Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil? (#2)

[Dialog] Benarkah Nabi Muhammad Seorang Pedofil? (#2)

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Dialog di bawah ini adalah lanjutan dari dialog sebelumnya di sini.
Setelah tuduhan pedofilia itu diruntuhkan oleh logika berdasarkan fakta dan nash-nash kuat yang terdapat dalam Al-Qur’an, dalam lanjutan dialog ini akan dibahas tentang:

  • Halaman 1 – Berapakah usia ‘Aisyah saat menikah?
  • Halaman 2 – Menjawab tuduhan: Islam membenarkan pedofilia


PEMBUKTIAN UMUR ‘AISYAH BAGIAN KEDUA

“Umat Islam sangat dianjurkan untuk mempelajari sejarah Islam, mencatat tanggal-tanggal pentingnya, dan kemudian melakukan studi kritis atas peristiwa itu. Seperti yang ibu sampaikan sore tadi, malam ini kita akan runtuhkan bangunan tuduhan itu melalui satu hal, yaitu Sirah Nabi,” kata sang ibu sambil menghapus sisa tulisan di whiteboard. Setelah bersih, mulailah ia menuliskan peristiwa-peristiwa penting di whiteboard tersebut.
“Kronologi peristiwa pentingnya begini ….”

Pra-610 M : Zaman Jahiliyah sebelum turun wahyu.
610 M : Permulaan wahyu turun.
610 M : Abu Bakar r.a. masuk Islam.
613 M : Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka.
615 M : Hijrah ke Abyssinia (Habasyah).
616 M : Umar bin Khattab r.a. masuk Islam.
620 M : Nabi Muhammad SAW meminang ‘Aisyah r.a..
622 M : Hijrah ke Yathrib (Madinah).
623/624 M : Nabi Muhammad berumah tangga dengan ‘Aisyah.

“… selanjutnya dalam diskusi kita kali ini, jangan lepas dari catatan dalam papan tulis ini ya, Nadia”

.
Bukti ke-1: Berdasarkan dakwah secara siriyyah

“Berdasarkan Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 1/245-262), dakwah secara siriyyah (sembunyi-sembunyi) yang dilakukan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam selama kurang lebih 3 tahun dan sampai orang Islam berjumlah 40 orang. Sejarah mencatat bahwa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah orang ke-19 yang menerima Islam, ini berarti beliau masuk Islam pada masa dakwah disampaikan secara siriyyah.
Pertanyannya:
Jika ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pada tahun 2 H saat menikah baru berumur 9 tahun seperti yang dituduhkan orientalis, berapakah usia ‘Aisyah radhiallahu ‘anha saat masuk menerima Islam di masa dakwah secara siriyyah?”

“Tahun 2 H sama dengan tahun 623 M, kalau dikurangi 9 tahun jadinya sekitar tahun 614 M ‘Aisyah lahir menurut hitungan orientalis. Padahal menurut riwayat shahih, dakwah secara siriyyah dimulai pada tahun 610 M, dan saat itulah ‘Aisyah menerima Islam. Waaa, kok aneh ya … kontradiksi banget, gak mungkin doong ‘Aisyah belum lahir saat menerima Islam,” jawab Nadia sambil tersenyum.

“Iya, aneh banget. Bagaimana mungkin anak yang belum lahir bisa bersyahadat? Jadi kesimpulannya, bukti ke-1 yang berpatokan pada dakwah siriyyah ini menggugurkan tuduhan orientalis.”

.
Bukti ke-2: Berdasarkan kelahiran semua anak Abu Bakar

“Semua anak Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang berjumlah 4 orang dilahirkan pada Zaman Jahiliyah dari 2 isterinya. Riwayat ini terdapat dalam kitab Tarikh Al-Mamluk karya Al-Thabari*.
[*catatan: Tarikh al-Umam wa al-Mamluk, Al-Tabari, Jil.4, hlm.50, Dar al-fikr, Beirut, 1979]
Pertanyannya:
Jika ‘Aisyiah dilahirkan pada Zaman Jahiliyah, berapakah usia minimal ‘Aisyah ketika dinikahi Rasulullah?”

“623 Masehi – 610 Masehi sama dengan 13 tahun!” jawab Nadia.

“Tepat sekali. Dengan usia ‘Aisyah menikah di atas 13 tahun, maka tuduhan ‘Aisyah menikah di usia 9 tahun adalah gugur.”

.
Bukti ke-3: Berdasarkan turunnya Surah Al Qamar

Dalam kitab Sahih Bukhari, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab) ketika Surah Al Qamar diturunkan” [Sahih Bukhari, Kitabu’l Tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa’atu Maw’iduhum wa’l Sa’atu adha’ wa amarr]. Menurut The Bounteous Koran karya M.M. Khatib, Surah Al Qamar diturunkan pada tahun ke-8 Sebelum Hijrah, itu sama dengan diturunkan pada tahun 614 M. [Wikipedia]. Perlu diketahui, Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain berusia antara 6-13 tahun, sila check di sini [Lane’s Arabic English Lexicon].
Nahh.. sekarang mari kita komparasi. Jika ‘Aisyah memulai berumah-tangga dengan Rasulullah pada usia 9 tahun di tahun 623 M, maka berapakah usia ‘Aisyah saat Surah Al Qamar diturunkan?”

“Tahun 623 M dikurangi 9 tahun sama dengan tahun 614 M. Sementara Surah Al Qamar diturunkan pada tahun 614 M. Lho.. berarti ‘Aisyah masih bayi dong saat Surah Al Qamar diturunkan?” kata Nadia

“Jadinya aneh, khan?! Padahal menurut riwayat Sahih Bukhari, ‘Aisyah adalah seorang gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika Surah Al Qamar turun. Sekarang pertanyaannya, kalo berdasarkan turunnya Surah Al Qamar, pada usia berapakah ‘Aisyah dinikahi Rasulullah?”

“Kalau rentang usia jariyah adalah antara 6-13 tahun pada tahun 614 M, maka pada tahun 623 M, usia ‘Aisyah menikah adalah antara 15 – 22 tahun

“Pinteer. Jadi, kesimpulannya bukti ke-3 ini menggugurkan tuduhan orientalis atas pernikahan ‘Aisyah yang berusia 9 tahun.”

.
Bukti ke-4: Umur ‘Aisyah dihitung dari umur kakaknya, Asma’

“Nahh… bukti 2 dan 3 sudah mulai mengerucut nih, untuk itu mari kita menengok kepada kakak ‘Aisyah yang bernama Asma’. Menurut sebagian besar ahli sejarah, mengatakan bahwa Asma’ lebih tua 10 tahun dari ‘Aisyah. [Riwayat ini terdapat dalam kitab Siyar A’lamal Nubala’ karya Al Zahabi, dan kitab Al Bidayah wa’l Nihayah karya Ibn Kathir]. Kemudian Asma’ meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H. [Riwayat ini terdapat dalam kitab Taqrib al-Tahzib karya Ibn Hajar Al Asqalani]. Artinya, Asma’ lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan ‘Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah. Menurut catatan para ahli sejarah, pernikahan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah radhiallahu ‘anha terjadi pada sekitar tahun 2 H.
Pertanyannya:
Pada usia berapakah Aisyah berumah tangga dengan Rasulullah?”

“17 tahun ditambah 2 tahun sama dengan 19 tahun! jawab Nadia.

“Hitungan yang tepat sekali, 19 tahun. Naah.. bukti-bukti yang kita bahas tadi mulai dari bukti 1 sampai 4 itu tidak ada yang kontradiksi, semuanya saling mendukung. Semoga dengan pembuktian ini, tidak ada lagi gossip yang dialamatkan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam atas pernikahannya dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

“Iya ya, bu, lha kalo umur 19 tahun di masa itu, jelas sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun sudah bukan umur anak-anak lagi.”

“Sebenarnya masih banyak lagi periwayatan lain yang berkaitan dengan ‘Aisyah, yang kalo dibuktikan makin meruntuhkan bangunan tuduhan cap pedofil yang disematkan orientalis pada Rasulullah, namun malam ini cukup 4 bukti itu saja, kalau Nadia masih pengen bukti lagi … bisa dibahas di lain hari.”

“Okey, bu, Nadia rasa sudah cukup telak, mending sisa waktu yang berharga ini kita gunakan untuk membahas tuduhan-tuduhan lainnya”

“Baiklah kalo begitu, insya Allah, besok kita akan bahas tuduhan tentang poligaminya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, yang karenanya beliau dituduh sebagai maniak seks”

.
—– Dialog Pertama Tentang Tuduhan Pedofil Selesai —–

Catatan: Dialog bagian kedua ini mengambil referensi atas tulisan:


……….

Sebagian umat Islam bungkam atas kebenaran yang dipaksakan pada hadits Umur ‘Aisyah ini, lalu mereka membuat pembenaran dengan cara yang dipaksakan agar pembenaran tersebut terlihat logis. Anda tentu tidak akan menikahkan anak perempuan Anda yang berumur 6 tahun demi menjalankan sunnah Rasul. Riwayat ‘Aisyah sallallahu ‘alaihi wa sallam menikah ketika berumur 6 tahun adalah sangat diragukan kebenarannya.

Seorang ulama besar Hindustan di abad 20, Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi karena kecintaannya kepada pribadi Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkaji secara mendalam umur ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau adalah seorang ahli hadits dari India, yang lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman, yang pernah jadi mufti besar Bhopal India. Maulana men-tahqiq hadits yang disahihkan oleh Bukhari-Muslim dalam kitab-nya yang berjudul “Umur Aisyah”. Beliau mencatat keganjilan pada hadits-hadits yang menyebut umur ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, diantaranya:

  1. Semua hadits Umur ‘Aisyah perawinya sanad-nya hanya dari garis Hisyam bin Urwah dan ayahnya, Urwah bin Zubair. Tidak ada yang lain. Tidak ada sahabat-sahabat Nabi lainnya yang menceritakan umur ‘Aisyah radhiallahu ‘anha saat menikah.
  2. Hisyam bin Urwah baru meriwayatkan hadits ini tatkala hijrah ke Iraq dan berumur 71 tahun. Sungguh aneh jika selama hidupnya ia tidak pernah menceritakan hadits ini kepada murid-muridnya seperti Imam Malik, Imam Hanafi dan sahabat-sahabatnya di Madinah selama puluhan tahun tinggal di Madinah. Justru ia menceritakan hadits ini ketika hari tua menjelang ajalnya kepada orang-orang Iraq.
  3. Sungguh aneh, bahwa tidak ada penduduk Madinah atau Mekkah yang ikut meriwayatkan hadits tersebut. Bukankah Madinah adalah tempat dimana ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tinggal, serta tempat dimana penduduk Madinah menyaksikan waktu dimana ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mulai berumah tangga dengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenai Hisyam ini Ya’qub ibn Syaibah berkata, “Yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpecaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik ibn Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq [Tahzib al-Tahzib, Ibn Hajar al-‘Asqalani, Dar Ihya al-Turath alIslami, jilid II, hal.50]. Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun [Al-Maktabah Al-Athriyyah, Jilid 4, hal.301]. Alhasil, riwayat umur pernikahan ‘Aisyah yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah, tertolak. Para ulama-ulama salaf menolak semua hadits yang diriwayatkan Hisyam bin Urwah saat ia tinggal di Iraq.

Lantas mengapa Bukhari dan Muslim mencatat hadits ini dalam shahih-nya?

Bukhari dan Muslim tidak mempersoalkan perawi hadits tentang umur ‘Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah, karena dianggap memang bukan hadits Nabi, namun hanya riwayat dari sahabat. Salah satu prinsip ulama hadits yang dinukilkan oleh Baihaqi adalah:

“Apabila kami meriwayatkan hadits mengenai halal dan haram dan perintah dan larangan, kami menilai dengan ketat sanad-sanad dan mengkritik perawi-perawinya, akan tetapi apabila kami meriwayatkan tentang fazail (keutamaan), pahala dan azab, kami mempermudahkan tentang sanad dan berlembut tentang syarat-syarat perawi.” (Fatehul-Ghaith, ms 120).

Disinilah letak masalahnya. Umur ‘Aisyah memang digampangkan kritik perawinya karena dipandang bukan bab penting mengenai halal atau haram suatu syariah. Para ulama hadits mengabaikan kesilapan dan kelemahan perawi dalam hadits Umur ‘Aisyah karena masalah umur tersebut dianggap tidak penting. Mereka tidak memeriksa perawinya secara terperinci. Dan tidak menyangka kalau cerita ini kelak justru menjadi senjata bagi pembenci Islam untuk menghina dan melecehkan pribadi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar membela Bukhari tidak mungkin tersilap dalam mengambil perawi. Namun Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi mengatakan bahwa semua riwayat Hisyam setelah tinggal di Iraq tidak bisa diterima. Mengenai tidak diterimanya Hisyam setelah tinggal di Iraq, Ibnu Hajar mengakui bahwa penduduk Madinah menolak riwayat Hisyam. Mengenai ini, saya berpendapat Ibnu Hajar dan Imam Bukhari tidak menyadari keputusannya mempermudah sanad dan berlemah lembut dalam syarat perawi pada hadits Umur ‘Aisyah yang nyatanya telah menciderai kepribadian Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa abad kemudian. Saya memaklumi kedua ulama besar (Bukhari dan Muslim) adalah manusia yang tidak luput dari kekhilafan, dan saya juga tidak menampik keluasan ilmu kedua ulama besar tersebut, tapi kita yang hidup jaman sekarang patut meluruskan hadits tersebut setelah didapatkan bukti-bukti shahih.

Mengapa ketidak-telitian riwayat Hisyam ini tidak dipermasalahkan di jaman dulu?

Memang awalnya tidak kelihatan bermasalah karena kondisi sosiologi budaya Arab saat itu memandang menikahi gadis di bawah umur adalah hal yang biasa, seperti kebanyakan negara-negara lain saat itu. Namun mulai abad ke 20, di masa lahirnya orientalis, tanpa disadari oleh ulama-ulama hadits di jaman dulu, masalah umur ‘Aisyah radhiallahu ‘anha telah mejadi fitnah yang keji terhadap pribadi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Fitnah ini tanpa sadar diiyakan oleh umat Islam sambil terseok-seok mencari pembenarannya. Alhamdulillah, fitnah ini telah diluruskan oleh Hz. Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi yang men-tahqiq hadits Bukhari tersebut.

…..

Pengantar Menjawab Tuduhan Kedua

Bukti mukjizat Al-Qur’an adalah pada QS.At-Thalaq:4 menggunakan kata ‘Tidak Haid’, namun oleh para penafsir jaman dulu diartikan sama dengan ‘Belum Haid’, sehingga oleh para orientalis pembenci Islam itu diartikan sebagai ‘anak masih kecil’. Dari situlah lahir pondasi tuduhan bahwa Allah memerintahkan pedofilia dalam Islam. Justru dengan tuduhan itu banyak yang makin mempercayai kemurnian kitab suci Al-Qur’an. Kok bisa?
Sila simak pembahasan berikut ini:

Melalui kolom komentar dalam jurnal dialog sebelumnya, tamu blog bernama Surya membantah isi jurnal tersebut dan membagikan tautan sebuah artikel tentang pedofilia dalam Islam. Bisa jadi untuk membenarkan bangunan tuduhan pedofilia kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, para pembenci Islam itu lantas menguatkan bangunan tuduhan lainnya yaitu Islam membenarkan pedofilia berdasarkan QS At-Thalaq: 4. Lantas, apakah kokoh bangunan tuduhan mereka itu, atau justru makin menunjukkan kekonyolan atas sikap mereka?

Sila simak halaman 2: Menjawab Tuduhan: PEDOFILIA DALAM ISLAM

Advertisements

Pages: 1 2


59 Comments

  1. jay says:

    Do not make a prophet as almighty god
    So don’t lie on Jesus
    I am the first and last it mean, could be i am born only have mother without father the first and last
    Adam the first and last born without father and Mother
    the first n last every prophet on his era was the first and last also one purpose to submit with almighty creator until them die or return to the creator by name Allah ….
    ibrahim noah moses saloman n etc absolutly not make them as god
    Never Jesus said that
    Never Jesus said he has all that god has.
    But he said that all that Jesus had God gave it to him.
    Jesus never said, i can do nothing by myself but
    Jesus said my father is greater than i
    Jesus said my father is greater than all
    Father in this verse mean only to scribe how closed between the creator and he creation
    That off ,do not thinking about begotten or begets
    So don’t lie on jesus
    Also jesus said:
    But of that day and hour knoweth no man, no, not the angels of heaven, but my Father only.
    i am the first and last it mean could be i am born only have mother without father the first and last
    So how can he have all that God have, without knowing the future hhhhhhhh
    please stoped.
    So don’t lie on jesus
    So don’t lie on jesus
    beware when talk about almighty creator
    Arab Christian also call god by name Allah
    not by Jesus his only the great messenger beside Allah…have nice day 2u also
    sorry for everything..c u next time

  2. jay says:

    apa yang saya faham hadis adalah kata 2 sabda rasullullah ,so selain sabda nabi sudah pasti ia bukan kategory hadi mohon pencerahan…
    jadi berkenaan pernikahan usia aishah rasanya bukan di tuturtkan oleh Rasullullah saw…tq

  3. adrian73 says:

    a.w.w, eeh komen sayq ternyata sudah pernah mas iwan sampaikan jauh sebelumnya 2013.. hehehe jadi malu saya yg sok pinter ini..maju trus mas…wassalam

  4. Kutip:
    “Semua anak Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang berjumlah 4 orang dilahirkan pada Zaman Jahiliyah dari 2 isterinya. Riwayat ini terdapat dalam kitab Tarikh Al-Mamluk karya Al-Thabari.

    Ini referensinya ngawur, karena dari apa yang saya baca, kalimat sebenarnya tidak seperti itu. Tabari tidak menyatakan bahwa keempat anaknya lahir di zaman jahiliyah, yang benar adalah keempat anaknya lahir dari 2 istri yang ia nikahi di zaman jahiliyah.

    Sumber:
    http://islamport.com/w/tkh/Web/2893/914.htm

    Kok bisa ngawur? Saya bisa menebak bahwa anda membantah artikel ini bukan berdasarkan pemikiran atau riset anda sendiri tapi copas bantahan orang lain, karena saya pernah membaca bantahan serupa di media lain. Jika ya, maka saya sarankan agar anda lebih berhati2 mengutip referensi.

    Silahkan anda bahas ini dulu, mau mengaku bahwa tulisan ini copas asal2an, atau ingin membela diri untuk komentar saya, kalau yang ini udah kelar baru saya lanjut dengan hadits lain yang anda rujuk.

    • Jangan cepat ambil kesimpulan hanya dg satu sumber soal usia ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu, sehingga berkesimpulan ‘Aisyah tidak dilahirkan di jaman jahiliyah.

      Ayo dong gali lebih banyak lagi petunjuk soal usia ‘Aisyah.

      Soal copas atau tidak, saya tidak tertarik membahasnya. Toh referensinya SAYA SERTAKAN DENGAN JELAS di jurnal di atas. Tujuan jurnal ini adalah bagaimana membangun komunikasi orang tua dg anak agar anaknya tidak tersesat dapat informasi penuh fitnah dari kawan-kawannya yg tersesat jalan.

      Saya perhatikan, Anda ini kok sering bilang: copas, ngawur, bla bla bla.
      Padahal saya tidak pernah meng-klaim tulisan saya. Selalu saya sertakan referensinya.
      Sebenarnya apa sih tujuan Anda ini berkomentar?
      Cuma mau menunjukkan jago debat?
      Kalo tujuannya itu Anda salah ruang masuk sini.
      Seorang yg berilmu tidak gampang men-judge lawan diskusinya. Paham?!

    • Referensi tulisan online yang baik itu adalah berupa link, atau kalau anda copas dari sebuah buku tunjukkan foto atau screenshoot tulisan tersebut. Karena bisa saja anda mengaku ngutip sebuah buku namun pada kenyataannya anda tidak pernah membaca buku tersebut.

      Faktanya, ketika saya membandingkan referensi anda dengan referensi saya, ternyata ada perbedaan yang maknanya sangat jauh berbeda. Jelas referensi saya lebih bisa dipercaya, karena saya langsung menunjuk pada sumber, berbeda dengan anda yang kemungkinan telah salah menerjemahkan atau sengaja memelintir referensi.

      Btw, tidak perlu mengklaim apapun untuk bisa dituduh sebagai ngawur. Ngawur ya ngawur, pembohong ya pembohong, koruptor ya koruptor. Gayus Tambunan tidak perlu mengklaim dirinya orang baik agar bisa dituduh sebagai koruptor, begitu pula anda tidak perlu mengklaim bahwa tulisan anda benar untuk bisa dikatakan ngawur.

      Saya tunggu foto bukunya dan foto tulisannya, beneran ga anda punya bukunya, biar orang lain yakin bahwa tulisan anda memang benar, kalau perlu jelaskan sekalian kenapa referensi anda berbeda dengan referensi yang saya ajukan. 🙂

    • Baiklah, mas Candra, saya penuhi permintaanmu. Untung hari ini saya pas lagi gak ada biz trip ke luar kota, shg bisa dg mudah men-scan buku referensinya yg tersimpan di rak buku ruang perpustakaan keluarga.

      Dalam jurnal di atas saya tulis referensinya adalah:
      Dr.Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dalam buku “Muhammad SAW – The Super Leader, Super Manager”, hal.302-304]

      Referensi itu tertulis dg jelas dalam jurnal saya ini. Yang saya kedepankan dalam tulisan saya ini bukan seolah-olah saya yg pertama kali membuktikan ketidak-benaran tuduhan para orientalis abad 17 itu, tapi tujuan saya menulis jurnal ini adalah sbg contoh bagaimana orang tua berkomunikasi dg putra/putrinya untuk membentengi keluarganya dari upaya pendangkalan akidah yg dilakukan oleh para islamophobic.

      Barusan saya scan buku itu, silakan pelototi isinya di sini: https://iwanyuliyanto.co/?attachment_id=4924

      Siapa Dr.Muhammad Syafii Antonio, M.Ec ?

      Beliau lulus dari Fakultas Syariah University of Jodran (S1) Program Islamic Studies Al Azhar Cairo, Master of Economics International Islamic University Malaysia (S2), dan University of Melbourne (S3) dan melakukan visiting research di Oxford University. Saat ini menjadi Komisaris dan Dewan Pengawas di Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Syariah Mandiri, takaful, Bank Export Indonesia, dan PNM. Beliau juga memimpin Batasa Tazkia Consulting, STEI Tazkia dan diamanati sebagai Komite Ahi Bank Indonesia. Tahun 2006, beliau diangkat Perdana Menteri Malaysia sebagai Shariah Advisory Council Bank Central Malaysia. Beliau telah menulis lebih dari 10 buku tentang Perbankan, Leadership dan Manajemen. Atas kiprahnya, beliau dianugerahi “Syariah Award” oleh MUI, BMI, dan Bank Indonesia.

      Demikian sekilas informasi tentang Dr.Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. Silakan Anda kroscek via googling.

      Sesuai konteks bahasan kita kali ini, saya hanya scan hal 304, silakan cermati. Sedangkan hal 302 – 303, silakan buktikan isinya sendiri, Apa susahnya Anda ke toko buku melihat isinya. Ini buku yg umum sekali. Makanya saya kasihan pada Anda yg masih belum move on dari argumen orientalis abad 17, padahal sudah dibantah habis di abad 19. Pak Antonio pun berdasarkan daftar pustaka-nya dalam buku tsb juga mengambil referensi dari penulis abad 19. Dan sampai sekarangpun kami umat Islam tidak sibuk mempermasalahkan soal pernikahan dini itu. Lucu sekali kalo pegiat semacam faithfreedom itu masih bahas ginian, sesuatu hal yg usang.

      Yang jelas, saya LEBIH PERCAYA Pak Antonio, yg telah menguasai banyak bahasa (termasuk bahasa Arab), dan menjadi pembicara di berbagai negara, serta diamanati oleh banyak para kepala negara. Beliau aset bangsa ini. Lihat perjalanan hariannya via akun twitternya. Artinya ia telah mempertanggungjawabkan karya-karya yg ia hasilkan. Kredibilitasnya sudah teruji.

    • Oh maaf, ga baca catatan kakinya, terlalu fokus sama satu referensi aja (my bad), tapi jelas ya, ini artinya anda memang menulis cuma berdasarkan copas bantahan orang lain, bukan hasil riset atau pencarian anda sendiri.

      Anda bilang tulisannya Syafii Antonio itu kredibel, saya katakan tidak, bisa saja dia salah menerjemahkan, lha bukunya saja salah ketik (dia mengetik manurut, bukan menurut), artinya kemungkinan salah itu memang ada.

      Anda baru mengajukan 1 referensi yang mendukung pernyataan itu, itupun dari referensi sekunder, alias tulisan orang lain yang ngaku membaca Tabari, bandingkan dengan saya yang mengajukan link yang langsung merujuk kutipan Tabari dalam Bahasa Arab, dan referensi itu tidak hanya 1 saya bisa memberi puluhan situs yang menulis hal serupa.

      Referensi Tabari anda tidak hanya saya katakan salah, sebaliknya Tabari justru terang2an alias secara literal mengatakan bahwa Muhammad menikahi Aisyah di usia 6 tahun dan baru diajak berhubungan seksual di usia 9 tahun.

      Silahkan baca disini di halaman 131:
      http://isites.harvard.edu/fs/docs/icb.topic1094745.files/Tabari%20Vol%209.pdf

      Itu adalah referensi yang dijadikan rujukan ole Harvard, salah satu universitas terbaik di dunia

      Dalil lain yang diajukan juga patut dipertanyakan.
      Seperti komen saya di artikel sebelah (propaganda), saya sempat mengatakan bahwa angka 100 untuk menyatakan umur itu tidak bisa dipercaya sehingga semestinya hadits itu dinilai lemah, sedang bukunya Syafii Antonio justru mengutip dalil itu untuk kemudian mencoba membantah Bukhari yang shahih bahkan karena saking banyaknya hadits yang menyebutkan hal serupa maka bisa dikategorikan mutawatir. Ini kan lucu.

      Orang di timur tengah tidak pernah membahas? Ada tuh, cari videonya di Youtube juga ada. Cuma jarang, karena disana memang tidak diperdebatkan, mereka mengakui bahwa pernikahan Muhammad dengan Aisyah yang masih bocah itu memang benar, bahkan tradisi itu masih berlangsung hingga sekarang. Apa di Indonesia ada yang ribut membahas hadits pelarangan makan babi? Ya enggak, karena itu sudah jadi pengetahuan umum, begitu pula dengan pernikahan anak kecil di timur tengah.

      Soal menstruasi, itu datanya darimana? Saya sebagai orang kesehatan banyak membaca jurnal ilmiah dan tahu bahwa umur menstruasi manusia itu dari dulu hingga sekarang tidak berbeda jauh, angkanya ya di kisaran usia 12-13 tahun, maka jika ada yang menstrurasi di usia 9 tahun pada zaman Muhammad, maka itu hal yang wajar2 saja.

      Ini adalah foto bagaimana pernikahan dini yang ada di timur tengah:

      Ini adalah data statistik mengenai jumlah pernikahan di bawah usia 18 tahun di timur tengah, yang ternyata di Saudi sama sekali tidak memiliki hukum yang membatasi usia perkawinan:
      http://en.wikipedia.org/wiki/Child_marriage#Middle_East

      Lagipula mas, yang namanya menstuasi itu cuma tanda bahwa perempuan bisa menghasilkan sel telur, bukan tanda bahwa dia siap hamil, karena belum tentu rahimnya cukup kuat untuk mengandung.

    • Ada 2 link URL dlm komentar Anda di atas, sehingga masuk spam.

      Cepat sekali Anda men-judge bahwa kapasitas Pak Syafii Antonio gak kredibel, hanya gara-gara kesalahan 1 huruf. Who are you?
      Jauhilah sifat sombong 🙂
      Galilah ilmu untuk memberi banyak manfaat, bukan untuk menyuburkan kebencian. Enak tho?

      Untuk sementara STOP sampai di sini. Saya melihatnya sudah tidak sehat lagi.

      Sebagai penutup diskusi, sapertinya Anda terlewat membaca dialog bagian I ini:

      “Coba Nadia lihat tabel ini: Age of Consent Laws [Table]. Kalo kita lihat Table Age of Consent dari negara-negara Amerika dan Eropa dari masa ke masa, pernikahan dini itu hal yang biasa. Dalam sejarah Kristen, pernikahan dini dianggap hal yang wajar. Santo Agustinus (354-439 M) menikahi gadis usia 10 tahun saat usia dia 31 tahun. Santa Hedwig dari Andechs (1174-1243 M) menikah usia 12 tahun. Dalam ensiklopedi Katolik, Maria ‘si perawan suci’ saat usia 12 tahun menikah dengan Yoseph yang berusia 89 tahun. Usia mereka selisih 77 tahun! Tidak ada yang bilang ibunda Maryam korban pedofili-nya Yoseph.
      Kemudian memasuki abad modern, seperti yang kita lihat pada tabel usia legal untuk menikah, tahun 1880 di Rusia usia legalnya 10 tahun, di negara bagian Amerika Serikat Delaware adalah 7 tahun, Florida 10 tahun. Jadi jika Rasulullah hidup pada 130 tahun yang lalu di Delaware dan bukan 1400 tahun yang lalu dan menikah tinggal serumah saat ‘Aisyah 9 tahun, .. maka tidak ada yang menuduhnya pedofil, karena usia layak nikah di Delaware tahun 1880 adalah 7 tahun.”

      Nadia mengangguk-angguk paham, dalam benaknya ia makin yakin bahwa tuduhan keji mereka, para pembenci Islam, ini makin menunjukkah kebodohan mereka sendiri.
      Riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi benar, karena menikah dini di jaman dahulu itu adalah hal yang dianggap biasa. Menilai manusia masa lalu dengan sudut pandang manusia masa kini bukanlah sikap yang bijak.
      Sebaliknya, riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi salah, karena tidak mungkin Rasulullah menyalahi hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an mengenai persyaratan menikah.
      Jadi selama ini mereka, para pembenci Islam, telah disibukkan oleh hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, karena nyatanya cahaya Islam makin terang di seluruh penjuru dunia.

  5. Atti says:

    jaman dahulu tahun 1700 – 1900an di amerika (dari buku novel yang saya baca lho ya :D) bahkan usia 10 tahun pun seorang anak lelaki sudah dibilang “anak muda” dan harus sudah bisa mengendalikan kereta kudanya sendiri serta bersikap seperti seorang “laki-laki”. anak perempuan berusia 16 tahun sudah diperkenankan utk memiliki seorang suami dan usia 18 tahun mereka sudah memiliki anak.
    benar dan setuju yang dibilang bahwa ketika budaya bergeser dan pelaku kejahatan seksual sebenarnya mulai muncul, saat itulah tuduhan2 keji kepada Rasul muncul padahal jaman dahulu sepertinya kedewasaan seseorang pun memang muncul lebih awal daripada yang diamati sekarang. demikian opini pribadi saya

  6. yusmuthahar says:

    سُبْحَانَ اللَّه.
    Terima kasih. Menambah wawasan

  7. sofyan says:

    Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th, bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`.

    Berarti yang ditulis di atas salah ya, mas? seharusnya wafat pada usia 75 tahun bukan 66 tahun, sebab kalo 66 tahun di tahun ke 2 H baru berusia 10 tahun.

  8. Sigit says:

    saya sendiri lebih condong ke pendapat yg ini.. bahwa Aisyah dinikah pada umur belasan

  9. Bapaknya pinter dialog dengan anak pun dialog yg mencerdaskan. ^^

  10. Ailyna says:

    Luar biasa penjabarannya. Ijin share pak.
    Ilmu saya belum mumpuni untuk gabung diskusi dengan pak Iwan. 🙂

  11. oomguru says:

    waduh.. panjang sekali penjabarannya.
    belum beres nih bacanya.. hehehe

  12. sunarno2010 says:

    waktu dulu saat sekolah menerima pelajaran ini hanya bingung saja tanpa bisa memberikan kritik, terima kasih mas nanti saya sampaikan ke teman yang ngajar Sejarah Kebudayaan Islam

  13. Istanamurah says:

    harus baca edisi sebelumnya nih nampaknya, sippp,,

  14. Ina says:

    oleh para pembenci islam, bakalan terus mencari2 kelemahan ataupun sekedar untuk memfitnah nabi. semoga mereka dibukakan hatinya dan malah adi pengagum islam. amin

  15. anotherorion says:

    nganu kok dadi 2 lembar ngene sih mas? antara kepo n wegah repot :)))

    • Ben ora dowo, beda pembahasan 🙂
      Halaman 2 justru sbg bukti bahwa Al-Qur’an adalah murni dari Allah, sehingga banyak yang menemukan hidayah-Nya. Membalik keadaan lewat ayat yang dipelintir orientalis sebagai ayat ‘pendukung pedofilia’.

    • anotherorion says:

      bahas iki mas, tuduhan nabi ngarang al quran, kan nabi katanya ummiy tp beberapa kali ngirim surat neng negara manca ngajak memeluk islam.
      Hipotesise
      1. Nabi buta huruf (ummiy) sebelum masa kenabian, dan tetap begitu sampai meninggal, (surat ditulis oleh sahabat sesuai perkataan nabi)
      2. Selama masa kenabian, Nabi belajar baca tulis, (mungkin dari tawanan perang yang dibebaskan dengan syarat ngajarin umat islam ttg ilmu pengetahuan, termasuk baca tulis)

    • Dulu waktu masih di era milis, aku pernah diskusikan di forum isnet. Saat itu belum nge-tren blogdan thread forum.
      Insya Allah, masuk daftar pembahasan setelah bab poligami-nya Rasulullah.

  16. makasih kawan atas ilmunya

  17. Share2 ilmu2 yang lain juga om,.. untuk lebih mengenal nabi Muhammad

  18. beberapa waktu yang lalu, temanku pernah cerita dia pernah baca hasil penelitian alasan kenapa masa idah 3 bulan.
    Ternyata dalam 3 bulan setelah hubungan terakhir kalinya, gen atau kromosom (lupa istilahnya apa) si suami masih menempel di dalam miss v atau saluran rahim wanita. Setelah 3 bulan baru bersih sama sekali…

    • Masya Allah… itulah keagungan Al-Qur’an, dan bukti datangnya dari Allah, bukan karangan manusia.
      Betul, masa iddah yang diatur dalam Al-Qur’an itu (salah satunya) untuk meyakinkan tidak ada benih yang dikandung suaminya terdahulu.

    • Iya mas iwan… alasan inilah, kata temanku yang akhirnya memutuskan si ilmuan tadi untuk masuk islam. dasar penelitiannya memang ini : kenapa masa idah wanita islam yang cerai 3 bulan.

    • Allahu Akbar! Mereka para pembenci Islam yang menggunakan ayat ini untuk mengolok-olok agama Islam sebagai agama pendukung pedofilia, justru faktanya membuka pintu hidayah-Nya.
      Semoga temanmu istiqomah dan kelak meninggal tetap ber-Islam.

  19. nggak ngerti. angka-angkanya gak sama. ada yang 13, 19 dan macam-macam. jaman dulu belum pakai hitungan angka ya? terus orientalis menjelek-jelekkan islam dengan hadis yang diputar balik. wah, harus belajar hadist nih.

    • Itu sekedar petunjuk kok.
      Bukti 2: Bukan angka pas 13, tapi di atas 13, yang artinya bisa 14, 15, 16, 20, 30, dst … Yang jelas menggugurkan angka 9 tahun.
      Bukti 3: Antara 15 – 22, artinya 15, 16, 17,…, 22. Yang jelas menggugurkan angka 9 tahun.
      Bukti 4: Naahh… itu baru angka pas 19 atau 20 tahun. Mengapa ada ‘atau’ karena standar Masehi dan Hijriyah beda 11 hari di setiap tahunnya.

    • oh, gitu. kalau umur 13 -an sebenarnya boleh nikah dong?
      kalao gak salah dulu Ali bin Abi tholib nikah sama Fatimah umur 18.
      nikah dini, cinta lebih bisa tersalurkan secara halal dan banyak hal produktif yang dihasilkan. oke?

    • Boleh, asal melalui jalan halal, bukan mut’ah.
      Dan memenuhi syarat sbb:
      – Jangan ada paksaan (QS An-Nisaa: 19)
      – Harus sudah mampu mengurus harta, matang secara akal / kedewasaan. (QS An-Nisaa: 5-6)
      – Harus sudah mampu berhubungan seksual, matang secara fisik. (QS An-Nisaa: 24)

  20. jampang says:

    terima kasih ilmunya, pak

  21. Terima kasih pencerahannya mas Iwan 🙂

  22. araaminoe says:

    Ada sanggahan lain, anyone?

    Great article, Bapak.. 🙂

  23. lieshadie says:

    Makin ke sini makin jelas..bahwa hadis – hadis yang kurang kuat selalu di jadikan senjata bagi pembenci umat Islam

  24. chuin5 says:

    Saya pernah baca sekilas tentang umur sebenarnya Aisyah saat menikah dengan Rasulullah SAW tapi lupa di mana gitu bacanya, dengan penjelasan ini insya Allah bisa saya jadikan dasarnya 🙂

    • Kalo ditelusuri riwayat ‘Aisyah banyak sekali bukti-bukti yang saling mendukung. Seperti dalam jurnal ini, mulai dari bukti 1 sampai 4 itu memberikan petunjuk dan saling mendukung

      Bukti 1 : Mustahil ‘Aisyah belum lahir saat masuk Islam.
      Bukti 2 : Usia menikah ‘Aisyah adalah di atas 13 tahun.
      Bukti 3 : Rentang usia menikah adalah antara 15 – 22 tahun.
      Bukti 4 : Jelas disebutkan usinya adalah 19 tahun.

      Bukti-bukti lainnya tidak saya tampilkan, karena bikin jurnal ini jadi panjang, sebab ada saya tambahkan di halaman 2 pembahasan soal tuduhan lainnya.

    • chuin5 says:

      Ada beberapa pengertian yang beredar di masyarakat muslim pada umumnya terkait usia Aisyah ini, dan inilah yang sebenarnya membingungkan umat muslim sendiri, sehingga kadang-kadang malah memunculkan perdebatan

    • Adanya polemik ini karena awalnya muncul dari hujatan orientalis, padahal Rasulullah tidak pernah mendapatkan hujatan sbg seorang pedofil saat menghadapi Abu Jahal dan pembesar Quraisy lainnya.

      Bagi kita umat Islam tidak perlu ikutan risau atas tuduhan itu. Ulama-ulama jaman dulu pun juga bersikap tenang, meski mereka berbeda pendapat. Perbedaan pendapat para ulama tentang periwayatan itu bukanlah perbedaan dalam perkara aqidah yang pokok, dasar-dasar agama, dan bukan pula domain untuk mengeluarkan seseorang dari Islam. Oleh karenanya perbedaan tersebut jangan sampai menyalahkan atau menodai kehormatan para imam yang memiliki pendapat lain terhadap lainnya.

      Riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi benar, karena menikah dini di jaman dahulu itu adalah hal yang dianggap biasa. Menilai manusia masa lalu dengan sudut pandang manusia masa kini bukanlah sikap yang bijak.
      Sebaliknya, riwayat pernikahan dini ‘Aisyah itu bisa jadi salah, karena tidak mungkin Rasulullah menyalahi hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an mengenai persyaratan menikah.

    • chuin5 says:

      Syukron, sangat mencerahkan dan menambah wawasan lagi 🙂

  25. Yeyet Rusmanti says:

    Tambah bingung gw. Tafsirnya bilang ANAK KECIL, hadisnya bilang Aisyah 9 tahun disetubuhi Nabi, tapi artikel di atas sangat menentangnya. Mengapa?

    Jadi bijimane boss? Halal atau tidak mengawini anak perempuan masih kecil yang belum haid?

    HALAL atau HARAM?

    • disetubuhi? kasar banget bahasanya, kayak omongannya Faithfreedom aja.

      Gini ya, mbak, Allah sudah memberikan petunjuknya dalam QS An-Nisaa ayat 5 dan 6. Sila dibaca ya.
      Di situ diterangkan bahwa dianjurkan untuk menikahkan putrinya bila sudah mempunyai bekal yang kuat (dalam pengelolaan harta) dan tingkat kedewasaan yang baik. Ini hukum dari Al-Qur’an.
      Baca juga jurnal sebelumnya biar makin paham.
      Case by case ya, halal itu bila tidak zina. Kalau zina itu haram.

      Soal tafsir ‘anak kecil’ itu hanya upaya mereka (pembenci Islam) yang terlalu memaksakan diri QS At-Talaq ini dipakai senjata bahwa Islam membenarkan pedofilia. Padahal itu ayat untuk solusi masa iddah. Baca lagi baik-baik halaman 2 jurnal ini. Semoga menemukan hidayah-Nya setelah membacanya.

    • Yeyet Rusmanti says:

      Jadi hadis bukhari yang menyatakan usia Aisyah itu 9 tahun saat disetubuhi Nabi adalah salah? Kalau salah, mengapa di buku koleksi hadis bukhari di perpustakaan saya tercantum demikian?
      Apakah kita umat Muslim sebaiknya protes saja pada penerbit buku sahih hadis? Bukunya dijual di tempat2 umum, ini tentu berbahaya.

      Quote: Di situ diterangkan bahwa dianjurkan untuk menikahkan putrinya bila sudah mempunyai bekal yang kuat

      Maafkan saya yang bodoh bertanya lagi:
      Apakah Aisyah sudah punya bekal yang kuat sehingga Abu Bakr menikahkannya dengan Nabi?
      Bagaimana mengukur “bekal yang kuat” ini, sedangkan usia nikah sendiri tidak ada batasannya dalam Syariah?

    • Saya JAMIN pertanyaanmu itu semua sudah saya jawab di sini:

      https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/12/20/dialog-benarkah-nabi-muhammad-seorang-pedofil/

      Ada kesimpulan penting menuju bagian akhir paragraf.
      Maaf, saya tidak mengulangi lagi jawaban atas pertanyaan yang kesannya tidak baca dua jurnal ini dengan teliti. Karena sudah saya uraikan dengan gamblang di kedua jurnal tersebut.

      Selamat menyimak dengan seksama ya 🙂

  26. Dyah Sujiati says:

    Ya ya ya, tentang ‘masa iddah yang belum haid’, itu kan solusi bagi yang dicerai belum haid. Belum haid bukan berarti anak-anak. Karena ada usia 19 baru haid. Bahkan ada perempuan yang tidak bisa haid sama sekali. Inilah sempurnanya Al Qur-an. Sampai detail dalam memberi solusi.
    Kalau yang gagal paham / salah paham/ malah ngawur itu tanda tak cerdas. Yihi!

    • mbak Dyah cerdas sekali, karena mampu melihat fakta di lapangan, bahwa perempuan yang tidak haid bisa berarti:
      1. yang belum haid karena masih kecil.
      2. yang belum haid karena kelainan organ produksi.
      3. yang terlambat datang bulan.
      4. yang mengalami operasi pengangkatan rahim.
      5. yang memakai alat kontrasepsi.
      6. … dan lain-lain

      Dan Al-Qur’an memberikan solusi atas kasus-kasus khusus yang terjadi pada mereka.

    • tinsyam says:

      belum haid bukan karena memakai alat kontrasepsi mas..
      pernah dulu dibahas bareng teman, kalo wanita tidak haid itu ada dua, masih anak2 dan sudah menopause..
      ada yang bilang aisha menikah dengan nabi diusia 9 tahun, setelah diserahkan bapaknya abubakar diusia 6 tahun.. jadi ada jenjang 3 tahun aisha dijaga nabi sampai siap.. mbuh ini cerita bener apa isapan.. cerita soal nabinya mah banyak..

    • Ayat tersebut tidak membahas ‘belum haid’ tapi ‘tidak haid’, beda jauh maknanya, mbak Tin. Betul “menopouse” salah satu penyebabnya dari banyak item yang saya sebutkan di atas.

      Tentang usia Aisyah yg menikah di usia 9 tahun sudah dibantah dengan detail poin-poin-nya plus dalilnya dalam jurnal ini.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: