Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Pro Kontra Kolom Agama di KTP

[Dialog] Pro Kontra Kolom Agama di KTP

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

–: Kolom Agama di KTP bukan hanya untuk administrasi pernikahan dan kematian saja, tapi untuk …

.

Bismillah …

Malam itu Kyai Maksum kedatangan dua orang tamu yang merupakan tetangganya sendiri, yaitu Mang Usil dan Abu Nadia. Mereka bertiga kemudian larut membahas isu-isu terkini.

“Kemaren di tipi-tipi ada tayangan debat dengan tema “Pro Kontra Kolom Agama di KTP”. Nonton gak, Kyai?” kata Mang Usil mengawali pembicaraan. Yang dimaksud acara di televisi adalah debat di TV One[1] dan JakTV[2].

“Alhamdulillah, nonton. Lha menurut ente-ente pade gimane? Penting gak kolom agama dicantumin di KTP?” balas Kyai Maksum.

“Penting banget, Kyai,” jawab Abu Nadia.

“Yaaa.. gak penting-penting amat sih, Kyai,” jawab Mang Usil.

“Kenape, Sil?” tanya Kyai Maksum kepada Mang Usil.

“Beberapa waktu lalu, kalangan penganut agama leluhur dan aliran kepercayaan menggelar pertemuan di Jakarta, diantara yang hadir ada penganut Sunda Wiwitan, Boti dari NTT, Bantik Sulawesi Utara, Kaharingan Kalimantan, dan lain-lain. Mereka mendesak pemerintah mengkaji ulang UU Administrasi Kependudukan, dan meminta menghapus kolom agama pada KTP karena dianggap sebagai bentuk diskriminasi kepada para penganut aliran kepercayaan dalam hal mengurus hak konstitusi mereka.”

“Diskriminasi gimane?”

“Masih banyak diantara mereka yang kesulitan mengakses program pemerintah akibat dipersulit dalam pengurusan KTP karena gak mau nulis salah satu dari 6 agama yang diakui pemerintah. Tidak adanya KTP bikin mereka gak bisa memperoleh surat nikah, akta kelahiran anak, mendapat layanan kesehatan dan bantuan ekonomi, serta pengurusan perizinan pemakaman.”

“Trus kok KTP-nya disalahin? Kalo ntar ada juga mereka yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamins, trus minta kolom gender dihapus, alasannye laki ma perempuan kan setara. Kemudian muncul lagi usulan ngehapus juga kecamatan, kodya / kabupaten dan propinsi. Alasannye ini negara gak boleh ngotak-ngotakin rakyatnye, jadi aman kalo ada razia suporter bola. Nah.. jadinya KTP-nye polosan aje, kayak kartu wasit sepakbola. .. hahahaha”

“Yaa… gak gitu-gitu juga sih, Kyai”

“Ape ente gak sadar kalo ini test case dari segelintiran orang? Yang kritis doong, Sil. Kalo menurut ane diskriminasi atas nama agama bukan alasan yang kuat untuk nge-hapus kolom agama.”

“Koh Ahok aja sampe ikut dukung alasan kami, beliau bilang kalo di Malaysia tuh gak ada kolom agama di KTP” [The Jakarta Post]

“Ente jangan ketularan ngawur dah, Sil, di Malaysia itu ada kolom agama bagi mereka yang beragama resmi. Ane yang sering ke sana pernah lihat tuh,” kata Kyai Maksum

Abu Nadia langsung buka ipad-nya, ngeluarin jurus search google image dengan kata kunci: kad pengenalan malaysia. Hasilnya banyak keluar foto KTP Malaysia yang ada tertulis agama di bawah foto pemilik KTP.

“Nih lihat, mang … banyak contohnya,” kata Abu Nadia kepada Mang Usil.


Sumber foto[3]

“Naah… bener khan kate ane. Di Malaysia yang gak dicatat agamanye dalam KTP itu adalah mereka yang beragama selain agama resmi. Malaysia sangat berkepentingan mengatur kehidupan beragama di sana. Salah satunya lokalisasi judi di Kuching. Yang beragama Islam dilarang masuk ke sana. Sangat jelas kolom agama di sana diperlukan untuk banyak kepentingan yang gak jauh beda dengan di negeri kite. Ane yang denger koh Ahok bilang seperti entu … sakiiiit rasanye,” kata Kyai Maksum sambil memegangi dadanya.

“Tapi banyak negara-negara maju yang telah menghapus kolom agama dari KTP”

“Itu khan urusan mereka, Sil. Negara kite tentu punya aturan yang berbeda dengan mereka, ngapain kite mesti ikutan nyamain demi memenuhi keinginan segelintir orang yang belum tentu cocok diterapin di sini.”

“Bagaimana kalo misalnya gini … di tempat yang situasinya sedang konflik antar pemeluk agama, ada upaya sweeping umat agama A oleh preman-preman yang beragama B, ngeri juga saat ada razia KTP”

“Lahh… penyebab konflik khan bukan soal ada ato kagak adanye kolom agama di KTP, kok jadi KTP yang disalahin”

Mang Usil merasa puyeng debat dengan Kyai Maksum yang dianggapnya kolot pemikirannya. Kemudian Abu Nadia mencoba angkat bicara:

“Gini lho, Mang Usil. Kita harus pandang urgensi keberadaan kolom agama pada KTP atas dasar 3 hal yaitu tertib administrasi, legalitas, dan manfaat; yang semuanya saling terkait secara erat menyangkut hak-hak seorang warga. Keberadaan kolom agama pada KTP ini menjadi sangat penting karena memang pada dasarnya masalah agama di negara ini diatur oleh negara. Banyak masalah yang memang memerlukan legalitas terhadap agama yang dianut oleh warga negara di sini.”

“Lha paling-paling alasannya karena buat administrasi kematian dan pernikahan doang, ya cuman itu-itu aja alasannya,” kata Mang Usil.

Melihat Mang Usil makin ngawur bicaranya, Kyai Maksum jadi tidak tahan untuk segera menanggapinya.

“Ente mikirnya jangan dangkal doong, Sil, yang tahunye cuman buat entu doang. Tiap taon ente terima THR, gak? Nah, itu dasar validnya darimane? Ente tahu pentingnya remisi khusus bagi napi di hari besar keagamaan? Nah, itu dasar validnya darimane? Selain soal urusan administrasi pernikahan dan prosesi kematian; juga penting buat sumpah jabatan, sumpah dalam sebuah sidang pidana / perdata, dan lain-lain yang itu semua butuh dokumen sah. Hmm… trus ada lagi tuh, kolom agama di KTP itu perlu buat bukti valid kalo ada yang mau adopsi anak di panti asuhan atau posko korban bencana alam, contohnye jika anak muslim maka orangtua yang mau mengadopsi juga kudu muslim. Masih banyak contoh laen, Sil, kalo ente minta dijabanin.”

“Betul, kyai. Kebutuhan-kebutuhan tersebut terutama yang menyangkut hak perdata sangat penting dibuat dalam sebuah dokumen administrasi yang legalitasnya diperlukan. Apalagi dari perspektif hukum baik pidana/perdata, kepastian hukum itu salah satunya harus dicatat secara tertulis (lex scripta) berdasarkan bukti tertulis yaitu KTP. Jadi, keberadaan kolom agama pada KTP ini menjadi sangat penting,” kata Abu Nadia.

Kemudian lanjut Abu Nadia …
“Gini, mang … Undang-Undang Administrasi Kependudukan 2013 Pasal 64 ayat 1 berbunyi setiap warga negara harus memilih satu di antara enam agama yang ia akui sebagai identitas dirinya. Dalam revisi terhadap UU Administrasi Kependudukan sebelumnya sempat diusulkan agar warga ‘dibebaskan’ mencantumkan atau tidak agama di KTP. Perdebatan soal kolom agama di KTP sudah selesai dengan disetujuinya UU Administrasi Kependudukan di paripurna DPR 26 November 2013. DPR telah mengesahkan UU Administrasi Kependudukan yang mana kolom agama di KTP Wajib di-isi kecuali diluar 6 Agama. Pemerintah mempersilakan penganut kepercayaan untuk mengosongkan kolom agama apabila tidak sesuai dengan keyakinannya. Kalo yang beragama resmi itu gak ngisi kolom Agama maka resiko ditanggung sendiri kala berbenturan dengan urusan administrasi yang mempersyaratkan validitas agamanya.”

“Lantas gimana solusinya bagi mereka yang masih nerima perlakuan diskriminatif saat ngurus administrasi?”

“Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebenarnya sudah berupaya mencegah diskriminasi bagi warga negara Indonesia yang penganut kepercayaan. Pasal 61 undang-undang itu mengatur penduduk yang agamanya belum diakui atau bagi penghayat kepercayaan, tetap dilayani kok, meski kolom agama dalam KTP-nya dikosongi. Pasal 28E dan pasal 29 UUD 1945 mengatur kemerdekaan beragama dan berkeyakinan. Kemudian pasal 28I ayat 3 UUD 1945 tentang identitas budaya dan masyarakat adat, serta Pasal 28I ayat 2 UUD 1945 tentang bebas dari diskriminasi. Semua aturannya sudah benar dan jelas bagaimana menciptakan masyarakat yang harmonis dan nyaman tanpa diskriminasi. Naah, kalo kenyataannya ada yang masih mendapat perlakuan diskriminatif … ya oknum tersebut laporin ke pihak yang berwenang dong … jangan nyalahin KTP-nya,” kata Abu Nadia.

Melihat Mang Usil diam saja dan sepertinya masih belum terima dengan penjelasan yang disampaikan Abu Nadia, akhirnya Kyai Maksum terpaksa mengeluarkan jurus pamungkas: jurus jail-nya.

“Sil, taon depan jadi ente nikah?”

“Pangestunya, kyai, insya Allah tahun depan saya jadi nikah”

“Ente Islam khan? Ape ente kagak kasihan ame petugas KUA yang punya tanggung jawab kudu nikahin orang Islam dengan orang Islam? Kalo nikahin pasangan yang beda agama, entu petugas KUA takut ikut nanggung akibatnya ntar di akherat.”

“Maksudnya kasihan gimana, kyai?”

“Misal nih ya… taon depan kolom agama jadi diilangin di KTP… lha karena gak cukup yakin ama omongan ente yang ngaku Islam saat daftar nikah di KUA, entu petugas terpaksa ngeliatin ‘burung’ ente, mastiin ente udeh disunat ape belon, buat ngebuktiin ente muslim ape kagak.”[4]

Gubrak!!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
15.12.2013

.
————–
Catatan kaki:

  1. Program TVOne: Pro Kontra Kolom Agama di KTP
    Menghadirkan narasumber: Dewi Kanti (Penganut Sunda Wiwitan), Ulil Abshar Abdalla (Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal/JIL), Irman (Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil), dan Jazuli Juwaini (Anggota Komisi II DPR Fraksi PKS) yang dipandu oleh Alfito Deannova Gintings.
  2. Program JakTV: Pro Kontra Penghapusan Kolom Agama di KTP
    Menghadirkan narasumber: Azwi Warman Adam (Sejarawan LIPI), Romo Benny (SETARA Institut), Jazuli Juwaini (Anggota Komisi II DPR Fraksi PKS) dan Fahmi Salim (Litbang MUI) yang dipandu oleh Adam Lubis.
  3. ID Kad: koding-kn.blogspot.com/2011/10/evolusi-kad-pengenalan-kepada-mykad.html
  4. Soal jurus jail-nya Kyai Maksum, ia memandang dari sisi syariat bahwa sunat bagi umat Muslim laki-laki adalah WAJIB hukumnya. Petugas KUA akan kesulitan membuktikan kalau tidak ada bukti tertulis (azas lex scripta) bahwa calon pengantinnya itu Islam.
    Sedangkan bagi non-muslim adalah tidak ada kewajiban secara tertulis dalam kitab sucinya untuk bersunat, kecuali contoh yang dilakukan nabi-nya yang sunat. Bersunat bagi non-muslim bersifat anjuran bahwa sunat adalah baik bila ditinjau dari segi kesehatan. Sehingga banyak sekali yang ber-sunat setelah melihat sisi positifnya.

Advertisements

73 Comments

  1. ainun says:

    izin nyimak gan…keep posting,
    by the way klo gak ditulis agamanya, matinya nanti mau dikubur , dibakar, atau digemanain ya,hehee

  2. Alasan pemerintah Arab Saudi tidak menyediakam kolom agama adalah karena penduduk dan warga negara Arab Saudi 100% adalah Islam. Artinya pencantuman kolom agama di KTP tidak diperlukan.

    Warga negara Arab Saudi memang 100% Islam berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyuruh mengusir orang Musyrik dari Hijaz. Hal ini dilaksanakan pada masa Umar bin Al Khathab setelah mendengar pendapat majelis syura para sahabat.

    Bukankah di Arab Saudi juga ada non Muslim?
    Mereka yang berada di Arab Saudi tidak seluruhnya warga negara-penduduk. Orang Non Muslim tidak diizinkan menjadi warga negara Arab Saudi. Bahkan tidak ada rumah ibadah non Muslim di Arab Saudi sebagai kebijakan resmi negara.

    Mereka yang tinggal sementara di Arab Saudi, misalnya diplomat atau pekerja, memiliki identitas pendatang atau izin yang di dalamnya tercantum agama yang dianutnya. Hal ini berguna untuk mencegah orang non Muslim memasuki Tanah Haram.

  3. Ucapan Mendagri:
    “Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memperbolehkan semua warga negara yang memiliki agama atau kepercayaan di luar Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu untuk mengosongkan statusnya di kolom agama pada KTP.”

    http://nasional.news.viva.co.id/news/read/555608-mendagri–kolom-agama-di-ktp-boleh-dikosongkan

    Kita tanggapi dengan humor:

    Masala kolom agama yang saat ini tengah ramai diperdebatkan, akhirnya berdampak pada kehidupan masyarakat di salah satu RT yang salah satu warganya tengah mengalami musibah.

    “Lapor Pak RT, barusan ada warga kita yang kebetulan tinggal seorang diri dan tidak punya keluarga meninggal,” lapor petugas Hansip kepada Ketua RT.

    “Mari kita urus jenazahnya, segera dimandikan dan disholatkan,” pinta Ketua RT.

    “Tapi dia bukan beragama Islam Pak,” jawab Hansip.

    “Oh, kalau begitu bawa saja ke gereja,” ujar Ketua RT.

    “Anu….Pak RT, dia juga bukan kristen,” jawab Hansip.

    “Ya sudah, diurus ke Pura saja kalau begitu!” tegas Ketua RT.

    “Waduh….! Dia juga bukan orang Hindu Pak,” jawab Hansip sambil garuk-garuk kepalanya yang plontos.

    “Kalau begitu, carikan biksu saja buat urus dia,” saran Ketua RT.

    “Masalahnya Pak, dia juga bukan orang Budha,” jelas Hansip.

    “Lha….! Terus agamanya apa?” tanya Ketua RT dengan herannya.

    “Masalahnya, kolom agamanya kosong Pak!” seru Hansip.

    “Oh, kalau begitu bawa saja ke Mendagri. Itu kan kerjaan mereka,” pungkas Ketua RT dengan entengnya.

  4. dewiidew says:

    itu ada kok agamanya… di bawah foto tercantum tulisan ISLAM…

  5. Dzulfikar says:

    gak kepikiran bisa sampai sejauh ini manfaat kolom agama di KTP. thanks

  6. sunarno2010 says:

    hanya untuk kepentingan segelintir orang, tapi seolah-olah sangat besar, logika yang sering dibesar-besarkan oleh orang-orang liberal

    • Ada yg koplak bilang gini:
      “Sereman mana sama orang yang kolom agamanya isinya ‘A’, tapi kelakuannya kaya ‘Z’?”‘

      Padahal KTP itu identitas, bukan pengukur perilaku 🙂

  7. Ani says:

    Sudah sy duga memang pelintiran media. Entah yg pertama medianya punya siapa. Dengan kepopuleran JokoHok spt skrg, banyak pihak2 yg senang hati jegal. Moga2 jelang 2014 kita makin cerdas….tdk terpengaruh oleh lemparan berita tdk bermutu.

  8. debapirez says:

    Sebenarnya yg memanfaatkan isu penghapusan kolom agam ya….JILer & simpatisannya itu. Mereka “memanfaatkan” nama Ahok, yg saat ini bersama Jokowi dipandang sebagai setengah dewa, supaya banyak yang dukung ide mereka.
    Nyatanya setelah diklarifikasi, hasilnya ya Ahok tetep mendukung kolom agama.

  9. azzahravoice says:

    oalah, saya malah baru tahu ada pro kontra ini, T.T
    saya sendiri lebih sreg kalau kolom agama tetap ditulis

  10. lieshadie says:

    Lama – lama orang jadi semau gue…padahal agama adalah aturan yang paling baku di dunia,,,kalau di identitas diri dihilangkan ? Apa jadinya dunia …

    Suka pantengin diskusi di blog ini Pak Iwan…

  11. danirachmat says:

    Saya jadi punya foto muka orang yang diwakili oleh Mang Usil Mas. Hihihi..

  12. kasamago says:

    ironis, KTP yg gak tau apa2 jadi yg dipermasalahkan..
    ato msh ttp diributkan ttg penting g pentingny kolom agama, jln netralny ket agama pake fitur QR code ato barcode.

    smg polemik ttg kasus ini bs sgera diselesaikan, n smua pihak mendapat penjelasan n sosialisasi yg benar dr pihak yg bertanggung jawab.

  13. enkoos says:

    Cak Iwan, coba hubungi pak Ahok (baik lewat email atau sms) untuk menyanggah komentarnya pak Ahok bahwa Malaysia tidak ada kolom agama di KTP Malaysia. Sekalian beri argumen tentang pentingnya kolom agama di KTP.

    Kalau belum punya alamat emailnya nomer hapenya, ntar aku kasih lewat japri.

    Ini kan masukan bagus untuk dia. Tidak ada manusia yang sempurna dan bagaimanapun rekam jejak pak Ahok jauh lebih baik ketimbang rata rata pemimpin lainnya. Berapa banyak duit (APBD) yang diselamatkannya dari garukan para koruptor? Program2nya banyak yang menyejahterakan rakyat meskipun tak populer dan sering dihujat orang.

    • Saya tidak punya alamat email dan nomor hape-nya.
      Tapi sebelum bikin jurnal ini, saya sudah mencoba mengingatkan semuanya termasuk Pak Ahok dengan cara mention beliau lewat twitter (semoga beliau baca) :

      https://twitter.com/eagle_iwan/status/411743216975609856

    • enkoos says:

      Ada kemungkinan gak dibaca.
      Tapi kalau sms dan email, berdasarkan pengalamanku selalu dibaca dan sering dibalas.

      Insya Allah aku japri deh alamat emailnya.

    • Siip. Monggo japri aja, mbak Evia, di-PM fesbuk yo iso.
      Siapa tahu beliau-nya khilaf karena mendapat informasi yang salah dari jubirnya.

    • Alhamdulillah, sudah kukirim ke beliau. Kita lihat perkembangannya besok.

    • Saya barusan ngobrol dg Mas Edi/@eae18 (jurnalis), beliau BBM-an langsung dengan Pak Ahok, ternyata pers salah nulis (sengaja/tidak?).
      Kata Pak Ahok: “Contohnya di Malaysia, yang non muslim boleh tidak ada kolom agama, tapi yang agama Islam harus ditulis karena berkaitan dengan penerapan syariat”

      Dipelintir oleh pers menjadi: “Contohnya di Malaysia, tidak ada kolom agama” *doooh….*

      Tadi saya tanya ke Mas Edy, kok belum ada yang merilis berita klarifikasi Pak Ahok?
      Kata Mas Edy: “ya krn gak konfirmasi ulang. Nanti sy tulis beritanya”.

      Sila baca obrolan saya di Twitter sebelah kiri blog ini.

    • enkoos says:

      Nah kan, itu perlunya nanya langsung ketimbang menghakimi, apalagi sosok seperti pak Ahok.

      Media emang kurang ajar, gak dimana mana sama saja, menyesatkan dan bikin pembodohan.

    • Sebenarnya saya juga rada curiga, yaitu Pak Ahok gak punya kewenangan apa-apa soal KTP ini, kecuali Mendagri dan DPR, tapi anehnya kok diwawancarai.
      Begitu diwawancarai, hasilnya dipelintir, dan 2 hari ini dijadikan senjata banyak media untuk menjatuhkannya.

      Nanti setelah rilis beritanya, akan saya update jurnal di atas. Mang Usil (dalam obrolan di atas) itu gak salah, sebab dia ngambil sumber dari media ternama The Jakarta Post 🙂

    • enkoos says:

      Media ternama bukan tolok ukur sebuah media yang baik cak Iwan.

    • Coba mbak Evia simak di sini:
      Ditentang Ormas Islam, Ahok Luruskan Pernyataan Soal Kolom Agama di KTP [Tribun News]
      Selasa, 17 Desember 2013 21:23 WIB

    • enkoos says:

      Nah itu aku sepakat.

      “Ahok mengatakan, di Malaysia hanya agama Islam yang tercantum dalam KTP, sementara non Islam tidak dicantumkan, sehingga hanya Hukum Syari’at yang berlaku bagi KTP yang mencantumkan kolom agama Islam, sementara agama lain diterapkan hukuman sesuai hukum positif yang berlaku di Indonesia.”

      Diterapkan sesuai penganut agamanya masing masing. Yang beragama Islam diterapkan syariat Islam, yang korupsi dipancung, misalnya. Matek lo para koruptor.

      Bagaimanapun juga aku lebih suka kalau pak Ahok yang jadi pemimpin karena rekam jejaknya udah keliatan, terbukti jelas selama jadi bupati di Belitung yang mayoritas Islam, kesejahteraan rakyat betul betul diperhatikan.

    • enkoos says:

      Coba tonton channel PemprovDKI berikut ini, mulai menit 13:00.

  14. Identitas pribadi menurut pendapat saya bersifat unik dan penanda seseorang dan mempunyai nilai, jadi kenapa harus malu atau ditutupi, bukankah makin liberal seharusnya makin terbuka dengan identitas. Status pernikahan, agama, usia, alamat itu semua saya ibaratkan Id-tag person layaknya sebuah barang di toko, dibutuhkan barcode, dan kelengkapan informasi menjamin konsumen. Nah, kita selaku pribadi yang berhubungan dengan kepentingan pribadi atau lingkungan, pasti membutuhkan semua itu, Dengan menghilangkan satu identitas yang dibutuhkan berarti akan berkurang sebuah nilai. Kembali bila saya sebagai penjual, maka filosofinya saya tidak perlu malu menjual barang yang tidak laku, bukankah yang dicari konsumen toko yang lengkap ? Jadi yang banyak dan sedikit, tetap mlengkapi tidak perlu diributkan atau malah menghilangkan identitas. BTW kemajuan id-tag person masa depan mungkin saja teknologi RFID diterapkan kepada manusia, siapa tahu ?? maaf sedikit OOT tapi ini hanya beda sisi pandang saja.

    • Yup….dan seharusnya kalau seorang semakin liberal memang dia harus makin toleran dan terbuka. Tapi sayang liberalis banyak yang ekstrim sehingga dia tiada bedanya dengan orang2 ekstremis agamis.

  15. Saya pribadi berpendapat, menghilangkan kolom agama akan menyulitkan proses administratif dan hubungan sosial si pemilik KTP itu sendiri. Di samping itu, integritas seseorang bisa kelihatan di situ. Ngakunya agama A, tapi kalau tidak mengamalkan perintah A, maka integritasnya dipertanyakan. Kalau naruh aja bisa lupa, gimana kalau gak naruh sama sekali?

  16. Misalnya kolom agama di hapus, ,Terus ada TKI yang meninggal di negara yang bukan beragama islam (ambil contoh nya taiwan) masak mayat nya mau di kremasi seperti penduduk sini sech… Padahal si mayat muslim. Ach ngeri ngebayangin nya
    Saya jelas gak setuju kalo kolom agama di ilangin

    • Jelas ngeri banget ya, mbak Yani.
      Kita tidak bisa menyolatkan orang yang tidak jelas agamanya. Kalo ternyata mayatnya non mulsim, malah haram hukumnya menyolatkan. Jadinya dibiarkan saja karena identitasnya gak jelas.

  17. Raf says:

    Beberapa taun lalu pas bikin KTP saya ditanyain sama petugas kelurahan, agamanya apa? Saya jawab saya gak beragama, pak. Teteup dia kukuh ngeliat agama dari fotokopi kartu keluarga. Sambil melototin saya, terus petugas satunya nyeletuk, wah kafir nih. Saya cuman bisa nyengir. Beberapa temen saya juga ngalamin hal yg hampir sama. Lalu menyoal kolom agama di KTP, liberalisme dan segala tetek bengek gerakan anti-nya, sabodo teuing. Mau ada atau nggak ada, mau diisi atau dikosongin, kagak ngaruh buat idup saya. Gak ada KTP juga gak penting buat saya mah, negara aja yg bikin peraturan segala macem ginian kan (Eh, sori, kebawa prinsip anarkisme dikit). Tapi gak tau juga ya kalo buat kalian mah. Silakan anggap aja ini katarsis, setelah perlakuan gak ngenakin yg diterima saya dan beberapa temen lainnya yg juga gak beragama (Iya, kami nyembah Tuhan, bukan malah nyembah agama), kami ngerasa administrasi itu cuman sekedar dalih buat nge-diskriminasi, gitu. Lagian juga kalo pada akhirnya kolom agama dikosongin, saya yakin banyak kok yg bakal ngosongin itu (Ini kalo ngeliat kondisi di sekitar saya, dimana kebanyakan ngaku dirinya gak beragama),

    PS. Setelah saya nanya kenapa temen-temen pada mau ngosongin kolom agama, mereka bilang mereka malu sama kelakuan segelintir orang yg ngelakuin kekerasan atas nama agama yg mereka anut. Ini PR lho buat para pembela agama (sebelum agama diperkirain punah sekitar taun 2041: http://techno.okezone.com/read/2013/07/28/56/843613/agama-akan-punah-pada-2041). Kelakuan barbar atau damaikah yg hendak mereka tunjukkan?

    PS Again. Pendapat itu kayak lobang pantat, sebau apapun, setiap orang pasti punya satu. Termasuk komentar asal nyeplos saya dan postingan di blog anda.

    • Silakan, bro Raf. Setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya di blog ini dan bertukar pikiran.

      Dalam jurnal saya di atas sudah tersirat bahwa mengisi kolom Agama adalah pilihan pribadi masing-masing, mau diisi atau kagak resikonya ditanggung sendiri saat berhadapan dengan proses administrasi.
      Negara ini sudah mempunyai hukum tertulis, sebagai warga negara yang baik sudah semestinya berusaha mematuhi hukum tersebut.
      Hukum dibuat untuk menciptakan keteraturan, untuk itu kita perlu apresiasi bagi perancangnya. Namun kalo sekiranya hukum yang diciptakan itu lebih banyak mudharat-nya maka perlu dikritisi untuk di-amandemen.
      Sejauh ini pemanfaatan kolom agama di KTP masih dinilai lebih banyak manfaatnya untuk kepentingan hukum agama, hukum pidana / perdata. Sehingga DPR telah mengetok palu tetap mempertahankan fungsi kolom tersebut.

      Petugas administrasi KTP yang menurut bro Raf melotot itu menurut saya tidak lebih dari melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara yang mengingatkan warganya agar tidak mempersulit diri. Mempersulit diri bisa berakibat kelak mendapat kesulitan pelayanan birokrasi. Dalam hubungan sosial kemasyarakatan, setiap warga tidak bisa dihindarkan dari urusan administrasi.

      Mengenai soal punahnya agama, pertanyaannya: agama mana yang punah?
      Karena kecenderungannya (tren) tidaklah demikian, sila simak berita: Republika ini.

      Kalo ada perilaku penganut agama yang barbar, ya bukan salah agamanya, bisa jadi cara memahaminya saja yang salah atau bisa jadi agama hanya sebagai kedok untuk kepentingan pribadinya.
      Banyak kok disekeliling saya yang hidup damai sampai hari tua dengan memegang teguh agamanya dan menjadikannya sebagai ‘way of life’

    • Bagaimana caranya menyembah Tuhan tanpa agama ya?

    • Raf says:

      Tuhan yg saya sembah bukanlah Tuhan yg terbelenggu dalam konsep-konsep agama.

    • tetap saja, itu agamamu.

    • Raf says:

      Dan itu bukan urusanmu.

    • haha. benar. saya terlalu berlebihan. saya terlalu peduli.

  18. saya tambahin mas: mungkin juga sebagai alternatif kepercayaan asli itu bisa diakomodir di dalam KTP. cuma negara mau nggak? pusing mikir negara.

    • Sepertinya dalam pembahasan RUU Administrasi Kependudukan sudah dibahas, mengingat sampai saat ini ada sekitar 200-an aliran kepercayaan di Indonesia yang terdaftar di pemerintah. Karena sistemnya (secara IT) belum mengakomodasi dan itupun perlu waktu untuk penyesuaian sistemnya, maka diketok palu bahwa mereka (penganut kepercayaan) boleh mengosongkan isian kolom agama, tidak harus dipaksakan di salah satu 6 agama yang diakui pemerintah.

  19. Terus terang untuk diskusi kolom agama ini saya tidak terlalu memantau. Beritanya yang saya baca sekilas, kolom agama boleh dikosongkan. Sehingga mereka yang penganut kepercayaan tidak dipaksa untuk memilih salah satu agama. Menurut saya ini inti permasalahannya, karena ada pemaksaan dari negara sebagai duy bearer kepada warga negara sebagai right holder. WN sebagai pemegang hak kemudian tidak mendapatkan pemenuhan hak i.e nggak dapat KTP, nggak dapat akte, nggak bisa kawin secara legal.

    Kok sekarang ada wacana kolomnya mau dihapuskan? Bukannya cuma berhenti di pengosongan agama aja ya?

    • Tepat sekali, mbak Ailsha, itu akar masalahnya, kelakuan oknum yang punya peluang mempersulit warganya dalam hal urusan birokrasi. Tujuan mempersulit ya jelas larinya ke uang pelicin.
      Undang-undang yang mengatur keharmonisan dan kenyamanan warga negara dalam memperoleh hak-haknya telah diatur. Tidak membuka peluang praktek diskriminatif.

      Sedangkan kalo menghapus kolom agama, maka urusannya jadi panjang. Banyak sekali dampaknya bila dibenturkan dengan UU lainnya yang mempersyaratkan adanya legalitas/validitas. Legalitas proses administrasi tidak bisa disahkan hanya dengan omongan. Dan akan butuh dana besar untuk merevisi berbagai UU tersebut, tentu saja nilai proyeknya tidak kecil. Akan jadi kontra-produktif dan pemborosan besar bila solusinya adalah menghapus kolom agama.

    • Mas, tapi tolong diklarifikasi karena saya google yang keluar Ahok semua. Kolom ini tuh hanya akan dikosongkan atau akan dihapuskan? Kalau dihapuskan per kapan?

      Negeri ini mah kalau urusan pemborosan juara. Anggaran harus habis, kalau gak habis tahun depan gak dapat dana. Sistemnya salah.

    • Tidak ada perubahan besar, hanya petunjuk teknis saja.
      Perdebatan soal kolom agama di KTP sebenarnya sudah selesai dengan disetujuinya RUU Administrasi Kependudukan di paripurna DPR, 26 November 2013 lalu. DPR telah mengesahkan UU Administrasi Kependudukan yang mana kolom agama di KTP Wajib di-isi kecuali diluar 6 Agama. Pemerintah mempersilakan penganut kepercayaan untuk mengosongkan kolom agama apabila tidak sesuai dengan keyakinannya.
      Setelah disahkan DPR bulan lalu, gak tahu kenapa kok diangkat lagi masalahnya minggu kemaren.

      Sumber: Kompas , pada bagian “Disahkan”.

    • Terimakasih informasinya jadi gak bingung lagi saya.

      Diangkat lagi karena belum dihapuskan kali Mas, tapi kalau mau direvisi lagi minta dihapuskan, DPRnya udah pada sibuk kampanye. Jadi dalam waktu dekat ini nggak mungkinlah dihapus.

  20. Wah, makin ke sini pemikiran orang makin liberal aja ya. Rasanya mengikuti kehendak segelintir orang atas nama ‘supaya tidak terjadi diskriminasi’, malah mendiskriminasikan baaanyaaak orang lainnya.

  21. omnduut says:

    Aku pernah baca buku tentang proses autopsi. Jadi ahli medis harus memastikan 100% ‘tubuh’ yang mereka dapatkan (dalam kecelakaan, atau benca alam misalnya) adalah orang yang mereka yakini identitasnya terkait pengurusan jenazah. Jadi mereka gak mau main-main dengan pengungkapan identitas.

    Kukira kurang lebih sama dengan pentingnya kolom agama di KTP. Jika mereka merasa ada perbedaan pelayanan, petugasnya yang harus diperbaiki bukan merubah yang telah ada dan ditetapkan.

    Makasih tulisannya mas 😉

  22. cerita kayak gini boleh terbit ya? bagus ini. cerita pemikiran.
    duilu jaya suprana juga usul kolom agama dihapus dari KTP, tapi ditolak.
    kalo kolom agama dihapus, nanti gak jelas kita nikah sama pasangan muslim atau kafir. gawat lo. nikah beda agama itu gak barokah dan amanah. wanita islam haram nikah sama pria kafir. nikah mereka gak saha. hubungan mereka jadi zina. dosa besar.
    nah, hubungan itu ketahuanm lewat KTP.
    memang ini masalah nikah, tapi lanjutannya ke hubungan keluarga. bukankah keluarga itu unsur masyarakat?
    tahu agama orang itu penting biar bisa menyesuaikan sama keyakinan, toleransi aktivitas. misalnya sama orang kristen jangan tanya “udah sholat belum?” tapi tanya “udah kebaktian belum?”
    semua itu taunya dari KTP.

  23. Ikut Berpendapat dan mngluarkan kajian aahh,,heheh 😀 mnrt kajian saya trhadap Isu tersebut adalah :

    Katanya sih kolom agama dalam KTP akan dihapus dengan alasan agar tidak terjadi diskriminasi antaragama.
    Cek lagi arti “diskriminasi” dalam KBBI: pembedaan perlakuan thd sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb)
    Loh, bukannya dengan ajaran agama yang berbeda, perlakuannya juga berbeda?

    Contoh:
    1. Ditemukan mayat yang di dompetnya ada KTPnya, tapi jauh dari keluarga. Lihat agamanya. Segera urus jenazahnya. Setiap agama punya ajaran yang berbeda tentang pengurusan jenazah.

    2. Ada dua orang mau nikah. Cek KTPnya. Kalo Islam semua, ke KUA. Klo Kristen semua, ke Gereja, dsb. Jangan sampai dengan tidak adanya kolom agama, orang2 bisa lebih mudah menikah beda agama. Dalam Islam, ini dilarang. KUA juga pasti menolak.

    3. Seseorang akan menjadi saksi di pengadilan. Sebelum memberikan kesaksian, hakim pasti mengecek kartu identitas (KTP)nya. Kalo Islam, disumpah di bawah Al Quran: “saya bersumpah sebagai saksi akan memberikan keterangan yang sebenar2nya….”. Kalo Kristen, disumpah di bawah Al Kitab: “saya berjanji sebagai saksi akan memberikan keterangan yang sebenar2nya…”. Hindu: “om atah paramawisesa…”. Budha: dengan dupa.
    Dengan tidak adanya kolom agama di KTP, saksi tersebut bisa saja membohongi hakim tentang agamanya dan bersumpah dengan tidak menyebut nama Tuhannya sehingga bisa seenaknya bersaksi palsu.

    Yah.. Itulah kerjaan kaum sepilis (sekuler, pluralis, liberalis), menganggap semua agama adalah sama, sehingga toleransi lebih terjaga.
    Padahal, justru dengan perbedaan ajaran agama, toleransi akan lebih terasa.
    Bukankah toleransi itu muncul karena adanya perbedaan? bukan begitu Pak iwan?

    • Betul sekali, mbak Ria, toleransi itu muncul karena adanya perbedaan.
      Penghapusan kolom agama itu hanya akan membuka pintu praktek manipulatif, seperti sumpah palsu, nikah bo’ongan, dll.
      Orang-orang liberalis terlalu menggampangkan urusan yang justru makin mempersulit. Dari argumentasi mereka kelihatan kalo mereka tidak paham soal hukum perdata/pidana, apalagi soal hukum agama. Atau memang sengaja punya niat khusus untuk menyesatkan banyak orang.

  24. nurme says:

    Jaman semakin cangging, penduduk juga semakin canggih permintaannya. Ini sih namanya makarep dewe.

    Kalau agama dihilangkan di KTP, akan sulit dalam membuat pendataan. Apalagi jenis kelamin. Tau sendiri nama laki kadang dipake buat perempuan, gitu sebaliknya di negara kita ini.

    Duuh jangan neko-neko napa ya?Sepertinya negara kita sudah memerlukan presiden yang tegas.

  25. nengwie says:

    Ikut menyimak saja saya mah mas Iwan. Hatur nuhuuun buat postingannya.

  26. jampang says:

    jadi ternyata di indonesia banyak “agama” yang dianut warga negaranya tapi nggak diakui yah?

    kenapa mereka nggak mikir untuk memeluk agama yang resmi aja…. biar nggak bingung 😀

    • Ada sekitar 200-an aliran kepercayaan di Indonesia.
      Untuk disebut sebagai agama, salah satu syarat utama-nya aliran tersebut harus mempunyai kitab suci.

      Keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang tepat.
      Untuk mendapatkan informasi, tergantung mereka dekat dengan siapa, untuk memutuskan memeluk agama resmi.

  27. Ilham says:

    ktp nya emang gak bisa disalahin. seperti yang dibilang diatas, kolom agama di kartu identitas banyak fungsi pentingnya. yang harus diatasi mungkin adalah masalah diskriminasi dan dipersulitnya masyarakat. individunya harus punya sikap yang benar terhadap agamanya sendiri dan pemerintah harus lebih suportif dan humanis dalam melayani masyarakatnya.

    • Tepat sekali, mas Ilham.
      Banyak sekali dampaknya bila dibenturkan dengan UU lainnya yang mempersyaratkan legalitas/validitas. Legalitas proses administrasi tidak bisa disahkan hanya dengan omongan: “Ya.. 100% saya Islam”. Dan akan butuh dana besar untuk merevisi berbagai UU tersebut, dan itu jelas sebuah proyek yang nilainya tidak kecil.
      Akan jadi kontra-produktif dan pemborosan besar bila solusinya adalah menghapus kolom agama.
      Padahal akar permasalahannya adalah oknum yang mempersulit masyarakat dalam pelayanan. Itu yang harus diselesaikan, karena UU telah melarang perlakuan diskriminatif.

  28. mas huda says:

    Ternyata manfaatnya buanyak banget ya… suka sama gaya pemaparannya…

    • Terimakasih, mas Huda, semoga bermanfaat ya.
      Jurnal-jurnal pemaparan anti liberalisme dan anti islamophobia di blog ini, insya Allah akan terus (lebih banyak) disampaikan dalam bentuk dialog yang ringan.

  29. anotherorion says:

    selain sik diomongke neng nduwur, menurut aku kolom agama itu penting mas, memang selama ini seolah klo aliran kepercayaan mau gak mau harus memilih salah satu dari agama2 yang lazim di KTP kan waktu membuat KTP, sekarang dengan peraturan baru mereka bisa menyesuaikan sesuai keyakinan masing2.

    klo soal kolom agama menjadi sumber diskriminasi keknya enggak selalu, kolom domisili juga rentan jadi sumber diskriminasi, jajalen kae nek ana tawuran antar suporter bal2an, mesthi nek ana sweeping njuk konangan KTPne domisili wilayah lawan tanding isa di enteke. Gak harus KTP, ben ana bal2an klub solo lawan jogja, daerah prambanan mesthi rawan, sik plat AD (solo) ketar ketir ndak dicegat wong jogja, sik plat AB (jogja) nek megawe neng solo ora bakal wani bali nggawa motore, ndak diremuk nang ndalan, yang salah bukan KTP, bukan plat motornya, tapi tingkat kedewasaan manusianya yang terlalu mengkultuskan golongane

  30. Eka Azzahra says:

    Repot nantinya kalo kolom agama dihapus. Ada-ada aja nih…

    • Banyak sekali dampaknya bila dibenturkan dengan undang-undang lainnya yang mempersyaratkan legalitas/validitas. Akan butuh dana besar untuk merevisi berbagai undang-undang tersebut, dan itu jelas sebuah proyek yang nilainya tidak kecil.
      Akan jadi tidak produktif dan pemborosan bila solusinya adalah menghapus kolom agama.
      Padahal akar permasalahannya adalah oknum yang mempersulit masyarakat dalam pelayanan. Itu yang harus diselesaikan.

    • Eka Azzahra says:

      *manggut-manggut. Mencerahkan sekali reply-nya. Semoga oknum tersebut dan masyarakat luas membaca tulisan bapak. Semangat pak !

  31. enkoos says:

    Baru kali ini aku kecewa dengan omongan Ahok yang menganggap identitas agama di KTP gak perlu. Kayaknya perlu dikirimin email nih orang.

    Betul banget bahwa jangan KTPnya yang disalahin.
    Kebayang aja kalau di negara2 yg gak mencantumkan agama di KTPnya, trus di pemilik KTP meninggal di tempat jauh. Gimana pemakamannya? Ngikutin agama mayoritas? Naudzubillah min dzalik.

    Mengenai sunat cak Iwan, jangan salah lho, non muslimpun juga sunat. Katanya KSB, sekitar 90% orang Amerika (jamannya dia) sunat karena mereka tahu manfaatnya. Apalagi keluarganya KSB yang sebagian besar berlatar belakang kesehatan, pada disunat semua (yang lelaki ya). Entah kalau di Eropa.

    Bedanya, begitu bayi lahir cenger langsung disunat deh, enggak seperti di Indonesia yang biasanya menunggu usia SD.

    Aku punya temen yang non muslim di Indonesia, pernah cerita bikin acara sunatan buat adiknya. Jadi gak tepat kalau melihat islamnya seseorang lewat sunat.

    • Betul, mbak Evia. Saya juga paham bahwa non muslim juga banyak yang sunat. Alhamdulillah.

      Soal paragraf terakhir, itu khan jurus jail-nya Kyai Maksum (dalam dialog tersebut) yang memandang dari sisi syariat, bahwa sunat bagi umat Muslim laki-laki adalah wajib hukumnya. Lha itu petugas KUA khan puyeng kalo gak ada bukti tertulis (azas lex scripta) bahwa calon pengantennya itu Islam.

      Sedangkan bagi non-muslim adalah tidak ada kewajiban secara tertulis dalam kitab sucinya, kecuali contoh yang dilakukan nabi-nya yang sunat (cmiiw ya). Bersunat bagi non-muslim bersifat anjuran bahwa sunat adalah baik bila ditinjau dari segi kesehatan. Sehingga banyak yang ber-sunat setelah melihat sisi positifnya.

  32. Bingung kalau (naudzubillah jangan sampai) misalnya meninggal di jalan karena kecelakaan dll lalu yang nemuin mayatnya lihat KTP dengan tanpa informasi agama nanti bisa-bisa mayatnya bukannya dikafanin dan dishalatkan di masjid tapi dikremasi deh huhuhu….

    • Nah… gimana tuh.. ngeri deh kalo gak di-sholatin.
      Kalo orang-orang liberal sih gak mikirin ntar matinya gimana. Malah ada yg bikin status di twitter: “orang mati aja kok banyak maunya” ck ck ck.

      Kita yang sudah komitmen mati dalam keadaan Islam dan diperlakukan secara Islam harus menolak ide penghapusan kolom agama.

    • Setujuuuuhhh bangettt harus menolak ide liberal kek gini. Alhamdulillah Pak, Ahok bicara beginian sekarang jadi kita tahu SIAPA DIA dan bagaimana CARA BERPIKIRnya. Dengan kasus ini, inshaa Allah masa depan Ahok di kancah politik Indonesia bakal SURAM. Aminnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……….. Mana ada orang Islam akan pilih dia nanti ? Kecuali islam Liberal atau JIL…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: