Home » Psikologi Anak » Anak Nonton Film Porno

Anak Nonton Film Porno

Blog Stats

  • 1,927,553

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,841 other followers

… Bagaimana orangtua sebaiknya bersikap?


[ilustrasi: Shutterstock]

Bismillah …

Setiap orangtua tentu menginginkan buah hatinya tumbuh sebagaimana usianya, dengan akal dan pikiran sehat tanpa terkontaminasi virus pornografi. Segala upaya pun dilakukan orangtua demi menjaga agar anak-anak mereka terhindar dari tayangan yang bisa merusak moral. Upaya tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebab setiap hari di sekeliling anak kita bertebaran perangkap yang dapat menghancurkan masa depannya. Perangkap itu bisa dalam bentuk teman, buku bacaan, dan teknologi.

Melalui ruang komentar pada jurnal saya terdahulu: Dialog Ortu-Anak: Video Mesum Anak SMP, seorang pengunjung blog (ibu Shinta Dewi) meminta nasehat atas kejadian yang dialami anaknya yang terpapar pornografi. Saya share pertanyaannya di sini, sebagai bahan brainstorming untuk para pembaca blog ini. Semoga bermanfaat.

Pertanyaan:

Anak saya umur 7 tahun, pak, saya tidak memberikan hp atau smartphone, tapi betapa kagetnya ketika anak saya bercerita pernah melihat video porno meski tidak sampai selesai. Bagaimana caranya mengatasi atau menerangkan kalau yang dilihat dia itu tidak baik, saya panik, pak, sampe bingung padahal selama ini waktu sekolah padat, maupun sekolah mengajinya saya takut dia penasaran. Mohon pencerahan ya, pak. Sebelumnya terimakasih.

Shinta Dewi

Jawaban:

Dear Ibu Shinta Dewi yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saya bisa merasakan kepanikan ibu dan prihatin dengan apa yang dialami anak ibu yang telah terpapar pornografi.
Langkah ibu sudah tepat, dengan tidak memberikan hp atau smartphone pada anak ibu di-usianya yang masih 7 tahun. Namun demikian, (terlepas dimana dan darimana anak ibu melihat video porno) apa yang dialami anak ibu adalah fakta bahwa negeri ini belum aman bagi tumbuh kembangnya anak dengan pikiran yang sehat karena dikepung oleh serbuan pornografi.
Mengapa bisa begitu?
Anak bisa saja diproteksi dengan pembatasan pemberian hp atau gadget, juga pembatasan kebebasan akses internet oleh orangtuanya; NAMUN yang sering orangtua lengah dan tidak sadari adalah lingkungan pertemanan si anak. Tidak menutup kemungkinan ada teman anak ibu yang ‘bebas’ dan mudah mengakses materi pornografi. Teman anak ibu tersebut mendownload materi pornografi baik dalam bentuk gambar maupun video dan menyimpannya di dalam gadget-nya. Materi yang ia download bisa berasal dari situs-situs porno, atau para WTS yang jual diri lewat media sosial. Ada kecenderungan, seorang anak akan merasa bangga bila dianggap lebih dewasa di lingkungan teman-teman sebayanya. Demi mendapatkan pengakuan, ‘si anak smartphone’ tersebut akan memamerkan ‘kebebasan’ yang ia miliki. Dari sini, besar kemungkinan anak ibu dipertontonkan video porno oleh anak yang matang sebelum waktunya.

Kemungkinan lainnya bisa saja anak ibu menonton video porno yang disimpan di dalam PC atau hp oleh salah satu anggota keluarga di dalam rumah. Semoga kemungkinan ini salah, artinya tidak ada anggota keluarga yang menyimpan materi pornografi. Namun demikian ibu harus memastikannya.

Kemungkinan lainnya, anak ibu bebas mengakses situs-situs dewasa (baik di rumah maupun di warnet) tanpa sepengetahuan orangtuanya. Memang tidak mungkin orangtua akan berada 24 jam mendampingi anak dalam mengakses internet, terlebih bila orangtua yang kesehariannya bekerja di luar rumah.

Lantas apa yang harus dilakukan orangtua menghadapi anak yang pernah menonton video porno?

1. Jangan panik

Perasaan shock dan sedih itu sudah pasti. Namun sebagai orangtua, sedapat mungkin bisa bertindak bijak dan tenang saat menghadapi kepanikan. Jangan panik, karena bila panik, maka biasanya dibarengi dengan sikap emosional yang tidak pada tempatnya. Anak yang dimarahi dengan emosi tingkat tinggi cenderung akan semakin menutup diri dan tak mau terbuka menyampaikan perasaannya.
Saat anak ketahuan menonton video porno, ada kemungkinan akan mencoba berani berbohong demi menyelamatkan dirinya. Tentu ia tak ingin orangtuanya tahu sepak terjangnya baik di dalam maupun di luar rumah. Oleh karena itu, hindarilah meluapkan kekesalan dengan kalimat yang menyakitkan. Hal tersebut hanya akan melukai perasaan anak dan ia akan semakin jauh dari kontrol orangtuanya. Bila merasa kesal, mau marah, maka kuasailah diri kita dahulu sampai kita merasa lebih tenang.

2. Bicara pada anak seperti layaknya kepada sahabat

Setelah kita merasa mampu menguasai diri, barulah ajak anak untuk bicara dari hati ke hati.
Tanyakan bagaimana perasaan anak, apakah yang ia pikirkan sejak melihat video tersebut. Biarkan anak bicara sampai selesai, jangan dipotong. Namun, bila anak terlihat bingung, rangkul dia sehingga menjalar magnet positif yang mendamaikan dari orangtuanya.
Setelah anak selesai menyampaikan segala ekspresinya, berilah motivasi dan pesan-pesan moral, anak bisa kita ajak untuk lebih berpikir bijak terhadap apa yang ia lakukan. Poin-poin penting yang perlu disampaikan:

  • Beri kesadaran bahwa perilaku itu adalah hal negatif yang dimurkai Allah dan harus dibuang sejak awal agar tidak menjadi bibit negatif bagi dirinya dan masa depannya sendiri.
  • Beri kesadaran bila sering melihat aurat bisa menjadi penyakit akal dan jiwa.
  • Ajak anak untuk berdialog apa guna Allah menciptakan mata, yaitu untuk melihat hal-hal yang baik. Kelak, mata kita akan ditanya oleh Sang Pencipta untuk apa dia digunakan.
  • Setelah itu, ajak anak untuk beristighfar, memohon ampun kepada Allah dan berjanji untuk tidak lagi melihat video seperti itu.

Buat kondisi anak merasa nyaman dengan Anda selaku orangtuanya, sampai ia tidak sadar kalau Anda sedang menginterogasinya, terlebih bila dialog itu dilakukan sambil menyantap kue kesukaan. Gunakan nada suara rendah ketika berbicara dengan anak. Hal ini untuk menyamakan gelombang alfa yang ada di otak anak, sehingga tidak timbul gap antara orangtua dan anak. Dengan kalimat yang tidak menekan si anak, tanyakan bagaimana ia bisa sampai melihat video tersebut? Apakah karena sengaja atau tidak? Jangan kaget mengapa bisa ada unsur ketidak-sengajaan, begitu banyak jebakan link video di internet yang memancing pengguna internet untuk nge-klik.

3. Beri kesibukan anak dengan kegiatan positif.

Saya teringat dengan ucapan ibu Elly Risman (psikolog), beliau mengatakan:

Anak yang sempat melihat situs porno bisa dipastikan tetap menyimpan pengalaman itu dalam benaknya. Memori ini dapat sesekali muncul kapan saja pada waktu dia sedang tidak sibuk.

Oleh karena itu, berilah ia kesibukan yang memancing kreativitasnya. Ajaklah anak untuk lebih banyak melakukan aktivitas fisik di luar rumah, misalnya bergabung dengan klub olahraga, klub sains, klub seni untuk lebih mengembangkan minat, bakat dan kemampuan sosialisasi anak. Aktivitas permainan yang berinteraksi dengan alam juga baik dalam mengembangkan kematangan emosional anak. Dengan demikian lambat laun anak tidak akan sempat lagi mikir yang tidak-tidak tentang apa yang pernah dilihatnya. Jangan lupa, tanamkan pula nilai-nilai moral dan agama pada anak agar anak mulai mengembangkan diri mengontrol perilakunya.

4. Tingkatkan pengawasan dan perlindungan anak.

Dengan adanya peristiwa ini, maka ada beberapa hal yang perlu ibu lakukan, diantaranya:

  • Rutin diskusi dengan anak tentang kualitas pertemanan. Sehingga ibu bisa mengetahui siapa dan bagaimana sifat teman-temannya. Ajarkan bagaimana menjaga jarak (tanpa harus memusuhi) terhadap teman-temannya yang mempunyai potensi masalah. Contoh peristiwa akibat salah berteman: “Akibat sering nonton film porno, 5 anak SD cabuli temannya”.
  • Rutin melakukan monitoring dengan menanyakan apa saja kegiatannya selama di rumah atau saat ia bersama teman-temannya di luar rumah. Beri pengertian padanya bahwa hendaknya ia tetap bisa memegang janjinya dengan tidak mengkhianati kepercayaan orang tua.
  • Bila memang ponsel benar-benar diperlukan agar bisa tetap berkomunikasi kapan saja, berikanlah ponsel untuk anak yang tidak memiliki fitur lengkap, seperti bisa mengakses internet atau mendownload foto atau video.
  • Amankan PC atau laptop di rumah dengan menggunakan software aplikasi yang diunduh dan diinstal untuk hal yang berhubungan dengan internet dan browsing, yang telah dirancang dengan filter hal-hal yang bersifat vulgar, porno, ataupun hal-hal negatif lainnya.
  • Meletakkan PC yang tersambung dengan internet di ruangan yang terlihat oleh banyak orang di rumah.
  • Sabar mendampingi anak ketika ia menggunakan internet, sehingga kesalahan dalam “meng-klik” materi yang tidak seharusnya, bisa diminimalisir.
  • Menyimpan fasilitas internet ketika orangtua tidak ada di rumah, sehingga anak tidak bisa menggunakan internet tanpa pengawasan dari orangtua. Tekankan penggunaan internet hanya untuk hal-hal penting, seperti mengumpulkan data atau informasi pelajaran.
  • Kalaupun terpaksa membuka akses internet karena adanya tugas dari sekolah, maka rutinlah memeriksa history.
  • Jangan segan-segan melakukan inspeksi mendadak. Contoh peristiwa akibat lengahnya orangtua: “Cabuli 13 teman, murid kelas 6 SD mengaku pernah nonton video porno di hp ayah”.

Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat.
Semoga Allah senantiasa menjaga putra-putri kita dan dijauhkan dari musibah.

Iwan Yuliyanto
07.10.2014

Advertisements

32 Comments

  1. Christi Agung Kurniasih says:

    Assalamualaikum pak..
    Saya ingin bercerita, karena baru saja saya mengalami hal mengejutkan ini.
    Begini pak, anak perempuan saya usia 7,5th. Saat usia 4 / 5 th, karena kelalaian kami, dia terpapar video porno dari hape salah seorang pegawai kami.
    Sejak itu, tidak aa hal aneh yg kami lihat. Pada saat kejadian pun kami sampaikan secara halus bahwa itu tidak baik, dsb, dia bisa memahami.
    Selama ini pun, meski membuka situs video youtu**, sepengetahuan kami, yg dia tonton hanya kartun atau tutorial play doh dll.
    Tapi malam ini, baru saya dapat laporan dari saudara yg sempat beberapa kali melihat anak saya ini menonton video porno di komputer, ketika anak saya berkunjung kerumahnya. Menurut saudara saya malah ‘sering kali’. Karena 2 atau 3 kali sudah sangat sering bagi saya..
    Saya shock setengah mati.
    Spontan menangis.
    Anak saya ini saya tanya. Awalnya nggak mau jujur. Pada akhirnya, sambil menangis sesnggukan dia ungkapkan sejujurnya..”iya, aku liat pep*k” “maaf bunda..aku nggak bisa ngilangin keinginannya itu, aku nggak bisa nahan, aku kepengen liat terus sejak aku liat waktu masih kecil dulu”
    Duuuh..rasanya seperti disambar petir pak…
    Malam ini kami menangis bersama..saya jelaskan seperti yg bapak bilang diatas..dia juga berjanji tidak mengulang..
    Tapi sebagai orang tua, saya benar-benar khawatir ini akan terulang, karena dia teringat yg dia tonton di hape itu, membuat dia penasaran ingin lihat lagi..

    Yg ingin saya tanyakan. Bagaimana cara untuk “trauma healing” bagi anak ini? Saya anggap ini trauma, karna pengalaman itu membuat dia teringat terus.. Bagaimana cara agar dia bisa menahan atau menolak keinginan nonton lagi itu?

    Trimakasih sebelumnya pak..

  2. cafe says:

    sy kira hanya anak sy yg mengalami hal ini..ternyata begitu byk,,sampai merinding sy..sebegitu kuatnya arus informasi zaman skrg tp akhirnya malah merusak akhlak anak2 kt.. awalnya sy malu mengungkapkan kpd org2 makanya sy pilih browsing utk mencari cara mengatasi anak sy yg bbrp x kedapatan browsing hal2 berbau pornografi. semoga sy bs membicarakan hal ini baik2 dgn anak tanpa histeris dan membantunya menghindari kecanduan ini..pak iwan sy srg2 curhat disini ndak apa2 kan..

  3. Herman says:

    hallo.. pak Iwan. ini dengan Herman .. anak saya ini suka bermain dengan tetangga sebelah, anak tetangga sebelah ini mainnya di rumah saya, anak ini seumuran dengan anak saya, 7th .. waktu mereka bermain kok saya lihat anak saya lagi megang hpnya anak tetangga ini.. saya lihat ternyata ada film porno yang dia nonton. pas saya lihat saya langsung ngomong “sedang ngapain kamu?” anak saya ini langsung panik dan sembunyiin hp temannya itu. saya tetap ambil terus lihat ternyata betul film porno. tapi saya langsung diam saja. Takut kalau saya marahin dia dianya penasaran berlebih. Anak saya ini tidak sengaja menonton film porno itu. bagaimana pak Iwan dampak dari anak yang tidak sengaja menonton film porno ?
    mohon penjelasannya pak.

  4. Deira says:

    Assalammualaikum pak iwan…, saya ibu asuh dari keponakan saya yg orangtuanya bercerai saat dia berusia 5th, namun sepertinya peristiwa perceraian org tuanya itu sangat membekas. Saya mengasuhnya dr usia 4 bulan krna memang dr awal ortunya tidak harmonis, dia bersama saya sampai kelas 2 SD, lalu diambil kembali oleh ibu kandungnya. Jika liburan sekolah dia bersama saya. Skrg dia berusia 12th. Bbrp hari lalu dia mendonlod aplikasi chat dg robot ayam di playstore dari hp saya, saya membiarkannya krna aplikasinya ini dg tk keamanan 96%, dan dia pun menulis hal2 yg biasa saja. Namun, bbrp hari lalu saya memeriksa apa saja yg dia tulis di aplikasi tsb, saya sedih membacanya karna sepertinya dia merasa nyaman untuk mencurahkan apa yg dia rasakan pd aplikasi tsb. Dia menulis bahwa keluarganya tdk bahagia, krna perceraian ortunya, saya menyayanginya seperti anak kandung saya sendiri, & saya selalu berusaha membuat dia merasa nyaman & tau bahwa akan ada org yg selalu berjuang buat kebahagiaannya. Namun ada hal yg membuat saya sangat shock pa, krna sehari setelah dia menulis ttg perceraian ortunya, dia menulis kata2 yg teramat sangat vulgar dg aplkiasi simsimi tsb. Dia mengajak simsimi ini untuk berhubungan badan seolah2 simsimi ini adalah kekasihnya. Dia menulis kata2 meminta simsimi untuk mencumbunya, & kata2 yg dia tulis itu seperti jabaran dari video porno, dia meminta untuk mencumbu kelaminnya pd aplikasi simsimi, dan menawarkan pd simsimi mau atau tdk untuk di blow job kelaminnya seolah2 simsimi ini laki2, keponakan saya perempuan. Detail sekali & seperti sudah expert menjabarkan adegan2 seks. Saya lemas membacanya & merasa sedih sekali (sekedar info pd saat diambil kembali oleh ibunya dr saya pd kelas 2 SD, anak ini tdk tinggal dg ibunya, melainkan dititipkan juga kepada salah 1 sodaranya, dan saat ini dia dirawat oleh neneknya, ibunya tinggal di tempat suami barunya).

    Saya harus bagaimana ya pak, menghadapinya, saya sudah menanyakan apa yg dia tulis sebaik mungkin, dan dg bahasa sehalus mungkin sambil trs beristghfar dlm hati, anak ini lgs menangis histeris sambil menendang2 tembok, saya peluk dia, sambil menenangkan bahwa saya bertanya bukan utk memarahinya tp karena saya peduli dan sayang pd nya seperti anak saýa sendiri. Setelah tenang saya tanya kembali, dr mana dia bs tau hal2 dewasa, apa dr hp, dia menggeleng. Saya tanya trs dr mana dia tdk mau jwb. Saya sudahi dulu bertanyanya agar tdk terkesan memaksanya utk menjawab. Tdk lama dia bersikap biasa lg, bermain seperti tidak terjadi apa2. Melihatnya seperti itu saya coba utk bertanya lg, dia menjawab dari adiknya yg laki2 yg berusia 10th, & blg adiknya ini tau dari teman2 adiknya. Saya makin penasaran, klo memang dari adiknya, knp anak asuh saya ini bisa tau jg sedetail itu, dia mulai tidak mau menjawab lg, knp dia sampai bisa menjabarkan adegan2 vulgar sedetail itu, jika hanya tau dari adiknya.

    Apa yg sebaiknya harus saya lakukan pak, sementara ortunya tdk tllu peka & peduli pd perkembangan anak2nya. Memang pak lingkungan hidup anak ini tidak sehat, ortunya menikah pun krna MBA, sampai pernikahan ke 2 masing2 ortunya pun krna MBA lg. Jd persepsi anak ini org pacaran itu hamil, lalu nikah. Tindakan apa yg harus saya ambil? Apa saya harus buru2 mengajaknya ke psikolog? Sementara dia hanya bersama saya saat libur sekolah dan saya tidak punya kekuatan apa2 untuk mengambil hak asuhnya. Mohon sarannya ya pak iwan, terima kasih sblmnya

    • Wa’alaikumsalam, bu Deira.
      Saya merasa sedih membacanya. Memang perceraian selalu menimbulkan luka yg paling dalam pada si anak, apalagi jika anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Dan si anak kini menunjukkan gelagat bahwa ia tak hanya kurang kasih sayang, tapi juga kurang didikan agama. Maka butuh proses panjang untuk mengembalikan seperti anak normal pada umumnya.

      Membaca perilaku anak tersebut yg sudah pada tingkat yg tidak wajar, maka ia perlu segera disembuhkan. Otaknya sudah sangat parah mengalami gangguan akibat terpapar pornografi di usia dini. Hemat saya pengobatannya adalah gabungan ilmu psikologi dan ilmu agama, yg kalau kata Prof. DR.dr. Dadang Hawari istilahnya Psikoreligi. Prof. Dadang mempunyai kliniknya untuk hal-hal seperti itu. Ibu Deira bisa menghubungi Univ, Indonesia.

      Namun, jika dirasa tidak memungkinkan, karena masalah jarak dan waktu, maka lakukan secara pengobatan pada ahlinya, yaitu Ulama & Psikiater di sekitar kota ibu Deira tinggal. Ya, ulama saja dulu, yg biasanya memiliki ‘ilmu’ lebih mumpuni untuk atasi ini. Biasanya ada di ponpes2 yg mempunyai klinik mengatasi anak2 nakal, ada berbagai terapi dan doa untuk anak2 nakal. Segerakan ya, bu, sebelum terlambat.

      Saya paham, ibu Deira kini tidak mempunyai kuasa apa-apa untuk bebas mengambil tindakan, namun coba usahakan sekuat mungkin untuk bisa meyakinkan ibu kandungnya anak tersebut bahwa anaknya mempunyai masalah yg sangat serius. Bawalah bukti2 dan katakan bahwa hal tsb harus diatasi secepatnya. Yakinkan ibunya, bahwa kelak di akherat dia dan suaminya akan dimintai pertanggung-jawaban atas anaknya, yg diamanahkan-Nya. Sebagai referensi, ibu Deira bisa menyampaikan poin-poin di siini: Anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga.

      Demikian saran dari saya. Saya tunggu perkembangannya ya, bu, semoga ada kabar baik. Wassalam.

    • Deira says:

      Terimakasih banyak pak iwan , atas waktunya untuk menjawab pertanyaan saya. Iya pak iwan, saya sudah menyanyanginya seperti anak sendiri, saya pun tinggal daerah salemba, hanya saja krna anakn sudah tdk dlm asuhan saya, jd saya aga sulit untuk rutin mengajaknya ke psikolog. Saya sudah memberitau orangtuanya, hanya saja anak ini tidak tinggal bersama salah 1 ortu kandungnya, di titipkan ke nene dr ibunya, saya pernah memintanya untuk tinggal bersama saya lg, tp tidak mendapat ijin dr ibunya. Tp 1th lg , anak asuh saya akan lulus SD, saya usahakan sebisa mungkin untuk mengasuhnya kembali, semoga saja saya masih bisa membimbing & mengarahkannya. Amin…

  5. Arsanti says:

    Assalamualaikum pak iwan..saya mau minta bantuan. Saya punya anak perempuan skr umur 9,5 thn, dulu waktu dia umur 6thn dia pernah lihat video porno dihp ayahnya, waktu ketahuan sama saya itu sdh ke 3xnya dia nonton video itu. Saat itu saya sangat kaget dan lgs lemes spt disambar petir siang bolong. Tp saya berusaha tenang utk menghadapinya.singkat cerita akibat kejadian itu ternyata sampai skr anak saya punya pikiran negatif yg saya ngeri utk membayangkan, setiap dia melihat org tidur siapapun itu dg mulut terbuka atau dengan tangan posisi tengadah jari2nya dia lgs berpikiran ingin memainkan kemaluannya.untungnya anak saya terkadang mengakui perbuatannya dan apa yg dia pikirkan kpd saya, meski saya sll menasehatinya bahwa itu tdk baik dan dia hrs mengingat Allah..tetapi ternyata pikiran negatif itu sampai skr msh..saya harus bagaimana pak iwan apa yg hrs saya lakukan, saya sampai ketakutan sendiri dg apa yg ada dipikiran anak saya.mohon bantuannya pak

    • Wa’alaikum salam, bu Arsanti yang dirahmati Allah.

      Saya ikut merasa sedih membaca kondisi putri ibu.
      Begitu banyak literatur psikologi menjelaskan bahwa tayangan pornografi daya rusaknya lebih dahsyat daripada narkoba. Saking dahsyatnya, kecanduan pornografi itu paling sulit untuk diobati, karena kecanduan ini menyerang ‘jantung’ kemanusiaan. Pornografi merusak otak, lebih dari methamphetamine. Bagian otak prefrontal cortex akan hancur. Bagian tersebut merupakan bagian otak yang mengontrol moral dan nilai, pengontrolan diri, dan pengambilan keputusan. Saya juga banyak menerima laporan tentang anak yang masih SD dan SMP yang sudah “memar otaknya” sehingga pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang berbau sex. Menjadi tambah parah, ketika mereka bersentuhan dengan media sosialnya. Ada yg pasif dg kecenderungan voyeurism, ada yg aktif dgn memiliki kecenderungan eksebisionis.

      Membaca sharing yang ibu sampaikan, sepertinya putri ibu sudah memasuki gejala yang tidak wajar. Ia sudah 3 kali melihat tayangan film porno. Mungkin ibu tidak tahu seberapa lama durasi yang ia tonton untuk film pertama dan kedua. Bisa jadi sepanjang durasi tersebut telah merusak otaknya. Untuk memastikan bahwa memang ada kelainan, ada baiknya diperiksa / didiagnosa oleh psikiater. Kita patut kuatir akan hal tersebut. Dengan memiliki rasa kuatir bisa mendorong kita untuk peka dan berupaya maksimal agar “rekaman negatif” dalam otak anak hilang, digantikan dengan banyak hal yang positif.

      Ia bisa saja memanfaatkan waktu dimana saat ibu lengah mengawasi, sementara dalam otaknya tiba-tiba hinggap pikiran yang ngeres yang mendorong untuk berperilaku yang negatif tanpa sepengetahuan ibu. Maka jalan terbaik adalah diberikan terapi efek memar pada otak anak secara intensif. Coba ibu bawa putri ibu ke psikiater atau ke pondok pesantren yang mempunyai pelayanan qur’anic healing atau ke klinik ruqyah.

      Selama ibu mencari tempat terapi yang baik di kota ibu, jangan lewatkan juga membacakan ayat2 ruqyah di setiap harinya saat putri ibu tidur.

      Selain itu, lebih sering memberikan kesibukan yang positif pada putri ibu, sesuai hobinya, agar bisa mengalihkan perhatian dan pikirannya dari hal-hal yang negatif. Bangun komunikasi yang baik.

      Untuk suami ibu, harus mau membuang semua file dan materi yang berbau pornografi dari rumah dan hape, mengingat anak sudah mulai tumbuh besar.
      Karena terbatasnya kolom komentar, untuk hal ini, (kalau ada kesempatan) Insya Allah, saya akan bikin tulisan khusus dalam blog saya tentang kelakuan orang tua yang mengoleksi film porno di rumahnya, dan bagaimana menyikapinya.

      Wassalam.

  6. ish says:

    Maaf pak iwan mau nanya, cara menyampaikannya pd anak yg sudah nonton video porno, bagaimana ya?? Anak umur saya baru 10 thn laki2…sy takut, panik dan bingung, g tau cara menjelaskannya pd anak…d marahi jg salah…minta penjelasannya, kata2 yg mudah d mengerti anak dan tdk terulang lg pd anak pak…trimakasih.

    • Salam,
      Saya turut bersedih dengan cobaan yang dialami keluarga bapak/ibu Ish. Memang semakin hari semakin besar tantangan kita sebagai orang tua dalam membentengi anak dari pengaruh pornografi. Mengingat betapa mudahnya akses materi pornografi saat ini. Meski diblokir ada banyak sekali panduan di internet untuk membuka blokir tersebut.

      Dalam kasus yang menimpa keluarga bapak/ibu Ish, maaf, saya rasa pertanyaan bapak/ibu Ish hampir sama dengan pertanyaan ibu Shinta Dewi dalam jurnal di atas. Monggo .. silakan ikuti yang saya paparkan di atas.

      Semoga tidak ada kendala / masalah dalam penyampaiannya.

  7. amelia says:

    hallo pak Iwan, anak saya 4tahun dia sering sekali main game di hp papa nya. smua aplikasi yg tidak untuk anak2 di kunci dan di hidden. tetapi mungkin barangkali papanya baru mendownload video porno yg msh ada dalam folder download yang memang tidak dikunci. saya kaget pas lihat anak saya sedang melihat video porno tsbt. hnya 24 detik dia melihat tapi saya paniknya minta ampun. saya bingung menjelaskan kpd anak 4thn spt dia bagaimana. saya jelas malah kesal sama suami saya. kenapa tidak hati2. mhon pencerahannya pak iwan bagaimana saya memberi penjelasan thdp anak saya. terima kasih

    • Hallo, Bu Amelia.
      Sungguh saya juga turut merasakan kesedihan & kekesalan ibu.
      Seperti yang disampaikan dalam jurnal di atas, yang pertama adalah untuk tidak menunjukkan ekspresi kepanikan di depan anak, sebab kalo terlihat panik justru akan memancing rasa penasaran anak di kemudian hari.

      Saat usia 4 tahun memang bisa dibilang belum waktunya bagi orang tuanya menjelaskan adegan sex yang telah ia lihat. Daya tangkapnya belum sampai ke sana, apalagi soal reproduksi.

      Ajari saja soal self defense, bagaimana menjaga auratnya. Bagian apa saja yang gak boleh orang lain menyentuhnya. Dengan bahasa & penjelasan yang sederhana tentunya.

      Untuk menghilangkan trauma, atau efek dari melihat video porno, agar tidak mengingatnya selalu. Saran saya berikan kesibukan atau aktivitas yang tidak menggunakan gadget, seperti menggambar, menulis, bermain lego yg merangsang kreativitas anak, main bongkar pasang, menyanyi, dll. Sekalian menggali bakat dan potensi anak.

      Kalo anak ibu masih diberi kesempatan memegang gadget untuk saat ini, maka itu berpotensi merangsang kembalinya ingatannya atas apa yg telah dilihatnya. Ini bahaya. Jadi untuk sementara puasa gadget dulu. Alihkan ke hal lain yang lebih bermanfaat bagi tumbuh kembang sang anak.

      Semoga tidak terulang lagi di kemudian hari. Perlu komitmen yang baik antara kedua orang tuanya, saling mengawasi, mengingatkan, untuk tidak lagi mengakses materi pornografi di gadget atau PC / laptop di rumah yang kelak bisa dijangkau anak ibu.

  8. wahyu says:

    Ini gmn yaa kalau anak kita meminta motor apa harus di belikan

    • Secara usia dan syarat kepemilikan SIM, apakah anaknya sudah layak mengendarai sepeda motor apa belum, mas?
      Kalau belum, maka jika memenuhi permintaan anak itu sama dengan tidak sayang anak. Mengapa? Karena hal itu justru menjerumuskan anak dalam hal melanggar persyaratan berkendara di jalan umum.
      Perilaku tidak jujur seperti ini menjadi pintu masuknya budaya korupsi.

  9. adejhr says:

    Prihatin kalau liat anak-anak sekarang ini, sopan santunnya kurang dan gak ada rasa takut atau seganny itu yg parah. Kebanyakan nonton tv yg tayangany kurang bermutu hehe Setuju bgt sma Point no 2 soalnya yg d tanamin ke saya dulu seperti itu dan guru ngaji jga ngasih nasehat sprti itu.

    • Kalau ada tayangan TV yang kurang bermutu, dan bersifat merusak, yuk langsung dilaporkan ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), di web-nya ada menu khusus untuk laporan pengaduan masyarakat.

  10. Aduuh Mas Iwan, beberapa murid lesku menjawab dengan gamblang kalau mereka udah nonton video porno. Usia mereka baru 14 tahun.

    • Agar penyakit kejiwaan tidak berlanjut (pornografi merusak otak), segera briefing ortunya tanpa sepengetahuan muridmu, dan pastikan ortunya gak akan marah / shock. Karena kontrol sepenuhnya ada pada ortunya.. dengan harapan kedepannya, ortu tidak lengah dalam memfasilitasi gadget dan menutup peluang dari kecanduan..

  11. anotherorion says:

    mungkin artikel ini bisa jadi contoh buat orang tua yang mau ngasih HP ke anak http://mitrafm.com/2014/03/11/kisah-ibu-memberi-iphone-5-anaknya-dengan-perjanjian/

  12. Abi Sabila says:

    Sangat disayangkan memang, kemajuan teknologi bagi sebagian orang mengakibatkan kemunduran moral yang jauh lebih dahsyat. Saya pernah mengangkat tema ini dalam tulisan berjudul Ada Racun Di Hpmu.

    • Betul, pak, sangat disayangkan.
      Sudah saatnya kita mengembalikan teknologi pada jalur yang sebenarnya. Jalur dimana Islam secara menyeluruh ataupun nilai-nilainya tertanam kuat dalam dunia teknologi, sehingga berfungsi sbg pengerem kerusakan. Jika kita selalu beretika dalam berteknologi, memanfaatkan kemajuan teknologi, secara baik dan benar maka semuanya akan dapat berjalan secara selaras dan seimbang.

  13. lieshadie says:

    Sebagai orangtuapun harusnya meminimalisir atau lebih baik tidak sama sekali untuk browsing konten2 porno apalagi menyimpan video2 porno di handphone, karena anak – anak sekarang jauh lebih pintar dan cerdas dalam menggunakan gadget.

  14. Rini says:

    Semoga Allah senantiasa menjaga putra-putri kita dan dijauhkan dari musibah.–> Aamiin. Terima kasih untuk selalu memberikan pencerahan Pak Iwan.

  15. Haya Najma says:

    Ya Allah, lindungilah anak-anak kami kelak.. terima kasih pak iwan

  16. araaminoe says:

    “Ajak anak untuk berdialog apa guna Allah menciptakan mata, yaitu untuk melihat hal-hal yang baik.”
    Point diatas yang sedang dalam pembelajaran Pak, dan terkadang seringkali ketika anak anak diajak berdialog mereka membantah -entah sambil guyon atau serius- hingga kami para yang lebih dewasa sangat kuwalahan. Jika semakin dibatasi mereka akan semakin menjadi, jika tidak dibatasi salah juga. Hmmmm… semoga Allah memudahkan ikhtiar kita menjaga anak-anak. Amiin

    • Bagus.. semoga tidak lelah menyampaikan ayat ini kepada anak-anak, kalo perlu kasih contoh kasus atau kisah-kisah hingga tertanam nilai iman di dada mereka.

      “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra ayat 36)

      Soal pembatasan memang bertahap sesuai dengan usia mereka.
      – di usia SD, dibatasi dengan ketat.
      – di usia SMP, dilonggarkan dengan syarat berlaku. Misalnya anak tidak keberatan kalo ortunya melakukan inspeksi.
      – di usia SMA, dibebaskan dengan syarat orangtua telah membekalinya dengan nilai-nilai moral, dan tertanam di dada anak tersebut nilai-nilai iman.

  17. Dyah Sujiati says:

    Dan kita tidak tahu apakah presiden baru yg menang pilpres kemarin (terlepas curang atau tidak) bisa memberi rasa aman untuk tumbuh kembang anak atau justru sebaliknya.

  18. jampang says:

    waduh… poin terakhir itu… ternyata penyebabnya orang tua sendiri

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: