Home » Program Development » Anak Bisa Menjadi Pembatal Orangtua Masuk Surga

Anak Bisa Menjadi Pembatal Orangtua Masuk Surga

Blog Stats

  • 1,927,553

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,841 other followers

Bismillah …

Ada seorang anak, yang dimasa kecilnya begitu lucu, menggemaskan, rajin, pintar, dan cerdas, serta hal-hal baik lainnya melekat ada pada diri anak tersebut. Pendidikan parenting yang diperolehnya di masa kecil begitu baik. Di sekolah prestasinya juga menonjol. … Namun sayangnya, saat ia beranjak remaja kondisi tersebut pelan-pelan berubah, sifat buruknya lebih dominan dari sifat baiknya. Sang anak menjadi pribadi yang berani menentang hukum-hukum Allah. Ia mengusung nilai-nilai liberalisme yang menghendaki kebebasan individu dalam segala bidang, sehingga kehidupannya pun jauh dari nilai-nilai agama. Demikian berlanjut terus ke perjalanan hidupnya di masa tuanya.

Mengapa kondisinya bisa berakhir seperti itu?
Apakah resikonya kelak di akhirat hanya ditanggung sendiri oleh anak?
Mari kita bahas.

Mungkin Anda pernah mendengar kisah tentang orangtua yang sudah divonis masuk surga, tetapi kemudian dibatalkan dalam pengadilan akhirat hingga akhirnya dia masuk neraka bersama anaknya. Itu terjadi karena anaknya menggugat orangtuanya yang tidak pernah memperhatikan agamanya sewaktu di dunia, sementara orangtua sibuk dengan urusannya sendiri.

Sebagai pengantar jurnal, dan mengenang gaya tausiyah yang kocak dari alm. KH. Zainuddin MZ, berikut ini saya cuplikkan tausiyah beliau terkait cerita di atas dengan durasi 6 menit. Selamat menyimak di bawah ini atau lewat Soundcloud.



Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

…. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

[QS At-Tahriim: 6]

.
Tentang ayat ini dalam kitab tafsir Ath-Thabari, Qatadah berkata: “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!”
Ibnu Jarir berkata: “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!”
Dan Ibnu Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”

Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ke-6 dari QS At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas kepada seorang Muslim untuk menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan tindak-tanduk mereka. Perintah adalah kewajiban, maka bila perintah tersebut tidak dipatuhi dengan baik oleh seorang Muslim, tentu ada konsekuensi yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
[HR Bukhari dan Muslim]

.
Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa bila seorang Muslim tidak mendidik anaknya dengan baik, maka kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas tugasnya di dunia itu, dan tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Kelak ia akan berkata, ’’Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?” Dijawab-Nya, “karena permohonan ampunan anakmu untukmu””
[HR Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Ibn Katsir]

.
Bila seorang hamba mendapatkan hasil yang baik (di akhirat) karena dia telah mendidik anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shaleh yang berdo’a memohonkan ampunan untuknya (hanya do’a anak shaleh yang diterima, saat pintu amal terputus, saat di alam barzah); maka dapat dipahami secara mafhum mukhalafah (pengertian terbalik), bahwa seorang hamba juga akan mendapatkan hasil yang tidak baik (di akhirat) karena lalai dalam memperhatikan dan mendidik anaknya. Maka berhati-hatilah, bahwa anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga!

Secara umum, Parenting adalah upaya terbaik yang ditempuh oleh orangtua dalam mendidik anak dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Untuk masa anak-anak, pendidikan parenting lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan antara orangtua dan anak yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: memberi makan (nourishing), memberi petunjuk (guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak ketika mereka tumbuh berkembang.

Sedangkan parenting untuk usia remaja sebaiknya lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: membekali dengan ilmu yang bermanfaat (enlightening), memberi petunjuk dan nasehat (coaching + counseling), dan melindungi (protecting) anak-anak dari serbuan perang pemikiran atau perang akidah. Ada sebuah petuah bijak:

“You will be the same person in five years as you are today except for the people you meet and the books you read.”
[Charlie “Tremendous” Jones]

.
Dengan demikian, orangtua seharusnya tidak lalai memperhatikan kualitas pergaulan anaknya, juga peduli dengan buku-buku bacaan anaknya. Tidak dengan kekuatiran yang berlebihan, namun bersama-sama belajar mengelolanya, agar tidak tumbuh benih-benih kebencian dalam kehidupan sosial yang majemuk.

Sungguh, betapa tidak akan ada artinya ketika anak telah berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan, namun pondasi dasarnya rapuh. Hal ini bisa menjadi BOM WAKTU bagi anak di usia dewasanya kelak, yang juga berdampak pada orangtuanya.

Lihatlah berbagai kasus KKN yang banyak merugikan negara, yang diisi oleh para terdidik.

Lihatlah kasus perzinaan, perselingkuhan, dan perilaku seksual menyimpang, yang berakhir rusaknya garis keturunan.

Lihatlah kasus anak tidak dianggap lagi oleh orangtuanya karena akidahnya telah digadaikan (murtad).

Lihatlah episode kehidupan dimana ada anak yang terbelenggu kesibukan duniawi tidak lagi peduli dengan orangtuanya yang telah berusia senja.

Lihatlah kasus mereka yang terperosok mengikuti aliran sesat, yang selain menggerogoti iman juga merongrong finansial serta merusak keutuhan keluarga.

Padahal, semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya. Namun nyatanya, di usia 50 tahun ke atas diisi dengan gundah gulana, tiada kedamaian hati… akibat kelakuan sang anak.

Sebelum semuanya terlambat, pandanglah anak-anak kita hari ini…
… sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik?
… sudahkah kita menginvestasikan waktu yang berkualitas bersama mereka?
… sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya?
… impiannya?
… keinginannya?
yang semuanya dibarengi dengan bekal ilmu yang bermanfaat dari orangtuanya?
Mari susun game plan pertanggung-jawaban terhadap titipan yang telah diamanahkan-Nya kepada kita.

Di dunia luar, anak diberikan pendidikan teknis (akademis) untuk masa depannya yang gemilang. Di dalam rumah, diimbangi dengan pendidikan karakter dari orangtuanya, karena itu telah menjadi kewajiban atas perintah-Nya. Anak-anak muslimin yang tidak berkarakter adalah mangsa empuk racun pemikiran.

Wallaahu a’lam bish-showab

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
05.02.2014

—————
Artikel terkait:

Advertisements

110 Comments

  1. Shahrul says:

    Apa hukum nya, seorang anak laki laki menikah dengan pilihan nya selepas kematian ibu kandung nya

  2. Ira says:

    Assalamualaikum ustad sya mau bertanya..bagai mna klau anak yg kita asuh nakal dan tidak mau mendengar apa yg orang tua ktakn…
    Dan anak tersebut tidak di sukai di sekitar nya..apa yg harus di lakukan?
    Anak ini berumur 10 tahun

  3. […] Artikel yang cukup membuat saya renyuh ini saya kutip dari tulisan Mas Iwan Yulianto […]

  4. Nurul rahayu says:

    Assalamualaikum….. Hari ini saya dilanda penyesalan yang sangat mendalam…..bapak saya sakit…. Pas drumah sakit bilang mw bertaubat…. Nd akhirnya bapak saya mw shalat….. Tp stelah smbuh bpk sya kadang shalat kdang tidak sejak itu saya jd sering membentak2 bapak saya… Kmdian beberap bulan lg bpak saya sakit….. Kencing sama bab ditmpat….. Kdang sering mmbentaknya….tp setelah mmbntak nya saya mnyesal ingin nangis….hingga pas tiba waktunya bapak saya meninggal…. Tp sblum mninggal sudah smpet saya bersalaman dan meminta maaf…. Tp pnyesalan krna pernah mmbntak nya… Bagaiman ini pak ustad…..

  5. Eko says:

    Bila seorang anak ditinggal mati saat dia masih bayi?lalu si anak tumbuh sendiri..dewasa lalu bahlul..siapa yg nanggung dosanya?otlrgtuanya juga?

  6. Prista says:

    Jika ortunya tdk punya ilmu (bodoh n kolot) dan tdk punya kebaikan2 yg seharusnya diberikan kpd anak, siapa yg sebaikny peduli kpd mereka?

  7. Hamba Allah says:

    Apabila orang tua dari anak tsb sdh cerai,dan memiliki kehidupan masing2,si anak tinggal sendiri ,apakah dosa tsbt masih mengalir ke ortu?

  8. fajar says:

    assalamualaikum ust mau tanya

    saya seorang pelajar dan saya selalu melakukan tahajud dan puasa sunnah tapi saya sudah sering kali pamit kepada orang tua untuk kerja kelompok tetapi orang tua tidak percaya dan malah berbicara percuma kamu sholat sm puasa harus bagaimana kah saya

  9. kiki says:

    Assalamualaikum ustad,

    Ada yang ingin saya tanyakan. Apakah benar dosa orang tua jk sampai mereka meninggal tapi anaknya belum jg menikah?
    begini ceritanya saya wanita berusia 33thn dan belum berkeluarga. ibu saya ingin saya menikah dan beliau berkata “dosa kamu belum juga menikah sampai bapak mu meninggal msh aja belum menikah. apa kamu ingin memasukan bapak mu ke neraka? ”
    apakah itu benar ustad karena saya merasa bersalah sekali jika memang itu benar adanya. bukannya saya tidak mau menikah tapi memang belum ada jodoh yg datang dan juga saya seperti takut akan pernikahan dan menjalanin hidup berkeluarga takut seperti orang tua saya. mohon sarannya ustad apa yang harus saya lakukan.
    wasalam mualaikum wm wb.

  10. […] Artikel yang cukup membuat saya renyuh ini saya kutip dari tulisan Mas Iwan Yulianto […]

  11. Rimba kusumawati says:

    Assalamualaikum..saya punya anak 2 (dua ) orang dewasa dan 1(satu)masih dalam pendidikan Smk kelas 11 akhir ini terjadi pertikaian saya dengan anak ke 2 sudah bekerja (dewasa) akibat suami,(bp.tiri) mereka sakit, dan salah menerima / tafsirkan sakit suami saya,karena memiliki ilmu hitam, kejadian di rumah karena merasa takut, kehilangan saya sebagai ibunya, padahal saya tegaskan bahwa suami sakit bukan memiliki ilmu hitam tapi, akibat bekas tabrakan waktu muda, maka akhir akhir ini sering kena berhalusinasi, di tambah tekanan tensi darah tinggi, yang jadi masalah, saya di ultimatum anak untuk minta cerai, dengan alasan itu, tapi saya sudah bertekat, ini jodoh saya, dan ingin hidup ber ibadah terhadap suami sampaimakhir hayat.Insya Allah. Kami serumah tapi sejak suamimsakit, kami si larang berjumoa di rumah yang telah ka,i bangun bersama. Bagai mana menurut, agama, apa saya dosa meninggalkan anak, yangntelah memaki,mencaci saya ibunya.bahwa saya tidak benar memilih suami, sedang pernikahan kami telah berjalan hampir 11( sebelas) tahun,bagai mana saya harus melangkah.

  12. Rimba kusumawayi says:

    Assalamualaikum..saya punya anak 2 (dua ) orang dewasa dan 1(satu)masih dalam pendidikan Smk kelas 11 akhir ini terjadi pertikaian saya dengan anak ke 2 sudah bekerja (dewasa) akibat suami,(bp.tiri) mereka sakit, dan salah menerima / tafsirkan sakit suami saya,karena memiliki ilmu hitam, kejadian di rumah karena merasa takut, kehilangan saya sebagai ibunya, padahal saya tegaskan bahwa suami sakit bukan memiliki ilmu hitam tapi, akibat bekas tabrakan waktu muda, maka akhir akhir ini sering kena berhalusinasi, di tambah tekanan tensi darah tinggi, yang jadi masalah, saya di ultimatum anak untuk minta cerai, dengan alasan itu, tapi saya sudah bertekat, ini jodoh saya, dan ingin hidup ber ibadah terhadap suami sampaimakhir hayat.Insya Allah. Kami serumah tapi sejak suamimsakit, kami si larang berjumoa di rumah yang telah ka,i bangun bersama. Bagai mana menurut, agama, apa saya dosa meninggalkan anak, yangntelah memaki,mencaci saya ibunya.bahwa saya tidak benar memilih suami, sedang pernikahan kami telah berjalan hampir 11( sebelas) tahun,bagai mana saya harus melangkah.

  13. Rudi Gasik says:

    Ass, Pak Ustadz..
    Bagaimana harus menyikapi terhadap Ayah yang sudah meninggal tapi tidak pernah sama sekali melakukan sholat Fardhu..?

  14. iqbal says:

    Bagaimana caranya kita mengatasi pemyesalan karena tidak mendengar orang tua pak
    apakah hidup kita akan tenang jika pernah mengecewakan orang tua dan kita sering egois dengan pendapat sendiri , tetapi semua nya telah terjadi bagaimana ya

  15. Astu says:

    Assalamualaikum ustadz…
    Saya ingin bercerita tentang orang tua pasangan saya. Tolong solusi nya.

    Pasangan saya berprofesi sebagai dokter , dia hanya 2 bersaudara. Kebetulan dia anak perempuan tertua, adiknya laki” dan sudah bekerja sebagai aparatur negara.
    Ibu nya sedang sakit, sakit nya cukup serius. Mereka mengalami kebangkrutan semenjak ibu nya sakit, karena pengobatan ibu nya yg mahal. Dulu sebelum sakit, ibu nya memiliki penghasilan sendiri. Setiap keluarga butuh uang, ibu nya selalu memberi pinjam. Berapapun jumlah nya, hingga lupa menabung untuk masa tua. Pasangan saya sering mengingatkan ibu nya, agar pikir” untuk memberi pinjam ke keluarganya. Ibu nya langsung marah setiap pasangan saya mencoba untuk menasehati. Pasangan saya mengingatkan, karena mereka yg meminjam tidak pernah mengembalikan. Namun ibu nya masih tetap memberi pada saat mereka meminjam lagi.

    Nah pada saat sekarang, uang sama sekali tidak ada, hutang dimana mana. Semua beban diserahkan ke pasangan saya. Bayar cicilan mobil, bayar gadai BPKB untuk pengobatan ibu nya, belanja rumah tangga, belanja makan sehari hari, bayar listrik, bayar hutang, pokok nya semua yg harus nya tanggung jawab kepala rumah tangga.

    Walawpun seorang dokter, gajinya tidak akan cukup untuk menutupi itu semua. Karena dia hanya dokter umum. Dia juga belum ingin menikah, karena dia memikirkan hutang” ibu nya. Ayahnya masih ada, pensiunan. Namun tidak perduli dengan keadaan rumah, karena ayah nya kecewa dengan ibu nya yg memperlakukan keluarganya seperti yg di atas saya ceritakan.

    Kebetulan ibu nya memiliki bisnis rentenir, dengan bunga 10%. Setelah dia sakit, pasangan saya jadi ikut meneruskan, karena dia butuh tambahan uang untuk kehidupan sehari hari. Saya sudah menasehati untuk berhenti dengan bisnis itu, bahkan setiap hari saya memintanya untuk tegas dalam bersikap. Tetapi omongan saya dianggap angin lalu. Inilah yg kadang membuat kami ber 2 bertengkar, setiap hari pasangan saya tampak sedih dan lelah. Seperti memikul beban berat, tidak ada kebahagiaan di mata nya. Saya ingin dia berbicara kekeluarganya, bahwa dia tidak bisa memikul beban seberat ini. Tanpa ada yg bisa bantu sepeser pun. Sepertinya kalau pasangan saya tidak ada, mungkin roda perputaran di keluarganya berhenti. Karena semua berharap hanya sama pasangan saya, pada hal dia punya adik laki”. Tapi adik laki” nya juga tidak mau ambil perduli.

    Karena hal itu, pasangan saya pun tidak bisa memiliki tabungan. Semua keperluannya harus ditahan, karena harus menghidupi dan melunasi hutang keluarganya yg entah sampai kapan akan lunas.

    Saya ingin menikahinya, tetapi dengan keadaan seperti ini, jadi timbul pertimbangan. Karena gaji saya juga tidak seberapa, ditambah lagi menanggung semua beban pasangan saya itu.

    Menurut ustadz…
    Sebaiknya saya harus bagaimana memberi pengertian ke pasangan saya, bahwa dia juga punya kehidupan yg harus dipikirkannya?

    Apakah ada orang tua yg mendzalimin anak nya ? Dan apa kah orang tua pasangan saya termasuk ?

    • kunty says:

      Assalamualaikum ustad..
      Saat ini saya sedang proses hijrah, jadi kemana mana saya menggunakan jilbab saya. Tetapi saat ibu saya sedang marah sama saya ibu saya selalu bilang jilbab saya ini hanya kedok doang ustad. Bagaimana sikap saya menghadapi ibu saya ya ustad ?

  16. Dahlia says:

    Assalamualaikum ustadz.
    Finally i found this Blog! alhamdulillah..
    Gini lho ustadz…
    Saya sudah bertahun-tahun memendam rasa kecewa terhadap orang tua.
    Tapi belum bisa curhat sama siapapun, ini krusial buat saya pribadi.
    Jadi, Saya punya orang tua, Ayah saya bisa dibilang sangat agamis.
    Kenapa bisa saya bilang begitu, karena beliau suka menjadi imam masjid, bahkan mengisi ceramah. Sementara ibu saya berasal dari keluarga yang bukan agamis sih ,karena terbagi keyakinan dengan saudara yang lain.
    Yang mau saya ceritakan adalah perlakuan kedua orangtua saya.
    Terkadang kalau sedang banyak tekanan sana sini terutama tentang uang, itu ayah saya pasti sering kali berkata menyakitkan, membentak anaknya. Padahal anaknya tidak berbuat apa-apa.
    Misal : adik saya sedang mengaji dengan suara pelan setelah shlolat, kemudian masuklah ayah saya kedalam rumah dengan muka masam, sambil menyeritkan alis,sambil berkata ” ngaji apaan lu begitu, ngaji sih au au, kaya org kumur-kumur!” sambil mulutnya dikebawahin gitu, kaya ngenye.
    Kasian saya ngeliat adik saya digituin sama bapaknya sendiri, Ngajarin ngaji aja enggak, Ehh..malah ngenye.
    dan Ibu saya punya jurus Andalan yaitu DIAM. Diam seribu bahasa, tanpa berkata apapun.
    Kecewa saya sama sikap keduanya.
    Dan belum lama ini saya mengalami kejadian yang masih menjadi mimpi buruk saya sampai detik ini. Jadi ceritanya saya mengalami pelecehan sama adik sepupu saya yang masih duduk dibangku SMP. Sebelumnya saya mengganggap dia itu sama halnya dengan adik saya yang saya kasihi. tetapi sikapnya berubah ketika tengah malam, atau mendekati pagi. 2 minggu dia menginap dirumah, bahkan sekolahpun berangkat dari rumah saya. Pada suatu malam dia beranjak ke kamar saya, kemudian memeluk saya dari belakang, pada saat itu saya masih berfikir wajarlah ya…malam berikutnya saya pulang malam jam 10 dan langsung tertidur tanpa salin piyama terlebih dahulu. Malam yang memuakkan dalam hidup saya, saat saya tidur dia menarik kerah leher baju saya,dan berusaha mengintip payuda*a saya. Saya bisa merasakan baju saya ditarik dan langsung terbangun saat itu juga, sambil melihat ke arahnya. Anehnya dia pura-pura menguap dan langsung merem. Kepala saya pening bukan main ustadz, karena Kaget bangunnya. Saya lihat jam 1 malam saat itu, kebetulan adik kandung lelaki saya juga masih melek, saya langsung tanya apakah adik sepupu saya itu sudah lama masuk rumah dan tidur atau baru saja masuk?
    Dia menjawab, “baru masuk kak 5 minutes barusan kali..kenapa k, kok matanya merah banget sih kaaa….”
    Dan malam berikutnya say tidur dikamar saya kunci rapat-rapat,biar tenang dan aman. Pada pukul 3 pagi saya kaget lagi, bangun kembali karena saya merasa bagian dada saya ada yg bergerak. Innaliahii ternyata itu tangan adik sepupuku. Dia kaget dan spontan langsung ngeles, ” kk autan dimana, aku bangunin kk banyak nyamuk”
    Saya marah bukan main, jantung rasanya kencang kepala pening.
    dan ternyata adik perempuan saya pada malam itu memang mebuka kunci kamar karna dia terkena muntaber, jadi bolak balik kamar mandi, dan tidak tidur semalaman. Dan dia menyaksikan apa yang terjadi dengan saya.
    dia saksinya. Segera saya masuk kamar mama saya, dan ada tante saya juga sedang menginap. Logikanya kenapa dia gak bangunin tante saya saja,Doesn’t make sense.
    Saya bilang ke orang tua saya supaya menegur tante saya, Tapi anehnya tante saya malah gak nerima dan malahmarah balik ke ibu saya,terus menyalahkan saya yang pake bajunya salah kali. Astagfirullah.. saya sekeluarga kalo tidur selalu pake piyama, mana ada bikini?!
    dan ibu saya diam sejuta bahasa,boro-boro ngamuk, atau marah mencak , negur tante saya ajaa lembut bgt..bikin saya greget dan tambah kesel.
    saya ini korban, sewajarnya memarahi pelaku. Serasa gak dib
    lindungi jadi anak. ibu macam apa itu…Lantas saya mengadu kemana lai kalo bukan ke mereka?! haruskah saya koar-koar ke tetanggaa?!
    Dan yang lebih menggelikan adalah si anak itu justru dikasih motor sama org tua saya.Wow!
    Ini kalo masuk headline berita akan berjudul ” pelaku pencabulan dihadiahi motor oleh org tua korban”
    Apa gak saya naik pitam, jadilah saya ngomong kasar ke ibu saya, soalnya sebelum itu pernah saya bicara halus tapi gak di dengar,justru asyik main hp ketawa-ketiwi tanpa meghiraukan saya, saat saya bicara kasar justru didengar.
    Pertanyaan saya :
    1. Apakah diperbolehkan orang tua berkata kasar terhadap anak? adakah di dalam hadits atau alquran yang membenarkan?
    2.Apakah orang tua yang selalu diam itu baik? walau anaknya dilecehkan?
    3. saya marah ke ibu saya karena dia seakan lebih peduli sama tante saya dibanding anaknya yang jadi korban pelecehan, yang sampai detik ini saya masih jadi mimpi buruk saya setiap kali memejamkan mata,Apakah saya dosa marah ke ibu karna cuma minta dilindungi?

    Mohon maaf ustadz, ini panjang yaaa ternyata…
    Sudah lama mau cerita, baru kali ini bisa.
    Mohon penjelasannya ustadz.
    dan Terimakasih atas waktunya

    Wassalamualaikum….

    • Wa’alaikumsalam.
      Minta maaf… kalo saya lama merespon, karena saat ini fokus dalam proyek pendirian perusahaan pers di sini: http://sejutaumatmendukung.org sebuah gerakan yg bertujuan muslim menguasai media (informasi).

      Menjawab pertanyaanmu:
      1). Tidak ada dalam ajaran Islam yang membolehkan bersikap / barkata kasar terhadap orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Turmudziy dari Ibnu Mas’ud).

      2) Membiarkan kezaliman terjadi bukanlah sebuah kebaikan. Namun demikian, mandirilah dalam bersikap, tidak perlu mengandalkan orang lain (orang tua) untuk bersikap. Artinya mbak Dahlia bisa bersikap tegas (bukan kasar) kepada adik sepupumu. Sampaikan bahwa itu perbuatan dosa besar. Katakan padanya akan melaporkan ke pihak yg berwajib, bila mengulanginya lagi. Otak adik sepupumu sepertinya sudah error krn terpapar pornografi. Saya kuatir dia akan “memangsa” teman sabayanya. Sampaikan tentang kerusakan otaknya pada orang tua adik sepupumu.

      3) Kecewa boleh. Tapi jangan sampai marah kepada orang tua.
      Tidak perlu minta dilindungi. Berharap pada orang lain itu hanya akan mendatangkan kekecewaan. Lebih baik mandiri dalam bersikap tega dan berdoa minta perlindungan dari Allah. Berdoa agar dijauhkan dari perbuatan2 zalim.

      Demikian. Wassalam.

  17. Agung Chan says:

    Assalamu’alaikum.., saya mau tanya pak ustad,
    1.Apakah dalam islam mengatur cara menjadi ibu yang baik?
    Bukankah menjadi ibu yang baik adalah benih untuk mendapatkan anak yang baik pula?

    2.Sepengetahuan saya, kenapa lebih banyak hadist yang membahas kewajiban anak terhadap ibunya, ketimbang kewajiban ibu terhadap anaknya? apakah kewajiban anak lebih penting daripada kewajiban ibu? duluan mana sih menjadi ibu atau menjadi anak?

    3.Apabila si anak tidak mendapatkan ajaran yang baik, setelah dewasa kenapa justru si anak yang disalahkan? bukan ibunya yang tidak mendidik dengan baik?

    4.Kenapa anak yang selalu diwajibkan merendahkan suara, sedangkan ibu tidak?, bagi saya islam seperti buta realita. (tidak semua ibu baik, dan tidak semua anak jahat)

    5.Menurut saya ayat berbakti pada ibu tersebut masih menjadi sebuah misteri.., pada kondisi apa dan bagaimana hal tersebut berlaku.
    kenapa justru lebih banyak ayat tersebut dijadikan senjata bagi para ibu.

    maafkan saya ustadz yang sudah ber su’udzon kepada Allah., tapi saya adalah anak yang tidak diharapkan, tidak dianggap keberadaan, dan tidak dihargai kehadiran…

    untuk saat ini saya menganggap bahwa ayat tersebut menyulitkan saya, berikut juga ceramah2 di TV yang tidak membahas secara intens bahwa menjadi ibu yang baik, adalah lebih penting daripada menjadi anak yang baik..
    saya merasa tidak ada manfaatnya ayat tersebut dibahas dan di ulang2 terus menerus melalui media (TV. koran, majalah, dll)

  18. Ifs says:

    Assalamualaikum pak ustadz.
    Belakangan ini hati saya gelisah entah tentang apa pak ustadz, lalu saya sholat malam dan meminta petunjuk sm allah. Setelah menjelang 2/3 hari setelah sy sholat malam, lalu allah swt memberikan sy petunjuk lewat bisikan sebelum saya tidur. Bisikan itu terus terusan ada selama 1 minggu lamanya. Di dalam bisikan itu, saya di perintahkan untuk segera berhijab. Setelah itu saya beritahu teman kos saya kalau saya mendapatkan bisikan2 yang menyuruh saya berhijab, lalu teman saya berkata sy mendapatkan hidayah dari allah swt. Nah pertanyaan saya pak ustadz, apakah benar bisikan itu adalah dari allah swt ?

  19. Yani says:

    Assalamualaikum wr wb,
    Pak uztad saya mau bertanya, tman saya seorang muslim, dia akan menikah dengan laki2 non muslim(katholik) dengan ta2 cara pernikahan d gereja (pernikahan dispensasi). Orang tua perempuan sangat menentang, karena pernikahan beda agama tdk sesuai dengan Al Quran. Namun tman saya ini tergolong sdh dlm usia matang (33 th) dan telah menjalin hub selama 10 th. Setahu saya hub mereka amat sangat dekat. Undangan telah disebar kan. Dan sampai dengan saat ini orang tua pihak perempuan tdk memberikan restu. Tman saya saat ini sedang bimbang, sedangkan tanggal pernikahan mereka sdh dekat. Mohon bantuannya pak uztad. Terimakasih

  20. NN says:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Pak ustadz saya mau tanya, menurut pak ustadz bagaimana hukumnya apabila saya sudah menikah k2 dan saya tidak bisa memberikan nafkah kepada anak2 saya terdahulu karna d larang oleh suami saya yg sekarang. Karna masalah itu ibu saya marah dan gk mau anggap saya anak dan apabila saya pulang selalu d usir ibu saya dan tidak d perbolehkan tlp atw dekat dengan anak2 saya.
    Dalam hati kecil saya, saya ingin sx mengurus anak2 saya dan suami saya kasih ijin untuk itu tp klo kasih duit buat anak2 saya yg tinggal dengan ibu saya tidak d perbolehkan.
    Trus saya harus gmana ? Saya gk mau d pisahkan dengan anak2 saya dan ingin mengurus mereka secara langsung..
    Setelah saya menikah ibu saya benci banget dengan saya dan suami saya, walaupaun kita udh minta maaf bahkan saya minum air cucian kaki ibu dengan harapan ibu saya maafin saya tp tetap saja saya d usir dan gk boleh pulang2 lagi buat nengokin ibu atw anak saya. Tlp dan ingin bicara kepada anakpun gk d kasih ijin..
    Saya tersiksa akan keadaan ini, saya gk pernah kasih nafkah anak2 saya karna suami saya sakit2an dan ada aja masalah yg membuat kita jd banyak hutang.
    Tp ibu saya udh saya ceritakan keadaan saya beliau tidak mau tau dan gk perduli dengan apa yg saya alami
    Sedangkan saya sll d bayang bayangi rasa bersalah dan kerinduan yg sangat kepada anak2 saya.., mohon bantu saya pak ustadz

  21. desti says:

    Asslamu’alaikum Ustadz, maaf mau bertanya.
    ayah saya sudah. selama hidupnya, ayah saya mempunyai hutang baik sesama manusia maupun dengan bank. kini saya sudah menikah dan tidak bekerja, sehingga tidak mempunyai penghasilan. apakah saya mempunyai kewajiban untuk membayar hutangnya? jika saya menggunakan uang tabungan dari gaji suami untuk membayar hutang ayah saya apakah diperbolehkan? mohon jawabanya ustadz. syukron.

  22. Saya mau meminta solusi dari permasalahan teman saya pak ustadz. teman saya adalah 2 bersaudara semenjak umur 6 tahun dan adiknya 4 tahun ditelantarkan oleh kedua orang tuanya, bapaknya menikah kabur, dan ibunya merasa karena suaminya kabur, dia tdk mengakui anaknya sehingga dipisahkanlah kedua saudara ini, yang satu dititipkan ke panti asuhan, dan yang satu ditipkan ke tetangganya.

    Setelah berjalannya waktu si kakak mulai merantau ke Batam untuk mencari pekerjaan dan dia tinggal dengan satu marga yang dianggap dia sebagai kakak. Sedangkan adiknya mulai menjadi model iklan dan meraih kesuksesan. Karena kebesaran Allah kedua saudara ini dipertemukan setelah kakaknya mendapatkan seorang suami orang Surabaya yang bekerja dibidang EO.

    Kemudian seiring berjalannya waktu ada berita bahwa orang tua kandung dari 2 saudara ini mencari anaknya melalui orang tua angkat si adik. Setelah diberitahu tentang kesuksesan anaknya orang tua kandungnya berusaha menemuinya di Jakarta. Lha ini yang kemudian jadi pertanyaan saya pak ustadz :
    1). Karena merasa ditelantarkan si anak ini masih menyimpan dendam kepada orang tua kandungnya (sampai ada ungkapan dari sang anak kenapa saya dilahirkan kalo hanya untuk ditelantarkan kenapa kok gak dibunuh saja waktu saya bayi). Bagaimana solusinya pak ustadz dengan permasalahan ini?

    2). Si anak mendengar orang tua kandungnya mencari dia sampai tiba ke rumah anaknya, kemudian dia bilang ke pembantunya bahwa jangan kasih masuk rumah atau memberikan uang sesenpun kepada dia (ibu kandungnya). Durhakakah anak ini kepada orang tuanya dan nasehat apa yang harus saya berikan kepadanya?

    3). Setelah kembali pulang dari Jakarta si ibu kembali ke rumah orang tua angkat si adik dan mengeluarkan ungkapan yang menurut saya kasar “mohon maaf” (Anak saya jadi model paling dia juga jadi lonte). Apakah ungkapan dari seorang ibu ini bisa menjadi doa sedangkan ibu kandungnya tidak pernah menjalakan sholat atau rukun islam lainnya ?

    Mohon ijin pak ustadz menambahkan sekarang kehidupan kedua anak ini menurut saya kacau balau.
    1. Sang kakak ternyata bukan benar-benar istri orang melainkan simpanan dari sang manajer Event Organizer tersebut. Dan dari sejarahnya pernah menjadi Cewek penghibur disalah satu tempat hiburan malam di Surabaya.
    2. Sang adik menjadi Model iklan di salah satu majalah remaja akan tetapi background dia sering menggunakan narkoba dan pergaulan bebas dimana dia memandang berpacaran adalah satu cara dia untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena dari cowoknya dia mendapatkan dana bulanan.

    Saya sebagai teman merasa miris dan ingin menyadarkan mereka berdua tolong pak ustadz karena mungkin saya melihat didalam keluarga saya tidak sekalipun ada ungkapan sekasar itu baik dari mulut ibu saya, maupun saya kepada ibu. Bahkan saat ibu saya masih sakit 6 bulan opname di RS saya sendiri yang mengurus seperti buang air besar dan buang air kecil makan dll smp ibu saya meninggal dunia. Karena saya percaya bahwa Allah akan menurunkan rezeki dan menaikkan derajat seseorang melalui sosok seorang ibu. Terima kasih pak ustadz mohon pencerahannya.

    • Wa’alaikumsalam,
      Minta maaf… saya lama vakum nge-blog, karena fokus dalam proyek pendirian perusahaan pers dalam gerakan #SejutaUmatGotongRoyong4Media.

      Lansung saya jawab ya:
      1. Ajari mereka menjadi pribadi yg pemaaf. Tidak ada gunanya sedikitpun menjadi manusia pendendam. Maafkanlah orangtuanya atas segala kekhilafannya.
      2. Anak tsb durhaka kpd orang tuanya. Mengenai saran dan dalil2nya, lihat jawaban saya untuk penanya dg nama “seorang perempuan” dalam ruang komentar di sini.
      3. Do’a adalah sesuatu permohonan untuk kebaikan. Bukan do’a namanya kalau meminta keburukan. Namun yg perlu diingat… berhati-hatilah dg ungkapan/pernyataan orang yg terzalimi.

      Silakan bantu menyadarkan temanmu. Semoga ikhtiar tsb bernilai ibadah.
      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.

  23. Yanna says:

    Salam alaikum,,,
    saya mau tanya ustadz,,saya adalah anak yg pling takut menyakiti org tuaku…saya pling dekat dgn Ibu tapi kurng dekat dgn Ayah lantarn sering d tinggalin dri kecil k luar negri…
    Ayahq orngx tdk mau bicara berulang kali, klw udah nasehat 1 kali thu maunya d ikutin tpi klw sampai anakx ingkar, Ayah tdk beritahu yg ke-2x lagi ..
    Apakah Ayah saya b’dosa klw memberi nsehat yg tdk mau b’ulang (walaupun sbenarx kami mmang menuruti nasehatnya) ?

    • Wa’alaikumsalam,
      Minta maaf… saya lama vakum nge-blog, karena fokus dalam proyek pendirian perusahaan pers dalam gerakan #SejutaUmatGotongRoyong4Media.

      Dosa atau tidak, hanya Allah Yang Maha Berkehendak, yg mempunyai hak prerogatif.
      Kalau sdr/i Yanna menyayangi ayahmu, sebaiknya ketika ayahmu memberikan nasehat yg pertama kali, taatilah. Pahamilah dan mengertilah dg karakter ayahmu.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.

  24. alan says:

    Pak ustad. temen saya punya istri dan seorang anak, setelah terjadi perceraian anak ikut ibunya. kemudian ibunya mengajak anaknya masuk kristen. apakah sang ayah berdosa.

    • Minta maaf… saya lama vakum nge-blog, karena fokus dalam proyek pendirian perusahaan pers dalam gerakan #SejutaUmatGotongRoyong4Media.

      Selama sang ayah mengabaikan perintah Allah dalam QS At-Tahriim ayat 6, ia berdosa, kecuali sang ayah telah berusaha sekuat tenaga agar keluarganya terhindar dari api neraka, tapi istrinya yg ingkar, maka itu menjadi tanggung jawab istrinya. Ingat kisah nabi Luth as yg istrinya ingkar kepada suaminya.

      “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [QS At-Tahriim ayat 6]

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.
      [QS At-Tahriim: 6]

  25. rran says:

    ass.
    pak, saya mau tanya..
    dosa ga sih pak kalo seorang anak ga pernah ngedoain ibu kandungnya karena ayahnya merahasiakan hal itu, ibu yang selama ini ngebesarin dan di anggap ibu kandungnya padahal cuma ibu angkat.. ayahnya sengaja merahasiakan ini karena takut kehilangan anaknya..
    sdgkn anaknya ga pernah tau kalo ibu kandungnya udah meninggal 1tahun ke belakang..

  26. […] Artikel yang cukup membuat saya renyuh ini saya kutip dari tulisan Mas Iwan Yulianto […]

  27. geminie says:

    Assalamualaikum pak ustadz, saya mau tanya ini, saya kan ada di luar negri merantau ,demi ibu saya rela berjuang untuk membahagiakannya pak ustadz apapun saya lakukan asal ibu saya bisa bahagia.karna saya mau menikah taun depan,Itu keinginan Ibu saya.tapi Allah berkehendak Lain Ibu saya mengalami kecelakaan ,dan meninggal 1 hari sebelum bln puasa, yg sya tanyakan pk ustadz Apakah semua itu adalah takdir, Saya seperti tidak kuat hidup tanpa ibu saya ,karna 16 bln terakhir gk ketemu posisi saya ada di perantaoan,dalam hati hancur banget seperti hilang separo ini raga saya pak ustadz.mohon penjelasanya pk ustadz,Trimakasih.wassalamualaikum wr,wb.

    • Wa’alaikumsalam,
      Betul, itu takdir, semua kejadian di dunia ini adalah menurut kehendak-Nya. Tidak ada yang sia-sia, semuanya terdapat hikmahnya. Jadi dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi takdir tersebut.
      Kita semua pasti menyadari bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Ibumu telah meninggal dunia, … Saudara Geminie, saya, dan kita semua sebenarnya juga berada dalam antrian menghadapi malaikat maut. Kapan masa itu? Hanya Allah Yang Maha Tahu.
      Usia bumi ini sudah berjuta-juta tahun. Sedangkan usia manusia hanya sekitar 60 tahun hidup di dunia ini. Artinya usia kita ini hanya setitik usia bumi. Padahal kehidupan di dunia ini bukanlah akhir dari ruh kita. Ruh kita akan masih menjalani perjalanan yang begitu panjang selepas dari alam dunia yang fana, hingga menuju alam akhirat yang kekal / abadi.

      Dari sini, saudara Geminie jangan sampai kehilangan fokus dan prioritas akibat bisikan-bisikan yang negatif. Tetap berusahalah jadi anak shalih sehingga do’amu diterima oleh Allah, yang pada akhirnya bisa berkumpul kembali bersama ibumu di alam baka, jannah-Nya.

      Demikian, Wassalam.

  28. Yudha says:

    assalamualaikum ustadz maaf agak melenceng dari yang diatas , jika ada seseorang yang mempunyai orangtua kandung tetapi dia diasuh sejak kecil dengan orang yang dekat dengan rumahnya dan anak itu tau kalau itu orang tuanya , misalnya anak itu ada 4 dan itu sedarah semua apakah dia ber-4 boleh tidur dengannya , tetapi itu hanya sekedar tidur biasa ustadz , kalau seperti itu gimana hukumnya?

  29. Elysa says:

    Assalamualaikum Ustadz.. alhamdulillah di tengah kegalauan yg saya rasakan saya menemukan blog ini. Ustadz.. saya mau bertanya tentang hukum yang mengatur tentang parenting di islam. Sblmnya saya seorang mualaf. Saya merasa harus bnyak belajar. Saya punya kasus yang menurut saya jika tidak kuat mungkin saya bisa berakhir di kuburan. Semua orang berkata surga itu ada di telapak kaki ibu. Tapi apa hal seperti itu selalu benar adanya? Jika memang pernyataan itu ada di al qur an saya tidak bermaksd meragukannya. Tapi kondisi di kehidupan saya lain. Saya tidak bisa mencintai ibu kandung saya. Bahkan saya membencinya. Sangat. Di tiap sholat namanya tidak pernh saya sebut dalam doa. Penyebabnya? Banyak. Jika saya tuliskan satu2 mungkin kuota saya bakal habis setelah faktor terakhir. Saya mgkn bisa menuliskan beberapa yang paling parah.
    1. Beliau mengaku islam tapi tidak pernah menjalankan sholat. Saya dan saudara beliau sudah berusaha menegur. Tapi beliau selalu berkilah Bukankah Allah itu Maha Penyayang?astagfirllahaladzim..jadi beliau ini menyangka dengan zikir dan doa saja cukup. Pdhal saya sudah membelikan buku tuntunan sholat agar ada perubahan. Tpi tetap saya beliau keukeuh dengan mindset bahwa Allah itu Maha Penyayang dan pasti akan mengampuni dosa hambanya tanpa sholat.
    2. Berlaku tidak adil. Ini benar2 melukai saya secara psikis. Tapi berbekal pengetahuan saya tidak membenci adik saya. Saya malah kasihan dengan pola asuh yang diterima adik saya. Ibu saya seorang yang hedonis dan gila harta. Beruntung sekali ustadz.. beliau bertemu ayah saya yang berhasil mengangkat perekonomian keluarga hingga di titik yang paling atas. Tapi.. setelah berada di atas Ibu jadi lupa bagaimana asal usul sendiri. Beliau bertindak defensiv atas kondisi mendatang di mana dy harus mempertahankan kekayaannya. Salah satunya dengan jodoh untuk anak anaknya. Adik saya lebih disayang karena kekasih adik saya adalah seorang chinese, menurut Ibu keluarga kekasih adik saya ini termasuk mapan. Sedangkan saya telah menjalin kasih dengan orang Bandung selama 6 tahun dan itu pun backstreet. Saya tidak mau memperkenalkan kekasih saya jika belum bekerja karena takut beliau berkomentar negatif. Pdhal calon kekasih saya ini berakhlak baik dan menurut tante serta keluarga saya dia bisa jadi imam saya untuk menuju surga.
    3. Adik saya murtad ustadz.. alasannya sepele dan penyebabnya adalah ibu saya sendiri. Waktu itu adik tidak kebagian masuk sekolah negeri jadi harus cr sekolah swasta. Kebetulan di kota saya sekolah swasta itu sekolah kristen. Ibu bilang pada adik saya jika agamanya g sama gimana bisa kamu ngikutin pelajaran. Jadilah seperti itu. Saya islam sdgkn adk saya yg awalnya islm jadi murtad. Saya benar2 jengah dngn kelakuan ibu saya yang selalu mengatakan saya gendut dll.. saya hitam dl.. penghinaan secara fisik kepada anak perempuan di islam setahu saya tidak diperbolehkan. Ibu saya berkata mending mama didoain sama anak beda agama tp tulus drpda seagama tapi durhaka. Pecah kepala saya dengar perkataan seperti itu Ustadz.. saya gugling.. saya baca buku agama dan bertanya apda merka yg lebh paham. Jawabnnya sama.. doa orang kafir (beda agama) tidak akan diterima oleh Allah. Bgt jga waktu saya bertanya kepada tante saya yang sudah menyandang titel haji. Tante memberikan jawabn klau org beda agama doanya g nyambung.
    4. Ibu saya memanjakan adik saya dengan fasilitas yang berharga fantastis. Sedangkan saya si anak tembikar hanya diberi barang seadanya. Dan beliau berkata bahwa warisan nanti akan diberikan kepada adik saya sekitar 80%. Saya tidak masalah tentang harta ustadz.. yang saya permalahkan kenapa sebegitu tidak adilnya perlakuan yang saya terima. Soal warisan itu bukannya juga jika berbeda agama tidak bisa dilaksanakan?saya belajar tentang itu juga ustadz..tapi mungkin masih bnyak yang harus saya baca lagi.
    5. Saya sudah ada di ambang batas. Saya hanya bisa berpegang pada agama dan pengetahuan. Tpi itu pun tidak cukup membantu saya merasa lebih baik karena perilaku ibu saya kepada saya bertambah buruk. Bagaimana bisa surga terletak di seorang wanita yang bahkan tidak pernh memberikan pendidikan tentang agama ke anak anak mereka?

    • Wa’alaikumsalam, mbak Elysa
      Alhamdulillah kini berada di jalan Islam. Jangan lelah untuk belajar agama Islam ya, karena begita banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

      Kalimat “surga ada di telapak kaki ibu” itu tidak ada di dalam Al-Qur’an, yang ada berasal dari sebuah hadits, namun sifatnya lemah, bahkan banyak ulama mengatakan hadits palsu. Kalimat itu ucapan manusia semata. Namun demikian, ada hadits yg derajatnya hasan yang redaksionalnya mendekati kalimat tsb, yaitu:
      Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

      Meskipun kalimat tersebut adalah hadits palsu, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban seorang anak, karena itu perintah dari Allah untuk taat dan mematuhi orang tua kecuali mereka mengajak kepada maksiat atau syirik [simak dalil2nya di sini]

      Membenci orang tua, bukanlah solusi. Mengapa tidak dido’akan saja setelah selesai sholat yaitu berdo’a kepada Allah agar ibumu diberikan hidayah-Nya, kembali ke jalan yg lurus. Anggap saja hal ini sebagai ujian, insya Allah kalau mbak Elysa sabar menghadapinya, akan berbuah begitu banyak kebaikan. Ingatlah selalu prinsip bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, dan kedzaliman dalam bentuk apapun tidak akan kekal. Jadi, bersabarlah. Do’akan teruuus agar beliau mendapatkan hidayah-Nya. Rutinlah membaca Qur’an Surah Thahaa. Dan biasakan membaca do’anya Nabi Musa di QS Thahaa 25-28 bila mengawali komunikasi / diskusi dg ibumu dan adikmu.

      Jangan lelah mengajak ibumu untuk sholat. Sholat itu hukumnya wajib, bahkan menjadi salah satu kunci pintu sorga. Amalan-amalan lain akan tertiup angin, tak ada nilainya sama sekali bila tidak sholat. Gak perlu mengeluh bila ajakanmu hasilnya negatif, terus saja mengajaknya dengan baik-baik. Begitu juga dgn adikmu, ajaklah ia kembali ke jalan Islam, jalan yang diridhai-Nya. Semoga setiap ajakan tersebut (terhadap ibu dan adik) dicatat sebagai ibadah. Aamiin. Bila membutuhkan materi2 Kristologi, insya Allah saya bisa membantu untuk penyadaran adikmu.

      Soal pembagian warisan, meskipun mbak Elysa tidak mempermasalahkan soal pembagian harta, namun demikian mbak Elysa sebaiknya mengingatkan orang tuamu dan adikmu bahwa sebagai muslim wajib pada hukum Allah SWT dalam banyak hal, termasuk yang terkait dengan masalah pembagian warisan. Sebab setiap harta yg kita terima, nanti di hari kiamat akan dipertanyakan. Tiap rupiah yg kita terima harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT. Di antara harta yg haram adalah harta warisan yg didapat bukan dgn cara pembagian warisan yg telah ditetapkan Allah SWT. Sebab di dalam Al-Quran, melanggar hukum warisan termasuk dosa besar, dan diancam masuk neraka, bahkan pelakunya akan dikekalkan selama-lamanya di dalamnya. Na’udzu billahi min dzalik. Simak QS AN-Nisaa’:14, QS Al Maidah:44-47, dan berbagai hadits Rasulullah. Maaf.. begitu terbatas menjelaskan hukum warisan dalam ruang komentar yang kecil ini, teknisnya tdp pada Kompilasi Hukum Islam (KHI), Buku II, tentang Hukum Kewarisan.

      Intinya, tetaplah semangat berdakwah dalam keluarga, jangan mempedulikan penilaian orang terhadapmu. Jangan terpengaruh irama orang lain yang men-demotivasi mbak Elysa. Bakalan rugi, sebab berpotensi endingnya: “sudah jatuh ketimpa tangga”. Jadi, yang paling penting.. keep fight berdakwah kepada mereka. Luruskan anggota keluargamu yang menyimpang dari jalur. Insya Allah, dakwah selalu berakhir dengan kebaikan. Jangan lupa mendorong (mengingatkan) ayahmu untuk pro-aktif meluruskan anggota keluarganya yang menyimpang, karena itu bagian dari kewajibannya selaku pemimpin keluarga. Ingatkan dg ilmu.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.

    • Elysa says:

      Assalamualaikum Ustadz.. ini saya lagi.. semoga permasalahan saya tidak mengganggu Ustadz. Insya Allah Ustadz.. saya mampu menjalankan saran dari Ustadz. Di keluarga saya yang jumlahnya hanya 4 ini yg berusaha memahami dan terus belajar islam cman saya Ustadz. Ayah saya chinese dan di ktp beliau islam. Sama kasusnya dengan ibu saya. Ustadz benar2 jeli bisa memunculkan saran tentang ayah saya pdahal d curhat sblmnya saya tidak pernah sedikitpun menulis tentang beliau. Alasannya krena memang ayah saya itu takut ancaman ibu saya Ustadz. Soal apapun. Bisa dibilang keputusan yang harusnya menjadi tugas seorang Ayah dengan mudah Ibu ambil. Ayah tidak peduli dengan urusan soal agama. Yang ayah pedulikan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan dan rekening ibu. Tpi alhamdulillah Ustadz.. Ayah saya sayang sama saya. Beliau sosok pejuang keras dan saya benar2 kagum. Saya merasa berat sekali Ustadz.. menyadarkan 3 orang sekaligus tidak semudah kelihatannya.. Mungkin yang paling saya butuhkan sekarang adalah.. bagaimana cara agar saya tidak cepat sakit hati dengan omongan2 ibu saya yang jelas2 berniat membuat saya merasa buruk. Istigfar tidak membantu saya Ustadz.. sebanyak apapun itu. Emosi saya tidak bisa dikendalikan. Saya takut suatu saat mungkin saya bisa lebih nekat daripada ini. Soal berkomunikasi Ustadz.. saya yakin telah berkali2 menyampaikan hal yang baik tentang islam. Saya berusaha agar Ibu saya mau belajar sholat dan mau diajak hijrah. Tetapi balik lagi ternyata komunikasi hanya bisa berfungsi saat pendengar juga mau diberitahu untuk perubahan yang lebih baik. Ibu berfikir saya fanatik. Parahnya saya dianggap radikal hanya krena terus menerus mengingatkan soal sholat dan amalan yang sia2 jika sholat tidak didirikan. Ujian ini begitu susahnya Ustadz.. sampai saya berfikir saya mungkin dihukum oleh Allah..

    • Wa’alaikumsalam,
      Menjawab pertanyaan mbak Elysa bahwa bagaimana cara agar tidak cepat sakit hati dgn omongan2 ibumu yang jelas2 berniat membuat dirimu merasa buruk.
      Baiklah saya bantu memberikan solusi…
      Apakah mbak Elysa percaya dan mengimani Allah dan Rasul-Nya?
      Kalau YA, maka janganlah melawan perintah-Nya yang disampaikan dalam Al-Qur’an. Perintah apakah itu?
      “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar (adzab) disegerakan untuk mereka.” [QS. Al-Ahqaf: 35]

      Saya memahami betapa tidak beruntungnya posisi mbak Elysa di hadapan ibumu, namun demikian janganlah mengikuti gendang irama keburukan, sampai berniat membalas keburukan dengan sebuah keburukan pula. Ayat Al-Qur’an di atas mengingatkan kita bahwa ketika seorang muslim tertimpa takdir yg buruk, maka ingatlah bahwa para Rasul memiliki cobaan yang jaaaauuh lebih berat dibanding kita semua. Oleh karena itu Allah perintahkan kita untuk meniru para Rasul dalam hal BERSABAR termasuk untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan (lihat redaksional terakhir dalam ayat tsb).

      Nah, bagaimana caranya bersabar… yang utama adalah jangan mengikuti gendang irama keburukan yang bikin larut jadi ikut buruk. Realnya gimana?
      1. Carilah kesibukan di luar yang mengalihkan pandanganmu dari perilaku ibumu yang mbak Elysa anggap buruk.
      2. Menikah. Masa depan mbak Elysa ada di tangan mbak Elysa sendiri. Kalau sudah menikah, insya Allah, mbak Elysa akan fokus membangun keluarga bahagia. mbak Elysa akan merasa punya arah yang jelas tentang hidup ini. Jangan pedulikan penilaian buruk tentang pasanganmu oleh ibumu. Yang penting mendapatkan restu dari ayah dan ibumu. Saya yakin mbak Elysa akan di-support penuh oleh ayahmu.

      Namun demikian, tetaplah bersabar untuk terus berbakti kepada orang tua, bagaimanapun pahitnya. Itulah ujian. Kalau seorang hamba sedang diuji, artinya Allah sayang pada hamba-Nya sehingga mempersiapkan jalan bagi hamba-Nya untuk naik kelas yang lebih terhormat.
      Saya yakin ibumu akan mendapatkan hidayah-Nya lewat kebaikan akhlakmu dan melihat kehidupan keluargamu yang bahagia.
      Jangan menuruti bisikan setan untuk mengikuti irama keburukan ya, mbak. Sadarlah, mbak Elysa punya masa depan sendiri.. jemputlah.

      Demikian, wassalam.

    • Elysa says:

      Assalamualaikum Ustadz..
      Sarannya sungguh sangat tepat. Insya Allah saya siap membuang ego saya untuk berdamai dengan takdir. Saya hanya menginginkan beberapa perubahan. Saya harap ibu saya ada di perubahan tersebut. Tapi jika ini memang ujian.. saya ingin lulus. Terima kasih banyak untuk wejangannya Ustadz.

  30. assalamualikum..saya ingin bertanya apa hukum dari orang tua yg melarang anak perempuannya untuk ikut berbuka puasa bersama temen-temanny? mohon dijawab sebelumnya terimakasih..

    • Wa’alaikum salam…
      Berbuka puasa bersama yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah seperti yang beliau sampaikan dalam sebuah hadits:
      “Barangsiapa memberikan hidangan berbuka puasa bagi yang berpuasa, maka baginya seperti pahala yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang berpuasa” [HR. At-Tirmidz, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-albani]

      Implementasinya si A mengundang banyak anak yatim piatu atau kaum dhuafa untuk berbuka puasa bersama di panti asuhan atau di rumahnya, atau lewat pemberian ta’jil di masjid, kemudian buka puasa bersama di masjid, insya Allah dicatat sebagai amal kebaikan yang berbuah pahala. Sebut saja ini Kondisi A.

      Sayangnya tren saat ini saat menyebut “buka puasa bersama” adalah buka puasa bareng teman-temannya di mall atau di restoran yang punya program paket buka bersama, biaya makannya patungan antara teman-teman. Hal seperti ini hanya sekedar memindahkan tempat makan, yang seharusnya di rumah pindah ke tempat resto bareng teman-temannya. Bayarnya patungan. Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan buka puasa bersama keluarga. Hal seperti ini tidak ada nilai ibadahnya sama sekali. Sebut saja ini Kondisi B.

      Nah.. anak perempuan yang ibu Annisa Mutia maksud kondisinya seperti apa? Kondisi A atau Kondisi B?

      Kalau Kondisi A anaknya melakukannya bersama teman-temannya, jangan dilarang, malah sebaiknya didorong, karena anjuran Rasulullah, manfaatnya untuk meningkatkan daya kepekaan sosial.

      Tapi kalau Kondisi B, dan orang tua melarangnya, maka ya tidak ada hukum apa-apa, karena puasa bersama seperti itu memang tidak ada nilai ibadahnya. Justru berpotensi memupuk gaya hedonisme.

      Begini saja.. orang tua dan anak perempuannya mesti menimbang dan menilai.. bila lebih bernilai manfaat.. laksanakan, jangan dilarang. Tapi kalau lebih banyak mudharatnya, lebih baik jangan dilaksanakan. Sebab.. jangan sampai puasa sehari hilang nilai pahalanya dalam semalam gara-gara melakukan perbuatan mubazir. Fokuslah memperbanyak pahala di bulan Ramadhan.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.

  31. Diah says:

    Assalamualaikum ustdz. Diah ini anak yatim piatu yg udah nggk pnya ayah sejak umur 3,5 tahun. Kemudian ibu saya membesarkan saya dengn bekerja apa saja yg pnting sya bisa sekolah. Hingga saya bisa juga sekolah SMA namun smnjak saya kelas 1 SMA ibu saya sering sakit2 tan. Dan 2 tahun kemudian baru diketahui penyakinya yaitu jantung. Yg mana 3× di ronsen baru bisa dibaca hasil ronsen saking parahnya penyakit ibu saya. Dia minum obat selama 3 tahun. Selama 1 tahun mnum obat ASMA pdhl sbnrny itu adlah skit jngtung. Sehingga ketika obat habis ibu saya sesak nagas bhkan pingsan berjam2 tanpa sadarkan diri. Kemudian smnjak itu pula ekonomi kritis. Dan saya selalu gigih ahar org tua saya mndapat pengobatan. Ibu saya 4× dirawat dirumah sakit. Tak ad saudara ibu yg pduli. Hnya sya yg ggih agr ibu sya sehat. Dan biaya pngobtan dgn BPJS. Sementara belnja sya selama drumah sakit saya dikasih uang oleh perawat dan dokter yg mengasihani juga dengan berjualan disekolah jdi saya punya simpanan dalam organisasi yg mmpunyai kegiatan menjual2 makanan berat. Sehingga dgn uang smpanan tersbut sya bertahan. Bayk derita yg dialami ibu saya. Hinaan.cacin org. Bahkan sering ibu saya menangis. Dan itu membuat saya sedih brrkepanjangn. Hingga ibu saya meninggal setahon kmrn dirumah sakit. Hanya ada sya wktu itu menemani. Ibu sya nampk sngt kesulitan ktka skratul maut. Saya juga tau ibu saya selama hidup lalai dari shalatnya. Saya ingin ibu saya masuk surga. Saya ingin ibu saya diampuni dosanya. Sya ingin allah mengampuni dosanya dengn pnykit yg dideritanya. Karena seumur hdup ibu saya. Sya lebih sering melihatny bersedih. Sampai skrg sya bisa kuliah dgn beasiswa. Tp saya ingn ibu sya juga bhagia disana. Sya sbatang kara. Nenek saya juga tlah mninggl 2 buln yg lewat. Walau pun ibu saya sudah 2× ramadhan tdk bersma sya. Saya tak henti2 nya dosanya bsa diampuni. Banyk ketidak adilan yg dirsakan ibu saya slma hdupnya. Byk pnderitaan yg dialaminya. Dari saudra2nya yg sllu keras trhdpny. Kasih syg ibu yg tak dirasakan oleh ibuku sbgaimna laykny org lain. Aku merasa htus membhagiakan org tuaku. Apa yg mesti aku lakukan . Aku ingin ibuku msauk surga kelak. Aku tak ingn ibuku sakit di sanaaa. Tapi ibuku tak shalat. Aku juga dlu sering mengingatkannya. Setiap saat aku sllu mngingt perjuangnnya untk ku. Wajah sedih dan tangs ibuku dulu menghantuiku. Shngga aku harus mmbahagiakannya di akhirat. Apa yg harus aku lakukan?????

    • Wa’alaikum salam, mbak Diah.

      Ibadah shalat adalah ibadah yang sifatnya wajib, berlaku bagi setiap muslim yang mukallaf (islam, baligh dan berakal). Apapun kondisi hamba-Nya, ibadah sholat tetap wajib hukumnya, yang tentu saja ada beberapa kemudahan tata cara pelaksanaannya untuk kondisi-kondisi tertentu bila hamba-Nya mengalami kesulitan menegakkan sholat dengan sempurna.
      Dan sholat adalah salah satu diantara kunci-kunci surga. Rasulullah SAW bersabda “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat)” [HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi]. Kunci surga lainnya miftah al-jannah La ilaha illallah (ucapan La ilaha illallah), miftah al-jannah hub al-masakin (mencintai orang-orang miskin).

      Lantas bagaimana sikap yang harus mbak Diah ambil (sbg seorang anak) bila mengetahui ibumu yang sudah meninggal dunia itu tidak memegang kunci surga berupa sholat?

      Jawabannya.. selama ibumu masih ber-Islam, memegang kalimat tauhid, tidak menyekutukan-Nya… teruskanlah berdo’a untuk keselamatan orang tuamu di akherat. Bukankah salah satu kewajiban anak terhadap orang tua adalah senantiasa mendoakannya?
      Perkara apakah dengan doa tersebut bisa menyelamatkan ibu dan bapak atau tidak, ini adalah urusan Allah. Semuanya adalah kehendak Allah.
      “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [QS An-Nisaa ayat 48]

      Selama ibumu tidak menyekutukan Allah, selama itu pula masih ada ampunan Allah, namun itu hanya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya saja. Oleh karenanya sebagai seorang anak tentu saja mbak Diah ingin ibumu diampuni Allah, maka doakan saja selalu, apalagi Allah juga memerintahkan kita untuk mendoakan orang tua dalam QS. Al-Israa ayat 24 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doakanlah) : Wahai Tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

      Istiqomahlah untuk menjadi anak shalihah. Sebab hanya do’a anak shalih/shalihah yang mampu menembus langit. Dengan kekuatan do’amu dan rahmat dari Allah Maha Pengampun, semoga ibumu termasuk diantara orang-orang yang dikehendaki-Nya masuk surga, dan kelak kalian berkumpul bersama orang tuamu kembali dengan kebahagiaan di Jannah-Nya Aamiin.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab. Wassalam.

  32. dina says:

    Assalamualaikum wr wb
    saya mau bertanya,ayah saya kerja diluar kota dan ibu saya tinggal dirumah
    saya ikut dengan ayah saya,tetapi setahun kemudian saya kembali lagi
    nah saya curiga dengan ibu saya yang suka keluar malam,dan ternyata ibu saya selingkuh. Setelah itu saya memberitahu ke ayah saya,lalu ayah saya marah besar dan pulang.
    tapi sebelum pulang,ibu saya sudah pergi bersama laki2 lain dan saya ditelantarkan dengan adik2 saya
    beberapa tahun kemudian saya bertemu lagi dengan ibu saya,lalu lama kelamaan saya bertemu terus dengan ibu saya
    ayah saya curiga dan memarahi saya,tidak boleh bertemu dengan ibu karena ibu saya berzina,belum cerai resmi
    saya juga sering dikasih ibu uang

    Pertanyaan nya apakah yg dikatakan ayah saya benar?
    jika saya dosa jika bertemu dengan ibu saya yang belum bercerai resmi dengan ayah saya?
    dan apakah haram menerima uang itu

    Wassalamualaikum wr wb

    • Wa’alaikumsalam wr.wb.
      Ayah mbak Dina benar. Adalah disebut zina bila memang belum resmi bercerai. Zina adalah perbuatan haram. Maka alangkah lebih baik menolak pemberian harta dari ibumu yang telah melakukan perbuatan haram. Ada positifnya dengan sikap penolakan tersebut yaitu menyadarkan ibumu yang telah tersesat jalan. Semoga ibumu sadar bahwa segala yang keluar dari perbuatan haram adalah haram pula sifatnya. Namun demikian tetap hormati ibumu, ajaklah dengan baik untuk meminta maaf pada ayahmu. Meminta maaf yang disertai taubatan nasuha. Semoga kalian semua bisa berkumpul kembali dalam ikatan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Aamiin.
      Wassalam.

  33. Djie says:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz saya mau bertanya, ini mengenai orang tua saya. Apa yang harus saya lakukan saat ini saat saya sudah mengetahui bahwa ibu saya telah murtad tapi ayah saya menyembunyikan kebenaran ini, saya juga ingin bertanya apakah ayah saya mendapatkan dosa yang besar karena menyembunyikan kebenaran ini ? Apa yang harus saya lakukan ? akankah ayah saya, serta saya dan adik kaka saya mendapat dosa karena sudah menyembunyikannya ? Saat ini saya sudah berada dlm perang pemikiran, saya juga perlahan sudah mulai membenci ibu saya, tapi saya berusaha untuk menghilangkan rasa itu. Ibu dan ayah sayapun tidak mau berpisah, karena mereka sangat menyayangi. Mohon dijawab ustadz, saya sekarang sangat butuh sekali pencerahan dan bimbingan, saya sudah sering shalat tapi saya juga ingin mendapat bimbingan dari kalian. Karena dengan masalah ini, saya seakan sudah tidak menjadi diri saya sendiri, dan hati saya sangat sakit saat melihat ayah saya. Tapi sejujurnya ayah saya sudah berusaha untuk merangkul kembali agar ibu saya masuk islam lagi, tapi ibu saya tetap tidak mau.

    • Wa’alaikumsalam,
      mbak Djie yang dirahmati Allah.
      Innalillahi.. saya ikut merasa sedih dengan kondisi ibumu yang murtad. Sayangnya mbak Djie tidak menjelaskan apa bentuk keberatan ibumu yang tidak mau diajak ayahmu untuk kembali dalam cahaya Islam. Mengetahui hal ini saya rasa penting, sebab solusi yang tepat didapat dari pencarian / penemuan root cause yang akurat. Jadi, mohon dijelaskan atas dasar apa saja ibumu menolak. Bila keberatan menulis di ruang terbuka seperti ini, boleh melalui “Message Me” (tombol di samping).

      Apakah kalian mendapatkan dosa karena menyembunyikan kebenaran?
      Ingat hadits ini:
      Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang peguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” –[H.R Bukhari dan Muslim]

      Pesan hadits tersebut cukup jelas ya. Maka anggap saja saat ini kalian sekeluarga sedang menghadapi ujian besar dan harus berusaha maksimal agar kelak di akherat dapat mempertanggung-jawabkan kepemimpinan kalian. Bermain dengan waktu, karena kita tidak tahu kapan ajal tiba. Fokuslah.

      Sebagai solusi singkat, saran saya.. tetaplah berlaku hormat kepada ayah dan ibumu. Penuhilah hak-hak mereka. Dengan menjaga akhlak dan sikap yang baik pada dirimu, semoga hal tersebut bisa menjadikan ibumu mampu melihat cahaya Islam yang penuh dengan kebaikan, sehingga mudah bagi beliau untuk kembali kepada fitrah. Buatlah ibumu menjadi benar-benar menyayangimu, sehingga luluh dengan ajakanmu menuju pada kebaikan.

      Menjaga sikap membenci ayah atau membenci ibumu.. bukan solusi. Yang terbaik adalah menjaga semangat saling nasehat-menasehati sesuai nafas QS Al-Ashr 1-3. Bangun komunikasi yang sehat dan harmonis. Ingat, tetap fokus dengan manajemen waktu.

      Sambil menunggu jawaban atas permintaan saya di atas, saya sharing dialog tentang pernikahan beda agama untuk menambah wawasan, agar tahu bagaimana hukum Islam memandang posisi ayah dan ibumu.
      https://iwanyuliyanto.co/2014/10/13/dialog-cinta-tapi-beda/
      Wassalam.

    • houafiona@yahoo.com says:

      Assalamualaikum..Alasan ibu saya tidak mau kembali lagi karena katanya dia tidak mendapat cahaya selama masuk islam, dan katanya bahwa dia takut kelak nanti akan diminta pertanggungjawaban sedangkan dia tidak terlalu memahami ajaran islam, dan makanya dia lebih memilih ke agama sebelumnya yaitu kristen karena menurutnya ia bisa lebih merasa tenang ketika berada pada agama itu.Dan bahkan lebih parahnya, ibu saya sudah masuk gereja dan sekarang dia juga sudah tidak berpuasa. Jujur ustadz setiap kali saya melihat ibu saya, saya sangat merasa sedih,. Tapi saya takut untuk menanyakan hal ini kepada ibu saya, karena saya merasa tidak sanggup ketika saya akan melontarkan pertanyaan tentang hal ini kepada ibu saya, saya rasa ingin menangis ketika akan menanyakan hal ini, maka dari itu saya belum bertanya pada ibu saya. Tolong bantu saya ustadz, berikan saran dan solusi yang tepat. Karena saya merasa saya sudah menjadi anak yang gagal karena tidak bisa merangkul kembali ibu saya.

      Dikirim dari Yahoo Mail di Android

    • Wa’alaikum salam.
      Kalau mbak Djie sampai takut / tidak sanggup menanyakan hal tsb.. sepertinya perlu mulai membangun komunikasi yang sehat. Kata “membangun” lebih luas cakupannya dari sekedar berkomunikasi. “Membangun” dibarengi akhlak yang baik. Ibumu akan mudah menyerap ucapanmu bila mbak Dije menjaga akhlak yg baik. Hal ini perlu proses yg tidak singkat, tapi mulia untuk dilakukan.

      Kemudian bekali dirimu dengan ilmu kristologi, agar siap dengan bahan saat “berdebat” dengan ibumu soal prinsip ketuhanan. Juga hadirkan bacaan2 di rumah yg berisi mereka yg menjemput dan menemukan hidayah-Nya dalam cahaya Islam. Bila ilmu kristologi ttg ketuhanan sudah siap, ajaklah ibumu berdiskusi ttg isi buku/bacaan kisah2 mereka yg menjemput hidayah-Nya tadi. Itulah gunanya ilmu kristologi, agar siap saat dibantah ibumu saat diskusi. Dan itulah gunanya “membangun” komunikasi, agar suasana diskusi berlangsung dg adem.

      Kemudian juga bekali dirimu dg ilmu-ilmu ghazwul fikr (perang pemikiran) terutama soal bagaimana menjawab pendapat2 miring ttg Islam. Dalam blog saya banyak materi untuk itu, silakan ditelusuri.

      Memang tidak bisa instan menyadarkannya karena ini menyangkut (kembali pada) keyakinan lama ibumu, semua butuh proses. Kalo mbak Dije fokus, maka prosesnya bisa cepat. Semoga setiap usahamu dicatat sbg amalan yg bernilai dakwah dan berpahala. Susunlah game plan tiap harinya… hari ini harus ngapain, apa targetnya.. goals-nya adalah berhasil meng-Islamkan kembali ibumu. Bila kesulitan / bingung, silakan email ke saya (iwan_pipeline@yahoo.com) draft game plan (plus target) tsb, agar saya bisa memberikan arahan yg tepat (efisien & efektif soal waktu). Bila memang diperlukan bekal berdiskusi dg ibumu.. Insya Allah, saya akan membantu memberikan / membagi materi yg sesuai dg kondisi.

      Ajaklah ayah dan saudara2mu juga bertindak seperti dirimu, belajar dan membangun komunikasi. Semoga endingnya.. masuk surga sekeluarga. Itu visi hidup.

  34. ridwan rizkiyana says:

    assalamu’alaikum.. nma saya ridwan umur 22.
    sejak usia saya 4bulan dalam kandungan, ayah sya pergi mninggalkan ibu yg sedang mengandung saya. dia pergi tanpa alasan jelas. setelah d cari oleh ibu, ternyata dia sudah menikah lgi secara siri. perasaan ibu saya sangat hancur mngetahui hal itu. dan akhirnya setelah resmi bercerai dan saya lahir, ibu merahasiakan smua identitas ayah saya. smpai umur sya menginjak usia 15 thun. akhirnya ibu mnceritakan smuanya. dan akhirnya sya memutuskan untuk tidak akan mengakui bahwa saya memiliki ayah.

    bulan lalu paman sya tidak sengaja bertemu dngan ayah, ayah mnanyakan kabar sya, dia juga mengatakan ingin sekali bertemu. tp anehnya knpa dia ga prnah mncoba untuk mncari saya, bhkan saat usia sya menginjak 12 thun, saya pernah menitipkan no tlpon sya k tman kerjanya tp trnyata tdk prnh ada kbar. pertanya’anya, salahkah saya jika saya tetap tidak mengenal sosok ayah? apakah d akhirat nanti saya juga akan d persulit krna tdk mengenal ayah? dan apa yg hrus sya perbuat. trimakasih bnyak.

    • Wa’alaikumsalam,
      mas Ridwan yang dirahmati Allah, bukankah berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perintah dari Allah? Lihat dalil-dalinya di sini:
      https://iwanyuliyanto.co/2014/12/30/himpunan-ayat-al-quran-dan-hadits-tentang-parenting/14/
      Jangan menentang perintah Allah. Oleh karena itu.. cobalah mengenal sosok ayahmu. Hormatilah. Maafkan segala kekhilafannya di masa lalu. Ajaklah menuju pada kebaikan sebelum terlambat. Meskipun ibumu tidak akan menerimanya kembali, biarkanlah itu menjadi hak ibumu untuk bersikap (dalam Kompilasi Hukum Islam pun telah memberikan payung hukum). Yang penting jaga sikap menghormati dan berbakti kepadanya, sepanjang beliau tidak mengajak pada perbuatan maksiat.
      Wassalam.

  35. maariz sigit says:

    assalamualaikum Wrwb..
    ustadz, saya ingin bertanya, saya adalah calon mahasiswa yang akan memasuki tahun ajaran baru 2016, saya ingin sekali berkuliah di universitas indonesia, dengan 3 program studi yang saya ajukan yakni politik,HI, dan sastra prancis, disini ibu dan ayah saya sudah setuju, yang menjadi kendalanya, ibu saya selalu menyerukan bahwa saya harus mengambil jurusan Hubungan internasional, disini saya sangat binggung, apakah saya bisa lolos di jurusan trsebut? mengingat peminatnya yang mencapai 3000 lebih, alhamdulilah ketika saya berniat untuk menjawab keinginan ibu, maka saya selalu sholat lima waktu, dan tahajjud 12 rakat setiap malam dan sering juga saya melaksanakan sholat duha, yang menjadi pertanyaannya, bagaimana jikalau saya tidak bisa memenuhi permintaan ibu saya? mengingat saya sangat menyayanginya, apakah ketika ibu kecewa, saya berdosa? terimakasih.. wassalamualaikum wrwb..

    • Wa’alaikumsalam wr.wb.
      Alhamdulillah, mas Sigit punya keinginan yang kuat plus dukungan yang baik dan saran yang baik pula dari orang tua.
      Sepanjang telah menunjukkan ikhtiar yang maksimal, saya yakin ibumu tidak akan kecewa. Sebab satu-satunya Yang Maha Berkehendak hanya Allah. Manusia boleh berusaha, namun tetap saja kepastian ada di tangan Allah.
      Jadi, insya Allah, tidak berdosa sepanjang telah melakukan ikhtiar yang baik dan maksimal.
      Semoga berhasil, mas. Wassalam.

  36. bayu budy says:

    sungguh masukan yg subhanallah brarty bgku,,,
    maksi pencerahan,a
    kisah nya sama dgn yg aku alami skrg

  37. dinda says:

    Assalamualikum,,q mau nanya,,gimana kalau seorang ayah mngatakan ank kandung y sebagai anak haram dan bahkan memfitnah anknya agar anak nya diberhentin dri pekerjaannya,dan ank melawan ayah nya,sementara ibu hanya bsa diam saat dipukul dan dikatain dengan kata kotor,sampai akhir nya ibu dan ayah pisah,setelah 2 thn pisah kni ayah mntk rujuk kembali dengan ibu,tpi ank tidak memblhin apakah anak itu berdosa,,,dan apa yg harus dilakuin oleh sang anak?

    • Wa’alaikumsalam, saudari Dinda yang dirahmati Allah.

      Tidak ada persyaratan rujuk yang melibatkan persetujuan dari anak.
      Namun demikian ada pasal 165 dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi:
      Rujuk yang dilakukan tanpa persetujuan bekas istri, dapat dinyatakan tidak sah dengan putusan Pengadilan Agama.

      Pasal tersebut berguna untuk mencegah terjadinya kembali KDRT.
      Jadi, keputusan menerima atau menolak rujuk ada di tangan ibumu. Sekiranya tidak ada tanda-tanda perubahan sikap (menuju ke yang lebih baik) dari ayahmu, ibumu boleh menolak rujuk. Sesuai pasal dari KHI di atas.

      Pertanyaanmu tentang apa yang harus dilakukan oleh sang anak?
      Saran saya, tetaplah menaruh sikap hormat kepada kedua orang tuamu.
      Untuk membantu ibumu mengambil keputusan penerimaan, saudari Dinda bisa menyelidiki sifat dan perilaku ayahmu.
      Semoga ayahmu saat ini benar-benar taubat dari kekhilafannya. Geber terus do’anya ya… hingga menembus langit ‘Arsy. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada sesuatu yang gak mungkin. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Fokus berupaya bisa masuk surga bersama-sama sekeluarga kelak.

  38. dira says:

    Assalamualaikum pak iwan
    Saya mau tanya jd baru2 ini sya mengetahui bahwa kakak perempuan sya yg tinggal di luar pulau sudah murtad dan menikah dg orang kafir. Sedangkan ibu sya tidak tegas (menurut sya menyikapi hal ini) sikapnya biasa2 saja dan menutupinya dari saya. Ketika sy tau hal ini lgsg sya confirm ke kakak, awalnya dia bohong tp akhirnya dia ngaku. Sy nasehati agar dia tobat dia marah2 dan bilang kalo ga usah jd saudara lagi. Sya sgt sedih memikirkan hal ini. Apalagi ayah kami sdh meninggal. Yg sya tanyakan apakah dosa kakak sya ini menjadu tanggung jawab orang tua sya juga? Pada dasarnya orang tua kami memang kurang ilmu dlm masalh agama (semoga Alloh swt mengampuni dosa kedua nya) yg kedua bagaimana sikap saya seharusnya menyikapi hal ini. Terima kasih

    • Wa’alaikum salam, mbak Dira.

      Innalillahi .. saya ikut merasa sedih atas pilihan hidup kakakmu.

      Menjawab pertanyaanmu, terlebih dahulu saya sampaikan dalil sbb:
      Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang peguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” –[H.R Bukhari dan Muslim]

      Orang tuamu tidak berdosa bila beliau telah berjuang keras mendidik anak2nya dengan pendidikan agama sehingga anak bisa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya, beliau menjadi berdosa bila melalaikan pendidikan tauhid kepada anak-Nya. Sebagaimana petunjuk-Nya dalam QS.Lukman (31) ayat 13.

      Namun, kalau beliau sudah sungguh2 mendidik anaknya dengan pendidikan agama yang baik, kemudian anak tetap murtad, maka itu diluar tanggung jawab beliau; artinya, orang tuamu tersebut tidak berdosa.

      Di akherat kelak orang tua akan dimintai pertanggungan jawabnya bagaimana tingkat kesungguhannya dalam mendidik anaknya, apakah sekedar asal-asalan, atau sampai ‘mati-matian’ menjaga akidah anaknya.

      Sebagai bentuk kasih sayangmu terhadap almarhum ayahmu.. teruslah menasehati kakakmu dengan sebaik-baik nasehat (ada baiknya juga dengan mengajak ibumu), agar kakakmu bisa kembali ke fitrah. Jangan ragu-ragu menyampaikan dalil kepada kakakmu bahwa orang tuamu di akherat kelak juga akan menanggung perbuatan kakakmu.

      Sekedar tambahan, saya sharing dialog tentang pernikahan beda agama untuk menambah wawasan.
      https://iwanyuliyanto.co/2014/10/13/dialog-cinta-tapi-beda/

      Demikian jawaban dari saya, wallaahu a’lam bish-showab

  39. fendiharis says:

    sesungguhnya di alquran dan hadist sering disebutkan bahwa: Istri dan anak adalah kebahagiaan sementara dan masih ada kebaikan yang hakiki yaitu kehidupan kelak nanti. jadi kesimpulannya: jangan sampai kita itu terperdaya oleh istri dan anak apalagi dalam urusan agama. wajib agama di nomor satukan tanpa harus mengesampingkan anak istri. istri yang baik adalah istri yang INGIN bersama suaminya serta anaknya menuju agama yang lebih baik. insyaallah..

  40. gilang says:

    dimana bisa sharing tentang hal seperti ini? saya harus email / buka situs web dsb? terimakasih

  41. Assalamualaikum,

    pak, sya mau bertanya.
    org tua saya sudah bercerai sejak saya SMP. Sekarang saya berusia 25 tahun dan ingin mnikah. bapak mengijinkan dg senang hati krna calon suami saya adalah org yg sholeh dan keluarganya pun baik. tetapi ibu saya belum merestui dan saya tidak boleh menikah untuk 2 thn kedepan, krna beliau menginginkan saya membiayai kuliah adik saya, membelikannya rumah, ambil S2 dulu dan menginginkan memakai adat jawa. saya 4 bersaudara, anak ketiga dan satu-satunya perempuan.

    calon suami saya org sumatra, sudah dua kali kami dtg kerumah ibu saya untuk memohon restu tetapi ibu saya sama sekali tidak bersedia bertemu dg calon suami saya. dulu ketika saya lulus kuliah ibu saya berharap sekali saya cepat menemukan pasangan dan menikah agar ada yg menjaga tetapi ketika sekarang tiba-tiba tidak boleh menikah. Saya tidak mengtahui alasan pasti krn skrg ibu saya sakit ktanya krna menentang pernikahan saya.

    ibu saya adalah org yg sangat emosional dan suka berkata kasar dan mengatai anak durhaka. Saya sudah tinggal dg beliau dri kelas 2 SMA setelah itu saya kuliah dan bekerja diluar kota. yg ingin saya tanyakan :

    Dosakah sy menjaga jarak dg ibu saya karena, sikapnya krna pengaruh suaminya membuat saya banyak tidak mengerti dan membuat hidup saya negatif (setiap mau pulang kerumah sya merasa ketakutan krn terlalu sering bertengkar dan didlmnya selalu berkata kata kasar, namun saya tetap berbuat baik dg membelikan apa apa yg dia sukai, dan tetap mendoakannya).
    Dosakah saya jika saya menikah krna landasan perintah Allah dalam menyegerakan menikah, krena sampai saat ini ibu blm juga mau ditemui dan ibu pun mensyartkan mau bertemu asal menikah 2 thn lagi, pdhl kondisinya beliau mengatkan belum tentu jg beliau akan merestui hubungan kami. Dengan memohon ampun kepada Allah saya suudzon dengan ibu saya mempunyai rencana dibalik 2 tahun yg disyaratkan. Entah apa rencananya saya tidak tau, tapi sya merasa tidak aman tinggal dg ayah tiri dan ibu saya yg sangat mencintai ayah tiri saya.

    Terimakasih.

    • Saudari Penanya yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

      Setiap anak yg menghormati dan berbakti kepada orang tua, tentu sangat berharap kalau orang tua bisa mengerti dan memberikan kepercayaan kpd anaknya untuk memilih pasangan hidup. Saya yakin semua orang tua ingin melihat anaknya bahagia dan tidak ingin melihat anaknya hidup sengsara.

      Dalam kasus yang Anda sampaikan, kondisi ayahmu sudah merestui, namun ibumu belum setuju, apalagi diajak bertemu calon suamimu. Dan selama ini Anda tinggal bersama ibumu (yang telah bercerai dgn ayahmu sejak usiamu setingkat SMP).

      PERTANYAAN PERTAMA, dosakah menjaga jarak dg ibu?

      Birrul waalidain (berbakti kepada orang tua) merupakan amal kebajikan yg sangat besar nilainya di mata Allah SWT. Karenanya, dalam beberapa ayat Al-Qur’an, perintah untuk berbakti kpd orang tua disandingkan dgn perintah untuk menyembah Allah, contohnya QS Al-Israa ayat 23. Perintah dlm ayat tsb bersifat umum, belum ada batasan2 tertentu. Kemudian pengertian yg terkandung dlm ayat tsb ditakhshish (dipersempit) dgn firman Allah pada QS. Al-‘Ankabuut ayat 8. Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa tidak semua perintah orang tua harus dituruti. QS. Al-Israa` ayat 23 juga ditakhshish oleh Hadits Nabi SAW yg berbunyi: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah.”

      Tetapi perlu diingat, andaikata seorang anak terpaksa harus menolak perintah orang tuanya karena perintah tsb bertentangan dgn aturan Allah, maka penolakan itu harus disampaikan dgn cara yg baik, dgn perkataan yg halus dan tidak bernada “membentak”, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Israa` ayat 23 dan QS. Luqman ayat 15. Jangan sampai niat baik itu akan menyinggung perasaan sang ibu hingga memicu kondisi “bertengkar”.

      Saya sharing beberapa hadits dulu ya …

      • Diriwayatkan ada seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, “Perbuatan mana yang paling dicintai oleh Allah SWT?” Rasulullah SAW menjawab, “Sholat pada waktunya.” Lalu apa, ya Rasul?” Rasul menjawab, “birrul walidain (berbuat baik pada kedua orang tua)”. “Lalu, apalagi?” Jawab Rasul, “berjuang di jalan Allah SWT.” [H.R. Al-Bukhari].
      • Kemudian seorang sahabat lainnya pernah bertanya pada Rasulullah SAW tentang dosa besar. Jawab Rasul, “menyekutukan Allah SWT, uququl walidain (menentang kedua orangtua)”. [H.R. Al-Bukhari]

      • Ada sebuah riwayat, sahabat Alqomah dalam akhir hayatnya kesulitan mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum mendapatkan ampunan dari ibunya. Allah akhirnya memuluskan jalannya menjemput maut saat ia telah mendapat maaf dari sang ibu.

      • “Setiap dosa azabnya akan diakhirkan oleh Allah SWT sampai hari kiamat kecuali orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya (HR. Ibn Majah)

      Masih banyak sekali hadits lainnya yg menegaskan adanya kewajiban taat dan hormat kpd orang tua, yg akan menghantarkan kesuksesan kita dunia dan akhirat. Jadi, jangan sampai Anda menjaga jarak dgn ibumu. Sebab dikuatirkan ibumu akan men-cap-mu sbg anak durhaka. Durhaka adalah dosa terbesar kedua setelah syirik. Sahabat Ali bin Abi Thalib ra pernah bertanya tentang kriteria durhaka kpd kedua orang tua, Rasulullah SAW menjawab, “Barang siapa yang membuat susah hati kedua orang tua berarti berani (durhaka) kepada mereka”. Nah.. kalau sudah berani pada orang tua, jangan harap mendapatkan kesuksesan dunia maupun akhirat.

      PERTANYAAN KEDUA, dosakah jika menikah karena landasan perintah Allah dalam menyegerakan menikah, karena sampai saat ini ibu blm juga mau ditemui (sang calon)?

      Jika Anda telah merasa cocok dgn calon suamimu, secara latar belakang dan agamanya bagus, …namun entah karena alasan apa, ibumu tidak segera memberikan restu. Apakah Anda harus “lari” dari ibumu, demi mengejar cinta kalian ataukah harus setia mengabdi pada orang tuamu yang telah membesarkanmu?

      Sbg seorang anak yang memiliki cinta, tentu Anda akan berusaha untuk mengejar cinta kalian dan memperjuangkannya sampai kalian benar-benar tidak dapat lagi untuk itu. Tapi naluri sbg orang tua juga tak bisa berhenti berfikir. Begini.. cobalah berada pada posisi ibumu karena Anda nantinya juga akan menjadi orang tua bagi anak-anakmu, yang pasti saat itu Anda juga ingin agar anakmu berbakti padamu, membahagiakanmu, dan tidak mendurhakaimu, bukan?!
      Andaikan Anda menjadi orang tua, bayangkan jika hal tsb terjadi pada anakmu sendiri. Tentu Anda sbg orang tua akan sangat terluka dan kecewa kalau buah hatimu memilih jalan lari hanya demi cintanya. Maka dari itu hendaklah sekarang melakukannya yg terbaik untuk orang tuamu. Ingat, fal jaza’u min jinsil amal … balasan sesuatu itu sesuai dengan amalan yang kita lakukan.

      Kejam dan sekeras apapun ibumu, jangan pernah membencinya. Anda terlahir di dunia, -dari bayi yang tidak tahu apa-apa, sampai dewasa, mengejar S2 sehingga kaya ilmu-, adalah atas jasa orang tuamu. Dari mulai di dalam kandungan, ibumu telah menjadi bagian penting dalam kehidupanmu. Ibumu menjadi sebuah tonggak kehidupanmu. Ibumu telah memberikan ”separuh nafasnya” untuk kehidupanmu, ibumu juga yang memberikan ”sebelah nyawanya” untuk kehidupanmu. Ibumu rela bertaruh apapun yg ia miliki hanya untukmu, termasuk nyawanya sekalipun. Itulah kenapa Islam begitu menekankan masalah berbakti kpd orang tua, membahagiakan mereka, dan tidak durhaka pada mereka.

      Yang perlu disadari bahwa menikah adalah langkah besar dalam perjalanan hidup seorang anak, dan konsekuensinya akan anak rasakan seumur hidup. Oleh karena itu, bersikaplah ekstra hati-hati dlm menghadapi masalah. Jangan sampai melangkah, kecuali semuanya sudah clear, serta ibumu setuju dan merestui langkah besarmu ini. Jika Anda menjalani suatu keputusan atas restu dari orang tua, tentunya mereka akan selalu mendoakan kebaikan bagi kalian, agar kehidupan rumah tangga penuh berkah, tentram, dan bahagia dunia akhirat.

      “Ridlallah fi ridla al-walidaini wa sukhtullah fi sukht al-walidaini … Ridhanya Allah tergantung ridhanya kedua orangtua, dan sebaliknya murkanya Allah tergantung murka kedua orang tua” [HR. At-Tirmidzi]. Itu secara tegas Rasulullah SAW bersabda demikian lho. Jadi, bila pernikahanmu tidak mendapat restu/ridha dari kedua orang tuamu, dikuatirkan akan menuai kesulitan dalam kehidupanmu. Kalau orang tuamu tidak merestui namun Anda tetap memaksa, itu berarti Anda telah membuat susah hati orang tua. Kalau Anda membuat susah hati kedua orang tuamu, berarti Anda termasuk durhaka kepada kedua orang tua.

      Lantas bagaimana solusinya?
      Cobalah langkah-langkah alternatif berikut ini:
      1) Bangunlah komunikasi yg lebih baik dan lebih terbuka dgn ibumu. Membangunnya di setiap kesempatan, optimis lah akan mendapatkan momentum yg baik.
      2) Jelaskan alasan yg mendasari langkahmu, dan kelebihan yg ada pada pilihanmu.
      3) Jelaskan kerugian yg timbul jika meninggalkan pilihanmu.
      4) Mungkin ibumu ada pandangan lain, cobalah untuk memahaminya. Kalau Anda tidak berkenan, sampaikanlah koreksi dgn baik.
      5) Agar dimudahkan segala urusan dan diberikan solusi terbaik, istiqomah lah berdo’a kpd Allah, fokus pada saat-saat mustajabnya do’a spt ketika sujud dlm sholat, dan ketika 1/3 malam terakhir.
      6) Sholat istikharah dan memohon petunjuk Allah.

      Jadilah anak yg bijak dalam mengambil setiap keputusan dalam hidup, terutama keputusan yg sangat besar, yg nantinya akan ”menyeret” orang tua ke dalam pertanggung jawaban di kemudian hari (seperti yang saya sampaikan dalam jurnal di atas).

      Sekedar saran, jika merasa tidak aman tinggal bersama ayah tiri, ya jangan tinggal serumah. Coba nge-kost yg dekat dgn tempat kuliah / kerja, juga tidak jauh dari rumah ibumu.

      Demikian. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallaahu a’lam bish-showab.

  42. Yudis says:

    Ketika seorang lajang menikah dengan janda yg sudah mempunyai anak,disaat berjalang seorang lajang tidak mendapat anak,dan anak sekarang tidak dianggap,karena seorang lajang beranggapan ketika tua nanti tidak ada yg mengurusi..apa lagi dalam hadis terputus 3. Amalan salah satunya.anak yg Sholeh..siapa yang mendoakan???dan apa yg harus dilakukan seorang lajang itu supaya tenang.terimakasih

    • Mas Yudis yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

      Terkait hadits yang berbunyi: “Jika seseorang meninggal maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya” [HR. Tirmidzi no.1376 dan Nasai no.3651. Dishahihkan oleh Al-Albani]

      Orang yang dianggap anak tidaklah dihukumi seperti anak kandung, meski sudah dirawat bertahun-tahun. Ini berlaku untuk hukum waris. Namun demikian, do’a anak tiri tersebut tetap bisa sampai kepada orang yang dianggap sebagai bapak tirinya bila terpenuhi syarat dipenuhinya do’a. Diantara dalil yang menguatkan hal itu adalah firman Allah ta’ala dalam QS Al-Hasyr ayat 10:

      “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

      Ada 2 kaidah yang patut kita pahami.
      Kaidah yang pertama, seseorang yang telah beramal jariyah dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat itu akan mengalir kebaikannya selama bentuk dari jariyahnya masih bermanfaat bagi kebaikan umat atau seseorang. Dalam hal ini segala bentuk amal kebaikan yang telah dikeluarkan oleh orang tua tiri (termasuk orang tua angkat, asuh) adalah juga termasuk kebaikan yang jariyah. Selama anak tirinya istiqomah menjadi seorang hamba yang shalih.

      Kemudian kaidah yang kedua, terdapat sebuah hadist yang menyatakan bahwa salah satu doa yang tidak akan ditolak oleh Allah adalah doa seseorang kepada saudaranya (teman/sahabatnya) yang tidak diketahui oleh saudara yang didoakan itu.

      Dari dua kaidah tersebut di atas, insya Allah doa-doa seorang anak kepada orang tua tirinya tetap akan diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demikian juga ilmu yang telah orang tua tiri berikan kepada anaknya hingga anaknya menjadi hamba yang shalih maka Insya Allah pahala jariyah tetap mengalir bagi orang tua tirinya.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

  43. supriyono says:

    bagaimana apakah doa anak bisa sampai kpd orang tua yang tidak shalat bahkan lebih buruk dari itu?

    • Mas Supriyono yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

      Ada dua jawaban berdasarkan kondisi orang tua tersebut di akhir hayatnya.

      KONDISI PERTAMA:
      Apakah orang tua tersebut akhirnya meninggal dalam kekafiran (su’ul khotimah)? Bila jawabannya IYA, maka mari belajar dari hadits di bawah ini:

      Dari Musayib bin Hazn, beliau menceritakan, “Ketika Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Di dekat Abu Thalib, beliau melihat ada Abu Jahal bin Hisyam, dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada pamannya, ”Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, kalimat yang aku jadikan saksi utk membela paman di hadapan Allah.” Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah menimpali, ’Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?’
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, namun dua orang itu selalu mengulang-ulang ucapannya. Hingga Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.
      Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad, ”Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang.”
      Lalu Allah menurunkan firman-Nya di surat at-Taubah: 113. dan al-Qashsas: 56. [HR. Bukhari 1360 dan Muslim 24]

      Firman Allah di surat at-Taubah:
      ”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” [QS. At-Taubah: 113].

      Firman Allah di surat al-Qashsas:
      Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [QS. Al-Qashsas: 56]

      Jadi, berdasarkan dalil tersebut di atas, maka do’a seorang muslim kepada siapapun yang kafir tidak sampai dan doa semacam itu dilarang walaupun kepada kerabat sendiri. Termasuk dilarang adalah memintakan ampun dan/atau menghadiahkan pahala sedekah untuk mereka.

      KONDISI KEDUA:
      Kalau orang tua tersebut meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, do’a anak sholeh kepada orang tuanya, insya Allah akan sampai. Minimal bisa mengurangi bentuk azab yang diterima orang tuanya di akherat. Bagaimana ciri-ciri anak sholeh?
      Terdapat dalam QS Lukman ayat 15-19, diantaranya:
      1). Berlaku baik kepada ibu bapaknya walaupun ibu bapaknya musyrik.
      2). Menjauhi perbuatan tidak baik, sekalipun pada saat tidak ada orang lain.
      3). Mendirikan sholat, mengajak manusia kepada kebajikan, menjauhi kemungkaran dan bersabar menghadapi cobaan hidup.
      4). Tidak bersikap sombong dan tidak melakukan hal-hal yang tidak baik ditengah masyarakat.
      5). Selalu bertutur kata sopan dan menghormati orang lain.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

  44. riyani says:

    Assalamu’alaikum ,,
    Keadaan hubungan keluarga saya sangat sulit untuk di mengerti ,, ibu saya sudah 3x bolak balik ke arab saudi , saya punya kk dan 2 adik ,, sampai akhirnya ibu saya menodai rumah tangga dengan ayah saya karna hamil, ayah saya memaafkan dan terjadi lagi !! Lalu ayah sya memutuskan untuk bercerai ,, setelah 10 thun bercerai ibu saya menuntut gono gini rumah karena menurut dia selama dia di arab dulu dialah yang membiayai pembuatan rumah tsb ,, sampai uang yang pernah ia kirim dan di makan oleh anak2 nya dia mnta untuk di kembalikan padanya ,, sedangkan dia pernah mengatakan bahwa dia telah menghibahkan rumah kepada anak2 nya ,,
    Pertanyaan saya apakah tindakan ibu saya benar atau dosa kepada ayah saya selaku mntan suaminya dan kepda anak2nya yg telah ia telantarkan dan meminta mengembalikan nafkah yg telah ia berikan dan juga mengembalikan rumah yg telah ia hibbahkan ,
    Terima kasih

    • Wa’alaikum salam.
      Rasulullah SAW bersabda: ”…, pria adalah pemimpin didalam keluarganya dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya…” [HR Bukhari Muslim].
      Kemudian pada QS At Tahrîm: 6, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
      Jadi jelas bahwa kewajiban orang tua adalah hak anak. Dengan demikian, tindakan ibumu itu berdosa terhadap anak-anaknya yang ditelantarkannya, juga kepada suami karena tidak amanah (hamil sampai dua kali dengan orang lain).

      Di dalam Islam tidak ada aturan secara khusus bagaimana membagi harta gono gini. Islam hanya memberikan rambu-rambu secara umum di dalam menyelesaikan masalah bersama, diantaranya adalah QS An-Nisa’: 128, dan juga hadits Rasulullah SAW: “Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram” [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Tirmidzi]
      Dengan demikian, pembagian harta gono gini sepenuhnya bergantung pada hasil perdamaian antara suami isteri berdasarkan musyawarah atas dasar saling ridha.

      Sesuatu yang sudah dihibahkan tidak bisa diminta kembali. Dengan catatan ada bukti kuat surat hibah yang ditunjukkan pada sidang pengadilan. Jadi, mengenai boleh tidaknya menuntut pengembalian rumah yang telah dihibahkan kepada anak2nya dan juga harta gono-gini setelah 10 tahun bercerai.. tergantung keputusan sidang pengadilan agama. Namun, sebelumnya ada baiknya tempuh lebih dulu jalan musyawarah atas dasar saling ridha.
      Wallahu a’lam.

    • amel says:

      Assalamualaikum pa ustad
      Saya mau tanya…
      Apa hukumnya istri suka berantem sama suami suka marah2in suami…
      Terus sedangkan orang tua siperempuan yg
      Lelaki sudah meninggal dunia
      Sedakan waktu hidupnya orang tuanya suka bilang/suka marah kalau anak perempuanya seperti itu…
      Jadi apakah setelah orang tua meninggal dunia kena imbasnya?

    • Wa’alaikumsalam.
      Pertanyaan: “Apa hukumnya istri suka berantem sama suami suka marah2in suami?”

      Ada sebuah kisah sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita (istri) yang bagaimanakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yang menyenangkan suaminya bila suaminya memandangnya, yang menaati suaminya bila suaminya memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara dirinya dan tidak pula pada harta suaminya dengan apa yang dibenci suaminya.” (Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa’ul Ghalil no. 1786).

      Selama suami tidak melakukan / mengajak perbuatan maksiat atau melawan perintah Allah, maka istri wajib taat pada suaminya.
      Bila ternyata orang tuanya tidak mendidik anaknya agar terlindung dari api neraka, maka orang tua tsb akan kena imbasnya. Sebab melindungi keluarganya dari api neraka adalah perintah Allah, ingat QS At-Tahriim ayat 6.

  45. Devy Ulfah says:

    Assalamualaikum.. Pak, bagaimana menghadapi ayah yang seperti mempunyai kepribadian ganda. Maksud saya, beliau orang yang taat beragama, tapi di satu sisi beliau akhlaqnya kurang baik, sangat kasar bertutur kata, tidak peduli dengan anak, bahkan yang membiayai pendidikan anak-anaknya ibu saya. Dia hanya menganggap dirinya yang paling soleh dan masuk syurga. Dan, dia hanya peduli dirinya sendiri. Kami sebgaia anak-anaknya kurang mendapatkan pendidikan akhlaq yang baik dan perhatian.

    Saya sebagai anak pertama sangat menyayangi dan menghormatinya, berusaha memperbaiki kondisi keluarga, seperti diam-diam memberi masukan atau nasehat tentang keluarga harmonis secara halus via e.mail, malah saya mendapat cacian makian, bahkan saya mendapat cap anak durhaka darinya karena katanya terlalu ikut campur.. tapi apakah saya salah sebagai anak memberi masukan kepada beliau walau secara islami? Masalahnya sebagai anak yang sudah dewasa, lama-lama tidak tahan lagi melihat ibu saya diperlakukan secara tidak baik.

    Seperti Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

    “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

    Saya ingin sekali memperbaiki kondisi keluarga..

    Mohon masukannya tentang bagaimana menghadapi sifat beliau yang seperti itu,. Terimakasih..

    • Wa’alaikumsalam.
      Alhamdulillah, sudah sangat bagus, mbak Devy sebagai anak pertama sangat menyayangi dan menghormati ayah, dan kini berjuang untuk memperbaiki kondisi keluarga.

      Jagalah dengan baik sikap seperti itu. Jangan sampai kebawa perasaan terlalu jauh, hingga muncul sikap penentangan pada ayahmu. Ingat, durhaka pada orang tua adalah Dosa Terbesar Kedua setelah syirik. Jadi, anggap saja kondisi saat ini adalah ujian keimanan. Di samping itu, bila kemudian ada sekali saja friksi (yang dianggap melukai hati ayahmu), maka recovery nya bisa lama. Tunjukkan selalu sikap baik, penuhi apa yang menjadi kesenangannya (asal Allah ridha), hingga suatu saat momentum itu datang, disitulah terbuka pinta hidayah-Nya.

      Memang ada hadits Rasulullah SAW yg menjelaskan agungnya kedudukan orangtua dalam agama, yg berbunyi: “Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua.” [HR. Al Baihaqi]

      Namun, sayang banget ada orang tua yang memahami hadits ini dengan keliru. Padahal Islam tidak menghendaki kaum muslimin untuk menuntut hak saja, tanpa ada kewajiban yang berarti. Selain orang tua mendapat hak istimewa dari Allah SWT berupa bakti dari anak, orang tua pun juga memiliki kewajiban besar, yaitu mendidik, mengayomi, dan memimpin anak dalam syariat-Nya.

      Yang saya pahami mbak Devy sudah berusaha mengingatkan dengan baik. Kalau dirasa berbagai cara selama ini selalu gagal, apakah sudah dicoba dengan pendekatan menggunakan pihak ketiga?
      Maksudnya begini, bisa jadi ego ayahmu begitu tinggi dihadapan anaknya, sehingga memandang rendah nasehat yang datang dari anaknya. Maka cobalah meminta tolong ORANG LAIN (yang usianya sepadan dengan ayahmu, masih ada hubungan saudara) yang dinilai dekat dan akrab betul dengan orang tuamu, atau bisa juga ulama terdekat yang jadi panutan ayahmu. Biasanya orang akan gampang luluh mendengar nasehat sahabatnya / panutannya.

      Coba dulu Plan A tersebut.

      Meskipun mbak Devy mendapat caci maki dan dicap sebagai anak durhaka, bersabarlah… do’akan selalu ayahmu agar kelak khusnul khatimah. Sehingga bila Allah mengijabah do’amu, maka sisa usia ayahmu akan diisi dengan hal-yal yang positif dan bermanfaat.

      Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada ayahmu (dan kita semua) dan semoga Allah memberikan mbak Devy (dan kita semua) bekal kesabaran dalam berdakwah kepada agama Allah.

      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

    • putra says:

      Aslmualkum..
      Sblum maaf apbla ad yg krang tepat mngkin ad ktng tepat dngan prtnyaan saya .
      Saya mau brtnya ,gmna cra nya agar ayah saya bs diampuni dosa nya dan bisa diangkat gusti allah swt ke surga ..tpi wktu ayah saya meninggal dalam keadaan slese mnum akohol .tpi alhmdllah ayah saya dlam mnckupi materi,kasih syang nya kpda istri,anak,sdara dan org dskitar sngat baik .hal prilaku nya ksih syang dan pengertian sngat baik .bgaimna cra agar ayah saya diampuni sgla dosanya dan diangkt ayah saya ke surga gusti allah swt .
      Trmksih ..mhon ats saran dan jwaban . skli lgi trmksih ..

    • Wa’alaikumsalam.
      Sebelum saya jawab lebih lanjut, bagaimana sholat ayahmu?

  46. maulida says:

    Assalamualaikum,,
    Kak mw nanya gmn klo anak yg ud d tinggal ortu dr kecil(sudah meninggal) disaat dia blm tau ap2,n ortu’y blm sempat memberi masukan hal2 yg baik(menurut syariat islam),dan saat dia dewasa slalu mlakukn hal2 buruk..
    Apakah ortu d akhirat akan mempertanggung jawabkn smua perbuatannya..??

    • Wa’alaikumsalam,
      Al-Qur’an menegaskan bahwa satu jiwa tidak dapat memikul dosa jiwa yang lain.
      “Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk Allah, maka sesungguhnya itu untuk keselamatan dirinya sendiri, dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya kerugian itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. . . ” [QS.17:15]
      Dengan demikian, seseorang tidak disiksa karena dosa yang dilakukan orang lain. Dosa yang dilakukan anak tidak dapat dipikulkan kepada orangtua, demikian juga sebaliknya. Akan tetapi, dalam soal ini ada beberapa PENGECUALIAN, seperti yang dijelaskan dalam jurnal di atas, antara lain jika orangtua tidak mendidik anaknya pada waktu kecil sehingga sang anak berbuat maksiat saat dewasanya.
      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

  47. Tapi gimana kalau anak yang rajin sholat tadi.. menjadi buruk akhlak nya karena orang tua nya yang suka bentak bentak akhir nya si anak tadi tertekan dan emosi nya tidak terkedali sehingga mengeluarkan kata” yang kasar pula seperti orang tua nya padahal di dalam hati sang anak tadi menyesal telah mengucapkan kata” itu? Mohon jawaban nya 🙂

    • Buruk akhlak memang bisa dipengaruhi oleh lingkungannya. Namun demikian, manusia telah dikaruniai akal untuk bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk.
      Ketika sadar bahwa buruk akhlak tidak akan membawa manfaat baginya, baik di dunia maupun di akhirat, ya harus berupaya segera bertaubat. Jangan lagi sibuk mencari pembenaran agar buruk akhlak-nya bisa dimaklumi.
      Apapun kondisi lingkungannya … si anak yang rajin sholat itu harus bisa berupaya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, termasuk kepada orang tuanya (yang mungkin telah menyakitinya).
      Dengan taubat nasuha, insya Allah bisa diampuni segala kekhilafannya.

  48. Assamualaikum. Kk gimana kalau ad seorang anak yang rajin sholat serta mengaji tetapi orang tua nya jarang sekali sholat bahkan tidak pernah ngaji dan orang tua nya itu suka bentak bentak anak nya. Ada pepatah “apa yang dilakukan orang tua dalam keluarga pasti anak juga melakukan itu” sedang kan ada anak satu lagi yang tidak pernah sholat dan ngaji bahkan tidak bisa padahal sudah baligh tetapi dia patuh kepada orang tua nya?

    • Wa’alaikumsalam.
      Untuk kasus pertama, di akherat kelak, masing-masing akan mempertanggungjawabkan sesuai amalannya di dunia.
      Seorang anak yang rajin sholat itu sebaiknya selalu berdoa dengan doa seperti yang disampaikan Nabi Ibrahim as pada Qur’an Surat Ibrahim ayat 35-41. Do’a untuk kebaikan orang tuanya, keluarganya dan keturunannya agar selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

      Sedangkan untuk kasus seorang anak yang tidak sholat namun patuh kepada orang tua..
      Baik dan patuh itu relatif ukurannya berdasarkan kacamata manusia. Patuh dalam hal apa dulu?
      Padahal sudah jelas bahwa ingkar kepada Allah adalah dosa terbesar yang tak terampuni. Orang tuanya juga dimintai pertanggunganjawab dalam pengadilan akherat nanti bila membiarkan anaknya berada di lembah kekafiran, ingkar dan jauh dari Allah.

      Seorang anak bila memang betul-betul mencintai orang tuanya, maka jadilah anak yang bertaqwa, mematuhi perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, setelah itu berbakti kepada orang tuanya. Ini bentuk kecintaan tertinggi pada orang tua, karena bisa meringankan langkah orang tua menuju surga.
      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

  49. selfi says:

    Assalamualaikum..mohon bantuannya untuk menjawab kegalauan hati saya pak ..saya mempunyai orang tua yang cukup mampu secara meteri bahkan berlebih.tapi mereka lebih mementingkan kemewahannya.selama ini saya menutup hati dan telinga saja dengan ketidakadilan mereka.tapi saat suami saya di phk.mereka tetap tidak ada itikat membantu kesulitan kami.padahal hubungan kami baik.bagaimana sikap saya sebagai anak.yang terkadang timbul rasa kecewa.trims

    • Wa’alaikumsalam.
      Bagaimanapun bentuk perlakuan orang tua terhadapmu, sebagai anak, tetaplah menjalin hubungan yang baik dengan orang tuamu. Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban bagi anak dan merupakan perintah-Nya (lihat QS Lukman:14; QS Al-Ankabut:8 dan QS Al-Ahqaaf:15). Jangan sampai menjadi anak durhaka, sebab durhaka pada orang tua adalah dosa terbesar setelah syirik.

      Saya teringat sebuah pesan bijak: “Barang siapa yang durhaka kepada dua orang tuanya, maka ia tidak akan merasakan kesenangan dari anaknya. Barang siapa yang tidak bermusyawarah dalam urusan-urusannya, maka ia tidak akan mencapai maksudnya. Dan barang siapa yang tidak mengalah kepada keluarganya, maka ia akan kehilangan nikmatnya hidup.”

      Dari situ semua cukuplah menjadi petunjuk bahwa sikap mental positif harus tetap ada dalam diri, seberapapun kadar kepedulian orang tua terhadapmu. Bila mbak Selfi dan suami tetap menjaga sikap menghormati orang tua, dan membangun komunikasi yang baik, serta menunjukkan kepedulian, .. Insya Allah, suatu saat nanti ada momentum yang membuat orang tuamu menjadi lebih peduli pada anaknya, dalam hal ini kebutuhan anaknya. Bisa jadi, Allah Yang Maha Membolak-balik hati hamba-Nya saat itu memberikan hidayah-Nya kepada orang tuamu, menjawab do’a dan kesabaranmu.

      Selamat berjuang melewati masa-masa sulit. Semoga do’a, usaha / ikhtiar, dan kesabaran kalian segera berbuah kebaikan. Aamiin.

    • selfy says:

      terima kasih pak atas masukan yang diberikan insaAllah saya dapat mempertahankan hubungan yang tetap baik dengan orang tua, dan percaya pada Alloh bahwa kebaikan yang kita tanam suatu saat akan kita tuai

  50. hadi says:

    assalamualaikum wr wb
    ketika seorang anak laki laki telah mencapai usia 25 th namun belum menikah. kemudian ia murtad, apakah kelak diakhirat orang tua masih akan dimintai pertanggung jawaban juga? mohon jawabannya.terima kasih
    wassalamualaikum wr.wb

    • Wa’alaikum salam wr.wb.

      Mas Hadi, ada pelajaran berharga dari kisah-kisah Nabi-Nabi Allah, seperti:
      – Nabi Nuh a.s. yang mempunyai anak durhaka dan ingkar kepada Allah SWT.
      – Nabi Luth a.s. yang mempunyai istri yang tak berbakti kepada suaminya, dan ingkar kepada Allah SWT.
      – Nabi Ibrahim a.s. yang ayahnya adalah pembuat berhala, dan tentu saja ingkar kepada Allah SWT.
      Apakah kemudian nabi-nabi Allah tersebut menjadi terhalang masuk surga?
      Tentu saja tidak.
      Nabi-nabi Allah tersebut telah berupaya keras menyadarkan anggota keluarganya. Dari pelajaran ini bisa kita petik bahwa orang tua tidak berdosa bila orang tua berjuang keras mendidik anaknya dengan pendidikan agama sehingga anak bisa menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya, orang tua menjadi berdosa bila melalaikan pendidikan tauhid kepada anak-Nya. Sebagaimana petunjuk-Nya dalam QS.Lukman(31) :13.

      Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang peguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” –[H.R Bukhari dan Muslim]

      Namun, kalau orang tua sudah sungguh-sungguh mendidik anaknya dengan pendidikan agama yang baik, kemudian anak tetap murtad, maka itu di luar tanggung jawab orang tuanya; artinya, orang tua tersebut tidak berdosa.

      Di akherat kelak orang tua akan dimintai pertanggungan jawabnya bagaimana tingkat kesungguhannya dalam mendidik anaknya, apakah sekedar asal-asalan, atau sampai ‘mati-matian’ menjaga akidah anaknya

      Demikian jawaban dari saya,wallaahu a’lam bish-showab

    • jannatussalimah says:

      assalamu’alaikum
      akhi iwan
      bagai mana jika ada seorang anak yang dari kecil sudah di tinggal orang tuanya karena konflik rumahtangga, lalu anak itu besar bersama keluarga nenknya

      waktu sudah besar dia selalu di minta untuk menuruti semua apa yang ayahnya minta ..
      memang itu sangat bagus namanya orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya
      namun, bagaimana jika itu tidak sependapat dengan anaknya
      tidak bertanya terlebih dahulu kepada anaknya tapi apa yang di perintahkan haus di jalankan … ahirnya si anak pun menurut walau terpaksa

      pada ahirnya si anak pun merasa tertekan dengan apa yang di jalankan karena tidak” support dari orang tuanya seperti mamberi semangat anaknya agar dia bisa bertahan dengan pilihan ayahnya walaupun anak itu tidak menyukainya
      sampai si anak tidak sanggup dan ahirnya membuat masalah
      yang tadinya penurut dan baik menjadi buruk karna sebab itu

      bagai mana harusnya dan baiknya si anak dan orangtuanya itu ??

      syukron akhi

      wassalamu’alaikum

    • Wa’alaikumsalam, ukhti jannatussalimah
      Saya merasakan adanya ketidak-harmonisan di sini antara orang tua dan anak. Untuk bisa kembali harmonis, coba deh sama-sama menurunkan ego untuk menyamakan frekuensi. Yang dimaksud menyamakan frekuensi adalah masing-masing memahami bahwa kelak orang tua dan anak akan dimintai pertanggungjawabannya.
      Tanggung jawab orang tua ke anak sudah saya bahas dalam artikel di atas.
      Tanggung jawab anak ke orang tua adalah (salah satunya) berbakti kepada orang tua. Bahkan disebut dalam Al-Qur’an sbg perintah-Nya, lihat QS.Lukman(31) :14.
      Kalo frekuensi sudah sama, dan masing-masing menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, baru bicara langkah selanjutnya.. yang terbaik bagi keduanya. Masing-masing musti coba menjelaskan (dengan baik) alasan atas pilihannya.
      Demikian, wallaahu a’lam bish-showab.

  51. Masih banyak orang tua yang melantarkan anaknya.
    Bagimana jika orang tua tidak ada penghasilan, apakah wajib menafkahi anak? tks

    • Tidak ada penghasilan karena apa? Apakah karena ada kendala kesehatannnya, fisiknya,, sehingga tidak mampu?
      Mohon diperjelas ya, mas Djojo.

      Lain hal jika masalahnya adalah penghasilan ortu tidak mencukupi kebutuhan anak. Jika ayah telah bekerja keras namun penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan primer anak-anaknya, maka ayah harus minta bantuan ahli warisnya anak, karena ahli waris juga berkewajiban menafkahi anak tersebut (QS Al Baqarah: 233)
      wallaahu a’lam bish-showab

  52. Menjadi orang tua memang sejatinya adalah satu hal yang susah-suah mudah, bersyukur jika kita berhasil menanamkan budi pekerti yang paling mendasar di dalam dirinya sesuai ajaran agama, namun dalam realitasnya yang kerab terjadi adalah begitu kuatnya pengaruh lingkungan. Ada salah satu nasehat yang saya peroleh dari bapak saya kalau apa yang tertanam di dalam diri anak adalah cermin bagaimana orang tua mennyikainya. Ada salah satu hal kecil yang mungkin klise namun pada kenyataannya jelas berpengaruh besar terhadap sikap dan budi pekerti anak-anak kita adalah tentang bagaimana orang tua memberi nafkah pada anak-anaknya. Nafkah yang halal dan nafkah yang haram yang kita berikan pada anak kita akan mempengaruhi pertumbuhan/perkembangan sifat dan karakteristik pada anak tersebut. Logika sederhananya adalah karena apa yang kita makan akan masuk ke dalam darah. Dan 2/3 atau 60 isi dari tubuh kita adalah darah. darah iu pula yang mengaliri syaraf-syaraf kita, termasuk syaraf yang ada di dalam hati dan otak.

  53. araaminoe says:

    semoga kita jadi orang tua yang mampu memberikan anak anak yang terbaik dalam segala hal… 🙂

  54. mmamir38 says:

    Semoga anak-anak kita membantu kita masuk surga.

  55. abi_gilang says:

    Pertanyaan yang harus akang siapkan nih jawabannya, mengingat anak yang semakin hari semakin besar dan semakin menuntut persiapan ilmu untuk mendidiknya. Terima kasih Pak atas postingannya 🙂

  56. ghazwanie says:

    bahan renungan yang bagus nih
    saya udah punya 3 anak, dan orang tua masih hidup..
    tfs pak iwan..

  57. nyonyasepatu says:

    mas Iwan, aku sedih bacanya huhu. Semoga aku gak termasuk anak yang bikin ortuku gak masuk surga *amin, benerin diri*

  58. jampang says:

    segala usaha harus dilakukan dengan maksimal untuk menjadi anak dan orang tua yang baik.

    *semoga saya bisa*

  59. Aku juga sering mendengar ceramah yg bilang orang tua bisa terhalang masuk sorga karena anak.

  60. Dyah Sujiati says:

    Berarti kewajiban kita ada dua sekaligus ya:
    menjadi anak yang baik biar kelak tidak menyengsarakan orang tua dan menjadi orang tua yang baik biar kelak tidak disengsarakan anak 😀

    On progress pak! Bismillah. 😀 *geje

  61. Apalagi dengan kasus yg sekarang masih hangat ini. *Gak usah disebut, pasti sudah pada tahu*. Memang itu hak, tapi kasihan orangtuanya dalam mempertanggung jawabkannya di sana kelak. Semoga bisa punya keluarga dan membina anak dengan baik. Amin.

    • Aamiin ya robbal ‘alamiin.
      Untuk kasus itu, insya Allah akan saya bahas, agar bisa menjadi pelajaran, dan tentu saja dengan tidak menyebut namanya, karena kasus tersebut trennya jadi sering terjadi.

  62. danirachmat says:

    Maturnuwun Mas sudah sharing ini. Jadi gemeteran saya..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: