Home » Ghazwul Fikri » Keliyengan Stadium 4 Gara-Gara Kondom

Keliyengan Stadium 4 Gara-Gara Kondom

Blog Stats

  • 1,994,609

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

Ilustrasi dari Fan Page Lingkar Komik edisi “Kondom Gratis?”, 1/12/2013.


KLIYENGAN STADIUM 4 GARA-GARA KONDOM

Pagi-pagi, Nadia membawa gulungan spanduk berjalan menuju gang besar untuk menyetop angkot. Saat melewati rumah Kyai Maksum, dilihatnya sang Kyai sedang menyirami tanaman di halaman depan rumahnya, Nadia kemudian menyapanya.

“Assalamu’alaikum, Kyai, wah… rajin amat nih”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah, … eh Nadia, pagi pagi gini mo’ kemane?”

“Ke Bundaran HI, Kyai”

“Emang nape?”

“Mau demo soal kondom”

“Hah… kondom?! Sekarang buru-buru, gak? ayo ngobrol bentar sinih”

Nadia menyanggupi, toh waktu ngumpul juga masih lama. Setelah membersihkan tangan dan kakinya, Kyai Maksum siap mendengarkan penjelasan Nadia di teras depan rumahnya. Berceritalah Nadia soal ulah seorang pejabat kementerian yang mengampanyekan kondom di kampus-kampus melalui Pekan Kondom Nasional, tanggal 1-7 Desember 2013. [Liputan 6]. Ya salaaam, kepala Kyai Maksum langsung berdenyut-denyut, keliyengan stadium 1.

“Bagaimana menurut pandangan Kyai tentang langkah pejabat itu?”

“Hmmm…”

Kepala Kyai Maksum langsung tambah berdenyut-denyut keliyengan stadium 2 kala ditunjukkan gambar bus Kondom oleh Nadia. Pikirnya, pilihan gambar dari bus kampanye ini menempatkan perempuan dengan tampilan yang sensual. Tampilan ini bisa masuk ranah melecehkan perempuan. Kenapa bukan model sebagian tubuh penderita penyakit AIDS yang dipenuhi borok, biar orang berpikir keras kalau ingin free sex.

*disensor ye, aurat tuh…*

“Di salah satu acara talk radio show kemaren, seorang panitia kampanye kondom nasional bilang gini, Kyai:

Yang nganggap kondom gratis sama dengan free sex itu pikirannya mesum dan sempit amat pikirannya. Kondom itu khan alat KB buat pengendalian angka kelahiran. Kekurangan sex education yang benar lah yang bikin moral bangsa ancur sendiri gara-gara penasaran. Kalo dia dapet sex ed yang bener mau dikasih sekardus kondom gratis juga gak bakal dipake sebelum nikah.

“Lahh… die sendiri dah tahu kalo masyarakat kekurangan sex education, lantas nape kondom-kondom entu dibagiin bebas kepada masyarakat umum, gak mandang apakah dia dapet sex education ato kagak. Gimane kalo yang dapet kondom entu, orang-orang yang gak dapet sex education?! Ape semua remaja usia 14 sampe 25 taon itu punya iman semua?! Lha, gimane dengan remaja labil bin galau yang belon nikah yang kagak punya iman?! Apalagi demen ame pergaulan bebas. Bakal disalah-gunain tuh kondom.”

Gerutu kyai Maksum dengan suara meninggi.

“Nah, itu dia, Kyai. Bisa jadi, mereka ngerasa girang karena malah menganggap pergaulan bebas itu legal, asalkan pake kondom. Buktinya mereka didorong dengan kampanye pemakaian kondom, ada paket yang dibagiin itu berupa “TATA CARA PEMAKAIAN KONDOM YANG BENAR” yang di dalamnya diselipin kondom seperti ini:



Ya salaaam, nape urusan kondom jadi belibet gini sih, Nadia?” Kyai Maksum langsung keliyengan meningkat ke stadium 3.

“Katanya Pekan Kondom Nasional ini maksudnya untuk mencegah penularan HIV, Kyai”

“Maksudnye sih bener, kondomnya gak salah. Yang masalah entu … nape kok ngebagiin kondom gratis di kampus-kampus bukan di tempat prostitusi aja?! Ape kampus entu sekarang udah disamain dengan lokalisasi?! Lha justru ini malah ngasih peluang para pelajar ntuk mraktekin ke pacarnye. Bagi-bagiin kondom gratis, … AIDS belon tentu tercegah, tapi free sex-nye dah pasti kejadian. Ya salaaam.

“Memang, Menkes juga bilang kondom bukan barang terlarang”

“Pistol juga bukan barang terlarang, entu buat alat perlindungan diri dari kejahatan. Tapi … bagi-bagiin pistol ke anak-anak itu yang dilarang. Mangkanye gak semua orang boleh punya apalagi ngegunain, hanya mereka nyang punya izin khusus diperbolehin punya dan ngegunain.”

“Analogi kyai tepat nih, kondom dan pistol sama-sama barang mematikan. Nah, daripada kampanye pemakaian kondom kepada pelajar di kampus dengan alasan kampanye anti AIDS dan HIV, mending kampanye masyarakat bahwa zina itu haram. Safe sex hanya bisa dilalui dengan jalan menikah, bukan dengan modal kondom lalu bisa nembak sana-sini.”

“Betul. Entu justru jauh lebih baek, bentengi anak remaja kite masing-masing yang kini sedang dicoba digiring untuk berpikir dan bertindak liberal. Kasih pengertian yang bener pada mereka soal konsekuensi zina dunia akhirat. Mau zina sehat, kek.. zina bergizi, kek, .. zina bervitamin, kek… yang namanya Zina itu Haram!. Jangan korbanin kehormatan dan keselamatan hidup mereka dengan kampanye make kondom. Kondom entu hanya buat mereka yang dah punya lisensi nembak alias buku nikah.”

“Kyai, saya ngga ngebayangin kalo tiba-tiba suatu saat nanti di negeri kita para orangtua nemuin kondom di laci meja anak-anak remaja mereka.”

“Lha, iya, ya. Pikiran ente kok bisa nyampe kesitu”

“Ya, saya coba ngebayangin aja apa jawab tuh bocah kalo pas ditanya ibunya, “Heh, Dul, kondom dari mana, nih? Buat apaan? Siapa yang ngajarin lu pake kondom?”

“Nah, trus…trus harus jawab ape tuh bocah?”

“Tuh bocah khan dah diajarin bicara jujur, maka pasti jawabnya jujur, Kyai”

“Jujur pegimane?!”

“Ya, bilang aja, “Menaati saran dari ibu pejabat kementerian yaitu “Lindungi diri dengan kondom!”,” kata Nadia sambil nyodorin ipad yang memuat berita dari media Tempo: “Swiss Pasarkan Kondom untuk Anak 12 Tahun”. Diberitakan bahwa kondom tersebut diproduksi menyusul sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008 yang menunjukkan bahwa anak laki-laki usia 12-14 tahun tidak cukup melindungi diri mereka ketika berhubungan seks. Anak-anak sering tidak dapat menemukan kondom dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran mereka, seringkali spermanya merembes, sehingga kurang nyaman dan aman. Ya iyalah… kebesaran.

“Lha.. kok bisa nyampe ke situ larinya? Itu khan di Swiss?”

“Gini, Kyai, pemerintah kita khan sering gak punya wibawa, seringkali mauuu aja ditekan untuk impor kebijakan-kebijakan yang datang dari asing yang justru gak cocok diterapin di sini. Termasuk kebijakan kondom ini khan tekanan dari UNAIDS. Jadi, jangan heran kalau suatu saat nanti saking paniknya mereka juga ditekan untuk meniru kebijakan pemerintah Swiss, mengingat jumlah penderita AIDS di Indonesia di kalangan anak-anak makin meningkat tajam. Itulah tipikal pemerintah yang alergi dengan solusi yang ditawarkan Islam, yang dianggapnya kolot. Padahal, sudah 15 tahun mereka mengikuti program dari UNAIDS, mereka gagal menurunkan angka kasus seks bebas dan praktek aborsi di kalangan remaja, keduanya trennya meningkat. [Baca di sini ya, pembaca] Lha kok sekarang masih mengulangi kesalahan yang sama.”

“Waduhh… waduhh… !!!” Kyai Maksum mulai keliyengan lagi.

“Kalo gak percaya, coba Kyai jawab dulu quiz ini: Kelalaian Yang Dibayar Mahal,” kata Nadia sambil memberikan selembar kertas berisi flash fiction yang diakhiri dengan quiz. “Udahan dulu ya, Kyai, saya mau berangkat ke Bundaran HI. Assalamu’alakum warahmatullahi wabarakatuh,” pamit Nadia.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

Selepas Nadia pergi, Kyai Maksum membaca lembar flash fiction. Sang Kyai paham jawaban quiz tersebut, itulah yang membuatnya langsung keliyengan stadium 4.

—– e n d —–

Kalau Anda sendiri sudah keliyengan stadium berapa?
Supaya keliyengan tidak berlanjut ke stadium yang lebih parah, silakan isi dan sebar:

.
#TolakKondomisasiDiKampus
#TolakFreeSex

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
02.12.2013

Advertisements

62 Comments

  1. Ngobrol Malam Soal Kondom – @eagle_iwan dan @MartoArt [Chirpstory]

  2. punyaliana says:

    nggak abis pikir deh,,, *kebanyakanmikir
    katanya pemerintah melarang nikah di bawah umur meskipun halal.
    tapi kenyataan nya pemerintah malah memfasilitasi free sex, yang jelas2 haram.
    ini apa yang salah yah???
    aturan kita nya, apa memang sudah nggak ada moral dan norma?
    *tepokjidat

  3. Pianis says:

    orang2 di pemerintahan kita sepertinya terlalu pinter pak, jadinya malah keblinger 😦

  4. izzawa says:

    miris banget pak ternyata pemerintah yang telah kita beri kepercayaan penuh malah mengambil kebijakan yang pada dasarnya lebih banyak merugikan kita…

  5. Pekan Kondom Nasional? Saya juga langsung kleyengan stadium akhir pak, hadeh macem2 aja nih emang maksudnya baik tapi cara pelaksanaannya itulohhhhh bikin tepuk dada yang baca ya pak.

  6. lazione budy says:

    menteri dodol. ya aku berani mengatakannya!

  7. azfiamandiri says:

    Kalo FPI sweeping prostitusi timbul komentar “memerangi kemunkaran jangan lewat kemunkaran !”.

    LHO ?!! EMANG BAGI2 KONDOM BUKAN MEMERANGI KEMUNKARAN DENGAN KEMUNKARAN ? !! LOGIKA JANGAN DIBOLAK/BALIK!!

    link : http://chirpstory.com/li/174489

  8. rahmabalcı says:

    ini termasuk salah satu agenda pengalihan2 isu lg bukan pak dr pemerintah?? setelah kasus ostrali sadap menyadap, skrg keluar ‘edisi kondom’ biar org2 pada lengah menuju 2014– tapi gmnpun emang menjijikkan kampanye kayak ginian-.-‘ disini jg kl bagi2 kondom gratis cm di tempat kesehatan bkn kayak kacang goreng yg di bagi2 pinggir jalan:S

    • Wah, soal konspirasi pengalihan itu saya gak tahu.
      Barusan ada breaking news, bahwa program Pekan Kondom Nasional ini akhirnya dihentikan.
      Tapi meski dibatalkan, membaca pendapat pegiat AIDS sepertinya perspektifnya masih belum berubah tentang kondom, sehingga masih menganggap sebagai alat yang tepat untuk pencegahan penyakit menular seksual. Ini ngawur. [bbc.co.uk]

  9. penuhcinta26 says:

    Kalau di sini gak dibagikan tapi “disediakan” dan biasanya di klinik dokter kandungan, bukan di kampus2 atau sekolahan.

    • Kalau disediakan di klinik dokter kandungan itu yang betul ya, mbak Irma; karena fungsi kondom itu adalah [1] untuk mendukung program keluarga berencana, bukan [2] untuk mencegah agar tidak hamil.

      [1] dan [2] kelihatannya sama, tapi beda perspektif lah yang membuat fungsi kondom untuk aktivitas seks bebas.

    • penuhcinta26 says:

      Iya mas Iwan, sekedar memberi pencerahan bahwa di negri yang katanya bebas banget seperti AS saja situasinya seperti itu, kondom disediakan di tempat yang sesuai. Eh tapi aku tinggalnya di daerah mid-west dan pedesaan yang notabene masih konservatif orang-orangnya. Gak tahu deh kalau di kota besarnya seperti apa soal kondom ini.

  10. kasamago says:

    Reblogged this on Kasamago.

  11. kasamago says:

    secara g langsung Negara merestui pengaktifkan tombol Self Destructio ny sendiri. miris
    smg semakin bnyk pihak yang terpanggil untuk menghintikan program ini

    • Alhamdulillah, sudah dihentikan tadi malam. Namun demikian para pegiat AIDS itu masih gak ikhlas, terbaca dari statement yg diberikan. Itu ngawur. Kalo mereka gak sadar, maka rentan akan terulang saat kita semua lengah. Ia bilang gini:

      “Banyaknya protes menunjukkan banyak masyarakat yang belum paham soal kondom, ini yang mestinya digarap. Kalau begini kan malah kontraproduktif” [bbc.co.uk]

    • sunarno2010 says:

      sepertinya justru mereka yang gak paham ya Mas, atau memang tak peduli lagi dengan keimanan, yang dalam hitungan hanyalah untung rugi entah orang lain dirugikan apa tidak

  12. SELAMATKAN ANAK BANGSA…!

    Pak Iwan, kemenkes dengan program ini apakah sedang sakit, bodoh, atau gila, sih? Koq caranya gak intelektual banget dengan ‘pencegahan cara instan’ model beginian? #GagalPaham

    • Dengan jumlah penderita AIDS di Indonesia sampai tahun 2014 yang diprediksi mencapai 79 ribu jiwa, maka kepekaan seorang pemimpin sangat diperlukan.
      Saat ini benar-benar lengah dan lepas kendali ketika kapitalis industri (kondom) menunggangi kebijakan publik.
      Hampir semua elemen masyarakat #GagalPaham, tapi gak tahu kenapa program Pekan Kondom Nasional ini tidak diberhentikan kengawurannya.
      Saya dapat info dari DPP FPI, kalau tidak segera dihentikan, hari Kamis minggu ini FPI akan menggeruduk kantor Kemenkes yang dianggap paling bertanggungjawab, meski di media Kemenkes bilang ini bukan programnya. Tapi dari rekam jejak kerjasamanya dengan perusahaan kondom, masyarakat gak bisa ditipu oleh pernyataan ibu Mboi.

    • Petisi sudah, turun ke jalan sudah, ngoceh di medsos sudah…. Lalu, apalagi yang bisa kita lakukan, Pak?

      Sedih banget saya…

    • Ikhtiar ke luar: sudah, minimal sudah menyampaikan untuk mendukung perubahan.
      Ikhtiar ke dalam: berserah diri dan taubat.

      Taubat, karena diberikannya pemimpin yang tidak cerdas, jujur, dan amanah adalah bagian dari azab. Karena dari kepemimpinannya banyak nyawa melayang sia-sia.
      Dengan taubat, minimal keluarga kita bisa terhindar dari bencana efek domino yang ditimbulkannya. Seperti contoh kasus yang saya ilustrasikan dalam bentuk flash fiction pada jurnal sebelumnya.

      Coba simak bagaimana kualitas pemimpin kita ini:
      http://mediaumat.com/headline-news/5088-psikiater-bantah-argumen-menkes-soal-solusi-hivaids.html

    • Alhamdulillah, barusan ada breaking news: Program Pekan Kondom Nasional Dihentikan.
      Tapi meski dihentikan, membaca pendapat pegiat AIDS sepertinya perspektifnya masih belum berubah tentang kondom, sehingga masih menganggap sebagai alat yang tepat untuk pencegahan penyakit menular seksual. Ini ngawur. Simak BBC.co.uk.

  13. awan putih says:

    naudzubillah min dzalik, semoga pemberi kebijakan ini, diberi hidayah, agar mata hati mereka tidak buta, mampu melihat kehidupan yang sbenarnya..

  14. araaminoe says:

    Ini seperti “menyuruh” dan “melarang”, negara ini memang “abu abu”, full of drama sabun gak berbusa.

  15. nurme says:

    Duuh bener-bener gak panjang ya cara berfikir mereka yang katanya wakil rakyat dan lebih pintar dari rakyat.

    Apa mereka ga tahu ya kalau free sex itu bermula dari banyaknya kondom yang dijual bebas. Nah sekarang dibagikan, mau bagaimana ya negara ini?

  16. faziazen says:

    coba kalau dibagikan di klinik bidan / dokter kandungan ya
    mungkin lebih tepat sasaran

  17. abi_gilang says:

    Akang “ngasih jempol” tentu saja buat isi postingan ini, bukan buat kampanye “pekan seks bebas” yang dikedoki “pekan kondom nasional”. Terus suarakan KEBENARAN Pak Iwan, biarpun akang cuma bisa meng-amini doank 🙂

  18. jampang says:

    padahal kondom tidak bisa mengahlangi virus karena ukurannya lebih kecil daripada sperma….. pernah baca dulu begitu

  19. felis catus says:

    Salah cara promosi, apalagi kalau tujuannya seperti yang ditulis di sini: http://panjihadisoemarto.com/?p=424 . Oh, kampanye kondom nasional ini sudah lama ada loh mas Iwan, tapi baru tahun ini begitu menghebohkan caranya.

    Kalau menurut saya, jika memang tujuan untuk kesadaran akan AIDS dan HIV, sebaiknya berbagai lembaga masyarakat yang punya pengaruh besar di kehidupan sehari-hari (misanya pesantren) dilibatkan dalam merancang program kampanye.

    • Betul, kita semua pasti ingin penularan penyakit menular seksual itu bisa dihentikan untuk itu perlu melibatkan banyak komponen yang terpadu.
      Seperti yang saya sampaikan di atas, memang tidak salah buat kondomnya, yang bermasalah adalah cara promosi / kampanye nya untuk tujuan safe sex. Cara promosinya ngawur, bebas banget.
      Ini contoh di sebuah mall Cilandak Town Square (Citos), terpajang dalam bentuk tulisan AIDS pada papan berukuran 3×2 meter, dimana siapa saja yang lewat bisa nyomot kondom yang ditempel di dinding.


      Program kondom memang sudah lama, sejak dimasukkan program pendidikan kesehatan reproduksi remaja di sekolah. Yang di-komplain Nadia itu adalah cara promosinya yang kebablasan. Contohnya seperti foto di atas, gak peduli yang ngambil sudah dapet sex ed atau belum.

      Saya sependapat dengan pola pikir penulis yang mbak Indres tautkan di atas. Idealnya memang seperti itu. Bagi saya, kalau obyeknya sedikit akan mudah, misalnya dalam komunitas keluarga dan perusahaan. Namun, akan sangat sulit di masyarakat yang anomali di negeri ini. Bukan hal yang mudah untuk benar-benar mengubah perilaku banyak orang agar punya ‘pola hidup yang sehat’, mengingat begitu deras / gencarnya serbuan pornografi.

    • anotherorion says:

      joss banget kuwi gambare mas, bocah SD we iso melu njupuk

    • felis catus says:

      Ya ampun, payah banget cara kampanyenya, itu sih mirip iklan jualan kondom. Tidak sensitif dengan nilai-nilai di Indonesia.

    • eddyjp says:

      Ha..ha.ha.ini foto dikau yang ambil sendiri mas Yul ?

    • Bukan, itu dari twit pegiat anti miras: @gatse8 , ada foto lainnya di situ, Pak Eddy.

  20. Teguh Puja says:

    Kalau tidak salah, Sutra itu kondom yang memang diiklankan Jupe kan mas. 😀

  21. Dyah Sujiati says:

    Soal kondom ini sebetulnya tak beda jauh dengan berbagai masalah yang
    ada di negara kita. Analog alias sama saja. Menjadi gambaran bagaimana pemerintah bersikap dan bertindak terhadap masalah yang terjadi. Dalam hal ini adalah arus freesex yang merebak yang menjadi penyebab utama penyebaran HiV/AIDs bukannya dibendung tapi malah difasilitasi. Alih-alih untuk mencegah penularan HIV/AIDS, kampanye kondom justru menyuburkan pemicu virus tersebut.
    Aneh tapi nyata!

    • Aneh tapi nyata memang, itulah yang membuat Kyai Maksum sampai kliyengan stadium 4, dimana Indonesia negara berdaulat begitu mudahnya mengikuti perintah asing yang belum tentu cocok dengan budaa Indonesia.
      Menkes Nafsiah Mboi sangat senang membuat kebijakan yang kontroversial sejak awal dilantik, antara lain:
      – Mulai dari bagi-bagi kondom gratis kepada pelajar SMP dan SMU,
      – Membuat kuesioner reproduksi kesehatan anak yang berisi gambar alat kelamin dan payudara,
      – Pekan Kondom Nasional. Jelas sekali terlihat visi dan misi menkes kita yang menjadi agen World Health Organization (WHO) ini.
      [Suara Islam]

  22. priyonisme says:

    kalau di lihat dari efektif tidaknya program kondom nasional itu menurut ku si harus ada batas-batasan.. Indonesia yang terkaenal dengan Mayoritas Muslim tentu dari berbagai Pergerakan agama tidak akan diam saja. ? mas nya kira-kira gimana ni, setuju opo engak karo program kondom itu?

    • Memang program kondom nasional itu harus ada batas-batasannya. Saya setuju program kondom nasional bila:
      [1] Kampanye hanya di daerah rawan penyakit menular seksual, seperti lokalisasi prostitusi, diskotik. Tanpa dibarengi dengan bagi-bagi kondom. Jadi hanya penyuluhan tentang bahayanya penyakit menular seksual.
      [2] Kondom tidak sembarangan dijual di masyarakat terbuka. Sama dengan beli pistol, maka pembelinya harus punya lisensi menembak alias buku nikah. Mengapa harus seperti ini?
      Karena penjualan kondom yang bebas ini sering disalah-gunakan, sehingga muncul budaya seks bebas.

      Jika dimaksudkan untuk mencegah HIV/AIDS, …

      [1] Mengapa Kemenkes tidak bikin program edukasi besar-besaran mengenai risiko seks bebas?

      [2] Mengapa Kemenkes tidak kampanye besar-besaran tentang bagaimana cara hidup sehat, bagaimana meningkatkan kesehatan mental, bagaimana memperbaiki moral bangsa?
      Kesehatan mental dan moral inilah yang seharusnya menjadi prioritas Kemenkes, karena berpengaruh pada kesehatan fisik rakyat.

      [3] Selebihnya ada saya tulis dalam jurnal yang saya link di atas, monggo dijelajahi, mas Priyo.

      Sayangnya program Pekan Kondom Nasional ini hanya jadi pintu masuk korupsi dan mesin uang penguasa belaka. Semoga segera terkuak.
      Coba simak ini: Gandeng KPAN, DKT Kembali Kampanyekan Penggunaan Kondom.
      Pekan Kondom Nasional itu cuma cara produsen-produsen kondom menciptakan needs di masyarakat dengan di-fasilitasi negara. Pejabat kementerian bikin acara talkshow di Pekan Kondom Nasional bareng produsen kondom.
      Apa gak sadar kalau kebijakan publik ditunggangi kepentingan swasta, sehingga programnya tampak konyol dan dipaksakan? Anggaran (APBN) untuk program konyol ini menurut informasi sampai Rp 50 Milyar!

    • priyonisme says:

      Apakah mas Iwan setuju dengan SEKS BEBAS?? tadi di atas bilang setuju to!

      Walaupun saya masih muda mas, tapi saya agak tradisional. bukan tanpa pengecualian. menurut saya sangat tidak masuk akal ketika pemerintah mencanangkan program pembagian kondom gratis ke di lingkungan akademisi/kampus-kampus, (kalau di jogjakarta itu ada UGM).

      hal tersebut di atas adalah sebagai bentuk dari revolusi seksual (yang merasakan) yang dalam hal iini khususnya adalah mahasiswa, saya adalah orang yang tidak setuju dengan SEKS BEBAS, Sekalipun dari segi perubahan sosial pada bidang kehidupan seksual membuat pemerintah keteteran, belum lagi masalah moralnya.

      lalu, apakah ini program yang seperti ini di anggap solusi yang cerdas menurut mas Iwan? tentu tidak kan mas. menurut saya pemerintah belum punya solusi untuk mengatasi dampak negatif dari revolusi seksual yang terjadi di masyarakat saat ini, Termsuk peredaran kondom.

      Apalah jadinya generasi muda dan anak-anak ku nanti,?
      salam mas Iwan

    • Hehehe… mana ada saya bilang SETUJU, mas. Khan di situ sudah saya kasih kata “Bila” yang dicetak tebal. Kemudian dilanjut dengan poin 2. Bacanya hati-hati, mas, jangan buru-buru, gak baik bagi kesehatan jiwa 🙂

      Ayo, sama-sama perangi seks bebas, mas Priyo. Tulisan saya tentang memerangi seks bebas banyak tersebar di blog ini, dengan tag: Selamatkan Anak Bangsa.
      Selamat menjelajah ya.

      Salam mas Priyo.

    • priyonisme says:

      Hahahaha… ngapunten mas… Minta doanya, Kayak’nya saya dan kawan-kawan mau turun jalan lagi.. salam dari kota berhati Nyaman mas

  23. choirul says:

    Ckckck….. trus buat mahasiswa juga?

  24. nengwie says:

    Astaghfirulloh..mau dibawa dan dijadikan apa negara kita ini..?? 😓

  25. kondomisasi konspirasi lokalisasi #kliyengantingkatdewa

  26. kebomandi says:

    wew. baru liat bus nya. iiih, gak banget, >..<

  27. Andre says:

    Negeri ini memang sudah salah kaprah. Heran saya. Ini sama saja melegitimasi perbuatan zina… Anehh #stadium 100

  28. anotherorion says:

    eh iki mas iwan ra lagi nyamar dadi nadia kan? iki lipstike ketinggalan :))))
    #nyarudadikiaimaksum

  29. Dailynomous says:

    Salah tempat dan salah sasaran, mahasiswa / mahasiswi serta pelajar indonesia sudah dianggap pelacur atau pelaku seks bebas binatang. Naudzubillah, ini jelas penghinaan.

  30. Tahun 2004 saya ikut acara dari salah satu komunitas milis mengenai AIDS, salah satu programnya adalah kunjungan ke tempat rehabilitasi para pecandu narkoba yang sebagian besar mengidap HIV didaerah Ciawi, media penularan melalui jarum suntik yang dipakai bergantian.

    Saat ngobrol dengan pengurusnya yang mantan junkies, beliau bercerita ttg kekhawatirannya thd anak-anak muda saat kedepannya, ya narkoba, seks bebas, karena bisa juga mengakibatkan dampak psikologis.
    Para “pasien” disana seperti dibuang, orang tuanya malu bahkan ada anak yang depresi.
    Jadi kalau sudah kena narkoba beliau bilang akan mudah sekali untuk melakukan seks bebas, beliau sendiri beristrikan wanita yang mengidap AIDS karena melakukan seks bebas.

    Beliau bilang mending ga usah kenal yang namanya narkoba karena bisa merembet kemana-mana dan bikin hancur masa depan…

    • Memang narkoba dan seks bebas ada pertalian erat.
      Saya pernah baca sebuah kasus, yang menceritakan bahwa untuk mendapatkan narkoba (tubuhnya nagih/sakaw) seorang wanita rela menyerahkan tubuhnya dan demi bisa ditukar dengan barang narkoba yang diinginkannya.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: