Home » Ghazwul Fikri » [Quiz #4] Mahalnya Kelalaian

[Quiz #4] Mahalnya Kelalaian

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

4 Juli, pukul 11.45 | Di sebuah paviliun rumah sakit

Air mataku tak mampu kutahan, melihat Doni yang diinfus, terkulai lemas di atas ranjangnya. Aku merasakan yang dialaminya terjadi begitu mengagetkan tanpa bisa diprediksi olehku dan suamiku. Yang kurasakan selama ini kondisi kami baik-baik saja, menikmati kebahagiaan, tapi ternyata…
Duh Gustiii, maafkan kami yang lalai.

…. 7 minggu yang lalu ….

15 Mei, pukul 20.15 | Obrolan di ruang tamu

“Mas, kemaren waktu pulang kerja, dah sampai rumah tiba-tiba ada urgent request, klienku minta segera dikirimi proposal. Berhubung laptop masih diservis terpaksa aku pergi ke warnet di ruko depan komplek kita itu untuk edit beberapa bagian dan kirim email”.

“Hmm… trus?”

“Ya ampun, maas… di sana gak sengaja kutemukan beberapa folder di komputer yang kupakai itu isinya file-file film homo yang lagi gituan. Aku jelas shock banget. Langsung deh kuhapus semua file film itu. Selesai urusan edit dan kirim email, aku coba komplain ke penjaganya, … eh lha kok dia bilang gak tahu apa-apa soal file film itu karena alasannya tugasnya hanya sebagai operator jaga dan proses billing. Siapa yang gak emosi?”

“Trus?”

Huhh… sepertinya suamiku dingin menanggapi omonganku, meski mendengarkan, namun pandangan matanya masih saja tertuju pada layar laptop di depannya.

“Yaa.., mas bantu laporin ke Pak Rahmat, RT kita itu doong … biar nertibin warnet yang kayak gitu. Khan bahaya, mas, apalagi kulihat banyak anak yang nge-rental di situ. Kita gak tahu apa yang mereka tonton dan perbuat di dalam bilik warnet yang disekat-sekat tinggi itu. Kata Pak Andreas security komplek, di situ masih banyak yang nge-rental kala dini hari sampai subuh, terlihat dari banyaknya parkir motor.”

“Kalo lapor sekarang ya gak bisa, lihatlah … mas harus nyiapin materi untuk presentasi besok di Malang. Besok, pesawat berangkatnya pagi-pagi sekali,” balas Rudi. Lanjutnya, “Apa kamu kuatir di kampung kita banyak yang homo?”

Aku mengangguk.

Setelah melepas kaca matanya, Rudi berkata, “Di era internet sekarang ini memang sulit membendung arus pornografi, meski diblokir, anak-anak itu pasti dah jago nembus blokirnya, lha wong tutorial gimana bisa nembus banyak tersedia di internet. Yang penting Doni anak kita jangan sampai teracuni pikirannya oleh tontonan seperti itu. Tolong ajari dan awasi dia.”
Lanjutnya, “Lagian juga selama para pelaku homoseksual itu tidak mengganggu kita … ya biarin aja, toh itu sudah jadi pilihan hidupnya, dan tentunya mereka sudah memikirkan konsekuensinya toh. Bagiku masalah orientasi seksual itu hal yang privat, kita gak perlu ikut campur deh urusan mereka”

“Tapi mas, …”

Ah.., sudahlah, aku tidak ingin lagi melanjutkan omonganku. Sepertinya malam ini suamiku merasa terganggu fokus pekerjaannya. Aku menyadari proyek-proyek di kantornya begitu banyak menyita perhatiannya, sehingga ia kurang begitu peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan tempat tinggal kami.

Apakah mungkin kebanyakan masyarakat kita juga cenderung permisif seperti suamiku karena tenggelam dalam urusannya masing-masing? Bisa jadi karena tekanan hidup yang tinggi membuat mereka tidak peduli lagi dengan masalah sosial di sekelilingnya apalagi yang terjadi pada keluarganya. Soal kepedulian terhadap keluarga, aku jadi teringat sebuah pesan di twitter dari pegiat Jaringan Islam Liberal yang hadir di timeline-ku beberapa hari yang lalu:



Hari ini …4 Juli, pukul 08.45 | Dalam ruang rapat di kantor

Aku yang tiga bulan lalu dipromosikan sebagai kepala sub divisi, pagi itu dipercaya memimpin rapat koordinasi. Di tengah jalannya rapat, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk dari sekolah SD Negeri 28 yang mengabarkan Doni sakit demam tinggi. Memang tadi pagi Doni tampak murung, lesu, kurang bersemangat berangkat ke sekolah, dan kuamati kecenderungannya beberapa hari ini seperti itu, sayangnya ia tidak mau mengatakan masalahnya.

Setelah mengabari suamiku via telepon, segera aku ijin atasanku meninggalkan kantor untuk menjemput Doni di sekolahnya dan membawanya ke rumah sakit.

4 Juli, pukul 11.20 | Di ruang praktek dokter

“Ibu Desi, Doni putra ibu harus rawat inap mulai hari ini. Kondisi demamnya masih tinggi, dan sepertinya ia mengalami semacam trauma, beberapa kali ia seperti menceracau. Tim kami masih menyelidiki gejala dan penyebabnya, namun ada yang aneh … ada pembengkakan dan luka yang serius pada anus anak ibu,” kata dokter Widodo.

.
********** e n d **********

.
Pertanyaan Quiz:
Pembaca yang budiman, apa yang membuat ibu Desi mempunyai kekuatiran yang begitu besar terhadap Doni? Sebutkan minimal 4 hal yang dikuatirkan.

Flash Fiction ini terinspirasi dari kisah nyata yang Insya Allah akan dibahas pada jurnal berikutnya.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
29.11.2013

.
———-
UPDATE 06/12/2013

Jawaban Quiz bisa disimak pada jurnal:
Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak

Advertisements

56 Comments

  1. dianonasis says:

    saya udah merinding duluan mas iwan..:(

    perut saya rasanya melilit karena memikirkan dua anak saya sekarang ini. Allah.. nauzubillah… jauhkan…:(

    *gak berani jawab apa2… hanya berani berdoa kuat2…

  2. debapirez says:

    dulu sempat mau buka usaha warnet sm teman2. Tapi takut mudarat-nya lbh banyak, ga jadi deh.
    Warmet yg laku ya….yg ada bilik tertutup karena lebih privacy. Pernah saya pulang kuliah, mampir ke apotik dkt rumah, di sebelahnya ada warnet yang buka 24 jam. Dan masih banyak anak2 usia sekolah yang main di warnet. Padahal saat itu sekitar jam 11 malam 😦

    • Beberapa bulan yang lalu di Tanjung pinang (pulau tetangganya Batam) ada razia di warnet-warnet jam 2 dini hari, akhirnya terjaring anak SD sebanyak 41 anak. Beritanya pernah saya share di twitter. Itu baru kota kecil. Kota-kota lainnya mungkin lebih parah kalo tidak ada pengawasan melekat dari pemda-nya, dan kunci utama-nya sih ya orangtuanya, masak jam segitu gak nyariin anaknya.

  3. Innalillahi… Pak. Tulisannya makin kreatif saja. Maju terus. Terimakasih saya sudah diikutkan jadi pemeran dalam cerita ini, hehehe (GR). Saya juga punya banyak cerita menarik selam offline, kasus terakhir saya sedang advokasi pembredelan kasus pengobatan tunarungu oleh Mr. Masudin yang lagi marak. Do’akan saya dan tim berhasil. Nanti saya akan jadikan cerita, InsyaAllah…

    • Memang nama itu terinspirasi dengan semangat bapak, dan saya suka nama itu 🙂
      Saya tunggu sharingnya, pak. Semoga kebenaran dan keadilan telah menemukan jalannya dalam kasus yang bapak tangani tersebut.

  4. izzawa says:

    Naudzubilla..
    menurut saya Ibu Doni khawatir anaknya menjadi salah satu korban kejahatan seksual,,apalgi IBu Doni tahu bahwa warnet disekitar rumahnya begitu bebas, sehingga memudahkan siapa saja mengakses hal-hal negatif disana, apalagi anak-anak seusia Doni

  5. Putri says:

    duuhh miris sekali ya,
    Assalamu’alaikum, , salam perkenalan pak. Bila ada waktu silahkan berkunjung balik.
    Saya tawarkan vcd interaktif untuk anak-anak, mungkin bpk mempunyai anak/adik / keponakan yang masih kecil, silahkan dilihat lihat dahulu, Ini sangat bagus untuk mendidik dan membangun karakter islami dan moral anak sejak dini, semoga bermanfaat dan semoga bpk tertarik. Mohon maaf bila tdk berkenan. Terima kasih

    • Wa’alaikumsalam, mbak Putri.
      Saya telah mengunjungi balik website-nya. Barakallah dengan usahanya ya, semoga bermanfaat bagi banyak keluarga, khususnya keluarga muslim.

  6. araaminoe says:

    Menurut dalem kekhawatiran terbesar dari ibu Doni adalah gagalnya ia menjaga anaknya sendiri dari hal yg selama ini ia takutkan dikarenakan ia lebih “mementingkan” kariernya, sehingga Doni tlh menjadi “korban” untk sesuatu yg baik sengaja atw tdk tlh Doni lakukan tanpa pengawasan yg baik dari keluarganya.
    IMHO 🙂

    • Terimakasih atas jawabannya, mbak Asmie.
      Yang perlu diperhatikan adalah bahwa disorientasi di masyarakat itu tidak berdampak individu, namun berdampak sosial / meluas. Sehingga tidak bisa dibilang bahwa disorientasi seksual adalah ranah privat.

      Jawaban untuk quiz ada di jurnal ini.

  7. Saya pro gay, pro lesbian. Pro disini bagi saya pro persamaan hak sebagai warna negara. Hanya karena orientasi seksual mereka berbeda dari kebanyakan bukan berarti negara sebagai duty bearer boleh mengurangi kewajiban terhadap mereka. Toh pajak yang mereka bayarkan perhitungannya sama, kenapa hak mereka sebagai warna negara harus dikurangi?

    Anyway, soal apakah kalau saya punya anak dan mereka menjadi lesbian atau gay apakah akan saya biarkan? Bukan dibiarkan, tapi akan saya didik mereka menjadi orang baik yang bisa mencapai kebahagiaan. Perkara mereka akan menjadi gay atau lesbian, itu tergantung suara hati kecil mereka karena cuma mereka yang tahu kebenaran hati mereka, merekalah yang bergumul dengan suara itu setiap hari. Who am I to judge them?

    Jawaban kuisnya: Mungkin ambein, kebanyakan duduk di kelas dan duduk dari rumah ke sekolah 🙂

    • Terimakasih atas pendapatnya, mbak Ailsa.
      Sebagai bagian dari warga negara Indonesia memang tidak boleh ada diskriminasi terhadap LGBT.
      Kemudian bila mengacu pada ketetapan fitrah, ada baiknya untuk diarahkan agar orientasinya kembali normal. Tentunya tidak dengan pemaksaan, apalagi dg intimidasi dan judging. Prosesnya memang tidak mudah, perlu kesabaran, yang penting pelan-pelan bisa mengubah kecenderungannya. Ini bagian dari ujian keimanan.

      Jawaban untuk quiz ada di jurnal ini. Ada dua jurnal berikutnya yang terkait dengan hal ini.

  8. takediyaya says:

    ibunya khawatir doni tertular HIV?

  9. rahmabalcı says:

    kekuatiran terbesar ibu doni, bs jd doni jadi salah satu korban tindak kekerasan seksual dr lingkungan sosial dimana mereka tinggal, ibunya kuatir sm masa depan doni pasca kejadian yg bakalan ninggalin traumatis..*penasaran tulisan pak iwan lanjutannya

    • Tepat sekali, mbak Rahma.
      Untuk lebih detailnya, sudah saya share jawabannya di jurnal berikutnya di sini.
      Selamat menyimak. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari situ untuk bersikap Awas terhadap lingkungan pergaulan anak-anak.

  10. rahmabalcı says:

    saya baca nya sama baca komen2 diatas, udah merinding duluan pak-.- apalagi skrg udh berstatus punya anak:S

  11. angkasa13 says:

    Innalillahii… ngeri bacanyaaa….

  12. nurme says:

    Menurut pedapat saya wajar ibunya Doni khawatir. Karena memang saat ini sudah banyak di masyarakat kita malah sudah menjadi life style.

    Mereka yang mempunyai prilaku seperti ini cenderung mendekati anak yang ayah dan ibunya mempunyai kesibukan tingkat tinggi, termasuk anak korban perceraian. Mengapa, karena mereka ini secara psycologis emosinya tidak stabil. Kurang figur ayah atau ibu.

    Mereka yang berprilaku seperti ini saat ini sudah merata dalam semua bidang pekerjaan, bahkan beberapa dari mereka termasuk berprestasi dalam pekerjaannya.

    Peran seorang ayah untuk meminimal hal ini sangatlah penting. Alangkah baiknya jika seorang ayah dekat dengan anaknya. Sehingga setidaknya mengurangi life style seperti ini berkembang.

    Yuuk kita bantu untuk perduli pada sekitar, terutama generasi muda. Karena ada beberapa dari mereka yang menikah tapi punya kecenderungan seperti ini.

    • Terimakasih, atas sumbangsih pemikirannya, teh Ipie.

      Yang dikuatirkan sang ibu dalam kisah jurnal di atas sangat besar, namanya juga kasih seorang ibu. Detailnya sudah saya share di jurnal berikutnya di sini. Selamat menyimak ya, teh.

    • nurme says:

      Iya Pak, sama-sama.
      Tadi sempat melihat sekilas dikantor.
      Sekarang meluncur ke TKP.

      Tolong dishare juga yang lainnya ya Pak. Kadang saya kesulitan membuka yang jarang posting karena tertutup yang sering posting 🙂

  13. Ibu Doni takut pengaruh film-film di warnet tersebut akan mempengaruhi pola pikiir dan moral teman-teman Doni. Sehingga secara tidak langsung, teman-teman Doni akan menjadi zombie yang siap “menggigit” Doni kapanpun dan mengubah Doni menjadi zombie juga. 🙂

  14. jaraway says:

    sodomi yang dilakukan penjaga warnet..
    =(
    its happen near my home..
    di warnet deket rumah..
    dan dulu fajar sering lembur di sana..
    T_T
    kami kenal sang penjaga warnet..
    kini sudah ditangkap polisi..
    entah sama ga kasusnya pak..
    sedddiih
    sodomi ke banyak anak2..
    =(
    3 kalo ga salah…

  15. kasamago says:

    duh apa y, mngkin spti ortu lovelable pd umumnya yg mengkhawatirkan anakny klo terjadi sesuatu yg aneh, janggal, feeling seorang Ibu nyk bnernya. jd Doni mungkin korban sebuah kekerasan.

    hmm, nunggu jurnal berikutny dah..

  16. Dailynomous says:

    Kepedulian dimulai dari keluarga dan lingkungan kita, ketidakpedulian membuat manusia sendiri tidak memanusiakan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja mengancam siapapun. Walaupun bukan keluarga atau anak kita.

    Dalam kasus ini, ketidakpedulian akhirnya menyisakan pedih yang amat mendalam. Dimana gejala bahkan indikasi disorientasi seksual telah menumbalkan keluarga bahkan anaknya sendiri.

    Untuk itu, kepedulian memerangi perihal disorientasi dan gejala-gejala penyimpangan moral di masyarakat, adalah sejatinya tugas kita, meski hanya dari lembar seperti ini.

    Perang pemikiran dan pengaruh alam bawah sadar serta mudahnya virus disorientasi tersebut menyebar karena merosotnya moral penduduk negeri ini, yang kita tahu banyak aspek yang amat mempengaruhi. Mulai dari lingkungan bahkan yang paling menakutkan adalah penyalahgunaan teknologi.

    Saya pribadi cukup mengerutkan dahi dan membatin, beginikah negeri ini, bahkan kejahilan-kejahilan umat nabi-nabi ditimpakan di sini. Yah, inilah akhir zaman. Tulisan yang mencerahkan sekaligus membuat saya mengigit jari.

    • Dyah Sujiati says:

      Setuju! Suka baca komentarini

    • Betul, manusia adalah makhluk sosial, segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja mengancam siapapun.

      Memang kepedulian memerangi perihal disorientasi dan gejala-gejala penyimpangan moral di masyarakat adalah sejatinya tugas kita, sejalan dengan seruan-Nya di QS. An-Nahl:125.

      Silakan simak detail jawabannya di jurnal berikutnya di sini, mas Zy. Benar-benar bikin mengerutkan dahi.

  17. felis catus says:

    Paedophilia dan file di warnet itu adalah salah satu cara orang yang punya kelainan paedophilia untuk me-grooming anak-anak targetnya.

  18. tiarrahman says:

    jangan2 Doni sendiri yang punya file di warnet tersebut dan mencoba dengan kawannya 😦

    • Di situ, ibu Desi benar-benar mendidik anaknya dengan baik sesuai pesan suaminya, dan Doni mematuhinya dengan tidak menonton film porno, apalagi memiliki file-nya.
      Tapi jawaban Pak Tiar hampir mendekati kebenaran, manakala Doni harus mencoba dengan kawan-kawannya.

      Lho kok bisa? Bagaimana kejadiannya?
      Silakan simak jawaban quiz pada jurnal berikutnya di sini, Pak Tiar.

  19. ibuseno says:

    takut kalau Doni salah seorang yg sering main di warnet itu beserta geng2nya.. dan ada hubungannya dengan anusnya.. aduuuh miris om..

  20. ada kemungkinan Doni melihat film porno yang ada dirental depan kompleks tersebut dan mencoba atau dipaksa oleh temannya untuk melakukan perbuatan sodomi…

    Moga dijauhkan dari hal2 seperti itu..

  21. miris. Saya juga sangat menyayangkan dengan kondisi warnet2 yang ada di lingkungan kita..

    • Kondisi bilik warnet yg seperti ini lebih disukai pengunjung yg punya ‘niat khusus’ :

      Dan anehnya kok kesannya ada pembiaran oleh masyarakat setempat yg tanpa sadar digerogoti sikap permisif.

      Untuk jawaban quiz ini silakan simak jurnal berikutnya ya, mbak.

  22. dinda says:

    Terjadi kekerasan seksual dialami Doni,,, mungkin paksaan yg bisa jadi dilakukan oleh kakak kelas, orang dewasa lainnya atau malah oleh guru lelaki disekolahnya.

    Semoga hal ini tidak terjadi pada anak-anak kita. Aminnn

  23. jampang says:

    hubungan antara luka di anus dan perilaku gay…. yang sebelumnya dilihat di warnet..

    hikss…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: