Home » Selamatkan Anak Bangsa » Kasus TK JIS dan Kesaksian Melepas Jerat Homoseksual

Kasus TK JIS dan Kesaksian Melepas Jerat Homoseksual

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Seorang sahabat memberitahu saya tentang acara Show Imah di TransTV kemaren sore, Kamis, 1 Mei 2014, yang mengangkat kasus pelecehan seksual di TK JIS. Sayangnya saya telat membaca pesannya, sehingga acara tersebut terlewatkan. Alhamdulillah, ada yang baik hati meng-upload rekaman acara tersebut di Youtube tadi malam.

Ada hal yang menarik menyaksikan rekaman acara tersebut. Sesi pertama menghadirkan nara sumber antara lain: ibu Cinta dan ibu Yurinda (Kuasa Hukum korban), ibu Erlinda (Sekjen Komis Perlindungan Anak Indonesia / KPAI), dan melalui sambungan telepon kepada ibu korban MAK. Kemudian di sesi kedua menghadirkan artis Jupiter Fortissimo, yang pernah mendapatkan pelecehan seksual di masa kecil dan kini berjuang keras agar lepas dari jeratan “virus menular”. Ia didampingi ibu Lucy Udiawati (Psikolog Anak).

[SESI PERTAMA]

Ibu Erlinda mengatakan bahwa ada beberapa korban baru yang telah melapor ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) selain dua orang yang sudah melapor, ciri-ciri atau sketsanya pun sudah di tangan pihak kepolisian (Polda Metro Jaya dan Mabes Polri). Ada pelaku lain yang diduga keras berasal dari kalangan akademik (pengajar). Menurut beliau, pihak sekolah JIS tidak mau kooperatif dalam penyelesaian kasus pelecehan seksual ini. Korbannya sudah lebih dari 2 anak, para orangtua korban sudah lapor ke kepala sekolah. Namun oleh pihak sekolah, meminta mereka untuk silent, dan kemudian korban hanya diberikan terapi untuk men-DELETE MEMORI otaknya. Ya jelas para orangtua korban tidak mau memori otak anaknya di delete, mereka ingin kejahatan tersebut harus diungkap dan pelakunya dijerat hukum pidana. [Keanehan ini menambah panjang daftar 14 keanehan yang sudah saya kupas di sini].

Menurut pengamatan ibu Erlinda setelah melihat lokasi antara kelas dan toilet dan situasi di kanan-kiri sepanjang perjalanan anak ke toilet, ada kesan pembiaran oleh guru-guru dan lingkungan akademik lain ketika peristiwa bejat ini terjadi berulang kali dalam sehari, bahkan satu peristiwa terjadi sekitar 15 menit. Aneh kalau guru-guru tidak tahu. Untuk itu fokus penyidikan jangan hanya ke cleaning service tetapi juga ke staf pengajar dan karyawan lainnya. KPAI pun heran mengapa hingga kini para pengajar tersebut tidak dicekal untuk kemudian dilakukan tes darah, tes DNA.

Ibu Erlinda dalam acara ini juga mengatakan bahwa beliau sempat ditekan oleh pihak JIS agar tidak mengusut kasus JIS. Tekanan juga diberikan lewat sekitar 60 orangtua murid JIS yang mendatangi kantor KPAI pada hari Senin lalu, 28/4/2014. Mereka datang untuk menyampaikan keberatan terkait pemberitaan media yang selama ini dianggap selalu menyudutkan sekolah bertaraf internasional tersebut. Pertemuan tersebut berlangsung menegangkan, bahkan sampai terjadi insiden, ibu Erlinda dipepet ke dinding dan diancam untuk tidak melanjutkan pengusutan. Aneh sekali sikap mereka. KPAI jelas tidak mau surut langkahnya, KPAI berbuat dan bersikap berdasarkan bukti yang ada, memangnya JIS itu siapa, sebab predator anak ini masih ada di dalam tembok JIS dan berusaha disembunyikan. KPAI mempersilakan orangtua murid untuk mengutarakan pendapat mereka bahwa JIS adalah sekolah aman. Namun, kalau merasa JIS itu sekolah aman, secepatnya seluruh karyawan JIS dari guru sampai cleaning service mau memberikan sampel darahnya. Jangan ditunda-tunda lagi. Di sini pasti masyarakat juga bisa menilai.

Saya paham sekali dengan makna kata “pembiaran” yang selalu ditekankan dalam penyampaian ibu Erlinda ini. Ya, memang sepertinya ada semacam persekongkolan keji terhadap aktivitas jahat yang dilakukan di sana sejak lama itu tersusun sistematis. Oleh karen itu, ibu Erlinda juga berharap adanya gerakan nasional untuk mem-backup KPAI dalam mengusut kasus ini.

Beliau juga mengatakan bahwa ibu korban dan korban pantas diberi gelar “The Hero” karena berani mengungkap ke publik dan berani menerima resiko. Ini agar bisa dicontoh mereka yang mendapat perlakuan pelecehan seksual untuk tidak diam.

Menurut ibu Erlinda, ibu korban ini sangat sayang sekali pada anaknya, telaten menemani proses terapi anaknya. Melalui terapi tersebut, agar anaknya tidak trauma berkepanjangan, sang ibu juga berharap anaknya kelak tidak tertular perilaku homoseksual. Di berbagai media disampaikan bahwa terapi tersebut akan terus dilakukan secara rutin sampai sang anak berusia 18 tahun.

Kemudian, poin-poin penting yang disampaikan kuasa hukum korban dalam acara tersebut bahwa tim mereka sudah melayangkan gugatan ke pengadilan karena pihak sekolah melakukan perbuatan melawan hukum, yaitu melakukan pembiaran saat tindak pidana itu terjadi di sekolah dan sengaja menyembunyikan kasus, serta tidak kooperatif selama penyidikan kasus ini. Bentuk gugatan adalah meminta JIS ditutup secara permanen. Dasar hukum yang berkenaan dengan gugatan ini adalah UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak:

UU PA no 23/2002 pasal 54:
Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.

UU PA no 23/2002 pasal 78:
Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

.
[SESI KEDUA]

Bicara tentang artis taubat, tak bisa lepas dari artis gay yang mengaku telah berubah. Salah satu yang menonjol adalah Jupiter Fortissimo yang mengaku telah ‘sembuh’. Untuk itulah ia dihadirkan dalam acara tersebut untuk memberikan testimoni, sekaligus diminta pandangannya tentang kasus TK JIS ini.

Jupiter memang salah satu diantara mereka yang mendapatkan pelecehan seksual pada masa kecilnya, saat itu usianya 6 – 8 tahun dan ia tidak menyadari apa yang dilakukan orang jahat tersebut adalah bentuk pelecehan seksual, hingga kemudian di usia 25 tahun baru menyadari kalau ia terkena “virus menular” sehingga tumbuh menjadi pribadi berperilaku homoseksual hingga dewasa. Ia pun merasakan semakin jauh dari Tuhan. Dan akhirnya, ia bertekad untuk lepas dari kubangan sesat seperti itu.

Jupiter mengaku dibantu banyak sahabatnya dan orang-orang terdekat termasuk keluarga saat proses pemulihan diri. Ia mengatakan bahwa itu struggle banget, bukan cerita sehari-dua hari. Mungkin ada di luar sana yang sama seperti dia juga, yang ingin bangkit daripada terus terjerumus dalam lembah dosa. Jupiter mengaku menjadi lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sejak secara terbuka bicara dengan media.

Komentar Jupiter tentang kasus ini:

“Sebenarnya ini adalah seperti gunung es, yang masalahnya kelihatan sedikit, padahal faktanya dibawah banyak. Dan 5 tahun yang lalu saya pernah bersaksi dalam sebuah konpers bahwa saya juga pernah mengalami itu. Tapi apa yang dilakukan pemerintah, apa yang dilakukan kita itu cuman diam saja. 5 tahun yang lalu ketika saya bersaksi, anak yang dilecehkan itu belum lahir. Seandainya kita lebih cepat menanggapi bukan dari sisi beritanya saja, tapi juga ada penanggulangan yang cepat dan sigap dari pemerintah Indonesia mungkin peristiwa tersebut tidak akan terjadi.”

Menjelang penutup, narasumber Lucy Udiawati, psikolog anak, mengatakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pelecehan seksual, selain berdampak adanya trauma – trauma yang melekat, juga berpotensi tumbuh menjadi gay, lesbian, atau perilaku menyimpang seksual lainnya saat dewasa. Maka sejak anak mulai bisa berkomunikasi dengan orangtua, ajarkanlah pendidikan seksual, yaitu bagaimana cara bersikap terhadap orang asing, bagaimana menghargai organ-organ vitalnya, dan lain-lain, yang tentunya dengan bahasa penyampaian yang mudah dimengerti oleh anak di usianya tersebut.

Baiklah, mari simak tayangan lengkapnya



Sudah tepat apa yang disampaikan KPAI bahwa Indonesia bisa ditetapkan menjadi negara berstatus darurat perlindungan anak lantaran marak kasus pelecehan terhadap anak. Terjadinya kasus pelecehan seksual terhadap anak menunjukkan ketahanan Indonesia sudah terancam. Ancaman menyerang anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Kalau tahun 1945 zaman kemerdekaan kita diserang dari luar dan kita berperang dengan bambu runcing, saat ini kita diserang dari lewat pornografi, napza, kejahatan seksual. Padahal, anak-anak adalah generasi penerus, pengganti orang-orang yang saat ini berkuasa, apabila terserang ancaman ini apa yang bisa dipertahankan dari negara?

Ayo bergerak!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
02.05.2014

.
——————–
Tulisan terkait:

Advertisements

26 Comments

  1. […] juga kapan hari ngobrol di blognya cak Iwan tentang kasus pelecehan seksual terhadap anak anak TK di Jakarta International School, mengenai perlunya penerbitan daftar predator, ndilalah gak lama kemudian ada yang membuat […]

  2. nurulamalee says:

    pak iwan, diskusinya nambah byk wawasan 🙂 terimakasih 🙂

  3. naniknara says:

    Saya dan suami jadi suka emosi kalau menyaksikan tayangan berita kasus JIS ini, kini ditambah lagi kasus di sukabumi, yang korbannya mencapai 110 anak dan ada kemungkinan bertambah lagi. Dan setelah itu muncul pula berita kasus serupa di berbagai daerah.

    Tapi jadi ada kekhawatiran juga, kalau tiap hari beritanya kayak gini, bakalan menginspirasi orang untuk melakukan hal yang serupa

  4. Riri says:

    benar2 menyebalkan karna sangat tidak berbobot

  5. Putri says:

    seharusnya tayangan televisi yang seperti itu dihapuskan, karna sangat tdk mendidik untuk anak2,skrng ini kan yang nonton banyak anak2

  6. anotherorion says:

    iki problem besar, sejatinya kita terbiasa abai dengan lingkungan sekitar, sampai ketika problem itu meledak barulah kita sadar, contohe waria, sebenernya mereka potensial banget untuk menjadi pelaku pedofilia tapi dianggap permisif di kalangan kita dengan alasan HAM, manusiawi, kelompok minoritas, padahal jujur kadang kelakuan mereka mengganggu banget

    waton nggrayangi lanangan gantheng sik ditemu neng ndalan

  7. Enje says:

    sebel! bahkan keluarga dekat kadang bisa jadi yg paling bahaya terhadap anak. inget cerita seseorang yg pernah dilecehin sama om en kakak tirinya waktu masih SD. keparat! T.T

    • Lha itu yg sekarang jadi berita utama di media-media nasional, ada predator anak di Sukabumi, usianya masih 23 tahun, para korban yang disodomi itu usianya berkisar antara 8-12 tahun, jumlah korbannya kini sudah mencapai 55 anak, 2 diantaranya adalah sepupunya sendiri.

  8. enkoos says:

    Apakah di Indonesia ada situs yang memajang para pelaku pedofil? Supaya bisa diakses kalangan umum dan membuat masyarakat waspada.

    Beberapa negara maju memiliki situs ini. Satu contoh yang bisa saya paparkan, adalah situs dari Amerika.

    Ada http://www.familywatchdog.us dan fbi.gov.
    Barusan aku klik yang family watch dog. Kita bisa ngetik negara bagian mana yang diinginkan, nanti akan tampil peta dengan berbagai titik yang menunjukkan lokasi kejadian. Kalau titik titik tersebut diklik, akan muncul foto pelaku kriminal, lengkap dengan data pribadi, alamat dan kasus yang dialaminya. Bila perlu dicetak, dan ini gratis.
    Tentu maksudnya supaya masyarakat umum bisa waspada.

    Situs family watch dog memuat data kasus di seantero US [ada 51 negara bagian].

    Sedangkan FBI, aku belum mengulik sebanyak situs Family Watch Dog. Baru sampe halaman depannya, udah kaget, karena si predator William James Vahey ada di halaman depan.

    Selain Amerika Serikat, negara negara lain yang mempunyai situs yang memuat predator predator berbahaya adalah Australia, Inggris dan Kanada. Kalau diperhatikan, itu negara negara yang hukumnya kuat. Gak heran kalau Indonesia menjadi salah satu surga bagi predator predator pedofil, karena hukum dan perlindungan terhadap anak anak di Indonesia masih lemah. Ini yang jadi incaran para predator ini.

    Kalau aku baca di artikelnya fbi.gov, negara negara dimana si predator Vahey mengajar, hampir semuanya negara negara yang disebut belum memiliki situs data data predator kecuali Inggris.
    Kurang ajar si Vahey!!. Ini linknya: http://www.fbi.gov/news/stories/2014/april/seeking-information-in-international-child-exploitation-case

    Kalau memang Indonesia belum ada situs seperti ini, mari kita bikin. Aku mendukung. Meskipun diriku gaptek, aku mau berbuat sesuatu, gak hanya diam.

    Yang aku heran, kenapa tersangkanya ditutup mukanya? Kudunya diperlihatkan, supaya masyarakat tahu. Siapa tahu ada yang pernah melihat dan kerabatnya pernah jadi korban tapi gak ngeh.

    Heran dengan hukum di Indonesia, pelaku kejahatan kok ditutup mukanya. Apa maksudnya? Melindungi pelaku kriminal? Huhh..!!!!!

  9. Sudah saatnya tayangan2 gak berkualitas dihapuskan. Potensi2 itu juga perlu dihilangkan sejak dini.

  10. Semua ini tidak terlepas dari media. Serbuan informasi yang tanpa batas, tidak dibarengi dengan penguatan iman dan ilmu. Khusus untuk JIS, kita berharap agar polisi dapat menerapkan prinsip keadilan. Artinya jangan takut dengan warga negara asing, dan malah justru yang ditekan hanya bangsa dhewek. Sepertinya pelecehan seksual sudah dianggap biasa di sekolah tersebut dan jangan2 membuat para CS itu terinspirasi. Juga jangan sampai dipolitisasi. Bisa merembet ke hubungan bilateral antar negara dsb….
    Untuk tahun ajaran baru ini, masih adakah ortu yang mendaftarkan anaknya ke JIS? Tentunya kalau mereka itu ingin kebaikan buat anak2nya

  11. Dyah Sujiati says:

    Nah jelas kan, homoseksual itu penyakit? Jadi bagi yang masih membabi buta mengatakan ini bukan penyakit, ayo sadar!

  12. Rini says:

    Apa ada kaitannya dengan pembiaran acara2 TV yang kebanyakan lawakan yang menampilan banci-banci itu? Seolah-olah itu hal biasa, padahal berbahaya. Bahasa alay juga sudah terdengar biasa, saya risih mendengar kata-kata seperti itu. Apalagi candaan yang menunjukkan kalau misal si A laki-laki yang kemayu tertarik kepada B laki-laki tulen, dan malah dikomporin, ditertawakan. Kelakuan seperti itu, ditonton terus anak-anak, kelamaan akan menjadi biasa. Duh, saya jadi takut Pak.

  13. jampang says:

    Tekanan juga diberikan lewat sekitar 60 orangtua murid JIS yang mendatangi kantor KPAI pada hari Senin lalu, Mereka datang untuk menyampaikan keberatan terkait pemberitaan media yang selama ini dianggap selalu menyudutkan sekolah bertaraf internasional tersebut.—> koq aneh yah? emangnya nggak takut anak-anaknya jadi korban?

  14. bimosaurus says:

    Mau atau tidak mau diakui, bangsa ini telah menjadi kapitalis, budak ego dan nafsu. Bahkan tingkatnya sudah sakit jiwa tingkat lanjut mengakar membudaya. Otak tidak lagi digunakan, yang penting dia ber-bala, tidak ketahuan, menindas kaum yang tak berdaya, termasuk pada anak-anak.

    Ini jelas super bullying, pelecehan tingkat tinggi dan perusakan generasi penerus. Mengingat bahwa pengalaman masa kecil akan terbawa dan berpengaruh di masa depannya nanti. Saya, menuntut hukuman mati bagi para pelaku pelecehan seksual, dan hal-hal yang mendukung lainnya termasuk penyebaran video porno.

    Kita lihat saja. Banyak pelecehan seksual terjadi justru dilakukan oleh orang yang ada di ‘kalangan bawah’. Ini menunjukkan mereka bernafsu, atau terpengaruh tontonan dan lain sebagainya, tapi mereka tidak mampu, sehingga memilih korban yang tidak mampu.

  15. […] . ——— Catatan: Keanehan No.11 – 14 bisa disimak dalam komentar di bawah ini. Sila simak juga informasi perkembangan kasus ini pada jurnal: Kasus TK JIS dan Kesaksian Melepas Jerat Homoseksual […]

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: