Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil?

[Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil?

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Pulang sekolah siang itu, Nadia berselancar di internet sambil berinteraksi sosial melalui akun media sosial-nya.

Nadia mendapat pesan dari akun twitter “Anti Liberal News” sebuah informasi tentang munculnya video berjudul ‘Komik Sex Islamiah – Menurut Nabi Muhammad’ di internet. Ia kemudian menelusuri media berbagi video (Youtube), untuk mencari akun yang namanya disebut dalam berita tersebut yaitu: ‘Prophet Muhammad Illustrated’. Ternyata tidak sulit mencarinya. Sudah ada sekitar 13 video yang di-unggah dalam kanal akun tersebut yang berisi berbagai trailer film animasi / komik. Isinya hampir semuanya dusta, terlalu banyak penyimpangan yang tidak sesuai dengan kenyataan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari tayangan video-video tersebut nampak jelas bahwa 100% merupakan olahan pihak tak berilmu dan terlalu kental kebodohannya sehingga hanya melahirkan sampah, tidak layak disebut karya.

Nadia geram sekali. Biadab betul ulah para islamophobic dalam menyebarkan kebencian kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini betul-betul penistaan agama, semoga pemerintah tidak tinggal diam, apalagi payung hukumnya sudah ada untuk delik penghinaan terhadap agama [Hukum Online].

Nadia teringat pesan ayah:

“Sederhana saja…
bila benar apa yang ditulis atau diceritakan oleh para ‘penebar pencerahan’ yang menderita fobia akut itu, maka Islam sudah punah sejak berabad-abad yang lalu. Nyatanya tidak. Umat Islam justru makin berkembang pesat. Maka ini makin mengokohkan bahwa mereka adalah pendusta.”

Setelah melihat semua video dalam kanal akun tersebut yang rata-rata berdurasi pendek, tanpa pikir panjang, Nadia segera melaporkan ke pihak Youtube [sesuai prosedur] agar segera diblokir. Kemudian mengajak teman-temannya via twitter dan facebook agar juga segera melaporkan ke Youtube, dan bersama-sama membongkar habis kesalahan dari film yang telah melecehkan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah selesai berinteraksi di media sosial, Nadia memberitahu ibunya soal video-video tersebut dan ingin mengajaknya berdiskusi.

.
–: DIALOG MENJAWAB TUDUHAN YANG PERTAMA :–

TUDUHAN BAHWA RASULULLAH SEORANG PEDOFIL

Tentang umur ‘Aisyah radhiallahu ‘anha banyak ahli sejarah yang menyampaikan pendapatnya. Namun kebanyakan berpegang pada kitab Sahih Bukhari-Muslim yang menyebutkan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berumur 6 tahun saat menikah, dan kemudian hidup berumah tangga saat usia 9 tahun.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada saat aku berusia enam tahun dan beliau menggauliku saat berusia sembilan tahun. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha melanjutkan: Ketika kami tiba di Madinah, aku terserang terserang penyakit demam selama sebulan setelah itu rambutku tumbuh lebat sepanjang pundak. Kemudian Ummu Ruman datang menemuiku waktu aku sedang bermain ayunan bersama beberapa orang teman perempuanku. Ia berteriak memanggilku, lalu aku mendatanginya sedangkan aku tidak mengetahui apa yang diinginkan dariku. Kemudian ia segera menarik tanganku dan dituntun sampai di muka pintu. Aku berkata: Huh.. huh.. hingga nafasku lega. Kemudian Ummu Ruman dan aku memasuki sebuah rumah yang di sana telah banyak wanita Ansar. Mereka mengucapkan selamat dan berkah dan atas nasib yang baik. Ummu Ruman menyerahkanku kepada mereka sehingga mereka lalu memandikanku dan meriasku, dan tidak ada yang membuatku terkejut kecuali ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan mereka menyerahkanku kepada beliau. [Bukhari-Muslim No.69 (1442)]

“Soal riwayat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam meminang ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di usia 6 atau 7 tahun dan kemudian menikahinya di usia 9 tahun, ada silang pendapat diantara para ulama. Ada yang menganggap hadits yang meriwayatkannya itu bersifat dhaif (lemah), ada yang berpendapat itu hadits shahih,” kata sang ibu ketika ditanya benarkah Rasulullah seorang pedofil.

“Sejauh mana impact atas perselisihan itu bagi kita umat Islam, bu?”

“Bagi kita umat Islam tidak perlu kuatir. Perbedaan pendapat para ulama tentang periwayatan itu bukanlah perbedaan dalam perkara aqidah yang pokok, dasar-dasar agama, dan bukan pula domain untuk mengeluarkan seseorang dari Islam. Oleh karenanya perbedaan tersebut jangan sampai menyalahkan atau menodai kehormatan para imam yang memiliki pendapat lain terhadap lainnya. Semoga Nadia paham ya”

“Insya Allah, paham, bu. Seandainya nih … hadits tentang ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menikah di usia 9 tahun terbukti dhaif bahkan palsu, apakah mereka akan berhenti memfitnah Islam dan kaum muslimin?”

“Ibu rasa mereka tidak akan berhenti mencela meski sudah diberikan banyak pencerahan. Bukankah sejak awal fajar Islam mereka selalu menuding Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala macam fitnah? Karena kebencian terhadap risalah Islam sudah mendarah daging sehingga beragam upaya mereka lakukan sepanjang zaman untuk memadamkan cahaya agama Allah ini.”

“Menurut ibu sendiri bagaimana? Apakah benar ‘Aisyah dinikahi Rasulullah di usia 9 tahun?”

“Itu sungguh fitnah yang keji dan tidak rasional, Nadia”

“Bagaimana ibu bisa membuktikan bahwa itu adalah fitnah?”

.
–: PEMBUKTIAN UMUR ‘AISYAH BAGIAN PERTAMA :–

“Ada TIGA hal yang bisa menggugurkan tudingan mereka. Yang Pertama, Nadia tahu apa artinya pedofil?”

“Ya tahulaah… seseorang yang orientasi seksualnya cenderung pada anak-anak”

“Betul. Padahal junjungan kita saaangat jauh dari orientasi seperti itu, karena kenyataannya istrinya mayoritas janda, wanita dewasa bahkan sangat tua. [catatan: dalam dialog berikutnya akan dibahas tentang: benarkah Nabi Muhammad seorang maniak seks?]

Jadi, hal yang Pertama sudah menggugurkan tuduhan itu. Sekarang yang Kedua. Apakah pernah dalam sejarah Abu Jahal, Abu Lahab, dan pembesar kaum Quraisy lainnya yang membenci Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam itu mengolok-olok junjungan kita dengan sebutan pedofil?”

“Setahu saya, dalam sirah nabi, tidak pernah disebut olok-olokan yang demikian itu, bu”

“Betul, tidak pernah ada. Sejak dulu, para musuh Islam telah memfitnah Rasulullah sebagai pendusta, penyihir, orang gila, dan lain-lain. Jika memang menikahi wanita pada usia sangat muda bukanlah hal yang biasa dan hal yang tabu pada masa itu, tentulah kaum kuffar tersebut sudah menggunakan hal ini untuk menyerang dan menjelek-jelekkan Rasulullah saat itu. Ya, saat itu. Tapi nyatanya, tidak ada bukti sejarah dimana mereka menuding Rasulullah seorang pedofil saat itu. Tudingan itu baru muncul pada abad sekarang, di era lahirnya orientalis.

Jadi, hal yang Kedua ini juga sudah gugur. Sekarang hal yang Ketiga … kita semua tahu bahwa Al-Qur’an adalah buku petunjuk. Untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia ‘Aisyah dan pernikahannya, maka perlu dicari petunjuknya dalam Al-Qur’an. Apakah Al-Qur’an mengijinkan atau melarang pernikahan gadis cilik berusia 9 tahun?”

“Hmm … saya gak tahu ada atau tidak di dalam Al-Qur’an. Kalo menurut logikanya sih, usia segitu belum siap, bu, masih anak-anak banget”

“Coba Nadia baca terjemahan QS An-Nisaa ayat 5 dan 6”

Nadia mulai membacakakan terjemahan ayat Al-Qur’an yang dimaksud ibunya.

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” [QS 4:5]
“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. …” [QS 4:6]

“Okey, cukup sampai di situ saja,” kata sang ibu.

“Tapi ayat itu sepertinya tidak bicara soal perijinan pernikahan, bu, dan itupun ditujukan untuk anak yatim”

“Memang, secara eksplisit tidak kelihatan bicara soal perijinan pernikahan. Tapi coba cermati sekali lagi deh … Ayat tersebut menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Al-Qur’an mengenai perlakuan anak yatim itu juga valid diaplikasikan pada anak-anak keluarga muslim pada umumnya. Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, berdasarkan ayat tersebut, seorang muslim diperintahkan untuk: (1) memberi makan mereka, (2) memberi pakaian, (3) mendidik mereka, dan (4) menguji mereka terhadap kedewasaan ‘sampai usia menikah’ sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan. Nah.. ayat Al-Qur’an di sini telah menyatakan tentang pentingnya bukti yang kuat dan teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka. Seandainya Nadia jadi orangtua, apakah bisa mempercayai gadis cilikmu yang masih berusia 7 tahun untuk pengelolaan keuangan?”

“Ya sulit untuk bisa percaya”

“Atau ibu tambahkan pertanyaannya gini: Sebuah tugas penting dalam menjaga anak adalah mendidiknya, naah… berapa banyak orang di seluruh dunia ini yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun?”

“Berapa banyak? Ya, jelas gak ada, usia segitu khan masih dalam tahap pengayaan, belum bisa dilihat hasilnya memuaskan apa tidak. Di usia segitu anak masih belajar berhitung dan pendidikan dasar lainnya.”

“Naah, itu artinya gadis cilik tersebut belum memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik sudah bisa menikah. Logikanya, kalau Nadia saja saat nanti jadi orang tua sulit untuk percaya, apalagi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu orang tua ‘Aisyah yang juga seorang tokoh muslim yang penuh dengan kebijaksanaan. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar akan rela putri ciliknya yang masih berusia 7 tahun bertunangan dengan Rasulullah yang berusia 50 tahun. Beliau pasti paham bahwa ‘Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an.
Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Rasulullah menikahi seorang gadis cilik yang masih suka bermain boneka. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis cilik dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Rasulullah, beliau pasti akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Al-Qur’an.

Kesimpulannya, dua ayat dalam QS An-Nisaa tersebut menggugurkan tuduhan soal pedofilia. Pernikahan ‘Aisyah pada usia 9 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Al-Qur’an.

Adanya TIGA hal itu sudah cukup menggugurkan tudingan tersebut. Sebab semua teori dan tuduhan jika tidak sesuai dengan fakta maka teori dan tuduhan itu rapuh. Oleh karena itu, cerita pernikahan Aisyah gadis cilik berusia 9 tahun adalah mitos semata. Sebenarnya masih ada SATU hal lagi yang dirasa cukup telak menggugurkan tudingan jahat itu, tapi … hmm… waktunya mepet banget, ada yang ibu harus kerjakan sore ini terkait dengan deadline”

“Sebentar, bu. Semoga masih bisa meluangkan waktu dikiit lagi untuk menjawab penasaranku,” kata Nadia sambil membolak-balik coretan-coretan catatannya. “Begini…saya jadi tertarik dengan poin kedua tentang seorang pembenci Islam seperti Abu Jahal dan pembesar kaum Quraisy lainnya yang tidak pernah mengolok-olok Rasulullah seorang pedofil saat itu. Pertanyanku, … apakah ada suatu kondisi masyarakat jika ada orang yang menikahi anak di usia muda itu dianggap hal yang biasa?”

“Kondisi seperti itu memang ada. Sini, ibu akan tunjukin.”

Sang ibu membuka internet, memasukkan kata kunci, menjelajah, dan akhirnya terbuka beberapa tab yang dianggap penting untuk dibahas.

“Coba Nadia lihat tabel ini: Age of Consent Laws [Table]. Kalo kita lihat Table Age of Consent dari negara-negara Amerika dan Eropa dari masa ke masa, pernikahan dini itu hal yang biasa. Dalam sejarah Kristen, pernikahan dini dianggap hal yang wajar. Santo Agustinus (354-439 M) menikahi gadis usia 10 tahun saat usia dia 31 tahun. Santa Hedwig dari Andechs (1174-1243 M) menikah usia 12 tahun. Dalam ensiklopedi Katolik, Maria ‘si perawan suci’ saat usia 12 tahun menikah dengan Yoseph yang berusia 89 tahun. Usia mereka selisih 77 tahun! Tidak ada yang bilang ibunda Maryam korban pedofili-nya Yoseph.
Kemudian memasuki abad modern, seperti yang kita lihat pada tabel usia legal untuk menikah, tahun 1880 di Rusia usia legalnya 10 tahun, di negara bagian Amerika Serikat Delaware adalah 7 tahun, Florida 10 tahun. Jadi jika Rasulullah hidup pada 130 tahun yang lalu di Delaware dan bukan 1400 tahun yang lalu dan menikah tinggal serumah saat ‘Aisyah 9 tahun, .. maka tidak ada yang menuduhnya pedofil, karena usia layak nikah di Delaware tahun 1880 adalah 7 tahun.”

Nadia mengangguk-angguk paham, dalam benaknya ia makin yakin bahwa tuduhan keji mereka, para pembenci Islam, ini makin menunjukkah kebodohan mereka sendiri.
Riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi benar, karena menikah dini di jaman dahulu itu adalah hal yang dianggap biasa. Menilai manusia masa lalu dengan sudut pandang manusia masa kini bukanlah sikap yang bijak.
Sebaliknya, riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi salah, karena tidak mungkin Rasulullah menyalahi hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an mengenai persyaratan menikah.
Jadi selama ini mereka, para pembenci Islam, telah disibukkan oleh hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, karena nyatanya cahaya Islam makin terang di seluruh penjuru dunia.

“Diantara tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”
[Al-Hasan]

.
“Sementara obrolan kita sampai di sini dulu ya. Nanti malam ba’da Isya kita lanjutkan pembahasannya tentang SATU hal yang cukup telak menggugurkan tuduhan mereka. Okey, yess?”

“Siapp!”

.
B E R S A M B U N G di sini

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
20.12.2013

Advertisements

72 Comments

  1. linggarjati says:

    klo bilang nabi muhammad maniak seks mengapa yg dinikahi justru janda yang umurnya tua bukan yg muda/perawan yang muda.

  2. adrian73 says:

    aww, mas iwan..adalah salah menurut saya untuk membawa pemikiran masa jaman Rosul dengan jaman kini..dengan pembenaran2 yg anda uraikan..karena sudah jelas apa2 yg berlaku pada jaman itu tentu berbeda dengan dengan jaman ini, lagian untuk semua itu Rosul bertindak atas perintah Allah, klo dijelaskan dgn mencoba akidah, kaidah jaman modern saat ini, bisa rancu..bagai mana dengan hukum perang jaman itu, rampasan perang,budak..jadi saya berpendapat aturan dan hukum pada jaman Rosul jgn di tarik mundur kejaman sekarang..atas dasar etika jaman ini..yg dibentuk oleh budaya barat….wassalam..

  3. Pertama2 perlu saya tegaskan bahwa saya tidak menuduh bahwa Muhammad dalah seorang pedofil, saya orang kesehatan dan tahu bahwa definisi pedeofil tidak asal diberikan pada orang yang punya ketertarikan seksual pada anak kecil. Tapi saya percaya dengan literatur yang mengatakan bahwa Muhammad memang menikahi Aisyah saat usianya masih kecil.

    Untuk artikel ini, dimana anda membantah hadits dengan ayat Quran (surah an Nisaa), saya katakan, logika bantahan yang anda gunakan itu salah..

    Hadits dan sirah bisa dikategorikan sebagai catatan sejarah, catatan kehidupan Muhammad yang sifatnya faktual, sedangkan ayat Quran itu ibarat undang2 yang isinya aturan..

    Ya ga bisa membantah catatan sejarah dengan undang2.
    Yang anda lakukan sama konyolnya dengan membantah tuduhan PBB bahwa Indonesia telah menelantarkan rakyat miskin dengan mengutip UUD pasal 34.

    “Tidak, Indonesia tidak pernah menelantarkan rakyat miskin, hal itu karena tidak sesuai dengan UUD pasal 34 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”

    Lho lho lho, orang nuduh pake data statistik, pake foto, pake video, pake survei, yang sifatnya faktual, kok ngebantah pake undang2 yang bersifat idealis.

    Bukhari adakah penyusun hadits yang handal, dia ga sembarangan mengumpulkan hadits, bahkan hadit2nya menjadi rujukan untuk menilai keshahihan hadits yang lain. Lha anda kok bisa2nya nuduh hadits itu dho’if bahkan palsu dengan logika konyol ini.

    Anda bisa menolak matan hadits dengan ayat quran ketika bicara hadits sebagai sumber hukum atau ajaran Islam (secara dirayah), tapi tidak ketika bicara hadits sebagai catatan sejarah.

    • Terimakasih, mas Candra, argumen Anda bisa saya pahami.
      Begini, … maksud pada bagian 1 dialog ini adalah menjadikan Al-Qur’an sbg petunjuk dan pembanding.

      Rasulullah SAW yg membawa risalah Al-Qur’an, firman Allah yg diturunkan kepada beliau melalui malaikat Jibril. Sebagai utusan-Nya, apa yg diajarkan Rasulullah SAW harus konsisten dg isi Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah memberikan sifat maksum pada diri Rasulullah SAW. Maksum adalah terjaga dari kesalahan / kekhilafan, ada malaikat yg selalu mengingatkan Nabi.

      Dalam dialog di atas sudah disampaikan oleh ibunya Nadia bahwa umat Islam telah menjadikan Al-Qur’an sbg buku petunjuk. Untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia ‘Aisyah dan pernikahannya, maka perlu dicari petunjuknya dalam Al-Qur’an. Apakah Al-Qur’an mengijinkan atau melarang pernikahan gadis cilik berusia 9 tahun?

      Dan ternyata ada petunjuk-Nya, ayat-ayat-Nya saya jelaskan di atas.

      Sekali lagi, maksud Al-Qur’an di sini sbg petunjuk / clue. Tidak mungkin Rasulullah SAW yg dikarunia sifat maksum oleh Allah SWT bisa khilaf seperti itu. Tidak dg sifat maksumnya itu, perilaku Beliau bisa bertentangan dg ayat-ayat Al-Qur’an. Padahal perilaku Beliau adalah teladan bagi umat dijamannya dan sesudahnya, sesuai firman-Nya:

      “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [Q.S. Al Ahzab: 21].

      Anda betul, gak bisa membantah catatan sejarah dg undang-undang.
      Tapi yg harus Anda pahami adalah Al-Qur’an sbg kitab suci itu berbeda kedudukannya dg undang2. Undang-undang bisa saja berubah krn yg membuat adalah manusia. Allah SWT menjaga Al-Qur’an hingga akhir zaman, menjaga kesuciannya dari tangan2 jahil yg mau merubahnya. Begitu pula Allah juga menjaga utusan-Nya yg mengajarkan Al-Qur’an tsb. Menjaga melalui pemberian sifat maksum.

      Soal percaya atau tidak dg petunjuk ayat-ayat yg disampaikan ibunya Nadia di atas kembali ke keyakinan dan keimanan masing-masing. Sebagai muslim, saya yakin akan hal itu, bahwa tidak mungkin Rasulullah SAW yang punya sifat maksum tsb khilaf. Kemudian pembuktian untuk bantahannya, disampaikan oleh ibunya Nadia lewat dialog bagian 2.

      Sedangkan tentang kekhilafan Bukhari telah saya jelaskan pada bagian 2 (paragraf2 akhir).

    • Ini yang saya sebut bahwa anda diskusi dengan logika Islam (baca: dogmatisme Islam) yang menyatakan bahwa Muhammad adalah manusia sempurna yang tidak mungkin ingkar pada perkataannya.

      Logika ini bukan logika ilmiah, karena dalam sudut pandang umum, ada kemungkinan bahwa Muhammad cuma orang biasa yang bisa ingkar pada janjinya, dan ada kemungkinan bahwa Al Quran cuma kitab biasa karangannya Muhammad. Itu adalah ranah keyakinan, sedang saya mengajak anda diskusi tentang usia pernikahan Aisyah dalam ranah sejarah.

      Emang kalau anda yakin bahwa Muhammad tidak menikahi Aisyah saat usianya masih bocah lantas fakta sejarahnya menjadi berubah sesuai keyakinan anda? Enggak kan.

      Anaknya Gayus Tambunan pun yakin bahwa bapaknya bukan koruptor, apa lantas Gayus bisa dibebaskan dari tuduhan KPK??
      Pengikutnya Lia Eden pun percaya bahwa Lia adalah orang baik yang tidak mungkin melakukan kejahatan, apa lantas kenyataannya menjadi seperti itu?

      Faktanya Muhammad memang seringkali ingkar pada ayatnya sendiri, contoh,:
      1. Dia menikahi 9 orang perempuan (literatur lain menyebut sampai belasan), sekalipun di surah an Nisaa ayat 3 jelas membatasi pernikahan cuma sampai 4 orang istri.
      2. Dia memerintahkan muslim untuk menghancurkan patung sesembahan bangsa Quraish sekalipun di Al Quran menyebut lakum dinukum waliyadin.

    • Waahh.. kalo gitu batasan di anatra kita sudah jelas, mas 🙂
      Mempercayai Allah dan Rasul-Nya adalah bagian dari Rukun Iman yg enam jumlahnya. Kalo meragukan itu disebut bagian dari munafik.

      Kebenaran Muhammad SAW selaku utusan-Nya BISA DILIHAT hingga saat ini dan Allah SWT sudah berjanji memelihara bukti itu hingga akhir zaman.
      Bukti apa itu?
      Hingga hari ini sudah jutaan orang yg menghafal Al-Qur’an 100% persis sama dg yg otentik, hingga titik komanya. Insya Allah, keluarga kami komitmen untuk menjadi bagian dari golongan penghafal itu.
      Perjalanan zaman pun telah membuktikan kebenaran isi Al-Qur’an melalui peristiwa-peristiwa yg dialami penduduk bumi ini.

      Soal tuduhan Anda (di bagian akhir komentar) bahwa fakta Muhammad yg seringkali ingkar pada ayatnya sendiri, itu menandakan Anda perlu ngaji dengan benar, sudah saya tulis argumentasinya di blog ini di bagian ghazwul fikri. Silakan jelajahi blog ini kalo memang Anda benar-benar ingin menuntut ilmu, mencari kebenaran. Menuntut ilmu dg benar spt penduduk Inggris saat ini yg jumlah mualaf-nya meningkat dua kali lipat. Alhamdulillah, mereka bisa menemukan hidayah-Nya. Semoga demikian juga Anda, mas Candra. Aamiin.

    • Benar, batasan kita memang berbeda, saya bicara dengan logika ilmia dan dengan menggunakan catatan sejarah sedang anda membantah cuma dengan dogma dan kepercayaan saja.

      Tapi lucu juga, yang biasanya melontarkan tuduhan bahwa Muhammad menikahi Aisyah saat masih kecil itu kan non muslim (sekalipun diakui benar oleh banyak ulama di timur tengah dan praktek pernikahan bocah itu masih berlangsung hingga kini), tapi kok anda mencoba menjelaskan dengan dogma Islam. Secara tidak langsung anda mau menyampaikan bahwa tulisan ini hanya khusus disampaikan kepada sesama muslim donk.

      Bagi saya, apa yang anda lakukan bukan bantahan, cuma ajang menghibur diri saja, sama seperti Ibu Gayus yang bilang ke anaknya
      “Nak, kita harus yakin bahwa Bapak adalah orang yang baik dan teladan bagi kita sekeluarga, tidak mungkin dia melakukan korupsi”

      Soal Al Quran, kita punya pandangan yang berbeda. Bagi saya Al Quran ya cuma buku biasa. Saya tidak ingin membahasnya disini, nanti capek2 nulis komentar dibilang OOT lagi seperti kemarin.

      Hanya sedikit komentar saya, bahwa logika anda salah, pembuktian Al Quran terjaga keasliannya itu bukan dari hapalan, tapi dengan bukti fisik yang membandingkan antara Al Quran di zaman nabi dengan Al Quran yang ada sekarang. Tuh anak SD hapal isi UUD 1945, apa lantas UUD dikatakan tidak berubah? Kenyataannya pernah diamandemen. Tuh banyak yang hapal lirik lagu balonku, apa lantas liriknya tidak pernah digubah? Logika pembuktian anda itu sesat alias fallacy.

      Ngaji dengan benar? lol
      Kalau anda sudah ngaji dan memang berilmu, ya harusnya dibantah dengan ilmu, bukan nyuruh orang lain belajar. Kenapa tidak anda saja yang belajar logika sebelum nyuruh saya belajar ngaji? Jadi tidak melakukan fallacy dan standar ganda lagi.

      Muhammad melanggar anjuran untuk menikahi wanita dewasa, dibilang hoax, Muhammad melanggar anjuran untuk hanya menikahi 4 wanita dianggap benar. 😀

    • Hehehe… logika ilmiah apanya? LOL.
      Kalo Anda cuman mengulang-ulang apa yg dilakukan orientalis abad 17 itu dimana letak ilmiahnya?
      Justru para cendekiawan muslim itu berhasil membantah tuduhan itu lewat riset dan penelitian ilmiah terhadap karya-karya klasik yg bisa dijadikan petunjuk.

      Saya menulis jurnal ini terbatas bagaimana orang tua berkomunikasi dg anaknya. Ruang lingkup parenting. Bukan menulis sebuah buku / karya ilmiah yg sudah banyak diterbitkan oleh para cendekiawan muslim.

      Soal Al-Qur’an yg mudah dihafalkan oleh jutaan orang di dunia ini adalah bentuk mukjizat Rasulullah yang bisa dilihat hingga kini.
      Tentang bukti fisiknya, silakan Anda bandingkan kitab suci Al Qur’an tertua di era Utsman bin Affan yg tersimpan di Mekkah sana atau di Yaman. Bandingkan isinya dg yg sekarang. Sama sekali tidak ada perbedaan sampai titik komanya. Kalau ada perbedaan titik komanya, maka sudah heboh dari dulu-dulu.

      Analogi Anda soal isi UUD 1945, gak tepat menurut saya. Jauuuh banget… Anda ini lho kok membandingkan ruang lingkup lokal (UUD45) dg ruang lingkup internasional (Al-Qur’an).
      Setiap ada lomba hafalan Al-Qur’an tingkat dunia, yg dijadikan rujukan adalah Al-Qur’an kitab tertua. Dan nyatanya tidak ada perbedaan sedikitpun yg dihafal anak2 di rumahnya masing-masing setelah di-kroscek dg Al-Qur’an versi tertua-nya oleh juri. Silakan jelajahi di blog ini bagaimana pelaksanaan lomba hafalan Al-Qur’an tingkat internasional itu.

      Begini saja.. saya sudah menunjukkan rujukan buku apa untuk membantah pernyataan Anda (di jurnal bagian kedua), di situ pun ada referensi (daftar pustaka) untuk melihat rujukan / sumber utama. Ya coba Anda kejar dong kalo Anda benar-benar ingin mencari kebenaran. Bukannya malas minta disodorin. Orientasi saya bukan ingin memenangkan perdebatan, bung, sehingga terlihat gagah kalo bisa nunjukin bukti-bukti.

      Orientasi saya adalah menggunakan pendekatan logika sederhana bahwa Al-Qur’an yg sudah terbukti mukjizat-Nya bisa kita lihat hingga kini, tidak mungkin perilaku utusan-Nya yang maksum itu bertentangan dg Al-Qur’an. Kemudian saya sertai pembuktian.

      Tapi ya kalo orientasi diskusi Anda dan saya beda, maka sulit ada titik temu di sini. Silakan Anda bersama keraguan2mu dan saya bersama kayakinanku. Garis batas itu sudah jelas di sini.

      Jauhi sifat sombong, itu saja, sehingga membuat diri Anda mau belajar membuka banyak wawasan dg kejernihan hati.

      Tentu saja saya yg lemah ini juga masih terus belajar kok. Dan senantiasa berdo’a kepada-Nya agar ilmu yg saya pelajari ini membawa banyak manfaat bagi sesama, bukan untuk menumbuhkan kedengkian 🙂

  4. Pernah ada yang bertanya pada saya tentang boleh-tidaknya menggunakan istilah bapak-ibu, papa-mama, buya-bubun, babe-nyak, ubak-umak dsb-nya sebagai pengganti ummi-abi.
    Saya jawab, itu masalah bahasa. Tidak ada kaitannya dgn akidah. Jadi silahkan saja menggunakan mana yg lebih cenderung untuk digunakan. Toh orang-orang Arab Kristen dan lainnya yg tinggal disana banyak juga yg menggunakan istilah ummi-abi untuk menyebut orang tuanya. Istilah itu bukan monopoli orang-orang muslim saja. Jadi tidak perlu dipermasalahkan. Selama panggilan itu dimaksudkan untuk panggilan sayang dan hormat pada kedua orang tua, maka lanjut saja InsyaAllah.

  5. UU Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama

    Pasal 1
    Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

    Pasal 2
    (1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.
    (2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

    Pasal 3
    Apabila, setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri atau oleh Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam pasal 2 terhadap orang, Organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan dalam pasal 1, maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota Pengurus Organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

    Pasal 4
    Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut:
    “Pasal 156a Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
    a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
    b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.”

    Pasal 5
    Penetapan Presiden Republik Indonesia ini mulai berlaku pada hari diundangkannya. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Penetapan Presiden Republik Indonesia ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

    Ditetapkan di Jakarta, 27 Januari 1965
    Presiden Republik Indonesia
    Sukarno

  6. […] … Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kawin dan pedofilia. (Silakan simak serial dialog menjawab tuduhan pada Rasulullah, dimulai dari sini.) […]

  7. Yuli Duryat says:

    Lama sekali tidak bnerkunjung ke sini. Terima kasih banyak atas tulisannya yang bagus ini Mas Iwan.

  8. akbarmangindara says:

    Astagfirullah.. kejam nian fitnah yang ditujukan sama nabi kite ini..

  9. arip says:

    Tentang penjelasan ini pernah baca juga sebelumnya di sirah nabawiyah.

    Jazakallah pak, semoga para laknatullah tukang fitnah itu dibukakan hati dan pikirannya.

  10. Makasih infonya Mas Iwan…

  11. nengwie says:

    Jazakalloh khoir mas Iwan, bertambah ilmu lagi saya..
    Ditunggu lanjutannya mas..

  12. Saya sering mendengarkan dan mengetahui fitnah ini akan tetapi saya tak punya cukup pengetahuan untuk membela, Om…

    Namun saya berpikir, kenapa banyak orang yang menuduhkan demikian? itu karena beberapa oknum ulama yang memiliki orientasi seks tidak normal seperti hiper seks, pedophil itu mengatas namakan meniru perilaku rasul. Naudzubillah.

  13. araaminoe says:

    Dalem yakin, jikalau Rasullah masih hidup ditengah tengah masyarakat dunia yg penuh kompleksitas ketidakpahamanan diluar konteks keimanan, beliau pasti tersenyum penuh keramahan dan ketenangan. Mengademkan. Cause that the way he was, always and will be.

    • Betul sekali, Rasulullah tidak pernah marah kalau dihujat dan dicaci maki. Kelemah-lembutannya justru menjadikan banyak diantara para pembenci Beliau menjemput hidayah-Nya.

      Monggo, silakan disimak jurnal berikutnya diseputar poligami. Saya terbitkan menjadi beberapa sequel 🙂

  14. nur4hini says:

    Ditunggu kelanjutannya pak Iwan. Tulisannya bagus sekali. Bisa jadi bahan dialog dengan Khansa kalo dia sudah besar 🙂

    • Harus itu, sang anak harus mendapatkan pengajaran langsung yang baik dari orang tuanya.

      Alhamdulillah lanjutannya sudah saya posting, ada 2 halaman. Link-nya ada di akhir jurnal ini ya, mbak.

  15. abi_gilang says:

    Seberapa terang pun penjelasan yang diberikan tak akan bisa menerangi hati yang telah ditutup oleh kebutaan dan kedengkian.

  16. Ditunggu sambungannya *pake banget.

  17. wah, baru tahu kalau kasus ini penjelasannya terdapat pada hukum-hukum logika yang ada di Alquran

  18. lieshadie says:

    Saya tunggu bada Isya, Pak Iwan…selalu mencerahkan kalo ke sini..

  19. anotherorion says:

    di beberapa tulisan sik tau tak waca, usia aisyah waktu nikah sekitar 19 tahun, dengan beberapa bukti yang secara logika bisa diterima, sori ngopas link wae ben cepet kanzunqalam.com

    • Betul. Kuat sekali landasan teorinya itu.

      Karena jurnal ini saya tujukan kepada jamaah faithfreedom.org yang notebene mereka gak percaya ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, maka saya coba kemas dengan penjabaran secara logika terlebih dahulu, mematahkan hujjah-hujjah mereka. Setelah patah, baru bicara dalil Al-Qur’an dan Hadits di jurnal lanjutannya.

      Jangan lupa R.A.S. akun Youtube penghina Nabi ya

  20. ibuseno says:

    TFS Mas Iwan, mencerahkan..

  21. Surya says:

    Q 65:4 PEDOFILIA DALAM ISLAM
    http://qurandanhadist.wordpress.com/quran-hadis/q-654-pedofilia-dalam-islam/

    Muhammad mengatakan bahwa masa iddah anak kecil yang belum haid adalah tiga bulan. Anak kecil ini dinikahi Muslim dewasa, dicerai, dan suami baru harus menunggu 3 bulan sebelum bisa menikahi anak kecil tersebut lagi.

    Janganlah engkau berani mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah.

    • Di situ ada kalimat: “perempuan-perempuan yang belum haid”
      Maksudnya adalah perempuan yang belum haid karena tidak ada endometrium yang lepas, atau katakanlah karena terlambat bulan. Jadi, jangan se-enak-nya sendiri diartikan sebagai masih anak-anak dong, bro 🙂

      Coba Anda baca artikel: Penyebab Datang Bulan Sering Terlambat [doktersehat.com]
      Kutipannya:
      Menstruasi sebetulnya sesuatu yang normal, sehingga semua wanita mengalaminya. Pada setiap wanita, siklus haid ini pun bervariasi. Rata-rata berjarak 28 hari, namun bisa juga sampai 42 hari. Jika sampai terjadi keterlambatan pun, semisal sampai 3-4 bulan, juga tak perlu terlalu dikhawatirkan. Tapi disarankan sebaiknya periksa ke dokter spesialis. Apalagi kalau telat sampai 5-6 bulan.

      Sering orang salah mengerti, kalau sampai 3 atau 4 bulan tidak haid, mereka menyangka darahnya bisa mengumpul di dalam, menggenang, dan lama-lama bisa berbahaya. Padahal jika tidak haid, berarti tidak ada pendarahan di dalam tubuh. Tidak mens berarti tidak ada endometrium yang lepas. Jadi bukan berarti ada darah yang mengumpul. Darah baru keluar jika selaput lendirnya lepas. Jika tidak lepas, ya tidak berdarah. Jadi jangan khawatir.

      Dalam jurnal di atas sudah saya sampaikan (lihat hal KETIGA), bahwa syarat untuk bisa berumah tangga: Harus sudah mampu mengurus harta (matang secara akal / kedewasaan).
      Jadi sudah cukup jelas bahwa 2 ayat dalam QS An-Nisaa tersebut adalah bukti jelas bahwa Islam sama sekali tidak membenarkan untuk menikahi anak dibawah umur!

      Sebagai tambahan, di dalam Al-Qur’an juga sudah disampaikan syarat lain untuk bisa menikah, yaitu Harus sudah mampu berhubungan seksual (matang secara fisik). Sila baca QS 4:24.

      Kalau menggunakan penafsiran yang ngasal dari link yang Anda berikan, pertanyaanya:
      – Bagaimana mungkin, orang yang belum memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis (belum baligh), sudah dapat menentukan pilihan jodoh?
      – Bagaimana mungkin, orang yang belum baligh, dapat dibebani tanggung-jawab?

      Untuk itulah tugas orang tua sebelum melepas anaknya adalah memberikan bekal yang cukup sehingga sang anak mampu mengurus harta, matang secara akal / kedewasaan, sesuai dengan firman Allah dalam QS 4:5-6.

      Semoga Anda paham dan tidak lagi menyesatkan.
      Blog yang Anda link-kan itu banyak ngawurnya isinya. Kasihan yang bikin, betapa berat tanggung jawabnya kelak di akherat.

    • Surya says:

      Iwan: “Di situ ada kalimat: “perempuan-perempuan yang belum haid”
      Maksudnya adalah perempuan yang belum haid karena tidak ada endometrium yang lepas,”
      ______________
      Jangan sok jadi ahli tafsir Qur’an dengan maksud menyesatkan orang dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah.
      Tafsir Q 65:4 dari Ibnu Katsir:

      “Demikian juga ANAK WANITA YANG MASIH KECIL, YANG BELUM MENJALANI MASA HAIDH, bahwa ‘iddahnya sama seperti ‘idda wanita yang sudah tidak menjalani haidh yaitu tiga bulan.

      ————–

      Tafsir Q 65:4 dari Tabari:

      no. 34437 (yang digarisbawahi merah):
      Dan begitu pula perempuan² yang tidak haid, “yaitu ANAK KECIL.”

      no. 34438 (yang digarisbawahi merah):
      Dan begitu pula perempuan² yang tidak haid’, yaitu ANAK KECIL YANG BELUM HAID, masa iddahnya adalah tiga bulan.”

      no. 34439 (yang digarisbawahi merah):
      Dan begitu pula perempuan² yang tidak haid, yaitu MEREKA YANG BELUM SAMPAI USIA HAID TAPI TELAH DISENTUH (DISETUBUHI), maka iddah mereka tiga bulan.
      __________

      Buka juga tuh tafsir Qur’an dari Jalalani:


      atau langsung dari sumbernya:
      http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&tTafsirNo=74&tSoraNo=65&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2

      Dan [bagi] para wanitamu yang tidak bisa lagi mengalami menstruasi, jika kau merasa ragu tentang masa iddah mereka, maka tunggulah sampai tiga bulan
      dan [juga bagi] para wanita yang belum mengalami menstruasi, karena MASIH MUDA, masa iddah mereka adalah tiga bulan –
      kedua kasus di atas berlaku bagi wanita2 yang ditinggal mati suami.

      Tafsir² Qur’an inilah yang dipakai di seluruh pendidikan dunia Islam, dan bukan tafsirmu. Anda boleh bikin tafsir sendiri, tapi siapakah yang lebih dipercayai umat Muslim: Ibnu Katsir/Tabari/Jalalani atau Anda?

    • Tafsir Ibnu Katsir, Tabari dan Jalalani menyebutnya sebagai anak kecil itu tidak salah. Saya mempercayainya. Yang salah adalah Anda yang tidak paham bahwa hukum (Al-Quran) pada QS. At-Thalaq ayat 4 ini berlaku untuk untuk kasus-kasus umum dan kasus-kasus khusus.
      Kasus apa saja itu? silakan simak jawaban detailnya pada:
      https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/12/21/dialog-benarkah-nabi-muhammad-seorang-pedofil-2/

      Semoga tercerahkan.

    • Surya says:

      Anda pakai bukhari membantah usia Aisyah? Tidakkah Anda tahu bahwa Bukhari justru menerangkan usia Aisyah itu 9 tahun saat disetubuhi oleh Nabi?

      http://lidwa.com/app/?k=bukhari&n=4761
      Shahih Bukhari 4761:
      Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Utbah Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Urwah dari Urwah bahwasnya; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah saat ia berumur enam tahun, kemudian beliau hidup bersama dengannya (MENGGAULINYA) saat berumur sembilan tahun. Dan Aisyah hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga selama sembilan tahun.”

      http://lidwa.com/app/?k=bukhari&n=4738
      Shahih Bukhari 4738:
      Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radliallahu ‘anha, bahwasanya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya saat ia berumur enam tahun, dan ia digauli saat berumur sembilan tahun. Dan Aisyah hidup bersama dengan beliau selama sembilan tahun.

      Hadis-hadis di atas itu sahih, bro. Periksa lagi koleksi hadis bukhari.

      Anda bilang: “t-Thalaq ayat 4 ini berlaku untuk untuk kasus-kasus umum dan kasus-kasus khusus.”

      Keterangan di artikel itu tidak menunjukkan kasus2 khusus apapun, tapi sepenuhnya malah membantah Aisyah masih kecil saat disetubuhi Nabi. Aturan Q 65:4 itu berlaku sepanjang jaman, untuk anak kecil (belum haid) MANAPUN di SELURUH DUNIA.
      Contoh Nabi menyetubuhi Aisyah juga merupakan contoh teladan bagi umat Muslim, sebab Allah sendiri sudah menyatakan begitu di Qur’an:

      “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” (Q.S. al Ahzab : 21).
      Pada firman Allah yang lain :
      “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al Anbiya’ : 107)

      Jika Allah memang mengharamkan Muslim untuk menyetubuhi anak kecil, maka tentu akan dikatakan begitu.

    • Sepertinya Anda ini tidak membaca kasus-kasus khusus yang ada di halaman 2 jurnal yang saya berikan. Jujur bro udah baca halaman 2?
      Ayo dibaca dong… diresapi, jangan buru-buru komen. Biar paham apa itu kasus khusus.

      Mau tahu jawaban saya soal hadits Bukhari? Gampang itu kalau saya tunjukkan jawabannya.
      Tapi, sepakati dulu bahwa QS At Talaq:4 itu bukan perintah untuk pedofilia. Ngawur itu. Gak tepat sama sekali. Sila baca halaman 2. Tinggal klik aja kok susah, bro.

  22. kasamago says:

    benteng pencerahan neh, keep moving..

    • Alhamdulillah lanjutannya sudah saya posting, ada 2 halaman. Link-nya ada di akhir jurnal ini ya, mas Rifki.
      Akhir tahun mumpung kerjaan down, ada cukup waktu buat ngeladeni tulisan jamaah Faithfreedom.

  23. chuin5 says:

    Pencerahannya lengkap nih, bisa jadi senjata untuk menahan ide-ide yang menyerang

  24. Reblogged this on Embun Pagi Bee and commented:
    [Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil?

  25. Baguuss banget om, ijin share ya

  26. danirachmat says:

    Mencerahkan Mas. Maturnuwun.. 🙂

  27. Dyah Sujiati says:

    Yap, orientalis kurang kerjaan.
    Kalau Allah mau, Dia akan dengan mudah (lebih mudah dari pada mengedipkan mata) untuk menghancurkan mereka. Tapi yang Dia mau bukan itu. Dia hanya ingin tahu siapa saja sih diantara hamba-Nya yangmau membuktikan keimanannya. Minimal menulis, semacam yang dilakukan pak Iwan ini. Hehe

    Cheers

    • Ini buat para orientalis dan jamaah Faithfreedom di seluruh dunia:

      “Diantara tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”
      [Al-Hasan]

      Ngeriii…

  28. argumen-argumen yang cerdas tapi ringan dapat dipahami nih, mas…
    Nadia pasti sudah sangat paham jadinya…

    dan ini jadi tambahan info juga buat saya untuk bisa berargumen kalau ada yang menyinggung isu semacam ini

    jazakallah for share, mas Iwan 🙂

    • Aamiin, wa iyyaki, jazaakallah khairan, semoga bermanfaat ya.
      Alhamdulillah lanjutannya sudah saya posting, ada 2 halaman. Link-nya ada di akhir jurnal ini ya, mas Anaz.

  29. asafitriku says:

    izin menyebarkan ya pak

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: