Home » Indonesia Crisis » Keblingernya Pembenaran Dalam Budaya Anti Kritik

Keblingernya Pembenaran Dalam Budaya Anti Kritik

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Awalnya tidak ada keinginan menulis di blog untuk merespon ucapan Pak Jokowi tentang “panggil programmer, 2 minggu selesai” dalam debat perdana capres-cawapres. Karena saya yang cukup lama bergelut di dunia pembangunan aplikasi e-Government, meng-apresiasi program Pak Jokowi tentang sistem informasi untuk pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah. Namun, alangkah sedih rasanya ketika membaca sebuah berita online tentang Kelompok Pendukung Jokowi yang berusaha melakukan pembenaran atas ucapan capres-nya tersebut. Karyanya cukup positif, namun cara penyampaian tujuan karyanya ke publik saya rasa menyesatkan. Disadari atau tidak, ini sama dengan membangun budaya anti kritik. Oleh karena itu, saya tergelitik untuk meluruskannya dalam blog ini.

Sila simak baik-baik berita di bawah ini:

Buktikan Janji Jokowi Bidang IT, Aplikasi Smartphone Diluncurkan. [Liputan6, 12/6/2014]
Sebagian kutipan dalam berita tersebut:

Pada debat perdana capres dan cawapres Senin 9 Juni lalu, capres Joko Widodo menyatakan, proyek IT untuk program pemerintah dapat diselesaikan dalam waktu 2 minggu oleh programmer. Hal ini berusaha dibuktikan oleh relawan Jokowi-JK yang tergabung dalam Rumah Koalisi Indonesia Hebat, dengan membuat sebuah aplikasi dalam waktu 24 jam. Hasilnya, sebuah aplikasi mobile bernama ‘Joko Widodo RI-1’ kini tersedia di Apple AppStore.

Aplikasi itu disediakan untuk warga yang ingin mengenal figur Jokowi. Aplikasi itu berisi referensi multimedia, fitur aspirasi, dan quiz. Salah satu fitur yang menarik adalah fitur ‘Your Voice’, untuk menyampaikan aspirasi harapan warga apabila Jokowi terpilih sebagai presiden dalam pilpres 9 Juli nanti.


Bagaimana menurut Anda? 🙂

Saya yakin mereka yang bergelut di bidang pemrograman paham apa itu e-Government. Namun, bila kemudian menganggap aplikasi mobile tersebut adalah e-Government itu sama dengan keblinger demi sebuah pembenaran. Mereka pasti tahu bahwa e-Government itu banyak ruang lingkupnya terkait dengan proses interaksi pelayanan publik dan transparansinya. Semoga mereka sadar untuk tidak terbiasa memanfaatkan keawaman publik demi tujuan politik.

Tim Rumah Koalisi Indonesia Hebat akan sangat bijak bila dalam me-launching aplikasi mobile ‘Joko Widodo RI-1’ itu tanpa embel-embel: “membuktikan janji Jokowi bidang IT”. STOP pembodohan publik!

E-government adalah penggunaan teknologi digital untuk mentransformasi kegiatan pemerintah yang bertujuan meningkatkan efektivitas, efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik atas pelayanan publik. Sehingga manfaat yang didapat antara lain:

  1. Meningkatkan pelayanan pemerintah kepada warganya.
  2. Mempercepat proses pelaporan saat dibutuhkan oleh setiap pengambil keputusan.
  3. Meningkatkan akurasi data dan relevansi informasi.
  4. Meningkatkan interaksi dengan dunia usaha.
  5. Meningkatkan transparansi pelaksanaan tugas pemerintahan.
  6. Meningkatkan efektifitas administrasi sehingga berpeluang dalam meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
  7. Memberdayakan masyarakat melalui distribusi informasi dan transparansi.
  8. Tersedianya database provinsi / kabupaten / kota yang up to date.

Nah… apakah aplikasi yang dibuat oleh Rumah Koalisi Indonesia Hebat tersebut mampu menjawab manfaat-manfaat tersebut di atas?
Jelas Tidak. Karena aplikasi tersebut hanya fitur informasi capres. Maka tidak layak menyampaikan informasi ke publik bahwa mereka telah membuktikan janji Jokowi di Bidang IT, karena ruang lingkupnya beda jauh dengan yang dipaparkan Pak Jokowi dalam debat capres.

Saat debat perdana capres-cawapres, soal “panggil programmer, 2 minggu selesai”, mungkin saja Pak Jokowi terpeleset ucapan karena saking semangatnya, atau nervous disaksikan banyak orang, atau bisa jadi karena ngelantur.



Dalam debat perdana tersebut, Pak Jokowi menyampaikan bahwa e-government, terdiri dari e-procurement, e-budgeting, e-catalog dan e-audit sudah diterapkan semuanya di Pemda DKI. Yang memahami betapa pentingnya proses otomasi dan transparansi di lembaga pemerintahan, pasti akan mengapresiasi langkah ini.

Namun, sejatinya Pemprov DKI masih mempunyai PR besar dalam penerapannya hingga saat ini. Mari kita evaluasi satu per satu sistem informasi yang disebutkan Pak Jokowi dalam debat perdana tersebut:

  1. e-Budgeting. PR besarnya: Anggaran Ganda pada APBD tahun 2014 mencapai 6 Triliun [Kompas], bahkan bisa saja bertambah besar, diprediksi mencapai 10 Triliun. [Gatra].
  2. e-Procurement. PR besarnya: Kasus Mark Up Pengadaan Bus Transjakarta senilai Rp 1,5 Triliun yang dinilai lemah dalam proses pengadaannya, dimana ada kawan separtai Pak Jokowi dan menjadi timsesnya turut bermain. [Tempo].
  3. e-Catalog. PR besarnya: Serapan anggaran Pemprov DKI hingga 16 Mei 2014 baru mencapai 8 persen. Maka penggunaan sistem online ini harus segera di-evaluasi, mengapa sampai dirasa menghambat proses lelang proyek terkait program kerja pemprov DKI Jakarta. [Tempo].
  4. e-Audit. Pemprov DKI Jakarta mendapatkan pengakuan dari BPK sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menggunakan transaksi keuangan berbasis electronic audit (e-Audit). Hal ini memudahkan BPK dalam memantau segala bentuk penggunaan anggaran, sehingga akan tercipta transparansi penggunaan anggaran. PR besarnya: Pemprov DKI sampai saat ini belum juga memajang rincian APBD DKI Jakarta 2014. Padahal APBD sudah disetujui DPRD DKI Jakarta pada tanggal 22 Januari 2014 lalu. Dan ICW pun sudah mengingatkannya bulan Mei lalu. [Viva News].

Itulah PR besar sebagian dari program e-Government di Pemprov DKI Jakarta, sebagai bukti bahwa sesungguhnya secara implementasi belum sempurna mencegah penyimpangan proses pengelolaan pemerintah daerah tersebut. Perlu manajemen pengawasan dan disiplin eksekusi yang baik agar semua pihak merasakan manfaat dari program e-Government. Adalah terlalu prematur bila masih ada PR besar itu disebut sebagai keberhasilan implementasi, apalagi sampai menggampangkan bahwa urusan bisa kelar dalam 2 minggu oleh programmer. Karena faktanya belum pernah ada aplikasi e-Government yang dibangun dalam waktu 2 minggu.

Selain 4 program / sistem informasi di atas, masih banyak program lainnya dalam lingkup e-Government, seperti e-Filing pembayaran pajak, e-KTP, e-SAMSAT, dll sesuai jenisnya apakah Government-to-Citizen (G2C), Government-to-Business (G2B), atau Government-to-Government (G2G). Dari sini saja terlihat bahwa, e-Government itu untuk sistem yang mencakup seluruh aspek di Indonesia, dan harus terintegrasi satu sama lain dan dapat disaksikan seluruh masyarakat secara transparan dan real time.

.
Lantas, berapa lama idealnya selesai membangun aplikasi e-Government?

Begini … seandainya Anda di posisi Project Manager, coba bikin simulasi work breakdown structure untuk langkah-langkah proyek berikut ini.

Pertama:

Memastikan bahwa dokumen user requirement sudah lengkap dan ditandatangani pejabat negara yang berkepentingan. User requirement itu biasanya dituangkan dalam bentuk Kerangka Acuan Kerja (KAK).

Kedua:

Karena e-Government bukan proyek ecek-ecek, maka bentuklah tim dengan SDM yang terbaik untuk menghasilkan aplikasi dengan kualitas terbaik, yang terdiri dari:
– Tim Process Analyst: menyiapkan Business Process & System Analysis;
– Tim Analyst: DataBase dan System Analyst;
– Tim Designer: Web dan User Interface Designer;
– Tim Copy Writer: untuk merancang keterangan, error message, dan respon yang akan diterima pengguna, sehingga mudah dipahami;
– Tim Developer: Web dan DataBase Developer;
– Tim Tester: Functional, Integrator, Security, Stress, Regression, dan Unit Tester;
– Tim Administrator: DataBase, System dan Network Administrator;
– Tim User untuk usability testing.

Besarnya tim tergantung Cost (biaya development), Time (target penyelesaian), and Scope (lingkup sistem yang akan didevelop).

Ketiga:

Memastikan kesiapan infrastruktur kebutuhan internal yang meliputi software dan hardware. Jaringan antar PC, server, baik untuk developer, tester, sampai ke user, sudah tersetup. Semua sistem pendukung sudah terinstal. Termasuk teknologi untuk disaster recovery system.

Kemudian juga memastikan kesiapan infrastruktur kebutuhan eksternal (pihak pengguna). Jangan sampai aplikasi yang dibangun tidak bisa jalan dengan baik di sisi pengguna. Di sinilah perlunya System Architecture yang benar-benar jelas. Idealnya mempunyai data center sendiri dengan server-server yang mampu menangani proses transaksi data besar.

Keempat:

Tim Process Analyst dalam menyiapkan Business Process & System Analysis (BPSA) harus benar-benar lengkap dalam menjabarkan user requirement sebelum diserahkan kepada Tim Developer (programmer), yang mencakup:
– Mock up (desain tampilan yang akan digunakan oleh pengguna);
– Desain input / entry yang akan dipakai (tipe data, korelasi antar input, besar maksimum input);
– Desain format report yang akan digunakan / dikeluarkan oleh sistem;
– Technical Requirement seperti maksimum waktu loading page, transaksi per detik yang harus bisa ditangani, sistem yang akan terkoneksi dengan sistem yang akan dibangun – plus metode koneksi dan spesifikasi komunikasinya. Ini penting, sebab sistem harus mampu menghandle file (mengelola big data) yang sudah kebanyakan agar tidak lemot saat di-akses.

Dalam proses ini, tim process analyst akan sering berdiskusi dengan pejabat pengguna (user) tentang kondisi saat ini dan kondisi ideal yang akan dibangun. Serta memastikan dasar hukum atau regulasi yang berlaku telah diadopsi dalam rancangan aplikasi tersebut. Segala bentuk laporan cetak dari hasil proses kerja user dikumpulkan oleh tim. Dan yang penting lainnya, menginventarisir masalah-masalah yang dialami user dalam prakteknya (sebelum menggunakan aplikasi atau selama menggunakan aplikasi yang lama).

Kebanyakan produk gagal (tidak bisa dipakai di tengah jalan oleh pengguna) itu disebabkan karena Tim Process Analyst tidak mampu menggali lebih detail kebutuhan pengguna. Padahal programmer membangun aplikasi berdasarkan BPSA yang disusun Tim Process Analyst.

Proses keempat ini tentu butuh waktu yang cukup lama sampai benar-benar rancangan siap. Bila tidak lengkap dan detail, maka ini akan merepotkan programmer. Sekecil apapun perubahan, apalagi pada level tampilan, berpotensi menyebabkan perombakan besar-besaran di bagian back-end system.

Kelima:

Masing-masing programmer harus memegang dokumen BPSA yang sudah divalidasi. Kemudian men-develop modul satu per satu secara serial bila ada kaitan antar modul. Sedangkan yang tidak ada kaitan komponennya bisa dikerjakan secara paralel untuk menghemat waktu.

Selama proses pembangunan aplikasi, Tim Administrator harus standby / siap meng-handle bila terjadi error. Project Manager harus memantau proses development dan memberi masukan ketika ada kesulitan.

Proses kelima ini juga butuh waktu yang cukup panjang, tergantung banyaknya modul.

Keenam:

Tim Tester melakukan pengujian per modul. Setelah diuji, tester memberikan feedback ke programmer untuk dilakukan perbaikan. Bila perbaikan selesai, dilakukan pengujian kembali. Demikian seterusnya sampai benar-benar bug error di-eliminasi secara maksimal, karena nyatanya sulit bisa 100% free error.

Proses keenam juga butuh waktu sampai benar-benar modul-modul tersebut dinyatakan lulus uji dan siap dirilis ke User.

Ketujuh:

Pengujian oleh User. Setelah selesai dan lulus uji, minta user menandatangani form pengujian.

Proses ketujuh ini juga butuh waktu sampai benar-benar semua modul tersebut dinyatakan lulus uji. Kondisi pengujian oleh internal tentu berbeda dengan kondisi pengujian oleh user yang lebih memahami regulasi / kebijakan pemerintah dan apa maunya.

Itulah gambaran singkatnya pembangunan aplikasi, belum termasuk penyiapan modul bantuan, modul pelatihan, pelaksanan pelatihan kepada pengguna, hingga monitoring implementasi dan perbaikan.

Cukup jelas bahwa membangun e-government bukan hanya desain dan coding saja, tapi juga butuh analisis tiap daerah, tiap aspek, penyiapan sarana teknologi, apalagi untuk implementasi di pelosok apakah infrastruktur dan SDM-nya sudah siap. Ingat, kondisi geografis di Indonesia adalah tantangan besar dalam implementasi e-Government. Jadi, semua itu tidak cukup hanya dengan memanggil programmer, dibutuhkan juga orang non IT yang ahli di bidang yang menjadi ruang lingkup.

FOKUS-nya adalah bagaimana program e-Government tersebut bisa diimplementasikan dengan baik oleh user, sehingga bukan program asal jadi yang berpotensi tidak bisa dipakai.

Bukankah aplikasi e-Governement sudah lama ada, jadi gak perlu bikin dari awal, tinggal mengembangkan saja?

Betul, sudah lama ada.
Namun yang perlu Anda ketahui bahwa proses kerja di pemerintahan sifatnya dinamis tergantung peraturan yang baru atau kebijakan pemimpinnya, dengan demikian tentu diikuti dengan perubahan sistem informasi. Kalau perubahannya sedikit, tinggal kustomisasi program yang ada. Namun, tidak demikian bila ada perubahan peraturan yang signifikan, maka proses kustomisasi program akan dibutuhkan effort yang cukup besar pula. Coba deh tanyakan kepada banyak programmer, mana yang menurut mereka lebih sukai, mendevelop dari awal (scratch) atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada?
Mayoritas akan menjawab lebih mudah bikin dari awal daripada ngulik/ngoprek sistem yang sudah ada. Mengapa bisa begitu? Cukup panjang bila dijelaskan faktor-faktornya di sini 🙂
Yang perlu dipahami bahwa teknologi pemrograman akan selalu up to date dari tahun ke tahun. Begitu juga style pemrograman tiap orang berbeda.

.
Tapi ini bisa menjadi menarik lho, bila Kemkominfo melalui ajang lomba INAICTA mau mencoba membuat tantangan bagaimana membuat proyek IT pemerintahan dalam waktu 2 minggu, dengan ruang lingkup aplikasi misalnya tentang transparansi pengelolaan anggaran daerah. Gambaran spesifikasi dari panitia lomba meski tidak detail, sedangkan peserta baru bisa membukanya saat dimulai pelaksanaan lomba. Untuk mendapatkan spesifikasi detailnya, peserta harus kreatif menggali informasi berdasarkan kebijakan / regulasi yang berlaku. Peserta diberi waktu hanya dua minggu untuk membangun aplikasi dengan memanfaatkan resources yang ada.

Kalau sudah terbukti ada pemenangnya, dimana aplikasinya bebas bug error, dan mampu menghasilkan data-data yang akurat dan stabil melalui berbagai pengujian ekstrim, ada alert untuk setiap bentuk penyimpangan, dll… maka barulah valid tentang ungkapan: “Panggil programmer, 2 minggu selesai”. Jangan lupa panggil MURI untuk mencatatkan rekor-nya.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
15.06.2014

Advertisements

115 Comments

  1. Fadli Kaban says:

    Melihat tendensi comment nya, memang ada baiknya qta buang tendensi politiknya. Oke, coba kita anggap yang berbicara BUKAN Jokowi maupun Prabowo. Tapi Menkominfo kita di masa depan (entah siapa). Dan silahkan baca lagi tulisan di atas. Maka sense kita akan bisa menilai secara berimbang.

    Ada beberapa sanggahan dr artikel d atas yaitu tentang core program nya sudah ada (seperti pada twit salah satu ahli IT terkemuka kita). Tapi qta akan menafikkan apabila qta dengan beralasan core nya sudah ada, maka bikinnya gampang. It’s not as simple like that. Programming, di mata saya, seperti seni. Menggunakan logika programmer lain tidak semudah yang anda kira, bila anda benar2 mengoprek (bukan sekedar ambil-tempel) sebuah kode bahasa pemrograman. Oke, itu mungkin teknis, tapi dasar dari pemrograman adalah flow. Setiap orang punya flow yang berbeda ketika menafsirkan suatu dokumen mentah dan mengubahnya dalam bahasa pemrograman. Ada yang berfikir untuk membuat fungsi2 dulu untuk kemudian dipanggil ketika dibutuhkan, ada yang memilih menaruh semua fungsi di satu method, dll.

    Jelas, tanpa ada bukti, maka kata2 saya hanya omong kosong belaka.
    http://open.bless.gov.my/
    Link di atas adalah project dari pemerintah Malaysia. Dan, believe it or not, programmer Indonesia lah yang mendevelop mayoritas system d atas melalui perusahaan cabang d Indonesia. Project ini bisa diistilahkan sebagai E-Licensing, atau proses perijinan online terpadu. Project ini sudah berjalan hampir 4 tahun lebih. 1-2 tahun pertama adalah mendevelop yang disebut sebagai Core System yang ada d sana. Sampai sekarang, system ini mash dalam proses develop. Mengapa proses nya lama, sudah dijelaskan di artikel d atas. Ditambah lagi dengan satu proses lagi yang sampai sekarang mash berjalan. Yaitu proses integrasi (Data lama dimasukkan ke dalam system), CR (perubahan yang terjadi karena system birokrasi yang berubah), bug fixing, dan developing system2 penyangga ditambah developing system baru. Jelas kalo dari kacamata saya, yang kebetulan ada d tim developer, 2 minggu jelas mustahil. Dengan skala Nasional, dan resource anak negeri kita yang luar biasa, coresystem yang ada, system birokrasi yang lebh memadai (Maaf) dan jumlah SDM yang mencukupi (perusahaan multinasional), masih butuh lebh dari 2 tahun untuk menyelesaikannya (dan belum selesai). Padahal E-Licensing mungkin hanya bagian dari E-Goverment yang menjadi bahasan d sini. Memang, sebagian dari system E-Licensing sudah berjalan d negeri seberang, tp kembali lg, belum semua berjalan dan mash underdeveloping. Sedangkan tagline d atas itu “Dua minggu selesai…” Kan?

    Salam hangat…

  2. ijin share, mohon maaf minta ijinnya belakangan, share duluan
    terima kasih atas tulisan yang sangat hebat ini

  3. Tulisan yang sangat edukatif mas terutama untuk saya yang masih awam di bidang IT. Saya menantikan tulisan edukatif lainnya.

  4. Tulisannya bagus dan komprehensif 🙂

    Setahu saya proyek pemerintah harus mengacu pada standar biaya bappenas 98 atau 2000. Kalau menggunakan bappenas 2000 yang lebih leluasa ketimbang 98, maka biaya man.days maksimum adalah 3,2x dari nilai gaji karyawan tersebut pada tahun sebelumnya yang dibuktikan dengan PPh 23.

    Misalkan gaji seorang programmer senior adalah 30jt / bulan, maka man.days yang diizinkan adalah 30jt x 3,2 = 96jt / bulan atau 48jt untuk 2 minggu. Jika proyek IT melibatkan maksimal 10 orang programmer, maka biaya maksimalnya 48jt x 10 = 480jt. Di luar itu bisa ada biaya non-operasional seperti lisensi dan perangkat keras. Kalau di Indonesia biasanya perbandingan antara service dan license sekitar 50:50. Jadi maksimum nilai proyek selama 2 minggu adalah 480jt x 2 = 1.060.000.000,-

    Proyek dengan nilai 1M itu sudah paling maksimal yang dimungkinkan secara peraturan. Itu pun kalau yang turun semua programmer senior semua (yang bergaji min.30jt). Setahu saya hanya sedikit perusahaan yang memiliki programmer senior diatas 20 orang. Perusahaan saya kebetulan adalah salah satunya.

    Sebetulnya pekerjaan 2 minggu itu mungkin saja. Tetapi skalanya pasti tidak begitu besar, sehingga dampaknya pun biasanya tidak besar. Meski tidak 100% setuju, saya tetap menghargai pemikiran Pak Jokowi tentang ini. Kalau mau berbaik sangka, mungkin beliau sekedar hendak menyemangati para programmer dalam negeri 🙂

    Salam 🙂

  5. […] Lagi-lagi, selalu saja muncul pembenaran dari barisan pendukung Jokowi. Seakan-akan kelalaian / penyimpangan yang dilakukan adalah hal yang wajar. [Simak juga jurnal: Keblingernya Pembenaran Dalam Budaya Anti Kritik]. […]

  6. herk says:

    Tidak perlu menghujat. Mari kita dukung siapapun yang menjadi Presiden kelak.

  7. Sondang Stevani Loupatty says:

    Reblogged this on Tinkerbell and commented:
    Worth to read. e-Government explanation in a brief 🙂

  8. puji rahmawati says:

    Terimakasih Mas Iwan Yulianto. Super banget. Sangat bermanfaat. Juga komentar2 lainnya yang melengkapi. Mencerdaskan. (Memang harus begini caranya untuk menjelaskan dan mencerahkan, atas upaya2 Pembodohan alias Asal Bunyi dari Capres Jokowi itu), ataupun terhadap capres lainnya klw memang tidak ilmiah ngomongnya. Tx

  9. IB says:

    Siapapun yg jadi presiden, gw tetap cari duit..kerja keras belajar terus. Peduli setan dengan statemen,semantik saat debat capres.iproyek it 2minggu atau kebocoran 7200T hanyalah semantik. Gw ga peduli. Tulisan di atas sbg pembelajaran bagi org awam ttg e-government.titik.

    Oiya, gw praktisi IT, bagian dari tim development e-government di wilayah timur Indonesia.

  10. adiatma says:

    tulisan yang mengedukasi…mohon izin share

  11. Terimakasih edukasinya pak iwan, Mohon Izin untuk bisa menshare keteman-teman lain.

  12. Zein Miftah says:

    sudah anda (pro jokowi) yang bukan programmer jadi programmer aja dulu biar tau! capek ngasi taunya klo udah susah dikritik.

    kecuali anda programmer pro jokowi, silakan buktikan dengan pemaparan yang mas Iwan Yulianto berikan.

  13. Ilham says:

    Rasanya lucu membaca komentar yang ada. Rata-rata komentar kritik jauh dari materi yang dipaparkan. Dan juga lebih kepada asumsi pribadi atas maksud perkataan Pak Jokowi, siapapun dapat berasumsi berbeda. Karena itulah asumsi pribadi tidaklah validasi tanpa bukti. Membuktikan oposan tidak punya bahan untuk menyangkal atau mungkin tidak punya ilmu.

    Latar belakang saya ekonomi, jadi tidak bijaksana kalau saya komentar mengenai proses pemrograman. Saya mau memberikan pandangan dari sisi user karena pernah mengaudit pemda. Berikut yang saya perhatikan:
    1. Pemda satu dengan lainnya belum tentu menggunakan program sistem keuangan yang sama. Apakah integrasi data dapat cepat dilakukan?
    2. Rata2 SDM tidak siap menerapkan program baru, karena program lamapun masih ada yang belum lancar juga dipelajari (gaptek). Bagaimana bisa mendapatkan feedback user dengan segera kalau meng-klik saja mungkin takut komputernya meledak? (yang ini hanya guyonan)
    3. Tidak tersedianya infrastruktur. Jangan samakan akses internet antara pulau jawa dengan pulau-pulau di Indonesia yang masuk zona waktu WITA dan WIT. Saya pernah temui pemda yang input catatan akuntansinya dilakukan di Badan Keuangan dengan mencopy data dari flashdisk, bahkan pengetikannya dilakukan di Badan Keuangan. Hal ini terjadi karena jaringan internet tidak bisa diandalkan.
    4. Peraturan yang beragam di tiap pemda untuk hal yang sama. Sehingga perlu mempelajari kasus per kasus, tidak bisa sekali pukul.

    Dari empat poin ini saja, sudah dapat dijadikan pertimbangan tambahan dalam pelaksanaan proyek IT. Semestinya ya lebih berhati-hati, bukannya menggampangkan.

    • anotherorion says:

      betul mas Ilham, ada istilah audit IT seperti yang mas Ilham contohkan untuk melihat keberhasilan implementasi IT, auditornya tidak selalu orang IT, orang ekonomi juga 🙂 dengan begitu kami bisa mendapat perspektif lebih luas terhadap evaluasi penerapan IT tersebut, karena sehebat apapun sistem IT, itu hanyalah alat saja untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Dari audit itu kita bisa melihat apakah implementasi IT tersebut benar2 bisa membawa keuntungan/ efisiensi, atau justru memperburuk kinerja.

  14. mengutip pernyattan anda diatas :
    1
    Bukankah aplikasi e-Governement sudah lama ada, jadi gak perlu bikin dari awal, tinggal mengembangkan saja?

    Betul, sudah lama ada.
    Namun yang perlu Anda ketahui bahwa proses kerja di pemerintahan sifatnya dinamis tergantung peraturan yang baru atau kebijakan pemimpinnya, dengan demikian tentu diikuti dengan perubahan sistem informasi. Kalau perubahannya sedikit, tinggal kustomisasi program yang ada. Namun, tidak demikian bila ada perubahan peraturan yang signifikan, maka proses kustomisasi program akan dibutuhkan effort yang cukup besar pula. Coba deh tanyakan kepada banyak programmer, mana yang menurut mereka lebih sukai, mendevelop dari awal (scratch) atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada?

    seharusnya bisa mengembangkan aplikasi yang sudah ada, karena yang paling penting algoritmanya, kalau maunya mulai dari awal yah anda salah menghire programmer, programmer yang anda pilih terlalu idealis atau mau cari duit lebihan buat dari awal, lagian banyak modul2 open source yang bisa diambil dari luar kok 🙂

    • Idealnya memang seperti yang Anda sampaikan. Khan saya tulis di atas kalo kebijakan / regulasi pemerintah perubahannya sedikit, maka tinggal di-kustomisasi, update fitur-fiturnya sesuai kebutuhan. Gak perlu bangun dari awal.

      Kalo perubahannya banyak / signifikan yang sering terjadi adalah mengubah pondasi awal. Seperti perubahan sistem akuntansi pemerintahan berbasis akrual, standar penilaian kinerja pegawai, sistem penerima pajak daerah, dll… yang perubahannya dari sisi alur dan sumber input lumayan besar.
      Belum lagi kita memasuki era AFTA, saya yakin akan ada perubahan kebijakan dalam pengelolaan birokrasi.

      Kondisi lainnya… aplikasi yang telah dibangun sebelumnya menggunakan bahasa pemrograman yang ternyata dalam perjalanannya tidak bisa men-support kebutuhan baru dari pemerintah yang dalam hal menampilkan SIE. Mengapa? Karena teknologi berkembang dari tahun ke tahun. Masak mau dipaksakan menggunakan bahasa pemrograman yang lama, yg gak bisa support. Ya nggak doong. Terpaksa menggunakan bahasa permograman yg support.

      Coba kalo sampeyan ada waktu, silakan diteliti.. berapa lama aplikasi yg sekarang digunakan oleh pemprov DKI itu dibangun? Aplikasi untuk pemerintahan yg tidak stabil kinerjanya, akan dianggap fail… mengingat fungsinya untuk mengelola keuangan negara dan transparansi pengelolaan pemerintahan.
      Silakan cari faktanya berapa tahun butuh stabil?
      Akibat pemimpinnya yg terlalu menggampangkan masalah, sampai tidak tahu bahwa aplikasinya tidak mampu mencegah penyimpangan, secara sistem tidak bisa memberikan alert. Hasilnya … lihat fakta2 kerugian yg saya tunjukkan dalam jurnal di atas. Sangat kontra-produktif, dengan quality loss yg gede.

  15. Java says:

    Tulisan yang mendidik, menambah khasanah per IT an, thanks bro. Kita membaca tulisan ini harus dengan pikiran jernih saya rasa, tidak ada keperpihakan ke pihak manapun. yang saya lihat dalam debat kemarin sebenarnya pak Jokowi ingin mengapresiasi para programmer dengan melibatkan dalam pembuatan sistem yang dapat mempersingkat birokrasi. Namun seperti saya yang tidak berkecimpung di bidang ini, jadi kata 2 minggu meluncur untuk mewakilkan kata “tidak terlalu lama”. Saya rasa pak Jokowipun akan mengapresiasi tulisan anda. Sama sekali tidak anti kritik bro. Apalagi masukan yang membangun seperti yang anda buat. Orang muda seperti anda inilah yang akan menjadikan INDONESIA HEBAT! Salam

  16. Jonas says:

    programer yg d maksudkan di sini sy kira bkn programer individu, tetapi lbh kpd sebuah perusahaan programmer yg mumpuni, yg d dalamnya terdapat programer yg handal sesuai dg keahliannya masing2… negara ini perlu transparansi. dg memanfaatkan teknologi IT sy kira kita rakyat Indonesia akan lbh mdh mengawasi kinerja pemerintah. menekan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

    • lais says:

      @Jonas : anda orang IT bukan? kalo bukan ya wajar …….. tapi kalo anda orang IT, kok keterlaluan

    • Irfan says:

      Setuju sama Lais -_-“

    • joyo says:

      pasti bukan anak IT…sebel aja..pekerjaan Developer selalu dianggap gampang ma orang yang ga mudeng..jangan koment kalo lum rasain jadi developer….

  17. fernandus says:

    Pelajari Roadmap E-Government Kementerian Kominfo. thanks

  18. widi syah says:

    Maaf, ikut nimbrung. Debat capres utk konsumsi publik, jadi siapapun berhak komentar. Meski yg disini dibahas soal IT, misalnya, tak usahlah masing2 komentator disini menonjol2kan egonya, saya seorang ini lah.., menurut ilmu yg saya tekuni begini lah.., begitulah.. Apalagi pembenaran2/rasionalisasi membabi buta.
    Yg jelas, bg saya yg awam ini, sejauh yg saya pahami pemimpin, apalagi presiden, bicaranya harus terukur. Statemen Jokowi ini contoh bicara yg tak terukur, bahkan terkesan asal atau menggampangkan. Mohon maaf n terimakasih

  19. anotherorion says:

    Diskusinya tambah menarik, semoga ini bisa jadi ajang untuk saling menambah pengetahuan kita dari berbagai sudut pandang. Buat dicatat, saya Golput siapapun yang terpilih nanti tetap itu presiden saya, presiden kita semua, pendukung/bukan pendukung, suka/tidak suka, jadi terserah preferensi politik teman2, untuk kali ini yang dibahas adalah statement jokowi soal e-government, bukan isu jokowi capres boneka, bukan prabowo soal dana 1 milyar/ gak ngerti TPID, kasus anak Hatta Rajasa yang bunuh orang tapi bebas hukuman, jadi saya gak tertarik ikutan bahas hal lain

    Jokowi, ataupun Prabowo, kelak jika terpilih maka akan memimpin negeri ini. Seorang pemimpin haruslah seorang yang visioner, seorang pemimpin berfikir sebagaimana seorang pemimpin/direktur, mengambil kebijakan. Pendapat jokowi tentang e-government itu adalah sebuah visi, menjadi Indonesia yang lebih transparan, akuntabel, cepat dan akurat.

    Tapi Visi itu hanya akan jadi omong kosong ketika tidak dijabarkan lagi ke dalam bentuk misi, misi ke dalam strategi, strategi ke dalam indikator2 yang bisa diukur. Saya ingin pergi ke bulan, itu adalah visi, maka visi itu harus dibreakdown sampai setiap detailnya tidak boleh terlewat, agar visi itu berhasil. Jangan sampai visi itu gagal karena bahan bakar pesawat ulang aliknya habis tepat sebelum melewati atmosfer, atau hancur berkeping2 cuma karena spesifikasi bautnya tidak tahan terhadap panasnya atmosfer.

    Jokowi berada di tingkat tertinggi yaitu pengambil kebijakan, visi, sedangkan programmer bertugas di lapangan, memastikan tercipta kondisi sistem sesuai indikator yang harus dicapai. Untuk memastikan tugas programmer berhasil, sebelumnya harus ada tim yang merumuskan misi, strategi dan indikator sesuai visi pimpinan, ini tugas level manajerial, sebelum akhirnya diserahkan ke level operasional untuk dilaksanakan.

    Tugas programmer adalah membuat kode program, dia akan menyusun program sesuai dokumen teknis yang diserahkan padanya, tugas membuat dokumen teknis itu ada pada System analis, project manager dari masukan berbagai pihak, termasuk dari pihak yang menjadi klien proyek tersebut, expert, atau jika berupa CRM menyertakan masukan pelanggan. Memangnya programmer gak bisa nyusun dokumen teknis dan spek kebutuhan sendiri? bisa saja

    Permasalahannya, ketika jokowi menyebut “serahkan programmer 2 minggu selesai” maka saya tanya dulu, apakah sudah ada dokumen teknis yang disiapkan untuk segera dicodingkan? apakah tim manajerial jokowi sudah mempersiapkan kebutuhan arsitektur sistem tersebut? apakah kebutuhan user semua sudah didokumentasikan? apakah planningnya sudah benar2 matang? sudah ada tim yang siap melakukan testing? melakukan implementasi & maintenance? mempersiapkan trainer?

    Jika itu belum ada sama sekali, ya mustahil 2 minggu akan tercapai, karena 2 minggu justru akan habis hanya untuk memetakan kebutuhan sistemnya dulu. Belum masuk tahap desain tampilan, koneksi antar database, mendefinisikan hak2 antar user. Dan itu masih sangat jauh dari pembuatan kode program yang harus dilakukan programmer.

    Tugas itu ada pada tim lain yang terlibat dalam proyek ini, untuk memastikan sistem yang dibuat tidak subyektif hanya dari interprestasi seorang programmer atas kemauan pimpinan. Klo cuma melibatkan pengambil kebijakan dan programmer, sistemnya justru meragukan, bisa terlalu subyektif, tidak stabil, banyak bugs, tidak sesuai keinginan pengambil kebijakan.

    Ambil contoh gampangnya, saya anggap jokowi klien yang ingin bangun rumah, dan programmer adalah tukang bangunannya, klien menyuruh tukang bangunan membuatkan rumah tingkat untuknya, yang penting bisa buat tidur, buat makan, buat berteduh ada anggarannya sekian. Tanpa ada komunikasi lebih lanjut maunya klien apa, ruangnya berapa, luas lahannya berapa, mau pake material kayak gimana, bisa2 saja tukang bangunan langsung membuat rumah tingkat itu sesuai interprestasi dia, disesuaikan dengan anggaran dan waktu. Jadi klo entar bentuk bangunan/tata letak ruangnya gak sesuai ya jangan salahkan tukangnya karena dia tidak mendapat detail teknis yang diinginkan klien.

    Kalau bener2 terburu2 mau rumahnya cepet ya setidaknya klien sudah punya gambaran denah yang akan dibangun, spesifikasi material, syukur semua bahan material sudah ada di lokasi. Lha klo semua itu belum direncanakan, belum dibeli, kan memperlama kerja tukang.

    Ini bukan masalah programmernya kaku atau tidak kaku, tapi untuk menciptakan sebuah sistem yang baik kita harus memastikan semua kondisi tersebut dipetakan. Kita semua ingin memberantas korupsi, membuat transparansi publik tentang anggaran, mempermudah birokrasi pemerintah dengan sistem e-government, tapi untuk membuat sistem yang bagus semua harus jelas detailnya agar indikator keberhasilan dari visi misi itu bisa dicapai.

    Untuk bisa membuat sistem yang bisa mencatat arus keluar masuk tabungan seseorang di bank mungkin tidak sulit, cuma nyatet duit masuk dan ditarik, sistem itu akan bekerja baik. Tapi ada faktor2 lain yang harus dipikirkan, transfer antar mata uang, antar bank, kredit, biaya administrasi, kegagalan sistem, fraud dan lain2. Karena itu sistem tidak hanya harus bisa bekerja dengan baik, tapi merespon semua perintah/kebutuhan dengan benar dan mengeliminir kegagalan sistem. Jika tidak? siapa yang mau percaya pada bank tersebut?

    Ini bukan tentang membuat sistem yang cepat jadi, tapi sistem yang kuat dan bisa menjawab kebutuhan pemimpin dalam mencapai visi misinya.

    Betul beberapa perusahaan telah membuat sistem bahkan sebelum diminta, mereka biasanya sudah melakukan riset dan mengembangkan sistemnya sesuai kondisi umum/general, bertahun2 untuk mendapatkan sistem yang berkualitas, tidak cukup hanya dua minggu saja, dan biasanya ditawarkan ke instansi/perusahaan lain yang kira2 membutuhkan. Toh ini bukan berarti bisa begitu saja di implementasikan, klo skalanya kecil seperti program kasir minimarket sih enggak terlalu masalah. Tapi klo untuk skala lebih besar kita juga harus mempertimbangkan faktor lain, infrastruktur sistem, tambahan/pengurangan modul, SDM dan lain sebagainya.

    Sebenernya sama saja jika menyebut temen2 yang mendukung kaku karena terlalu ngotot dengan kata “2 minggu” maka temen2 yang berseberangan juga terlalu kaku pada kata “programmer”. Seolah programmernya manja, banyak maunya, bukan itu, ngapain kita repot2 bikin program klo memang ternyata gak jelas apa gunanya, gimana cara makenya.

    Kegagalan sistem informasi bukan hanya kegagalan programmernya dalam membuat program, bisa karena kegagalan implementasi, bisa kesalahan pemilihan arsitektur hardware, penolakan/ketidaknyamanan user terhadap sistem, budaya kerja, bisa kesalahan sistem analis dan expert melakukan analisa kebutuhan, bisa kesalahan dalam perencanaan, dan bisa merupakan kesalahan pengambil keputusan.

    • Terimakasih telah melengkapi dengan baik, mas Priyo. Super banget!

      Pemaparan mas Priyo ini wajib dibaca oleh mereka:
      1. Yang tidak paham dunia pemrograman.
      2. Yang mengerti dunia pemrograman, tapi belum pernah melihat wujudnya e-Government.

      Dari situ semoga mereka paham bahwa realistis bukan berarti pesimis, tapi sedang berjuang menuju kondisi yang ideal.

  20. john pieters h says:

    Tulisan sampah…gw baca ini jg udah lebih dari 3 menit, waktu ngomong capres itu cuma 3 menit…trs mana bahasan mengenai prabowo dan dana desa 1 milyarnya?

    • bukan pendukung prabowo dan jokowi says:

      kan yang lagi dibahas tentang “e-goverment 2 minggu selesae” hellooo

    • Muk Lish says:

      komen sampah, ga ngerti judul ya? dsni bukan untuk menuding salah satu capres.
      kalau anda tidak puas, bikin aja tentang prabowo.
      sangat terlihat konyolny pasukan panasbung

    • Keple says:

      dasar Sampah! tulisan ini dibikin bukan buat ngeksplor kelemahan tapi buat edukasi

  21. ikut nimbrung dan mengangkat yang dibahas, saya menerimanya bahwa
    1. “Dia” mempercayakan kepada SDM Indonesia, bahwa Indonesia punya SDM yang tidak kalah hebat dari SDM asing..
    2. Mensupport SDM Indonesia (anak2 muda berbakat) untuk dapat memproduksi dan mempublish karya anak bangsa.

    arti lainnya dari bahasa sederhananya:
    bicara 2 minggunya, “Dia” sangat percaya indonesia memiliki Manusia2 hebat! challenge tuh mas 😀

    Menurut saya loh mas,
    saya sekolah IT dan kerja bidang Digital Creative.
    saya tidak memihak siapa2 😀 hanya buat saya Post mas menarik untuk di bahas 😀 maaf ya mas.

    ohiya di jawab juga ni mas sama salah satu nya:

    Salam
    Terimakasih

    • Tanggapan saya untuk mas Denny, mohon dibaca fakta-fakta penyebab lamanya pembangunan IT pemerintahan di Indonesia yg saya tulis mengomentari mas harimurtie di bawah ini, karena komentar mas Denny identik sama.

      Salam
      Terimakasih.

    • Muk Lish says:

      stau saya untuk membuat untuk mmbuat scara “E”
      untuk 1 instansi saja perlu waktu lama.
      bagaimana programer mmahami aturan2 pmerintah, kebijakan2nya. dlm pembuatan program pun stau saya ktika sdh slssai biasanya slalu ada celah dan perlu perbaikan. g bisa simsalabim, langsung pakai.
      seandainy pun dkumpulkan tim mnurut saya masih perlu waktu lbih dua minggu

  22. Guzh toa says:

    wahhh gampang banget ya,,,!!
    sedikit gambaran dari yang sudah terlaksana yaitu di BIDANG PENDIDIKAN, di dunia pendidikan dikenal dengan adanya PROGRAM DAPODIK yaitu layanan data pokok pendidikan yang diakses secara online, kurang lebih sudah 3 tahun berjalan masih banyak eror yang terjadi pada tiap pengguna aplikasi tersebut, dan ini konteksnya nasional, beda dengan sebatas wilayah DKI atau SOLO yang wilayahnya lebih sempit dibandingkan dengan NUSANTARA. apakah benar pak, bisa dalam 2 minggu SELESAI???

  23. Kalau saya melihatnya ada niat baik dari Jokowi utk menerapkan Teknologi Informasi di pemerintahan. Mengenai masih banyak PR yg harus diselesaikan memang harus kita akui, termasuk SDM-nya juga masih perlu pendidikan dan pencerahan tentang e-gov ini.

  24. andilukmanx says:

    hehhehehe ini rame, saya sih melihatnya jokowi cuman ingin membangun sebuah semangat positif, kalau boleh supaya fair mungkin pa prabowo juga sepertinya membahas seperti menyederhanakan sesuatu. kalau saya lihatnya kalau sudah menjatuhkan pasti ga ada nilai positifnya,

  25. Capres pada gila.. kita di bikin pusing… yang penting mas iwan kasih info bagus lah. 😀

  26. harimurtie says:

    realita,programmernya anti kritik:) china butuh waktu bertahun-tahun,dari mulai meniru,sampai beberapa produk pocin diakui kualitasnya di dunia sekarang.sekarang saya buka tender,saya butuh ponsel dengan requirement tertentu.mungkin kalau saya ketemu programmer yg hanya melihat realita,mereka akan bilang gak bisa,gak mampu,alasannya blablabla.oke,mungkin waktu yg dibutuhkan sama dengan waktu cina mengembangkan produknya.baiklah,saya telp pabrikan di china.mungkin besok yg dateng bukan cuman prototipe tapi sudah produk jadi. mau ketinggalan terus sama china?suka gak suka,warga negara indonesia sudah jadi warga negara dunia. 2015 tenaga asing masuk. oh gampang,realistis aja,kritik outsourcingnya,tar kan gak jalan2 semuanya 🙂
    tetap semangat 🙂

    • Sebelum berkomentar panjang lebar, dan pake nge-judge lagi… Apakah sudah pernah lihat dalamnya e-Government, mas? Entah itu e-Budgeting, e-Procurement, atau e-Audit. Jujur saja lah.
      Ini bukan program sekelas POS minimarket yg bisa cepat dibikin. Tapi program yg menampilkan transparansi pengelolaan duit rakyat.

      Ini kita bicara lead time (bicara batasan waktu), bicara Quality Loss akibat pemimpinnya yang menggampangkan sistem. Lihat fakta / datanya dalam jurnal di atas. Sehingga berakibat kontraproduktif berbulan-bulan, akibat (bisa jadi karena) program aplikasi yg asal jadi yg tidak mampu mencegah penyimpangan yg dilakukan SDM-nya. Berapa jumlah dana APBD DKI yg nguap sia-sia akibat lemahnya sistem informasi?
      Monggo dibaca lagi jurnal di atas agar ngeh.
      Yup Tetap Semangat 🙂

    • harimurtie says:

      maaf mas kalo komen saya kepanjangan. dan jujur,saya tidak menjudge.saya tidak kapabel.saya bukan orang it/programmer,tapi saya paham bahwa egov bukan program ecek2.
      http://www.google.com/m?q=new+zealand+e+gov+site&client=ms-opera-mini-iphone&channel=new
      berbagai situs egov di selandia baru.program ecek2?oke,mereka dah mulai bertahun2.
      https://m.facebook.com/geovedi/posts/10152479263482940
      saya yakin anda sudah baca itu.menurut apa yg saya baca disitu,egov di indonesia sudah mulai sejak 2003.11 tahun yg lalu.kenapa sekarang kayaknya adem ayem dan stagnan? kita tidak mulai dari 0.mau mulai dari 0 lagi,silahkan.sekelas phd seharusnya tidak perlu mikir konsep dari 0.anda bicara realita,kita bicara realita.11 tahun tanpa ada hasil yg jelas.apa2 masih amburadul.salah di konsep,sistem(termasuk applikasinya)atau implementasi di lapangan? programmer seharusnya tidak perlu kebakaran jenggot dengan bilang gak bisa 2 minggu. sistem sudah jalan. mau berpikir mengganti sistem atau memperbaiki dan memaintenance sistem? saya cuma mencoba realistis.

    • Begini, mas Hari …
      Dalam jurnal di atas saya tulis: “Cukup jelas bahwa membangun e-government bukan hanya desain dan coding saja, tapi juga butuh analisis tiap daerah, tiap aspek, penyiapan sarana teknologi, apalagi untuk implementasi di pelosok apakah infrastruktur dan SDM-nya sudah siap. Ingat, kondisi geografis di Indonesia adalah tantangan besar dalam implementasi e-Government.”

      Kondisi Selandia Baru berbeda dg Indonesia, titik ekstrim Indonesia al:
      [1]. Terdiri dari banyak distrik, pulau-pulau. Kondisi jaringan yg tidak stabil sangat berpengaruh di sistem.
      [2]. Masing-masing daerah mempunyai perda sendiri. Kebijakan pengelolaan pelayanan publik dan pengelolaan birokrasi pemda antar satu daerah berbeda dg daerah lainnya.
      [3] Menyatukan poin 2 untuk tingkat nasional untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat butuh effort yg lebih besar.
      [4]. Frekuensi perubahan kebijakan pemerintah pusat dan daerah cukup lumayan sering, ini mempengaruhi juga sistem informasi yg telah dibangun.
      [5]. SDM pengguna yg kurang kompeten, atau karena faktor mutasi.
      [6]. Birokrasi labirin yg harus dihadapi oleh pengembang aplikasi untuk mendapatkan alur proses yg jelas. Poin ini perjuangannya berat banget, bung!
      … dst
      …. kalo dijabanin bakal sampai pagi.

      Intinya bukan karena faktor programmernya yg tidak mampu. Disini2 banyak sekali SDM programmer yg handal. Saya sendiri saksinya saat menjadi delegasi Indonesia dlm lomba pemrograman tingkat Asia Pasific.

      Yang justru menjadi penyebab lamanya dibangun adalah faktor-faktor Non IT, seperti yg saya sebutkan di atas.
      Jadi jangan bandingkan negeri di luar sana yg luas wilayahnya dan kondisi geografisnya berbeda dg Indonesia.
      Jangan bandingkan kondisi birokrasi di negeri sana dg Indonesia yg tiap 5 tahun belajar lagi tentang demokrasi.

      Semoga Anda paham.
      Kalau tidak keberatan, ajak penulis link facebook (mas Jim) itu untuk memahami fakta2 ini.

    • IT Jogja says:

      mas hari murti. apa yang anda tahu tentang dunia IT?

      saya programer dan saya juga bukan anti kritik (bukan pula pendukung prabowo dan jokowi). pendapat anda bagus tapi sepertinya anda belum membaca artikel diatas dan langsung berkomentar.

    • joyo says:

      mas harimurtie…cukup jelas bahwa anda tidak tau sama sekali dengan dunia IT..tidak segampang itu tinggal import program jadi..emang bisa compatible di negara kita…semua negara memiliki sudut pandang berbeda tentang pemerintahanx..kalopun custom ada kemungkinan merubah pondasix..ini bukan masalah pendukung siapa…tp sptx anda menyepelekan kerjaan developer..

  27. dewi says:

    Yang penting sudah ada niat baik nya daripada yang tidak sama sekali

    Y

  28. Ozzy says:

    ternyata si penulis lebih memikirkan hambatannya dan bukan tujuannya, jelas sekali terlihat sangat kaku dalam mengartikan “panggil saja progammer 2 minggu selesai”.

  29. harimurtie says:

    artikel yg bagus.memaparkan betapa sulitnya membangun dan maintenance sistem it di indonesia. saya bukan orang it,tidak paham applikasi, dan e e yg banyak itu.saya tertarik dengan komen mas, ‘realistis bukan berarti pesimis,tapi kearah kondisi ideal’.boleh saya kritik? realitanya sekarang korupsi merajalela,apa keadaan korupsi itu kondisi ideal? mungkin saya nda bicara soal it, tapi realistis tidak sama dengan ideal. saya setuju banyak faktor non it berpengaruh pada pekerjaan it.di komen sudah banyak,sampe bertahun2 belum ‘selesai’.tapi apa itu kondisi idealnya?utopis mungkin.dunia it tidak akan seperti sekarang tanpa pemikiran utopis.
    saya golput, tapi tetap semangat 🙂

  30. t3mp3gor3ng says:

    maaf nimbrung, baca banyak komen dari atas saya jadi punya kesimpulan dan pertanyaan “ternyata orang IT itu kaku sekali yah? apakah karena terbiasa berhadapan dgn yg namanya troubleshoot/error yg sudah memiliki jawaban bahwa error a=b, c=d, dll sehingga terpola jg di pikiran para programmer bahwa kejadian a=b omongan c=d, fix, thats all, gak boleh ada variable lain?

    jujur saya bukan dari ilmu eksak, saya pun kuliah di jurusan ekonomi, kurang memahami apa itu IT, tapi saya menangkap omongan Jokowi dgn cara berbeda, bukan pada 2 minggu nya, tapi substansinya yaitu yg bisa cepat kenapa harus di perlama, justru omongan Jokowi itu pertanda harapan bahwa tataran birokrasi yg rusak selama ini mau di dobrak, its a hope, not a crime…

    ok IT bukan bidang saya, tapi pada debat ke-dua saya bisa berkomentar sedikit banyak ketika Prabowo bilang kebocoran 1000 triliun, dari aspek ekonomi hal itu bisa diperdebatkan dan cenderung tidak masuk akal, tapi sebagai rakyat yg butuh harapan saya cinta statemen itu, dalam hati saya berharap kelak kalo Prabowo terpilih dia hajar semua itu mafia2 anggaran dan koruptor negara ini.

    jangan berpikiran sempit bro, Indonesia itu luas, 250jt lebih rakyatnya, yg bilang IT 2 minggu mustahil dan kebocoran 1000T jg mustahil tertambal maka bodohlah dia, di beri harapan kok malah pesimis.

    • dhani says:

      apa hubungannya indonesia itu luas, rakyat nya 250 juta dengan anggapan bhw pernyataan IT 2 minggu itu mustahil sbg kebodohan? anda sndiri menjelaskan ketidakpahaman anda pada IT, maka biarlah ahlinya yg menjelaskan…harapan itu tidak sama dengan penggampangan dan menyepelekan

    • IT Jogja says:

      kami para IT bukan “kaku” seperti yang mbak bilang. saya bukan pendukung prabowo dan jokowi. Tp secara singkat dan sederhana saja bahwa buat program e-gov tidak bisa selesai dalam 2 minggu Proyek ini hampir mendekati 100% mustahil. ini seperti proyek membuat 1000 candinya roro jogjrang.

      jika kurang percaya silahkan anda berdiskusi dg teman2 anda yang berprofesi sbg IT

    • Zein Miftah says:

      oh itu hanya pendapat pribadi anda jika orang IT itu kaku.

      coba anda bangun jalan raya alternatif puncak
      anda: “bisa buat 2 bulan tidak”
      kontraktonya: “ga bisa harus bebasin tanah dulu, ini dulu, itu dulu”
      anda “klo bisa dipercepat kenapa diperlama?”

      jelas sekali anda tidak tau proses development software itu seperti apa.

      apakah dengan misalnya 250 juta programmer , dengan asumsi orang indonesia semuanya programmer, bisa tembus itu 2 minggu? saya yakin tidak. bukan hanya proses development namun juga konsolidasi antar programmer yang tidak memungkinkan.

      coba donk anda baca dan pahami baik2 tulisan mas Iwan Yulianto jangan asal komen saja

  31. Mahasiswa Ilmu Budaya says:

    Mas, saya mahasiswa ilmu budaya UI. Tidak pernah ada istilah budaya anti kritik. Maaf ya mas, kata budaya tidak digunakan untuk kalimat itu. Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

    • Terimakasih masukannya.
      Tapi ini beda substansinya dengan “budaya” disiplin ilmu yang Anda tekuni. “Budaya” yang dimaksud dalam jurnal ini adalah perilaku yang menjadi kebiasaan, dan kemudian dipelihara.
      Kalimat tersebut sudah umum dipakai oleh media bahkan jurnal yang dipublikasikan oleh akademisi. Cekidot >> di sini

    • “Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.”
      Fair enough. So you should use “I” instead of “i” when you say “Indonesia”, right?

  32. alex_PS says:

    Kalau saya lihat dan mencoba memahami lebih jauh… maksud pak Jokowi adalah dimana ada kemauan untuk menciptakan transparasi budgeting Negara dengan tujuan supaya korupsi2 bisa diberantas dan masyarakat ikut mengawasinya secara online, sehingga hal ini bisa diwujudkan dengan waktu yang singkat. dan hal ini jelas2 membuka banyak lapangan pekerjaan bagi teman2 IT yang saat ini mungkin masih banyak yang menganggur. bayangkan saja apabila setiap program negara untuk meng”online”kan semua proyek2 ini bisa menyerap jutaan pengangguran IT.. bukankah hal ini adalah hal yang positif?
    Selain itu, masih banyak manfaat lain dengan adanya ide pak Jokowi ini.
    Mari kita tanyakan sendiri kepada diri kita sendiri, maukah kita menjadi negara yang lebih baik?
    Dimana ada kemauan, pasti ada jalan.

    • Zein Miftah says:

      tl;dr; ini intinya mas:

      “Tim Rumah Koalisi Indonesia Hebat akan sangat bijak bila dalam me-launching aplikasi mobile ‘Joko Widodo RI-1′ itu tanpa embel-embel: “membuktikan janji Jokowi bidang IT”. STOP pembodohan publik!”

  33. kayla says:

    hmm,, so secara teori seperti itu,,,question ada yang menjalankan KAH??

  34. j4m4l says:

    Salut sama Jokowi untuk membuka mata kita. sehingga anak bangsa berani belajar dan tampil membuat software sendiri (buatan Indonesia), apapun alasan dan komentar dari saudara2ku, di negeri ini sesuatu pekerjaan yang paling sulit adalah memulai,Jokowi sdh memulai mengajak kita semua mau bekerja keras, jangan jadi manusia pengeluh. perlu anda ketahui komputer2 yg di adakakan di kantor2 pemerintah hanya di pake mengetik dan main game. kita sadari dari detik ke detik ilmu ini sangat pesat perkembanganx, sebagai anak negeri ini sudah saatx kita malu pada diri kita apalagi kepada anak cucu kita, janganlah kita mewariskan anak cucu kita kebodohan, bodoh karena dari pendahulux.

  35. lia imam says:

    mas,sy ijin share ya di FB sy.a very good point of view disertai fakta yg jelas.big thanx.

  36. Dani says:

    Temen-temen saya lulusan informatika Its langsung ketawa rame begitu debat capresnya selesai mas. Hihihi. Maturnuwun sampun berikan insight yang lebih menyeluruh. 😀

    • sch says:

      ni sekarang jadi Joke d kantor saya kalo waktu pembagian kerjaan “eh lu bagian ini ya 2 minggu selesai” langsung aja salam jari tengah padahal itu pimpinan

  37. terima kasih pencerahannya pak iwan, mohon ijin share.. 🙂

  38. artikelnya bermanfaat menambah pengetahuan tentang pembuatan suatu aplikasi. terimakasih

  39. Begitu mudahnya beliau bicara… asal jeplak… E-KTP aja udah 3 tahun masih berantakan.

  40. Saya tertarik dengan artikel bapak. Saya yakin, orang-orang IT itu tertarik dengan statement Jokowi bukan karena kata-kata “panggil programmer”, tapi lebih fokus statement Jokowi terkesan pengembangan software gampang dan cepat.
    Ga bisa dipungkiri memang. Statement Jokowi mewakili hampir semua orang-orang yang awam di dunia IT, sama saja ketika programmer memberikan statement bangun gedung butuh waktu 2 minggu. Artinya, rrang yang tidak punya ilmu di bidang tersebut tapi memaksakan statement untuk bidang tersebut.
    Saya sendiri juga sering mendengar statement tersebut dari bos saya. Ga heran, ketika teman2 mendengar statement tersebut, langsung teringat dengan bos kami. Ada kalanya saya harus ignore, namun ada kalanya juga saya harus jelaskan.

  41. t3ns41t says:

    selama aplikasi masih di pakai, development aplikasi belum bisa di bilang selesai. CMIIW.

  42. Ayo rame rame belajar lagi “Software Engineering” , Object Oriented Analysis and Development, Plus IT Project Management…. hayo siapa mau…… ????????

  43. Sebenernya kalimat “panggil programmer, 2 minggu selesai” itu adalah ungkapan politik Bro !!!! Jangan ditelen mentah mentah secara “hitam – putih” …… Masih mending itu 2 minggu….. kalo perlu cukup 2 hari , atau bahkan 2 jam sekalipun itu sah-sah aja dalam retorika politik…. kenapa sampeyan yg merasa orang IT menjadi “bawel”??? Sampeyan niki pinter IT tapi culun dalam politik…. tahu Bro !!!!!

    • Saya paham, bro.
      Andai saja itu ungkapan politik sbg upaya Pak Jokowi menunjukkan ke publik bahwa betapa mudahnya mengelola e-Government, maka sudah kutulis di atas bukti-bukti adanya PR besar. Silakan Anda baca lagi kalo itu terlewatkan.
      Apakah itu keberhasilan?
      Nyatanya belum terlihat, karena masih banyak lubangnya, bahkan cukup besar.

    • Dalam pandangan politik saya….. Bagi saya mereka berdua Prabowo dan Jokowi adalah 2 bidadari cantik yang sedang menari nari dihadapan saya…. dan saya mengagumi keduanya….. persetan dengan orang2 dibelakang mereka yang saling menyerang dengan black-campaign mereka….. pada saatnya nanti saya harus memetik satu diantara 2 bidadari cantik itu menjadi istri saya…. simple aja cara berpikir saya… karena saya sdh muak terlibat dengan politik praktis yg ternyata tak memberikan apapun kepada saya….. Salam !!!!

    • Sebenarnya ungkapan “panggil programmer, 2 minggu selesai” itu adalah ungkapan yang membuka mata para dunia IT, bahwa capres Jokowi itu sangat awam di dunia IT. Klo jadipun ga masalah, tapi klopun jadi, apa yakin bisa menjawab kebutuhan? Jangan2 cuman buang2 anggaran supaya bisa dikorupsi.
      Kenapa sampeyan yang ga ngerti IT jadi “bawel”??? Sampeyan niki pinter politiik tapi culun dalam dunia IT….tahu Bro !!!!

    • Buat Bro-Bro yang ganteng2 dan keren… Kenapa sih kalian yang notabene orang Indonesia ini selalu saja bersikap “Kontra-Produktif”… hampir pada setiap permasalahan yang kalian tidak sukai??? Kalian kan kaum terpelajar… kenapa tidak berpikir bagaimana kalian bisa menciptakan suatu “sinergy” yang positif untuk bangsa ini… Saya cinta Prabowo – Jokowi… keduanya adalah aset bangsa…. Saya merasa bersyukur karena kita memiliki 2 calon seperti mereka… Prabowo-Jokowi … bukan dari mereka mereka yang rasialist dan berpandangan sempit lagi ekstrim… yg bisa membawa Indonesia ke kehancuran dan membawa kembali ke Zaman-Batu… Mari… mulai dari sekarang kita dukung Prabowo-Jokowi untuk bersama sama dan berniat baik mengusung ke dua capres tersebut menuju Indonesia Sejahtera… Siapapun yg menang nantinya… saya yakin….. semua akan memberikan energi dan spirit baru bagi Indonesia… Khusus untuk saya dikatain culun dalam IT… ya terima kasih, ya saya akui saya masih culun dalam IT…. walaupun di lemari kamar saya tersimpan ijazah Master dan Doctorate saya dalam IT dan Electronics engineering… saya pikir ada benarnya juga memang seorang PhD. pun tiak ada yang sempurna…. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata….. amin !!!
      thanks for all those comments , me appreciate it… Rock On !!!!

    • menurut saya…. justru yang disampaikan pak Iwan ini substansinya jauh dari dunia politik lho…meskipun effect nya berbau “politis” yang mana ini jadi sebuah keniscayaan, karena yang dikomentari adalah statement dari seorang pelaku politik, dalam hal ini, jokowi. Dan akar masalah sesungguhnya yang diangkat dari pak iwan ini adalah soal aplikasi yang dibangun dalam 24 jam, yang di citrakan sebagai pembuktian, dan kemudian dijabarkan pajang lebar oleh pak Iwan dalam perspektif IT, sekaligus sebagai edukasi masyarakat. Salut.

      dan ini sama sekali bukan “bawel”, karena beliau tidak membahasnya dari sisi politik, tapi dari aspek IT, jadi tidak ada korelasinya sama sekali dengan “bawel” dengan soalan politik serta jauh dari kesan “Kontra-Produktif”, justru sebaliknya, kita jadi tau problem dan hambatannya ada dimana, dan ini sangat membangun. sekali lagi salut.

      satu lagi pembelajaran penting, sudah saatnya kita sebagai masyarakat untuk tidak permisif terhadap hal-hal yang karena sudah biasa, trus jadi hal yang kita anggap wajar, kita menjadi maklum meskipun itu kurang benar.
      ungkapan “retorika politik” itu trus jadi pemakluman, maklum brooo, namanya juga retorika politik. sama aja dengan sumpah jabatan politik, …kalo yang bersumpah melanggar sumpahnya, maklum bro namanya juga sumpah politik, jangan ditelan mentah-mentah sumpahnya… 🙂

    • Basis Kamarmandi says:

      Kalo orang bodoh dikasih tau pasti ngerti, nah elu sih g*blok namanye

    • Capt. sKy says:

      ini gitaris kamarmandi emang GO*BLOK ya??jokow* itu pembodohoan publik!!maka nya harus diluruskan disini biar org awam jd ngerti gak di bodoh2i retorika politik!jelas2 yg culun tuh lo BEG* !!!

  44. Abett Genesis says:

    Tim saya membangun aplikasi e-Goverment butuh waktu 1,5 tahun pak, itupun harus bergulat dengan berbagai macam birokrasi yang saling tumpang tindih,, masih gak percaya..??? ada berkas kontraknya tuh, project dimulai tanggal berapa dan selesai tanggal berapanya…!!!

  45. Sebetulnya itu bergantung kepada asumsi scope-nya 🙂

    • Betul, Pak Rahard, tergantung asumsi scope-nya.

      Namun yg disampaikan Pak Jokowi dlm video tersebut sudah tergambar lho scope-nya.

      Jokowi: ” tadi sudah saya sampaikan e-government semuanya dari e-budgeting, e-purchasing, e-catalog, e-audit, cash management… “

      Apakah scope masing-masing program yg saling terintegrasi tersebut sekelas aplikasi POS? Tentu tidak.

      Memang ada best practices di LN dimana pembangunan e-Govt bisa cepat selesai. Namun karena adanya faktor geografis tidak bisa disamakan di Indonesia, termasuk kesiapan SDM dan infrastructure yg harus mampu menjangkau sampai pelosok.

      Yang realistis saja lah, pak. Ini bukan soal optimisme, tapi lebih cenderung pada: menggampangkan.

      Coba nanti bapak amati saja, berapa lama meng-NOL-kan jumlah anggaran yg tumpang tindih dalam e-Budgeting DKI, yang sampai sekarang mencapai Rp 6 Triliun. Ini akibat pola kerja menggampangkan sesuatu, yang pada akhirnya berdampak kontra-produktif.

      Akibat pola kerja yg asal-asalan, ditambahlagi sistem aplikasi yg dibangun tidak mampu mendeteksi pola kerja tersebut, misalnya ngasih alert, menjadikan kontra-produktif.

      Jadi, sudah jelas… poin utamanya adalah bukan asal jadi. Tapi harus AKURAT, krn ini urusan pengelolaan keuangan negara.

    • Dari link yg bapak kasih, saya ga menemukan solusi, malah lebih tepatnya promosi team tertentu. Lebih tepatnya ga ada dari referensi yang bapak berikan membuktikan bahwa project E-Government selesai dalam 2 minggu.
      Bukan bermaksud pesimis, tapi lebih kearah, apakah statement Jokowi itu cukup realistis? Maksud saya, realistis bukan berarti pesimis, tapi lebih cenderung kondisi yang ideal 😊

    • sch says:

      artikel si jim tsb banyak disalah artikan..akibat menggampangkan dan tidak teliti dalam menganalisa omongan orang

  46. mhilal says:

    Ditunggu komentarnya soal debat capres ke dua tadi malam, pak 🙂

  47. dolfie.r says:

    Tidak ada yang salah dengan penyampaian Pak Jokowi. Logikanya aeperti yang disebut Pak Sinuraya diatas. Intinya Pak Jokowi menyampaikan soal, banyak hal bisa dikerjakan dengan cepat tapi dibuat lambat. Hal yang mudah justeru dipersulit dan itu menjadi trademark Birokrasi. Hal yang tersulit justeru pada penggunaan aplikasinya bukan saat membuat aplikasi, karena umumnya birokrasi yang ada (user) masih gaptek.

    • Apakah sudah ada buktinya, mas, software e-Govt yg dibikin hanya dlm waktu 2 minggu?
      Di-implementasikan di dinas mana saja?
      Saya mau check langsung.

  48. Meri says:

    Sy setuju dg pak iwan, jgnkan e-gov, bidang sy didekorasi pd saat sdh final ternyata kendala datang dr lapangan & biasanya adalah faktor manusianya. Pdhal yg program aja sampai sakit & mata tambah kabur krn menyelesaikan nya, dan hasilnya dilapangan tdk 100% , malah 50% ngga ada.

  49. ALFIN says:

    Pemaparan yang bagus pak iwan, mungkin bisa jadi 2 minggu tapi apa user mau memakai aplikasinya, …. hehe

    nice artikel pak

  50. Kaskuser says:

    Kayaknya kalo cuma buat program gampang, yg susah input datanya, pns indonesia ini yg jadi masalahnya, banyak yg gaptek.. Cmiiw

    Tp 2 minggu kalo bener2 niat dikerjain pasti bisa kok.. 2-3hari bikin program, hari ke 4 kirim n instal ke daerah2.. Seminggu selanjutnya input data.. Asal di tiap daerah sdm ITnya bener aja ya gan..

  51. hall says:

    Saya setuju kalo 2 minggu ngga mungkin kelar, karena riilnya yang diterapkan pak jokowi dijakarta membutuhkan bulanan agar aplikatif. dan yang ngerjainnya juga sampe mabok … karena programmernya ….. gitu deh

  52. Numpang komen. Saya pikir ini satu solusi yang telah diajukan dan sudah diterapkan di lapangan, terlepas dari berbagai kendala yang saat ini terjadi dilapangan, yang jelas Solusi ini sudah di eksekusi.

    Saya malah bingung, ada orang ribut2 soal teknik mencangkul yang terbaik. Sementara di satu sisi ada orang yang malah tidak punya solusi sama sekali untuk masalah yang akan diselesaikan. Dan bahkan belum sampai pada tahap eksekusi yang berlanjut dengan tahap masalah di lapangan..

    • anotherorion says:

      ini bukan masalah teknik mencangkulnya pak jokowi, tapi keblingernya beberapa pendukung jokowi yang menganggap aplikasi pengenalan figur capresnya sebagai contoh janji jokowi dalam bidang IT.

      soal ucapan jokowi yang menggampangkan durasi proses pembuatan e-Government saya rasa itu hanya kekhilafannya saja, sudah disebutkan mas Iwan di atas, karena nyatanya secara teknis, hal itu memang tidak dimungkinkan.

  53. Yang paling sulit adalah edukasi the man behind the gun nya tatkala sistim tersebut sudah jadi. *scope beliau masih setingkat kota dan provinsi*

  54. sinuraya says:

    Saya tidak sepenuhnya sependapat pak, saya pikir sudah saatnya memang kita merubah mindset kita tentang pengembangan aplikasi. Alih – alih memikirkan E-govt secara menyeluruh sekali jadi, alangkah baiknya jika keseluruhan system itu di breakdown sampai unit terkecil yang bisa dikerjakan dalam 2 minggu oleh 1 orang programmer. dan pengembangnnya pun tidaklah sekaligus jadi seperti dalam metode SDLC, melainkan memakai metode agile programming (iterative and incremental).

    Misalnya sebuah aplikasi bisa dibuat per bidang (sub dinas). adapun aplikasi2 tersebut haruslah memperhatikan standar dan kontrak tertentu sehingga ketika disambungkan atau diintegrasikan dengan yang lain, tidak perlu usaha tambahan.

    Untuk lebih lengkapnya barangkali bisa dibaca di sini:
    http://agileprogramming.org/

    • Betul. Saya paham tentang agile programming .. istilah kasarnya: tersedianya bank modul, sehingga si tukang jahit tinggal menjahit modul-modul yg dibutuhkan untuk menjadi sebuah aplikasi sesuai spesifikasi klien.

      Namun demikian, dalam pelaksanaannya.. e-Government tidaklah sesederhana itu, banyak faktor2 non IT-nya di lapangan.

      Silakan baca juga komentar saya untuk Pak Budi Raharjo di atas.

    • Metode apapun, entah agile programming, extreme programming, waterfall, spiral, saya masih penasaran apa sudah ada yg real bisa berjalan 2 minggu.
      Saya yakin orang IT yg update tahu metode SDLC. Tapi ga semua orang tahu ada project E-Government yg bisa selesai secara nyata dalam 2 minggu.
      Semoga jawaban Anda disertai bukti nyata project yg sudah selesai dan “berhasil” implementasinya. Jadi bukan cuman selesai tapi ga kepakai nganggur.

  55. Jazzy shah says:

    Kalau e-government bisa terwujud….jempol deh. Selama ini website pemerintah yang ada, Hanya di awalnya dibentuknya Saja bagus, setelah itu maintenancenya kurang. Saya tinggal di Kota kecil tp Kota kecil ini punya websitenya sendiri, mau bayar pajak bisa online, mau minta izin, formulirnya bisa didownload setelah itu tinggal datang ke kantor ngga pake antri, ga Ada calo, semua form up to date. Kalau e-government di Indonesia bisa seperti ini, masalah pungli, calo bisa berkurang.

  56. amie primarni says:

    Saya sependapat dengan Mas Iwan, tulisan ini baik untuk mengedukasi. Dan saya kira Pak Jokowi juga menyadari itu, hanya saja dalam kondisi debat di Indonesia khususnya, kita lupa menyiapkan “statement-statement yang realistis” dan “konsep – konsep yang matang” untuk di share ke public. Kadang bahasa yang digunakan masih bahasa “jualan”.

  57. Marhento says:

    Saya setuju dengan pendapat bung iwan, memang tidak mudah dan tidak akan mungkin selesai dalam 2 minggu. Niatnya pak jokowi bagus akan tetapi dia mungkin terpeleset ngomongnya. Saya juga mengakui kalo itu sangat keliru, saya pendukung pak jokowi 100%, tapi kalo salah tetap saya bilang salah, karena sayang kepada pimpinan bukan berarti kita membenarkan seluruh ucapan dan pola kerjanya

  58. risalestarii says:

    Saya selalu menyukai post pak iwan yang selalu berargumen dengan padangan pada dua sisi. Tapi untuk berita ini saya rasa bpk mencoba mengkritik apa yg tidak bagus dilakukan pak jokowi tanpa melihat hal baiknya yang sudah dia kerjakan. Soal debat itu juga baik prabowo hatta dan jokowi jk sedang memeberikan impian.
    Misalnya saja kata kata akan mensejahterakan seluruh rakyat indonesia yg dikatakan kdua pasangan. Apa itu mungkin dilakukan dlm 5 tahun? Saya rasa itu lebih impossible daripada pengerjaan proyek e-goverment dalam 2 minggu. . saya merasa berita ini tidak netral pak. Terimakasih. Tetap semangat.

    • Marshall says:

      saya pikir Pak iwan sedang membicarakan ilmu yg kebetulan dikuasainya dan disinggung oleh salah satu Capres (kebetulan Bpk jokowi yang sesumbar) so tidak ada pro kontra disini,,,,,,,,salut buat pak iwan.

    • Ketika seseorang itu sudah di ‘atas’ maka sulit ia mendengar input murni dan jujur dari bawah. Maka harus ada pejuang di bawah yang menyuarakan ke atas.

      Tetap semangat ya, mbak Risa

  59. j4uharry says:

    Gokil itu pak, saya aja pegang aplikasi dari kemdikbud dari versi 1.0.1 sampai sekrng 2.0.7 masih gak beres

    • jq says:

      Mungkin Kau masih perlu belajar lg.. mas bro.. makanya aplikasinya ga beres2… dan saya yakin bukan kamu yang dipanggil buat selesaikan e-gov… karena aplikasimu ga beres2.. hehehehe… Banyak orang yang lebih pandai dari kamu… hehehehhe

  60. wyd says:

    Di sekolah saya, udah beberapa tahun berjalan (kehadiran, evaluasi, nilai, penerimaan siswa, keuangan, dll) masih terus berbenah, agar ‘rahasia’ lembaga dan anak per individu ga menjadi konsumsi publik sehingga menimbulkan salah interpretasi. Belum lagi harus menyesuaikan dengan UU atau peraturan baru dari pemerintah pusat maupun daerah. Satu-satunya yg terus di-update per hari adalah website sekolah 😀

    Beberapa hal yg disampaikan Pak Jokowi dalam debat kemaren terkesan menggampangkan. Kurang realistis. Tapi yah kalau di website atau sosial media, mendingan ga komentar daripada dikeroyok pendukung Jokowi-JK.

    Jadi makin berharap ada lebih dari dua capres-cawapres…. 😦

  61. ferdy says:

    Sebenarnya saya mendukung jokowi
    Tp apa yg disampaikan p iwan adalah benar
    Karena saya pernah menjadi project leader implementasi system sdm diperusahaan saya dan butuh waktu 1 th
    Dan saya rasa untuk scope nasional ini ga mudah

  62. terimakasih pak. jogjakarta sendiri di bidang kesehatan kerumahsakitan punya program electronic hospital networking, dimana ttlah dituangkan dalam peraturan pergub dan implementasi di web dinkespro diy. tapi itulah, waktu dinkesprop presentasi di hadapan sdm it rs rs di jogja, malah diketawai, karena memang masih abal abal dan secara sdm dan infrastruktur ga siap. salah satu tujuan mulianya membuat center informasi rujukan terpadu. jadi setiap rs memajang informasi tentang rsnya, profil layanan, jumlah bed, jumlah bed kosong setiap unit. jadi diharapkan terjadi transparansi dan kemudahan akses rujukan antarkelas rs dan masyarakat, mempercepat pelayanan pengobatan, mencegah kematian karena susah mencari tempat rujukan. tapi ya begitu, sudah 2 tahun lewat, dan ga jalan….

    sedang di rs saya sendiri sudah sejak 5 tahun lalu perintisan electronic medical record dan hospital information system. memang terasa lama, karena kami lama di setting mindset user, mencicil hardware dan sdm. paling sulit adalah mengubah mindset/budaya. ketika saya huka jurnal pak iwan ini saya sedang mau menulis progres electronic medical record di rs saya. nanti coba saya selesaikan. salut.

    • Dimana-mana, termasuk di daerah saya, SDM itu faktor utama dalam implementasi. Memang tidak mudah dalam urusan change management, mengganti kebiasaan lama yg dirasa nyaman dg kebiasaan baru yg lebih terstruktur. Ditambah lagi, sifat manusianya yg beragam.

      Tentang aplikasi yg gak jalan, bisa jadi saat bedah bisnis proses / alur kerjanya tidak matang, sehingga saat pembangunan aplikasi oleh programmer itu melewatkan beberapa titik kritis.
      Kemudian setelah programnya jadi dan dimplementasikan, kemudian berhadapan dengan titik kritis itu … tidak bisa dieksekusi… berdampak pada keseluruhan proses. Ini yg membuat pengguna mutung, gak mau pake. Kembali ke proses manual.

      Sepertinya menarik untuk menyimak progress electronic medical record -nya nih. Saya tunggu sharing-nya, pak Widodo.

  63. anotherorion says:

    Pemaparane wis lengkap banget mas, tanpa tendensi menyalahkan Jokowi, soal dua minggu jadi, untuk buat sistem informasi macem e-Government hampir tidak mungkin, bahkan meskipun itu tinggal costum dari sistem informasi yang sudah didevelop sebelumnya.

    Banyak proses untuk menganalisis kebutuhan, merancang, membuat, menguji coba dan memastikan sistem itu bisa bekerja baik dan merespon dengan benar semua perintah yang diberikan user. Klo sebatas aplikasi, betul jangankan dua minggu, sehari juga jadi, itupun tergantung kompleksitas aplikasinya, tapi sistem informasi jelas beda.

    Tentunya banyak sistem analis, project manager, programmer, divisi infrastruktur dan tester yang terlibat untuk membuat sistem informasi, dan mereka tidak bisa bekerja secara paralel, karena harus menunggu tahap sebelumnya selesai dulu. Dan ingat, itu mereka itu baru sebagian orang2 teknis IT yang terlibat dalam proyek sistem informasi. Sedangkan untuk membuat sistem informasi butuh orang2 non IT yang ahli di bidangnya, gak mungkin sistem informasi pertambangan gak menyertakan ahli pertambangan, gak mungkin bikin sistem informasi pemerintahan tanpa orang yang mengerti seluk beluk sistem pemerintahan, sama kacaunya bikin sistem pembayaran tanpa menyertakan orang yang expert dibidang akuntansi/ekonomi/manajemen.

    Klo sisinfo bisa rampung dalam 2 minggu, aku malah enggak akan menyarankan klien memakai itu. Sistem informasi yang bisa jadi dalam dua minggu justru sangat beresiko, bisa menjadi bumerang yang menjatuhkan brand perusahaan/instansi yang memakai sisinfo tersebut. Cepet jadi sih iya, tapi berapa banyak bugs yang mungkin diabaikan untuk mengejar deadline dua minggu itu?

    • Terimakasih, mas Priyo, yang bisa memahami realitas di lapangan.
      Jadi sudah pasti melibatkan orang-orang non IT yang ahli di bidangnya.

      Sisinfo adalah mengelola banyak orang, bahkan mengelola arus perputaran uang dalam ruang lingkup yang besar, maka harus benar-benar akurat.

      2 minggu bikin menu master aja belum tentu kelar, karena programer harus detail memahami alur secara keseluruhan.

  64. jampang says:

    setelah acara debat, paginya di kantor, teman yang programmer juga ngomongin soal e-gov selama dua minggu itu selesai 😀

    mennurutnya kira-kira ngacolah omongan itu

  65. jaraway says:

    yaelah.. pembuktiannya aplikasi.. hahaha
    lucu2 ya pak..
    pak tif aja buat nyuksesin internet masuk ke tiap kecamatan itu perlu bertahap…

    kalau jakarta dan kota2 besar okelah..
    tapi gimana dengan daerah2 “beranda” perbatasan kita..
    menjangkaunya aja sulit..

    • Seorang pemimpin memahami persis kondisi di lapangan memang perlu.
      Hambatan non teknis selalu banyak ditemui di lapangan, mulai dari faktor SDM yg gaptek, jaringan internet yg tidak memadai, lemahnya pengawasan penggunaan aplikasi, platform yg tidak mendukung OS yg baru, dll.
      Belum tentu yg diuji di dalam ruangan kantor itu sama lancarnya dengan transaksi data antara Dusun Setan dengan Kota Magelang. Data yg masuk bisa error, atau sifatnya anomali, sehingga tidak bisa menghasilkan laporan akurat yg diwajibkan.

  66. Dyah Sujiati says:

    Hahaha, sy baru tahu ternyata ada yang mencoba membuat pembenaran itu. Jokowi ngomong apa pun, bener atau salah resiko bakal dibuat pembenarannya semua deh. Udah kayak dewa aja!
    Demokrasi bener2 nanti bisa jadi democrazy kalau sudah antikritik dan merasa segala yang dia lakukan sudah benar

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: