Home » Ghazwul Fikri » Menjawab Surat Terbuka Komunitas CONQ #LGBT

Menjawab Surat Terbuka Komunitas CONQ #LGBT

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

Di bulan Agustus ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya 2 komik edukasi anak berjudul “Why? – Puberty” dan “My Wondering Body” terbitan Elex Media Komputindo, yang dinilai bisa merusak keyakinan beragama dan budaya bangsa kita, karena secara provokatif dan terang-terangan menyebarkan propaganda LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Visualisasinya secara vulgar menyampaikan pesan: [1] mengajarkan bahwa sesama jenis juga bisa saling mencintai; [2] ajakan untuk menjadi homoseksual; [3] visual lesbian berciuman; [4] visual ajakan melakukan maksiat (disertai ekspresi tubuh). *klik link tersebut untuk melihat visualisasinya*

Buku adalah jendela dunia. Tapi kalau isinya tidak bermanfaat bahkan bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak maka bersiaplah berhadapan dengan banyak orang.

Saya mendukung aksi ibu Fahira Fahmi Idris, yang pada tanggal 7 Agustus 2014 mendatangi penerbit Elex Media Komputindo (saat itu yang diadukan baru soal komik “Why? – Puberty”, sedangkan komik “My Wondering Body” baru ketahuan belakangan). Beliau selaku Ketua Yayasan Anak Bangsa Mandiri dan Berdaya, mewakili aspirasi kami semua untuk menuntut pertanggungjawaban penerbit, diantaranya: [1] menghentikan dan menarik peredaran komik anak tersebut; [2] menuntut agar pihak Elex Media Komputindo mengevaluasi kembali terbitan-terbitan mereka sebelumnya, apakah ada yang mengandung konten LGBT; dan [3] segera meminta maaf ke publik.

Alhamdulillah, Pimpinan Elex Media masih waras, mempunyai pertimbangan yang baik dengan menerima keresahan masyarakat. Ini yang patut kita apresiasi. Pihak penerbit bertanggung jawab dengan menghentikan peredaran buku “Why? – Puberty” (menyusul “My Wondering Body” juga ditarik, setelah pertemuan antara penerbit dengan KPAI). Mereka menyatakan bahwa komik terjemahan dari Korea ini terbit bukan karena kesengajaan, tetapi karena faktor keteledoran dalam editing. Mereka pun meminta maaf kepada masyarakat luas. Mereka berkomitmen agar lebih menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, etika kemanusiaan dan budaya kebaikan yang mengakar di negeri ini di semua buku terbitannya. Dan tidak menerbitkan apapun yang mempunyai tendensi “merusak” para remaja.

Setelah pertemuan itu, melalui akun twitternya, ibu Fahira Idris mengatakan:
“Anak-anak secara tidak sadar diarahkan untuk menerima hubungan sesama jenis. Saya tegaskan kembali, bahwa saya tidak membenci atau memusuhi LGBT tapi saya menolak segala macam propoganda LGBT, terlebih kepada anak-anak dan remaja.

Saya meminta masyarakat ikut mengawal proses penarikan komik ini, dan segera melapor jika masih menemukannya di toko-toko buku maupun di perpustakaan – perpustakaan terutama di sekolah-sekolah. Ini juga pelajaran bagi penerbit lain untuk lebih berhati-hati menerbitkan buku yang kontennya sensitif terutama bagi anak dan remaja”

Munculnya Surat Terbuka dari Aktivis LGBT

Selang beberapa hari setelah pertemuan dengan pihak Elex Media, bermunculanlah Surat Terbuka yang ditujukan kepada ibu Fahira Idris, diantaranya:

Inti dari surat terbuka tersebut adalah keberatan atas tindakan ibu Fahira Idris menghentikan peredaran komik edukasi tersebut. Dua surat terbuka tersebut nafasnya hampir sama yaitu bertitik tolak dan fokus pada satu tweet beliau. Ternyata dari dulu sampai sekarang, satu tweet tersebut masih digoreng sedemikian rupa oleh kaum LGBT dan pendukungnya. Padahal kalau mereka mau fair dengan membaca keseluruhan tweet di hari yang sama, saya yakin mereka akan bisa memahami, dan tidak memberikan penyesatan opini tentang ketakutan-ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.

Oleh karena itu, dalam jurnal ini saya akan mencoba fokus menanggapi salah satu Surat Terbuka, yang berasal dari Anna Winconq.

Anna Winconq:
1. Pernyataan Fahira Idris bahwa ia tidak membenci atau memusuhi LGBT tentu tidak benar. Pada tanggal 19 Maret 2013, pemenang akun Twitter paling inspiratif ini pernah menulis “sy menghimbau agar teman2 #LGBT dg amat sangat tidak menjadi PREDATOR bagi anak2 bangsa yg normal, shg menjadi #LGBT”.
Dengan menuduh LGBT adalah predator dan “tidak normal”, jelas bahwa Bu Fahira membenci LGBT tanpa memiliki banyak pemahaman soal LGBT itu sendiri. Kalau saja ada anak kecil yang membaca twit ini, anak tersebut diajarkan Bu Fahira untuk membenci, untuk takut, tidak bisa menerima keragaman dan tidak menghargai kebebasan demokrasi.
Berbicara soal demokrasi, Bu Fahira tentunya punya hak sepenuhnya untuk menjadi seorang bigot. Sah-sah saja dia menyatakan opininya yang penuh benci ke publik lewat media sosial. Tetapi, sah-sah juga bagi seorang penulis menyatakan opininya yang penuh cinta ke publik lewat buku “Why Puberty.” There are both sides of the story. And the public deserves to hear both of them.

Iwan:

Pernyataan senator RI 2014-2019, ibu Fahira Idris, Anda anggap bernada kebencian karena sepertinya Anda hanya melihat satu tweet beliau yang ini. Padahal, kalau Anda baca keseluruhan pesan yang beliau sampaikan di hari yang sama dan terangkum di sini, jelas yang terbaca adalah pesan damai kepada kaum Anda. Kemudian diperjelas lagi dalam kultwit berikutnya yang mencoba klarifikasi, sila simak di sini.
Saya kutipkan sebagian kultwitnya sebagai berikut:

[skip]
Saya sangat memahami dan ikhlas dengan adanya komunitas LGBT di Indonesia – saya pun punya teman-teman yang LGBT dan kami bersosialisasi dengan baik. Jadi penting untuk Anda ketahui, bahwa saya TIDAK BENCI dan sedang TIDAK BERMUSUHAN dengan siapapun, termasuk dengan komunitas LGBT.

Di Rumah Damai Indonesia, sejak 2010 kegiatan organisasi saya adalah seputar: Re-Install Mental, Moral. Akhlak untuk Bangsa. Lebih khusus lagi adalah yang Rumah Damai Indonesia urus adalah anak bangsa yang berusia di bawah 21 tahun. Lebih kepada Edukasi dan kegiatan Sosial.

Pada suatu hari di bulan Februari, ada seorang follower saya yang melaporkan tentang kegiatan sosialisasi LGBT ke sekolah-sekolah Umum dan Islam [Twit laporan]. Intinya adalah para orang tua murid keberatan dengan kegiatan tersebut, apalagi membaca buku-buku dan brosur-brosur LGBT yang vulgar gambar dan kata-katanya. Saya minta dia menyebutkan alamat dibalik buku-buku tersebut, ternyata itu adalah dari Ardhanary Institute – beralamatkan di Jakarta Selatan.
[skip]
Mbak Bonitha Merlina dari Aliansi Satu Visi mengaturkan pertemuan saya dengan beberapa organisasi LGBT di Mc Donald Kemang. Ada 6 Organisasi yang saya temui sehubungan dengan “Kritik saya tentang sosialisasi LGBT ke sekolah-sekolah Umum dan Islam” yaitu: Bonitha Merlina dan Agustine dari Aliansi Satu Visi, Ienes Angela dari Kelompok Gay Waria Lelaki (GWL) Indonesia, Atiek dari Yayasan Pelita Ilmu, Aflina Mustafa dari Ardhanary Institute, Andry Yoga Utami dari Rutgers WPF (World Population Fund), Gomat, Relawan Remaja dari Aliansi Remaja Independent. Saya bersama teman-teman dari Rumah Damai Indonesia, ada Uda @aslimnurhasan, Yoga, Yudha, Ruchyat. Pertemuan siang itu berjalan sangat baik sekali, kami bersalaman, berbicara dengan sopan dan santun, tidak ada permusuhan. Bisa Anda tanyakan kepada teman-teman LGBT yang sudah saya sebutkan tadi, apakah saya benci terhadap komunitas LGBT? Pasti mereka bilang TIDAK! Justru saya sangat ber-empati terhadap segala jenis kekerasan / bully yang terjadi pada siapapun, termasuk LGBT, tapi khususnya wanita.

Dalam pertemuan yang damai siang itu dengan teman-teman komunitas LGBT, kami bicara tentang 3 hal:
a. Saya minta tim saya ada yang ikut pada saat sosialisasi, tahu persis apa yang disampaikan, patut / tidak patut, karena menyangkut remaja.
b. Saya minta mereka MEREVISI BUKU LGBT – Halaman Pertama adalah tentang peringatan AGAMA – karena ini Negara Indonesia yang ber-Ketuhanan.
c. Saya minta dipertemukan dengan pelindung LGBT – dan mereka semua menyebutkan nama Ibu Musdah Mulia.
Jadi di pertemuan siang itu dengan komunitas LGBT – saya TIDAK membahas what & why LGBT – karena saya sudah tahu dan ikhlas menerima. Saya bilang ke mereka bahwa siapapun yang di bully / menerima tindakan kekerasan WAJIB DILINDUNGI.. dan itu adalah salah satu kewajiban NEGARA!
[skip]
Sebagai manusia cerdas, harusnya komunitas LGBT juga mampu menerima dengan ikhlas pandangan ISLAM tentang LGBT. Bila Agama Islam menentang hubungan sesama jenis, seharusnya komunitas LGBT mampu bertoleransi untuk menghargai hal itu. Rasanya kalau hal ini bisa disepakati, sebenarnya gak ada yang perlu diributkan diantara kita. Kita jalani kehidupan masing-masing secara baik. Wajarlah jika umat Islam kemudian mensyiarkan umatnya yang mungkin ada yang terkena pengaruh lingkungan untuk kembali ke jalan yang benar.

Saya hanya ingin melindungi anak-anak yang akan disosialisasikan LGBT dengan perisai Agama. Anda jangan menutupi fakta bahwa banyak yang tertular karena lingkungan. Ada Lesbi yang naksir orang normal, kemudian jadi Lesbi – ada Gay yang naksir orang normal, kemudian jadi Gay.. ini kenyataan, walau gak semua ya!
Istilah predator inilah yang digunakan oleh para orang tua murid dan guru-guru di sekolah terhadap LGBT yang suka naksir anak normal. Jadi intinya orangtua murid dan guru-guru di sekolah takut dengan pengaruh LGBT terhadap lingkungan anak-anak mereka, maka istilahnya predator. Tapi karena kata-kata predator ini jadi bermasalah dan ada yang keberatan, oleh karena itu SAYA MINTA MAAF.. Bukan generalisasi, tapi kasuistik.

— e o q —

Itulah kutipan sebagian pernyataan ibu Fahira Idris melalui akun twitter-nya. Beliau juga mengklarifikasi soal “Rehabilitasi”, pernyataan lengkapnya sila lihat pada link chipstory di atas. Setelah secara keseluruhan membacanya, apakah ada pesan-pesan kebencian?
Menurut saya tidak ada poin-poin kebencian. Justru adalah jahat bila kalian menyesatkan opini dengan hanya berdasarkan satu tweet, bagi saya itu sudah masuk ranah fitnah dan provokasi.
Beliau (dan mayoritas penduduk Indonesia tentunya) hanya ingin anak-anak Indonesia selamat dari propaganda-propaganda buruk yang mempengaruhi orientasi seksual anak-anak mereka yang normal.
.

Tweet di atas pahami dengan baik bahwa fokus ibu Fahira adalah jelas ditujukan kepada penerbit dan yang terkait, bukan kepada kaum LGBT. Sebab mana mungkin Gramedia dan Elex Media tidak tahu bahwa perilaku LGBT di Indonesia itu melanggar norma-norma agama, norma-norma hukum (pernikahan dan anti seks bebas), dan melanggar norma-norma etika masyarakat. Seharusnya tim sensor dan editor buku perusahaan besar itu lebih sensitif masalah seperti ini. Apakah ada unsur kesengajaan? Sekarang masih dalam proses pengusutan.
.

Tweet di atas mengandung pesan bahwa jangan lagi men-spin soal “predator” dalam kacamata yang sempit. Beliau pun juga sudah minta maaf soal kata itu, meski persoalan sebenarnya adalah mis-interpretasi dari kaum LGBT dan pendukungnya itu sendiri.

Pesan-pesan lengkapnya di sini, dengan hastag #MenolakPropagandaLGBT, bukan #AntiLGBT. Bedakan itu.

Bila kalian keberatan dengan istilah “predator”, bagaimana kalian melihat persoalan yang menimpa anak-anak bangsa Indonesia saat ini yang tiap hari makin banyak bersentuhan dengan perilaku sodomi diantara teman sepermainan mereka? Sila simak pembahasannya dalam jurnal di sini:
>> Kasus Sodomi Anak dan Perilaku Homoseksual Anak <<

Dalam kasus-kasus tersebut, apa kata yang tepat untuk menggambarkan “pemicu” penyebab makin meningkatnya jumlah anak-anak berperilaku menyimpang dari yang sebelumnya normal?

Semoga mata hati kalian terbuka setelah melihat fakta-faktanya dalam jurnal tersebut.

.

Anna Winconq:
2. Tuntutan Bu Fahira agar Gramedia meminta maaf ke publik itu sangat misleading. Bu Fahira dan Yayasannya tidak merepresentasikan publik. Ia boleh saja bilang ada ratusan orang yang menulis surat kepadanya meminta agar buku ini tidak diedarkan. Tetapi banyak juga ratusan orang yang pro terhadap LGBT, tidak memiliki pemikiran sempit seperti Bu Fahira dan menginginkan agar buku tersebut tetap diedarkan. Termasuk kami. Jadi Bu Fahira tidak perlu membawa-bawa nama “publik”. Ini adalah agenda propaganda anti-LGBTnya dan lebih baik pihak Gramedia meminta maaf kepada dirinya dan Yayasannya saja.

Iwan:

Adalah keliru bila dikatakan misleading dan tidak mempresentasikan publik. Sebelum bertemu dengan pihak penerbit, ibu Fahira Idris telah menerima ratusan surat dari masyarakat (dari berbagai kalangan) di seluruh Indonesia yang berisi keberatan dan penolakan atas diterbitkan komik tersebut. Semua surat keberatan telah diserahkan langsung kepada pimpinan Penerbit Elex Media. Di luar itu, lembaga atau instansi seperti KPAI, Kemendikbud, Kemenag, dan MUI pun gerah dengan bentuk propaganda seperti itu [Republika], begitu juga dengan Komisi X DPR RI [Republika]. Lembaga-lembaga itu jelas representasi publik dan skalanya luas. Mereka semua sepakat bahwa apa yang digambarkan dalam komik tersebut adalah jenis ‘kejahatan terselubung’ di dunia pendidikan, selain itu juga bisa berdampak menjadi terganggunya nilai-nilai keutuhan keluarga.

Saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang menulis Surat Keberatan kepada Pemimpin Elex Media (yang dititipkan kepada ibu Fahira Idris).
Mengapa?
Karena keluarga kami memiliki HAK, diantaranya:
[1] Saya selaku orangtua menginginkan anak saya mendapatkan bacaan – bacaan bermutu. Itu hak keluarga kami.

[2] Saya selaku orangtua menginginkan anak saya mendapatkan pemahaman yang benar tentang pengertian cinta. Itu juga hak keluarga kami.
Pengertian cinta seperti apa? … Cinta antara pria dan wanita yang sifatnya fitrah ilahiyah yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam rangka mengembangkan diri yang akhirnya membentuk keluarga. Sebagaimana Allah menakdirkan makhluk-makhluk-Nya berpasang-pasangan untuk tumbuh, berkembang dan mencapai keseimbangan alam. Saya tidak ingin anak saya keracunan propaganda yang mengingkari kodrat kemanusiaan yang diberikan-Nya.

[3] Saya selaku orangtua tidak menginginkan anak saya terbiasa membaca buku tentang LGBT dengan pemahaman yang keliru. Itu juga hak keluarga kami.

Pandangan tentang LGBT bagi kami seharusnya sesuai dengan petunjuk ajaran agama kami, yaitu Islam. Kami meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya sedikitpun. Jadi, tidak mungkin Allah menciptakan manusia dengan perilaku LGBT, lalu mengadzabnya. Logis.

Pendidikan seks di usia dini itu penting. Dan lazim bagi remaja membahas tentang pubertas, seperti lazimnya orangtua dalam mendampingi anaknya untuk memberikan info yang benar. Tapi apa ya lazim tema pubertas disisipi konten propaganda LGBT, apalagi dengan pemahaman yang menyesatkan?
Yang menjadi korban dari propaganda komik LGBT ini adalah anak-anak dan orangtua, BUKAN kaum LGBT. Jadi, wajar kalau kami bersuara menentang propaganda tersebut.

.

Anna Winconq:
3. Sebenarnya surat pernyataan minta maaf kepada Bu Fahira dan Yayasannya itu sudah cukup. Pihak Gramedia tidak perlu mengabulkan permintaan Bu Fahira sampai menghentikan penerbitan buku ini. Ini membuktikan bahwa Gramedia dan Elek Media Komputindo sebenarnya belum siap dalam membuka dialog tentang LGBT ke publik lewat karya-karya mereka. Apakah selama ini mereka menerbitkan buku LGBT hanya karena market LGBT yang besar? Semata-mata urusan uang dan juga topiknya yang sensasional? Apabila mereka memang benar-benar open-minded dan memiliki agenda pro-LGBT, mereka tidak akan menggubris cuit-cuit Ibu Fahira. Apalagi sampai mereka menyatakan bahwa penerbitan “Why Puberty” itu adalah ketidaksengajaan dan kesalahan pihak editor. Ini menimbulkan kesan mereka hendak lari dari tanggung jawab. You better own it, instead of throwing someone else under the bus.

Iwan:

Seorang motivator, bapak Jamil Azzaini, yang lebih sering dikenal sebagai Inspirator Sukses Mulia, juga menulis Surat Keberatan yang dituangkan dalam blognya dengan judul: Racun Arsenik dalam Wujud Buku. Beliau mengatakan: “propaganda ‘nilai-nilai menjerumuskan’ dalam bentuk buku itu ibarat racun arsenik, tidak terlihat tetapi mematikan. Propaganda keburukan melalui buku dampaknya jangka panjang. Yang dirusak bukanlah fisik tapi pikiran dan pemahaman para pembacanya. Kerusakannya tidak terlihat langsung tapi menjalar secara perlahan, tak terasa tapi akhirnya keburukan itu menjadi tradisi dan kebiasaan banyak orang.”

Saya meyakini bahwa insan media seperti PT. Elex Media Komputindo tentu mempunyai visi misi mencerdaskan kehidupan bangsa [baca profil]. Bila insan PT. Elex Media memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang LGBT, pasti cukup menjadi pertimbangan bagi mereka untuk berhenti mengkampanyekan LGBT. Semoga mereka masih memiliki hati nurani.

Open minded bukan berarti harus mengadopsi mentah-mentah pikiran liberal. Tetapi bersikap rendah hati memahami bahwa orang lain telah memiliki hak-hak yang dilindungi oleh hukum yang berlaku. Kalau penerbit harus open-minded seperti versi Anda dan kemudian menabrak rambu-rambu hukum, maka hal itu sama dengan melakukan makar terhadap pemerintah. Pahami itu.

Most of the liberal, and self proclaimed “open-minded” people I know… are actually pretty close-minded.
.

Anna Winconq:
4. Tetapi pada akhirnya, yang paling disayangkan, adalah tinggal diamnya kaum LGBT itu sendiri. Sampai saat ini, teman-teman Anna sendiri kebanyakan memilih untuk adem ayem saja. Mungkin hanya berkeluh-kesah, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Berbeda dengan di Singapura, misalnya. Ketika 3 buku anak berkonten LGBT ditarik dari peredaran perpustakaan Nasional bulan lalu, ribuan orang menandatangani petisi dan menuntut kepada pemerintah agar buku-buku tersebut diedarkan kembali. Pada akhirnya, buku-buku itu tetap diedarkan walaupun bukan di bagian buku anak. That is the power of the people. Jokowi bisa menang dalam pilpres tahun ini juga disebabkan oleh The Power of the People.
Dalam kasus ini, where is the people?
CONQs, where is your voice? Apakah kamu akan tinggal diam saja, sibuk pesta pora di club dan sauna, dan membiarkan teman-teman penulis CONQ kamu dibungkam? Fahira Idris dengan hebat, getol dan vokal terus memperjuangkan propaganda anti-LGBTnya selama bertahun-tahun.

Iwan:

Hei,… yang jadi masalah ini adalah buku komik anak-anak, artinya untuk konsumsi anak-anak atau remaja. Tidak relevan bila Anda bandingkan dengan Singapura. Kalo rate pembacanya diganti menjadi Dewasa, untuk apa orang dewasa membaca komik anak-anak? Jelas bahwa yang menjadi sasaran edukasi adalah anak-anak atau remaja.

Saya berdo’a semoga kaum LGBT yang membaca tulisan Anda ini tidak terpancing atas wacana “the power of the people”, apalagi yang hanya mendasarkan pada satu tweet ibu Fahira Idris dan kemudian Anda salah artikan sehingga masuk ranah fitnah dan provokasi. Ibu Fahira dalam kultwit di atas sudah menjelaskan dengan gamblang bagaimana posisi kita masing-masing di tengah-tengah kehidupan masyarakat di negeri ini.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari tanamkan prinsip menghargai toleransi. Indonesia sudah sangat toleran dengan eksistensi LGBT. Buktinya… Alhamdulillah, selama ini masyarakat bisa hidup damai berdampingan dengan kaum LGBT. Kalau ada tindak kekerasan / bully terhadap kaum LGBT itu adalah pelanggaran HAM, pelakunya harus ditindak dengan adil.

Namun demikian, yang harus Anda pahami bahwa kaum LGBT seharusnya juga mempunyai toleransi terhadap reaksi masyarakat pada buku-buku Elex Media yang mengandung propaganda LGBT. Maka, pahamilah bahwa menolak segala bentuk propaganda LGBT adalah salah satu bentuk HAM masyarakat Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menolak propaganda LGBT bukan berarti anti LGBT. Pahami itu.

Penting Anda ketahui dan pahami…
HAM menurut Islam adalah hak yang melekat kepada setiap manusia sejak lahir sebagai karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka apa yang tidak diberikan-Nya itu tidak bisa disebut sebagai hak manusia. Contoh: setiap manusia diberikan hak oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyalurkan syahwat / nafsunya, namun dengan syarat yang diberikan-Nya yaitu dengan cara menikah dan tidak boleh berperilaku menyimpang (melanggar Ketetapan Allah dan Rasul-Nya). Menikah itu HAM. Namun, seks pranikah itu bukan HAM, begitu juga perilaku LGBT itu tidak bisa disebut dengan HAM. HAM menurut Islam itu tidak berdiri sendiri, disitu ada hak Allah, hak keluarga, hak tetangga dan hak negara.

Indonesia adalah negeri yang berdasarkan falsafah Pancasila, yang mencantumkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertamanya. Kemudian kita menjunjung tinggi “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”, artinya kemanusiaan, keadilan dan keberadaban itu dilandasi oleh “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan demikian, kita tidak akan mengenal kemanusiaan, keadilan dan keberadaban bila mengabaikan hak-hak Allah atas manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Jadi, di lingkungan NKRI ini, sudut pandang HAM LGBT disesuaikan dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Pasal 29 UUD 1945 berbunyi “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kita bisa memaknai bahwa Peraturan dan Undang-undang yang berlaku di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak boleh ada peraturan dan undang-undang yang anti agama.

Oleh karena itu, dengan berdalih kebebasan berpendapat, … janganlah menggoreng issue HAM untuk propaganda LGBT, dan janganlah hobby mengatasnamakan HAM yang berpotensi menggerus nilai-nilai norma keagamaan, budaya dan etika yang berlaku.

Saya yakin, tidak satupun agama resmi yang diakui NKRI memberi pengakuan hubungan sesama jenis. Oleh karena itu, setiap warga negara Indonesia (termasuk kaum LGBT) seharusnya menghormati HAK setiap penganut agama yang ingin menjalankan ajaran agamanya. Menolak LGBT adalah bagian dari menjalankan ajaran agama. Sekali lagi, Menolak bukan berarti Anti. Menolak lebih cenderung membangun kesadaran.

Sebagai penutup, saya mengutip pendapat dari ibu Fahira Idris …

Kita ini semua adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama. HAM itu milik seluruh warga. Oleh karena itu mari kita hilangkan istilah “warga minoritas, warga mayoritas”. Kita bela HAM bukan berdasarkan hitungan ‘minoritas atau mayoritas’ tetapi memang karena ada kasus / pelanggaran HAM yang meresahkan siapa pun.
Mari kita hidup damai berdampingan dengan sama-sama menghargai HAM. HAM yang sesuai dengan ideologi bangsa kita. HAM yang sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia, bukan HAM produk bangsa lain.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu melindungi Indonesia dari segala pemahaman HAM yang tidak sesuai dengan ideologi bangsa.
Sejahat-jahatnya orang pasti ada yang membela, dan sebaik-baiknya orang pasti ada yang mencela, … semoga kita semua tetap istiqomah dalam kebaikan.

Allahu Akbar!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
14.08.2014

Advertisements

25 Comments

  1. Satria amu says:

    Semoga para LGBT bisa sadar dan pemerintah memberikan hukuman tegas untuk para LGBT

  2. […] Menjawab Surat Terbuka Komunitas Conq #LGBT. […]

  3. anotherorion says:

    sing jelas asu ki gek jaman jih neng MP, nomerku ngerti2 iso terdampar neng kalangan waria, banci, gay asu kae, njuk dadi bulan2an ben dino di teror di ejak kencan neng batangan, wooo lha dancuk

  4. [Hidayatullah] Gay Politik jauh Lebih Berbahaya

    Gay politics adalah langkah-langkah politis yang dilakukan untuk melegitimasi perilaku LGBT dan menekan siapa saja yang menentangnya.

    Sejumlah lembaga internasional telah memasukkan klausul ‘dukungan terhadap kesetaraan gender’ dalam bantuannya kepada masyarakat atau ormas di Indonesia.

    Hal ini bisa dianggap sebagai sebuah tekanan politik kepada masyarakat Indonesia untuk menerima propaganda LGBT.

  5. Suhendar says:

    Tulisan yang amat penting untuk kita semua, terus upayakan dan semoga dapat konsisten dalam menebarkan kebaikan kepada kami semua.

    Sukses selalu dan maju terus, kebenaran akan tegak janji Allah kepada hambanya.

    Kagum dan respek dengan cara penyampaian bapak.

  6. suararaa says:

    Reblogged this on Time is ticking.

  7. suararaa says:

    Hmmmm.. Sangat bagus tulisannya pak……

  8. smoga semakin banyak lgbt yang sadar bahwa mereka bisa sembuh. silakan googling dengan kata kunci: lgbt conversion therapy. dan semoga di indonesia semakin banyak jenis terapi ini.

  9. bagus ada orang yang mengkritisi buku-buku yang beredar di masyarakat, kalau tidak ada postingan ini saya tidak tahu ada buku-buku seperti itu

  10. azzahravoice says:

    Jempol buat pak Iwan, kalau buat jurnal selalu komprehensif. terimakasih 🙂

  11. Tuhan memang menciptakan perbedaan (tidak titik tentu saja). Harus dicari kenapa Tuhan kasih perbedaan itu?
    Tuhan ciptakan orang bertabiat baik dan jahat, lalu yang jahat apakah harus ditolerir (sifatnya)?
    Tuhan menciptakan madu dan juga racun, lalu apakah boleh racun diminum seenaknya?
    Tuhan menciptakan perbedaan itu supaya kita bisa belajar dari perbedaan itu akan adanya ujian dalam perbedaan itu. Tuhan menciptakan racun agar kita berpikir racun itu tidak baik kalau kita minum, kalau masih ngeyel, tentu ada konsekuensinya, dan itu sangat dibebaskan oleh Tuhan, silahkan pilih, silahkan terima konsekuensinya.
    Tuhan juga menciptakan perbedaan sebagai bentuk untuk melihat seberapa dekat mereka bisa mengenal Tuhannya. Sekali lagi Tuhan menciptakan perbedaan, namun tidak bisa dikatakan sebagai titik. Untuk perbedaan perbedaan itu pun Tuhan sudah menyediakan penawar/obatnya, bila ada yang salah minum racun, masih ada kesempatan tertolong dengan obat/penawar yang disediakan Tuhan. Semoga dipahami…

  12. Rini says:

    Semakin hari, semakin miris melihat berita yang ada. Propaganda LGBT itu jelas merusak anak-anak, bantahan dengan dalih HAM itu basi. Kasus JIS kemarin belum hilang dari ingatan, apakah kita hanya akan marah ketika kasus seperti itu terjadi? Sedangkan benih-benih perusakan moral itu disebar dengan halus dan kita biarkan? Sangat setuju dengan pernyataan Bu Fahira di akhir jurnal ini. Semangat Pak Iwan, untuk terus menyuarakan kebenaran.

    • Mari menyuarakan terus pemahaman tentang HAM yang benar, bukan definisi HAM yang diperbudak hawa nafsu yang disuarakan oleh aktivis-aktivis HAM yang kosong jiwanya.

  13. Reblogged this on Indonesian Forester and commented:
    Aksi nyata! Mantap!

  14. Pernah baca buku itu, dan memang ada beberapa bagian yg kurang layak baca bagi remaja. Memang seharusnya buku itu ditarik dan diedit agar remaja kita mendapat bacaan yg lebih baik.

    • Bukunya boleh beredar kembali dengan syarat halaman yang mempropagandakan cinta sejenis itu dibuang, dan dievaluasi kembali halaman-halaman lain yang isinya menyesatkan. Itulah seharusnya kerja tim sensor buku.
      Penerbit yang mempunyai visi mencerdaskan bangsa, mestinya mempunyai tim sensor buku.

  15. Seorang psikolog, ibu Rr. Dwi Estiningsih, S.Psi., M.Psi., yang berprofesi sebagai psikolog klinis yang banyak bersinggungan dengan kasus-kasus LGBT, melalui akun twitternya, beliau berkata:

    Saya tidak menyetujui kampanye dan propaganda LGBT karena hati nurani saya merasa “kasih” dan “sayang” pada penderita LGBT. Saya dapat merasakan betul betapa berat hidup saudara-saudara kita LGBT, betapa banyak unfinished business dalam hidupnya… betapa banyak trauma dalam hidupnya, betapa banyak penyesalan dan frustrasi dalam hidupnya, dan seterusnya.
    Tidak selayaknya, ada pihak yang memanfaatkan penderitaan LGBT untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
    Hal yang harus dilakukan justru dengan MENOLONG mereka!
    Saya yakin dibalik apapun menterengnya profesi para LGBT, status sosial, materi berlimpah ruah, dan lain-lain, mereka punya DERITA yang harus diakhiri!
    Mari saudaraku LGBT tak perlu risau, tak perlu ragu…
    Tuhan Maha Pengasih. Tuhan akan membantu niat tulus untuk berubah. Kemuliaan Hanya Milik Tuhan, maka mari kita mohon kepada-Nya.
    Mari, saudaraku dari media, terutama Elex Media, Bersama melangkah mencerdaskan kehidupan bangsa dengan berbagi ilmu yang bermanfaat.
    Saya yakin penarikan buku “Why Puberty;Why Pubertas” hanya langkah kecil yang mengawali langkah-langkah besar kita.

    • Dyah Sujiati says:

      Sy setuju dengan bu Estiningsih.
      Penderita LGBT adalah korban penjaja-nya.
      Penjaja LGBT itu cuma nyari duit buat hidup, kasihan. Dan mereka memang ironi: Teriak2 atas nama HAM tapi justru melanggar HAM itu sendiri.
      Dan yang tragis justru para penjaja LGBT itu nggak hombreng. Si Musdah Mulia kawin dan beranak pinak tu. 😀
      Doa ku semoga para korban LGBT segera sadar. Aamin!

  16. Orang LGBT sama saja dengan manusia lainnya, dia adalah manusia. Namun apakah LGBT sesuai dengan fitrah manusia? Sudah sering kita bahas dan banyak argumen yang tak terbantahkan. Masalahnya sekarang kita berbicara tentang kerusakan generasi penerus bangsa yang massif adanya, salah satunya akibat penyimpangan fitrah ini.
    Satu saja catatan saya, bila membandingkan komunitas LGBT di Indonesia yang belum bisa “bersatu” dan menjadi people power atau didukung oleh banyak orang sehingga mampu mendominasi bahkan sampai dilegalkan perkawinannya oleh UU, yang itu hanya menunggu waktu bila yang masih waras hanya diam saja atau ikut arus pemikiran LGBT ini…

  17. New Rule says:

    kagum dah, bisa nulis segini banyak ….

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: