Home » Media & Journalism » Menguji Sumber Anonim Dalam Berita Tempo

Menguji Sumber Anonim Dalam Berita Tempo

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

–: Mari kembali belajar membaca media, agar tidak tergiring jurnalisme prasangka.

Bismillah …

Pada jurnal sebelumnya yang “Mengkritisi Berita TEMPO soal Label Halal MUI”, ada dua pengunjung yang mengajak diskusi soal sumber anonim terkait dengan uraian kejanggalan yang saya sampaikan dalam jurnal tersebut. Karena terbatasnya ruang komentar, saya perjelas lagi dalam jurnal terpisah di sini.

Seorang tokoh pers nasional yang juga mantan wartawan majalah Tempo, mas Farid Gaban, setahun yang lalu (13 Feb 2013) pernah menyampaikan kuliah twitter (kultwit) tentang “Sumber Anonim Dalam Jurnalisme” . Dalam kultwitnya, beliau mengatakan bahwa kaidah dasar jurnalistik menuntut jurnalis bersikap transparan kepada pembaca dan narasumbernya. Transparan kepada narasumber artinya jelas memperkenalkan diri sebagai jurnalis, media tempatnya bekerja, dan tujuan wawancara. Transparan kepada pembaca artinya menyebut identitas narasumber secara jelas (nama, jabatan, posisinya dalam suatu masalah). Transparansi berkaitan dengan sikap rendah hati jurnalis, yakni memungkinkan orang lain atau media lain menguji beritanya. Tanpa identitas jelas narasumber, orang / media lain takkan bisa mengujinya. Cuma si jurnalis yang tahu, artinya tidak transparan.

Sumber anonim adalah sumber yang tidak mau atau tidak sanggup mempertanggungjawabkan kesahihan statement dan informasinya. Karena tidak harus bertanggungjawab, sumber anonim sangat mungkin mengarang cerita tanpa ada konsekuensinya. Tidak selalu sengaja berbohong. Tapi dibalik status anonim, seseorang bisa merasa yakin atas sesuatu yang dia sendiri ragu. Itu sebabnya, sumber anonim dinilai memiliki kredibilitas lebih rendah ketimbang sumber yang identitasnya jelas. Media yang terlalu banyak mengumbar status anonim pada akhirnya akan menjatuhkan kredibilitasnya sendiri di depan publik.

Tapi, bukan berarti sumber anonim tak boleh dipakai sama sekali. Baik praktisi maupun akademisi jurnalisme menyatakan pentingnya memberi ruang pemakaian sumber anonim, tapi dengan syarat ketat. Perlu disadari, bahwa kala menyepakati status anonim, jurnalis mengambil alih tanggungjawab semua statement si sumber, juga kebohongannya. Demikianlah yang disampaikan mas Farid Gaban.

Syarat ketat seperti apa agar “sumber” bisa dikutip sebagai anonim?

Pada buku “Warp Speed” (1999), bab “The Rise of Anonymous Sourcing” (page 33-42) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menyebutkan ada tujuh kriteria untuk sumber dikutip sebagai anonim, antara lain:

  1. “Sumber” berada pada lingkaran pertama “peristiwa berita”, bisa sebagai pelaku, korban, atau saksi mata. Dia bukanlah orang yang mendengar dari orang lain. Dia bukan pihak ketiga yang melakukan analisis terhadap peristiwa itu. Dia bukan berada pada lingkaran kedua, ketiga, dan seterusnya.
  2. Keselamatan “sumber” terancam bila identitasnya dibuka. Secara masuk akal alasan anonim bisa diterima, entah nyawanya yang benar-benar terancam atau nyawa anggota keluarga langsungnya yang terancam. Jika hanya jabatan atau status pekerjaan yang terancam, menurut Kovach, belum cukup kuat untuk anonim.
  3. Motivasi “sumber” memberikan informasi murni untuk kepentingan publik. Bukan untuk kepentingan pribadi, untuk menghantam lawan atau orang yang tak disukainya, bukan lempar batu sembunyi tangan.
  4. Integritas “sumber” harus diperhatikan. Orang yang suka bohong atau pernah terbukti bohong, tidak layak diberi kesempatan menjadi sumber anonim. Periksalah integritas “sumber”. Biasanya makin tinggi jabatan seseorang, makin sulit mempertahankan integritas dirinya, sehingga harus makin hati-hati dengan status anonim.
  5. Status anonim harus diberikan dengan sepengetahuan atasan di media (redaktur pelaksana / pemimpin redaksi). Redaktur harus melakukan verifikasi lebih dulu. Editor yang harus bertanggungjawab kalau ada gugatan terhadap kinerja jurnalistik. Ini prinsip dalam pekerjaan jurnalisme. Editor mempunyai hak veto terhadap suatu berita tapi si editor pula yang harus masuk penjara atau membayar denda bila kalah di pengadilan. Lebih baik berdebat duluan ketimbang ribut belakangan gara-gara suatu berita anonim digugat orang.
  6. Keterangan dari “sumber anonim” tetap harus bisa diverifikasi langsung semaksimal mungkin oleh jurnalis. Ini prinsip Ben Bradlee. Dia hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua pihak yang independen satu dengan yang lain.
  7. Perjanjian anonim batal dan nama “sumber” bisa dibuka bila terbukti berbohong atau sengaja menyesatkan. Ini perjanjian yang berat karena konsekuensinya bermacam-macam tapi kita harus menjelaskan pada sumber persyaratan ini.

Itulah ketujuh kriteria yang telah disepakati dalam konferensi di Washington DC, September 2008.

Baiklah, sekarang mari kita praktekkan bagaimana bersikap kritis dalam membaca berita media. Sebagai contoh kasusnya adalah kasus Label Halal. Salah satu bagian yang bisa kita uji adalah sajian berita MBM Tempo edisi 24 Februari – 3 Maret 2014, halaman 36-37, yang saya capture di bawah ini. Ayo disimak ya, klik gambarnya untuk memperbesar.

label halal

Dua paragraf awal potongan berita di atas menceritakan bagaimana perusahaan gagal mendapatkan izin, dengan alasan penyebab yang dirasa masih simpang-siur di mata pemohon. Kemudian pada paragraf ketiga, narasumber (Mouelhy) menemukan jawaban alasan sulitnya mendapatkan izin. Darimana? Jawabnya: Lewat kasak-kusuk ke pengusaha-pengusaha halal di Melbourne dan Queensland. Catat ya: “kasak-kusuk…”. Langsung garis-bawahi, karena itu penting, sepertinya menjadi bangunan konstruksi liputan investigasi berikutnya.

Saat penuturan kepada Tempo, si Mouelhy ini cerita tentang Esad Alagic dan bagaimana kedekatannya dengan Amidhan. Paragraf empat, ditutup dengan prasangka Mouelhy bahwa si Esad ini tak rela ada pesaing bisnisnya di Victoria.

Pada paragraf lima, Mouelhy berprasangka bahwa hanya melalui Esad, izin MUI bisa gampang keluar. Untuk membuktikan apa yang diomongkannya, si Mouelhy ini meyakinkannya dengan memaparkan contoh kasus, maka lahirlah kisah tentang “bekas manajer keuangan perusahaan halal”.

Yang namanya “bekas” artinya bisa jadi tidak lagi berada di dalam lingkaran organisasi perusahaan halal itu. Besar kemungkinan “bekas manajer” ini menceritakan pengalamannya saat (mau) bergabung dengan perusahaannya Mouelhy. Janggal rasanya, wartawan langsung kenal seorang narasumber yang berada di luar organisasi/perusahaan halal.

Dalam kesepakatan tentang sumber anonim ala Kovach, poin 1 di atas, yang boleh dipakai sebagai sumber anonim adalah adalah lingkar pertama, sebagai pelaku, atau korban, atau saksi mata. Dalam lingkar pertama kasus penyuapan pada berita Tempo itu adalah bos perusahaan itu, yang diduga menyuap petinggi MUI.
Apakah bekas manajer itu bersama bos-nya saat menyuap petinggi MUI?
Tidak.
Si bekas manajer keuangan itu berada di lingkar luar kejadian, ia hanya mencairkan dana untuk dibawa bos-nya. Si bekas manajer itu bisa masuk dalam lingkar pertama bila ia sendiri menyaksikan bos-nya menyuap petinggi MUI itu, dan ia menyaksikan MUI menerima suap itu.

Apakah Tempo mewawancarai lingkar pertama, yaitu si bos perusahaan itu?
Tidak.

Akurasi liputan investigasi itu bisa tinggi bila Tempo mewawancarai langsung si bos dan si bos meminta statusnya anonim setelah membuat pengakuan bahwa betul terjadi penyuapan. Nyatanya, Tempo HANYA menggali sumber dari Mouelhy yang infonya didapat dari kasak-kusuk pengusaha-pengusaha halal di Melbourne dan Quensland. Mouelhy yang jadi narasumber TEMPO itu mendengar dari orang lain kisah tentang si bos perusahaan yang menyuap petinggi MUI. Mouelhy mendengar dari si bekas manajer, dimana si bekas manajer mendengar dari bos-nya, perhatikan kalimat pada paragraf 6: “Kepada bawahannya, bos itu mengatakan …”.

Lingkar pertama lainnya yaitu Esad yang katanya mengantar si bos bertemu Amidhan, namun gagal di konfirmasi oleh Tempo. Lingkar pertama lainnya, Amidhan telah membantah adanya penyuapan tersebut.

Jadi, kalau mau valid beritanya, KEJAR si bos perusahaan itu untuk di wawancarai langsung, bukan dari orang yang kecewa yang berpotensi mengarang cerita.

Mouelhy ini termasuk “golongan kecewa” karena izinnya tidak disetujui Amidhan dkk. Dari rasa kekecewaan Mouelhy inilah Tempo menuliskan liputannya. Padahal Mouelhy bicara berdasarkan apa? Berdasarkan kasak-kusuk pengusaha-pengusaha yang ia dengar di sana. Namun sayangnya liputan investigasi keburu di-publish SEBELUM berhasil meng-konfirmasi lingkar pertama. Bisa jadi TEMPO ingin mengejar momen pembahasan RUU Jaminan Produk Halal. Dan kisah ini bisa mempengaruhi pengambilan keputusan di senayan.

Menjadikan “sumber” di luar lingkar pertama dipakai sebagai hasil liputan investigasi ini sangat lemah sifatnya. Bertentangan dengan salah satu tujuh kriteria pengambilan sumber anonim yang telah disepakati dalam konferensi di Washington tahun 2008. Kalau pers memudahkan soal ini, maka tidak ada bedanya dengan menumbuh-suburkan gossip lewat jurnalisme prasangka.

Status anonim hanya diberikan kepada sumber yang mempunyai informasi penting bagi publik tapi berbahaya buatnya jika identitasnya dibuka. Status anonim hanya diberikan atas kesadaran penuh jurnalis dan narasumbernya. Termasuk sadar akan konsekuensinya.

Status anonim sebaiknya dituangkan dalam kesepakatan tertulis yang melindungi si narasumber maupun si jurnalis. Sebab, sekali status anonim diberikan, jurnalis tak boleh membuka identitas si sumber sampai ke liang kubur sekalipun. Tapi, dalam kesepakatan itu, jurnalis bisa melindungi diri dengan klausul: “status anonim bisa dicabut jika kelak terbukti bohong”.

Karena kesepakatan-nya bersifat eksklusif, tidak dibenarkan sebuah media mengutip sumber anonim yang dimuat media lain. Narasumber yang membuat kesepakatan status anonim dengan banyak media, sebaliknya, patut dicurigai motifnya.

Sebelum menyepakati status anonim, ada beberapa hal yang harus dilakukan jurnalis, yaitu MENGUJI sejumlah hal, antara lain:

  • Menguji informasi: apakah sumber memiliki bukti keras (termasuk dokumen) untuk mendukung pernyataannya? Bukan cuma omongan?
  • Menguji motif narasumber: adakah motif di luar kepentingan publik, bias, dendam, spin-doctoring?
  • Jurnalis harus tetap membujuk sumber untuk bisa disebut jelas identitasnya. Bertanya spesifik tentang bahaya yang dihadapinya.

Ada pembaca dalam jurnal sebelumnya itu berkomentar: “Mana ada maling mengaku, penjara penuh brother”

Ada caranya bagaimana agar jurnalis bisa memuat pengakuan pelaku (dalam lingkar pertama), bukan dari maling, tapi yang dimaling atau korban. Dalam kasus Penyuapan Label Halal, kalau mau investigasi jujur, jurnalis Tempo harus bisa menggali langsung lingkar pertama pelaku penyuapan yaitu bos perusahaan. Setelah diwawancarai dan membuat pengakuan, bikin perjanjian tertulis untuk dipakai sebagai sumber anonim agar tidak membuka namanya dan nama perusahaan di media, sampai pengadilan membuktikannya. Pengakuan si bos itu jelas untuk kepentingan publik, bukan pribadi. Dengan begitu Tempo akan membuka pintu investigasi pihak yang berwenang yang kemudian diselesaikan di pengadilan.

Itu baru satu contoh kasus. Silakan bedah lagi potongan-potongan puzzle lainnya dalam laporan utama edisi Majalah Tempo 24 Feb – 3 Maret 2014.

Begitulah. Jurnalisme memberi ruang pemakaian sumber anonim, namun dengan kriteria ketat. Tak bisa serampangan. Status anonim yang diberikan terlalu longgar akan merusak kredibilitas media sendiri dan kepercayaan publik pada pers keseluruhan. Penggunaan sumber anonim adalah upaya terakhir untuk mengungkap suatu berita.

Saya menyadari bahwa jurnalisme adalah pergulatan, wartawan berdarah-darah di lapangan. Namun demikian, prinsip kejujuran adalah bentuk dari Elemen Pertama dari Sepuluh Elemen Jurnalisme yang harus dijunjung tinggi.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
04.03.2014

Advertisements

19 Comments

  1. k'saha says:

    manuver media tergantung kepentingan pundi2

  2. […] Monggo kalo mau belajar lebih lanjut pada contoh kasus ini. […]

  3. […] Mantan manajer ditulis anonym, nama bos anonym, nama perusahaan juga anonym. Mantan manajer yang anonym itu tidak melihat sendiri penyuapan, dia hanya mendengar cerita bosnya (yang juga anonym). Anonym mendengar info dari anonym. Lha ini apa bedanya dengan obrolan gosip yang membahas tentang “katanya si anu dari si anu” ? Bagaimana ini bisa dipercaya? [Update] Detail ulasan kronologi bisa dibaca pada jurnal berikutnya di sini. […]

  4. Yudhi Hendro says:

    kalau untuk jurnalis media elektronik bagaimana, pak Iwan? apakah juga diperbolehkan menggunakan sumber anonim?

    • Yang paling utama adalah lingkar pertama, bisa sebagai pelaku, korban, atau saksi mata.

      Misalnya:
      “Saya telah dipukul oleh Pak Kadis karena tidak mau memberikan uang setoran,” kata saksi korban yang tidak mau disebut namanya.
      Dalam kasus ini boleh, sebab kalau ia mengaku menyebut namanya kuatir nyawanya terancam, jadi boleh disamarkan (anonim).
      Namun demikian, si sumber yang tidak mau disebut namanya harus membuat perjanjian tertulis kepada wartawan bahwa apa yang disampaikan adalah benar.

      Namun kalau beritanya tertulis:
      “Saya mendapatkan kabar dari rekan kerja saya, bahwa ia pernah dipukul Pak Kadis karena tidak mau memberikan uang setoran,” kata seorang narasumber.
      Nah, kalau bentuk berita seperti ini gak valid, karena wartawan mendengar informasi bukan dari lingkar pertama. Narasumber tersebut bisa saja berbohong, padahal rekan kerjanya gak cerita apa-apa. Wartawan harus menggali info langsung terhadap orang yang benar-benar pernah dipukul Pak Kadis.

      Nah, seperti inilah… banyak pembaca tidak memperhatikan hal yang demikian. Dan meyakini pokoknya yang dimuat di koran adalah kebenaran.

      Untuk media elektronik, sumber anonim biasanya di-blur wajahnya, suaranya diacak frekuensinya. Namun, tetap berlaku contoh di atas saat diwawancarai. Artinya, wartawan tidak boleh bicara tentang kesaksian B kepada A (temannya). Wartawan harus ngomong langsung kepada B. Ini dalam kasus liputan investigasi.

    • Yudhi Hendro says:

      Makasih, pak Iwan. Sangat bermanfaat penjelasannya.

  5. lazione budy says:

    sudah ga baca tempo setengah tahun terakhir…

  6. enkoos says:

    Tadinya aku sempat mengerutkan kening waktu membaca ulasan di sini https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2014/02/28/mengkritisi-berita-tempo-soal-label-halal-mui/.

    Kenapa?

    Karena mengkritisi sumber anonim. Di dalam jurnalisme, sumber anonim diperbolehkan dengan alasan seperti yang sudah dipaparkan di atas, salah satunya melindungi narasumber dan keluarganya dari ancaman.

    Membaca postingan ini, aku jadi lega.

    Memang ya, sebagai pembaca, kita harus cerdas menyikapi berita. Jangan hanya percaya pada satu sumber.

    Satu yang aku gak habis pikir, barang / makanan yang sudah mendapat sertifikat halal dari lembaga Islam di satu negara, mengapa tidak diterima di Indonesia?

  7. […] pagi, kita semua sudah belajar bagaimana membaca media pada jurnal ini, mengkritisinya agar tidak menelan bulat-bulat apa yang disampaikan wartawan. Dan juga belajar dari […]

  8. katacamar says:

    ijin reblog lagi pak iwan jazakallah

  9. debapirez says:

    ciamik nih lanjutannya….

  10. Dyah Sujiati says:

    Yes, right!
    Orang Tempo mesti belajar lagi tentang jurnalisme sebelum nasib tragis menimpa mereka atas jurnalisme prasangka yang sengaja mereka ciptakan.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: