Home » Ghazwul Fikri » Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’

Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Gay

Bismillah…

Jurnal ini tambahan penjelasan tentang runtuhnya teori ‘Gen Gay’ pada jurnal sebelumnya: Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak.

Kaum homoseksual yang didukung aktivis liberal di negeri ini sudah mulai berani unjuk diri di berbagai media guna memperjuangkan cita-citanya, yaitu pernikahan sesama jenis diakui secara hukum. Dengan dalih HAM dan alasan genetis bahwa orientasi homoseksual adalah karena faktor keturunan berdasarkan penelitian yang melahirkan teori ‘gen gay’ atau ‘born gay’ (sifat bawaan yang ada pada kalangan yang kemudian menjadi pembentuk karakter gay pada seseorang). Dari sini lahir propaganda yang sering kita dengar misalnya: “Adalah keputusan Tuhan untuk menjadikan kami gay” atau “Gay adalah akibat kelainan genetika, kami tidak akan bisa mengubah itu”.

Sebenarnya, validkah teori ‘gen gay’ tersebut?

PENELITIAN GEN GAY

Ilmuwan pertama yang memperkenalkan teori “Gen Gay” adalah Magnus Hirscheld dari Jerman pada 1899, yang menegaskan bahwa homoseksual adalah bawaan. Dia kemudian menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual.

Pada 1991, peneliti Dr.Michael Bailey dan Dr.Richard Pillard melakukan penelitian untuk membuktikan teori tersebut. Mereka meneliti pasangan saudara: kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis dan saudara-saudara adopsi; salah satu di antaranya adalah seorang gay. Riset tersebut menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Terdapat 52% pasangan kembar identik dari orang gay berkembang menjadi gay. Hanya 22% pasangan kembar biasa yang menunjukkan sifat itu. Saudara biologis mempunyai kecenderungan 9,2%, dan saudara adopsi 10,5%. Namun gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu TIDAK BERHASIL DITEMUKAN.

Pada 1993, riset dilanjutkan oleh Dean Hamer, seorang gay, yang meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Hamer mengklaim bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual. Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah fitrah / bawaan, bukan penyimpangan sehingga mustahil bisa diluruskan.

Hasil penelitian dari seorang gay inilah yang kemudian dipakai sebagai senjata kuat mereka untuk memperjuangkan hak-haknya.

Lantas apakah para peneliti lainnya percaya begitu saja?

Sampai 6 tahun kemudian, gen pembawa sifat homoseksual itu tidak juga diketemukan real-nya. Dean Hamer pun akhirnya mengakui bahwa risetnya tidak mendukung bahwa gen adalah faktor utama yang melahirkan homoseksualitas.

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Hamer mengakui bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual adalah bawaan.

“Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harap temukan yaitu sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Faktanya, kami tidak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya.”

Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih banyak. Rice dan tim memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tidak memperlihatkan kesamaan penanda di gen Xq28 kecuali secara kebetulan. Para peneliti tersebut menyatakan bahwa segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas dapat ditiadakan. Sehingga hasil penelitian mereka tidak mendukung adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999. Hasil riset juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Penelitian Rice dan Sanders tersebut makin meruntuhkan teori “Gen Gay”.
gen gay(source: trueorigin.org/gaygene01.php | click to enlarge)

Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” yang juga penulis buku “Exploding the Gene Myth” mengatakan:

“Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Simak wawancara bersama Ruth Hubbard di http://gender.eserver.org/exploding-the-gene-myth.html

Hasil riset-riset di atas, meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun menyatakan bahwa gen bukanlah faktor dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Sumber pemaparan saya di atas:

Sudah puluhan tahun dilakukan penelitian terhadap gen homoseksual tapi tidak ada fakta ilmiah yang bisa 100 persen mendukung klaim tersebut. Teori yang menyatakan bahwa gay adalah sifat genetis (ciptaan Allah) adalah PROPAGANDA PALSU yang dirilis oleh peneliti yang gay. Teori Gen Gay sifatnya politis, sarat akan kepentingan kaum gay sendiri. Memang ada manusia yang terlahir hermaprodit alias kelamin ganda, tapi tidak ada manusia yang terlahir dengan kelamin normal namun punya kecenderungan homoseks.

Sedikit intermezzo …
Dalam dunia psikologi terdapat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang merupakan sebuah ‘kitab’ yang berisi mengenai kriteria gangguan mental. DSM diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA), yang selama ini dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

Pada DSM I tahun 1952, homoseksual masih dikategorikan sebagai Gangguan Jiwa. Pada DSM selanjutnya, sedikit demi sedikit homoseksual semakin ‘dikaburkan’, dari gangguan kepribadian sosiopath, kemudian dikategorikan penyimpangan sex, hingga kemudian HILANG!, dikategorikan bukan gangguan jiwa pada DSM IV tahun 1994.

Yang mengejutkan, lima dari tujuh orang tim task force DSM adalah gay dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT [Hidayatullah]. Wah, ternyata DSM dibuat dan disusun oleh pengidap kepribadian menyimpang.

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM bernama (Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Hanya saja, DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

PENYEBAB SESEORANG MENJADI GAY

Bayi yang terlahir di dunia adalah suci dan normalnya manusia menyukai lawan jenisnya. Tapi dalam perjalanan hidup tidak sedikit orang berperilaku homoseksual (gay). Apakah ini berarti perilaku gay bisa menular?

Paul Cameron Ph.D dari Family Research Institute telah melakukan penelitian dan menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homoseksual adalah pernah disodomi waktu kecil. Berbagai contoh kasus di Indonesia yang disebutkan di sini adalah buktinya. Penyebab lainnya adalah pengaruh lingkungan, yaitu sbb:

  1. Sub-kultur homoseksual yang tampak dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mencoba.
  2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual).
  3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual.
  4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual.
  5. Penggambaran bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang normal dan bisa diterima.

Penelitian Cameron menunjukkan bahwa kecenderungan homoseksualitas bisa disembuhkan karena perilaku seks manusia sebenarnya bisa dikendalikan. Silakan baca lengkapnya di sini: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kepedulian dimulai dari keluarga dan lingkungan kita, ketidakpedulian membuat manusia sendiri tidak memanusiakan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, maka segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja berdampak siapapun. Tidak bisa lagi soal perilaku seksual yang menyimpang disebut sebagai urusan privat.

Jadi, kalau para aktivis liberal yang membela homoseksualitas memberikan argumen seperti ini: “Setiap orang berhak memiliki orientasi seksual masing-masing. Karena itu tidak boleh ada penindasan terhadap orang dengan orientasi seksual yang berbeda.”

Maka kita bisa memakai logika untuk menjawab argumen di atas:
Jika seseorang merasa berhak menjadi homoseks, it’s fine, tapi dia TIDAK BERHAK menularkannya kepada orang lain!

BAGAIMANA BENTUK PENGAKUAN TERBAIK?

Setelah kita sudah benar-benar memahami hasil riset yang didukung banyak fakta. maka bentuk pengakuan terbaik kepada para pelaku homoseksual adalah mengakui bahwa perilakunya menyimpang. Kemudian mendukung / membantu mereka untuk bisa sembuh dan kembali pada kodratnya. Bukan malah memberikan motivasi untuk tetap mengidap perilaku menyimpang tersebut dan dibenarkan atas nama HAM.

Membela dan membenarkan perilaku homoseksualitas atas dasar teori gen gay (padahal nyatanya propaganda palsu) justru membuat pelaku homoseksual menjadi makin terjerumus, menjauhi pintu-pintu taubat. Ingatlah: “Dosa Pemikiran itu tidak ringan, karena menyebarkan pemikiran yang salah juga berat dosanya, apalagi jika kemudian diikuti oleh banyak orang” [Dr. Adian Husaini, MA].

Sebagai penutup halaman pertama ini …

Saya mencoba memahami apa yang ada di hati dan di pikiran orang yang mempunyai disorientasi seksual.

Jika Anda sudah mengambil kesimpulan bahwa Anda memiliki kencederungan disorientasi maka terimalah itu sebagai bentuk penyimpangan kodrati. Alangkah lebih baik jika kemudian Anda juga memutuskan untuk: bisa bersabar dan menahan diri untuk tidak berbuat perbuatan yang dilarang Allah. Hal tersebut dilakukan demi kebaikan diri sendiri dan juga demi kedua orangtua.

Jika merasa disorientasi adalah bawaan lahir, itu hak Anda berprasangka demikian. Namun yang perlu Anda renungkan, coba lihat deh bila disorientasi itu diibaratkan seperti kecintaan manusia terhadap harta. Ada orang yang terlahir sebagai orang miskin, ia menganggapnya sebagai takdir. Akan tetapi orang tersebut mempunyai PILIHAN, apakah dia mau mencari nafkah dengan cara yang haram atau bersabar mencari nafkah dengan cara yang halal. Begitu juga dalam permasalahan ini. Bila kita menerima takdir / genetik sebagai sebab bahkan yang dianggap buruk sekali pun oleh manusia normal, maka bukan berarti kita tidak mampu mengubahnya, karena Allah Sang Maha Pencipta menganugerahkan kepada kita potensi kehendak / ikhtiar / berusaha. Jadi, anggap saja disorientasi itu sebagai tantangan hidup yang harus ditaklukan sebagaimana kita menaklukan kemiskinan.

Jika Anda sudah menyadari bahwa disorientasi bukan bawaan lahir, .. Bagus! Maka segera carilah lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan kualitas diri. Bertemanlah dengan semua orang dan bergaullah dengan orang-orang yang dapat membantu ke arah yang lebih positif. Usahakan sebisa mungkin menghindari larut dalam lingkungan yang menjerumuskan ke hal yang buruk dan menjauhkan diri dari pintu taubat.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
08.12.2013

————————-
Credit photo/ilustration: huffingtonpost.com/2014/12/10/ex-gay-billboard-virginia_n_6301334.html

UPDATE: [30/6/2015]
Jurnal di atas saya tulis tahun 2013, kemudian pada tahun 2014 ada publikasi terbaru dari Alam Sander. Dari abstrak jurnal ilmiah PubMed yang Alan Sanders tulis, Result-nya sbb:

“Results, especially in the context of past studies, support the existence of genes on pericentromeric chromosome 8 and chromosome Xq28 influencing development of male sexual orientation.”

Tapi Bailey, kolega Alan Sanders (yang satu tim penelitian) menegaskan …

“It is not completely determinative; there are certainly other environmental factors involved,” Bailey said. Bailey’s colleague, Alan Sanders, says the findings should not be used to test for sexual orientation.

“When people say there’s a gay gene, it’s an oversimplification,” Sanders said. “There’s more than one gene, and genetics is not the whole story. Whatever gene contributes to sexual orientation, you can think of it as much as contributing to heterosexuality as much as you can think of it contributing to homosexuality. It contributes to a variation in the trait.” [IBTimes.com]

Kemudian juga terdapat artikel: Homosexuality is Genetic: Strongest Evidence Yet dari Nature World News.
Tanggapan saya:
Lihat paragraf 2 dari akhir: “Now the same team is working to compare these gene variants to heterosexual males, expecting that it will not be a common find among “straight” men.”

Sejatinya, mereka belum/tidak menyelesaikan studi mereka (itu baru setengah dari penelitian) dan belum mengambil kesimpulan. Namun media tersebut membuat judul artikel seolah-olah sebuah kesimpulan. Judul itu hanya framing public opinion.

Advertisements

233 Comments

  1. IND says:

    Artikel yang keren, meskipun banyak yang mencoba memungkiri dengan cara berkomentar se”logika-logikanya” tapi tetap saja terlihat membuat komentar unk pembenaran perilaku sendiri,,,,intinya LGBT ITU BIG NO NO

  2. […] perilaku LGBT. Hentikan propaganda palsu: “perilaku homoseksual adalah genetis” (Baca: Runtuhnya Teori Gen Gay). Apa tidak kasihan, bila mereka dibiarkan terjerumus di dunia yang rawan kena HIV/AIDS, keluarga […]

  3. […] memperjuangkan keinginannya. Saya tertarik tulisan dari blog tentang runtuhnya teori genetika gay “No Body Born Gay” yang menjelaskan tentang  teori lahir sebagai homoseks adalah salah dan propaganda yang […]

  4. […] Sampai hari ini tidak ada bukti sahih kalau LGBT adalah turunan yang diwariskan secara genetis. Penelitian adanya gen gay sendiri belum final dan mengandung banyak bias karena keterlibatan peneliti […]

    • G.Susanto says:

      Banyak orang yg gagal total memahami apa itu homosex, karena kalian tidak mengalami sendiri. Yang menularlah, yg terlaknatlah, yg terkutuklah, yg penyakitlah, pokoknya segala yg jelek2 diberikan stigma pada homosex, seolah olah zombie (katamu) yg mengerikan.

      Disatu sisi mengagung agungkan ilmu pengetahuan kalau menurut kalian pemahamannya cocok dgn kita suci. Begitu pemahaman kitab suci bertentangan dengan pengetahuan, maka akan berbalik menghujat pengetahuan karena buatan manusia, sedangkan kitab suci buatan Tuhan.

      Kalau memang para homopobic merasa punya pengetahuan yg secara ilimiah terbukti, sana ajukan kebadan dunia yg menangani masalah ini, biar teruji apa tidak, jangan berkoar koar liar di internet menyalahkan pihak lain yg sudah teruji dan diakui dunia ilmuwan.

      Jangan seperti katak dalam tempurung, merasa hebat dikandangnya sendiri, begitu tahu dunia luar, tak ada apa apanya. Kitab suci memang kebenaran mutlak dari Tuhan, tapi pemahamannya tergantung penafsirannnya. Pemahaman tafsir manusia bisa saja salah, tapi kitab sucinya tidak salah. Karena tafsir manusia, bisa saja sekarang benar, diwaktu mendatang adalah salah.

      Oleh karena itu jangan merasa paling benar sendiri dalam memahami tafsir agama, dan pihak lain salah yg wajib ditumpas. Benih benih radikal ini yang berbahaya yg bisa menular menjadi ZOMBIE yang mengancam kedamaian kehidupan.

      Selama kalian merasa paling benar sendiri dan pihak lain salah sesat yang harus dimusnahkan ( karena yg kalian anggap sesat wajib dimusnahkan), maka kehidupan ini akan dipenuhi konflik yg menunju kehancuran dunia. Kedamaian dunia bisa terjadi bila kalian bisa menghargai pihak lain, biarpun pihak lain berbeda pandangan dengan kalian.

    • ORANOM MARIS says:

      ASUMSI saya, gay dan lesbi adalah imbas dari peyimpangan hormonal dalam diri manusia saat janin. dalam tubuh gay; hormon wanitanya lebih mendominasi sedangkan dalam tubuh lesbi; hormon lelakinya lebih mendominasi. hormon dan pycho memiliki keterikatan. psycho perempuan bisa terdampar dalam raga yg salah (raga lelaki) dan psycho lelaki bisa terdampar dalam raga yg salah (raga perempuan). kalau dibilang karena gen memang itu salah, tetapi kalau karena penyimpangan hormonal layak dipertimbangkan.

  5. Nizar says:

    Gay/Bisex/Lesbian/Transgender adalah MURNI KEINGINAN SEKSUAL YANG TIDAK TERSALURKAN yg didukung oleh lingkungan. Bukan masalah GEN.

    Solusinya adalah:
    1. Legalkan dan galakkan Pernikahan muda, bukan nikah dini..
    2. Legalkan dan galakkan Poligami.
    3. Sejahterakan Rakyat tanpa pilih.
    4. Seperti halnya Program Kementerian Sosial yang memberi bantuan kepada Anak Sekolah, Ibu Hamil, menyusui, nifas dan Balita yang mempunyai nilai nominal bantuan berbeda. Maka apa salahnya, bagi mereka yg beristri 2-3, kedepan akan mendapat bantuan jg dari Pemerintah bila memang kategori tidak mampu. Hohoohohohoho……….

    Mungkin solusi diatas belum ada statistika angka keberhasilan menurunkan GLBT dan perzinahan,

    Namun setidaknya, itulah yg dianjurkan Agama dan dicontohkan oleh sebagian Nabi.

    Sex adalah kebutuhan, menikah adalah solusinya.

    Kasih sayang adalah kebutuhan, menikah adalah solusinya.

    Kesepian adalah kebutuhan, menikah adalah solusinya.

    Menikahlah semaumu, asal sesuai tuntunan Agama…..

    Ngesekslah semaumu, asal sesuai tuntunan Agama….

  6. Mau nambahin Pak, sepertinya masih banyak yang mampir… 😀

    Namanya Pedoman yang dibuat manusia itu bisa selalu direvisi, tergantung siapa yang membuat atau mengintervensi pembuatan pedoman itu. Termasuk kalisifikasi gangguan jiwa yang apada awal mulanya LGBTQ masuk ke dalamnya. Namun pada selanjutnya meski pun WHO, APA/Asosiasi Psikiatri Amerika telah menghilangkan bahwa homoseksual dan sejenisnya bukan gangguan jiwa. Tapi saya menemukan bahwa itu hasil pengaruh grup homoseksual dan pendukungnya.
    Silakan baca di http://www.josephnicolosi.com/who-were-the-apa-task-force-me/
    dan di https://conservativecolloquium.wordpress.com/2007/10/01/homosexual-activists-intimidate-american-psychiatric-association-into-removing-homosexuality-from-list-of-disorders/
    Jadi Indonesia sebagai negara yang katanya beradab jangan selalu ikut-ikutan dengan PPDGJ-nya. menunggu Revisi PPDGJ III menuju PPDGJ IV yang katanya akan direalisasikan.

    Logikanya saja, setiap aturan yang dibuat itu tentu memuat kepentingan orang/grup tertentu, tidak semuanya bersifat netral atau objektif. Hanya kitab suci yang objektif dan orisinal. Sekarang di WHO dan APA sana homoseksual tidak lagi masuk klasifikasi penyakit mental/jiwa. Dalam suatu waktu nanti ketika aktifis orientasi seksual kepada mayat (nekrofilia), kepada pohon (dendrofilia), kepada binatang (zoofilia), kepada kotoran (koprofilia) sudah mendominasi dan didukung oleh banyak orang tidak mustahil seperti akan Tere Liye akan dihilangkan dari stigma penyimpangan fitrah manusia dan bisa dilegalkan juga.

    • G. Susanto says:

      Imu pengetahuan memang terus berkembang dan bisa saja suatu saat berubah, tapi pemahaman terhadap agama juga berkembang sesuai waktu dan situasi jaman.

      Kitab suci memang kebenaran mutlak, tapi penafsirannya dilakukan oleh manusia, jadi penafsiran manusia juga bukan kebenaran mutlak, suatu saat bisa juga berubah.

      Jadi jangan merasa paling benar sendiri, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan..

  7. Jurnal yang menarik, jika boleh saya sebarkan Ilmunya. InsyaAllah tidak ada yang akan saya potong pemaparannya untuk kepentingan saya sendiri.

  8. utun says:

    pusing sm gay,dh jls jls d alquran aj d larang.seakan hidup itu kekal dan gkan mati.semoga para gay dpt hidayah secepatnya.Amin

  9. yulianti says:

    Dari yang saya baca atau dengar, teman2 yang mengalami masalah hubungan sesama jenis ini bercerita bahwa ada yang sejak awal merasakan ketertarikan terhadap sesama jenis. Kemudian ada yang membiarkan perasaan ini tumbuh dan berkembang dan ada pula yang berusaha melawan perasaan tersebut. Yang membiarkan perasaannya tumbuh dan berkembang itulah yang kemudian akhirnya menjadikan masalah Gay atau lesbi tsb. Sedangkan yang menjadi Gay atau lesbi disebabkan karena masalah di luar diri seperti pernah mendapat perlakuan tidak pantas dari sesama jenis ataupun disebabkan pergaulan itu berbeda masalah nya. Tetapi tetap saja tidak dapat menjadi pembenaran untuk melakukan sesuatu yang menyimpang dari ajaran agama. Yang ada adalah perlu dilakukan terapi atau konselling untuk perilaku ini.

    “Bisa karena biasa,” pepatah ini sering diucapkan orang tua kita. Seperti itulah yang terjadi. Senang dengan sesama jenis, di-pandang2, dan dilanjutkan pemikiran2 aneh yang sebenarnya adalah nafsu syahwat akhirnya menjadi kebiasaan. Dan jika sudah menjadi kebiasaan memang sulit untuk melawannya. Kita akan cenderung mencarikan pembenaran untuk kebiasaan kita tersebut. Makanya tidak heran jika penyuka sesama jenis akan mencari cara untuk melakukan pembenaran atas tindakan nya tersebut. Adapun bagi yang menyadari bahwa dirinya mempunyai masalah ketertarikan dengan sesama jenis, insya Allah jika dilawan akan berhasil. Bukankah manusia memang akan mendapat ujian dalam hidupnya ? ada yang diuji dengan harta, anak, syahwat, dll. Selama kita tidak berusaha menurutkan hawa tersebut, insya Allah kita akan selamat. Ada yang berkomentar bahwa sudah berusaha tetapi masih belum dapat menghilangkan rasa suka terhadap sejenis. Yang perlu di ingat adalah perang terbesar dalam diri manusia adalah melawan hawa nafsu. Hawa nafsu selalu ada tetapi kita manusia diberikan akal. Jadi tundukkanlah hawa nafsu tersebut.

    Saya juga sekarang jadi lebih mengerti kenapa islam mengajarkan untuk menundukkan pandangan. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” [QS. An-Nuur : 30-31].
    ”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”[QS. Ghaafir : 19].
    Hubungan sejenis yang terjadi itu juga dimulai dari saling pandang, menunjukkan rasa tertarik atau mungkin memberikan sinyal2 sehingga akhirnya terjadi hubungan yang terlarang tersebut. Seandainya seseorang mengetahui pandangan nya itu akan membawa kemudaratan, dan dia tidak memperturutkannya, saya rasa tidak akan terjadi hubungan sejenis.

    Orang-orang yang menuhankan science seringkali beranggapan bahwa memang gay atau lesbi itu “sudah dari sono nya.” Tetapi mereka sering lupa bahwa science itu adalah hasil dari pemikiran manusia dan manusia bisa salah.
    Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)
    Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin membawakan dan menjelaskan ayat diatas di awal bab “Keutamaan Ilmu” dalam “Kitabul Ilmi” beliau. Diantaranya beliau berkata, “Tidak sama orang yang berilmu dan tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang hidup dengan yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, yang melihat dengan yang buta. Ilmu adalah cahaya yang dengannya manusia mendapat petunjuk, yang denganya manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Dengan ilmu Allah mengangkat/melebihkan siapa yang dikehendakinya dari para makhluqNya. Allah berfirman, Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11)…” [kitabul Ilmi, hal 13].
    Orang yang berilmu itu bukan sekedar pintar dan mendapat banyak gelar. Tetapi orang berilmu dari segi agama adalah yang dengan ilmunya tersebut mendapatkan cahaya atau petunjuk karena banyak juga orang yang berilmu tetapi keblinger. Dan kita sebagai orang-orang yang juga masih perlu banyak belajar sepantasnya tidak mengikuti begitu saja yang dikatakan seseorang karena kelak kita juga harus mempertanggung jawabkan apa yang kita ikuti.

    Wallahu a’lam bishawab

  10. […] memperjuangkan keinginannya. Saya tertarik tulisan dari blog tentang runtuhnya teori genetika gay “No Body Born Gay” yang menjelaskan tentang  teori lahir sebagai homoseks adalah salah dan propaganda yang […]

  11. mario says:

    tidak ada kata terlambat untuk ber taubat,,,,perilaku ngesex ke sesama jenis memang dosa,dan tidak bisa disembuhkan,tapi kita bisa belajar mengurangi nya perlahan lahan,menikah adalah obat yg mujarab untuk mengurangi kecenderungan gay itu,,,

  12. John says:

    Kalo aktivis LGBT sih emang sejak dikeluarkanya homo dari DSM makin hari makin ngawur. yang bikin bete sebenarnya orang indon apalagi seleb yang gak ngerti apa2 trus mendukung gerakan tersebut. just one word: PATHETIC! harusnya artis itu dipetisi atau diboikot nasional. karena mereka (aktivis LGBT) juga melakukan hal yang sama jika ada yang tidak setuju dgn pendapat mereka, misal Brendan Eich (CEO Mozilla yang terpaksa mundur karena menentang pernikahan sejenis).
    Emangnya semua orang HARUS setuju dengan TEORI pernikahan sejenis. heloowww dalam ilmu pengetahuan yang namanya teori harusnya membuka ruang diskusi untuk kedua pihak (baik yang pro dan kontra dgn teori tersebut) sehingga di kemudian hari dapat dikoreksi jika terdapat kekeliruan pada teori yang sedang berlaku. Bagaimana dgn Psikiater kawakan Robert Spitzer yang (lagi2) dipaksa menarik penelitiannya yang mengatakan homo bisa disembuhkan (http://www.patheos.com/blogs/warrenthrockmorton/2012/04/11/robert-spitzer-retracts-2001-ex-gay-study/).
    Logika konyol aktivis LGBT dan para cheerleadernya adalah jika menolak pernikahan sejenis di depan publik maka dicap “Hate Speech”, “homophobic”. Then what about this: http://www.patheos.com/blogs/wwjtd/2015/04/faith-gay-rights-two-north-carolina-churches-vandalized-with-pro-equality-messages-this-is-wrong/.
    Mereka menuntut toleransi satu arah. Padahal seharusnya toleransi berlangsung dua arah. Yang setuju homo kawin harus menghormati pendapat yang gak setuju homo kawin begitu juga sebaliknya. Ntar kalo LGBT sukses bisa2 berikutnya PEDOFIL, NEKROFIL, dll bisa menuntut persamaan hak juga donk dengan alasan “born that way”. Coba direnungkan deh gimana jadinya ujian sekolah anak2 SD kita ada narasi pangeran yang mencintai pengeran dsb.. JIJAY gan….! Please deh, kita hormati para pengidap homoseksual dsb yang “sopan”, tapi untuk para penggiat LGBT dan afiliasinya, hanya satu kata untuk masy Indonesia: LAWAN!

  13. Tanggapan / komentar menarik dalam jurnal ini dibahas di sini:
    – Menyikapi Pilihan Bebas
    – Jagalah Hati, Jangan Kau Nodai

    Menyusul pembahasan tanggapan menarik lainnya. Terima kasih 🙂

  14. IS GENE A SCIENTIFIC ANALOGY FOR SOUL?

    GENDER AND SEX

    Di quran, jenis kelamin dan gender adalah 2 hal yang berbeda. Jenis kelamin adalah karakteristik biologis yang cukup definitif, yang nampak dari lahir. Sedangkan Gender adalah karakteristik jiwa (nafs), yang tidak dikonstruksikan secara fisik, namun dikonstruksikan secara karakteristik mental dan perilaku (ekspresi).

    Kedua terminology ini dapat kita buktikan dari 2 ayat berikut:

    1) JENIS KELAMIN (SEX) : Dzakaru & Untsa

    [75:38] tsumma kaana ‘alaqatan fakhalaqa fasawwaa faja’ala minhu zzawjayni dzdzakara wal-untsaa
    kemudian menjadi embrio (alaqah), maka Allah menciptakannya, dan menjajarkan, maka menjadikan darinya dua pasang : laki-laki dan perempuan

    Jenis kelamin ini disebut dzdzakara (XY) dan untsaa (XX)
    Mengapa disebut dua pasang (zzawjayni) karena terdapat dua jenis gamet dalam tiap sex chromosom

    2) GENDER (NAFS) : Rijal dan Nisaa

    yaa ayyuhaa nnaasu ittaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa rijaalan katsiiran wanisaa-an wattaquullaahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arhaama innallaaha kaana ‘alaykum raqiib

    [4:1] Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari JIWA YANG SATU, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan Dia menyebarkan dari keduanya masculine yang banyak dan feminine

    Ayat diatas menjelaskan bahwa gender adalah berkaitan dengan jiwa, bukan karakteristik fisik. Dijelaskan pula bahwa jumlah jiwa masculine lebih banyak daripada jiwa femine, karena kata “kathiran” adalah adjective untuk rijaalan (masculine), bukan adjective untuk nisaa (feminine). Jadi dunia ini terdiri lebih banyak jiwa masculine daripada jiwa feminine. Frasa “Dia menyebarkan dari keduanya masculine yang banyak dan feminine” artinya gender is not a choice, it is given, sesuatu yang alamiah, karena yang menyebarkan gender ini adalah Allah sendiri.

    Dari 2 ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa jenis kelamin berbeda dengan gender. Artinya istilah rijaal dan nisaa di quran tidak berkaitan dengan jenis kelamin. Kecuali pada keduanya digunakan isim makrifat, maka menjadi rijal menjadi ar-rijal dan nisaa menjadi an-nisaa yang pemaknaannya sesuai konteks ayat. Misalnya, an-nisaa digunakan untuk menunjuk sang feminine yang mengalami menstruasi, hamil, maka di ayat tersebut an-nisaa pasti bermakna jenis kelamin perempuan, karena hanya perempuan yang mengalami menstruasi dan kehamilan. Kesimpulannya, kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa istilah nisaa pasti perempuan dan rijaal pasti laki-laki.

    Yang menjadi fokus dari penelitian, adalah uji genetika gay. Menjadi kajian yang menarik lagi, apakah genetika itu perkara fisik atau perkara jiwa?

    Is gene a scientific analogy for “soul”?

    • hei says:

      Kalo teori/penafsiran anda benar, saya yg dr kecil, meski tidak pernah dpt trauma apapun(yg mengkibatkan kecenderungan tsb), tp tetap tertarik dengan sesama(terutama yg lbih tua). Apa kemungkinan dikarenakan sejak dr kandungan, ibu selalu baca surat An-Nisaa karena ingin punya anak cewe, tp karena tidak kesampaian jd saya yg kena getahnya? (Saya tau ini dr semua org terdekat ibu & ayah) Saya pernah berpikiran spt ini tp sudah saya buang pikiran tsb, tp setelah baca teori/tafsiran anda setidak saya jd sekali lg yakin siapa yg bersalah atas apa yg terjadi pada saya, terimakasih

  15. Marco says:

    Salam sejahtera semuanya. Artikel nya sudah cukup lama ditulis, mudah mudahan saya tidak terlambat untuk berkomentar/sharing

    Perkenalkan, saya seorang lelaki G. Sejauh saya mengingat ke masa lalu, saya sudah merasakan ketertarikan sejenis. Dari dulu saya suka melihat wanita cantik, namun tidak ada keinginan sama sekali untuk lebih dari memandangnya. Berbeda dengan pria.

    Saya seorang muslim, bisa dibilang tidak sereligius itu, tapi saya cukup rajin shalat dan mengkaji ayat. Yang saya kurang sukai dengan pandangan mayoritas penduduk indonesia (dan Mungkin penulis, saya tidak tahu. walau saya yakin niat penulis baik) terkadang kalian memandang kami, sebagai pelaku dan orang menjijikan yang harus dibasmi dari dunia ini. Jika kalian beragama, ingatlah bahwa kami juga ciptaan Tuhan. walau mungkin anda menganggap homoseksual menjijikan, tapi kami sebagai manusia juga sedih jika mendengar/membaca hal seperti itu.

    Disini saya tidak akan berusaha membenarkan homosexual, saya tahu itu menyalahi kodrat. Oleh karena itu, alhamdulillah sejauh ini saya tidak terlibat dengan komunitas dan kegiatan sexual.

    Sebagai orang homosex yang cukup mengerti agama, tentu ada kontradiksi dalam hati. Di satu sisi, anda harus melakukan perintah agama. Tapi di sisi lain, anda akan selalu merasa bahwa akan masuk neraka karena anda alaha homosex. Butuh waktu lama untuk saya bisa menerima diri saya seperti ini, saya akan membagikan pendapat saya soal ini (ingat, ini opini saya. biarpun ada sedikit ayat atau apa, bisa jadi interpretasi saya salah)

    Pandanglah homosex anda sebagai ujian dari Allah. Allah tidak akan pernah menguji hambanya melebihi kemampuannya. Anggap saja, berarti anda telah dipercaya Allah bisa untuk melalui ini. Janganlah membenci diri anda sendiri, jangan ingin mati dan sebagainya.

    Setahu saya, definisi homosex kaum nabi luth, berasal dari kata liwath (yg artinya kurang lebih menyodomi pria dan pria atau wanita dengan wanita) sehingga, saya beranggapan: yang diazab Allah adalah kegiatan homosex. jika kita lahir sebagai homosex, tapi tidak pernah melakukan kegiatan homosex, Insyallah kita tidak di azab.

    Namun, ingatlah bahwa kodtat manusia adalah pria dan wanita. cobalah belajar mencintai wanita, dan berkomitmenlah untuk tidak pernah berhubungan denvan pria.

    Saya sendiri pernah berpacaran dengan seorang wanita. Biarpun ujung-ujungnya kami putus, namun dia menyatakan bahwa dia cukup senang selama kami berpacaran. Jika anda bilang kasihan dengan wanita yang akan anda nikahi, anda salah besar. Kita bisa membahagiakan wanita, jika kita berniat. Lagipula, kita harus menikah karena Allah. bukan karena cinta. Insyallah jika kita menikah karena Allah dan ingin sembuh dari homosexual (dan anda berkomitmen) pernikahan akan menjadi berkah. Insyallah juga dia menjadi berpahala.

    Menurut saya sendiri, homosex adalah aib yg tidak perlu diceritakan ke siapapun. termasuk istri, karena bisa membuatnya sedih . selama anda bisa menafkahi batin dan lahir dengan baik, dan tidak menyimpang. pasti bisa.

    Salam

    • Marco says:

      Wah karena ditulisnya dari hp, tulisannya jadi kurang enak dibaca krn tidak di edit. tapi semoga bermanfaat, saya terbuka untuk berdiskusi juga. baik kaum G ataupun tidak 😉

    • Onya says:

      Bismillahirrahmanir rahiim ,

      Marco, saudara semuslim kami yang kami sayangi,
      Saya akan mengomentari beberapa hal yang menarik yang saya tangkap itu adalah merupakan kegalauan dalam hatimu…

      (1) jika kita lahir sebagai homosex, tapi tidak pernah melakukan kegiatan homosex, Insyallah kita tidak di azab.

      Saya akan berbagi kisah, mari kita simak…

      Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan:

      Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata: Ya Rasulullah! “Izinkanlah aku berzina.”

      Spontan seluruh sahabat yang hadir, menoleh dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: Apa-apaan ini! Mendengar ucapan sahabatnya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mendekatlah”.

      Pemuda itu pun mendekat kepada beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya: “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?”

      Pemuda itu menjawab: Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka…”

      Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.”

      Sejak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong).

      (HR. Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany)

      Sang pemuda pun belum melakukan aktivitas sebagai seorang homoseks, namun dia sangat beruntung dapat menyadari hati dan keinginannya yang kotor dan menyampaikannya pada Baginda Rasulullah. Meski hati dan keinginan yang kotor itu bukan perbuatan homoseksual, namun Rasulullah tidak menginginkan sang pemuda melakukan perbuatan dosa, meski baru sekedar niat. Karena itu, Rasulullah berdoa “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.”

      Apalagi jika hati itu menyimpan perasaan suka pada sesama jenis?

      Sebagai manusia, kita diberi perasaan suka mengasihi dan dikasihi dan juga rindu yang terkadang hanya kita simpan dalam hati. Kerinduan tak berbalas atau tak berani diunkapkan ini, seringkali membekaskan duka, sumber penyakit yang dapat menyebabkan kelemahan hati.

      Hati yang merindu ini pun tak boleh berlebihan. Ibnu Qayyim menjelaskan mengapa rasa rindu bisa mengganggu. Hati yang merindu sehingga mengganggu karena hati tidak terisi oleh rasa cinta, syukur, zikir dan ibadah kepada Allah sebaliknya membiarkan mata meliar.

      Rasulullah SAW bersabda: “Pandangan mata itu satu dari sekian banyak anak panah iblis.”

    • Onya says:

      Hal kedua yang menarik untuk dibahas adalah …

      (2) “Saya seorang muslim, bisa dibilang tidak sereligius itu, tapi saya cukup rajin shalat dan mengkaji ayat.”

      Kelihatannya kalimat itu indah, namun yang mengganjal adalah jika sudah shalat dan mengkaji ayat mengapa bisa masih menyimpan rasa suka pada sesama jenis?
      Tahukah anda apa manfaat shalat?

      Shalat dapat menghapuskan dosa dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kegiatan shalat secara rutin ini dapat menjawab pertanyaan “bagaimana cara menghindari agar kita tidak terbawa nafsu menjadi homoseksual”. Demikian pula dengan mengaji. Dengan rutin shalat dan membaca Al Qur’an serta berdzikir berarti kita terus mengingat Allah. Setiap manusia menurut fitrahnya mendambakan ketentraman dan kedamaian batin. Tak ingin hidup selalu diliputi kerisauan. Memperoleh ketentraman batin bukan hal yang tidak mungkin. Siapapun mempunyai peluang untuk memperoleh ketentraman batin. Allah SWT mengajarkan hamba-hamba-Nya agar gemar berzikir. Zikir merupakan salah satu langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati jauh dari kerisauan. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an:

      “(Yaitu)orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (zikir). Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’du:28).

      Jika kita mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingat kita. Jika kita mencintai Allah maka Allah pun akan mencintai kita. Bagaimana mungkin Allah membiarkan orang yang dicintaiNya untuk berbuat dosa?
      Lalu mengapa jika kita telah shalat, telah pula mengaji masih saja memiliki perasaan suka pada sesama jenis ?

      Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan “Wahai, anak manusia. Shalat adalah yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”
      Ad-Dur al-Mantsur, 6/466.

      Shalat yang dilakukan secara benar akan membawa pengaruh positif kepada pelakunya. Shalat dapat menimbulkan ketenangan jiwa, dapat menunjuki manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan ketaatan kepada Allah Rabul ‘alamin dan terhindar dari sifat lalai yang sangat merugikan. Maka ketika tertimpa masalah baik berupa musibah maupun cobaan, tidak ada cara yang lebih manjur dan lebih hebat dari shalat dan mengaji.

      Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur‘an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan.
      (QS. al-Ankabût/29:45)

    • Onya says:

      Hal lain yang menarik untuk ditanggapi dari komentar Marco adalah..

      (3) “..Lagipula, kita harus menikah karena Allah. bukan karena cinta..”

      Menikah karena Allah itu baik sekali. Namun menikah karena cinta yang cintanya karena Allah tentu jauh lebih baik lagi. Akan lebih mendekati keluarga yang sakinah, mawadah warohmah.

      Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar – kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya,
      “siapa mereka itu?,
      “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla.
      (HR. Ahmad)

      Yang terakhir, saya setuju dengan pendapat Marco, bahwasanya ..

      (4) “homosex adalah aib yg tidak perlu diceritakan ke siapapun. termasuk istri, karena bisa membuatnya sedih…”

      Bagian dari upaya ikhtiar ini adalah tutupi aib kita, karena Allah pun menutupi aib kita. Jangan ceritakan aib kita (perbuatan homoseksual) kepada siapa pun, termasuk orang terdekat Anda seperti keluarga, istri, orang tua, atau siapa pun dia. Karena, jika kita ingin sembuh, al ini bisa menjadi suatu masalah. Jika ingin berkonsultasi, bisa konsultasikan kepada ahlinya yang tidak mengenal Anda, dengan cara yang disamarkan. Lalu bermunajatlah pada Allah, mengadu, menangs, memohon pertolongan hanya padaNya.

      “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhori Muslim)

      Akhirul, Islam adalah the way of life. Maka jadikan Islam sebagai solusi dalam semua aspek kehidupan. Semoga dengan demikian kita semua hidup selalu dalam lindungan-Nya.

  16. human says:

    saya sangat tidak setuju dengan LGBT secara fitrah menyalahi. Bukan kodrat. Bukan juga takdir Allah. Ujian? Mungkin. Saya sangat percaya Allah dengan semua ajaran di kitab suci Alquran dan RasulNya.

    saya terlahir dikeluarga yg religius. Keseharian saya pun religius. Dr kecil hingga kuliah selalu dalam lingkungan yang religius. Tp taukah kalian saya gay. Saya tidak pernah suka dengan hidup saya. Saya benci muak dan ingin sekali di indonesia diberlakukan hukuman mati untuk gay. Krn sesuai hadis nabi jika kalian menemukan pasangan gay bunuhlah kedua2nya. dlm benak saya menjadi gay artinya adalah menjadi org yg tak pny hak hidup didunia ini. ini bukan pilihan saya dan saya tak pernah memilih untuk menjadi gay. Seandainya bisa saya lebih memilih mati dr pada menjadi gay. Berat dosanya tak sanggup di nerakanya. tp sekali lagi saya tidak bisa. karena tak punya rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Dan adakah wanita yg mau menerima suaminya adalah gay?

    Saya pernah bertemu seorang laki2 menikah dan pny anak tetapi masih suka sama laki2. Pernikahan tidak mengubah apapun. malah pacaran sama lelaki lain yg sudah menikah dan pny anak juga. saya skrg tidak berpikiran mau menikah dg perempuan.karena saya adalah seorang gay. Mendekati wanita menjadi beban psikologis buat saya karena merasa kasihan wanita yg menikah dg saya mendapatkan laki2 sperti saya. Jadi benarlah hadis nabi itu gay itu tidak pantas ada di dunia ini dan Allah pun memusnahkan kaum nabi Luth semuanya. Saya hanya berharap dpt segera meninggal diusia muda. Saya merasa sangat tertekan knp ujian Allah ini sangat berat untuk saya. semoga nanti bisa dipertemukan dg Allah dan satu hal yg ingin saya tanyakan mengapa saya harus dilahirkan ke dunia dg keadaan sprt ini. Kl memang tidak ada hak bagi saya untuk hidup. Dan mengapa saya dilahirkan kalau hanya untuk menjadi penghuni neraka?
    mgkn kah Allah sudi bertemu dengan hambaNya yg hina ini.

    • Smoga anda diberikan kekuatan untuk meneruskan hidup. Memang benar, dari banyak penelitian kaum gay memiliki potensi bunuh diri yang lebih besar karena ujian yang berat ini. Namun anda masih punya banyak kesempatan, tidak benar orientasi itu tidak bisa berubah karena sudah ada buktinya yang sembuh. anda bisa berkonsultasi dengan Kak Sinyo Egie di https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/ atau kontak langsung ke hape beliau ada di https://sinyoegie.wordpress.com/

    • Mukiono says:

      Anda masih bisa melihat kan? Anda masih bisa bernapas kan? Anda masih bisa berpikir kan? Dan saya yakin Anda masih punya nyawa. Itu artinya Anda masih dikasih kesempatan hidup oleh Allah, yg artinya Anda juga masih dikasih kesempatan utk tobat, karena Anda masih punya otak yg berfungsi dg bagus dan bisa membedakan mana yg baik dan benar, apalagi bisa dg sadar tahu kalo gay itu dosa..
      Jadiiiii, Allah aja masih ngasih kepercayaan kepada Anda utk menjalani hidup dan bertobat, tapi kenapa Anda malah ga percaya sama diri sendiri?

    • cat lover says:

      Selain indikasi penyimpangan/gangguan jiwa, bisa juga karena disebabkan gangguan jin. Ada kisahnya di sebuah majalah yg seperti itu. Coba minta bantuan ustadz untuk diruqyah, mas.

  17. Wijaya says:

    LGBT , sadar tidak sadar , mau tidak mau , fakta dasarnya adalah sesuatu yg berada diluar nilai normatif. Nilai normatif terbentuk dari budaya , kebijakan lokal , pandangan umum dsb termasuk penilaian berdasarkan kepercayaan.

    Memaksa sesuatu hal diluar nilai normatif menjadi bagian normatif yah sulit , finalnya hanya bisa sebatas ‘ditoleransikan’.

    Toleransi berdasarkan nilai kemanusiaan , anugrah kehendak bebas , kedewasaan manusianya dsb

    Sikap mencari pembenaran2 terhadap sesuatu yg berada diluar hal nirmatif adalah hal yg wajar , sebagai upaya dan sifat dasar manusia utk bertahan.

    Kalau saya pribadi , tidak menyetujui dan tidak mendukung LGBT , hak saya utk bersikap demikian seperti hak para pelaku LGBT utk bersikap bertahan pd pendapatnya sendiri……tapi disini sikap saya selanjutnya juga tidak memojokkan pelakunya , tidak menjatuhkan dan mengkerdilkan mereka.

    Saya tidak suka makanan pedas , sementara org lain suka , perbedaan jelas ada , tapi bukan berarti kita tidak busa makan semeja bersama sambil menikmati menu masing2.
    Manusia punya hak menentukan sikap masing2 dan urusan mereka dgn Tuhannya , atau kl tidak percaya Tuhan , minimal mereka bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

    Yg saya tau , orientasi adalah hal yg bisa disadari dan dikendalikan..tapi memang bersifat invidu , tidak semua org mampu.

    Kembali pd individu masing2. Beberapa agama menawarkan pilihan kehidupan selibat. Tapi pilihan itu kembali pd pelakunya sendiri , diluar perilaku perbedaan orientasi seksual , segala hal lainnya mereka sama saja seperti org diliar LGBT , punya jiwa , punya kehiduan sosial , punya bakat masing2 yg bisa dibagikan utk membantu kepada org lain , punya hak menentukan sikap nya sendiri.

  18. Maaf, kalau masih posting komen masalah LGBT, soalnya masih belajar, belajar memanusiakan manusia bukan menghakiminya agar mereka memiliki motivasi kuat untuk berubah bukan lari dan semakin berbuat dosa karena siapa tahu kasus ini ada di dekat kita di antara keluarga kita, sahabat kita, teman kita sendiri. Kali ini kasus seorang gay yang berusaha kembali normal, dia berhasil menikahi seorang wanita, setelah 1 bulan melakukan konseling di Peduli Sahabat (https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014). Berikut curahan hatinya:

    CATATAN HATI SEORANG SUAMI
    Istriku…
    Jika suatu saat Engkau menemukan tulisan ini
    Benar ini adalah tulisan suamimu
    Orang yang kadang membuatmu kesal
    Kadang membuatmu berurai air mata
    Tapi aku yakin itu karena Engkau mencintaiku
    Istriku
    Akun media sosial ini adalah media konsultasi diriku
    Jika Engkau bertanya-tanya
    Mengapa? Konsultasi untuk apa?
    Jawabannya adalah demi hal-hal yang kita jalani dlm rumah tangga
    demi kebahagiaan yg ingin aku berikan kepadamu,
    demi menumbuhkan hasratku padamu
    dan demi mengurangi kecenderunganku pada hal-hal negatif
    Maafkan aku jika tidak terbuka dengan keadaanku
    Aku tidak ingin menuangkan rasa sakit ke hatimu
    Biarlah Engkau menangis, namun tangisan itu adalah tangis bahagia
    Biarlah Engkau kesal, namun kesal itu karena keras kepalaku, masih wajar
    Namun untuk yang satu ini biarkan sakit ini hanya aku yang rasa
    Aku adalah suamimu
    Aku adalah seorang lelaki
    Aku merasa menemukan jati diri sebagai lelaki setelah bertemu denganmu
    Walau dulu aku ragu apakah aku bisa menjadi lelaki
    Namun aku membuktikannya bahwa aku bisa
    Fitrah sebagai lelaki ini
    Anugerah Allah ini
    Akan terus ku jaga
    Hingga akhir hayatku, bersamamu wahai Istriku
    Aamiin
    Arman Koneng, 15 Juni 2015
    https://www.facebook.com/profile.php?id=100006060646975

  19. no name says:

    Saya dulu punya pacar namun sampai sekarang blm bisa melupakan sepenuhnya, bayangan masa lalu dan masa depan saya hanya bersama dia walaupun saya sudah pernah menjalani hubungan dgn org lain, saya rasa dia cinta pertama saya bukan karena fisik atau kekayaan semata tapi tulus dari hati, namun setelah dewasa dan mengetahui ttg dunia gay saya mulai menghubungkan perilaku dia baik itu saat masih pacaran hingga yg saat ini ketika kami mulai komunikasi kembali, beberapa perilaku yg membuat saya sedikit bertanya2 adalah dulu dia (seperti) memakai pemutih wajah yg lazimnya dipakai wanita dan skrg dia senang menonton drama korea dan tdk mempunyai pacar wanita walaupun perilaku sehari2 nya seperti pria pada umumnya, namun saya mencoba menampik prasangka buruk karena takut jatuhnya suudzon tapi dlm hati kecil saya menyimpan pertanyaan besar, pertanyaanya adalah apakah saya telah menjatuhkan hati pada pria yg salah dan apa yg harus saya lakukan ?

    • Bila mbak No name adalah seorang muslimah, semoga mbak bisa berpikir jauh ke depan. Menikah itu bukan hanya urusan cinta. Dalam pandangan Islam, menikah itu gak hanya akad mu’amalah, tapi juga bentuk ibadah. Pernikahan itu ikatan yg kuat alias mitsaqan ghalizha antara laki-laki dan perempuan yg harus dilandasi dgn keimanan. Makanya ada syarat dan rukun yg Allah tentukan untuk berhalal dgn menyebut nama-Nya. Menikah seperti itu disebut ibadah, yg di dalamnya tercakup tugas melahirkan dan menyiapkan generasi masa depan yg unggul.

      Mumpung belum terlambat, ada baiknya keras terhadap diri sendiri, tegas dalam mengambil kesimpulan dan bersikap.

      Saya rasa sudah ada begitu banyak di internet yg sharing tentang tanda-tanda cowok gay. Coba deh.. lakukan penelitian / analisa / komparasi antara tanda-tanda tsb dg fakta yg ada dalam diri temannya mbak No name. Bila dari fakta-fakta yg dikumpulkan menunjukkan kecenderungan positif gay. Saran saya, gak usah ragu-ragu mengutarakan keanehan padanya, minta temanmu jujur.

      Ada begitu banyak kisah rumah tangga yg kandas di tengah jalan, gara-gara terungkap fakta sebenarnya tentang pasangannya yg mempunyai disorientasi (orientasi yg menyimpang). Mereka yg menyimpang dari kodratnya memutuskan menikah hanya untuk menutupi kedoknya, agar tidak malu dg keluarganya, lingkungannya, namun backstreet jalan terus.

      Sepandai-pandai disorientasi seksual itu ditutupi .. akan terbongkar juga pada akhirnya, cepat atau lambat. Ketika kehidupan rumah tangga berada pada titik saturasi, biasanya pasangan akan menunjukkan tabiat aslinya, termasuk orientasi seksualnya.

  20. Jaya says:

    Artikel ini adalah artikel sepihak, dan menyalahi kaidah penulisan keilmiahan. Pencarian pemahaman ilmiah hendaknya tidak bersumber dari tulisan ini.

    Dari segi paparan fakta ilmiah, artikel ini bersifat bias, misinterpretatif, tendensius, dan hanya menyertakan data yang mendukung argumen penulis. sumber rujukan sebagian besar berasal dari sumber tidak kredibel dan kadaluwarsa.

    Dari segi diskusi penulis cenderung menghakimi komentar tanpa adanya klarifikasi, menghapus komentar secara sepihak, tidak melanjutkan diskusi secara sepihak tanpa kesimpulan, pengakuan kekurangan artikel, permohonan maaf, ataupun justifikasi untuk mempertahankan pendapatnya. Namun disisi lain penulis menuduh lawan diskusi mengalihkan pembicaraan, dan melecehkan agama.

    Secara ringkas alur artikel ini memuat tentang “gay bukan keinginan tuhan, agama penulis melarang hal tersebut,” fakta ilmiah yang mendukung dimasukkan sebagai bukti argumen penulis benar, tanpa peduli berasal dari sumber yang benar atau tidak. Fakta ilmiah yang bertentangan tidak dimasukkan dalam penulisan, sebab ajaran agamabersifat mutlak, sehingga fakta ilmiah hanya dapat mendukung. Fakta yang menolak adalah fakta yang salah.

    • Wih.. masih bisa Bahasa Indonesia juga rupanya, kirain dah lupa 🙂

      Seperti yg pernah kujelaskan padamu… bahwa komen2 yg kuhapus adalah yg bersifat blasphemy, menghina umat beragama, mengolok-olok Sang Pencipta. Saya anggap itu komentar sampah, tidak ada niat untuk diskusi yg sehat.
      Tapi lihatlah… puluhan komentar yg mengandung curhatan, pembelaan diri, dan pembelaan kelompok LGBT, bahkan cenderung ‘menyerang balik’ mereka yg menasehati … semuanya masih ada tuh, tidak saya hapus. Buktikan sendiri ya.

      Do’a dari saya, semoga Pak Jaya mendapatkan hidayah-Nya. Aamiin.

    • Anda gay atau pendukung Gay yang yakin Gay Gen itu ada?
      Atau cuman menyoroti ttg cara dan kaidah penulisan aja.
      Yah kalau Gay siap-siap lah dengan azab yang pedih. Atau segera menemukan jalan yang selamat. Gay itu sala satu penghancur kehidupan.

  21. lita says:

    Artikelnya bagus Mas..
    setelah baca semua komen pro dan kontra aq agak sedikit berfikir dan berkesimpulan. Para LGBT dan yg pro LGBT yg komen disini berfikiran semua pembahasan tntg LGBT (walaupun itu untuk merangkul dan membantu LGBT kepd fitrohnya) adalah suatu bentuk penghakiman/judgement, diskriminasi, dan bullying bwt para LGBT. Kebanyakan dr mrk memang tidak ingin dibantu atau dirangkul spy kembali ke ftrahnya..sya juga heran sama spt salah satu komen dsni, kalau memang tidak ingin menjadi LGBT Knp diteruskan? Maka jwbnnya jelas, banyak dr mrk menginginkannya..

    Maka aq bener2 salut untuk mas noname yg masih berusaha untuk mencari wanita pujaan hati. semoga cepat bertemu 🙂

    Kami yg bkn LGBT pun punya masalah dgn diskriminasi, high expectation society, bulliying, dsb dlm bentuk ujian yg berbeda. Akui saja klo gay itu memang ujian. Tak hanya menyalahi hukum agama, menyalahi hukum alam jg..

    • Terimakasih, komentarnya mbak Lita patut saya bold:
      Para LGBT dan yang pro LGBT yang komen disini berfikiran semua pembahasan ttg LGBT (walaupun itu untuk merangkul dan membantu LGBT kepada fitrohnya) adalah suatu bentuk penghakiman / judgement, diskriminasi, dan bullying buat para LGBT. Kebanyakan dari mereka memang tidak ingin dibantu atau dirangkul supaya kembali ke ftrahnya.

      Betul, saya juga merasakan hal tsb saat membaca curhat / pembelaan mereka dalam kolom komentar di sini. Ini jelas fakta yang menyedihkan. Mereka terjebak mindset bahwa itu given dan gak bisa diubah.

  22. Menambah saja, dengan menggunakan prinsip logika/berpikir pro LGBT atau pun teman-teman LGBT sendiri…

    Ukuran perilaku yang baik itu kalau diukur dengan HAM tidak akan ada selesainya, bahkan kriteria: asal tidak menggangu orang lain atau karena itu dianggap given/genetic sekali pun. Kecuali kita sudah berpikiran komunis/ bahwa Tuhan itu tidak ada. Itu lain soal.

    Anggaplah perilaku gay (bukan orientasinya…) tidak menggangu manusia lain atau katakanlah itu hak. Tapi, banyak contoh orientasi lain selain LGBT dan bisa juga dikatakan tidak akan menggangu manusia lain. Saya kutipkan saja dari sebuah sumber:

    Kita mengenal beastiality, kecenderugan berhubungan seks dengan binatang. Orientasi seksual dengan binatang.

    Kita mengenal dendrofilia, kecenderungan berhubungan seks dengan pohon. Orientasi seksual dengan pohon.

    Kita mengenao nekrofilia, kecenderungan berhubungan seks dengan mayat/benda mati. Orientasi seksual dengan mayat/benda mati.

    Ada juga koprofilia, orientasi seksual di mana seorang merasakan kenikmatan seksual dengan bermain-main kotoran manusia.

    Kita sangat yakin, para pro LGBT tidak akan menggunakan prinsip kebebasan orientasi seksual untuk melegalkan daftar di atas. Meskipun tidak semuanya merugikan orang lain. Meski pun atas nama HAM.

    Seharusnya kita menyadari, orientasi semacam ini adalah kelainan.

    Tidak ada orang ‘sadar’ yang membanggakan kelainan (meski bukan penyakit). Kelainan bisa dikembalikan ke jalan lurus.

    Lebi lanjut untuk pemahaman bisa baca di http://goo.gl/D694eY

  23. Ridho Aveto says:

    Nobody is born gay…Nobody is born being murder, nobody is born stupid, nobody is born being thief, nobody is born become Villain, everybody born to prepare a trial of life…
    Chose Wisely..

  24. Dio Far says:

    postingan 2013 masih relevan saat ini

  25. Berdiskusi untuk mencari pembenaran tak akan ada ujungnya.
    Ambil pelajaran dari kisah orang di masa lalu. Nggak usah banyak dalih, yang mau selamat silakan ambil pelajaran dari sejarah itu. Yang ngeyel ya monggo. Keledai saja nggak mau jatuh dilobang yang sama. Lah ini dikasih tau malah ndableg. Apakah kisah negri soddom nggak cukup buat diambil pelajaran?

  26. edaelian says:

    Reblogged this on LIVE FOR LIFE and commented:

    seeeeeee !! not genetica, but social environment 🙂 wallahualam

  27. Gen homoseksual tidak terbukti. Teori yang menyatakan bahwa gay adalah sifat genetis (‘ciptaan’ Allah) adalah PROPAGANDA PALSU yang dirilis oleh peneliti yang gay. Teori Gen Gay sifatnya politis, sarat akan kepentingan kaum gay sendiri.

    Gay lover pasti ngeles mulu dah.
    Diajak yg baek, nolak mulu. Nggak ambil iktibar dari kisah negri sodom lo pada heh. Emang lo pada udah kuat buat diazab.

    Maaf rada kasar ni. Abis kesel aja diajak kebaikan malah pada membela kekeliruannya.
    Coba liat tu laut mati punya sejarah. Ok!

  28. Mama2kids says:

    FYI PFOX adalah rganisasi anti gay, homophobic , jelas mereka tidak bisa mentolerir homoseksualitas. Coba cari sumber yang lebih “netral”.

    Brain sex menurut American Psychology Association adalah

    “A science-based overview of brain asymmetry, Left Brain, Right Brain is an introduction to contemporary research on brain–behavior relationships. Exploring normal, split-brain, and brain-damaged cases, it focuses on such key issues as left-handedness, sex differences, psychiatric illness, learning disabilities, and theories of consciousness. Thoroughly revised and updated, with an increased emphasis on the interdisciplinary field of cognitive neuroscience, the 5th edition of this guide also covers: current neuroimaging techniques, incuding a color photo insert of neuroimaging findings; the growing interest in conscious and unconscious mental operations; and the latest discoveries concerning cerebral hemispheric organization and its relationship to mental function. (PsycINFO Database Record (c) 2012 APA, all rights reserved)”

    WebMD

    Can a Person’s Sexual Orientation Be Changed?

    Most experts agree that sexual orientation is not a choice and, therefore, cannot be changed. Some people who are homosexual or bisexual may hide their sexual orientation and live as heterosexuals to avoid prejudice against people who are homosexual and bisexual. They may live as heterosexuals in order to avoid their own moral dilemmas when their sexual orientation is incompatible with their personal beliefs.

    Berikut informasi lengkap dari sumber sangat terpercaya.

    http://www.webmd.com/sex-relationships/guide/sexual-orientation

    • Ibu, jurnal ini sama sekali tidak membahas soal poster lho. Poster hanya saya jadikan ilustrasi tanpa mengupas latar belakangnya dalam jurnal ini. Thanks anyway atas informasinya.
      Bukan hanya PFOX, siapapun yang mengaku taat menjalankan ajaran agamanya tidak akan mentolerir homoseksual, karena begitulah yang diajarkan dalam agama.
      Lantas bagaimana sebaiknya bentuk penerimaan dan pengakuan terhadap pelaku LGBT? Sudah saya paparkan dalam jurnal, semoga ibu tidak terlewatkan membacanya.

      Soal orientasi yg gak bisa diubah … ah itu teori buatan manusia.
      Banyak kok diantara mantan pelaku LGBT yg sudah menjalani terapi dg baik.. bisa benar-benar sembuh total, tanpa ada keinginan untuk mengulanginya lagi. Sesuai dg janji Allah:
      Allah telah merencanakan semua makhluk-Nya bisa berakhir bahagia, sebagaimana firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 185]”

      Penyebab LGBT itu bukan krn gen, tapi karena mindset. Terjebak mindset bahwa itu given dan gak bisa diubah.

  29. Danny says:

    Mas iwan, saya sadar semua orang punya pendapat, tapi anda tahu tentang poster tersebut di atas, setelah artikel tersebut di kabarkan oleh salah satu ‘ hate group’ di amerika (menurut lembaga non-afiliasi dengan partai atw organisation manapun, dlm artian independent Dan terpercaya). Mereka menggunakan model yg sebenarnya tidak ‘kembar’ seperti yg di kabarkan di poster tersebut, setelah sang model maju meluruskan siapa dirinya, dia seorang gay, Dan ‘hate group’ tersebut menggunakan foto dirinya tanpa izin Dan memutar balikan fakta mengenai dirinya. Sebelum anda menyebar berita tanpa fakta yg jelas. Sebaiknya diteliti sumbernya dulu. Saya tinggal di amrik Dan saya tahu sekalian mengenai berita ini. Teori tinggal teori, krn seorang ahli apalah bukan berarti dia benar, manusia punya keterbatasan. Lihat sejarah human right di amerika, belajar dari sana. Masalah agama itu personal, yg nantinya dipertanggung jawabkan setiap individual dgn Tuhan-nya, tdk ada hubungannya dengan orang lain maupun saudara sedarah atw orang tua sendiri. Anda tdk bisa menghakimi orang lain, klw mereka tdk merugikan anda secara hukum. Apalagi Indonesia bukan negara yg berdasarkan hukum agama, negara hukum yg menjamin kesejahteraan, kemakmuran, keselamatan warga negara-nya! Tidak di jelaskan dia harus beragama/kulit/ras/orientasi seks tertentu. Am I right?! Atas dasar apa kaum minoritas tdk ber-hak utk mendapatkan itu?semua warga negara punya HAK yg sama. Siapa yg pernah meminta utk berorientasi seksual LGBT? It’s chemistry its not an option, LGBT tdk memilih orientasi seksual, they was born that way. Gay menular? Lol teori siapa lagi tuh ? Klw anda
    Phobia terhadap LGBT antara anda kurang informasi, tdk yakin dgn orientasi seksual anda (jd takut ‘tertular’) atw anda memang ‘in the closet’) emang udah dr sononya cm ga sadar atw ga berani coming out karna nilai sosial di lingkungannya, jd jangan cari kambing hitam. Siapa yg mau hidup di bully, hukum mati, dll. It is what it is. Treat others like you want to be treated. Semua manusia sama di mata Tuhan, yg membedakan amalan-nya. Motto saya “LIVE AND LET LIVE” I have no right to judge other as far they’re not affect me personally.

    • Mama2kids says:

      Danny said what its best.
      Mas Iwan coba belajar lagi soal Brain sex, which God made it from the start. Bukan soal genetik atau tidak genetik, sakit jiwa atau tidak sakit jiwa, beragama atau tidak beragama.
      Kita gak bisa bicara bawa agama jika bicara soal Orientasi seksual. Jika ada yang mau menyembuhkan “Homoseksual”, bagaimana dengan “Heteroseksual”, bukankah itu juga orientasi seksual juga?

    • Terimakasih infonya, Mas Danny. Tapi jurnal ini sama sekali tidak membahas soal poster. Poster hanya saya jadikan ilustrasi tanpa mengupas latar belakangnya dalam jurnal ini.

      Indonesia memang bukan negara agama, tapi dihuni oleh mayoritas besar kaum beragama. Dan cobalah baca Pembukaan UUD 1945:
      “… maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, …”
      Artinya hukum yang disusun dan berlaku di negara Indonesia tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diakui dan dilindungi. Perilaku LGBT bertentangan dgn hukum agama manapun. Maka urusan tersebut tidak lagi dianggap sebagai hal yang privat, karena ada hukum yang mengatur, baik UU Perkawinan maupun KUHP. Contoh produk hukum yg berlaku bisa disimak di sini:
      Hukum Perkawinan Sesama Jenis di Indonesia by Klinik Hukum Online
      Keabsahan Perkawinan Pasangan WNI Sesama Jenis di Luar Negeri by Klinik Hukum Online
      Hukum Indonesia Melarang Adopsi Anak oleh Pasangan Sejenis by Klinik Hukum Online
      Sodomi, Tindak Pidana atau Bukan? by Klinik Hukum Online
      dll …
      Tentunya hukum tsb disusun sdh melalui evaluasi yg matang.
      Negara menjamin tidak ada diskriminasi bagi warganya, mulai dari hak untuk berpendapat, hingga hak untuk kehidupan yg layak. Tapi bila kelompok LGBT menuntut legalisasi perkawinan sejenis, maka jelas tidak akan dikabulkan oleh negara, krn bertentangan dg nilai-nilai agama dan produk hukum yg telah saya sebutkan di atas.
      Bentuk penerimaan dan pengakuan terhadap para LGBT … idealnya seperti yg saya sampaikan dalam jurnal di atas.

      Soal ‘menular’ … Manusia adalah makhluk sosial, maka segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja berdampak pada siapapun. Cermati baik-baik contoh kasus yg saya sampaikan di atas.

      Beberapa di antara mereka yg sembuh total dan bahagia bersama istri dan anak2nya, mengatakan kuncinya adalah takut pada Allah (bukan demi manusia). Ketakutan itu dominan muncul krn yakin ada kehidupan kekal di akherat, tempat mendapatkan konsekuensi atas segala perilakunya selama di dunia. Ketakutan itu membawanya menuju kebebasan, bebas dari belenggu orientasi seks yang menyimpang.

  30. ijustlearn says:

    Reblogged this on Ijustlearn's Blog and commented:

    kapan blog gw bisa sebermanfaat ini heu2

  31. Mama2kids says:

    Menanggapi soal DSM dan org2yg terlibat di dalam nya. Mrk dipih krn mrk “dipercaya”. Teori mrk tdk akan dipakai jika diragukan.
    Artikel ini bagus. Tapi sy harap paparan bisa lbh luas dan lbh fair untuk kaum minoritas (aka LGBTQ).
    Mas Jaya N, sy setuju banyak dg pendapat anda. Mas Iwan, sy jg setuju. Does it make me ambivalent? Don’t think so.
    Hanya sy lihat disini msh judgmental thd homoseksual dan solusi yg ditawarkan adalah “penyembuhan” dan “pertobatan”.
    Seolah homoseksualitas ad “penyakit”.
    Orientasi seksual bukan penyakit fisik atau penyakit fasik. Science tdk akan pernah berhenti mas Iwan, that’s why penelitian ttg ini juga saya harap tida berhenti. Karena tidak ada orang mau dilahirkan gay dan menadi bulan2an masyarakat. Perjuangan mreja berat, buat diterima, jangan lagi memojokkan . Di kitab suci dikatakan cintai tetanggamu melebihi saudara kandungmu yg jauh. Jika tetangga kita happen to be gay/trans, will you love them and never judge?
    Perdebatan ttg gay tdk akan ada habis nya sampai akhir jaman. They way you see yourself is more important than adjusting what people wants you to be. In the end it’s you who’s going to experience it.
    Stop judging, stop trying to “cure”.
    We have rights to ne what we want to be.
    And one last line :” Stop playing God. Because you are NOT”.

    • HObi MObil beKAS says:

      Bagaimana homoseksual bukan suatu penyakit? Kumpulkan semua orang gay jadi khusus satu negara. Kalau kurang dalam 50 tahun negara itu punah apa ya masih bukan disebut penyakit.

      Mas/Pak, homoseksual bisa disembuhkan. Saya juga pernah mengalami orientasi ini. Cuma modal dua langkah menyembuhkan. Langkah pertama adalah buang jauh-jauh homoseksual bukan suatu penyakit. Dan langkah selanjutnya akan terbuka sendiri setelahnya.

  32. Nindya says:

    Saya punya sahabat dari kecil yg duluna gay, sekarang alhamdulillah sembuh total kok.. Padahal dari kecil dia memang bawaannya ke perempuan2an. Cuma ya itu harus ada tekad kuat dan jadikan Agama sebagai solusi.. Inshaallah pasti bisa!… Saya juga pernah merasa ser2an waktu melihat teman sesama perempuan.. Rasana kaya abg jatuh cinta, cuma ya itu bisikan setan, jangan terus di ikutin, ya kudu di lawan. Tiap manusia pasti ada kegilaannya atau hawa nafsu yg menyalah dalam dirinya.. Gimana kita mengatasi dan melawannya aja. Musuh terbesar ada di diri sdr..

    • nia says:

      Sama mb, Saya punya teman wanita yang biseksual, dia mempunyai pacar wanita dan pria dalam satu waktu dan dia juga (maaf) aktif secara seksual dengan keduanya. saya pernah bertanya padanya, sebenarnya ketertarikan mana yang dominan padanya?, tapi ia tidak pernah menjawab dan tetap menikmati hidupnya yang bebas bersama teman-teman bandnya. Karna saya tidak pernah mengguruinya secara langsung hubungan kami tetap dekat layaknya teman 1 kost. tapi saya mendekatinya dengan halus. saya tau keluarganya tidak terlalu memperhatikannya. orangtuanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. saya mencoba menyadarkannya secara halus dan jangan sampai menyakiti perasaannya. saya rasa dia hanya butuh teman dan sayangnya dia terlanjur masuk pada lingkungan yang tidak baik. yang saya lakukan hanyalah merangkulnya dan menunjukkan padanya bahwa ada teman lain yang peduli padanya, menjadi pendengar saat dia mempunyai masalah, menggiringnya pada suatu hal yang benar tanpa mencemoohnya. karna saya yakin hanya kemauan dirinya sendirilah yang bisa menyadarkannya.

      setelah 2 tahun berpisah saya tersenyum bahagia saat membaca sms darinya, ia akhirnya menikah dengan pria pujaannya. dan kini sudah mempunyai seorang anak.

    • Alhamdulillah. Syukur pada Allah yang telah memberikan temannya mbak Nia kekuatan pertahankan fitrah, menikah dan miliki keturunan | fitrah biologis • psikologis • ideologis

      Kasus temannya mbak Nia adalah bukti bahwa lingkungan bisa mempengaruhi orientasi seksual.

    • mbak Nindya, kalau tidak keberatan… monggo di-sharing bagaimana perjalanan ikhtiar sahabatnya mbak Nindya, termasuk kendala-kendala yg dihadapinya, dan bagaimana ia bisa mengatasi kendala tsb.
      Silakan di-sharing di media sosialnya mbak Nindya (bila ada), nanti kasih tahu link-nya ke saya, atau kirim email ke saya: iwan_pipeline@yahoo.com
      Saya akan coba buat kompilasi succes story-nya di blog ini.
      Insya Allah, sharing ini bisa berguna bagi mereka yang masih mengidap disorientasi seksual agar termotivasi untuk sembuh total.

  33. Bang jo says:

    Perasaan, jatuh cinta, ketertarikan, kesukaan, dsb, seringkali muncul secara alami. Tanpa kita minta. Tapi perasaan tsb hal yg pasti benar atau bisa saja salah?

    Misalnya, saya jatuh cinta pada istri orang. Itu hal yg muncul sendiri tanpa kita minta. Tau2 timbul perasaan itu.

    Tapi apa yg kemudian saya lakukan yg menjadi nilai saya. Apakah karena jatuh cinta sama istri orang, kemudian saya harus mengungkapnya dan menyalurkan perasaan saya tersebut kepadanya? Atau saya harus memendam perasaan tsb, karena saya tau bahwa perasaan itu tidak seharusnya dilanjutkan, dan jika dilanjutkan akan menimbulkan banyak hal yang tidak baik. Dia sudah punya suami, apakah hanya demi memuaskan keinginan saya harus saya lanjutkan perasaan ini?

    Begitu pula ketertarikan kepada sesama jenis. Seandainya saya punya perasaan itu, bukan berarti saya harus melanjutkan dan menyalurkan perasaan tsb. Akan lebih baik kalau saya pendam saja perasaan tsb. Demi kebaikan yg lebih banyak, daripada hanya utk sekedar menuruti perasaan dan hawa nafsu saya. Karena dari berbagai sudut pandang, kesukaan pd lawan jenis adalah hal yg tidak baik dan benar. Dari agama, norma sosial, kesehatan, dll, banyak yg tidak membenarkan.

    Itulah yg membedakan anak kecil dan orang dewasa. Anak kecil yg baru pilek, pingin makan es krim, dia gak peduli dokter melarang, ibunya memarahi, tetep aja anak kecil merengek memaksa harus makan es krim. Ya wajar namanya juga anak kecil, nafsunya pingin harus dituruti. Karena belum bisa membedakan yg benar dan salah. Kalo orang dewasa, meskipun pingin banget, dia tetap bisa menahan keinginannya tsb, karena dia tau itu salah.

    Ya tinggal kita mau jadi kekanak-anakan yg harus dituruti nafsunya, atau menjadi orang dewasa yg mau berkorban dan mampu mengendalikan perasaan dan pikirannya.

  34. Buat teman-teman, saya harap mencoba untuk menggunakan akal bila tidak bisa menerima dalil agama sebagai penjelasan. Kebetulan saya salah satu ortu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Seperti kata Pak Iwan, bila kita menerima takdir/genetik sebagai sebab bahkan yang dianggap buruk/cacat sekali pun oleh manusia normal. Maka bukan brarti kita tidak mampu mengubahnya, karena Pencipta kita menganugerahkan potensi kehendak/ikhtiar/berusaha. Anak saya yang kedua adalah tuna rungu sangat berat sejak lahir. Sudah banyak kami melakukan usaha/pengorbanan untuk membuat anak kami bisa mendengar dan berbicara. Dan perlahan hasilnya mulai terlihat. Bagaimana pun usaha kami, anak kami tetaplah tuna rungu, namun dia sekarang sudah mulai bisa mendengar dan berbicara meski pun terbatas. Usaha proses itu jauh lebih berharga daripada kita meratapi diri sendiri dan berusaha agar orang lain mengerti kita. Anda sekalian tahu bagaimana masyarakat menciptakan stigma (dan itu alamiah sebagai sifat fitrah buruk dari manusia yang seharusnya tidak perlu dipupuk menjadi bentuk sikap diskriminatif). Kami pun dan ortu lain berpendapat tuna rungu bukanlah penyakit. Tapi dia bisa dimodifikasi agar mengikuti dunia mainstream. Masih banyak ortu yang belum menerima anaknya mengalami tuna rungu, hanya sekadar mengeluh, mengutuk dirinya, bahkan marah sama Tuhan dan kecewa dengan anak yang dilahirkannya. Kami di grup ortu selalu menyemangati mereka ini untuk berpikiran positif dan berjuang keras. Tidak semua yang mampu dan masih saja ada yang berkeluh kesah dan pasrah dengan keadaan. Mungkin analogi ini bisa memberikan pencerahan. Gay yang berwujud orientasi tidaklah terlarang, namun anda bersiap akan tetap mengalami stigma selama tidak berusaha untuk menepisnya dan bermanifes dalam perbuatan nafsu terlarang. Bahagia itu ada di perjuangan, terkadang harus dipaksakan agar kita berlatih menggapai bahagia yang hakiki. Kami mengalami itu dalam bentuk yang lain.

  35. noname says:

    Saya sudah membaca tulisan ini , dan saya cukup open mind terhadap artikel ini.. terima kasih buat artikel nya pak Iwan

    Ijinkan saya memberi tanggapan dan berbagi sedikit cerita yang berkaitan dengan artikel ini ,

    Setiap orang pasti pernah yang namanya Jatuh Cinta yang bener2 dari hati( bukan hanya karena penampilan fisik )..dan hidup terasa indah ketika kita bisa ngrasain yang namanya cinta,,
    Saat ini umur ku 23 tahun,di dalam hidupku hingga detik ini ak hanya pernah 2x merasakan yang namanya jatuh cinta yang sebenarnya yang dari hati ..yang pertama adalah waktu SMP dan yang kedua adalah 1 tahun yang lalu, selain itu mungkin aku hanya tertarik secara fisik terhadap orang lain ( bukan dari hati )..

    Tapi anehnya ,semua orang yang membuat aku jatuh hati dan tertarik adalah orang yang memiliki jenis kelamin yang sama , aku ngerasa selama ini aku memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis dan mereka adalah temanku sendiri..mereka straight..dari aku kecil ( SD )aku tidak pernah merasa tertarik terhadap perempuan seperti aku tertarik pada laki laki.. aku ngerasa ada yang salah dari dalem diriku sendiri, aku selalu ngerasa ini merupakan hal yang salah,tapi kenapa perasaan seperti ini selalu muncul ke orang yang salah.. dan itulah mengapa aku gak pernah bisa mengungkapkan perasaan cinta ke orang yang aku suka selain menunjukannya lewat tindakan yang menunjukan kepedulianku kepada orang yang aku cintai.. karena aku merasa ada sesuatu yang salah dan sangat tidak mungkin untuk menyatakan rasa cinta dan suka pada orang yang berjenis kelamin sama dan mungkin dia juga akan membenciku kalo aku berkata jujur…dan pada akhirnya harus berakhir pada patah hati yang berat dan melepaskan orang2 yang aku cintai dalam hati saja..aku merasa bahwa mungkin didalam hidup ini aku ga bisa berakhir dengan hidup dengan orang yang aku cintai dari dalam hati..aku merasa bahwa aku ga bakal bisa menikmati anugrah Tuhan yang paling berarti dalam hidup yang disebut ” Cinta”

    Kadang, aku juga bertanya-tanya pada diri sendiri..kenapa aku selalu memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis,dari dalam diriku sendiri aku pengen bisa tertarik ke lain Jenis seperti kodrat manusia pada umumnya..tapi ak sendiri ga tau kenapa perasaan tertarik muncul ke sesama jenis.. Kadang aku juga bertanya sama Tuhan kenapa aku harus berbeda Tuhan, kenapa perasaan yang salah seperti ini muncul.. apa ini memang ujian yang sangat sulit dari Mu..ak selalu memendam semua ini sendiri,aku tidak pernah menceritakan beban berat ini ke siapapun..karena bagaimanapun juga aku takut terhadap reaksi orang-orang terdekatku kalau aku seperti ini..mungkin beberapa orang bilang kalo dalam hidup kamu perlu yang namanya curhat,tapi curhat tentang hal seperti ini itu sangat sulit buat aku..karena aku takut mungkin orang bakal keceplosan dan hal kaya gini nyebar ke yang lainnya..aku ga pernah cerita sama orang tua , sodara , jadi setiap hari aku harus mempersiapkan diri dengan rapi untuk menyembunyikan ini semua..aku harus berperilaku seolah semuanya baik-baik saja…

    Mungkin dari cerita tersebut bisa disimpulkan, bahwa aku adalah gay..tapi aku tidak ingin peduli dengan label “gay” yang diciptakan oleh masyarakat..aku gak tau apa yang bakal terjadi sama hidupku ke depan nanti …tapi dari dari dalem lubuk hatiku yang paling dalam..aku punya secercah harapan kalo suatu saat nanti aku bisa bertemu perempuan yang benar-benar aku cintai dari dalem hati..aku bisa jatuh cinta sama perempuan yang juga mencintai aku dari dalam hati.. aku ingin punya pasangan perempuan yang aku nikahi atas dasar cinta , bukan atas dasar menikah karena umur, menikah karena teman-temanku yang lain menikah..aku ingin menikahi perempuan yang aku cintai..

    meskipun keadaanku sekarang saat ini seperti ini, dan mungkin orang2 yang juga mengalami hal yang sama berpendapat bahwa aku gay denial dan tidak mungkin sembuh..
    aku ingin tetep percaya terhadap harapan kecil tersebut..

    Namun di sisi lain,aku juga merasa kasihan dengan teman-teman yang mengalami hal yang sama dengan aku..karena aku sendiri hingga saat ini juga ngerasain apa yang mereka rasain..Aku sendiri merasakan betapa beratnya hidup dengan keadaan seperti ini..

    Apakah gay itu gen atau tidak memang menjadi perdebatan disini , aku sendiri juga tidak tahu meskipun aku juga pernah membaca tentang hal ini
    Namun kalau bilang ada pengaruh faktor lingkungan..aku mengakui itu benar,aku ingin sedikit memberi saran untuk teman2 yang mungkin tidak mengalami hal seperti ini dan melihat mereka sebagai hal yang menjijikan dan membandingkan perilaku mereka dengan perilaku binatang..

    Ya benar faktor lingkungan berpengaruh,Mungkin ada yang menjadi gay karena homosexual experience with adults, mungkin ada yang karena kurang perhatian dari salah satu sosok orang tua,tidak punya teman lain jenis ,dll . Namun janganlah menyalahkan mereka seutuhnya seperti mereka sampah masyarakat yang harus dibasmi seperti hama,mereka juga tidak bisa memilih dilahirkan dengan keluarga dengan ayah ibu yang memiliki perhatian seimbang terhadap anaknya,mereka tidak bisa memilih dengan mudah untuk menghindari orang dewasa yang mencoba menyodomi mereka ketika mereka masih kecil ( karena mereka masih kecil dan tidak tahu apa-apa) , mereka yang tidak punya teman dari jenis kelamin yang sama ketika teman dari jenis kelamin yang sama mengolok2 banci karena kefeminiman mereka..
    mereka menjadi gay tidak sesimple kalimat “gay adalah pilihan” , ada banyak hal yang mungkin kita abaikan karena ego kita sendiri..

    Mengalami hal seperti ini memang sangatlah berat sekali jika kita tidak mengalaminya sendiri , terlihat mudah dan simple untuk kita yang tidak mengalaminya.. ada masa dimana hidup terasa sangat sulit sekali,ada masa-masa depresi,ingin bunuh diri, jatuh bangun berkali kali dll..terlebih mereka yang menyembunyikan hal ini..aku sendiri merasakan hal ini.. terkadang aku merasa bahwa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri , kadang aku merasa aku akan menghabiskan hidup dengan berpura-pura tegar seperti semua baik-baik saja, kadang aku merasa kalau aku tidak punya teman yang bisa mengerti perasaanku , ini sangatlah sulit..
    pernah suatu hari, ketika aku dan mamahku menonton televisi,sebuah acara gosip..
    mamah bilang
    “kamu tahu nggak sih, artis ini gay lho..suka sesama jenis”..
    disitu rasanya sangat sakit sekali..di satu sisi aku tidak bisa membayangkan apa yang mamah rasakan ketika anaknya sendiri mengalami seperti ini..dan disisi lain aku juga ingin bercerita tentang beban hidupku pada mamah dan mencari solusi tapi aku ga ingin menyakiti hati mamah dan membuat mamah banyak pikiran.. kadang rasanya sangat miris ketika aku sendiri ga bisa cerita masalahku ke ibu sendiri..

    Sampai saat ini di umurku yang ke 23,aku masih sendiri dan belum punya pasangan..ada masa dimana teman-teman akan bertanya tentang pacar,dan kaget jika aku belum pernah berpacaran,dan akan bertanya ” jangan-jangan kamu gay?”..
    pernah terpikir dalam benak..
    ” Haruskah aku pacaran dengan siapapun? ”
    ” Haruskah aku berpura-pura mencintai seorang gadis dan kemudian memutuskannya suatu hari supaya teman-teman tidak curiga?”
    ” Haruskah aku menyakiti perasaan gadis itu ?”

    Banyak orang yang bilang tidak membenci kaum LGBT namun secara tidak sadar membuat mereka secara tidak langsung merasa terasing dengan ucapan2 dan tindakan yang mungkin tidak disadari mereka sendiri. Mereka menjadikan orang-orang yang suka sesama jenis sebagai lelucon sehari-hari.. bagaimanakah mereka tidak merasa terpojok dan depresi ?

    aku yakin,semua orang yang mengalami ketertarikan sesama jenis dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam merasa bahwa ini hal yang salah dan aneh..mereka pasti banyak bertanya-tanya terhadap diri mereka sendiri,demikian juga aku..mereka mengalami perjalanan hidup yang tidak mudah..jadi bersyukurlah jika para pembaca jika kalian tidak pernah merasa tertarik terhadap sesama jenis..cobalah buat lebih mengerti mereka lebih dalam dan jadilah teman buat mereka , jangan datang dan membawa atas nama agama untuk mengejudge mereka..jadilah teman yang baik dan datang dengan cara yang baik,itu akan lebih baik..mungkin banyak dari mereka yang memang diluar batas dan keras hati,tapi cobalah mengerti mereka..mungkin mereka menyimpan pilu yang sangat dalam, berdebat pun tidak akan pernah selesai

    aku pribadi merasa bahwa Tuhan itu baik , meskipun kadang aku bertanya kenapa aku harus mengalami hal ini,apakah ini memang rencana-Nya ..aku percaya Tuhan mencintai aku apapun keadaanya meskipun mungkin aku dibilang seperti ini dan itu oleh masyarakat..dan aku juga akan tetap percaya pada harapan kecil yang aku punya..bahwa suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan perempuan yang bisa membuat aku jatuh cinta padanya dan membuat aku mengerti arti sebuah keajaiban

    Aku mengambil sisi positif dari artikel ini..dan aku sharing cerita ini bukan bermaksud untuk membela diri atau membela salah satu pihak..aku juga menghargai effort artikel ini..banyak hal yang bisa aku pelajari disini dan menambah pengetahuanku.. semoga ceritaku bisa menambah wawasan teman-teman sekalian

    • awan says:

      Semoga esok atau lusa engkau dipertemukan dengan harapan itu, kawaann….

    • Bernas sekali sharingnya, mas Noname.
      Saya turut mengaminkan do’anya.
      Semoga mas Noname diberikan anugerah-Nya berupa kekuatan pertahankan fitrah, menikah dan miliki keturunan | fitrah biologis • psikologis • ideologis

      Saya mohon ijin, sharing mas Noname ini saya jadikan bahan pembahasan tentang “Menyikapi Takdir” dalam jurnal terpisah ya, mas.

    • Zhoel says:

      Bismillahirrohmaanirrohiim

      Bung Noname
      Terima kasih share pengalaman hidup anda. Ketika membacanya, sy sdkt banyak bisa merasakan tekanan dan beban hidup anda, tp yg pasti sy menyadari tidak mungkin se-nyata yg anda rasakan.

      Tentu anda pernah mendengar istilah “Think out of the box”

      Cara berfikir sprt ini umumnya butuh usaha extra dan butuh kesadaran logika luar biasa bagi yg terlibat atau masuk bagian dari masalah. Apalagi perkara yg anda hadapi datang dari dalam diri, mencuat dari hasrat terdalam manusia. Semoga anda tergolong orang yg demikian, yg memiliki keinginan kuat luar biasa menemukan makna kebenaran dan arti kehidupan. Dan keinginan kuat ini tidak akan muncul jika tidak ditopang dari niat kuat luar biasa anda untuk keluar dr problem yg menyelimuti nyaris sepanjang hidup anda.

      Jika berkenan sy ingin share pengetahuan yg pernah sy pelajari dan dapatkan dr kajian islam dr suatu gerakan Islam…..mohon jangan apriori dahulu…..mungkin dari segi hukum agama anda sudah jengah mendengarnya, tp sy sangat berharap semoga tidak….jika anda benar2 mencoba memahami konsep keimanan dan makna kehidupan….

      Dari kajian ini……sebelum masuk ke pembahasan pd pembuktian kebenaran wahyu yg akan membentuk kekuatan keimanan seseorang, dibahas pula potensi2 apa saja yg ada dalam diri manusia, berkaitan pendalaman apakah yg di maksud dengan Fitrah manusia.

      Dijelaskan bahwa dalam setiap penciptaan diri manusia, Allah SWT juga telah menciptakan potensi kehidupan (thaqatul hayawiyah) pada diri manusia, yang berupa :

      1.KEBUTUHAN NALURI (Al-Gharizah). Yang terdiri dari :
      a. Naluri beragama (Gharizatut Taddayun)
      b. Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa)
      c. Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau’)

      KEBUTUHAN JASMANI (Hajatul Adlawiyah),yang penampakanya berupa rasa lapar, rasa haus, menghirup udara dan lain-lain.

      Perbedaan dalam segi pemenuhan kebutuhannya, dari kedua potensi kehidupan manusia diatas ialah:

      Kebutuhan jasmani (Hajatul Adlawiyah) tidak dipenuhi maka akan mengakibatkan kematian. Jadi sifatnya kebutuhan ini wajib dipenuhi. Hal ini sy kira sudah jelas, jd tdk akan sy bahas.

      Namun tidak demikian dengan kebutuhan Naluri (Al-Gharizah), jika tidak dipenuhi tidak sampai mengakibatkan kematian, akan tetapi hanya menimbulkan perasaan gelisah saja pada diri manusia.

      BUKTI Penjelasan Tentang naluri:

      Naluri beragama.
      Sudah menjadi sifat fitrah manusia akan ada masa dia merasa lemah, terpuruk, dst dan saat itulah dia membutuhkan sesuatu yg lain yg lebih besar. lebih hebat, lebih kuat jauh melebihi dari dirinya. Oleh sebab itu kita saksikan Sepanjang sejarah hidup manusia, tidak akan lepas dari aktivitas penyembahan, terlepas yg disembah itu hal yg benar atau salah. Sekalipun org yg mengaku atheisme atau penganut komunis. Misal Uni sovyet yg dulu dedenkot Komunis, rakyatnya mensucikan patung stallin, dst. Bahkan manusia suku paling terpencil terisolasi sedunia, selalu kita saksikan ada aktivitas ini.

      Hal ini tidak lain sebagai wujud kanalisasi kegundahan, dorongan dari nalusi beragama tsb yg telah ada dalam tiap diri manusia bersamaan penciptaannya

      Contoh paling real bisa kita saksikan di kota2 besar negara maju yg cenderung memang meminggirkan naluri beragama ini dr kehidupan. Akibatnya Angka stress, kegelisahan, begitu tinggi, hingga jasa psikiater seakan menjadi bagian dr kehidupan, tp tidak sampai mengantarkannya otomatis pd kematian seketika layaknya Kebutuhan Jasmani saat tidak dipenuhi.

      Naluri mempertahankan diri
      Singkat saja. Ini pula dapat kita saksikan sepanjang sejarah hidup manusia. Misal Anda difitnah, dimaki2, dilecehkan. Bagaimana perasaan Anda? Dongkol ke ubun2, marah meluap. Tp hanya sampai batas itu. Yg muncul sebatas kegelisahan, ketidaktenangan hati, mungkin jg rasa takut, dst. Ini adalah respon dalam diri manusia ketika menahan diri untuk tidak melampiaskan naluri ini. Jika anda cukup kuat menahan diri untuk tidak melampiaskan naluri mempertahankan diri ini, tidak akan sampai mengantarkan anda pd kematian.
      Naluri Melangsungkan keturunan/Sex
      Demikian pula ini dapat kita saksikan sepanjang hidup manusia. Baik manusia primitif, orang rimba, hingga manusia modern.

      Jika pakai penjelasan ilmuwan barat, mreka mengangga sex adalah kebutuhan sederajat dengan kebutuhan jasmani, yg dapat mengantarkan kematian jika tidak dipenuhi. Inilah letak awal kekacauan logika.

      Sebenarnya sangat gampang dibantah dan faktanya bertebaran. Sebut saja para Rahib, pastur. Mereka dilarang berhubungan sex. Apakah mereka mati??

      Faktanya misal kita saksikan bbrp kejadian di berita pendeta melakukan pelecehan thd pd biarawati. Ini tidak semerta merta membuktikan bahwa naluri sex adalah harus dipenuhi, tp justru semakin memperkuat penjelasan ini, bahwa sex hanya suatu naluri manusia. Ketika tidak dipenuhi akan berakibat kegelisahan, kegundahan yg mendorong untuk disalurkan, layaknya dengan sifat 2 naluri di atas, tp tidak mengantarkan pd kematian. Apakah kita mengatakan semua pendeta yg masih hidup melakukan pelecehan semua…Demi penyaluran naluri ini?? Sy yakin tidak!!

      Sifat Penting Lain Naluri (Ini Saran solusi untuk Anda)

      Sifat penting lain dari naluri yg perlu kita ketahui selain senantiasa mendorong pemenuhan oleh manusia, tp tidak akan sampai menyebabkan kematian saat tidak dipenuhi adalah :

      Kekuatan munculnya pemenuhan naluri dipengaruhi oleh faktor eksternal dr tubuh manusia, sbgmn kita saksikan contoh2 diatas.

      Naluri beragama muncul saat manusia merasa dalam kelemahan dalam hidupnya shg ia mengharapkan suatu yg lebih baik dari keadaan nya saat itu. Saat itulah zaman jahiliyah petani, nelayan,dll ada ritual, sesajen,dll. Tp saat kondisi sukses, berhasil, bahagia, umumnya sifat manusia akan jauh dari apa yg dia tuhankan. Mangkanya kita sangat mengenal istilah kufur nikmat diberbagai aktifitas ceramah. Sudah sering kita saksikan justru saat orang2 menjadi kaya dia lupa dengan tuhannya.

      Pertanyaan besarnya: Lalu kok org2 kaya itu gak gelisah tdk memenuhi naluri agamanya??

      Jawabannya adalah karena dia mengalihkan/menyibukkan dirinya dr pemenuhan naluri trsebut ke pemenuhan potensi hidup nya yg lain. Bisa alihkan dominan ke pemenuhan naluri sex, shg jadilah dia sex maniak, atau diminan ke naluri Baqa dengan menjadi penguasa ororiter, jadilah dia “gila kekuasaan”, sprt firaun atau umum para pemimpin2 zaman sekarang, termasuk negeri ini :p Atau dominan ke kebutuhan jasmani, jadilah dia tukang makan apa saja yg dianggap enak baginya, dst

      JADI KUNCI LAH ADALAH PEMENUHAN SUATU NALURI DAPAT DIALIHKAN / DIBELOKKAN DENGAN PEMENUHAN DOMINAN KE POTENSI HIDUP YG LAIN

      Kini tergantung dari manusia tersebut, akan mengalihkan dr kecenderungan pemenuhan naluri tertentu ke penyaluran potensi lain yg positif atau negatif.

      Demikian juga untuk Naluri Sex

      Ini pun dapat dialihkan/dibelokkan. Sebagaimana dijelaskan di atas, naluri muncul dapat disebabkan faktor eksternal, misal : melihat lawan jenis yg menarik baginya secara intens, menonton video porno, shg muncul dibenaknya imajinasi.

      Jadi

      TIPS 1 :
      Hindari hal2 eksternal yg dapat memancing mnguatnya naluri sex ini. Contoh sprt di ats. ini berlaku baik anda merasa normal atau tidak. Oleh sebab itu, sbg bukti kesempurnaan Islam dan kbenaran Allah SWT sbg pencipta manusia, shg dia pasti plg mengetahui apa2 yg baik dan buruk bagi diri manusia utk kebaikan dunia akhirat manusia, syariat Islam mengatur aturan Wajib menundukkan Pandangan, melarang campur baur wanita pria kcl ad urusan yg mmg dibolehkan, menutup aurat, dst. Inilah Islam tidak hanya berisi larangan, juga dilengkapi pencegahan. Ingat ini untuk kebaikan manusia di tujuan akhir kehidupan, yaitu akhirat. Dunia hanya transit, untuk beribadah, mencari bekal. Untuk memahami konsep ini, tentu tidak mungkin anda mencapainya jika anda tidak mencoba mendalaminya. Ini adalah KONSEP UMUM HIDUP JIKA INGIN MEMAHAMI APAPUN HINGGA LEVEL YAKIN/IMAN. Sebagaimana pemahaman anda mengimani Baygon dapat mengantarkan pada kematian jika diminum tanpa perlu anda terlebih dahulu mencobanya.

      Tips 2 :
      Alihkan ke pemenuhan kebutuhan jasmani. Jd saya harus menjadikan makan menjadi Hobby gitu?? Bukan itu, tp justru sebaliknya. Tp prinsipnya sama. Hasrat potensi hidup anda dipindahkan ke RASA LAPAR. Bukan jaminan, tp yakinlah rasa lapar dapat mengurangi hasrat naluri, khususnya sex. Ini lah tambahan bukti kebenaran Islam, saat hadits Rasulullah menganjurkan bagi yg belum mampu menikah untuk berpuasa.

      Tips 3 :
      Metode pengalihan yg lain adalah alihkan, fokuskan, sibukkan diri ke penyaluran naluri yg lain. Sy dapat sarankan, pengalihan yg baik/ shahih sesuai tuntunan Tuhan adalah dengan mempelajari agama lebih dalam, memahami makna kehidupan, mengkuatkan Iman bahwa Allah itu ada seakan senantiasa di hadapan, kenikmatan syurga tak terbayangkan miliaran kali di atas kenikmatan terbaik apapun yg ada di dunia, dan siksa neraka tak terperihkan milyaran kli lebih pedih dr penderitaan terberat apapun di dunia

      Sebenarnya masih byk lg yg bisa anda gali dan menjadi solusi untuk apapun kehidupan manusia.

      Jika anda muslim tentu anda mengetahui sbgmn dlm Quran, bahwa Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.

      SARAN KUAT SAYA, PELAJARI ISLAM SEDALAM2NYA…..SIBUK KAN DIRI MEMBELA AGAMANYA……

      YAKINLAH….SESUNGGUHNYA PERTOLONGAN ALLAH SWT SANGAT DEKAT…….KEMENANGAN HAKIKI MENANTI ORANG2 YG BERIMAN…….

      Silahkan Renungkan ayat2 ini:

      ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabuut: 2-3)

      ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah 155)

      “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS. Al Baqarah: 214)

      ”Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, segala urusannya baik dan itu tidak terjadi kecuali orang beriman. Jika diuji kemudahan, dia bersyukur maka itu baik untuk orang beriman. Dan jika diuji kesusahan maka dia bersabar, dan itu baik untuk orang beriman” (HR Muslim)

      “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiyaa: 35).

      Wallahu a’lam

    • Lentera Hati says:

      Saya punya sahabat seorang Gay , dan dia bilang kalau dia ingin suatu hari nanti bisa berumah tangga.Tapi hingga saat ini tdk ada yg dia lakukan untuk mendekati seorang wanitapun. Kecuali setahun lalu, dia sepertinya menyayangi saya , tapi saya wanita menikah. Dan besar harapan saya Alloh akan mempertemykan dia dengan seorang wanita yang mencintainya seperti saya mencintai dia. Sungguh, Jika saja saya ini blm menikah, saya mau menikah dengan dia, walaupun saya tau dia seperti apa.

    • noname says:

      Untuk Awan
      amin brother…saya benar2 mengamini itu dalam hati saya

      Untuk mas Iwan
      terima kasih mas..kalo saya boleh tau, link journalnya apa ? saya juga ingin membacanya..
      dan saya membaca beberapa komen dr beberapa teman2 disini yang mungkin mengalami hal yang sama dengan saya yang cenderung tidak mau kalah dan kekeuh dengan pendapatnya..saya harap mas Iwan bisa mengerti mereka ya mas..mungkin terlihat mereka menyebalkan tapi sebenernya mereka mungkin benar-benar di limit mereka..mereka memiliki perjalanan hidup yang sulit dan mgkn beberapa dari mereka sudah tidak tahu lagi mana yang harus mereka lakukan dalam hidup selain mencoba menerima diri mereka sendiri..karena saya sendiri tau bagaimana rasanya berada di puncak kebingungan dengan hal yang berkaitan dengan orientasi seksual..saya bisa mengerti disini juga ada beberapa orang yang memiliki maksud baik untuk memberi jalan keluar dan bukan bermaksud menggurui…tp bagaimanapun juga dealing dengan hal ini bukan hal yang mudah dilakukan jika kita tidak mengalaminya sendiri..

      Terima kasih mas Zhoel untuk sarannya.Meskipun saya beragama lain ,tapi saya bisa memahami apa maksud yang dikatakan mas zhoel..sekarang ini saya sedang ada di dalam masa sulit saya..mohon doa nya supaya saya bisa lebih tegar dan bisa menemukan solusi dari apa yang sudah anda berikan pada saya..meskipun masih ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan… banyak teori-teori dan jalan keluar yang sudah saya coba baca dan lakukan..tapi kalo boleh jujur , masih tetap terasa sangat sulit sekali… saya mencoba gagal,jatuh bangun terus menerus dan kadang mental ini rasanya sudah sangat lelah sekali, kadang saya sudah merasa di batas saya.. orientasi seksual ini merupakan hal yang sangat rumit sekali,,tp meskipun dalam keadaan seperti ini..saya ingin tetap percaya dengan harapan saya nanti.. saya tidak tahu bagaimana caranya hal itu bisa terjadi,namun saya mau tetap percaya…terima kasih buat kebaikannya

      Untuk mbak ‘Lentera Hati ‘ , anda benar-benar berhati mulia… saya sangat tersentuh ketika anda bilang “Jika saja saya ini blm menikah, saya mau menikah dengan dia, walaupun saya tau dia seperti apa. ” , saya sebenarnya ingin tahu kenapa anda bisa mau menikah dengan dia meskipun keadaan dia seperti itu.. saya doakan anda punya kehidupan keluarga yang bahagia mbak..dan tolong jangan lupa untuk terus beri dorongan dan support dlm bentuk nyata dan doakan teman anda itu,karena saya yakin dia pasti juga selalu butuh support dari seorang sahabat yang berhati mulia seperti anda…

  36. PG Rising says:

    Sumber penelitiannya mentok di tahun 1999 ??

    2014? 2015 ada? Ilmu pengetahuan kan bergempang terus bukan.

    :3 LOL

    Duh ga sabar lihat Tuhan mengazab Belanda, saya tunggu dari 2001 kok belum kena azab juga ya? Malah yang kena kok negara negara yang “relijius” Wah wah wah. Kan gara gara Belanda semua ikut2an buat legalin mereka nikah. Nanti siapa yang beranak kalo manusia pada nikah gay semua?

    • Anda lihat gak kalo jurnal ini saya tulis di tahun 2013?
      Lihat komentar awal jurnal ini, dikomen tanggal berapa.
      Soal perkembangan penelitian terkini sudah saya bahas di dalam komentar2 di bawaaaah ini. Silakan menyelami dan temukan komentar saya soal itu.
      Insya Allah, nanti kalo sempat saya update perkembangan tsb dalam jurnal di atas.

      Soal azab. Nih.. PR buat Anda.. pelajari yang namanya ISTIDRAJ.

    • PG Rising says:

      Udah lah, udah keliatan kok Tuhan berpihak sama siapa :3
      Jangan kebakaran jenggot yang disana lagi berbahagia.
      #SalamPelangi #LAWL

    • Zhoel says:

      Ujang pernah ke sundut rokok……skr bayangkan anda dipanggang…..angus…….dihidupkan lagi….panggang lg…….so on……

      Itu lah balasan bg orang-orang yg menginjak akal nya atas petunjuk dengan nafsu bbrp menit

      Live just once…..NO Turning Back !!!!!!!!!!!

  37. lala says:

    Assalamualaikum ..

    Saya bkn mau memojokkan kaum LGBT, sy hanya ingin meluruskan.
    Saya pernah baca di salah satu website lupa dimana ada 3 orang laki2 pakistan gay . Mereka bingung dgn hasrat mereka tp satu hal yg mereka tau kalo mereka salah. Mereka tahu Tuhannya akan murka krn tau itu tdk di ajarkan dlm islam. Solusi nya adalah ketiga laki2 itu kemudian menikah dgn wanita dan memiliki anak layak pasangan normal dan cara mereka menekan nafsu gay nya adalah “mereka semakin taat beribadah, berzikir lbh byk, dan sll tkt kepada Tuhannya”. krn pd dasar nya jika seseorang memiliki agama yg kuat dia akan sadar bahwa pada dasar nya gay atau lesbi itu berdosa dan hukum nya berat di akherat nanti.

    Tdk ada yg mustahil di dunia ini jika berhubungan dgn Tuhan. Agama apapun tdk mendukung same-sex marriage. Setau saya umat kristiani jg demikian.

    Intinya jika seseorang memiliki keyakinan mereka bsa normal dgn cara menguatkan iman dan takwa.

    Kurang iman kurang ilmu hanya nafsu duniawi saja yg diikuti. Tp siapa yg tau setelah mati??

    Wassalam

    • dharian says:

      menikah dengan perempuan dan punya anak bukan indikasi dia menjadi normal. apakah anda tahu dia benar2 menjadi heteroseksual, atau hanya menahan hasrat homoseksualnya?
      yang tahu hanya yang mengalami.

    • Gerrard says:

      Begini mbak lala, kasus yang mbak lala baca kurang lebih sama seperti ini.
      Mbak lala terlahir heterosexual di amerika. Orang tua mbak lala mau mbak menikahi seorang wanita karena menjadi homosexual adalah suatu yang wajar (misalkan) dan itu adalah sebuah keharusan. Tentunya mbak lala tidak akan mau menikahi perempuan itu karena mbak lala heterosexual. Tapi akhirnya karena desakan oran tua mbak lala, mbak lala memutuskan untuk menikah dengan perempuan itu biarpun mbak lala seorang heterosexual.
      Tentu mbak lala bisa menikahi perempuan itu dan mempunyai anak (adopsi atau sperm bank), tapi apakah mbak lala berubah menjadi seorang homosexual? Tidak, karena jauh dalam hati anda, anda seorang heterosexual, cuma saja anda menekan keinginan heterosexual itu. Pertanyaannya, apakah mbak lala akan bahagia menjadi seorang yang bukan jati diri asli mbak lala?

    • Wa’alaikumsalam, wah… saya sependapat banget dg mbak Lala 🙂

      Saya juga mencoba memahami apa yg ada di hati dan di pikiran orang yg mempunyai disorientasi.

      Jika Anda (yg sudah berkomentar di sini atau silent reader) sudah memutuskan bahwa Anda memiliki kencederungan disorientasi maka terimalah itu sbg bentuk penyimpangan kodrat. Alangkah lebih baik jika kemudian Anda juga memutuskan untuk: bisa bersabar dan menahan diri untuk tidak berbuat perbuatan yg dilarang. Hal tersebut dilakukan demi kebaikan diri sendiri dan juga demi kedua orangtua.

      Jika merasa disorientasi adalah bawaan lahir, itu hak Anda berprasangka demikian. Namun yg perlu Anda renungkan, coba lihat deh disorientasi itu seperti kecintaan manusia terhadap harta. Ada orang yg terlahir sbg orang miskin, ia menganggapnya sbg takdir. Akan tetapi orang tsb mempunyai PILIHAN, dia mau mencari nafkah dgn cara yg haram atau bersabar mencari nafkah dgn cara yg halal. Jadi, anggap saja disorientasi itu sbg tantangan hidup yg harus ditaklukan sebagaimana kita menaklukan kemiskinan. Kalo Anda berhasil menaklukkannya, do’a dari saya… semoga Allah memberikan nilai plus buat Anda.

      Jika Anda sudah menyadari bahwa disorientasi bukan bawaan lahir, .. bagus! Maka segera carilah lingkungan yg kondusif untuk meningkatkan kualitas diri. Bertemanlah dgn semua orang dan bergaulah dgn orang2 yg dapat membantu ke arah yg lebih positif. Usahakan sebisa mungkin menghindari larut dalam komunitas yg menjerumuskan, yg menjauhkan dari pintu taubat.

  38. dharian says:

    iseng2 surfing eee malah nemu artikel ini. stlh saya baca, saya kagum plus heran dengan komentar pak iwan terhadap temen2 yg koment disini jg.
    pak iwan dgn entengnya bilang, “anggap saja ini ujian dr Tuhan” seaakan2 orientasi sexual kami kaum LGBT sbg sesuatu yg bs diselesaikan dgn cara2, rumus2, dll.
    kalo memang ini ujian, saya memilih tidak menyelesaikan, karena memang mustahil untuk deselesaikan. bukankah Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya?
    apabila ini ujian, mungkin pak iwan bisa bantu kami menyelesaikan ujian ini?
    berikut pertanyaan yg harus pak iwan bantu jawab untuk membantu kami menyelesaikan ujian ini apabila memang ujian/cobaan:

    bagaimanakah cara pak iwan untuk berhenti mencintai, menyayangi, bernafsu terhadap istrinya (apabila telah menikah) atau wanita lainya, dan berganti mencintai, menyayangi, dan bernafsu terhadap laki2 ?

    kurang lebih itu persoalan yg bapak anggap sbg ujian. apabila bapak tahu jawabanya, mohon bantu kami. dan tak lupa tolong beri kami contoh yang empiris. kami sangat mengharapkan bantuan bapak.

    Terimakasih sebelumnya pak iwan.
    salam dr Yogyakarta

    • apakah anda percaya dengan tuhan dan memiliki agama?
      apakah anda adalah orang yang taat?
      jika iya, saya yakin anda bisa menyembuhkan itu 🙂

    • dharian says:

      apabila percaya akan Tuhan, beragama, dan taat adalah jawabanya, knp saya tetap seperti ini?
      saya tak sedikitpun meragukan kebesaran Tuhan, Tuhan tidak akan menciptakan saya seperti ini tanpa alasan.
      apabila LGBT adalah jalan laknat bagi Tuhan, knp iya tidak mengabulkan doa kaum LGBT yang ingin menjadi heteroseksual yang diridhoi?
      yakinku akan kebesaran Tuhan sudah tak terbatas, menjadi LGBT adalah anugrah dari Tuhan. dengan menjadi LGBT saya jadi tahu perasaan2 kaum tertindas, termarginalkan, dan kaum yang terpinggirkan oleh kaum mayoritas.
      dengan ini saya juga jadi tahu betapa sombongnya manusia dan betapa egoisnya manusia ketika ia merasa punya kuasa dan punya pembenaran sendiri.
      tidak ada manusia yang bisa mengerti keinginan Tuhan yang sebenarnya. Manusia hanya bisa menerima segala pemberianya dengan iklas dan yakin atas segala pemberianya bukanlah sebuah kesiasiaan.

  39. Gerrard says:

    Kalaupun anda tidak menyetujui kami kaum LGBTQ jangan paksa kami mengikuti kemauan anda atau agama anda, karena kami bukan anda atau seorang muslim.
    Kalau saya sedang diet, lalu saya lihat anda makan dan saya tidak setuju, apakah menyuruh anda berhenti makan adalah perilaku yang tepat?
    Karena sekali lagi kami LGBTQ bukan penyakit yang disebabkan oleh aniaya seksual dari seorang homoseksual dll. Kami terlahir gay dan anda tidak bisa tertularkan homoseksualitas. Saya adalah buktinya.

  40. Gerrard says:

    Pak iwan, saya yakin jikalau ada obat untuk kami homosexual bisa menjadi normal, kami pasti akan pakai pak. Untuk apa kami memilih hidup untuk dihina, dibully dan ditekan? Apalagi kemungkinan bahwa kami pasti akan dikeluarkan dari keluarga jika mereka mengetahui kami normal.
    JANGAN pernah berkata kami tidak mencoba cukup kuat. Saya 18 TAHUN hidup saya mencoba untuk menjadi normal, tapi pada akhirnya saya merasa muak akan apa yang orang2 harapkan kepada kami. Apa bapak pernah menjadi seseorang yang bukan bapak untuk 18 tahun? Contoh, bapak pendiam dan pemalu, apa bapak bisa 18 tahun berubah menjadi seorang yang extrovert atau outgoing?
    Sekali lagi, LGBTQ bukan penyakit maka kami tidak bisa disembuhkan. Mereka yang mengaku sudah disembuhkan itu sebenarnya tidak sembuh sama sekali, tapi mereka bisa memilih untuk menikahi lawan jenis dan berpura2 bahagia dengan pernikahannya. Sama seperti jikalau anda dipaksa menikahi wanita yang bukan pilihan anda. Anda bisa mempunyai anak dan business bagus, tetapi anda tidak akan bahagia atas pilihan orang lain.

    • faisal says:

      Klo kamu fikir kamu bisa, maka kamu akan bisa, klo kamu fikir kamu ga bisa maka kamu ga kan bisa.
      Homosexual tidak hanya dilarang oleh satu agama, islam saja, tapi semua agama melarang. Temen saya awal kuliah, adalah seorang pendiam dan penyendiri, saat ketemu lagi bbrp tahun setelah lulus, sekarang menjadi seorang trainer. Cobalah ikut kegiatan positive, anda minta orang tidak berpandangan negative terhadap anda dan temen2 yg merasakan hal yang sama, tapi anda sendiri berfikir negatif terhadap diri anda dan tuhan dengan berfikir kegiatan positif atau ‘berusaha’ heterosexual sudah tidak mungkin bagi anda.
      Setiap episode dalam hidup adalah pilihan, yang sudah ditakdirkan cuma, kita terlahir sebagai male or female, org tua kita, kita tidak bisa milih, dan umur kita, tidak bisa dimajukan dan dimundurkan. Selain itu semuanya pilihan, kita pilih sukses apa biasa2 ajja, pilih baik atau buruk, dan setiap pilihan akan ada konsekwensinya. Maaf klo ada kata2 yang kurang berkenan

    • Gerrard says:

      Begini faisal, ada beberapa hal yang memang ditakdirkan seperti itu. Saya terlahir gay dan tidak akan bisa berubah biarpun saya berusaha keras. Kalau perkataan anda “kalau kamu fikir kamu bisa, pasti kamu bisa” benar2 berlaku di dunia, lalu mengapa masih ada orang2 yang miskin? Bukankah semua orang ingin kaya? Nah, seperti itulah, memang beberapa orang ditakdirkan menjadi homoseksual sama seperti beberapa orang ditakdirkan hidup miskin biarpun mereka sudah berusaha sekuat tenaga. Tolong scroll ke atas/bawah dan lihat kisah hidup saya selama 18 tahun mencoba berubah menjadi normal. 18 tahun bukan waktu yang sebentar loh.

    • Qd says:

      Itu ujiannya, don’t you see..

      Tinggal mw dengerin APA Kata Tuhan mu ato tidak.. ITU aja. Atau mw membenarkan diri sendiri..ato perbaiki diri..bukan krn manusia tp krn Tuhan mu blg bgitu, ITU saja.. simple.

      Gw juga Dr kecil lebh suka Liat Perempuan tlnjang drpd Laki2, dan sudh tw masturbasi jauh seblm Gw tw kosa Kata masturbasi, Bnyk plampiasan yg dilakukan, tp wktu ITU Gw suka bgt ngmbr jdi dikit Bnyk mnglihkn perhatian.
      Yg Saya Liht perbedaanny tipis sih, Dr perbuatan.. semkin dilakukn smkn terbiasa..

      Ga da yg blh merendhkn org lain, bgtu juga g da yg bisa mbnrkn diri sendri. Krn pasti bias tolak ukurnya.
      Ntahlh memang cmn tuhan yg blg boleh ato g, slh ato g, dan sdh jlas apa yg Dia blg.
      Slbihny lu berusaha ato mnyerah.

      Sungguh nunggu Tuhan yg negur?

  41. Gerrard says:

    Saya tidak memaksa anda untuk mengerti keadaan kami kaum LGBTQ karena hal itu sangat mustahil jika tidak anda alami sendiri. Yang kami minta hanyalah anda untuk menerima kami seperti manusia biasa, karena kami MEMANG manusia biasa.
    Dari awala pikiran anda sudah anti-gay sehingga anda hanya memutuskan untuk percaya hal2 yang sesuai anda pikirkan, sama seperti kami kaum LGBTQ. Tapi perbedaannya adalah kami kaum LGBTQ merasakan ini sendiri dan kami tahu kami ditakdirkan seperti ini. Anda mensteretype kami hanya melalui hal2 tidak benar yang sudah terdoktrin di pikiran anda sejak kecil bahwa gay tidak benar dan salah. Jikalau mau diumpamakan sama seperti seorang anak yang tidak tahu sama sekali tentang Islam dan hal2 yang diketahui olehnya hanyalah tentang Al Qaeda atau ISIS yang memakai Al quran untuk alasan membenci dan membunuh, sehingga ketika ia melihat seorang islam dia akan mencapnya sebagai terrorist. Tapi anda yang seorang muslim tau bahwa islam itu lebih dalam dari apa yang dia tahu kan? Dan tentunya anda lebih tahu banyak dari seorang yang membenci islam itu. Nah seperti itulah debat kita sekarang, saya seorang muslim yang dikritik oleh seorang yang terdoktrin dan hanya mengerti muslim dari hal2 buruk yang dia lihat. Jangan bilang saya salah, karena saya salah jika dilihat dari perspektif anda dan anda salah jika orang2 lihat dari perspektif saya. Kita semua masih belum tahu apakah Gay itu benar/salah. Tapi saya sebagai seorang gay tahu bahwa saya ditakdirkan terlahir seperti ini oleh tuhan. Dan jika dia membuat saya seperti ini apakah dia akan menghukum saya karena menjadi seperti apa yang dia harapkan?
    Kami semua tidak sama seperti yang anda pikirkan. Percayalah kepada saya, anda secara tidak sadar SUDAH pernah berinteraksi dengan seseorang yang masih di dalam kloset (Homosexual yang belum berani mengaku dirinya homosexual) dan mungkin mereka adalah salah satu dari orang dekat anda. Dan andaikan jikalau suatu saat mereka mengaku kepada anda bahwa mereka homosexual apakah itu akan mengubah hubungan yang anda sudah jalin lama? Yang anda butuhkan hanyalah memberi kasih sayang kepada mereka, karena kalaupun mereka salah, tuhan pasti akan menghukum kami nanti di akhirat.
    Sekarang untuk masalah pedofilia atau anak2 bereksperimen seks. Itu tidak hanya terjadi di kaum LGBTQ. Jangan lupa bahwa ada banyak sekali heterosexual yang mengidap pedofilia dan melecehkan anak2 dan banyak juga anak2 heterosexual yang penasaran akan sex dan melakukannya dengan lawan jenis di umur yang sangat masih muda. Apakah anda tidak pernah berkumpul bersama teman2 anda saat masih sd dan melihat film biru? Hal itu semua natural karena anak masih bersifat ingin tahu dan bereksperimen, perbedaannya adalah di Indonesia masalah edukasi saja masih belum rata, apalagi masalah edukasi seksual? Mungkin di sebagian sekolah, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak menerima? Dan tentunya anak homosexual akan lebih memilih bereksperimen kepada sesama jenis sama seperti anak heterosexual memilih bereksperimen dengan lawan jenis. Saya tidak membenarkan mereka untuk bereksperimen, tapi saya hany ingin memberi perspektif bahwa semua anak kecil gay/heteroseksual itu penasaran akan yang namanya sex.
    Semua orang tidak terkecuali ras, gender, orientasi seksual dll pasti mempunyai orang2 yang berlaku jahat dan berlaku buruk. Yang membedakan hanyalah kami kaum LGBTQ di diskriminasi dari kecil dan di bully seumur hidup kami. Apa anda pernah ditekan dan dibully biarpun hanya sebulan atau setahun? Nah sekarang bayangkan anda dibully seumur hidup anda, semua orang baik gay ataupun heterosexual pasti akan hancur moralnya dan mungkin berubah menjadi abusif.
    Sekali lagi, yang kami minta bukanlah dukungan. Kami hanya minta anda menerima kami apa adanya. Karena kami juga hanya manusia, dan tentunya agama anda tidak diajarkan untuk menghina atau mendiskriminasi mereka yang (mungkin) berbuat dosa kan? Karena di alkitab kami diajari untuk menyayangi musuh kami, bahkan Tuhan yesus yang sempurna saja masih mengasihi mereka yang berpenyakit kusta, pelacur, dan orang berdosa lainnya. Apa yang membuat kalian sangat membenci kami?

    • apakah anda percaya dengan tuhan dan memiliki agama?
      apakah anda adalah orang yang taat?
      jika iya, saya yakin anda bisa menyembuhkan itu 🙂

    • Gerrard says:

      Untuk mvak rainyblue, pertama-tama seperti yang saya sebutkan diatas. Saya 18 tahun hidup mencoba menjadi seorang heterosexual. 18 TAHUN. Jangan bilang saya kurang berusaha keras atau apapun, saya 18 tahun mencoba untuk berperilaku seperti layaknya pria2 heterosexual karena jika tidak saya akan dibully, didiskriminasi, atau tidak akan dianggap oleh keluarga saya (mungkin diusir dari rumah). Bayangkan anda seorang 12 tahun dan mengalami tekanan seperti itu, Pastinya anda tidak akan berusaha setengah2. Kalau anda ingin lihat perspektif saya, kurang lebih contohnya seperti ini : orang tua anda mau anda lulus UN karena kalau tidak sesuai yang mereka harapkan anda akan diusir, dibully, dan tidak dibiayai seumur hidup anda. Apa anda akan malas2 belajar? Mengetahui hal2 apa saja yang akan terjadi kalau anda tidak sesuai apa yang diharapkan? Sekarang ganti UN menjadi Keheterosexualitasan dan belajar menjadi usaha saya untuk menjadi heterosexual. Kurang lebih seperti itulah 18 tahun hidup saya di indonesia.
      Kedua, ya saya seorang Kristen. Dibesarkan di keluarga yang sangat religius. Ibu saya AD, ayah saya polisi dan juga PASTUR. Setiap minggu kami selalu pergi bersama ke gereja, jadi ya bisa dibilang saya seorang yang religius. Saya percaya akan Tuhan dan saya suka isi alkitab karena mereka berisi pedoman2 yang baik untuk hidup saya ke depannya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik. Tapi tentunya, saya tidak out ke keluarga saya, karena saya tau benar apa yang akan terjadi kalau saya mengaku gay. Sekarang posisikan diri anda ke saya, apa sebegitu durhaka saya kepada orang tua sehingga rela mengorbankan mereka semua karena PILIHAN saya menjadi seorang homoseksual? Homoseksual tidak ditularkan, atau pilihan. Kami terlahir seperti ini, sama seperti kalian terlahir heterosexual. Jangan bilang saya hanya belum menemukan wanita yang tepat karena saya juga bisa berkata bahwa anda homosexual, hanya saja belum menemukan pasangan sejenis yang tepat.
      Ketiga, tidak ada yang namanya kesembuhan dalam homosexual. Karena itu bukan penyakit. Saya melihat wanita sama seperti anda melihat wanita (jika anda wanita) dan saya melihat pria seperti anda melihat pria. Kami tidak bisa berubah menjadi heterosexual sama seperti kalian tidak akan bisa berubah menjadi homosexual. Orientasi seksual sama seperti etnis, anda yang terlahir asia tidak akan bisa berubah menjadi negro atau kaukasia. Silahkan anda coba sekali saja kalau kalian bisa ejakulasi pada gambar orang telanjang yang sejenis dengan gender kalian? Tentunya kalian akan merasa jijik dan tidak bergairah bukan? Kami juga sama seperti anda. Kami merasa jijik dengan vagina sama seperti kalian jijik melihat penis(atau mungkin vagina) orang lain.
      Keempat, saya disini bukti hidup dan nyata. Saya tidak merekayasa sama sekali apapun tentang hidup saya. Saya homosexual dari lahir dan tentunya tahu lebih banyak tentang homosexualitas daripada anda yang terlahir heterosexual dan hanya mengetahui homosexualitas dari agama kalian serta berita2 buruk yang dilakukan para homoseksual. Jadi 100% yang saya katakan itu benar2 dirasakan oleh seluruh kaum LGBTQ. Anda juga tentunya bisa memilih untuk percaya tentang riset2 yang dilakukan oleh pastur2 atau aktivis heteroseksual anti gay. Tapi logikanya, jika anda terkena penyakit kanker (misalkan) apa anda akan lebih memilih untuk memercayai dokter yang sudah belajar kedokteran untuk 12 tahun atau seorang yang pengetahuan medisnya hanya berdasarkan artikel2 random dari internet untuk menyembuhkan kanker anda? Anda bisa silahkan memilih yang mana yang dipercayai.
      Terakhir, anda sudah lihat dari buktinya bahwa saya, tidak bisa berubah normal, anda tidak bisa berubah homosexual, saya terlahirkan gay, dan lain2 yang tidak sesuai dengan artikel diatas. Kalian mendengar langsung dari seorang gay, sekarang apa kalian masih mau menghina2 atau mendeskriminasi kami? Karena kalaupun pada akhirnya kami salah, kami akan dihukum oleh-Nya nanti. Tapi jikalau kami benar, kalian baru saja menghancurkan hidup saya (dan juga hidup 2 billiar orang lainnya). Jadi sekali lagi, kami tidak butuh dukungan kalian atau apapun. Kami hanya mau anda untuk tidak menghina atau mendiskriminasi kami hanya karena kami minoritas.

    • Mama2kids says:

      Gerrard, coba cek link di bawah ini. It’s not your fault that you are gay. Orang harus mengalami di sundut api baru tau rasanya panas api.
      Jika pada suatu hari ada yg terbangun dari tidur dan mimpi indah, didatangi anaknya, dan mengatakan kalau dia gay, kasian aja saya sama anak mereka, harus mengalami ‘terapi’ yg berkepanjangan. Mungkin sembuh, saat itu. Kalo di buku dikatakan HFN (Happy For Now), bukan HEA (Happily Ever After). Dan terapi untuk kepentingan siapa? Keluarga, si gay sendiri, atau demi harga diri sosial? All I can say is…F*** society!

      http://www.webmd.com/sex-relationships/guide/sexual-orientation

  42. genthuk says:

    Membaca komentar yang pakai bahasa Inggris jadi teringat kisah Isra’ Mi’raj. Jaman dulu orang tidak pernah terpikir bagaimana mungkin Mekkah – Palestina PP satu malam. Tapi sekarang hal seperti itu sangat mungkin.

    Bagaimana kejadian dua laut yang bertemu tapi tidak bersatu sudah dijelaskan dalam Qur’an. Meski Rasulullah sendiri bukan pelaut atau ahli kelautan.

    Kejadian terbentuknya janin juga ada dalam Qur’an meski jaman itu tidak ada dokter atau bidan.

    Maka bisa jadi sebagaimana Rasulullah dulu dibilang sebagai orang gila saat cerita Isra’ Mi’raj. Kita yang percaya Qur’an ini juga bisa dibilang sebagai orang gila, goblok, dan terbelakang.

    Kita bukan orang yang pintar dan tahu segala-galanya dan segala apa yang diperintahkan Allah harus diketahui penyebabnya.

    Bukan Qur’an yang salah, tapi otak manusianya yang belum sampai logikanya. Hanya mereka yang bersedia tunduk kepada aturan Allah yang bisa menerima apa yang Allah berikan. Tanpa tedeng aling-aling.

    Entahlah, saya begini mungkin juga dianggap sebagai orang yang terbelakang karena mengambil dasar yang turun 1400 tahun yang lalu. Bukan penelitian ilmiah lagi. Hanya wahyu yang disampaikan oleh seorang yang kita yakini sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

    • Jaya N says:

      I don’t say that you “gila goblok terbelakang”
      you have different perspective than me, i respect that, i don’t say that people who say being gay is wrong, is wrong.I never say your religion is wrong too. i just don’t believe it yet because lack of evidence. (This too, i never ask religious people to disbelieve anything that unproven by science. it just for what i personally believe). As long as they don’t proudly saying that science (which is misinterpreted) is prove my argument is right, i will not debate what you believe.

      In opposite, you say to someone like me as kafir, as people that closed their heart, as person that someday will burn in hell.
      Gila is kinda nice to heard than “laknatullah, mati dibakar lu di neraka jahanam” isn’t it? (Eventhough i repeat, i respect your point of view, im not judging you gila) . Yet Religious people still feel as a victim of skepticism.

    • novia says:

      Jaya.. u look like my friend.. n i still try to understand him.. bcoz i love him, eventough he’s not..

  43. Gerrard says:

    Saya gay dan tidak pernah di lecehkan secara sexual atau apapun, dan saya masih perjaka sampai umur saya yang ke 18 tahun. Dan saya lakukan itu dengan pria, karena saya sudah terlahir gay, saya sudah tau saya gay dari awal masuk SMP. Dan tentunya tidak ada yang menularkan homoseksual kepada saya sama seperti tidak adanya heterosexual yang menularkan keheterosexualannya ke saya. Karena saya gay.

    • Fitrahnya manusia adalah berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan), agar bisa meneruskan keturunannya di muka bumi ini. Meneruskan peradaban yang baik.

      Allah telah merencanakan semua makhluk-Nya bisa berakhir bahagia, sebagaimana firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 185]”

      Semoga informasi ini bisa membantu Pak Gerrard kembali kepada fitrahnya. Anggap saja itu ujian. Dan Allah suka kepada hamba-Nya yang mendatangi-Nya meski dg tertatih-tatih.

      Silakan konsultasi ke:

      Fasilitator / konselor penyembuh LGBT / Same Sex Attraction

      https://sinyoegie.wordpress.com/peduli_sahabat_konsultasi_seputar_lgbt/

      https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

      Selamat ber-ikhtiar.

  44. R.Benjamin says:

    Hi…

    Saya seorang muslim dan saya juga seorang gay. Saya tahu apa yang ada didalam Al-Quran. Saya tau Allah SWT membenci kaum penyuka sesama jenis. Saya tahu dari sisi kebudayaan pun hal ini salah.

    Hal yang saya tidak tahu adalah kenapa saya bisa menjadi seorang gay. Takdir kah? Cobaan kah? Bawaan kah? Kenapa harus saya?

    Perlu anda tau, saya tidak pernah menjadi korban sodomi. Saya tidak pernah menjadi korban pelecehan seksual. Saya tidak pernah memiliki teman yang menyukai sesama jenis. Sehingga saya merasa tidak ada satupun yang menularkan apa yang kalian sebut “penyimpangan” itu kepada saya.

    Bagi kalian yang tidak pernah menjadi saya. Tolong jangan bertindak seperti sedang melawan penyakit mematikan. Karena saya juga tidak pernah berfikir untuk menularkan apa yang saya idap ini keorang lain.

    Hal yang saya rasa, kalian tidak membantu kami (kaum LGBT) untuk bisa “sembuh” dengan cara kalian. Hal yang saya tangkap dari aksi kalian yang mengatasnamakan AGAMA, hanya menunjukan betapa suci dan pantasnya anda masuk surga. Menujukan kalian yang terbaik. Sebagaimana saya melihat para fanatik agama lainnya bertindak.

    I’m just saying what I feel… I hope no one get hurt by this. Thank you

    • Semoga informasi ini bisa membantu Pak Benjamin kembali kepada fitrahnya. Anggap saja itu ujian. Dan Allah suka kepada hamba-Nya yang mendatangi-Nya meski dg tertatih-tatih.

      Silakan konsultasi ke:

      Fasilitator / konselor penyembuh LGBT / Same Sex Attraction

      https://sinyoegie.wordpress.com/peduli_sahabat_konsultasi_seputar_lgbt/

      https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014

      Selamat ber-ikhtiar.

    • Jaya N says:

      According to science, gay is multifactorial, genes is one of them. That’is just variant trait, but not always turn to be gay, there’s other factors too.

      But according to the writer it is mental illnes, which is contagious, so you get it from other person. that you have to supress it and be rehabilitated. But if you said it is not because environment, then i can’t answer where is it comes from. Because the writer rejected genes or inborn factors. Whats left is god give you that properties. (?)

      Feel free to choose what you believe.

  45. ayesha says:

    Sebenernya sih kalo mereka tau akan kebenaran al-al-quran beserta isinya dan tentu saja percaya akan adanya Allah swt, masalah ini tidak perlu diperdebatkan wong sudah ada bukti di al-quran. Menuhankan science tidak akan ada habisnya , science itu dapat berubah rubah karna dibuat oleh manusia itu sendiri. Ketika scientist a telah meninggal tumbuhlah scientist b yang membuat spekulasi tentang ilmu baru. Namun bila kamu percaya akan adanya Tuhan sampai kapanpun dan sampai berapa generasi baru yang akan datang , kebenaran akan al-quran tidak akan pernah berubah. Karna apa ? Karna Tuhan lah pemilik alam semesta ini.

    • Naah.. setuju.

      Yang hadir di sini yang menuhankan science mesti baca komentarnya mbak Ayesha ini. Kalau manusia jeli dan berakal sehat, bisa melihat dan merasakan tanda – tanda kebenaran ketetapan Allah yg sudah ditunjukkan lewat fenomena alam.
      Contoh sederhananya… pasangan homoseksual gak akan bisa melahirkan keturunan / penerus generasi. Garis keturunannya putus.

      Permasalahan lain juga muncul setelah dilegalkan perkawinan sesama jenis. Contohnya bisa disimak dalam artikel ini:
      A Warning from Canada: Same-Sex Marriage Erodes Fundamental Rights
      by Dawn Stefanowicz
      http://www.thepublicdiscourse.com/2015/04/14899/

    • Jaya N says:

      So please don’t bring bad science to this article 🙂 . Just try to convince people by other way. According to this statement, science only true if it acts accordingly with Quran. So why using science in the first place?

      To convince people who believe in science ? And you give em bad scientific data ? That really is a lie.

      you show them scientific data that proof quran was rights, then the science changes, and disprove that quran is rights. You will still believe in quran right ? There’s nothing that can changes what you believe. So why you need to showing scientific proof in the first place ?

      I don’t mind changes what i believe, if I served with proper evidence. It is fine by me to change my believe i don’t need static dogma. I dont embarassed if one day there’s evidence that show you is the rigjt one, and i will change my mind.

      But you, even if someday there’s enough evidence that let-just-say christianity is the right one. You still can’t accept that right?
      Your point of view is fixed. And when your point of view is fixed doesnt mean your point of view is always rights to all people. fixed point of view doesnt mean the most right point of view. It fixed because you freaken FIXED it.

      I’d love to see things change according to evidence, and that is fine by me 🙂

      So im not asking you to leave your religion, im asking you if you dont believe in science, don’t use this kind of bad biased science in this article 🙂

    • Allah SWT telah berfirman: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS An-Nahl: 125]
      Itulah perintah Allah kepada hamba-Nya yg beriman untuk menyampaikan dakwah.
      Namun ketika dakwah itu sulit bisa masuk di hati mereka yg pada dasarnya menolak dalil-dalil agama, lantas bagaimana cara menyampaikan hikmah dan pengajaran? Jawabannya .. bisa diupayakan dengan pendekatan menguji teori-teori apa yg mereka yakini.

      Semua yang saya tulis di atas bukan didasarkan pendapat saya pribadi (karena saya bukan peneliti gen gay), tapi berasal dari jurnal atau publikasi-publikasi penelitian yang link-nya saya sertakan dalam tulisan ini. Siapa saja bebas membantah, mendebatnya, apalagi menganggapnya sbg bad science, ilmu cocoklogi, dll, … dengan catatan ia mampu menunjukkan kesalahan-kesalahan para peneliti yang saya jadikan referensi. Bukan dengan menunjukkan penelitian terbaru yang nyatanya masih parsial, belum final.

    • Jaya N says:

      Lying sure is not “jalan yang baik” . I said it what is wrong from the writing. The wrong is, your interpretation about science facts :). Which interpretations is wrong? I already write it in the comment that you’ve lost interest in continuing the conversation.

  46. wise_n says:

    cinta & nafsu dicampur aduk trus dikaburkan mana nafsu mana cinta….
    naudzubillah……..
    saya hanya menonton sambil melongo……. krn saya bukan org yg pintar berdebat……
    mari kita berpikir saudara2 ku….. kita mahluk yg mulia, …….. hewan aja yg tdk berakal tahu apa yg harus dilakukan…….. berpikirlah…….. tanyakan pd diri sendiri……. apa yg qt rasakan???? cinta ato nafsu…… semoga Allah SWT memberikan hidaya kpd qt smua…. amin…….

  47. Lucky says:

    Lucu org sok bule yg di komentar terakhirnya bilang bahwa perempuan yg diperkosa jd lesbi. Dgn bilang begitu berarti dia mengakui bahwa secara perilaku dgn berbagai mekanisme mental seperti proyeksi dsb homoseksual ini “menular” dlm arti dpt mempengaruhi org lain lewat berbagai mekanisme mental tadi. Pelaku perkosaan d jis pun terungkap adalah korban sodomi bbrp tahun yg lalu, begitu pun penyodomi d sukabumi tukang makanan keliling pun korban sodomi.

    Salut dgn pak iwan yulianto yg sanggup menanggapi dgn baik dn terukur. Hanya mngkn istilah menular ini yg jd didebatkan. For them contagious has to do with disease with certain cause like bacteria. Stop this nonsense, please understand contagious here means can affect u to behave like them. Many cases support this. The links had been provided by mr iwan. Enak jg sok inggris2an hehehe

    Poin yg penting sekali dr pak iwan adalah, sikapi ini sbg penyimpangan, jgn musuhi orgnya, bantu mereka dgn konsultasi di link2 yg disebutkan d atas, peer group treatment, penutupan akses terhadap lingkungan menyimpang dn terus berusaha, berdoa dn tawakal kpd Tuhan YME. Jgn biarkan mrk terjebak argumen2 pembenaran yg semakin membenamkan para pelaku dlm kebiasaan yg salah itu.

    Jgn biasakan menyalahkan Tuhan, krn godaan dn bgmn menghadapinya adalah kekuatan keimanan diri kt sendiri. Lgbt g berbeda jauh dgn godaan utk mencuri, mabuk, berjudi, zinah, dn (mngkn) merokok. Apakah dgn alasan susah meninggalkan hal2 di atas maka zinah membunuh merampok akan dilegalkan jg? Fight it man. Kt ada tuntunan moral berupa agama kan?

    • Jaya N says:

      I’m not some kind of gays apologetic. Study of brain imaging shows there’s anatomical defference in straight man and gays man. Which gay men have more similarity to straight women than straight men. So what i’m trying to say gays people doesn’t choose to be gay, multi factors can cause him to be gay. The genes, and hormonal factors during pregnancy, can caused man tend to be gay but not absolutely will become gay. Human brain is still developing even after born. this development affected by the environtment which is called brain plasticity. The environmental factor such as trauma (because of rape or ‘sodomi’ or even child abuse by their parents,). The environmental factors must be hughe enough to make the difference. Seeing gay people, or simpy just be friend with gay people hardly makes any change to sexual orientations.
      So yes. Child trauma could change their sexual orientations. Any kind of trauma, child abuse by their parents, sodomi, rapes, or else. But it doesn’t necessarily turn him into gay, they could become just more introvert than before. So gay still not communicable (menular) because even straight man could also turn people become gay,

      Multifactorial means there’s a lot of thing that caused people to have such physical/mental properties. But communicable means, gay people will makes other people gay too. No. Gay people don’t makes other people gay. Trauma because of abusive acts could made the difference, but not necessarily the outcome is gay.

      Considering this facts, it will be better if we fighting child abuse, regardless it is from gay or not from straight person.

      Im not standing in facts that being gay is right/wrong, i believe everyone is free to set their own standard moral and view. You pro about gay marriage fine, you don’t agree with it, it is fine too for me.

      My objections is using inproper scientific data, from inproper site, and jumping into conclusions, that gay is communicable.
      When you support your agument based on religion, fine, go ahead, i have no objections about it. But when you say you using scientific evidence, but what you shows is old research, and biased information from apologetic site biblebelievers, trueorigin. I have hughe objections about it.

      What makes world worst is people who don’t understand the facts properly so sure about themself. They don’t understand properly about some topics, but so sure if that topics means what they think it means. The comfirmations bias (they will understand new facts as belive they previously have) is strong in this one. This kind of bias thought will reject any other facts that against their previous belive.

      I have not enough understanding about islam, so i will not judge it, talk about it or make my own interpretations about it. And i hope you will not using scientific evidence unless you understand it.
      How to understand? When you trying to learn science. Left behind any thought that biased you, the moral standard, and religious teachings, and learn it from unbiased site. After you understand it enough, you can go back to religious teachings, moral value, etc. If the facts that you learn is same with your religious teaching, then no problem. But if it different you can always choose what you want to believe, the science facts, or your religions. But not bending one another to make them looks the same.

      If you can’t do that, if you can’t leave a moment what you already believe, to absorbed unbiased facts, then just keep your religious discussion in religious field, don’t try to including biased science facts. that makes you a liar.

  48. beagoodperson says:

    Hal yang harus diperkuat adalah keimanan karena logika/akal tanpa iman, maka akan menjadi liar dan diracuni oleh setan..

    Jika berpatokan segala sesuatu harus terbukti secara science SAAT ini, berarti manusia dengan science-nya merasa lebih tau dan lebih benar daripada Tuhan.

    Yang merasa bahwa pembuktian science jauh lebih penting daripada firman Tuhan, maka sebenarnya hati mereka telah dibutakan oleh nafsu syaitan belaka dan telah terbukti banyak yang berpikir tanpa pembuktian science, maka firman Tuhan itu salah…sungguh yang berperan adalah kualitas hati yang ditentukan oleh keimanan seseorang..

    Mas Iwan di sini memaparkan banyak bukti secara science hanya untuk membuka mata, bahwa homoseksual adalah suatu yang harus diperbaiki dan menguatkan firman Allah bahwa hal tersebut dilarang dan memberikan himbauan agar mempertebal keimanan dan melakukan perubahan agar bisa kembali menjadi heteroseksual..

    Untuk yang berarguman artikel pendukung science tersebut kadaluarsa dan tidak bisa mendukung homoseksual tidak bersifat genetik, siapa yang bisa menjamin di masa depan science akan membuktikan sebaliknya? Padahal dalam Al Qur’an yang penciptanya adalah Tuhan, sudah jelas hal tersebut salah? Akhirnya banyak yang sudah terjerumus dalam nafsu akibat kebutaan untuk mempercayai hasil pemikiran manusia yang penuh dengan keterbatasan dibanding penciptanya atas nama science.

    Jangan berkedok dengan ketiadaan hidayah…karena hidayah itu tidak hanya ujug-jjug jatuh dari langit..tapi juga wajib dicari sepanjang hidup…

    Bagi yang merasa lebih powerfull dan lebih pintar dari Allah, silakan untuk mempercayai science sebagai pembenaran pilihan atas napsu anda…karena sebenarnya pertanyaan mendasar adalah untuk apa anda menjadi manusia?

    Dan sesungguhnya kaum homoseksual atau orientasi seksual lainnya, akan tetap ada, sekeras apa pun kita mencegahnya…memang tugas kita untuk mencegahnya “menular” dan meminimalisir jumlahnya…namun keberadaan mereka justru membuktikan kebenaran Al Qur’an yang mengatakan bahwa mereka ada di muka bumi..Allah tidak pernah salah..

    Jadi tugas terberat kita adalah terus meningkatkan keimanan kita, keluarga kita, teman2 kita dan sekuat mungkin dalam komunitas sebagai pencegahan homoseksual agar senantiasa takut akan adzab Allah, mencintai Allah seutuhnya dengan tingkat kepatuhan yang tinggi dan penuh kesabaran..

    • Terimakasih, beagoodperson

      Keilmiahan itu sarat dgn muatan politis. Dan kebenaran keilmiahan pun debatable krn keilmiahan terus berkembang. Contoh Netwon yg bertahun tahun hukumnya dianggap eh taunya ga sepenuhnya benar. Hukum Newton diperbaiki oleh Einstein dengan teori relativitasnya.

      Berbeda dg Hukum Allah yg berlaku sepanjang zaman sejak diturunkannya lewat utusan-Nya yg terakhir, Rasulullah SAW.

      Mereka yg bilang ada riset terakhir, belum tahu kalo tim perisetnya justru meragukan kebenarannya, hanya berlandaskan kata “may / mungkin”, dan menganggap bukan suatu faktor yg dominan.
      Lihat 4 paragraf terakhir:
      http://www.ibtimes.com/does-gay-gene-exist-new-study-says-xq28-may-influence-male-sexual-orientation-1555564

      Jurnal ini saya susun krn prihatin dgn gencarnya penyesatan opini yg makin menjerumuskan perilaku mereka, menjauhi pintu-pintu taubat. Menjadikan bendera2 pelangi berkibar di tanah para syuhada.

      Ketika para pendukung homoseksualitas yang anti agama tsb tidak bisa disadarkan dg pendekatan dalil-dalil agama, maka bisa diupayakan dengan menguji teori-teori yang mendukung perilaku menyimpang mereka.

    • Jaya N says:

      People like you is the one that makes science lost its purity, as you said “syarat muatan politis” You bend science facts for your convinient.

      And that is what i love about science, They admitted when they are wrong, religions is never admitted they are wrong, bible, torakh, quran, all said thay’re true, the ark story, the 6day creations, the flying to moon, kinda absurd, yet you still can’t give it some critics. The exclusiveness an untouchable of religions teaching is what makes science theory different from religions. Religions is faith based, and science is evidence based.

      When it comes to moral, i admitted religions give you many great teachings, but when it comes to evidence, and facts, religions is poor, untested, uncalibrated tools to observe and understand the universe.

    • “…, but when it comes to evidence, and facts, religions is poor, untested, uncalibrated tools to observe and understand the universe.”

      Jangan meng-generalisir, seakan-akan itu berlaku untuk semua agama. Silakan skeptis. Itu hak Anda. Namun, saya katakan: Islam sudah mempunyai ketetapan yg pasti. Hukumnya jelas. Dan memuat petunjuk bagaimana harus bersikap.
      Begitu banyak peneliti yg akhirnya mengakui kebenaran yg disampaikan dalam Al-Qur’an. Insya Allah, saya akan siapkan halamannya di blog ini agar bermanfaat bagi orang-orang spt Anda, sebagian sudah, silakan kalo Anda mau menjelajahi.
      Jangan jadi mabok oleh jurnal2 skeptis yg isinya memelintir kebenaran yg disampaikan dalam Al-Qur’an.

    • Jaya N says:

      Thanks, i’d love to. But please use proper citation for the next time. 🙂
      But as a disclaimer, there’s so many facts in quran that is true, if i served with proper evidence i will believe about that facts in particular not in the truth of quran in general, because as you say it don’t generalized anything, right? :).

      What im saying is not that religion facts is wrong. What i mean is religions don’t give you space to questioning any facts in it. Is there any religions that encourage thair follower to questioning the teaching? No, you just have to have faith in it. So you can’t tested it, you can’t calibrate it. That’s what i mean.

      In science people encouraged to prove or disprove the theory. they can challenge any theory that have been established. Thats what i mean withvtested and calibrated.

      I don’t know if world is made in 6 days, i don’t know if people can just flying to the moon. There’s individuals that created by ribs, of other individuals, maybe it is true, or maybe it is not. But as a religious person you already have to believe in it, without asking, without questioning. without any proof. That is what i mean by poor, untested, and uncalibrated method.

    • saya menunggu selanjutnya, kapan dilegalkan dendrofilia, beastility, dan necrophilia, karena itu adalah hak, tidak menggangu orang lain…

    • Wah.. mengerikan itu kalo hanya “hak dan tidak mengganggu orang lain” bisa dijadikan alasan pelegalan.
      Nanti dalam perkembangan peradaban manusia di muka bumi ini …. juga hanya dengan alasan “menyelematkan bumi”, sekte ini menuntut dilegalkannya praktek bunuh diri, aborsi, kanibalisme, dan sodomi | 4 pilarnya sekte Church of Euthanasia http://www.churchofeuthanasia.org/

  49. Daziy says:

    Bismillah..

    Alhamdulillaah dapat wawasan baru.. Tapi terlepas dari benar tidaknya penyebab homosexualitas, bagaimana solusi terbaik untuk mereka yang mengidentifikasi diri sebagai LGBT? Apa di paksa terapi? Bagaimana dengan resiko apabila tidak berhasil, seperti kasus Leelah Alcorn beberapa bulan yg lalu? Mohon pendapatnya..

  50. Duma says:

    Bagaimana dg banci mas ? Saya pernah baca artikel yg menjelaskan kalau banci itu krn pengaruh gen tapi kalau gay itu bukan, bener ga mas iwan ? yang saya lihat kebanyakan banci2 itu juga menyukai sesama jenis…

  51. Gita says:

    Mas iwan dari abstrak jurnal ilmiah PubMed yg Alan Sanders tulis resultnya begini :

    Results, especially in the context of past studies, support the existence of genes on pericentromeric chromosome 8 and chromosome Xq28 influencing development of male sexual orientation.

    • Betul, mbak Gita, riset terakhir (2014) memang demikian spt yg tertuang dl PubMed. Tapi Bailey, kolega Alan Sanders (yg satu tim penelitian) berpendapat bahwa …

      “It is not completely determinative; there are certainly other environmental factors involved,” Bailey said.

      Bailey’s colleague, Alan Sanders, says the findings should not be used to test for sexual orientation.

      “When people say there’s a gay gene, it’s an oversimplification,” Sanders said. “There’s more than one gene, and genetics is not the whole story. Whatever gene contributes to sexual orientation, you can think of it as much as contributing to heterosexuality as much as you can think of it contributing to homosexuality. It contributes to a variation in the trait.”

      http://www.ibtimes.com/does-gay-gene-exist-new-study-says-xq28-may-influence-male-sexual-orientation-1555564

    • Jaya N says:

      And that’s means, that gay is multifactorials, there’s many factors that makes someone gay, INCLUDING gay genes :).

      Believe me, i won’t stop before you admitted what you write is poor and hardly called science, or you can prove it otherwise.

      your attitude in deleting my comment really is grind my gear 🙂

    • Kalimat penjelasan Bailey itu identik dengan kalimat yang telah saya tulis dalam jurnal ini, kesimpulan dari wawancaranya Ruth Hubbard: “meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun menyatakan bahwa gen bukanlah faktor dominan dalam menentukan homoseksualitas.”

    • Jaya N says:

      “Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

      First you must to know this. Single gene, multi gen, and multifactorial is theree different kind of things. single genes means that the phenotype of individual only shows because of the present / not present of this gene. And gay is not phenotyoe that inherited that way. So he says, like the above. They said “adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen gen tidak terlibat” because multifactorial means there’s multifactor that cause gay. Genetic, Hormonal, environment, etc.

      So genetics is still there, as what I said previously, affects, but not decisively take control of. So there’s people with this gene but straight, but people who have this genes tend to be gay . It is variant of the trait. So it doesn’t means that genes doesn’t have any influence.

      This gene should not be used in sexual orientation test because it is multifactorial. This genes test only accurate if it is single gene inheritance, and follow mendelian rules. Like haemophilia. Gay genes is variant trait, that their expressions as phenotype is determined by multi factors.

      So still doesn’t deny mr. Sanders statements that there’s evidence that support the existence of the genes that affect sexual orientations 🙂

  52. godley says:

    “Fight for freedom”

    People can built beautiful city, they can dress elegantly but yet history has proven many of their minds and hearts are corrupted, some do bad things to each other beyond cruelty.

    In the name of religion, some people make them self self-righteous. Can you see them who use their religion as a tool to get what they wanted?

    Why do we debate or fight each other?
    Why do human go to war?
    Why do we hate?
    Who influence us?
    What do we desire from hating?

    Is it that bad we do not like someone or something, that we started hating?
    Growing hatred in our hearts…

    Where is compassion? How is it possible that i can not feel love in my heart…

    “Fight for freedom” – from hatred

  53. wonderguitar says:

    Hahahahahahahahahaahahahahahahaaa….

    “Jika benar seorang berhak menjadi homoseks, it’s fine, tapi dia TIDAK BERHAK menularkannya kepada orang lain!”

    Penyakit butuh kuman dan bakteri, sejak kapan propaganda “menular”. Persuasif, mungkin, mempengaruhi mungkin, tapi untuk menularkan… itu butuh bukti medis. Artikel ini setengah mati bilang kalo Homoseksual BUKAN genetik, therefore, bukan medis. Mas ini Dokter ya?

    (1) Sub-kultur homoseksual yang tampak dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mencoba.

    —Anggaplah ini benar mutlak. Maka silahkan larang anak2 nonton Doraemon (Suneo dan Jaian), semua acara TV dengan Host gay, bahkan jangan biarkan anak-anak menyentuh komputer, Alan Turing (penemu komputer pertama) adalah gay dan pahlawan perang dunia II. Pembuat film, aktor, fashion designer, kebanyakan gay. Itu tidak terbendung.

    (2) Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual).

    —Nggak usah penyetaraan gender deh. Gue tanya pendidikan seksual di sekolah adanya apa hari ini? Ada yang ngajarin reproduksi manusia dengan benar? penyakit seksual? kesehatan reproduksi, resiko kanker cerviks? NGGAK ADA. Yang ada tabu dan larangan2 untuk tahu seperti apa reproduksi kita. Gimana pada gak kena AIDS? Gimana angka kehamilan di luar nikah nggak tinggi? Nggak diajarin!

    (3) Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual.
    Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual.
    Penggambaran bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang normal dan bisa diterima.
    —lihat nomor 1. Itu udah diterima.

    • Terimakasih tanggapannya.
      Saya memang bukan dokter, apalagi ahli psikologi. Semua yang saya tulis di atas bukan didasarkan pendapat saya pribadi, tapi dari jurnal atau publikasi-publikasi penelitian yang link-nya saya sertakan dalam tulisan ini. Semoga Anda tidak malas menjelajahi link-link tersebut ya.

      Anda mengomentari bagian yang saya ambil dari penelitian Paul Cameron, Ph.D yang telah saya cantumkan sumbernya: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html
      Apakah Anda sudah baca artikel tersebut?
      Melihat komentar Anda yg dangkal itu dugaan saya Anda BELUM membacanya.
      Baiklah, silakan lihat artikel Cameron tsb pada bagian:
      What causes homosexual desire?
      Kemudian pada poin 1. Homosexual experience.
      any homosexual experience in childhood, especially if it is a first sexual experience or with an adult

      Jelas?
      Berdasarkan penelitian Paul Cameron, Ph. D, seorang anak yang pernah disodomi akan berpotensi menjadi pelaku sodomi berikutnya. Dan ada kecenderungan budaya orang dewasa yang gay suka menyodomi anak kecil.
      Lanjutkan bacanya pada bagian: 3) Older homosexuals often approach the young

      Kesimpulan saya, homoseksual memang bukan penyakit, tapi perilaku yang bisa menular. Anak kecil yg awalnya orientasinya normal, kemudian bisa berubah menjadi menyimpang setelah mendapatkan kontak seksual dari orang dewasa yg melecehkannya, atau anak yang usianya di atasnya. Anak itu menjadi pelaku sodomi berikutnya.
      Mau bukti contoh kasusnya di Indonesia?
      Anda WAJIB pelototin daftar kasusnya yang ada disini:
      Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak

      Tahan ketawa Anda, dan renungkan fakta yang terjadi di negeri ini.

      Tentang kesehatan reproduksi. Anak saya yg SMP telah diajari di sekolahnya dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, apa yg Anda sebutkan telah diajarkan di situ.
      Bila dirasa kurang, maka tanggung-jawab orangtua nyalah yang menjelaskan pelajaran yang sangat vital tersebut, buat bekal masa depannya menghadapi situasi yg un-predictable.

    • wonderguitar says:

      sudah baca bung. Saya sederahakan komentar saya biar nggak berat2 yang baca.

      Bung sudah pernah bicara pada LGBTQ? Pernah wawancara? Bung tahu statistiknya berapa banyak dari mereka yang jadi LGBTQ karena trauma seksual masa kecil? Ada Datanya?

      Sumber-sumber bung berasal dari website-website creationism, baik dari agama islam atau kristen, tapi tidak ada yang dari jurnal ilmiah murni.

      Sebaiknya bung baca lagi artikel2 yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    • Saya pun akan sederhana menjawabnya. Silakan baca komentar Pak dr. Widodo Wirawan di halaman ini, beliau menyampaikan link atas tulisan kakak kelasnya, dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD

      Kalau Anda mau dapat data lagi soal root-cause why become gay, mudah kok. Dari jurnal “Kasus Sodomi Anak” yang link-nya saya sertakan tadi, coba klik link masing-masing kasus. Banyak pengakuan dari tersangka yang mencabuli teman-temannya itu karena sebelumnya disodomi oleh orang yang lebih tua darinya, shg perilaku menyimpang itu menular pada dirinya. Coba deh amati berita-berita yang ada. Mudah kok, Anda tinggal klik satu persatu. Silakan susun datanya.

      Sementara kesampingkan dulu soal wawancara. Wawancara perlu waktu. Anggap aja ini tahap pertama.
      Bedah saja kasus yg nyata terjadi yg sudah terpapar di depan PC Anda, bisa didapatkan datanya dari berita2 investigasi. Link2 berita ada di kolom komentar pada jurnal Kasus Sodomi anak. Cara begini ini agar mengasah ketajaman kepekaan Anda.

      Nanti kita ketemu lagi pada tahap kedua, kalau sudah ada data wawancara. Kalo gak sabar ya .. tinggal jelajahi The Archives of Sexual Behavior.

    • wonderguitar says:

      Anda nggak bisa pake kasus sodomi anak untuk menyamaratakan semua hubungan homoseksual. Spektrumnya nggak sesempit itu, bung.

      “Menular” dalam konteks psikologi-sosiologi mungkin bisa diterima, seperti obesitas, misalnya. Tapi contoh anda kok sodomi, yang jelas-jelas fisik sekali.

      Sementara dalam Psikologi-Sosiologi, Menular bentuknya pola gaya hidup dan pola makan, riset dilakukan dengan studi kuantitatif yang kompleks selama puluhan tahun.

      Bung juga berpegangan pada sumber-sumber berita yang bentuknya opini sekali, bukan fakta. Bung sendiri tahu tidak kepanjanganan LGBTQ? Kalau tahu, mestinya bung sadar kalau variabel yang bung sebutkan sangat tidak cukup.

      Bung haru spesifik. Kalau bung mau lihat kasus per kasus dan mencari polanya, bung harus lihat juga persamaan dan perbedaan dari setiap kasus: kelas sosialnya, etnisitasnya, latar belakang budayanya.

      Nggak bisa ditembak semua gay adalah orang trauma. Prasangka bung banyak sekali.

    • Jurnal ini membahas G diantara LGBTQ.
      Kenapa saya angkat kasus sodomi anak?
      Agar Anda PEKA dampak disorientasi seksual di tengah-tengah masyarakat, yang faktanya anak-anak jadi korban.
      Tak bisa dipungkiri, kaum Gay cara melampiaskan seksual ya dg cara sodomi.
      ‘Menular’ itu terjadi bila sudah terjadi kontak seksual. Faktor lingkungan menjadi pen-trigger-nya.
      Kalau Anda tidak percaya berita yg bentuknya opini. Ya coba cermati dong fakta2 di bawah ini. Ini baru sebagian.
      Anak-anak bisa ngeseks dg sebayanya, apa ini alamiah? Pasti dong ada yg nyebabin sampe bisa begitu.

      Aceh | Remaja putus sekolah sodomi 6 anak.
      Pekanbaru | Pelajar SMP sodomi 7 anak SD; juga ada anak ABG sodomi tetangganya berkali-kali akibat pengaruh film porno.
      Palembang | Pelajar SMA sodomi bocah SD.
      Inderalaya | ABG 13 tahun Sodomi Bocah SD.
      Babel | Bocah SD Sodomi Anak TK di Kebun.
      Bekasi | Santri bersaudara (kelas 1 dan 2 SD) disodomi kakak kelasnya (6 SD).
      Karawang | Bocah SD sodomi 11 temannya.
      Jakarta | Bocah 13 tahun sodomi 12 anak.
      Bogor | Siswa kelas 3 SD disodomi 5 kakak kelasnya [Kompas]; juga ada kasus siswa kelas 1 SMP sodomi 9 bocah.
      Cileunyi | Anak yatim sodomi anak di bawah umur.
      Bandung | Anak 13 tahun sodomi 4 anak SD.
      Tasikmalaya | Kasus Kekerasan Seksual Bocah Sebangku, Bocah Kelas 2 SD.
      Sukabumi | Anak 11 tahun, sodomi 12 temannya; juga ada anak SD sodomi 3 teman sebayanya.
      Pekalongan | Siswa SD sodomi 7 anak SD.
      Magelang | Remaja 15 Tahun sodomi 20 anak | Pelaku memiliki perilaku menyimpang itu karena pernah disodomi tetangganya. Dan kemudian banyak korbannya juga memiliki perilaku menyimpang.
      Yogyakarta | Dua ABG sodomi dua bocah; juga ada remaja 17 tahun sodomi 10 anak belasan tahun; juga ada anak 12 tahun sodomi 3 teman sebayanya dan 1 anak perempuan [Harian Andalas].
      Samarinda | Pelajar SMP sodomi 3 murid SD.
      Gowa | Gara-gara nonton bokep, Siswa SMP sodomi bocah [Okezone].

    • wonderguitar says:

      Bung, yang menular itu namanya psychopathology dalam kasus sodomi anak, masuk dalam kategori phedofilia. Bukan homoseksualitas antara dua orang dewasa,

      Anda salah konteks. Phedofilia BUKAN homoseksual. Phedofilia adalah menyukai anak-anak (lelaki atau perempuan tak ada bedanya, selama itu anak-anak). Dan itu bukan kelainan, itu adalah KEJAHATAN!

    • Paedofilia itu orang dewasa yg kecenderungan orientasi seksualnya hanya pada anak-anak. Dalam berbagai contoh kasus yg saya sampaikan di atas itu anak-anak vs anak-anak. Ini POIN-nya. Anak-anak jelas bukan orang dewasa. Coba cermati lagi. Cermati lagi satu-satu. hadeuhhh.
      Anak-anak SD itu sudah bereksperimen terlalu jauh. Nanti kalo SMP ia akan maen dg temannya yg SMP, setelah SMA ia akan maen dg temannya yg SMA. Saat dewasa ia akan gituan dg kawannya yg dewasa. Penyimpangannya sudah terbentuk sejak masih anak-anak. Siapa yg membentuk? Laki-laki dewasa yg menulari perilaku menyimpang tsb pada dirinya.

    • wonderguitar says:

      Itu tanggung jawab orang tuanya laah… gimana sih? Jauh amat sampe nyalah2in Gay? Ckckckck

    • Kok nyalahin orang tuanya. Sepanjang diskusi ini orientasi saya gak nyari siapa yg salah lho. Tapi bagaimana proses seseorang menjadi gay yg ternyata dibentuk oleh lingkungannya. Contoh2 kasus yg saya paparkan itu mendukung penelitian bahwa LINGKUNGAN adalah faktor dominan membentuk seseorang menjadi gay. Seorang anak disodomi oleh teman sebayanya… itu lingkungan pergaulannya. Faktor lingkungan lainnya ya spt yg disampaikan Paul Cameron di atas.
      Media sosial menjadi tempat bagi mereka yg sudah ‘tertular’ oleh lingkungannya itu untuk terus memanjakan nafsunya. Mereka bergabung di berbagai komunitas gay. Saling berbagi informasi untuk bisa seks bebas. Apalagi didukung oleh apps G***dr.

    • wonderguitar says:

      Bagaimana kalau bung tanya langsung saja pada seorang gay untuk tahu lebih banyak,bahwa bukan cuma lingkungan saja faktornya.

      Saya bukan gay, hanya seorang akademisi saja yang hendak mencari ilmu. Kalau bung juga orang yang bertujuan baik, saya harap bung sudi membaca artikel ini tanpa banyak bias pendapat pribadi:

      http://mojok.co/2015/07/saya-gay-liberal-dan-bukan-inlander/

    • wonderguitar says:

      satu lagi soal Paul Cameron:

      “In 1983, the American Psychological Association expelled Cameron for non-cooperation with an ethics investigation. Position statements issued by the American Sociological Association, Canadian Psychological Association and the Nebraska Psychological Association have accused Cameron of misrepresenting social science research.[1]”

    • wonderguitar says:

      Sodomi pada anak itu masuk kategori phedofilia—dimanapun sama aja. Phedofilia adalah kejahatan.

      bung benar. Homoseksualitas adalah konstruksi sosial. Heteroseksualitas juga konstruksi. Karena itulah kita punya selera soal siapa pasangan kita, bentuk tubuhnya, paras mukanya, usianya.

      Seks itu alamiah, tapi yang membuat kita jadi manusia adalah kita tidak bisa berhubungan seks dengan siapa saja. Kita punya selera sendiri-sendiri. Dan selera-selara itu dari sosialisasi dan pengalaman tubuh–dan itu tidak selalu perlu perkosaan.

      “Menular” (contagious) adalah kata yang berat. Bentuknya harus fisik. Penyakit menular seksual, ditularkan secara fisik dan Homoseksualitas jelas bukan Penyakit Menular seksual.

    • Maksud dalam tulisan saya ini, yang menular bukan penyakitnya, tapi perilakunya. Karena memang homoseksualitas bukan penyakit.

      Istilah ‘menular’ dalam kasus penyimpangan perilaku sudah biasa dipakai dalam jurnal2 psikologi. Sehingga wajar kalau kolom Health Detik pun menggunakan kata ‘menular’
      http://health.detik.com/read/2010/03/15/180058/1318755/766/1/bisakah-perilaku-gay-menular?

    • wonderguitar says:

      Silahkan bung baca dari website resmi Persatuan Psikiatri Amerika ini, yang dibuat secara komprehensif, sumber jelas akademik, penelitian komprehensif 30 tahun terakhir ini.

      “No one knows what causes heterosexuality, homosexuality, or bisexuality. Homosexuality was once thought to be the result of troubled family dynamics or faulty psychological development. Those assumptions are now understood to have been based on misinformation and prejudice. Currently there is a renewed interest in searching for biological etiologies for homosexuality. However, to date there are no replicated scientific studies supporting any specific biological etiology for homosexuality. Similarly, no specific psychosocial or family dynamic cause for homosexuality has been identified, including histories of childhood sexual abuse. Sexual abuse does not appear to be more prevalent in children who grow up to identify as gay, lesbian, or bisexual, than in children who identify as heterosexual.”

      http://www.psychiatry.org/lgbt-sexual-orientation

  54. Faris says:

    kalau saya sih nyikapin kaum Homoseksual cuma ama satu Line..
    “Kembali belajar ke alam yang selalu menjaga keseimbangannya, Fitrah alam selalu diciptakan berpasangan. Hewan aja gak ada yang Homoseksual masa manusia ada? masa pemikiran manusia soal fitrah kalah ama Hewan?”

  55. chibbell says:

    mas,, bagaimana caranya melakukan pembinaan kepada mereka, Karena sejujurnya saya jenuh melihat mereka ditambh dengan pembelaan orang yang sebenarnya melek agama juga membela mereka. Sepertinya pemerintah harus melakukan suatu gerakan untuk merehabilitasi mereka, Karena mereka harus disembuhkan. BAnyak dari mereka dan pendukung mereka bilang bhw mereka tdk ingin menjadi seperti itu. Jika memang mereka tdk ingin seperti itu kenapa setidaknya mereka tdk berusaha untuk melawan? Orang yang hampir kecelakaan saja berusaha menghindar mskpn nantinya Allah yg berkehendak. Orang sakit saja berobat ke dokter karena ingin sembuh dan TIDAK INGIN SAKIT, Mereka bgmn? blg tdk ingn spt itu tp nyatanya tdk ada perjuangan ingin sembuh tapi sebaliknya perjuangan untuk membenarkan yang salah. Itu kan artinya mereka tetap ingin seperti itu..BAhkan yang sy sgt sesali tdk sedikit muslim yg mendukung mereka ketika diberithu mrk menjwab tdk apa mereka ikut kena dosa. Saya sangat prihatin . Dan muslim itu mohon maaf bhkn ada yg berhijab.. Saya seakan merasa tertusuk dan sedih sekali..miris menyayat hati mas melihatnya..Seakan siksa Allah itu tdk masalah bagi mereka. Sejujurnya LGBT ingin ditolong kembali normal tetapi mereka tidak ingin normal ( Jika ingin normal tdk usahlah membenarkan hal yang salah). Saya kasihan sama mereka, bukan membenci mereka. HAnyab saja pemikiran yang salah tdk bs dibenarkan sama sekali.. Janji Allah akan adzab adalah pasti hanya menunggu waktu. Apa mereka ingin bertobat atau sebaliknya… KEnapa mereka selalu menyalah artikan niat baik orang spy mrk kembali ke jalan yang benar. Dan adakah lembaga/ yayasan khusus untuk pengobatan mereka/ terapi untuk kasus LGBT ?

  56. Reblogged this on WidodoWirawan.Com and commented:

    Mumpung rame kembali kasus pelegalan kawin sejenis di US oleh Obama…

    Rame kembali jurnal lama yang ini gegara kasus di US ya Pak… : D nitip aja lagi: http://widodowirawan.com/2010/12/12/kenapa-laki-laki-normal-bisa-jadi-homoseks/

  57. Terserah says:

    Penelitian tahun berapa? Astaga itu sudag kedaluarsa…. teori ilmiah itu bisa diruntuhkan oleh teori yang lebih empiris….

    Nih hasil penemuan baru

    http://www.natureworldnews.com/articles/10443/20141118/homosexuality-genetic-strongest-evidence.htm

    Satu lagi, bahkan kembar identitik pun tidak memiliki gen yang identik pula!……

    • Dalam artikel yg Anda link tsb, baca kalimat ini:

      “Now the same team is working to compare these gene variants to heterosexual males, expecting that it will not be a common find among “straight” men.”

      Mereka belum/tidak menyelesaikan studi mereka (itu baru setengah dari penelitian) dan belum mengambil kesimpulan seperti judul artikel tsb bahwa menjadi gay karena faktor genetik. Judul itu hanya framing public opinion.

  58. Diki says:

    Mungkin benar bahwa gay itu bukanlah faktor genetik. Namun opini Anda tentang kaum homoseksual “menularkan” pada orang lain, mungkin Anda perlu lebih banyak belajar. Faktor trauma dpt me.gakibatkan seseorang menjadi homo, namun bukan berarti ditularkn.

    • Membacanya yg utuh ya, Mas Diki, jangan banyak yg di-skip.
      Jelas-jelas dalam jurnal ini saya tulis:

      Paul Cameron Ph.D dari Family Research Institute telah melakukan penelitian dan menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homoseksual adalah pernah disodomi waktu kecil. Berbagai kasus yang disebutkan di sini adalah buktinya. Penyebab lainnya adalah pengaruh lingkungan, yaitu sbb:
      1. Sub-kultur homoseksual yang tampak dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mencoba.
      2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual).
      3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual.
      4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual.
      5. Penggambaran bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang normal dan bisa diterima.

    • Diki says:

      “Dorongan untuk berprilaku homoseksual” ya?
      Bagaimana dgn faktor penyebab seseorang memiliki sifat homoseksual, yang bahkan tak menyukai lawan jenis?

    • Kalo pun muncul sifat itu.. jangan memanjakannya, jangan memelihara sifat yg menyimpang.
      Segeralah istighfar, tobat, mendekatkan diri pada Allah.
      Renungkan kembali untuk apa terlahir di dunia ini, padahal kehidupan kekal ada di akherat sana.

  59. anakdiecast says:

    To the point saya,tidak mau panjang lebar.ini semua tujuan perencanaan grand design freemansion dan iluminati dalam liberal.tujuannya merusak semua tatanan yang ada dan menciptakan tatanan dunia baru.jd waspada akan pemahaman2,gaya hidup dll.perkuat iman

  60. Mas, saya secara pendapat moral dan agama, sangat setuju dengan pendapat mas mengenai LGBT karena sudah jelas termaktub dalam al quran tentang kisah nabi Luth dalam surat asy-syura. Tidak perlu diperdebatkan lagi.

    Hanya saja, kalau memang, artikel ini bertujuan untuk membahas gen secara scietific dan alamiah, artikel mas memang bias, dengan mencampur aduk kan opini anda pribadi dengan dan fakta science.

    Bagi saya, artikel anda tak ubahnya sebuah artikel opini yang di dukung oleh fakta-fakta yang mendukung opini anda. Bukanlah sebuah artikel ilmiah yang membandingkan teori teori gen secara komprehensif.

    • mbak Sitirahma, memang ini bukan artikel ilmiah seperti layaknya jurnal / publikasi hasil penelitian. Saya jelas bukan peneliti / periset gen gay ini. Kalau mbak Siti ingin membaca detail penelitiannya, silakan jelajahi saja link-link yang saya sertakan di atas.

      Betul ini hanya artikel opini.
      Saya hanya prihatin dengan gencarnya penyesatan opini yang makin menjerumuskan perilaku mereka, menjauhi pintu-pintu taubat. Menjadikan bendera2 pelangi berkibar di tanah para syuhada. Maka penekanan atas tulisan ini ada pada 2 paragraf terakhir di atas (halaman 1).

      Ketika para pendukung homoseksualitas yang anti agama tsb tidak bisa disadarkan dg pendekatan dalil-dalil agama, maka bisa diupayakan dengan menguji teori-teori yang mendukung perilaku menyimpang mereka.

  61. A Warning from Canada: Same-Sex Marriage Erodes Fundamental Rights
    by Dawn Stefanowicz
    http://www.thepublicdiscourse.com/2015/04/14899/

    • arlis rahmawati says:

      Alhamdulillah ,ada orang seperti anda yang mau mluangkan waktu untuk mengingatkan krn tidak semua orang yang tau ,mau bersusah payah ..semoga Allah melipatgandakan amal anda

  62. Jaya N says:

    your mistakes from literature searching:
    1. The study was remarkably old, you cite the study from 1999 which is actually said “questioning Single gene as a factor” not disprove, evnthough there’s new study that shows the evidence of gay gene influence.

    You cite the information from an apologetics site, which is not credible, the site doesn’t even approve evolution. when you citing religious stuff, go on cite voa-islam/ arrahmah/ another apologetic site, but you wanna talk about science right? Use proper and credible source please,
    Wikipedia is free-to-edit article, which means, everyone can write whatever they want, so, not credible source aither.
    You don’t understand how genes work, what is mendelian inheritance means, how one fenotype not only caused by single gene, learn what multigene, and multifactorial means.
    This is kind of apologetic articles , that have argumentative writing, tipical “cocoklogi” , mistranslated quotations, siriously, cherry picking studies that approve their theological theory,

    Come on, this is not science for, not for approving theological theories. Science says what’s really happening. Go on tell what you believe without bending science facts. Seriously, it makes you and your religions look stupid.

    After this i hope you also include the latest study about gay genes, the year is 2014. You want to talk about science right ? Science is the neutrality,
    This writing is as bias (or even more bias) than what you claim the research that partially (not all) conducted by gay.

    I’m indonesian, so reply in indonesian as you please. but please use proper citation,

    • Jaya N says:

      http://www.huffingtonpost.com/2012/10/23/homosexuality–choice-born-science_n_2003361.html
      This is how you should write an article based on scientific literature. Citing source, the credible one. Showing pros and cons, and comprehensive.
      It must be hurt if some people citing al-quran, bit by bit, the ‘islam told you to kill’ part, without saying the context, and the hole writing of the quran, and what it really means, right ?

    • Anda ini kok sepertinya terlalu mudah menilai apologetics site, padahal begitu banyak saya sertakan link di atas selain link situs agama. Apakah Anda tidak membaca link-link yang saya sertakan seperti Guardians, Time, laman publikasi, dll? Kalo pun toh situs agama saya sertakan juga di atas, ada baiknya juga Anda baca, temukan hikmah di sana, cobalah komparasi, kemudian tunjukkan kesalahannya dimana. Bantahlah dengan baik, sampaikan yang menurut Anda benar. Komentar seperti ini yang akan saya apresiasi.

      Homoseksual jelas merupakan suatu penyimpangan hukum alam. Anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia sudah didesain sedemikian rupa, perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan demikian jelas.

      Jadi kalau ada yang tertarik secara biologis dengan jenis kelamin yang sama berarti itu suatu penyimpangan alam. Kalau sistem reproduksinya normal, berarti kejiwaannya yang menyimpang. Simpel.

      Pikirkan kembali apa tujuan Anda hidup di dunia ini.

    • Jaya N says:

      I read it, so i can say the research is 1999 which is too old 🙂 , and there’s new research that shows otherwise, in year 2008, an MRI scans that shows anatomical difference of gay’s brain, which is results froms hormonal abnormality during pregnancy, and 2014 about genes that affects (but not fully taking control of, so i beg you to learns, mendelian’s law, and multifactorial inheritance) sexuals orientation.

      The wrong part is.
      1. I hardly accept scientific argument from site that didn’t even accept evolutions, even you serve them with broad of evidence. Maybe they have so many moral value, but now we talk about science which saying facts as a facts doesn’t matter it is convinient or not.

      you quotes just tiny part, as what western world always do when they citing your quran, vice versa to bible. and misinterpreting the quotes. “Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika” you cite, which means genetics has nothing to do with homosexuality. that actually if you translated from english means “homoseksualitas bukan murni karena genetika” which means there’s other factor besides genetics.

      Your lack of understanding in genetics and inheritance that makes you jump into conclusion and misinterpretating this quotation
      “Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harap temukan yaitu sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Faktanya, kami tidak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya.”
      Of course it is, mendelian inheritance is supersimplified theory of inheritance, which is only applied if the genes is the ONLY factors that count to create a physical properties (phenotype). The right conclusion to this quotations is the gay is not ‘single genedly’ inherited by your parents, but there’s other factors too. And research in 2014 shows this genes, affected sex orientation (once again, not fully taking control of).

      Yes, it’s variance, not all variance is abnormality, and not all abnormality is a disease. Left handed people is normal anatomically, but Their neuron make them more comfortable using left hand.
      In research at 2008 , using MRI, shows that gay man’s brain more similar to straight women, than straight men. So, yeah, there’s defference in anatomy, and hormones during pregnancy / plasticity of brain that make those brain difference. 🙂

      Please, i truly appreciate your religions, you can say anything about your religion, and i will respect that. But when it comes to cocoklogi, like one of your famous apologetics mr.zakir naik, it really is hurt for the people who trying to learn science thoroughly. it’s like we try to know what trully happens, and someone just bend it to reasoning their argument. Just like you trying to learn religion to be a better person, and western accused you that what you learning is violence, it does hurt, isn’t it ?

    • claps

      Dan bung Iwan disini sama sekali tidak memberikan klarifikasi lebih lanjut, hahahaha

      Kok masih saja berani berkomentar ini bung Iwan

    • Dari tadi sengaja saya sudahi ya, bung Skeptical.
      Saya hindari perdebatan yg mencoba dilebarkan kemana-mana.
      Sesungguhnya bung Jaya tidak / belum menjawab tantangan saya terkait dg apa yg dilakukan periset yg telah saya sebutkan di atas.

      Cobalah buka mata dan hati kalian semua. Homoseksual jelas merupakan suatu penyimpangan hukum alam. Anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia sudah didesain sedemikian rupa oleh Allah, perbedaan antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan demikian jelas.

      Jadi kalau ada yang tertarik secara biologis dengan jenis kelamin yang sama berarti itu suatu penyimpangan alam. Kalau sistem reproduksinya normal, berarti kejiwaannya yang menyimpang.

      Kalau kalian semua tidak paham fungsi penciptaan sistem reproduksi, maka saya sudahi komentar untuk kalian di sini. Kalau kalian menganggap alat kelamin (sbg bagian dari sistem reproduksi) hanya alat untuk bersenang-senang saja. Hmm.. rasanya buang2 waktu berdebat dg kalian. That’s it.

      Do’a saya untuk kalian semua, semoga mendapatkan hidayah-Nya. aamiin.

    • Jaya N says:

      I’m sorry, i have no interest in talking value, or learning abou islam here’s, i read the text, all the article, (which is absolutely bias, and outdated article) . I compare to what the actual finding in non biased science article said, and i gave you the point of what is wrong with this article. So i already did your challenge.

      I tried to make the conversation only about proper scientific literacy, i give you proper article, i told what the mistakes of this article, i did your challenge (just in academic and science literacy). Plus how does it feel as a skeptic that trying to learn science in proper ways when people without proper knowledge and understanding bending the facts for their convinient. That’s the only thing i’ve interest in this article and conversation. i dont make the conversation broader, or discuss unrelated topics.

      In opposite, when i first give my opinion, you accused me that i don’t read your article, the next reply, you accused my trying to bend the conversation to another topics.
      The facts that you try to include moral value, religions, and in what norm i and mr skeptics should standing on shows that YOU trying to escape this scientific literacy conversation, and bend it to your morals, and religious standard of view. You doesn’t even try to correct my reply about your mistakes in scientific literacy.

      And doesn’t give me appreciation eventhough i tried my best to read, compare, and shows the mistakes. (Just kiding, but kinda sad, hehe).

      But if you lost interest to this conversations, it is fine, your world, your rules, right? Hehe,

      So, here’s my last statement, My last statement is not part of this conversation, so i will write it in general. (but if you want to discuss about the scientific literacy, i can go on, hehe )
      I understand, you have moral standard of view, i understand you have religious view, and I trully appreciate that. But other people also have other standard of view. Science, is free from this kind of standard. People curious, people want to know, people try to learn it in scientific way, and people find out the facts. Convinient or not is the results, that’s the facts. I love this way of thought, but people nowadays, tend to bend science according what they pereviously believe. They belive in quran, they bend scientific fact to quran, so does the bible, so does any kind of ‘propaganda’ by the government. Science start to lost their purity as a way to think, and way to find out the facts. And that’s my concern. I’m afraid that in the future, we can’t try to find out something, just because it’s against most people’s standard of view. just like dark ages, or even worst, we find out A, and media will say totally different, just because it’s more convenient.

      I really am respects your point of view, I trully am. but using inproper scientific facts is kinda bit of lying, and in your moral standard of view lying is wrong, yes ? If God is great according your standard of view, they trully don t want people using lie which is sin, to spread their word right?
      I don’t know the science iliteracy that you commit just because you don’t understand proper scientific literacy, or you lying to people. But in either way i hope this conversation will makes us a better person, a better argumentators, and become honest person.

      Ps. I’m using english because i really don’t want to decrease yor credibility amongst your follower or else, and if your follower understand this im sure they already wise enough to know, we are make mistakes, (including me, kr mr. Skeptic maybe, hehe), so it is not our place to judging other people :). This is by far the most peaceful ‘religion based’ site i’ve been on. No bad mouth words, no kafir judging, and I really apreciate it. You give good advice about religion, so Trying to be better and better, and keep up the good work !

      (Im sorry, looks like i’ve misshit the reply button in the previous comment, hehe, my bad)

  63. Kakmoly says:

    Om, terima kasih tulisannya 🙂
    Tak perlu jauh-jauh mencari penelitian yang rumit dan njelimet sih sejujurnya karena memang betul semua sudah tertulis di Al-qur’an.

    Dan sudah jelas banget kalau Allah ga suka (kisah-kisah tentang hancurnya kaum Sodom), pun kejadian kaum Sodom itu sudah dibuktikan juga oleh banyak peneliti bahwa itu benar pernah terjadi.

    Ya, kalau sudah ga takut lagi sih, jadi beda cerita ya kan?

    Thanks a lot, Om! Aku mendukung!

    • Teori gen gay nyata-nyata didukung oleh mereka yang anti agama (karena semua agama menolak perilaku homoseksual), maka mereka tidak akan lagi bisa menerima dalil-dalil agama. Jelas segala dalil gak akan bisa masuk di otak mereka.
      Oleh karena itu untuk menggugat teorinya adalah dengan membuktikan kebenaran teori tersebut. Alhamdulillah, teori2 mereka tidak bisa memanipulasi kebenaran-Nya.

      Tentang dalil-dalil Al-Qur’an sudah saya bahas juga di jurnal lainnya dalam blog ini. mbak Kakmoly dan muslim lainnya pasti paham dalil2 tsb karena memang sudah familiar 🙂

  64. hawa says:

    Akhirnya ada seseorang yang dapat membuktikan teori yang kebenarannya masih dipertanyakan, saya miris dengan keadaan yang dimana mereka lebih mengikuti nafsunya. Mereka mengaitkan ini atas nama #lovwins , sekarang sesama jenis bisa menikah and what next ? Sibling marriage ? father and daughter marriage ? Mother and son marriage ? Mereka hanya memakai logika , tidak percaya akan tuhan maupun al-quran. Naudzubillahomindzhalik , judgment day is near.

  65. rock says:

    Memilih untuk menjadi straight/gay adalah hak bagi setiap orang. Jika ada orang yg memilih mjd gay, hal ini tidak merugikan atau orang lain, so please mind your own business.

    • Kepedulian dimulai dari keluarga dan lingkungan kita, ketidakpedulian membuat manusia sendiri tidak memanusiakan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, maka segala indikasi disorientasi yang terjadi di masyarakat bisa saja mengancam siapapun.

      Simak berbagai contoh kasus di sini:
      https://iwanyuliyanto.co/2013/12/06/kasus-sodomi-anak-dan-perilaku-homoseksual-anak/

      Dalam berbagai kasus tersebut, ketidakpedulian terhadap disorientasi seksual di masyarakat akhirnya menyisakan pedih yang amat mendalam, yang mana bisa saja menumbalkan keluarga bahkan anaknya sendiri (menjadi korban orang di luar rumahnya).

      Untuk itu, kepedulian memerangi perihal disorientasi dan gejala-gejala penyimpangan moral di masyarakat, adalah sejatinya tugas kita, meski hanya dari lembar seperti ini.

      Perang pemikiran dan pengaruh alam bawah sadar serta mudahnya virus disorientasi tersebut menyebar karena merosotnya moral penduduk negeri ini, yang kita tahu banyak aspek yang amat mempengaruhi. Mulai dari lingkungan bahkan yang paling menakutkan adalah penyalahgunaan teknologi.

    • Jaya N says:

      Mr iwan, there’s also other case, that straight women being raped by straight man, and they became afraid of men, and tend to become homosexual, right ? So do you judge straight man is the threat ?

      No, the criminality is. So does when gay doing ‘sodomi’ the criminality is the threat. But the gay man is not. If gay man do the criminality, so yes, they’re wrong. So does the straight men.

      When you respected gay, as a personal choice, not cursing, and discriminating them, and they can live peacefully with their spouse, that will ‘slightly’ decrease the tendency to do ‘the criminal act’ such as sodomi? no?

    • Poin utama yg ingin saya sampaikan dalam link berbagai kasus itu adalah PENULARAN, bukan tentang kriminal. Saya paham, kriminal juga berlaku pada penjahat heteroseksual.
      Sekali lagi poinnya adalah PENULARAN. Berdasarkan penelitian Paul Cameron, Ph. D, seorang anak yang pernah disodomi akan berpotensi menjadi pelaku sodomi berikutnya. Dan ada kecenderungan budaya orang dewasa yang gay suka menyodomi anak kecil.

      There is evidence that homosexuality, like drug use is “handed down” from older individuals. The first homosexual encounter is usually initiated by an older person. In separate studies 60%, (6) 64%, (3) and 61% (10) of the respondents claimed that their first partner was someone older who initiated the sexual experience.
      http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

    • Diki says:

      Mohon maaf, tak ada manusia yang “ingin memilih” menjadi homo. Secara psikis, sebagian besar dari kaum homoseksual pernah merenungkan, apa yang terjadi padanya. Mengapa ia seperti “tidak normal”? Dan semua kaum honoseksual tak ingin menjalani hidup dgn perasaan suka sejenis.
      Kita lebih baik netral, tanpa membenci tanpa mendukung. Beranggapan bahwa homoseksualitas tidak normal, tak masalah. Membenci malah membuat mereka semakin terpuruk dalam dilema, mendukung akan membawanya pada kesalahan yg lbh dalam. Sebagai orang yang tak memiliki “kelainan” spt homoseksual, kita seharusnya me.dekatinya, memberi petunjuk, dan bukan menjudge seenak hati.

    • Ini sikap saya dan yg saya sarankan kepada pembaca (yg sudah saya tulis dalam jurnal di atas) :
      Bentuk pengakuan terbaik kepada para pelaku homoseksual adalah mengakui bahwa perilakunya menyimpang. Kemudian mendukung / membantu mereka untuk bisa sembuh dan kembali lurus pada kodratnya. Bukan malah memberikan motivasi untuk tetap mengidap perilaku menyimpang tersebut dan dibenarkan atas nama HAM.

    • Jaya N says:

      I don’t understand where’s my “once again bible believers” comment gone, maybe you know where it is vanish mr. Iwan ? Haha,

      Come on, just say this “yes what i write is not credible scientific facts, from inproper site. i disagree with gay because my religions said so”

      Or maybe you can add this ” i will only cite the facts that support what i believe, and what my religions told me. If there’s facts that against what i believe than that is a wrong facts, because my religions told me so”

      that’s how you declare that this article has nothing to do with proper science method, and scientific literacy. That is what im seeking. Then i promise i will leave this article 🙂

    • Memang. Komen tidak bermutu yang menghina umat beragama … layak saya hapus.
      Anda menguji penelitiannya pun tidak. Hanya mencibir. Silakan menuhankan sains yg ketetapannya berubah-ubah. Sesungguhnya Islam sudah mempunyai ketetapan yg pasti.

    • LaGiBT says:

      Dan hak setiap orang juga mencegah hal ini tidak mewabah

  66. Gamma says:

    Saya seorang lelaki, dan saya pecinta sesama lelaki, tapi bukan gay/homoseksual, karena saya cinta ayah saya, saya cinta abang saya, saya cinta adik saya, saya cinta sahabat-sahabat saya. Karena menurut saya love is caring. saya care terhadap mereka. bukan nafsu seksual.

    Setiap manusia punya hak untuk mencintai siapapun, termasuk sesama jenis, tapi yang salah adalah nafsu seksual. Budaya barat, termasuk budaya AS, memakai nama “cinta” sebagai justifikasi untuk nafsu seksual mereka, mereka meleburkan arti kata “cinta” dengan “nafsu seskual”. yaa contohnya liat film-film barat deh, pasti abis ngomong “i love you” ke pacarnya abisgitu langsung ciuman, terus maaf dibawa ke ranjang. hahaaa

    saya coba untuk ga nyambung-nyambungin ke agama ya.

    menurut saya kalo mereka memperjuangkan pernikahan LGBT atas nama cinta, ya ga akan ada gunanya,karena kita tetep bisa mencintai siapapun tanpa status pernikahan.

    menurut saya ya ini karena nafsu. justru nafsu homoseksual ini yang bisa buat manusia punah, karena ga punya keturunan secara normal, dan menyebarkan virus penyakit. menghancurkan tujuan makhluk hidup secara umum, yaitu untuk berkembang biak dan berkoloni.

    bebas dari bullying? ga akan, karena pembully akan selalu jadi pembully, bullying itu salah satu penyakit sosial individu yang sulit dihilangkan.

    punya keturunan? hmm bisa sih, tapi bayi tabung, yang artinya rahimnya dari perempuan lain (untuk gay), sel spermanya dari lelaki lain (untuk lesbi), lah terus ngapain nikah sesama jenis? mending nikah aja sama ibu/ayah bayi tabungnya.

    mau adopsi anak? lah orang gausah nikah gitu buat ngadopsi anak, yang penting penghasilannya bisa mencukupi

    mau dapet duit? bisa aja karena pasangan menikah bisa dapet santunan. ya tapi ujung2nya duit, ya balik lagi ke nafsu juga.

    Cinta udah menang kok dari sejak Nabi Adam dan Hawa. bagi saya legalnya pernikahan LGBT ini bukan #lovewins, tapi #lustwins.

  67. andre says:

    manusia diberi keleluasan untuk memilih, termasuk orientasi sex. Jadi masalahnya bukan genetik ataupun fitrah, tetapi pilihan yang bersangkutan yang membuat Tuhan “menjadikan” seperti adanya orang tersebut saat ini. Tentu saja hal ini tidak ujug2, tapi ada proses yang terang dalam rentang waktu tertentu yang menjadi “sebab” serta mengarah pada suatu “akibat ” seperti yang dialami seseorang sesuai dengan proses yang terjadi dimasa lalunya…

  68. Gamrari says:

    be prepared for human extinction….

  69. Yang Setuju Homoseksual Adalah Tidak Bermoral:
    Mesir 95%
    Indonesia 93%
    Russia 72%
    India 67%
    Spanyol 6%

    Dulu bangsa Romawi musnah karena homoseksual.

    • jagd says:

      Rasanya bukan masalah moral, lebih ke psikologis. Coba bayangkan apakah anda mungkin tertarik secara seksual pada pria? Saya sih tidak bisa membayangkan mau sama sohib sedekat apapun. Kalau di balikan, orang homo itu seperti bagaimana orang normal tidak bisa tertarik secara seksual pada sesama jenis, mereka tidak bisa tertarik pada lawan jenis. Mereka secara kasar adalah penderita penyakit mental, bukan rusak moral. Orang yang rusak moral memilih, sedangkan orang sakit mental tidak dapat memilih.

    • Awalnya memang masalah penyakit mental, mas Jagd. Namun ketika mereka telah ditunjukkan jalan kebenaran agar segera bertobat, kembali menuju fitrah-Nya, tapi mereka menolak semua bentuk nasehat, bahkan melakukan penentangan dengan tetap memperturutkan hawa nafsunya, maka penyakit mental ini bergeser menjadi masalah moral.

      Solusi satu-satunya adalah taubatan nasuha. Menemui Allah, bukan kumpul dengan kawan2 homoseksualnya. Dengan bersama kawan2 homoseksualnya demi memanjakan nafsu hanya akan membuat hatinya membatu, menutup pintu kebenaran.

      Allah berfirman lewat QS. Az-Zumar: 53
      “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi Maha penyayang.”

  70. […] Jadi gini boy. Karena gue orang muslim. Gue WAJIB selalu bersumber dari Al-qur’an dan hadis. Dan ternyata banyak juga nih pejuang dakwah islam yang berusaha melawan dan mengancurkan teori ini. Sekarang tuh informasi gampang banget di dapetinnya. Asal kita bisa menyeleksinya dengan baik. Lagi-lagi science lah teknologi yang paling canggih juga untuk menyeleksi informasi dengan baik saat ini. Gue kaget abis dan merasa luar biasa setelah baca blog orang yang melawan teori ini. Untuk kedua kalinya baca sampe abis yaa. Dan balik lagi ke blog gue hehe. Gue jamin sumber ini terpercaya. https://iwanyuliyanto.co/2013/12/08/runtuhnya-teori-gen-gay/ […]

  71. Prosecuter says:

    Homoseksual itu alamiah. Perilaku ini dapat ditemui dalam berbagai species hewan. Nah, perilaku ini libih tepatnya disebabkan oleh epigenetik, bukan genetik. 🙂

    http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexual_behavior_in_animals

    http://en.wikipedia.org/wiki/Epigenetic_theories_of_homosexuality

  72. Ani says:

    Kita juga harus bijaksana sbtlnya, kdg kita suka tanpa sadar mengejek/membully seseorg yg kecewek2an (biasanya sesama cowo), eh banci lu, atau dg bisik2 gay ya. Mereka sebetulnya adlh org2 yg melankolis dan sensitif, dg diejek, walau kecil2an, bhkan oleh org terdekat sendiri, akhirnya mrk jd terasing dan merasa “beda”. Akhirnya seluruh sinyal di otak korban menjadikan sebuah keadaan menjadi suatu kenyataan. Mereka hrusnya dirangkul dulu, bukan dijauhi dan dikutuk..spt yg sering tjd di negara ini.

  73. debapirez says:

    Tulisan yg ciamik didasari dgn penjelasan ilmiah. kalau ada yg butuh link penjelasan, tinggal disuruh kesini aja….

  74. arip says:

    Berarti ga ada alasan buat mereka untuk tidak kembali ke kodratnya.

  75. anotherorion says:

    goro2 maca komene mas wid dadi kelingan postinganku gara2 ana homo brengsek keukeuh nelponi terus

    aku ra percoyo nek gay ki dari gen, selama ini penyimpangan iki cuma dilakukan menungsa, klo emang gen itu ada, kenapa ga pernah nemu pasangan pitik / wedus homo?????

    tapi emang harus dicermati mas, terutama tentang perkelaminan ana kelamin ganda, trus kae lho berita sik disahkan ganti kelamin. secara medis aku ora ngerti sih mungkin mas wid bisa bantu njelaske, apa bisa disebut kelainan kelamin ganda salah satu sumber gay? kok aku rung percaya

  76. aku punya teman yang gay, dan seseorang sepertinya kecendrungan jadi gay. yang punya bakat ini akrab dengan yang sudah gay. akhirannya yang masih blom gay pun jadi gay. Jadi lingkungan memang mempengaruhi sesorang kehidupan seseorang.

    • Betul, lingkungan paling kuat penularannya.
      Yang belum gay kemudian jadi gay itu biasanya karena tidak punya prinsip yang kuat, awalnya punya rasa “gak enakan ama teman” atau solider ama teman, sehingga lama-lama ikut arus sifat dan budaya temannya yang gay itu.

    • Betul sekali Mas Iwan. Teman-teman yang lain sudah berusaha mencoba untuk mengingatkan si teman yang ke 2 ini, tapi mgkin dia merasa enjoy berteman dengan yang pertama, akhirnya yang ke 2 menjadi bagian dari yang 1…

    • Diki says:

      Kecenderungan? Bukankah itu homoseksual yang tertunda?
      Jikalau memang ia “terpengaruh” spt yg Anda katakan, mungkin hanya scr seksual, karna mu.gkin kenikmatan yg pernah dirasakan mnjd ketagihan. Namun sekali lagi, iti hanya perilaku homoseksual, bukan menjadi sebuah perasaan bahwa ia suka, sayang, cinta dgn laki2 scr psikis dan emosional dgn permanen.

    • Nafsu jangan dimanjain. Pada awalnya hanya sebatas suka / kagum. Setelah itu .. pelan pelan akan diluar kendali.

      Islam memberikan solusi… ketika kesukaan yg sifatnya terlarang itu datang… maka segera istighfar, tobat, mendekatkan diri pada Allah.

    • saya menyebut kecendrungan karena awalnya ia punya pacar dan dia bilang mencntai pacarnya tersebut. Trus putus. Dan secara penampilan dia ga masalah, tapi kalau berbicara terlihat sedikit feminim. Lantas berteman dengan teman yang udah gay.
      Jadi saya pikir, faktor pertemanan ini yang makin mempengaruhi dirinya…

    • wah, betul nih, aku punya temen (tetangga pacar ane dulu, tinggal di surab*ya) yg tadinya normal, tp gara2 temen sekelasnya lesbi dan suka sama dia, dia hampir ikut2an lesbi -_-
      karna waktu itu saya peduli, tiap hari keduanya (si temen ane dan yg suka ama dia) ane ajakin smsan terus, pelan2 ane berusaha sadarin, dan alhamdulillah menurut penuturan temen saya itu td, yg suka ama dia skrg udah tobat jd pribadi yg lebih baik, temen ane jg udah sadar, gatau lg kalo skrg sih, udah 5 tahun yg lalu soalnya, sempet jg dikasih tau ternyata di sekolahnya banyak jg yg lesbi (sempet shock pas dikasih tau), dan saya rasa ada benarnya kalo dibiarin, perilaku tersebut dapat menular, aplg cewe sama cewe itu yg paling mudah punya potensi buat lesbi karna cepet akrab, dan orang memandang sesama cewek gandengan tangan jg normal kan?
      tp dr kejadian tersebut, saya pribadi dapat menyimpulkan, lesbi itu dapat disembuhkan dengan bantuan orang sekitar, dengan dorongan dan support dr orang sekitar, pada saat saya masih smsan, saya tau bahwa ternyata si cewek yg suka temen ane itu anak yg broken home, dengan ayah yg galak, dll
      bahkan si cewe sempet lari dr rumah…
      waktu itu saya dorong dia untuk pulang, dan minta maaf ke ortunya, terima aja kalo dimarahi,
      ya Alhamdulillah endingnya bahagia 🙂
      semoga mereka tetep bahagia dan normal hingga skrg, karna sudah 5 tahun, dan saya jg udah lost contact ama yg suka ama temen ane itu 🙂

  77. araaminoe says:

    Tapi mohon untk tdk mendiskriminasikan mrk, bgmnpun mrk jg manusia. Contoh kecil mendiskriminasikan mrk adalah memandang mrk dgn wajah menceomoh, ngerasani mrk, men judge mrk dr tmpk luarnya saja, atau ini yg saya khawatirkan bhw merasa diri adalah lebih baik atw lebih tinggi dr mrk. Ingat manusia tdk ada yg sempurna sebaik apapun manusia itu. Klo pun ada niatan untk “meluruskan” mrk kmbl, saya sangat memohon untk dilakukan dgn niatan tulus dari hati bkn krn ego mrs paling benar. Kita hanyalah manusia biasa. Kita semua jg bisa salah dan mereka jg.
    Terima kasih dari hati asmie untk semua.

    • Sepakat, mbak Asmie. Seperti yang telah saya sampaikan di jurnal sebelumnya:

      Seorang muslim yang hanya mengecam atau menghukum atas tindakan kaum LGBT adalah kurang bijaksana, yang malah justru akan menjauhkan mereka dari seruan agama. Semakin banyak yang mengecam mereka, hanya akan membuat solidaritas diantara mereka semakin kuat, dan akan semakin sulit mereka untuk dapat disembuhkan.

      Namun demikian, seorang muslim juga jangan melakukan pembiaran sehingga mereka bertumbuh dengan liar.

      Bentuk pengakuan terbaik kepada para pelaku homoseksual adalah mengakui bahwa perilakunya menyimpang. Kemudian mendukung / membantu mereka untuk bisa sembuh dan kembali lurus pada kodratnya. Bukan malah memberikan motivasi untuk tetap mengidap perilaku menyimpang tersebut dan dibenarkan atas nama HAM. Jadi, fokusnya adalah pembinaan yang baik, sesuai seruan-Nya pada QS.16:125

  78. putrijeruk says:

    Beneran baru tau teori gen gay.. :O
    Kalo kata ibu aku, itu ya cobaan dari Allah untuk mereka. Mereka (gay) harus menahannya, bukan malah pasrah. kalo meyakini itu sebagai bawaan jatohnya jadi pasrah..

    • Betul sekali, itu ujian keimanan.

    • Diki says:

      Benar sekali, itu semua adalah ujian, Tuhan ingin menguji seberapa kuat hambanya menahan perilaku yg dilarang. Namun menyukai sesama jenis secara emosional bukanlah kesalahan, asalkan tidak scr seksual

    • chibbell says:

      @diki benarkah mencintai sesama jenis scr emosional bukan suatu kesalahan? mohon refrensi ayatnya dlm al qur’an.. Jika tdk ada refrensi ayat dlm al qur’an maka akan dianggap opini pribadi ..terima kasih

  79. jarwadi says:

    penjelasannya seperti itu ya, aku sebelumnya memang mengira kalau genetik 🙂

    • Gen homoseksual terbukti: tidak bisa dibuktikan, sehingga informasi yang berisi gay adalah bawaan itu sesungguhnya adalah HOAX. Peneliti yang gay telah menimbulkan hoax gen homoseksual, hasil penelitiannya syarat akan kepentingan kaum gay sendiri.

  80. thetrueideas says:

    singkatnya, perilaku sodomi itu menularkan kecenderungan akan seks sesama jenis, titik!

    setuju mas? 🙂

  81. suararaa says:

    bagus pak tulisannya mencerahkan..
    betul memang gay itu bukan keturunan, gen, bukan pula penyakit seksual atau penyakit psikologis..
    gay itu karna lingkungan..
    jika kita membiarkan gay gay bertebaran dan semakin berani, bukan tidak mungkin mereka akan semakin menyebarluaskan nafsunya….

  82. terima kasih telah membagi tulisan yang sangat bermanfaat ini Pak Iwan

  83. nurme says:

    Aamiin.. Aamiin.. Aamiin YRA
    Semoga segera mendapat hidayah secepatnya
    *makin miris dengan kondisi sekarang ini

  84. abi_gilang says:

    Akang hanya ikut mendukung atas kesabarannya menghadapi “perang pemikiran” seperti ini.

    • Terimakasih, kang Abi Gilang. Karena para JIL-ers telah memperkosa ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah dan memanipulasi akal, maka tugas kita adalah melakukan kritik terus menerus agar ideologi JIL hanya berkembang di lingkungan fauna saja.

  85. Dyah Sujiati says:

    Manusia yang terlahir normal, oleh Tuhan memang dibekali dua hal : akal dan nafsu. Kalau menjadi gay itu (dipaksakan) dianggap sebagai fitrah, ia-nya tergolong nafsu. Dan nafsu adalah sesuatu yang harus dikendalikan. Kan dibekali juga dengan akal. Nah, tinggal mau pakai akal apa kagak tuh?

  86. Sudah pernah saya bahas cukup lama dulu di multiply Pak. Gen homoseksual tidak terbukti. Peneliti yang menimbulkan hoax gen homoseksual ini syarat akan kepentingan kaum gay sendiri. Jadi dia tidak netral.

    Memang susah kalau kita berbeda persepsi dan cara memahami sumber meski pun sumber itu sudah sangat jelas. Di sinilah sebenarnya peran Tuhan dalam memberikan hidayah/petunjuk kepada manusia. Bila dia sendiri justru bebal terhadap apa yang telah dikemukakan secara ilmiah dan fitrah. Maka artinya dia belum mendapatkan petunjuk dan pemahaman.

    Yang jelas manusia itu diberikan potensi ilham/fitrah baik yang buruk maupun yang baik sesuai:

    “Maka DIA mengilhamkan (kepada setiap jiwa) jalan dosanya dan jalan taqwanya.”

    Nah, itu semua kembali kepada kita, karena kita sebagai makluk manusia diberikan kebebasan untuk memilih di antara kedua jalan tersebut dengan segala konsekuensi.

  87. jaraway says:

    naaaaaaaaah ini yang saya cari dari kemarin2 pak..
    apa iya gay itu memang bener ada yang ‘dari lahir’

    bukan semata2 lingkungan..

    • Tidak mungkin penciptaan Allah bertentangan dengan fitrah yang di firmankan-Nya.

    • Tim-Tom says:

      Saya salah satunya merasa suka sejenis, tanpa ada unsur semisal disodomi, atau pengalaman lain dibalik semuanya. Tp sejak kecil saya merasa nyaman dipangkuan seorang lelaki, hingga dewasa saya tak pernah tertarik terhadap lawan jenis. Dan banyak di dunia ini spt saya. Seiring berkembangnya tekhnologi, satu sama lain sering curhat antar sesama. Dan menurutku, jika seseorang itu terlahir normal, walaupun ada pengalamannya semisal disodomi saudara atau pelecehan sexual saat masa2 kecilnya, jika mmg benar2 seseorang itu terlahir normal, ttp tidak bisa menjadi seorang gay. Tapi jika ada bibitnya dibawa lahir, hal itu bisa terjadi.
      Jadi, jika seorang menulis tentang gay, sementara dia bukan gay (setidaknya bisex) itu sama saja menulis yg tidak diketahuinya.

      Seandainya dunia ini adalah dunia Homoseksual, dan yg normal adalah yg terkucilkan dan yg Homoseksual berkata spt isi blog terhadap yg normal. Lantas apakah yg normal (menyukai lawan jenis) ini secara keseluruhan bisa jadi gay?! Saya rasa tidak bisa sama sekali. Jgnkan utk gay, utk bisex aja rasanya tak mgkn. Secaranya yg normal tdk ada bibit2 spt itu bawaan lahir.
      Jd menurut saya ttg hal suka sejenis ini, semuanya ada bibit bawaan lahir. Jika ada ngaku2 krn disodomi saat kecilnya, atau penyimpangan sex lainnya saat usia dini, buat saya itu nonsen. Itu hanya pengakuan seseorang krn dibarengi malu saja menurutku. Kalo lahirnya normal secara bathin, palingan seseorang itu trauma. Bukan jadi melakukan. Tp kalo mmg ada bibit rasa suka sejenisnya, tanpa disodomi wkt kecil pun, setelah dewasa rasa itu akan muncul.
      Menurut saya perbandingan suka sejenis dalam diri seseorang ada 50:50 artinya dia suka sejenisnya dan jg suka lawan jenis bisa disebut bisex. Ada 60:40 dan sebaliknya dan ada 100% gay (benar2 tidak suka lawan jenis)
      Hal ini sering saya tanya2 di medsos, krn saya jg spt itu. Tapi maaf, saya tidak penggila sex, saya tetap berusaha bersembunyi dibalik rasa yg abnormal itu. Tp jujur dari awal saya merasakan seperti itu.

    • Buat Tim-Tom:
      Tetaplah seperti itu, tidak melakukan penyimpangan seksual seperti homoseksual, intinya anda bisa sembuh. Seperti orang juga punya bakat terkena penyakit kanker, dan sebagainya.

      Kalau menurut Tim-Tom mengenai logika: orang yang memahami adalah orang yang mengalami, itu terlalu lemah. Bandingkan dengan logika: berapa banyak dokter kandungan pria yang ga pernah hamil tapi mereka paham kondisi ibu hamil dan melahirkan.

      Sekali lagi anda bisa hidup normal asal bersungguh-sungguh, anda bisa baca di sini http://widodowirawan.com/2015/07/11/panjang-lebar-mengenai-orientasi-seksual/ dan silakan bergabung dengan grup serta curhat sama orang-orang yang sudah tobat. Semoga Tuhan memudahkan.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: