Home » Selamatkan Anak Bangsa » Menyikapi Pemblokiran Situs Video “Vimeo”

Menyikapi Pemblokiran Situs Video “Vimeo”

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

Pengguna internet di Indonesia dalam minggu ini dikejutkan dengan terblokirnya situs video Vimeo. Banyak netter mempertanyakan kebijakan tersebut. Pasalnya, Vimeo selama ini dikenal bukan sebagai situs porno, melainkan sekadar situs berbagi video seperti Youtube, yang bersifat UGC (user generated content) atau konten yang dikirim dan dilihat pengguna.

Pemblokiran dilakukan oleh Telkom atas perintah Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo). Menurut Indra Utoyo, Director IT Solutions & Strategic Portfolio Telkom, hal ini sebagai tindak lanjut dari surat admin Trust+ Kominfo kepada seluruh ISP (Internet Service Privider) tanggal 9 Mei 2014 [Twit 1]. Beliau memperlihatkan sebagian daftar situs terlarang yang diminta Trust+ Kominfo untuk diblokir, dimana dalam daftar itu terdapat situs Vimeo. [Twit 2].

Mengapa pemerintah begitu serius dalam memblokir situs-situs bermuatan pornografi?

Dalam Koran Sindo disampaikan bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan tren kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan pertahun sebesar 20% – 30%. Data pengaduan yang masuk ke KPAI sejak tahun 2011 sebanyak 329 kasus, pada tahun 2012 naik menjadi 746 kasus, dan pada tahun 2013 ada 525 kasus. Itu yang dilaporkan, bisa jadi ada banyak yang tidak melaporkan, karena ada kasus dimana anak-anak tidak menyadari hal itu adalah bentuk pelecehan seksual, baru ketahuan setelah orangtuanya menggali lebih dalam.

Yang lebih mengejutkan, Yayasan Kita dan Buah Hati pada tahun 2013 merilis hasil riset bahwa ada sekitar 76% dari 2.818 siswa kelas 4-6 SD sudah pernah mengakses materi pornografi melalui online.

Khusus untuk kasus pedofilia, di Republika dikabarkan bahwa Mabes Polri telah mencatat sejumlah laporan kasus yang masuk ke kepolisian. Yang ditangani 697 kejadian dengan jumlah tersangka sebanyak 726 orang. Dari 697 kejadian tersebut tercatat korban sebanyak 859 orang.

Berdasarkan pengakuan para pelaku, kecenderungan pelaku kekerasan seksual adalah dipicu atas kebiasaannya mengkonsumsi materi pornografi.

Maka upaya pencegahan yang dilakukan Kemkominfo adalah menutup akses pecandu internet ke situs-situs yang bermuatan pornografi, dan ini harus menjadi perhatian khusus bagi semua pihak yang memiliki kepentingan. Usaha yang telah dilakukan Kemkominfo, dari November 2013 hingga April 2014 total situs pornografi yang telah diblokir sudah 813.303 situs porno.

Pertumbuhan situs porno sangat cepat, hari ini diblokir, eh besok sudah ada banyak lagi yang baru. Makanya beberapa kali Menkominfo Tifatul Sembiring melalui akun twitternya berpesan:

Dari sini diharapkan adanya peran serta dari masyarakat luas, termasuk para orangtua agar dapat melaporkan ke Kemkominfo, jika masih menemukan situs-situs berbau pornografi yang mudah diakses.

Kembali ke inti topik.
Kominfo telah menyampaikan Siaran Pers, guna merespon banyaknya pertanyaan masyarakat dan media terkait pemblokiran situs vimeo.com. Saya kutipkan sebagian penjelasannya sebagai berikut:

  1. Masuk beberapa laporan dari masyarakat melalui email aduankonten@mail.kominfo.go.id tentang situs yang mengandung pornografi, dan situs vimeo.com adalah salah satunya.
  2. Dari hasil verifikasi tim Kominfo, ditemukan hal-hal sbb:
    a. Pada vimeo.com ditemukan kategori-kategori atau channel-channel yang didalamnya berisi video pornografi, antara lain: “Art of Nakedness” berisi 6.195 video, “Beautiful of Nakedness” berisi 1.186 video, “Nudie Cutie” berisi 7.172 video, dan lain sebagainya.

    b. Pada Terms of Services vimeo.com point ke-7 tentang Content Restrictions, disebutkan bahwa vimeo melarang video pornografi atau konten yang secara eksplisit menampilkan aktifitas seksual, NAMUN memperbolehkan menampilkan pornografi yang berupa ketelanjangan yang bukan aktifitas seksual;

  3. Sesuai UU RI No.44/2008 Tentang Pornografi, Bab II tentang Larangan dan Pembatasan, di Pasal 4 disebutkan bahwa:
    (1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
    a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
    b. kekerasan seksual;
    c. masturbasi atau onani;
    d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
    e. alat kelamin;
    atau
    f. pornografi anak.

    (2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang:
    a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
    b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin;

    c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau
    d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.

  4. Pada Pasal 17 disebutkan: Pemerintah dan Pemda wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi. Dan Pasal 18 menyebutkan: Pemerintah berwenang melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet.
  5. Berdasarkan UU tersebut, konten video dalam channel-channel tertentu di dalam vimeo.com masuk ke dalam unsur Pornografi sebagaimana Pasal 4 ayat 1 huruf d dan e; serta ayat 2 huruf a dan b. Selanjutnya sesuai dengan pasal 17 dan 18.
  6. Dengan pertimbangan tersebut, maka situs vimeo.com dimasukkan dalam daftar TRUST+ Positif bersama 119 situs pornografi lainnya untuk updating pertanggal 9 Mei 2014 dan selanjutnya disampaikan ke ISP guna dilakukan tindak lanjut penanganan.
  7. Guna melindungi pengguna internet di Indonesia, Kominfo akan berkomunikasi dengan pihak pengelola vimeo.com untuk dapat melakukan penutupan muatan negatif pornografi di dalam vimeo.com sehingga tidak dapat diakses dari Indonesia. Setelah terjadi komunikasi yang baik dengan pengelola vimeo.com maka akan dilakukan pengakhiran pemblokiran situs tsb.

— Bunyi siaran pers lengkapnya sila klik link di atas —

Kemkominfo telah menyurati Vimeo, ini patut diapresiasi. Mari sikapi aksi Kemkominfo tersebut dengan positif, yang telah meminta pengelola Vimeo untuk PEDULI dengan muatan situsnya.

Banyak yang bilang: “Vimeo bukan situs khusus pornografi.”

Betul. Memang banyak materi positif yang bermanfaat di Vimeo, NAMUN Vimeo membiarkan orang mengunggah video ketelanjangan. Kok bisa? Ternyata pemahaman pornografi yang diartikan Vimeo BERBEDA dengan UU Pornografi di Indonesia. Dalam Term of Service, Vimeo mengartikan ketelanjangan dan memperlihatkan kelamin adalah BUKAN pornografi sehingga diijinkan.

7. Content Restrictions
You may not upload, post, or transmit (collectively, “submit”) any video, image, text, audio recording, or other work (collectively, “content”) that:

  • Contains sexually explicit content or pornography (provided, however, that non-sexual nudity is permitted);

Tidak heran kalau ditemukan adegan telanjang tanpa persenggamaan di sana. Hal inilah yang menjadi alasan utama diblokirnya Vimeo sampai adanya kesamaan pemahaman dengan UU Pornografi yang berlaku di Indonesia.
Alasan ini sepertinya luput dari pemahaman mereka yang memprotes kebijakan pemblokiran oleh Kominfo.

blokir vimeo
Gambar yang saya buat di atas merespon @savicali untuk menunjukkan bahwa diantara kita (WNI) masih terdapat perbedaan pandangan. Dan hasil pencarian tentang salah satu contoh bintang porno adalah bukti bahwa Vimeo masih belum aman. Jadi, apa gunanya banyak materi positif, namun anak Anda bisa bebas menikmati hal yang negatif? Kalau di rumah, orangtua bisa memakai parental control software. Namun ternyata banyak anak di luar sana menjadi pecandu pornografi, mereka asyik ngendon di warnet yang melonggarkan policy demi omset, atau asyik main internet di rumah dimana orangtuanya gaptek.

Publikasi berita artis porno di media-media bisa direkam dalam otak anak Anda untuk kemudian mengetikkan namanya di kolom pencarian. Itu salah satu pintu. Vimeo memang memblokir kata-kata: sex, horny, fucked, dan sebagainya. Namun masih meloloskan video-video dengan title nama-nama artis porno. Padahal nama itu sudah direkam dalam otak anak Anda.

Kalau Anda tidak setuju dengan langkah Kominfo, bagaimana ide Anda menyetop pornografi di internet?

Kemudahan akses pornografi memang akar masalah kerusakan moral bangsa ini, mari gugur gunung mengatasinya, kedepankan ide-ide Anda. Memprotes kebijakan atau membully tanpa solusi hanya menunjukkan sikap kerdil penuturnya. Lebih baik energi Anda sama-sama dicurahkan untuk mendesak Vimeo (melalui alamat email di sana) agar peduli dengan isi situsnya. Ini juga bagian dari bentuk empati terhadap korban-korban yang berjatuhan setiap harinya akibat ulah para predator yang error otaknya akibat kecanduan pornografi.

Kalau Anda sendiri tidak mampu menyetop pornografi, ya jangan sibuk mencemooh mereka yang telah berusaha keras menyetopnya, padahal mereka berjuang keras menyamakan pemahaman tentang pornografi dengan para pengelola situs di dunia agar sama pemahaman dengan UU Pornografi yang berlaku di Indonesia.

Ada yang teriak: “Kenapa membakar lumbungnya, bukan tikusnya yang dibunuh?”

Memblokir situs memang bukan solusi yang tepat untuk saat ini, sebab akan ada banyak cara untuk menjebol blokirnya, saya pun tahu caranya itu. NAMUN pemblokiran adalah salah satu upaya guna meminimalkan dampak, memperkecil resiko. Akan lebih berdampak besar bila akses dibuka lebar-lebar sehingga menjadi santapan rutin para calon predator. Kalau Anda mempunyai solusi yang lebih baik untuk menyetop pornografi, silakan di-sharing di blog, ajak Kemkominfo berdiskusi. Di Tahun Darurat Seksual Anak di negeri ini tidak butuh para pencemooh nir-solusi.

Sila simak contoh salah satu masukan ide, meski konsekuensinya besar: [Republika] Belum Single Gateway Pornografi Mudah Masuk ke Indonesia

Ada yang berkomentar: “Kok situs porno A, B, C masih bisa dibuka?”

Laporkan saja melalui email pengaduan, nanti juga di-block. Ingat, ada begitu banyak situs pornografi yang baru lahir setiap harinya, perlu kerja keras membendungnya. Generasi penerus kita adalah taruhannya.

Ada yang asbun: “Ah, diblokirnya Vimeo itu karena ada video aksi goyang seronok kampanye PKS di sana” [Twit 3]

Dalam gelombang cuap-cuap di twitter dan forum, beredar info misleading seakan-akan alasan blokir Vimeo adalah adanya video hoax kampanye “PKS” yang erotis. Tendensius banget ya. Padahal nyatanya tidak ada hubungannya. Tuduhan ini pun juga dimuat di berbagai media online.

Nambah asbun lagi: “Lha buktinya, video PKS erotis di Youtube cepat sekali hilang, sedangkan video erotis partai lain masih ada sampai sekarang”

Bisa jadi video hoax tersebut dihapus admin Youtube karena gelombang RAS sporadis. Simpatisan PKS khan terkenal militansinya kuat, sehingga bisa serempak memberikan report ke admin, yang membuat admin Youtube bereaksi cepat. Sedangkan video goyang seronok (kampanye partai non PKS) yang belum dihapus admin karena bisa jadi tidak ada request RAS (Report as Spam) dari simpatisannya, atau yang request sedikit. Dihapusnya video oleh admin Youtube berdasarkan masukan, atau report RAS. Makin banyak yang report, makin cepat ditindak-lanjuti admin.

Makin asbun: “PKS gak mau investigasi pembuat video kampanye seronok itu karena memang asli buatan PKS?”

Okey, terpaksa sedikit out of topic ya, saya jelaskan sekalian di sini. Sebelumnya perhatikan screenshot gambar di bawah ini:

goyang seronok pks
Untuk mengetahui itu video asli PKS apa bukan, sila baca Aturan Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD tahun 2014, berdasarkan PKPU Nomor 15 Tahun 20113 pada halaman 20 [di sini].
Sesuai aturan tertulis, pelaksanaan kampanye itu sampai jam berapa? Think logic, please.
Nah, kepalsuan video itu terjawab sendirinya oleh adanya aturan kampanye yaitu dimulai pukul 09.00 dan harus berakhir paling lambat pukul 17.00 waktu setempat. Kemudian cermati gambar di atas, suasana tersebut jam berapa syuting? Masak kampanye kok malam-malam, tanpa ada caleg-caleg di panggung, tanpa terlihat adanya simpatisan di depan panggung, alias sepi penonton. Kalau itu betul terjadi kampanye, maka bawaslu akan menegurnya karena pelaksanaannya lewat dari jam yang ditentukan oleh KPU.

Sebenarnya masalah video “PKS” goyang seronok itu sudah CLEAR di hari yang sama saat awal video itu menyebar. Saya waktu melihat pertama kali sudah bisa menilai bahwa itu bertentangan dengan aturan jadwal kampanye. Jelas rekayasa. Kemudian beberapa jam di hari yang sama, caleg yang posternya dipasang itu sudah bikin klarifikasi. Sila baca di sini.

Yang sampai sekarang masih saja terus mengangkat isu itu apakah tidak tahu? Padahal sudah lama clear. Atau apakah tidak ingin mencari tahu agar yang dibencinya selalu tampak bersalah? Sadarlah bahwa menutup kebenaran informasi itu bagian dari tradisi jahiliyyah.

Mengapa PKS tidak mengusut atau mempolisikan penyebar video tersebut?
Ini karena hal itu dianggap tidak kritikal. Mengapa?
(1). Energi saat itu fokus pada pelaksaan pileg yang tinggal beberapa jam setelah video black campaign tersebar;
(2) Drs. Hamid Noor Yasin, MM yang saat itu menjabat sebagai wakil DPRD kabupaten Wonogiri, sekaligus caleg yang difitnah melalui black campaign video saat itu sudah pede banget, tidak merasa terganggu. Mengapa? Karena track record beliau selama ini sangat baik, sila googling, bahkan beliau pelopor penolak dana tali asih. Di dapil wilayahnya beliau dikenal sangat baik oleh masyarakat, tidak berotak mesum seperti yang dituduhkan. Alhamdulillah, beliau lolos ke Senayan, masuk di antara 40 kader PKS di DPR RI.

Masih ingin terus memfitnah Pak Hamid Noor Yasin? Silakan kalau rela catatan amal perbuatan baik Anda hilang karena digerogoti sifat dengki 🙂

Okey, back to the main topic.

Ada yang membandingkan: “Di Youtube, Twitter, Facebook juga banyak konten porno, kok gak diblokir?”

Komunikasi dengan pihak Youtube, Twitter, Facebook juga situs-situs lainnya sudah dibangun, respon ada, tinggal evaluasi saja. [Republika]. Dalam TOS Youtube misalnya, pemahaman tentang pornografi sudah sama, tinggal diperingatkan tentang disiplin penerapannya, karena faktanya memang masih ada konten yang berbahaya. Bila mendapat laporan RAS atas konten yang memuat ketelanjangan, admin Youtube bisa menghapusnya, sedangkan Vimeo belum tentu menghapusnya karena ketelanjangan tanpa kegiatan seksual dianggap bukan pornografi. Anda harus memahami ini.

Selain itu karena Youtube berkantor di Indonesia, sehingga lebih memudahkan koordinasi untuk menghapus konten-konten negatif [Antara News].

“Apakah ini kali pertama blokir Vimeo?”

Perlu Anda ketahui bahwa penutupan akses Vimeo ke pengguna internet di Indonesia bukan yang pertama kalinya. Bukan oleh Kominfo. Pada tahun 2012 tim Nawala pernah melakukan pemblokiran akses ke Vimeo. Hal itu dilakukan sebagai tindak lanjut dari laporan pengguna yang merasa terganggu dengan banyaknya konten negatif di Vimeo. Saat itu banyak juga komplain dari pengguna Vimeo yang memakainya untuk bekerja. Nawala kemudian mengajak pengguna untuk bersama-sama melaporkan konten yang melanggar undang-undang kita dan hasilnya lebih didengarkan Vimeo. [Liputan6].

Dari laporan pengguna internet dan Nawala itu kemudian Vimeo menyediakan tombol “laporkan pengguna” (aduan) beserta forum. Kehadiran tombol itu membuat Nawala membuka blokir Vimeo. Kita harus apresiasi dan tidak melupakan jasa tim Nawala, yang karenanya Vimeo menyediakan fitur aduan pengguna atas konten negatif, yang sebelumnya tidak ada fitur itu.

Telkomsel pun juga pernah memblokir Vimeo pada bulan Maret tahun lalu. Permintaan blokir karena aduan pengguna. Pihak Kominfo tidak terlibat dalam urusan blokir ini. [Techinasia].

Kanapa sih kok orientasinya harus blokir situs?

Kalau Anda ada ide lain selain blokir situs dan itu dirasa sangat efektif ya silakan di-sharing di social media. Jangan lupa, ajak Kemkominfo diskusi karena mereka punya wewenang untuk eksekusi (bila ide solusi terkait dengan teknologi). Di sinilah pentingnya peran serta aktif masyarakat.

Ada ide lain selain blokir, bisa disimak dalam artikel Katrina Schwartz ini: Teach Kids To Be Their Own Internet Filters. Perlu riset khusus untuk penerapannya di negeri ini. Namun mengingat pertumbuhan predator anak begitu mengerikan, yang berasal dari berbagai kalangan, ide program tesebut akan tampak kesulitan mengimbanginya. Namun demikian, bagus diterapkan dalam lingkup kecil.

Yang perlu menjadi perhatian, bahwa berdasar program MDG’s (millenium development goals) yang telah disepakati PBB, menargetkan tahun 2015 minimal 50% penduduk Indonesia harus sudah tersambung internet. Bayangkan apa yang terjadi kalau di saat itu nanti begitu mudahnya mengakses situs-situs porno? Maka kebijakan yang efektif harus segera dimatangkan dari sekarang

Jangan menunggu anak atau saudara sendiri yang jadi korban pelecehan seksual baru Anda sadar bahwa Pornografi adalah akar kerusakan moral bangsa ini. Ingat, segala penyimpangan di kehidupan sosial itu dampaknya meluas, bisa menembus dinding rumah keluarga baik-baik sehingga menjadi korban.

Mari bangun budaya konstruktif dalam menyikapi kebijakan. Bantu dengan memberikan solusi. Tidak semata-mata gampang berburuk sangka menuduh otoriter padahal nyatanya desakan pengaduan dari masyarakat atas konten negatif begitu besar, bisa jadi itu diantaranya berasal dari keluarga yang sudah menjadi korban.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
15.05.2014

.
—————
Pengingat Fokus:

Ada beberapa komentator di bawah ini yang beropini bahwa tidak ada hubungan antara pelecehan seksual dengan pornografi.

Agar saya tidak capek menjawabnya saya buat saja catatan pengingat fokus di sini.

Dampak paling buruk dari pornografi adalah anak-anak. Bukan pelecehan seksual secara umum. Tapi lebih tepatnya pelecehan seksual anak dan perilaku menyimpang seksual anak. Kalau pembaca membelokkan ke pelecehan seksual secara umum memang jadi tidak valid lagi. Usia kedewasaan jelas mempengaruhi perilaku. Banyak orang dewasa bisa kontrol diri setelah nonton film porno, lain halnya dengan anak-anak.

Pemblokiran pornografi di internet memang sesuatu yang mustahil sebagai obat manjur, karena banyak jalan kesana. Namun yang harus Anda pahami bahwa pemblokiran bertujuan untuk melindungi anak-anak dari terpapar dari pornografi. Jadi pemblokiran hanya untuk memberikan dobel filter. Filter pertama: pendidikan seks kepada anak. Filter kedua: mencegah diaksesnya konten negatif oleh anak-anak. Sebenarnya dalam situs pornografi sudah memasang filter lunak dengan memberikan konfirmasi untuk pertanyaan: Apakah Anda berumur diatas 18 tahun?
Tapi itu mudah diakali saat menjawabnya, khan?

Pendidikan seks anak sebagai filter pertama saja tidak cukup, karena faktanya banyak anak yang un-educated people di luar pagar halaman mereka, yang menjadi monster ganas bila akses pornografi dibuka lebar-lebar. Banyak kasus anak baik-baik dimangsa anak sebayanya.

Jadi sekali lagi jangan dibelokan ke pelecehan seksual secara umum, itu menjadi tidak valid. Pembuka jurnal ini saya awali dengan pemaparan data kasus pelecehan seksual anak. Bukan kasus orang setua Sitok menghamili mahasiswinya. Tapi fokus pada: (1) kasus pelecehan seksual anak; (2) kemudahan anak terpapar konten pornografi.

Anak-anak sekolah mulai kelas 1 SMP sudah banyak yang diminta sekolahnya membuat paper, dan tentu saja ia akan berhadapan dengan internet.

Advertisements

105 Comments

  1. gign dico says:

    ah kaya ga pernah nakal aja.. cuma sekedar situs sampai se histeris ini..
    apa iya jg,,, sebuah situs itu bs merubah seseorang jadi liar??? smw itu karna faktor lingkungan,,, bukan situs,,, kalo lingkungan tak mengajarkan ajaran yg baik,, mana mungkin sesorang berubah jd liar(nakal/predator/maleng/pembalap/begal/mabok.///dll..) harusnya buat iklan tv GEDE2,, upaya untuk orang tua agar menanamkan nilai moral,agama,aturan dll sjk dini..

    lah wong jelas2 yg liar itu kalangan tak berpendidikan kan???

  2. Arisafandi Aris says:

    Apakah dengan ditutupnya situs porngrafi akan menjamin tidak ada lagi kasus…abnormal pelecehan sex atau hamil diluar nikah dssb….trks

    • Tujuannya adalah meminimalkan dampak. Rasanya sulit untuk bisa “tidak ada lagi”, karena pemicu pelecehan seksual atau hamil di luar nikah bukan hanya situs pornografi saja, tapi juga dalam bentuk lainnya yang tumbuh subur dalam lingkungannya.

  3. Peraturan Menteri Kominfo tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif selengkapnya dapat dibaca di sini:

    http://www.slideshare.net/internetsehat/permen-kominfo-no-19-2014

  4. debapirez says:

    perjuangan melawan pornografi memang berat, mas Iwan. Namun, tetap harus dilakukan…..

  5. manusiaz says:

    mau tanya dong.. perbandingan video pornografi sama video SCIENCE DAN ARTNYA disana itu berapa ya? TERUS JUGA MAU TANYA .. bukankah di youtube lebih banyak di banding video? coba seacrh maria ozawa di youtube.. lebih banyak bukan? ketimbang di vimeo yang di screenshotnya hanya 20 buah? 🙂

    • Sebelum berkomentar, apakah Anda sudah baca “Pengingat Fokus” di akhir jurnal? nangkap gak poinnya? Sebab pertanyaan Anda sangat umum di sini, sering disampaikan itu-itu aja.

      Ini adalah upaya bagaimana mencegah anak Anda yg masih SMP (bila ada) tidak terpapar pornografi saat mengakses situs yg isinya science.

      Konsep situs UGC, dimana content di-generate oleh user memang berpotensi kecolongan. Apalagi bila jumlah user banyak, juga video yg diunggah sudah JUTAAN, tidak mungkin Admin bisa ngontrol satu-per-satu. Yang akibatnya pengelola situs tidak selamanya mampu menerapkan TOS mereka sendiri, karena tidak mungkin memantau semua aktifitas user. Atas kondisi ini, kontrol jadinya ada di tangan publik, bila menemukan konten negatif sudah seharusnya mereka melaporkannya agar di-suspended. Jadi, bukan berarti Youtube membiarkan konten video porno yg diunggah di sana. Kalo dapat laporan publik ya di-tutup. Saya pernah melaporkan, dan keesokannya saya lihat sudah ditutup.

      Maria Ozawa di atas hanya contoh kecil saja. Coba search “gay”, “lesbian”, dan sejenisnya. Anda akan temukan ribuan manusia2 purba tanpa malu mempertontonkan kelamin di Vimeo. Dan Vimeo menganggap itu seni.

    • indonesiakutercinta says:

      kita bicara data, coba anda berikan data kelebihan vimeo dibandingkan youtube?

  6. indonesiakutercinta says:

    memang sudah seharusnya diblokir kalo memang lebih banyak ketidak bermanfaatanya,

    toh masih ada youtube kan sebagai situs video sharing?

  7. Subhanalloh, salut dengan Pak Iwan yang dengan sabar menanggapi satu per satu komentar yang makin lama makin menuduh dan menyudutkan, bahkan adapula yang menganggap pornografi tidak merusak otak dan tidak signifikan menyebabkan pelecehan seksual…semoga segera terbuka hati dan pemikirannya. Adapun masalah pemblokiran Vimeo, saya kira Pak Iwan sudah berkali2 menyatakan bahwa ini sifatnya SEMENTARA sampai ada itikad baik dari Vimeo untuk dapat selaras dengan UU Pornografi RI, jadi hanya halaman yang mengandung non sexual nudity-nya saja yang di block, tapi halaman lain dengan konten positif tetap bisa diambil manfaatnya.

  8. Untung Kartono says:

    Assalamualaikum Bpk Iwan Y,

    Terima kasih atas paparan yang sudah bapak berikan. Sebagai pengguna yang sudah mendapat manfa’at dari vimeo.com, ijinkan saya untuk menanggapi tulisan bapak.

    Dari tulisan ini saya bisa menyimpulkan bahwa pak Iwan:
    1. Bukan pegguna dan/atau orang yang sudah mendapat/mengambil manfaat dari Vimeo.com
    2. Bapak adalah kader/simpatisan PKS dan/atau pendukung Bpk. Tifatul Sembiring.

    Saya sangat setuju sekali bahwa saat ini negara kita sudah dalam keadaan darurat kejahatan seksual. terutama yang menimpa anak2. Memprihatinkan dan menyedihkan melihat dengan begitu banyak konten pornografi online dan begitu juga yang offline berupa buku, majalah maupun audio visual. Saya Juga sangat mendukung kebijakan Kominfo dalam memberantas konten pornografi baik online maupun offline. Tapi yang lebih menyedihkan dan memprihatinkan bagi kami adalah:
    1. lemahnya penegakan hukum bagi pelaku kejahatan seksual,
    2. lemahnya pengawasan & perlindungan kepada anak,
    3. stigmatisasi & penanganan yang salah kepada korban baik oleh aparat maupun masyarakat.

    Tapi pemblokiran Vimeo.com, dengan alasan bahwa pemblokiran bertujuan untuk melindungi anak-anak dari terpapar dari pornografi, bagaikan jauh panggang dari api, berlebihan dan diada-adakan.

    Alasan-alasan yang dikemukakan kominfo untuk memblokir Vimeo.com sesungguhnya sudah lebih dari cukup untuk memblokir banyak sekali (mungkin hampir semua) situs yang lain. Tapi kenapa vimeo.com diblokir sedang situs lain yang lebih terbuka soal pornografi (youtube, google, facebook sebagai contoh) dibiarkan? Alasan sudah terbangun komunikasi dengan pihak2 tersebut, menjadi tidak berguna ketika masih banyak & mudahnya menemukan konten2 pornografi di situs2 tersebut.
    seharusnya kominfo marah & malu karena sudah dibohongi oleh situs2 tersebut. atau ada bentuk “komunikasi” lain yang bisa digunakan untuk “menyamakan” persepsi.

    Vimeo.com bukanlah situs yang akan anda kunjungi bila mencari konten pornografi. karena kualitas video yang diunggah bagus maka bandwidht yang dibutuhkan untuk mengakses vimeo juga besar, tidak efisien. lebih banyak situs lain yang menyediakan konten pornografi yang lebih mudah diakses & lebih mudah dalam melakukan pencarian konten. anda menulis “Vimeo memang memblokir kata-kata: sex, horny, fucked, dan sebagainya”, coba anda ketik kata2 tersebut di situs pencarian atau situs video sharing, apalagi mengetik nama2 bintang porno seperti yang anda lakukan. konten pornografi yang sangat vulgar akan langsung tersaji. apakah itu bukti “komunikasi” kominfo dengan situs2 tersebut sudah berhasil menyamakan persepsi? atau sebaliknya?

    dalam pemblokiran vimeo.com kominfo tidak sekedar “membakar lumbung untuk membunuh tikus” lebih parah pak, kominfo “sudah membakar lumbung yang salah”. lebih menyedihkan lagi lumbung yang lebih banyak tikusnya dibiarkan. jadi, siapa yang lebih membuka akses lebar2 kepada konten pornografi?

    Lalu, kira2 apa yang bisa kita lakukan untuk bisa menyebarkan penggunaan internet sehat bagi para pengguna internet khususnya anak-anak, beberapa ide pak yang seharusnya menjadi PR kominfo sejak 10 tahun lalu:
    1. mempermudah & mempermurah akses internet bagi keluarga/rumah tangga dan sekolah, dengan begitu akan ada pengawasan dari orang-tua/guru ketika anak surfing di internet.
    2. memperketat ijin pendirian warnet.
    3. terus-menerus melakukan sosialisasi internet sehat untuk seluruh lapisan masyarakat, dan mengajak masyarakat ikut mengawasi dan mengingatkan orang tua unuk mengawasi anak2 mereka dalam penggunaan internet.
    4. membuat situs2 lokal.

    Bagaimana mungkin kita bisa membangun budaya konstruktif dalam menyikapi kebijakan, bila kebijakan itu sendiri tidak konstruktif.

    Perjuangan kita semua sebagai penggiat internet untuk kemajuan bangsa masih sangat panjang, masih sangat berat. bukan hanya kepada saudara-saudara kita para pengguna, tapi juga untuk saudara-saudara kita yang kita titipi amanah untuk menentukan kebijakan.

    Maaf bila saya terkesan “nyampah” di blog pak Iwan, hanya mengutarakan pendapat saya.

    wassaamualaikum
    Untung Kartono
    (Suami, ayah , pengguna internet)

    • Wa’alaikumsalam, Pak Untung.

      Terimakasih atas tanggapannya. Beberapa hal yang bapak sampaikan sudah saya bahas di berbagai komentar di bawah ini, untuk itu saya hanya bahas 4 poin yg bapak sampaikan.

      [1] Tentang mempermudah & mempermurah akses internet bagi keluarga/rumah tangga dan sekolah, sudah menjadi bagian program-program yg dijabarkan lengkap di sini:
      http://www.pks-sumatera.org/daftar-1-tahun-keberhasilan-kementerian-kominfo.html

      [2] Memperketat ijin pendirian warnet, itu menjadi wewenang pemerintah daerah. Kekuatan produk hukum ada di perda.

      [3] Sosialisasi internet sehat tetap masif dilakukan oleh Kominfo ‘n team, namun secara sosialiasi saja tidak cukup, pertumbuhan predator un-educated people cukup mengerikan, tidak sebanding dengan jumlah SDM yg mampu sosialisasi sampai ke pelosok2. Untuk mengatasi ini, internet sehat dilakukan by system. Lihat skemanya di sini: http://trustpositif.kominfo.go.id/

      [4] Tidak jelas apa maksud situs lokal, mengingat sifat situs itu adalah menembus batas wilayah, menembus sekat-sekat antar negara.

      Saya rasa 2 link yang saya berikan di atas sifatnya adalah konstruktif.

  9. achmdx says:

    kadang saya suka penasaran, seberapa pinter sih orang yang yang bilang menteri itu bodoh

  10. Satrio says:

    semua simple klo pada dewasa, kalo semua orang bisa menahan Nafsu, ini semua gak akan pernah terjadi, jadi yang harus di salain “hawa nafsu” dari diri sendiri. musuh abadi manusia itu cuman nafsu. walaupun ntnn porno tpi nafsunya kuat ya gak bakal terpengaruh. paling cuman di jadikan seni. saya juga yakin, bapak” atau ibu” jug apernah melihat film porno. jdi liat diri sendiri dulu.
    dan kalo kejahatan sexual di dunia remaja salain orang tuanya lah, kenapa gak di jagain pas lgi gunain koneksi internet? dan di zaman sekarang juga anak TK atau SD udh di beliin HP. yang salah ya orang tuanya bukan websitenya. toh websitenya di buka syukur gak di buka juga syukur.
    jangan selalu liat sisi negatif, vimeo sama kyk youtube, tempat orang” menunjukkan hasil karya mereka dengan gratis dan bisa di liat orang sedunia. klo smpe di tutup, dimana tempat para pembuat seni menunjukkan hasil seni mereka? di indonesia? apa ada acara yang bermutu? gak ada sama sekali.

    • Jangan lewatkan membaca bagian “Pengingat Fokus” di akhir jurnal ini, mas, penting agar Anda mampu memahami persoalan ini. Anda berkomentar spt di atas, saya yakin karena melewatkan bagian itu. Bacalah.

  11. Nada Denaya says:

    Sejujurnya saya agak kecewa dengan pemblokiran situs vimeo pasalnya saya yang saat ini menggeluti bidang desain merasa situs yang satu ini sangat bagus untuk referensi pembelajaran multimedia seperti animasi 2d 3d, film dan motion graphic. Selain itu banyak juga teman-teman saya yang menggunakan vimeo ini sebagai wadah portofolio-nya. Karena memang sudah umum sekali para agensi dan creative works yang mencari animator/motion grapher melalui situs ini.. ibaratnya kaya desainer pake behance untuk unjuk gigi, nah klo animator/motion grapher pake vimeo. Vimeo ini situs untuk para creative workers.

    Jadi kalau buat saya sih sayang aja kalau sampai diblokir.. vimeo buat saya dan teman-teman saya adalah ajang untuk mencari kerjaan. dan sebenernya saya kecewa sekali dengan munculnya video-video tidak sopan dan tidak penting yang muncul di situs tersebut. saya kecewa dengan orang-orang yang selalu berkelakuan tidak pada tempatnya, situs ini untuk creative workers bukan untuk video-video yang tidak jelas juntrungannya.

    • Tenang, mbak Nada Denaya.
      Pemblokiran ini sifatnya SEMENTARA saja kok sampai ada itikad baik dari Vimeo untuk merespon dan menyikapi dengan baik surat dari Kemkominfo. Mereka sudah diberi warning sejak tahun 2012 namun tidak ada tanggapan. [Republika].

      Permintaan pemblokiran Vimeo ini adalah desakan masyarakat. Kalau mbak Nada memahami apa yang saya tulis pada bagian “Pengingat Fokus” di akhir jurnal di atas, maka akan juga merasakan bagaimana kekuatiran tersebut sbg orangtua.

      Solusinya, mari sama-sama mendesak Vimeo agar segera merespon surat dari pemerintah kita denngan baik, sampaikan kepentingan mbak Nada dalam situs tsb seperti yg mbak Nada tulis di atas.

    • yudiwbs says:

      IMO, Youtube malah semakin bebas dan longgar dibandingkan beberapa tahun kebelakang, Bahkan ada yang eksplisit tapi bisa diakses oleh pengguna dengan umur tertentu (berdasarkan tahun lahir), ini artinya materi dewasa sudah direstui di Youtube. Menurut saya Youtube tidak diblokir bukan karena ada komunikasi, tapi karena terlalu banyak penggunanya di Indonesia.

    • Betul, Pak Yudi, pemblokiran Youtube ini bisa berbuah simalakama karena pengguna di Indonesia banyak sekali. Konsep situs UGC, dimana content di-generate oleh user memang berpotensi kecolongan. Apalagi bila jumlah user banyak, juga video yg diunggah sudah jutaan, tidak mungkin bisa ngontrol satu-per-satu. Jadi, pengelola situs tidak selamanya mampu menerapkan TOS mereka sendiri, karena tidak mungkin memantau semua aktifitas user. Atas kondisi ini, kontrol jadinya ada di tangan publik, bila menemukan konten negatif sudah seharusnya mereka melaporkannya agar di-suspended.

    • anotherorion says:

      Nah soal konten yutub iki mas iwan, aku dadi kelingan jamane dewe do ribut arep ngadepi SOPA kae, klo gak salah pakde Joko/mbak evi/teh dewi ngomongin soal GEMA di Jerman.

      Klo GEMA bisa dipakai buat ngeblok konten yang melanggar copyright di Youtube, ini artinya teknik ini bisa saja kita tiru klo pengen ngeblok video2 porno dari web berjenis user generated content

      Untuk lebih teknisnya tentu harus mempelajari seputar teknik pemblokiran dan implementasinya

  12. anotherorion says:

    well dadi kelingan biyen Multiply sempet di block meski aku lali kasuse apa, hak cipta/porno ya?? :))

    pemblokiran situs yang semacam iki, dimana content digenerate oleh banyak user memang sering berbuah simalakama. Penyedia layanan tidak selamanya mampu menerapkan term and service mereka sendiri, karena tidak mungkin memantau atau “memata2i” semua aktifitas user. Penyedia layanan baru mengawasi jika ada laporan semacam RAS tentang aktifitas user tertentu. Secara general prosedurnya demikian mas.

    Klo term n service vimeo berbeda dengan persepsi kita tentang pornografi ya itu wajar, pendirinya bukan berasal dari sini, pekerjanya apalagi, kultur mereka berbeda juga, ketika itu menjadi sebuah komunitas global ya mau tidak mau ada benturan kultur dan persepsi antara kita dan mereka. Masalahnya, apakah dengan memblokir sebuah situs yang content digenerate user dan perbedaan persepsi kita dengan mereka itu adalah keharusan?

    Keberatan user vimeo atas perlakuan blokir pemerintah ki podo kok mas karo jamane dewe biyen waktu MP di blok. Ngeblok itu emang lebih gampang daripada pemerintah melakukan pendekatan dengan vimeo agar mau melakukan seleksi konten untuk user yang berasal dari Indonesia.

    Bener, pemerintah kita punya kok hak untuk melakukan pemblokiran situs tertentu, tapi yo delok2, secara general situs itu digunakan buat apa2 aja oleh warga kita? klo memang khusus porno/judi langsung blok nggak papa, tp klo enggak kan repot juga, bayangke ada beberapa user wordpress luar negeri nakal upload postingan saru baik embed maupun upload. Nek model maine ngene iki, piye kabare blogger WP???

    Klo mo blokir situs ya blokir yang emang bener2 contentnya secara garis besar mengganggu, klo enggak dan banyak user dari kita ya usahakan kita menekan penyedia layanan itu untuk melakukan seleksi konten terhadap konten2 yang merugikan warga negara kita yang jadi usernya, klo jalur diplomasi gak mempan, baru kita gunakan hak blokir mereka secara penuh, karena tidak mau tunduk pada peraturan kita.

    Solusi?

    Solusi masalah semacam ini gak cuma berada di level regulator, tapi dimulai dari tingkat kita sebagai individu, fine, pemerintah menggunakan solusi pemblokiran, tapi tetep sebelumnya harus melakukan evaluasi terhadap situs secara penuh, tim trust+ harusnya gak jadi tim trash+

    di level operator, ISP menggunakan firewall masing2, bisa menggunakan dns/regex filter, admin tiap instansi dengan kebijakan masing2 instansi dan terakhir individu yang juga menjadi barikade terakhir akses konten tersebut.

    Dulu tim amikom purwokerto bikin software anti pornografi yang sifatnya offline, sila klik http://anotherorion.com/smart-porn-detection-anti-porno-lokal/ tapi mungkin karena waktu itu hanya untuk dilombakan di level kampus maka pengembangannya tidak jelas, mbuh saiki masih aktif enggak.

    Tapi dari algoritma pendeteksian kontennya yang aku suka, mereka memblokir konten porno berdasarkan hasil pengolahan citra digital, dari postur, % ketelanjangan dan warna, bisa membedakan mana gambar 2 semangka dijejerin dan yang mana gambar pornonya.

    Pun tetap tidak ada gading yang tak retak, semua pasti ada kekurangan2nya, tidak ada metode pencegahan yang benar2 sempurna, tapi kita tahu, kita sendiri bisa menentukan mana konten yang baik dan mana yang sebenarnya buruk buat kita.

    • Untuk situs blog spt wordpress, blogspot, dll, bisa kok di-block alamatnya, bukan main domainnya yg di-block, jadi aman. Sila lihat sebagian list di bawah ini yg diblokir, saya ambil dari twitternya Pak Indra Utoyo.
      Kalo Vimeo gak bisa di-blockir pas alamatnya yg saru, mungkin sistemnya beda.

      *Komen bersambung, anyway terimakasih tanggapannya, mas Pri. Nanti saya lanjut saat online lagi.

    • anotherorion says:

      mungkin karena WP, BS dan blog engine sistem usernya pake subdomain, jadi bisa dicekal lebih spesifik, seperti blogspot, untuk blog yang mengandung unsur kekerasan/ seks biasanya ada peringatan dari google, klo basisnya forum seperti kaskus atau youtube emang agak susah blokir berdasar DNS

    • Betul, mas Pri, karena blog memang didesain sbg social media. Masing-masing punya kapling rumah. Kalo rumahnya berbau mesum, tinggal ditutup, … beres. Yang disini pun bisa memblokir rumah mesum eh sub-domain tsb.

      Sedangkan situs berkonsep UGC gak bisa spt itu, kecuali admin membunuh akunnya. Itu yg dibilang Pak Tif, Vimeo itu domainnya cuma satu, maksudnya gak ada sub-domain.
      Semoga ada teknologi yg bisa memblokir khusus halaman yg mengandung mesum itu, gak perlu Vimeo sbg main domain-nya yg diblokir.

  13. Kenapa Vimeo diblokir, kenapa Youtube tidak.??
    Karena tidak ada yang melaporkan? Ah itu sih alasan yang mengada2..

    Lha, bukannya yang namanya kementerian itu harus PRO-AKTIF, masa nunggu laporan masyarakat dulu baru kerja.. Jika kementerian bisa pro-aktif pada Vimeo kenapa tidak pada Youtube yang justru jumlah video manusia telanjangnya lebih banyak..

    Jika kemenkominfokonsisten seharusnya Youtube, Facebook, Twitter, Google, dan yang lain juga diblokir, biarkan masyarakat jadi bodoh, yang penting bermoral sesuai standar moral orang timur tengah..

    Oh ya, standar telanjang itu gimana ya.??
    Apa orang Papua yang hanya pake koteka bisa disebut sebagai ketelanjangan.?? Jika iya, maka kemenkominfo sejatinya telah melecehnya nilai-nilai salah satu bangsanya sendiri..

    • “Youtube tidak diblokir karena tidak ada yg melaporkan”, dimana kalimat itu saya tulis? copas ke sini. Silakan baca dg seksama alasan utama pemblokiran suatu situs, sudah awal saya kasih warna merah tebal di sana.
      Baca juga “Pengingat Fokus” pada bagian akhir jurnal di atas agar Anda paham substansi masalahnya.

      Standar ketelanjangan gimana? itu pertanyaan yg selalu dikuatirkan para penolak UU Pornografi. Nyatanya sejak tahun 2008 diluncurkan, sampai sekarang gak ada masalah tuh dg orang Papua, orang Bali, dll… gak ada razia soal itu. Jangan bikin alasan yg lebay lah…
      Tunjukkan beritanya ke sini kalo ada masyarakat Papua dan Bali yg terzalimi selama penerapan UU Pornografi yg sudah berjalan 6 tahun.

      Jangan-jangan Anda sendiri gak baca definisi pornografi di UU Pornografi.

      Ketelanjangan yg jelas-jelas ditolak itu adalah mempertontonkan lekuk-lekuk seluruh tubuh sampai kelihatan kelaminnya, mengarah pada kecabulan, itu bisa didapat di Vimeo dg pencarian kata “gay”, “lesbian”, “nakedness”, dll, atau search aja nama-nama artis porno di sana. Buktikan sendiri ya… biar komenmu bernas.

    • anotherorion says:

      “Apa orang Papua yang hanya pake koteka bisa disebut sebagai ketelanjangan.?? Jika iya, maka kemenkominfo sejatinya telah melecehnya nilai-nilai salah satu bangsanya sendiri..”

      ——————————————————————————-

      Saya yakin ini pertanyaan yang susah buat dijawab oleh kita semua, karena itu saya mencoba berandai2

      “kalau suatu saat nanti, ketika upacara hari Kartini di SMK saya di wilayah Jogja, dimana kami mengundang perwakilan wali murid untuk mengikutinya, dan anak2 saya diwajibkan mengenakan baju adat, kemudian ada dua orang siswa saya satu dari Papua satu dari Jawa memilih mengenakan koteka sebagai pakaian adat pada perayaan itu, bagaimana sikap saya sebagai seorang Guru?”

      Mungkin mbak nindya bisa membantu saya, agar saya bisa bersikap secara arif, bijak, baik dan tentu saja benar menghadapi kondisi tersebut?

  14. Farizal says:

    Perangi konten negatif dengan memperbanyak konten positif yang mencerdaskan.

    • Teorinya begitu. Tapi nyatanya kelahiran konten negatif itu tak terbendung, mengkontaminasi pemikiran anak-anak. Baca “Pengingat Fokus” pada bagian akhir jurnal di atas.

  15. hendry says:

    Sangat gak rasional penjelasan anda ketika menjelaskan “kenapa youtube, facebook, tweeter tidak diblokir”. Adanya “report as spam” tidak menjamin video bintang porno atau pornografi di youtube atau gambar porno di facebook dan tweeter untuk dihapus oleh pengelola situs. Proses “evaluasi” yg anda maksud itu seperti apa? Kenapa bisa begitu cepat memblokir Vimeo sedangkan youtube tidak. Jika sekarang anda ketik di kolom pencarian di youtube, nama salah satu bintang porno, pasti masih keluar dan banyak lagi video yg akan disarankan oleh youtube untuk anda. Jadi pertanyaannya tetap sama, “kenapa Vimeo?”

    • Mohon pahami secara keseluruhan jurnal ini ya, mas Hendri, jangan sepotong-potong.
      Vimeo dan Youtube memang bukan situs pornografi.
      Yang jadi inti masalahnya adalah RESPON dari pengelola situs setelah mendapat surat dari Kominfo. Inti surat itu lebih ke penyamaan pemahaman ttg pornografi juga pengingat masih adanya konten2 yg berbahaya bagi anak-anak berdasarkan pengaduan publik.

      Vimeo sudah lama diberikan surat oleh Kominfo terkait aduan masyarakat, namun tidak menanggapinya. [Republika]. Ini yang membuat Kominfo jengkel. Sudah seharusnya 2 kali pemblokiran sebelumnya oleh Nawala dan Telkomsel itu menjadi perhatian Vimeo [link ada di jurnal atas].

      Beda dg Youtube, pihak Google sekaligus pengelola Youtube kabarnya telah memberikan respon dg baik. Tinggal evaluasi pelaksanaannya saja berdasarkan surat yg dikirim. Misalnya meminta Youtube membersihkan konten2 negatif. Link berita terkait ini ada dlm jurnal di atas. Itulah mengapa Youtube tidak diblokir. Kalau sampai batas waktu yang diberikan ternyata Youtube tidak segera membereskan kontennya, ya nanti akan di-blokir.

      Selain itu juga karena faktor kemudahan koordinasi, karena Youtube berkantor di Indonesia [Antara News]

    • Hendry says:

      iya saya sudah paham sekali dengan apa yg ingin anda sampaikan. membahas kasus penutupan vimeo dengan menarik isu pornografi bukan hal baru. yg anda sampaikan menarik dengan semua data dan bukti dari media.

      pembahasan “penyamaan presepsi tentang pornografi antara pemerintah dan pihak pengelola situs” di artikel anda hanya merusak point point awal dari tulisan anda, karena pada akhirnya pembaca hanya akan melihat bukti bukan teori dan proses. jika-pun penyamaan presepsi kepada pihak youtube sudah dicapai, tapi yg terjadi adalah youtube masih memuat konten porno dan konten bintang porno yang bisa diakses oleh siapa saja.

      jadi, katakanlah sudah mencapai persamaan presepsi dengan pihak youtube tapi konten pornografi masih bisa diakses di youtube, jadi apa point-nya? “penyamaan persepsi tentang pornografi” atau “larangan konten pornografi untuk ditampilkan”. semua data dan bukti yang anda sampaikan jadi tidak berguna karena pada akhirnya melanggar logika berpikir

    • Begini lho, mas … Konsep situs UGC, dimana content di-generate oleh user memang berpotensi kecolongan. Siapa saja bisa upload. Lihat faktanya di sini:
      http://www.youtube.com/yt/press/statistics.html
      Jumlah user yg bejibun, juga video yg diunggah sudah jutaan, tidak mungkin bisa ngontrol satu-per-satu. Setiap hari bermunculan ribuan video2 baru.
      Sehingga pengelola situs tidak selamanya mampu menerapkan TOS mereka sendiri, karena tidak mungkin memantau semua aktifitas user. Atas kondisi ini, kontrol jadinya ada di tangan publik, di tangan kita semua. Bila menemukan konten negatif sudah seharusnya masyarakat pengunjung melaporkannya agar video tsb di-suspended.
      Jadi, bukan berarti Youtube mengijinkan pornografi.

  16. hendrix says:

    Semangat buat pa tifatul sembiring….berantas trus akses pornografi di indonesia..blokir semua aja seklian….di twetter byak pa

  17. janet says:

    Maaf pak, menurut saya apa yang dikatakan Bapak Candra Wiguna benar. Kenapa banyak remaja banyak terlibat kejahatan seksual itu karena kurangnya pendidikan dalam hal reproduksi dan seks serta hal yang berhubungan, contoh telanjang. Dalam internet, informasi yang mereka dapatkan adalah semacam dorongan untuk menikmati semua konten yg berbau hal tsb. Namun dalam dunia nyata, mereka nyaris tidak mendapatkan informasi yang lengkap dan benar, karena membicarakan hal tsb dianggap tabu (jujur saja Pak). Sebenarnya media televisi punya kesempatan besar untuk melakukannya, tapi kebanyakan stasiun pasti mementingkan rating daripada manfaat. Akhirnya jadilah seperti ini.
    Gampang saja pak membedakannya. Coba Bapak membahas hal seperti ini antara dokter dengan orang awam, tentu respon mereka berbeda kan?
    artinya, dibandingkan menutup situs seperti ini, bukankah lebih baik memberikan pengetahuan kepada remaja sehingga mengarahkan mereka dengan benar dalam menyikapi pornografi?

    Satu lagi pak. Menutup vimeo karena masalah ketelanjangan memang tidak memberi dampak. Memang video orang berbikini tidak akan menimbulkan kejahatan seksual? Video orang ciuman tidak akan menimbulkan kejahatan seksual? Berapa banyak sih yg melihat vimeo? Jujur pak, saya belum pernah buka. Saya buka youtube. Dan potensi youtube jauh lebih besar dari vimeo karena banyaknya pengguna. Mau melaporkan video yang berbau pornografi? Porno itu seperti apa? Di Indonesia, pake baju yang nampak belahan dada udah termasuk pornografi di televisi. Terus saya melaporkan video wanita yg pake baju seperti itu. Tapi apakah di Youtube cuma orang Indonesia yg lihat? Kan tidak. Dan asumsi di luar negeri sana tentu berbeda, belum tentu porno. Apa kalo cuma saya yg melapor videonya langsung dihapus?

    Percayalah Pak, potensi youtube jauh lebih besar untuk pornografi. Ibaratnya, Bapak cuma menangkap kaki tangannya saja, tapi Bos Besar tak terendus.

    Saya lebih percaya memberikan pendidikan tentang seks dan reproduksi kepada anak-anak.

    • Terimakasih, mbak Janet.
      Dari dulu saya setuju pendidikan seks anak itu sangat penting, bahkan saya tuangkan secara khusus pembahasannya dalam kategori menu: Selamatkan Anak Bangsa pada blog ini.

      Sementara itu kondisi di negeri ini sudah ditetapkan sbg Tahun Darurat Pelecehan Seksual Anak. Jadi, antara program pencegahan itu berpacu dg waktu thd pertumbuhan predator. Maka pemblokiran adalah dobel filter alias filter kedua setelah pendidikan seks.

      Silakan mbak Janet pahami betul apa yg saya tuliskan pada “Pengingat Fokus” di bagian akhir jurnal ini. Itu mohon dibaca dg seksama ya, mbak.
      Jadi, mengapa dobel filter itu tetap perlu? Sebab filter pertama (pendidikan seks) saja tidak cukup … karena kehadiran un-educated people sbg predator dari luar pagar halaman rumah.

      Contoh kondisinya begini:
      Di sebuah keluarga, secara pengendalian akses internet oleh anak-anak dirasa cukup aman, mereka paham pendidikan seks, mereka pun paham dampak negatif mengkonsumsi pornografi, dan selanjutnya bertumbuh menjadi anak baik-baik.
      Nah, yang menjadi masalah… di luar pagar halaman rumah mereka begitu banyak predator (un-educated people) yg otaknya sudah error karena porn addicted, akibat akses dibuka seluas-luasnya. Kita pasti bisa menebak kisah selanjutnya: predator memangsa anak baik-baik.

      Paling tidak, blokir itu meminimalkan ekses negatif di masyarakat, khususnya anak-anak. Dan paralel harus dijalankan program lain yg dirasa tambah meminimalkan dampak negatif.
      Sekarang ini predator juga banyak berasal dari kalangan anak-anak. Secara singkat kondisinya saya gambar dlm sebuah flash fiction berikut ini:
      https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/11/29/quiz-4-kelalaian-yang-dibayar-mahal/

  18. reza muzaki says:

    menurut saya yang pertama perlu diperbaiki, pendidikan tentang seks di usia dini terlebih dahulu.

    ibarat singa liar yang memangsa hewan lain dan merusak lingkungannya, harus dijinakkan terlebih dahulu. bukan malah membasmi hewan dan lingkungannya biar singa tidak bisa merusaknya.

    jika alasan pemblokiran vimeo karena memuat konten porno, seperti contoh maria ozawa ada dalam hasil pencarian, masak google juga diblokir? search aja gambar maria ozawa, pasti ada.

    alangkah baiknya lebih memaksimalkan pendidikan pada anak-anak kita. alhamdulillah hal seperti itu cukup berhasil kepada saya dan teman2 saya.

  19. mantep bang iwan paparanny komprehensif. berbobot dan berbasis data 🙂

  20. Rudi says:

    Kalau saya pribadi lebih ke personalnya Pak, porno atau tidak tergantung dari sudut mana kita melihat.
    Yang saya sayangkan, jangan sampai sebuah keputusan mengorbankan pihak lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan porno2 an.

    Mbok ya difikir masak2 dulu, atau diadakan diskusi terbuka di media biar hasilnya sesuai dengan musyawarah mufakat.

    Satu lagi Pak, apakah setelah diblok situs porno yang beratus ribu tersebut, bisa mengurangi aksi perkosaan dll ?

    • Silakan baca jawaban2 saya di bawah, komentar mas Rudi cukup umum. Permasalahan ini sudah lama digaungkan sejak di diterbitkannya UU Pornografi.

      “apakah setelah diblok situs porno yang beratus ribu tersebut, bisa mengurangi aksi perkosaan dll ?”

      Sepertinya Anda tidak membaca tulisan di atas secara penuh. Coba pahami bagaimana tingkat pertumbuhan situs2 pornografi yg baru di setiap harinya. Anda akan kaget dibuatnya.
      Pertanyaan Anda identik dg ribuan botol miras sudah terlalu sering dimusnahkan dari hasil razia di negeri ini di beberapa tempat di setiap minggunya, tapi mengapa masih ada berita2 baru mereka yg tewas krn miras.

    • Nah, itu pertanyaannya, apakah setelah diblokir di sana sini terbukti terjadi penurunan angka kejahatan seksual?

      Jawabannya:
      Pemerintah dan lembaga legislatif tidak pernah melakukan penelitian seperti itu.

      Ini kesalahan terbesar bangsa kita dalam membuat regulasi selama ini, aturan-aturan dibuat bukan berdasarkan sebuah penelitian ilmiah, atau setidaknya mereka melakukan penelitian sendiri sebelum membuat regulasi. Semua dibuat berdasarkan asumsi, asumsi mereka pornografi menyebabkan kejahatan seksual, padahal belum terbukti.

      Lha, jika pornografi saja belum terbukti menyebabkan kejahatan, maka pantas saja pemblokiran situs porno tidak menghasilkan apa-apa, karena kebijakannya tidak tepat sasaran.

      Ibarat orang zaman dulu, mengira atau berasumsi bahwa mencret disebabkan karena kebanyakan minum air, intervensinya justru mengurangi konsumsi air, hasilnya pasien mencret bukannya sembuh tapi malah meninggal.

    • Mas Candra kok menyalahkan lembaga negara yg tidak melakukan penelitian. Sudah tabayyun ke KPAI, mas?

      Masalah ini tidak bisa diselesaikan atas rekomendasi jurnal-jurnal penganut seks bebas. Banyak nipunya saat dibenturkan dg fakta (berupa data dan angka).

      Lebih baik mas Candra kroscek ke KPAI yg telah bicara spt ini:
      http://www.kpai.go.id/video/kpai-tak-butuh-ahli-untuk-melihat-kebenaran-pelaku-video-mesum/

    • Saya sering ke KPAI, justru yang harus ditanyakan apakah anda dan orang2 yang anda maksud itu pernah membaca penelitian mengenai pornografi atau tidak. Jangan belum apa2 langsung mengambil kesimpulan, yang ketika ditunjukkan referensi ilmiah malah nuduh tipu2.

      Mengatakan bahwa NCBI itu penipu sama halnya anda mengatakan ilmu kedokteran yang ada selama ini tipu2 juga, mengatakan bahwa junk food menyebabkan kanker tipu2 juga, mengatakan bahwa konsumsi garam berlebih sebagai penyebab hipertensi adalah tipu2 juga.

      Apa yang anda lakukan itu tidak mencerminkan masyarakat yang berpendidikan mas, kalau anda skeptis pada penelitian itu, ya bikin penelitian tandingan dan terbitkan jurnalnya agar bisa dibaca dan dikritisi banyak orang. Itu baru namanya cerdas.

      Kutipan orang KPAI yang anda jadikan rujukan itu juga konyol, kita butuh pendapat ahli, kita butuh penelitian, kita butuh studi kasus, untuk bisa merencanakan sesuatu dengan baik, membuat solusi yang sasaran. Belum apa2 menolak pendapat ahli, itu sih cermin masyarakat kolot dan sombong, merasa dirinya benar tanpa dasar yang jelas, ini sikap yang berbahaya dan ini pula yang menyebabkan sebuah bangsa sulit untuk maju.

    • Bukan skeptis, mas, tapi krn memang tidak terbukti di lapangan untuk tulisan2 bahwa tidak ada hubungannya antara pelecehan seksual dg pornografi.

      Saya dan Anda perlu menyamakan frekuensi, bahwa yg menjadi inti persoalan adalah bagaimana agar anak tidak terpapar pornografi. Anak bisa mereka yg educated people dan un-educated people. Seringkali ada kasus anak memangsa anak sebayanya.

      Okey, gini aja, saya tunggu ide-ide Anda di blog Anda mengatasi ini.

  21. Pertanyaannya bukanlah “kenapa Youtube tidak diblok sekalian?”

    Tapi seharusnya “kenapa Youtube tidak diblok lebih dulu?”

    Masyarakat jelas lebih tahu ttg youtube dibanding vimeo.

    Di atas disebutkan, cuma karena nama file “maria ozawa” ada 20 buah, lalu dianggap bahaya laten. Sudah coba browse “maria ozawa” di youtube? You’ll find hundreds

    • Baca penjelasan saya di atas dg rinci doong, mas. Sudah terjawab di sana, mengapa Youtube tidak diblokir.
      Dan sila pahami alasan utama pemblokiran ini yg saya tulis pake font merah dan tebal.

    • bisa tunjukan perbedaan “rule” antara youtube dan vimeo?

      saya sudah coba baca, kok kayaknya sama aja ya.

      Tetap ada pengecualian untuk “nudity”.

      anyway,
      video “maria ozawa” baju biru ketat yg anda print screen di atas mmurut UU RI ada unsur nudity-nya nggak ya?

  22. Satu pertanyaan saya sebelum saya menulis artikel pembanding:
    Darimana anda tahu bahwa kekerasan atau kejahatan seksual yang terjadi di Indonesia disebabkan karena pornografi?

    Memang dalam beberapa kasus ada kasus pemerkosaan dimana pelaku sempat menonton video porno, tapi apakah hal ini lantas bisa menyimpulkan bahwa pemerkosaan tersebut dikarenakan video porno? Saya yakin 80% remaja pernah menonton video porno atau setidaknya membaca cerita porno, tapi berapa persen sih yang sampai berujung pada kejahatan seksual, signifikan kah? Ada penelitian kah sebelumnya?

    Karena dalam beberapa studi kasus di Jepang misalnya, pelegalan video porno pada orang dewasa justru dapat mengurangi angka kejahatan seksual. Kita sebagai masyarakat terdidik tentu harus membuat sebuah aturan yang logis dan berdasarkan penelitian bukan?

    Jangan mudah menyimpulkan bahwa video porno menyebabkan pemerkosaan hanya karena 1 2 kasus, seperti halnya kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Al Quran sebagai penyebab terorisme hanya karena 1 2 orang teroris melakukan kejahatan setelah membaca Al Quran.

    Saya tunggu tanggapannya. 🙂

    • Ini sudah sering dibahas di berbagai media termasuk blog ini, mas Candra. Biar singkat komentar saya, saya tunjukin link2nya aja ya.

      Pree Frontal Cortex (PFC) akan rusak ketika anak melihat pornografi. Padahal PFC adalah pusat nilai, moral, tempat di mana merencanakan masa depan, tempat mengatur manajemen diri.

      Bagaimana mekanisme kerusakan tsb, sila baca detailnya di sini:
      http://www.hidayatullah.com/iptekes/kesehatan/read/2013/05/20/2453/kerusakan-otak-akibat-pornografi-mirip-mobil-ringsek-akibat-benturan-keras.html#.U3ekrHZAcuc
      Pahami di sana ttg hormon dopamin.

      Kondisi 1: Indonesia selama tiga tahun berturut-turut ditetapkan sbg Tahun Darurat Pelecehan Seksual Anak.
      Kondisi 2: Selama bertahun-tahun, Indonesia selalu menduduki 10 besar pengakses konten pornografi.
      Dari 2 kondisi tsb pasti mudah melihat benang merahnya.

      Fakta-fakta mengerikan (dlm data/angka) untuk melihat hubungan antara kasus pelecehan seksual dg tingginya pengakses pornografi di Indonesia bisa disimak di sini.
      http://www.suarapembaruan.com/home/pornografi-di-kalangan-pelajar-mengerikan/44891

      Penikmat pornografi yg sudah error otaknya namun tidak berujung pada kegiatan seksual hanya karena faktor tidak ada kesempatan saja. Artinya itu akan menjadi bom waktu bagi lingkungan di sekelilingnya.

    • Tulisan itu ngawur mas, saya berani berdebat langsung dengan penulis atau narasumbernya. Pernyataan yang mengatakan sel otak rusak ketika menonton video porno itu hanya bersumber dari buku yang ditulis oleh Mark B. Kastleman yang berjudul “The Drug of the New Millennium – The Brain Science Behind Internet Pornography Use”.

      Saya memang belum membaca bukunya, tapi saya juga tidak menemukan jurnal penelitian yang dia lakukan, itu artinya kemungkinan besar penelitiannya itu tidak valid atau bahkan mungkin dia tidak pernah benar-benar melakukan penelitian.

      Sebaliknya bantahan mengenai pornografi menyebabkan kerusakan sel otak dan kecanduan dibantah sendiri olah para neuroscience, tulisannya bisa anda baca di situs NCBI, ini adalah situs yang kredibel dan biasa menjadi rujukan pada akademisi di bidang kesehatan, jadi tidak main2 dan tidak sembarang mengarang.
      http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3115160/

      Asal mas tahu, dopamin itu tidak hanya terbentuk saat menonton pornografi tapi juga saat anda berhubungan seksual dengan cara biasa (coitus) bahkan saat anda tertawa, bahkan saat tertawa yang dibentuk bukan hanya dopamin tapi juga endorfin. Intinya hormon ini terbentuk saat anda senang atau bahagia.

      Lha, sekarang tanya pada diri anda, apakah jika anda tertawa sekarang maka anda akan kecanduan tertawa? Apa anda kecanduan menonton OVJ atau YKS? Enggak kan.

      Anda sudah punya istri? Berapa kali berhubungan seksual?
      3 Kali seminggu, apa setahun setelah menikah frekuensi hubungan seksual anda semakin bertambah? Semakin lama anda semakin kecanduan berhubungan seksual dengan istri? Enggak kan?

      Ngawur itu mas, pornografi tidak menyebabkan kerusakan otak, tidak pula menyebabkan kecanduan.

      Bagaimana dengan moralitas? Nah ini ngawur juga, lihat orang Belanda, orang Jepang, kurang bermoral apa mereka? Buang sampah pada tempatnya, toleransi tinggi, menghargai perempuan dan privasi seseorang, saling tolong menolong saat terjadi bencana, apa kita lebih bermoral dibanding mereka?

      Kesimpulan bahwa pornografi mempengaruhi moral sekali lagi bukan bersumber dari penelitian, cuma dari buku tulisannya Mark Kastleman yang lagi perlu saya ingatkan bahwa tulisannya tidak bisa dipercaya.

      Benar bahwa remaja sekarang banyak menonton video porno, tapi salah jika kita langsung menyimpulkan bahwa kejahatan seksual di lingkungan remaja terjadi akibat pornografi. Itu tadi dibilang 97% anak SMP menonton video porno, itu artinya ada sekitar 20 juta anak SMP yang menonton video porno, tapi berapa persen yang melakukan tindak kejahatan seksual? Kalau kurang dari 0,00001% itu sih tidak signifikan, korelasi saja tidak masuk apalagi kausalitasnya.

      Daripada menyalahkan pornografi, yang di Jepang pelegalannya justru terbukti menurunkan angka kejahatan seksual, saya lebih mencurigai bahwa kejahatan seksual itu lebih dipengaruhi karena kurangnya pendidikan seksual pada anak, ketertutupan keluarga, serta pengawasan yang minim.

      Silahkan anda bandingkan sendiri, siapa yang lebih banyak melakukan kejahatan seksual, orang kampung dengan pendidikan rendah yang jarang melihat perempuan berbikini, atau anak yang biasa menonton American Pie dan sering menggunakan porno sebagai joke atau bahan lelucon.

    • Apakah Anda yakin tulisan2 referensi Anda bisa dipertanggungjawabkan?
      Coba sekali-kali Anda lakukan survei ke kepolisian setempat, dari pelaku pelecehan seksual anak yg sudah di BAP berapa persen penyebabnya karena ia ketagihan pornografi?
      Seberapa sering Anda berinteraksi dg orang-orang KPAI atau minimal menelusuri publikasi2nya di sini: http://www.kpai.go.id/

      Dampak paling buruk dari pornografi adlh anak-anak. Bukan pelecehan seksual secara umum. Tapi lebih tepatnya pelecehan seksual anak. Kalau dibelokan ke pelecehan seksual secara umum memang jadi tidak valid lagi spt alasan Anda. Usia kedewasaan jelas mempengaruhi.

      Pemblokiran pornografi di internet memang sesuatu yg mustahil, karena banyak jalan kesana. Namun yg harus Anda pahami bahwa Pemblokiran bertujuan untuk melindungi anak-anak dari terpapar dari pornografi. Jadi pemblokiran hanya untuk memberikan dobel filter. Sebenarnya dalam situs pornografi sudah memasang filter lunak dgn memberikan konfirmasi untuk pertanyaan; Apakah anda berumur diatas 18 tahun?
      Tapi itu mudah diakali saat menjawabnya, khan?

      Jadi sekali lagi jangan dibelokan ke pelecehan seksual secara umum, itu menjadi tidak valid. Pembuka jurnal ini saya awali dg pemaparan data kasus pelecehan seksual anak. Bukan kasus orang setua sitok menghamili mahasiswinya. Tapi fokus pada: (1) kasus pelecehan seksual anak; (2) kemudahan anak terpapar konten pornografi.

      Anak-anak sekolah mulai kelas 1 SMP sudah banyak yg diminta sekolahnya membuat paper, dan tentu saja ia akan berhadapan dg internet.

    • Ya yakin dong mas, referensi yang saya gunakan itu kan dari jurnal akademik, biasa digunakan sumber referensi ilmiah seperti penulisan karya tulis, skripsi, tesis, dll. Justru referensi yang anda gunakan, seperti situs Hidayatullah dan portal berita yang sumbernya hanya kutipan dari pendapat seseorang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

      Saya tahu KPAI teman-teman saya juga banyak kerja disana (saya orang kesehatan masyarakat), orang-orang di KPAI juga banyak yang kolot seperti halnya di DPR, menggunakan asumsi sebagai dasar penilaian bukan penelitian. Untungnya tidak banyak orang2 seperti itu yang berpendapat bahwa pornografi lah yang menyebabkan kejahatan seksual pada anak.

      Perlu mas ketahui, bahwa yang ingin melindungi anak-anak bukan cuma anda dan orang-orang di DPR yang membuat kebijakan anti pornografi, saya juga prihatin atas kejahatan seksual pada anak, saya juga ingin mencegahnya, bedanya saya dengan anggota DPR itu adalah bahwa saya ingin mencegah kejahatan seksual dengan cara yang tepat, efektif dan efisien. Jadi tidak sekadar buang-buang uang untuk sesuatu yang tidak ada hasilnya.

      Berapa uang sih yang dihabiskan untuk membiayai kegiatan blokir2an ini, berapa banyak sih video yang berkualitas untuk kepentingan pendidikan yang tidak bisa diakses karena ada beberapa situs porno? Kerugiannya tentu bukan hanya dari uang, tapi juga penurunan kualitas pendidikan bangsa, keterbatasan akses bersosialisasi, hilangkan kesempatan berbisnis, dll. Kemudian bandingkan dengan efektivitas dari kegiatan ini, apa memang benar sudha berhasil menurunkan kejahatan seksual? Ada yang pernah meneliti gak?

      Kita masyarakat terdidik, jangan ngawur bikin aturan, jangan ngawur bikin solusi. Yang dipakai ini adalah uang negara, uang dari pajak yang saya bayarkan, dan saya tidak mau uang itu dihamburkan untuk kegiatan yang tidak ada gunanya.

    • Anda menulis:
      “.. bahwa saya ingin mencegah kejahatan seksual dengan cara yang tepat, efektif dan efisien. Jadi tidak sekadar buang-buang uang untuk sesuatu yang tidak ada hasilnya.”

      Wah, ini menarik sekali Mas Candra. Silakan segera tuangkan ide Anda di blog, insya Allah, saya nanti mampir membacanya. Tiga tahun berturut-turut telah ditetapkan sbg Tahun Darurat Pelecehan Seksual Anak. Maka dibutuhkan peran serta masyarakat untuk menyampaikan ide-ide solusinya.
      Saya tunggu ya, mas Candra. Kita bisa gandeng KPAI atau pejabat terkait untuk eksekusinya.
      Selama belum ada ide solusi yg dirasa cukup efektif, biarkan saja upaya pemblokiran ini dianggap sbg dobel filter. Karena tingkat pelecehan seksual anak terus berpacu.

    • Tentu, nanti kalau sudah selesai akan saya ping kesini. Terimakasih atas diskusinya. 🙂

  23. Rini says:

    Cukup membacanya dengan hati, Insya Allah ngerti. Terima kasih Pak.

  24. Bejo Paijo says:

    Reblogged this on Catatan Bejo Paijo and commented:
    Catatan bagus tentang pemblokiran Vimeo, cuma mungkin karena kepanjangan, para pecandu pornografi pasti lebih suka asbun drpd baca ini 🙂

    • dani says:

      iya mas bener. byk yg asbun sj. aneh sekali ketika ada orang yg berjuang untuk kebaikan eh di sisi lain malah ada yg berjuang untuk kemaksiatan. hahaha lucu baca komentar orang yg sudah dr sono-nya suka nonton video porno.

  25. Andri Permana says:

    Reblogged this on Catatan Abi Andri.

  26. netizen indonesia says:

    Assalamualaikum
    Pak Iwan ysh.

    Artikel yang sangat bagus dan mengklarifikasi. Namun mengenai term “non-sexual nudity” tolong jangan anda buat misleading. “Non sexual nudity” tidak sama dengan “non sexual porn” imho. Bahkan youtube sendiri juga menganut term yang sama namun dengan bahasa yang lebih jelas. Saya cuplik disini dari ToU Youtube
    “Most nudity is not allowed, particularly if it is in a sexual context. Generally if a video is intended to be sexually provocative, it is less likely to be acceptable for YouTube. There are exceptions for some educational, documentary, scientific, and artistic content, but only if that is the sole purpose of the video and it is not gratuitously graphic. For example, a documentary on breast cancer would be appropriate, but posting clips out of context from the documentary might not be.”

    Disini saya mulai bingung mengapa terms di youtube sesuai dan di vimeo tidak.
    Tidak ada situs sharing yang sempurna Pak. Bahkan kalau anda ingin menghentikannya, bisa-bisa teknologi cloud pun akan menjadi ancaman bagi anda. Kalau anda yakin dengan adanya fitur RAS di Youtube sehingga aman, coba anda lakukan search dengan keyword sama yang anda cuplik untuk vimeo, misalnya “maria ozawa youtube”, maka anda akan menganggap bahwa google dan situs pencari lainnya juga adalah ancaman… silakan mencoba juga untuk keyword lainnya.

    Solusi yang menurut saya efektif adalah Lembaga sensor Pak atau komunitas cyber yang rutin mencari celah itu (strategi whistle blower). Mencegah masuknya konten negatif itu sulit Pak karena kita berhadapan dengan www (world wide website). Bukan regional website. Bukan pula local website. Ini dunia bebas dimana konten positif dan negatif bebas diperoleh, kontrol dirilah yang menentukan. Seperti memilih channel tv berlangganan, dan silakan anda menonton tv fashion dan tetapkan dalam diri anda apakah yang seperti itu dianggap porno atau bukan… bagi muslim (seperti kita) diluar batas aurat adalah porn, apakah pemahaman ini yang akan “dipaksakan” pada Indonesia? Apakah menurut Indonesia bikini adalah porn? Tarian dance modern yang menujukkkan keerotisan adalah porn? Sampai di batas mana definisi porn ini di Indonesia? Apakah seluruh masyarakat (dengan berbagai latar belakang agama dan budaya) sepaham?
    Karena itu, kontrol diri juga harus diperkuat pada generasi muda.

    Lalu mengenai korespondensi kominfo dengan vimeo, ada blog yang mengcapture pertanyaan ke official twitter vimeo dan vimeo mengatakan tidak tahu mengenai pemblokiran ini???? Bisa dijelaskan mengenai hal ini Pak?

    Wassalamualaikum.

    • Wa’alaikumsalam,
      Terimakasih atas tanggapannya, pak. Pada kenyataannya, apapun istilah yg mereka pakai untuk non-sexual nudity, beberapa video saya lihat menunjukkan jelas ketelanjangan, bukan dlm rangka edukasi. Coba saja ketik kata kunci: gay, lesbian, atau nama2 porn actress

      Ide yg Anda sampaikan masih terasa abstrak, sementara kondisi di negeri ini sudah ditetapkan sbg Tahun Darurat Pelecehan Seksual Anak. Jadi, antara program pencegahan berpacu dg waktu thd pertumbuhan predator.

      Contoh kondisinya begini:
      Di sebuah keluarga, secara pengendalian akses internet oleh anak-anak dirasa cukup aman, mereka paham dampak negatif mengkonsumsi pornografi, dan selanjutnya bertumbuh menjadi anak baik-baik.
      Nah, yang menjadi masalah… di luar pagar halaman rumah mereka begitu banyak predator (un-educated people) yg otaknya sudah error karena porn addicted, akibat akses dibuka seluas-luasnya. Kita pasti bisa menebak kisah selanjutnya: predator memangsa anak baik-baik.

      Paling tidak, blokir itu meminimalkan ekses negatif di masyarakat. Dan paralel harus dijalankan program lain yg dirasa tambah meminimalkan dampak.

      ====
      Ini twit konfirmasi dari Vimeo:

      Sudah terjadi pembicaraan antara kedua belah pihak.

    • netizen indonesia says:

      Assalamualaikum.
      Saya mengerti mengenai kedaruratan pornografi ini. Namun hal yang saya ingin tekankan adalah mengenai pernyataan anda bahwa youtube memiliki term pornografi yang sesuai dengan UU kita sedangkan vimeo tidak!!. Terms di youtube dan vimeo adalah mirip atau bahkan sama, namun mendapat perlakuan berbeda. Double standard menurut saya. Namun mengenai kontrol, apakah kedua website melakukan moderasi dan review dulu apakah video yang aman diunggah sudah sesuai dengan terms yang disepakati? TIDAK! dua-duanya menyatakan tanggung jawab suatu video yang diunggah adalah milik pengunggah, mereka tidak bertanggung jawab jika ada konten pornografi di websitenya. Lantas jika ada konten tersebut, apa yang harus dilakukan? Adukan!! Youtube punya RAS, Vimeo bisa kontak admin, bahkan kalau mau melapor ke Trust+ (yang sudah dilakukan), lalu kenapa kok belum sempat ada feedback dari vimeo, sudah langsung main blokir saja? Masalah delay? Youtube juga bisa delay, karena video yang diflag sebagai spam (RAS), tidak serta merta dihapus… ini ada di termsnya. Mengenai konten yang anda sebutkan, konten2 tersebut juga ada di youtube.

      Kalau mau adil, kominfo juga harus memblokir youtube… tapi, masyarakat pengguna youtube lebih banyak dari pengguna vimeo. Bayangkan reaksi masyarakat penggunanya kelak.
      Mengenai ancaman predator yang sudah terlanjur ada di sekitar kita, hendaklah membuat kita lebih waspada, namun jangan bertindak sembrono.

      Wassalamualaikum

    • Wa’alaikumsalam.
      Inti masalahnya adalah respon dari pengelola situs setelah mendapat surat dari Kominfo. Inti surat itu lebih ke penyamaan pemahaman ttg pornografi juga pengingat masih adanya konten2 yg berbahaya bagi anak-anak berdasarkan pengaduan publik.

      Vimeo sudah lama diberikan surat oleh Kominfo terkait aduan masyarakat, namun tidak menanggapinya. [Republika]. Sudah seharusnya 2 kali pemblokiran sebelumnya oleh Nawala dan Telkomsel itu menjadi perhatian Vimeo [link ad di jurnal atas].

      Beda dg Youtube, pihak Google sekaligus pengelola Youtube kabarnya telah memberikan respon dg baik. Tinggal evaluasi pelaksanaannya saja berdasarkan surat yg dikirim. Misalnya meminta Youtube membersihkan konten2 negatif. Link berita terkait ini ada dlm jurnal di atas. Itulah mengapa Youtube tidak diblokir.

    • netizen indonesia says:

      Assalamualaikum,

      Maaf comment lagi. Ada link atau sumber dari pernyataan anda di bawah ini?

      “Vimeo sudah lama diberikan surat oleh Kominfo terkait aduan masyarakat, namun tidak menanggapinya. Sudah seharusnya 2 kali pemblokiran sebelumnya oleh Nawala dan Telkomsel menjadi perhatian Vimeo. [Republika].”

      Link nya tidak ada..

      Mengenai penyamaan persepsi, memang menurut UU ketelanjangan ini tidak memiliki syarat, entah bertujuan seksual maupun tidak, artinya tidak diperbolehkan oleh undang-undang ini. Namun definisi nudity bukan selalu telanjang, berpakaian minim juga nudity. Para pelaku dunia fashion bisa tergolong nudity namun bukan sexually explicit. Patung manekin? Alat peraga kedokteran? Apakah di Indonesia hal ini juga dikecualikan? Wallahu alam, karena definisi ketelanjangan-nya saja tidak jelas, seberapa telanjang? foto2 atau video dokumentasi saudara2 kita di pedalaman yang belum mengenakan pakaian apakah akan kena pasal ini juga?

      Karena itu dari UU dulu ditegaskan lingkup Pornografi itu seperti apa dulu sebelum menyamakan… Kalau menyamakan ada tiga kemungkinan. Kita mengikuti dia, dia mengikuti kita, atau kita bersama membuat definisi yang sama (win-win solution). Dari kita saja belum jelas, sudah mau bergerak untuk menyamakan…

      Bukan bermaksud pesimis.

      Wassalamualaikum.

    • Wa’alaikumsalam, mas Netizen.
      Maaf, linknya tadi ternyata error, sekarang sudah diperbaiki.

      Soal penyamaan persepsi, saya mohon mas Netizen membaca tulisan “Pengingat Fokus” di bagian akhir jurnal ini. Itulah alasan kenapa pihak Kominfo ngotot menyampaikan hal ini kepada para pengelola situs di luar Indonesia. Masalah definisi ketelanjangan itu ukurannya jangan hanya pada otak orang dewasa saja, mengingat saat ini … anak-anak kelas 1 SMP pun sudah diwajibkan untuk berinteraksi dengan dunia internet untuk tugas-tugas sekolahnya.

      Perumus UU Pornografi pikirannya sudah jauh ke depan mengantisipasi kasus-kasus pelecehan seksual anak.

    • netizen indonesia says:

      Assalamualaikum,

      Sepakat Mas. Untuk definisi ini pakaian minim pun dianggap sebagai nudity di barat sana, gampangnya melanggar norma susila adalah nudity. Bisa dilihat di wikipedia, definisi nudity berkembang seiring perkembangan budaya. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, dalam islam, batas nudity adalah aurat. Namun beda budaya beda norma kesusilaannya. Dan untuk hal ini jangan coba2 untuk memaksakannya tanpa mencederai prinsip kebhinekaan kita.

      Kembali ke UU, UU adalah landasan hukum yang harusnya bersifat jelas dan tegas. Tidak boleh ada kriteria ambigu seperti ini. Ini PR untuk dewan yang terhormat yang telah kita pilih April lalu. Bila kriteria “maaf” telanjang dideskripsikan sehingga konten yang masuk kriteria melanggar harus dihapus tidak ada toleransi, bahkan untuk kepentingan pendidikan dan seni sekalipun.

      Misalnya gaya busana wanita (remaja dan anak2) sekarang, sampai sejauh mana konsep ketelanjangan ini? Celana hot pants? Rok mini? Pak Yuli jangan menutup mata akan hal ini, tayangan di TV saja sering terlihat busana seperti ini. Apakah ini masuk kriteria nudity? Setahu saya sensor hanya dilakukan pada bagian2 intim yang terekspos, namun pernahkah melihat “maaf lagi” paha-paha remaja putri kita yang dibalut pakaian minim berlenggok lincah ala idol group atau girlband? Apakah paha bukan bagian intim?

      Sederhananya begini, kita meminta suatu website menghapus konten pornografi dan terjadi yang Bapak bilang ketidak sepahaman konsep pornografi ini, maka bagaimana kita akan menegakkan aturannya? Karena serba tidak jelas. Sampai sejauh mana konten yang dianggap porno yang masuk definisi UU itu?

      Itu maksud saya mengenai ketidak jelasan lingkup porno ini, bukan masalah dewasa atau tidaknya namun mengenai kepastian hukum dan penegakan ke depannya.

      Wassalamualaikum.

  27. Kaezzar says:

    Pemblokiran sebaiknya dilakukan menurut priority, yaitu untuk web2 yg content pornografi/dewasanya eksplisit. Orang yg mencari konten pornografi tidak akan mantengin youtube atau vimeo karena persentase yg memuat adult content sgt sedikit dan eksplisitasnya pun relatif boleh dikategorikan low. Sementara video2 bagus yg bermuatan positif yg persentasenya lbh besar justru malah tidak dpt diakses sama sekali. Jadi ibaratnya saat rumah sedang kebocoran dr mulai halaman sampai kamar tidur, pilihan blokir situs spt vimeo ini seumpama menutup lubang kecil yg letaknya di halaman dekat pagar luar, sangat tidak urgent. Padahal bocor2 lain yg jauh lbh banyak dan besar dan terletak di tempat2 penting spt kamar tidur, ruang tamu dan dapur malah blm optimal ditambal. Jd sebenarnya kl mau dilihat dr kacamata objektif, sangat wajar banyak org yg kecewa dgn kebijakan ini, karena jelas dr segi efektifitas dan prioritas dpt dikategorikan very low.

    • Apakah Anda yakin sedikit, mas? 🙂

      Saat ini rame kasus homoseksual, pedofilia, pelecehan sodomi.
      Coba deh ketik di menu pencarian Vimeo: gay, homosexual, lesbian, atau contoh nama2 porn actress… akan Anda temukan materi2 yg sifatnya mature… dan itu jumlahnya ribuan. Terlepas sifatnya low atau tidak, tapi jelas-jelas menampilkan ketelanjangan, dan itu bukan untuk edukasi.

      Alasan mendasar soal blokir itu adalah pemahaman ttg pornografi yg berbeda antara Vimeo dg UU Pornografi, seperti yg telah saya jelaskan di atas.

    • Sayid Al-Ghifari says:

      Setuju! KARYA KAMI anak-anak muda banyak di situ! Saya memiki beberapa film dokumentasi saya tentang PENELITIAN LAPANGAN untuk di-share DI SITU… Kenapa malah diblokir???! Aneh sekali….sama saja seperti sedang membakar perpustakaan!!! KENAPA justru situs-situs seperti arrahmah.com dan voa-islam.com yang nyatanya mengandung PROVOKASI tidak diblokir? Kelihatan kan polititasasinya….

    • Baca lagi yang menjadi Alasan Utama (warna merah) dan Pengingat Fokus (di akhir jurnal ini) ya, mas Sayid. Jangan langsung main komen saja.

      Pemblokiran ini sifatnya sementara sampai ada sikap kerjasama dari pihak Vimeo dalam menanggapi surat Kominfo.

    • Kaezzar says:

      Sebab situs tsb BUKAN domain pornografi, ribuan pun persentasenya akan terlihat sedikit kalau dibandingkan total video yg jumlahnya bisa mencapai jutaan.

      Dan saya tegaskan sekali lagi, saya TIDAK menyanggah bahwa ada konten dewasa di dalamnya, tp karena jumlahnya yg sedikit dan eksplisitasnya tidak separah situs porno. Karena itu prioritynya saya kategorikan low.

      Masalah LGBT? Ya, saya sadar itu, tp kalau anda mau jujur n objektif, situs porno menawarkan konten yg eksplisitas dan jumlahnya berkali2 lbh banyak ketimbang situs semacam vimeo atau youtube.

      Karena itu yg saya sayangkan adalah keefektifitasan dan keefesiensiannya. Saya akui kebocoran itu ada, tp lubangnya kecil dan letaknya di luar dekat pagar, kenapa ko malah milih menambal lubang di sana sementara yg di dalam rumah d ruang tamu, kamar tidur dan dapur yg lubangnya JELAS lebih besar dan banyak malah luput? Ini yg menjadi INTI pertanyaan

    • Baca lagi yang menjadi Alasan Utama (warna merah) dan Pengingat Fokus (di akhir jurnal ini) ya, mas Kaezzar, agar bisa memahami bahayanya, bukan sekadar kebocoran kecil lho.

      Pemblokiran ini sifatnya sementara sampai ada sikap kerjasama dari pihak Vimeo dalam menanggapi surat Kominfo. Kominfo sudah memperingatkannya sejak tahun 2012, tapi tidak ditanggapi.

      Kalau ada situs porno eksplisit ini menjadi kontrol publik alias kita bersama, gak mungkin Kominfo proaktif mantau satu-per-satu URL yg bersembunyi dibalik kode pencarian. Kalo publik menemukannya maka segera laporkan. Jadi, bukan berarti yg eksplisit ini dibiarkan, sudah hampir 1 juta yg di-blok Kominfo.

  28. xidz says:

    http://www.reddit.com/r/youtube/comments/1to29d/since_when_does_youtube_allow_nudity/

    Youtube mengizinkan pornografi eksplisit. Kenapa enggak blokir YT sekalian aja?

  29. andi says:

    Mas Iwan, imo, metode yg ditawarkan oleh Katrina lebih pas diterapkan pada pelajar sekolah menengah (high school) bukan kpd semua kids, karena sebagai older kids akal mereka sudah berkembang dan mampu memilih. Sedangkan anak2 yg belum baligh atau younger kids, akal mereka masih membutuhkan perintah daripada pilihan, tuntunan daripada arahan, dan otak mereka lebih banyak menyimpan informasi daripada mengolahnya.

    Dari diskusi seru yg cukup panjang antara saya dan istri akhirnya memutuskan perlunya larangan bagi anak2 untuk mengakses internet baik melalui komputer maupun piranti elektronik lainnya, setelah pembatasan yg diterapkan belum mampu dipenuhi oleh mereka yang usianya saja belum menginjak 8 tahun.

    • Setuju, mas Andi. Kalo belum cukup umur, perlu pendampingan untuk akses internetnya, tidak bisa dilepas sendirian. Karena di internet terkadang muncul pop up yang menampilkan gambar kategori dewasa.

      Kondisi saat ini, anak-anak kelas 1 SMP sudah diminta bikin paper yg referensinya ngambil di internet, otomatis sang anak akan melakukan browsing. Ini bahaya kalo tanpa edukasi dan filter sistem saat dilepas sendirian.

  30. jampang says:

    saya malah baru tahu kalau ada situs itu setelah ada pemblokiran 😀

    • Masih ada 2 lagi situs besar yg sudah diblokir, padahal dari luar kelihatan baik-baik saja, ternyata di dalamnya .mengandung pornografi. 2 situs yg diblokir ini gak seheboh Vimeo pemberitaannya.

  31. If blocking the site is the solution, just block Google and any other search engine. There is only one way, and that’s not blocking the site. Parents who care about this should start giving early & RESPONSIBLE sex education to their kids. The best filter ever is the brain.

    And don’t say that it’s difficult. It is not difficult. It is VERY DIFFICULT. But, hey, no good thing ever comes easy.

    And for every parents out there who let the underage kids watch porn because they think that watching porn is a form of sex education, well, try doing it the way it is shown in porn and be ready for some serious embarrassing injury.

    • Thank for your opinions, brother Edwin.

      Then, how about the sex predator which are un-educted people?
      They can access easily (on warnet or their own pc) and have a problem with internet porn addiction.

      Kindly read my flash fiction to understand my question above:
      https://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/11/29/quiz-4-kelalaian-yang-dibayar-mahal/

    • Only one way to deal with ACTIVE sex predators: death.

      As long as they keep their perverted fantasies to themselves, I have no problem with them. No one can punish anyone because of thoughts and fantasies. Acting up to it, however, is something else.

    • Only one way to deal with ACTIVE sex predators: death. I agree. But, the problem is our law haven’t set the death for perpetrators of child sexual abuse or rapist.

      Brother Edwin, kindly read “Pengingat Fokus” at the end of this journal, to equalize the frequency of our discussion.

    • Yup, and that’s why I said “And for every parents out there who let the underage kids watch porn because they think that watching porn is a form of sex education, well, try doing it the way it is shown in porn and be ready for some serious embarrassing injury.”

      People need to distinguish sex from porn. The first is God’s gift for procreation, the second is human invention.

    • Yes, “the problem is our law haven’t set the death for perpetrators of child sexual abuse or rapist”.

      This, I think is more urgent than blocking internet sites. Because once we start blocking one site because of several inappropriate contents while disregarding other useful contents which may be much more in numbers, we will eventually block the internet.

      Even Wikipedia, which many people find useful, also contains some nudity contents, or even sexually-related contents. Will this useful website be blocked as well?

      Better use our energy to guide our children, and to petition for death penalty for sexual predators. It’s not easy, but those who hope for an easy solution have no right to be parents at all; being parents is never easy.

    • Another important thing all parents must do: teach your children at least some basic self-defense so they can defend themselves properly.

      As the old saying says, “You cannot rape a .357 magnum”, in countries where civilian firearm is limited you can also say that a hard kick on the balls will turn off the most hardcore sexual predator.

  32. Yudhi Hendro says:

    Dalam portal berita tertentu, ada juga konten majalah online yg mengarah pada pornografi yg bisa diunduh. Menurut saya seharusnya hal itu juga ikut diblokir. Bagaimana tanggapan bapak?

  33. Icha SF says:

    Reblogged this on se.pe.da.kwi.tang and commented:
    “Kalau Anda sendiri tidak mampu menyetop pornografi, ya jangan sibuk mencemooh mereka yang telah berusaha keras menyetopnya, padahal mereka berjuang keras menyamakan pemahaman tentang pornografi dengan berbagai situs di dunia agar sama pemahaman dengan UU Pornografi di Indonesia.”

    heran dengan beberapa makhluk yang hobbi nge-bully Pak Tif, seolah dirinya jauuuh lebih baik..

  34. Dyah Sujiati says:

    Betul pak. Meski pemblokiran vimeo kurang optimal dalam pencegahan pornografi, tapi setidaknya ‘tragedi’ ini bisa ‘sedikit’ menyentil kesadaran masyarakat kita yang sok humanis tapi -pura-pura- lupa dengan bahaya laten pornografi itu.

  35. azzahravoice says:

    mereka yang tidak menginginkan indonesia sehat dan bangkit memang akan selalu merusak kita 😦

  36. jangan-jangan masalah ini jadi besar dan mentrinya ‘dibully’ di dunia maya bukan karena faktor mentrinya kali ya Mas Iwan, tapi siapa menteri dan dari mana ia berasal… 🙂

  37. nengwie says:

    Tugas orang tua semakin berat ya Mas Iwan… mudah2an anak-anak kita selalu dilindungi Allah SWT aamiin.

  38. Mudah mudhan caleg yg kampenye seronok itu gak lolos khan bang…

  39. yudiwbs says:

    Saya tidak akan membahas Vimeonya karena sudah banyak dibahas dimana-mana dan sayangnya menurut saya itu justru bukan hal yg penting. Kenapa? Dari sisi teknologi blokir di Indonesia sangat banyak kelemahannya. Mungkin bermanfaat bagi anak-anak yang tidak sengaja membuka situs, tapi bagi remaja (remaja disini mungkin mulai dari kelas 6 SD) yang didorong rasa ingin tahu, libido tinggi dan menguasai teknologi, blokir di Indonesia sangat gampang ditembus. Cara menembusnya juga sudah tersebar kemana-mana. Mereka juga menggunakan teknologi sederhana seperti bertukar flasdisk untuk bertukar materi pornografi.

    Artinya sebenarnya blokir yg sekarang dilakukan pemerintah justru tidak mengena ke orang-orang yang menjadi target seperti yg bapak sampaikan. Yang kena adalah user biasa yang umumnya mengakses content yg normal. Bagi yang biasa mengakses situs pornografi paling senyum2 saja karena bagi mereka langkah ini tidak terpengaruh samasekali.

    Nah pemblokiran model Indonesia yg cuma sekedarnya justru berbahaya karena menipu ortu, membuat mereka terbuai. “oh sekarang kan sudah diblokir, nggak apa-apa anak saya akses internet di kamar sendirian, udah aman kok”. ” sekarang sudah aman, saya nggak perlu memberikan pengarahan pada anak saya tentang perilaku seks berbahaya ” dst. Ini yang berbahaya dan sayangnya justru jarang dibahas.

    • yudiwbs says:

      Maaf keputus.. mengenai solusi, kalau secara teknologi menurut saya sangat sangat sulit karena Chinapun yang menggunakan sumber daya yg luar biasa besar untuk memfilter internetnya masih bisa ditembus. Jadi solusi yg bisa adalah (sebagai ortu):

      1. Asumsikan tidak ada blokir situs. Blokir sudah lumayan untuk memblok user biasa agar tidak sengaja masuk. Tapi jangan berharap itu efektif untuk anak kita yg beranjak dewasa. Seperti menggunakan kertas koran untuk menahan peluru.

      2. Jangan biarkan anak mengakses internet di kamar dan tempat tertutup, usahakan mereka mengakses di tempat umum di rumah misal ruang baca, ruang belajar dst. Tapi ini juga sulit karena seringkali anak sendirian di rumah saat ortunya kerja.

      3. Perhatikan device yang digunakan anak spt tablet dan smartphone. Ortu harusnya dapat melihat semua lalulintas komunikasi anak (FB, SMS, line, BBM, WA). Tapi inipun sulit karena banyak app yang menyediakan cara untuk menyembunyikan ini. Jadi sama seperti point1: asumsikan anak bisa mengakses pornografi melalui smartphone/tablet.

      4. Ini yang terpenting karena kalau kita lihat point 1-3, tidak ada yg bisa mencegah anak untuk melihat materi pornografi kalau dia mau. Jadi pendekatan non teknologilah yang paling efektif: diskusi dengan anak tentang hal ini.

    • Terimakasih atas sharing idenya, Pak Yudi.
      Cukup menarik pemaparannya, saya pun juga mencoba menerapkan yang demikian untuk lingkup kecil, internal keluarga.
      Pendekatan non teknologi dalam artikel Katrina Schwartz bisa juga menjadi inspirasi.

      Untuk lingkup yg lebih luas, seperti yg telah saya sampaikan di atas, tindakan blokir memang masih belum cukup efektif mencegah, karena begitu banyak cara untuk bisa menembus. Tapi kalo dibuka full aksesnya malah justru membuat kondisi makin tak terkendali karena akan menjadi santapan rutin bagi predator yang un-educated people.

      Maksud saya begini, pak, … secara pengendalian akses internet oleh anak-anak cukup aman, mereka paham dampak negatif mengkonsumsi pornografi, dan selanjutnya bertumbuh menjadi anak baik-baik. Nah, yang menjadi masalah… di luar pagar halaman rumah kita begitu banyak predator yang otaknya sudah error karena porn addicted, setelah akses dibuka seluas-luasnya.

      Bisa kita baca berita di koran, bagaimana para predator (un-educated people) itu memangsa anak baik-baik (yg educated people), hampir setiap hari muncul kasus yg demikian.

      Jadi, blokir situs memang hanya bersifat meminimalkan dampak, bukan obat mujarab. Dalam kondisi ini, perlu diciptakan payung hukum yg kuat, yg mampu membuat calon predator berpikir ribuan kali sebelum berbuat.

    • yudiwbs says:

      Maksud saya bukan dibuka bebas, blokir sih tetap perlu ada untuk situs eksplisit agar anak kecil dan orang awam tidak masuk secara tidak sengaja ke situs pornografi. Tapi urusan blokir ini jangan terlalu dibesar-besarkan. Analoginya, blokir bagi orang yg niat mengakses situs pornografi seperti menggunakan triplek untuk menahan kereta api, sangat tidak efektif. Jadi untuk apa kita gadang-gadang triplek ini? Hanya akan memberikan rasa aman semu. Lebih cocok yg kita promosikan adalah bagaimana supaya orang menjauhi rel kereta api, atau kalapun harus menyebrang harus hati-hati, atau buat penyeberangan di atas kereta api dst.

  40. lieshadie says:

    Pak Iwan, ijin share di twitter dan Facebook boleh ? Biar menjadi diskusi bersama…

    Hal semacam ini memang seharusnya, mungkin tidak hanya situs Vimeo tapi juga situs situs porno yg lain.

    Mungkin ada baiknya, juga filter kata kunci, ato adanya gerakan peduli kata kunci seperti yg prnh di lakukan oleh komunitas warung blogger….

    • Silakan, mbak Lies.
      Masalah utamanya adalah beda pemahaman tentang pornografi antara Vimeo dengan UU Pornografi RI. Menurut TOS-nya Vimeo, meski telanjang bulat dan nari striptis, selama tidak melakukan aktivitas berhubungan seksual maka itu tidak dikategorikan sebagai pornografi, sehingga bisa diterima, artinya videonya tidak dilarang di-unggah di sana.

      Lha ini khan bahaya.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: