Home » Book Review » Energi Positif dari buku “Sketsa Cinta Bunda”

Energi Positif dari buku “Sketsa Cinta Bunda”

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Ada fakta yang mencengangkan bahwa tingkat perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi se-Asia Pasifik (!). Data dari Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI tahun 2010 melansir bahwa selama 2005 sampai 2010, atau rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan. Dari dua juta pasangan menikah tahun 2010 saja, 285.184 pasangan bercerai. [Berita BKKBN].

Kemudian untuk permasalahan remaja, menurut hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai 30% dari jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2 juta jiwa. Hal ini tentunya dapat menjadi asset bangsa jika remaja dapat menunjukkan potensi diri yang positif, namun sebaliknya akan menjadi petaka jika remaja tersebut menunjukkan perilaku negatif bahkan sampai terlibat dalam kenakalan remaja. Kondisi remaja di Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Pernikahan usia remaja.
  2. Sex pra nikah dan Kehamilan tidak dinginkan.
  3. Aborsi 2,4 juta: 700-800 ribu adalah remaja.
  4. MMR 343/100.000 (17.000/th, 1417/bln, 47/hr perempuan meninggal) karena komplikasi kehamilan dan persalinan.
  5. HIV/AIDS: 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi (fenomena gunung es), 70% remaja.
  6. Miras dan Narkoba.

Selangkapnya di situs BKKBN: Fenomena Kenakalan Remaja di Indonesia.

Sementara itu, ada begitu banyak pasangan keluarga bahagia, bukan saja mereka senantiasa damai sejahtera, namun putra-putrinya juga mencatatkan prestasi yang gemilang. Mereka berhasil mengatasi kerasnya kehidupan yang penuh dinamika. Apakah Anda sekeluarga ingin masuk dalam golongan ini?

… melalui jurnal ini, saya ingin berbagi informasi tentang sebuah buku yang luar biasa …
Sebuah buku yang menularkan energi positif kepada pembacanya.
Buku ini menyadarkan dan menggerakkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menunjuk para ibu untuk menjadi pendamping lahir dan tumbuhnya insan-insan pilihan yang akan mengemban tugas besar sebagai pengelola alam semesta. Pada seorang bunda yang bijaksana, generasi emas tercetak dan memberi sumbangan besar bagi kejayaan sebuah peradaban.

Tetapi, tentu tak mudah menjadi seorang ibu yang baik. Ibu Sinta Yudisia, seorang penulis yang sekaligus belajar psikologi, ibu dari 4 putera, mencoba membagi pengalamannya selama mendampingi putera-puterinya bertumbuh di alam yang penuh dinamika, melalui sebuah buku “Sketsa Cinta Bunda”


Penulis: Sinta Yudisia
Cetakan: Pertama, Mei 2014
Penerbit: Indiva Mitra Pustaka
Tebal: 120
ISBN: 978-0602-1614-21-1

Buku ini merupakan naskah yang sudah terbit di beberapa media maupun di blog. Sebuah refleksi, renungan, pemikiran, dan langkah-langkah kecil ibu Sinta Yudisia dalam mendampingi 4 putranya. Terbagi menjadi 5 bagian yakni:

I. Al-Qur’an, Shalat dan Doa

Pada bagian pertama ini penulis berbagi tentang bagaimana membentuk kebahagiaan pada anak-anak melalui kekuatan mental (ego strength) dan kemampuan bertahan (resilience) agar mentalnya kuat dan tegar saat menghadapi masalah kelak. Kedua sumber kekuatan tersebut ada pada Al-Qur’an.

Bagaimana cara menanamkan kekuatan tersebut pada anak?
Penulis menceritakan pengalamannya sebagai berikut… Ada banyak pertanyaan anak-anak yang sangat sulit dijawab. Bukan karena pertanyaan tersebut ilmiah sehingga membutuhkan data dan fakta akurat, tetapi justru karena pertanyaan yang begitu sederhana. Pertanyaan yang berasal dari informasi di media massa, televisi, atau teman-teman sekolah anak. Penulis menceritakan tentang pertanyaan anak-anak yang dijawab dengan bahasa Al-Quran, misalnya ketika anaknya sedih, maka sang bunda akan mengajak mencari jawabannya dengan Al-Qur’an.
Dibahas juga tentang luar biasanya kekuatan shalat subuh berjamaah yang mengandung makna individual dan sosial. Juga dibahas bagaimana memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar setiap lantunan hati yang terucap.

II. Rumah dan Pernak-Pernik

Kecanggihan teknologi ibarat sebuah pisau, berharga untuk mengupas sesuatu tapi dapat melukai. Begitulah internet, televisi, gadget, dan media sosial. Dalam bagian kedua ini, menjelaskan bagaimana penulis memilih metode hybrid dalam mengelola teknologi tersebut untuk anak-anak, agar mereka tidak terlukai.

Seluruh elemen Islam tak lepas dari norma-norma kebaikan, mulai dari sholat, berwudhu, menjaga kebersihan dari najis, sampai menjaga makanan / minuman tetap halal dan thayyib. Nah, bagaimana menjaga kebersihan rumah dan mengelola sikap bertanggungjawab penghuninya juga dibahas pada bagian kedua ini. Rumah seorang muslim mencerminkan siapa penghuninya. Kemewahan dan fasilitas bukan keharusan, tetapi karakter seorang muslim harus tetap dijaga. [hal. 27].

Penulis juga membahas bagaimana menerapkan kurikulum rumah dalam suasana santai penuh keakraban. Kurikulum rumah ini untuk melengkapi kurikulum sekolah yang didapatkan anak di sekolah.

Hal yang menarik lainnya juga dibahas tentang Sadako Yamamura, setan dari Jepang di film “The Ring” yang serem itu. Setelah dibedah dengan kacamata ilmu psikologi, ternyata setan ini adalah setan yang jauh lebih seram dari kuntilanak, jelangkung, genderuwo, vampir atau setan manapun didunia ini. Selain seram, setan Sadako ini juga berbahaya. Nah apa hubungannya dengan berbagai kerusakan di muka bumi? Apa hubungannya dengan parenting? Anda penasaran? Silakan baca ulasannya pada buku ini 🙂

III. Orangtua

Pernikahan tak hanya didasarkan urusan fisik semata. Lebih dari sekedar biologis, ada juga sisi fisiologis. Wajah boleh ayu dan tampan setahun sampai lima tahun ke depan, sesudah punya anak satu dua tiga dan setrusnya, apalagi digerus permasalahan hidup dan ekonomi, maka wajah rupawan tak lagi akan bertahan. Yang bisa bertahan adalah brain, behavior.

Di bagian ketiga buku ini, pembaca diingatkan kembali tentang tujuan pernikahan dan bagaimana cara Luqman mendidik anak. Mungkin begitu banyak diantara kita yang sudah banyak belajar ilmu rumah tangga dan parenting lewat buku, pelatihan, seminar, talkshow, milis, atau blog, NAMUN dalam implementasinya … kenyataan tidak sesuai harapan. Kalau sudah begini apakah yang harus dilakukan? Saya rekomendasikan Anda membaca buku ini untuk mendapatkan gambaran solusinya.

Dalam bagian ini Anda akan paham bahwa pernikahan yang bertahan adalah yang dimulai, dijalani dan Insya Allah kelak diakhiri dalam rangka pengabdian kepada-Nya. Seperti apa implementasinya, dibahas dengan manis di buku ini.

IV. Anak

Anda tentu ingin memiliki anggota keluarga yang baik akhlaknya, bagus ibadahnya, dan sehat jasmaninya. Tetapi saat ini begitu banyak serbuan jenis makanan dan minuman di sekeliling anak-anak yang membuat anak sering sakit-sakitan. Juga gempuran bacaan yang tidak sehat, tontonan yang mengumbar hedonisme, game / permainan yang tidak sehat, yang semuanya bisa membuat anak-anak sakit jiwa dan pikirannya. Ditambahlagi gempuran pornografi dalam lingkungan pertemanannya maupun di media sosial.

Bagi orangtua tentu sulit rasanya menerima kenyataan, setelah sekian tahun melakukan dominasi, tiba-tiba muncul sosok penentang dalam rumah. Anak yang berani berkata: “Memangnya kenapa kalau pacaran? Toh semua temanku pacaran. French kiss dah biasa!”

Kita tentu tak ingin anak-anak tersayang kita yang menjadi tumpuan harapan baik di dunia maupun yaumil akhir kelak menjadi generasi yang terbiasa dengan budaya yang merusak dirinya dan lingkungannya. Maka pada bagian keempat ini, penulis berbagi inspirasi bagaimana membentuk anak yang sehat, baik fisik maupun mentalnya. Juga membahas bagaimana membangun anak remaja kita menjadi seorang high achiever, bukan trouble maker; dengan membedah sifat-sifat remaja.

Mukmin yang kuat, akan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena di era milenium, bukan hanya dibutuhkan ketahanan ruhiyah, tapi juga fisik yang tahan banting. [hal. 76]

Yang tak kalah pentingnya, penulis berbagi tentang bagaimana memberikan pandangan yang sehat kepada anak-anak tentang jodoh dan pernikahan. Married is a gambling, kata pepatah barat; namun tidak demikian bagi kita. Bagaimana penulis menjelaskannya, yuk baca bukunya, agar anak-anak tercinta kita kelak bisa memilih belahan nyawa sebagai pasangan yang baik di dunia maupun di surga firdaus.

V. Otak dan Kepribadian

Dalam bagian terakhir buku ini, penulis menjelaskan makna gifted children dan superior category, dengan membedah kasus dari beberapa kisah orang yang mempunyai IQ tinggi namun tidak happy ending.

Juga menjelaskan Konsep Well Being, apakah kebahagiaan itu “didapat” (self acceptance) atau “dicari” (self discovery). Dibedah dengan sudut pandang yang menarik berdasarkan tema penelitian ibu Sinta Yudisia (penulis) tentang psychological well being.

Demikian gambaran singkat pada tiap-tipa bagian buku “Sketsa Cinta Bunda”.

Bagi ibu Sinta Yudisia, menjadi ibu adalah sebuah proses belajar tanpa mengenal batas waktu. Karena itu, pada setiap detik waktu yang terlewat, selalu saja ada momen yang menarik untuk direnungkan dan dibagi. Hal itulah yang membuat buku ini sungguh penting untuk dibaca baik oleh para ibu, maupun calon ibu, bahkan juga para pendamping kaum ibu.

Buku ini tipis, 120 halaman saja, jadi mudah untuk dituntaskan dan bisa dibaca berulang-ulang agar makin menancap ilmunya. Meski tipis, di dalamnya banyak referensi kisah-kisah menarik yang dibedah dengan unsur-unsur psikologi sesuai kompetensi penulis ditambah dengan wawasan keislaman.

Bukunya bisa dipesan langsung kepada beliau melalui akun twitter @penasinta

Selamat berburu ilmu!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
07.09.2014

Advertisements

26 Comments

  1. liat tulisan ini bagus banget, Pak. Bapak kalau menganalisa juga bagus. setuju banget sama komentar bu dokter. ayo Pak, bikin buku. saya bantu promosiin, Pak. pasti banyak yang tertarik, Pak. insyaAllah

  2. kekekenanga says:

    Assalamualaikum Pak Iwan

    Keke, mengundang Pak Iwan untuk melangkah bersama di http://kekekenanga.wordpress.com/2014/09/19/odop-ala-blogger/

    Salam ODOP
    KekeKenanga

  3. Dan saya pikir, pak Iwan juga sudah waktunya bikin buku…. 😉

  4. kekekenanga says:

    wah meskipun saya belum nikah tapi nggak ada salahnya kan dipelajari dulu hihiii *benerin jilbab*
    trimakaih Pak 🙂

  5. Rini says:

    Saya sudah dapat bukunya Pak, di Gramedia juga ada. Tapi belum tuntas sih bacanya 🙂

  6. Saiful ghozi says:

    Tantangan yang berat bagi orangtua masa kini, ibu adalah faktor penting bagi tumbuh kembangnya anak. Saya akan coba liat di toko buku, trims pak share nya,,Salam kenal dari Balikpapan.

  7. alrisblog says:

    Wah menarik nih bukunya buat dibaca.

  8. lieshadie says:

    Ulasan yang komplit…di tambah membaca buku ini , Insya Allah sukses membangun keluarga samara. Amin.

  9. asmie says:

    Di toko buku sudah wonten dereng nggih Pak?
    Klo via twiteer… hmmm dalem mbotem ndamel twitter.

  10. Nunung says:

    jadi ingin baca pak Iwan

  11. izzatyzone says:

    Rekomended pula buat Yg belum nikah ya pak? :)) *nyengir*

  12. Waaah, luar biasa Mas Iwan… Beliau juga sangat aktif kan ya…

  13. jampang says:

    bermanfaat nih, pak. terima kasih

  14. danirachmat says:

    terimakasih banyak Pak Iwan. Mau cari buat kami ah.

  15. Galuh Nindya says:

    Trims sudah share pak. Sy jadi nambah referensi yg ingin dibaca nih.

  16. Mantap sekali, Pak Iwan.. terima kasih buat rekomendasi bukunya.. its so excited (^-^)

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: