Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Tuduhan di Seputar Poligami Rasulullah [#2]

[Dialog] Tuduhan di Seputar Poligami Rasulullah [#2]

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

poligami rasulullah

Bismillah …

Jurnal ini adalah lanjutan dari dialog sebelumnya di sini.

–: MENJAWAB TUDUHAN KE-4 : RASULULLAH SEORANG SEKS MANIAK

“Nadia, kamu tahu gak kalo Nabi Muhammad pernah melakukan praktek seks orgy, bayangin aja dalam satu hari satu malam menggilir semua istrinya yang berjumlah sebelas orang. Ditambah lagi ada keterangan kalau sang Nabi mempunyai kekuatan perkasa yang setara dengan 30 laki-laki. Dahsyat banget, khan? Mereka bisa cerita gini karena mengambil sumber dari hadits, bukan mengarang-ngarang cerita. Makanya gak salah kalo aku dan banyak orang menjulukinya sebagai seks maniak,” kata Jenny sambil menunjukkan sebuah komik “Sex in Islam – According to Prophet Muhammad” yang dipublikasikan oleh faithfreedom[dot]org. Jenny berkata dengan kalimat vulgar seperti itu bisa jadi karena terpengaruh bacaan – bacaan orientalis yang islamophobic.

Dalam lembaran komik tersebut divisualisasikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang telanjang, tersenyum bahagia dikelilingi istri-istrinya yang semuanya juga telanjang, kemudian di bawah gambar tersebut terdapat kutipan sebuah hadits:

Shahih Bukhari 260: Anas bin Malik radiallahu ‘anhu said, “The Prophet used to visit all his wives in a round, during the day and night and they were eleven in number“. I asked Anas, “Had the Prophet the strength for it?” Anas replied, “We used to say that the Prophet was given the strength of thirty (men).”


“Okey, sebelum saya menanggapi hadits tersebut, menurutmu bagaimana kualitas ibadah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam?” tanya Nadia.

“Namanya juga nabi, ya jelas lebih baik dibanding kita manusia biasa, tapi beliau juga manusia yang punya nafsu, khan?!”

“Betul, tapi apakah Jenny tahu tentang sifat “maksum” pada diri nabi-nabi Allah?”

“Setahuku, maksum adalah orang yang terjauhkan dari segala macam kontaminasi dosa, segala perbuatan buruk dan tercela, juga terjauhkan dari sekecil pun kesalahan dan kekhilafan.”

“Yak, betuul”

“Namun meski mereka mempunyai sifat maksum, mereka juga disertai dengan kondisi kebebasan, ikhtiar, kemungkinan dan kemampuan dalam mengerjakan dosa dan kesalahan. Itu definisi lanjutannya. Naah, bisa jadi saat itu sang Nabi memang gak bisa ngontrol nafsunya. Manusiawi, bukan?” Jenny mencoba beragumen.

“Hmm… begini, Jen, mana yang lebih efektif dalam manajemen perubahan, [1] berbuat dengan memberikan contoh yang baik, atau [2] memberikan ceramah atau teori.”

“Idealnya sih bisa kedua-duanya jalan. Tapi kalau bicara mana yang lebih efektif, aku pilih: berbuat dengan memberikan contoh yang baik”

“Good. Trus seandainya ada kasus gini, seorang boss nerapin aturan: seluruh karyawan dilarang merokok di kantor, tapi dia sendiri sering nyuri-nyuri kesempatan merokok di kantor, sehingga menjadi rahasia umum. Menurutmu apakah ada pengaruhnya?”

“Ya, jelas ada doong … kalo si boss itu gak lagi ada di kantor, maka karyawannya juga akan merasa bebas merokok di kantor, dengan bilang: “santai aja, sob, si boss aja ngerokok di sini”. Yang pada akhirnya peraturan itu hanya nempel di dinding perusahaan, tapi tidak di hati karyawannya. Eh, lha kok kita jadi bahas ginian?” kata Jenny.

“Saya coba beranalogi untuk menjawab apa yang kamu bilang: ‘bisa jadi saat itu sang Nabi memang gak bisa ngontrol nafsunya’.”

“Lantas, hubungannya?”

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mendidik dan melindungi para nabi-Nya dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat, sehingga kehidupan mereka bukanlah hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan sebagai teladan bagi manusia untuk mendapatkan petunjuk. Untuk itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan para nabi-Nya sebagai manusia yang paling sempurna bentuk dan budi pekertinya, paling banyak ilmunya, paling mulia nasab-nya, paling benar perkataannya, dan paling banyak kecerdasannya. Itulah bagian dari bentuk sifat maksum.”

“Wah, asyik banget dong ya jadi nabi, dapat sifat-sifat spesial dari Tuhan,” kata Jenny.

“Seperti yang kubilang tadi bahwa kehidupan mereka bukanlah hanya untuk diri mereka sendiri, tapi untuk kita semua karena hikmah pengutusan nabi-nabi-Nya adalah hidayah bagi kita semua umat manusia. Hidayah itu tidak akan terwujud, kecuali dengan pergaulan bersama mereka, nabi-nabi Allah. Kemudian sunnah-sunnah dan catatan kenangan-kenangan mereka sesudah wafatnya, merupakan pelita-pelita yang menerangi kegelapan hidup manusia pada generasi berikutnya dan menjelaskan kepadanya jalan-jalan kebenaran.”

“Mengapa Tuhan menyematkan sifat maksum pada para nabi-nabi-Nya?” tanya Jenny.

“Itulah tandanya Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang kepada kita semua. Bayangkan seandainya nabi-nabi itu berdusta, berkhianat dan buruk tingkah lakunya, niscaya lemahlah kepercayaan terhadap mereka dan niscaya mereka itu akan menyesatkan, bukan membimbing sehingga hilanglah hikmah pengutusan mereka, mereka akan rendah dalam pandangan manusia dan tidak seorang pun yang memenuhi seruan mereka. Kalo sudah begitu, gak ada jaminan aku terlahir ke dunia ini dengan merasakan nikmatnya ber-Islam.”

Kemudian lanjut Nadia, “Al-Qur’an berbeda pandangan dengan Perjanjian Lama tentang nabi-nabi Allah, Perjanjian Lama menggambarkan nabi-nabi itu dengan dusta dan penipu serta perbuatan dosa besar lainnya, sedangkan Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai manusia yang suci dengan berbagai keistimewaan. Sesungguhnya penggambaran nabi-nabi dengan sifat-sifat yang jelek, dengan sendirinya akan menimbulkan pengaruh buruk atas jiwa orang mukmin yang bertaqwa dan menjauhi maksiat. Ia bisa saja berkata dalam dirinya: “santai aja, sob, nabi-nabi Allah juga ngelakuin yang ginian”.”

“Okey, aku paham, trus gimana tanggapanmu tentang hadits yang kusampaikan tadi?” tanya Jenny.

“Hehehe… sabaar, intermezzo nya belum kelar, Jen, masih ada lagi,” kata Nadia sambil membuka aplikasi hadits online.

“Wah, masih ada lagi ya? It’s okey, gak papa, saya suka kok dengan penjelasanmu, karena itu ilmu bagiku.”

“Naah sekarang kamu baca ini,” kata Nadia sambil menyodorkan ipad yang layarnya sudah menampilkan hadits-hadits Rasulullah yang terbagi dalam beberapa tab. Hadits tersebut antara lain tentang adab berumah tangga, tentang adab ber-jima’ bagi suami-istri, tentang kualitas ibadah Rasulullah, dan tentang gambaran pribadi Rasulullah.

Setelah menjelaskan hadits-hadits tersebut yang jumlahnya cukup banyak, Nadia berkata:
“Nahhh… sekarang untuk menanggapi hadits yang kamu anggap sebagai perbuatan seorang seks maniak, saya jawab dengan mengajukan 4 pertanyaan kritis, yaitu:

  1. Mungkinkah waktu-waktu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam siang dan malam di usia senja hanya disibukkan untuk menggauli dan menggilir istri-istrinya?
    Padahal ada banyak hadits shahih yang menceritakan bahwa waktu-waktu beliau terutama malam diisi dengan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan ada hadits masyhur yang diriwayatkan oleh istrinya Aisyah radhiallahu ‘anha tentang sering dan lamanya shalat malam sampai-sampai kaki Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bengkak.
  2. Mungkinkah istri-istri Beliau sebagaimana disebut dalam hadis tersebut yang berjumlah sebelas orang itu semua dalam keadaan suci, tidak ada yang menstruasi dalam satu waktu?
    Ingat, Rasulullah mengajarkan bahwa haram hukumnya berhubungan seksual dengan istri yang sedang haid.
  3. Mungkinkah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menggauli istri-istrinya sekaligus atau secara bersamaan sehingga masing-masing saling menampakkan auratnya?
    Ingat, Rasulullah mengajarkan bahwa haram hukumnya melakukan hal yang demikian. Bila itu terjadi pada pasangan yang berpoligami hanya akan membawa pengaruh negatif bagi isteri-isterinya itu sendiri selain dari penampakkan aurat seorang isteri kepada isteri yang lainnya. Hal lainnya, kemampuan seorang suami sangatlah terbatas untuk bisa memberikan kepuasan yang sama kepada semua isterinya yang digaulinya secara bersamaan itu baik didalam permainan jima’nya maupun tempat ditumpahkan spermanya. Hal ini akan memunculkan kecemburuan bahkan kebencian di dalam diri isterinya yang tidak merasa terpuaskan oleh suaminya sementara dia menyaksikan secara langsung bahwa kepuasan itu dirasakan oleh isterinya yang lain.
  4. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkan kita menceritakan rahasia kehidupan rumah tangga kita, terlebih kehidupan ranjang atau kamar kita kepada orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dilukiskan sebagai manusia yang mempunyai sifat malu yang luar biasa yang melebihi malunya seorang gadis pingitan [Kitab Fathul Bari, Bab Sifatun-Nabi, hadits dari sahabat Abu Said al-Khudri, No. 3562]. Pertanyaannya, mungkinkah Beliau yang masih mempunyai rasa malu itu melanggar sesuatu yang diharamkannya sendiri yaitu menceritakan kekuatan seksualnya yang menyamai kekuatan 30 orang lelaki, hingga mampu menggauli istrinya sebanyak sebelas orang dalam satu malam?

Nah, sekarang coba Jenny jawab 4 pertanyaanku itu.”

Jenny terlihat berpikir serius setelah mendengarkan pertanyaan dan paparan dari Nadia. Baginya yang seperti itu belum pernah diketahui sebelumnya, sehingga merupakan ilmu baru di hari itu.

“Hmm … kalo dibenturkan dengan intermezzo yang kamu paparkan, jadinya kontradiksi ya,” kata Jenny.

Jenny kembali berpikir lagi sambil mencermati lagi hadits-hadits tentang akhlak Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang terbuka di layar ipad-nya Nadia.

Kemudian Jenny berkata, “Baiklah … saya akan jujur menjawab 4 pertanyaanmu dalam satu jawaban yaitu: TIDAK MUNGKIN. Penjelasan intermezzo-mu cukup meyakinkanku bahwa Nabi Muhammad benar-benar berakhlak mulia.”

“Terimakasih atas kejujuranmu ya, Jen, sehingga gak perlu ada debat kusir di sini. Kalau jawabanmu atas 4 pertanyaanku tadi adalah ‘MUNGKIN’, maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pribadi yang berakhlak suci dan mulia, wal-‘iyadzu billah, karena melanggar apa yang telah diharamkannya sendiri. Dan itu mustahil bahwa akhlak Rasulullah yang mulia, yang dikarunia sifat maksum, sama dengan manusia-manusia yang berakhlak rendah, yang tidak malu membanggakan kekuatan seks-nya kepada orang lain. Demi Allah, Jen, itu mustahil,” kata Nadia dengan tersenyum sambil sedikit menahan geram.

“Hmm… gimana kalo ternyata cerita tersebut terbukti benar, dan bukan Nabi Muhammad yang nyebarin berita tersebut hingga sampai ke telinga periwayat hadits. Bisa jadi sumber beritanya berasal dari istri-istrinya,” tanya Jenny.

“Wah, jadi nambah pertanyaan nih, … yang kelima, mungkinkah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam gagal mendidik istri-istrinya sendiri untuk bisa menjaga kehormatan suaminya? Bukankah suami istri diperintahkan untuk menjaga kehormatan masing-masing, dan menutupi aib masing-masing?” Nadia balik bertanya.

“Kita skip dulu ya, saya perlu waktu untuk mempelajari sifat atau karakter istri-istri Nabi Muhammad. Kalau begitu, coba kasih gambaran padaku tentang narasumber hadits tersebut?”

“Semua hadits tentang “peristiwa menggilir semua istri dalam satu waktu” dan “kekuatan seks” tersebut bersumber dari sahabat Rasulullah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sejak kecil, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu adalah pembantu rumah tangga Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam [Wikipedia].”

“Naah, bisa jadi tuh si Anas bin Malik yang tinggal serumah dengan Nabi Muhammad yang nyebarin berita hingga sampai ke telinga periwayat hadits,” kata Jenny.

“Okey, berarti nambah lagi pertanyaan nih, … yang keenam, mungkinkah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bukan seorang sahabat atau pembantu yang baik? Karena betapa kejinya ia mengintip dan kemudian menyebarkan rahasia dalam kamar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya menyebarkan cerita saja, tapi ditambahi dengan ‘bumbu-bumbu”’ bahwa kekuatan seks Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sama dengan kekuatan 30 orang lelaki. Naudzu billah, sehingga kehidupan rahasia dalam kamar Nabi yang mulia menjadi gosip dan perbincangan khalayak umum sampai sekarang,” tanya Nadia.

“Yaa… aku gak tahu bagaimana akhlak Anas bin Malik,” jawab Jenny sambil mengangkat bahunya.

“Untuk mengetahui bagaimana akhlak para sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam itu gampang. Keutamaan para sahabat Nabi, serta tingginya kedudukan dan derajat mereka merupakan perkara yang sudah dimaklumi oleh semua kalangan. Banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkannya. Contohnya, coba cermati kedua hadits ini sebagai petunjuk bagi generasi kita saat ini dan nanti.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad. Sesungguhnya, amal perbuatan salah seorang dari mereka sesaat, (itu) lebih baik daripada amal salah seseorang di antara kalian selama hidupnya”.[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Fadhâ`il, 15 dan 20. Ibnu Mâjah (162), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (104). Seluruhnya dari jalur ats-Tsauri dari Nusair az-Za’lûq. Sanadnya shahîh].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah mencela sahabatku! Janganlah mencela sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka; tidak juga separuhnya. [HR Muslim (2540), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: Barang siapa yang mencela sahabatku, maka atasnya laknat Allah, laknat malaikat dan laknat seluruh umat manusia. [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabi (XII/142), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (II/483), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VII/103) dan dihasankan oleh al-Albâni dalam ash-Shahîhah (2340)]..

Lagi-lagi, Jenny kembali berpikir serius setelah mendengarkan berbagai pertanyaan balik plus paparan dari Nadia. Hingga kemudian Jenny berkata, “Membaca kesaksian Nabi tentang ketinggian akhlak para sahabatnya, berarti jawabannya: TIDAK MUNGKIN Anas bin Malik menyebarkan berita tersebut.”

“Sepertinya demikian,” kata Nadia. Kemudian Nadia kembali menyodorkan ipad kepada Jenny sambil berkata, “Jen, coba kamu baca hadits ini.”

Jenny membaca hadits tersebut yang berbunyi:

“… dari Ummu Kultsum dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang pria yang menggauli istrinya kemudian ia loyo (berhenti sebelum mengeluarkan mani) apakah keduanya wajib mandi? Ketika itu Aisyah radhiallahu ‘anha sedang duduk (bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku benar-benar melakukan seperti itu dengan dia ini (Aisyah radhiallahu ‘anha) kemudian kami berdua mandi.’”
Tertera dalam Shahih Bukhari, bab Naskhu al mai minal mai wa wujubil ghasli bil tiqail Khitanaini (bab tentang di-mansukh-kannya kewajiban mandi disebabkan keluarnya air sperma dan diwajibkannya mandi karena bertemunya dua alat kelamin).

“Hadits yang kamu baca barusan adalah petunjuk terjadinya kontradiksi. Di situ digambarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai manusia yang loyo, jangankan dengan sebelas istrinya, bahkan hanya dengan satu istrinya saja (Aisyah radhiallahu ‘anha) Beliau tidak sampai selesai sudah loyo. Coba Jenny pikirkan, ini pelecehan, bukan?! Dimanakah rasa malu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan dihadapan si penanya dan disamping istrinya dengan mengatakan “Aku benar-benar melakukan seperti itu dengan dia ini (Aisyah radhiallahu ‘anha) kemudian kami berdua mandi”?
Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus membongkar rahasia kehidupan seksualnya dan kelemahan diri Beliau hanya untuk menjawab pertanyaan si penanya tersebut?

Akhirnya, kondisi mana yang benar? Apakah Beliau seorang yang perkasa mempunyai kekuatan seks yang dahsyat ataukah seorang pria yang loyo?”

Ditanya demikian, Jenny hanya menggeleng-gelengkan kepala merasakan ketidak-beresan terhadap informasi yang telah dia baca selama ini.

Lanjut Nadia, “Bagi kami umat Islam TIDAK PERLU mencari jawabannya lebih jauh soal itu, karena urusan ranjang Beliau adalah soal privat, bukan domain publik, apalagi mengingat usia Beliau yang sudah senja saat berpoligami. Bukan digambarkan sebagai seorang pria kekar yang dikelilingi banyak wanita bugil seperti gambaran dalam komik-komik buatan para pembenci Islam, seperti yang terdapat dalam situs faithfreedom[dot]org. Sungguh itu bukan sebuah karya, tapi hanya sebuah sampah informasi.”

“Iya, akhirnya saya pun paham,” kata Jenny.

“Begitulah, Jen, kita harus mengkaji siapakah dibalik sumber cerita bohong peristiwa ‘menggilir’ dan ‘kekuatan seks’ tersebut. Apakah perawi-perawi lainnya yang menisbahkannya kepada sahabat Anas? Dari perawi pertama yaitu Anas sampai para pengumpul terakhir hadits-hadits tersebut, bisa jadi ada yang memalsukan riwayat-riwayat itu, atau mungkin ada orang lain yang menyusupkan ke dalam kitab-kitab hadits tersebut. Disinilah tugas para ahli hadits untuk menganalisa, mengkaji dan menyelidikinya. Aku bukan ahli hadits, namun melihat kontradiksi dan ketidak-wajaran redaksi hadits seperti itu, wajib kita kritisi.”

“Wah, tak terasa waktu begitu cepat berputar menuju senja. Kita akhiri sampai di sini dulu ya, Nadia”

“Iya, sebentar lagi mau masuk Maghrib. Jenny tunggu aja di sini, ntar setelah sholat Maghrib baru pulang,” kata Nadia sambil melihat arlojinya.

“Gak papa, aku pulang duluan aja. Aku senang berdiskusi denganmu, lain waktu aku ingin mengajakmu kembali diskusi. Sebenarnya masih ada yang mengganjal dihatiku, salah satunya tentang syariat poligami dalam Islam dan implementasinya,” kata Jenny.

“Okey, nanti kalo mau … saya ajak ahlinya untuk nimbrung bicara tentang poligami, siapa lagi kalo bukan ibuku, hehehe,” kata Nadia.

B E R S A M B U N G …

Wallahu a’lam bishawab.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
20.01.2014

Advertisements

18 Comments

  1. […] lalu Nadia dan Jenny berdiskusi tentang Tuduhan di seputar Poligami Rasulullah [bagian pertama, dan kedua], kini mereka bertemu kembali untuk melanjutkan diskusinya dengan tema yang sama namun lebih […]

  2. Alhamdulillah.. namhbah ilmu lagi dari Pak Iwan.
    Jazakallah khairan katsiran ya Pak.

  3. tinsyam says:

    rahasia kamar nih.. *ngebayangin nabi punya “kekuatan” setara 30 lelaki..

  4. indonesiakutercinta says:

    makanya sangat penting untuk mengetahui sejarah islam dan rasul allah secara mendalam, agar tidak mudah ditenggukki cerita–cerita yang tidak masuk akal seperti di faithfreedom 🙂

    salam mas iwan

  5. Ina says:

    suka banget deh sama tulisan mas iwan. syarat ilmu.

  6. Mereka yang pintar banyak dengan sengaja belajar dan membeberkan kesalahan-kesalahan karena mindsetnya emang sudah jelek, bagus pun akan dicari kesalahannya.

  7. araaminoe says:

    Pembhsn yg menarik Pak, membuat sesuatu yh biasa nya tabu untk dibicarakan namun dipostingan Bapak ini sangat “nyaman” untk dijadikan pembljrn.
    Bagaimanapun jg Rasullah jg manusia biasa yg luar biasa, sehingga diperlukan hati yg tulus untk memahami beliau.

  8. Dyah Sujiati says:

    Sayang sekali ya, orang-orang orientalis itu capek capek belajar hanya untuk mencari kesalahan. Kita yang pengen belajar aja, ada yang nggak kesampaian.
    Tapi sejujurnya, kita bisa berterima kasih lho pak buat jasa mereka menemukan satu atau dua hal yang menjadi bahan kajian. Imam Bukhari adalah seseorang yang tidak bisa diragukan keleluasaan ilmunya. Namun beliau tetap manusia biasa yang tidak memiliki sifat maksum. Setetes nila di lautan madu beliau (jadi nggak ngaruh kan :D) bisa menjadi pemicu bagi kita untuk terus belajar untuk memperdalam ilmu dan meluruskannya.
    Wallahualam

  9. Ada-ada aja cara orang untuk memfitnah rasul…

    Saya pernah mendengar ceramah tentang cara rasul membagi malam. Rasul juga membagi malam menjadi 3. Sepertiga malam pertama untuk beraktifitas, sepertiga malam kedua untuk istirahat (tidur) dan sepertiga malam terakhir untuk beribadah malam.

  10. nurme says:

    Membuka dapur rumah tangga ternyata haram ya.. kenapa ya saat ini banyak yang senang membuka dan menjadikannya sebagai tulisan?

    Penjelasannya sangat mengena dan bisa dijadikan bahan untuk penjelasan kembali. Terimakasih

    • Kalau membuka dapur rumah tangga, seperti bagaimana tips mengatasi problematika keuangan keluarga, pendidikan keluarga dan hubungan sosial lainnya sih ya gak papa, teh, malah bisa jadi pelajaran bagi pembaca.

      Yang Haram itu adalah membuka rahasia kamar. Jika seorang suami atau istri menceritakan kpd orang lain tentang persetubuhannya dgn maksud pamer atau sekedar agar orang lain mengetahui, sebagaimana hadits:
      “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat di sisi Allah adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya kemudian ia menceritakan rahasia istrinya” (HR. Muslim)

      Juga ada hadits lain yg menyatakan bahwa jika seorang suami atau istri menceritakan kpd orang lain tentang persetubuhannya dgn maksud mengeluhkan pasangannya atau membuka kelemahan / kekurangannya, maka hal ini juga Haram.
      Namun, kalo suami/istri menceritakan kelemahan pasangannya kepada ahlinya (misalnya dokter spesialis andrologi) dgn maksud mendapatkan solusi, maka hal ini dibolehkan. Dengan syarat, tetap menjaga kerahasiaan agar orang lain tidak mengetahuinya. Wallahu a’lam bish shawab.

  11. jampang says:

    terima kasih sharing ilmunya, pak

  12. azzahravoice says:

    pengen ketemu Nadia dan jadi temannya, hehe

    • Walaah, ini dialog fiktif kok, dengan harapan semoga dialog seperti ini ada pada keluarga-keluarga muslim untuk memperkaya dan mempertebal iman.

    • azzahravoice says:

      hihihi, itulah Pak, kalau beneran ada Nadia, saya udah pengen banget ketemu dan jadi temannya

    • Kalo gitu, semoga bertemu orang seperti Nadia 🙂

      Anggap saja Nadia itu adalah anak kita sendiri (masing-masing), Bersama pasangan, mari bekali anak-anak dengan ilmu yang bermanfaat, agar kelak siap menghadapi gempuran perang pemikiran yang kian dahsyat, yang datang dari segala penjuru arah mata angin, lewat televisi, lewat teman-teman dekatnya, buku bacannya, lingkar social medianya, dll.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: