Home » Selamatkan Anak Bangsa » Tutup Ruang Gerak Pelaku Pelecehan Seksual Anak!

Tutup Ruang Gerak Pelaku Pelecehan Seksual Anak!

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Belakangan ini, kita dikejutkan oleh sebuah kasus tentang seorang anak TK (laki-laki, 5 tahun) yang digilir, disodomi berkali-kali oleh orang-orang dewasa di sekolahnya. Parahnya, sang anak tersebut mengidap penyakit herpes yang ditularkan oleh pelaku. Kasus ini adalah salah satu dari sekian banyak kasus pelecehan seksual yang makin mengenaskan jumlahnya di negeri kita ini.

Bagaimana gambaran peristiwa dan informasi di seputar kasus tersebut, simak video arsip acara “Meja Bundar TV One” yang mengambil tema “Ketika Sekolah Tak Lagi Aman” yang ditayangkan kemarin malam tanggal 16 April 2014 di bawah ini:




Menyimak penuturan narasumber sungguh sangat mencengangkan, bukan?!
Maka sudah waktunya kita turut andil dalam permasalahan ini. Sebagai orangtua tentu tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi pada anak kita.

Kekerasan seksual dapat terjadi pada siapapun; diri kita sendiri, orang lain, orang dewasa, anak-anak, perempuan ataupun laki-laki dan pelaku bisa berasal dari orang yang kita kenal maupun tidak, bahkan bisa juga teman baik maupun angggota keluarga sendiri. Dan satu hal yang pasti, korban kekerasan seksual selalu menanggung akibat perbuatan negatif orang lain selama seumur hidup mereka, secara fisik maupun emosional / psikologi. Akibat secara fisik seperti: kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit seksual, kerusakan pada organ kelamin, cacat, dan lain sebagainya. Akibat psikologis seperti: kecemasan sosial, rasa malu, mimpi buruk, ketakutan, depresi, kesulitan mempercayai diri sendiri atau orang lain, dan lain sebagainya.

Akibat di atas dapat berpengaruh jangka panjang terhadap kehidupan korban, namun, dalam proses penegakan hukum terhadap kasus-kasus pelecehan seksual di Indonesia, sering kali kita merasa kecewa dikarenakan minimnya masa hukuman yang diberikan kepada pelaku, seperti yang tercantum pada UU dan KUHP:

Hukum yang mengatur tentang pelecehan seksual adalah:

UU No. 23 Tahun 2005, Pasal 81

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

UU No. 23 Tahun 2005, Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

KUHP – Pasal 289
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

KUHP – Pasal 290
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:
– Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;
– Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin.
– Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul atau bersetubuh diluar perkawinan dengan orang lain.

KUHP – Pasal 291
Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 289 dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 290 itu mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

KUHP – Pasal 292
Orang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Lihatlah … tuntutan hukuman buat pelaku-pelaku pelecehan seksual / pemerkosa / seksual predator anak-anak hanya maksimal 15 tahun dan minimal 3 tahun, apakah hukuman ini setimpal dengan apa yang anak-anak ini alami?
Tidak cukup !!!
Apakah 5 – 15 tahun cukup waktu bagi korban untuk melupakan yang terjadi pada dirinya?
Trauma yang mereka alami tidak akan selesai dalam 5 tahun, trauma ini akan mereka hadapi seumur hidup mereka, luka yang mereka alami mungkin secara fisik dapat sembuh, tetapi luka itu tersimpan didalam pikiran mereka selamanya.

Oleh karena itu pelaku kejahatan seksual harus dihukum seberat-beratnya, minimal seumur hidup, dan maksimal hukuman mati. Kita tidak perlu memusingkan soal hukuman yang pantas tersebut terkesan tidak manusiawi, karena saya tidak percaya bahwa kita bisa menyebut pelakunya sebagai manusia.

Tidak ada kompromi untuk pelaku-pelaku ini, kita harus ikut andil dalam membangun lingkungan yang aman untuk anak-anak kita. Jangan memberi tempat mereka di dunia ini terutama dunia anak-anak kita, dunia dewasa pun tidak boleh ada.

Untuk kondisi yang mendesak ini, kita bisa melakukan tiga langkah utama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dari kejahatan seksual, antara lain:

Langkah Pertama:

Saya mohon partisipasi Anda selaku orang tua, atau teman-teman sekalian untuk andil dalam PETISI di bawah ini dengan tujuan untuk memperbaiki UU yang mengatur hukuman kepada pelaku pelecehan seksual, agar memberikan efek jera sekaligus pencegahan yang efektif terjadinya pelecehan seksual.

.
Langkah Kedua:

Mari bangun komunikasi yang sehat dengan anak-anak kita untuk tidak tabu lagi membicarakan masalah seks. Sebagai orang tua harus cerdas dan peduli soal ini, ada begitu banyak tuntunan bagaimana mengajarkan pendidikan seks sejak usia dini. Sebagai contoh, silakan simak tips berikut ini:

Membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak tentu harus disampaikan dengan cara yang baik (secara bertahap dan bijaksana) dan pada waktu yang tepat, yaitu sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan usia anak. Sehingga, ia akan mampu mempersiapkan dirinya dalam menghadapi beberapa perbedaan pandangan dan pendapat yang mungkin akan ia temui nanti.

Langkah Ketiga:

Materi-materi pornografi di dunia maya hanya akan menumbuh-suburkan pelaku-pelaku pelecehan seksual / pemerkosa / seksual predator anak-anak. Maka mari ikut andil membersihkan konten-konten tersebut. Bila Anda menemukan akun-akun blog, facebook, twitter, dan social media lainnya serta situs-situs pornografi, maka laporkan pada:

Atau, Laporan Pengaduan ke Polri melalui formulir:
http://www.polri.go.id/laporan-all/lpm/adu/
Tujukan ke Penyidik Polri atau Twitter: @DivHumasPolri

Payung hukumnya sudah ada, maka jangan ragu-ragu untuk melaporkan konten-konten negatif yang melanggar muatan kesusilaan yang Anda temui.

UU ITE, Pasal 27
(1). Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

UU ITE, Pasal 45
Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Apakah Anda tega bila anak-anak Anda yang mudah mengakses internet atau mempunyai akun social media itu mem-follow akun-akun yang memuat konten pornografi? Tentu tidak.
Apakah Anda tidak kuatir lingkungan di luar halaman rumah Anda dipenuhi oleh predator yang siap memangsa anak Anda akibat otaknya telah dirusak oleh konten pornografi?
Maka.. LAPORKAN akun-akun sampah tersebut!

Terima kasih telah peduli.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
17.04.2014

.
Artikel terkait lainnya:
Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak
Runtuhnya Teori Gen Gay

Advertisements

24 Comments

  1. ana says:

    Asstagfrlhzim mkin bnyak sja yk sprti itu, di tempt sya bkrja juga sering terjadi ny pelecehan terhadap karyawan wanita,yk pelakunya itu sendiri adalah mandor/cip disna,tepat nya di bagian asor PT.FASIC INDONESIA cianjur.. Nama plakunya pa suhendar dan pa slamet.. Tp karyawan dsana pada takut untuk malaporkan

  2. Menyeramkan sekali. Sayangnya kejadian ini baru ketahuan setelah dilakukan berulang-ulang. Apakah guru tidak memperhatikan perubahan sikap si anak setelah kejadian pertama kalinya?

  3. Reblogged this on あさぎえんぴつ 'Asagi Enpitsu' and commented:
    Kasus Pedhopilia semakin merajai di Indonesia.. Semakin ngeri saja, ya. Semoga kita yang berperan sebagai orang tua, saudara, ataupun guru semakin berwaspada T-T

  4. Sedih baca berita ini T-T

  5. “Korelasi Homoseksual Dengan Pedophilia Dari Sisi Psikologi” by @EstiningsihDwi

    Sebenarnya ingin sekali bahas tentang pedophilia. Tapi itu masih terlalu jauh PR-nya, masih ada pemangsa yg lebih dekat.
    Tentu semua tau Homoseksual kan? Gay? Lesbi?
    Ini dia… Kaum Pedophilia di negara-negara barat sekarang baru gencar ingin mengikuti jalan Kaum Homoseksual.
    Jadi sebelum bahas Pedophilia harus paham dulu tentang Homoseksual. Apa sih yg mau diikuti, apa yg ditiru, betul?
    Kalau di Indonesia gimana? Apa ada kisahnya? Jelas!
    Pemangsa sudah didepan mata tapi kita masih leha-leha… 😦
    Pada tau kan RUU Kesetaraan Gender?
    Ada hubungannya sama kaum Homoseksual? Jelas!
    Nanti merembetnya ke kaum Pedophil? Pasti!
    Gimana kisahnya?
    RUU Kesetaraan Gender ~> Kepentingan kaum Homo ~> Kepentingan kaum pedopil
    Kok bisa?
    Ilmu Psikologi di dunia merujuk ke APA (American Psychological Association), termasuk Indonesia.
    Nah, Asosiasi ini bikin panduan, bisa dibilang “kitab”-nya para psikolog namanya DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder)
    Jadi DSM jadi acuan diagnosis gangguan jiwa. Di Indonesia dikenal PPDGJ (Panduan Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa).
    DSM dibuat oleh kumpulan Dr., Prof., Ahli, Pakar yg hebat (kisahnya) ~ Begitu juga PPDGJ, di susun oleh kumpulan Pakar2 top
    DSM dibuat sudah beberapa revisi; DSM I, II, etc ~ PPDGJ juga begitu I, II, etc
    Namanya juga kitab buatan manusia kan, selalu disesuaikan kebutuhan manusia. Lain kalau Quran, sampai nanti tetap terjaga keasliannya. 🙂
    Teori sudah cukup. Sudah pada paham kan alurnya? Sahabat semua pasti sudah bisa menebak arahnya kan?
    Pada DSM I tahun 1952, Homoseksual masih dikategorikan sebagai Gangguan Jiwa!
    Pada DSM selanjutnya, sedikit demi sedikit Homoseksual semakin “dikaburkan”
    Dari gangguan kepribadian sosiopath ~> penyimpangan sex ~> ….. ~> … ~> kemudian HILANG! ~ Jadi bukan gangguan jiwa ~ Astaghfirullah…..
    Jadi pada DSM IV ~ Homoseksual sudah dianggap bukan gangguan jiwa! ~ Ohh… Hanya dalam waktu 30-40 tahun, Homoseksual dianggap biasa
    Bagaimana di Indonesia yg memakai PPDGJ ~ Sama!
    Pada PPDGJ III, Homoseksual dianggap kecenderungan seksual belaka ~ Variasi seksual aja 😦
    Kok bisa begitu bu? Tentu saja…
    Desakan Politik.. Desakan Agama tertentu.. Desakan $$$$$.. etc. Juga karena banyak ahli / pakar yang juga merupakan kaum Homoseksual, aturan bisa dirubah saat mereka berkuasa kan?
    Di Indonesia gimana, bu? | Sama saja! #HatiHati
    Yang sebelumnya dianggap Gangguan bisa dirubah menjadi Normal!
    Ngeri!
    Indonesia siap-siap mengikuti sebentar lagi dg UU Kesetaraan Gender yg bakal dibahas anggota dewan baru.
    Bagi yang kemarin mencoblos partai pengusung kesetaraan gender ~ Tangisilah nasib anak cucumu kelak!
    Bagi sahabat yang baca kultwit tentang #Miras http://chirpstory.com/li/200243 ~ Polanya sama! ~ Membuat Homoseksual menjadi NORMA.
    Nanti pengidap gangguan jiwa akan lakukan pola hampir sama #Miras #Judi #Homo #SenjataBebas #Obat #Pedofilia etc
    Pola sama ~ Jalur mungkin berbeda!
    Entah berapa tahun / puluh tahun ~ Jika bangsa ini tidak bangkit ~ Mendekatkan diri pada Allah ~
    Pedopilia itu biasa.. Judi itu biasa.. etc
    Kemaren coblos partai yang mendorong Kesetaraan Gender?
    Dulu coblos presiden yang membikin aturan #Miras?
    etc …
    Sadar? Mengerti? Nangis? Silakan..

  6. Sury Guswita Yani says:

    Makasih untuk infonya mas iwan…
    Sangat bermanfaat…

  7. nengwie says:

    Siap ikut tanda tangani petisi mas Iwan.
    Iya mestinya dikebiri saja…!!

  8. Itu sekolah siapa yang punya sih kok eklusif banget? Ijin nggak punya, seleksi pegawainya nggak bener, toiletnya nggak deket kelas lalu disempurnakan dengan gurunya nggak tahu kalau anaknya abis disodomi.

    Lha emangnya anak abis di sodomi itu balik dari kelas dengan muka ceria apa, gimana bisa nggak memperhatikan. Aduh aku prihatin dan sedih banget.

    Petisi signed

    • Terimakasih menandatangani petisinya.
      Saya yakin korbannya itu banyak, tinggal para ortu mampu menggali info dari anaknya dan berani bersuara.

      Gak bisa dibayangkan rasanya, saat saya menonton pengakuan ibu korban dalam video arsip TV One, beliau bilang sang anak sampai begitu menahan kencing agar tidak pergi ke toilet, ditambah lagi kondisi sengaja mengurangi minum agar tidak pipis di sekolah.

      Ada tulisan menarik nih, mbak, patut dijadikan refleksi:
      A Letter to AK, Our Little Hero from JIS
      Tentang rasa aman.

  9. ibuseno says:

    TFS, bookmark link2 pentingnya 🙂

    • Jangan lupa tandatangani petisi untuk revisi UU.
      Dan juga Pelajaranlah untuk para orang tua.. bahwa mahalnya biaya pendidikan belum tentu sebanding dengan kualitasnya.

  10. Dyah Sujiati says:

    Penyebabnya jelas. Akibat menjamur pornografi. Tapi sayang, banyak banget di luaran sana yang ngotot bukan karena itu. Mereka tetep maunya sebarkan porno dengan dalih seni, hak asasi, atau apalagi lah.
    But anyway, jadi orang tua musti cerdas kalau mau anaknya selamet. *ntms

  11. Roro Wilis says:

    Semoga petisi-nya berhasil ya pak Iwan..

  12. Saya sempat denger katanya hukuman untuk pelaku pelecehan seksual di kebiri saja

  13. rinisyuk24 says:

    Orang dewasa berperan penting, tapi kalau di kampung-kampung masih sangat tabu membicarakan ini, padahal konten2 pornografi sudah menyerbu duluan. Anak diberi handphone yang dapat mengakses internet, simbol kemapanan orang tua, sayangnya banyak orang tua yang tidak mengerti tentang pornografi yang dapat melahirkan pelecehan seksual oleh orang2 yang tidak beradab.

    • Mengubah kultur masyarakat yang menabukan pendidikan seks pada anak bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak di antara mereka yang melek informasi di internet.
      Pemerintah seharusnya mendorongnya melalui penyuluhan-penyuluhan sampai di tingkat kelurahan, bekerja sama dengan dinas kesehatan dan lembaga KPAI.

      Masyarakat awam perlu awas bahwa di luar halaman rumah mereka banyak predator yang gadget-nya diisi dengan materi2 pornografi yg merusak otaknya, sehingga menjadikannya pribadi yg bisa liar.

  14. Salah satu cara juga, gak nyentuh anak jika tidak perlu. Karena kadang misal membetulkan baju mereka juga bisa disalahartikan pelecehan.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: