Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Cinta Tapi Beda

[Dialog] Cinta Tapi Beda

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

nikah beda agama[ilustrasi: thisisgender.com]

Bismillah …

Dari dulu, UU Perkawinan selalu menjadi ajang tarik menarik antara umat Islam (yang menginginkan berlindung di bawah teduhnya aturan agama) versus pendukung sekularisme. Meski telah difatwa haram, pernikahan beda agama memiliki sejumlah pendukung yang terus bersuara, bahkan mereka menempatkannya dalam koridor demokrasi dan HAM. Di tahun ini kembali riuh, dimana ada sekelompok warga yang menggugat Pasal 2 ayat 1 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu” [1].

Menyikapi hal tersebut, Kyai Maksum (tokoh yang tidak asing lagi di kampung maya ini) mengajak berdialog dengan Baran Yajida, mahasiswi, aktivis Cinta Tapi Beda (Cipida) yang mendukung legalisasi nikah beda agama (NBA).

Kyai Maksum: “Apa landasanmu menggugat UU Perkawinan, Ran?”

Baran: “Saya tanya dulu ke Kyai… apakah ketika negara membangun rumah ibadah berarti negara berwenang memaksa orang untuk beribadah di rumah ibadah tersebut?”

“Tidak”

“Nahh… begitulah seharusnya sikap negara, gak boleh maksa orang melangsungkan perkawinan sesuai agamanya masing-masing”

“Negara maksa orang?” kata Kyai Maksum dengan kening berkerut.

“Iya.. negara memaksa lewat aturan hukum dalam pasal yang kami gugat. Pasal itu mendorong orang pindah agama, biar diakui secara hukum nikahnya. Padahal belum tentu ia meyakini agama barunya. Bukankah itu sama dengan memaksa warga? Itu melanggar kebebasan berkeyakinan!“ [2]

“Kalo itu mah bukan memaksa keleusss. Ya kalo gak yakin, ngapain pindah agama, Ran?”

“Lahh… mereka khan butuh keabsahan. Dianggap gak sah kalo masih beda agama”

“Emang kondisinya lagi darurat ya, Ran, kok sampe ngerasa kehabisan stok yang seiman?”

“C-i-n-t-a … itu soal kata hati. Mau gimana lagi kalo takdirnya dapat yang lintas iman.”

“Apa? Takdir?” tanya Kyai Maksum dengan penuh keheranan.

“Iya, bisa jadi itu takdir, khan? Padahal menurut hasil riset kawanku yang kuliah di Australia, pasutri beda agama sering melakukan manipulasi hukum dan bersikap hipokrit dengan pura-pura pindah agama hanya agar gampang urusan administrasinya dan bisa dinyatakan sah dalam catatan perkawinan. Ngapain sih hidup harus dalam kepura-puraan?”

Memang tidak bisa dipungkiri ada banyak kisah mereka yang kembali ke agamanya semula setelah menikah. Namun, tidak sedikit pula para muallaf yang tetap istiqomah ber-Islam sampai akhir hayatnya.

Lanjut Baran: “Padahal, keabsahan pernikahan beda agama khan tergantung penafsiran orang. Saya rasa wajar penafsiran orang bisa beda-beda tentang hukum pernikahan dalam agama. Namun ketika keabsahan suatu perbuatan hukum digantungkan kepada sesuatu yang penafsirannya bisa beda-beda bergantung pada individu yang menafsirkannya, disinilah ketidakpastian hukum terjadi. Ini pelanggaran terhadap hak atas kepastian hukum, Kyai”

“Pelanggaran apaan? Lha wong dalam QS Al-Baqarah ayat 221 dan QS Al-Mumtahanah ayat 10 menunjukkan larangan itu. Hukumnya sudah jelas, Ran.”

“Kedua ayat itu terkait dengan konteks spesifik, gak bisa dipake sebagai dalil larangan NBA. Maka kita kembalikan ke hukum asal, bahwa segala sesuatu, sejauh menyangkut mu’amalah, pada dasarnya boleh.”

Kyai Maksum geleng-geleng kepala mendengar jawaban pahlawan cipida ini, namun ia tidak ingin langsung mendebat ‘konteks spesifik’ yang dimaksud Baran, ia ingin menjajagi dulu ke arah mana jalan pemikiran si Baran.

“Jadi, nikah itu cuman soal mu’amalah, gitu?” tanya Kyai Maksum.

“Ya, iya lah. Hubungan mu’amalah, dua orang yang terikat dalam cinta dan komitmen ingin membangun rumah tangga, … itu harus dihormati dan difasilitasi. Negara jangan sampai mendorong tingginya angka pasangan kumpul kebo hanya gara-gara mereka gak dihalalkan menikah”

Wuaduh! Kok larinya ke soal kumpul kebo sih, itu mah emang niatnya jahil mukarrab. Baran ini seperti keracunan omongan si tokoh pluralis istri mantan presiden RI yang bilang: “lebih baik nikah beda agama daripada mereka kumpul kebo”, batin Kyai Maksum. Lagi-lagi racun fiqih “daripada” menjadi senjata argumen. Nanti lama-lama bisa berkembang: “lebih baik kumpul kebo daripada memperkosa”. Lieur ahh…

“Jadi, dasar mereka nekad melakukan NBA itu sekedar ngikutin rasa cinta doang ya?” tanya Kyai Maksum lagi.

“Mereka yang lebih tahu alasannya, Kyai. Sangat tidak bijak menghalangi orang yang tulus dan terikat komitmen membangun rumah tangga dengan alasan apapun. … Masyarakat yang terbuka termasuk negara tak boleh mengatur-atur urusan privat seperti masalah cinta dan nikah.”

“Kamu keblinger, Ran, kayak si Mang Usil aja, … masak negara gak boleh mengatur urusan nikah?”

“Negara ikut campur untuk sekadar ngurus administrasinya doang, gak perlu lah nge-judge sah atau tidak nikahnya. Maka aturan dalam UU Perkawinan itu bisa dihilangkan.”

“Yaa salaaam, kalo diilangin orang akan bebas melanggar hukum agama, Baraaan..”

“Interaksi masyarakat kini kian terbuka. Nikah beda agama itu punya dimensi positif, yaitu memperkuat hubungan antaragama, hubungan antar mereka yang percaya pada Tuhan yang sama, Tuhan Yang Maha Esa. Ini sangat baik dan patut didukung. Oleh karena itu, upaya memperjuangkan legalisasi NBA ini harus diposisikan sebagai HAK yang harus dihargai di dalam negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi.”

“Hak asasi siapa yang kamu junjung dan perjuangkan itu?”

“Yaa.. Hak Asasi kita semua yang telah diamanatkan oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) Pasal 16 ayat 1 yang mengatur bahwa: “Men and women of full age, without any limitation due to race, nationality or religion, have the right to marry and to found a family”

“Di Indonesia, jelas kagak ada tuh pembatasan perkawinan karena ras dan nasionalitas. Tapi kalo tentang agama memang ada pembatasan.”

“Mengapa? Bukankah bunyi pasal DUHAM sudah jelas?”

“Gini, Ran, sekarang saya tanya … orang memelihara anjing itu hak apa bukan?”

“Itu hak”

“Betul, tapi tetanggamu juga punya hak hidup tenang, nyaman, dan aman dari ancaman gigitan anjingnya, maka tuh anjing silakan dipelihara sendiri di rumah, kagak boleh dibiarin bebas berkeliaran di gang-gang. Dari sini paham, Ran? Dalam memperoleh haknya, manusia diharuskan menghargai hak asasi manusia lainnya. Maka, pemenuhan hak asasi tentu tidak diperkenankan jika ia merugikan orang lain. Jadi, tuh DUHAM jangan dimakan mentah-mentah, kudu disesuaikan dulu dengan Pancasila, UUD 1945 dan Undang-Undang serta budaya Indonesia.”

“Merugikan? Mereka yang nikah beda agama itu tidak merugikan siapa-siapa. Itu perkara privacy mereka, Kyai. Mereka saling mencintai dan masing-masing sudah komit.”

Tidak merugikan siapa-siapa katanya?!
Duh, kasihan generasi muda saat ini… Apa karena mereka jauh dari ulama sehingga ilmu pun ikut menjauh?

“Perkawinan itu seharusnya dilakukan atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan dipaksakan berdasarkan hukum agama,” lanjut Baran dengan intonasi yang tegas.

Busyet! Kyai Maksum serasa kejengkang mendengar statement si pedagang liberal ini.

“Maksudmu, Ran?”

“Okey, kalau memang harus berdasarkan hukum agama, it’s fine. Tapi yang kami inginkan adalah penafsiran atas hukum agama dalam perkawinan itu diserahkan ke masing-masing mempelai, sebab menurut kami mempelai adalah pihak yang paling berhak untuk menafsirkan hukum agama dalam perkawinan mereka sendiri.”

“Kenapa bisa begitu, Ran?”

“Karena gak ada kepastian hukum agama seperti yang kubilang tadi. Dalilnya multitafsir, Kyai. Padahal mereka sama-sama percaya pada Tuhan yang sama.”

Lahh.. lagi-lagi muter-muter ke situ, batin Kyai Maksum. Tapi bukan Kyai Maksum kalo ngadepinnya pake emosian. Ia nyoba keep stay cool. Mampukah Kyai Maksum ngadepin si pejuang ham hem hompipah ini?

RESIKO

Kyai Maksum: “Kamu muslim, bukan?”

Baran: “Yee.. pake nanya, udah jelas pake jilbab gini kok”

Kyai Maksum tersenyum, kemudian berkata, “Sebagai muslimah, seharusnya kamu meyakini bahwa hukum adalah satu hal, hikmah adalah hal yang lain. Artinya ketika Allah sudah menetapkan hukum-Nya, tentu sudah terkandung hikmah di dalamnya. Secara Islam, sudah jelas hukum nikah beda agama dengan alasan apapun adalah haram.”

“Haram itu khan penafsiran Kyai Maksum yang kolot dan juga pendapat ulama-ulama klasik jaman dulu. Dalam perkembangan pemikiran manusia terkini gak seperti itu. Dua ayat itu sifatnya konteks spesifik, Kyai”

Sidang pembaca yang budiman, maapin ye… Kyai Maksum tiba-tiba gak mood ngebahas argumen dangkal soal “konteks spesifik” itu di sini. Mending ngebahas bukti nyata yang meruntuhkan pemikiran liberalis soal itu.

“Ran, soal itu sudah di-ijma’kan alias sudah menjadi konsensus para ulama Islam bahwa nikah beda agama itu haram. Karena sudah ijma’-nya, ya kita sami’na wa atho’na .. kita terima dengan lapang dada saja. Sebab ya beginilah cara beragama yang baik. Ta’at pada petunjuk. Jika sudah ada ijma’-nya, maka sudah tidak ada lagi perselisihan pendapat didalamnnya, oleh karena itu sudah gak ada kebutuhan lagi bagi kita untuk melakukan kajian ulang.”

“Ijma’ khan produk manusia alias hasil pemikiran manusia juga, Kyai”

“Memang … ijma’ itu awalnya adalah intaj al-basyar alias produk manusia akan tetapi hasilnya adalah qoth’iy alias permanen. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ummatku tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan”. Ummatku disini maksudnya adalah para mujtahid, mereka semua kompeten, Ran”

Kyai Maksum betul, ya beginilah seharusnya cara berpikir sarjana muslim ketika berbicara tentang hukum Islam. Masalah pernikahan beda agama ini telah mendapat perhatian serius para ulama di Tanah Air. Pada tanggal 1 Juni 1980, MUI dalam Munas II mengeluarkan fatwa tentang haramnya pernikahan beda agama. Ulama NU dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada akhir November 1989 juga telah menetapkan fatwa bahwa nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia hukumnya tidak sah. Demikian juga dengan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah mengeluarkan fatwa atas pengharaman NBA.

Baran tetap gak mau kalah, balasnya: “Kalau hukum dan hikmah itu menyatu, nyatanya mereka yang nikah beda agama saat ini fine-fine aja, gak ada yang perlu dikuatirkan, lha wong sudah saling mencintai kok. “

“Jadi, kalo mereka tampak fine-fine aja, kamu yang sekarang masih ngejomblo ntar juga pengen nikah dengan yang beda agama, gitu?”

“Pengen sih kagak, Kyai. Maunya yang seiman, tapi kalo takdirnya seperti itu ya gimana lagi.”

“Yang seiman, baik hati, tanggungjawab, rupawan itu bejibun, Ran. Buat apa ngorbanin agama dan hati nurani demi cinta.”

“Yee.. khan saya dah bilang, … sa-ya-gak-ta-hu-tak-dir-ku ke depan seperti apa, gak tahu akan bertemu dengan siapa, akan suka sama siapa, akan kawin dengan siapa. Jodoh itu rahasia illahi. Kalo takdirnya seperti itu ya apa boleh buat saya harus jalani. Dan ketika menikah, negara harus menjamin hak-hak saya agar punya status hukum yang jelas.” [3]

Gubrak!! si Baran ini apa kesirep jin Hutan Kayu, sampe keselek pemahaman takdir yang ngawur?

“Begini, Ran … sebagai muslimah apakah kamu mau ngedidik anakmu kelak jadi orang baik-baik dan beriman?”

“Ya jelas doong. Itu khan bagian dari amanah. Saya akan bekali anakku ilmu-ilmu agama dengan baik”

“Good. Nah.. andai saja keinginanmu itu dilegalkan, kemudian contoh aja nih ya, misal kamu pun nikah dengan yang beda agama, kemudian ngelahirin anak-anakmu. Apakah kamu masih berpegang pada agamamu, Islam, dan meyakini kebenaran ajarannya?”

“Jangan kuatir, Kyai. Imanku gak akan goyah karena kami akan menjaga sikap saling toleransi.”

“Lantas, bagaimana dengan anak-anakmu, Ran?”

Baran terdiam, sepertinya ia mulai paham maksud pertanyaan Kyai Maksum.

“Pasti kamu ingin mempengaruhi mereka supaya ikut agama denganmu. Iya, khan?!”

Baran mengangguk.

“Naah, apa bisa jamin suamimu gak punya pemikiran yang sama denganmu?”

Kali ini Baran tampak mengerutkan kening. Setelah Baran lama terdiam, Kyai Maksum bertanya kembali.

“Kok diam? Ayo jawab doong… Apa bisa jamin suamimu gak punya pemikiran yang sama denganmu?”.

Baran masih mikir.

Lanjut Kyai Maksum, “Gak menutup kemungkinan suamimu juga punya niat yang sama denganmu. Anakmu pasti bingung melihat ortunya lho kok beda agama. Bayangin saat anakmu melihat kedua ortunya ngejalanin ritual keagamaan yang gak sama. Ia bingung kepada siapa belajar pendidikan agama. Ini berdampak banget pada perkembangan jiwa anakmu. Dan itu akan memberikan dampak yang jauh lebih besar pada masa yang akan datang ketika anakmu tumbuh dewasa tanpa bekal agama yang mantab.”

Kyai Maksum mengambil Al-Qur’an dan terjemahannya yang ada di rak buku, kemudian memberikannya kepada Baran, sambil berkata:
“Lantas, apa yang kamu jawab nanti dihadapan Allah saat laporan pertanggungjawaban atas perintahnya di QS At Tahrim ayat 6? … Coba baca ayat itu, Ran!”

Baran bergetar membaca ayat itu yang ternyata di dalamnya mengandung perintah yang kelak harus dipertanggungjawabkan: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Ya.. memang seharusnya para aktivis Cipida dan pendukungnya berpikir panjang, ada begitu banyak kisah rumah tangga NBA yang pilu, yang ditengah jalan insaf dan berdarah-darah memperjuangkan akidah anaknya, seperti Kisah Ibu Memperjuangan Akidah Kedua Anaknya. [Bagian Kesatu, Kedua].

“Ada yang tak kalah bahayanya dari itu, Ran”

“Apa itu, Kyai?” kata Baran lirih.

“Bila salah satu pihak diantara kalian mulai memaksakan keyakinan bahwa agamanyalah yang paling benar. Wah.. kalau sudah seperti ini, kenangan-kenangan manis semasa pacaran jadi gak ada artinya sama sekali. Yang tersisa hanyalah melewati masa pernikahan yang panjang dengan penuh gesekan, yang awalnya gesekan kecil, kemudian membesar. Lantas kebahagiaan seperti apa yang kamu cari?”

Masih melekat dalam ingatan, tentang kisah yang tak kalah pilunya di negeri ini, yaitu kisah Rini Yang Kehilangan Ayahnya. [baca ya. syerem loh]. Juga kisah selebriti, si Andung (gara-gara kesengsem sama si Jones) akhirnya terpaksa tidak diakui anak lagi oleh orangtuanya yang melahirkan, merawat, dan membesarkannya. Innalillahi… Sementara para aktivis Cipida tutup mata, masih bilang gak ada kerugian apa-apa.

“Ran, sebagai muslimah mustinya kamu berpikir jauh ke depan, nikah itu bukan urusan cinta thok. Dalam pandangan Islam, nikah itu gak hanya akad mu’amalah, tapi juga bentuk ibadah. Pernikahan itu ikatan yang kuat alias mitsaqan ghalizha antara laki-laki dan perempuan yang harus dilandasi dengan keimanan. Makanya ada syarat dan rukun yang Allah tentukan untuk berhalal dengan menyebut nama-Nya. Karena disebut ibadah, maka Allah-lah tujuan bergandeng-tangan bertaut-hati dari dunia hingga surga. Di dalamnya tercakup tugas melahirkan dan menyiapkan generasi masa depan yang unggul.”

Kyai Maksum ambil nafas sejenak, kemudian nyruput teh di depannya, setelah itu ia bertanya, “Ran, menurutmu agama itu apa?”

“Hmm… agama itu kurang lebih cara memandang hidup-mati, dunia, dan segala isinya,” jawab Baran.

“Betul. Nah, kalo gak punya kesamaan pandang bagaimana kamu bisa menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tanggamu? Jangan terjebak dengan toleransi semu.”

Intermezzo:
Berbeda dalam pandangan paham Liberalisme, pernikahan dianggap bukan dari perkara agama. Dalam buku “Kado Cinta Bagi Pasangan Nikah Beda Agama” (M. Monib, 2008, hlm. 33) dikatakan: “Pernikahan bukanlah ibadah dalam arti kewajiban, melainkan hubungan sosial kemanusiaan semata”. Bahkan liberalis menilai rendah ibadah nikah, yakni dianggap sekedar penyaluran syahwat belaka. ”Sesungguhnya pernikahan itu bagian dari (penyaluran) syahwat dan bukan bagian dari upaya pendekatan diri kepada Tuhan… pernikahan bukanlah ibadah” (Abdul Moqsit Ghazali, Argumen Pluralisme Agama Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an, hlm. 328).

SKAK MAT!

“Ran, apa kamu dan kelompokmu pikir kalo gugatanmu dikabulkan negara, persoalan ini bakal selesai?”

“Ya. Pernikahan mereka bakal sah dalam pandangan hukum pernikahan.”

“No.. no.. no.. Gak semudah itu… karena tindakanmu itu justru bisa menyulut api gejolak sosial yang luas.”

“Agama itu urusan masing-masing, Kyai, kurasa kekuatiran itu terlalu berlebihan.”

“Pernikahan itu peristiwa yang dinilai sakral oleh setiap agama, catat.. SETIAP AGAMA! Sehingga pernikahan gak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama. Sudah mengakar dalam budaya di negeri ini bahwa nilai agama dalam peristiwa sakral tak bisa dipisahkan. UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan telah mengakomodasi substansi semua agama. Kalau nilai-nilai agama tersebut mau dihilangkan, maka akan timbul gejolak sosial yang besar. Apa kamu siap berhadapan dengan mereka terlepas apapun agamanya?”

Baran tampak planga-plongo.

Lanjut Kyai Maksum, “Tiap agama punya pandangan yang hampir sama soal pernikahan, bahwa pernikahan bukan hanya sekedar hubungan sosial dan keperdataan semata, tetapi juga ada hubungan teologi yang diyakini oleh penganutnya masing-masing, contoh lainnya selain Agama Islam yang sudah kita bahas tadi:
[1] Agama Katholik punya larangan, lihat Kitab Perjanjian Lama, Ulangan 7:2-4, Kitab Hukum Kanonik C.1086 dan C.1142.
[2] Agama Protestan punya larangan dalam 2 Korintus 6:14-15 yang mengingatkan agar umat Kristen tetap memilih pasangan yang sepadan dan seiman. Bahkan PGI mengeluarkan 4 alasan menolak nikah beda agama.
[3] Agama Hindu melarang.
[4] Agama Buddha membolehkannya, namun dengan syarat pernikahan harus dilakukan secara Buddha dan mengucapkan janji dengan menyebut nama dewa-dewa.
… Dari sini, apakah kamu sudah nangkap poinnya, Ran?”

“Eee…. ng. ng.. nganu..”

“Ran, jika gugatanmu dikabulkan.. pasal 2 ayat 1 dibatalkan, maka hukum negara bakal menabrak hukum-hukum banyak agama, itu artinya negara sama saja tidak hadir menjamin warganya menjalankan hukum agama yang mereka anut. Masalah pernikahan itu domain agama, sehingga sah atau tidaknya suatu pernikahan ditentukan oleh hukum agama, bukan hukum negara. Hukum agama kedudukannya lebih tinggi dari hukum negara. Hukum negara disusun berdasarkan hukum agama, sehingga gak mungkin penyusunannya menyalahi hukum agama. Paham?!”

Jleb!
Skak ster buat Baran Yajida.

“Kamu sebagai muslim, apa mau hukum-hukum agamamu dibuat berantakan?”

Baran cuma diam dan berpikir keras apa maksud pertanyaan Kyai Maksum tersebut.

“Gini, Ran, jika NBA itu dilegalkan negara maka akibatnya akan meruntuhkan banyak hukum Islam lainnya, terutama yang berkaitan dengan akibat dari pernikahan seperti hukum waris, perwalian, nafkah, hubungan pria-wanita di dalam pernikahan dan sebagainya. Itu baru hukum Islam. Agama lain pasti juga punya hukum yang berkaitanan dengan akibat pernikahan. Bakal berantakan semua dibuatnya.”

[catatan: untuk lebih memahami detail bagaimana hukum Islam dibuat berantakan, sila simak jawaban saya untuk blogger Shelling Ford dalam ruang komentar di bawah ini]

Kali ini SKAK MAT buat Baran Yajida.
Artinya sampai kiamat pun, selama negeri ini ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, upaya legalisasi nikah beda agama akan selalu kandas, karena ditentang oleh semua agama [4].

Dear sahabat blog Fight For Freedom,
Tiap kali terbersit tentang pernikahan beda agama di benakmu; ingatlah suatu saat kelak Anda pasti menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggalkan dunia ini; … dan ingatlah bahwa di antara pahala yang takkan putus adalah anak-anak shalih yang mendoakanmu, yang menyelamatkanmu di akherat kelak. Wallahu a’lam bisshowab.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
13.10.2014

……….

Dialog ini adalah fiktif semata, guna merespon pernyataan di berbagai sumber berita:
[1] Gugat UU ke MK, 5 Warga Ingin NBA Dilegalkan [Detik].
[2] Uji Materi Untuk Sahkan Pernikahan Beda Agama [DW].
[3] Profil Pemohon Legalisasi NBA [Detik].
[4] Semua Majelis Tinggi Agama Kompak Menolak Nikah Beda Agama [JPNN].

Advertisements

62 Comments

  1. Alhamdulillah.. Allahu Akbar!

    MK Tolak Pernikahan Beda Agama | Republika, 18/6/2015

  2. Assalamualaikum wr wb pak Iwan. Saya pun menemukan dan melihat sendiri anak murid yang saat ini sedang bermasalah dengan ortunya yang berbeda agama. It happened. It is happening dan sungguh mengapa orang pluralis dan liberalis itu kok ya susah banget menerima kebenaran yah?

    thanks for sharing, fyi, saya juga sekarang lagi bekerja di lingkungan yang pluralis, inklusi. semoga saya bertahan 🙂

    • Wa’alaikumsalam wr.wb, mbak Sari.
      Sejatinya mereka yang berbeda agama terus menikah itu bukan disebut perkawinan beda agama, tapi disebut perkawinan antar mereka yang SAMA-SAMA TIDAK PEDULI AGAMA. Mereka tidak menjadikan rumah tangganya sebagai jalan untuk meraih surga-Nya.

      Simaklah wawancara dengan Ahmad Nurcholish (AN), yg katanya telah memfasilitasi 500an pasangan beda agama untuk menikah.
      http://islamlib.com/?site=1&aid=677&cat=content&title=wawancara

      AMN (istri AN): “Saya pribadi, sebetulnya lebih senang kalau anak saya tidak perlu diajarkan agama”.

      AN: “Bagi saya, anak, seperti yang dikatakan Kahlil Gibran, bukan milik siapa-siapa. Anak milik diri mereka sendiri. Jadi, anak sebetulnya bukan milik orang tua juga. Nah, bagi saya, peran kita hanya sebatas bagaimana mengajarkan mereka supaya menempuh jalan yang benar, tidak menyimpang, dan secara sosial juga tidak merugikan orang lain. Yang memutuskan soal agama, biarlah anak saya sendiri.”

      Pasangan seperti itukah yg dijadikan panutan? Kelak mereka berdua akan menyesali ucapannya itu.

    • iya, kebanyakan ortu di sekolah saya sih agnostik. hiks

    • Bisa dijadikan ladang dakwah bagi mbak Sari tuh …
      Selamat menebar kebaikan 🙂

    • iyah pak. semoga ga jadi lilin. berat sekali ini. mohon doanya

  3. QS Al Munafiqun ayat 4:
    “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap2 teriakan yg keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yg sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

  4. alfasemua says:

    Perintah Allah (termasuk larangan dan perintah) selalu memiliki latar belakang. Jadi gak langsung kita artikan sesuai teks (tekstual), melankan mempelajarinya dahulu sesuai dengan metode-metodenya.

    keep posting masalah sosial tentang islam, saya tertarik postingan Anda:)

    • Betul, semua memiliki latar belakang.
      Orang JIL yang menggiatkan konsep Nikah Beda Agama ya karena Agama bagi mereka hanya seperti tissue, kalo perlu pakai, sesudahnya buang jauh-jauh. Semoga kita tidak berada dalam golongan seperti itu.

    • alfasemua says:

      Konsep berpikir JIL selalu mengarah ke liberal… wajar saja pendapat mereka begitu…
      Amiin:))

  5. MUI: Penggugat UU Perkawinan Berpikiran Dangkal dan Tumpul
    SkalaNews, 5/11/2014

    MUI: Pemohon Pernikahan Beda Agama Belajar Sejarah Lagi

    MUI menilai gugatan pemohon diajukan tanpa referensi yang jelas dan terlalu membesar-besarkan persoalan.

  6. Tina Latief says:

    syukurlah saya sudah punya ketetapan untuk menikah dengan yang seagama saja.. hanya saja kalau berteman saya tidak membatasi siapa dan agamanya…

    • Alhamdulillah, itu sudah benar, mbak Tina.
      Dan berteman memang tidak perlu membatasi siapa dan agamanya apa, karena itu bentuk toleransi yang sehat.

      Soal hubungan dua manusia beda agama itu sejatinya ujian keimanan.
      Kalau hubungan itu serius, namun masing-masing tetap memegang prinsip keyakinannya.. ya gak perlu dipaksakan untuk bisa dalam satu atap. Konsekuensi yang akan dihadapi kelak dibelakangnya justru lebih besar.
      Masing-masing pihak harus legowo untuk bilang.. putus, dan cukup berteman saja.

  7. anotherorion says:

    untung aku wis mbojo :3
    nambah neh ah, #eh

    • Boleh.. boleh…, tapi ada syaratnya lho:
      1. Istri setuju niat sampeyan, ikut mengaminkan do’a agar dimudahkan.
      2. Istri yang mencarikan calon dan sbg mak comblangnya.
      3. Tentu … jangan beda agama.

      3 syarat diatas pakai hukum AND bukan OR, artinya semua syarat harus terpenuhi 🙂

  8. winnymarch says:

    berat sekali temanyaa. pernah ada filmnya tu

    • Film-nya menurutku menggiring ke pemahaman yang keliru. Tidak berpikir jauh ke depan, tidak memaparkan akibatnya pada bagian skak ster dan skak mat pada bagian akhir artikel ini.

      Penonton hanya digiring pada sisi romantisme yang dangkal, namun dikemas dg apik, agar menyentuh. Padahal ada solusi lebih baik dari itu, tanpa menggadaikan masa depan.

    • winnymarch says:

      betul jg sih mas Iwan karena kepercayaan itu sifarnya Hakiki.. susah disatukan karena pada dasarnya berbeda.

  9. suararaa says:

    keluarga saya byk yg nikah beda agama.. ceritanya bisa dibaca di sini..
    http://suararaa.wordpress.com/2014/07/03/sudahkah-kita-toleransi/

    • Miris sekali sharingnya, mbak Rahma.
      Saya dapat menangkap dari tulisan mbak Rahma bahwa pernikahan beda agama itu adalah pintu pemurtadan. Tulisan itu menjadi bukti.

      Pemurtadan itu adalah begitu sensitif di negeri ini. Maka bila legalisasi nikah beda agama ini disetujui oleh MK maka bisa berpotensi adanya gejolak sosial yang luas di masyarakat. Ini sangat berbahaya, karena bisa menyulut perang saudara. Saya bisa memahami konflik-konflik kecil antar warga di cerita yang mbak Rahma tuliskan.

  10. Bukti kebohongan liberalis untuk menyesatkan publik:

    .
    “Akan datang tahun-tahun yang menipu, yang dusta dianggap jujur, yang jujur dianggap dusta, yang khianat dianggap amanah dan yang amanah dianggap khianat dan pada tahun-tahun itu Ruwaibidhah pun berbicara.” Beliau ditanya: “Apa Ruwaibidhah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang hina (yakni dangkal ilmunya) bicara dalam urusan yang besar.” [HR. Ibnu Majah]

  11. tepok jidat dengan omongan si Ibu mantan first lady yang ngomong mendingan nikah beda agama daripada kumpul kebo…

  12. fitri says:

    MASING-MASING AGAMA punya kriteria penghuni surga dan neraka (mereka) masing-masing;
    KALO EMANG CINTA…relakah suami/istri/ anak pisah di akhirat?
    atau maunya cukup bareng-bareng di dunia aja?
    AKHIRAT itu pasti ada.

    • Tepat sekali.
      Cinta buta memang bikin jalan pikiran jadi pendek. Mereka rela mengorbankan sesuatu demi kebahagiaan sesaat, lupa dengan adanya kebahagiaan yang kekal abadi, bersatunya keluarga di akherat kelak.

    • fitri says:

      konsep cinta bagi pemuja “HAM: nikah beda agama” patut dipertanyakan…
      hati-hati kalo dapet gombalan cintanya…

  13. Galuh Nindya says:

    A: “Kalau tetap nikah, nanti agamanya ikut siapa?”
    B: “Ya dibagi. Satu ikut saya, satu ikut suami.”
    A: “Yakin, akan diberi anak lebih dr 1 atau dlm jumlah genap?”, “Lagipula, bukankah anak itu amanah yg harus dipertanggungjawabkan kelak?”

    *kisah nyata*

    Miris dg jawaban bhw keyakinan anak bs dibagi2. Sesepele itukah?

    • Miris ya kalo mikirnya se-sepele itu.

      Mau dilegalin sama hukum negara, tetap saja secara agama berdosa.

      Kaum liberalis memang terus-menerus berteriak menyalahkan hukum-hukum agama atas nama kebebasan yang mereka tuhankan. Sebenarnya ini semacam opini setan yang dikirimkan kaum liberalis untuk memecah belah pemikiran anak bangsa. Melegalkan NBA sama saja spt ngajak orang rame-rame melakukan NBA. Jadi, kelihatan siapa setannya.

  14. danirachmat says:

    Hehehehe. Makasih sekali lagi mas untuk satu pencerahannya lagi. 🙂

  15. jadi, nikah beda agama ini sebenernya merugikan siapa, sih?

    saya nangkapnya cuma sebatas ini:

    Gini, Ran, jika nikah beda agama itu dilegalkan negara maka akibatnya akan meruntuhkan banyak hukum Islam lainnya, terutama yang berkaitan dengan akibat dari pernikahan seperti hukum waris, perwalian, nafkah, hubungan pria-wanita di dalam pernikahan dan sebagainya. Itu baru hukum Islam. Agama lain pasti juga punya hukum lain yang berkaitanan dengan pernikahan. Bakal berantakan semua dibuatnya.

    tapi di situ itu tidak ada “siapa”nya yang dirugikan. mohon pencerahan lebih lanjut, karena kemungkinan besar sayanyalah yang silap dalam membaca dan menyimpulkan 🙂

    • Di dalam dialog diatas ada link-link contoh kasus kisah rumah tangga.

      Merugikan siapa?
      1. Anaknya – Baca kasus kisah Ibu memperjuangkan akidah anaknya.
      2. Orangtuanya – Baca kasus kisah Rini yang kehilangan ayahnya.
      3. Dirinya sendiri.
      4. Perselisihan antar umat (sensitif atas kasus pemurtadan).

      Mengapa bisa seperti itu?
      Bila terjadi nikah beda agama, maka konsekuensi yang ditimbulkan adalah (sebelumnya pahami hukum-hukum Islam ya):

      1. Hubungan suami-istri menjadi tidak sah dan dianggap berzina. Yang rugi dirinya sendiri. Kesadaran kalo telah melakukan kesalahan itu akan muncul entah kapan waktunya. Seperti Fir’aun yg sadar menjelang kematiannya, tenggelam di lautan.

      2. Pertalian nasab bapak biologis dgn anaknya terputus. Bapak biologisnya tidak diakui sebagai walinya karena nasabnya terputus. Yang rugi anaknya.

      3. Hukum nafkah bagi bapak biologisnya menjadi tidak ada. Yang rugi istri & anak.

      4. Antara bapak biologis dan anak biologisnya tidak ada hubungan waris. Yang rugi anaknya si penerima waris, karena pertalian nasab otomatis putus.

      5. Jika bapak biologisnya menjadi wali anaknya yang merupakan hasil NBA, maka status kewaliannya menjadi tidak sah. Maka dampaknya, akad pernikahan anak itu juga tidak sah dan hubungan suami istrinya pun tidak sah. Nah, sudah jelas siapa yang rugi.

      6. Kalo anak ikut agama non Islam, siapa lagi yang menyelamatkan orangtuanya di akherat kelak. Do’a anak sholeh kepada ortunya adalah tidak putus setelah ortunya meninggal dunia.

      Nah, itu baru hukum Islam. Hukum agama di luar Islam tentu juga punya ketentuan-ketentuan yang berkaitan pernikahan. Kalo mikirnya nikah beda agama antara si A & si B saja, sepertinya memang dunia hanya milik mereka berdua, kelihatan indah. Seperti di film-film romantis yang membius penonton. Tapi kalau sudut pandangnya dilebarkan ditambahlagi kelak hadir seorang anak, pasti akan muncul masalah yang tidak bisa mereka hindari.

  16. Argumentasi Hukum Nikah Beda Agama menurut Liberalis:
    Abdul Moqsith Ghazali | Shinta Nuriyah (istri GD) | Saidiman Ahmad |

  17. Rini says:

    Yang seagama saja masih harus dipilah dan pililih untuk menikah, ini mau nekat beda agama? 😕

    • Betul, yang seagama aja kudu selektif, apakah kelak pasangannya bisa sama-sama membangun surga di dunia dan di akherat.

      Mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warrahmah mustahil tercipta bila berbeda kesamaan pandangan yang menyangkut akidah.

  18. faziazen says:

    kalo nikah beda agama ntar anaknya bingung hmmm

    • Cinta buta hanya berpikir jangka pendek, padahal sudah jelas problem itu bakal muncul saat mereka memiliki anak.
      Bagi yang muslim ada perintah Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya kelak yaitu di QS At Tahrim ayat 6.

  19. lieshadie says:

    Efek yyang jelas terjadi dan korban adalah anak2 yang dilahirkan dari perkawinan beda agama…

    • Yang berorientasi ke depan pasti akan terbersit pemikiran ini. Selain si anak gak dapat ilmu agama yang mantab, berpotensi menjadi non muslim, juga si anak terputus nasab-nya.

      Menurut ketentuan pasal 42 UU Perkawinan, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Oleh karena tidak dilakukannya pencatatan perkawinan, maka menurut hukum anak tersebut bukanlah anak yang sah dan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya atau keluarga ibunya [pasal 2 ayat 2 jo. pasal 43 ayat 1 UU Perkawinan].

  20. Mas, agama Katolik sepengetahuan saya memperbolehkan perkawinan beda agama. Saya pernah berdiskusi tentang hal ini dengan seorang Pastor di Malang. Namun, ada persyaratan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu harus dibesarkan secara Katolik dan dibaptis. Namun, pencatatan secara sipilnya biasanya bermasalah, karena negara tidak mengakui perkawinan beda agama.

    Praktek perkawinan beda agama itu sebenarnya sudah bisa dicatatkan di Indonesia, kalau perkawinannya di luar Indonesia. Jadi, yang punya uang (untuk ke LN) perkawinannya bisa dicatatkan, sementara yg gak punya uang gigit jari aja.

    • Saya baca di sini:
      Kitab hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici)
      Kan. 1086 – § 1. Perkawinan antara dua orang, yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah.
      § 2. Dari halangan itu janganlah diberikan dispensasi, kecuali telah dipenuhi syarat-syarat yang disebut dalam kan. 1125 dan 1126.
      § 3. Jika satu pihak pada waktu menikah oleh umum dianggap sebagai sudah dibaptis atau baptisnya diragukan, sesuai norma kan. 1060 haruslah diandaikan sahnya perkawinan, sampai terbukti dengan pasti bahwa satu pihak telah dibaptis, sedangkan pihak yang lain tidak dibaptis.
      Kan. 1142 – Perkawinan non-consummatum antara orang-orang yang telah dibaptis atau antara pihak dibaptis dengan pihak tak dibaptis, dapat diputus oleh Paus atas alasan yang wajar, atas permintaan kedua pihak atau salah seorang dari antara mereka, meskipun pihak yang lain tidak menyetujuinya.

      Kesimpulannya, menurut Hukum Gereja Katolik: perkawinan beda agama tidaklah sah, kecuali ada ijin uskup. Jadi, tidak langsung diperbolehkan begitu saja.
      Betul, ada persyaratan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu harus dibesarkan secara Katolik dan dibaptis.

      Seandainya saja seorang Muslim dan Katolik menikah, dan masing-masing punya hukum anaknya harus didaulat sesuai agamanya masing2, bisa dipastikan akan bentrok.

    • Benar, memang perlu ijin, tapi praktek yang secara agama dapat dilakukan pun pencatatan secara sipilnya tidak bisa dilakukan. Nah disini negara sebagai duty bearer (kalau dari perspektif human right based approach), tidak melaksanakan dutynya dengan benar.

      Btw, pria Muslim konon boleh menikah dengan perempuan non-Muslim, CMIIW, apakah pada prakteknya bisa dan bisa dicatatkan?

    • Seperti yang telah saya sampaikan di atas, MUI pada Munas II di tahun 1980 telah memfatwakan bahwa nikah beda agama antara muslim dg non muslim adalah haram.

      Pernikahan antara pria Muslim dengan perempuan non-muslim (yg Ahli Kitab) awalnya memang terdapat perbedaan pendapat. Setelah mempertimbangkan bahwa mafsadah-nya lebih besar daripada maslahat-nya, MUI memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram.

      Sesuai dengan UU Perkawinan yang berlaku jelas mereka tidak bisa dicatatkan oleh petugas KUA maupun Kantor Catatan Sipil.

  21. If I were still a Catholic when I married Shari (who was born a Muslim), today I’d be confused as hell about what to teach my sons about God. being an ex-Catholic, though, I can teach my sons about other religions’ points of views. So I got that going for me, which is nice.

  22. Dyah Sujiati says:

    “Ijma’ khan produk manusia alias hasil pemikiran manusia, kyai” ~> apalagi yang menganggap konteks spesifik.? Pemikirnya malah kerasukan jin hutan kayu. 😀
    Jin hutan kayu digugu tapi ulama malah dikesampingkan.
    Haha Anbar Anbar, pinter pinter tapi sesat logika. Ciannn. Eh Baran dink XD

  23. Abi Sabila says:

    cinta, selalu itu yang jadi alasan dan andalan, padahal cinta yang sesungguhnya tidak membuat orang menjadi buta ataupun membabi buta.
    Benar bahwa pernikahan itu menyatukan yang beda, kecuali satu, keyakinan.

  24. Rahmat_98 says:

    Subhanallah, sebuah pelajaran dan penjelasan yang simple tapi mengena dari kyai. Untuk para penggugat UU perkawinan dan nikah beda agama, semoga Allah membuka hidayah untuk kalian.

    Semoga kita tidak dipalingkan dari hidayah-Nya sampai nanti jiwa ini menemui Rabbnya. Aamiin

    • Aamiin. Semoga bermanfaat, mas Rahmat.

      Pernikahan beda agama itu analogi nya kayak nyampurin minuman teh sama kopi. Ya jelas ga enak kan?! Semua sudah ada rasanya masing-masing. Agama pun punya batasan masing-masing. Nikah beda agama hanya akan mencampur adukkan batasan masing-masing yang ada di masing-masing agama.

  25. jampang says:

    kalau boleh saya niru ucapan cak lontong …. saya mau bilang “MIKIR!”

    • Usia perkawinan 1 sampai 4 tahun biasanya memang masih ada kuntum mekarnya cinta. Tetapi ketika sudah punya anak mereka akan bingung untuk mengajarkan agama kepada anaknya dan terkadang keduanya mengajarkan agama yang berbeda. Ini yang sering menimbulkan perpisahan.

      Yang membangun keluarga berorientasi ke depan pasti mikir soal anak.

  26. betul, Kyai.. yang jadi korban adalah anak-anaknya.. bingung mau milih keyakinan ortu yang mana.. *) ada kisah nyata juga dari temen 🙂

    • Pasti akan terjadi tarik menarik pengaruh antara ayah dan ibu, kecuali mereka anggap agama bukanlah hal yang penting. Padahal seiring perjalanan waktu… entah diusia berapa, masing-masing diri manusia akan muncul kesadaran bahwa kelak mereka akan menghadap kepada Allah dengan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.
      Sesombong-sombongnya manusia (pada Tuhannya), pasti akan berusaha menjadi beriman. Contoh Fir’aun yang insaf sebelum kelelep lautan, tapi itu udah terlambat 🙂

      Kembali ke soal “sadar”, ketika mereka menyadari tentang keimanan masing-masing, disitulah mulai konflik batin, gesekan-gesekan kecil akan bermunculan. Yang jadi korban adalah sang anak.

      Jadi jangan terpukau dengan success story nikah beda agama yg kelihatannya adem ayem. Itu tipuan propaganda liberal.

  27. JNYnita says:

    Hayoloooh.. Ini akibat belajar agama langsung ke perintah & larangan, siapa pun kalau hanya diperintah & ga tau esensinya pasti akan berontak..

    • Yo’i.. makanya jangan jauh-jauh dari ulama, agar dapat esensinya 🙂

    • JNYnita says:

      Masalahnya pun banyak ustadz yang langsung loncat ke perintah & larangan, aku pun suka bingung kalau ditanya temenku ttg hal ini, gara2 mrk gak tau dasarnya, mereka pun beranggapan kalau agama itu udah gak relevan di jaman sekarang, soalnya jaman udah berubah. Mungkin ini asal muasal liberal ya?
      Tapi emang skrg susah juga sih nyari ustadz yang bener2 berilmu, yang banyak sekarang kebanyakan yang ngartis atau pelawak.. Hiks

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat