film censorship has been or is in the process of being abolished in every other state in Europe except Ireland. As other countries liberalise, the United Kingdom becomes more censorious! Unlike video censorship, the system for films does at least guarantee immunity from prosecution for obscenity regarding those passed by the British Board of Film Classification (because the consent of the Director of Public Prosecutions is required under Section 53 of the Criminal Law Act 1977 before charges can be brought in connection with such films)

      cmmiw, mbak Indres, bila ada info yg lebih update.

    • felis catus says:

      Kalau dari berita di media online malah tampaknya masyarakat (terutama UK) semakin muak dengan kehadiran pornografi di ruang publik.

      Contohnya:
      1. Gerakan menghapus page-3 The Sun (isinya adalah foto wanita topless): http://www.theguardian.com/media/greenslade/2013/aug/06/page-3-david-dinsmore
      2. Student union di berbagai universitas di UK menolak menyetel lagu yang liriknya berisi rape culture: http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/music/news/they-know-they-dont-want-it-more-universities-ban-robin-thickes-blurred-lines-8924084.html
      3. Kampanye untuk sistem rating bagi musik video: http://www.ibtimes.co.uk/articles/520991/20131110/sexualised-pop-videos-age-ratings-review-rewind.htm
      4. Beberapa student union di UK menghentikan penjualan koran The Sun di universitas mereka: http://www.independent.co.uk/student/news/uea-is-the-latest-university-to-ban-the-sun-8904773.html

      Soal tentang hukum yang membolehkan hal-hal seperti pornografi, miras, dsb, ada hal menarik di Belanda. Sebagaimana mas Iwan ketahui, hukum mereka sangat liberal. Seperti misalnya ganja yang bisa bebas dibeli di cofeeshop. Menariknya,persentase anak remaja yang menggunakan ganja di Belanda jauh lebih rendah daripada di US (http://www.drugwarfacts.org/cms/netherlands_v_us#sthash.43m4fmNn.dpbs). Saya pernah bertanya serius ke beberapa kenalan Belanda saya dan jawabannya sama: diperbolehkan bukan berarti baik untuk dikerjakan. Hal-hal tadi diperbolehkan supaya bisa diatur dengan jelas dan ketat. Kalau dilarang, malah susah diaturnya karena pasti ada yang sembunyi-sembunyi melakukannya.

      Anyway, budaya orang Belanda dan Indonesia memang jauh berbeda, yang bisa diterapkan di Belanda, belum tentu bisa jalan di Indonesia.

    • Dyah Sujiati says:

      Wah senang membacanya.

      Betul mbak. Bisa diterapkan di sana, belum tentu di sini bisa. Mungkin kalau orang indonesia diberi kebebasan semacam itu, sebagian besar akan menggunakan dengan dalih kebebasan.

      Aiya, barang kali kalau orang di sana sudah memahami ‘kebebasan yang bertanggungjawab’. Tapi kalau di sini baru ‘kebebasan’nya aja yang dilakukan. Ya semoga seiring waktu sih lanjutannyaitu dipakai. Tak selamanya berada pada tataran ‘euforia kebebasan’ yang kebablasan. 😀

    • Terimakasih banget sharingnya, mbak Indres. Sampai terpikir oleh saya untuk membuat jurnal khusus sebagai pelengkap jawaban yang disampaikan mbak Indres. Pada dasarnya sesuai fitrahnya, manusia itu menolak segala jenis kejahatan, dan pornografi adalah bagian dari kejahatan.

      Ini ada kabar menggembirakan dari DailyMail bahwa:
      PM Inggris, David Cameron bilang mulai tahun depan Inggris siap blokir semua situs pornografi, sebanyak 20 juta keluarga di UK yg punya koneksi Internet akan dipaksa untuk memilih, menonaktifkan saluran pornografi atau diblokir. Dua perusahaan besar penyedia layanan Internet di UK, Talk Talk dan Sky, akan minta para pelanggannya memilih mengaktifkan semua layanan pornografi atau mematikan seluruhnya. Proses itu akan berlangsung selama beberapa bulan, sebelum siap diblokir tahun depan. Begitu juga telepon seluler, konten-konten pornografi akan dibatasi.

      Jadi benar apa yg disampaikan mbak Indress bahwa masyarakat UK semakin muak dengan kehadiran pornografi di ruang publik, terlihat juga betapa gemasnya para komentator di link berita tersebut.

  21. Sebagai guru, saya sedih sekali melihat hal ini, Mas…

  22. ibuseno says:

    Materi dan metode penyampaiannya saaaangat liberal. Hanya fokus pada membekali remaja agar perilaku seksualnya ‘aman’ dan ‘sehat’ yakni terhindar dari resiko kehamilan dan bahaya penyakit menular seksual.<— , nah mestinya pendidikan seks nya juga diimbangi dngn pendidikan keagamaan.. bukan dr segi kesehatan saja ya om

  23. jampang says:

    di satu sisi memberikan pendidikan… tetapi di sisi lain fasilitas yang mendukung ke arah freesex disediakan.

  24. Dyah Sujiati says:

    Ini ada penjelasan ilmiah soal bahaya pornografi pak
    http://abangdani.wordpress.com/2013/09/12/dampak-mengerikan-dibalik-pornografi/

    Berarti harus ada yang memperbaiki KRR untuk menambahkan pemahaman akidah, ibadah, dan akhlak. Dan harus mampu merubah paradigma ‘wajar’. Lagipula, 4 opsi nge-seks aman di poin a itu kayak cuma formalitas dan istilah yang digunakan juga tidak mudah diingat. Haiyaa!

    Coba kalau pemerintah (melalui BKKBN)mau pasang reklame dengan kata-kata yang tepat. Misal : tidak ada seks aman kecuali setelah nikah! -Dulu pernah ada di Ngawi, tapi tak tahu sekarang-
    Jangan yang digembar-gemborkan itu : seks aman pakai kondom atau gak ganti pasangan. Haiyah, prett!

    Orang liberal itu lucu. Ngajak/menyuruh orang jadi kayak binatang berdalih itu urusan privat. Ngeseks sembarangan. Padahal itu kan juga ibadah kalau dilakukan dengan cara yang benar!

    Berarti itu tadi, KRR harus dirubah!

    • Teriamakasih tambahan informasinya, mbak Dyah.
      Coba gambaran proses kecanduan pornografi itu bisa masuk dalam kurikulum. Ada baiknya memang harus masuk. Melihat materinya KRR, proses kecanduan tsb setahuku saat ini belum masuk.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: